Anda di halaman 1dari 26

METODE PENELITIAN KUALITATIF

ACCESSIBILITY SISWA TEHADAP SUMBER BELAJAR DI SEKOLAH MENGENAH PERTAMA (Studi Kasus: di Kecamatan Bulakamba Brebes)

Oleh: ARJUN FATAH AMITHA 11105241023 / 2011

TEKNOLOGI PENDIDIKAN FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 2013

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Masalah adalah ketidaksesuaian antara harapan dengan kenyataan, ada yang melihat sebagai tidak terpenuhinya kebutuhan seseorang, dan adapula yang mengartikannya sebagai suatu hal yang tidak mengenakkan. Prayitno (1985) mengemukakan bahwa masalah adalah sesuatu yang tidak disukai adanya, menimbulkan kesulitan bagi diri sendiri dan atau orang lain, ingin atau perlu dihilangkan. Pengertian belajar dapat didefinisikan sebagai sesuatu proses yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Belajar adalah proses perubahan pengetahuan atau perilaku sebagai hasil dari pengalaman. Pengalaman ini terjadi melalui interaksi antara individu dengan lingkungannya. ( Anita E, Wool Folk, 1995 : 196 ). Menurut Garry dan Kingsley, belajar adalah proses tingkah laku (dalam arti luas), ditimbulkan atau diubah melalui praktek dan latihan. Sedangkan menurut Gagne (1984: 77), belajar adalah suatu proses dimana suatu organisasi berubah perilakunya sebagai akibat pengalaman. Dari definisi masalah dan belajar maka masalah belajar dapat diartikan atau didefinisikan sebagai suatu kondisi tertentu yang dialami oleh murid dan menghambat kelancaran proses yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan. Kondisi tertentu itu dapat berkenaan dengan keadaan dirinya yaitu berupa kelemahan-kelemahan dan dapat juga berkenaan dengan lingkungan yang tidak menguntungkan bagi dirinya. Masalah-masalah belajar ini tidak hanya dialami oleh murid-murid yang lambat saja dalam belajarnya, tetapi juga dapat menimpa murid-murid yang pandai atau cerdas. Dalam interaksi belajar mengajar siswa merupakan kunci utama keberhasilan belajar selama proses

belajar yang dilakukan. Proses belajar merupakan aktivitas psikis berkenaan dengan bahan belajar. Permasalahan yang ada sekarang adalah permasalahan akses sumber belajar siswa di sekolah, akses yang meliputi pemanfaatan dan pengembangan sumber. Tidak sedikit akses yang minim menjadikan sebuah masalah yang berkenaan dengan proses pembelajaran. Oleh karena itu kesadaran dan kesediaan siswa beserta guru untuk mengakses sumber belajar menjadi penting dan perlu perhatian lebih. Mengingat pentingnya sumber belajar untuk perkembangan siswa maka harus perlu dipahami bahwa siswa apakah selalu dapat mengakses sumber belajar yang ada? Secara gampang apakah siswa selalu mampu menempatkan diri untuk belajar? Hal seperti ini yang perlun menjadi daya tarik bagaimanakah siswa merespon sumber belajar yang ada. Sebabnya perlu akses lebih untuk siswa terhadap sumber belajar merupakan prioritas, segala aspek kehidupan manusia, segala aspek pendidikan yang akan mempengaruhi pula aspek kehidupan seperti ekonomi, sosial, politik dan budaya. Kehidupan manusia memang tidak akan pernah lepas dari beberapa aspek tersebut, aspek yang begitu kompleks menuntut pendidikan harus lebih intensif menyiapkan masyarakat kedepan didukung dengan akses siswa terhadap sumber belajar. Permalahan umum yang terungkap menjadi sebuah judul penelitian accessibility sumber belajar siswa di sekolah yaitu kemudahan sumber belajar yang dapat dicapai bagi siswa. B. Fokus Penelitian Penelitian ini difokuskan pada bahan pembelajaran, bahan ajar cetak dan bahan ajar non-cetak, media massa, masyarakat, keluarga, sekolah dan lembaga agama. Prioritas penelitian ini adalah siswa, perilaku, respon yang ada komunikasi siswa dengan sumber belajar. C. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah yang diuraikan tersebut, penulis menyusun rumasan masalah sebagai berikut:

1. Bagaimana sikap dan perilaku yang direspon siswa terhadap sumber belajar? 2. Bagaimana akses sumber belajar siswa? 3. Bagaimana penerapan bahan pembelajaran yang sesuai dengan sumber belajar yang ada? 4. Bagaiaman usaha membentuk siswa supaya pro aktif terhadap semua sumber belajar? D. Tujuan Penelitian Berdasarkan latar rumusan masalah yang sudah disusun , maka tujuan penelitian yang ingin dicapai adalah : 1. Mengetahui perilaku mainstream siswa dalam kegiatannya disekolah. 2. Mengetahui kemudahan siswa untuk mengakses sumber belajar 3. Mengetahui sumber-sumber belajar apa yang dekat dengan siswa dan sesuai mata pelajaran. 4. Memahami karakter dan sikap pro aktif siswa terhadap sumber belajar. E. Manfaat Penelitian 1. Teoritis Penelitian ini di harapkan dapat menunjukkan bahwa penggunaan bahan ajar yang tepat dapat mingkatkan kesadaran, dan mempunyai dampak pengiring terhadap sumber belajar. 2. Praktis Penelitian ini dapat berguna sebagai masukan dalam menentukan kebijakan lebih lanjut mengenai pemanfaatan, penggunaan, dan pengembangan sumber bahan ajar yang tepat sebagai alat pendukung kematangan siswa.

