Anda di halaman 1dari 11

Indonesia bisa belajar "branchless banking" dari Pakistan

Jumat, 31 Mei 2013 21:52 WIB | 943 Views http://www.antaranews.com/berita/377725/indonesia-bisa-belajar-branchless-banking-daripakistan Pewarta: Agus Salim Jakarta (ANTARA News) - Indonesia bisa belajar penerapan "branchless banking" atau bank tanpa kantor dari Pakistan, yang sudah mulai menerapkan konsep itu sejak tahun 2008 dibanding Indonesia yang baru melaksanakan proyek percontohan pada 2013. "Bank sentral (Pakistan) mengenalkan peraturan tentang bank tanpa kantor pada Maret 2008," kata Direktur Eksekutif Kebijakan dan Regulasi Perbankan State Bank of Pakistan, Muhammad Ashraf Khan dalam Seminar Internasional Keuangan Syariah Bank Indonesia III di Nusa Dua Kabupaten Badung, Bali, Jumat. Ashraf menyebutkan bank sentral Pakistan itu melakukan revisi mengenai peraturan bank tanpa kantor itu pada Juni 2011. Ia menyebutkan penerapan konsep bank tanpa kantor itu merupakan upaya bank sentral agar masyarakat khususnya lapisan bawah memiliki akses kepada lembaga keuangan. Pada 2008 jumlah penduduk dewasa (lebih dari 15 tahun) Pakistan mencapai 120 juta jiwa di mana sebanyak 60 persen tinggal di pedesaan dan 40 persen tinggal di perkotaan. Sementara jumlah kantor cabang bank mencapai 11.000 di mana 30 persen di pedesaan dan 70 persen di perkotaan. "Total rekening bank hanya mencapai 35,5 juta atau hanya 12 persen dari total jumlah penduduk dewasa, artinya 88 persen penduduk tidak punya akses keapda lembaga keuangan formal," kata Ashraf. Ia menyebutkan, selama kuartal IV 2012, jumlah rekening di bank tanpa kantor mencapai 2,1 juta, jumlah agen 41.567, jumlah dana mencapai 10 juta dolar AS, jumlah transaksi mencapai 35,3 juta, nilai transaksi mencapai 1,5 miliar dolar AS, rata-rata transaksi per hari 392.433 dolar AS. Sementara Bank Indonesia (BI) baru meluncurkan proyek percontohan bank tanpa kantor di delapan provinsi pada pertengahan Mei 2013. Proyek percontohan itu mengikutsertakan lima bank dan perusahaan telekomunikasi.

"Kita harus memulai pilot project branchless banking ini supaya teruji aman, handal, dan murah. Jika berhasil, baru kita laksanakan secara nasional," kata Gubernur BI yang ketika itu masih dijabat Darmin Nasution. Pelaksanaan proyek uji coba itu akan berlangsung Mei-November 2013. Percontohan bank tanpa kantor dilaksanakan di Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Kalimantan Timur dan Sulawesi Selatan. Adapun lima bank yang mengikuti program itu adalah Bank Mandiri, BRI, BTPN, CIMB Niaga, dan Bank Sinar Harapan Bali. Sedangkan tiga perusahaan telekomunikasi yang ikut yaitu Telkomsel, XL, dan Indosat. Program percontohan bank tanpa kantor itu diharapkan dapat menjadi pondasi dalam proses perluasan akses khususnya bagi masyarakat pedesaan kepada lembaga keuangan formal. Pemberian layanan bank tanpa kantor tidak dilakukan melalui kantor fisik bank atau perusahaan telekomunikasi, namun menggunakan sarana teknologi dan jasa pihak ketiga atau agen yang disebut unit perantara layanan keuangan (UPLK) dan juga melalui tempat penguangan tunai (TPT). BI telah menuangkan aturan percontohan bank tanpa kantor dalam Pedoman Uji Coba Layanan Branchless Banking` pada 30 April 2013. (A039/B012) Editor: Ruslan Burhani

Rekening Ponsel, Era Baru Branchless Banking Indonesia

Menjawab Kebutuhan Layanan Keuangan


http://www.neraca.co.id/harian/article/28961/Rekening.Ponsel.Era.Baru.Branchless.B anking.Indonesia

