Anda di halaman 1dari 13

Kuli Tinta Dalam Desakan Jakarta Adaptasi dari rural ke urban

Ratu Selvi Agnesia 1206191346 Pascasarjana Antropologi 2012

Abstrak
Perkembangan profesi wartawan yang akrab disapa kuli tinta dari waktu ke waktu mengimplikasikan perubahan pada keberlangsungan media di masa kini hingga pola pikir masyarakat. Wartawan merupakan salah satu aktor utama dalam relasi kekuasaan ilmu pengetahuan karena secara eksplisit menyampaikan informasi pada khalayak publik. Disinilah letak profesi wartawan yang secara krusial sebagai panglima masyarakat dalam garda terdepan. Dibalik hasil siaran tertulis/visual dari seorang wartawan, banyak yang tidak mengetahui keberlangsungan pola kerja mereka untuk mendapatkan sebuah berita yang selalu berhubungan dengan tengat waktu deadline. Khususnya pola kerja mereka diantara mobilitas Jakarta yang padat. Tulisan ini ingin memaparkan kasus wartawan yang berasal dari luar Jakarta yang melakukan urbanisasi dan harus dihadapkan pada kondisi Jakarta sebagai kota yang urban. Dalam ranah antropologi yang mereka lakukan adalah adaptasi. Pertama antara diri sebagai individu dengan pola kerja dan kedua, adaptasi dengan lingkungan Jakarta karena setiap hari wartawan selalu bergesekan dengan kondisi di Jakarta dalam bentuk liputan lapangan yang pada akhirnya menuntut mereka untuk melakukan strategi adaptasi. Adaptasi dari para wartawan yang berasal dari daerah dan memutuskan tinggal dan bekerja di Jakarta menimbulkan perubahan pada pola pikir, tingkah laku, kondisi fisik. Dan perubahan ekonomi dan jaringan yang secara garis besarnya disebut kebudayaan. Adaptasi merupakan representasi dari evolusi. Di Jakarta, sebagai kota yang masif urbanisasi layaknya sebagai rimba berlangsung evolusi dalam seleksi alam menguji ketahanan seorang wartawan sebagai manusia yang berhadapan dengan kondisi urban. Keywords: adaptasi, wartawan, urbanisasi, survive, strategi kebudayaan, kekuasaan informasi

Pengantar
Wartawan Dari Rural Ke Urban Definisi Wartawan Kuli tinta, itulah julukan yang dilabelkan pada profesi wartawan. Kuli identik dengan pekerjaan yang menuntut fisik lebih keras, sedangkan tinta merupakan metafora dari sebuah tulisan (berita, artikel, feature). Sehingga makna dari kuli tinta adalah profesi yang menuntut kerja fisik (liputan lapangan) sekaligus kerja otak (membuat hasil liputan) untuk menghasilkan laporan tulisan yang merepresentasikan isu dan fenomena sosial yang tengah update di masyarakat untuk masyarakat pula melalui media (koran, televisi, radio, cyber dan lain-lain). Dalam Undang-Undang No. 11 Tahun 1996 Pasal 1 dan 3 juga dengan jelas disebutkan bahwa: "Kewartawanan ialah pekerjaan/ kegiatan/ usaha yang berhubungan dengan pengumpulan, pengolahan dan penyiaran dalam bentuk fakta, pendapat, ulasan, gambar-gambar dan lain-lain sebagainya untuk perusahaan, radio, televisi dan film" Kuli tinta atau wartawan bekerja di ranah jurnalistik. Jurnalistik adalah sebuah wadah bagi dunia kewartawanan, secara meluas pengertian jurnalistik sebagai bidang yang menaungi wartawan adalah: Journalism: the profession of gathering, writing, editing, publishing news, as for the newspaper and other print and broadcast media. Journal: a daily & diary record, hence sometimes used as a synonym for a newspaper, a printed record of proceeding. (Weiner, Richard, Websters New World: Dictionary of Media and Communication: 1996). Definisi Rural, Urban dan Jakarta sebagai Kota untuk Urbanisasi Kawasan perdesaan (rural) adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama pertanian, termasuk pengelolaan sumber daya alam dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perdesaan, pelayanan jasa, pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi. Kawasan perkotaan (urban) adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi. (http://jehovaimmeka.wordpress.com) Di Jakarta, terdapat banyak wartawan yang mengadu nasib dari daerah bukan Jakarta (rural) menuju Urban (Jakarta). Urbanisasi sebagai gerakan menuju kota-kota dari pedesaan untuk mencari kehidupan yang lebih baik.

