Anda di halaman 1dari 7

Jika maneuver gagal, sinus maksilaris dapat diirigasi dengan larutan salin diikuti dengan suction yang masuk

ke akar. Jika potongan akar tidak dapat dilihat, tahapan harus dihentikan. Terdapat 2 langkah yang dapat dilakukan: HUbungan sinus ditutup dan potongan akar ditinggalkan didalam. Pasien selanjutnya dilakukan foto panoramik untuk melihat posisi akar. Jika pasien tidak ada keluhan, dengan potongan akar yang tertinggal dalam antrum, hal ini memudahkan untuk mengamati akar dengan beberapa jenis radiografi Penutupan perforasi sinus diikuti dengan pembuangan potongan akar tertunda atau segera dengan cara bedah Caldwell-Luc, transalveolar, atau
bedah sinus endoscopi.

Penjelasan ini akan dijelaskan lebih lanjut di bab selanjutnya KOMPLIKASI Perpindahan potongan gigi / akar ke dalam sinus maksilaris dikenal dengan komplikasi pada dentoalveolar maksila. Meskipun beberapa pra operasi ditemukan dapat mengidentifikasi resiko pada pasien (lihat sebelumnya), komplikasi ini dapat terjadi pada setiap pasien. Kemungkinan komplikasi bedah dentoalveolar lainnya tercantum dalam Kotak 5-4. Nyeri dan bengkak adalah konsekuensi yang tidak dapat dihindari dari setiap pembedahan. Namun, langkah-langkah untuk meminimalkan rasa sakit dan pembengkakan (pemberian steroid pra operasi, waktu operasi yang singkat, dan teknik bedah yang teliti) dapat meningkatkan kenyamanan dan kepuasan pasien. DISKUSI Akar palatal pada gigi molar pertama rahang atas kebanyakan akarnya masuk kedalam sinus maksilaris. Hal ini menimbulkan perdebatan mengenai penatalaksanaan optimal pada potongan akar yang masuk ke dalam sinus maksilaris. Banyak ahli bedah menganjurkan pencabutan semua potongan akar dari sinus terlepas dari keadaan patologi yang sudah ada pada sinus atau periapikal. Hal ini merupakan hipotesis bahwa ujung akar dapat bertindak sebagai benda asing di dalam sinus yang dapat menyebabkan polip atau sinusitis. Meskipun belum ada penelitian pasti yang mengevaluasi masalah ini, sebagian besar peneliti berpendapat bahwa keputusan harus dibuat atas dasar kasus per kasus. Hal ini dianjurkan jika kecilnya ujung akar (kurang dari 3 mm) dan tidak adanya keadaan patologi sinus dan gigi,kecil kemungkinan untuk dilakukan pengambilan akar. Kebanyakan potongan sisa akar yang fibrose yang masuk kedalam sinus membran tanpa gejala jangka panjang. Laporan kasus yang diambil dari implan rahang atas yang bermigrasi atau perforasi mukosa sinus menunjukkan bahwa tidak ada radang perubahan mukosa (baik secara klinis dan radiografi).Namun,laporan kasus lain di mana migrasi pelapis skrup dapat menyebabkan sinusitis akut.