Ahmad Nabhani - NERACA Jakarta - Kemajuan teknologi informasi makin memanjakan masyarakat karena memberikan kemudahan dalam menunjang berbagai aktivitas dan juga telah mempengaruhi prilaku masyarakat untuk instant. Maka seiring dengan kemajuan teknologi, industri perbankan dituntut untuk menyeimbangkan dalam memberikan kemudahan pelayanan kepada nasabahnya. Pasalnya, prilaku konvensional yang terkesan lama dan ribet bakal ditinggal nasabahnya untuk beralih ke bank lain yang lebih canggih pelayanannya. Terlebih menyadari ketatnya persaingan industri perbankan, maka inovasi pelayanan dengan fasilitas kemudahan yang ditawarkan harus mengadopsi kecanggihan teknologi. Selain itu, pemanfaatkan teknologi juga seirama dengan semangat Bank Indonesia (BI) soal reguluasi branchless banking atau bank tanpa kantor cabang.

Nantinya, industri perbankan akan menghadirkan branchless banking ketimbang membuka kantor cabang. Bagaimana caranya, yaitu dengan pemanfaatan atau penggunaan teknologi untuk transaksitransaksi keuangan. Asal tahu saja, branchless banking merupakan strategi distribusi untuk memberikan jasa keuangan tanpa mengandalkan keberadaan kantor cabang sebuah bank. Tanpa kantor cabang, andalannya adalah pemanfaatan informasi, komunikasi dan teknologi, yakni penggunaan telepon seluler (mobile banking), point of sale berupa alat gesek kartu yang terhubung dengan terminal atau menggunakan GPRS dan lainnya. Transaksi bisa dilakukan melalui sistem teknologi telekomunikasi. Selain itu, transaksi juga bisa dilakukan di agen bank yang sudah memenuhi kriteria dan diakui legalitasnya oleh bank sentral. Disamping itu, gagasan branchless banking juga lahir sebagai bentuk efisiensi dari strategi ekspansi perbankan. Gagasan ini diyakini lebih efektif karena dari sisi biaya yang harus dikeluarkan lebih murah dibandingkan harus membuka kantor cabang. Rekening Ponsel Pemanfaatan teknologi dalam pelayanan nasabah, jauh sebelumnya sudah di lakukan PT Bank CIMB Niaga Tbk dengan berbagai macam produk. Teranyar, Bank CIMB Niaga merilis layanan baru berupa Rekening Ponsel. Untuk layanan ini, CIMB Niaga mengklaim menjadi perbankan pertama yang meluncurkan produk mobile wallet ini di Indonesia. Dijelaskan, rekening ponsel merupakan fitur terbaru yang memungkinkan nomor ponsel sebagai nomor rekening. Fitur tersebut memungkinkan transaksi umum perbankan dilakukan dengan menggunakan nomor ponsel seperti transfer dan tarik tunai. Keuntungan yang ditawarkan dari layanan ini, pemilik nomor rekening ponsel dapat melakukan tarik tunai di ATM tanpa menggunakan kartu ATM. Gimana tarik tunainya? Jadi rekening ponsel ini akan menjadikan nomor ponsel sebagai pengganti kartu ATM. Biasanya sebelum melakukan transaksi di ATM, nasabah akan memasukkan kartu ATM, namun pada rekening ponsel cukup memasukkan nomor rekening ponsel. Kemudian passcode (semacam password sementara) akan dikirim ke nomor ponsel nasabah agar dapat melanjutkan transaksi. Selain itu, dari saldo yang tersedia dalam nomor rekening ponsel, nasabah dapat menarik uang tunai tanpa minimal saldo dalam nomor rekening ponsel tersebut. Jadi bila nasabah memiliki saldo Rp100.000 dalam rekening ponsel, bisa tarik habis uang tunai sejumlah Rp100.000 hingga tidak ada saldo yang tersisa dalam rekening ponsel tersebut. Maka dengan keunggulan yang ditawarkan dari layanan rekening ponsel tersebut, PT Bank CIMB Niaga Tbk menargetkan satu juta pengguna rekening nomor telepon selular (ponsel) pada tahun ini. Dengan program ini, nasabah dapat mengirimkan dana ke nomer ponsel mana saja di Indonesia. Rekening ponsel memenuhi kebutuhan orang-orang yang tidak memiliki rekening dan tentunya diharapkan mempermudah masyarakat melakukan transaksi perbankan tanpa batas, kata Presiden Direktur CIMB Niaga, Arwin Rasyid.

