Anda di halaman 1dari 32

1. Definisi Ekstraksi vakum adalah suatu persalinan buatan, janin dilahirkan dengan ekstraksi tenaga negatif (vakum) di kepalanya.

Alat ini dinamakan ekstraktor vakum atau ventouse. Ekstraksi vakum merupakan tindakan obstetrik yang bertujuan untuk mempercepat kala pengeluaran dengan sinergi tenaga mengedan ibu dan ekstraksi pada bayi. Oleh karena itu, kerjasama dan kemampuan ibu untuk mengekspresikan bayinya, merupakan faktor yang sangat penting dalam menghasilkan akumulasi tenaga dorongan dengan tarikan ke arah yang sama. Tarikan pada kulit kepala bayi, dilakukan dengan membuat cengkraman yang dihasilkan dari aplikasi tekanan negatif (vakum). Mangkuk logam atau silastik akan memegang kulit kepala yang akibat tekanan vakum, menjadi kaput artifisial. Mangkuk dihubungkan dengan tuas penarik (yang dipegang oleh penolong persalinan), melalui seutas rantai. Ada 3 gaya yang bekerja pada prosedur ini, yaitu tekanan interauterin (oleh kontraksi), tekanan ekspresi eksternal (tenaga mengedan), dan gaya tarik (ekstraksi vakum).

2. Sejarah Ekstraksi Vakum Gagasan untuk melahirkan kepala janin dengan memakai tenaga vakum, mulamula dipelajari oleh Young (1706) dari Inggris, yang kemudian secara berturut-turut dikembangkan oleh ahli-ahli obstetrik di negara-negara Eropa dalam bentuk yang bermacam-macam. Bentuk ekstraktor vakum bermacam-macam inti ternyata kurang popular dalam pemakaiannya, karena banyak hambatan-hambatan teknik. Akhirnya pada tahun 1952-1954 Tage Malmstrom dari Gothenberg, Swedia menciptakan ekstraktor vakum yang setelah emngalami percobaan-percobaan dan modifikasi dalam bentuknya, sejak tahun 1956 menjadi sangat populer dipakai dalam klinik-klnik obstetrik sampai saat ini. Bentuk dan Bagian-bagian Ekstraktor Vakum a. Mangkuk (cup) Bagian yang dipakai untuk membuat kaput suksedaneum artifisialis. Dengan mangkuk inilah kepala diekstraksi. Diameter mangkuk : 3,4,5,6 cm. pada dinding belakang mangkuk terdapat tonjolan, untuk tanda letak denominator.

b. Botol Tempat membuat tenaga negative (vakum). Apda tutup botol terdapat manometer, saluran menuju ke pompa pemghisap, dan saluran menuju ke mangkuk yang dilengkapi dengan pentil. c. Karet Penghubung d. Rantai penghubung antara mangkuk dengan pemegang e. Pemegang (extraction handle) f. Pompa Penghisap (vacuum pump)

3. Indikasi Kala II lama dengan presentasi kepala belakang/verteks. Ibu: memperpendek persalinan kala II, penyakit jantung kompensata, penyakit paru fibrotik. Janin: adanya gawat janin. Waktu: persalinan kala lama.

4. Kontra Indikasi Malpresentasi (dahi, puncak, kepala, muka, bokong). Panggul sempit (disproporsi kepala-panggul). Ibu: ruptur uteri membakat, ibu tak boleh mengejan. Janin: letak lintang, presentasi muka, presentasi bokong, preterm, kepala menyusul.

5. Syarat Khusus Pembukaan serviks lengkap atau hampir lengkap. Presentasi kepala. Kepala janin berada di Hodge III + engaged. Cukup bulan (tidak prematur). Tidak ada kesempitan panggul. Anak hidup dan tidak gawat janin. Penurunan H III/III+ (Puskesmas H IV / dasar panggul). Kontraksi baik. Ibu kooperatif dan masih mampu untuk mengedan. Ketuban sudah pecah/ dipecahkan.

6. Etiologi Ibu : Memperpendek kala II. misalnya: Penyakit jantung kompensata, Penyakit paruparu fibrotik. Waktu Janin : kala II yang memanjang. : Gawat janin (masih kontroversi)

7. Patofisiologi Adanya beberapa faktor baik faktor ibu maupun janin menyebabkan tindakan ekstraksi forsep/ekstraksi vakum dilakukan. Ketidakmampuan mengejan, keletihan, penyakit jantung (eklampsia), section secarea pada persalinan sebelumnya, kala II yang lama, fetal distress dan posisi janin oksiput posterior atau oksiput transverse menyebabkan persalinan tidak dapat dilakukan secara normal. Untuk melahirkan secara per vaginam maka perlu tindakan ekstraksi vacum/forsep. Tindakan ekstraksi foesep/vacuum menyebabkan terjadinya laserasi pada servuk uteri dan vagina ibu. Disamping itu terjadi laserasi pada kepala janin yang dapat mengakibatkan perdarahan intrakranial. 8. Komplikasi Komplikasi Ekstraksi vakum Ibu : Perdarahan akibat atonia uteri/ trauma, Trauma jalan lahir, dan Infeksi

Janin : Ekskoriasi kulit kepala, Sefalhematoma, Subgaleal hematoma. Hematoma ini cepat direabsorbsi tubuh janin. Bagi janin yang mempunyai fungsi hepar belum matur dapat menimbulkan ikterus neonatorum yang agak berat. Nekrosis kulit kepala (scapnecrosis), dpt menimbulkan alopesia, Pendarahan intrakranial, Jaundice,

Fraktur kalvikula, Kerusakan N VI dan VII.

9. Kriteria Kegagalan Dalam jam traksi tak berhasil. Mangkuk terlepas 3 kali.

10. Penyebab Kegagalan Tenaga vakum terlalu rendah. Tekanan negatif dibuat terlalu cepat. Selaput ketuban melekat. Bagian janin lahir terjepit. Koordinasi tangan kurang baik. Traksi terlalu kuat. Cacat alat. Disproporsi sefalopelvik yang sebelumnya tak diketahui.

11. Terapi Pada prinsipnya tidak berbeda dengan perawatan postpartum biasa, hanya memerlukan perhatian dan observasi yang lebih ketat karena kemungkinan terjadinya komplikasi lebih besar, yaitu perdarahan, robekan jalan lahir, dan infeksi. Oleh karena itu, perawatan setelah ekstraksi vacum memerlukan profilaksis pemberian infus sampai terjadi keadaan stabil, pemberian uterotonika sehingga kontraksi otot rahim menjadi kuat, dan pemberian antibiotika untuk menghindari infeksi. Pertimbangan Keperawatan Dalam membantu wanita yang melahirkan melaluui penggunaan ekstraksi vacum, perawat berperan sebagai pendukung dan pendidik. Perawat dapat menyiapkan ibu untuk melahirkan dan mendorongnya untuk tetap aktif dalam proses melahirkan yakni dengan menganjurkan ibu untuk mendorong saat kontraksi. Denyut jantung janin juga harus sering dinilai selama prosedur tersebut. Setelah lahir, bayi harus diobservasi untuk melihat tanda infeksi pada tempat pemasangan mangkuk dan iritasi serebral (misalnya, akibat pengisapan yang buruk, ketidakberdayaan). Orang tua perlu diyakinkan bahwa kaput suksedaneum akan hilang

setelah beberapa jam. Para tenaga perawatan neonatus harus menyadari bahwa bayi tersebut dilahirkan dengan ekstraksi vakum. 12. Pemeriksaan Fisik Keadaan umum : TTV : tekanan darah, nadi, pernapasan, dan suhu.

