Anda di halaman 1dari 12

Prosiding PPI Standardisasi 2010 Banjarmasin, 4 Agustus 2010

STANDARDISASI PEDOMAN PENGUKURAN PRODUKTIVITAS TENAGA KERJA UNTUK PEKERJAAN KONSTRUKSI BANGUNAN GEDUNG
Wahyu Wuryanti1
Abstrak Dalam industri konstruksi tenaga kerja adalah faktor penting di dalam mengukur kinerja perusahaan. Hal ini disebabkan karena sifat pekerjaan konstruksi merupakan pekerjaan padat karya yang berarti banyak menyerap tenaga kerja yaitu sekitar 30% dari biaya konstruksi digunakan untuk upah kerja. Oleh sebab itu, perusahaan berkepentingan untuk mengetahui performasi tenaga kerjanya untuk meningkatkan profitabilitasnya. Upaya ini tentu saja hanya dapat direalisasi apabila memahami bagaimana mengukur produktivitas tenaga kerja. Secara umum definisi produktivitas adalah rasio antara input dan output. Pada proses perhitungannya perlu dideskripsikan dengan jelas pengertian input dan output yang dimaksud. Untuk produktivitas tenaga kerja pengertian input diekspresikan sebagai orangjam (OJ) atau orang-hari (OH), sedangkan ouput adalah kuantitas hasil kerja yang satuannya bervariasi tergantung jenis pekerjaan yang diukur. Bila untuk menyelesaikan satu jenis pekerjaan yang sama produktivitasnya dihitung dengan cara berbeda, tentu hasilnya tidak dapat langsung dibandingkan, sehingga tidak mudah dipahami dan digunakan sebagai basis perhitungan estimasi biaya upah. Hal ini terjadi karena ketiadaan kesepakatan tata cara pengukuran yang dapat digunakan sebagai standar pengukuran dan menjadi common rule antara penyedia dan pengguna jasa. Angka koefisien yang dicantumkan dalam Standar Nasional Indonesia Analisa Biaya Konstruksi (SNI ABK) tahun 2007, masih menjadi polemik bagi kalangan akademis dan praktisi konstruksi. Koefisien produktivitas tenaga kerja mungkin saja berbeda di setiap lokasi tergantung performasi tenaga kerja setempat, tetapi sebaiknya pengukurannya diturunkan dari tata cara yang sama sehingga menjadi benchmarking yang dapat dipertanggungjawabkan. Tulisan ini memaparkan hasil studi penyusunan standar pedoman pengukuran produktivitas tenaga kerja. Metoda yang digunakan adalah eksploratori melalui identifikasi kebutuhan dan permasalahan di lapangan dengan menggali secara sistematika dari literatur maupun opini narasumber yang relevan. Kata kunci: produktivitas tenaga kerja, standar pengukuran, pekerjaan konstruksi, bangunan gedung
Oleh

