Anda di halaman 1dari 34

THE REASON Desclaimer: Naruto milik Masashi Kishimoto, saya cuma minjam tokoh-tokohnya saja Author: Morena L Pairing:

Sasusaku and other pairings Warning: AU, OOC, OC, typo(s), DLDR . . . . Sasuke masih terus memandangi wajah cantik yang telah terlelap di sebelahnya itu. Hatinya sungguh gelisah karena besok pagi ia harus pergi melakukan perjalanan bisnis selama tiga hari ke London. Ada sesuatu yang mengganjal dalam benaknya, sesuatu yang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Mungkin resah yang dirasakannya yang membuat ia tidak dapat tidur pada malam hari ini. Ia memberikan kecupan kecil pada dahi Sakura, bertahan sebentar lagi sambil memandangi istrinya itu. "Aku mencintaimu, aku selalu mencintaimu Sakura, baik dulu maupun sekarang." Bisiknya lirih, sayang sang wanita masih sangat terlelap di alam mimpi dan tidak mendengarkan ucapan dari pria yang diam-diam telah mencuri hatinya itu. . . . Hyuuga Neji pun tidak berhasil memejamkan matanya sejak tadi, pertemuannya dengan Sakura pada pagi ini benar-benar menghancurkannya. Hime-nya yang telah ia tunggu selama bertahun-tahun telah diambil orang. Yang paling membuatnya tidak terima adalah pria yang merebut Hime-nya itu adalah orang yang paling ia benci. Amarah dan dendam merasuki jiwanya, kenapa ia tidak pernah mendapatkan kebahagiaan yang dia inginkan? Kenapa ia selalu diperlakukan tidak adil oleh nasib? Kenapa hanya dia yang selalu sial dalam kehidupan? "Hime, kau akan kukembalikan ke sisiku. Aku yang paling mencintaimu di dunia ini." . . 000 .

. Juli 20XX (4 tahun yang lalu) . . -Kediaman Hyuuga pukul 00.00 waktu setempat"MEMALUKAN!" Teriakan penuh amarah Hyuuga Hiashi menggelegar di ruang keluarga, tampak Hyuuga Neji dengan sekujur tubuh penuh memar dan lebam berlutut di depan ayahnya. "KAU BENAR-BENAR SUDAH MENCORENG NAMA HYUUGA." Sekali lagi pukulan dilayangkan pada tubuh sang putra. "Ma.. maafkan aku tou-sama.." dengan terbata Neji meminta maaf sambil memeluk kaki ayahnya. Masih dipenuhi emosi, dihempaskannya tubuh Neji. "Anak sepertimu benar-benar membuat malu. Apa yang harus kukatakan kalau sampai kelakuan memalukanmu sampai didengar orang? Kau tidak hanya membuat malu ayahmu ini, tapi kau juga membuatku malu pada leluhur Hyuuga yang sudah menjaga nama baik keluarga kita selama ratusan tahun!" "Bisakah kau perlakukan aku selayaknya seorang anak?" "Dengar Neji. Sebagai penerus klan Hyuuga, kau harus menjaga nama baik klan ini. Kehormatan klan kita jauh lebih berharga daripada apa pun!" Hati Neji semakin tertusuk mendengar jawaban sang ayah. Salahkah jika ia ingin diperlakukan sebagai seorang anak yang normal? Selama 18 tahun hidup, ia dibesarkan dengan sangat keras. Ia tidak meminta banyak hal, yang ia inginkan hanya ayahnya memperlakukan dia sebagai seorang anak bukan sebagai penerus sebuah klan. Lebih baik ia dilahirkan dalam keluarga miskin yang penuh dengan cinta kasih keluarga daripada harus dilahirkan dalam keluarga kaya raya namun cinta yang ia inginkan dari sang ayah tak juga ia dapatkan. "Akhiri hubungan tidak wajarmu dengan orang asing itu, atau aku akan membuangmu dari keluarga ini!" Neji memandang wajah sang ayah dengan perasaan hancur. "Setidaknya ia memperlakukanku sebagai manusia. Dia memperhatikanku di saat tak seorang pun mau melihatku. Dia tidak menekanku tapi menguatkan aku." "NEJI! Akhiri hubungan tidak wajarmu, atau kuatur agar orang asing itu dideportasi selamanya dari Jepang! Jangan membuat kesabaranku habis." Neji membuang muka, bukannya ia tidak mau mengakhiri hubungannya dengan Pierre. Namun ia tahu, kenyataan ini akan membuat ayahnya terluka dan ia senang mengetahui hati ayahnya tersakiti karena itu. "Introspeksi diri Neji. Kau dikurung di gudang belakang sampai kau menyesali perbuatanmu. Selama itu tidak ada seorang pun yang boleh memberimu makan dan minum. Baik itu ibumu, Hinata, tau Hanabi sekali pun!"

Hiashi kemudian pergi meninggalkan Neji di ruang keluarga mereka, emosi masih meledak-ledak dalam dirinya. Tidak ada seorang pun yang berani membantah Hiashi saat ini, jika itu terjadi maka sama saja dengan cari mati. Sang istri yang berusaha menenangkannya pun ditepis, beruntung Hinata dan Hanabi sudah tidur sehingga mereka tidak mendengar murka sang ayah. . . 000 . . Sudah dua hari Neji dikurung di gudang belakang rumahnya. Kondisi gudang yang penuh dengan debu membuatnya semakin melemah, luka-luka di tubuhnya sudah diobati oleh kepala pelayan mereka. Luka di tubuhnya memang sudah membaik, namun luka hatinya masih menganga dengan sangat lebar. Neji tidak pernah mendapat perhatian yang ia inginkan di rumah. Ia dilatih dengan keras agar menjadi penerus klan Hyuuga yang berkualitas. Ia dididik dengan sangat keras terutama oleh ayahnya. Ibunya memberikan perhatian secara tersirat agar dia tidak menjadi manja. Sebenarnya sang ibu ingin terang-terangan menyalurkan kasih sayangnya pada Neji seperti yang ia berikan pada Hinata dan Hanabi. Namun, rasa takut dan patuh pada sang suami yang membuatnya agak keras pada Neji. Mereka tidak menyadari jika cara mereka itu sangat menyakiti jiwa Neji, dia kuat tetapi rapuh dari dalam. Setidaknya Neji mendapat penghiburan dengan Hinata dan Hanabi yang sangat sayang padanya. Neji tahu hubungannya dengan Pierre memang sebuah kesalahan. Awalnya mereka hanya teman sekamar di sekolah mereka yang bersistem asrama. Neji tidak menyadari jika Pierre memiliki ketertarikan khusus padanya, ia tidak sadar jika perhatian yang diberikan Pierre itu bukanlah perhatian yang wajar antarteman. Ia yang haus akan kasih sayang membiarkan saja dirinya terseret tanpa ada perlawanan, ketika sadar ia sudah terjerumus cukup dalam namun belum terlalu jauh. Hubungannya dan Pierre belum sampai ke tahap hubungan fisik secara intim antar pria. . . 000 . . Deritan pintu terdengar dan Neji menyipitkan matanya karena silau oleh cahaya dari luar. "Neji, anakku.." Suara lembut sang ibu menyapa indera pendengarannya. "Hn, masih ingat kalau aku anakmu?" Balasnya sinis.

Sang ibu menyentuh pipinya lembut, kini Neji dapat melihat wajah ibunya yang dipenuhi dengan linangan air mata. "Anakku sayang.. Hiks.. Hiks Maafkan aku nak.." Neji hanya diam, ia kehilangan kata-kata. Bagaimana pun wanita yang ada di hadapannya ini adalah wanita yang nelahirkannya, ia masih punya hati untuk tidak menyakiti wanita ini. "Neji, maafkan tou-sama ya.. Kau tahu wataknya memang keras." Lagi-lagi Neji membuang mukanya, "Kaa-sama hanya memperhatikan tou-sama, Hinata, dan Hanabi. Kenapa tiba-tiba memperhatikanku?" "Hiks.. Hiks.. Neji.. Aku mencintaimu nak, kau anakku. Hatiku tersayat-sayat setiap kali kau dimarahi dan dipukul." Neji masih enggan memalingkan wajahnya. "Neji, anakku. Ini ada sejumlah uang dan dalam tas ini ada barang-barang yang kau butuhkan. Pergilah dulu, tenangkan dirimu. Masalah tou-sama biarkan aku yang atasi, pergilah jauh dari sini setelah kau tenang baru kau kembali." "Kaa-sama? Ini" "Pergilah Neji, sebelum tou-sama pulang. Walau hanya sebentar nikmatilah kebebasanmu." . . 000 . . Neji benar-benar tidak menyangka jika ia akan meninggalkan rumahnya, saat ini ia pergi tanpa tujuan. Ia membiarkan kemana kakinya melangkah begitu saja, tanpa sadar dirinya sudah berada di Kyoto. Ia datang hanya dengan berbekal sejumlah uang tunai dan tas ransel yang berisi barang-barang yang disiapkan ibunya. Sang ibu sepertinya sudah memperhitungkan Neji akan membutuhkan uang dalam jumlah yang cukup besar sehingga ia menyiapkan uang tunai yang cukup banyak pula. Hal ini agar mencegah Neji melakukan penarikan dari ATM atau menggunakan kartu kredit yang dapat memudahkan sang ayah untuk menemukan lokasinya nanti. Saat ini jalanan Kyoto sedang ramai karena adanya festival di musim panas. Neji benar-benar asing di kota ini, ia pernah beberapa kali datang ke Kyoto namun itu untuk darmawisata sehingga ia tidak begitu familiar dengan kota ini. Neji masih terus berjalan sampai ia menemukan sebuah penginapan kecil, berhubung hari sudah mulai gelap jadi ia memutuskan untuk menginap di penginapan tersebut. "Selamat datang." Sambut seorang pria dengan ramah.

Neji mengangguk sambil tersenyum. "Apa anda mau menginap di sini?" "Ya, aku mau pesan satu kamar." Jawab Neji. "Untuk berapa lama?" "Aku belum tahu, sepertinya aku mau menikmati suasana Kyoto sedikit lebih lama." "Baiklah. Perkenalkan nama saya Iruka Umino, atas nama siapa kamar yang akan anda sewa?" Neji menimbang-nimbang sebentar, apa dia akan menggunakan nama asli atau samarannya ya? "Hyuuga Neji." Akhirnya dia memilih untuk menggunakan nama aslinya. "Baiklah Hyuuga-san, keponakan saya akan mengantarkan anda." Neji mengangguk lagi pada pemilik penginapan yang bernama Iruka itu. "Sakuraaaa," Nampak sang paman memanggil keponakannya. "Ya" dari dalam munculah seorang gadis dengan rambut berwarna pink sebahu. "Antarkan Hyuuga-san ke kamar nomor 4 ya. Ini kuncinya." Kata Iruka sambil menyerahkan kunci pada Sakura. "Baik ji-san. Hyuuga-san silakan lewat sini." "Selamat beristirahat Hyuuga-san." Kata Iruka ramah. Neji tidak lagi memperhatikan kata-kata pria yang bernama Iruka itu. Ia terjerat pada mata emerald indah milik gadis yang berjalan di depannya ini. Dari perawakan gadis itu Neji menduga umurnya sekitar 14 atau 15 tahun. "Sudah sampai Hyuuga-san, kita sudah sampai. Ini kamarmu." Kata Sakura saat mereka sampai di sebuah kamar dengan angka 4 pada pintunya yang berwarna coklat. "Hn." "Hyuuga-san, kenapa melihatku terus?" merasa risih akhirnya Sakura bertanya pada lelaki yang sedari tadi terus memandangnya. "Tidak, aku hanya teringat pada adikku. Kau seumuran dengan adikku." "Pasti kau merindukan mereka. Aku juga rindu pada nee-chan." Senyum gadis pink ini benar-benar memikatnya, senyuman yang sangat manis. "Aku juga rindu adik-adikku."