Keadaan khusus (syarat-syarat ekstraksi vakum) : Pembukaan lebih dari 7 cm (hanya pasa multigravida). Penurunan kepala janin (boleh) pada hodge II. Kontraksi rahim dan tenaga mengejan.

13. Keuntungan dan Kerugian Keunggulan :

Pemasangan mudah (mengurangi bahaya trauma dan infeksi). Tidak diperlukan narkosis umum. Mangkuk tidak menambah besar ukuran kepala yang harus melalui jalan lahir. Ekstraksi vakum dapat dipakai pada kepala yang masih tinggi dan pembukaan serviks belum lengkap.

Trauma pada kepala janin lebih ringan :

Kerugian -

Persalinan janin memerlukan waktu yang lebih lama. Tenaga traksi tidak sekuat seperti pada cunam. Sebenarnya hal ini dianggap sebagai keuntungan, karena kepala janin terlindung dari traksi dengan tenaga yang berlebihan.

Pemeliharaannya lebih sukar, karena bagian-bagiannya banyak terbuat dari karet dan harus selalu kedap udara.

14. Penatalaksanaan Persiapan Tindakan Persiapkan ibu dalam posisi litotomi, kosongkan kandung kemih dan rektum, bersihkan vulva dan perineum dengan antiseptik, dan beri infus bila diperlukan. Siapkan alat-alat yang diperlukan.

PERSIAPAN SEBELUM TINDAKAN I. Pasien 1. Cairan dan slang infus sudah terpasang, Perut bawah dan lipat paha sudah dibersihkan dengan air dan sabun. 2. Uji fungsi dan perlengkapan perlatan ekstraksi vakum. 3. Siapkan alas bokong, sarung kaki dan penutup perut bawah. 4. Medikamentosa a. Oksigen b. Ergometrin c. Prokain 1% 5. Larutkan antiseptik (Povidon lodin 10%) 6. Oksigen dengan regulator 7. Instrumen a. Set partus : 1 set b. Vakum ekstraktor : 1 setc. Klem ovum : 2 c. Cunam tampon : 1 d. Tabung 5 ml dan jarum suntik No. 23 (sekali pakai) : 2 e. Spekulum Sims atau L dan kateter karet : 2 dan 1 II. Penolong (operator dan asisten) 1. Baju kamar tindakan, pelapis plastik, masker dan kacamata pelindung : 3 set 2. Sarung tangan DTT/steril : 4 pasang 3. Alas kaki (sepatu/boot karet) : 3 pasang 4. Instrumen a. Lampu sorot : 1 b. Monoaural stetoskop dan stetoskop, tensimeter : 1 III. Bayi 1. Instrumen a. Penghisap lendir dan sudep/penekan lidah : 1 set b. Kain penyeka muka dan badan : 2 c. Meja bersih, kering dan hangat (untuk tindakan) : 1

d. Inkubator : 1 set e. Pemotong dan pengikat tali pusat : 1 set f. Tabung 20 ml dan jarum suntik No. 23/ insulin (sekali pakai) : 2 g. Kateter intravena atau jarum kupu-kupu : 2 h. Popok dan selimut : 1 i. Alat resusitasi bayi 2. Medikamentosa a. Larutan Bikarbonas Natrikus 7,5% atau 8,4% b. Nalokson (Narkan) 0,01 mg/kg BB c. Epinefrin 0,01% d. Antibiotika e. Akuabidestilata dan Dekstrose 10% 3. Oksigen dengan regulator TINDAKAN 1. Instruksikan asisten untuk menyipakan ekstraktor vakum dan pastikan petugas dan persiapan untuk menolong bayi telah tersedia. 2. Lakukan pemeriksaan dalam untuk memastikan terpenuhinya persyaratan ekstraksi vakum. Bila penurunan kepala di atas H IV (0/5), rujuk ke Rumah Sakit. 3. Masukkan tangan ke dalam wadah yang mengandung larutan klorin 0,5%, bersihkan darah dan cairan tubuh yang melekat pada sarung tangan, lepaskan secara terbalik dan rendam dalam larutan tersebut. 4. Pakai sarung tangan DTT/Steril yang baru. PEMASANGAN MANGKOK VAKUM 1. Masukkan mangkok vakum melalui introitus, pasangkan pada kepala bayi (perhatikan agar tepi mangkok tidak terpasang pada bagian yang tidak rata/moulage di daerah ubun-ubun kecil). 2. Dengan jari tengah dan telunjuk, tahan mangkok pada posisisnya dan dengan jari tengah dan telunjuk tangan lain, lakukan pemeriksaan di sekeliling tepi mangkok

untuk memastikan tidak ada bagian vagina atau porsio yang terjepit di antara mangkok dan kepala. 3. Setelah hasil pemeriksaan ternyata baik, keluarkan jari tanan pemeriksaan dan tangan penahan mangkok tetap pada posisinya. 4. Instruksikan asisten untuk menurunkan tekanan (membuat vakum dalam mangkok) secra bertahap. 5. Pompa hingga tekanan skala 10 (silastik) atau -2 (Malmstroom) setelah 2 menit, naikkan hingga skala 60 (silastik) atau -6 (Malmstroom) dan tunggu 2 menit. 6. Sambil menunggu his, jelaskan pada pasien bahwa pada his puncak (fase acme) pasien harus mengedan sekuat dan selama mungkin. Tarik lipat lutut dengan lipat siku agar tekanan abdomen menjadi lebih efektif. PENARIKAN 1. Pada fase acme (puncak) dari his, minta pasien untuk mengedan, secara simultan lakukan penarikan dengan perineum yang baku) dilakukan pada saat kepala mendorng perineum dan tidak masuk kembali. 2. Bila belum berhasil pada tarikan pertama, ulangi lagi pada tarikan kedua. Episiotomi pada pasien dengan perineum yang kaku) dilakukan pada saat kepala mendorong perineum dan tidak masuk kembali. Bila tarikan ketiga dilakukan dengan benar dan bayi belum lahir, sebaiknya pasien dirujuk (ingat : penatalaksanaan rujukan). Apabila pada penarikan ternyata mangkuk terlepas hingga dua kali, kondisi ini juga mengharuskan pasien dirujuk 3. Saat subosiput berada di bawah simfisis, arahkan tarikan ke atas hingga lahirlah berturut-turut dahi, muka dan dagu.

MELAHIRKAN BAYI 1) Kepala bayi dipegang biparietal, gerakkan ke bawah untuk melahirkan bahu depan, kemudian gerakkan ke atas untuk melahirkan bahu belakang, kenudian lahirkan seluruh tubuh bayi. 2) Bersihkan muka (hidung dan mulut) bayi dengan kain bersih, potong tali pusat dan serahkan bayi pada petugas bagian anak. LAHIRKAN PLASENTA 1) Suntikkan oksigen, lakukan traksi terkendali, lahirkan plasenta dengan menarik tali pusat dan mendorong uterus ke arah dorsokranial. 2) Periksa kelengkapan plasenta (perhatikan bila terapat bagian-bagian yang lepas atau tidak lengkap). 3) Masukkan plasenta ke dalam tempatnya (hindari percikan darah).

