Anda di halaman 1dari 92

Berikut ini adalah case 2, yang kami dapat : HALAMAN 1 : DION MY SON Ny.

Geni, 29 tahun datang ke RSPAD Gatot Soebroto Jakarta dan berkonsultasi dengan dokter spesialis anak, karena sejak beberapa bulan terakhir ini Ny. Geni khawatir melihat perkembangan anak pertamanya yang diberi nama Dion berusia 5 bulan. Wajah anaknya tersebut sangat tidak mirip dengan Ny. Geni dan suaminya. Wajah Dion tersebut seperti pernah dilihatnya di beberapa tempat, dan pernah juga dilihatnya di beberapa media informasi. Sejak awal kehamilannya Ny. Geni memang agak khawatir, mengingat lingkungan kerjanya yang akrab dengan bahan-bahan yang termasuk mutagenik. Tetapi kekhawatirannya itu berusaha dihilangkan dengan mengingat-ingat bahwa dalam keturunannya tidak ada satupun keluarganya yang lahir cacat. Walaupun pada saat itu dokter sudah menyarankan untuk melakukan pemeriksaan amniosintesis, tetapi karena keterbatasan biaya maka saran dokter tersebut diabaikan. Dokter spesialis anak di RSPAD menyarankan agar Ny. Geni memeriksakan kromosom anaknya ke laboratorium Biologi Molekuler, untuk memastikan ada tidaknya kelainan kromosom. Pengambilan darah vena sebanyak 5 ml dan dilanjutkan dengan kultur darah serta pemetaan Kariotipe, akan dapat memastikan keadaan anaknya. Dari halaman 1, kami mendapatkan terminologi sebagai berikut : Terminologi halaman 1: Mutagenik : Agen kimia atau fisik yang memicu atau mempercepat perubahan

mutasi genetic melebihi laju mutasi spontan. Amniosintesis cairan amnion. Kromosom : Struktur analog yang membawa material genetic. : Pungsi uterus transabdominal perkutaneus untuk mendapatkan

Kariotipe

: Gambaran simbolik komplemen kromosom seseorang. 1

HALAMAN 2 Dari halaman 2 , kami mendapatkan peta kariotipe sebagai berikut:

Terminologi halaman 2: Autosom : Semua kromosom selain pasangan kromosom X, pada manusia terdapat 22 pasang autosom. Kromosom Sex : kromosom yang berkaitan dengan penentuan jenis kelamin pada

mammalia dan merupakan pasangan yang tidak sama. Yaitu kromosom X dan Y.

HALAMAN 3 Dua minggu kemudian Ny. Geni datang kembali ke dokter untuk mengkonsultasikan hasil pemeriksaan laboratorium tersebut, dan dokter menyatakan bahwa keadaan anaknya disebabkan karena terjadi mutasi. Ny. Geni khawatir anaknya kelak akan mewariskan sifat ini pada keturunannya, karena dari majalah kesehatan yang pernah dibacanya, di dalam kromosom manusia terdapat faktor yang dapat mewariskan sifat seseorang yang disebut DNA dan Gen, dimana DNA dapat dijumpai pada inti sel dan mitokondria. Namun Ny. Geni merasa kurang memahami apa proses selanjutnya sehingga Gen itu dapat terekspresi ? Terminologi halaman 3: Mutasi : Perubahan permanen yang dapat diturunkan dalam bahan genetic

DNA

: DNA merupakan suatu polimer nukleotida ganda yang berpilin (double

heliks). DNA dapat ditemukan pada nucleus dan mitokondria. Setiap nukleotida terdiri dari 1 gugus fosfat, 1 basa nitrogen, dan 1 gula pentosa.

Gen

: Bagian kromosom yang merupakan titik penentu sifat-sifat keturunan.

Ekspresi Gen : Proses dimana kode-kode informasi yang ada pada gen diubah menjadi protein-protein yang beroperasi di dalam sel. Atau proses penerjemahan imformasi yang terkadung pada struktur gen menjadi proses metabolisme atau pola kehidupan organisme.

RNA (basa N).

: Polimer yang tersusun dari sejumlah nukleotida tunggal. Setiap

nukleotida memiliki satu gugus fosfat, satu gugus pentosa, dan satu gugus basa nitrogen

Protein beberapa juta. Transkripsi

: Molekul makro yang mempunyai berap molekul antara lima ribu hingga : Sintesis RNA dengan menggunakan cetakan DNA yang dikatalis oleh

RNA polymerase; urutan basa RNA dan DNA bersifat komplementer.

Translasi

: Dalam genetika, proses dimana rantai polipeptida disintesi, rangkaian

asam amino ditentukan oleh urutan basa pada messenger RNA, yang kemudian ditentukan oleh urutan basa dalam DNA yang berasal dari gen yang ditranskripsi.

Analisa Kromosom

: Karyotyping adalah tes untuk memeriksa kromosom dalam mencari

sampel sel, yang dapat membantu mengidentifikasi masalah genetik sebagai penyebab gangguan atau penyakit. Tes ini dapat menghitung jumlah kromosom dan perubahan struktural dalam kromosom.

Dari halaman 1,2,3 diatas, kami menemukan problem sebagai berikut : Problem 1. Mengapa wajah Dion tidak mirip dengan Ny. Geni dan suaminya? 2. Kenapa wajah Dion seperti pernah dilihat di beberapa tempat dan media informasi? 3. Kenapa bahan-bahan mutagenik membuat khawatir Ny. Geni? 4. Mengapa faktor keturunan mengurangi kekhawatiran Ny. Geni? 5. Mengapa dokter menyarankan pemeriksaan Amniosintesis? 6. Bagaimana proses pemeriksaan Amniosintesis? 7. Apa jenis-jenis kelainan kromosom? 8. Bagaimana proses kultur darah? 9. Bagaimana mekanisme pemetaan kariotipe? 10. Kelainan apa yang terjadi pada kromosom Dion? 11. Mengapa dokter menyimpulkan penyebabnya adalah mutasi? 12. Bagaimana mekanisme pewarisan sifat pada keturunannya? 13. Apa peranan DNA dan gen dalam pewarisan sifat? 14. Apa perbedaan DNA inti dan DNA mitokondria? 15. Bagaimana mekanisme gen dapat terekspresi? 16. Apa penyebab gen dapat terekspresi? Dari Problem di halaman 1, 2, & 3, kami melakukan hipotesis sebagai berikut : Hipotesis 1. Mutasi gen terjadi pada Dion 2. Dion menderita Sindrom Down Translokasi 3. Mutagen menginduksi mutasi genetik