BAB II STUDI KEPUSTAKAAN Mengingat pentingnya Studi Kepustakaan dalam penelitian untuk melihat bahwa pendekatan penelitian yang kita lakukan steril dari pendekatan-pendekatan lain dan menajamkan rumusan masalah penelitian yang diajukan. Studi kepustakaan berturut-turut membahas mengenai hal-hal berikut, pengertian media dan sumber belajar, manajemen sumber belajar, faktor pendidikan seperti kurikulum dan dampak pengiring pembelajaran sehingga studi kepustakaan menjadi lengkap serta membantu dalam penilitian. A. Pengertian Media dan Sumber Belajar 1. Media Pembelajaran Media berasal dari bahasa Latin yang merupakan bentuk jamak dari kata medium yangsecara harfiah berarti perantara atau pengantar, yakni perantara atau pengantar sumber pesan dengan penerima pesan. Media pembelajaran bisa dikatakan sebagai alat yang bisa merangsang siswa untuk supaya terjadi proses belajar. Sanjaya (2008) menyatakan bahwa media pembelajaran meliputi perangkat keras yang dapat mengantarkan pesan dan perangkat lunak yang mengandung pesan. Namun demikian, media bukan hanya berupa alat atau bahan saja, tapi juga hal-hal lain yang memungkinkan siswa memeroleh pengetahuan. Media bukan hanya berupa TV, radio, computer, tapi juga meliputi manusia sebagai sumber belajar, atau kegiatan seperti diskusi, seminar simulasi, dan sebagainya. Dengan demikian media pembelajaran dapat disimpulkan sebagai segala sesuatu yang dapat menyalurkan pesan, dapat merangsang pikiran, perasaan, dan kemauan siswa sehingga dapat mendorong terciptanya proses belajar pada diri siswa. Pada mulanya, media pembelajaran hanya berfungsi sebagai alat bantu bagi guru untuk mengajar dan yang digunakan adalah baru sebatas alat bantu visual. Sekitar pertengahan abad ke-20 usaha pemanfaatan visual dilengkapi dengan digunakannya alat audio, sehingga lahirlah alat

bantu audio-visual. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), khususnya dalam bidang pendidikan, saat ini penggunaan alat bantu atau media pembelajaran menjadi semakin luas dan interaktif, seperti adanya komputer dan internet. 2. Sumber Belajar AECT (Association for Education and Communication

Technology) menyatakan bahwa sumber belajar (learning resources) adalah semua sumber baik berupa data, orang dan wujud tertentu yang dapat digunakan oleh siswa dalam belajar, baik secara terpisah maupun secara terkombinasi sehingga mempermudah siswa dalam mencapai tujuan belajar atau mencapai kompetensi tertentu. Sumber belajar adalah bahanbahan yang dimanfaatkan dan diperlukan dalam proses pembelajaran, yang dapat berupa buku teks, media cetak, media elektronik, narasumber, lingkungan sekitar, dan sebagainya yang dapat meningkatkan kadar keaktifan dalam proses pembelajaran. Sumber belajar adalah segala sesuatu yang tersedia di sekitar lingkungan belajar yang berfungsi untuk membantu optimalisasi hasil belajar. Optimalisasi hasil belajar ini dapat dilihat tidak hanya dari hasil belajar saja, namun juga dilihat dari proses pembelajaran yang berupa interaksi siswa dengan berbagai sumber belajar yang dapat memberikan rangsangan untuk belajar dan mempercepat pemahaman dan penguasaan bidang ilmu yang dipelajari. B. Fungsi Media dan Sumber Belajar 1. Media Pembelajaran Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, bahwa pengetahuan akan semakin abstrak jika hanya disampaikan melalui bahasa verbal. Hal tersebut akan memungkikan terjadinya verbalisme, yakni siswa hanya mengetahui tentang kata tanpa mengetahui dan mengerti makna yang dimiliki kata tersebut. Selain itu, penyampaian informasi yang hanya melalui bahasa verbal, akan menurunkan gairah siswa dalam menangkap

pesan pada saat proses pembelajaran. Padahal untuk memahami sesuatu idealnya memerlukan pengalaman langsung yang melibatkan fisik maupun psikis siswa Pada kenyataannya, memberikan pengalaman langsung pada siswa bukanlah sesuatu yang mudah, karena tidak semua pengalaman dapat langsung dipelajari oleh siswa. Misalnya jika ingin menerangkan kondisi di permukaan bulan, maka tidak mungkin pengalaman tersebut didapat langsung oleh siswa. Oleh karenanya di sini media pembelajaran berperan sangat penting dalam suatu kegiatan belajar mengajar. Guru dapat menggunakan TV, film, atau gambar dalam memberikan informasi pada siswa. Dengan media pembelajaran hal yang bersifat abstrak bisa menjadi lebih konkret. Secara umum media memiliki beberapa fungsi, diantaranya: a. Dapat mengatasi keterbatasan pengalaman yang dimiliki oleh para siswa. Pengalaman tiap siswa berbeda-beda, tergantung dari faktorfaktor yang menentukan kekayaan pengalaman anak, seperti

ketersediaan buku, kesempatan berwisata, dan sebagainya. Hal tersebut bisa diatasi dengan media pembelajaran. Jika siswa tidak mungkin dibawa ke obyek langsung yang dipelajari, maka obyeknyalah yang dibawa ke siswa. b. Dapat melampaui batasan ruang kelas. Banyak hal yang tidak mungkin dialami secara langsung di dalam kelas oleh para siswa tentang suatu obyek, yang disebabkan, karena: 1. obyek terlalu besar; 2. obyek terlalu kecil; 3. obyek yang bergerak terlalu lambat; 4. obyek yang bergerak terlalu cepat; 5. obyek yang terlalu kompleks; 6. obyek yang bunyinya terlalu halus; c. Memungkinkan adanya interaksi langsung antara siswa dengan lingkungannya.

