Anda di halaman 1dari 33

Skizofrenia Paranoid

Pembimbing : dr. BAMBANG EKO.S, SP.KJ

Disusun Oleh : ARIE WAHYU PRADIPTA (G (G1A106034) REZAH PAHLEVI (G (G1A106036) GEMITA PRAMENTARI (G (G1A1060 1A106053) HERMAN WIJAYANTORO (G (G1A106063) DIAN MAYASARI (G1A106071) G1A106071) RIDHA HARMASANTY (G1A106073) G1A106073) YUNITA SARI (G1A106075) G1A106075) SRI AYU NINGTYAS (G1A106080) G1A106080)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER UNIVERSITAS JAMBI RSUD RADEN MATTAHER 2010

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat nya sehingga masih di berikan kesempatan dalam melaksanakan KKJ di RSJ Jambi. Atas laporan persentase yang dibuat ini berdasarkan data dari pasien Rekam Medik yang telah di buat sekaligus dengan pembahasan nya. Kami mengucapkan terimakasih kepada dr.H.Bambang Eko.S, Sp.KJ yang dalam hal ini membimbing kami dalam melaksanakan KKJ di bagian PSIKIATRI. Semoga Hasil persentase kami dapat bermanfaat.

Jambi,

Juni 2010

Penulis

STATUS PASIEN Kepaniteraan Klinik Junior di Rumah Sakit Jiwa Jambi I. IDENTITAS PASIEN Nama Jenis Kelamin Umur Suku Bangsa Status Agama Pendidikan Terakhir Pekerjaan Alamat Tanggal masuk Waktu Pemeriksaan II. ANAMNESIS Keterangan anamnesis diperoleh dari: Pasien sendiri (Autoanamnesis) dan keluarga Pasien (alloanamnesis) 1. Pasien datang ke RSJ diantar oleh keluarganya 2. Keluhan Utama Gelisah, suka melamun, ngoceh ngoceh sendiri, mengamuk, menggangu lingkungan 3. Riwayat gangguan sekarang keluhan dan gejala Waham ( + ) :: gagal melanjutkan sekolah : Adanya disorientasi waktu, tempat, dan orang : Nisapia : Perempuan : 18 Tahun : Indonesia : Belum menikah : Islam : SLTP : Petani : : :

hendaya/disfungsi factor stressor pxikpxpxia

hubungan gangguan sekarang dengan riwayat penyakit sebelumnya : -

4. Riwayat Penyakit Sebelumnya Tahun pernah pernah dirawat di RSJ Jambi sebelumnya Klien sebelumnya tidak menunjukkan kelainan / gangguan 5. Situasi Sekarang Adanya disorientasi waktu, tempat dan orang Waham ( + ) Halusinasi auditorik dan visual (+) 6. Persepsi pasien tentang dirinya Px menyadari dirinya sakit 7. Riwayat Keluarga Pasien Klien tidak mempunyai saudara yang mengalami gangguan jiwa 8. Riwayat Pribadi Pasien Klien pernah mengalamipengalaman masa lalu yang mengecewakan yaitu pada saat lulus SMP 9. Riwayat Penyakit fisik yang Pernah Diderita Pasien Disangkal

10. Riwayat penggunaan alcohol/obat bius/zat additive lainnya - disangkal

III. PEMERIKSAAN GENERALISATA Pemeriksaan Vital TD RR : 110/70 mmHg : 24 x/menit

Nadi Suhu Thorax -

: 80x/menit : Afebris

Kepala/Leher : Anemis (-), konjungtiva ikhterik (-) Cor Pulmo : BJ I/II reguler, murmur (-), gallop (-) : ronki (-), wheezing (-)

Abdomen Inspeksi : dbn Palpasi Perkusi : soepel, nyeri tekan (-), hepar dan lien tidak teraba : timpani

Auskultasi: bising usus dbn Akral : hangat

Ekstremitas:

5 5

5 5

IV. STATUS NEUROLOGIS GCS Refleks Fisiologis :456 :

a. Biseps

(+)

b. Triseps (+) c. Patella (+) Meningeal sign (-) Refleks Patologis : a. Babinsky (-) b. Chaddock (-) c. Hoffman trommer (-) V. PEMERIKSAAN PSIKIATRI KHUSUS A. Status Mental 1. Penampilan 2. Kesadaran 3. Perilaku dan aktivitas pxikomotor 4. Pembicaraan 5. Sikap terhadap pemeriksa B. Fungsi Intelektual 1. Baik, px dapat menjawab pertanyaan pengetahuan dengan baik, membaca dan berhitung 2. Px tahu nama orang tua dan keluarga C. Pembicaraan dan fragmen pembicaraan a. Arus pembicaraan b. Produktivitas : melompat - lompat : tidak jelas : Baik, rapi, sehat : compos mentis terganggu : datar : berbahasa kurang dan melompatLompat : kooperatif

c. Pembendaharaan bahasa : sedikit

D. Emosi

a. Afef ( mood ) b. Ekspresi afektif c. Keserasian

: eutionik : cenderung gembira : echt

d. Empati ( Einfuhlung ) : dapat diraba rasakan E. Fungsi Intelektual a. Taraf pendidikan, pengetahuan umum, dan kecerdasan b. Daya konsentrasi c. Orientasi d. Daya ingat : baik : waktu, tempat, orang baik : 1. Daya ingat jangka panjang : baik

F. Persepsi a. Halusinasi b. Ilusi : auditorik (+), visual (+) : (-)

c. Depersonalisasi : (-) d. Derealisasi G. Mimpi dan fantasi a. Mimpi b. Fantasi H. Sensorium a. Alertness : kompos mentis + : (-)

b. Orientasi c. Memori I. Insight J. Judgment Sosial Personal

: tidak ada gangguan orientasi : baik : px menyadari dirinya sakit.