EKSPLORASI JALAN LAHIR 1) Masukkan spekulum Sims/L atas dan bawah pada vagina. 2) Perhatikan apakah terdapat robekan perpanjangan luka episiotomi atau robekan pada dinding vagina di tempat lain. 3) Ambil klem ovum sebanyak 12 buah, lakukan penjepitan secara bergantian ke arah samping, searah jarum jam, perhatikan ada tidaknya robekan porsio. 4) Bila terjadi robekan di luar luka episiotomi, lakukan penjahitan dan lanjutkan ke langkah dekontaminasi . 5) Bila dilakukan episiotomi, lanjutkan ke langkah J. PENJAHITAN EPISIOTOMI 1) Pasang penopang bokong (beri alas kain). Suntikan prokain 1% (yang telah disiapkan dalam tabung suntik) pada sisi dalam luka episiotomi (otot, jaringan, submukosa dan subkutis) bagian atas dan bawah. 2) Uji hasil infiltrasi dengan menjepit kulit perineum yang dianestasi dengan pinset bergigi.

3) Masukkan tampon vagina kemudian jepit tali pengikat tampon dan kain penutup perut bawah dengan kocher. 4) Dimulai dari ujung luka episiotomi bagian dalam jahit otot dan mukosa secara jelujur bersimpul ke arah luar kemudian tautkan kembali kulit secara subkutikuler atau jelujur matras. 5) Tarik tali pengikat tampon vagina secara perlahan-lahan hingga tampon dapat dikeluarkan, kemudian kosongkan kandung kemih. 6) Bersihkan noda darah, cairan tubuh dan air ketuban dengan kapas yang telah diberi larutan antiseptik. 7) Pasang kasa yang dibasahi dengan Povidon lodin pada tempat jahitan episiotomi. PERAWATAN PASCA TINDAKAN 1) Periksa kembali tanda vital pasien, lakukan tindakan dan beri instruksi lanjut bila diperlukan. 2) Catat kondisi pasien pascatindakan dan buat laporan tindakan pada kolom yang tersedia dalam status pasien. 3) Tegaskan pada petugas yang merawat untuk melaksanakan instruksi pengobatan dan perawatan serta laporkan segera bila pada pemamantauan lanjutan terjadi perubahan-perubahan yang harus diwaspadai. ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN VAKUM EKSTRAKSI I. PENGKAJIAN A. IDENTITAS Nama : Umur : Agama : Pendidikan :

Pekerjaan : Alamat : Suku/ bangsa : Tanggal MRS : Tanggal Pengkajian : No. Register : Nama Suami : Umur : Agama : Pendidikan : Pekerjaan : Alamat : Suku/ Bangsa : B. RIWAYAT KESEHATAN a. Riwayat Kesehatan Dahulu : Adanya riwayat abortus, SC pada persalinan sebelumnya. b. Riwayat Kesehatan Sekarang : Distosia (kesulitan persalinan), Penyakit jantung, eklampsia, Fetal distres , Janin berhenti berotasi, Posisi janin oksiput posterior atau oksiput transverse, Ketidakmampuan mengejan, Keletihan, Kala II yang lama. c.Riwayat Kesehatan Keluarga : Adanya penyakit keturunan (jantung. d. Riwayat Obstetri.

e. Riwayat Sosial. C. PEMERIKSAAN FISIK Tanda-tanda vital : Tekanan darah, nadi, pernapasan, dan suhu. Eliminasi : Retensi urine, Makanan/cairan. Seksualitas : adanya laserasi servik uteri dan vagina Pada janin/bayi ; DJJ sebelum forsep dipasang. DJJ sebelum traksi dipasang setelah forsep dipasang. Fraktur tengkorak, subdural hematoma, edema. Perdarahan intrakranial Adanya lecet dan abrasi pada pemasangan bilah/laserasi kulit kepala. Paralisis facial D. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK II. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Kekurangan volume cairan b.d kehilangan vaskular berlebihan. 2. Resti infeksi b.d prosedur invasif, kerusakan kulit, penurunan Hb, pemajanan terhadap patogen. 3. Resti cedera b.d trauma jaringan, perubahan motilitas, efek-efek obat/penurunan sensasi. III. PERENCANAAN KEPERAWATAN

Diagnosa I : Kekurangan volume cairan b.d kehilangan vaskular berlebihan. Tujuan : Mendemonstrasikan kestabilan/ perbaikan keseimbangan cairan. Kriteria hasil : TTV stabil, Pengisian kapiler cepat, Sensorium tepat, dan Haluaran serta berat jenis urin adekuat secara individual. Intervensi dan Rasionalisasi No. 1. Mandiri Tinjau ulang catatan kehamilan dan persalinan/kelahiran, perhatikan factorfaktor penyebab atau pemberat pada situasi hemoragi (mis: laserasi, fragmen plasenta tertahan, sepsis, abrupsio Intervensi Rasionalisasi Membantu dalam membuat rencana perawatan memberikan mencegah yang tepat dan untuk

kesempatan atau

membatasi

terjadinya komplikasi.

plasenta, emboli cairan amniotic, atau retensi janin mati selama lebih dari 5 mgg). 2. Kaji dan catat jumlah, tipe, dan sisi Membantu dalam membuat rencana perdarahan; timbang dan hitung perawatan yang tepat dan untuk

pembalut; simpan bekuan dan jaringan memberikan untuk dievaluasi oleh dokter. mencegah

kesempatan atau

membatasi

terjadinya komplikasi.

3.

Kaji

lokasi

uterus

dan

derajat Derajat

kontraktilitas

uterus

kontraktilitas uterus. Dengan perlahan membantu dalam diagnosa banding. masase penonjolan uterus dengan satu Peningkatan tangan sambil menempatkan tangan miometrium kedua tepat di atas simfisis pubis. dapat kontraktilitas menurunkan

kehilangan darah. Penempatan satu tangan di atas simfisis pubis inversi

mencegah

kemungkinan

uterus selama masase. 4. Perhatikan hipotensi atau takikardi, Tanda-tanda pelambatan pengisian kapiler, ini menunjukkan

atau hipovolemik dan terjadinya syok.

sianosis dasar kuku, membrane mukosa, Perubahan pada TD tidak dapat dan bibir. dideteksi sampai volume cairan telah menurun sampai 30%-50%. Sianosis adalah tanda akhir dari hipoksia. 5. Pantau parameter hemodinamik, seperti Memberikan pengukuran lebih

tekanan vena sentral atau tekanan baji langsung dari volume sirkulasi dan arteri pulmonal, bila ada. 6. kebutuhan pengisian.