Peneliti di Puslitbang Permukiman, Kementerian Pekerjaan Umum

Prosiding PPI Standardisasi 2010 Banjarmasin, 4 Agustus 2010

PENDAHULUAN

Salah satu sumber daya yang sangat subtansial dalam menentukan profitabilitas perusahaan adalah tenaga kerja. Untuk tetap bertahan dalam bisnis, setiap perusahaan harus mampu meningkatkan produktivitasnya. Tingkat produktivitas ini sangat dipengaruhi oleh beragam kondisi kerja, yang mana nilainya dapat berubahubah antara satu proyek dengan proyek lainnya. Hal ini terjadi karena sifat proyek adalah unik dan tidak repetitif sehingga pengukuran produktivitas sering kali tidak dilakukan karena demikian rumitnya. Secara sederhana produktivitas didefinsikan sebagai rasio antara input dan output. Perlu dideskripsikan dengan jelas apa yang akan diukur dan bagaimana cara mengukurnya. Bila tujuan pengukuran adalah mengukur produktivitas tenaga kerja maka sebagai input adalah jumlah sumber daya tenaga kerja yang diekspresikan sebagai orang-jam (OJ) atau orang-hari (OH) yang dibutuhkan untuk menghasilkan output per unit. Sedangkan sebagai output diekspresikan sebagai ukuran kuantitas hasil kerja dari satu jenis pekerjaan, misalnya pekerjaan dinding pasangan, satuan output yang digunakan adalah luasan atau m2 atau pekerjaan pipa satuannya adalah panjang atau m, dsb. Dari tinjauan literatur diperoleh gambaran bahwa sampai saat ini tidak ada pedoman pengukuran produktivitas yang dapat diterima sebagai standar yang digunakan untuk estimasi biaya langsung (direct cost), Dalam berbagai kesempatan mungkin pengukuran produktivitas telah diukur, tetapi tiap orang mengukur dengan metoda yang berbeda sehingga hasilnya tidak dapat langsung dibandingkan. Hal ini tentu saja menimbulkan inkonsistensi karena hasil yang diperolehnya sulit dipahami dan diterima sebagai basis estimasi biaya upah kerja. Oleh sebab itu, perlu segera disusun suatu metoda pengukuran yang disepakati bersama sebelum diaplikasikan di lapangan. Di dalam SNI Kumpulan Analisa Biaya Konstruksi (SNI ABK) tahun 2007, produktivitas tenaga kerja dicerminkan melalui angka koefisien produktivitas. Penggunaan SNI tersebut menjadi penting sebagai basis penyusunan rencana anggaran biaya terutama untuk proyek pekerjaan umum yang diatur oleh Keppres No. 80 tahun 2003. Terlebih lagi ketika diterbitkannya surat edaran Menteri Pekerjaan Umum No. 07/SE/M/2008 menyiratkan keharusan menggunakan SNI ABK ke dalam dokumen kontrak. Meski sampai saat tulisan ini dibuat masih terjadi polemik di antara para akademisi dan praktisi, karena bagi kalangan akademi produktivitas adalah suatu hal yang tingkat variabilitasnya tinggi karena dipengaruhi banyak faktor sehingga konsep standar yang digunakan dalam SNI kerap dipertanyakan. Sementara di lingkungan praktisi SNI ABK diperlukan untuk menghindari praktik banting harga. Tulisan ini memaparkan hasil riset yang dilakukan di Puslitbang Permukiman tahun 2009 dimana tujuannya adalah mengembangkan standar tata cara pengukuran produktivitas tenaga kerja yang mudah diaplikasikan di lapangan. Studi ini merupakan kajian awal dengan meninjau beberapa peraturan dan standar ekisting

Prosiding PPI Standardisasi 2010 Banjarmasin, 4 Agustus 2010

di lingkungan Kementerian Pekerjaan Umum khususnya yang berkaitan dengan pelaksanaan konstruksi bangunan gedung dan hasil rangkuman opini para narasumber. II METODOLOGI

Studi menggunakan metode kualitatif melalui eksplorasi berbagai literatur dari buku teks, jurnal dan hasil riset terdahulu. Wawancara dengan praktisi di lapangan dan opini narasumber yang relevan juga dilakukan untuk memahami kendala dan permasalahannya. Beberapa informasi yang dikaji lebih dalam meliputi Faktor-faktor pengaruh dalam produktivitas Kondisi serta jenis aktivitas tiap pekerjaan yang digunakan sebagai basis ukur Kendala dan permasalahan masing-masing teknik pengumpulan data produktivitas Dari beberapa parameter tersebut kemudian diskenariokan konsep tata cara pedoman pengukuran produktivitas akan dijabarkan menjadi ketentuan umum, ketentuan teknis dan prosedur pengukurannya. III TEKNIK PENGUKURAN PRODUKTIVITAS DAN PERMASALAHANNYA

Di dalam setiap proyek konstruksi selalu melalui rangkaian aktivitas pekerjaan yang belum tentu sama untuk menghasilkan satu produk fisik sejenis. Banyak hal yang mempengaruhinya, tergantung input seperti tenaga kerja, alat, material, dana dan rancangan, sedangkan untuk menghasilkan output juga tergantung pada proses konstruksinya yang kompleks. Sumber daya manusia adalah komponen yang sulit dikendalikan karena banyak faktor yang mempengaruhi kinerjanya. Estimasi biaya upah kerja dilakukan dengan memperkirakan kebutuhan jumlah pekerja yang diperlukan dikalikan dengan satuan upah dari masing-masing tingkat keterampilannya. Estimasi awal inilah yang selanjutnya dicantumkan dalam dokumen bill of quantities (BQ) yang merupakan bagian dari dokumen kontrak dan dasar pembayaran kepada kontraktor. Oleh sebab itu, perlu diketahui tingkat produktivitas tenaga kerja per unit yang diekspresikan dengan angka koefisien. Sampai saat ini teknik pengukuran produktivitas tenaga kerja dalam pekerjaan konstruksi lebih banyak mengadopsi dari manufaktur (Ervianto, 2008), seperti metoda pengukuran time study, time and motion study, works sampling. Padahal karakter industri jasa konstruksi tidak dapat disamakan dengan manufaktur karena keunikan yang dimilikinya. Pemakaian tenaga kerja pada proyek konstruksi sifatnya relatif tidak tetap sehingga mengakibatkan lebih sulit melatih tenaga kerja. Akibatnya para kontraktor kerap menemui kesulitan manakala konsep pengukuran