d. Menghasilkan keseragaman pengamatan. e. Menanamkan konsep dasar yang benar, konkrit, dan realistis. f. Membangkitkan keinginan dan minat baru.7.Membangkitkan motivasi dan merangsang anak untuk belajar.8.Memberikan pengalaman yang menyeluruh dari yang konkrit sampai dengan abstrak 2. Sumber Belajar Sumber belajar juga memiliki fungsi yang sangat penting dalam pembelajaran.Jika media pembelajaran hanya media untuk menyampaikan pesan, tetapi sumber belajar tidak hanya memiliki fungsi tersebut. Sumber belajar juga memiliki strategi, metode, dan tekniknya. Rusman (2008) menyatakan bahwa untuk mengoptimalkan sumber belajar dalam memecahkan permasalahan pembelajaran terdapat beberapa pertanyaan yang dapat dijadikan pedoman, yakni: apa masalah pembelajaran yang dihadapi?; bagaimana sumber belajar dapat membantunya?; bagaimana sumber belajar itu dapat dimanfaatkan oleh siswa dan guru?; berapa lama dipakai?; apa alat/sarana yang diperlukan dalam penggunaannya?; bagaimana dapat ditentukan mutunya?; apakah sumber belajar dapat diganti?; dan bagaimana cara memerolehnya? Secara umum sumber belajar memiliki fungsi: a. Meningkatkan produktivitas pembelajaran dengan jalan: 1. mempercepat laju belajar dan membantu guru untuk

menggunakan waktu secara lebih baik dan 2. mengurangi beban guru dalam menyajikan informasi, sehingga dapat lebih banyak membina dan mengembangkan gairah b. Memberikan kemungkinan pembelajaran yang sifatnya lebih

individual, dengan cara: 1. mengurangi kontrol guru yang kaku dan tradisional; dan 2. memberikan kesempatan bagi siswa untuk berkembang sesuai dengan kemampuannnya c. Memberikan dasar yang lebih ilmiah terhadap pembelajaran dengan cara:

1. perancangan program pembelajaran yang lebih sistematis; dan 2. pengembangan bahan pengajaran yang dilandasi oleh penelitian. d. Lebih memantapkan pembelajaran, dengan jalan: 1. meningkatkan kemampuan sumber belajar; 2. penyajian informasi dan bahan secara lebih kongkrit. e. Memungkinkan belajar secara seketika, yaitu: 1. mengurangi kesenjangan antara pembelajaran yang bersifat verbal dan abstrak dengan realitas yang sifatnya kongkrit; 2. memberikan pengetahuan yang sifatnya langsung. f. Memungkinkan penyajian pembelajaran yang lebih luas, dengan menyajikan informasi yang mampu menembus batas geografis. Fungsi-fungsi di atas sekaligus menggambarkan tentang alasan dan arti penting sumber belajar untuk kepentingan proses dan pencapaian hasil pembelajaran siswa. C. Klasifikasi Media dan Sumber Belajar Baik media maupun sumber belajar secara garis besarnya, terdiri dari dua jenis, yakni 1. Yang dirancang (by design), yakni media dan sumber belajar yang secara khusus dirancang atau dikembangkan sebagai komponen sistem instruksional untuk memberikan fasilitas belajar yang terarah dan bersifat formal. 2.Yang dimanfaatkan (by utilization), yaitu media dan sumber belajar yang tidak didesain khusus untuk keperluan pembelajaran dan keberadaannya dapat ditemukan, diterapkan dan dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran. D. Jenis Media dan Sumber Belajar 1. Media Pembelajaran Terdapat beragam pembagian jenis media pembelajaran yang dikemukakan para ahli, namun pada dasarnya pembagian jenis media tersebut memiliki persamaan. Secara garis besar media pembelajaran terbagi atas: a. Media audio, yakni media yang hanya dapat didengar saja atau yang memiliki unsur suara, seperti radio dan rekaman suara.

b. Media visual, yakni media yang hanya dapat dilihat saja dan tidak mengandung unsur suara, seperti gambar, lukisan, foto, dan sebagainya. c. Media audiovisual, yakni media yang mengandung unsur suara dan juga memiliki unsur gambar yang dapat dilihat, seperti rekaman video, film dan sebagainya. 2. Sumber Belajar AECT membedakan enam jenis sumber belajar, yaitu: a. Pesan (message), yakni sumber belajar yang meliputi pesan formal dan nonformal. Pesan formal yaitu pesan yang dikeluarkan oleh lembaga resmi atau pesan yang disampaikan guru dalam situasi pembelajaran, yang disampaikan baik secara lisan maupun berbentuk dokumen, seperti peraturan pemerintah, kurikulum, silabus, bahan pelajaran, dan sebagainya. Pesan nonformal yakni pesan yang ada di lingkungan masyarakat luas yang dapat digunakan sebagai bahan pembelajaran, seperti cerita rakyat, dongeng, hikayat, dan sebagainya. 2.Orang (People), yakni orang yang menyimpan informasi. Pada dasarnya setiap orang bisa berperan sebagai sumber belajar, namun secara umum dapat dibagi dua kelompok, yakni (a) orang yang didesain khusus sebagai sumber belajar utama yang dididik secara profesional, seperti guru, instruktur, konselor, widyaiswara, dan lain-lain; dan (b) orang yang memiliki profesi selain tenaga yang berada di lingkungan pendidikan, seperti dokter, atlet, pengacara, arsitek, dan sebagainya. 3.Bahan (Materials), yakni suatu format yang digunakan untuk menyimpan pesan pembelajaran, seperti buku paket, alat peraga, transparansi, film, slides, dan sebagainya. 4.Alat (Device), yakni benda-benda yang berbentuk fisik yang sering disebut dengan perangkat keras, yang berfungsi untuk menyajikan bahan pembelajaran, seperti komputer, radio, televisi, VCD/DVD, dan sebagainya. 5.Teknik (Technic), yakni cara atau prosedur yang diguakan orang dalam memberikan pembelajaran guna tercapai tujuan pembelajaran, seperti ceramah, diskusi, seminar, simulasi, permainan, dan sejenisnya.