Mekanisme

Ny. Geni (29 Tahun)

Khawatir pada Dion, anaknya (Tidak mirip Ny. Geni & Suami)

Konsultasi ke Dokter Spesialis Anak (RSPAD Gatot Soebroto)

Anjuran Dokter (Pemeriksaan Kromosom)

Ke Laboratorium Biologi Molekuler

Kultur Darah Pemetaan Kariotipe

Kembali Konsultasi ke Dokter Spesialis Anak

Sindrom Down Translokasi

Faktor Eksternal

Faktor Internal Gen

Bahan Mutagenik

Kromosom

Radioaktif

Sinar UV

Euploidi

Aneuploidi

DNA

RNA

Dari halaman 1,2,3 ini kami tidak mengetahui beberapa hal sebagai berikut : I DONT KNOW (IDK) & LEARNING ISSUES (LI)

1. Genetika (Hereditas) 2. Kromosom 3. Gen (DNA + RNA)

GENETIKA
4. Mutasi 5. Ekspresi Gen 6. Amniosintesis

1. Genetika (Hereditas)
a. Definisi b. Fungsi c. Pola d. Simbol Genetika e. Pedigree Chart

2. Kromosom
a. Definisi b. Fungsi c. Struktur d. Bentuk e. J enis f. Kariotipe Manusia g. Penyakit Kelainan Genetik (PKG)

3. Gen (DNA + RNA)


a. Definisi b. Fungsi c. Struktur d. Bentuk e. J enis f. PKG

4. Mutasi
a. Definisi b. Faktor c. Macam-macam d. Mekanisme e. Repair DNA

5. Ekspresi Gen
a. Definisi b. Mekanisme c. Faktor d. PKG

6. Amniosintesis
a. Definisi b. Fungsi c. Mekanisme d. Cara Pembacaan

BAB I GENETIKA 1.1 Definisi Genetika Ilmu yang mempelajari bagaimana sifat keturunan (hereditas) diwariskan kepada anak cucu, serta variasi yang mungkin timbul di dalamnya.1 1.2 Fungsi Genetika Untuk mengetahui kelainan atau penyakit keturunan Untuk menjajagi sifat keturunan seseorang Mengetahui usaha untuk menanggulangi penyakit turunan.

1.3 A.

Pola Hereditas HEREDITAS PADA MANUSIA MENURUT HUKUM MENDEL

PEWARISAN GEN AUTOSOMAL Pewarisan Gen Autosomal Dominan Gen autosomal yang dominan, tidak pandang sifat yang ditentukannya, normal atau abnormal, akan memperlihatkan pola pemindahan yang karakteristik dari semua gen autosomal yang dominan. Polydactyly Polydactyly adalah terdapatnya jari tambahan pada satu atau kedua tangan/kaki. Pada Individu heterozigotik (Pp), derajat ekspresi gen dominan itu dapat berbeda, sehingga lokasi tambahan jari dapat bervariasi. Bila laki-laki Polydactyly heterozigotik menikah dengan perempuan normal, maka dalam keturunannya kemungkinan timbulnya Polydactyly ialah 50%

Nirwana Siregar, Buku Ajar Biologi Kedokteran Genetika (Jakarta: UPN Veteran Jakarta), hal. 1.

Gambar 1: polidaktili

(Sumber: http://www.kozmetikcerrahi.com)

Pewarisan Gen Autosomal Resesif Suatu sifat keturunan yang ditentukan oleh sebuah gen resesif pada autosom akan terihat bilamana mendapat gen dari kedua orang tuanya. Biaasanya kedua orang tuanya adalah heterozigot dan terlihat normal. Beberapa sifat keturunan atau penyakit keturunan yang ditentukan oleh gen resesif autosomal ialah : Mata biru Orang yang memiliki genotype bb hanya mampu membentuk sedikit melanin, sehingga matanya berwarna biru. Orang yang homozigot dominan BB mampu membentuk melanin dalam jumlah besar, sehingga matanya berwarna coklat tua sampai hitam. Cystic Fibrosis (CF) Merupakan penyakit keturunan yang ditandai dengan adanya kelainan dalam metabolism protein,sehingga mengakibatkan kerusakan / kemunduran pada beberapa organ seperti pancreas, infeksi pernapasan yang kronis dari paru-paru, dan biasanya penderita meninggal pada umur 18 tahun.

10

Penyakit Tay-Sachs Penderita mempunyai genotype homozigot resesif. Kelainannya berupa urat saraf yang mengalami kemunduran yang biasanya terlihat pada umur 6 bulan. Phenylketonuria (PKU) Penyakit ini disebabkan karena ketidakmampuan tubuh membentuk enzim phenylalanine hidroksilase, sehingga phenylalanine tidak dapat di ubah menjadi tirosin. Penderita memiliki genotype homozigotik resesif pp dan mempunyai timbunan asam amino phenilalanin dalam hati dan kelebihannya akan masuk ke dalam peredaran darah serta diedarkan ke seluruh tubuh. Orang normal mempunyai genotip PP atau Pp. Albinisme Kelainan terjadi karena tubuh tidak mampu membentuk enzim yang diperlukan untuk merubah asam amino tirosin menjadi beta-3,4-dihidroksiphenylalanin untuk selanjutnya di ubah menjadi pigmen melanin. Dengan demikian albinisme bukan karena tertimbunnya tirosin di dalam tubuh, melainkan karena tidakdapatnya tirosin di ubah menjadi melanin. Gambar 2: Albino

(sumber: http://bundaananda.blogspot.com)

