Anda di halaman 1dari 28

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Sel telur dan sel sperma akan bersatu membentuk zigot, zigot ini kemudian akan

berkembang sebagai embrio dalam rahim ibu, tahap perkembangan embrio ini merupakan tahap kehamilan. Umumnya tahapan kehamilan pada ibu dikenal dengan sebutan trimester, setelah tahapan ini ibu akan mengalami tahap kelahiran. Ketika mendekati waktu kelahiran bayi seorang ibu harus mempersiapkan segala sesuatunya sebaik mungkin baik persiapan fisik, psikis maupun materi. Kelahiran merupakan pengakhiran kepada proses kehamilan dan juga merupakan permulaan kepada sebuah kehidupan manusia. Proses kelahiran bermula apabila rahim berkontraksi selama 15 hingga 20 menit dan serviks meregang serta mula terbuka sekitar 14 hingga 24 jam, yaitu kira-kira 266 hari sejak terjadinya pembuahan. Seorang ibu yang mengandung biasanya akan menerima konstraksi 'palsu' selama beberapa kali menjelang bulan-bulan terakhir kehamilannya. Konstraksi yang sebenarnya hanya berlaku apabila konstraksi terjadi berulang-ulang kali dalam waktu yang sama. Proses kelahiran dapat mengalami gangguan yang berupa gangguan psikis/mental dan fisik yang dialami oleh seorang ibu. Gangguan-gangguan ini dapat diatasi jika ibu telah melakukan persiapan sebelumnya. Selain gangguan terdapat juga kelainan yang menyerang bayi yang dilahirkan oleh ibu seperti sindrom Down, Spina bifida, sindrom Hutchinson-Gilford Progeria, prematurasi, cacat lahir, dll. Setelah proses kelahiran berlangsung, ibu membutuhkan waktu untuk mengembalikan kondisi tubuh. Tahapan ini biasa disebut dengan pemulihan pasca kelahiran. Persalinan memiliki banyak resiko yang dapat membahayakan nyawa ibu dan janinnya. Salah satu yang sangat berbahaya ialah keguguran. Keguguran merupakan keluarnya janin atau persalinan premature sebelum mampu untuk hidup. Resiko keguguran memiliki presentase 15% - 40% dari ibu hamil, dan 60% - 75% keguguran terjadi sebelum usia kehamilan tiga bulan. Keguguran terjadi ketika janin keluar pada saat usia kehamilan belum mencapai 20 minggu, sedangkan kematian janin terjadi pada saat janin sudah berumur lebih dari 20 minggu. Banyak faktor yang dapat menyebabkan terjadinya keguguran ini, sehingga ibu diharapkan harus sangat berhati-hati dan memeriksakan kondisi kehamilannya secara bertahap di dokter atau bidan agar dan mengkonsultasikan langkah-langkah pencegahan yang dapat dilakukan. Seperti pada proses kelahiran, ibu 1

yang mengalami keguguran juga memerlukan proses pemulihan dan harus terus memeriksakan kondisi rahimnya pada dokter ahli/bidan.

1.2

Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas dapat dirumuskan beberapa permasalahan antara

lain: 1. Bagaimana tanda-tanda dan persiapan kelahiran? 2. Bagaimana proses kelahiran berlangsung? 3. Apa saja gangguan dan kelainan pada proses kelahiran? 4. Bagaimana proses pemulihan pasca kelahiran? 5. Apa saja faktor yang penyebab keguguran dan bagaimana pencegahannya? 6. Bagaimana proses pemulihan setelah keguguran?

1.3

Tujuan Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini antara lain :

1. Untuk mengetahui tanda-tanda dan persiapan kelahiran. 2. Untuk mengetahui proses kelahiran. 3. Untuk mengetahui gangguan dan kelainan pada kelahiran. 4. Untuk mengetahui proses pemulihan pasca kelahiran 5. Untuk mengetahui faktor penyebab keguguran dan cara pencegahannya. 6. Untuk mengetahui proses pemulihan setelah keguguran.

1.4

Manfaat a. Bagi Mahasiswa Manfaat penulisan makalah ini bagi mahasiswa adalah agar mahasiswa dapat mengetahui lebih mendalam tentang kelahiran (persiapan, proses, gangguan,dan pemulihan) dan keguguran (faktor penyebab, cara pencegahan, pemulihan), sehingga dapat men b. Bagi masyarakat Manfaat penulisan makalah ini bagi masyarakat adalah menambah informasi untuk masyarakat khususnya mengenai kelahiran dan keguguran, khususnya untuk ibu hamil sehingga pada saat kelahiran mereka sudah lebih siap, dan ibu hamil juga dapat lebih menjaga kondisi kandungannya agar tidak terjadi keguguran sebelum kelahiran.

BAB II PEMBAHASAN

2.1

Persiapan Kelahiran dan Tanda-tanda Setelah tahapan terakhir perkembangan janin (trimester 3), ibu hamil akan

mengeluarkan janin dari dalam tubuhnya yang biasa kita kenal dengan proses kelahiran/persalinan. Terdapat beberapa pendapat mengenai kelahiran atau partus atau parturisi. - Serangkaian kontraksi uterus yang kuat dan berirama yang umum dikenal sebagai labor (Campbell, 2004). - Serangkaian kejadian yang berakhir dengan pengeluaran bayi yang cukup bulan atau hampir cukup bulan, sesuai dengan pengeluaran placenta dan selaput janin dari tubuh ibu (Sastrawinata, 1983). - Proses pengeluaran hasil konsepsi (janin) yang telah cukup bulan atau dapat hidup diluar kandungan melalui jalan lahir dengan bantuan atau tanpa bantuan/kekuatan sendiri (Manuaba, 1998). Seorang wanita yang sedang dalam keadaan melahirkan disebut Inpartus (Sarwono, 2002). Kelahiran adalah serangkaian kontraksi uterus untuk mengeluarkan hasil konsepsi (janin) yang telah cukup bulan atau dapat hidup diluar kandungan dari tubuh ibu melalui jalan lahir atau melalui jalan lain dengan atau tanpa bantuan. 2.1.1 Persiapan Kelahiran Menginjak trisemester 3, banyak hal yang harus diwaspadai, mulai dari kaki bengkak, plasenta privia dll. Dokter kandungan mungkin sudah memperkirakan hari kelahiran bayi anda, oleh karena itu sebelum menghadapi tahapan kelahiran banyak hal yang harus diperhatikan oleh Ibu, karena kelahiran merupakan proses penting dalam mengakhiri tahap kehamilan. Mulai persiapan mental, fisik, sampai finansial. Bukan hanya mental ibu yang harus siap, mental calon ayah pun harus disiapkan. Untuk persiapan fisik, misalnya, senam hamil, karena seorang perempuan memerlukan fisik yang bagus (fit) untuk melahirkan. Kondisi kesehatan ini ada hubungannya juga dengan ada atau tidaknya penyakit berat yang diidap ibu. Jika Ibu memiliki penyakit darah tinggi atau asma berat, berarti tidak bisa dilakukan persalinan normal. Jadi, sejak awal kehamilan, sudah harus direncanakan kelahiran dengan operasi. 3