6.Latar (Setting), yakni lingkungan yang berada di dalam sekolah maupun yang berada di luar sekolah, baik yang sengaja dirancang ataupun yang tidak secara khusus disiapkan untuk pembelajaran, seperti ruang kelas, studio, perpustakaan, aula, teman, kebun, pasar, toko, museum, kantor dan sebagainya. E. Kriteria Pemilihan Media dan Sumber Belajar Kriteria yang paling utama dalam pemilihan media adalah bahwa media adalah harus dengan tujuan pembelajaran atau kompetensi yang ingin dicapai. Misalnya bila tujuan atau kompetensi siswa bersifat menghafalkan kata-kata tentunya media audio yang tepat untuk digunakan. Jika tujuan atau kompetensi yang dicapai bersifat memahami isi bacaan maka media cetak yang lebih tepat digunakan. Kalau tujuan pembelajaran bersifat motorik (gerak dan aktivitas), maka media film dan video bisa digunakan. Selain pertimbangan tersebut Sanjaya (2008) mengungkapkan sejumlah pertimbangan lain yang dapat kita gunakan dalam memilih media pembelajaran yang tepat, yakni dengan menggunakan kata ACTION (Access, Cost, Technology, Interactivity, Organization, Novelty). 1. Access,artinya bahwa kemudahan akses menjadi pertimbangan pertama dalam pemilihan media. Apakah media yang diperlukan itu tersedia, mudah dan dapat dimanfaatkan?. Akses juga menyangkut aspek kebijakan, apakah media tersebut diijinkan untuk digunakan? 2. Cost, hal ini menyangkut pertimbangan biaya. Biaya yang dikeluarkan untuk penggunaan suatu media harus seimbang dengan manfaatnya. 3. Technology, dalam pemilihan media perlu juga dipertimbangkan ketersediaan teknologiya dan kemudahan dalam penggunaannnya. 4. Interactivity, media yang baik adalah media yang mampu menghadirkan komunikasi dua arah atau interaktifitas. 5. Organization, menyangkut pertimbangan dukungan organisasi atau lembaga dan bagaimana pengorganisasiannya.

6. Novelty, menyangkut pertimbangan aspek kebaruan dari media yang dipilih. Media yang lebih baru biasanya lebih menarik dan lebih baik. Kriteria diatas mungkin juga berlaku untuk mempertimbangkan pemilihan sumber belajar. Sudrajat (2008) lebih lanjut mengemukakan lima kriteria dalam pemilihan sumber belajar, yaitu: 1. Ekonomis, sumber belajar yang digunakan tidak harus terpatok pada harga yang mahal. 2. Praktis, sumber belajar yang dipilih tidak memerlukan pengelolaan yangrumit, sulit dan langka. 3. Mudah, sumber belajar harus dekat dan tersedia di sekitar lingkungan kita. 4. Fleksibel, artinya sumber belajar dapat dimanfaatkan untuk berbagai tujuan instruksional 5. Sesuai dengan tujuan, sumber belajar harus dapat mendukung proses danpencapaian tujuan belajar, dapat membangkitkan motivasi dan minat belajar siswa. F. Pemanfaatan Media dan Sumber Belajar Dalam Implementasi Kurikulum Implementasi merupakan suatu proses penerapan ide, konsep, kebijakan, atau inovasi dalam bentuk tindakan praktis sehingga memberikan dampak, baik berupa perubahan pengetahuan, keterampilan, maupun nilai dan sikap. Implementasi kurikulum dapat diartikan sebagai aktualisasi kurikulum tertulis dalam bentuk pembelajaran, sesuai dengan apa yang diungkapkan Miller dan Seller (1985): In some case, implementation has been identified with instruction. Implementasi kurikulum merupakan sebuah upaya untuk melakukan transfer perencanaan kurikulum ke dalam tindakan operasional. Dengan kata lain implementasi kurikulum adalah sebuah penerapan, ide, konsep, program, atau tatanan kurikulum ke dalampraktek pembelajaran atau berbagai aktivitas baru, sehingga terjadi perubahan yang diharapkan. Dengan demikian, implementasi kurikulum adalah penerapan atau pelaksanaan program kurikulum yang telah dikembangkan dalam tahap sebelumnya, kemudian diujicobakan dengan pelaksanaan dan pengelolaan, dan

senantiasa dilakukan penyesuaian terhadap situasi di lapangan dan karakteristik siswa, baik perkembangan intelektual, emosional, serta fisiknya. Kurikulum disusun dengan mempertimbangkan sumber belajar dan media pembelajaran yang dibutuhkan dan yang sudah tersedia, sehingga memungkinkan siswa memperoleh pengalaman belajar secara nyata, bermakna, luas, dan mendalam dalam kegiatan pembelajaran. Pada hakikatnya pembelajaran adalah proses interaksi antara siswa dengan lingkungannya, sehingga terjadi perubahan perilaku ke arah yang lebih baik. Dalam pembelajaran tersebut tugas guru yang paling utama adalah mengondisikan lingkungan agar menunjang terjadiya perubahan perilaku bagi peserta didik. Hamalik (2008) menyatakan tiga faktor yang memengaruhi