Definisi kota urban bernama Jakarta yang dilansir dari www.jakarta.go.id: Jakarta bermula dari sebuah bandar kecil di muara Sungai Ciliwung sekitar 500 tahun silam. Selama berabad-abad kemudian kota bandar ini berkembang menjadi pusat perdagangan internasional yang ramai. Abad ke-14 nama asalnya Sunda kalapa, lalu menjadi Jayakarta, Batavia dan akhirnya menjadi Jakarta pada 31 Agustus 1964. Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil) DKI Jakarta mendata, berdasarkan hasil pendataan arus mudik dan arus balik lima tahun terakhir, jumlah pendatang baru mengalami tran penurunan. Disebutkan tahun 2007, jumlah pendatang baru mencapai 109.617 jiwa. Sementara di tahun 2008 pendatang baru mencapai 88.473. Artinya jumlah pendatang 2008 mengalami penurunan sebanyak 21.144 jiwa, dari tahun 2007. Data yang sama menyebutkan, tahun 2009 jumlah pendatang baru sebanyak 69.554 jiwa, atau berkurang 18.919 jiwa dari tahun 2008. Pendatang baru tahun 2010 sebanyak 59.215, atau turun 10.339 jiwa dari tahun 2009. Sedangkan tahun 2011 jumlah pendatang mencapai 51.875 jiwa, yakni turun 7.340 jiwa dari tahun 2010.Saat ini jumlah penduduk Jakarta melebihi 14 juta jiwa. Lalu mengapa Jakarta menjadi incaran urbanisasi? Kota-kota menjadi Pusat pemerintah, perdagangan, pendidikan, seni, kerajinan, dan kehidupan intelektual. Pusat kota muncul sebagai titik-titik modal untuk semua jenis kegiatan dan ada harapan universal bahwa bergerak dari daerah pedesaan ke perkotaan (urbanisasi) akan menyebabkan kesuksesan (Folk Culture and Urban Adaptation, A Case Study of the Paharia in Rajshahi, MD. Mustafa Kamal Akand) Tidak banyak wartawan yang sukses secara materi, namun yang terpenting adalah jaringan dan pengalaman empiris bagi wartawan pendatang, meski pekerjaan mereka begitu berat. Sebuah Kisah Pejuang, Pemain dan Analogi Keduanya Bermula dari pers kampus, Ale (nama samaran) memiliki mimpi sebagai seorang wartawan sejak mengenyam bangku kuliah di Jurusan Sosiologi angkatan 1998, di Universitas Lampung. Diakuinya, pers mahasiswa merupakan titik pijakan awal untuk menempa kemampuannya dalam menulis dan melakukan kerja wartawan secara serius, selain membentuk jiwa wartawan berbasis militansi (self culture), tak heran isu yang digemari Ale adalah politik, hukum dan hak asasi manusia. Latar belakang Ale sebagai wartawan di pers kampus mengantarkannya bekerja di Ibu kota sebagai wartawan di koran Bisnis Indonesia pada 2005-2006, dalam waktu setahun, Ale menemukan banyak hal baru dari profesinya yang membentuk karakternya setahap demi setahap menjadi pribadi yang lebih mantap sebagai individu. Sebagai wartawan pendatang Ale telah dibentuk oleh kebudayaan akademisi di kampus. Sebagai anak laki-laki kelahiran Lampung, dia lahir di keluarga yang juga