"Kalu begitu selama kau di sini anggap saja aku adikmu, lagipula aku tidak punya kakak laki-laki jadi selama ada kau aku bisa merasakan rasanya punya kakak laki-laki." Ujar Sakura spontan. "Baiklah, mulai sekarang kau adikku. Nah, adikku yang cantik siapa namamu?" Sakura agak merona saat dipanggil cantik oleh pria yang baru menjadi kakaknya itu. "Namaku Haruno Sakura, salam kenal nii-chan." "Sakura di musim semi, nama yang cantik. Namaku Hyuuga Neji, tidak kusangka aku langsung mendapatkan adik yang manis secepat ini." Sakura kemudian menyodorkan kelingking kanannya, "ayo kita janji kelingking. Mulai sekarang aku dan nii-chan bersaudara." Neji mengulurkan jari kelingking kanannya juga, di depan pintu kamar nomor 4 itu mereka berdua berjanji menjadi saudara. Siapa yang menyangka jika perasaan Neji nantinya akan berkembang dengan sangat kuat pada gadis manis di hadapannya ini. . . Sakura yang merasa kehausan pada tengah malam terbangun dan segera menuju dapur untuk mengambil air. Saat akan kembali ke kamarnya ia mendengar suara aneh yang berasal dari lantai atas. Lantai atas memang digunakan sebagai kamar tamu untuk menginap. Perlahan-lahan ia berjalan menaiki tangga, suara aneh itu berasal dari kamar nomor empat, kamar Neji. Sakura menyandarkan telinganya pada pintu, ia penasaran suara apa itu. Setelah beberapa saat, Sakura menyimpulkan bahwa itu adalah suara tangisan Neji. . Neji POV . Aku menangis dengan tersedu-sedu, mengingat kembali bagaimana perlakuan ayahku selama ini. Demi Tuhan, aku tidak minta banyak hal! Permintaanku hanya satu, ayah bisa memperlakukanku seperti seorang anak yang dicintai dalam keluarga. Aku lelah diperlakukan seperti alat, aku bukan mesin. Aku manusia yang punya perasaaan. Masih jelas dalam ingatanku bagaimana aku ditampar ayah saat peringkatku turun dari peringkat satu ke peringkat dua. Bahkan jika aku tetap memperoleh peringkat pertama tapi nilaiku turun dari semester sebelumnya pun aku akan tetap dimarahi. Ketika SD, aku begitu iri melihat anak-anak yang diantar dan dijemput orang tuanya. Sebelum masuk ke sekolah mereka akan mendaratkan ciuman di pipi anak mereka, memberikan kata-kata semangat, dan melambaikan tangan untuk anak mereka. Sedangkan Aku? Walaupun diantar dengan mobil mewah yang membuat iri banyak orang, tapi aku tidak diantar oleh orang tuaku, aku hanya diantar oleh supir setiap hari. Tok.. Tok.. Tok..

Terdengar ketukan pada pintu kamar penginapanku. Aku tetap diam mengucahkan sang pengetuk pintu, namun karena si pengetuk pintu tidak kunjung menghentikan ketukannya maka akhirnya aku membuka pintu kamar ini. Sedikit terkejut melihat sosok merah muda berdiri di depan pintu dengan wajah cemas. "Nii-chan kenapa?" "Tidak apa-apa Sakura. Aku baik-baik saja." "Nii-chan bohong, tadi aku mendengar suara tangisan dari kamar nii-chan." Dengan seenaknya nona pink ini memasuki kamarku. "Mungkin kau salah dengar, sekarang kembalilah ke kamarmu." "Tidak mau. Aku tidak mau kembali sebelum nii-chan cerita!" Jawabnya sambil cemberut. Aku menghembuskan nafas dengan berat. "Tidak apa-apa Sakura." "Bukankah kita keluarga nii-chan? Jika ada masalah maka keluarga adalah salah satu tempat berbagi yang paling nyaman." Deg! Keluarga sebagai tempat berbagi? Selama ini aku hanya berbagi kesedihanku dengan Pierre, tidak ada satu pun anggota keluargaku yang dapat menjadi tempat berbagi. "Nii-chan, dalam keluarga ada kasih sayang. Karena aku dan nii-chan sudah menjadi keluarga jadi nii-chan tidak perlu sungkan untuk berbagi denganku. Aku akan selalu ada untuk nii-chan." Jantungku berdetak semakin kencang, tidak ada seorang pun yang pernah berkata seperti ini padaku, apalagi Sakura berbicara dengan mata emerald-nya yang sangat berbinar. "Bukankah aku ini orang asing? Walaupun kau dan aku baru saja berjanji menjadi saudara tadi, tapi sebaiknya kau tidak terlalu mempercayai orang asing sepertiku. Seharusnya kau curiga pada orang asing sepertiku" Sakura, gadis bermata indah ini kemudian mengambil tangan kananku, ia memandangku sejenak. Aku seperti tersedot masuk ke dalam keteduhan matanya. "Mau orang asing atau tidak, buatku nii-chan adalah orang baik. Kenapa aku harus mencurigai nii-chan? Orang asing sekali pun membutuhkan kehangatan di tempat ia singgah, dari mana kehangatan itu datang kalau bukan dari kasih sayang dan kepedulian? Ayah mengajarkan padaku untuk memberikan kasih sayang kepada siapa saja." "Apa kau menyayangiku Sakura? Aku orang asing yang baru saja kau temui tadi?" "Tidak ada alasan bagiku untuk tidak menyayangimu, apalagi kau sudah menjadi nii-chanku." Pertahananku runtuh sudah. Segera kutarik Sakura dan kupeluk bahu mungil gadis itu. Gadis ini sama sekali tidak memandang asing padaku, gadis ini seolah menunjukkan kalau ia menyayangiku dengan tulus. Kenapa orang yang bukan siapa-siapa bisa memberikan kasih sayang dengan tulus? Sedangkan di dalam keluarga sendiri kita seperti orang asing... . .

000 . . -Mansion Uchiha, 02.00 waktu setempatSasuke memandang kosong pada foto keluarganya. Lagi-lagi tahun ini ia harus melewati ulang tahun dengan ditemani sepi. Ayah, ibu, dan kakaknya sudah pergi untuk selamanya. Kenapa tidak ada salah satu dari mereka yang tinggal untuk menemaninya? Kenapa mereka semua harus pergi meninggalkannya sendiri? Remaja yang baru memasuki usia 16 tahun ini kembali memandang sendu sekelilingnya. Dulu selalu ada tawa di mansion besar ini. Ia bisa bermain berbagai macam permainan bersama Itachi. Setiap kali ia atau Itachi berulang tahun pasti ibunya akan membuatkan kue ulang tahun, dan ayahnya akan berusaha pulang cepat dari kantor. Kenyataan yang harus dihadapi Sasuke sekarang berbeda. Kecelakaan pesawat enam tahun yang lalu telah merenggut semua kebahagiaannya. Dalam usia yang sangat muda ia harus melewati banyak kepahitan, ia harus melewati kehidupannya dengan pahit. Mulai dari kontroversi pengangkatannya menjadi kepala keluarga Uchiha dalam usia yang sangat muda, penyelamatan Uchiha Group dari ambang kehancuran, belum lagi berkali-kali ia mendapat ancaman pembunuhan. Yang paling fatal adalah sejak Sasuke mengambil alih tampuk tertinggi Uchiha Group dua tahun yang lalu, ia sudah lima kali selamat dari percobaan pembunuhan. "Anda masih di sini tuan muda?" "Hn. Kakashi, kau belum tidur?" Sasuke balik bertanya pada asistennya itu. "Tuan muda sebaiknya tidur, ini sudah tengah malam." Sasuke masih memandangi foto keluarganya dalam diam. "Tuan muda, sebaiknya anda berlibur." Sasuke memandang heran pada asisten pribadinya itu. "Kau aneh Kakashi, bukannya itu malah menjadi santapan empuk buat mereka yang ingin menyingkirkanku?" "Tidak tuan muda, saya sudah mengatur liburan anda di Kyoto. Mereka tidak akan menyangka kalau anda akan ke Kyoto." "Hn. Aku percaya padamu Kakashi, tapi aku belum bisa meninggalkan Uchiha Group sekarang. Mereka akan selalu mencari celah." "Percayalah pada saya tuan muda. Saya akan menjaga agar semuanya baik-baik saja sampai anda kembali nanti."

"Kakashi.. Kau satu-satunya yang aku percaya tidak akan menghianatiku, tapi ini akan sangat berat untukmu." "Tuan muda perlu istirahat, nikmatilah masa remaja tuan muda walau sebentar. Karena terpaksa tuan muda harus mengalami masa sulit diumur seperti ini. Sekali ini saja tuan muda, kumohon penuhilah permintaanku." Sasuke sedikit tidak tega melihat Kakashi menunduk seperti itu. Memang diusianya sekarang ini, remaja normal pasti akan bersenang-senang dan menikmati hidupnya, memulai petualangan mencari jati diri, bersenang-senang dengan teman sebaya, dan melakukan hal-hal menyenangkan lainnya. Sasuke menghembuskan nafasnya perlahan, "baiklah Kakashi." . . 000 . . Sudah dua hari ini Sasuke berada di Kyoto, ia berjalan-jalan menikmati pariwista Kyoto yang sangat indah. Ketika siang hari ia suka tidur siang di pinggir hutan, menikmati suasana tenang tanpa diganggu oleh siapa pun. "Aw!" Ketika sedang asik tidur kakinya tiba-tiba terasa sakit seperti terinjak sesuatu. "Kau?" rasa kesal menghampirinya ketika melihat sumber rasa sakitnya itu. Kakinya terinjak oleh seorang gadis dengan rambut sebahu dengan warna yang tidak biasa pink. "Ma.. maaf aku tidak sengaja." Kata gadis berambut aneh itu. Maaf katanya? Enak saja, Uchiha Sasuke adalah orang yang paling tidak suka diganggu ketenangannya! "Sengaja atau tidak, kau sudah mengganggu ketenanganku!" seru pria itu tajam. "Aku kan sudah minta maaf," si gadis malah balik menatang. Perempatan siku muncul di kening Sasuke. Tidak ada seorang pun uang boleh membantahnya apalagi sampai menantangnya. "Hn. Dasar gadis menyebalkan." "Kau yang menyebalkan! Huh!" tidak menunggu lebih lama lagi si gadis pergi dengan wajah cemberut. Baguslah, lebih cepat gadis itu pergi, lebih baik. Ketangannya tidak akan terganggu lagi, topi biru donker yang ia pakai semakin diturunkan agar semakin menutupi wajahnya. "Kyaaaa!" Tiba-tiba terdengar suara teriakan. 'Oh, ada apa lagi ini? Kenapa aku tidak bisa dibiarkan tenang sedikit saja?