: baik : baik

VI. Diagnosis aksis 1 aksis 2 aksis 3 aksis 4 aksis5 V. Terapi Inj. Lodomert difenhidramin 2cc im Risperidon 2 mg 2x1 THP 2mg 1x1 CRZ 100 mg 1-0-1 1-0-1 1--1 : F.20.0 skizofrenia paranoid akut : Ciri kepribadian skizoid : tidak ditemukan : Stressor : Tidak pernah merasakan kasih sayang, primarry support group :disability sedang 60-51 (GAF)

VI. FOLLOW UP : 7 Mei 2010 RPX :

Sejak 1 bulan px suka mengamuk-ngamuk sendiri, tidak bisa dilarang terutama bila melihat lakilaki px sangat marah dan segera melempar dengan batu. Px tidak merasa melihat atau mendengar sesuatu. Px pernah dirawat 2 tahun yang lalu di RSJ Jambi. Vital Sign : TD Nadi RR : 120/70 mmHg : 88x/menit : 30x/menit : defensive : baik : tidak ada gangguan : tidak ada gangguan : tidak serasi : marah : curiga (+), obsesi (-) : realisasi visual (-), auditorik (-)

Status Pskiatri : Penampilan Kesadaran Penglihatan Orientasi Afek Mood Berpikir Persepxi Diagnosa : Aksis I Aksis II Aksis III Aksis IV Aksis V Terapi : Diazepam 1 ampul CPZ 100 mg HCD 5 mg THP 2 mg : skizofrenia paranoid : gangguan kepribadian emosional tidak stabil : tidak ditemukan : masalah keluarga : diabilitas sedang 60-51 (GAF)

Pembicaraan : keras

Bentuk Pikiran: asosiasi longgar

8 Mei 2010 S O : gatal-gatal di leher : Afek Orientasi A P : Th/ : inappropriate : disorientasi Pembicaraan : inkoheren : Skizofrenia paranoid CPZ 100 mg 1-0-1 HCD 5 mg 1-0-1 THP 2 mg 1-0-1 12 Mei 2010 S O : tidak ada keluhan, gatal, mules : sikap : tenang HR RR A P : Th/ : 70 x/menit : 22x/menit CPZ 100 mg 1-0-1 HCD 5 mg 1-0-1 THP 2 mg 1-0-1 Amoxicilin 500 mg 3x1 21 Mei 2010 S O A P : tidak ada keluhan : sikap : tenang : Skizofrenia paranoid : Th/ CPZ 100 mg 1-0-1 HCD 5 mg 1-0-1 THP 2 mg 1-0-1 Amoxicilin 500 mg 3x1

: Skizofrenia paranoid

27 Mei 2010 S O A P : tidak ada keluhan : sikap : tenang : Skizofrenia paranoid : Th/ CPZ 100 mg 1-0-1 HCD 5 mg 1-0-1 THP 2 mg 1-0-1 Amoxicilin 500 mg 3x1 4 Juni 2010 S O A P : tidak ada keluhan : sikap : tenang : Skizofrenia paranoid : Th/ CPZ 100 mg - - 1 HCD 5 mg 9 0 1 THP 2 mg 1-0-1 Inj. Diazepam 1 amp (kalau perlu) 4 Juni 2010 (pukul 15.10 WIB) S O : gelisah : Pembicaraan : inkoherensi Afek Orientasi Insight A P : Th/ : inappropriate : baik : derajat II

: Skizofrenia paranoid CPZ 100 mg 3x1 HCD 5 mg 3x1 THP 2 mg 2x1

7 Mei 2010 S O : gelisah, memecahkan kaca, terjun ke bak mandi : Pembicaraan : inkoherensi, loncat-loncat Afek : Inapprofiat

Orientasi Insight A P : Th/

: terganggu : derajat II

: Skizofrenia paranoid CPZ 100 mg 1 - 1 - 1 HCD 5 mg 1 1 1 THP 2 mg 1-0-1 Inj. Iodine 1 amp (kalau perlu) Persiapan ECT besok pagi (8 Juni 2010, jam 08.30)

Pukul 11.30 WIB Keluarga tidak dapat dihubungi. Riwayat kejang, epilepsi, asma tidak diketahui Persiapan sebelum melakukan ECT : 1. Puasa dari jam 10 makan 2. Obat pagi tidak usah diberikan 3. BAK dan BAB dulu sebelum diantar 8 Mei 2010 S O : tenang (dalam 1 hari ini) : TD HR RR A P : Th/ : 110/70 mmHg : 74 x / menit : 20 x / menit CPZ 100 mg 3 x HCD 7 mg 3 x 1 THP 2 mg 2 x 1 ECT : Tonik 104 Clonik 504 Sadar 304 9 Mei 2010 S : tenang , tidak ada keluhan

: Skizofrenia paranoid

: TD HR RR t

: 110/70 mmHg : 80 x / menit : 24 x / menit : afebris CPZ 100 mg 3 x HCD 7 mg 3 x 1 THP 2 mg 3 x 1

