Anda di halaman 1dari 10

Branchless Banking Sesuai dengan Struktur Ekonomi Indonesia

5 March 2013 13:56 WIB http://www.infobanknews.com/2013/03/branchless-banking-sesuai-dengan-struktur-ekonomiindonesia/ Untuk mendukung hal ini, law enforcement atau pelaksanaan hukumnya dinilai harus jelas terlebih dahulu, sehingga tidak menimbulkan moral hazard. Dwitya Putra JakartaKonsep branchless banking (perbankan tanpa kantor cabang) dinilai sebuah metode terbaik dalam meningkatkan akses masyarakat dalam menjangkau lembaga keuangan. Konsep ini mulai digenjot banyak bank syariah nasional dengan melakukan memorandum of understanding (MOU) dengan Dewan Masjid Indonesia (DMI), dalam menyalurkan kredit ke pengurus tempat ibadah layaknya koperasi dan Bank Perkreditan Rakyat (BPR). Seperti diketahui, saat ini masih minimnya masyarakat yang punya akses ke lembaga keuangan, karena letak geografis Indonesia yang kurang mendukung, sehingga branchless banking sangat membantu. Di Indonesia masyarakat yang punya akses ke lembaga keuangan baru sekitar 40%. Branchless bank sangat diperlukan dalam struktur ekonomi seperti Indonesia. Ini bisa menjadi salah satu tools financial inclusion, kata Ekonom Unika Atma Jaya, Jakarta, A Prasetyantoko, kepada wartawan, di Jakarta, Selasa, 5 Maret 2013. Namun, lanjutnya, yang menjadi masalah saat ini yakni law enforcement-nya atau pelaksanaan hukumnya. Jangan sampai hal ini justru menjadi ajang moral hazard, sehingga justru menjadi pendorong meningkatnya persentase kredit macet (NPL) di industri perbankan. Yang penting supervisi dan law enforcement-nya, jelasnya. (*)

Rekening Ponsel, Era Baru Branchless Banking Indonesia


OPINI | 27 April 2013 | 17:49 Dibaca: 179 Komentar: 8 2 http://ekonomi.kompasiana.com/moneter/2013/04/27/rekening-ponsel-era-baru-branchlessbanking-indonesia-554964.html Suatu ketika saya harus mengirimkan uang kepada seorang keluarga. Jumlahnya tidak banyak. Masalahnya, keluarga ini tidak punya rekening di bank manapun. Sempat terlintas untuk mengirim lewat pos wesel. Tapi belum-belum sudah terbayang kerepotan yang bakal dihadapi : datang ke kantor pos, mengisi formulir, dan antri. Karena telah dimanjakan dengan internet banking, mengirim pos wesel lebih tampak sebagai sebuah kerepotan. Akhirnya pengiriman itu saya lakukan melalui keluarga lain yang memiliki rekening bank. Ironis memang, meskipun tinggal di kota besar, keluarga tersebut termasuk unbanked people alias orang-orang yang tidak memiliki akses keuangan. Kenyataan pahit ini mengingatkan saya pada publikasi Bank Dunia bahwa indeks keuangan penduduk Indonesia masih sangat rendah yaitu di bawah 20% sangat tertinggal jika dibandingkan dengan Malaysia yang tercatat sebesar 66%. Data ini juga mengungkapkan bahwa penduduk dewasa Indonesia yang memiliki rekening tabungan hanya sekitar 40%. Artinya lebih dari setengah penduduk dewasa di Indonesia tidak memiliki akses perbankan. Hasil survei tersebut juga menunjukkan bahwa alasan sebagian besar masyarakat tidak berbank adalah karena kecilnya penghasilan. Masuk akal menurut saya. Bagaimana mau menabung kalau untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari saja susah. Kebiasaan yang berkembang di masyarakat pekebun karet dan kelapa sawit di Sumatera tidak kalah merisaukan. Pada dasarnya mereka merupakan golongan penduduk yang berpendapatan cukup tinggi. Rata-rata dengan kepemilikan 2 ha lahan pendapatan para pekebun adalah Rp 4-5 juta rupiah per bulan di saat harga komoditas terbilang rendah. Angka ini masih di atas rata-rata PDB per kapita Indonesia yang tercatat sebesar USD3.592 per tahun, atau kalau dihitung kasar per bulan adalah Rp 3 juta. Meskipun pendapatan masyarakat pekebun ini cukup tinggi tapi mereka juga tidak terbiasa dalam memanfaatkan layanan perbankan. Sampai saat ini, sebagian besar pembayaran hasil kebun sawit masih dilakukan secara tunai. Setiap sebulan sekali, bank harus membawa miliaran rupiah untuk dibayarkan kepada para pekebun. Salah satu faktor penyebab adalah lokasi tempat tinggal pekebun yang cukup jauh dari kantor bank. Namun penyebab utama adalah rendahnya pengetahuan masyarakat pekebun atas fitur dan layanan perbankan. Kondisi 2 kelompok masyarakat tadi memang berbeda. Kelompok pertama tinggal dekat dengan kantor bank namun berpendapatan rendah, sementara kelompok kedua berpendapatan tinggi namun jauh dari kantor bank. Persamaannya adalah kedua kelompok tersebut tidak terbiasa dengan layanan perbankan.

