Anda di halaman 1dari 7

Filosofi adanya WPS...

Sertifikasi WPS
andryansyah rivai Bapak dan ibu yang saya hormati, Walaupun saya pernah belajar tentang pengelasan, tetapi saya boleh dikata tidak pernah menggunakannya. Untuk itu saya ingin bertanya, dan tidak sedikitpun pertanyaan saya itu ditujukan untuk menguji, saya hanya ingin meluruskan cara pandang saya ttg perlunya ada WPS sebelum pekerjaan pengelasan dilakukan. Membaca tulisan di bawah, terkesan bahwa kalau sudah di approve (disetujui???), maka bisa digunakan. Pertanyaan saya adalah, kalau sudah disetujui itu artinya apa dan apakah yang menyetujui juga akan bertanggungjawab kalau terjadi kecelakaan akibat kesalahan yang ada di WPS itu? Kemudian, yang menyetujui itu (misal depnaker) apakah juga melakukan pengelasan pada sampel uji dengan mengacu kepada WPS yang diuji dan kemudian menguji mutu lasan yang dihasilkan? Kalau tidak, lalu sejauh mana sampel uji (yang dilas dengan mengacu ke WPS) yang akan dites dengan bermacam cara itu bisa dibuktikan memang dilas dengan meggunakan parameter seperti yang ada pada WPS. Pertanyaan berikutnya adalah, apa yang menjadi dasar sehingga untuk hal tertentu harus ada persetujuan dari depnaker, tapi pada hal lain harus dari ditjen migas. Sekian dulu pertanyaan saya, dan bila ada yang mau berbagi ilmu, tolong dijelaskan dengan tidak menggunakan alasan bahwa 'itulah aturannya', karena saya sangat ingin tahu dasar pengambilan keputusan yang berkaitan dengan WPS itu. Terima kasih untuk mau berbagi ilmu.

novembri nov Pertanyaan Pak Andry ini cukup bagus untuk kita bahas. Saya coba menjelaskan sedikit semoga jawaban ini bisa sedikit membantu .. WPS yang sudah di apporove berarti benar sudah bisa digunakan. Apakah yang mengapporve akan bertanggung jawab bila nantinya ada kecelakaan akibat kesalahan yang ada di WPS? Tentu tidak. dan saya rasa ini juga tidak perlu diminta tanggung jawab. Karena apa ?

Sampai saat ini saya belum pernah menemukan kasus separti ini. Logikanya yang mengapprove khan tidak asal approve saja. Dia juga harus menguasai ilmu WPS ini, bagaimana membuat WPS, materialnya masuk jenis apa, cocoknya menggunakan electrode apa, electrode yang digunakan harus menggunakan amper dan voltage berapa , di preheat temp berapa dll. Kemudian setelah di welding harus diuji NDT apa saja, mechanical test yang dibutuhkan jenis test apa saja merefer ke code/standard mana. Kalau dia sudah jadi WPS berarti proses welding yang digunakan dengan material yang akan dipakai sudah teruji dalam segala hal, baik design , kekuatan, metalurgi, dll. Kalau WPS ini dipakai dilapangan dengan parameter yang sesuai dan tercantum disana maka boleh kita sepakati barang tersebut tidak akan gagal. Adanya kegagalan mungkin disebabkan oleh factor lain seperti design stucturenya, ketebalan material dari design, tapi bukan dari WPS nya. Yang meng approve depnaker, migas , 3rd party lain dia tidak melakukan weld pada benda uji lain. Dia disini diundang (notification) oleh contractor atau perusahaan yang akan membuat WPS ini. Setelah diundang dia datang kelokasi contractor memeriksa seperti yang saya sampaikan di jawaban no 1. Tahap ini namamnya belum ada WPS tapi record PQR. Jadi tidak ada WPS disini. Mungkin pak Andry bertanya Tanya jadi weld nya pakai parameter apa ? Oke untuk menjalankan test coupon ini kita gunakan PWPS (Prelimenary WPS). Yang parameternya diambil dari pengalaman 2 telah lalu dan manufacturer rekomendasi yang dituangkan dalam format yang mirip WPS. Jadi welding ikut PWPS ini. Selama proses welding dicata nilai actual dari parameter2 welding yang nantinya disebut PQR. Dasar sesuatu harus diapprove oleh MIGAS atau DEPNAKER Pemertintah menentapkannya dalam UU atau Peraturan pemerintah untuk memberikan penekanan bahwa semua proyek MIGAS harus di approve oleh MIGAS sehingga dapat diyakini barang yang dibuat tersebut sudah memiliki jaminan savety. MIGAS yang saya tahu cuma ikut campur untuk bejana tekan, yang lain seya belum tahu. Depnaker mungkin dia mau terlibat untuk barang barang lain mungkin seperti crane atau yang lainnya. Karena saya juga belum membaca peraturannya mari kita serahkan ke temen temen yang lain. Demikian Pak penjelasannya semoga Pak Andry bisa menemukan jawabannya

