Anda di halaman 1dari 19

BAB II PENDEKATAN PEMECAHAN MASALAH

A. Gudang Bawang Merah Umumnya, para petani bawang menyimpan bawang merah dengan cara menyimpan bawang merah di gudang bawang merah yang memang merupakan gudang khusus penyimpanan bawang merah pada waktu pasca panen. Ada beberapa persyaratan yang harus terpenuhi dalam penyimpanan bawang merah di gudang penyimpanan antara lain sebagai berikut. 1. Kondisi dan perawatan hasil Bawang merah yang disimpan harus cukup kering, kira-kira kadar airnya 80-85%. Atau, pada waktu pengeringan beratnya susut kira-kira 15-20%. Sebelum disimpan, perlu dilakukan pensortiran atau memilah bawang merah yang rusak, terkena penyakit dan sebagainya harus dipisahkan dan tidak disimpan bersama-sama. 2. Keadaan ruang penyimpanan Ruang untuk gudang harus bersih, kering dan tidak lembab. Ventilasi baik dan cukup sehingga dapat menjaga ruangan tersebut agar tetap kering, tidak lembab, dan tidak gelap. Ventilasi tersebut juga harus dapat memberikan pergantian udara dalam ruang dengan baik. Konstruksinya sebaiknya harus sedemikian rupa sehingga mudah

dibersihkan setiap kali diperlukan dan tiap kali habis dipakai, terutama kemungkinan adanya umbi busuk yang tertinggal. 3. Suhu dan kelembaban ruangan Kelembaban dan suhu terlalu tinggi dapat menyebabkan

pembusukan umbi atau tumbuhnya tunas. Suhu yang baik untuk menyimpan bawang merah adalah 30o-34oC dan kelembaban 65-75%. Udara dalam gudang yang terlalu kering sehingga kelembabannya terlalu rendah, maka lantai gudang dapat dibasahi air atau gudang dihembuskan uap air. Sebaliknya, jika kelembaban terlalu tinggi, dapat dikurangi dengan menghembuskan zat higroskopis seperti CaCl2 atau dengan menempatkan batu kapur di lantai gudang (Singgih Wibowo, 2009:117). Gudang bawang yang di tunjukkan pada Gambar 1 merupakan gudang bawang yang masih sederhana, belum terdapat pengaturan suhu dan kelembaban sehingga masih tergantung pada suhu dan cuaca di luar gudang.

Gambar 1. Ikatan bawang merah yang disimpan dalam rak bertingkat di gudang penyimpanan. (Ir. Rahmat Rukmana 1994:51)

Membangun ruangan khusus untuk gudang bawang merah sebaiknya dindingnya terbuat dari bahan yang sekaligus dapat berfungsi sebagai isolator, misalnya papan kayu. Lantai gudang juga dapat terbuat dari kayu, dengan demikian suhu didalam gudang dapat dipertahankan tetap tinggi. Atapnya dapat menggunakan seng agar dapat menyerap panas lebih banyak. Letak gudang usahakan agar ditempatkan di tempat yang banyak menerima panas matahari, dapat juga dipasang beberapa bohlam listrik atau pemanas yang dimaksudkan mempertahankan suhu dalam ruangan agar tetap tinggi, yaitu sekitar 30-34oC. Rak-rak dapat dipasang di dalam gudang untuk menempatkan bawang merah yang akan disimpan. Bawang merah disimpan dalam bentuk ikatan. Pastikan bahwa ikatannya cukup erat. Ada juga yang memasukkannya dalam karung-karung plastik yang memiliki anyaman yang jarang. Bawangnya sendiri dalam bentuk tanpa ikatan dan bahkan ada yang dalam bentuk potongan tanpa daun. Bawang ini dipotong daunnya kira-kira 1-2 cm dari ujung umbi. Karung tersebut nantinya sekaligus dipakai untuk wadah dalam transportasi ke tempat penjualan. Penyimpanan dalam karung semacam ini ada kelemahannya, terutama untuk penyimpanan yang lama. Sebenarnya bawang merah yang disimpan ini masih hidup dan bernafas terus meskipun aktifitas hidupnya sangat rendah. Aktifitas hidupnya ini menghasilkan panas dan uap air, sehingga selama dalam tumpukan kemungkinan besar akan terbentuk embun yang membahayakan bawang itu sendiri. Penyimpan

10

bawang dengan mengunakan karung, sebaiknya sering dibuka dan dikeringkan di luar atau sebaiknya jangan menyimpan bawang merah di karung dalam waktu yang lama (Singgih Wibowo, 2009:118). Mengatasi permasalahan suhu di dalam gudang penyimpanan agar tetap stabil maka dibuatlah sebuah prototype sistem kendali suhu dan kelembaban ruangan. Prototype ini dipergunakan sebagai acuan untuk mendapatkan hasil yang lebih baik dari penyimpanan bawang merah.