Berbagai persoalan ini mendorong Bank Indonesia dan pemerintah merancang sebuah strategi nasional untuk memperluas layanan keuangan (financial inclusion) kepada seluruh lapisan masyarakat. Strategi ini dikenal dengan Strategi Nasional Layanan Keuangan Inklusif. Salah satu program yang akan digalakkan adalah penyediaan layanan perbankan tanpa kantor atau dikenal dengan istilah branchless banking. Secara mengejutkan, beberapa minggu yang lalu saya membaca iklan setengah halaman sebuah bank swasta yang dimiliki asing, CIMB Niaga. Tertulis jelas dalam iklan tersebut Transfer Uang Gratis Antar Nomor Ponsel Tanpa Rekening Bank.

Transfer Dana Melalui Nomor Ponsel Melihat iklan ini saya segera terbayang mudahnya melakukan pengiriman dana kepada keluarga yang tidak memiliki rekening bank. Saya juga terbayang betapa golongan masyarakat yang tinggal di daerah terpencil tidak harus bersusah payah datang ke bank untuk mengirim uang pendidikan bagi anak-anak mereka yang kuliah di kota-kota besar. Layanan model ini akan memudahkan transaksi keuangan mereka. Di CIMB Niaga layanan ini disebut dengan Rekening Ponsel. Nasabah yang ingin menggunakan layanan ini tinggal datang sekali ke cabang CIMB Niaga untuk mendaftarkan nomor ponselnya. Begitu terdaftar nasabah dapat melakukan transfer ke nomor ponsel lain baik yang sudah terdaftar maupun yang belum terdaftar. Tentu saja sebelumnya nasabah harus menyetor dana ke rekening ponsel masing-masing. Nasabah juga dapat melalukan transaksi mobile banking lainnya seperti pembayaran kartu kredit, tagihan telepon, pembelian pulsa, dan transaksi lainnya. Informasi tentang fitur layanan ini dapat diakses di sini. Memang ada beberapa batasan fitur seperti pembatasan jumlah transaksi maksimal sebesar Rp 20 juta per bulan. Saldo maksimal rekening ponsel juga dibatasi sebesar Rp 5 juta. Untuk rekening ponsel yang belum terdaftar saldo maksimal yang dapat ditampung adalah Rp 1 juta. Ini berarti nomor telepon yang belum terdaftar dapat menerima kiriman dana tetapi hanya sebesar Rp 1 juta. Kalau jumlah pengiriman lebih dari Rp 1 juta maka dana akan kembali ke rekening pengirim. Untuk pencairan dana, penerima tinggal mencairkan di ATM atau cabang terdekat. Dari sisi keamanan, saya menilai penggunaan rekening ponsel cukup aman karena adanya PIN yang diperlukan untuk transaksi. Jadi kalaupun ponsel hilang dana tetap aman. Yang diperlukan

