Anda di halaman 1dari 7

Orifice atau Restriction Orifice ?

From: Wibisono, Nugroho Pak Budhi, Mohon diupload ke milis Migas Indonesia, siapa tahu bermanfaat buat rekan-rekan. Artikel ini saya buat karena diilhami oleh diskusi seputar orifice dan restriction orifice dari rekan-rekan yang sudah bekerja di industri Migas. Semoga bermanfaat. Lihat Attachment :

Orifice atau Restriction Orifice.pdf

Pertanyaan : Dirman Artib


Pak Wibisono, Terima kasih atas artikel yang sederhana tetapi sangat komunikatif dan tentunya berguna. Anyway, Biasanya setelah membaca maka terlahir pertanyaan seputar topik artikel. Sebuah Control Valve -CV (PCV, FCV ?) fungsinya adalah mereduksi tekanan, sehingga tekanan di downstream akan berkurang. Apabila RO bertujuan untuk mengurangi beban CV : 1. Kenapa tidak dipasang pada downstream -nya CV ? 2. Apa ada perbedaan jika dipasang pada upstream dan downstream CV ? 3. (Kalau benar), apakah sebenarnya dengan memasang RO akan bias menghemat biaya CV sehingga dengan rasio reduksi lebih kecil maka butuh CV dengan harga lebih rendah, benarkah ? 4. Apakah profile tekanan aliran untuk RO (spt. digambarkan) akan sama dengan CV ?

Tanggapan 1 : Wibisono, Nugroho


Pak Dirman, Terima kasih kembali, mudah-mudahan memang berguna adanya. Sebelumnya saya mohon bantuan pak Budhi untuk meng-upload artikel revisi saya dibawah. Ada beberapa komentar via japri mengenai gambar profil tekanan yang semestinya menggambarkan terjadinya recovery pressure setelah melewati restriksi. Memang benar terjadi recovery pressure setelah melewati lubang yang menyempit dan karena kesalahan non-teknis (tangan saya sampe kaku ngegambar profil pressure tsb, maklum bukan jago gambar) ya gambarnya seolah-olah menunjukkan tidak terjadi recovery pressure, dengan demikian saya koreksi. Sebenarnya artikel ini lebih menunjukkan perbedaan terminologi Orifice dan Restriction Orifice serta aplikasinya, but.. Questions are always welcome... Mengenai pertanyaan pak Dirman, saya akan coba jawab dan mudah-mudahan rekan lain bersedia mengkoreksi saya jika ada kesalahan:

1&2. Pertanyaan 1&2 saling berhubungan, oleh sebab itu saya coba ringkas saja. Mungkin maksud pertanyaan pak Dirman adalah "kenapa tidak dipasang di UPSTREAM-nya CV?" karena seperti kita lihat digambar tsb, RO dipasang di downstream dari control valve. Dan pertanyaan selanjutnya adalah "Apa ada perbedaan jika dipasang pada upstream dan downstream CV ?". Penambahan RO tersebut asal muasalnya adalah dari pemilihan control valve, dimana terjadi pressure drop yang sangat tinggi pada control valve dan ketika itu masih belum terpikirkan untuk menambahkan RO. Ada beberapa pertimbangan ketika menseleksi control valve ketika itu: A. Pada pressure drop yang tinggi berarti dapat terjadi erosi, abrasi atau cavitation pada trim-nya control valve. B. Pada pressure drop yang tinggi hydrate/liquid droplets/material solid memungkinkan untuk terbentuk didalam valve (tergantung dari fluida dan material lain yg terikut). C. Pressure drop yang tinggi akan menyebabkan terjadinya outlet temperature dari control valve sangat rendah (penurunan pressure biasanya diikuti oleh penurunan temperature = Joule-Thomson effect), sehingga pada beberapa material valve dapat menjadi brittle/getas yang bisa mengakibatkan pecahnya valve E. Kecepatan tinggi akibat pressure drop yang tinggi dapat mengerosi downstream piping. F. Pressure drop yang tinggi berarti jumlah energi yang didisipasikan dalam turbulensi adalah cukup besar dan menyebabkan noise (bising). Akhirnya terpikirkan untuk memanfaatkan RO dalam rangka mengurangi pressure drop pada control valve. Jika RO dipasang di upstream dari control valve, kita menghindarkan terjadinya bubble atau hal buruk lainnya yang mungkin terjadi setelah fluida dicekik oleh RO dan hal ini akan memiliki impact pada control valve yg dipasang di downstream dari RO. Pilihan lain adalah RO dipasang pada downstream dari control valve. Konfigurasi ini mengakibatkan RO tersebut akan beroperasi pada tekanan yang lebih rendah dan pressure drop yang ditimbulkan oleh RO juga tidak terlalu besar sehingga efek buruk yang mungkin terjadi juga terkurangi, maka kita bisa men-sizing control valve pada pressure drop yang tidak terlalu tinggi. Begitulah ceritanya kira-kira... 3. Setelah saya coba kalkulasi sejenak dalam kondisi yang sama dan untuk kasus tertentu (kasus lain bisa jadi berbeda), flow coefficient (Cv) dari valve dan stroke force dari actuator ternyata sama saja. Mungkin untuk penghematan biaya secara tidak langsung sih, kita tidak perlu mengganti control valve yang rusak akibat salah sizing control valve. 4. Pada umumnya profil pressure antara RO dan control valve adalah sama. Mohon koreksinya dari rekan-rekan sekalian jika dirasa ada kesalahan. Terima kasih.