"Hiks.. Hiks Kakiku" Saat Sasuke mengangkat kepalanya, gadis tadi terlihat baru bangkit setelah jatuh tersungkur. Sepertinya kaki gadis itu tersangkut akar pohon yang mencuat. Gadis berambut aneh itu terlihat kesulitan berdiri, mungkin kakinya terkilir. Sasuke berpikir sebentar, jika dibiarkan maka gadis itu pasti akan semakin berisik dan ketenangannya akan semakin terganggu. "Dasar gadis menyebalkan," akhirnya Sasuke berjalan mendekat ke arah si gadis kemudian berjongkok di depannya. "Kau mau apa?" Tanya si gadis sambil sesenggukan. Air matanya sudah mengalir dari kedua pipi chubbynya. "Kakimu pasti terkilir dan kutebak kau sedang tersesat. Naiklah, akan kugendong kau sampai di pos polisi terdekat biar kau bisa menelepon keluargamu." Gadis itu memandang Sasuke dengan tatapan tidak percaya. "Hn. Kalau kau tidak mau ya sudah. Aku pergi saja." "Eh? I iya." Sasuke kemudian menggendong gadis itu di punggungnya dan berjalan meninggalkan pinggiran hutan tadi. "Aku tidak berat kan?" Tanya si gadis. "Hn." "Hn itu maksudnya iya atau tidak?" "." "Hei jawab aku~" "Terjemahkan saja sesukamu." Jawab Sasuke datar. "Ck, kau menyebalkan. Oh ya, namaku Haruno Sakura." "Aku tidak tanya." Sakura benar-benar kesal dengan pemuda yang menggendongnya ini. Kalau saja ia sedang tidak ditolong ia pasti sudah mengajak pemuda menyebalkan itu adu mulut. "Terserah. Ng, kalau boleh tahu namamu siapa?" "Sasuke." "Sasuke?" "Hn." "Sasuke saja? Nama keluargamu?"

"" "Baiklah kalau tidak mau memberi tahu." Sepanjang perjalanan Sakura terus berceloteh tanpa berhenti, ia tidak peduli Sasuke mendengarkannya atau tidak, yang penting ia puas berbicara. Sejujurnya Sakura tidak tahan jika hanya berdiam diri dalam waktu yang lama, jadi ia memutuskan untuk terus berbicara agar suasana di antara mereka tidak sepi. "Kau terlalu banyak bicara, kita sudah sampai, ini pos polisinya." "Oh, iya. Arigatou Sasuke-kun." "Hn." Setelah menurunkan Sakura di depan pos polisi, Sasuke segera pergi, ia tidak mau berlama-lama, yang penting gadis tadi sudah dipastikan selamat, maka ia bisa pergi secepatnya. . . 000 . . "Hime, bagaimana kakimu?" Sakura yang sedang duduk di teras menoleh ke arah Neji. "Sudah lebih baik nii-chan." Neji segera mengambil tempat duduk di sebelah Sakura, tangannya mengusap lembut helaian merah muda itu. "Kenapa sampai bisa jatuh? Kau pasti sangat ceroboh." "Aku tidak melihat ada akar pohon yang mencuat, jadinya aku tersandung terus kakiku terkilir." "Lain kali hati-hati Hime." Beberapa hari tinggal di penginapan ini Neji merasakan kedekatan selayaknya sebuah keluarga. Iruka dan beberapa pegawai di penginapan memperlakukannya dengan sangat baik. Dengan inisiatif sendiri ia membantu di penginapan, awalnya paman Iruka menolak namun karena Neji memaksa akhirnya ia mengijinkan dengan syarat biaya penginapan Neji akan dikurangi setengahnya. "Nii-chan, apa kau tidak merindukan keluargamu? Aku perhatikan nii-chan tidak pernah menerima telepon dari keluargamu?" "Mereka mungkin tidak mengingatku Hime."

"Eh? Tidak mungkin. Yang namanya keluarga pasti saling merindukan." Protes Sakura. "Hime, terkadang kenyataan tidak seindah yang ada dalam khayalan. Kita belum tentu dicintai walaupun sebenarnya kita sangat menginginkannya." "Nii-chan, yang namanya manusia pasti bisa merasakan cinta. Dengan nii-chan terlahir di dunia saja sudah merupakan bukti bahwa nii-chan dicintai. Kadang kita merasa tidak dicintai karena kita kurang membuka diri dan hanya terpaku pada satu sisi. Padahal jika kita melihat dunia luas, ada banyak sekali hal-hal walaupun sekecil apa pun itu yang menunjukkan bahwa kita dicintai." Neji sedikit terperangah mendengar perkataan Sakura. Selama ini ia berpikir bahwa ia tidak dicintai karena ia begitu mengharapkan pengakuan dari ayahnya, ia tidak memperhatikan bahwa begitu banyak orang yang peduli padanya. "Hime, apa kau mencintaiku?" "Tentu saja, kau kan nii-chanku.." Jawabnya riang. Hati Neji seketika itu juga dipenuhi dengan rasa hangat, segera dipeluknya Sakura. "Benarkah Hime?" "Hm." Sakura mengangguk dalam pelukan Neji. Tentu saja, Neji adalah kakaknya, bukankah seorang adik memang mencintai kakaknya kan? Begitulah yang ada dalam pikiran Sakura. Sayangnnya maksud 'cinta' yang ada dalam pikirannya dan tidak sama dengan yang ada dalam pikiran Neji. . . 000 . . "Waaaaah Ini indah sekali nii-chan!" Neji dan Sakura saat ini berada di atas Kyoto Tower, bangunan tertinggi di Kyoto dengan tinggi 131 meter. Dari atas menara ini mereka dapat melihat pemandangan di Kyoto dari atas dengan leluasa. "Memangnya kau belam pernah ke sini Hime?" Sakura menggeleng kuat. "Belum pernah nii-chan" "Baiklah Hime, hari ini adalah milik kita berdua. Kita akan pergi kemana pun hari ini." Sakura tersenyum lebar mendengar perkataan Neji. Karin pasti menyesal tidak mau menerima tawaran pamannya untuk liburan di sini.

"Nii-chan, kenapa kau memanggilku Hime?" "Karena kau memang Hime dalam hatiku." Sakura masih menunjukkan raut wajah bingung. Saat ini mereka berdua sedang berjalan sambil berpegangan tangan menuju ke kedai dango. Sakura yang sudah kelaparan merengek untuk dibelikan dango. Sakura sebenarnya sedikit heran, karena dua hari setelah Neji datang, pemuda itu memanggilnya dengan panggilan 'Hime'. Ia tidak merasa risih dipanggil demikian, ia hanya merasa aneh karena selama ini tidak ada seorang pun yang memanggilnya sespesial itu. "Hime, besok kau mau menemaniku Museum Nasional Kyoto?" "Mau nii-chan, di sana banyak benda bersejarah. Selama ini aku cuma bisa melihatnya dari buku." "Kau suka membaca Hime?" Sakura mengangguk dengan mantap. "Aku sangat suka membaca. Suatu saat nanti aku ingin menjadi dokter." "Toloooong, ada pencopet!" terdengar suara teriakan dari arah belakang. Seorang berlari dengan sangat cepat, ia berlari di antara Neji dan Sakura. Pencopet itu mendorong Sakura sehingga gadis itu terjatuh. "Kurang ajar!" geram Neji. "Kau tunggu di sini Hime, aku akan mengejar pencopet itu." Katanya setelah membantu Sakura berdiri. Neji kemudian berlari mengejar pencopet tadi. Suasana kemudian menjadi ricuh, ada suara tembakan yang terdengar sehingga membuat suasana yang sudah kacau itu menjadi semakin tidak terkendali. Sakura menjadi sangat panik, bukan hanya Neji yang belum kembali tetapi suasana yang kacau ini membuatnya tidak tenang. Tiba-tiba ada yang menarik tangannya dan menuntunnya keluar dari kerumunan orang banyak di tepi jalan tadi. Saat Sakura mengangkat wajahnya untuk melihat siapa yang menarik tangannya, ia melihat topi biru donker yang cukup dikenalinya. "Kau lagi?" serunya heran saat mereka sudah sampai di tempat yang agak sepi. "Hn." "Terima kasih sudah menlongku." "Hn. Kau tidak lupa jalan menuju ke rumahmu kan?" Sakura mengedarkan pandangannya melihat sekeliling, ia kemudian menggelengkan kepalanya. "ck, kau memang gadis yang menyusahkan." "Kalau begitu kenapa menolongku dari kerumunan orang banyak tadi?" Teriaknya kesal.

"Aku juga tidak tahu, jangan tanya padaku. Tubuhku bergerak sendiri saat melihatmu tadi." "Hah? Jawaban macam apa itu? Kau memang menyebalkan!" Sasuke kemudian menutup mulut Sakura dengan tangannya, mereka berdua menunduk dan bersembunyi di dalam semak-semak sekarang. "Sssst. Diamlah." Sakura mengangguk perlahan. Ia cukup shock, jaraknya dengan Sasuke sangat dekat, ia bahkan bisa merasakan hembusan nafas lelaki itu. Wajahnya mulai menghangat, ia bisa merasakan guratan-guratan merah mulai timbul pada wajahnya. Tangan Sasuke sendiri masih membekap mulut Sakura. Di dekat semak-semak tempat mereka bersembunyi lewatlah tiga orang yang menggunakan tuxedo hitam sambil memegang senjata. "Kau yakin bocah itu lewat sini?" kata seorang pria dengan kepala botak. "Aku juga tidak yakin, tadi aku hanya melihat dua orang berlari, seperti remaja laki-laki dan perempuan." Jawab temannya yang berambut gondrong. "Ah, pasti itu anak-anak remaja yang sedang berkencan. Sudahlah, lebih baik kita lapor pada bos, anak itu tidak ada di Kyoto. Bukankah kemarin ada laporan kalau dia sedang pergi berlibur ke Hongkong?" kata seorang lagi yang memiliki janggut yang cukup tebbal. "Benar juga, bukankah sudah dicek di bandara, anak itu sedang berlibur ke Hongkong. Sebaiknya kita pulang sekarang dan melapor pada bos." Kata pria yang berkepala botak itu. Keduanya bernafas lega saat ketiga pria tadi sudah pergi. "Haaah, mereka itu siapa Sasuke-kun?" "Aku tidak tahu." "Kalau kau tidak tahu kenapa kita harus sembunyi?" "Hn." Perempatan siku kali ini muncul di kening Sakura. "Kau menyebalkan!" Teriaknya. . . 000 . .