memiliki budaya islam yang moderat, orang tuanya bekerja sebagai pegawai negeri sipil dan mengajarkan Ale agama dan pendidikan dengan menyerahkan penuh pada sekolah. Ale termasuk anak hyperaktif, dia pernah diusir gurunya karena berbuat iseng dengan membocorkan ban motor gurunya hingga di skors. Seringkali juga bolos dan menongkrong karena dirasanya pada saat Sekolah Menengah Atas (SMA), sekolah bukan tempat menyenangkan. Akibat perbuatan itu Ale dipindahkan orang tuanya ke Palembang, dititpkan ke pamannya yang menjadi kepala sekolah di SMA yang cukup ketat. Karena sadar akan posisinya di sekolah sebagai keponakan kepala sekolah. Ale mulai rajin bersekolah dan serius belajar hingga selama 2 tahun berturut-turut mendapat peringkat 3 besar. awalnya gue gak suka dijauhkan dari orang tua, tapi setelah hidup mandiri dan belajar serius di sekolah gue sadar, ternyata kalau gue serius yah gue mampu tutur Ale. Setelah tamat SMA dia mendapat beasiswa ke Universitas Lampung, namun Ale jarang pulang ke rumah dan lebih asik tidur dan beraktivitas di kampus. Dari pengalaman Ale, sebagai seorang individu yang akhirnya memutuskan bekerja sebagai wartawan di Jakarta. Latar belakang karakter sebagai seseorang dengan kecerdasan dan berusaha survive dalam menjalani tantangan, berjiwa petualang dan menginginkan pengalaman hidup yang lebih baik mungkin menjadi representasi dari wartawan pendatang. Ale yang memiliki moto hidup Hidup yang tak dipertaruhkan, tak akan pernah dimenangkan sebagai pendatang baru (new comer) uniknya sama sekali tidak mengalami Home sick seperti kebanyakan pendatang, dia merasa tidak merasa rindu sama sekali dengan rumah dan orang tua. saya fokus dengan pekerjaan dan pengalaman baru yang luar biasa ungkap Ale. Pada sisi ini, profesinya sebagai wartawan baru dan penempatannya di rubrik harian, menuntut Ale agar pikiran dan tenaganya fokus bekerja mengejar deadline harian sehingga ingatan kolektif dan rindu terhadap orang tua tersampingkan. Ale berusaha beradaptasi dengan lingkungan kerjanya sebagai wartawan. awalnya saya merasa lingkungan kerja masih sangat awam di Jakarta dan pola kerja berubah jelasnya. Ale berusaha beradaptasi dengan cuaca panas dan pengap polusi Jakarta, ditambah kemacetan yang masif saat liputan. Kepekaan tubuhnya juga ikut berubah dalam merespon lingkungan, saat berada di lapangan (liputan) Ale harus mampu mengejar narasumber, seperti wawancara langsung, ketika melihat narasumber, tubuhnya merespon dengan cepat untuk mendekati narasumber demi kepentingan mendapatkan informasi, jika tidak dilakukan, tentu dia tidak akan mendapat content sama sekali untuk membuat berita. Setahun di Bisnis Indonesia, Ale mendapat tawaran di Harian Umum Jurnal Nasional mulai 2007, saat koran ini baru berdiri, berkat kecerdasan dan kematangan tulisan dalam memaparkan isu politik, hukum dan Hak Asasi Manusia, Ale mendapatkan posisi istimewa memegang redaktur halaman Utama (kode: HL) yang biasanya berisi berita

yang tengah menjadi isu utama di masyarakat, terutama menyoal politik: korupsi, ketimpangan hukum, bencana alam, kemanusiaan dan isu yang dianggap buah bibir masyarakat. saya masuk Jurnal Nasional karena masih koran baru dan saya akan lebih maksimal dalam mengeksplorasi Rutinitas meliput dan menulis menjadi makanan sehari-hari Ale. Dia dikenal di kantornya sebagai wartawan pejuang nyaris setiap hari Ale menginap di kantor dan matanya tertuju pada layar komputer. Terutama saat Ale memutuskan untuk melanjutkan kuliah pascasarjana Kesejahteraan Sosial (FISIP) di Universitas Indonesia dan menikah. Dalam waktu dua tahun, segala pekerjaan wartawan dan statusnya sebagai mahasiswa dengan mengerjakan tugas dia jalani di kantor. kalau kostan itu cuma buat tempat tidur sama menyimpan buku, tesis saya kerjakan di kantor ungkapnya. Sebagai Wartawan, mahasiswa pascasarjana, Suami dan Ayah dari dua anaknya, menuntut Ale untuk mengejar ekonomi lebih jauh, kebutuhannya lebih banyak dibanding saat awal dia menginjak di Jakarta dengan status single. ekonomi berubah dan saya harus lebih mampu memenuhinya Pada masa ini, Ale mengakui bila dirinya merasakan kelelahan luar biasa. Terutama dalam kelelahan psikologis. beban psikis kangen dengan anak dan istri, hal yang manusiawi tapi kadang membuat mood menulis berubah, tapi karena saya suka menulis yang berhubungan dengan kemanusiaan, jadi saya selalu menikmatinya Ale begitu bertanggung jawab dengan profesinya. Dia menyebut dirinya tipe wartawan perfectsionis, hingga jika ada kesalahan satu kata sekalipun dalam beritanya, dia bisa memikirkannya berlama-lama. wartawan harus mampu mengelola isu yang luar biasa, sisi humanisme, soal-soal hak asasi manusia, itu yang memuaskan saya katanya. Pola dan tujuan menulis dalam persoalan mengangkat berita humanisme juga merubah pola pikir Ale menjadi seorang yang berorientasi memperjuangkan kepentingan manusia lain, lebih dari kepentingan dirinya sendiri. Sedangkan dalam kebiasaan fisik dan pola makannya juga ikut berubah. Ale yang saat ini berusia 33 tahun tidak bisa lepas dari kopi dan rokok. Setiap hari, 3 bungkus rokok dan hampir 5 gelas kopi dinikmatinya sebagai pelengkap menulis. Lalu dari pola makan, setiap malam, karena Ale malas mencari makan dan tengah asik menulis, pilihan makanan termudah hanya mie rebus. Kesehatannya sering terganggu dengan sesak nafas. Pola tidur juga ikut berubah, setiap malam Ale bergadang dan tidur pukul 5 pagi lalu bangun jam 9 pagi untuk liputan, atau di hari libur dia membalas dendam pola tidurnya dengan bangun siang. Ale juga dikenal kawan-kawan sekantornya sebagai wartawan yang malas mandi. Terutama jika tulisannya banyak dan deadlinenya mendesak, Ale bisa melupakan mandi hingga 3 hari. Kehidupan Ale sebagai kuli tinta telah mengikuti pola kerja yang luar biasa dengan mobilitas yang tinggi, merubah tingkah laku, pemikiran dan tubuh. Ale berusaha keras beradaptasi dengan profesinya dan kondisi Jakarta.