adalah melakukan pemblokiran nomor. Untuk berjaga-jaga jangan sekali-kali menyimpan nomor PIN di ponsel. Selanjutnya, tantangan yang akan dihadapi adalah bagaimana mengedukasi masyarakat untuk mau menggunakan fitur ini. Mengubah kebiasaan masyarakat apalagi unbanked people yang terbiasa menggunakan uang tunai untuk beralih ke rekening ponsel tentu akan memerlukan upaya ekstra dan waktu yang tidak sebentar. Safari, sebuah operator telekomunikasi di Kenya yang menyediakan layanan jenis ini memerlukan waktu sekitar 5 tahun sampai layanan ini memasyarakat dan memberikan keuntungan bagi perusahaan. Bagi saya pribadi, bagaimanapun juga terobosan ini layak untuk didukung agar dapat dimanfaatkan secara luas demi meningkatkan efisiensi masyarakat dalam melakukan transaksi keuangan. Bank-bank pelat merah seharusnya juga dapat menjadi pelopor dan penggerak dalam menciptakan inovasi serupa sehingga masyarakat di daerah-daerah terpencil tidak terasing dari layanan perbankan. Selamat datang era baru perbankan Indonesia!

Senin, 13 Mei 2013


IMPLIKASI PENERAPAN BRANCHLESS BANKING DI INDONESIA http://mansjur-mj.blogspot.com/2013/05/implikasi-penerapan-branchlessbanking.html Bank Indonesia (BI) meluncurkan pedoman untuk layanan perbankan tanpa kantor cabang (branchless banking), yang akan dilakukan proyek uji coba (pilot project) dari Mei-November 2013.

Pedoman tersebut molor sekitar satu bulan dari yang direncanakan terbit pada Maret 2013. Pedoman Umum Uji Coba Aktivitas Jasa Sistem Pembayaran dan Perbankan Terbatas Melalui Unit Perantara Layanan Keuangan (UPLK) tersebut mengatur seluruh aktivitas yang dapat dilakukan perbankan dan perusahaan telekomunikasi (telko). Dalam branchless banking itu ada bank-led (dipimpin bank), telco-led (dipimpin telko), dan hybrid. Jadi BI membuka kemungkinan ketiganya dilaksanakan selama masa uji coba ini. Untuk model hybrid, pelaksanaannya didukung oleh sinergi yang lebih mendalam antara bank dan telko.

Pelaksanaan proyek uji coba tersebut dilakukan secara terbatas di 8 provinsi yang dapat dipilih oleh bank. Kedelapan provinsi tersebut yaitu Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa timur, Bali, Kalimantan Timur,

dan Sulawesi Selatan. Sedangkan pemilihan lokasi oleh setiap bank paling banyak di 2 provinsi dan untuk setiap provinsi paling banyak hanya 3 kecamatan.

UPLK atau populernya disebut banking agent harus terdaftar di bank yang menjadi mitranya dan masuk dalam data BI. Sebab itu, para banking agent, yang dapat berbentuk individual maupun badan usaha, bertanggung jawab kepada bank mitranya. Adapun bank terkait wajib bertanggung jawab kepada BI. Namun, banking agent sebenarnya merupakan bisnis sampingan, sehingga pihak yang diperbolehkan adalah pihak yang telah memiliki bisnis utama minimal selama dua tahun. Maka dari itu, untuk sementara atau selama uji coba telah diperbolehkan untuk layanan penyimpanan (deposit) uang di banking agent. Namun, layanan tersebut baru boleh dilakukan oleh petugas bank yang akan rutin mendatangi para agen yang menjadi mitranya. Kenapa demikian, karena penyimpanan dana seperti ini dinilai terlalu berisiko, sehingga untuk masa ujicoba ini para agen hanya boleh untuk melayani keperluan pembayaran dahulu. Dalam masa ujicoba juga menjadi sarana bagi BI untuk melihat dahulu mana agen yang cocok.