andryansyah rivai Terima kasih pak Novembri untuk penjelasannya. Pertanyaan saya berikutnya adalah: 1. Aneh atau tidak bila ada kontraktor yang meminta untuk dilakukan uji NDT terhadap lasan yang dibuatnya, tetapi untuk mengelasnya kontraktor itu tidak menggunakan WPS.

2. Bila barang yang dibuat oleh kontraktor (pakai WPS) telah diterima oleh pemilik dan dioperasikan, ternyata terjadi kegagalan dan dari analisis kerusakan terbukti bahwa pengelasan yang dilakukan tidak sesuai (tidak benar). Apakah dalam hal ini pemilih tetap bertanggungjawab 100% atau ada juga tanggungjawab kontraktor dan pihak ketiga? Kalaulah kontraktor ikut bertanggungjawab dan pihak ketiga tidak, lalu di mana letak perlunya pihak ketiga itu? 3. Kalau ternyata hasil NDT tidak akurat, misal ada retak di lasan tetapi tidak terdeteksi saat pengujian, kesalahan itu tanggungjawak siapa? Sekian dulu pertanyaan saya, dan terima kasih untuk penjelasannya. novembri nov OK Pak Andry untuk pertanyaan bapak : 1. Yang aneh itu mungkin bukan request NDT nya. Tapi yang anehnya mengelas tanpa WPS. Kenapa ini bisa terjadi .wah ini bisa panjang ceritanya. Kalau saya jawab nanti jawabannya nggak pas. Karena yang ditanya req NDT. Jadi menurut saya req NDT itu sah sah saja. NDT itu bukan menunjukkan mutu dari suatu lasan. Tapi menunjukkan soundness dari weldment. Sekarang kalau NDT OK tapi kawat las yang digunakan tensile dan yield strentg nya jauh dibawah base material . Apa jadinya tuh barang nantinya 2. Untuk kasus seperti ini , biasanya pihak kontraktor memberikan garansi barang ke owner untuk jangka sekian tahun. Kalau ada kegagalan setelah diinvestigasi maka pihak kontraktor akan dikenakan denda ganti rugi. Ganti ruginya mulai dari merepair barang, biaya kerugian karena harus shut down, kerugian karena hilangnya produksi, kerugian gaji karyawan dan yang lain lian. Semua diicharge oleh kontraktor. Ini tergantung agreement sebelum proyek berjalan (bidding). 3. Kalau hasil NDT yang salah logikanya akan kembali ke kasus diatas. Contractor yang minta ganti rugi ke subcontractornya. Karena subcont tidak mempunyai qualifikasi yang disyaratkan. Makanya untuk menghindari hal hal sepeprti ini perlu diadakan Vendor atau subcontractor review dan dibuatkan Procedure kerja untuk NDT yang mencakup method NDT yang akan dipakai, persyaratan personil NDT level dan certifikasi, procedur melakukan NDT dan lian lain. Pihak contractor seharusnya juga melakukan cross check dari hasil laporan NDT company. Sehingga kalau hal ini telah dilakukan dengan baik maka kemungkinan akan terjadinya kegagalan bisa diminimalkan. OK pak semoga bisa menjawab pertanyaan Pak Andry. Dirman Artib Sudah banyak penjelasan teknis dari teman-teman tentang latar belakang keharusan WPS dalam aktifitas pengelasan, tetapi rasanya subject pertanyaan FILOSOFI (PHILOSOPHY) belum terlalu mengena.