Menurutnya, nasabah tidak perlu membuka rekening di bank untuk bertransaksi melalui rekening ponsel. Karena nomor ponsel mereka yang menjadi nomor rekening. Maka diharapkan, nasabah maupun masyarakat yang belum menjadi nasabah bank bisa melakukan transfer dana gratis ke seluruh nomor ponsel di Indonesia. Saat ini ada sekitar 250 juta pemilik sim card di Indonesia. CIMB Niaga berharap tahun ini pengguna rekening ponsel mencapai satu juta. Fasilitas lain, rekening ponsel ini dapat menyimpan dana hingga Rp 5 juta. Dana tersebut bisa ditransfer kapan saja nomor ponsel lainnya tanpa biaya tambahan. Menjangkau Nasabah Arwin Rasyid menambahkan, perseroan menginvestasikan dana sebesar Rp50 miliar untuk rekening ponsel. Nilai tersebut diyakini lebih murah ketimbang harus membuka kantor cabang di kota-kota besar yang nilainya tidak murah tetapi outputnya sama. Lanjutnya, hadirnya layanan rekening ponsel juga komitmen CIMB Niaga untuk mendukung program financial inclusion (keterjangkauan masyarakat atas layanan keuangan) yang dicanangkan Bank Indonesia (BI) dalam mengenalkan produk dan layanan perbankan secara luas kepada masyarakat. Dia menyebutkan, hingga saat ini jumlah penduduk yang punya rekening di bank hanya 60 juta orang dari 240 juta orang penduduk Indonesia. Sebanyak 120 juta orang masuk kategori layak, tetapi tidak punya rekening. Melalui produk tersebut, rekening ponsel dapat dipakai oleh pengguna ponsel sebagai nomor rekening. "Melalui rekening ponsel, baik nasabah maupun masyarakat yang belum menjadi nasabah bank bisa melakukan transfer dana gratis ke seluruh nomor ponsel di Indonesia, membeli pulsa ponsel berbayar, pembayaran tagihan, bahkan menarik tunai tanpa menggunakan kartu ATM," ujarnya. Rekening ponsel, kata Arwin telah dirancang khusus untuk memberikan kemudahan dan kenyamanan bagi penggunanya. Maka tidak perlu dikhawatirkan lagi soal keamanan. Kemudian penerima dana dapat menarik tunai hanya dengan mendaftarkan nomor ponselnya sekali saja di cabang CIMB Niaga terdekat. Soal regulasinya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) saat ini tengah dibuat dan diharapkan selesai sebelum OJK beroperasi 2014 mendatang, Sejauh ini, masyarakat khususnya di pedesaan masih terbatas untuk mengakses produk finansial, dengan hadirnya rekening ponsel dimana setiap nomor telpon menjadi account member, maka tanpa harus ada kantor bank di satu daerah, akses ke perbankan tetap ada, sisa edukasi yang dilakukan,"kata Ketua Komisioner OJK Muliaman D Hadad

BRI Akan Ikut Uji Coba Branchless Banking


http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2013/05/14/09294030/twitter.com Selasa, 14 Mei 2013

