Anda di halaman 1dari 18

A.

Latar Belakang Masalah Ruang terbuka adalah ruang yang bisa diakses oleh masyarakat, baik secara langsung dalam kurun waktu terbatas, maupun secara tidak langsung dalam kurun waktu tidak tertentu. Ruang terbuka itu sendiri bisa berbentuk jalan, trotoar, ruang terbuka hijau, seperti : taman kota, hutan, dan sebagainya. Dilihat dari sifatnya ruang terbuka bisa dibedakan menjadi ruang terbuka privat (memiliki batas waktu tertentu untuk mengaksesnya dan kepemilikannya bersifat pribadi, contoh : halaman rumah tinggal), ruang terbuka semi privat (ruang publik yang kepemilikannya pribadi, namun bisa diakses langsung oleh masyarakat, contoh : Senayan, Ancol) dan ruang terbuka publik

(kepemilikannya oleh pemerintah atau lembaga dan bisa diakses langsung oleh masyarakat tanpa batas waktu tertentu, contoh : alun alun, trotoar, taman kawasan). Selain itu ruang terbuka pun bisa diartikan sebagai ruang interaksi (kebun binatang, taman rekreasi, dll).

(a)

(b)

(c) Gambar 1 (a) Ruang terbuka privat; (b) Ruang terbuka semi privat; (c) Ruang terbuka publik

Sumber : http://www.bangun-rumah.com/images/batualam.jpg; http://worldstourism.com/wpcontent/uploads/2012/06/Ancol-Dreamland_tourism_4.jpg; http://yogyakarta.panduanwisata.com/files/2012/05/Alun-alun-kidul.jpg

Ditinjau dari pengertian di atas, ruang terbuka tidak selalu harus memiliki bentuk fisik (lahan dan lokasi) definitif. Dalam bahasa arsitektur, ruang terbuka yang telah berwujud fisik ini sering juga disebut sebagai ruang publik, sebutan yang menekankan aspek aksesibilitasnya. Definisi lain dari ruang publik adalah ruang dalam suatu kawasan yang dipakai masyarakat penghuninya untuk melakukan kegiatan kontak publik.

Gambar 2 Ruang publik sebagai kontak publik Sumber : http://escoret.net/blog/wp-content/uploads/2009/06/alun-alun.jpg

Sebagai

wahana

interaksi

sosial,

ruang publik

diharapkan

dapat

mempertautkan seluruh anggota masyarakat tanpa membedakan latar belakang sosial, ekonomi, budaya. Aktivitas di ruang publik dapat bercerita secara gamblang seberapa pesat dinamika kehidupan sosial suatu masyarakat. Ruang publik menciptakan karakter masyarakat kota. Tanpa ruang ruang publik masyarakat yang terbentuk adalah masyarakat maverick yang nonkonformis-individualis-asosial, yang anggota anggotanya tidak mampu berinteraksi apalagi bekerja sama satu sama lain. Agar efektif sebagai mimbar, ruang publik haruslah netral. Artinya, bisa dicapai hampir setiap penghuni

kawasan / kota. Tidak ada satu pun pihak yang berhak mengklaim diri sebagai pemilik dan membatasi akses ke ruang publik sebagai mimbar politik. Ruang terbuka publik merupakan salah satu elemen penting dalam sebuah kawasan pemukiman. Ruang terbuka publik dalam sebuah kawasan dapat berupa : taman, lapangan olahraga, pos keamanan lingkungan, maupung areal lapang yang awalnya tidak memiliki fungsi. Ruang terbuka publik juga berfungsi sebagai wadah bagi aktivitas masyarakat, bergantung pada fasilitas yang melengkapi ruang terbuka publik tersebut, misalnya : lapangan olahraga, taman bermain, pos keamanan lingkungan, dan fasilitas lainnya. Fungsi yang lainnya adalah untuk mewadahi aktivitas publik yang dilaksanakan oleh warga, misalnya : tirakatan, demo masak, lomba Agustus-an, dan aktivitas publik lainnya. Salah satu ruang terbuka publik di Perumahan Glodogan Indah, Klaten berupa taman yang dilengkapi dengan lapangan bulutangkis dan poskamling. Ruang terbuka ini berada di lokasi yang strategis karena berada di hook dan di antara dua Rukun Tetangga (RT), yaitu : RT 05 / RW VII dan RT 03 / RW VII. Namun, alih alih menjadi ruang yang digunakan secara maksimal, ruang terbuka ini malah sepi dan nyaris tidak dipergunakan oleh warga Perumahan Glodogan Indah, bahkan oleh warga sekitar yang tinggal di dekat taman.