B. Sensor Suhu dan Kelembaban 1. Suhu Suhu adalah besaran yang menyatakan derajat panas dingin suatu benda dan alat yang digunakan untuk mengukur suhu adalah thermometer. Indra peraba cenderung dipergunakan oleh masyarakat untuk mendeteksi suhu, tetapi adanya perkembangan teknologi maka diciptakanlah thermometer untuk mengukur suhu dengan valid. Skala suhu pada abad 17, terdapat 30 jenis skala yang membuat para ilmuan kebingungan. Hal ini memberikan inspirasi kepada Anders Celcius (1701-1744) sehingga pada tahun 1742 dia memperkenalkan skala yang digunakan sebagai pedoman pengukuran suhu. Skala ini diberi nama sesuai dengan namanya yaitu skala Celcius. Apabila benda didinginkan terus maka suhunya akan semakin dingin dan partikelnya akan berhenti bergerak, kondisi ini disebut kondisi nol mutlak. Skala celcius tidak bias menjawab kondisi ini maka Lord Kelvin (1842-1907)

11

menawarkan skala baru yang disebut dengan skala Kelvin. Skala ini dimulai dari 273oK ketika air membeku dan 373oK ketika air mendidih, sehingga nol mutlak sama dengan 0oK atau -273oC. selain skala tersebut, ada juga skala Reamur dan Fahrenheit. Skala Reamur air membeku pada suhu 0oR dan air mendidih pada suhu 80oR sedangkan pada skala Fahrenheit air membeku pada suhu 32oF dan air mendidih pada suhu 212oF (Ilmu Pengetahuan Alam kelas VII 2008:14). Skala pengukuran suhu yang digunakan di Indonesia adalah skala Celcius. Penelitian tentang suhu gudang bawang merah menggunakan rentang suhu 30oC-34oC. Rentang suhu ini merupakan suhu yang baik untuk penyimpanan bawang merah. 2. Kelembaban Kelembaban udara adalah kadar uap air yang ada di udara. Kelembaban udara merupakan bagian dari komponen iklim yang memiliki pengaruh terhadap lingkungan. Kelembaban udara di suatu tempat dapat berpengaruh terhadap semua aktifitas yang kita lakukan, terkhusus pada pertanian. Kelembaban udara relatif (Relative Humidity) adalah rasio antara tekanan uap air aktual pada temperature tertentu dengan tekanan uap air jenuh pada temperature tersebut. Pengertian lain dari Relative Humidity adalah perbandingan antara uap air yang terkandung dalam udara pada suatu waktu tertentu dengan jumlah uap air maksimal yang dapat ditampung oleh udara tersebut pada tekanan dan temperatur yang sama.

12

Konteks budidaya tanaman dalam ruang lingkup pertanian baik berupa budidaya tanaman pangan, perkebunan, ataupun budidaya tanaman holtikultura, kelembaban udara dipengaruhi dan mempengaruhi laju transpirasi tanaman. Kelembaban udara memiliki pengaruh pada proses transpirasi tanaman, tingginya laju transpirasi akan meningkatkan laju penyerapan air oleh akar hingga pada batas tertentu, namun jika terlalu tinggi melampaui laju penyerapan dan terjadi secara terus menerus akan menyebabkan tanaman mengering. Transpirasi adalah proses hilangnya air dalam bentuk uap air dari jaringan hidup tanaman yang terletak diatas permukaan tanah melewati stomata, lubang kutikula dan lentisel 80% air yang tertraspirasikan berjalan melewati lubang stomata. Kelembaban udara bersama dengan temperatur juga memiliki pengaruh terhadap proses pertumbuhan dan perkembangan hama dan penyakit. Hal ini terjadi karena, kondisi kelembaban dan temperature pada nilai tertentu merupakan nilai yang optimal bagi pertumbuhan dan perkembangan hama dan penyakit tanaman. Ada dua istilah kelembapan udara yaitu kelembapan tinggi dan kelembapan rendah. Kelembapan tinggi adalah jumlah uap air yang banyak di udara, sedangkan kelembapan rendah adalah jumlah uap air yang sedikit di udara. Kelembapan udara dapat dinyatakan sebagai kelembapan udara absolut, kelembapan nisbi (relatif), maupun defisit tekanan uap air.