Berdasarkan komunikasi dan interaksi yang telah dilakukan selama ini, konon sudah ada beberapa bank yang berminat untuk terjun ke branchless banking. Dalam hal ini bank harus mengajukan permohonan izin tersebut dalam Rencana Bisnis Bank (RBB) yang dapat direvisi pada pertengahan tahun ini.

Mengutip pedoman uji coba branchless banking, dikatakan bahwa tidak ada sanksi yang akan dikenakan selama masa uji coba branchless banking. Namun, BI dapat mengentikan proyek uji coba sebelum batas waktu pelaksanaan berakhir apabila bank dan telko tidak memenuhi hal-hal yang dicantumkan dalam pedoman umum, atau adanya kondisi tertentu yang menurut penilaian bank sentral dapat meningkatkan risiko bank dan telko serta merugikan masyarakat.

Sehubungan dengan pengentian proyek uji coba ini, bank dan telko tetap wajib menyelesaikan kewajiban kepada nasabah dan pihak yang terkait dalam uji coba tersebut. Untuk bisa ikut dalam uji coba branchless banking, bank dan perusahaan telekomunikasi wajib memenuhi beberapa persyaratan, baik dari sisi kinerja dan aspek keuangan, kelembagaan dan administratif, serta kesiapan infrastruktur. Dari sisi manajemen risiko ada persyaratan yang harus dipenuhi. Untuk bank antara lain: pengawasan aktif dewan komisaris dan direksi serta satuan kerja level manajemen terkait lainnya; kecukupan kebijakan dan prosedur; kecukupan proses identifikasi,

pengukuran, pemantauan, dan pengendalian risiko, manajemen risiko; dan sistem pengendalian intern.

serta

sistem

informasi

Sementara untuk perusahaan telekomunikasi, manajemen risiko harus mencakup aspek mempunyai mekanisme pemenuhan kewajiban sebagai penyelenggara emoney; mempunyai mekanisme failure to settle dalam hal penerbit mengalami gagal bayar; menggunakan proven technology; dan penerapan mitigasi risiko yang bersumber dari unit perantara layanan keuangan (UPLK).

Adapun untuk produk yang dapat digunakan dalam proyek uji coba ini yakni, produk e-money untuk perusahaan telekomunikasi. Sementara untuk bank antara lain produk tabungan yang bebas biaya administrasi dan diberikan bunga, pun produk dan aktivitas e-banking dan penyaluran kredit mikro.

Dari sisi BI meyakini bahwa masyarakat bisa mendapatkan akses perbankan dengan biaya yang lebih murah melalui layanan perbankan tanpa kantor cabang (branchless banking) tadi. Demikian pula biaya investasi yang dikeluarkan perbankan akan lebih murah ketimbang harus membuka kantor cabang. Sebagai perumpamaan, selama ini seorang warga di suatu desa kalau mau ke bank harus menggunakan angkutan umum dengan tarif Rp 5.000. Tapi, dengan branchless banking mungkin hanya mengeluarkan biaya Rp 1.000 atau bahkan gratis kalau pakai fasilitas pesan pendek (SMS).

Sebelum dan selama masa uji coba hendaknya bank dan perusahaan telco yang menjadi peserta uji coba branchless banking harus memberikan edukasi kepada para agen mitra (banking agent) maupun nasabah. Layanan yang notabene masih baru tersebut harus benar-benar dipahami oleh masyarakat. Tidak cukup bank dan perusahaan telco hanya membagi brosur saja, namun tetap harus kegiatan edukasi insentif, sehingga masyarakat dan agen memahami yang mereka lakukan serta tugas dan kewajibannya.