Tanggapan 2 : Crootth Crootth


Good Job Weby! Ciyeeehhh udah mulai jago nih.... Menulis lagi yah ntarannya...

dalam pandangan saya sebagai seorang yang ABG (Awam Banget Gitudeyhhh), sebaiknya ada beberapa point yang perlu Weby tambahkan, 1. Tata letak misalnya untuk pemasangan Orifice setahu saya kan ada aturannya berapa kali diameter pipa gitu untuk mendapatkan pattern flow yang diinginkan. Juga untuk RO, setahu saya pas melakukan komisioning, jika meletakkan RO terlalu dekat dengan valvenya dapat mengakibatkan vibrasi, juga abrasi dan fluid hammer pada downstream elbow. Bagaimana jarak yang aman untuk peletakan RO ini? 2. Mode Pemasangan Hal yang lain, bolehkah kita meletakkan dua RO dalam mode seri (tentunya jangan bilang ada masalah beaya yah, udah pasti pooo) ? berapa persen penurunan tekanan masing2 untuk RO pertama dan kedua? 3. Material Apakah material yang paling sesuai untuk dipasang sehingga perbedaan temperatur yang tinggi (dalam keadaan tertentu bisa terjadi iceing dan freezing) antara upstream dan downtream RO tidak menimbulkan loosening pada flanges tempat RO nangkring ? Apakah ada pengaruh iceing dan freezing pada kecenderungan terjadinya SCC pada RO? (di mana kadang temperatur di upstream RO bisa mencapai 160 degF) Masalah lain apa yang berkaitan dengan material RO ini? Mungkin itu saja dulu Web... Sekali lagi... Good Job! Keep writing YGD... Yaaahh Gitu Deyyyhhh..

Tanggapan 3 : Wibisono, Nugroho


Helo mas Garrrroooong... hehehe.. Thanks buat masukannya dan dalam pandangan saya sebagai seorang yang juga ABG (Awam Banggeud Gitulooch) adalah sbb: 1. Vibrasi? Aku rasa kalau RO diletakkan dimanapun kalau pressure drop-nya tinggi, vibrasi ya tetap terjadi. Problemnya harusnya ditilik menyeluruh dari sizing control valve-nya dan/atau sizing dari RO-nya serta sedikit tinjauan termodinamika fluidanya (wuihhh bahasaku keren bangettt yoo) supaya hal-hal yang kamu sebutkan tidak terjadi/dikurangi efeknya. Mengenai Orifice untuk flowmeter memang ada aturan berapa panjang pipa di upstream dan panjang pipa di downstream dari Orifice supaya mendapatkan flow yang fully developed, tetapi kok ya jadi panjang ya artikelnya, nanti banyak yang males baca artikelnya Rong. 2. RO dalam mode seri. Bisa saja diletakkan seri. Ini mengurangi vibrasi yang mungkin terjadi karena pressure drop yang terjadi di RO terlalu besar. Kebetulan aku belum pernah ngerancang RO dalam mode seri, Cuma pernah dengar cerita bahwa RO yang mempunyai pressure drop terlalu tinggi membuat pipanya meliuk-liuk seperti ular dan katanya sih solusinya adalah merancang RO dalam mode seri supaya penurunan pressure-nya terjadi secara bertahap. Perlu diingat, (ini menurut bisikan dari teman saya itu) bahwa fungsi utama RO adalah limiting flow. Fungsi limiting pressure pada hakekatnya merupakan konsekuensi dari relasi antara pressure drop dan flowrate. Fenomena choked flow sendiri adalah terjadinya mass flowrate yang konstan meskipun downstream pressure-nya menurun akibat sonic velocity.