Langkah yang biasa dilakukan untuk mengeluarkan potongan asli dari sinus maksila adalah Caldwell-luc. Incisi vestibulum biasa digunakan untuk membuka fossa kanina. Lubang dibuat dari dinding anterior maskila, diikuti pembukaan sinus. Hal ini dapat membesarkan akses sinus yang dibutukan. Perlu diperhatikan saraf infraorbita mencegah hipoestesia post operasi. Pembukaan sinus maksilaris juga dapat diperlebar melalui pendekatan transalveolar, dengan melebarkan pembukaan soket ekstraksi. Penghilangan tulang bukal melebihi puncak soket memungkinkan terlihatnya mukosa antral. JIka membrane tidak memngganggu, jaringan tersebut mungkin akan dibuka, jika tidak, pembukaan dapat dilakukan melalui membrane untuk memungkinkan pembukaan sinus. Pembukaan tertutup pertama dengan menggunakan flap bukal. Teknik ini membutuhkan terbukanya atap hingga dasar antral (posisi pembukaan kebanyakan pada gigi yang dicabut). Namun jika pasien tertarik menggantikan daerah edentulous dengan implant, hal ini akan merugikan tulang alveolar di sekirarnya yang penting untuk restorasi implant. Tabel 5.4 Komplikasi Bedah dentoalveolar Komplikasi Intraoperative Fraktur akar ( meningkatkan sesuai dengan pertambahan umur dan adanya perawatan saluran akar) rusaknya struktur pendukung ( saraf lingual, saraf alveolar inferior, saraf mentalis, arteri besar palatinal, dan vena dan rusaknya gigi disebelahnya dan restorasi) Fraktur tuberositas maksilari (terlihat dari ekstraksi molar kedua dan ketiga rahang atas, meningkat sesuai dengan umur) Hubungan oroantral Penempatan salah pada bagian gigi yang patah (atau gigi yang masuk) diluar dari soket gigi. Fraktur gigi akan masuk kedalam sinus maksilaris, canalis alveolaris inferior, fossa infratemporal (komplikasi yang tidak biasa terjadi pada ekstraksi molar ketiga rahang atas), spasia sublingual (perforasi pada cortex lingual dibawah perlekatan mylohyoid) Hemoragi (pendarahan disisi lain pad pasien noncoagulopathic yang paling sering mudah dikontrol dengan pengukuran local) Sakit TMJ(kedua dari kekejangan otot akut TMJ, terutama sebelumnya muncul kerusakan bagian dalam)

Fraktur Mandibula (hal ini tidak biasa terjadi tapi komplikasi biasa pada ekstraksi molar ketiga mandibular) Gagal pemasukan anastesi lokal post operasi.

Komplikasi Post operasi Osteitis Alveolaris (dry socket) Infeksi daerah terbuka Komplikasi Periodontal (Hilangnya tingkat perlekatan ginggiva atau berkembang menjadi poket periodontal) Kurangnya penutupan daerah terbuka karena terhambatnya penyembuhan Abnormal tulang alveolar atau irregularitas (dibutuhkan kembali alveoplasty minor) Osteoradionekrosis Biposponat- menyebabkan Osteonekrosis pada rahang

Mencegah penempatan salah pada gigi adalah perawatan yang terbaik. Jika ujung akar fraktur dan suspek dokter harus curiga ada pemasukan kedalam sinus, usaha tertutup untuk elevasi bagian fraktur sebaiknya dihindari.Penggunaan headlight dan pemaparan penuh pada area seringkali berhasil untuk mendapatkan kembali akar dari soket. Banyaknya teknik, termasuk menggunakan file endodontic untuk menghilangkan ujung akar, telah dijelaskan. Hal ini biasa disarankan jika terpaparnya sinus melalui terapi antibiotik melalui rongga mulut dan sinus pre-cautions ,tanpa memperhatikan pertimbangan untuk mempertahankan atau mengambil kembali fraktur akar. Bakteri dalam rongga sinus meliputi Haemophilus influenzae, Streptococcus pneumoniae, dan Moraxella catarrhalis. Dekongestan nasal seperti oxym-etazoline (Afrin) atau pseudoephedrine biasa digunakan untuk meningkatkan drainase sinus.Aplikasi secara topical untuk oxymetazoline (alpha-agonist) menyebabkan vasokonstriksi arteri, mengakibatkan mengerutnya mukosa nasalis, yang dihaharuskan untuk drainase kembali. Oxymetazoline tidak boleh dipergunakan lebih dari 3 - 5 hari berikutnya pada penanggulangan rhinitis medikamentosa, menyebabkan tertutupnya kembali kongesti nasalis. Pseudoephedrine ( simpa-tomimetik, alphaadrenergic agonist)-mengandung dekongestan menyebabkan vasokonstriksi oleh