Gambar 3 Ruang terbuka publik di Perumahan Glodogan Indah Sumber : Dok. Pribadi

Dalam riset yang dibuat ini, peneliti ingin mengetahui penyebab kurang berfungsinya taman sebagai ruang terbuka publik dari sisi kualitas ruang publik tersebut berdasarkan unsur unsur ruang terbuka / ruang publik yang pernah diungkapkan oleh Stephen Carr dalam buku yang berjudul Public Space, Urban Space : The Dimension of Urban Design.

Unsur Ruang Publik Stephen Carr dalam buku Public Space, Urban Space, menyatakan ruang publik harus bersifat responsif, demokratis, dan bermakna. Ruang publik yang responsif artinya harus dapat digunakan untuk berbagai kegiatan dan kepentingan luas. Yang dimaksud secara demokratis adalah ruang publik itu seharusnya dapat dimanfaatkan masyarakat umum tanpa harus terkotak kotakkan akibat perbedaan sosial, ekonomi, dan budaya. Bahkan, unsur demokratis diletakkan sebagai salah satu watak ruang publik karena ia harus dapat dijangkau (aksesibel) bagi warga dengan berbagai kondisi fisiknya, termasuk para penderita cacat tubuh maupun lansia. Ruang publik dalam suatu pemukiman akan berperan secara baik jika mengandung unsur, antara lain : comfort, relaxation, passive engagement, active engagement, dan discovery. Penjelasan masing masing unsur tersebut, antara lain : 1. Comfort Lama tinggal seseorang berada di ruang publik dapat dijadikan tolak ukur comfortable tidaknya suatu ruang publik. Kenyamanan ruang publik dipengaruhi oleh :

Environmental comfort perlindungan dari pengaruh alam (sinar matahari, angin). Physical comfort ketersediaannya fasilitas penunjang yang memadai, seperti : tempat duduk. Social comfort. Psychological comfort.

Gambar 4 Bangku sebagai fasilitas penunjang physical comfort. Sumber : http://pandasurya.files.wordpress.com/2009/07/oldbench1600wl0.jpg

2. Relaxation psychological comfort Suasana rileks mudah dicapai jika badan dan pikiran dalam kondisi sehat dan senang, dengan menghadirkan unsur alam (tanaman / pohon, air) dan lokasi yang terpisah atau terhindar dari kebisingan dan hiruk pikuk kendaraan di sekelilingnya.

Gambar 5 Unsur air dan tanaman untuk mencapai suasana rileks. Sumber : http://london-sightseeing.net/wp-content/uploads/2010/06/regents-park -gardens-london.jpg

3. Passive Engagement Passive engagement dipengaruhi oleh kondisi lingkungannya. Kegiatan pasif dapat dilakukan dengan cara duduk duduk atau berdiri sambil melihat aktivitas yang terjadi di sekelilingnya atau melihat pemandangan yang berupa taman, air mancur, patung, atau karya seni lainnya.

Gambar 6 Passive Engagement. Sumber : http://4.bp.blogspot.com/_YRpo6sq0Ppk/TFkQ555tKGI/AAAAAAAABWU/ _fvKfvNLfkk/s1600/park+sit.jpg

4. Active Engagement Suatu ruang publik dapat dikatakan berhasil jika dapat mewadahi aktivitas kontak / interaksi antar anggota masyarakat (teman, famili, atau orang asing) dengan baik.

Gambar 7 Active Engagement Sumber : http://image1.masterfile.com/em_w/00/67/70/619-00677047w.jpg

5. Discovery Discovery merupakan suatu proses mengelola ruang publik agar di dalamnya terjadi suatu aktivitas yang tidak monoton. Aktivitas dapat berupa acara yang diselenggarakan secara terjadwal, contoh : konser, pameran seni, pertunjukan teater, festival, pasar rakyat (bazaar), promosi dagang, dll.

Gambar 8 Demo masak sebagai salah satu unsur discovery. Sumber : http://www.mahakamedia.com/uploads/news-20110825160727508.jpg

Fokus Obyek : Ruang Terbuka Publik Ruang terbuka publik yang menjadi fokus riset ini berada di antara RT 03 / RW VII dan RT 05 / RW VII, dan berada di hook.