Sebelum melahirkan ibu juga harus sudah menentukan dimana tempat persalinan akan dilaksanakan. Hal lain yang perlu dipersiapkan adalah barang-barang apa saja yang harus di bawa ke rumah sakit, baik barang untuk anak maupun untuk ibu. Konsultasikan dengan pihak provider kesehatan, fasilitas apa saja yang disediakan. 2.1.2 Tanda-tanda Kelahiran Sebelum terjadinya persalinan sebenarnya beberapa minggu sebelumnya wanita memasuki bulannya atau menunggu atau harinya yang disebut kala pendahuluan (preparatory stage of labor). Tanda-tandanya sebagai berikut : 1. Kepala Bayi mulai turun ke bawah Di akhir masa kehamilan, ibu hamil dapat merasakan perut menjadi lebih ringan. Ini dikarenakan di dua minggu sebelum kelahiran, kepala bayi sudah berada di bawah dan turun ke daerah rangka tulang pelvis. Keadaan ini disebut lightening atau settling atau dropping. Ketika bayi telah turun ke bawah, ibu hamil mungkin mengalami rasa sakit di bagian selangkangan karena tekanan bayi. Ibu hamil menjadi lebih sering buang air kecil karena bayi menekan kadung kemih. Tanda melahirkan lain yang menyertai hal ini adalah rasa sakit pada perut, mulas, sering buang air besar dan buang angin. 2. Rasa Sakit pada panggul Di akhir kehamilan persalinan dapat ditandai dengan rasa sakit berlebih pada panggul dan bagian tulang belakang. Rasa sakit ini disebabkan karena adanya pergeseran dan pergerakan bayi yang mulai menekan tulang belakang. Untuk mengurangi rasa sakit ini hendaknya ibu hamil banyak berjalan. Olah raga berjalan ringan juga dipercaya dapat mempercepat proses kelahiran. 3. Keluar cairan lendir kental bercampur darah Mendekati masa persalinan, ketika leher rahim mulai menipis dan mulai keluar cairan lendir kental sedikit lengket. Lendir ini mulanya menyumbat leher rahim, dan terdorong keluar oleh kontraksi yang membuka mulut rahim. 4. Air Ketuban Telah Pecah Air ketuban yang berwarna jernih, putih kekuningan, jumlahnya cukup banyak dan tidak berbau berarti air ketuban tersebut belum bersifat racun bagi bayi. Namun demikian bila yang keluar adalah air ketuban yang keruh dan berbau maka kondisi bayi di dalam kandungan dapat terancam karena air ketuban tersebut telah bersifat racun. 4

5. Terjadi kontraksi rahim Rasa sakit saat kontraksi dimulai dari rahim bagian atas, lalu menjalar ke bawah, yakni ke bagian atas tulang kemaluan. Setiap kontraksi akan diikuti dengan mengerasnya rahim, yang kemudian melunak lagi. Bila sedang terjadi kontraksi, pada saat yang bersamaan pengerasan rahim akan menimbulkan rasa sakit, keadaan ini disebut fase labors paints. Jika kontraksi sudah terjadi setiap 5 menit sekali, maka ibu hamil harus segera di bawa ke rumah sakit. Kontraksi ini datang lalu hilang lagi secara teratur, dengan rasa nyeri yang makin lama makin kuat dan sering (kontraksi palsu tidak berkesinambungan). 6. Rahim telah dalam keadaan membuka Persalinan ditandai dengan membukanya rahim mulai bukaan pertama sampai dengan bukaan ke sepuluh. Fase bukaan ini secara medis diartikan berapa cm ukuran rahim yang telah membuka. Bukaan kesatu artinya rahim telah membuka 1 cm sedangkan bukaan sempurna ditandai dengan membukanya rahim sebanyak 10 cm sehingga dapat dilewati oleh kepala bayi. Sebelum terjadinya his (kontraksi) sejati, seorang calon ibu bisa merasakan his palsu atau kontrksi rahim yang tidak teratur. His ini disebut kontraksi Braxton Hicks. Ini merupakan hal yang normal dan mungkin lebih sering muncul pada sore hari. Perbedaan antara his palsu dan his sejati dapat dilihat pada tabel di bawah. Jenis perubahan Karakteristik kontraksi His palsu His sejati

Tidak teratur & tidak semakin Timbul secara teratur dan sering (disebut kontraksi Braxton semakin sering, berlangsung Hicks) selama 30-70 detik Jika ibu berjalan atau beristirahat Meskipun posisi/gerakan ibu atau jika posisi tubuh ibu berubah, berubah, kontraksi tetap kontraksi akan menghilang/berhenti dirasakan Biasanya lemah & tidak semakin kuat (mungkin menjadi kuat lalu Kontraksinya semakin kuat melemah)

Pengaruh gerakan tubuh

Kekuatan kontraksi

Biasanya berawal di Nyeri karena Biasanya hanya dirasakan di tubuh punggung dan menjalar ke kontraksi bagian depan depan

2.2

Proses Kelahiran Kelahiran merupakan akhir dari kehamilan dan juga merupakan permulaan dari

kehidupan manusia. Proses kelahiran merupakan saat yang ditunggu-tunggu, sehingga harus berkontraksi penuh saat berkontraksi. Proses kelahiran dapat dilakukan dengan 2 cara, proses kelahiran secara normal dan kelahiran dengan cara operasi cesar. 2.2.1 Proses Kelahiran Normal Sejak terjadinya kehamilan, secara alami mulut rahim tertutup oleh semacam sumbat berupa lendir kental. Sumbat lendir ini bertugas menjaga agar kehamilan bisa terus berjalan sekaligus melindungi janin dari kuman. Pada awal tahap pembukaan mulut rahim, sumbat lendir itu terbuka dan lendir (yang berwarna merah muda) keluar melalui vagina. Mulut rahim yang semula hanya membuka sedikit, seiring dengan datangnya kontraksi yang semakin kuat, akan terus melunak dan terbuka semakin lebar. Lama-kelamaan, mulut rahim akan terlihat semakin datar dan menyatu dengan rahim bagian bawah. Saat inilah pembukaan lengkap terjadi. Pembukaan mulut rahim biasanya dihitung dengan satuan sentimeter (cm), pembukaan lengkap ialah jika bukaan pada rahim sebesar 10 cm. Kelahiran bayi dibagi dalam beberapa tahap. Tahap pertama, proses persiapan persalinan dengan fase awal, aktif, dan transisi. Dalam tahap ini terjadi pembukaan (dilatasi) mulut rahim sampai penuh. Selanjutnya, tahap kelahiran sampai bayi keluar dengan selamat. Tahap ketiga, pengeluaran plasenta. Tahap berikutnya, pasca lahir, yakni observasi terhadap ibu selama satu jam usai plasenta keluar. Lamanya tahap pembukaan jalan lahir dari awal hingga sempurna, bervariasi pada setiap kehamilan. Namun, secara gamblang tahap persalinan dibagi atas:

Kala/tahap I dibagi menjadi dua tahap a. Kala I laten: di mulai dari tanpa pembukaan sampai pembukaan 2, yang bisa berlangsung 24-48 jam. b. Kala I aktif: dimulai dari pembukaan 3-10, yang berlangsung sekitar 7 jam pada persalinan anak pertama, 3 1/2 jam pada persalinan bukan pertama.

Kala II : fase mengejan, karena jalan rahim sudah terbuka dan bayi siap keluar. Pembukaan sudah lengkap (10cm) yang bisa berlangsung maksimal 1 jam.

Kala III : fase melahirkan plasenta, plasenta dilepaskan dari dinding rahim, berlangsung sekitar 15 menit.

Kala I Masa ini ditandai oleh adanya kontraksi yang berlangsung antara 60-90 detik dan dapat timbul dalam interval 2-5 menit. Masa peralihan ini biasanya merupakan tahap yang sangat melibatkan emosi dan fisik. Akhir kala I, ibu akan merasakan mulas yang luar biasa, tetapi ibu belum boleh mengejan. Sebab, saat ini mulut rahim belum membuka sempurna. Bila ibu mengejan, bisa mengakibatkan jalan lahir membengkak dan terjadi perobekan. Setelah masa transisi, seorang ibu yang akan melahirkan akan bersamangat untuk mengejan. Setelah bayi mencapai bagian bawah jalan lahir, bayi akan menonjol ke bagian perineum sehingga akan menimbulkan nyeri atau semacam memar pada tempat tersebut. Kemudian bayi juga akan menekan usus besar yang akan menimbulkan pergerakan usus yang tidak disadari. Setiap kontraksi berlangsung, kepala bayi secara berangsur-angsur keluar dari vagina dan setelah beberapa kali mengejan bayi akan tetap berada di sana. Keadan seperti ini disebut dengan crowning.