11

PEWARISAN GEN GONOSOMAL Adalah sifat keturunan yang diwariskan dari orang tua kepada anaknya-anaknya yang ditentukan oleh gen-gen yang terdapat dalam kromosom kelamin, disebut juga rangkai kelamin (sex linkage). Gen-gen yang terdapat / terangkai pada kromosom kelamin, dinamakan gen terangkai kelamin (sex-linkage genes). Dengan demikian dapat dibedakan gen terangkai-X (X-lingked gene), ialah gen yang terangkai pada kromosom X dang gen terangkai Y (Y-lingked gene), yang terangkai pada kromosom Y. Pewarisan Gen Gonosomal Dominan pada Kromosom-X Tidak Beremail (Anenamel) Penyakit ini terdapat sejak masa kanak-kanak; menyebabkan gigi mudah rusak dan berwarna coklat karena kurang email. Kelainan ini disebabkan oleh gen dominan B yang terdapat dalam kromosom-X. alelnya resesif b menentukan gigi normal. Laki-laki hemizigot (B-) dan perempuan homozigot (BB), serta perempuan heterozigot (Bb). Semuanya kena penyakit tetapi penyakit ini lebih parah pada laki-laki. Gambar3: Gigi tidak beremail

(sumber: http://www.wisconsinreconstructiveimplantdentist.com/tetracycline_enamel_repair.html) Pewarisan Gen Gonosomal Resesif pada Kromosom-X Butawarna, Merupakan penyakit keturunan yang disebabkan oleh gen resesif c (c=color blind); yang terdapat dalam kromosom-X. perempuan normal mempunyai genotype homozigot dominant CC

12

dan heterozigot Cc, sedangkan yang buta warna adalah homozigotik resesif cc. laki-laki hanya mempunyai sebuah kromosom-X, sehingga hanya dapat normal (C-) atau buta warna (c-) saja. Perkawinan seorang perempuan normal dengan laki-laki butawarna mempunyai kemungkinan sebagai berikut :

I. P :
Gamet

CC

x
C C c -

c-

II. P :
Gamet

Cc
(Heterozigotik)

x
C c c -

c-

(homozigotik)

F1 :

Cc : C-

F1 :

Cc : cc : C- : c-

Keterangan : Cc : perempuan normal heterozigotik (carier) C- : laki-laki normal CC : Cc : Cc : cc

Keterangan : Cc : perempuan normal heterozigotik (carier) cc : perempuan buta warna C- : laki-laki normal c- : laki-laki buta warna

Anodontia Anodontia atau ompong ialah suatu kelainan herediter yang disebabkan oleh gen resesif pada kromosom-X. orang yang memiliki kelainan ini tidak memiliki benih gigi di dalam tulang rahangnya, sehingga gigi tidak tumbuh di kemudian hari. Gigi normal mempunya genotip homozigot AA. Gambar 4: Anodentia

(sumber: http://www.hxbenefit.com/anodontia.html)

13

Hemofilia Hemofilia penyakit keturunan yang mengakibatkan darah seseorang sukar membeku pada waktu terjadi luka. Gen H memberikan karakter normal, ada anti hemophilia dalam darah, sedangkan h adalah hemophilia. Perempuan normal memiliki 2 macam genotip yakni HH (homozigot dominan) dan Hh (heterozigot). Perempuan cacat memiliki genotip 1 (satu) macam yakni hh (homozigot resesif dan bersifat letal). Dengan demikian tidak ada perempuan yang menderita hemofili. Perempuan hemophilia dapat terjadi bilamana seorang laki-laki hemofili menikah dengan seorang perempuan carier hemophilia. Dan ini sangat jarang terjadi, karena lakilaki hemofili biasanya telah meninggal pada waktu anak-anak. Gambar 5: Homofilia

(sumber: http://schoolworkhelper.net)

Pewarisan Gen pada Kromosom-Y Kromosom-Y, mempunyai ukuran yang lebih pendek dari pada kromosom-X, karenanya kromosom-Y mengandung gen-gen yang lebih sedikit. Gen Resesif wt (Jari-jari Berselaput) Menyebabkan tumbuhnya kulit di antara jari-jari (terutama jari kaki), sehingga tangan atau kaki mirip dengan kaki katak atau burung air. Alelnya dominan Wt menentukan keadaan normal. Gen Resesif hg (hystrixgravier) Menyebabkan pertumbuhan rambut panjang dan kaku di permukaan tubuh; sehingga terlihat menyerupai hewan landak yang tubuhnya berduri.

14

Gen Resesif h (hypertrichosis) Menyebabkan tumbuhnya rambut pada bagian-bagian tertentu di tepi daun telinga. Alelnya gen dominan H tidak menyebabkan hypertrichosis; dan karena gennya terdapat dalam kromosom-Y, maka hanya diturunkan pada anak laki-laki saja. Gambar 6: hypertrichosis

(sumber: http://dermatlas.med.jhmi.edu/derm/indexDisplay.cfm?ImageID=-1169823965)

Gen-Gen Yang Ekspressinya Di Ubah Oleh Seks Gen-gen pada autosom maupun gonosom yang dalam memberikan ekspresinya pada fenotip dapat di ubah oleh seks. Apabila gen terletak pada autosom, maka laki-laki dan perempuan akan menerima gen dalam frekuensi yang sama; sehingga masing-masing seks mempunyai peluang yang sama besar untuk menampilkan gen tertentu. Tetapi apabila gen terletak pada kromosom-X, maka gen akan diwariskan menurut pola bersilang. Artinya gen yang terletak pada kromosom-X, tidak mungkin diwariskan langsung kepada anaknya laki-laki. Kepala Botak (Bald) Kepala botak bukanlah penyakit atau karena kekurangan gizi di dalam makanan; tetapi karena factor keturunan. Lazim terdapat pada laki-laki, namun kadang-kadang dapat ditemukan pada perempuan. Jika gen dominan B menentukan kepala botak dan alelnya resesif b menentukan kepala berambut normal, maka pengaruh jenis kelamin itu sedemikian rupa sehingga gen B itu dominan pada lakilaki, tetapi resesif pada perempuan bila heterozigotik.