Lakukan tirah baring dengan kaki Perdarahan dapat menurunkan atau ditinggikan 20-30 derajat dan tubuh menghentikan horizontal. Pengubahan reduksi posisi aktivitas. tepat

yang

meningkatklan aliran balik vena, menjamin persediaan darah ke otak dan organ vital lainnya lebih besar. 7. Pertahankan aturan puasa saat Mencegah aspirasi isi lambung dalam kejadian di mana sensorium berubah dan atau intervensi

menentukan status/kebutuhan klien.

pembedahan diperlukan. 8. Pantau masukan dan haluaran; Bermanfaat dalam memperkirakan luas/ signifikansi kehilangan cairan. Volume perfusi/ sirkulasi adekuat

perhatikan berat jenis urin.

ditunjukkan dengan haluaran 30-50 ml/jam atau lebih besar. 9. Berikan lingkungan yang tenang dan Meningkatkan dukungan psikologis. menurunkan ansietas relaksasi, dan

kebutuhan metabolik. 10. Kaji terhadap nyeri perineal menetap Hematoma sering merupakan akibat atau perasaan penuh pada vagina. dari perdarahan lanjut pada laserasi jalan lahir. 11. Berikan tekanan balik pada laserasi Dapat meningkatkan hemoragi bila labial atau perineal. laserasi servikal, vaginal atau

perineal atau hematoma terjadi. 12. Pantau klien dengan akreta plasenta Tromboplastin dilepaskan selama (penetrasi sedikit dari miometrium upaya pengangkatan plasenta secara

dengan jaringan plasenta), HKK, atau manual yang dapat mengakibatkan abrupsio plasenta terhadap tanda-tanda koagulopati. KID. 13. Kolaborasi Mulai infuse 1 atau 2 I.V. Perlu untuk infus cepat atau

dari cairan isotonic atau elektrolit multipel dari cairan atau produk dengan kateter 18G atau melalui jalur darah untuk meningkatkan volume vena sentral. 14. sirkulasi dan mencegah pembekuan.

Berikan darah lengkap atau produk Membantu menentukan beratnya darah (missal: plasma, kriopresipitat, masalah dan efek dari terapi. trombosit) sesuai indikasi.

15.

Berikan obat-obatan sesuai indikasi: oksitosin, metilergononovin maleat, prostaglandin F2. Magnesium sulfat (MgSO4) Heparin

Antibiotik

bertindak

secara

profilaktik untuk mencegah infeksi atau mungkin diperlukan untuk infeksi disebabkan atau diperberat pada subinvolusi uterus atau

hemoragi.

Terapi antibiotic (berdasarkan pada kultur lokhia) Natrium bikarbonat. 16. Pantau pemeriksaan laboratorium sesuai Membantu indikasi: Hb dan Ht Kadar pH serum Trombosit, APTT. Pasang kateter urinarius indwelling. 17. Bantu dengan prosedur-prosedur sesuai Perbaikan indikasi: separasi manual dan penglepasan plasenta. pemasangan kateter indwelling besar ke dalam kanal servikal. Penempatan kembali uterus atau pembedahan terhadap FDP, fibrinogen, dalam menentukan dan sensitivitas terhadap

jumlah kehilangan darah. Setiap ml darah membawa 0,5 mgHb. Pada syok lama, hipoksia jaringan dan asidosis respon dan anaerobik. dapat terjadi sebagai

terhadap

metabolisme

lasersi/episiotomi, hematoma, jaringan menghentikan Histerektomi diindikasikan dan

insisi/evakuasi pengangkatan akan perdarahan.

tertahan

abdominal untuk

segera

perlekatan

plasenta abnormal.

tampon bila inverse kira-kira akan terjadi.

Diagnosa 2 : Resti infeksi b.d prosedur invasif, kerusakan kulit, penurunan Hb, pemajanan terhadap patogen.

Tujuan : Bebas dari infeksi. Pencapaian tepat waktu dalam pemulihan luka tanpa komplikasi. Intervensi dan Rasionalisasi No. 1. Intervensi Rasionalisasi

Mandiri Tinjau ulang kondisi/faktor Kondisi dasar ibu, seperti diabetes risiko yang ada sebelumnya. atau hemoragi, risiko menimbulkan infeksi atau

potensial

penyembuhan luka yang buruk. Infeksi dapat mengubah

penyembuhan luka. 2. Kaji terhadap tanda/gejala infeksi (mis. Menurunkan resiko infeksi asenden. peningkatan suhu, nadi, jumlah sel darah putih, atau bau/warna rabas vagina. Berikan perawatan perineal sedikitnya setiap 4 jam. 3. Kolaborasi Lakukan persiapan kulit Menurunkan praoperatif, scruc sesuai protokol. resiko kontaminan

kulit memasuki insisi, menurunkan risiko infeksi pascaoperasi.

4.

Dapatkan kultur darah, vagina, dan Mengidentifikasi organisme yang plasenta sesuai indikasi. menginfeksi keterlibatan. dan tingkat

5.

Catat hemoglobin (Hb) dan hematokrit Risiko

infeksi

pasca-melahirkan

(Ht), catat perkiraan kehilangan darah dan penyembuhan buruk meningkat selama prosedur pembedahan. bila kadar Hb rendah dan

kehilangan darah berlebihan. 6. Berikan antibiotik spektrum luas Antibiotik dipesankan profilaktik untuk dapat mencegah

parenteral pada praoperasi.

terjadinya

proses

infeksi,

atau

sebagai pengobatan pada infeksi yang teridentifikasi. Diagnosa 3 : Resti cedera b.d trauma jaringan, perubahan motilitas,efek-efek obat/penurunan sensasi Tujuan : Bebas dari cedera Intervensi dan Rasionalisasi No. 1. Intervensi Rasionalisasi resiko cedera

Mandiri Lepaskan alat prostetik (mis, Menurunkan lensa kontak, gigi palsu/kawat gigi) dan kecelakaan. perhiasan.

2.

Tinjau

ulang

catatan frekuensi

persalinan, Dapat menandakan retensi urin atau berkemih, menunjukkan keseimbangan cairan dan waktu atau dehidrasi pada klien yang sedang bersalin.

perhatikan haluaran,

penampilan,

berkemih pertama. 3.

Pantau haluaran dan warna urin setelah Menunjukkan tingkat hidrasi, status insersi kateter indwelling. Perhatikan sirkulasi dan kemungkinan trauma adanya darah dan urin. kandung kemih.

4.

Kolaborasi Dapatkan specimen urin Risiko meningkat pada klien bila untuk analisis rutin, protein, dan berat proses jenis. infeksi atau keadaan

hipertensif ada.

DAFTAR PUSTAKA

Bobak. Buku Ajar Keperawatan Maternitas, Edisi 4. 2004. Jakarta:EGC. Doenges, Marilynn E. Rencana Perawatan Maternal/Bayi, Edisi 2. 2001. Jakarta:EGC. Prawirohardjo, Sarwono. Ilmu Kebidanan. 2006. Jakarta:Yayasan Bina Pustaka. Wilkinson, Judith M. 2006. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Jakrta : EGC.