Gambar 1. Kondisi Vagina Saat Mengejan Setiap ibu mengejan saat terjadi kontraksi, bayi akan bergeser perlahan melalui panggul hingga kepala bayi terlihat dijalur vagina. Proses ini berlangsung dalam beberapa menit hingga 2 jam. Saat meregangkan vagina, akan terasa seperti terbakar atau tersengat. Ibu harus menarik napas sejenak untuk memperlambat keluarnya kepala dan agar vagina dapat meregang, tetapi tidak sobek. Pada tahap ini ibu harus bernapas dalam-dalam dan hembuskan perlahan. Bila mulut rahim sudah membuka sempurna, artinya ibu sudah melewati tahap pertama dari proses persalinan, dan siap menuju tahap kedua, yaitu kelahiran bayi. Kala II Bila tidak ada hambatan, misalnya tali pusar yang melilit anggota tubuh janin, maka tahap yang dikenal dengan kala II ini berlangsung jauh lebih cepat dibanding tahap sebelumnya. Ada yang melewatinya tidak lebih dari 30 menit, meski ada juga 7

yang lebih. Pada tahap ini, kepala janin yang memang sudah tepat berada di mulut rahim akan terus mendesak. Bersamaan dengan itu, secara alamiah, rahim dan vagina akan membentuk semacam cekungan yang menjadi jalur untuk dilewati bayi. Saat ini, ibu akan merasakan tekanan yang sangat kuat di daerah perineum (daerah antara vagina dan anus). Saat kepala janin sudah di ambang pintu dan siap keluar, lendir dan darah yang keluar dari vagina semakin bertambah. Hanya diperlukan waktu beberapa menit untuk mengakhiri proses kelahiran. Pada saat ini, sebaiknya berhentilah mengejan dan mulailah bernapas pendek-pendek. Hal ini akan menyebabkan perineum menegang dan mencegah terjadinya robekan. Dalam setiap kontraksi, kepala bayi akan semakin keluar dari vagina hingga seluruh bagian kepala menonjol. Selain itu, desakan kuat kepala janin akan menyebabkan kantung ketuban pembungkus janin pecah lebih awal atau saat pembukaan lengkap, sehingga cairan ketuban keluar membasahi daerah vagina. Cairan ini sekaligus membuat jalan lahir semakin licin yang justru memudahkan bayi meluncur keluar dengan mulus. Setelah pembukaan benar-benar lengkap dan kepala bayi sudah terlihat di pintu lahir, saat inilah ibu diijinkan mengejan. Ikuti abaabanya bidan, kapan harus menarik napas dan kapan waktunya mengeluarkan napas sambil mengejan. Sebab, saat mengejan harus dilakukan berbarengan dengan saat kontraksi datang, sehingga bayi akan lebih mudah meluncur di jalan lahirnya.

Gambar 2. (ki-ka) Kepala Bayi di Mulut Vagina ; Bayi Telah Keluar Sempurna Saat kepala bayi berhasil keluar dari mulut vagina, bayi akan segera memalingkan kepalanya ke arah paha sang ibu, setelah itu bayi segera berputar miring dan kontraksi selanjutnya akan melahirkan bahunya. Sisa tubuh lainnya akan keluar berangsur-angsur diikuti oleh cairan amnion. Setelah tubuh keluar dengan alami, tali pusar dipotong oleh bidan. Pada saat inilah bayi akan lahir ke dunia. Apabila janin belum berhasil keluar dari jalan lahir maka alat bantu persalinan terkadang diperlukan untuk membantu kelahiran bayi. Alat bantu persalina tersebut berupa Forsep atau vacuum. Forsep hanya digunakan jika mulut rahim terbuka penuh dan kepala bayi masih dibawah mulut panggul. Forsep ini berupa dua buah penjepit dari logam yang 8

diletakkan disekeliling kepala bayi dan terkait satu sama lain sehingga kepala bayi agak tertekan. Salah satu forsep Kielland digunakan untuk memutar posisi bayi. Sementara forsep Neville Barnes atau Wrigley digunakan jika bayi sudah berada di posisi tepat tetapi perlu diangkat.

Gambar 3. (ki-ka) Forsep ; Vacuum Vacuum hanya digunakan saat mulut rahim terbuka penuh dan kepala bayi di bawah mulut panggul. Vacuum berbentuk seperti mangkuk dari plastic atau logam. Apabila digunakan, mangkuk ini diletakkan di atas kepala bayi. Sebuah selang menghubungkan ke mesin yang prinsif kerjanya menggunakan listrik atau pompa. Selang ini berfungsi membantu mengisap bayi keluar. Kala III Plasenta yang mensuplai nutrisi dan oksigen, mengeluarkan sisa metabolisme serta sebagai organ yang menyalurkan antibodi ke tubuh janin harus dilahirkan. Tahap ini berlangsung 15 menit. Ibu diberikan obat sintometrin, hormon buatan yang memiliki cara kerja seperti oksitosin untuk membantu kontraksi rahim dan mengurangi kehilangan darah.

Gambar 4. Plasenta Bayi Setelah bayi keluar, kontraksi masih terus berlangsung, meski tidak seperti sebelumnya. Tujuannya untuk membantu melepaskan plasenta dari tempat menempelnya di dinding rahim. Untuk memeriksa apakah seluruh plasenta sudah terlepas dari dinding rahim atau belum, (bidan) akan menekan perut ibu. Setelah itu, akan menarik perlahan-lahan tali pusar agar plasenta bisa keluar. 9

Secara umum tahapan kelahiran yang di alami oleh ibu dapat dilihat dari gambar dibawah. a. Kepala bergerak ke arah vagina dan mulai terlihat

b.

Puncak kepala mulai tampak. Berhentilah mengedan dan rileks dengan napas pendek-pendek.

c.

Kepala keluar dengan wajah menghadap ke bawah. Bidan memeriksa tali pusar dan kepala bayi berputar ke samping.

d.

Bidan membersihkan wajah bayi, kemudian tubuh bayi akan meluncur ke luar.

10

2.2.2 Alternatif Persalinan Normal dengan Water Birth Waterbirth adalah proses melahirkan di dalam air, pada proses tersebut ibu yang akan melahirkan berendam dalam suatu bak berisi air hangat yang steril hingga melahirkan. Persalinan di air yang didampingi dengan tenaga kesehatan akan menurunkan keperluan intervensi obstetri dan alternatif strategi mengatasi nyeri. Air mempengaruhi efek gravitasi, dengan adanya perbedaan berat jenis antara manusia dengan air, maka tubuh manusia akan merasa lebih ringan bila berada di air. Untuk persalinan normal, berendam dalam air akan mengurangi pemberian analgesia dan meningkatkan kepuasan. Peningkatan rasa nyaman pada sang ibu akan membuat rasa cemas berkurang dan mengurangi produksi hormon stres (katekolamin dan noradrenalin), dan meningkatkan hormon oksitosin dan endorfin sehingga persalinan menjadi lebih lancar. Hal yang perlu diperhatikan saat melahirkan di air, yaitu: 1. 2. Ibu harus cukup minum supaya tidak dehidrasi. Temperatur air antara 35-38 derajat Celcius, supaya tetap nyaman, mencegah dehidrasi, dan pemanasan berlebih. 3. 4. Bila ibu berendam lebih dari 2 jam, efisiensi kontraksi dapat berkurang. Bokong dapat diangkat dari air untuk mendengarkan denyut jantung janin atau untuk pemeriksaan persalinan. 5. Penolong harus menggunakan pelindung diri yang memenuhi syarat untuk mencegah infeksi. 6. Setelah bayi lahir, segera dibawa ke permukaan.