Kisah kedua adalah wartawan bernama Kencono. Pria kelahiran Magelang 25 Desember 1973 lulusan Ekonomi Universitas Dipenogoro, ini hampir mirip dengan Ale, namun strategi adaptasi untuk hidupnya berbeda. Kencono masuk di koran Jurnal Nasional sebagai redaktur tepatnya sejak koran ini berdiri 1 Juni 2006. Sudah 7 tahun kencono menjadi Wartawan. Setelah beberapa lama kenal aku berbincang dengan Kencono dan menanyakan, apa makna profesi wartawan baginya, jawaban dia cukup mengejutkan., dia bilang: kerja itu harus sesuai tarif dan kerja jadi wartawan itu agar bisa masuk sana-sini dan memang, Kencono yang memegang rubrik teknologi tapi beberapa kali meliput tentang kementrian kelautan, dia juga sembari berbisnis kambing dan pernah terlibat 2 kasus duplikat tulisan wartawan lain, setiap pagi dan sore dia dan beberapa wartawan yang hobi berbisnis juga kerapkali ngobrol di warung kopi dan merencakan proyek selajutnya. Tulisannya ditemukan sama persis dengan media besar lainnya, duplikat yang kasar dan saat kantor mengetahui dia malah dibela oleh wartawan pemain lainnya. Sedangkan untuk kasus duplikat tulisan yang kedua, Kencono berniat mengundurkan diri, tapi sekali lagi dibela oleh kawan-kawannya sehingga dipindahkan ke bagian marketing. Kencono yang saat bekerja di Jurnal Nasional memakai metro mini. Saat ini mempunyai dua mobil dengan mencalonkan diri sebagai Calon Legislatif di daerahnya Magelang sembari masih bekerja dengan santai di Jurnal Nasional. Analogi Pejuang dan Pemain Mengamati pengalaman keduanya, dapat disimpulkan, alasan utama Ale dan Kencono beralih ke Jakarta sebagai wartawan adalah kesejahteraan. Mereka berdua memiliki basis pendidikan yang kuat lalu dipoles oleh jaringan, itu menjadi modal mereka beradaptasi. Kota besar dijadikan pilihan dalam rangka menuntut ilmu oleh sebagian kota-kota kecil lainnya bukan tanpa alasan. Kita tahu, di kota besar akses pembelajaran, fasilitas pembelajaran yang lengkap ditambah banyaknya para tokoh intelektual bergabung di salah satu kampus menjadi pertimbangan tersendiri bagi kita sebagai kaum urban. Jika dilihat dari sisi materi, diantara Ale dan Kencono juga terdapat istilah wartawan analog, maksudnya dari segi profesi, wartawan dapat dianalogikan sebagai pejuang dan juga pemain. Keduanya diukur dan dilihat dari sisi: -Secara kultural adalah kaum pendatang yang meniti karier di kota besar. - Memiliki pendidikan yang memadai - Memiliki ideologi antara perjuang dan pemain yang berada di titik simpul materi -Mereka sebagai kaum urban akan lebih siap menghadapi kerasnya hegemoni profesi di kota besar - Di tempatnya, karena otonomi daerah kurang menyediakan pilihan pekerjaan yang memadai