ASKEP SECSIO CECAREA info download, 11 November, 2008 Konsep Dasar 1. Defenisi Seksio sesarea adalah suatu tindakan untuk melahirkan bayi dengan berat badan di atas 500 gram, melalui sayatan pada dinding uterus yang masih utuh. (Saifudin, 2001 : 536) Plasenta Previa adalah plasenta yang letaknya abnormal, yaitu pada segmen bawah uterus sehingga dapat menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir. (Wiknjosostro, 1999 : 365)

2. Etiologi Mengapa plasenta tumbuh pada segmen bawah uterus tidak selalu dapat diterangkan, karena tidak nyata dengan jelas bahwa plasenta previa didapati untuk sebagian besar pada penderita dengan paritas fungsi, apabila aliran darah ke plasenta tidak cukup atau diperlukan lebih banyak

seperti pada kehamilan kembar. Plasenta yang letaknya normal sekalipun akan meluaskan permukaannya, sehingga mendekati atau menutupi sama sekali pembukaan jalan lahir. (Wiknjosostro, 1999 : 367) 3. Klasifikasi a. Plasenta Previa Totalis, apabila seluruh pembukaan tertutup oleh jaringan plasenta. b. Plasenta Previa Parsialis, apabila sebahagian pembukaan tertutup oleh jaringan plasenta. c. Plasenta Previa Marginalis, apabila pinggir plasenta berada tepat pada pinggir pembukaan. d. Plasenta Letak Rendah, plasenta yang letaknya abnormal pada segmen bawah uterus tetapi belum sampai menutupi pembukaan jalan lahir. (Wiknjosostro, 1999 : 365) 4. Anatomi Fisiologi Plasenta berbentuk bundar atau hampir bundar dengan diameter 15-20 cm dan tebal 2,5 cm, berat rata-rata 500 gram. Tali pusat berhubungan dengan plasenta biasanya di tengah (insersio sentralis). Bila hubungan agak pinggir (insersio lateralis). Dan bila di pinggir plasenta (insersio marginalis), kadang-kadang tali pusat berada di luar plasenta dan hubungan dengan plasenta melalui janin, jika demikian disebut (insersio velmentosa). Umumnya plasenta terbentuk lengkap pada kehamilan lebih kurang 10 minggu dengan ruang amnion telah mengisi seluruh kavum uterus, agak ke atas ke arah fundus uteri. Meskipun ruang amnion membesar sehingga amnion tertekan ke arah korion, amnion hanya menempel saja. Pada umumnya di depan atau di belakang dinding uterus agak ke atas ke arah fundus uteri, plasenta sebenarnya berasal dari sebagian dari janin, di tempat-tempat tertentu pada implantasi plasenta terdapat vena-vena yang lebar (sinus) untuk menampung darah kembali pada pinggir plasenta di beberapa tempat terdapat suatu ruang vena untuk menampung darah yang berasal ruang interviller di atas (marginalis). Fungsi plasenta ialah mengusahakan janin tumbuh dengan baik untuk pertumbuhan adanya zat penyalur, asam amino, vitamin dan mineral dari ibu kejanin dan pembuangan CO2. Fungsi Plasenta : a. Sebagai alat yang memberi makanan pada janin. b. Sebagai alat yang mengeluarkan bekas metabolisme. c. Sebagai alat yang memberi zat asam dan mengeluarkan CO2. d. Sebagai alat pembentuk hormone. e. Sebagai alat penyalur perbagai antibody ke janin.

f. Mungkin hal-hal yang belum ketahui.(Wiknjosostro, 1999 : 66) 5. Patafisiologi Pendarahan antepartum akibat plasenta previa terjadi sejak kehamilan 10 minggu saat segmen bawah uterus membentuk dari mulai melebar serta menipis, umumnya terjadi pada trismester ketiga karena segmen bawah uterus lebih banyak mengalami perubahan pelebaran segmen bawah uterus dan pembukaan servik menyebabkan sinus uterus robek karena lepasnya plasenta dari dinding uterus atau karena robekan sinus marginalis dari plasenta. Pendarahan tidak dapat dihindarkan karena ketidak mampuan serabut otot segmen bawah uterus untuk berkontraksi seperti pada plasenta letak normal. (Mansjoer, 1999 : 276) 6. Komplikasi a. Pada ibu dapat terjadi perdarahan hingga syok akibat perdarahan, anemia karena perdarahan plasentitis, dan endometritis pasca persalinan. b. Pada janin biasanya terjadi persalinan premature dan komplikasi seperti Asfiksi berat. ( Mansjoer, 1999 : 277) Komplikasi bersifat relevan: a. Infeksi yang di dapat dirumah sakit, terutama setelah dilakukan seksio sesarea pada persalinan. b. Fenomena tromboemboli, terutama pada multipara dengan varikositas. c. Ileus, terutama karena peritonitis dan kurang sering karena dasar obstruksi d. Kecelakaan anestesi (Martius,2000:105). 7. Gambaran Kinik Pendarahan tanpa alasan dan tanpa rasa nyeri merupakan gejala utama dan pertama dari plasenta previa. Perdarahan dapat terjadi selagi penderita tidur atau bekerja biasa, perdarahan pertama biasanya tidak banyak, sehingga tidak akan berakibat fatal. Perdarahan berikutnya hampir selalu banyak dari pada sebelumnya, apalagi kalau sebelumnya telah dilakukan pemeriksaan dalam. Sejak kehamilan 20 minggu segmen bawah uterus, pelebaran segmen bawah uterus dan pembukaan serviks tidak dapat diikuti oleh plasenta yang melekat dari dinding uterus. Pada saat ini dimulai terjadi perdarahan darah berwarna merah segar. Sumber perdarahan ialah sinus uterus yang terobek karena terlepasnya plasenta dari dinding uterus perdarahan tidak dapat dihindari karena ketidak mampuan serabut otot segmen bawah uterus untuk berkontraksi menghentikan perdarahan, tidak sebagai serabut otot uterus untuk menghentikan perdarahan kala III dengan plasenta yang letaknya normal makin rendah letak

plasenta makin dini perdarahan terjadi, oleh karena itu perdarahan pada plasenta previa totalis akan terjadi lebih dini dari pada plasenta letak rendah, yang mungkin baru berdarah setelah persalinan mulai. ( Wiknjosostro, 1999 : 368 ) 8. Diagnosis a. Anamnesis Perdarahan jalan lahir pada kehamilan setelah 22 minggu berlangsung tanpa nyeri terutama pada multigravida, banyaknya perdarahan tidak dapat dinilai dari anamnesis, melainkan dari pada pemeriksaan hematokrit. b. Pemeriksaan Luar Bagian bawah janin biasanya belum masuk pintu atas panggul presentasi kepala, biasanya kepala masih terapung di atas pintu atas panggul mengelak ke samping dan sukar didorong ke dalam pintu atas panggul. c. Pemeriksaan In Spekulo Pemeriksaan bertujuan untuk mengetahui apakah perdarahan berasal dari osteum uteri eksternum atau dari ostium uteri eksternum, adanya plasenta previa harus dicurigai. d. Penentuan Letak Plasenta Tidak Langsung Penentuan letak plasenta secara tidak langsung dapat dilakukan radiografi, radioisotope, dan ultrasonagrafi. Ultrasonagrafi penentuan letak plasenta dengan cara ini ternyata sangat tepat, tidak menimbulkan bahaya radiasi bagi ibu dan janinnya dan tidak menimbulkan rasa nyeri. (Wiknjosostro, 1999 : 369) e. Pemeriksaan Ultrasonografi Dengan pemeriksaan ini dapat ditentukan implantasi plasenta atau jarak tepi plasenta terhadap ostium bila jarak tepi 5 cm disebut plasenta letak rendah. f. Diagnosis Plasenta Previa Secara Defenitif Dilakukan dengan PDMO yaitu melakukan perabaan secara langsung melalui pembukaan serviks pada perdarahan yang sangat banyak dan pada ibu dengan anemia berat, tidak dianjurkan melakukan PDMO sebagai upaya menentukan diagnosis. (Saifudin, 2001 : 163) 9. Penatalaksanaan a. Terapi Ekspektif 1) Tujuan supaya janin tidak terlahir premature, penderita dirawat tanpa melakukan pemeriksaan dalam melalui kanalis servisis.