Manfaat Persalinan Di Dalam Air 1. Bagi ibu Ibu akan merasa lebih relaks karena semua otot yang berkaitan dengan proses persalinan menjadi elastis. Metode ini juga akan mempermudah proses mengejan. Sehingga rasa nyeri selama persalinan tidak terlalu dirasakan. Berendam di air dapat mengurangi edema dan menurunkan tekanan darah. Air hangat akan membuat pembuluh darah melebar dan meningkatkan hantaran saraf, metabolisme jaringan setempat, dan meningkatkan suhu jaringan. 2. Bagi bayi Manfaat persalinan di air bagi bayi adalah dapat menurunkan risiko cedera kepala bayi, peredaran darah bayi akan lebih baik sehingga tubuh bayi akan cepat memerah setelah dilahirkan. 11

Resiko dan Prasyrat Resiko yang bisa dihadapi jika melakukan persalinan di air adalah terjadi peningkatan risiko infeksi, sulit untuk mengontrol jumlah darah yang hilang, memonitor janin lebih longgar dan kadang kontraksi menjadi tidak efektif. 1. Kemungkinan air kolam tertelan oleh bayi sangat besar dan bayi mengalami hipoksia (kekurangan oksigen). Sehingga sangat membutuhkan bantuan dokter kebidanan dan kandungan, spesialis anak yang melakukan pengecekan langsung saat bayi lahir. Sehingga jika ada gangguan bisa langsung terdeteksi dan diatasi. 2. Hipotermia atau suhu tubuh terlalu rendah akan dialami ibu jika proses melahirkan berlangsung lebih lama dari perperkiraan. 3. Bayi berisiko mengalami temperature shock jika suhu air tidak sama dengan suhu si ibu saat melahirkan yaitu 37 derajat celcius. 4. Tidak dapat dilakukan oleh ibu yang memiliki panggul kecil, sehingga harus melahirkan dengan bedah caesar. 5. Bila bayi berisiko sungsang lebih baik hindari melakukan persalinan di air. 6. Bila si ibu memiliki penyakit herpes, bisa berisiko menularkan penyakit tersebut melalui mata, selaput lendir dan tenggorokan bayi (herpes-air). 7. Kolam plastik yang digunakan harus benar benar steril agar tidak rentan terinfeksi kuman dan virus lainnya. Ibu yang ingin melahirkan di air sebaiknya kehamilannya adalah kehamilan tunggal. Ibu tidak memiliki kontraindikasi untuk melahirkan di air, pastikan bahwa janin sejahtera, dan tidak punya riwayat melahirkan secara cesar. Tahap Persalinan Proses persalinan di air memiliki tahapan yang sama seperti melahirkan normal. Pada persalinan dalam air si ibu merendamkan tubuhnya ke dalam air hangat.

Gambar 5. (ki-ka) Persalinan dalam Air

12

Metode Ada dua metode persalinan di air. Pertama adalah persalinan di air murni, Ibu masuk ke kolam persalinan setelah mengalami pembukaan 6 (enam) sampai proses melahirkan terjadi. Metode lainnya adalah persalinan di air emulsion. Ibu hanya berada di dalam kolam hingga masa kontraksi akhir. Proses melahirkan tetap dilakukan di tempat tidur.

2.2.3 Proses Kelahiran Operasi Caesar Kelahiran dengan cara operasi Caesar merupakan persalinan melalui tindakan operasi bagian perut, bukan melalui vagina. Cara ini dilakukan jika persalinan normal membahayakan nyawasang ibu dan bayi. Pada saat operasi, ibu akan disuntik epidural atau spinal. Dengan epidural, ibu tetap sadar dan bisa melihat bayi anda saat diangkat. Tindakan operasi Caesar bisa tiba-tiba diperlukan jika ditemukan masalah seperti ibu mengalami antepartum haemorrhage (pendarahan sebelum persalinan), bayi terlilit tali pusar, atau tiba-tiba tekanan darah ibu melonjak tajam atau si bayi dalam keadaan stres sehingga harus segera diangkat. Indikasi persalinan ceasar Persalinan ini dianjurkan pada kasus bentuk rongga panggul tidak normal, jika terjadi ketidakproposionalan antara rongga panggul dan kepala bayi, apabila ibu menderita plasenta previa, terinfeksi virus herpes aktif pada jalan lahir, ibu hamil menderita diabetes, atau bayi berada dalam posisi sungsang yang sulit. Terkadang sang ibu memerlukan persalinan ceasar darurat bila persalinan tidak maju-maju atau terjadi gawat janin sehingga harus cepat dilahirkan. Prosedur persalinan secara ceasar Pada awalnya bagian perut akan dibersihkan dengan memakai cara antiseptic untuk mematikan bakteri pada kulit dan rambut pubis pun akan dicukur. Dilakukan anestesi epidural (terkadang dilakukan dalam pembiusan umum). Dilakukan pemasangan infuse dan kateter urine untuk mengosongkan kandung kemih, bagian perut akan dilapisi kain steril, sehingga ibu tidak dapat melihat lapangan oprasi. Anestesi epidural memungkinkan sang ibu yang di oprasi tetap terjaga tanpa merasakan nyeri.

13

Ahli bedah kandungan kemudian akan membuat sayatan horizontal tepat diatas garis bikini, menembus dinding perut dan rahim. Bayi kemudian diangkat keluar secara perlahan. Plasenta dikeluarkan dan diinsisi. Seluruh sayatan pada perut dan rahim dijahit kembali. Walaupun prosedur ini hanya memerlukan waktu 30 menit, namun tahap pengeluaran bayi dari rahim itu sendiri hanya memerlukan waktu sekitar 5-10 menit dengan penjahitan luka selama 20 menit.

Gambar 6. (Ki-ka) Diagram Proses Persalinan Caesar ; Proses Persalinan Caesar

2.3

Gangguan dan Kelainan pada Kelahiran Gangguan dalam proses kelahiran lebih bersifat psikis/mental dan fisik. Gangguan

psikis berkaitan erat dengan mental dari si ibu, jadi disini ibu hamil yang akan melahirkan tidak boleh dalam keadaan mental yang drop yang nantinya akan berimbas pada kelancaran proses kelahiran. Fisik yang sehat, baik dan bugar juga sangat diperlukan saat proses persalinan, karena persalinan memerlukan tenaga yang kuat untuk mengejan/ mendorong bayi keluar. Gangguan fisik yang mungkin terjadi antara lain : 1. Tumor jalan lahir lunak, seperti, polip serviks, miomauteri. 2. Kandung kemih yang penuh atau batu kandung kemih yang besar 3. Ginjal yang turun kedalam rongga pelvis. 4. Dasar panggul atau perineum yang ketat dan tegang dan tidak elastis, penanganannya dengan melakukan episiotomi. 5. Kelainan periodontal maternal sebagai faktor risiko penyebab terjadinya bayi lahir premature dan dengan berat badan yang kurang. Infeksi periodontal merupakan kelainan periodontal dengan penyebab utamanya adalah akumulasi plak mengandung mikroorganisme yang produknya dapat menimbulkan respon imun jaringan periodontium. Pada penyakit jaringan periodontal, bakteri dan metabolitnya menyebabkan monosit dan leukosit mengaktivasi makrofag untuk menghasilkan mediator inflamasi dan respon imun.