Ale dalam pekerjaanya selalu beruaha total dan tidak melalkuakn pelanggaran kode etik dengan profesi jurnalistik. Namun tidak bisa dipungkiri bila gaji sebesar Rp 5 juta / bulan tidak bisa memenuhi kebutuhan keluarga---istri dan dua orang anaknya. Sehingga saat Ale mendapat tawaran membuat buku dan menjadi Ghost writer, Ale menerima tawaran itu dengan berusaha menyembunyikan identitasnya. Fenomena ini juga terjadi di beberapa media besar, tidak hanya di Jurnal Nasional. Beberapa media besa melarang wartawannya untuk bekerja di luar lembaganya karena dikhwatirkan tidak fokus dalam bekerja, namun apakah cukup adil jika pemimpin redaksinya dan pendirinya seperti di TEMPO dan Jurnal Nasional membuat buku dan acara-acara seminar dengan bekerjasama dengan lembaga negara (kementrian) ataupun pihak swasta. Di sisi lain, Kencono lebih sangat sadar dan bahkan ideologi mencari materi dengan modal dibalik media telah dilaksanakannya sejak menginjakan kaki di Jakarta. Saat wawancara kembali dengan Kencono, beberapa berita yang berdasarkan pengalamannya meliput dari undangan kementrian, msialnya para usahawan kecil menengah dia tulis profilnya dengan menarik, Kencono belajar dari mereka dan ingin masyarakat tahu dengan pengalaman para UKM ini. Keluarga juga bagi Kencono merupakan elemen institusi terpenting, dia harus melakukan strategi untuk mampu emmenuhi kebutuhan keluarga dari sandang, pangandan papa dan juga biaya sekunder seperti entertain yang banyak ditawarkan di kota Jakarta. Pemenuhan materi sebagai wartawan pendatang di kota menjadi titik simpul dan analog dari keduanya dari sisi profesi. Materi merupakan landasan sekaligus kompensasi. Sosiolog Georg Simmel mengakui bahwa modernitas digerakkan oleh kota dan ekonomi uang. Kota adalah tempat modernitas dipusatkan dan diintensifkan. Ekonomi uang adalah sebab penyebaran modernitas. Kota dan uang memberi utopia dengan peringatan kematian dan siksaan. Orang-orang pun terus menunaikan urbanisasi seperti pengesahan atas utopia modernitas. Ignas Kleden (1988) menjelaskan bahwa pola modernitas di negara-negara berkembang mengandung ciri urbanisasi sebagai mobilitas fisik dan sosial-kultural dari desa ke kota. Fakta keras dari urbanisasi: ketimpangan pekerja dan kerja juga besarnya tuntutan hidup. Kebutuhan urbanisasi dan wartawan urban pada akhirnya untuk mempertahankan hidup atau meninggikan martabat. Urbanisasi (dari rural ke urban) pun menjadi pilihan untuk perubahan nasib dari desa ke kota, dari tradisional ke modern, dari gelap ke terang, dari pesimisme ke optimisme.

Deadline & Pekerjaan Wartawan Jika mengamati stereotif sesungguhnya dari pekerjaan kuli misal kuli bangunan dengan tuntutan kerja fisik (biologis) yang berat, rasa lelahnya berimpas pada kelelahan fisik dengan solusi tidur nyenyak. Namun berbeda dengan kuli tinta. Beberapa kawan

