Anda di halaman 1dari 24

SIMPANG BERSINYAL

Disusun oleh :
Tomy Rohmawan
1233403
1. Lingkup dan Tujuan
Menentukan waktu sinyal, kapasitas dan perilaku
lalu lintas pada simpang bersinyal
MKJI digunakan untuk simpang bersinyal terisolir,
kendali waktu tetap, bentuk geometri normal dan
dilengkapi peralatan sinyal lalu lintas
Alasan penggunaan sinyal lalu lintas:
Menghindari kemacetan simpang akibat adanya konflik
arus lalu lintas (kapasitas dpt dipertahankan)
Memberi kesempatan kendaraan dan/atau pejalan kaki
dari jalan minor utk memotong jalan utama
Mengurangi jumlah kecelakaan akibat tabrakan antar
kendaraan dan/atau pejalan kaki yang bertentangan
2. Karakteristik Sinyal Lalu lintas
Dengan sinyal, kapasitas dpt didistribusikan ke
berbagai pendekat melalui pengalokasian waktu
hijau
Penggunaan sinyal tiga lampu (hijau, kuning,
merah) diterapkan utk memisahkan lintasan dari
gerakan kendaraan yg saling bertentangan
Sinyal digunakan utk memisahkan konflik utama
maupun konflik kedua
Konflik utama = antara gerakan lalulintas dr pendekat
yg saling berpotongan (termasuk pejalan kaki)
Konflik kedua = antara gerakan lalulintas membelok dr
lalulintas lurus melawan (termasuk pejalan kaki)
Konflik Utama dan Konflik Kedua
Pemisahan Konflik Utama
Dengan Sinyal Dua Fase
(memiliki Kapasitas tertinggi dibandingkan
pengaturan lainnya)
Periode Antar Hijau (inter green)
Terdapat diantara 2 hijau dlm 2 fase yg berurutan
Terdiri dari = waktu kuning + merah semua
Memperingatkan lalulintas yg bergerak bahwa fase
sudah berakhir (waktu kuning)
Menjamin kendaraan pd fase hijau terakhir dpt keluar
dr daerah konflik sblm kendaraan pertama fase
selanjutnya (waktu merah semua)
antar hijau A-B
Fase B
Fase A
merah semua A-B
Kuning A
Arus Terlawan:
Jika arus belok kanan yg ditinjau dan/atau dari arah
berlawanan terjadi dalam satu fase dengan arus
berangkat lurus dan belok kiri dari suatu pendekat.
Terlawan
Terlawan
Arus Terlindung:
Jika arus belok kanan diberangkatkan pada fase yang
berbeda dengan arus lurus dari arah berlawanan
Terlindung
Terlindung
Terlindung
Sinyal 2 Fase
Hanya memisahkan Konflik
Utama
Arus belok kanan dari semua
arah merupakan arus
terlawan
Sinyal 3 Fase
Memisahkan
Konflik Utama
Arus belok kanan
terlindung
sebagian
Q
RT
dari Barat dan
Timur Terlawan
Q
RT
dari Utara dan
Selatan Terlawan
Q
RT
dari Barat dan
Timur Terlawan
Q
RT
dari Utara dan
Selatan Terlawan
Q
RT
dari Utara
Terlindung
Sinyal 3 Fase
Sinyal 4 Fase
Q
RT
dari Barat dan
Timur Terlindung
Q
RT
tidak ada Q
RT
dari Utara dan
Selatan Terlindung
Q
RT
dari Barat dan
Timur Terlawan
Q
RT
dari Utara dan
Selatan Terlindung
Q
RT
tidak ada
Memisahkan
Konflik Utama
Arus belok kanan
terlindung
sebagian
Q
RT
tidak ada
B. Metodologi
KONSTRUKSI JALAN RAYA 2

1. Prinsip Umum
Geometri
Perhitungan utk setiap pendekat dilakukan terpisah
Satu lengan simpang dapat terdiri dari satu pendekat yg
dipisahkan menjadi dua atau lebih sub-pendekat
Gerakan belok kanan dan/atau belok kiri pada fase yang
berlainan dengan gerakan lurus
Lebar efektif (We) ditetapkan
dengan mempertimbangkan
denah dr bagian masuk dan
keluar dari suatu simpang juga
distribusi gerakan membelok
Arus lalu lintas
Perhitungan dilakukan dlm periode per satuan jam atau
lebih (misal didasarkan pd arus puncak pagi, siang,
sore)
Arus (Q) dikonversi menjadi smp menggunakan emp
masing-masing tipe pendekat (terlindung/ terlawan)
Model dasar
Kapasitas pendekat bersinyal (C = S x g/c)
Kapasitas dipengaruhi oleh arus jenuh, waktu hijau dan
waktu siklus
Asumsi : arus jenuh tetap selama waktu hijau
Kenyataan : arus berangkat mulai dari 0, puncaknya
setelah 10-15 detik, menurun sedikit sampai akhir
waktu hijau
Waktu hijau efektif
Waktu hijau efektif = tampilan waktu hijau
kehilangan awal + tambahan akhir
Rata-rata kehilangan awal = Rata-rata kehilangan
akhir
Sehingga waktu hijau efektif = tampilan waktu hijau
Arus Jenuh
S = S0 x F1 x F2 x F3 x F4 x x Fn
So = 600 x We
Faktor penyesuaian utk:
Ukuran kota, hambatan samping, kelandaian, parkir dan
gerakan membelok


Penentuan waktu sinyal
Menurut Webster (1966) terlebih dahulu ditentukan
waktu siklus (c) dan selanjutnya waktu hijau (g
i
) pada
masing-masing fase

Waktu siklus (c)


Waktu hijau (g
i
)

Kapasitas dan derajat kejenuhan

Derajat kejenuhan (DS)

( )
( )

+
=
crit
FR
LTI
c
1
5 5 . 1
( )


=
crit
crit
i
FR
FR LTI c
g
g C
c Q
C
Q
DS

= =
Perilaku lalu lintas

Jumlah rata-rata antrian

Dimana





Panjang antrian

2 1
NQ NQ NQ + =
( ) ( )
( )
(


+ + =
C
DS
DS DS C NQ
5 . 0 8
1 1 25 . 0
2
1
Untuk DS>0, selain itu NQ
1
=0
3600 1
1 1
2
Q
DS GR
GR
c NQ


=
masuk
W
NQ QL
20
max
=

Angka henti (NS)

Rasio kendaraan berhenti

Tundaan

Tundaan lalu lintas (DT)


Tundaan geometri (DG)
3600 9 . 0

=
c Q
NQ
NS
( ) 1 , min NS p
sv
=
j j j
DG DT D + =
( )
( ) C
NQ
DS GR
GR
c DT
j
3600
1
1 5 . 0
1
2

+


=
( ) ( ) 4 6 1 =
sv T sv j
p p p DG
Pengaturan lalu lintas & alat pengatur lalu lintas
Pengaturan lalu lintas & alat pengatur lalu lintas
Terima Kasih
KONSTRUKSI JALAN RAYA 2