2) Syarat-syarat terapi ekspektif : - Kehamilan preterm dengan perdarahan sedikit yang kemudian berhenti. - Belum ada tanda-tanda in partu. - Keadaan umum ibu cukup baik. - Janin masih hidup. 3) Rawat inap, tirah baring dan berikan antibiotik profilaksis. 4) Lakukan pemeriksaan USG untuk mengetahui implantasi plasenta. 5) Berikan tokolitik bila ada kontraksi : - MgS04 9 IV dosis awal tunggal dilanjutkan 4 gram setiap 6 jam. - Nifedipin 3 x 20 mg perhari. - Betamethason 24 mg IV dosis tunggal untuk pematangan paru janin. 6) Uji pematangan paru janin dengan tes kocok dari hasil amniosentesis. 7) Bila setelah usia kehamilan diatas 34 minggu, plasenta masih berada disekitar ostium uteri interim. 8) Bila perdarahan berhenti dan waktu untuk mencapai 37 minggu masih lama, pasien dapat dipulang untuk rawat jalan. b. Terapi Aktif ( tindakan segera ). 1) Wanita hamil diatas 22 minggu dengan perdarahan pervagina yang aktif dan banyak, harus segera ditatalaksanakan secara aktif tanpa memandang moturitus janin. 2) Lakukan PDMO jika : a) Infus 1 transfusi telah terpasang. b) Kehamilan > 37 minggu ( berat badan > 2500 gram ) dan inpartu. c) Janin telah meninggal atau terdapat anomali kongenital mayor, seperti anesefali. d) Perdarahan dengan bagian terbawah janin telah jauh melewati pintu atas panggul ( 2/5 atau 3/5 pada palpasi luar ). 3) Cara menyelesaikan persalinan dengan plasenta previa seksio sesarea . a) Prinsip utama adalah menyelamatkan ibu, walaupun janin meninggal atau tidak punya harapan untuk hidup, tindakan ini tetap dilakukan. b) Tujuan seksio sesarea : persalinan dengan segera sehingga uterus segera berkontraksi dan menghentikan pendarahan, menghindarkan kemungkinan terjadi robekan pada serviks, jika janin dilahirkan pervagina.

c) Siapkan darah pengganti untuk stabiliasi dan pemulihan kondisi ibu. (Saifuddin, 2001 : 536 ) 4) Perawatan Post Operasi Seksio Sesarea. 1. Analgesia Wanita dengan ukuran tubuh rata-rata dapat disuntik 75 mg Meperidin (intra muskuler) setiap 3 jam sekali, bila diperlukan untuk mengatasi rasa sakit atau dapat disuntikan dengan cara serupa 10 mg morfin. a) Wanita dengan ukuran tubuh kecil, dosis Meperidin yang diberikan adalah 50 mg. b) Wanita dengan ukuran besar, dosis yang lebih tepat adalah 100 mg Meperidin. c) Obat-obatan antiemetik, misalnya protasin 25 mg biasanya diberikan bersama-sama dengan pemberian preparat narkotik. 2. Tanda-tanda Vital Tanda-tanda vital harus diperiksa 4 jam sekali, perhatikan tekanan darah, nadi jumlah urine serta jumlah darah yang hilang dan keadaan fundus harus diperiksa. 3. Terapi cairan dan Diet Untuk pedoman umum, pemberian 3 liter larutan RL, terbukti sudah cukup selama pembedahan dan dalam 24 jam pertama berikutnya, meskipun demikian, jika output urine jauh di bawah 30 ml / jam, pasien harus segera di evaluasi kembali paling lambat pada hari kedua. 4. Vesika Urinarius dan Usus Kateter dapat dilepaskan setelah 12 jam, post operasi atau pada keesokan paginya setelah operasi. Biasanya bising usus belum terdengar pada hari pertama setelah pembedahan, pada hari kedua bising usus masih lemah, dan usus baru aktif kembali pada hari ketiga.. 5. Ambulasi Pada hari pertama setelah pembedahan, pasien dengan bantuan perawatan dapat bangun dari tempat tidur sebentar, sekurang-kurang 2 kali pada hari kedua pasien dapat berjalan dengan pertolongan. 6. Perawatan Luka Luka insisi di inspeksi setiap hari, sehingga pembalut luka yang alternatif ringan tanpa banyak plester sangat menguntungkan, secara normal jahitan kulit dapat diangkat setelah hari ke empat setelah pembedahan. Paling lambat hari ke tiga post partum, pasien dapat mandi tanpa membahayakan luka insisi. 7. Laboratorium

Secara rutin hematokrit diukur pada pagi setelah operasi hematokrit tersebut harus segera di cek kembali bila terdapat kehilangan darah yang tidak biasa atau keadaan lain yang menunjukkan hipovolemia. 8. Perawatan Payudara Pemberian ASI dapat dimulai pada hari post operasi jika ibu memutuskan tidak menyusui, pemasangan pembalut payudara yang mengencangkan payudara tanpa banyak menimbulkan kompesi, biasanya mengurangi rasa nyeri. 9. Memulangkan Pasien Dari Rumah Sakit Seorang pasien yang baru melahirkan mungkin lebih aman bila diperbolehkan pulang dari rumah sakit pada hari ke empat dan ke lima post operasi, aktivitas ibu seminggunya harus dibatasi hanya untuk perawatan bayinya dengan bantuan orang lain.(Cunningham, 1995 : 529) B. Asuhan Keperawatan 1. Pengkajian a. Identitas Pasien Meliputi nama, umur, pendidikan, suku bangsa, pekerjaan, agam, alamat, status perkawinan, ruang rawat, nomor medical record, diagnosa medik, yang mengirim, cara masuk, alasan masuk, keadaan umum tanda vital. b. Data Riwayat Kesehatan 1) Riwayat kesehatan sekarang. Meliputi keluhan atau yang berhubungan dengan gangguan atau penyakit dirasakan saat ini dan keluhan yang dirasakan setelah pasien operasi. 2) Riwayat Kesehatan Dahulu Meliputi penyakit yang lain yang dapat mempengaruhi penyakit sekarang, Maksudnya apakah pasien pernah mengalami penyakit yang sama (Plasenta previa). 3) Riwayat Kesehatan Keluarga Meliputi penyakit yang diderita pasien dan apakah keluarga pasien ada juga mempunyai riwayat persalinan plasenta previa. c. Data Sosial Ekonomi Penyakit ini dapat terjadi pada siapa saja, akan tetapi kemungkinan dapat lebih sering terjadi pada penderita malnutrisi dengan sosial ekonomi rendah. d. Data Psikologis