keberhasilan suatu implementasi kurikulum, yakni dukungan kepala sekolah, dukungan rekan sejawat guru, dan dukungn internal dalam kelas. Dari faktorfaktor tersebut guru merupakan faktor penentu utama dalam keberhasilan implementasi kurikulum, karena guru lah yang berperan sebagai implementator utama dalam pembelajaran, yakni sebagai manajer pembelajaran dalam kelas. Guru sebagai manajer pembelajaran yang baik dalam proses pembelajaran tentu harus memiliki kreatifitas yang tinggi dalam mengelola kelasnya, salah satunya adalah dalam hal pemilihan dan penggunaan media dan sumber belajar untuk kepentingan proses pembelajaran. Banyak orang beranggapan bahwa untuk menyediakan media dan sumber belajar menuntut adanya biaya yang tinggi dan sulit untuk mendapatkannya. Padahal dengan berbekal kreatifitas, guru dapat membuat dan menyediakan sumber belajar yang sederhana dan murah. Misalkan, bagaimana guru dan siswa dapat memanfaatkan bahan bekas. Bahan bekas, yang banyak berserakan di sekolah dan rumah, seperti kertas, mainan, kotak pembungkus, bekas kemasan sering luput dari perhatian kita. Dengan sentuhan kreativitas, bahan-bahan bekas yang biasanya dibuang secara percuma dapat dimodifikasi dan didaur-ulang menjadi media dan sumber belajar yang sangat berharga. Demikian pula, dalam memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar tidak perlu harus pergi jauh dengan biaya yang mahal, lingkungan yang berdekatan dengan sekolah dan

rumah pun dapat dioptimalkan menjadi sumber belajar yang sangat bernilai bagi kepentingan belajar siswa. Tidak sedikit sekolah-sekolah di kita yang memiliki halaman atau pekarangan yang cukup luas, namun keberadaannya seringkali ditelantarkan dan tidak terurus. Jika saja lahan-lahan tersebut dioptimalkan tidak mustahil akan menjadi media pembelajaran atau sumber belajar yang sangat berharga. Lebih lanjut Rusman (2008) mengemukakan bahwa untuk dapat memberdayakan media dan sumber belajar secara efektif dan efisien dalam pembelajaran, guru tidak mungkin melaksanakannya secara sendiri-sendiri. Kerjasama fungsional dengan tenaga kependidikan lainnya, baik yang ada di lingkungan sekolah mapun dengan berbagai sumber daya potensial yang ada di lingkungan sekitar sekolah akan sangat membantu meningkatkan kualitas proses pembelajaran. Untuk dapat merealisasikan kerjasama ini perlu inisiatif dan koordinasi yang diprogramkan secara kelembagaan dan menjadi kewenangan serta tanggung jawab kepala sekolah, karena pada dasarnya pengimplementasian kurikulum atau pembelajaran diperlukan komitmen semua pihak yang terlibat, dan didukung oleh kemampuan profesional guru sebagai salah satu implemetator kurikulum dan manajer pembelajaran.

BAB III PROSEDUR PENELITIAN

A. Metode dan Alasan Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, yang bersifat deskriptif, yaitu dengan teknik studi kasus. Pendekatan kualitatif atau kajian kualitatif digunakan dalam penelitian ini karena penelitian menekankan pada upaya investigasi untuk mengkaji secara natural (alamiah) fenomena yang tengah terjadi dalam keseluruhan kompleksitasnya (Sastradipoera, 2005: 226-227). Penelitian ini bersifat deskriptif karena berusaha mendeskripsikan suatu gejala, peristiwa, kejadian yang terjadi saat sekarang dimana peneliti berusaha memotret peristiwa dan kejadian yang terjadi menjadi pusat perhatiannya untuk kemudian dijabarkan sebagaimana adanya. Studi kasus digunakan sebagai suatu penjelasan

komprehensif yang berkaitan dengan berbagai aspek seseorang, suatu kelompok, suatu organisasi, suatu program, atau suatu situasi kemasyarakatan (Sastradipoera, 2005:245) yang dalam penelitian ini masalah/kasus yang diteliti merupakan situasi khusus yaitu kinerja guru dalam implementasi pembelajaran tematik, dan diupayakan ditelaah sebanyak dan sedalam mungkin. Tarsidi (2002) mendeskripsikan Pendekatan kualitatif sebagai

penyelidikan atas pemikiran kritis, fenomena sosial tanpa tergantung pada abstrak simbol-simbol numerik. Moleong (2004:3) dalam Dewi (2009) mengemukakan lima karakteristik utama penelitian kualitatif, yaitu: (1) Peneliti sendiri sebagai instrument utama untuk mendatangi secara langsung sumber data, (2) mengimplikasikan data yang dikumpulkan dalam penelitian ini lebih cenderung dalam bentuk kata-kata daripada angka, (3) menjelaskan bahwa hasil penelitian lebih menekankan kepada proses, tidak semata-mata kepada hasil, (4) melalui analisis penelti mengungkap makna dari keadaan yang diamati, (5) mengungkap makna sebagai hasil yang esensial dari pendekatan kualitatif.

Alasan menggunakan penelitian kualitatif antara lain karena (1) metode ini telah digunakan secara luas dan dapat meliputi lebih banyak segi dibanding dengan metode penyelidikan lain, (2) metode ini banyak memberikan sumbangan kepada ilmu pengetahuan melalui pemberian informasi keadaan mutakhir, dan dapat membantu mengidentifikasi faktor yang berguna untuk pelaksanaan percobaan, (3) dapat digunakan dalam menggambarkan keadaan yang mungkin terdapat dalam situasi tertentu, (4) data yang dikumpulkan dianggap sangat bermanfaat dalam membantu untuk menyesuaikan diri, atau dapat memecahkan masalah yang timbul dalam kehidupan sehari-hari, (5) membantu mengetahui bagaimana caranya mencapai tujuan yang diinginkan, dan (6) dapat diterapkan berbagai masalah. Berdasarkan dari pemaparan diatas dapat disimpulkan bahwa penelitian kualitatif yang digunakan dalam penelitian ini bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian, misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan lain-lain secara holistik dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa pada suatu konteks khusus yang alamiah dan segan memanfaatkan berbagai metode ilmiah. Metode deskriptif adalah suatu metode dalam meneliti status sekelompok manusia, suatu objek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran, ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang. (Nazir, 2003:54). Tujuan penelitian deskriptif adalah untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antarfenomena yang diselidiki. Menurut Whitney (1960) dalam Nazir (2003), metode deskriptif adalah pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat. Penelitian deskriptif mempelajari masalah-masalah dalam masyarakat, serta tata cara yang berlaku dalam mayarakatserta situasi-situasi tertentu, termasuk tentang hubungan, kegatankegiatan, sikap-sikap, pandangan-pandangan, serta proses-proses yang sedang berlangsung dan pengaruh-penaruh dari satu fenomena. Dalam metode deskriptif, peneliti bisa saja membandingkan fenomena-fenomena tertentu sehingga merupakan suatu studi komparatif. Ada kalanya peneliti mengadakan klasifikasi, dalam