A P

: Skizofrenia paranoid : Th/

Persiapan ECT besok pagi (8 Juni 2010, jam 08.30) Persiapan sebelum melakukan ECT : 1. Puasa dari jam 10 makan 2. Obat pagi tidak usah diberikan 3. BAK dan BAB dulu sebelum diantar

BAB I PENDAHULUAN Dalam sejarah perkembangan skizofrenia sebagai gangguan klinis, banyak tokoh psikiatri dan neurologi yang berperan. Istilah skizofrenia itu sendiri diperkenalkan oleh Eugen Bleuler (1857-1939), untuk menggambarkan munculnya perpecahan antara pikiran, emmosi dan perilaku pada pasien yang mengalami gangguan ini. Bleuler mengindentifikasi symptom dasar dari skizofrenia yang dikenal dengan 4A antara lain : Asosiasi, Afek, Autisme dan Ambivalensi. Skizofrenia merupakan gangguan psikotik yang paling sering, hampir 1% penduduk dunia menderita psikotik selama hidup mereka di Amerika. Skizofrenia lebih sering terjadi pada Negara industri terdapat lebih banyak populasi urban dan pada kelompok sosial ekonomi rendah.

Walaupun insidennya hanya 1 per 1000 orang di Amerika Serikat, skizofrenia seringkali ditemukan di gawat darurat karena beratnya gejala, ketidakmampuan untuk merawat diri, hilangnya tilikan dan pemburukan sosial yang bertahap. Kedatangan diruang gawat darurat atau tempat praktek disebabkan oleh halusinasi yamg menimbulkan ketegangan yang mungkin dapat mengancam jiwa baik dirinya maupun orang lain, perilaku kacau, inkoherensi, agitasi dan penelantaran

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DEFENISI Skizofrenia adalah gangguan psikotik yang kronik, pada orang yang mengalaminya tidak dapat menilai realitas dengan baik dan pemahaman diri buruk (Kaplan dan Sadock, 1997). Gejalanya dibagi menjadi 2 kelompok yaitu primer yang meliputi perubahan proses pikir, gangguan emosi, kemauan, dan otisme. Sedangkan gejala sekunder meliputi waham, halusinasi, gejala katatonik. Skizofrenia dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu simplex, hebefrenik, katatonik, paranoid, tak terinci, residual (Maslim, 2000). Dari beberapa jenis skizofrenia diatas, terdapat skizofrenia paranoid. Jenis ini ditandai oleh keasyikan (preokupasi) pada satu atau lebih waham atau halusinasi, dan tidak ada perilaku pada tipe terdisorganisasi atau katatonik.

3. Etiologi

a. Predeposisi 1) Biologi Skizofrenia paranoid disebabkan kelainan susunan saraf pusat, yaitu pada diensefalon/ oleh perubahan-perubahan post mortem/ merupakan artefak pada waktu membuat sediaan. Gangguan endokrin juga berpengaruh, pada teori ini dihubungkan dengan timbulnya skizofrenia pada waktu pubertas, waktu kehamilan atau puerperium dan waktu klimaterium. Begitu juga dengan gangguan metabolisme, hal ini dikarenakan pada orang yang mengalami skizofrenia tampak pucat dan tidak sehat, ujung ekstremitas sianosis, nafsu makan berkurang dan berat badan menurun.

2) Psikologis Pada klien dengan waham kebesaran terdapat perasaan yang tidak adekuat serta tidak berharga. Pertama kali mengingkari perasaannya sendiri, kemudian memproyeksikan perasaannya kepada lingkungan dan akhirnya harus menjelaskan kepada orang lain. Apa yang seseorang pikirkan tentang suatu kejadian mempengaruhi perasaan dan perilakunya. Beberapa perubahan dalam berpikir, perasaan atau perilaku akan mengakibatkan perubahan yang lain. Dampak dari perubahan itu salah satunya adalah halusinasi,dapat muncul dalam pikiran seseorang karena secara nyata mendengar, melihat, merasa, atau mengecap fenomena itu, sesuai dengan waktu. 3) Genetik Faktor keturunan juga menentukan timbulnya skizofrenia. Hal ini dibuktikan dengan penelitian pada keluarga-keluarga yang menderita skizofrenia dan terutama anak kembar satu telur. Angka kesakitan bagi saudara tiri sebesar 0,9 1,8%, saudara kandung 7 15%, anak dengan salah satu orang tua yang mengalami skizofrenia 7 16%, bila kedua orang tua mengalami skizofrenia 40 68%, kembar dua telur (heterozygot) 2-15%, kembar satu telur (monozygot) 61-86%(Maramis,1998).

b. Presipitasi Faktor ini dapat bersumber dari internal maupun eksternal.