13

Kelembapan absolut adalah kandungan uap air yang dapat dinyatakan dengan massa uap air atau tekanannya per satuan volume (kg/m3). Kelembapan nisbi (relatif) adalah perbandingan kandungan (tekanan) uap air actual dengan keadaan jenuhnya (g/kg). Defisit tekanan uap air adalah selisih antara tekanan uap jenuh dengan tekanan uap aktual. a. Kelembaban absolut Kelembapan absolut mendefinisikan massa dari uap air ada volume tertentu campuran udara atau gas, dan umumnya dilaporkan dalam gram per meter kubik (g/m3). b. Kelembapan spesifik Kelembapan spesifik adalah metode untuk mengukur jumlah uap air di udara dengan rasio terhadap uap air di udara kering. Kelembapan spesifik diekspresikan dalam rasio kilogram uap air, mw, per kilogram udara, ma. x = mw/ma c. Kelembaban relatif/nisbi Kelembapan Relatif/Nisbi yaitu perbandingan jumlah uap air di udara dengan yang terkandung di udara pada suhu yang sama. Kelembaban nisbi membandingkan antara kandungan/tekanan uap air aktual dengan keadaan jenuhnya atau pada kapasitas udara untuk menampung uap air. Suhu udara 270C, pada tiap-tiap 1m3 maksimal dapat memuat 25 gram uap air pada suhu yang sama ada 20 gram uap air, maka lembab udara pada waktu itu adalah sama. (1)

14

d.

Kerapatan Uap Air Massa uap air per satuan volume udara yang mengandung uap air tersebut.(kelembaban mutlak). v = mv /V (2)

v = kerapatan uap air (kg m-3) Mv= massa uap air (kg) pada volume udara sebesar V V = volume udara (m3)

Daerah lembab seperti di daerah tropis, v akan lebih tinggi daripada daerah temperatur yang relatif kering terutama pada musim dingin (winter). Pada musim dingin kapasitas udara untuk menampung uap air menjadi kecil. e. Tekanan Uap Air Hukum Gas Ideal: ea = n R T/V ea = Tekanan uap air (mb) R = Tetapan gas umum (8.3143 J K-1 mol -1) T = suhu mutlak (K) V = volume udara (m3) (3)

Jumlah mol adalah n = m/Mv dan Mv = 18.016 untuk uap (H2O), serta v = mv /V, maka berdasarkan persamaan di atas, maka tekanan uap ditentukan oleh kerapatan uap air (v) serta suhu udara (T).

15

f.

Kelembaban Spesifik Perbandingan antara massa uap air (mv), dengan massa udara lembab, yaitu massa udara kering (md) bersama-sama uap air tersebut (mv). q = m/(md + mv) Nisbah campuran (r) (mixing ratio), (4) massa uap air

dibandingkan dengan massa udara kering. 3. Sensor SHT11 SHT 11 adalah sebuah single chip sensor suhu dan kelembaban relatif dengan multi modul sensor yang outputnya telah dikalibrasikan secara digital. Kapasitif polimer terdapat di bagian dalam sensor sebagai elemen untuk sensor kelembaban relatif. Sebuah pita regangan yang digunakan sebagai sensor temperatur output kedua sensor digabungkan dan dihubungkan pada ADC 14 bit dan sebuah interface serial pada satu chip yang sama. Sensor ini menghasilkan sinyal keluaran yang baik dengan waktu respon yang cepat. SHT 11 dikalibrasi pada ruangan dengan kelembaban yang teliti menggunakan hygrometer sebagai referensinya. Koefisien kalibrasinya telah di programkan kedalam OTP memory. Koefisien tersebut akan digunakan untuk mengkalibrasi keluaran dari sensor selama proses pengukuran. Pengintegrasian sistem menggunakan 2-wire serial interface dan regulasi tegangan internal. Ukurannya yang kecil dan konsumsi daya yang rendah membuat sensor ini adalah pilihan yang

16

tepat, bahkan untuk aplikasi yang paling menuntut. Piranti SHT 11 terdapat suatu surface-mountable LLC (Leadless Chip Carrier) yang berfungsi sebagai suatu pluggable 4-pin single-in-line untuk jalur data dan clock (Datasheet humidity sensor SHT11). Penjelasan tentang SHT11 ditunjukkan pada Gambar 2, 3, 4 dan 5. Gambar-gambar tersebut merupakan blok digram sistem dan kinerja dari sensor SHT11.