Prosiding PPI Standardisasi 2010 Banjarmasin, 4 Agustus 2010

produktivitas tenaga kerjanya akan diaplikasikan di lapangan. Pelaksanaannya yang cukup rumit, waktu yang diperlukan lama, biaya yang mahal, dan banyak faktorfaktor kritis yang mempengaruhi, menyebabkan masing-masing perusahaan menentapkan sistem internal yang juga tidak terstandardisasi. Jika produktivitas tenaga kerja yang merefleksikan antara input jumlah tenaga kerja (OH) dan ouput jumlah kuantitas per unit pekerjaan, kedua hubungan tersebut dapat diilustrasikan seperti pada Gambar 1.

Gambar 1 Definisi dan Komponen Produktivitas Perlu didefinisikan lebih dahulu secara detail pengertian input dan output yang sesuai dengan jenis pekerjaan yang akan diukur. Setelah definsi input output ditetapkan maka perlu dipahami ada beberapa hal yang sebetulnya perlu distandarkan juga yaitu spesifikasi teknis dan metoda konstruksi seperti ilustrasi dalam Gambar 2.

Gambar 2 Prosedur Produktivitas Tenaga Kerja Karakteristik Bahwa langkah-langkah pada no (2), (3) dan (4) dalam Gambar 2 merupakan langkah-langkah tergantung pada seberapa tinggi standar kualitas pekerjaan yang ditujunya. Untuk mengukur jumlah tenaga kerja yang bekerja dalam satu tim, yang menggunakan sistem komposisi kelompok kerja meliputi mandor, tukang dan pekerja

Prosiding PPI Standardisasi 2010 Banjarmasin, 4 Agustus 2010

(pembantu tukang) perlu dirumuskan faktor konversi sesuai dengan bagi peran di antara ketiganya. Selain itu variasi komposisi tenaga kerja seperti perbandingkan jumlah tukang dengan pekerja maupun jumlah mandor dengan kelompok kerja yang dibawahinya menghasilkan tingkat produktivitas yang berbeda (Setiawan, 2006; Ervianto, 2008). Kesulitan lain yang juga ditemui dalam mengukur produktivitas adalah mengukur jumlah pekerjaan selesai atau jumlah output kuantitas hasil kerja. Sesuai dengan karakteristik jenis pekerjaannya, satuan yang digunakan berbeda disesuaikan dengan kemudahan mengukurnya di lapangan, seperti misalnya mengukur pekerjaan baja untuk keperluan mengukur produktivitas lebih mudah menggunakan satuan panjang (m) daripada menggunakan satuan berat (kg) seperti saat pembelian. Berdasarkan kajian literatur, teknik pengukuran produktivitas sangat bervariasi yang masing-masing mempunyai kelemahan dan kelebihan, antara lain adalah seperti yang tertera dalam Tabel 1. Teknik lain mungkin saja dapat dikembangkan lebih lanjut sebagai kombinasinya. Pemilihan teknik pengukuran yang paling relevan di lapangan sangat tergantung pada biaya dan waktu yang tersedia, sehingga masing-masing teknik perlu dipahami dan dianalisis secara matematis. Dengan demikian untuk mengetahui jumlah jam ekivalen yang diperlukan tukang dalam menyelesaikan satu jenis pekerjaan dibutuhkan faktor konversi untuk mengakomodasi perbedaan komposisi tenaga kerja, faktor pengaruh yang menurunkan tingkat produktivitas akibat kondisi yang tidak standar. Tabel 1 Berbagai Teknik Pengumpulan Data Produktivitas
No Teknik Pengukuran 1 Time and motion study Implikasi Pelaksanaannya mencatat jumlah waktu yang diperlukan dalam menyelesaikan suatu akvitas pekerjaan. Pengukur harus menetapkan terlebih dahulu kapan awal dan akhir dari suatu siklus Merupakan teknik untuk mengukur, memprediksi, dan memperbaiki produktivitas dengan mengidentivitasi delay yang terjadi pada beberapa siklus suatu operasi Merupakan metoda pengamatan acak tanpa perlu mengamati setiap hal dan kelompok kerja setiap saat. Tujuannya adalah mengukur waktu dalam beraktivitas yang termasuk dalam kategori direct work.