Proses dalam pekerjaan pengelasan logam/non logam melibatkan banyak parameter dan variabel yang apabila dirobah satu, dua tiga, atau lebih atau merobah kombinasi parameter tsb. maka akan mengakibatkan hasil produk yang berbeda pula. Parameter tersebut ada yang esensial dan ada yg tidak esensial. Ini berhubungan dengan range of approval dari WPS itu nantinya, Code/Standard yg umum mengatur hal ini. Yang esensial contohnya adalah : Logam utama, bahan pengisi, proses las, desain las. Di dalam sebuah proses di mana hasil kinerja proses tersebut tidak dapat diinterupsi saat proses berlangsung dan hanya bisa diketahui kesesuaiannya dengan standard mutu yang diharapkan pada hasil akhir, maka prosesnya harus DIVALIDASI. Validasi dibutuhkan untuk memperlihatkan/membuktikan/meyakinkan bahwa proses tersebut efektif dalam mencapai hasil yang diharapkan oleh standard umum yang disepakati atau standard khusus yang diinginkan. Proses yang akan divalidasi tersebut dituangkan dalam sebuah WPS yang didesain dan mengandung parameter-parameter yang ditetapkan dan harus diikuti oleh welder/operator saat proses aktivitas pengelasan. Ketetapan parameter-parameter yang dinyatakan dalam WPS tersebut diujicobakan di atas sampel, kemudian dilakukan verifikasi, inspeksi dan uji kepada hasil pengelasan yang menggunakan batasan-batasan dan parameter WPS. Inspeksi-inspeksi adalah visual, NDT/NDE, Radiography, inspeksi jumlah Ferro, dll. Uji yang dilakukan adalah uji mekanikal e.g. uji tarik, uji impak, dan uji komposisi kimia, uji kekerasan, dll. Hasil uji ini lah yang dimaksud dengan PQR yang membuktikan bahwa WPS tersebut VALID dan efektif untuk mencapai hasil mutu/standard yang diinginkan. WPS/PQR keduanya adalah dokumen yang tak dapat dipisahkan sebagai bukti VALIDASI sebuah proses pengelasan yang telah didesain dan ditetapkan. Masalah pihak yang mempunyai otorisasi dalam "approval" WPS/PQR, khusus di Indonesia agak sedikit berbeda dengan misalnya di Eurpe dan US, dimana WPS/PQR disahkan oleh independen Notification Body spt. Kebanyakan verification body e.g. TUV, Lloyid, DNV, dst. Ini disebabkan karena mereka sudah mempunyai asosiasi profesi dan sistem akreditasi/sertifikasi yang mapan, sehingga pihak pemerintah hanya menjadi pembina/pembuat kebijakan dan penjaga aturan main (regulator). Jika 3rd party salah, maka sangsi bisnis pada area "kepercayaan" ini akan sangat negatif dampaknya kepada reputasi notification body tsb., bisa-bisa bangkrut. Di Indonesia kelengkapan lembaga untuk menjalankansistem ini belum ada/mapan, sehingga campur tangan pemerintah memasuki area ini terus berlanjut sampai sekarang. Jika pemerintah sebagai Notification Body apakah lembaga tsb. juga bisa bubar ? Nah di sinilah sebenarnya harus ditempatkan bahwa pemerintah selayaknya hanya sebagai pembuat policy dan regulator, saja.Sampai kapan ? Mungkin rekan-rekan di IWI/API bisa lebih menjelaskan lebih jauh. Indra Prasetyo Saya mau tanya, masih seputar pengelasan, maklum saya awam di bidang tsb: 1. Untuk instalasi/pemasangan pipa penyalur gas (dari lapangan KPS ke customer) PQR/WPS-nya apakah mutlak harus diapprove oleh MIGAS?

2. Berapa rata2 kecepatan pengelasan oleh 1 orang welder (berapa joint per hari utk pipa dia.10inch) dlm kondisi normal? Terima kasih banyak sebelumnya atas pencerahannya.

darmayadi Menjawab pertanyaan bapak ; 1. Kalau masih di Indonesia harus di approve oleh migas 2. Kecepatannya tergantung pada welder yang bapak punya.

Indra Prasetyo Terima kasih Pak Darmayadi. Utk yg pertanyaan no.2 maksud saya rata2 saja atau umumnya saja kecepatan seorang welder mengelas itu brp joint dalam satu hari utk pipa diameter 10-inch. Sekali lagi terima kasih.