Gambar 9 Situasi Taman di Perumahan Glodogan Indah (merah : RT 03 / RW VII; biru : RT 05 / RW VII) Sumber : http://wikimapia.org/16641976/id/PERUMAHAN-GLODOGAN-INDAH -KLATEN-SELATAN-KLATEN

Ruang terbuka publik tersebut, disebut oleh warga sekitar sebagai taman. Fasilitas yang mendukung taman sebagai ruang terbuka publik tersebut, antara lain : Lapangan bulu tangkis

Gambar 10 Lapangan Bulu Tangkis sebagai salah satu pendukung fasilitas di taman. Sumber : Dok. Pribadi

Pos keamanan lingkungan

Gambar 11 Pos Keamanan Lingkungan sebagai salah satu fasilitas pendukung di taman. Sumber : Dok. Pribadi

Bangku taman

Gambar 12 Bangku taman sebagai salah satu fasilitas pendukung di taman. Sumber : Dok. Pribadi

Ring basket

Gambar 13 Ring basket sebagai salah satu fasilitas pendukung di taman. Sumber : Dok. Pribadi

10

Lampu penerangan

11

Gambar 14 Penerangan sebagai salah satu fasilitas pendukung di taman. Sumber : Dok. Pribadi

Vegetasi

Gambar 15 Vegetasi sebagai salah satu fasilitas pendukung di taman. Sumber : Dok. Pribadi

12

Gambaran Umum Perumahan Glodogan Indah Perumahan Glodogan Indah merupakan kawasan pemukiman yang terletak di sebelah selatan Kabupaten Klaten. Pada awalnya kawasan ini adalah bandara perintis yang digunakan untuk kepentingan militer bagi tentara Belanda dan Jepang, kemudian menjadi lahan terbengkalai setelah masa perang usai. Dan mulai dimanfaatkan lagi menjadi kawasan yang disewakan (untuk peternakan, pertanian, dll), dengan membayar sejumlah uang sewa pada Pengurus Desa Glodogan. Kawasan ini mulai dibangun sebagai kawasan pemukiman pada akhir tahun 1980-an. Sebagian besar warga di kawasan ini tidak mengenal perbedaan status sosial, karena sebagian besar warga di kawasan ini merupakan Pegawai Negeri Sipil dengan tingkat ekonomi menengah dan Pensiunan ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) yang sudah mengenal moderenitas. Agama mayoritas di kawasan ini adalah Islam, yang terpecah menjadi beberapa aliran, antara lain : NU (Nahdlatul Ulama), MTA (Majelis Tafsir Al Quran), LDII (Lembaga Dakwah Islamiah Indonesia) dan Muhammadiyah, dengan para penganutnya yang aktif mengadakan pengajian di Masjid Fajar Indah, maupun pengajian bergilir di rumah warga dengan diiringi samroh, yakni : lagu lagu pujian dengan musik rebana. Agama mayoritas kedua adalah Katolik, dengan para penganutnya yang juga aktif mengadakan doa bersama tiap seminggu sekali dan setiap hari pada peringatan Bulan Maria dan Bulan Kitab Suci. Agama mayoritas ketiga adalah Kristen yang memiliki keragaman denominasi, antara lain : Gereja Kristen Indonesia, Gereja Pentakosta, Gereja Filipi, Gereja Kristen Jawa, Gereja Jemaat Allah, dan

13

Gereja Adven, dengan para penganutnya yang juga aktif melakukan doa bersama secara bergilir di rumah.

(b) Gambar 16 (a) Tampak barat Masjid Fajar Indah; (b) Tampak utara Masjid Fajar Indah Sumber : Dok. Pribadi

(a)

Sedangkan kesenian tradisional tidak ditemukan aktif dilakukan oleh warga kawasan ini karena sebagian besar warganya adalah pendatang dari luar daerah.

B. Rumusan Masalah Apakah taman di kawasan Perumahan Glodogan Indah, Klaten dari sisi kualitas telah memenuhi unsur unsur ruang terbuka yan diungkapkan oleh Stephen Carr dalam buku Public Space?

C. Tujuan dan Sasaran Tujuan dari penulisan riset ini adalah untuk mengetahui kualitas ruang terbuka publik di kawasan Perumahan Glodogan Indah, Klaten, berdasarkan unsur unsur ruang terbuka yang diungkapkan oleh Stephen Carr, serta faktor faktor lain yang mempengaruhi tidak maksimalnya fungsi ruang terbuka publik tersebut.

14

Sasaran dari penulisan riset ini adalah warga Perumahan Glodogan Indah, agar kelak riset ini dapat menjadi evaluasi untuk memperbaiki kualitas ruang terbuka publik di kawasan Perumahan Glodogan Indah.