aksi dari reseptor alpha-periperal, tanpa efek samping dari sistem saraf pusat. Obat ini biasa terdapat di campuran agen antihistamin atau antitussive. Ekstraksi molar ketiga madibula dapat menyebabkan kompikasi karena salah penempatan ujung akar menembus melalui korteks lingual kedalam spasia submandibular atau sublingual (tergantung perlekatan otot mylohyoid). Dasar lingual pada molar tiga mandibular sangat tipis, contohnya, penestrasi. Identifikasi awaL fraktur gigi biasanya salah penempatan dari soket , penempatan jari sepanjang aspek medikasi pada korteks lingual dapat berangsur-angsur mencegah komplikasi. Jika gigi masuk kedalam spasia submandibular atau sublingual, usaha yang dilakukan untuk menarik kembali melalui soket atau perforasi ekstraksi. Jika cara ini tidak berhasil, flap mukoperiostela lingual dapat dilakukan untuk eksplorasi di daerah terdekatnya.perhatikan, jangan sampai rusak saraf lingual. Jika hal gagal untuk identifikasi gigi, prosedur ditunda dan pasien diberikan antibiotic. dalam periode 4-6 minggu diharapkan terjadi fibrosis pada gigi untuk mendukung pencabutan. CT scan dibutuhkan untuk menggambarkan posisi gigi ekstraksi, mendukung rencana post operasi . Untuk fraktur akar kecil( kurang dari 5 mm) tidak dihubungkan dengan patologi , dokter bedah sebaiknya memilih untuk mengobservasi gigi dan hanya menghilangkan fraktur jika terdapat gejala . DAFTAR PUSTAKA Barclay JK: Root in the maxillary sinus, Oral Surg Oral Med Oral Pathol64:162-164, 1987. Iida S, Tanaka N, Kogo M, Matsuya T: Migration of dental implant into the maxillary sinus. A case report, Int J Oral Maxillofac Surg29(5):358-359, 2000. Lee FM: Management of the displaced root in the maxillary sinus, Int J Oral Maxillofac Surg7:374-379, 1978. Peterson LJ, Ellis E, Hupp JR, Tucker MR: Contemporary oral and maxillofacial surgery, St. Louis, 1993, Mosby, pp 279-280. Speilman AI, Laufer D: Use of a Hedstrom file for removal of fractured root tips, J Am Dent Assoc 111(6):970, 1985. Ueda M, Kaneda T: Maxillary sinusitis caused by a dental implant: report of 2 cases, J Oral Maxillofac Surg 50:285-287, 1992.

PATOLOGI KEPALA DAN LEHER

Penyakit patologi pada kepala dan leher berarah pada spectrum luas penyakit yang dihubungkan dengan maksilofasial atau penyakit sistemik. Beberapa katagori dapat diidentifikasi penyakit, yang dapat muncul menjadi diagnosis banding: Inferksi (contohnya infeksi bakteri, jamur dan virus) Trauma (contohnya fibroma iritasi) Neoplastic: epitel, jaringan penghubung, glandular, limphatik, osseus, otot, dan tumor vascular yang dapat dikaterestikan sebagai tumor jinak atau ganas; penyakit metastatic kepala dan leher didefinisikan sebagai keganasan Penyakit yang dihubungkan dengan imunoligi (contohnya rematoid arthritis) Efek samping atau obat lain atau terapi bedah ( contonya osteoradionekrosis) Kista pada kepala dan leher (inflamasi atau non-inflamasi kista) Proses patologi yang dihubungkan dengan anatomi daerah sekitar (contohnya sialothiasis) Malformasi kongenital (celah bibir dan palatum) Penyakit degenerative( osteoarthritis) Iatrogenic (contohnya kerusakan intraoperative sampai nervus kranial) Idiopatik (contohnya ulser aphtous) Vaskulitis (contohnya arteritis temporal)

Beberapa kategori ini ditempatkan pada beberapa bab di dalam buku ini. Pada bab ini, kita menyeleksi 12 kasus yang dikategorikan sebagai penyakit infeksi traumatic, neoplastic anatomis dan etiologi idiopatik yang biasa dalam rongga mulut dan maksilofasial. Pada kasus tersebut didiskusikan diagnosis banding pada massa leher diperlukan , dan garis besar kasus osteoradionekrosis menjadi perdebatan saat ini dan penanggulangan masalah tersebut menjadi komplikasi yang kompleks pada radiasi kepala dan leher.