Sakura berjalan sambil menendang kerikil dengan sangat kesal, pemuda yang sedang berjalan mengikutinya dari belakang itu memang perusak mood sejati! "Berhenti mengikutiku! Aku sedang kesal padamu!" "Kita berdua sama-sama tidak tahu jalan." Jawab Sasuke santai. "Setidaknya jika tersesat, kita tersesat berdua." Lanjutnya lagi. "Ck." "Hei Haruno." "Apa?" "Baju belakangmu sobek." "Ma.. Mana?" dengan panik ia mengarahkan tangannya mencari-cari sobekan pada baju belakangnya. Sasuke menyeringai saat melihat kepanikan gadis bermata emerald itu. "Yaaah, sobekannya cukup panjang." Gerutu Sakura saat jari tangannya menyusuri sobekan pada bagian bahu kirinya. "Ini semua salahmu! Kalau kau tidak menarikku ke dalam semak-semak pasti bajuku tidak akan sobek! Dan kenapa kau baru bilang sekarang kalau bajuku sobek? Kenapa tidak dari tadi? Kau memang menyebalkan!" "Bukannya kau yang tidak mau mendengarkanku dari tadi?" Sasuke balik bertanya dengan santai. Sakura mendecih kesal dan membuang muka. Pluk! Jaket hitam mendarat di wajahnya. Ia menarik jaket itu dengan kesal dari wajahnya. "Pakai itu." kata Sasuke. Dengan cemberut Sakura memakai jaket hitam tadi. Tiba-tiba angin berhembus dengan kencang sehingga menerbangkan topi Sasuke. Helaian raven itu bergerak mengikuti arah angin yang kencang. Sakura terpana sesaat, lelaki yang ada di hadapannya ini sangat tampan. Oh ayolah, Sakura adalah remaja perempuan yang normal. Ia akui Neji juga memiliki wajah yang tidak kalah tampan, namun lelaki yang dihadapannya ini memiliki sesuatu yang tidak bisa diacuhkan. Ada sesuatu yang menarik Sakura untuk terus menatapnya. Buru-buru ia menggelengkan kepalanya dan berbalik. Ia kembali berjalan, namun kali ini langkahnya lebih cepat. 'Aku harus segera menemukan telepon umum terdekat, menelepon paman agar ia segera menjemputku.' Sasuke kembali memakai topinya yang sempat terlepas dan berjalan mengikuti Sakura dari belakang. Sasuke jarang berinteraksi dengan banyak orang, sehingga ketika bertemu dengan Sakura yang memiliki banyak ekspresi menurutnya- ia merasa menemukan sesuatu yang sangat menarik. Bersama gadis itu seperti hiburan tersendiri untuknya, ia tidak pernah bosan walaupun hanya memandang gadis itu.

Setelah berjalan hampir 30 menit akhirnya mereka menemukan juga telepon umum. Sakura melompat kegirangan dan segera menelepon pamannya, ia menceritakan ciri-ciri lokasi di sekitarnya sekarang, setelah menelepon sang paman, ia keluar dengan tersenyum. "Pamanku akan datang menjemputku sebentar lagi, apa kau mau kami antarkan nanti?" "Tidak perlu." Sasuke kemudian mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya. Sakura menggeram kesal saat melihat sesuatu yang sedang digenggam pemuda itu. Sakura sangat mengenal benda berbentuk persegi panjang berwarna putih dengan lambang apel yang telah tergigit pada bagian belakangnya. Itu adalah smartphone yang sangat ia idam-idamkan. Tampak Sasuke sedang menelepon seseorang. "KENAPA TIDAK BILANG DARITADI KALAU KAU PUNYA HANDPHONE?" Tanya Sakura dengan kesal saat Sasuke memasukan handphone tadi ke dalam kantong celananya. "Kau tidak tanya." Jawabnya santai. 'Membunuh dilarang ya? Kalau tidak dilarang aku pasti akan membunuh laki-laki ini!' Emosi Sakura semakin memuncak saat melihat seringai menyebalkan Sasuke yang seolah-olah mengejeknya. Mencoba menjaga emosinya Sakura menarik dan menghembuskan nafas dengan teratur, begitu ia lakukan seterusnya. Lebih baik mencari kesibukan lain daripada meladeni lelaki menyebalkan itu. Sekitar satu jam kemudian sebuah sedan Audi berwarna hitam berhenti di depan telepon umun berwarna merah itu. Seorang pria dengan pakaian rapi keluar dan membungkuk hormat pada Sasuke. "Kau mau kuantarkan atau tidak?" "Pamanku akan datang sebentar lagi." Jawab Sakura yang sedang bersandar pada tiang listrik di dekat situ. "Baiklah, aku pergi dulu." Bukannya segera masuk mobil, namun ia malah mendekat pada Sakura. "Kita akan bertemu lagi, tanpa ada seorang pun yang tahu Sa~ku~ra~" bisiknya dengan nada sensual yang membuat Sakura merinding. "Kau!" Sakura hendak mengangkat tangannya menampar pria itu, namun Sasuke tak kalah sigap. Ia menahan tangan Sakura, dan secepat kilat ia mendaratkan kecupan singkat pada bibir mungil gadis manis di hadapannya ini. "Bye" Kemudian ia pergi sambil menyeringai. Sakura sendiri hanya bisa terdiam dan mematung. Ciuman pertamanya baru saja dicuri! . . 000 .

. Tiga minggu di Kyoto ini benar-benar menakjubkan untuk Sakura, ia mendapat seorang kakak laki-laki yang baru dan seorang yang sangat menyebalkan. Entah kenapa ia tidak ingin menceritakan perihal kedua pemuda ini pada keluarganya. Paman Iruka juga tidak menceritakan apa pun tentang Neji pada orang tua Sakura, ia menganggap antara Neji dan Sakura adalah sesuatu yang wajar. Baginya Neji adalah teman main yang tepat untuk Sakura yang ia khawatirkan akan kesepian selama berlibur dengannya di Kyoto. Sakura sering menghabiskan waktunya bersama Neji berkunjung ke daerah wisata di Kyoto seperti Museum Nasional Kyoto, Kuil Kiyomizudera, Kuil Rokuonji, dan tempat-tempat bersejarah lainnya. Jika ia pergi dengan Sasuke, maka mereka akan pergi ke tempat yang tidak pernah Sakura sangka ada di Kyoto. Seolah-olah tempat itu adalah tempat rahasia yang tidak pernah dikunjungi. Ia selalu membuat banyak alasan pada pamannya jika mau pergi bersama Sasuke, karena kata pemuda itu mengatakan ini adalah perjalanan rahasia mereka. Jika sampai ketahuan orang lain selain mereka berdua, maka Sasuke tak akan mau mengajaknya lagi. Sakura yang sangat menyukai tempat-tempat yang mereka kunjungi berdua tentu saja langsung mengiyakan syarat Sasuke itu. Perlahan-lahan ia merasakan ada keanehan yang muncul pada dirinya. Ia suka berdebar tidak karuan saat berada di dekat Sasuke, wajahnya suka merona dengan sendirinya saat membayangkan saat-saat yang dilewatinya berdua dengan lelaki emo itu. Setiap malam sebelum tidur ia selalu terbayang wajah Sasuke, bahkan tidak jarang ia melihat Sasuke ada di sekitarnya. Seperti pembawa berita di TV yang tiba-tiba berubah wajah menjadi wajah Sasuke, pamannya yang sedang makan di hadapannya menjadi Sasuke, Neji yang membantunya merapikan bonsai di halaman samping berubah menjadi Sasuke, semuanya serba Sasuke. 'Apa aku sudah mulai gila ya?' Pikir Sakura. "Hime, sedang memikirkan apa?" Tanya Neji yang sudah mengambil tempat di sebelahnya. Dari tadi dia perhatikan Sakura seperti tidak fokus saat menonton TV, padahal yang sedang tayang adalah acara kesukaannya. "Tidak ada nii-chan." "Hime, ada apa? Ceritakan pada nii-chan, bukankah katamu kita harus saling berbagi?" Sakura menenggelamkann wajahnya pada boneka beruang yang sedang dipeluknya. "Nii-chan, kalau kau berdebar-debar saat bersama seseorang, wajahmu merona saat bersamanya, dan sebelum tidur selalu terbayang wajahnya, menurut nii-chan itu apa?" "Kau merasakan itu pada siapa Hime?" "Seseorang yang baru kukenal. Aku bingung nii-chan." "Yang kau sebut tadi adalah tanda-tanda kau menyukai seseorang." "Be.. Benarkah itu nii-chan?" Tanya Sakura dengan wajah takjub. "Benar sekali Hime." Kata Neji dengan mengangguk pasti. "Kyaaaa Terima kasih nii-chan." Serunya sambil memeluk Neji.

Neji balas memeluknya dengan sayang. 'Bolehkan aku berharap itu aku Hime?" . . 000 . . Sakura saat ini sedang bersiap-siap memakai yukata dibantu dengan dibantu bibinya. Dia terlihat semakin cantik dengan yukata berwarna ivory yang bercorak bunga-bunga sakura berwarna pink cerah. "Sudah siap Hime?" Berbeda dengan Sakura, Neji tidak memakai yukata. Dia lebih memilih memakai kaos berwarna putih dengan kemeja coklat dan celana jeans panjang. "Sudah nii-chan, ayo kita pergi." Sakura pergi sambil menggandeng Neji ke lokasi festival, mala mini aka nada pesta kembang api sehingga ia sangat antusias sejak kemarin. "Pelan-pelan saja Hime, festivalnya tidak akan lari." Neji berusaha menghentikan Sakura yang berjalan sangat tergesa-gesa. "Nanti kita ketinggalan pesta kembang apinya nii-chan.." jawabnya tak sabar. "Kembang apinya jam 10 dan sekarang masih pukul tujuh malam." Akhirnya dengan terpaksa Sakura memelankan langkahnya. Sampailah mereka di lokasi festival, mata gadis enerjik ini langsung berbinar-binar melihat berbagai macam wahana. Dengan energi yang seperti tidak ada habisnya, Sakura mengajak Neji mengelilingi semua wahana. Neji benar-benar kelelahan menemani gadis yang dicintainya ini, mereka berputar ke sana-sini tanpa henti. Mata Sakura semakin berbinar saat melihat wahana memanah, jika tiga kali panahnya tepat sasaran maka pemenangnya akan mendapat ice cream strawberry super jumbo. Bagi Sakura yang merupakan seorang pecinta ice cream, tentu saja ini adalah surga. "Kau mau itu?" Seolah mengerti dengan pandangan mata itu, Neji mengajak Sakura ke wahana incarannya. Buat Neji yang sudah terlatih sejak kecil, hal ini bukanlah hal yang sulit. Dalam waktu singkat ice cream super jumbo itu sudah berada di tangan Sakura. Sakura makan dengan lahap saat mereka sudah duduk di bangku terdekat. "Nii-chan hebat sekali." "Makannya pelan-pelan Hime, lihat nih mulutmu belepotan dengan ice cream." Dengan sabar dibersihkannya ujung bibir Sakura dengan sapu tangan.