wartawan kerapkali mengungkapkan, kelelahan fisik dan otak yang luar biasa, apalagi jika ditambah kelelahan batin. Sehingga setelah deadline (batas maksimal waktu) dalam pekerjaan telah terlampaui, para kuli tinta ini mengalami kesulitan tidur. otak rasanya masih panas kalau sudah deadline ungkap Dina (nama samaran) yang bekerja sebagai wartawan di majalah Hystoria. Deadline, dibenci sekaligus disayangi oleh para kuli tinta. Karena deadline menjadi tolak ukur waktu tenggat untuk sebuah pekerjaan, seorang wartawan harus terbiasa dengan deadline. Bagi wartawan harian, deadline tentu membuntuti mereka tiap hari. Ada juga deadline mingguan dan bulanan tergantung pada posisi penempatan wartawan sesuai kebijakan dan jenis media. Deadline adalah ruang kekuasaan dalam pembunuhan waktu untuk kepentingan dan keamanan tertentu dalam lembaga yang menuntut kepatuhan. Karena ada konsekuensi untuk banyak pihak. Lalu, bagaimana jika deadline yang selalu memberi desakan ini berada di ruang yang tak kalah penuh dengan mobilitas, ruang dalam sebuah kota bernama Jakarta. Bagaimana pula jika kuli tinta ini pada mulanya sama sekali asing dengan Jakarta lalu dihantam dengan lingkungan Jakarta yang menuntut kecepatan dan keakuratan tinggi di lapangan dan kantor. Mereka tentu harus menjalani adapatasi diri dan lingkungan. Strategi Bertahan Hidup dalam Adaptasi Wartawan Pendatang Kisah Ale dan Kencono hanya segelintir kisah wartawan dalam rutinitas pola kerja yang mewakili wartawan dengan memiliki loyalitas kerja yang tinggi (wartawan pejuang) dan wartawan yang memanfaatkan media sebagai alat untuk memuluskan kepentingan lain yang berhubungan dengan materi (Wartawan Pemain) Tetapi yang perlu digarisbawahi keduanya adalah wartawan pendatang yang berusaha bertahan di Ibu kota: Sebuah kota urban dengan mobilitas yang tinggi. Tuntutan Kebutuhan ekonomi yang lebih banyak dibanding daerah asalnya. Suasana cuaca yang pengap dan kemacetan yang selalu rentan dialami setiap hari. Wartawan pendatang melakukan adaptasi untuk merespon kerasnya kondisi Jakarta sekaligus mendapatkan makna dalam bentuk pengalaman yang menempa dirinya menjadi lebih mandiri dan kokoh. Di Jakarta mungkin pilihannya cuma tiga bagi pendatang: Pertama kamu survive, menikmati profesimu untuk mendapat banyak pengalaman dan meningkatkan status sosialmu, kedua kamu menjalani profesimu dengan terpaksa untuk skala prioritas uang dan ketiga kamu menyerah dan menghilang dari kota ini. Teori adaptasi sangat berkorelasi dalam melihat gejala manusia yang berprofesi sebagai kuli tinta dan strategi bertahan hidup di jakarta. Adaptasi merupakan suatu kunci konsep dalam 2 versi dari teori sistem, baik secara biological, perilaku, dan sosial (Bennet, 249-250) Ketika wartawan pendatang masuk kepada sistem media tempat dia bekerja dan masuk pada sistem hidup di Jakarta. Mereka

melakukan adaptasi perilaku dan sosial untuk dapat diterima, dan ini merupakan bentuk strategi hidup untuk bersahabat dengan sistem. Adaptasi manusia dapat dipahami secara fungsional dan prosesual. Adaptasi secara fungsional merupakan respon dari suatu organisme maupun sistem yang bertujuan untuk mempertahankan keadaan homeostatis, adaptasi mengacu pada fungsi yang terjadi pada dimensi tertentu. Secara prosessual adalah sistem tingkah laku yang terbentuk sebagai akibat dari proses penyesuaian manusia terhadap perubahan-perubahan lingkungan di sekitarnya (Alexander Alland, Jr). Menengok pada kisah wartawan bernama Ale, dia melakukan adaptasi yang menurut Alland pertama dimulai dengan mind (pikiran) lalu pada perilaku dan outputnya pada kondisi sosial, fisik yang berkembang dari perubahan biologis. Pikiran Ale terbentuk menjadi lebih kritis dalam merespon kondisi berbagai isu yang berhubungan dengan politik, hukum dan HAM dalam beritanya. Dia bukan lagi seorang wartawan dalam lembaga pers kampus. Ale telah berpikir dalam ranah sosial. Setiap hari, dia berhadapan dengan sebuah kondisi masyarakat berkembang dengan pelbagai masalah. Isu-isu kritis dilontarkannya berkepentingan pada posisi dirinya sebagai wartawan dan panglima masyarakat yang harus membela kepentingan masyarakat. Pikirannya bukan lagi milik dia sendiri tapi juga milik bersama dan untuk kepentingan masyarakat. Tentu ada harga yang harus dibayar, secara psikologisnya rasa rindu pada isteri, anak (keluarga) di Lampung (tempat asalnya) harus dia redam untuk sementara saat dia berada dalam ranah profesionalitas dan dikejar deadline. Ale memilih setia pada pekerjaanya sebagai wartawan. Dan dengan pekerjaanya, dia sadar betul, penghasilan sebagai wartawan berimplikasi pada kebutuhan ekonomi keluarga. Pada pola perilaku, dia berevolusi menjadi manusia yang lebih mandiri, militansi dan memiliki prinsip. Seperti beberapa kali dia menjelaskan, Ale merasakan kepuasan jika menuliskan tentang isu humanisme. Dia berevolusi sebagai pribadi yang bertanggung jawab pada banyak hal, bukan dirinya sendiri. Hampir setiap malam dia menginap di kantor. Wartawan secara struktur harus patuh pada kode etik jurnalistik. Tulisannya tidak boleh hasil meraba-raba, namun sebuah fakta. Sebagai kuli tinta, kewajiban utama adalah memaparkan fakta melalui media. Kondisi biologisnya di sisi lain menjadi lebih kuat, dia mampu melakukan aktivitas liputan dan dikejar deadline setiap hari. Namun rentan dengan penyakit, dalam situasi stress, setiap hari, Ale menghabiskan 3 bungkus rokok, kopi 5 gelas, selalu mengkonsumsi makanan cepat saji karena malas untuk mencari makanan, dan pola tidur yang kurang. Disisi lain, secara konvensional pola makan dan istirahat Ale, akan menimbulkan penyakit. Tapi waktu yang dimiliki wartawan tidaklah banyak, Ale harus mengorbankan pola istirahatnya untuk kepentingan banyak orang karena deadline berita. Dalam prakteknya, adaptasi manusia terhadap lingkungan yang khusus melibatkan kombinasi dari tipe-tipe modifikasi yang berbeda ini (Roy Ellen, 1982: 237-238). Begitupun dengan Kencono, cara dia beradaptasi adalah dengan menjadi wartawan pemain melalui iming-iming pencitraan dan kekuasaan media pada narasumber, media