14

6. Kelainan letak serviks. Kelainan ini dijumpai pada multipara dengan perut gantung. Uterus yang hamil tua letaknya tidak di tengah, akan tetapi biasanya membengkok dengan sumbunya ke kanan (lateroflexiodextra) sehingga letak fundus uteri dapat lebih rendah daripada simfisis. Tandanya Ibu mengeluh tentang rasa nyeri di perut bawah dan pinggang bawah, menderita intertrigo di lipatan kulit, dan kadang- kadang varises atau edema di vulva. Perut gantung menghalangi masuknya kepala kedalam panggul, sehingga sering terjadi kelainan letak anak, seperti letak sungsang dan letak lintang. 7. Stenosis vagina kongenital Stenosis vagina kogenital jarang terjadi. Lebih sering ditemukan septum vagina yang memisahkan vagina secara lengkap atau tidak lengkap dalam bagian kiri dan bagian kanan. Septum lengkap adalah septum yang terbentang dalam seluruh vagina dari serviks sampai introitus vagina. Septum yang tidak lengkap kadang-kadang menghambat turunnya kepala janin pada persalinan dan harus dipotong terlebih dahulu. Stenosis dapat terjadi karena parut-parut akibat perlukaan dan radang. Pada stenosis vagina yang tetap kaku dalam kehamilan dan merupakan halangan untuk lahirnya janin, perlu dipertimbangkan seksio cesaria. 8. Hyperretrofleksi (letak rahim ke belakang) Penyebabnya ialah dorongan, mobilisasi rahim yang labil, atau ada perlekatan (infeksi). Kelainan terjadi pada ibu yang sering melahirkan sehingga semua jaringan ikatnya jadi lunak dan kendor. Bila terjadi hamil di atas trimester pertama, maka rahim akan ke posisi normal, yaitu keluar dari panggul dan akan ke atas karena bayi semakin membesar sehingga tak mungkin tinggal dalam panggul. Tentunya kehamilan terjadi bila tak ada perlekatan. Jadi, bila ada perlekatan rahim, si wanita tak bisa hamil karena hambatan dalam pertemuan sperma dan sel telur. Oleh karena itu, harus dilakukan tindakan laparoskopi (operasi). 9. Prolapsus uteri (rahim keluar atau menonjol di vagina) Kelainan ini terjadi karena kelemahan jaringan ikat pada daerah rongga panggul, terutama jaringan ikat transversal. Pertolongan persalinan yang tak terampil sehingga terjadi pada saat pembukaan belum lengkap, terjadi perlukaan jalan lahir yang dapat menyebabkan lemahnya jaringan ikat penyangga vagina, serta ibu yang banyak anak sehingga jaringan ikat di bawah panggul kendur. Menopause juga dapat menyebabkan turunnya rahim karena produksi hormon estrogen berkurang sehingga elastisitas dari

15

jaringan ikat berkurang dan otot-otot panggul mengecil yang menyebabkan melemahnya sokongan pada rahim. Selain gangguan-gangguan yang di alami oleh ibu hamil, kelainan yang terjadi dalam proses kelahiran antara lain: 1. Prematuritas (kelahiran prematur ) Prematuritas adalah suatu keadaan yang belum matang, yang ditemukan pada bayi yang lahir pada saat usia kehamilan belum mencapai 37 minggu. Prematuritas (terutama prematuritas yang ekstrim) merupakan penyebab utama dari kelainan dan kematian pada bayi baru lahir. Beberapa organ dalam bayi mungkin belum berkembang sepenuhnya sehingga bayi memiliki resiko tinggi menderita penyakit tertentu, 15% dari kelahiran prematur ditemukan pada kehamilan ganda. Hal yang menyebabkan ialah kehamilan usia muda (usia ibu kurang dari 18 tahun), pemeriksaan kehamilan yang tidak teratur, golongan sosial-ekonomi rendah, keadaan gizi yang kurang, penyalahgunaan obat. 2. Cacat lahir Selama janin berproses dalam kandungan, dari tahap pertama ke tahap berikutnya telah diketahui ada masa-masa peka. Pada masa ini, terdapat tahap tertentu yang sangat membahayakan bagi perkembangan janin. Jika pada masa peka ini terjadi benturan dengan zat-zat tertentu akan menyebabkan keguguran atau bayi terlahir cacat. Demikian halnya, jika selama kehamilan si ibu mengalami stres berat maka akan berpeluang besar terhadap proses kelahiran dan anak mengalami kelainan.

2.4

Proses Pemulihan Pasca Kelahiran Setelah proses kelahiran yang sangat berat dan menguras tenaga, seorang wanita

harus memulihkan kondisi tubuhnya. Tahapan ini disebut Pemulihan Pasca Kelahiran, tahap ini penting karena setelah melahirkan, wanita akan mengalami berbagai hal yang kurang nyaman. Rasa sakit masih berlanjut, badan terasa pegal, baby blues syndrome dan hal lainnya yang membuat seorang wanita merasa kurang nyaman dan ini harus segera di atasi. Ada beberapa cara yang harus dilakukan pada masa pasca kelahiran, diantaranya : - Tidak membawa beban berat Kondisi ibu masih begitu lemah, belum pulih, dan rasa nyeri pasca melahirkan masih terasa. Setelah sebulan kondisi ibu akan membaik jika di barengi dengan istirahat dan makan yang baik. - Hadapi masa nipas dengan tenang dan nyaman 16

Masa nipas adalah masa setelah melahirkan 6 minggu.Tetapi ibu akan pulih sempurna seperti sebelum hamil setelah 3 bulan. Untuk memulihkan kondisi fisik dan psikis hingga keadaan normal, harus di barengi makanan yang bergizi, olah raga, dan istirahat yang cukup. - Tidak berhubungan seks Tubuh kita perlu waktu untuk pemulihan, begitu pula organ seksual, sehingga perlu waktu kurang lebih 4-6 minggu pasca melahirkan. - Banyak bergerak setelah memungkinkan Lakukan secara bertahap dan ini akan membantu mempercepat proses pemulihan. - Istirahat Istirahar cukup, minimal 8 jam sehari untuk memulihkan kondisi, minum yang cukup agar tidak sembelit pasca melahirkan dan minta saran dari bidan atau perawat untuk posisi menyusui yang nyaman. - Jangan panik jika keringat berlebihan. Menyusui akan merangsang pengeluaran hormon oksitosin untuk kontraksi otot rahim agar mengecil, sehingga akan memompa otot jantung lebih kuat seperti olah raga akibatnya ibu pasca melahirkan akan memproduksi keringat berlebih. - Mulai berlatih otot panggul bawah segera setelah memungkinkan. - Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter atau psikolog. Kehamilan dan persalinan menyebabkan perubahan fisik dan psikologis ibu. Bagi beberapa wanita, bahkan bisa menimbulkan trauma psikologis hebat hingga menimbulkan masalah kejiwaan. Sehingga akan di butuhkan obat-obatan dan terapi psikologis untuk nenyembuhkannya. Jadi, jika kita mulai menangis, sangat lelah, atau perasaan lain yang sangat mengganggu, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter atau psikolog. - Rawat bekas luka jahitannya dengan selalu menjaga kebersihan luka dengan memberin ya cairan anti septik, mandi teratur dan membersihkan daerah kemaluan setelah BAB atau BAK dengan baik. Proses penyembuhan luka mengakibatkan luka terasa kencang dan gatal. Lebih baik luka cukup di bersihkan saja.