Dirman Artib Pak, Pengalaman saya dulu di lapangan (empirik), bahwa 1 hari kerja yg actualnya sekitar 10 jam (mulai jam 7.00s/d 1.00 WIB), welder saya berproduksi hanya maksimal 60 Dia. Inch. Tetapi saya lakukan study kecil-kecilan bahwa terkadang mulai ngelas nya itu jam 10-an pagi(dipotong mkn siang). Dari jam 7.00 s/d 10.00 biasanya pipefitter punya acara. Itu kondisinya Field Weld, kalau Shop Weld sedikit lebih, yaitu sekitar 70-90 Dia Inch. Kalau dilihat lebih detail, maka welder andalan bisa sedikit lebih dari angka tsb. Itu rentang ratarata antara batas welder yg slow/malas dan yg yg top/rajin/handal. Pengalaman teman lain silahkan dishare !

Indra Prasetyo Pak Dirman, Terima kasih atas pencerahannya. Tapi saya mau tanya lagi, mohon maaf kalo pertanyaannya sangat awam, maksudnya 60 dia.Inch itu apakah misalnya utk pipa dia. 10-inch seorang welder mampu mengelas 6 joint (dalam satu hari atau dalam rentang waktu tertentu)? Sekali lagi terima kasih. darmayadi Pak Indra, untuk mengetahui berapa kemampuan welder bisa mengelas per jamnya, maka anda perlu mendapatkan data-data yang disebut ; Deposition rate dan operating factor. Deposition rate data, dapat anda minta ke suplier kawat las anda, sementara operating factor tergantung pada proses las yang anda gunakan. Untuk proses SMAW ; 35%, sementara untuk GMAW dan FCAW sekitar 45%. Jadi, kalau misal kawat las SMAW yang anda pakai mempunyai deposition rate ; 5 Kg/ Jam pada ampere 250, maka kecepatan welder mengelas per jamnya adalah ; 35% x 5 Kg. Nah, dulu saya sudah pernah kirim bagaimana cara menghitung kebutuhan kawat las di milis ini.

Administrator Migas Pak Darmayadi, Ini tulisan yang anda maksud, semoga berguna untuk Mas Indra. Sebenarnya masih ada satu tulisan yang lain yaitu : Cara Menghitung Biaya Las Per Kg Logam Las. Mungkin nanti saya akan letakkan di www.migas-indonesia.net aja yah. Bersama-sama dengan dokumen pengelasan yang lainnya. Attachment : Cara Menghitung Kebutuhan Kawat Las.pdf Indra Prasetyo Terima kasih Pak Darmayadi.

Beberapa waktu yg lalu Pak Dirman kalo nggak salah menjawab bahwa kecepatan rata2 welder mengelas adalah 60 Dia.inch per hari, pertanyaan saya apakah yg dimaksud dgn 60 Dia.inch itu? Apakah misalnya jika sy punya pipa Dia 10 inch, maka kecepatan welder tsb sama dengan 6 joint per hari? Lalu bagaimana hubungannya dgn deposition rate dan operating factor yg bapak jelaskan dibawah? darmayadi Pak Indra, Kalau yang dijawab pak dirman itu, sudah sngat-sngat spesifik untuk project beliau, saya nggak bisa kasih komentar. bandi sabandi Saya juga , kayaknya komentar pa dirman sudah cukup... jadi kita mesti tentukan ayam dulu atau telor duluan sedikit tambahan : WPS dibuat oleh authorize personnel yg mempunyai qualifikasi dan experiance cukup (Misal WE, WI dll) Bila belum ada wps sama sekalai harus di buat pWPS (proposal WPS) dan di las oleh welder lalu test di lab sehingga jadi PQR dan WPS qualified. Dirman Artib Pak Indra benar. Jika pipa 10 Inch, maka dia bisa mengelas 6 joint. Sori , setelah saya buka-buka "memoir" tahun 1995, saya koreksi, bahwa itu terjadi di pipeshop saat memproduksi spool, bukan di lapangan saat instalasi. Dan Pipanya group large bore yaitu 312 inch, grade std. Sch. 40., material group CS spt. A106 Gr B (bukan group e.g. SS-314, 316 atau Alloy e.g. A335 ), proses SMAW root+groove+cap. Welder harus ada helper-nya yg bantu gerinda dan ketok-ketok klining. Kalau ada yg punya experience berbeda dipersilahkan share Dulu saya punya buku saku untuk pipefitter diberi oleh seorang Boliwood. Di situ ada estimasi terhadap laju produksi pipe fabrication, termasuk aktivitas welder berdasarkan study empirik. Tapi sudah saya cari nggak ketemu (mungkin ikut terbakar bersama dokumen-dokumen sewaktu gedung BI terbakar beberapa tahun lalu-just kidding :).