Stresor sosiokultural : Stres yang menumpuk dapat menunjang terhadap awitan skizofrenia dan gangguan psikotik lainnya (Stuart, 1998) Stresor psikologis : Intensitas kecemasan yang tinggi, perasaan bersalah dan berdosa, penghukuman diri, rasa tidak mampu, fantasi yang tak terkendali, serta dambaan-dambaan atau harapan yang tidak kunjung sampai, merupakan sumber dari waham. II.8 PERJALANAN PENYAKIT Tanda awal dari skizofrenia adalah simtom-simtom pada masa premorbid. Biasanya simtom ini muncul pada masa remaja dan kemudian diikuti dengan berkembangnya simtom prodormal dalam kurun waktu beberapa hari sampai beberapa bulan. Adanya perubahan social / lingkungan dapat memicu munculnya simtom gangguan. Masa prodormal ini bisa langsung sampai bertahun-tahun sebelum akhirnya muncul simtom psikotik yang terlihat. Seiring dengan berjalannya waktu, simtom positif hilang, berkurang, atau tetap ada, sedangkan simtom negative relative sulit hilang bahkan bertambah parah. Faktor-faktor resiko tinggi untuk berkembangnya skizofrenia adalah Mempunyai anggota keluarga yang menderita skizofrenia, terutama jika salah satu orang tuanya/saudara kembar monozygotnya menderita skizofrenia, kesulitan pada waktu persalinan yang mungkin menyebabkan trauma pada otak, terdapat penyimpangan dalam perkembangan kepribadian, yang terlihat sebagai anak yang sangat pemalu, menarik diri, tidak mempunyai teman, amat tidak patuh, atau sangat penurut, proses berpikir idiosinkratik, sensitive dengan perpisahan, mempunyai orang tua denga sikap paranoid dan gangguan berpikir normal, memiliki gerakan bola mata yang abnormal, menyalahgunakan zat tertentu seperti amfetamin, kanabis, kokain, Mempunyai riwayat epilepsi, memilki ketidakstabilan vasomotor, gangguan pola tidur, control suhu tubuh yang jelek dan tonus otot yang jelek. II.7 DIAGNOSIS BANDING

Gangguan Psikotik Sekunder dan Akibat Obat Gejala psikosis dan katatonia dapat disebabkan oleh berbagai macam keadaan medis psikiatrik dan dapat diakibatkan oleh berbagai macam zat. Jika psikosis atau katatonia disebabkan oleh kondisi medis nonpsikiatrik atau diakibatkan oleh suatu zat, diagnosis yang paling sesuai adalah gangguan psikotik akibat kondisi medis umum, atau gangguan katatonia akibat zat. Gangguan Psikotik Lain Gangguan skizofreniform yang berbeda dari skizofrenia karena memiliki lama (durasi) gejala yang sekurangnya satu bulan tetapi kurang daripada enam bulan. Gangguan psikotik berlangsung singkat adalah diagnosis yang tepat jika gejala berlangsung sekurangnya satu hari tetapi kurang dari satu bulan dan jika pasien tidak kembali ke tingkat fungsi pramorbidnya. Gangguan Mood Gejala afektif atau mood pada skizofrenia harus relative singkat terhadap lama gejala primer. Tanpa adanya informasi selain dari pemeriksaan status mental, klinisi harus menunda diagnosis akhir atau harus menganggap adanya gangguan mood, bukannya membuat diagnosis skizofrenia secara prematur. Gangguan Kepribadian Berbagai gangguan kepribadian dapat ditemukan dengan suatu cirri skizofrenia; gangguan kepribadian skizotipal, schizoid, dan ambang adalah gangguan kepribadian dengan gejala yang paling mirip. Gangguan kepribadian, tidak seperti skizofrenia, mempunyai gejala yang ringan, suatu riwayat ditemukannya gangguan selama hidup pasien, dan tidak adanya onset tanggal yang dapat diidentifikasi II.9 PROGNOSIS Secara umum prognosis skizofrenia tergantung pada:

-Usia pertama kali timbul ( onset): makin muda makin buruk. -Mula timbulnya akut atau kronik: bila akut lebih baik. -Tipe skizofrenia: episode skizofrenia akut dan katatonik lebih baik. -Cepat, tepat serta teraturnya pengobatan yang didapat. -Ada atau tidaknya faktor pencetusnya: jika ada lebih baik. -Ada atau tidaknya faktor keturunan: jika ada lebih jelek. -Kepribadian prepsikotik: jika skizoid, skizotim atau introvred lebih jelek. -tergantung dari berbagai factor, antara lain : onset, factor pencetus, riwayat keluarga, system pendukung, gejala, riwayat sosial, seksual,dll. Diagnosis Skizofrenia: - Gejala karakteristik : dua (atau lebih) berikut, masing-masing ditemukan untuk bagian waktu yang bermakna selama periode 1 bulan (atau kurang jika diobati dengan berhasil) waham, halusinasi, bicara terdisorganisasi, perilaku terdisorganisasi atau katatonik yang jelas, gejala negative - Sosial / Pekerjaan : untuk bagian waktu yang bermakna sejak onset gangguan , satu atau lebih fungsi utama seperti pekerjaan, disfungsi hubungan interpersonal, atau perawatan diri, adalah jelas dibawah tingkat yang dicapai sebelum onset. - Durasi :tanda gangguan terus menerus menetap selama sekurangnya 6 bulan, termaksud sekurangnya satu bulan gejala. - Penyingkiran gangguan skizoafektif dan gangguan mood. - Penyingkiran zat/ kondisi medis umum : gangguan tidak disebabkan oleh efek fisiologis langsung dari suatu zat (mis: obat yang disalahgunakan).