Method productivity delay model Work sampling

Dst...

Prosiding PPI Standardisasi 2010 Banjarmasin, 4 Agustus 2010

IV

PEMBAHASAN

Untuk mengembangkan standardisasi pedoman pengukuran mungkin saja dapat dipilih dari salah satu teknik pengukuran yang telah digunakan dari berbagai studi yang pernah ada. Akan tetapi memilih mana yang paling mudah dan tepat sesuai dengan kriteria pengukuran yang relevan dengan kondisi pelaksanaan konstruksi di Indonesia, adalah hal yang tidak mudah. Persoalannya juga diperumit dengan ketidaksediaan data faktual di lapangan dieksplorasi lebih lanjut sebagai sumber data terukur dan seringkali pengukuran produktivitas hanya digunakan untuk riset akademis saja. Hal lain yang belum distandarkan adalah klasifikasi tenaga terampil yang ditetapkan dalam standar ekisting seperti Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) dan Standar Nasional Indonesia (SNI). Di dalam standar pedoman pengukuran yang akan dikembangkan beberapa hal dasar yang perlu distandarkan terlebih dahulu adalah Sistem standar informasi konstruksi yang menseragamkan pengelompokan kerja beserta kode tiap pekerjaan Definisi konten aktivitas (work content) yang digunakan sebagai basis pekerjaan tertentu, dan jenis aktivitas yang melekat di dalam satu perkerjaan Sistem klasifikasi tenaga kerja berdasarkan tingkat keterampilan, Skala terukur yang mengakomodasi faktor pengaruh, yang dibedakan menjadi faktor eksternal dan internal, Komposisi mandor, tukang dan perkerja yang ditetapkan sebagai satu tim kerja. Untuk butir pertama tidak didetilkan lebih lanjut pada tulisan ini karena keterbatasan jumlah halaman. Penjelasan kebutuhan menstandarkan butir-butir selanjutnya diuraikan dalam paparan subbab berikut ini. 4.1. Klasifikasi Tenaga Kerja Konstruksi Kementerian pekerjaan umum di dalam penyelenggaraan bangunan, melalui Badan Pembinaan Konstruksi Dan Sumber Daya Manusia, Pusat Pembinaan Kompetensi dan Pelatihan Konstruksi (BPKSDMKPK) telah menerbitkan SKKNI, yang berisi uraian kemampuan yang mencakup kompetensi minimal yang harus dimiliki seseorang untuk menduduki jabatan yang berlaku secara nasional. Sementara Badan Penelitian dan Pengembangan, Pusat Litbang Permukiman (BalitbangPuslitbangkim) menerbitkan SNI Analisa Biaya Konstruksi (SNI ABK) yang menetapkan angka koefisien bahan dan tenaga kerja yang dibutuhkan untuk setiap perhitungan harga satuan pekerjaan konstruksi bangunan gedung. Berdasarkan ketentuan yang dituangkan di dalam SKKNI, seperti terlihat dalam Gambar 3, klasifikasi tenaga kerja yang terlibat di dalam proyek konstruksi dibedakan berdasarkan kemampuan seseorang yang dilandasi atas pengetahuan,

Prosiding PPI Standardisasi 2010 Banjarmasin, 4 Agustus 2010

ketrampilan, dan sikap kerja untuk melaksanakan suatu pekerja, meliputi (1) tenaga ahli dan (2) tenaga terampil.