D. Lingkup Pembahasan 1. Lingkup spasial meliputi wilayah Perumahan Glodogan Indah, Klaten, dengan batas batasnya : Batas utara : Dukuh Bangilan, Desa Ngalas. Batas timur : Persawahan Desa Ngalas dan Desa Glodogan. Batas selatan : Dukuh Kalangan, Desa Glodogan. Batas barat : Perumahan Pusat Pendidikan Latihan Tempur, Desa Glodogan. 2. Lingkup substansial dengan obyek ruang terbuka publik yang berupa taman yang berada di antara RT 03 / RW VII dan RT 05 / RW VII, Perumahan Glodogan Indah, Klaten. 3. Lingkup temporan riset ini dilaksanakan selama satu semester pembelajaran mata kuliah Metodologi Riset Arsitektur, dengan jadwal : Penentuan topik, deskripsi topik, data primer, dan data sekunder 13 26 Agustus 2012. Penentuan fokus, kasus, lokus, data primer, dan data sekunder 27 Agustus 9 September 2012. Penentuan metodologi dan data relevan mungkin relevan 10 16 September 2012. Pembuatan proposal riset 16 September 2012 19 Desember 2012

15

Pengumpulan proposal riset 20 Desember 2012

E. Metoda Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini, antara lain : 1. Metode pengumpulan data : No. Macam Data Definisi fokus : ruang terbuka publik Deskripsi fokus : ruang 2. terbuka publik di Perumahan Glodogan Indah 3. Deskripsi lokus : Perumahan Glodogan Indah Deskripsi kasus : unsur 4. ruang publik
Tabel 1 Metode pengumpulan data.

Cara Memperoleh Data literatur

Alat / Instrumen buku, internet

1.

survey lapangan

kamera

wawancara, survey lapangan literatur

alat tulis, kamera buku, internet

2. Metode analisis yang digunakan adalah metode deduktif, dengan menerapkan literatur ke dalam permasalahan yang ada dan metode kuantitatif, dengan menganalisis hubungan sebab akibat antar variabel, kemudian disimpulkan. 3. Metode penarikan kesimpulan pada penelitian ini adalah metode deduktif, yakni : menarik kesimpulan berdasarkan penerapan literature pada permasalahan yang ada. Kuesioner, untuk mengetahui data faktor pengaruh kualitas ruang terbuka publik menurut warga Perumahan Glodogan Indah.

16

F. Keaslian Penelitian Identifikasi judul yang mirip dengan riset ini, antara lain : 1. Peran Ruang Publik di Permukiman Tradisional Kampung Laweyan Surakarta oleh Alpha Febela Priyatmono; dalam riset tersebut Alpha mengungkapkan deskripsi mengenai ruang publik serta perannya di kawasan Kampung Laweyan.

G. Sistematika Penulisan Proposal penelitian ini disusun dengan sistematika penulisan : A. Latar Belakang; berisi latar belakang masalah yang menjadi garis besar alasan riset ini dibuat yang mencakup definisi dan arti penting kasus, lokus, dan permasalahan sebagai review awal literatur. B. Rumusan Masalah; berisi pertanyaan penelitian yang menjadi kasus riset. C. Tujuan dan Sasaran; berisi penjabaran tujuan dan sasaran riset ini dibuat. D. Lingkup Pembahasan; berisi lingkup spasial (batas wilayah), lingkup substansial (fokus), dan lingkup temporan (waktu riset / schedule). E. Metoda Penelitian; berisi penjabaran metode yang ditempuh untuk mengumpulkan data, menganalisis dan menarik kesimpulan pada riset ini.

17

F. Keaslian Penulisan;

berisi mengenai identifikasi judul riset yang mirip dengan riset ini dan perbedaannya.

G. Sistematika Penulisan;

berisi

mengenai

susunan

secara

sistematis

penulisan riset. H. Pustaka; berisi sumber data yang relevan dengan kasus, fokus, dan lokus.

H. Pustaka Carmona dkk., 2003. Public Space Urban Space : The Dimension of Urban Design, Architectural Press London Priyatmono, Alpha Febela. Peran Ruang Publik di Permukiman Tradisional Kampung Laweyan Surakarta, Universitas

Muhammadiyah Surakarta Firmanti, Fitra. 2009. Arahan Penyediaan Tempat Bermain Anak di Kawasan Permukiman Padat di Kelurahan Banyu Urip, Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya Hakim, Rustam. ( ). Download : November 11, (2012). Ruang Terbuka Hijau. http://rustam2000.wordpress.com/ruang-terbuka-hijau/

18