- Hubungan dengan gangguan perkembangan pervasive jika terdapat riwayat adanya gangguan autistic atau gangguan perkembangn pervasive lainnya, diagnosis tambahan skizofrenia dibuat hanya jika waham atau halusinasi yang menonjol juga ditemukan untuk sekurangnya satu bulan (atau kurang jika berhasil diobati). 5. Gejala klinik skizofrenia: Gejala-gejala khas yang meliputi berrbagai hal psikologis yaitu : - Isi pikiran: gangguan utama isi pikiran adalah waham yang majemuk, terpecah atau aneh, misalny berupa waham kejar dan waham yang menyangkut dirinya (delusion of reference). - Bentuk pikiran : adanya gangguan pikiran formal, berbentuk sebagai asosiasi longgar, inkoherensi, kemiskinana pembicaraan, dll. - Persepsi : Gangguan utama adalah berbagai jenis halusinasi, tetapi yang paling sering adalah halusinasi dengar. - Afek : Sering kali berupa afek datar atau tidak serasi. - Rasa kesadaran diri : Sering bermanifestasi sebagai rasa perpleksitas yang parah tentang identitas dirinya dan makna eksistensinya. - Dorongan kehendak(volition ) : Gangguan dapat berupa minat atau dorongan yang tidak adekuat. - Hubungan dengan dunia luar : sering terjadi kecenderungan untuk menarik diri dari dunia luar, berpreokupasi pad aide dan egosentrik dan apabila keadaanya parah maka jatuh kedalam autisme. - Tingkah laku psikomotor : Ganggaun tingkah laku psikomotor bisa beraneka ragam, dapat berupa berkurangnya gerakan dan aktivitas spontan atau dapat pula berupa gerakan motorik yang berlebihan.

- Gambaran penyerta : Hampir semua gejala dapat timbul sebagai gambaran penyerta, misalnya : individu tampak kehilangan akal (perplexed), berpakaian atau berdandan eksentrik, aktivitas motorik yang tidak wajar, afek yang tidak menyenangkan, depersonalisasi, derealisasi dan gagasan yang mirip waham yang menyangkut dirinya. 8. Diagnosa Medis a. Penentuannya Aksis I Aksis II Aksis III Aksis IV mengikuti diagnosa multiaksila yang terdiri dari 5 aksis

: gangguan klinis : gangguan kepribadian : kondisi medik umum : Masalah Psikososial dan lingkungan

Aksis V : penilaian peran dan fungsi 1 tahun terakhir b. Tujuandari diagnosa multiaksila Mencakup informasi yang komprehensif (gangguan jiwa, kondisi medik umum, masalah psikososial, dan lingkungan, taraf fungsi secara global), sehingga dapat membantu dalam: - Perencanaan terapi - Meramalkan "Outcame" atau prognosis - format yang mudah dan sistematik, sehingga dapat membantu dalam :

Menata dan mengkomunikasikan informasi klinis,Menangkap kompleksitas situasi klinis, - Menggambarkan heterogenitas individual dengan diagnosa klinis yang sama. Memacu penggunaan "Model Bio-Psiko-Sosial"dalam klinis, pendidikan dan penelitian (PPDGJ-III, 2002) II.6 KLASIFIKASI Dalam PPDGJ III skizofrenia dibagi lagi dalam 9 tipe atau kelompok yang mempunyai spesifikasi masing-masing, yang kriterianya di dominasi dengan hal-hal sebagai berikut :

1. Skizofrenia Paranoid Halusinasi dan atau waham harus menonjol : - Suara-suara halusinasi yang mengancam pasien atau memberi perintah, atau halusinasi auditorik tanpa bentuk verbal berupa bunyi pluit, mendengung, atau bunyi tawa. - Halusinasi pembauan atau pengecapan rasa, atau bersifat seksual, atau lain-lain perasaan tubuh halusinasi visual mungkin ada tetapi jarang menonjol. - Waham dapat berupa hampir setiap jenis, tetapi waham dikendalikan (delusion of control), dipengaruhi (delusion of influence), atau Passivity (delusion of passivity), dan keyakinan dikejar-kejar yang beraneka ragam, adalah yang paling khas. - Gangguan afektif, dorongan kehendak dan pembicaraan, serta gejala katatonik secara relatif tidak nyata / menonjol. -Pasien skizofrenik paranoid biasanya berumur lebih tua 2. Skizofrenia Hebefrenik Memenuhi kriteria umum diagnosis skizofrenia: -Diagnosis hebefrenia untuk pertama kali hanya ditegakkan pada usia remaja atau dewasa muda (onset biasanya mulai 15-25 tahun). -Perilaku yang tidak bertanggung jawab dan tak dapat diramalkan, serta mannerisme; ada kecenderungan untuk selalu menyendiri (solitary), dan perilaku menunjukkan hampa tujuan dan hampa perasaan; -Afek pasien dangkal (shallow) dan tidak wajar (inappropriate), sering disertai oleh cekikikan (giggling) atau perasaan puas diri (self-satisfied), senyum sendirir (selfabsorbed smiling), atau oleh sikap, tinggi hati (lofty manner), tertawa menyeringai (grimaces), mannerisme, mengibuli secara bersenda gurau (pranks), keluhan hipokondrial, dan ungkapan kata yang diulang-ulang (reiterated phrases);