Gambar 3 Organisasi Pelaksana Proyek Berdasarkan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) Sementara menurut ketentuan dalam SNI ABK yang mengikuti Gambar 4 terdapat komponen kepala tukang yang tidak digunakan dalam SKKNI. Padahal dalam struktur organisasi yang sering digunakan kontraktor seperti Gambar 5 hanya mengenal tiga kelompok yaitu mandor, tukang dan pekerja. Hal lain yang juga sering dipertanyakan tentang konten SNI-ABK adalah tidak ada penjelasan ilmiah mengenai nilai koefisien kepala tukang dan tukang menggunakan rasio 1:10 artinya performa kepala tukang hanya sepersepuluh dari performa tukang per hari. Dari gambaran ini mungkin untuk menyeragamkan klasifikasi tenaga kerja terampil akan lebih mudah bila menggunakan tiga kelompok yaitu mandor, tukang dan pekerja (lebih dikenal dengan sebutan laden atau pembantu tukang). Bila klasifikasi tenaga kerja terampil telah distandarkan selanjutnya dapat ditetapkan komposisi satu tim kerja untuk digunakan sebagai basis pengukuran produktivitas standar satu item perkerjaan, misalnya rasio satu orang mandor, satu tukang dan dua orang pekerja.

Prosiding PPI Standardisasi 2010 Banjarmasin, 4 Agustus 2010

Gambar 4 Klasifikasi Tenaga Kerja Menurut SNI ABK

Gambar 5 Tipikal Organisasi Pelaksana Proyek Menurut Kontraktor 4.2. Faktor Pengaruh Produktivitas Faktor pengaruh di dalam produktivitas tenaga kerja sangat beragam, tetapi secara umum dapat dikelompokkan menjadi variabel teknis dan non teknis. Hal ini dikarenakan sifat dari variabel tersebut (1) tidak tepat (imprecise), (2) subjektif, (3) kualitatif dan (4) multi kriteria. Faktor pengaruh tersebut ada yang dapat dikuantifikasi seperti manajemen pelaksanaan, manajemen sumber daya proyek, dll, tetapi ada faktor yang sulit diukur seperti, kemampuan manajerial, motivasi, kebudayaan setempat, dan cuaca. Beragam faktor pengaruh tersebut berkaitan dengan kategori sebagai berikut: Faktor tenaga kerja: meliputi faktor usia, pendidikan, pengalaman, jam kerja, metoda pembayaran, ketidakhadiran, dan besaran tim kerja Faktor aktivitas kerja; meliputi lokasi lapangan, lokasi kerja di lapangan, jenis dan jumlah material, dan kondisi cuaca Faktor manajemen lapangan; meliputi kemacetan, jarak transportasi, ketersediaan pekerja, mesin, material, peralatan dan manajemen lapangan

Prosiding PPI Standardisasi 2010 Banjarmasin, 4 Agustus 2010

Merujuk pada konsep model mengukur kehilangan produktivitas yang dikembangkan oleh Drewin (Shouqing, 2009) seperti Gambar 5, perlu dipertimbangkan apakah berbagai faktor pengaruh tersebut dapat diklasifikasikan dan diskalakan sehingga pengamat secara sederhana dapat menskalakan besar penurunkan produktivtas berdasarkan bobot pengaruhnya.

Gambar 5 Work Time Model - Breakdown Of Total Operation Time


Sumber: Drewin (1982) dalam Shouqing (2009)

4.3. Teknik Pengumpulan Data Produktivitas Seperti telah dipahami sebelumnya bahwa teknik pengukuran dapat dilakukan berdasarkan sumber datanya yaitu: 1. Data faktual di lapangan dengan mengamati jumlah jam dan volume kerja langsung di lapangan 2. Data historis dilakukan dengan mengkaji laporan harian/ mingguan/ bulanan Pada pengamatan langsung di lapangan, pengukuran produktivitas dilakukan oleh petugas yang melakukan pengamatan kontinu pada satu jenis pekerjaan dan menghitung jumlah jam kerja maupun jumlah personil yang bekerja untuk menyelesaikan satu jenis pekerjaan. Untuk mengukur per unit satuan kuantitas hasil kerja seorang pekerja sangat sulit. Sebagai contoh untuk mengamati hasil kerja 1 m2 pekerjaan pasangan bata sangat sulit tetapi minimum harus seluas 10 m2 dan bertahap tidak dapat sekaligus tetapi karena setiap ketinggian 1 m berhenti untuk mempertimbangkan faktor kekuatan dinding yang belum kering. 4.4. Model Matematis Produktivitas Karakteristik Setelah metoda pengukuran distandarkan maka selanjutnya dapat dikembangkan model perhitungan produktivitas. Model produktivitas standar dapat diskenariokan berdasarkan kondisi standar yang digunakan sebagai baseline, garis ukur untuk menilai performa tenaga kerja ekisting. Selanjutnya dalam menentukan produktivitas