2.5. Keguguran dan Pencegahannya Keguguran adalah peristiwa keluarnya janin dan plasenta secara spontan dari rahim sebelum usia kehamilan 20 minggu. Keguguran juga dapat diartikan sebagai keluarnya janin saat persalinan prematur sebelum mampu untuk hidup. Resiko keguguran memiliki 17

persentase sebesar 15% 40% dari ibu hamil, dan 60-75% keguguran terjadi sebelum usia kehamilan 3 bulan. Namun jumlah kejadian atau resiko keguguran akan menurun pada usia kehamilan di atas 3 bulan. Seorang wanita disebut mengalami keguguran jika hal itu terjadi pada usia kehamilan di bawah 20 minggu dengan berat janin tak lebih dari 500 gram. Ada beberapa jenis keguguran, antara lain : 1. Ancaman keguguran (abortus imminens) Abortus imminens adalah keguguran tersembunyi dimana mulut rahim masih menutup meliputi adanya pengeluaran gumpalan darah beku dan rasa kram. Tandanya, Hasil pembuahan (embrio) lepas sebagian, atau terjadi perdarahan di belakang tempat embrio menempel ; Embrio masih di dalam rahim dan bertahan hidup, sehingga umumnya bisa diselamatkan. 2. Abortus yang sedang berlangsung (abortus insipiens) Tandanya, sebagian jaringan embrio sudah terlepas dari dinding rahim, dan biasanya ada sebagian jaringan yang sudah berada di mulut rahim ; apabila perdarahan yang terjadi tidak kunjung berhenti, embrio/janin harus segera dikeluarkan. 3. Abortus tidak lengkap (inkomplet) Tandanya, sebagian jaringan embrio sudah terlepas dari dinding rahim, dan biasanya ada sebagian jaringan yang sudah berada di mulut rahim ; apabila perdarahan yang terjadi tidak kunjung berhenti, embrio/janin harus segera dikeluarkan. 4. Abortus lengkap (komplet) Abortus lengkap (komplet) yaitu di mana hasil konsepsi (pembuahan) keluar seluruhnya. Tandanya, embrio yang sudah berbentuk janin, sudah terlepas sama sekali dari dinding rahim ; biasanya terjadi di awal masa kehamilan, yakni ketika plasenta belum terbentuk ; janin akan keluar dari rahim, baik secara spontan maupun dengan alat bantu.guan kehamilan. Bila keguguran berulang sebanyak tiga kali, disebut abortus habitualis. Sementara bila janin mati dan tak berkembang di dalam rahim disebut missed abortion, namun bila janin telah berkembang antara 20-28 minggu dan terjadi sesuatu, hal itu tak disebut keguguran melainkan persalinan immatur (dengan berat bayi 500-1.500 gram). Sedangkan persalinan dini (prematur) terjadi bila usia kehamilan mencapai 28-34 minggu dengan berat bayi 1.500-2.500 gram. Keguguran yang timbul pada kehamilan trimester pertama umumnya disebabkan faktor genetik, seperti kasus kelainan 18

kromosom akibat translokasi berimbang antara kromosom-kromosom sperma dan kromosom-kromosom sel telur. Sedangkan keguguran yang terjadi pada trimester kedua lebih sering disebabkan faktor ibu, seperti kelemahan mulut rahim, kerusakan dinding penyekat rahim, atau ukuran rahim. Jika seorang ibu mengalami keguguran, peluang untuk melahirkan anak dengan selamat sekitar 87 persen pada kehamilan berikutnya. Jika ia pernah dua kali keguguran, peluang itu menurun menjadi sekitar 60 persen melahirkan pada waktunya. Sedangkan jika ia pernah mengalami keguguran sebanyak tiga kali, peluang melahirkan bayi hanya sekitar 40 persen. 2.5.2 Faktor-faktor penyebab keguguran Penyebab keguguran sangat beragam. Kebanyakan ahli kandungan berpendapat, keguguran merupakan hasil interaksi dari berbagai faktor. Terbukti, sekitar 50% kasus keguguran terjadi akibat kelainan kromosom, dan selebihnya adalah akibat infeksi, kelainan rahim, kelainan hormon, dan lain-lain. Secara garis besar, dibagi dalam 4 faktor, yaitu : 1. Faktor Genetik Sel-sel manusia yang normal mengandung 46 kromosom. Sel telur mengandung kromosom XX, sedangkan sperma mengandung kromosom X dan kromosom Y. Kendati demikian, adakalanya terjadi ketidaksempurnaan seperti jumlah yang kurang (misalnya 45) atau jumlah berlebih (menjadi 47). Keadaan ini mengakibatkan ketidaknormalan pada janin. Faktor ibu memberi pengaruh sebesar 60 persen, sedangkan ayah berpengaruh 40 persen pada peristiwa keguguran. Faktor genetik menjadi penyebab terbesar dalam keguguran, sekitar 80 persen. 2. Faktor Hormonal Sekitar 10 persen keguguran disebabkan faktor hormonal. Jika Ibu mempunyai hormon prolaktin terlalu banyak dapat mengganggu perkembangan telur yang baru dibuahi, dan sebaliknya. Kehadiran hormon ini diperlukan untuk menunjang kematangan janin dan plasenta. 3. Faktor Infeksi Bila ibu terkena infeksi virus TORCH, juga bisa menyebabkan keguguran. TORCH ialah toksoplasmosis, rubella, CMV (cytomegalovirus) dan HSV (herpes simpleks virus). Jika ibu hamil mengalami infeksi ini, janin akan tumbuh secara tak normal, sehingga dapat menyebabkan keguguran. 4. Faktor Tak Diketahui 19

Faktor-faktor tak diketahui mencapai 5 persen dari keguguran yang terjadi pada kehamilan. Bisa karena wanita hamil terkena kontak zat-zat kimia, radiasi, fisika, dan sebagainya. Keguguran juga dapat diakibatkan oleh gaya hidup. Wanita yang cenderung merokok, mengkonsumsi minuman keras, obesitas atau berat badan kurang dapat memiliki gangguan hormon yang berakibat gangguan kehamilan Adanya kelainan pada rahim, kelainan yang paling umum terjadi adalah adanya miom (tumor jaringan otot) yang dapat mengganggu pertumbuhan embrio. Kelainan lain yaitu rahim terlalu lemah sehingga tidak mampu menahan berat janin yang sedang berkembang. Kehamilan dalam rahim yang terlalu lemah biasanya hanya mampu bertahan hingga akhir trimester pertama. 2.5.3 Tanda-Tanda Keguguran Adapun tanda tanda dari keguguran antara lain : 1. Perdarahan Perdarahan adalah tanda yang paling umum. Perdarahan yang terjadi bisa hanya berupa bercak-bercak yang berlangsung lama sampai perdarahan hebat. Kadangkadang terdapat bagian jaringan yang robek yang ikut keluar bersamaan dengan darah. Misalnya, bagian dari jaringan dinding rahim yang terkoyak atau kantung ketuban yang robek. Wanita perlu mendapat perawatan jika tak bisa mengatasi rasa nyeri yang sangat hebat. Awal keguguran ialah jika sudah mengeluarkan gumpalan-gumpalan berwarna merah muda atau keabua-abuan. Jika ini terjadi di rumah, simpan gumpalan itu dalam sebuah wadah dan berikan pada dokter di rumah sakit. Dengan demikian dokter bisa segera menentukan apakah keguguran baru berupa ancaman, keluar sebagian atau lengkap dan membutuhkan prosedur D&C (Dilation dan Curetage) yaitu pembukaan dan kuretase untuk

menyelesaikannya. 2. Kram atau Kejang Perut Tanda ini rasanya mirip seperti kram perut pada awal datang bulan. Biasana kram ini berlangsung berulang-ulang dalam periode waktu yang lama. Kram atau kejang juga dapat terjadi di daerah panggul. 3. Nyeri Pada Bagian Bawah Perut Rasa nyeri pada bagian bawah perut terjadi dalam waktu cukup lama. Selain di sekitar perut, rasa sakit juga dapat terjadi di bagian bawah panggul, selangkangan,