-Proses pikir mengalami disorganisasi dan pembicaraan tak menentu (rambling) serta inkoheren. - gangguan proses pikir umumnya menonjol. Halusinasi dan waham mungkin ada tetapi biasanya tidak menonjol (fleeting and fragmentary delusions and hallucinations).. 3. Skizofrenia Katatonik Memenuhi kriteria umum untuk diagnosis skizofrenia. Satu atau lebih dari perilaku berikut ini harus mendominasi gambaran klinisnya : -stupor (amat berkurangnya dalam reaktivitas terhadap lingkungan dan dalam gerakan serta aktivitas spontan) atau mutisme (tidak berbicara): -Gaduh gelisah (tampak jelas aktivitas motorik yang tak bertujuan, yang tidak dipengaruhi oleh stimuli eksternal) -Menampilkan posisi tubuh tertentu (secara sukarela mengambil dan mempertahankan posisi tubuh tertentu yang tidak wajar atau aneh); -Negativisme (tampak jelas perlawanan yang tidak bermotif terhadap semua perintah atau upaya untuk menggerakkan, atau pergerakkan kearah yang berlawanan); -Rigiditas (mempertahankan posisi tubuh yang kaku untuk melawan upaya

-menggerakkan dirinya); -Fleksibilitas cerea / waxy flexibility (mempertahankan anggota gerak dan tubuh dalam posisi yang dapat dibentuk dari luar); dan -Gejala-gejala lain seperti command automatism (kepatuhan secara otomatis terhadap perintah), dan pengulangan kata-kata serta kalimat-kalimat. -. Gejala katatonik dapat dicetuskan oleh penyakit otak, gangguan metabolik, atau alkohol dan obat-obatan, serta dapat juga terjadi pada gangguan afektif.

4. Skizofrenia tak terinci (Undifferentiated). Memenuhi kriteria umum diagnosis skizofrenia: -Tidak memenuhi kriteria untuk diagnosis skizofrenia paranoid, hebefrenik, atau katatonik. -Tidak memenuhi kriteria untuk skizofrenia residual atau depresi pasca skizofrenia. 5. Depresi Pasca-Skizofrenia Diagnosis harus ditegakkan hanya kalau : -Pasien telah menderita skizofrenia (yang memenuhi kriteria diagnosis umum skizzofrenia) selama 12 bulan terakhir ini; -Beberapa gejala skizofrenia masih tetap ada (tetapi tidak lagi mendominasi gambaran klinisnya); dan -Gejala-gejala depresif menonjol dan menganggu, memenuhi paling sedikit kriteria untuk episode depresif, dan telah ada dalam kurun waktu paling sedikit 2 minggu. -Apabila pasien tidak lagi menunjukkan gejala skizofrenia diagnosis menjadi episode depresif. Bila gejala skizofrenia diagnosis masih jelas dan menonjol, diagnosis harus tetap salah satu dari subtipe skizofrenia yang sesuai. 6. Skizofrenia Residual Untuk suatu diagnosis yang meyakinkan, persyaratan berikut ini harus dipenuhi semua : -Gejala negative dari skizofrenia yang menonjol misalnya perlambatan psikomotorik, aktivitas menurun, afek yang menumpul, sikap pasif dan ketiadaan inisiatif, kemiskinan dalam kuantitas atau isi pembicaraan, komunikasi non-verbal yang buruk seperti dalam

ekspresi muka, kontak mata, modulasi suara, dan posisi tubuh, perawatan diri dan kinerja sosial yang buruk; -Sedikitnya ada riwayat satu episode psikotik yang jelas di masa lampau yang memenuhi kriteria untuk diagnosis skizofenia; -Sedikitnya sudah melampaui kurun waktu satu tahun dimana intensitas dan frekuensi gejala yang nyata seperti waham dan halusinasi telah sangat berkurang (minimal) dan telah timbul sindrom negative dari skizofrenia; -Tidak terdapat dementia atau penyakit / gangguan otak organik lain, depresi kronis atau institusionalisasi yang dapat menjelaskan disabilitas negative tersebut. 7. Skizofrenia Simpleks Diagnosis skizofrenia simpleks sulit dibuat secara meyakinkan karena tergantung pada pemantapan perkembangan yang berjalan perlahan dan progresif dari : -gejala negative yang khas dari skizofrenia residual tanpa didahului riwayat halusinasi, waham, atau manifestasi lain dari episode psikotik, dan -disertai dengan perubahan-perubahan perilaku pribadi yang bermakna, bermanifestasi sebagai kehilangan minat yang mencolok, tidak berbuat sesuatu, tanpa tujuan hidup, dan penarikan diri secara sosial. -Gangguan ini kurang jelas gejala psikotiknya dibandingkan subtipe skizofrenia lainnya. -Skizofrenia simpleks sering timbul pertama kali pada masa pubertas. Gejala utama pada jenis simpleks adalah kedangkalan emosi dan kemunduran kemauan.Waham dan halusinasi jarang sekali terdapat. 3. Proses terjadinya waham

Waham adalah anggapan tentang orang yang hypersensitif, dan mekanisme ego spesifik, reaksi formasi dan penyangkalan. yaitu : peningkatan harapan, untuk mendapat terapi

sadistik, situasi yang meningkatkan ketidakpercayaan dan kecurigaan, isolasi sosial, situasi yang meningkatkan kecemburuan, situasi yang memungkinkan menurunnya harga diri (harga diri rendah), situasi yang menyebabkan seseorang melihat kecacatan dirinya pada orang lain, situasi yang meningkatkan kemungkinan untuk perenungan tentang arti dan motivasi terhadap sesuatu.

4.