CONTOH KASUS Wanita 53 tahun (pleomorphic adenoma paling banyak pada 4-6 dekade ini, predileksi pada wanita langsing),guru sekolah datang untuk mengevaluasi massa inferior pada telinga kirinya. RIWAYAT TERDAHULU Lebih dari 8 bulan yang lalu, dia memperhatikan pembesaran massa anterior dan inferior yang progresif pada telinga kirinya (pleomorfik adenoma yang biasa menjadi tumor jinak pada kelenjar saliva mayor. Hal ini berkembang secaqra lambat dengan rata-rata kurang dari 5 mm per tahun). Dia menjelaskan pembesarannya secara lambat, dan cepat dia dating ke dokter giginya. Massa ini tidaksakit, parastesia atau berkurangnya motoric (berkurangnya nervus motoric atau sensorik tidak biasa terlihat dengan neoplasma kelenjar saliva jinak). Dia menyangkal adanya gejala awal seperti demam, haus, berkeringat saat malam , berubahnya sensasi rasa dan berkurangnya berat badan (gejala sistemik dihubungkan dengan proses inflamasi atau keganasan). PEMERIKSAAN KLINIS DAN RIWAYAT MEDIKASI ATAU ALERGI Dia dating secara rutin ke dokter gigi setahun sekali. Dia meminum alkohol pada acara social dan tidak pernah merokok (hal ini tidak dihubungkan dengan tembakau dan alcohol yang menjadi factor resiko perkembangan pleomorfik adenoma. Salah satu factor resiko potensi adalah terpaparnya bahan kimia dan hisap tetapi hubungan ini sangat lemah). Tidak ada riwayat sebelumnya kanker kepala dan leher atau operasi bedah plastik wajah (penting untuk memperhatikan pembedahan sebelumnya pada daerah patologi). Dia telah menerima semua imunisasi pada masa kecilnya termasuk vaksin mumps sebagai salah satu bagian dari vaksin MMR (kecil kemungkinan untuk mump sebagai penyebab dari pembengkakan parotid). PEMERIKSAAN Kesehatan umum, pasien tumbuh kembang dengan baik dan cukup nutrisi selama 43 ahun dalam ketidak stressan.

Tanda vital. Tekanan darahnya 135/90 mmHg, Nadi 80, respirasi 16 dan suhu 36,9oC. Pemeriksaan maksilofasial. Pemerikasaan mata dan telinga tidak terdeteksi .Membran timpani tidak ada secara bilateral. Nervus kranial II sampai XII terkena, tidak melemah otot mastikasi. Tidak ada melemahnya otot mastikasi (V). Tidak ada kerkurangan penyebaran sensoris pada V1-V3. Otot wajah mimetik terkena dan simetris ( terkena nervus fasial dan trigeminal akan symmetrical (involvement of the facial or trigeminal nerve would be suggestive of a malignant process). There is a visible swelling in the left subauricular area that distorts her facial contour. Palpation reveals a well-circumscribed, freely moveable, firm, rubbery 1- to 1.5-cm nontender mass above the angle of the mandible (benign processes are typically slow growing and push rather than infiltrate local structures, as the overlying skin and adjacent structures such as blood vessels and nerves are usually not involved). There is no warmth, erythema, ulceration, or indu-ration of the overlying soft tissue (signs of an inflammatory or a malignant process). Intraoral.The parotid papillae appear noninflamed bilat-erally, with expression of clear saliva from Stensons duct (purulence drainage from the duct would be indicative of suppurative parotitis). There are no mucosal ulcerations or intraoral extension of the mass (consistent with a benign process). Neck.No palpable submandibular or cervical lymphade-nopathy (palpable lymph nodes would be indicative of a malignant neoplastic process).