serta penelitian terhadap fenomena-fenomena dengan menetapkan suatu standar atau norma tertentu. Desain penelitian yang digunakan adalah desain penelitian studi kasus ( case study), yaitu bentuk penelitian yang mendalam tentang suatu aspek lingkungan sosial termasuk manusia di dalamnya. Dapat dilakukan terhadap seorang individu, sekelompok individu, segolongan manusia atau lembaga sosial, dapat mengenali perkembangan sesuatu, dapat pula memberi gambaran tentang keadaan yang ada. Studi kasus, atau penelitian kasus ( case study), adalah penelitian tentan status subjek penelitian yang berkenaan dengan suatu fase spesifik atau khas dari keseluruhan personalitas (Maxfield, 1930 dalam Nazir, 2003: 57). Tujuan studi kasus adalah untuk memberikan gambaran secara mendetail tentang latar belakang,sifat-sifat serta karakter-karakter yang khas dari kasus, ataupun status dari individu, yang kemudian dari sifat-sifat khas diatas akan jadikan suatu hal yang bersifat umum. Studi kasus memiliki keunggulan sebagai suatu studi untuk mendukung. Studi-studi yang besar di kemudian hari. Studi kasus dapat memberikan hipotesis-hipotesis untuk penelitian lanjutan. Dari segi edukatif, maka studi kasus dapat digunakan sebagai contoh ilustrasi baik dalam perumusan masalah, penggunaan statistik dalam menganalisis data serta cara-cara perumusan generalisasi kesimpulan. B. Tempat Penelitian Tempat penelitian merupakan salah satu tempat yang menjadi wadah dalam melaksanakan penelitian. Penelitian ini dilaksanakan di SMP NEGERI 1 BULAKAMBA BREBES. SMP ini merupakan sekolah menengah pertama yang terletak area pabrik tebu yang sudah pailit. Berdasarkan lokasinya sumber belajar untuk siswa lebih banyak, seperti nilai histori lokasi dan lingkungan sekitar sekolah yang cukup potensial sebagai sumber belajar siswa. C. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian dalam penelitian kualitatif adalah peneliti itu sendiri. Karena peneliti secara langsung sebagai instrumen maka peneliti harus memiliki kesiapan ketika melakukan penelitian, mulai dari tahap persiapan sebelum ke tempat penelitian, ketika di tempat penelitian dan segala kebutuhan yang dibutuhkan ketika wawancara. Sebagai pedoman dalam melakukan penelitian maka digunakan: a. Pedoman Wawancara Yaitu sebagai acuan yang digunakan ketika melakukan wawancara, yang berisi pokok-pokok masalah yang akan menjadi bahan pembicaraan dan menetapkan pihak-pihak yang akan diwawancarai. Pedoman wawancara ini disusun sebelum melaksanakan wawacara. pedoman wawancara yang digunakan hanya pedoman wawancara untuk guru kelas yang di dalamnya mencakup (1) persiapan guru dalam implementasi pembelajaran tematik, (2) Pelaksanaan pembelajaran tematik, (3) sistem penilaian pembelajaran tematik, (4) faktor pendukung dan penghambat penerapan pemabelajaran tematik. b. Pedoman Observasi Yaitu sebagai acuan dalam melakukan observasi atau pengamatan langsung terhadap kasus, sehingga akan diperoleh apek-aspek yang diteliti secara langsung berdasarkan kepada pedoman observasi yang telah dipersiapkan. Peneliti menggunakan berbagai pedoman observasi yang berkaitan dengan pembelajaran tematik, yaitu: (1) pedoman observasi perencanaan pembelajaran, (2) pedoman observasi pelaksanaan

pembelajaran, (3) pedoman observasi pelaksanaan membuka dan menutup pembelajaran, (4) pedoman observasi pelaksanaan variasi stimulus pembelajaran, (5) pedoman observasi pelaksanaan keterampilan bertanya, (6) pedoman observasi memberikan penguatan, (7) pedoman observasi penilaian hasil belajar. c. Pedoman dokumentasi Pedoman ini disiapkan sebagai acuan dalam melakukan analisis terhadap dokumen-dokumen apa yang diperlukan, yang berhubungan

dengan pelaksanaan penelitian. Dokumentasi yang menjadi perhatian penulis dalam penelitian ini terdiri dari, SK Kepala Sekolah dan administrasi kelas. D. Sumber Data Sumber data dalam penelitian adalah subjek dari mana data diperoleh (Arikunto, 2002:107). Menurut Arikunto (2002:107), untuk mempermudah mengidentifikasi sumber data penulis mengklasifkasikannya menjadi tiga dengan huruf dengan p tingkatan dari bahasa Inggris, yaitu: p = person, sumber data berupa orang p = place, sumber data berupa tempat p = paper, sumber data berupa simbol Data penelitian ini berasal dari : 1. Narasumber (informan) Narasumber (informan) penelitian adalah seseorang yang sangat penting, karena memiliki informasi (data) banyak mengenai objek yang sedang diteliti, dimintai informasi mengenai objek penelitian tersebut. Lazimnya informan atau narasumber penelitian ini ada dalam penelitian yang subjek penelitiannya berupa kasus (satu kesatuan unit), antara lain yang berupa lembaga atau organisasi atau institusi (pranata) sosial. Di antara sekian banyak informan tersebut, ada yang disebut narasumber kunci (key informan) adalah seorang ataupun beberapa orang, yaitu orang atau orang-orang yang paling banyak menguasai informasi (paling yang sedang diteliti tersebut. Narasumber dalam penelitian ini adalah guru kelas yang mengajar dengan menggunakan pendekatan pembelajaran tematik pada saat mengajar di kelas. Narasumber pada penelitian ini terdiri dari kepala sekolah, guru kelas, dan peserta didik. 2. Dokumen dan Arsip Dokumen merupakan bahan tertulis atau bahan yang berhubungan dengan suatu peristiwa atau aktifita tertentu, bisa berupa rekaman, tulisan, banyak tahu) mengenai objek

