Anda di halaman 1dari 2

Sebelum percobaan dimulai, dilakukan pengamatan pada keadaan kelinci yang akan digunakan sebagai kontrol.

Pada keadaan normal, frekuensi pernapasan kelinci adalah 128 kali/menit, iramanya teratur, dan jenis pernapasan adalah thorako-abdominal. Selain itu, masih terdapat gerakan reflek dari kelinci ketika telinga kelinci disentuh menggunakan gunting penjepit. Hal ini juga menunjukkan masih adanya rasa nyeri yang dapat dirasakan kelinci tersebut. Tonus otot juga masih ada saat kaki kelinci dipegang dan kaki tersebut menghasilkan tahanan otot. Keadaan mata kelinci saat keadaan normal menunjukkan lebar pupil 5 mm, terdapat refleks cahaya, refleks kornea dan pergerakan mata. Kelinci tidak mengalami hipersalivasi dan ronchi pada auskultasi tidak ada. Stadium I anestesi umum dicapai setelah 60 tetes dalam waktu 2 menit. Hal ini ditandai dengan terjadinya bradikardi. Tahap ini dimulai sejak saat pemberian zat anestetik sampai hilangnya kesadaran. Kesadaran kelinci masih tampak namun ukuran pupil mengecil dari keadaan awal. Pada tahap ini, rasa sakit telah hilang (efek analgesia telah muncul). Stadium II, yang disebut juga dengan stadium eksitasi atau delirium, dimulai dari hilangnya kesadaran hingga permulaan stadium pembedahan. Kelinci memasuki stadium ini pada setelah 7 menit 28 detik sebanyak 234 tetes, yang ditandai dengan pernapasan cepat dan tidak teratur. Pada stadium ini terlihat jelas adanya eksitasi dan gerakan yang tidak menurut kehendak, seperti refleks kornea, pelebaran pupil mata (midriasis), gerakan pernafasan yang tak teratur. Stadium III yaitu stadium sejak mulai teraturnya lagi pernafasan hingga hilangnya pernafasan spontan. Stadium ini ditandai oleh hilangnya pernafasan spontan, hilangnya refleks kelopak mata dan dapat digerakkannya kepala ke kiri dan kekanan dengan mudah. 9 Stadium III ini dibagi dalam 4 plane. Tetapi pada hewan percobaan kami tidak dapat tercapai stadium tiga dengan tetesan terakhir mencapai 598 tetes 22 menit 55 detik. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor yaitu: Kemungkinan terjadi hiperventilasi pada hewan coba sehingga anestesi yang masuk ke paru-paru terlampau tinggi meskipun dosis tetesannya sesuai sehingga stadium 3 tidak terjadi dan kelinci mengalami penurunan gerakan motoris tetapi masih sadar dan lama-kelamaan menimbulkan kematian seperti pada hewan percobaan yang digunakan.

berbagai faktor yang mempengaruhi transfer anastetik dari alveoli paru darah dan dari darah ke jaringan otak, yaitu : (1) kelarutan zat anastetik, (2) kadar anastetik dalam udara yang dihirup pasien (tekanan parsial), (3) ventilasi paru, (4) aliran darah paru, dan (5) perbedaan antara tekanan parsial anastetik di darah arteri dan darah vena. Hasil praktikum membuktikan bahwa semakin banyak kadar anastesi yang diterima oleh tubuh pasien, dalam hal ini binatang coba (kelinci) maka kelinci akan merasakan anastesi yang lebih dalam.

Karena dalam percobaan ini menggunakan anestesi inhalsi ether yang memiliki efek samping yang buruk seprti eter mudah terbakar dan meledak, menyebabkan
sekresi bronkus berlebihan, mual dan muntah, kerusakan hati, dan baunya yang sangat merangsang.

Karena adanys depresi pernafasan yang dialami kelinci tersebut.

http://www.scribd.com/doc/31395584/Anestesi-Lokal-Final-Punya-Kelompokny-Aria