JAKARTA, KOMPAS.com - Uji coba branchless banking yang akan dilakukan Bank Indonesia (BI) dalam waktu dekat ini, menarik PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) untuk bergabung. "Kami ikut uji coba," ucap Sekretaris Korporasi BRI Muhammad Ali, Senin, (13/5/2013). Ia menyebut, BRI pun sudah memiliki konsep untuk melaksanakan program bank tanpa cabang tersebut, yakni hybrid dengan perusahaan telekomunikasi. Perusahaan yang digandeng bank dengan laba terbesar ini adalah PT Telkom. Nantinya, agen yang akan digunakan untuk bank tanpa cabang ini ada 2 macam, yakni internal dan eksternal. Agen internal ini terdapat di Teras BRI dengan Electronic Data Capture (EDC) yang bersifat mobile. Sedangkan, agen eksternal tersebut yang merupakan kerja sama dengan telko. Untuk pengamanan, akan ada 3 pengamanan yang dilakukan untuk jenis telko. Pertama yaitu melalui nomor ponsel, kedua adalah password, dan ketiga yakni token. Ali mengatakan, token ini akan berfungsi selama 30 menit. Bila tidak diisi hingga jangka waktu tersebut, bisa hangus dan harus memasukkan password lagi. Nantinya, transaksi bank tanpa cabang ini akan mengarah pada transfer serta mengambil uang lewat Anjungan Tunai Mandiri (ATM) untuk agen internal. Ini pun dapat mengarah hingga menabung dan meminjam dana oleh masyarakat. "Tapi akan tetap berhubungan dengan bank," sebut Ali. Rencana uji coba branchless banking BRI ini akan dilaksanakan di 2 provinsi, yaitu Jawa Timur dan Bali. Di Jawa Timur, BRI akan masuk ke Kabupaten Banyuwangi, pada Kecamatan Muncar, Sempu, dan Ronggojampi. Kemudian, di Bali yakni Kabupaten Singaraja. Namun di Bali ini pihak BRI belum bisa menentukan akan masuk ke kecamatan mana. Ali mengatakan bahwa sesuai Surat Edaran (SE) BI, menyampaikan bahwa bank dianjurkan masuk ke daerah yang tak terlalu banyak memiliki unit kerja, masyarakat banyak, kebutuhan keuangan tinggi, dan terdapat infrastruktur. Meski begitu, daerah yang dimasuki dipilih sendiri oleh pihak bank. Meski begitu, Ali menyebut belum ada target BRI untuk meraup berapa nasabah dari bank tanpa cabang ini. (Annisa Aninditya Wibawa/Kontan)

Mei, Bank Indonesia Uji Coba Branchless Banking


http://www.tempo.co/read/news/2013/04/30/087476904/Mei-Bank-Indonesia-UjiCoba-Branchless-Banking Selasa, 30 April 2013

TEMPO.CO, Jakarta - Bank Indonesia segera menguji coba layanan branchless banking atau aktivitas jasa sistem pembayaran dan perbankan terbatas melalui Unit Perantara Layanan Keuangan (UPLK). Asisten Gubernur Bank Indonesia, Mulya E. Siregar, menjelaskan, uji coba akan dilakukan terbatas di delapan provinsi dan akan berlangsung pada Mei hingga November 2013. "Uji coba ini untuk meyakinkan mana sih proyek model terbaik," ucap Mulya dalam konferensi pers di Bank Indonesia, Selasa, 30 April 2013. Layanan perbankan oleh UPLK ini ditujukan teruatama untuk melayani unbanked dan underbanked people, atau masyarakat yang belum tersentuh layanan keuangan seperti transfer, menabung, dan kredit. Produk yang akan diuji coba yakni e-money yang diterbitkan perusahaan telekomunikasi dan produk yang diterbitkan bank, yakni produk tabungan yang bebas biaya administrasi dan diberi bunga (TabunganKu), layanan e-banking dengan menggunakan telepon genggam, dan penyaluran kredit mikro. Nantinya, UPLK akan bertindak atas nama bank penerbit produk keuangan dan/atau perusahaan telekomunikasi penerbit e-money dalam memberikan layanan sistem pembayaran dan layanan perbankan terbatas kepada nasabah. Bank Indonesia sendiri sudah menerbitkan pedoman uji coba. Pedoman ini mengatur, antara lain, tentang model bisnis dan produk yang disediakan, kegiatan yang dilakukan, persyaratan UPLK dan teknologi yang digunakan, manajemen risiko dan perlindungan nasabah dan kepatuhan terhadap pencucian uang, dan pencegahan pendanaan terorisme. Pelaksanaan uji coba dilakukan terbatas di delapan provinsi yang dapat dipilih bank, yaitu Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Selatan. Pemilihan lokasi oleh setiap bank paling banyak dua provinsi dan untuk setiap provinsi paling banyak hanya tiga kecamatan. "Kami melihat daerah-daerah ini punya potensi untuk uji coba tersebut," ujar Mulya. MARTHA THERTINA

BRANCHLESS BANKING : AN OVERVIEW OF THE FORTHCOMING REGULATION ISSUED BY BANK INDONESIA


Saturday, 23 March 2013 01:54 | | | | http://www.jtanzilco.com/main/index.php/component/content/article/1-kap-news/981branchlessbankinganoverviewoftheforthcomingregulationissuedbybankindonesia