1) Pasien biasanya dalam keadaan labil. 2) Pasien biasanya cemas akan keadaan seksualitasnya. 3) Harga diri pasien terganggu e. Data Pemeriksaan Penunjang 1) USG, untuk menetukan letak impiantasi plasenta. 2) Pemeriksaan hemoglobin 3) Pemeriksaan Hema tokrit. 2. Diagnosa Keperawatan a. Transisi Perubahan proses keluarga berhubungan dengan perkembangan atau adanya peningkatan anggota keluarga. (Doengoes,2001:415). b. Gangguan nyaman : nyeri akut berhubungan dengan trauma pembedahan (Doengoes,2001:417). c. Ansietas berhubungan dengan situasi, ancaman pada konsep diri, transmisi / kontak interpersonal, kebutuhan tidak terpenuhi (Doengoes,2001:417). d. Harga diri rendah berhubungan dengan merasa gagal dalam peristiwa kehidupan (Doengoes,2001:422). e. Risiko tinggi terhadap cedera berhubungan dengan fungsi biokimia atau regulasi (Doengoes,2001;422) f. Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan trauma jaringan / kulit rusak (Doengoes,2001:427) g. Konstipasi berhubungan dengan penurunan tonus otot (Doengoes,2001:430). h. Kurang pengetahuan mengenai perawatan diri dan bayi berhubungan dengan kurang pemajanan stsu mengingati kesalahan interpretasi , tidak mengenal sumber-sumber (Doengoes,2001:431) i. Perubahan eliminasi urin berhubungan dengan trauma atau diversi mekanisme efek-efek hormonal/anastesi (Doengoes,2001:437) j. Kurang perawatan diri berhubungan dengan efek-efek anestesi, penurunan kekuatan dan ketahanan, ketidatnyamana fisik (Doengoes,2001:436) 3. Rencana Tindakan a. Perubahan proses keluarga berhubungan dengan perkembangan transisi / peningkatan anggota keluarga.

Tujuan : dapat menerima perubahan dalam keluarga dengan anggotanya baru. Kriteria hasil : a) Menggendong bayi, bila kondisi memungkinkan b) Mendemontrasikan prilaku kedekatan dan ikatan yang tepat c) Mulai secara aktif mengikuti perawatan bayi baru lahir dengan cepat. Intervensi : 1) Anjurkan pasien untuk menggendong, menyetuh dan memeriksa bayi, tergantung pada kondisi pasien dan bayi, bantu sesuai kebutuhan. Rasional : Jam pertama setelah kelahiran memberikan kesempatan unik untuk ikatan keluarga terjadi karena ibu dan bayi secara emosional dan menerima isyarat satu sama lain, yang memulai kedekatan dan proses pengenalan. 2) Berikan kesempatan untuk ayah / pasangan untuk menyentuh dan menggendong bayi dan Bantu dalam perawatan bayi sesuai kemungkinan situasi. Rasional : membantu memudahkan ikatan / kedekatan diantara ayah dan bayi. Memberikan kesempatan untuk ibu memvalidasi realitas situasi dan bayi baru lahir. 3) Observasi dan catat interaksi keluarga bayi, perhatikan perilaku yang dianggap menggandakan dan kedekatan dalam budaya tertentu. Rasional : pada kontak pertama dengan bayi, ibu menunjukkan pola progresif dari perilaku dengan cara menggunakan ujung jari. 4) Diskusikan kebutuhan kemajuan dan sifat interaksi yang lazim dari ikatan. Perhatikan kenormalan dari variasi respon dari satu waktu ke waktu. Rasional : membantu pasien dan pasangan memahami makna pentingnya proses dan memberikan keyakinan bahwa perbedaan diperkirakan. 5) Sambut keluarga dan sibling untuk kunjungan sifat segera bila kondisi ibu atau bayi memungkinkan. Rasional : meningkatkan kesatuan keluarga dan membantu sibling memulai proses adaptasi positif terhadap peran baru dan memasukkan anggota baru kedalam struktur keluarga. 6) Berikan informasi, sesuai kebutuhan, keamanan dan kondisi bayi. Dukungan pasangan sesuai kebutuhan. Rasional : membantu pasangan untuk memproses dan mengevaluasi informasi yang diperlukan, khususnya bila periode pengenalan awal telah terlambat.

7) Jawab pertanyaan pasien mengenai protokol, perawatan selama periode pasca kelahiran. Rasional : informasi menghilangkan ansietas yang dapat menggangu ikatan atau mengakibatkan absorpsi dari pada perhatian terhadap bayi baru lahir. b. Ketidaknyamanan : nyeri, akut berhubungan dengan trauma pembedahan. Tujuan : ketidaknyamanan ; nyeri berkurang atau hilang. Kriteria hasil : a) Mengungkapkan kekurangan rasa nyeri. b) Tampak rileks mampu tidur. Intervensi : 1) Tentukan lokasi dan karakteristik ketidaknyamanan perhatikan isyarat verbal dan non verbal seperti meringis. Rasional : pasien mungkin tidak secara verbal melaporkan nyeri dan ketidaknyamanan secara langsung. Membedakan karakteristik khusus dari nyeri membantu membedakan nyeri paska operasi dari terjadinya komplikasi. 2) Berikan informasi dan petunjuk antisipasi mengenai penyebab ketidaknyamanan dan intervensi yang tepat. Rasional : meningkatkan pemecahan masalah, membantu mengurangi nyeri berkenaan dengan ansietas. 3) Evaluasi tekanan darah dan nadi ; perhatikan perubahan prilaku. Rasional : pada banyak pasien, nyeri dapat menyebabkan gelisah, serta tekanan darah dan nadi meningkat. Analgesia dapat menurunkan tekanan darah. 4) Perhatikan nyeri tekan uterus dan adanya atau karakteristik nyeri. Rasional : selama 12 jam pertama paska partum, kontraksi uterus kuat dan teratur dan ini berlanjut 2 3 hari berikutnya, meskipun frekuensi dan intensitasnya dikurangi faktor-faktor yang memperberat nyeri penyerta meliputi multipara, overdistersi uterus. 5) Ubah posisi pasien, kurangi rangsangan berbahaya dan berikan gosokan punggung dan gunakan teknik pernafasan dan relaksasi dan distraksi. Rasional : merilekskan otot dan mengalihkan perhatian dari sensasi nyeri. Meningkatkan kenyamanan dan menurunkan distraksi tidak menyenangkan, meningkatkan rasa sejahtera. 6) Lakukan nafas dalam dengan menggunakan prosedur- prosedur pembebasan dengan tepat 30 menit setelah pemberian analgesik.

Rasional : nafas dalam meningkatkan upaya pernapasan. Pembebasan menurunkan regangan dan tegangan area insisi dan mengurangi nyeri dan ketidaknyamanan berkenaan dengan gerakan otot abdomen. 7) Anjurkan ambulasi dini. Anjurkan menghindari makanan atau cairan berbentuk gas; misal : kacang-kacangan, kol, minuman karbonat. Rasional : menurunkan pembentukan gas dan meningkatkan peristaltik untuk menghilangkan ketidaknyamanan karena akumulasi gas. 8) Anjurkan penggunaan posisi rekumben lateral kiri Rasional : memungkinkan gas meningkatkan dari kolon desenden ke sigmoid, memudahkan pengeluaran. 9) Inspeksi hemoroid pada perineum. Anjurkan penggunaan es secara 20 menit setiap 24 jam, penggunaan bantal untuk peninggian pelvis sesuai kebutuhan. Rasional : membantu regresi hemoroid dan varises vulva dengan meningkatkan vasokontriksi, menurunkan ketidak nyamanan dan gatal, dan meningkatkan fungsi usus normal. 10) Palpasi kandung kemih, perhatikan adanya rasa penuh. Memudahkan berkemih periodik setelah pengangkatan kateter indwelling. Rasional : kembali fungsi kandung kemih normal memerlukan 4-7 hari dan overdistensi kandung kemih menciptakan perasaan dan ketidaknyamanan. c. Ansietas berhubungan dengan krisis situasi, ancaman pada konsep diri, transmisi / kontak interpersonal, kebutuhan tidak terpenuhi. Tujuan : ansietas dapat berkurang atau hilang. Kriteria hasil : a) Mengungkapkan perasaan ansietas b) Melaporkan bahwa ansietas sudah menurun c) Kelihatan rileks, dapat tidur / istirahat dengan benar. Intervensi : 1) Dorong keberadaan atau partisipasi pasangan Rasional : memberikan dukungan emosional; dapat mendorong mengungkapkan masalah. 2) Tentukan tingkat ansietas pasien dan sumber dari masalah. Mendorong pasien atau pasangan untuk mengungkapkan keluhan atau harapan yang tidak terpenuhi dalam proses ikatan/menjadi orangtua.