Diakui, persoalan branchless banking memang terkait dengan pola pemikiran dan kebiasaan perilaku masyarakat. Hingga kini, masih banyak masyarakat Indonesia, apalagi yang unbankable merasa belum ke bank jika tidak mendatangi kantor cabang bank. Sebab itu, perlu diyakinkan bahwa teknologi bisa membuat layanan perbankan menjadi praktis. Diyakini edukasi yang baik merupakan power of repetition sehingga akan diulang-ulang oleh masyarakat. Jadi, bank dan telko

jangan lelah melakukan kegiatan edukasi ke publik agar tertanam mengenai proses branchless banking. Tak kalah pentingnya adalah BI berharap pihak perbankan dan perusahaan telko wajib menjaga sisi perlindungan konsumen untuk penerapan proyek uji coba branchless banking.

Kelak, keberhasilan uji coba ini akan diperluas dan dinasionalisasi melalui kick off secara masif sehingga tujuan akhirnya berupa peningkatan akses masyarakat ke lembaga perbankan (access to banking industry) dapat terpenuhi. Ini sekaligus dapat memenuhi target dari program financial inclusion yang sudah tiga tahun terakhir ini dikampanyekan oleh pemerintah bersama dengan BI.

Apabila tingkat literasi atau pemahaman masyarakat sudah meningkat, maka fungsi intermeasi oleh perbankan akan bergerak lebih cepat lagi karena penghimpunan dana menjadi lebih agresif, demikian pula dengan penyaluran kreditnya. Ujungujungnya peran perbankan dalam kegiatan perekonomian akan semakin efektif. Lebih dari itu, pertumbuhan ekonomi juga akan lebih merata karena jangkauan layanan perbankan dan kegiatan sektor riil semakin menyebar, tidak lagi terkonsentrasi di daerah-daerah dengan kondisi overbanked.

Dengan adanya branchless banking, maka daerah-daerah tertutup dan terisolir sehingga masuk kategori underbanked akan semakin ramai dengan kegiatan ekonomi dan perbankan. Dari sinilah pertumbuhan ekonomi akan semakin menyebar dan merata. Business News Diposkan oleh Jendela di 20.47

Telkom dan BRI implementasikan Financial Inclusion & Branchless Banking


Submitted by Administrator on Thu, 2013-05-16 11:01 http://www.telkomsolution.com/news/it-solution/telkom-dan-bri-implementasikan-financialinclusion-branchless-banking

Direktur Enterprise & Wholesale Telkom, M. Awaluddin menandatangani kerja sama implementasi Financial Inclusion & Branchless Banking (FI-BB) dengan Bank BRI, di Luna Negra, Plaza Bapindo, Senin (13/5). FI-BB adalah sistem penyelenggaraan transaksi keuangan berbasis e-Money Server Based menggunakan Mobile Number (Nomor Ponsel) sebagai Account Number (Nomor Rekening) serta pemanfaatan agen sebagai Branchless Banking. Adapun jenis layanan dari FI-BB ini meliputi e-Money, Payments, Purchasing, Funding Lending, dan Cross Selling. Program Financial Inclusion merupakan salah satu kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia untuk menyediakan akses keuangan yang mudah dan murah bagi unbankable people yang dibangun melalui kolaborasi Bank dan Telkom. Dalam kesempatan tersebut, Awaluddin menyampaikan Telkom akan menyiapkan infrastruktur teknis dari sistem hingga aplikasi. Telkom memiliki beberapa anak perusahaan yang akan men-support segala kebutuhan BRI dan hal ini merupakan komitmen Telkom untuk memberikan yang terbaik, tegasnya. Selain itu, Direktur Konsumer BRI, Agus Tony menyampaikan hal tersebut haruslah terealisasi dengan baik. Pihaknya berharap Telkom dapat memberikan dukungan yang terbaik. Ia menuturkan, hal tersebut menjadi representasi di mana Telkom dan BRI tunduk pada regulasi pemerintah antara lain terkait Money Laundry dan Customer Due Dilligence. Diharapkan melalui layanan FI-BB dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat luas, sehingga mampu memberikan sumbangan pada peningkatan perekonomian bangsa serta menjadi kontributor bisnis yang siginifikan bagi Telkom BRI. (***)