"Arigatou nii-chan, ah aku kenyang sekali memakan ice cream ini." Neji tersenyum lembut memandang Sakura, dia sangat menyukai saat-saat menghabiskan waktu bersama Sakura. "Maaf, tuan muda Hyuuga. Anda harus ikut dengan kami sekarang, tuan besar ingin bertemu." Wajah Neji sedikit memucat, paling sedikit ada 10 pria berbadah kekar menggunakan setelan jas yang mengelilingi mereka. "Kami harap tuan muda bisa kooperatif, jika tidak kami tidak menjamin apa yang akan terjadi dengan nona ini." "Nii.. Nii-chan, mereka siapa?" Tanya Sakura sedikit ketakutan. "Baiklah, aku ikut." Demi keselamatan Sakura Neji akhirnya menurut. "Aku pergi dulu ya Hime, kau bisa pulang sendiri kan?" Sakura mengangguk dengan canggung, dia masih merasa tidak nyaman dengan orang-orang menyeramkan yang mengelilingi mereka. "Aku ada urusan penting jadi harus pergi dulu, nanti aku akan datang lagi besok." Sebelum pergi Neji mencium lembut kening Sakura. . . 000 . . Sakura berjalan dengan sedikit lesu, padahal ia masih ingin berkeliling namun Neji sudah pergi. "Ah, andai Sasuke-kun ada di sini." Blush, tanpa peringatan rona merah memenuhi wajahnya. Ada apa denganmu sakura? Kenapa kau malah memikirkan Sasuke? Ia kemudian mengarahkan wajahnya ke langit, kembang api sedang beradu dengan begitu indahnya di langit musim panas Kyoto. Semua orang takjub memandang kembang api yang sedang menghiasi langit malam itu. "Sendirian tuan putri?" Suara baritone yang sangat ia kenal menyapa pendengarannya. Sakura begitu kaget melihat Sasuke sekarang tepat berada di sampingnya. "Sasuke-kun? Kau?" Yang ditanya hanya tersenyum misterius. Sakura merasakan debaran di dadanya semakin tidak terkendali, ini harus dihentikan atau dia bisa kehilangan kewarasannya.

Dengan perlahan dipandanginya wajah rupawan yang mulai menghantuin pikirannya. Dengan segenap kekuatan yang ia kumpulkan, akhirnya Sakura memberanikan diri menggenggam tangan kanan Sasuke. "A.. Aku menyukaimu." Akhirnya Sakura mengucapkan kata-kata yang selama ini tertahan di benaknya. "A.. Aku suka, suka sekali. Sasuke-kun sendiri bagaimana?" Bukannya menjawab pemuda emo itu malah meraih pinggang Sakura, dan tanpa persiapan segera dilumatnya bibir ranum gadis itu. Sakura sedikit terkejut, ciuman mereka kali ini sedikit berbeda dengan ciuman mereka dulu. Perlahan-lahan ia membiasakan diri dengan perlakuaan Sasuke itu, setelah ia merasa nyaman ia memejanmkan matanya menikmati ciuman Sasuke di bawah langit yang dihiasi kembang api. . . 000 . . Neji memasuki limousine mewah berwarna hitam yang tidak jauh dari lokasi festival. "Sudah puas bermain Neji?" Tanya Hiashi Hyuuga dengan angkuh. "Apa maumu tou-sama?" "Aku mengikuti keinginan ibumu untuk membebaskanmu sejenak, kubiarkan kau menghirup aroma kebebasan walau sesaat. Sekarang sudah waktunya kau kembali, kasus memalukanmu sudah kututupi, tidak akan ada seorang pun yang berani membicarakannya." "Jadi?" Tanya Neji datar. "Sekarang kembali, dan lakukan tugasmu sebagai penerus Hyuuga dan lupakan gadis kampungan berambut aneh itu." "Jangan sekali-kali kau menghina gadisku tou-sama." "Gadis itu tidak pantas untuk keluarga Hyuuga yang terhormat. Ayah akan mencarikan gadis lain yang pantas untukmu. Kenapa kau selalu bertindak bodoh? Punya hubungan dengan laki-laki dan sekarang menyukai gadis kotor.." "TOU-SAMA!" Hiashi sangat terkejut mendengar bentakan Neji, selama ini semarah apa pun Neji tidak pernah sampai membentaknya. "Jangan menghina gadisku. Aku akan ikut denganmu sekarang, sampai tiba waktunya, aku akan datang dan menjemput gadisku. Saat itu tidak ada seorang pun yang bisa menghentikanku."

Dalam suasana diam dan kaku, mobil mewah itu pergi. 'Sabar Hime, akan ada saatnya kita bertemu kembali. Saat itu kau dan aku akan bersatu untuk selamanya.' . . 000 . . Sepanjang perjalanan pulang Sakura terus tertunduk malu. Saat ini Sasuke terus menggenggam tangannya, ia benar-benar malu karena banyak orang yang menyaksikan mereka berciuman tadi. "Jangan menunduk terus, nanti kau bisa menabrak sesuatu di depanmu." "I.. iya.." Sakura mengangkat wajahnya yang masih merona. "Belum saatnya," "A.. apa Sasuke-kun?" "Belum saatnya, sampai saatnya tiba maukah kau menungguku. Saat itu kau akan mendengar jawaban pertanyanmu tadi dari mulutku sendiri." Sakura sedikit salah tingkah karena pandangan Sasuke sangat tajam dan serius. Akhirnya ia hanya bisa mengangguk dengan malu. Mereka kembali berjalan sambil berpegangan tangan menyusuri jalan. Suasana malam ini sangat mendukung dengan bintang yang memenuhi langit dan bulan yang bertahta merajai malam. Tiba-tiba dari arah belakang sebuah mobil melaju dengan sangat kencang, Sasuke tidak menyadari karena mobil itu tidak menyalakan lampunya. Kebetulan Sakura menolehkan kepalanya ke belakang menyembunyikan raut wajahnya yang merah padam. Betapa kagetnya Sakura melihat laju mobil yang sepertinya tidak terkendali itu. Dengan refleks didorongnya tubuh Sasuke hingga terpental, hanya sepersekian detik tubuh Sakura sudah tersambar mobil sedan hitam itu. Kecepatan mobil yang hampir tidak terkendali itu membuat tubuh Sakura terpental jauh. Sasuke begitu shock melihat tubuh Sakura yang terhempas akibat tabrakan tadi. Gadis itu terlihat tidak berdaya dan tubuhnya berlumuran darah. Yukata yang ia kenakan berubah warna menjadi merah. Kakashi tiba-tiba muncul dan menyeret Sasuke pergi. "APA YANG KAU LAKUKAN KAKASHI! CEPAT TOLONG DIA! KEKASIHKU TERTABRAK KAKASHI! TOLONG SAKURA KAKASHI ATAU KUBUNUH KAU!"

"Kita harus pergi dari sini tuan muda, mereka tahu, yang tadi menyerang itu mereka." Kakashi menyeret Sasuke masuk ke dalam mobil hitam berlambang kuda jingkrak dan melesatkan mobil itu secepat mungkin. "KURANG AJAR KAU KAKASHI! AKU PASTI AKAN MEMENGGAL KEPALAMU KALAU SAKURA-KU TIDAK SELAMAT!" Air mata Sasuke mengalir dengan begitu deras. Kenapa di saat ia hampir kembali merengkuh kebahagiaan, semuanya itu harus diambil darinya. Kakashi terlihat mematikan panggilan telepon dari handphone-nya. "Saya sudah memerintahkan orang untuk secepatnya membawa nona itu ke rumah sakit terbaik di Kyoto. Tuan muda harap tenang." Air mata Sasuke belum berhenti mengalir, ia tidak mau kehilangan lagi. Cukup ayah, ibu, dan kakaknya. Ia tidak sanggup kalau harus kehilangan Sakura. "Aku bersumpah akan kupastikan orang-orang itu mati jika Sakura-ku tidak selamat."

Setahun tahun kemudian (setelah kecelakaan) . . -Konoha International High School, 09.00 waktu setempat"Yeah, pig kita lulus.. Kita diterima di KIHS" seorang gadis berambut senada dengan bunga sakura berteriak kegirangan. "Benarkan? Kyaaaaaa Forehead, kita benar-benar lulus!" gadis berambut pirang itu kemudian berpelukan dengan sahabat pink-nya untuk merayakan kelulusan mereka diterima di sekolah unggulan seperti KIHS.. "Mendokusei, berisik sekali anak-anak baru itu. Mengganggu tidurku saja." "Dasar tukang tidur!" Temari menimpali kekasihnya itu. "Karin, benarkah adikmu masuk di sini juga?" Tanya Tayuya. "Ya, dia berhasil lulus tes masuk." Jawab Karin bersemangat. Uchiha Sasuke sang pangeran pujaan sekolah tidak begitu memperhatikan obrolan di kelasnya. Ia sedang asik bersandar di jendela kelasnya di lantai tiga, jendela itu menghadap langsung pada papan pengumunan sekolah. Sedari tadi ia terus memperhatikan seorang gadis berambut merah muda yang melonjak kegirangan dan berpelukan dengan beberapa temannya. 'Akhirnya, aku sudah menunggumu selama ini. Selamat datang ratu hatiku." Rasa sesak dan hampa di dalam dadanya semakin membuncah. Neji sudah tidak tahan lagi, ia begitu ingin merengkuh wanita musim semi itu dalam pelukannya. Kenapa ia begitu dekat dengan si pencuri hatinya