Prosiding PPI Standardisasi 2010 Banjarmasin, 4 Agustus 2010

karakteristik yaitu nilai produktivitas yang besarnya tergantung pada jumlah pengamatan dihitung berdasarkan produktivitas standar dikoreksi dengan faktor koreksi atau kehilangan yang diakibatkan pada faktor pengaruh dan tingkat kepercayaan yang ditetapkan dengan standar deviasi. Bila diekspresikan secara sederhana nilai koefisien produktivitas karakteristik dapat diformulasikan sebagai berikut:
Pk = Ps S K
i i n

Dengan Pk adalah produktivitas karakteristik; Ps adalah produktivitas standar; Ki adalah kehilangan produktivitas yang disebabkan karena tingkat pengaruh yang terjadi di lapangan sejumlah n adalah jumlah faktor pengaruh; dan S adalah standar deviasi yang nilainya tergantung pada jumlah pengamatan. V KESIMPULAN

Mengetahui produktivitas tenaga kerja adalah hal penting di dalam analisis biaya langsung proyek konstruksi. Tetapi faktual di lapangan, pengukuran produktivitas adalah satu hal yang sulit dilakukan. Namun demikian pengukuran produktivitas tenaga kerja tetap diperlukan untuk estimasi biaya upah pada perhitungan harga satuan pekerjaan. Tetapi setiap perusahaan kerap kali menggunakan metoda yang berbeda sehingga hasilnya tidak dapat dipertanggungjawabkan. Meski untuk menyelesaikan satu jenis pekerjaan yang sama tingkat produktivitas atau angka koefisien produktivitas tukang mungkin saja berbeda karena tergatung performasi tenaga kerja di lokasi, tetapi sebaiknya diturunkan dari metoda pengukuran yang standar dan disepakati bersama sehingga hasilnya dapat dipertanggungjawabkan. Ada dua opsi yang dapat digunakan yaitu berdasarkan (1) data faktual di lapangan dan (2) data historis. Perlu dibuat rumusan faktor konversi untuk mengakomodasi beberapa pengaruh yaitu (1) perbedaaan komposisi mandor, tukang dan pekerja, (2) faktor pengaruh eksternal dan internal yang dikelompokan dan diberi skala. Dengan demikian produktivitas karakteristik dapat dirumuskan dengan menghitung produktivitas standar dikurangi kehilangan produktivitas akibat konsidi yang tidak standar dan ditambah/dikurangi dengan standar deviasi sesuai dengan jumlah pengamatan. VI 1. DAFTAR PUSTAKA Badan Standardisasi Nasional. 2002. Standar Nasional Indonesia: Kumpulan Analisa Biaya Konstruksi Bangunan Gedung dan Perumahan. Badan Standardisasi Nasional. Jakarta

Prosiding PPI Standardisasi 2010 Banjarmasin, 4 Agustus 2010

2. 3.

4. 5. 6.

Departemen Pekerjaan Umum. 2006. Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia Ervianto, W. 2008. Pengukuran Produktivitas Kelompok Pekerja Bangunan Dalam Proyek Konstruksi (Studi Kasus Proyek Gedung Bertingkat Di Surakata). Jurnal Teknik Sipil Atmajaya Vol. 9 No. 1 Oktober 2008, 31-42 Setiawan, H. 2006. Efektivitas Waktu Kerja Kelompok Tukang. Jurnal Teknik Sipil Atmajaya? Vol. 7 oktober 2006, 58-66 Shouqing, W. 2009. Improving Productivity by Management. School of Building and real Estate. The National University of Singapore Wuryanti, W. dan Wibowo, A. 2010. Pengukuran Produktivitas Tenaga Kerja Konstruksi: Antara Kebutuhan dan Permasalahannya. Prosiding Puslitbang Permukiman, Kementerian Pekerjaan Umum

Prosiding PPI Standardisasi 2010 Banjarmasin, 4 Agustus 2010