Gambar 2. Blok diagram pada chip SHT11 (Sumber : http://www.sensirion.com/en/technology/humidity/)

Spesifikasi SHT11: a. Range Suhu : -40oC hingga +123,8oC (-40oF hingga +254,9oF) b. c. d. e. Akurasi Suhu Range Kelembaban Keluaran Konsumsi Daya : +0,5oC pada 25oC : 0 hingga 100% RH : Digital (2-wire interface) : 80W

17

Gambar 3. Batas maksimal akurasi kelembaban (Sumber : http://www.sensirion.com/en/products/humiditytemperature/humidity-sensor-sht11/)

Gambar 4. Batas maksimal akurasi suhu (Sumber : http://www.sensirion.com/en/products/humiditytemperature/humidity-sensor-sht11/)

Spesifikasi Interface:

Gambar 5. Spesifikasi SHT11 (Sumber : Datasheet humidity sensor SHT11)

18

a.

VDD dan GND SHT11 membutuhkan tegangan masukan yang berkisar antara 2,4V samapai dengan 5,5V, tetapi direkomendasikan tegangan masukan untuk sensor SHT11 adalah 3,3V.

b.

SCK (Serial Clock Input) SCK (Serial Clock Input) digunakan untuk mensingkronkan komunikasi antara sensor dengan mikrokontroler. Antarmuka terdiri dari logika statik penuh maka tidak ada frekuensi SCK minimum.

c.

DATA (Serial Data) DATA (Serial Data) dipergunakan untuk mengirimkan data yang terbaca oleh sensor ke mikrokontroler.

C. Mikrokontroler AVR ATMega8 AVR merupakan salah satu jenis mikrokontroler yang di dalamnya terdapat bebagai macam fungsi. Perbedaan dengan mikro yang pada umumnya digunakan seperti MCS51 adalah pada AVR tidak perlu menggunakan osilator eksternal karena di dalamnya sudah terdapat osilator internal. Kelebihan dari AVR adalah memiliki Power-On Reset, yaitu tidak perlu adanya tombol reset dari luar karena cukup dengan mematikan suber daya, maka secara langsung AVR akan melakukan reset. Beberapa jenis AVR terdapat beberapa fungsi khusus seperti ADC, EEPROM sejitar 128 bytes sampai dengan 512 bytes.

19

Penelitian ini menggunakan AVR ATMega8, perbedaannya dengan AVR ATMega8L hanyalah terletak pada besarnya tegangan yang diperlukan untuk bekerja. Untuk ATMega8 tipe L dapat bekerja pada tegangan antara 2,7V-5,5V sedangkan untuk ATMega8 hanya dapat bekerja pada tegangan 4,5V-5,5V. berikut adalah gambar dari blok digram untuk ATMega8. Pin-pin ATMega8 ditunjukkan pada Gambar 6.

Gambar 6. Konsfigurasi Pin ATMega8 (Sumber : Datasheet ATMega8)

20

Prinsip kerja dari ATMega8 ditunjukkan pada Gambar 7 yang merupakan diagram blok mikrokontroler.

Gambar 7. Blok Diagram ATMega8 (Sumber : Datasheet ATMega8)

21

ATMega memiliki 28 pin yang masing-masing pinnya memiliki fungsi yang berbeda-beda baik sebagai port ataupun sebagai fungsi lain. Berikut akan dijelaskan tentang kegunaan dari masing-masing kaki pada ATMega8. 1. VCC VCC merupakan sumber tegangan untuk digital. 2. GND GND merupakan ground untuk semua komponen yang

membutuhkan grounding. 3. Port B Port B terdapat XTAL1, XTAL2, TOSC1, TOSC2. Jumlah port B adalah 8 pin mulai dari pin B.0 sampai B.7. tiap pin dapat digunakan sebagai masukan dan juga keluaran. Port B merupakan sebuah 8-bit directional I/O port dengan internal pull-up resistor. Sebagai masukan, pin-pin yang terdapat pada port B yang secara eksternal diturunkan, maka akan mengeluarkan arus jika pull-up resistor diaktifkan. Jika ingin menggunakan tambahan Kristal, maka cukup dengan menghubungkan kaki dari kristal ke kaki pada pin port B. namun jika tidak digunakan, maka cukup dibiarkan saja. Penggunaan kegunaan dari masing-masing kaki ditentukan dari clock fuse setting-nya. 4. Port C Port C merupakan sebuah 7-bit bi-directional I/O port yang di dalam masing-masing pin terdapat pull-up resistor. Jumlah pinnya hanya 7 buah mulai dari pin C.0 sampai dengan pin C.6. sebagai keluaran, port

