Anda di halaman 1dari 7

Nama : Destriyanti Rukmana Sari NIM : 20070310097

1. Seorang pasien laki-laki usia 35 tahun datang dengan keluhan perut dan kaki bengkak sejak 2 bulan yang lalu. Awalnya kecil semakin lama semakin membesar. Demam (-), mual (-), muntah (-), BAK dan BAB lancar. Riwayat hipertensi (-), kolesterol (? belum pernah dicek). Pemeriksaan fisik: vesikuler meningkat, RBK (+), ekspirasi memanjang, ketinggalan gerak, tes undulasi (+), pitting udem tungkai (+). DIAGNOSIS : gagal jantung kanan PEMBAHASAN: Gagal jantung kanan mengakibatkan peningkatan tekanan pada pembuluh darah yang mengalirkan darah ke ventrikel kanan, yakni vena sistemik. Hal tersebut mengakibatkan terjadinya asites, efusi pleura, dan edema perifer. Hati dan limpa membesar. Asites adalah yang paling umum dan biasanya terjadi sebelum melanjut ke daerah subkutan, edema, atau hidrotoraks atau hidroperikardium. Bila ventrikel kanan gagal memompakan darah, maka yang terlihat adalah kongestif visera dan jaringan perifer. Hal ini terjadi karena sisi kanan jantung tidak mampu mengosongkan volume darah dengan adekuat sehingga tidak dapat mengakomodasi semua darah yang secara normal kembali dari sirkulasi vena. Manifestasi klinis yang tampak meliputi edema ekstremitas bawah yang biasanya merupakan pitting edema, pertambahan berat badan, hepatomegali, distensi vena jugularis, asites, anoreksia dan mual, nokturia dan lemah. Pitting edema adalah edema yang akan tetap cekung bahkan setelah penekanan ringan pada ujung jari, baru jelas terlihat setelah terjadinya retensi cairan paling tidak sebanyak 4,5kg dari berat badan normal selama mengalami edema. Edema pada tungkai kaki terjadi karena kegagalan jantung kanan dalam mengosongkan darah dengan adekuat sehingga tidak dapat mengakomodasi semua darah yang secara normal kembali dari sirkulasi vena. Edema dimulai pada kaki dan tumit dan secara bertahap bertambah ke atas tungkai, paha, genitalia eksterna dan tubuh bagian bawah. Penatalaksanaan ditujukan untuk menghilangkan atau mengurangi peneyebab gangguan diastolik seperti fibrosis, hipertrofi, atau iskemia. Disamping itu kongesti sistemik/pulmonal akibat dari gangguan diatolik tersebut dapat diperbaiki dengan

restriksi garam dan pemberian diuretik. Mengurangi denyut jantung agar waktu untuk diastolik bertambah, dapat dilakukan dengan pemberian penyekat beta atau penyekat kalsium non-dihidropiridin. Obat obat yang biasa digunakan untuk gagal jantung kronis antara lain: diuretik (loop dan thiazide), angiotensin converting enzyme inhibitors, blocker (carvedilol, bisoprolol, metoprolol), digoxin, spironolakton, vasodilator (hydralazine/nitrat), antikoagulan, antiaritmia, serta obat positif inotropik. Pemberian loop diuretik intravena seperti furosemid akan menyebabkan venodilatasi yang akan memperbaiki gejala walaupun belum ada diuresis. Loop diuretik juga meningkatkan produksi prostaglandin vasdilator renal. Efek ini dihambat oleh prostaglandin inhibitor seperti obat antiflamasi nonsteroid, sehingga harus dihindari bila memungkinkan. 2. Pasien laki-laki usia 20 tahun datang dengan keluhan batuk dan demam sejak 2 hari yang lalu. Batuk terus menerus sampai pasien mengeluh sesak nafas setiap habis batuk. Riwayat alergi (-), merokok (-). Pemeriksaan fiaik: paru kanan redup, vesikuler meningkat, RBK (+), abdomen super, nyeri tekan (-). Laboratorium: Hb 15, AL 15.000, segmen 90%, Trombosit 300.000 Radiologi: infiltrat di lobus kanan DIAGNOSIS: Pneumonia Lobaris Dextra ec Bakteri TERAPI: - Co-amoxiclav 3 x 500 mg - ambroxol 3 x 30 mg - paracetamol 3 x 500 mg PEMBAHASAN: Pneumonia adalah proses infeksi akut yang mengenai jaringan paru-paru (alveoli) biasanya disebabkan oleh masuknya kuman bakteri, yang ditandai oleh gejala klinis batuk, demam tinggi dan disertai adanya napas cepat ataupun tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam. Dalam pelaksanaan Pemberantasan Penyakit ISPA (P2ISPA) semua bentuk pneumonia baik pneumonia maupun bronchopneumonia disebut pneumonia (Depkes RI, 2002). Pneumonia yang ada di kalangan masyarakat umumnya disebabkan oleh bakteri, virus, mikoplasma (bentuk peralihan antara bakteri dan virus) dan protozoa.