Gejala- gejala waham

a. Status mental 1) Pada pemeriksaan status mental, menunjukan hasil yang sangat normal,kecuali bila ada sistem waham abnormal yang jelas. 2) 3) 4) Mood klien konsisten dengan isi wahamnya. Pada waham curiga, didapatkan perilaku pencuriga. Pada waham kebesaran, ditemukan pembicaraan tentang peningkatan identitas diri, mempunyai hubungan khusus dengan orang yang terkenal. 5) Adapun sistem wahamnya, pemeriksa kemungkinan merasakan adanya kualitas depresi ringan. 6) Klien dengan waham, tidak memiliki halusinasi yang menonjol/ menetap, kecuali pada klien dengan waham raba atau cium. Pada beberapa klien kemungkinan ditemukan halusinasi dengar. b. Sensori dan kognisi 1) Pada waham, tidak ditemukan kelainan dalam orientasi, kecuali yang memiliki waham spesifik tentang waktu, tempat dan situasi. 2) Daya ingat dan proses kognitif klien adalah intak (utuh).

3)

Klien waham hampir selalu memiliki insight (daya titik diri) yang jelek.

4) Klien dapat dipercaya informasinya, kecuali jika membahayakan dirinya.Keputusan terbaik bagi pemeriksa dalam menentukan kondisi klien adalah dengan menilai perilaku masa lalu, masa sekarang dan yang direncanakan.

5.

Tipe-tipe waham

tipe-tipe waham antara lain: 1) Tipe Eritomatik: klien dicintai mati-matian oleh orang lain, biasanya orang yang sangat terkenal, seperti artis, pejabat, atau atasanya. Klien biasanya hidup terisolasi, menarik diri, hidup sendirian dan bekerja dalam pekerjaan yang sederhana. 2) Tipe kebesaran (magalomania):yaitu keyakinan bahwa seseorang memiliki bakat, kemampuan, wawasan yang luar biasa, tetapi tidak dapat diketahui. 3) Waham cemburu, yaitu misalnya cemburu terhadap pasanganya. Tipe ini jarang ditemukan (0,2%) dari pasien psikiatrik. Onset sering mendadak, dan hilang setelah perpisahan/ kematian pasangan. Tipe ini menyebapkan penyiksaan hebat dan fisik yang bermakna terhadap pasangan, dan kemungkinan dapat membunuh pasangan, oleh karena delusinya. 4) Waham kejar : keyakinan merasa dirinya dikejar-kejar, diikuti oleh orang lain. Tipe ini paling sering ditemukan pada gangguan jiwa. Dapat berbentuk sederhana, ataupun terperinci, dan biasanya berupa tema yang berhubungan difitnah secara kejam, diusik, dihalang-halangi, diracuni, atau dihalangi dalam mengejar tujuan jangka panjang.

5)

Waham tipe somatik atau psikosis hipokondrial monosimptomatik. Perbedaan dengan hipokondrial adalah pada derajat keyakinan yang dimiliki klien. Menetapnya waham somatik yang tidak kacau tanpa adanya gejala psikotik lainya menyatakan gangguan delosional/ waham tipe somatik.

6.

Tahap-tahap halusinasi orang yang berhalusinasi mengalami keadaan emosi seperti ansietas, kesepian, merasa bersalah, dan takut serta mencoba untuk memusatkan pada penenangan pikiran untuk mengurangi ansietas. orang yang berhalusinasi mulai merasa kehilangan kendali dan berusaha untuk menjauhkan dirinya dari sumber yang dipersepsikan, individu mungkin merasa malu karena pengalaman sensorinya dan menarik diri dari orang lain (nonpsikotik). orang yang berhalusinasi menyerah untuk melawan pengalaman halusinasinya dan membiarkan halusinasi menguasai dirinya, isi halusinasi dapat berupa permohonan, individu mungkin mengalami kesepian jika pengalaman sensori tersebut berakhir (psikotik).

7. Penatalaksanaan a. Farmakoterapi 1) Anti Psikotik Jenis- jenis obat antipsikotik antara lain : a) Chlorpromazine

Untuk mengatasi psikosa, premidikasi dalam anestesi, dan mengurangi gejala emesis. Untuk gangguan jiwa, dosis awal : 325 mg, kemudian dapat ditingkatkan supaya optimal, dengan dosis tertinggi : 1000 mg/hari secara oral. b) Trifluoperazine

Untuk terapi gangguan jiwa organik, dan gangguan psikotik menarik diri. Dosis awal : 31 mg, dan bertahap dinaikkan sampai 50 mg/hari.

c)

Haloperidol

Untuk keadaan ansietas, ketegangan, psikosomatik, psikosis,dan mania. Dosis awal : 30,5 mg sampai 3 mg.Obat antipsikotik merupakan obat terpilih yang mengatasi gangguan waham. 2) Anti parkinson

a. Triheksipenydil (Artane) Untuk semua bentuk parkinsonisme, dan untuk menghilangkan reaksi ekstrapiramidal akibat obat. Dosis yang digunakan : 1-15 mg/hari. b.Difehidamin Dosis yang diberikan : 10- 400 mg/hari 3) Anti Depresan

a. Amitriptylin Untuk gejala depresi, depresi oleh karena ansietas, dan keluhan somatik. Dosis : 75-300 mg/hari. b. Imipramin

Untuk depresi dengan hambatan psikomotorik, dan depresi neurotik. Dosis awal : 25 mg/hari, dosis pemeliharaan : 50-75 mg/hari. 4) Anti Ansietas Anti ansietas digunakan untuk mengotrol ansietas, kelainan somatroform, kelainan disosiatif, kelainan kejang, dan untuk meringankan sementara gejala-gejala insomnia dan ansietas. Obat- obat yang termasuk anti ansietas antara lain: Fenobarbital Meprobamat Klordiazepoksida : 16-320 mg/hari : 200-2400 mg/hari : 15-100 mg/hari

b.