3. Biasanya plat RO ini terbuat dari material 316SS, untuk bahan lain saya belum pernah pengalaman pakainya, mungkin rekan-rekan lain ada yang bisa cerita. Masalah lain? Ada sih.. Masalahnya yaitu disaat suatu proyek membutuhkan RO dengan spesifikasi A, ternyata RO yang dating spesifikasi X, manajer proyek jadi pusing karena delivery-nya RO berminggu-minggu, deadline commissioning sudah mepet dan akhirnya RO-nya difabrikasi sendiri dilapangan pakai orifice plate bekas... hehehe... just kidding.. Ojo serius-serius reek... Mohon koreksinya... Terima kasih.

Tanggapan 4 : agus priyanto


Instr) Orifice atau Restriction Orifice?Salam, Kebetulan sekali Pak Wibisono mengirim artike ttg Restriction Orifice, saya sangat awam dgn yg namanya RO jadi mohon koreksi.. Apbila saya mengatakan RO berfungsi juga sebagai "Reducing Noise" apakah itu bisa dibenarkan??? ditempat saya bekerja ada beberapa line yg mengunakan "Series Restriction Orifice" dan itu saya temukan di line menuju silencer (line buangan) SRO merupakn RO yang bertingkat, artinya dlm satu RO itu terdapat multi plate; 1. dalam "SRO" itu terdapat 2, 3 ,4 plate yang berjajar dengan jarak tertentu, dan setiap plate merupakan multihole dengan jumlah hole antara plate pertama, kedua, ketiga dan plate terakhir tidak sama ( kasus di tmpt saya bkrja) 2. Jarak pitch antara ke-4 plate juga tidak sama, bisa juga sama tergantung kebutuhan penurunan press yg diinginkan 3. triangular patern (sudut antar multi hole sebsar 30 derajat) 4. dirangkai dalam line setelah Control Valve tapi dalam kasus ini saya melihatnya SRO malah berfungsi sebagai "Knalpot" yg dipergunakan pada silencer buangan Medium steam 42 kg. mohon pencerahan

Tanggapan 5 : Wibisono, Nugroho


Dear Pak Agus, Kebetulan saya juga orang awam pak, jadi kalau ada salah-salah mohon maaf lho. Saya ulangi dari email saya sebelum ini : bahwa sejatinya fungsi utama RO adalah limiting flow. Fungsi limiting pressure pada hakekatnya merupakan konsekuensi dari relasi antara pressure drop dan flowrate. Fenomena choked flow sendiri adalah terjadinya mass flowrate yang konstan meskipun downstream pressure-nya menurun akibat sonic velocity. Saya pernah melihat brosur vendor instrumentasi untuk flowmeter bahwa salah satu produk orifice-nya adalah untuk mereduksi pressure tetapi dengan noise yang

ditimbulkan masih dalam ambang batas, caranya adalah membuat beberapa lubang (multi hole) pada satu plate. Ada juga vendor lain yang mempunyai aplikasi yang mirip, bentuknya serupa (multi hole) tetapi aplikasinya untuk pengukuran aliran dan mampu mengurangi ukuran dari straight run, cocok untuk metering skid yang limited space (didesain dan aplikasikan oleh perusahaan Shell). Serupa tapi tak sama toh.. Mengenai pemasangan RO seri, besar kemungkinannya untuk mengurangi pressure secara bertahap (seperti dalam emailnya pak Garong alias Darmawan) supaya tidak terjadi vibrasi yang parah akibat turbulensi fluida setelah mengalami pressure drop yang cukup besar. Konfigurasi SRO yang bapak deskripsikan cukup unik (belum pernah saya temui) dan kemungkinan bagaimana SRO tersebut diletakkan, besar ukuran bore-nya serta bagaimana sudut antar hole dibuat, saya kira vendor dari SRO itu punya kalkulasi tersendiri. Mohon koreksinya lhoo.. Terima kasih.

Tanggapan 6 : agus priyanto


salam, memang benar pak Wibi.. memang jarang sekali kita menemui jenis Restriction Orifice spt yang saya deskripsikan... untuk besar bore tergantung pada permintaan dari Teknik proses, tetapi biasanya untuk satu rangkaian SRO holenya berdiameter sama, (1/2", 3/4", 1" dsb) yang kita mainkan disini adalah Pitch-nya dalam setiap plate mempy jumlah hole yg berbeda2, dengan jumlah hole semakin banyak untuk plate ke-2, ke-3, ke-4. sedanhkan untuk anglenya center untuk tiga hole membentuk segitiga sama sisi, jarak pitch yg berbeda bertujuan untuk penyebaran hole yang merata pada plate dengan sudut 60 derajat (maaf bukan 30 derajat) Setidaknya itu contoh SRO yang pernah saya lihat dari "M.W. Kellog Comp" yang terpasang pada line pipe 6" dengan Orifice run 12" Mungkin benar juga bahwa pemasngn secara series untuk menggurngi delta P secara bertahap... Satu lagi pak, kalau biasanya Orifice ini menjadi scope org instrument, tapi kok Restriction Orificce ini jadi csopenya org Mechanical?/????/ share ilmunya ya.. ;-p

Tanggapan 7 : Wibisono, Nugroho


Dear all, Mohon maaf, mungkin kalimat saya dalam email sebelumnya agak rancu karena keburu2 nulisnya. Yang betul adalah : "Jika RO dipasang di upstream dari control valve, ada kemungkinan terjadinya bubble atau hal buruk lainnya yang mungkin terjadi setelah fluida dicekik RO dan hal ini akan memiliki impact pada control valve yang dipasang di downstream dari RO, yang mana hal ini dicoba untuk dihindari." Terima kasih.