a. Bakteri Pneumonia yang dipicu bakteri bisa menyerang siapa saja, dari bayi sampai usia lanjut. Sebenarnya bakteri penyebab pneumonia yang paling umum adalah Streptococcus pneumoniae sudah ada di kerongkongan manusia sehat. Begitu pertahanan tubuh menurun oleh sakit, usia tua atau malnutrisi, bakteri segera memperbanyak diri dan menyebabkan kerusakan. Balita yang terinfeksi pneumonia akan panas tinggi, berkeringat, napas terengah-engah dan denyut jantungnya meningkat cepat (Misnadiarly, 2008). b. Virus Setengah dari kejadian pneumonia diperkirakan disebabkan oleh virus. Virus yang tersering menyebabkan pneumonia adalah Respiratory Syncial Virus(RSV). Meskipun virus-virus ini kebanyakan menyerang saluran pernapasan bagian atas, pada balita gangguan ini bisa memicu pneumonia. Tetapi pada umumnya sebagian besar pneumonia jenis ini tidak berat dan sembuh dalam waktu singkat.Namun bila infeksi terjadi bersamaan dengan virus influenza, gangguan bisa berat dan kadang menyebabkan kematian (Misnadiarly, 2008). c. Mikoplasma Mikoplasma adalah agen terkecil di alam bebas yang menyebabkan penyakit pada manusia. Mikoplasma tidak bisa diklasifikasikan sebagai virus maupun bakteri, meski memiliki karakteristik keduanya. Pneumonia yang dihasilkan biasanya berderajat ringan dan tersebar luas. Mikoplasma menyerang segala jenis usia, tetapi paling sering pada anak pria remaja dan usia muda. Angka kematian sangat rendah, bahkan juga pada yang tidak diobati (Misnadiarly, 2008). d. Protozoa Pneumonia yang disebabkan oleh protozoa sering disebut pneumonia pneumosistis. Termasuk golongan ini adalah Pneumocystitis Carinii Pneumonia (PCP). Pneumonia pneumosistis sering ditemukan pada bayi yang prematur. Perjalanan penyakitnya dapat lambat dalam beberapa minggu sampai beberapa bulan, tetapi juga dapat cepat dalam hitungan hari. Diagnosis pasti ditegakkan jika ditemukan P. Carinii pada jaringan paru atau spesimen yang berasal dari paru (Djojodibroto, 2009). Gejala penyakit pneumonia biasanya didahului dengan infeksi saluran napas atas akut selama beberapa hari. Selain didapatkan demam, menggigil, suhu tubuh meningkat dapat mencapai 40 derajat celcius, sesak napas, nyeri dada dan batuk dengan dahak