Psikoterapi

Elemen penting dalam psikoterapi adalah menegakkan hubungan saling percaya. Terapi individu lebih efektif dari pada terapi kelompok. Terapis tidak boleh mendukung ataupun menentang waham, dan tidak boleh terus-menerus membicarakan tentang wahamnya. Terapis harus tepat waktu, jujur dan membuat perjanjian seteratur mungkin. Tujuan yang dikembangkan adalah hubungan yang kuat dan saling percaya dengan klien. c. Terapi Keluarga Pemberian terapi perlu menemui atau mendapatkan keluarga klien, sebagai sekutu dalam proses pengobatan. Keluarga akan memperoleh manfaat dalam membantu ahli terapi dan membantu perawatan klien.

DAFTAR PUSTAKA 1. Kaplan & Sadock: Skizofrenia dalam Sinopsis Psikiatri Jilid 1, edisi 7, Penerbit Bina Rupa Aksara, Jakarta, 1997, halaman 685-729. 2. Maslim. R: Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia, edisi 3,Direktorat Kesehatan Jiwa Departemen Kesehatan RI, Jakarta, 2002, hal 46-51. 3. W.F. Maramis, Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa, Universitas Airlangga,1980, hal:215-35 4. Maslim. R: Panduan Praktis Penggunaan Klinis Obat Psikotropik, edisi 3, Penerbit Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa, FK Unika Atma Jaya, Jakarta, 2001, hal 14-23. 5. Hawari, Dadang:Skizofrenia dalam Pendekatan Holistik Pada Gangguan Jiwa, Penerbit FKUI, Jakarta, 2003. 6. http://www.schizophrenia.com 7. http://www.e-psikologi.com

8. http://www.savalintar.com 9. http://www.idionline.org/infoidi10. http://www.medicastore.com/cybermed

Lampiran : Autoanamnesis KKJ Px KKJ Px KKJ Px KKJ Px KKJ Px : Namanya siapa? : nisa : Nisa berapo umurnyo? : 16 : Nisa orang mano? : Kinci (dalam bhs. Indonesia artinya Kerinci) : eh iyo sekarang siang apa malam? : Siang : kesini sama siapa? : kakak ipar

Pasien diam untuk beberapa saat. KKJ Px KKJ Px KKJ Px KKJ : nisa masih sekolah? : Ndak (tanpa ekspresi) : Cita-cita Nanti mau jadi apo? : agnes monica,presiden,camat : Terus kalau dak sekolah Nisa ngapoin bae di rumah? : keladang : Trus ngapoin bae di ladang?

Px : bantu mak nanam cabe, tomat, kol jugo, sudah besak kol nyo. KKJ : Sama siapa beladangnyo? Px : samo mak KKJ : Nisa tau dak ini ni dimano? Px : Tau, ini kan rumah sakit dharma wanita KKJ : Sudah berapo lamo Nisa disini? Px : Lah dari 2006 KKJ : Emang Nisa sakit apo? Px : Sakit lidah, gigi, mato, kaki KKJ : Enak dak disini? Px : Enak, banyak kawan disini KKJ : Enak dimano, di sini apo di rumah? Px : Enak lah dirumah, di rumah ado apo bae yg Nisa mau KKJ : Dirumah samo sapo bae? Px : Ado mak, bapak, kakak, adek KKJ : Nisa sayang dak samo mak? Px : Sayang lah, nisa dak pernah ngelawan mak. KKJ : Banyak dak kawan Nisa di rumah? Px : Banyak, ado 5 orang ( sambil menghitung jari tangan dan menyebutkan namanya) KKJ : Nisa punyo pacar dak? Px : Ado lah, ( sambil ketawa malu malu ) KKJ : Nisa pernah dak nengok yang aneh aneh? Px : pernah, KKJ : kayak mano? Px : kayak tengkorak, warna putih, cewek, mukonyo seram. KKJ : Trus? Px : Dio mau cekek Nisa, Nisa kesakitan. KKJ : Trus apo lagi Px : Ado juga nenek sihir, warna merah, terbang pakek sapu. KKJ : kalau dengar suara pernah dak? Px : dak pernah KKJ : Yakin dak pernah? Px : Kadang ado suaro orang yang ninju ninju, marah marah. KKJ : Nisa dewek pernah dak marah marah? Px : pernah KKJ : ngapo marah marah? Px : kalo orang disini jahat. Nisa tinju be. KKJ : Kenapo di tinju? Px : (pasien Cuma ketawa) KKJ : Apo be gawe Nisa disini? Px : Ngepel, nyapu lantai. KKJ : Oh yo, sejak kapan Nisa suko Agnes Monica?

Px : Dari kecik KKJ : Lah, bukannyo Nisa ni Agnes Monica, kok suko sama Agnes monica jugo? Px : Iyo dak, ( sambil ketawa ) KKJ : Ngapo Nisa suko samo agnes? Px : dio cantik KKJ : Oh yo, misalnyo nih Nisa nengok kakak kakak dsini betinju, trus jambak jambaan, menurut Nisa bagus dak? Px : dak bagus, bodoh itu. KKJ : Yo lah, makasih yo Nisa udah mau ngobrol ngobrol yo, besok kita ngobrol lagi.. Px : iyo, ( sambil mencium tangan KKJ )