15

genotip BB Bb bb

Laki-laki Botak Botak Normal

Perempuan Botak Normal Normal

Panjang Jari Telunjuk Umumnya jari telunjuk lebih pendek bila dibandingkan dengan jari manis. Penyebabnya adalah gen yang dominan pada laki-laki, tetapi resesif pada perempuan. Genotip TT Tt tt B. Laki-laki Telunjuk pendek Telunjuk pendek Telunjuk panjang Perempuan Telunjuk pendek Telunjuk panjang Telunjuk panjang

HEREDITAS PADA MANUSIA DILUAR HUKUM MENDEL

Dominasi yang Tak Sempurna Thalassemia Ditemukan baik pada laki-laki maupun pada perempuan. Orang yang mempunyai genotipe homozigot ThTh adalah Thalassemia mayor, genotipe homozigot Thth berfenotipe Thalassemia minor, sedangkan orang sehat hidup sampai dewasa dan berketurunan minor Gambar 7: Talasemia bergenotipe thth. Seseorang berpenampilan thalassemia mayor, sering tidak dapat hidup sampai dewasa, sedangkan thalassemia minor dapat

16

Kodominasi Kodominansi ialah keadaan dalam heterozigot dimana 2 angggota dari sepasang alel menyokong dari alel menyokong fenotip, yang kemudian merupakan campuran dari sifat-sifat fenotipe yang dihasilkan oleh salah satu keadaan homozigotik. Masing-masing alel kodominan bila dalm keadaan heterozigotik akan memberikan pengaruh yang berdiri sendiri. Sistem golongan darah ABO

Gen Lethal Gen lethal(gen kematian) adalah gen yang dalam keadaan homozigotik menyebabkan kematian. Karenanya kehadiran gen lethal pada suatu individu, menyebabkan perbandingan fenotip dalam keturunan menyimpan dari Hukum Mendel. Gen lethal dibedakan atas: 1. Gen Dominan Lethal, ialah gen dominan yang bila homozigotik akan menyebabkan kematian bagi individu. Penyakit Huntingtons Chorea Chorea berasal dari bahasa latin yang berarti tarian,karena penderita memperlihatkan gerakan tarian yang abnormal,yaitu gerakan memutar,merangkak,kejang-kejang danseringkali membuang barang yang dipegangnya tanpa disadari. Penyakit ini kebanyakn terdapat antara usia 25-55 tahun. Tanda-tanda pertama muncul pada usia antara 30-45 tahun. Lebih sering terdapat pada laki-laki dibandingkan dengan perempuan. Penyakit Huntinhton disebabkan oleh gen dominan letal H. orang bergenotipe HH mula-mula terlihat normal,tetapi umumnya padaa usia 25 tahun mulai memperlihatkan gejala-gejala

17

penyakit ini. Kerusakan pada sel-sel otak mengakibatkan fisik dan mental cepat memburuk dan berakhir dengan kematian. 2. Gen Resesif Lethal Gen resesif lethal adalah gen yang bila dalam keadaan homozigotik mengakibatkan kematian. Salah satu contoh adalah: ichtyosis congenital: penyakit bawaan pada manusia yang bersifatsaling mempengaruhi dari lethal2. Interaksi Gen Peristiwa yang ditentukan oleh adanya saling mempengaruhi dari beberapa gen,dengan kata lain ada beberapa gen dipengaruhi oleh gen lain untuk menumbuhkan karakter. Komplementer Interaksi gen pada peristiwa ini dalam hal saling melengkapi. Jika salah satu gen tidak hadir, maka penumbuhan suatu karakter menjadi tidak sempurna atau terhalang. Gen-gen komplementer adalah gen-gen dominan yang berlainan tetapi bila terdapat bersama-sama dalam genotip akan saling membantu dalam menemukan fenotip. Contoh pada manusia adalah mengenai bisu tuli.

P:
Gamet

DDee x ddEE
Bisu-tuli Bisu-tuli

De dE

F1 :
Gamet

DdEe x DdEe
DE De dE de DE De dE de

DdEe (normal)

F2 : 9 D..E.. : 3 D..ee : 3 ddE.. : 1 ddee


Keterangan : : - 9 D..E.. : normal - 3 D..ee : bisu tuli - 3 ddE.. : bisu tuli - 1 ddee : bisu-tuli

Nirwana Siregar, Buku Ajar Biologi Kedokteran Genetika (Jakarta: UPN Veteran Jakarta), hal. 46.

18

C. POLA PEWARISAN DARI DNA MITOKONDRIA Selain penurunan sifat ada pula penurunan sifat sitoplasma (penurunan ekstra nuclear) yang tidak mengikuti hukum Mendel. Sifat yang diturunkan dari penurunan sitoplasma / ekstranuklear ini diturunkan oleh DNA mitokondria / mtDNA.3 Contoh-contoh penyakit yang disebabkan karena kelainan genetika DNA mitokondria adalah : 1. Lebers Heredity Optic Neuropathy (LHON) Merupakan penyakit degenerative dengan gejala klinis yang khas berupa kebutaan pada kedua mata akibat atrofi saraf optic. 2. Syndroma Myoclonic Epilepsy and Ragged-Red Fiber (MERRF)

Ditandai oleh gejala epilepsy myoclonic yang muncul pertama kali pada usia muda. 3. Sindroma Mitochondrial Encephalomyopathy Lactic Acidosis, Stroke Like Episoders Secara klinis ditandai oleh berbagai gejala encephalomyopathy yang disertai dengan asidosis laktat, dengan gejala migraine yang secara progresif makin berat. 4. Chronic Progressive External Ophtalmoplegia (CPEO) Ditandai oleh adanya external ophtalmoplegia yang bersifat kronik dan progressif, dengan keluhan melihat ganda yang disebabkan oleh kelemahan otot bola mata yang berbeda antara mata kiri dan kanan.

(MELAS)

Nirwana Siregar, Buku Ajar Biologi Kedokteran Genetika (Jakarta: UPN Veteran Jakarta), hal. 44a.