Keleluasaaan jangkauan masyarakat atas akses terhadap jasa keuangan atau dapat disebut dengan Inklusi keuangan (financial inclusion) adalah tujuan utama pembangunan bagi sebagian besar negara berkembang. Oleh karena itu usaha dalam memperluas kesempatan untuk mendapatkan pelayanan keuangan perbankan khususnya bagi orang-orang miskin serta melebarkan sayap jasa sektor keuangan untuk kawasan geografis terpencil dalam suatu negara adalah dua hal yang perlu dipandang sebagai essential factors dalam mewujudkan financial inclusion. Bagaimanapun, hal ini merupakan tantangan yang besar. Ada banyak hambatan untuk mengakses jasa keuangan, mulai dari masih terdapat masyarakat yang buta huruf, kurangnya kesadaran tentang jasa dan produk keuangan, biaya transaksi yang tinggi dan infrastruktur yang tidak memadai.

Di lain sisi, pertumbuhan user sarana telekomunikasi khususnya mobile phone begitu pesat. Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI) mencatat bahwa di tahun 2011 saja, angka pengguna layanan seluler di Indonesa telah mencapai lebih dari 200 juta orang. Fenomena tersebut tentunya mampu menciptakan peluang baru bagi masyarakat untuk lebih aktif berpartisipasi dalam perekonomian.

Pada awal tahun 2013 terdapat pemberitaan di media massa baik elektronik maupun cetak yang menyatakan bahwa Bank Indonesia (BI) akan mengeluarkan peraturan dan guideline atas konsep baru dalam usaha mencapai financial inclusion yaitu melalui konsep Branchless Banking, konsep ini telah diimplementasikan pada beberapa negara berkembang seperti Pakistan, India, Brazil, dan Afrika Selatan. Hasil yang didapatkan adalah terdapat peningkatan signifikan atas pengguna jasa layanan perbankan, di negara Brazil sendiri, jumlah total seluruh bank yang ada hanyalah sekitar 20.000 buah, sedangkan outlet yang merupakan perpanjangan

tangan dari entitas penyedia jasa telekomunikasi seluler (banking agent) memiliki jumlah sebesar 180.000 outlet sehingga mampu meningkatkan jumlah nasabah pengguna jasa keuangan sebanyak 5% selama dua tahun terakhir. lantas apakah dan bagaimana konsep Branchless Banking? Mengapa menggunakan media berupa banking agent? Menurut Consultative Group to Assist the Poorest (CGAP, bagian dari World Bank): Branchless banking generally refers to the delivery of financial services outside conventional bank branches, using agents or other third-party intermediaries as the principal interface with customers , and relying on technologies to transmit the transaction details Berdasarkan pernyataan tersebut maka dapat disimpulkan bahwa dalam pelaksanaan konsep Branchless Banking, diperlukan adanya agent sebagai peranta, yang merupakan entitas non-bank dan memiliki kemampuan yaitu menjangkau lebih banyak konsumen dalam hal ini adalah entitas penyedia jasa telekomunikasi seluler. Untuk dapat memberikan pemahaman yang mendasar maka di bawah ini dapat dilihat mekanisme secara sederhana dan perbedaan alur transaksi di antara dua metode, conventional banking dan branchless banking. CONVENTIONAL BANKING

Dalam conventional banking, bank memberikan jasa keuangan terbatas pada akses melalui kantor cabang, ATM, dan mobile banking. Karakteristik
Biaya

operasional yang tinggi. pasar terbatas pada kalangan menengah ke atas karena limitasi dari cabang dan

Segmentasi

ATM.

Sistem secara

internal yang terkoneksi pada setiap cabang.

BRANCHLESS BANKING

Dalam metode Branchless Banking, Bank akan melakukan proses pembayaran dan transaksi. Perusahaan telekomunikasi bertindak sebagai banking agent yang memiliki penetrasi pasar lebih besar Karakteristik
Mampu

menekan biaya karena bank tidak perlu membuka cabang dan menyediakan ATM.

Segmentasi

pasar meluas hingga kalangan menengah ke bawah karena agent memiliki jangkauan konsumen yang jauh lebih besar. memiliki jaringan yang terkoneksi dengan Bank.