3) Bantu pasien atau pasangan dalam mengidentifikasi mekanisme koping baru yang lazim dan perkembangan strategi koping baru jika dibutuhkan. Rasional : membantu memfasilitasi adaptasi yang positif terhadap peran baru, mengurangi perasaan ansietas. 4) Memberikan informasi yang akurat tentang keadaan pasien dan bayi. Rasional : khayalan yang disebabkan informasi atau kesalahpahaman dapat meningkatkan tingkat ansietas. 5) Mulai kontak antara pasien/pasangan dengan baik sesegera mungkin. Rasional : mengurangi ansietas yang mungkin berhubungan dengan penanganan bayi, takut terhadap sesuatu yang tidak diketahui, atau menganggap hal yang buruk berkenaan dengan keadaan bayi. d. Harga diri rendah berhubungan dengan merasa gagal dalam peristiwa kehidupan. Tujuan : tidak lagi mengungkapkan perasaan negatif diri dan situasi Kriteria hasil : a) Mengungkapkan pemahaman mengenai faktor individu yang mencetuskan situasi saat ini. b) Mengekspresikan diri yang positif. Intervensi : 1) Tentukan respon emosional pasien / pasangan terhadap kelahiran sesarea. Rasional : kedua anggota pasangan mungkin mengalami reaksi emosi negatif terhadap kelahiran sesarea meskipun bayi sehat, orangtua sering berduka dan merasa kehilangan karena tidak mengalami kelahiran pervagina sesuai yang diperkirakan. 2) Tinjau ulang partisipasi pasien/pasangan dan peran dalam pengalaman kelahiran. Identifikasi perilaku positif selama proses prenatal dan antepartal. Rasional : respon berduka dapat berkurang bila ibu dan ayah mampu saling membagi akan pengalaman kelahiran, sebagai dapat membantu menghindari rasa bersalah. 3) Tekankan kemiripan antara kelahiran sesarea dan vagina. Sampaikan sifat positif terhadap kelahiran sesarea. Dan atur perawatan pasca patum sedekat mungkin pada perawatan yang diberikan pada pasien setelah kelahiran vagina. Rasional: pasien dapat merubah persepsinya tentang pengalaman kelahiran sesarea sebagaiman persepsinya tentang kesehatannya / penyakitnya berdasarkan pada sikap professional. e. Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan trauma jaringan / kulit rusak.

Tujuan : infeksi tidak terjadi Kriteria hasil : a) Luka bebas dari drainase purulen dengan tanda awal penyembuhan. b) Bebas dari infeksi, tidak demam, urin jernih kuning pucat. Intervensi : 1) Anjurkan dan gunakan teknik mencuci tangan dengan cermat dan pembuangan pengalas kotoran, pembalut perineal dan linen terkontaminasi dengan tepat. Rasional : membantu mencegah atau membatasi penyebaran infeksi. 2) Tinjau ulang hemogolobin / hematokrit pranantal ; perhatikan adanya kondisi yang mempredisposisikan pasien pada infeksi pasca operasi. Rasional : anemia, diabetes dan persalinan yang lama sebelum kelahiran sesarea meningkatkan resiko infeksi dan memperlambat penyembahan. 3) Kaji status nutrisi pasien. Perhatikan penampilan rambut, kuku jari, kulit dan sebagainya Perhatikan berat badan sebelum hamil dan penambahan berat badan prenatal. Rasional : pasien yang berat badan 20% dibawah berat badan normal atau yang anemia atau yang malnutrisi, lebih rentan terhadap infeksi pascapartum dan dapat memerlukan diet khusus. 4) Dorong masukkan cairan oral dan diet tinggi protein, vitamin C dan besi. Rasional : mencegah dehidrasi ; memaksimalkan volume, sirkulasi dan aliran urin, protein dan vitamin C diperlukan untuk pembentukan kolagen, besi diperlukan untuk sintesi hemoglobin. 5) Inspeksi balutan abdominal terhadap eksudat atau rembesan. Lepasnya balutan sesuai indikasi. Rasional : balutan steril menutupi luka pada 24 jam pertama kelahiran sesarea membantu melindungi luka dari cedera atau kontaminasi. Rembesan dapat menandakan hematoma. 6) Inspeksi insisi terhadap proses penyembuhan, perhatikan kemerahan udem, nyeri, eksudat atau gangguan penyatuan. Rasional : tanda-tanda ini menandakan infeksi luka biasanya disebabkan oleh steptococus. 7) Bantu sesuai kebutuhan pada pengangkatan jahitan kulit, atau klips. Rasional : insisi biasanya sudah cukup membaik untuk dilakukan pengangkatan jahitan pada hari ke 4 / 5. 8) Dorong pasien untuk mandi shower dengan menggunakan air hangat setiap hari. Rasional : Mandi shower biasanya diizinkan setelah hari kedua setelah kelahiran sesarea, meningkatkan hiegenis dan dapat merangsang sirkulasi atau penyembuhan luka.

9) Kaji suhu, nadi dan jumlah sel darah putih. Rasional : Demam paska operasi hari ketiga, leucositosis dan tachicardia menunjukkan infeksi. Peningkatan suhu sampai 38,3 C dalam 24 jam pertama sangat mengindentifikasikan infeksi. 10) Kaji lokasi dan kontraktilitas uterus ; perhatikan perubahan involusi atau adanya nyeri tekan uterus yang ekstrem. Rasional : Setelah kelahiran sesarea fundus tetap pada ketinggian umbilikus selama sampai 5 hari, bila involusi mulai disertai dengan peningkatan aliran lokhea, perlambatan involusi meningkatkan resiko endometritis. Perkembangan nyeri tekan ekstrem menandakan kemungkinan jaringan plasenta tertahan atau infeksi. 4. Implementasi Setelah rencana tindakan perawatan tersusun, selanjutnya rencana tindakan tersebut dilaksanakan sesuai dengan situasi yang nyata untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam pelaksanaan tindakan, perawat dapat langsung melaksanakan kepada orang lain yang dipercaya di bawah pengawasan orang yang masih seprofesi dengan perawat. (Nursalam, 2001 : 63) 5. Evaluasi Evaluasi dari proses keperawatan adalah nilai hasil yang diharapkan dimasukkan kedalam SOAP terhadap perubahan perilaku pasien. Untuk mengetahui sejauh mana masalah pasien dapat diatasi, disamping itu perawat juga melakukan umpan balik atau pengkajian ulang jika tujuan yang telah ditetapkan telah tercapai (Nursalam, 2001 : 71).

Sumber Artikel dari. http://akperppnisolojateng.blogspot.com/2008/11/askep-secsiocecarea_11.html#ixzz2O9xYpVVw