19

1.4 Simbol Genetika Berbagai macam symbol genetika yang digunakan dala pedigree chart ialah sebagai berikut: Gambar 8: Simbol Genetika

(sumber: ( b p / http://carrier.p works.com/w/ age/15282807 Biology

%202%20Genetics)

20

1.5 Pedigree chart Agar pewarisan sifat keturunan yang terdapat dalam suatu keluarga dapat diikuti untuk bbeberapa generasi, maka perlu dibuat suatu diagram silsilah (pedigree chart) dari keluarga itu. Diagram silsilah pertama kali dibuat dari tanah liat; ditemukan di Iran da diduga berasal dari 3100 sebelum masehi. Para akhir abad 19, Francil Galton membuat beberapa analisa tentang diagram silsilah manusia.4 Gambar 9: Pedigree chart

(sumber : http://en.wikipedia.org)

(sumber : www.google.com)
4

Nirwana Siregar, Buku Ajar Biologi Kedokteran Genetika (Jakarta: UPN Veteran Jakarta), hal. 26.

21

BAB II KROMOSOM 2.1 Definisi Kromosom Kromosom adalah kromatin atau kombinasi asam nukleat dan protein yang merapat, memendek, membesar pada proses pembelahan dan terdiri dari bahan yang mudah mengikat zat warna. Struktur analog yang membawa material genetic.5 2.2 Fungsi kromosom Mengandung materi genetik seperti DNA & RNA Membawa materi genetik Tempat tertariknya benang spindel pada tahap anaphase

2.3 Struktur kromosom Gambar10: kromosom

(sumber: http://biologigonz.blogspot.com/2010/08/kromosom.html)

Retna neary Elseris, Kamus Dorland. Edisi 31 (Jakarta: EGC, 2012)

22

Bagian-bagian kromosom a. Selaput : lapisan tipis yang menyelimuti badan kromosom

b. Kandung/matriks : mengisi seluruh lengan, terdiri dari bagian bening c. Kromonema : benang halus berpilin-pilin yang terendam dalam kandung yang berasal

dari kromonema kromatin sendiri. d. Heterokromatin e. Eurokromatin f. Telomer g. Kromomer h. Sentromer : daerah kromatin yanng lebih banyak menyerap zat warna : daerah kromatin yang terang dan mengandung gen yang sedang aktif : bagian dari ujung-ujung kromosom yang menghalangi bersatunya : kromonema yang mmengalami penebalan di beberapa tempat,dan di : bagian kepala kromosom yang menentukan bentuk kromosom.

kromosom satu dengan kroomosom yang lain. anggap sebagai nukleoprotein yang mengendap. Kromosom dengan sebuah sentromer disebut monosentris. Kromosom dengan dua buah ksentromer disebut disentris. Kromosom yang mempunyai banyak sentromer disebut polisentris. i. Lekukan Sekunder : mempunyai peranan penting sebagai tempat terbentuknya nucleus. j. Sateli t: bagian yang merupakan tambahan pada ujung kromosom. Tidak smua kromosom memiliki satelit. Kromosom yang memiliki satelit disebut satelit kromosom. Bagian lengan kromosom Melihat perbedaan banyaknya menghisap zat warna teknik mikroskopis,kromatin dibedakan menjadi: a. Heterokromatin b. Eukromatin aktif. : kromatin yang lebih banyak dan lebih mudah ,menghisap zat warna : daerah kromatin yang terang dan mengandung gen-gen yang sedang dibandingkan dengan bagian yang lain.

23

2.4 Bentuk dari kromosom Gambar 11: bentuk kromosom

(sumber: www.google.com)

1. Metasentris

: sentromer terletak ditengah, sehingga lengan kromosom terbagi menjadi

2. Dan berbentuk seperti huruf V 2. Sub metasentris : sentromer terletak di sub median dan lengan tidak sama panjang dan hampir membentuk huruf J 3. Akrosentris membengkok. 4. Telosentris : sentromer terletak di ujung kromosom, hanya terdiri dari sebuah lengan saja, dan lurus seperti batang. : sentromer terletak di sub terminal, sehingga krmosom tidak

2.5 Jenis Kromosom Autosom

24

Kromosom biasa yang tidak berperan dalam penentun jenis kelamin.Dari 46 kromosom di dalam nukeus sel maka 44 buah ( 22 pasang ) adalah auotosom. Gonosom Gonosom adalah seks kromosom ( kromosom kelamin ) yang berperan dalam menentukan jenis kelamin.Seks kromosom dibedakan menjadi 2 macam yakni kromosom X dan kromosom Y . 2.6 Kariotipe Manusia Kariotipe adalah gambaran simbolik komplemen kromosom seseorang.6 Dengan peta kariotipe dapat membantu mendapatkan informasi tentang kelainan genetic. Berikut adalah peta kariotipe manusia normal dan penderita sindrom down. Gambar12: Kariotipe Manusia (Normal) Gambar 13:Kariotipe Manusia (Down Sindrome)

(sumber:http://biologyondemand.blogspot.com/p/bab-3.html)

(sumber: http://biologigonz.blogspot.com)

2.7

Penyakit Kelainan Genetik

Mutasi Kromosom a. Euploidi Euploidi adalah bila variasinya menyakut seluruh set kromosom.
6

Retna neary Elseris, Kamus Dorland. Edisi 31 (Jakarta: EGC, 2012)

25

Monoploid (n=123) Diploid (2n=112233)

Poliploid yaitu individu yang memiliki tiga atau lebih banyak set kromosom yang

lengkap. b. Aneuploidi Aneupoidi adalah apabila variasi hanya menyangkut perubahan satu atau beberapa kromosom dalam satu set kromosom. Sindrom Turner, kariotipe (22AA+X0). Jumlah kromosom 45 dan kehilngan 1 kromosom kelamin. Sindrom turner terjadi karena gagal berpisah(nondisjunction saat meiosis). Penderita berfenotipe perempuan.Ciri kelamin sekunder wanita tidak berkembang karena ovarium tidak tumbuh normal sehingga tidak terjadi oogenesis dan tidak terbentuk esterogen maka individu ini mandul,tubuhnya pendek, kulit pada leher sangat kendur sehingga mudah ditarik ke samping

Gambar 14: Sindrom Turner


(sumber: http://badarinhere.blogspot.com/2011_06_01_archive.html)