namun terasa sangat jauh? Seperti malam ini, Neji sengaja pulang lebih malam agar ia bisa memandangi wanita yang telah menjerat hatinya itu. Sakura saat ini sedang berdiri di balkon kamar orang tua Sasuke, tidak dapat dipungkiri dirinya begitu merindukan sang suami. Sasuke memang baru pergi kemarin pagi namun rasa rindu pada suaminya itu sudah begitu besar. Wanita cantik ini tidak menyadari jika di bawah sana Hyuuga Neji sedang memperhatikannya dari balik sebuah pohon besar. Sesekali ia mengusap perutnya sebentar. Bukan hanya Sakura yang begitu merindukan Sasuke, namun si bayi sepertinya juga ikut merindukan sang ayah. "Sssh" Sakura sedikit meringis saat merasakan pergerakan dari si bayi di dalam rahimnya. "Kau kenapa Itachi? Rindu pada ayah ya? Ibu juga rindu, rindu sekali. Tenang saja sayang, besok sore ayah sudah pulang." Untunglah malam ini tidak turun salju sehingga Sakura bisa melakukan aktivitas favoritnya yaitu berdiri memandangi langit malam dari balkon kamar. Di lain pihak Neji terus memandangi wanita pujaannya dengan kerinduan yang sangat mendalam. Wanita itu tampak berbicara dengan bayi yang sedang dikandungnya, sesekali Neji melihat Sakura mengusap permukaan perutnya dengan penuh kasih sayang. Rasa rindu dan kesal bercampur menjadi satu. Rindu karena sudah begitu lama ia menginginkan wanita ini dan tidak dapat bertemu dengannya, kesal karena setelah bertemu ia tidak dapat memilikinya bahkan Sakura sudah mengandung anak dari pria lain. Neji sedikit bersembunyi saat seorang wanita bercepol dua menghampiri Sakura. Ia sedikit berhati-hati karena wanita yang ia duga sebagai pengawal pribadi Sakura itu memberikan tatapan curiga padanya sejak pertama kali bertemu. Wanita itu berbicara sebentar dengan Sakura dan tak lama kemudian Sakura masuk ke dalam kamar diikuti oleh sang pengawal pribadi. "Hime, aku aku akan menemuimu malam ini. Aku harus tahu apa yang sebenarnya terjadi." Kata Neji sambil mematahkan sebuah ranting pohon yang berada di dekatnya. Malam ini adalah kesempatannya karena menurut kabar yang disampaikan oleh Kotetsu, Uchiha Sasuke sedang pergi ke luar negeri. Kesempatan emas seperti ini tidak boleh disia-siakan, ia harus tahu apa yang terjadi. Jangan harap Uchiha brengsek itu bisa mendapatkan apa yang diinginkannya. . . 000 . . Neji mengendap-endap di dalam mansion mewah yang sudah gelap ini. Ia berjalan sepelan mungkin agar suara langkah kakinya tidak terdengar. Selama beberapa hari ini ia sudah memperlajari keadaan di Mansion Uchiha, melalui informannya Asuma Sarutobi- ia mendapat denah rumah mewah ini. Melihat posisi Sakura saat berdiri di balkon tadi ia menebak Sakura berada di kamar yang terletak di lantai tiga. Jika denah yang ia peroleh tidak salah, maka di lantai tiga terdapat empat ruangan dan yang menjadi kamar tidur hanya satu. Berdasarkan posisi Sakura berdiri tadi, Neji sudah dapat menerawang di mana posisi dari kamar yang menjadi tujuannya itu. Sekarang Neji sudah berada di depan pintu kamar yang ia duga ada Sakura di dalamnya. Keinginannya sedikit tertahan karena pintu kamar tersebut terkunci. Neji menyalakan senter dan mengamati kenop pintu. "Cih, pintar juga Uchiha brengsek itu." Ia mendecih kesal karena kenop pintu itu sama dengan yang ada di

rumahnya. Kenop pintu itu apabila dibuka dengan paksa atau bukan dengan kuncinya maka alarm akan berbunyi secara otomatis. Namun bukan Hyuuga Neji namanya jika ia cepat menyerah. Neji membuka jendela dan melihat tepian pada dinding di lantai tiga. Ia tersenyum puas, sesuai dugaanya tepian itu sedikit mencuat sehingga bisa dijadikan sebagai tempat berpijak. Perlahan-lahan ia turun dari jendela dan berpijak pada tepian di bawahnya dengan menghadap ke dinding. Setelah dirasa keseimbangannya sudah pas maka Neji mulai berjalan meniti pada tepian di bawahnya, ia berjalan sehatihati mungkin, salah sedikit saja maka keseimbangannya akan hilang. Jika sudah begitu bukan tidak mungkin ia akan langsung terjatuh dari lantai tiga dan membahayakan keselamatannya sendiri. "Guk.. Guk.." Suara gonggongan tiga anjing dengan jenis doberman mengganggu konsentrasi Neji saat ia sudah mencapai pinggiran balkon. Ia segera melompat dan berbaring di balkon saat menyadari ada beberapa orang pengawal yang menghampiri ketiga anjing tadi. Para pengawal tersebut mengarahkan senter ke balkon yang menjadi sasaran doberman-doberman itu. Neji terus berbaring dengan diam, apalagi dia melihat cahaya senter dari bawah seolah mencari-cari sesuatu. Setelah tak kunjung mendapat apa yang dicari, para pengawal itu akhirnya pergi bersama ketiga anjing doberman tadi. Neji menghembuskan nafas lega setelah tidak lagi merasakan adanya reaksi dari bawah. Ia segera bangkit dan meraba-raba kaca pada pintu yang menghubungkan balkon dengan kamar. "Bagus, sekarang saatnya kita bertemu Hime." Neji mengeluarkan isolasi besar dari kantong celananya, dengan penuh perhitungan ia mulai menempel isolasi pada salah satu kaca pintu. Setelah selesai menempelkan isolasi berlapis-lapis dengan pola persegi panjang pada kaca, Neji meninju kaca yang sudah dilapisi dengan isolasi itu sekuat tenaga. Isolasi itu selain berguna untuk meredam suara kaca yang pecah, juga berguna untuk mencegah menyebarnya pecahan kaca. Lelaki Hyuuga itu menarik isolasi tadi dan mengeluarkan pecahan-pecahan kacanya. Ia menjulurkan tangan masuk melalui kaca yang telah pecah kemudian memutar kunci dari dalam. Sudut bibirnya sedikit terangkat menunjukkan seringai puas. Neji kemudian masuk dan menemukan apa yang dicarinya, Sakura sedang terlelap dengan begitu damai di atas tempat tidurnya. Neji menyalakan lampu yang terdapat di sebelah tempat tidur, dalam suasana remang dia melihat pemilik hatinya itu sedang terbuai mimpi. "Hime." Ia mengusap lembut pipi Sakura yang sudah semakin chubby, betapa rindunya Neji pada Sakura. Kemudian ia mendaratkan kecupan lembut pada kening wanita pujaan hatinya ini. "Nghhh.. Sasuke-kun." Neji tersentak mundur saat Sakura mengigaukan nama Sasuke. Benci. Ia benci sekali pada lelaki Uchiha itu. "Sasuke-kun.. Sasuke-kun." Bahkan dalam tidur pun Sakura terus memanggil nama suaminya itu. Hal ini semakin membuat emosi Neji meninggi, kenapa dia terus memanggil nama si brengsek itu? Sakura sedikit membuka matanya dan melihat sosok yang tidak ia kenal ada di samping tempat tidurnya. "Kau siapa?" Dengan terkejut ia bergerak menjauh dari sosok asing itu. "Ini aku Hime." Neji melepaskan topinya dan rambut panjang coklat itu langsung tergerai kembali. Sakura melebarkan matanya tak percaya, Hyuuga Neji sedang berada di hadapannya sekarang! "Hyuuga-san! Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Sakura dengan keterkejutan yang belum hilang. "Harusnya aku yang bertanya Hime, sedang apa kau di mansion milik si brengsek Uchiha?" Balas Neji tak sabar. "Bukan urusanmu, sebaiknya kau segera pergi dari sini. Kau bisa dalam bahaya kalau pengawal Sasukekun menemukanmu." Seru Sakura panik.

"Sasuke-kun? Hyuuga-san? Kenapa kau bisa memanggilnya seakrab itu sedangkan kau memanggilku dengan begitu formal?" "Masalah itu tidak penting Hyuuga-san, pergilah. Demi keselamatanmu kumohon pergi." Neji merangkak naik ke atas tempat tidur, ia bergerak maju kemudian mengunci gerakan Sakura di ujung tempat tidur dengan kedua lengan kokohnya membatasi bahu kanan dan kiri Sakura. "Katakan, apa dia memaksamu? Aku akan mengeluarkanmu dari sini, kita pergi." Kata Neji lembut. "Aku tidak bisa, tidakkah kau melihatnya Hyuuga-san? Aku sedang mengandung anak Sasuke-kun." Kepanikan tampak jelas terlihat pada raut wajah Sakura. "Itu tidak masalah buatku, aku akan merawat anak itu seperti anakku sendiri. Katakan padaku Hime, apa kau di bawah tekanannya? Aku akan membebaskanmu." "Ini tidak seperti pikiranmu Hyuuga-san. Aku datang padanya atas kemauanku sendiri, aku mengandung anaknya juga atas keinginanku sendiri. Kumohon, jangan bahayakan dirimu sendiri." Sakura masih berusaha membujuk Neji agar cepat pergi. Jangan sampai pengawal-pengawal Sasuke menemukan pria Hyuuga ini, apalagi sampai Sasuke tahu Neji menyusup ke rumahnya. "Dia itu monster Hime! Setelah dia bosan denganmu, kau akan segera dia campakkan! Banyak wanita di luar sana yang menjadi korbannya. Uchiha Sasuke tidak tertarik dengan komitmen, dia akan segera membuangmu Hime!" Sakura tersenyum miris mendengar setiap kata yang diucapkan Neji. Dia bukannya tidak tahu kalau sebelumnya Sasuke memiliki banyak wanita di luar sana, dia sudah tahu sejak mendengar pembicaraan antara Sasuke dan Matsuri. Namun hati kecilnya menolak semua kenyataan itu, dia begitu membutuhkan perhatian Sasuke. Lagipula selama ini Sasuke selalu pulang tepat waktu dan menemaninya, bahkan lelaki itu pernah membatalkan rapat hanya karena ia sedang mengidam shiratama dan meminta Sasuke untuk segera membawakan shiratama itu. "Dia menyayangiku. Aku tidak peduli seperti apa dia dulu. Asalkan aku mendapatkan perhatian penuh darinya, maka aku akan memberikan toleransi penuh pada semua kelakuannya dulu. Kau tidak mengenal suamiku Hyuuga-san, dia sangat mencintai keluarganya." Neji merasa ditampar dengan sangat keras melalui setiap Sakura. Ini sangat menyakitkan, apalagi Sakura memberikan tekanan khusus pada saat mengucapkan kata 'suamiku'. "Hi.. Hime.." Plak! Neji merasakan sebuah pukulan yang sangat kuat pada tengkuknya. Kesadarannya kemudian menghilang dan ia tidak tahu lagi apa yang terjadi sesudahnya. . . 000 . .