kental, terkadang dapat berwarna kuning hingga hijau. Pada sebagian penderita juga ditemui gejala lain seperti nyeri perut, kurang nafsu makan, dan sakit kepala (Misnadiarly, 2008). Terapi: Kombinasi intravena -lactamasespektum luas seperti co-amoxiclav atau generasi kedua cephalosporin (misal cefuroxime), generasi ketiga cephalosporin (misal cefotaxime atau ceftriaxone) dengan makrolide (misal clarithromycin atau erythromycin) sangat dianjurkan. Bagi pasien yang tidak toleran dengan -lactam dan macrolide, atau diketahui ada kuman C difficile yang menimbulkan diare, maka fluoroquinolone dengan aktivitas tinggi melawan S pneumoniae bisamenjadi alternatif. Untuk lini kedua bila ada kemungkinan resistensi, bisa diberikan ceftazidime plus aminoglycoside, dan levofloxacin, ATAU piperacillin plus aminoglycoside dan azithromycin. Durasi pemberian antibiotik bagi pasien community atau dirujuk ke rumah sakit dengan pneumonia non-severe atau tanpa komplikasi, adalah 7 hari. Namun untuk severe pneumonia dengan jenis mikrobiologi belum diketahui, menurut BTS, antibiotik diberikan selama 10 hari. Durasi diperpanjang hingga 14-21 hari bila ada kecurigaan atau dikonfirmasi legionella, staphylococcal, atau Gram negative enteric bacilli pneumonia. 3. Seorang wanita usia 35 tahun datang dengan keluhan nyeri perut di kanan atas. Nyeri dirasakan tiba-tiba sejak 2 hari yang lalu. Mual (+), muntah (-), BAK dan BAB tidak ada keluhan. Pasien tidak sedang menstruasi ataupun hamil. Pemeriksaan fisik: supel, hepatomegali (-), nyeri tekan di kuadran kanan atas DD: kolelitiasis, cholecystitis acute, pancreatitis acute, hepatitis acute, pyelonefritis acute, dan abses hepar. Pembahasan: a. Kolesistitis akut Nyeri hipokondrial kanan yang menetap, pireksia, mual dengan atau tanpa ikterus. Nyeri tekan di kuadran kanan atas dengan tanda Murphys sign positif. Leukositosis. Kasus yang tidak sembuh dapat menyebabkan empiema pada kandung kemih. b. Kolelitiasis Nyeri di daerah epigastrium, kuadran kanan atas, atau perikondrium. Nyeri saluran empedu cenderung hebat, baik menetap maupun seperti kolik bilier (nyeri

kolik yang berat pada perut atas bagian kanan) jika ductus sistikus tersumbat oleh batu, sehingga timbul rasa sakit perut yang berat dan menjalar ke punggung atau bahu, bisa berlangsung lebih dari 15 menit dan kadang baru menghilang beberapa jam kemudian. Mual dan muntah, demam. Manifestasi klinis: Anoreksia merupakan gejala dini dan biasanya berat Belakangan dapat timbul ikterik dan warna urin yang gelap Gejala dispepsia dapat terjadi dalam beberapa derajat. Ditandai rasa nyeri epigastrium, mual, nyeri ulu hati, dan flatulensi Gejala-gejala di atas menghilang pada puncak ikterik (10 hari sesudah kemunculan awal) Splenomegali dan hepatomegali sering terjadi c. Pankreatitis akut Pankreatitis akut biasanya dimulai dengan rasa sakit yang bertahap atau tiba-tiba di perut bagian atas yang kadang-kadang meluas sampai kebagian belakang perut. Rasa sakit tersebut, mungkin ringan pada awalnya dan terasa lebih buruk setelah makan. Rasa sakit yang parah dan menetap berlangsung selama beberapa hari. Seseorang penderita pankreatitis akut biasanya terlihat sangat menderita dan memerlukan bantuan medis yang segera. Gejala lain yang biasa ditemukan berupa: pembengkakan dan nyeri perut, yang disertai mual, muntah, dan demam. Pankreatitis akut didiagnosis berdasarkan riwayat pasien, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan laboratorium dengan ditemukan peningkatan enzim amilase dan lipase, serta trigliserida yang sangat tinggi di dalam darah. Demikian pula dapat diperkuat dengan pemeriksaan USG perut, CT Scan, USG endoskopi. Pemeriksaan penunjang tersebut dilakukan untuk mendeteksi batu empedu atau untuk mengidentifikasi tingkat kerusakan pankreas. d. Hepatitis akut Pada saat timbul gejala utama yaitu badan dan mata menjadi kuning (kuning kenari), gejala-gejala awal tersebut biasanya menghilang, tetapi pada beberapa pasien dapat disertai kehilangan berat badan (2,5 5 kg), hal ini biasa dan dapat terus terjadi selama proses ifeksi. Hati menjadi membesar dan nyeri sehingga keluhan dapat berupa nyeri perut kanan atas, atau atas, terasa penuh di ulu hati. Terkadang keluhan berlanjut menjadi tubuh bertambah kuning (kuning gelap) yang merupakan tanda adanya sumbatan pada saluran kandung empedu.