Sindrom Klinefelter, kariotipe (22AA+XXY), Mengalami trisomik pada kromosom gonosom. Penderita sindrom klinefelter berjenis kelamin laki-laki, namun testisnya tidak berkembang (testiscular disgenesis) sehingga tidak bisa menghasilkan sperma (aspermia) dan mandul (gynaecomastis) serta payudara tumbuh. 26

Gambar 15: Sindrom Klinefelter


(sumber: http://masihtertulis.blogspot.com/2012/01/aneusomi-manusia.html)

27

Sindrom Jacob, kariotipe (22AA+XYY), Trisomoik pada kromosom gonosom. Penderita sindrom ini umumnya berwajah kriminal, Suka menusuk-nusuk mata dengan benda tajam, seperti pensil, dll dan juga sering berbuat kriminal. Penelitian di lur negeri mengatakan bahwa sebagian besar orang-orang yang masuk penjara adalah orang-orang yang menderita sindrom Jacob. Sindrom Patau, kariotipe (45A+XX/XY), Trisomik pada kromosom autosom. Kromosom autosomnya mengalami kelainan pada kromosom nomor 13, 14 atau 15

Gambar 16: Sindrom Patau


(sumber: http://mutialailani.wordpress.com/2010/07/04/kelainankongenital/)

Sindrom Edward, kariotipe (45A+XX/XY), Trisomik pada autosom. Autosom mengalami kelainan pada kromosom nomor 16, 17, atau 18. Penderita sindrom ini mempunyai tengkorak lonjong, bahu lebar pendek, telinga agak ke bawah dan tidak wajar. Gambar 17: Sindrom Edward
(sumber: http://mutialailani.wordpress.com/2010/07/04/kelainankongenital/)

28

Sindrom Down, kariotipe (47,XX,+21 atau 47 ,xy,+21) Tubuh pendek,wajah membulat,kepala lebar,hidung lebar dan datar ,kelopak mata mempunyai lipatan epikantus sehingga mirip dengan orang oriental,iris mata kadang- kadang berbintik yang disebut bintik-bintik brushfield Sindrom Down Translokasi (46XX/44XY) Perubahan struktur kromosom, disebabkan karena suatu potongan kromosom 21 bersambung dengan kromosom lain yang bukan homolog. Biasanya kromosom 21 mendapat tambahan patahan kromosom dari kromosom14.

Sindrom Down Mosaik Pada sindrom down mosaic terdapat sejumlah sel yang normal dan yang lainnya

mengalami trisomi 21. Kejadian ini dapat terjadi dengan dua cara: nondisjungsi pada perkembangan sel awal embrio yang normal menyebabkan pemisahan sel dengan trisomi 21, atau embrio dengan Down syndrome mengalami nondisjungsi dan beberapa sel embrio kembali pada pengaturan kromosom mormal. Terjadinya nondisjuction dikarenakan ibu hamil pada usia lanjut. Adanya virus/radiasi. Adanya pengandungan hormon tiroid yang tinngi.

Gambar 18: Sindrom Down

29

(sumber: http://mutialailani.wordpress.com/)

(sumber: http://koding-kn.blogspot.com/)

30

BAB III GEN (DNA DAN RNA)

3.1 Definisi Gen Gen adalahagian kromosom yang merupakan titik penentu sifat-sifat . Satuan informasi genetik yang terdiri atas suatu urutan nukleotida spesifik dalam DNA (atau RNA, pada beberapa virus).7 Segmen molekul DNA (RNA pada beberapa virus tertentu) yang mengandung semua informasi yang diperlukan untuk menyintesis satu produk (rantai polipeptida atau molekul RNA). Gen merupakan unit biologis dari keturunan, sanggup memperbanyak diri sendiri, dan ditransmisikan dari orang tua ke keturunannya, serta memiliki posisi tertentu (lokus) dalam genom.8 Menurut W. Johansen, gen merupakan unit terkecil dari suatu makhluk hidup yang mengandung substansi hereditas, terdapat di dalam lokus gen 3.2 . Fungsi Gen Menyampaikan informasi genetik kepada generasi berikutnya Mengontrol dan mengatur metabolisme dan perkembangan tubuh. Proses reaksi kimia dalam tubuh dapat terjadi secara berurutan. Pada setiap tahap reaksinya diperlukan enzim. Pembentukan dan pengontrolan kerja enzim tersebut dilakukan oleh gen. Pada proses perkembangan yang memerlukan hormon juga diatur oleh gen. Menentukan sifat-sifat pada keturunannya. Dapat berupa warna kulit, bentuk rambut, bentuk badan, dll

Neil campbell, Biolodi. Edisi 5 (Jakarta: Erlangga, 2000) Newman W.A, Kamus Saku Kedokteran Dorland. Edisi 25 (Jakarta: EGC, 1998)

31

3.3 Struktur Gen Gen terdiri dari protein dan asam nukleat (DNA dan RNA), berukuran antara 4 8 m (mikron). Gambar 19: Gen

(http://syarmadie.blogspot.com/2011_04_01_archive.html)

Struktur Gen Prokariot Secara umum struktur lengkap gen pada bakteri adalah: promoter, bagian struktural, dan terminator. Promoter adalah bagian gen yang berfungsi sebagai pengatur proses ekspresi genetik (transkripsi) bagian struktural. Bagian ini adalah bagian yang akan dikenali pertama kali oleh RNA polimerase dan protein regulator sebelum proses transkripsi (sintesis RNA) dimulai. Bagian struktural adalah bagian gen yang membawa kode-kode genetik yang akan ditranskripsi dan kemudian ditranslasi (dalam hal gen yang mengkode protein) atau hanya ditranskripsi saja (dalam hal gen yang mengkode rRNA dan tRNA) Terminator adalah bagian gen yang berperanan dalam proses penghentian transkripsi. Pada prokariot diketahui ada empat kelompok utama organisasi gen yaitu gen independen, unit transkripsi, kelompok gen, dan operon. Gen independen adalah gen yang ekspresinya tidak tergantung pada ekspresi gen lain sehingga gen tersebut akan diekspresikan terus menerus (ekspresi konstitutif) selama selnya masih tumbuh. 32