Tenten memperhatikan gerakan tidak wajar pada ketiga anjing doberman yang sejak tadi menyalak ke arah balkon kamar utama Mansion Uchiha. Kamar itu dulunya merupakan kamar Uchiha Fugaku dan Uchiha Mikoto, sekarang kamar itu ditempati oleh istri dari tuannya. Ia bersama dengan dua orang pengawal lainnya mengamati arah gonggongan anjing-anjing tersebut. Karena tidak menemukan apa pun mereka kemudian memutuskan untuk pergi dan melanjutkan patroli. Hati Tenten merasa tidak tenang, firasatnya mengatakan akan terjadi sesuatu yang buruk jika ia terlambat bertindak. Setelah meminta kedua rekannya melanjutkan patroli, Tenten kembali ke lokasi tadi. Dugaanya benar dari bawah ia dapat melihat pintu yang memnghubungkan balkon dengan kamar sudah terbuka. Sakura tidak mungkin mengambil resiko tidur dengan membuka pintu di malam yang dingin ini. Bahkan jika bersama dengan Sasuke sekali pun pintu itu pasti tertutup, sepertinya ada yang tidak beres sedang terjadi. Tenten mengedarkan pandangannya, ia mencari titik mana saja yang bisa ia gunakan untuk memanjat dengan cepat ke balkon di lantai tiga. Bertahun-tahun menjadi mata-mata dan petarung membuatnya sangat ahli dalam hal menyusup dan panjat-memanjat. Tidak butuh waktu lama, wanita bercepol dua ini sudah sampai di lantai tiga. Dengan hati-hati ia menyandarkan tubuhnya di dinding, tepat di sebelah pintu yang sudah terbuka. Kepalanya ia julurkan perlahan-lahan mengintai isi di dalam kamar, firasatnya sekali lagi benar. Sang nyonya sedang dalam keadaan terdesak akibat ulah seorang lelaki berambut coklat panjang. Secepat kilat ia berlari tanpa suara ke tepi tempat tidur, tanpa peringatan ia memberikan pukulan yang kuat pada tengkuk si pria yang sudah mengganggu sang nyonya. Pria itu kemudian pingsan dan terjatuh menindih wanita di bawahnya. Dengan cekatan Tenten menarik pria yang sudah pingsan itu terjatuh ke bawah. "Sakura-sama, anda baik-baik saja?" Sakura yang masih sangat panik mengangguk pada Tenten. Ia masih sangat shock, Neji pasti mati jika Sasuke berada di sini. Ia kemudian meraih tangan Tenten. "Jangan laporkan ini pada Sasuke-kun." "Kenapa Sakura-sama? Sudah kewajiban saya untuk melaporkan apa pun yang terjadi di rumah ini pada Sasuke-sama." "Kumohon. Aku mengenal orang ini, Sasuke-kun tidak akan mengampuninya jika ia tahu apa yang terjadi. Aku tidak ingin siapa pun menjadi korban karena keberadaanku di sini. Kumohon, demi anakku berjanjilah Tenten, kau tidak akan melaporkan hal ini pada Sasuke-kun.." Karena tidak tahan pada Sakura yang terus memohon padanya, akhirnnya Tenten mengangguk. Memang benar perkataan wanita musim semi ini, tidak ada yang tahu apa jadinya nasib penyusup ini jika Sasuke sampai mengetahuinya. Tuannya itu bukan orang penyabar dan ia akan menghancurkan siapa saja yang berani mengganggu daerah teritorialnya. Apalagi pria berambut coklat ini sudah berani mengusik wanita kesayangan tuannya, entah apa jadinya nasib orang itu jika Sasuke sampai tahu. . . 000 .

. Neji mengerjapkan mata karena silaunya cahaya yang menerpa penglihatannya. Ketika membuka mata, hal pertama yang ia lihat adalah wajah kaku nan tegas dari seorang wanita yang ia lihat bersama Sakura di balkon. Ia sedikit kesulitan bergerak karena tubuhnya terikat dalam posisi duduk di lantai, semakin ia bergerak tali tersebut semakin erat mencengkeram tubuhnya. "Percuma saja kau bergerak. Itu simpul khusus, semakin kau mencoba melepaskan diri maka tubuhmu akan semakin terikat." Seru perempuan bercepol itu yang sejak tadi diam mengamatinya. "Ini dimana?" "Dapur. Sepertinya aku bisa mencincangmu setelah melihat apa yang kau lakukan. Berterima kasihlah karena Sakura-sama memintaku tidak melaporkanmu pada Sasuke -sama." Dengan dingin Tenten menjawab pertanyaan tawanannya itu. "Tch.. Aku tidak butuh belas kasihanmu!" "Aku juga sedang tidak berbelas kasihan padamu. Aku harus tahu apa motifmu dan ternyata firasatku memang tidak salah. Katakan kenapa kau menyusup kemari dan mengganggu ketenangan di rumah ini?" Seru Tenten tajam. Pandangannya yang menusuk sama sekali tidak ia alihkan dari lelaki yang sedang duduk terikat di hadapannya itu. "Bukan urusanmu." Jawab Neji dengan angkuh. Ini adalah urusan pribadinya, pengawal seperti perempuan ini tidak perlu tahu. "Jika sudah menyangkut keamanan di dalam rumah ini terutama keamanan Sakura-sama, maka aku ini sudah pasti urusanku." Tenten lalu berjongkok di hadapan Neji, ia kemudian mencengkeram dagu Neji dengan tangan kanannya. "Katakan, apa tujuanmu menyusup ke kamar Sakura-sama?" "Aku tidak akan mengatakannya, walaupun kau membunuhku sekali pun aku akan tetap diam." Neji masih tetap pada pendiriannya, ini adalah masalah pribadinya siapa pun tidak berhak ikut campur. "Dengar ya, kau jangan pikir kalau aku tidak akan tega menyiksamu. Kekasihku saja mati di tanganku sendiri, apalagi kau. Jadi jawab aku sebelum aku menunjukkan apa yang disebut neraka dunia padamu." Wajah Tenten sudah berubah menjadi sangat sadis sekarang. "Cih, jangan harap." Neji berusaha memalingkan muka dari cengkeraman tangan Tenten. Seringai tajam yang sangat menakutkan terpampang di wajah wanita cantik itu. "Baiklah kalau itu maumu." Tenten membuka kancing jaket kulit hitam yang dikenakannya, pada kedua sisi bagian dalam jaket tersebut terdapat seperangkat alat bedah dari berbagai bentuk dan ukuran. Selanjutnya hanya terdengar teriakan penuh kesakitan dari Hyuuga Neji. Untung saja kamar para pelayan terletak di belakang mansion sehingga suara teriakan Neji itu tidak terdengar sampai ke sana. Tanpa disadari beberapa pengawal yang sedang patroli pada dini hari ini mulai tumbang satu persatu. Dua orang dengan pakaian serba hitam dengan begitu terlatih menyusup dan membunuh pengawal-pengawal yang mereka jumpai. "Hn, dasar pengawal-pengawal payah. Di mana target kita?" Tanya salah satu di antara kedua orang itu. "Brankas yang ada di kamar utama mansion ini, yang berada di lantai tiga." Jawab partnernya.

. . 000 . . Tenten yang saat ini memegang pisau bedah pada kedua tangannya mendengar adanya suara yang tidak wajar. Pendengaran wanita cantik ini memang sangat tajam, ada sesuatu yang tidak beres sekarang. Ia meninggalkan Hyuuga Neji yang sudah berlumuran darah di bawah sana. "Cih, kau selamat. Aku belum memasuki babak utama penyiksaanku." Tenten kemudian menggunakan tangga lain menuju lantai tiga. Entah kenapa hari ini banyak hal buruk yang terjadi dengan lantai tiga. Dari balik dinding ia dapat melihat dua orang berlari menuju kamar utama yang sedang ditempati oleh Sakura. Tampaknya dua orang yang sedang berlari dengan kecepatan tinggi itu tidak menyadari akan keberadaanya. Saat kedua orang itu sudah berada sejajar dengan posisi Tenten bersembunyi, segera wanita cantik itu berjongkok dan menendang kaki salah satu dari mereka sehingga terjatuh. Temannya yang terkejut kemudian berbalik untuk melihat keadaan sang partner yang terjatuh itu. Tidak membuang kesempatan secepat kilat Tenten melempar kedua pisau bedah yang ada di tangannya sehingga menancap tepat di leher dan dahi orang tersebut. "Sial." Si pria yang terjatuh tadi kemudian menendang perut Tenten, sehingga Tenten terjungkal dan menabrak dinding di belakangnya, darah mengalir dari sudut bibir wanita berambut coklat ini. Belum sempat berdiri lelaki berbadan besar itu sudah mencengkeram leher Tenten dengan lengan besarnya. Nafas Tenten seketika menjadi sangat sesak, tenggorokannya terhimpit begitu erat sehingga ia kesulitan bernafas. Jika ini dibiarkan maka ia bisa kehabisan nafas. Kepalanya kemudian dihempaskan sekuat tenaga kebelakang sehingga menghantam dagu si pria. Pria itu sedikit sempoyongan, Tenten kemudian memberikan pukulan penuh tenaga menggunakan sikutnya pada perut pria tadi. Ia berputar 360 derajat dengan kecepatan penuh dan memberikan tendangan pada pelipis targetnya dengan menggunakan tumit. Pria besar itu tumbang seketika. Tenten memandang kedua korbannya dengan nafas tidak beraturan. Yang satunya sudah dipastikan mati karena pisau yang menancap di dahi dan lehernya, sedangkan yang satu lagi sudah tak sadarkan diri akibat pertarungan sengit mereka. "Kau harus membayar biaya lemburku dengan sangat mahal tuan Uchiha." Ujarnya dengan nafas yang masih terengah-engah. "Tenten-san, ada apa ini?" Sakura yang sejak tadi ketakutan karena mendengar ribut-ribut di luar akhirnya memberanikan diri keluar. "Serangga pengganggu Sakura-sama. Sepertinya sekarang anda kembali ke kamar Sasuke-sama saja, lantai tiga sangat berbahaya malam ini." Jawab Tenten, nafasnya masih belum kembali teratur. "Sebaiknya saya antarkan anda sekarang, nanti saya panggilkan pengawal untuk mengurusi orang-orang ini." Sakura yang tidak mengerti keadaan mengangguk pasrah dan mengikuti Tenten. Beberapa pengawal kemudian datang dan membawa kedua orang yang sudah terkapar itu ke tempat lain. Sakura sendiri tidak tahu kemana kedua pria tadi dibawa.

Sesampainya di kamar Sasuke, Tenten tidak dibiarkan pergi begitu saja. Sakura memaksa untuk merawat luka-lukanya sebentar. "Nah, selesai." Kata Sakura setelah selesai membalut luka-luka Tenten. "Arigatou Sakura-sama." Balas Tenten dengan penuh hormat. "Ng.. Tenten-san, bagaimana keadaan pria berambut panjang itu?" Tanya Sakura penasaran. Tenten terdiam sejenak, ia tidak mungkin mengatakan keadaan lelaki yang ia siksa di dapur tadi pada Sakura. "Cukup baik." "Sebentar lagi pagi, lebih baik kau suruh dia pergi secepatnya." Kata Sakura lagi. Tenten hanya mengangguk. Setelah dari kamar Sakura ia meminta paman Teuchi untuk mengantarkan Neji ke rumah sakit. Dia sudah berjanji pada Sakura untuk merahasiakan tindakan Neji sehingga paman Teuchi juga diminta untuk tutup mulut. Kemudian dengan beberapa pelayan yang terpercaya kerahasiaanya mereka membereskan area dapur dan lantai tiga. . . 000 . . Perasaan tidak tenang terus menghantui Sasuke, waktu di London sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Hal ini berarti di Konoha sudah pukul delapan pagi mengingat perbedaan waktu antara London dan Jepang adalah Sembilan jam. Setelah sampai di kamar hotelnya ia segera mengambil handphone dan menelepon Tenten, rasa lelah akibat berbagai macam rapat diabaikannya. Sakura dan bayi mereka adalah yang paling penting dalam hidupnya saat ini, keselamatan mereka berdua adalah prioritas utama baginya. "Tenten, apa semua baik-baik saja?" Tidak ada sapaan saat Tenten menjawab panggilan telepon dari Sasuke, dia harus segera mengetahui keadaan mereka. "Tidak tuan, dini hari tadi ada dua orang yang menyusup. Saya berhasil membunuh salah satunya, dan seorang lagi sekarang sedang disekap di gudang belakang." Detak jantung Sasuke meningkat dua kali lipat mendengar jawaban Tenten. "Sakura?" "Sakura-sama baik-baik saja, tadi malam kedua orang itu sepertinya menjadikan kamar utama sebagai target. Tapi saya berani menjamin bukan Sakura-sama yang mereka incar. Sepertinya ada sesuatu di kamar itu yang mereka incar." "Hn, kerja bagus Tenten. Aku akan segera pulang, sampai aku tiba buat orang itu mengaku. Jika tidak maka aku yang akan membuatnya mengaku. Satu lagi, panggil elite ANBU pulang, mulai sekarang keamanan rumah kuserahkan padamu dan ANBU." Sasuke kemudian menuntup panggilan telepon itu dengan geraman tertahan.