Tanggapan 8 : Dirman Artib

Apakah "Bubble" yg dimaksud adalah indikasi terjadinya fenomena kavitasi ?

Tanggapan 9 : cahyo@migas-indonesia.com
Dear Weby, saya melihat artikel ini harus ada yang diluruskan. Yaitu bahwa RO yang digambarkan Mas Weby bukanlah untuk mereduksi tekanan. Perhatikan gambar pertama anda. Jika RO-nya dilepas, dan BDV tsb terbuka, by fluid mechanics rule, maka tekanannya di sana juga akan mengikuti tekanan di flare system, plus tentu saja ada kenaikan di profil hilang tekannya mengingat adanya rush flow yang banyak. Pemasangan RO di downstream BDV pada umumnya dilakukan atas nasehat study overpressure protection serta blowdown study, agar supaya flare capacity- nya tidak terlewati. Di gambar kedua, jika RO akan digunakan sebagai "penolong" control valve dalam rangka mengurangi tekanan, menurut saya malah berbahaya karena sejatinya sebuah control valve harus menanggung beban hilang tekan agar dapat bekerja dengan baik. Jika tidak, controlabilitinya akan jelek. Kalau boleh nebak, jangan2 dipasangnya RO di downstream control valve tersebut adalah untuk membatasi flow yang masuk ke separator kalau PCV-nya stuck dan wide open. Agar supaya PSV di vessel tsb masih sanggup menghandle-nya. LAgi- lagi pemasangan RO di sini di govern oleh overpressure protection analysis. Pemasangan RO sebagai penolong control valve, kalau bisa adalah pilihan terakhir. Bahkan, dia bisa juga dipasang di upstream PSV untuk mengurangi flow yang masuk ke PSV (karena PSV existing ini kegedean). Tetapi, ada perhatian khusus yang harus diberikan. Misalnya, RO-nya tidak boleh di pasang di downstream PSV, harus di cek hilang tekannya agar tidak melebihi 3% setting, dan bla..bla.

Tanggapan 10 : Arief Rahman Thanura


Cahyo, Saya hanya ingin menambahkan beberapa hal. 1. Bahwa sejatinya fungsi Restriction Orifice adalah LIMITING FLOW. Cahyo benar bahwa aplikasi di downstream BDV adalah dalam rangka limiting flow untuk mengurangi load flare existing plant kami. 2. Untuk aplikasi di downstream control valve, pada dasarnya digunakan prinsip/korelasi bahwa untuk flow rate tertentu dan Bore size tertentu terdapat Differential tertentu. Total Differential Pressure yang ada di share antara control valve dan Restriction Orifice. Dengan share DP diharapkan efek vibrasi tidak begitu besar akibat abrupt DP yang terlalu besar di satu device. Memang bisa sih memakai special control valve, tapi karena aplikasinya tidak untuk critical process (Recycle line Reciprocate compressor) makanya pendekatan ini yang dipakai.

Tanggapan 11 : Wibisono, Nugroho

Pak Cahyo/Pak Arief, Terima kasih atas koreksi dan komentarnya sehingga semakin memperkaya wawasan saya. 1. Sudah terjawab oleh pak Arief. 2. Betul pak Cahyo. Sesuai dengan koreksi pak dari pak Arief, bahwa sebenarnya pemasangan RO didownstream control valve asal muasalnya dari pertimbangan bahwa di control valve dimana akan terjadi differential pressure yang cukup tinggi (pada awalnya belum dipertimbangkan akan digunakan RO). Sizing control valve dalam kondisi ini tidak disukai karena akan berpotensi menimbulkan hal-hal buruk (noise dan perubahan fasa mungkin terjadi). Itulah sebabnya dipasang RO untuk mengurangi DP dan istilah yang dipakai pak Arief menggambarkannya sebagai "share DP" antara control valve dengan RO adalah lebih tepat. Seingat saya, dalam kasus itu RO meng-handle sekitar 10% dari total DP yang diharapkan, jadi control valve yang lebih banyak menanggung beban hilang tekan disini. Terima kasih atas koreksi dan komentarnya.