e. Pyelonefritis akut Gejala yang paling umum dapat berupa demam tiba-tiba. Kemudian dapat disertai menggigil, nyeri punggung bagian bawah, mual, dan muntah. Pada beberapa kasus juga menunjukkan gejala ISK bagian bawah yang dapat berupa nyeri berkemih dan frekuensi berkemih yang meningkat. Dapat terjadi kolik renalis, di mana penderita merasakan nyeri hebat yang desebabkan oleh kejang ureter. Kejang dapat terjadi karena adanya iritasi akibat infeksi atau karena lewatnya batu ginjal. Bisa terjadi pembesaran pada salah satu atau kedua ginjal. Kadang juga disertai otot perut berkontraksi kuat. Pyelonefritis akut ditandai dengan: pembengkakan ginjal atau pelebaran penampang ginjal Pada pengkajian didapatkan adanya demam yang tinggi, menggigil, nausea, nyeri pada pinggang, sakit kepala, nyeri otot dan adanya kelemahan fisik. Pada perkusi di daerah CVA ditandai adanya tenderness. Klien biasanya disertai disuria, frequency, urgency dalam beberapa hari. Pada pemeriksaan urin didapat urin berwarna keruh atau hematuria dengan bau yang tajam, selain itu juga adanya peningkatan sel darah putih. f. Abses hepar Ditemukan sindrom klinis klasik berupa nyeri spontan perut kanan atas, yang di tandai dengan jalan membungkuk kedepan dengan kedua tangan diletakan di atasnya. Demam/panas tinggi merupakan keluhan yang paling utama, keluhan lain yaitu nyeri pada kuadran kanan atas abdomen, dan disertai dengan keadaan syok. Rasa mual dan muntah, berkurangnya nafsu makan, terjadi penurunan berat badan. Penegakan diagnosis dapat ditegakan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, laboratorium, serta pemeriksaan penunjang. Hepatomegali terdapat pada semua penderita, yang teraba sebesar tiga jari sampai enam jari arcus-costarum. Pada pemeriksaan laboratorium yang di periksa adalah darah rutin termasuk kadar Hb darah, jumlah leukosit darah, kecepatan endap darah dan percobaan fungsi hati, termasuk kadar bilirubin total, total protein dan kadar albumin dan glubulim dalam darah. Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan leukositosis yang tinggi dengan pergeseran ke kiri, anemia, peningkatan laju endap darah, peningkatan alkalin fosfatase, peningkatan enzim transaminase dan serum bilirubin,

berkurangnya kadar albumin serum dan waktu protrombin yang memanjang menunjukan bahwa terdapat kegagalan fungsi hati yang disebabkan AHP.