Anda di halaman 1dari 4

Kriteria Risiko Tinggi untuk Berkembangnya Schizophrenia (Yung et al, 1998; Yung & McGorry, 1996) Kategori 1 membutuhkan

setidaknya salah satu dari gejala positif berikut yang lemah: ide referensi, keyakinan aneh dan pemikiran magis, gangguan persepsi, pikiran dan bicara yang aneh, paranoid, perilaku dan penampilan yang aneh. Kategori 2 terdiri dari individu-individu yang mengalami gejala psikotik sementara yang secara spontan hilang dalam waktu satu minggu. Kategori 3 mengombinasikan antara risiko genetik (yaitu tingkat pertama relatif pada individu dengan diagnosis schizophrenia) dengan perubahan dalam status fungsi (harus mengalami penurunan nyata daripada tahun sebelumnya). Perlu dicatat bahwa kriteria dalam dua kategori pertama sebagian besar berasal dari gejala positif, tanda dan gejala negatif tidak digunakan sebagai dasar dari salah satu kategori.

Instrumen untuk Penilaian Gejala dan Tanda Prodromal PRIME (Prevention through Risk Identification, Management, and Education ), tim peneliti dari Universitas Yale telah mengembangkan dua instrumen untuk menilai dan melacak fenomena di atas secara cross sectional dan dari waktu ke waktu. A. SIPS (The Structured Interview for Prodromal Syndromes) (McGlashan, 1996): Berikut ini adalah wawancara terstruktur yang digunakan untuk mendiagnosis tiga sindrom prodromal dan dapat dianggap sebagai analog dari Structured Clinical Interview for DSM-IV (SCID) atau wawancara diagnostik terstruktur lainnya. SIPS terdiri dari SOPS, the Schizotypal Personality Disorder Checklist (APA, 1994), kuesioner riwayat keluarga (Andreasen et al, 1997), dan versi terbaru dari Global Assessment of Functioning Scale (GAF) (Hall et al, 1995). SIPS juga mencakup definisi operasional dari tiga gejala prodromal (Criteria of Prodromal Syndromes/COPS) dan definisi operasional dari onset psikosis (Presence of Psychotic Syndrome/POPS). Sebagai bagian dari SIPS, COPS dan POPS diterapkan untuk informasi dari gejala positif di SOPS, tiga

checklist Schizotypal Personality Disorder, dan kuesioner sejarah keluarga untuk mendiagnosis gejala prodromal dan kehadiran psikosis. B. SOPS (The Scale of Prodromal Symptoms) (McGlashan, 1996): Scala ini terdiri dari 19 item yang dirancang untuk mengukur tingkat keparahan gejala prodromal dan perubahannya dari waktu ke waktu. Ini mungkin dikonseptualisasikan sebagai analog dari Positive and Negative Syndrome Scale, Brief Psychiatric Rating Scale, dan rating scale lainnya yang biasa digunakan untuk mengukur tingkat keparahan pada pasien yang sepenuhnya psikotik. SOPS terdiri dari 4 subskala yaitu skala positif, negatif, disorganisasi, dan gejala umum pembentuk. Ada 5 positif, 6 negatif, 4 disorganisasi, dan 4 item gejala umum. Item negatif, disorganisasi, dan gejala umum pada SOPS ini bukan merupakan bagian dari membuat diagnosis prodromal pada COPS tapi sangat berguna untuk menentukan tingkat keparahan dari diagnosis yang ada. Beberapa instrumen yang digunakan untuk menilai gejala prodromal adalah kriteria diagnostik Criteria of Prodromal Syndromes (COPS) (McGlashan et al, 2003; Woods et al, 2001), Instrument for the Retrospective Assessment of the Onset of Schizophrenia (IROAS) (Hafner et al, 1992), Bonn Scale for the Assessment of Basic Symptoms (BSABS) (Huber et al, 1980), dan Multidimensial Assessment of Psychotic Prodrome (MAPP) (Yung & McGorry, 1996)

Durasi dari Prodromal Schizophrenia Hampir semua pasien mengalami fase prodromal, yang bervariasi dalam durasi, dapat dalam periode yang sangat singkat sampai dalam jangka waktu beberapa tahun. Varsamis dan Adamson (1971) menemukan bahwa ada kecenderungan durasi fase prodromal bersifat distribusi bimodal, yakni pada beberapa pasien kurang dari satu tahun dan pasien lainnya lebih dari 4 tahun. Beiser et al (1993) melaporkan bahwa periode prodromal sangat bervariasi tinggi di durasinya, dari tidak ada sama sekali sampai durasi 20 tahun. Loebel et al (1992) menemukan bahwa interval waktu dari saat onset terjadinya gejala prodromal sampai onset gejala psikotik rata-rata 98,5 minggu. Interval waktu ini tidak terlalu berbeda signifikan untuk schizophrenia dan subjek schizoaffective, dan juga tidak ada perbedaan signifikan dalam jenis kelamin.

Progresi Menjadi Schizophrenia Conversion rate (tingkat konversi) tidak hanya bergantung pada kriteria inklusi tapi juga sampling populasi dan terapi yang diberikan. Meskipun konversi ke psikosis dianggap sebagai kriteria utama, transisi ke kelainan mental berat lain juga umum terjadi namun kurang mendapat perhatian. Tingkat konversi ke psikosis sangat bervariasi pada beberapa studi walaupun sampel yang diambil sebanding. Kriteria inklusi yang paling banyak digunakan untuk farmakologis pencegahan pre onset, Kriteria Australian (Yung et al, 1998), memprediksi konversi ke psikosis adalah sekitar 50% kemungkinan di bawah 1 tahun kondisi perawatan naturalistik, seperti tercantum dalam tabel 3 berikut.

Tabel 3 Studi Yung & McGorry, 1996 Kriteria Inklusi Conversion Rate

1) Penurunan psikososial pada keluarga 21% dalam 20 bulan positif, atau 2) Dua gejala prodromal DSM-III-R, atau 3) Personaliti schizotypal atau schizoid

Yung et al 1998

1) BLIPS, atau

41% dalam 12 bulan,

2) Gejala psikiatrik bawah ambang, 50% dalam 24 bulan, atau 3) Penurunan psikososial sejarah keluarga positif Cornblatt & Malhotra, Identik dengan Yung et al, 1998 2001 McGlashan et al, 2001 Klosterkotter et al, 2001 Identik dengan Yung et al, 1998 dengan 14% setelah 6 bulan 54% dalam 12 bulan

Dua gejala dasar kognitif pada subjek 59% dalam 6-9 tahun, dengan keadaan mental berisiko 97% dengan variable

length of state at risk follow-up period (rata-rata 9.6 tahun)