'Kurang ajar, mereka pasti mengincar berkas-berkas milik ayah." . . 000 . . Pesawat jet pribadi super cepat sudah mengudara sekarang. Sasuke tidak ingin membuang-buang waktu, keputusannya memajukan semua rapat ternyata benar. Dalam waktu beberapa jam lagi mereka sudah mendarat di bandara Konoha. 'Mau mengajakku berperang ya. Baiklah, kalian yang menabuh genderang perang duluan, akan kuladeni.' . . 000 . . Mereka sampai di rumah tepat pukul dua siang, keadaan di Mansion itu tetap tenang seperti biasa. Sebagian besar pelayan tidak mengetahui kengerian yang terjadi semalam. Sasuke bernafas lega saat melihat Sakura sedang menyatap pie yang dibuat oleh Ayame di dapur. "Sasuke-kun." Panggilnya gembira. Wanita bermahkota helaian merah muda itu kemudian berlari memeluk sasuke. Dipeluknya suaminya itu dengan sangat erat, menumpahkan semua kerinduannya yang tertahan selama ini. "Aku rindu." Serunya lagi. "Rindu, rindu sekali sampai tidak tertahankan." Berkali-kali kata rindu ia ucapkan untuk pria yang sudah ia tunggu-tunggu itu. "Hn. Kau baik-baik saja kan?" Tanya Sasuke sambil memeluk erat Sakura. Ia dapat merasakan anggukan kepala dari istrinya itu. "Si kecil apa kabar?" Lanjutnya lagi. "Dia juga rindu padamu." Jawab Sakura. Wanita yang sedang mengandung ini masih enggan melepaskan pelukannya, ia ingin terus, terus, dan terus berada dalam pelukan Sasuke. "Hn." Sasuke melonggarkan pelukannya, ia memberikan ciuman singkat pada kening Sakura, kemudian turun ke pipinya, bahu Sakura dan berakhir di perut Sakura yang sudah membuncit. Sakura sendiri hanya bisa merona malu akibat perlakuan Sasuke. Apalagi ada banyak pelayan yang melihat mereka di dapur. "Sa.. Sasuke-kun.." Panggil Sakura saat suaminya itu sudah menggendongnya bridal style.

"Aku mendapat laporan kalau kau sangat hiperaktif saat aku pergi, jadi sekarang istirahat bersamaku di kamar." Jawab Sasuke mengacuhkan panggilan Sakura. "Tapi aku berat.. Masa kau mau menggendongku sampai di kamarmu? Itu kan jauh di lantai dua.. biar aku jalan saja" rengeknya lagi. "Hn." Tidak mempedulikan rengekan sang istri, Sasuke terus menggendongnya sampai di kamar. Sasuke segera membaringkan Sakura di ranjang saat mereka sudah sampai di kamar lelaki emo itu. "Aku mau mandi, kau tunggu di sini sampai aku selesai mandi." . . 000 . . Sasuke kemudian berbaring bersama Sakura setelah ia selesai mandi. Penampilannya sekarang lebih santai dengan baju kaos berwarna biru tua dan celana panjang hitam. Ia menjadikan bantalnya sebagai lengan Sakura, sesekali dikeupnya kening Sakura. Tangannya masih setia mengelus lembut perut yang didalamnya terdapat si jabang bayi. "Kau dalam bahaya kan tadi malam?" Tanya Sasuke sambil menatap mata Sakura. "Maafkan aku tadi malam tidak berada di sampingmu." Sakura sedikit menunduk mendengar permintaan maaf Sasuke. "Aku baik-baik saja. Aku hanya berpikir, apa seperti ini kehidupan yang Sasuke-kun alami selama ini? Atau jangan-jangan lebih buruk lagi? Kemudian aku menyesal karena dulu jarang bersyukur dengan apa yang kumiliki." "Hn, kau tenang saja setelah ini tidak akan ada yang bisa menyusup lagi. Mereka sudah benar-benar menggangguku." Jawab Sasuke. "Sasuke-kun, tolong jawablah. Kenapa kau sangat menginginkan anak ini? Apa setelah anak ini lahir kau akan membuangku? Ja.. jawablah aku.." Sasuke memandang sejenak pada Sakura, mata emerald indah itu sudah mulai berkaca-kaca. "Kau akan tahu nanti. Berhentilah berpikir yang tidak penting." "Ta.. tapi.." Sasuke kemudian membungkam Sakura dengan ciumannya. Belum saatnya Sakura untuk tahu semuanya, ini bukan waktu yang tepat. . . 000 .

. Sasuke memperhatikan pecahan kaca pada pintu menuju balkon di kamar orang tuanya. Dia sengaja membuat Sakura tertidur agar pengamatannya berjalan lebih mudah. Pecahan kaca itu sangat rapi dan yang melakukannya pasti seorang professional. Tapi ada yang aneh, menurut cerita Tenten penyerangan terjadi di lorong berarti pecahan kaca itu disebabkan oleh orang lain selain kedua orang yang menyusup itu. "Hn, ada isolasi untuk meredam bunyi dan mencegah menghamburnya pecahan kaca. Ini aneh." "Sasuke-sama, mari kita ke gudang belakang." Panggil Tenten dari pintu masuk kamar. "Tenten, apa yang kau ceritakan padaku itu sudah lengkap? Atau masih ada yang mau kau ceritakan?" Tanya Sasuke dengan nada datar namun tajam. "Tidak ada tuan." "Kau yakin." "Aku yakin." Jawab Tenten sambil menatap lurus pada mata Sasuke dengan penuh keyakinan. 'Orang yang berbohong tidak mungkin seyakin ini. Tapi bisa saja Tenten berbohong, dia adalah mata-mata professional.' "Bisa kau jelaskan maksudnya pecahan kaca pada pintu ini?" Tanya Sasuke lagi. "Itu perbuatan saya tuan." Sasuke mengerutkan kening mendengar jawaban Tenten. "Saya mendengar ada yang pergerakkan yang aneh, firasat saya mengatakan mereka ke lantai tiga. Jadi saya memanjat dan masuk lewat kamar ini, agar tidak membangunkan Sakura-sama saya menggunakan isolasi untuk memecahkan kaca dan masuk melalui pintu itu." "Hn, masuk akal. Tapi jika kau berbohong, kau juga tidak akan kuampuni." . . 000 . . Mereka kemudian sampai di gudang belakang. Pria yang dipukul Tenten tadi sudah sadar dari pingsannya, tangannya dan kakinya dirantai, sekujur tubuhnya disiram dengan air garam sehingga perihnya tidak tertahankan. "Jadi ini yang berani mengacau di rumahku?" Tanya Sasuke sinis. "Katakan apa yang kau incar?" "Cuih." Pria itu meludah namun tidak mengenai Sasuke. "Pria bangsat sepertimu seharusnya mati." Jawab lelaki itu.

"Aaah.. Aku tahu siapa kau, bukankah kau adalah salah satu bodyguard Orochimaru?" Walaupun pertanyaan itu bernada santai, tapi senyum iblis sudah menghiasi wajah Sasuke. Lelaki yang ditanya itu kemudian semakin memucat. "Aku tidak mau membuang-buang waktu, sepertinya aku sudah bisa menebak apa yang kau incar." Senyum itu kemudian menghilang dan digantikan dengan wajah serius Sasuke. "Tenten, Kakashi, serahkan dia pada ANBU. Biarkan mereka yang mengurusnya." "Tu.. Tuan.. Kumohon jangan serahkan aku pada ANBU.. Silakan siksa aku sepuasmu, tapi jangan serahkan aku pada ANBU." Wajah lelaki itu sudah pucat sepenuhnya. "Keadaanku saat ini tidak memungkinkan aku untuk menyiksa atau membunuh orang. Kalau ANBU bisa melakukannya, kenapa harus aku yang turun tangan?" Jawab Sasuke dengan menyeringai. Ia kemudian pergi sambil mengabaikan teriakan permohonan dari lelaki tadi. "Percayalah, ini keberuntunganmu." Kata Tenten. "Ya, lebih baik ANBU yang menyiksamau daripada kau disiksa oleh Sasuke-sama." Sambung Kakashi. Bertepatan dengan itu munculah empat orang yang memakai jubah hitam dan menggunakan topeng. "Ini bagian kalian." Lanjut Kakashi. Kemudian ia dan Tenten pergi meninggalkan gudang yang kedap suara itu. . . 000 . . Di dalam sebuah kamar hotel pada tengah malam ini, tampak dua orang sedang bergumul di atas tempat tidur, si wanita dengan rambut pendek keunguan sedang mencium ganas bibir pria di bawahnya. "Hn, sudah cukup untuk malam ini Konan." Kata si pria. "Aku masih menginginkanmu." Wanita yang dipanggil Konan itu kembali menyerang wajah si pria. Diciuminya pelipis, dahi, hidung, dagu, dan berakhir dengan pagutan liar pada bibir pria itu. Si pria kemudian membalikan posisi mereka sehingga ia kembali berada di atas wanitanya. "Cukup." Akhirnya Konan menyerah dan mengikuti kemauan lelaki itu. Mereka berdua kemudian tidur sambil berpelukan. "Aku capek begini terus, kita sering menghabiskan waktu seperti ini tapi sebenarnya kita ada di pihak yang berbeda. Aku tidak tahu apa yang direncanakan pihakmu dan kau tidak tahu apa yang pihakku rencanakan." Kata Konan menumpahkan uneg-unegnya pada si pria. "Bukankan kita sudah sepakat, sejak awal urusan pribadi tidak ada sangkut pautnya dengan yang kita kerjakan." Jawab si pria. "Hhhh.. Terserah kau sajalah Kakashi."