Agent

Sebagai suatu model bisnis yang relatif baru, maka dalam menentukan kebijakan yang terkoordinasi dengan baik dan kohesif maka BI sebagai policy maker diharapkan dapat memahami betul kendala yang ada. Menurut CGAP, kunci utama untuk mengeluarkan potensi Branchless Banking sangat bergantung pada kebijakan yang dapat meminimalkan risiko yang mungkin akan dialami nasabah dan dana yang dimiliki tanpa mengesampingkan inovasi atas konsep Branchless Banking. Berikut ini adalah hal hal yang perlu diperhatikan dalam implementasi Branchless Banking:
Penggunaan

agent. Keleluasaaan untuk menggunakan agent sebagai "cash in/ cash out" point sehingga meningkatkan jumlah titik layanan dapat diakses, dimana BI perlu menetapkan standar yang jelas dalam penentuan agent untuk memitigasi risiko yang ada. Seperti persyaratan agar calon agent adalah sebuah entitas berbadan hukum Perseroan, well-

known, memiliki reputasi bisnis yang bagus, dan memiliki likuiditas memadai. Selanjutnya perlu diatur mengenai perlindungan terhadap nasabah serta sanksi yang dikenakan kepada banking agent yang terbukti dan terlibat dalam fraud, penggelapan dana, kelalaian dalam menjalankan prosedur, mengalami kebangkrutan, dan lain-lain.
Kesiapan

teknologi sistem informasi baik dari pihak bank dan juga dari pihak banking agent.

Pendekatan

berbasis risiko terhadap Anti Money Laundering / Combating Financial of Terrorism (AML/CFT) dan adanya aturan disesuaikan dengan realita di lapangan bahwa:

o Nasabah dengan tingkat ekonomi yang rendah seringkali tidak memiliki dokumen yang diperlukan sebagaimana nasabah menengah ke atas. Hal tersebut dapat diatasi dengan menetapkan standar seperti Risk Based Customer Due Diligence yang diterapkan oleh State Bank of Pakistan dimana setiap calon nasabah dikategorikan berdasarkan empat level. Level 0 dan 1 ditujukan untuk rekening individu, level 2 digunakan untuk small and medium entity dan organisasi nonprofit, sedangkan level 3 ditujukan untuk persusahaan dengan skala korporasi, dan banking agents. BI sebenarnya telah mengeluarkan Surat Edaran No 11/31/DPNP tentang Pedoman Standar Penerapan Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme bagi Bank Umum dan pada pedoman Bab IV mengenai Pengelompokan Nasabah Menggunakan Pendekatan Berdasarkan Risiko. Namun beberapa pengamat berpendapat bahwa masih perlu dilakukan relaksasi aturan agar persyaratan yang diperlukan dapat dipenuhi oleh setiap lapisan masyarakat.
Selain

itu, regulator juga perlu menentukan apakah di dalam peraturan terdapat unsur yang mengizinkan penerbitan e-money oleh operator jaringan seluler, yang tidak sepenuhnya berlisensi prudent dan diawasi oleh bank. Berdasarkan pengalaman yang terjadi di negara lain yang telah mengimplementasikan konsep ini, operator jaringan seluler dengan jaringan distribusi ritel dan dengan volume tinggi, transaksi bernilai rendah, sering memimpin dalam model Branchless Banking.

Keberadaan Branchless Banking tentunya dapat menjadi jalan tengah dalam upaya perbankan Indonesia untuk terus melakukan ekspansi dan memajukan perekonomian, bayangkan jika untuk menjaring nasabah yang terletak jauh dari pusat keramaian entitas perbankan harus menginvestasikan gedung untuk sarana operasional, tentunya hal tersebut akan memakan dana yang tidak sedikit. Semoga dengan telah diterapkannya konsep Branchless Banking pada negara berkembang lain dapat menjadi pemicu bagi BI sebagai regulator perbankan untuk dapat menyelesaikan blue print Branchless Banking Indonesia dengan segera. SUMBER:
www.cgap.org www.kontan.com - artikel Aturan Branchless Banking Meluncur Maret

www.investordaily.co.id - artikel Cetak Biru Branchless Banking

www.sbp.org.pk - State Bank of Pakistan