sebagai alat yang Michel Focault sebutkan kekuasaan pengetahuan itulah yang dimanfaatkan Kencono, terlepas dari kebenaran atau kesalahan. Baik Ale maupun Kencono telah melakukan strategi adaptasi dari rural ke urban dan mereka berhasil. Dan analogi keduanya adalah pemenuhan materi. Materialisme, Struktural dan Kebudayaan dalam Adaptasi Kuli Tinta Levi Strauss yang dikenal dengan teori deep structure dalam antropologi struktural memaparkan tentang strukturalisme, kebudayaan sebagai perwujudan yang tampak dari struktur mental di bawahnya, yang terpengaruh oleh lingkungan fisik dan sosial kelompok, mapupun sejarahnya. Dengan demikian kebudayaan dapat berbeda banyak antara yang satu dan yang lain, meskipun struktur proses berpikir manusia yang menyebabkan timbulkan kebudayaan itu dimana-mana sama dan pikiran merupakan elemen penting dalam adaptasi. Saat para kuli tinta, masuk pada sebuah sistem media. Kuli tinta menjadi individu yang pikiran dan pola kerjanya terstruktur. Liputan di lapangan, menulis untuk masyarakat. Dalam Deep Structure dikemukakan secara pemikiran: benar dan salah. Kebenaran bagi wartawan adalah fakta. Dan yang salah adalah manipulasi dengan berpihak pada salah satu narasumber yang kerap terjadi dalam (wartawan bodrek) dengan menerima suapan (keterdesakan materialisme) dan melanggar kode etik jurnalistik. Wartawan harus mampu beradaptasi secara struktur dengan pola kerjanya yang tidak hanya fisik namun melibatkan pikiran dan emosi. Secara struktur, wartawan juga harus bertanggung jawab pada masyarakat, karena dia memiliki kekuasaan untuk menyampaikan informasi. Marshal Sahlins memaparkan bila kapasitas manusia untuk beradaptasi ditujukan dengan usahanya untuk mencoba mengelola dan bertahan dalam kondisi lingkungannya. Kemampuan individu untuk beradaptasi mempunyai nilai bagi kelangsungan hidup. Besarnya kemampuan adaptasi suatu manusia makan makin besar pula kemungkinan keberlangsungan hidup manusia tersebut. Adaptasi merupakan suatu proses dimana manusia memaksimalkan kesempatan hidupnya. Sahlins secara eksplisit menghubungkan dengan bagaimana kebudayaan dalam sebuah lingkungan dihubungkan dengan kemampuan manusia beradaptasi. Pada kasus wartawan-wartawan pendatang, mereka masuk pada sebuah kebudayaan baru di Jakarta sebagai capital city, mereka dilingkupi dengan modernisasi dan materialisme. Wartawan menjadi manusia yang mekanis (jam kerja, jadwal deadline, kemacetan) namun pada ranah lain dituntut mempunyai kepekaan nurani untuk menyampaikan kebenaran melalui pekerjaanya di media. Dalam materialisme, wartawan di Jakarta harus melek teknologi, mereka harus mampu menggunakan internet untuk mendapatkan akses informasi, mengirim berita dan mewawancarai melalui email dan handpone (SMS, Blackberry messenger, whats up dll) selain liputan lapangan, kebanyakan dari mereka juga memiliki jejaring sosial (facebook, twitter, linked dll) untuk wartawan pendatang, adaptasi dengan teknologi juga harus dipahami dan dijalani.