22

C memiliki karakteristik yang sama dalam hal kemampuan menyerap arus (sink) ataupun mengeluarkan arus (source). 5. Reset / PC6 PC6 akan berfungsi sebagai pin I/O apabila RSTDISBL fuse diprogram, untuk diperhatikan juga bahwa pin ini memiliki karakteristik yang berbeda dengan pin-pin yang terdapat pada port C. Pin ini akan berfungsi sebagai input reset jika RSTDISBL fuse tidak deprogram. PC6 akan menghasilkan suatu kondisi reset meskipun clock-nya tidak bekerja apabila level tegangan yang masuk ke pin ini rendah dan pulsa yang ada lebih pendek dari pulsa minimum. 6. Port D Port D merupakan 8-bit bi-directional I/O dengan internal pull-up resistor. Fungsi dari port ini sama dengan prot-port yang lain, hanya saja pada port ini tidak terdapat kegunaan-kegunaan yang lain. Port ini hanya berfungsi sebagai masukan dan keluaran saja atau biasa disebut dengan I/O. 7. AVCC Pin ini memiliki fungsi sebagai sumber tegangan untuk ADC. Pin ini harus dihubungkan secara terpisah dengan VCC karena pin ini digunakan untuk analog saja. AVCC disarankan untuk menghubungkan secara terpisah dengan VCC bahkan jika ADC pada AVR tidak digunakan. Menghubungkan AVCC adalah melewati low-pass filter setelah itu dihubungkan dengan VCC.

23

8.

AREF AREF merupakan pin referensi analog jika mengunakan ADC. Status register mengandung beberapa informasi mengenai hasil dari

kebanyakan hasil eksekusi intruksi aritmatik. Informasi ini dapat digunakan untuk altering arus program sebagai kegunaan untuk meningkatkan performa pengoperasian. Register ini di-update seteleh semua operasi ALU (Arithmatic Logic Unit), seperti yang telah tertulis dalam datasheet khusunya pada bagian instruction set service. Register ini tidak secara otomatis tersimpan ketika memasuki sebuah rutin interupsi dan juga ketika menjalankan sebuah perintah setelah kembali dari interupsi, namun dapat membuang kebutuhan penggunaan instruksi perbandingan yang telah didedikasikan serta dapat menghasilkan peningkatan dalam hal kecepatan dan kode yang lebih sederhana dan singkat. Penyimpanan tersebut harus dilakukan melalui perangkat lunak (software). Status register pada ATMega8 yang ditunjukkan pada Gambar 8 menjelaskan masing-masing fungsi dari register tersebut.

Gambar 8. Status Register ATMega8 (Sumber : Datasheet ATMega8) 1. Bit 7 (I) Bit 7 (I) merupakan bit global interrupt enable. Bit ini harus di set agar semua perintah interupsi dapat dijalankan. Jika bit ini di reset, maka

24

semua perintah interupsi baik yang individual maupun yang secara umum akan diabaikan. Bit 7 (I) akan dibersihkan oleh hardware setelah sebuah interupsi dijalankan dan akan di set kembali oleh perintah RETI. Bit ini juga dapat di set dan di reset melalui aplikasi dengan intruksi SEI dan CLI. 2. Bit 6 (T) Bit 6 (T) erupakan bit copy storage. Instruksi bit copy instructions BLD (bit Load) and BST (bit Store) mengunakan bit ini sebagai asal atau tujuan untuk bit yang telah dioperasikan. Sebuah bit dari sebuah register dalam register file dapat disalin ke dalam bit ini dengan menggunakan intruksi BST, dan sebuah bit di dalam bit ini dapat disalin ke dalam sebuah bit di dalam register pada register file dengan menggunakan perintah BLD. 3. Bit 5 (H) Bit 5 (H) merupakan bit half carry flag. Bit ini menandakan sebuah half carry dalam beberapa operasi aritmatika. Bit ini berfungsi dalam aritmatik BCD 4. Bit 4 (S) Bit 4 (S) merupakan sign bit. Bit ini selalu merupakan sebuah eksklusif diantara negative flag (N) dan twos complement overflow flag (V). S= N + V.

25

5.

Bit 3 (V) Bit 3 (V) merupakan twos complement overflow flag. Bit ini menyediakan fungsi artimatika dua komplemen.

6.

Bit 2 (N) Bit 2 (N) merupakan bit negative flag. Bit ini mengindikasikan sebuah hasil negatif di dalam sebuah fungsi logika atau aritmatika.

7.

Bit 1 (Z) Bit 1 (Z) merupakan bit zero flag. Bit ini mengindikansikan sebuah hasil nol 0 dalam sebuah fungsi aritmatika atau logika.

8.

Bit 0 (C) Bit 0 (C) merupakan bit carry flag. Bit ini mengindikasikan sebuah carry atau sisa dalam sebuah fungsi aritmatika atau logika.