20

dan daerah alat kelamin. Nyeri ini terjadi dalam beberapa jam hingga beberapa hari setelah muncul gejala perdarahan. 2.5.4 Tindakan Pencegahan Keguguran Keguguran umumnya terjadi tanpa dapat dikontrol. Kekuatan rahim ibu cukup kuat untuk menahan goncangan sehingga keguguran karena trauma (benturan) jarang terjadi. Juga tidak ada bukti yang menunjukkan pengaruh stress dan aktivitas seksual terhadap keguguran. Bila terdapat ancaman keguguran seperti pendarahan di awal-awal kehamilan, upaya pencegahan dapat dilakukan dengan istirahat yang cukup dalam beberapa hari, mengurangi aktivitas olah raga, dan menghentikan hubungan seks dalam beberapa minggu. Pada 50% kasus, ancaman keguguran dapat diatasi sehingga tidak berlanjut. Jika ancaman keguguran disebabkan oleh pembukaan dini leher rahim, dokter mungkin akan melakukan penjahitan untuk merapatkan kembali sampai saatnya melahirkan. Tindakan medis dan pengobatan juga diperlukan bila terdapat kelainan bentuk rahim dan leher rahim. Seorang ibu hamil jika mengalami perdarahan sedikit apa pun, harus segera menghubungi dokter. Harus dilakukan pemeriksaan USG untuk mengetahui dengan pasti apakah janin masih ada atau sudah gugur. Bila tak ada janin tapi tanda-tanda kehamilan masih ada, hal ini dalam ilmu kedokteran disebut blighted ovum (BO). Bila keadaan sudah demikian, dokter akan mengambil tindakan kuretase, yaitu pengerokan pada rahim dengan tujuan mengosongkan rongga rahim. Bila disebabkan oleh infeksi, dokter akan mengobati infeksinya lebih dahulu. Jika infeksi sudah dipastikan sembuh, ibu tersebut baru diperbolehkan hamil kembali. Jika keguguran akibat mulut rahim yang lemah, maka pada kehamilan berikutnya akan dilakukan tindakan operasi pengikatan mulut rahim.Untuk boleh hamil kembali setelah mengalami keguguran, umumnya dokter akan menganjurkan 3-6 bulan ke depan. Hal ini lebih disebabkan, bagi seorang ibu, untuk hamil kembali, ia memerlukan kesiapan fisik dan mental. Tindakan pencegahan keguguran yang paling baik ialah dengan mengatur pola makan dan jenis makanan yang di konsumsi.Makanan dapat mempengaruhi kesehatan janin dalam kandungan. Berdasarkan penelitian medis yang telah melalui pengujian dari American Pregnancy Association (APA) menyebutkan beberapa sumber makanan

21

memang dapat mempengaruhi kehamilan, dan sebaiknya dihindari oleh wanita hamil. Makanan tersebut antara lain : - Sayuran mentah Tak hanya ikan dan daging, sayuran mentah juga sebaiknya dihindari. Selain ancaman toxoplasma, pestisida yang dibawa oleh sayuran akan mengganggu perkembangan bayi di dalam kandungan. Sehingga pastikan semua sayuran yang dikonsumsi dalam keadaan matang. - Daging atau Ikan Mentah Daging atau ikan yang dimakan tanpa dimasak terlebih dahulu sangat beresiko mengandung bakteri berbahaya seperti toxoplasma dan salmonella. - Ikan Bermerkuri Memang tidak mudah membedakan ikan dengan kandungan merkuri yang tinggi. Tapi, ibu hamil sebaiknya menghindari makanan-makanan kalengan atau tidak terlalu sering mengonsumsinya. - Telur mentah atau setengah matang Sangat tidak dianjurkan untuk mengonsumsi telur mentah ataupun setengah matang. Bakteri Salmonella pada umumnya tinggal di sana sangat berbahaya bagi kandungan. - Aneka saus berbahan dasar telur mentah Karena telur mentah atau setengah matang menjadi pantangan, maka salad dressing, mayonaise, ice cream homemade, custard, ataupun cream kue sebaiknya dihindari. - Soft Cheese Keju-keju impor juga sebaiknya dihindari karena ditengarai bahwa keju impor mengandung bakteri yang disebut Listeria. Bakteri ini cukup berbahaya karena bisa menyebabkan pendarahan, hingga keguguran. Sama halnya dengan soft cheese, susu non-pasteurisasi juga ditengarai membawa bakteri Listeria. - Alkohol Minuman ini sudah lama masuk dalam daftar tidak boleh dikonsumsi bagi wanita hamil. Seperti diketahui, alkohol sangat membahayakan bagi siapapun yang tidak hamil. Ancaman alkohol selain berbahaya bagi ginjal dan jantung, juga berbahaya bagi seluruh bagian tubuh lainnya. Alkohol bisa dikatakan sebagai racun, yang akan mengacaukan sistem syaraf jika dikonsumsi secara terus menerus. Pada ibu hamil dan menyusui, alkohol dapat menyebabkan gangguan mental pada bayi, dan gangguan kehamilan lainnya. - Kafein 22

Beberapa studi mungkin memperbolehkan wanita hamil mengonsumsi kafein. Namun, menurut studi yang ditemukan APA mengatakan bahwa kafein sangat berpengaruh terhadap keguguran, terutama pada usia kehamilan trisemester. Kafein merupakan zat yang memicu untuk berkemih. Sehingga tubuh menjadi lemah, mudah dehidrasi, dan kekurangan kalsium. Saat ini, dunia medis membatasi pengonsumsian kafein tidak lebih dari 300mg per hari untuk mencegah keguguran tersebut. - Nanas muda Nanas muda berpotensi sebagai abortivum atau sejenis obat yang dapat menggugurkan kandungan. Makanya, nanas sering digunakan untuk mengatasi haid yang terlambat. Wanita hamil disarankan untuk tidak mengonsumsi nanas muda. Karena terdapat beberapa macam Kandungan vitamin A, vitamin C, kalsium, fosfor, magnesium, besi, natrium, kalium, dekstrosa, sukrosa, serta enzim bromelain yang tersimpan dalam buah nanas merupakan peluru tangguh yang bisa meng-KO serbuan penyakit-penyakit serius, seperti tumor, aterosklerosis (penyempitan pembuluh darah), beri-beri dan juga sebagai pemecah protein ( pelunak daging) dalam tubuh manusia.

2.5.5 Aborsi Aborsi (menggugurkan kandungan) dilakukan untuk melakukan pengeluaran hasil konsepsi (pertemuan sel telur dan sel sperma) sebelum janin dapat hidup di luar kandungan. Proses pengakhiran hidup dari janin sebelum diberi kesempatan untuk tumbuh dan berkembang Aborsi dapat dibagi menjadi 3 yaitu Aborsi Spontan, Aborsi Buatan dan aborsi Terapeutik. Aborsi spontan/alamiah berlangsung tanpa tindakan apapun. Kebanyakan disebabkan karena kurang baiknya kualitas sel telur dan sel sperma. Aborsi buatan/sengaja adalah pengakhiran kehamilan sebelum usia kandungan 28 minggu sebagai suatu akibat tindakan yang disengaja dan disadari oleh calon ibu maupun si pelaksana aborsi (dalam hal ini dokter, bidan atau dukun beranak). Aborsi terapeutik/medis adalah pengguguran kandungan buatan yang dilakukan atas indikasi medik. Sebagai contoh, calon ibu yang sedang hamil tetapi mempunyai penyakit darah tinggi menahun atau penyakit jantung yang parah yang dapat membahayakan baik calon ibu maupun janin yang dikandungnya. Pada kehamilan muda (dibawah 1 bulan) 23

Aborsi yang dilakukan pada kehamilan muda ialah dimana usia janin masih sangat kecil, aborsi dilakukan dengan cara menggunakan alat penghisap dan

(suction). Sang anak yang masih sangat lembut langsung terhisap

hancur berantakan. Saat dikeluarkan, dapat dilihat cairan merah berupa gumpalangumpalan darah dari janin yang baru dibunuh tersebut.

Gambar 7. Janin pada Usia 1 Bulan Pada kehamilan lebih lanjut (1-3 bulan) Pada tahap ini, tahap ini telah terjadi organogenesis pada janin. Aborsi dilakukan dengan cara menusuk anak tersebut kemudian bagian-bagian tubuhnya

dipotong-potong dengan menggunakan semacam tang khusus untuk aborsi (cunam abortus). Anak dalam kandungan itu diraih dengan menggunakan tang tersebut, dengan cara menusuk bagian manapun yang bisa tercapai.