Unit transkripsi adalah sekelompok gen yang secara fisik terletak berdekatan dan diekspresikan bersama-sama karena produk ekspresi gen-gen tersebut diperlukan dalam suatu rangkaian fisiologis yang sama. Contohnya adalah gen yang mengkode rRNA dan tRNA. Kelompok gen adalah beberapa gen yang secara fisik terletak pada lokus yang berdekatan dan produk ekspresi gen-gen tersebut diperlukan dalam rangkaian proses fisiologi yang sama, meskipun masing-masing gen tersebut dikendalikan secara independen. Operon adalah sekelompok gen struktural yang terletak berdekatan dan ekspresinya dikendalikan oleh satu promoter yang sama. Hasil transkripsi gen prokariot bersifat polisistronik karena satu molekul mRNA mengkode lebih dari satu protein. Struktur Gen Eukariotik Struktur gen pada eukariot sama dengan pada prokariot yaitu promoter, bagian struktural, dan terminator. Yang menjadi perbedaan mendasar adalah pada bagian struktural gen eukariot mengandung intron. Intron adalah sekuens nukleotida yang tidak akan ditemukan terjemahannya didalam rangkaian asam amino protein yang dikode oleh suatu gen. Intron akan ditranskripsi terapi kemudian mengalami pemotongan sehingga tidak akan mengalami translasi. Sekuens nukleotida yang akan diterjemahkan dsebut sebagai ekson. Pada eukariotik, satu gen struktural yang mengkode suatu protein dikendalikan ekspresinya oleh satu promoter yang spesifik sehingga mRNA. Gen eukariot dibagi menjadi tiga kelas yaitu: Gen Kelas I Yaitu gen-gen yang mengkode pembentukan rRNA 58S, rRNA 18S, dan rRNA 28S.Ketiga molekul rRNA tersebut digunakan dalam pembentukan ribosom. Gen Kelas II Yaitu gen-gen yang mengkode sintesis semua molekul protein. Gen-gen tersebut terlebih dahulu akan disalin (ditranskripsi) menjadi molekul mRNA, selanjutnya mRNA akan dtranslasi menjadi ragkaian asam amino yang menyusun suatu protein.

33

Gen Kelas III Yaitu gen-gen yang mengkode pembentukan molekul tRNA dan rRNA 5S. Molekul

tRNA digunakan untuk membawa asam amino yang akan disambungkan menjadi molekul protein dalam proses translasi. 3.4 Bentuk Gen Yang menghasilkan protein, tRNA atau rRNA, disebut sebagai gen struktural Yang mengontrol kapan dan bagaimana suatu gen lain diekspresikan disebut sebagai gen regulator Yang menghasilkan protein untuk kehidupan sel disebut sebagai housekeeping genes termasuk di dalamnya yang terlibat sintesis protein Yang lain, gen spesifik jaringan, yang hanya diekspresikan di sel atau jaringan tertentu, misalnya gen penyandi insulin hanya diekspresikan di sel pancreas 3.5 Jenis Gen Gen terbagi menjadi 2 yaitu DNA dan RNA A. DNA Asam deoksiribonukleat, lebih dikenal dengan DNA (bahasa Inggris: deoxyribonucleic acid), adalah sejenis asam nukleat yang tergolong biomolekul utama penyusun berat kering setiap organisme. Di dalam sel, DNA umumnya terletak di dalam inti sel. Asam nukleat yang gulanya adalah deoksiribosa,pengganti bahan genetic utama sel organisme dan virus DNA,serta berlangsung secara predominan dalam inti.9 Asam deoksiribonukleat atau disingkat DNA merupakan persenyawaan kimia yang paling penting pada makhluk hidup, yang membawa keterangan genetik dari sel khususnya atau dari makhluk hidup dalam keseluruhannya dari satu generasi ke generasi berikutnya.10 DNA merupakan suatu polimer nukleotida ganda yang berpilin (double heliks). DNA dapat ditemukan pada nucleus dan mitokondria. Setiap nukleotida terdiri dari 1 gugus fosfat, 1
9 10

Newman W.A, Kamus Saku Kedokteran Dorland. Edisi 31 (Jakarta: EGC, 2012) Suryo, Genetika Manusia, (Yogyakarta: Gajah Mada University,2008) hal.57.

34

basa nitrogen, dan 1 gula pentosa. Gula pentosa yang menyusun DNA terdiri dari gula deoksiribosa yang kekurangan satu molekul oksigen. Basa nitrogen yang menyusun DNA terdiri dari purin dan pirimidin. Purin terdiri dari adenin dan guanin, sedangkan pirimidin terdiri dari sitosin dan timin. Gambar 20: struktur DNA

(sumber: http://teguhhindarto.blogspot.com/2012_06_10_archive.html) (sumber: http://gurungeblog.wordpress.com/2008/11/14/mengenal-dna-dan-rna/)

1Gula : Molekul gula yang menyusun DNA adalah sebah pentosa yaitu deoksiribosa. 1Fosfat : Molekul fosfatnya berupa PO4. 1Basa : Dibedakan atas: -Purin:Memiliki struktur cincin ganda. Ada 2 yaitu adenine dan guanine -Pirimidin:Memiliki struktur cincin tunggal.Ada 2 yaitu sitosin dan timin