Indonesia Kembangkan Branchless Bank Untuk Sukseskan KUR


Senin, 22 Oktober 2012 - 13:46 WIB Oleh Sekretariat Kabinet RI http://setkab.go.id/berita-6122-indonesia-kembangkan-branchless-bank-untuk-sukseskankur.html Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) secara resmi membuka Konferensi Internasional Keuangan Mikro (International Microfinance Conference) 2012 yang berlangsung di Yogyakarta, Senin (22/10). Dalam pidato pembukaan acara tersebut, Presiden mengatakan pemerintah senantiasa berkomitmen untuk membantu usaha mikro, kecil dan menengah dengan mengembangkan berbagai kebijakan dan progam aks. Salah satu kebijakan pemerintah adalah dengan mengembangkan gerakan keuangan untuk semua atau financial inklusif melalaui skema tabungan bagi masyarakat yang berpenghasilan rendah atau sangat rendah tanpa biaya layanan perbankan dengan program bernama Tabunganku Program Tabunganku sejak diluncurkan tahun 2010 menghasilkan 2 juta rekening baru, dana terkumpul 200 juta USD atau setara 2 triliun rupiah, kata Presiden. Pemerintah juga sedang mematangkan strategi nasional pengembangan sektor keuangan inklusif yang dilakukan bersama dengan pihak swasta dan masyarakat dengan cara memperluas layanan perbankan tanpa cabang (branchless bank) dengan tujuan untuk mengurangai biaya layanan perbankan. Misalnya skema kerjasama diantara perbankan dengan perusahaan telekomunikasi dan pedagang ritel, yang bertujuan untuk mengurangai biaya layanan bank, lanjut SBY. Pemerintah juga telah meluncurkan progam Kredit Usaha Rakyat (KUR) pada 2007 untuk membantu permodalan pengusaha mikro, kecil dan menengah. Dan progress-nya bagus sejak saya luncurkan 2007 . Total kredit mikro yang dialirkan kepada masyarakat, utamanya pelaku usaha mikro, kecil dan menengah telah mencapai Rp 87 triliun atau setara 9,5 miliar USD. Dengan dana sebesar itu telah digerakkan lebih dari 7 juta unit usaha mikro, kecil dan menengah, lanjut Presiden. SBY menekanan hal yang menarik dari pelaksanaan KUR adalah rendahnya kredit macet (NonPerforming Loan) dibandingkan kredit konvensional yang disalurkan oleh perbankan. Dari KUR ini, fakta menunjukkan kemiskinan dan pengangguran secara bertahap telah dapat diturunkan. Saat ini angka kemiskinan 12 persen, angka penganguran 6 persen, Meski sudah menurun, pemerintah akan bekerja lebih keras bersama-sama mitra kami di negeri ini untuk lebih menurukan kemiskinan, tegas Presiden.

Sedangkan Menteri Koperasi dan UKM, Syarief Hasan mengatakan International Microfinance Conference yang berlangsung dua hari, diikuti perwakilan pemangku kepentingan keuangan dan kredit mikro seperti pemerintah, peneliti, akademisi, pengusaha dan praktisi dari 23 negara seluruh dunia. Kami berharap dalam konferensi ini kita dapat memperoleh pelajaran dan tukar pengalama dan pandangan untuk meningkatkan peran financial inclusion, katanya. (FJ/IRA/Humaslem/ES)