gambar, benda peningalan yang berkaitan dengan suatu aktivitas atau peristiwa tertentu atau arsip (catatan rekaman yang bersifat formal dan terencana). Namun keduanya dapat dinyatakan sebagai rekaman atau sesuatu yang berkaitan dengan suatu peristiwa tertentu, dan dapat secara baik dimanfaatkan sebagai sumber data dalam penelitian. Dokumen dan arsip yang akan dikaji dalam penelitian ini, antara lain dokumen silabus, RPP, dan penilaian. E. Teknik Pengumpulan Data Menurut Moh. Nazir, (2003), Pengumpulan data tidak lain dari suatu proses pengadaan data primer untuk keperluan penelitian. Pengumpulan data merupakan langkah yang amat penting dalam metode ilmiah, karena pada umumnya data yang dikumpulkan digunakan. Pengumpulan data adalah prosedur yang sistematis dan standar untuk memperoleh data yang diperlukan. Selalu ada hubungan antara metode mengumpulkan data dengan masalah penelitian yang ingin dipecahkan. Masalah membei arah dan mempengaruhi metode pengumpulan data. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan observasi langsung. 1. Wawancara Wawancara merupakan alat re-cheking atau pembuktian terhadap informasi atau keterangan yang diperoleh sebelumnya. Teknik wawancara yang digunakan dalam penelitian kualitatif adalah wawancara mendalam. Wawancara mendalam ( in-depth interview) adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dengan informan atau orang yang diwawancarai, dengan atau tanpa menggunakan pedoman ( guide) wawancara, di mana pewawancara dan informan terlibat dalam kehidupan sosial yang relatif lama. Wawancara dalam penelitian ini dilakukan langsung oleh peneliti kepada narasumber. Wawancara yang dilakukan bersifat tidak berstruktur.

Pada pelaksanaannya kegiatan wawancara mirip dengan informal (Nasution, 1996: Patonah, 2010), mengatakan bahwa:

percakapan

Wawancara dalam penelitian kualitatif naturalistik, khususnya bagi pemula, biasanya bersifat tak berstruktur, tujuan ini ialah memperoleh keterangan yang rinci dan mendalam mengenai pandangan orang lain. Denzim dalam Mulyana (2002:182) menjelaskan keuntungan wawancara tidak berstruktur yaitu: Wawancara tak berstruktur memungkinkan responden mengemukakan ara-cara untuk mendefinisikan dunia. Wawancara tak berstruktur

mengasumsikan bahwa tidak ada urutan tetapi pertanyaan sesuai untuk responden. Wawancara berstruktur memungkinkan responden membicarakan isu-isu penting yang terjadwal. wawancara dalam penelitian ini dilakukan kepada guru kelas yang menggunakan pendekatan Pembelajaran tematik pada saat melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas sehari-hari. Pedoman wawancara digunakan peneliti pada saat mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan implementasi pembelajaran tematik. 2. Dokumentasi Sejumlah besar fakta dan data tersimpan dalam bahan yang berbentuk dokumentasi. Sebagian besar data yang tersedia adalah berbentuk surat-surat, catatan harian, cenderamata, laporan, artefak, foto, dan sebagainya. Sifat utama data ini tak terbatas pada ruang dan waktu sehingga memberi peluang kepada peneliti untuk mengetahui hal-hal yang pernah terjadi di waktu silam. Secara detail bahan dokumenter terbagi beberapa macam, yaitu otobiografi, surat-surat pribadi, buku atau catatan harian, memorial, klipping, dokumen pemerintah atau swasta, data di server dan flashdisk, data tersimpan di website, dan lain-lain. 3. Observasi Beberapa informasi yang diperoleh dari hasil observasi adalah ruang (tempat), pelaku, kegiatan, objek, perbuatan, kejadian atau peristiwa, waktu, dan perasaan. Alasan peneliti melakukan observasi adalah untuk

menyajikan gambaran realistik perilaku atau kejadian, untuk menjawab pertanyaan, untuk membantu mengerti perilaku manusia, dan untuk evaluasi yaitu melakukan pengukuran terhadap aspek tertentu melakukan umpan balik terhadap pengukuran tersebut. Bungin (2007: 115) mengemukakan beberapa bentuk observasi yang dapat digunakan dalam penelitian kualitatif, yaitu observasi partisipasi, observasi tidak terstruktur, dan observasi kelompok tidak terstruktur. a. Observasi partisipasi ( participant observation) adalah metode pengumpulan data yang digunakan untuk menghimpun data penelitian melalui pengamatan dan pengindraan dimana observer atau peneliti benar-benar terlibat dalam keseharian responden. b. Observasi tidak berstruktur adalah observasi yang dilakukan tanpa menggunakan guide observasi. Pada observasi ini peneliti atau pengamat harus mampu mengembangkan daya pengamatannya dalam mengamati suatu objek. Observasi kelompok adalah observasi yang dilakukan secara berkelompok terhadap suatu atau beberapa objek sekaligus. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam observasi adalah topografi, jumlah dan durasi, intensitas atau kekuatan respon,stimulus kontrol (kondisi dimana perilaku muncul), dan kualitas perilaku. Teknik observasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan observasi langsung

nonpartisipatori, atau dengna pengamatan langsung tanpa melibatkan diri secara langsung pada kegiatan di lokasi penelitian. Pengamatan dilakukan secara tersembunyi ( covert) Nasution (1996:62) menjelaskan bahwa Observasi dengan pengamatan tersembunyi dengan tujuan untuk

memperoleh data yang valid dan reliable dan dapat dipercaya dan tidak dibuat-buat. Dalam melakukan observasi peneliti sangat memperhatikan halhal: (1) isi dari pengamatan, (2) ketepatan pengamatan, (3) hubungan antar pengamat. F. Teknik Analisis Data