Kemudian setelah ditusuk, dihancurkan bagian-bagian tubuhnya. Tulang-tulangnya diremukkan dan seluruh bagian tubuhnya disobek-sobek menjadi bagian kecil-kecil agar mudah dikeluarkan dari kandungan.

Gambar 8. Janin pada Usia 3 Bulan Pada kehamilan lanjutan (3 sampai 6 bulan) Pada tahap ini, bayi sudah semakin besar dan bagian-bagian

tubuhnya sudah terlihat jelas. Jantungnya sudah berdetak, tangannya sudah bisa 24

menggenggam. Tubuhnya sudah bisa merasakan sakit, Karena jaringan syarafnya sudah terbentuk dengan baik. Aborsi dilakukan dengan terlebih dahulu membunuh bayi ini sebelum dikeluarkan. Pertama, diberikan suntikan maut (saline) yang

langsung dimasukkan kedalam ketuban bayi. Cairan ini akan membakar kulit bayi tersebut secara perlahan-lahan, menyesakkan pernafasannya dan

akhirnya setelah menderita selama berjam-jam sampai satu hari bayi itu akhirnya meninggal.

Gambar 9. Janin pada Usia 5 Bulan

Pada kehamilan 6-9 bulan Pada tahap ini, bayi sudah sangat jelas terbentuk. P dilakukan dengan roses aborsi

cara mengeluarkan bayi tersebut hidup-hidup,

kemudian dibunuh. Cara membunuhnya biasanya langsung dilemparkan ke tempat sampah, ditenggelamkan kedalam air atau dipukul kepalanya hingga pecah.

Gambar 10. Janin pada Usia 7 Bulan

25

2.6 Proses Pemulihan pada Keguguran Secara umum, proses pemulihan kondisi fisik pasca keguguran relatif tidak sulit. Bila tidak timbul masalah selama proses keguguran, dalam waktu satu atau dua hari saja kondisi pasien sudah berangsur pulih, baik proses keguguran secara alami (tanpa tindakan medis) maupun menggunakan suntikan atau tindakan kuret untuk membersihkan sisa jaringan yang melekat pada rahim, semestinya perdarahan sudah berhenti dalam periode satu hingga dua minggu. Setelah satu minggu, perdarahan akan berkurang secara berangsur dan pada akhirnya hanya berwujud flek kecokelatan. Berhubung rahim sedang berkontraksi untuk meluruhkan sisa-sisa kehamilan yang masih tertinggal di dalam tubuh, kemungkinan besar akan terasa nyeri dan kram pada daerah perut. Gejalanya mirip dengan kram perut ketika menstruasi. Keluhan itu juga akan mereda dalam waktu beberapa hari. Beberapa cara yang perlu dilakukan dalam pemulihan pasca keguguran : 1. Beristirahat Istirahat berguna untuk mengurangi kelelahan fisik dan psikologis setelah keguguran. Pemulihan fisik sangat bergantung pada usia kehamilan, atau ada tidaknya komplikasi saat dilakukan tindakan kuret. Umumnya jika tidak terjadi komplikasi, waktu pemulihannya antara satu hingga dua minggu. Setelah masa itu, peredaran darah akan lancar dan bentuk rahim kembali normal seperti sediakala. Hanya saja, hindari aktivitas yang terlalu banyak membutuhkan tenaga. 2. Mengkonsumsi Obat Herbal Dalam pemulihan pasca keguguran ada beberapa obat herbal yang perlu untuk dikonsumsi untuk mengurangi adanya pendarahan, antara lain : - Pegagan Pegagan memilki kandungan glikosida triterpenoida yang disebut asiaticoside merupakan antilepra dan penyembuh luka. Pegagan bersifat mendinginkan, memiliki fungsi membersihkan darah, melancarkan peredaran darah, peluruh kencing (diuretika), penurun panas (antipiretika), menghentikan pendarahan (haemostatika), meningkatkan syaraf memori, anti bakteri, tonik, antispasma, antiinflamasi, hipotensif, insektisida, antialergi dan stimulan. Saponin yang ada menghambat produksi jaringan bekas luka (menghambat terjadinya keloid)

26

- Temu Putih Kandungan kimia rimpang temu putih terdiri dari kurkuminoid (diarilheptanoid), minyak atsiri, polisakarida serta golongan lain. Untuk membuang sisa-sisa kotoran yang tertinggal dan sebagai anti inflamasi. - Bidara Upas/Rumput Mutiara Dimanfaatkan untuk merangsang atau menstimulasi sirkulasi darah. - Kunyit Beberapa kandungan kimia dari rimpang kunyit yang telah diketahui yaitu minyak atsiri sebanyak 6% yang terdiri dari golongan senyawa monoterpen dan sesquiterpen yang menunjukkan aktifitas antiimflamasi. 3. Waspadai Demam Bila setelah keguguran dan kuret, ibu demam menggigil, sakit sekitar perut, kram atau sakit punggung, mengalami pendarahan berlebihan atau terdapat pengeluaran cairan dari vagina yang berbau busuk, segeralah kembali ke dokter. Karena dalam hal ini bisa terjadi koplikasi. 4. Dilarang memasukkan benda apa pun ke dalam vagina Untuk menghindari terjadinya infeksi, dilarang memasukkan benda apa pun ke dalam vagina, seperti tampon, vaginal douce (cairan pencuci vagina), serta berhubungan intim. Infeksi memang dapat diatasi dengan menggunakan antibiotika. Tapi, fungsi organ reproduksi berisiko mengalami penurunan. Karenanya, konsultasikan kepada dokter tentang perubahan yang di alami setelah mengalami keguguran. Terlebih, jika mengalami gejala infeksi seperti demam, perdarahan hebat, serta keluarnya darah atau keputihan yang berbau, dengan atau tanpa disertai rasa nyeri pada perut bagian bawah. 5. Memberi waktu untuk Menenangkan Diri Pengalaman traumatik ini mampu menrusak dinding pertahanan psikologis, dan imbasnya muncul dalam bentuk rasa takut yang berlebihan serta kehilangan kontrol atas diri sendiri. Beberapa wanita mengalami masalah seksual, kesulitan tidur, gangguan pola makan, dan pada kasus yang ekstrem, ada pula yang mengalami delusi serta mencoba mengakhiri hidupnya. Oleh karena itu berikan waktu kepada diri sendiri untuk menghadapi perasaan kehilangan dan kesedihan. Tak perlu menekan dan meminimalkannya, karena hal itu justru akan memperlambat proses pemulihan. 6. Mencari Tahu Penyebab Keguguran Melakukan wawancara untuk mengetahui bila ada kelainan kromosom dari keluarga kedua belah pihak. Bila keguguran terjadi pada trimester pertama, umumnya 27

penyebabnya adalah kelainan kromosom. Apabila diakibatkan karena kelainan jumlah kromosom, maka tak perlu dikhawatirkan, karena kemungkinan untuk berulang tidaklah terlalu besar. Hal ini akibat kesalahan pembagian kromosom selama proses pembelahan sel saat pembuahan terjadi. Namun, apabila ditemukan kelainan bentuk kromosom, maka akan sulit untuk dilakukan perbaikan, sehingga keguguran dapat kembali berulang. 7. Lakukan komunikasi dengan pasangan Komunikasikan dengan pasangan, apa rencana selanjutnya. Jangan tenggelam dalam kesedihandan menyalahkan diri sendiri, karena belum tentu penyebabnya berasal dari ibu. 8. Lakukan pemeriksaan ke dokter Untuk mengetahui perkembangan rahim selanjutnya, segera lakukan pemeriksaan ke spesialis kandungan. Terutama, untuk yang telah mengalami keguguran sedikitnya dua kali secara beruntun. Semakin sering terjadi keguguran berulang, maka risiko untuk keguguran pada kehamilan berikutnya cukup tinggi. Umumnya dokter akan melakukan pemeriksaan bentuk rahim, serta mengevaluasi kondisi hormonal dan sistem kekebalan tubuh .

28