Jika wartawan tidak sanggup beradaptasi dengan pekerjaanya, karena tidak mampu menyesuaikan diri dengan budaya kerja, lingkungan dan kehidupan sosial, dia tidak lolos pada seleksi alam di Jakarta dengan tingkat modernisme yang tinggi. Roy Ellen Proffesor Antropologi dan Human Ekologi asal Inggris membagi tahapan adaptasi dalam 4 tipe. Antara lain adalah (1) tahapan phylogenetic yang bekerja melalui adaptasi genetik individu lewat seleksi alam, (2) modifikasi fisik dari phenotype/ciri-ciri fisik, (3) proses belajar, dan (4) modifikasi kultural. Wartawan pendatang memiliki pola adaptasi yang melekat pada proses belajar dan modifikasi kultural. Perilaku kebudayaan yaitu keseluruhan dari reaksi mental, disik dan aktivitas karakter perilaku dari individu yang mengubah suatu kelompok sosial secara bersama dan secara individu dalam hubungannya terhadap lingkungan alami, kelompok dan terhadap dirinya sendiri. Perilaku kebudayaan artinya tumbuh dan berkembang atas dasar prinsip-prinsipnya sendiri, dan mempunyai kemampuan mengadakan modifikasi sehingga unsur-unsurnya beragam. Adaptasi kuli tinta sangat memiliki keterkaitan erat dengan evolusi manusia dan perilaku kebudayaan yang menurut Frans Boas (relativisme kebudayaan). Wartawan pendatang harus mampu beradaptasi dengan kebudayaan di Jakarta yang berbeda dengan daerah asalnya. Adaptasi mereka harus dimulai dengan strategi kreatif. Mereka memberi tanggapan terhadap pelbagai masalah lingkungan yang timbul baik lingkungan alam (banjir) maupun lingkungan sosial. Tanggapan ini berkesinambungan dan berpengaruh terhadap pengambilan keputusan mereka. Penyesuaian terhadap konteks sosial-budaya yang baru dan memperoleh kendali atas lingkungan asing sering menyebabkan ditinggalkannya traditional dan nilai. Pengambilan keputusan ini berdasarkan kemampuan penyesuaian diri baik rasional mapun situasional melali pengalaman maupun pengetahuan mereka tentang lingkungan yang berubah. Kesimpulan Adaptasi pada wartawan pendatang dari rural ke urban merupakan proses yang temporal dimana perubahan harus mempunyai ukuran kemandirian (individu) dan pemetaan sesuai lingkungan pada pola kerja maupun pada lingkup Jakarta. Perubahan yang dituntut cenderung pada pemikiran, perilaku, dan kebudayaan. Deadline sebagai bagian dari pola kerja khusus menjadi cikal bakal perubahan adaptasi untuk wartawan. Didalam adaptasi wartawan pendatang ada struktur dan materialisme dan strategi. Pada situasi keterdesakan perubahan kebudayaan di Jakarta dan daerah asalnya, dalam kajian antropolog mereka berusaha menjadi individu yang menyesuaikan diri karena tuntutan profesi dan kesadaran pikiran dan pikiran untuk satu tujuan. Bagi wartawan pendatang adaptasi menuntut perubahan pola pikir, pola kerja, fisik, tingkah laku, jenjang profesi, status sosial, tempat tinggal, Aku tahu apa yang kumau, menjadi kuli tinta

Adaptasi selalu berkaitan erat dengan pengukuran, dimana tingkat keberhasilan suatu manusia dapat bertahan hidup. Itulah sejauh mana, dapat dikenali bahwa adaptasi dapat dikatakan berhasil atau tidak. Ale dan Kencono telah berhasil beradaptasi sebagai manusia dengan strategi yang berbeda. Wartawan pejuang dan wartawan pemain namun dianatra keduanya ada titik simpul yang menganalogikan secara profesi yaitu materi. Urbanisasi (dari rural ke urban) pun menjadi pilihan untuk perubahan nasib dari desa ke kota, dari tradisional ke modern, dari gelap ke terang, dari pesimisme ke optimisme, disinilah dibutukan adaptasi.

Referensi: Weiner, Richard, 1996 Websters New World: Dictionary of Media and CommunicationWiley; 1 edition Santana K., Septiawan 2005 Jurnalisme Kontemporer. Jakarta: Obor. Alexander Alland, Jr Departement of Anthropology, Columbia University, New York, NY 10027 Claude Levi Strauss 2005, Antropologi Struktural. Bantul: Kreasi Wacana MD. Mustafa Kamal Akand 2013, Folk Culture and Urban Adaptation, A Case Study of the Paharia in Rajshahi http://jehovaimmeka.wordpress.com