Penelitian ini menggunakan teknik analisis data dengan menggunakan teknik studi kasus. Dimana langkah-langkah analisis data pada studi kasus, yaitu dilakukan dengan cara sebagai berikut: 1. Mengorganisir informasi. 2. Membaca keseluruhan informasi dan memberi kode. 3. Membuat suatu uraian terperinci mengenai kasus dan konteksnya. 4. Peneliti menetapkan pola dan mencari hubungan antara beberapa kategori. 5. Selanjutnya peneliti melakukan interpretasi dan mengembangkan generalisasi natural dari kasus baik untuk peneliti maupun untuk penerapannya pada kasus yang lain. 6. Menyajikan secara naratif.

G. Rencana Pengujian Keabsahan Pengujian keabsahan data yang diperoleh pada penelitian ini dengan cara triangulasi yang memanfaatkan sesuatu yang lain. Triangulasi ini merupakan teknik yang didasari pola pikir fonomenologi yang bersifat multiperspektif. Artinya untuk menarik kesimpulan yang mantap, diperlukan tidak hanya satu cara pandang. Dari beberapa cara pandang tersebut akan bisa dipertimbangkan beragam fenomena yang muncul, dan selanjutnya bisa ditarik kesimpulan yang lebih mantap dan lebih bisa diterima kebenarannya. Teknik triangulasi yang digunakan adalah triangulasi dengan sumber, yang berarti mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam penelitian kualitatif. Hal ini dilakukan dengan jalan: 1. Membandingkan data hasil wawancara terhadap subjek penelitian (informan utama) dengan data hasil wawancara dengan sumber informasi (informan) lain dalam penelitian. 2. Membandingkan data hasil wawancara dengan data hasil pengamatan.

3. Membandingkan data hasil wawancara dengan isi dokumen yang berkaitan engan penelitian. 4. Melakukan member check yaitu melakukan perbaikan jika ada kekeliruan dalam pengumpulan data/informasi atau menambah kekurangan, sehingga informasi dilaporkan sesuai dengan apa yang dimaksud informan.

BAB IV ORGANISASI PENELITIAN DAN JADWAL PENELITIAN A. Organisasi Penelitian Organisasi pelaksana penelitian ini adalah dari Mahasiswa Teknologi Pendidikan angkatan 2011 yang beranggotakan 4 orang. Adapun susunan organisasi tim peneliti : Ketua Bendahara Pengumpul data Tenaga administrasi : Arjun Fatah Amitha : Pradipta Dyah Palupi : Bagus Tri Wibowo : Titi Sulistyoningrum

B. Jadwal Penelitian penelitian akan berlangsung selama 8 bulan dan termasuk dalam pembuatan laporan akademi. Adapun jadwal penelitiannya sebagai berikut: Bulan No 1. 2. 3. Kegiatan Penyusunan proposal Diskusi proposal Memasuki lapangan, grand tour dan mini tour guestion, analisis domain 4. Menentukan fokus mini tour, analisis v 1 v v 2 3 4 5 6 7 8

taksonomi 5. Tahap selection, structural guestions, analisis komponensial 6. 7. 8. 9. 10. Menentukan tema, analisis tema Uji keabsahan data Membuat draf laporan penelitian Diskusi draf laporan Penyempurnaan laporan DAFTAR PUSTAKA v v v v v v v v v v v v

Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta :Rineka Cipta. Anita E.Woolfolk. (1995). Educational Psychology. USA: Allyn and Bacon Bungin, B. (2007). Penelitian Kualitatif. Prenada Media Group: Jakarta Munir. (2008). Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Djaja, Ermansjah. 2008. Memberantas Korupsi Bersama KPK. Jakarta: Sinar Grafika. Gagne, R.M., Briggs, L.J. dan Wager, W.W. (1992). Principles of Instructional Design (4th Edition.) Orlando: Holt, Rinehart and Winston. Inc. Hamalik, Oemar, Prof. Dr. (2007). Implementasi Kurikulum. Bandung: Yayasan Al-Madani Terpadu _________ (2006) Implementasi Kurikulum. Bandung : Universitas Pendidikan Indonesia

Miarso, Yusufhadi. (2011). Menyemai Benih Teknologi Pendidikan. Jakarta : Kencana Miller, J.P. & Seller, W. (1985) Curriculum Perspektive and Practice. New York: Longman Inc. Nazir, Moh. (2003). Metode Penelitian. Jakarta : Penerbit PT. Ghalia Indonesia

Prayitno dan Amti, E. (2004). Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta : Rineka Cipta Rusman. (2008). Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. ______ (2008) Manajemen kurikulum Seri Manajemen Sekolah Bermutu. Bandung: Mulia Mandiri Press. Sanjaya, Wina. (2008). Kurikulum berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi, Bandung: CV. Alfabeta. Sudrajat, Akhmad. (2008). Manajemen Kurikulum, Jakarta: Rajawali Press. _________ (2008). Sumber Belajar untuk Mengefektifkan Pembelajaran Siswa. [online]. Tersedia: http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/04/15/sumber-belajaruntuk mengefektifkan-pembelajaran-siswa/. [Tanggal diakses: 14 Januari 2009]