35

Ada beberapa stuktur pada DNA, yaitu: 1. Struktur Primer Nukleotida merupakan ikatan antara basa nitrogen dengan gula pentosa. Menurut Watson dan Crick, susunan DNA adalah: a. Setiap DNA terdiri dari 2 rantai polinukleotida yang berpilin (double heliks). b. Setiap nukleotida terletak pada bidang datar yang tegak lurus seakan-akan membentuk anak tangga, sedangkan phospat membentuk ibu tangganya. c. Antara 2 rantai polinukleotida dihubungkan oleh ikatan hidrogen pada masing-masing pasangan basa nitrogennya. d. Basa purin selalu berkaitan dengan basa pirimidin, dengan pasangan yang selalu tetap. Adenin (A) dari kelompok purin selalu berpasangan dengan Timin (T) dari kelompok pirimidin, sedangkan guanin (G) selalu berpasangan dengan Sitosin (S) dari kelompok pirimidin. Replikasi DNA Replikasi DNA terjadi pada fase interfase, dipengaruhi oleh enzim polymerase. Ujung pada DNA memiliki polaritas berbeda. Salah satu ujungnya berupa terminal 5 fosfat dan ujung lainnya adalah terminal 3 hidroksil. Dalam DNA,2-deoksinukleotida terikat satu sama lain melalui ikatan fosfodiester. Gugus OH-3 dari suatu nukleotida secara kovalen terikat ke gugus fosfat-5 dari nukleotida yang lain.Asam nukleat terdiri atas nukleotida,karena banyaknya nukleotida yang menyusun DNA,maka DNA merupakan suatu polinukleotida 2. Struktur sekunder (doroty) a. Bentuk B Watson dan Crick mengajukan sebuah model struktur sekunder dari DNA yang dinamakan Bentuk B. Strukturnya memanjang.Gula fosfat membentuk tulang punggung DNA sedangkan basa yang ada di dalam bisa dikatakan tegak lurus terhadap arah heliks.Dalam struktur ini dua rantai lurus DNA saling membelit membentuk heliks ganda berputar ke kanan.Setiap putaran heliks mengandung 10 pasang basa.Bentuk ini memiliki 2 alur, besar dan kecil. Protein yang berhubungan dengan fungsi DNA (histon dan non histon) dapat berada pada alur alur ini 36

b. Bentuk A Bentuk A terjadi jika bentuk B mengalami dehidrasi.Bentuk ini lebih Padat.Tiap putaran heliks mengandung 11 pasangan basa.Pada bentuk ini, letak basa agak condong 11 -19 dari posisi tegak lurus. Ket : kiri: struktur B. tengah :struktur A. kanan : struktur Z c. Bentuk Z Bentuk ini masih baru.Awalnya ditemukan pada suatu polimer sintetik.Kemudian bentuk ini ditemukan pada DNA sejumlah spesies.Heliks pada bentuk Z berputar ke kiri dan tiap putaran mengandung 12 pasangan basa.Pada bentuk ini, letak basa tegak lurus dengan tulang punggung. Sejumlah sel berbeda ternyata mengandung protein yang dapat berikatan dengan bentuk ini dan lainnya yang dapat mengubah bentuk B menjadi Z. bentuk ini dimantapkan oleh metilasi basa yang ada di dalam DNA, suatu peristiwa yang biasa terjadi pada gen inaktif. Gambar 21: Struktur sekunder DNA tampak Depan dan tampak atas

(sumber: http://nucleix.mbu.iisc.ernet.in/research.htm)

(sumber: http://www.ecosci.jp/pdb/dna_rna.html)

37

Perbedaan konformasi dan ciri-ciri ketiga double helix DNA Ciri-ciri Tipe helix DNA-B Berpilin ke kanan Diameter helical (nm) Jarak antara dua pasangan basa (nm) Jarak antara dua pasangan basa dalam satu pilinan (nm) Jumlah pasangan basa dalam satu pilinan Topologi lekukan mayor Lebar, dalam Topologi lekukan minor Sempit, tidak dalam DNA mempunyai fungsi sebagai berikut: a. Menyampaikan informasi genetik kepada generasi berikutnya, karena DNA mampu melakukan proses replikasi. b. Tempat sintesis semua kode jenis asam amino dalam sel. c. Sebagai pengatur seluruh metabolisme sintesis protein sel. d. Mengontrol dan mengatur metabolisme dan perkembangan tubuh. Proses reaksi kimia dalam tubuh dapat terjadi secara berurutan. Pada setiap tahap reaksinya diperlukan enzim. Pembentukan dan pengontrolan kerja enzim tersebut dilakukan oleh gen. Pada proses perkembangan yang memerlukan hormon juga diatur oleh gen. e Menentukan sifat-sifat pada keturunannya. Dapat berupa warna kulit, bentuk rambut, bentuk badan, dll Sempit, dalam Dangkal, lebar Sempit, dalam rata 10 11 12 3,4 3,2 4,5 2,37 0,34 DNA-A Berpilin ke kanan 2,55 0,29 DNA-Z Berpilin ke kiri 1,84 0,37

38

DNA terbagi menjadi 2 yaitu DNA inti dan DNA mitokondria DNA inti Terletak di inti sel Laju mutasi lebih lambat 10-17 kali dibandingkan dna mitokondria Pada DNA inti, disusun dalam bentuk yang khas, dengan adanya beberapa macam protein histon sehingga bentuknya seperti berpilin-pilin Jumlah lebih sedikit dibandingkan dna inti Diwariskan dari kedua orang tua DNA inti panjang tidak sirkuler, duble helik, pada saat akan pembelahan sel berbentuk kromosom Dna inti memiliki intron

DNA mitokondria Berbeda dengan organel sel lainnya, mitokondria memiliki materi genetik sendiri yang karakteristiknya berbeda dengan materi genetik di inti sel. Mitokondria, sesuai dengan namanya, merupakan rantai DNA yang terletak di bagian sel yang bernama mitokondria. DNA mitokondria memiliki ciri-ciri yang berbeda dari DNA nukleus ditinjau dari ukuran, jumlah gen, dan bentuk. Di antaranya adalah memiliki laju mutasi yang lebih tinggi, yaitu sekitar 10-17 kali DNA inti . Selain itu DNA mitokondria terdapat dalam jumlah banyak (lebih dari 1000 kopi) dalam tiap sel, sedangkan DNA inti hanya berjumlah dua kopi. DNA inti merupakan hasil rekombinasi DNA kedua orang tua sementara DNA mitokondria hanya diwariskan dari ibu (maternally inherited) . Besar genom pada DNA mitokondria relatif kecil apabila dibandingkan dengan genom DNA pada nukleus. Ukuran genom DNA mitokondria pada tiap tiap organisme sangatlah bervariasi. Pada manusia ukuran DNA mitokondria adalah 16,6 kb, sedangkan pada Drosophila melanogaster kurang lebih 18,4 kb. Pada khamir, ukuran genom relatif lebih besar yaitu 84 kb.

39

Tidak seperti DNA nukleus yang berbentuk linear, mtDNa berbentuk lingkaran. Sebagian besar mtDNA membawa gene yang berfungsi dalam proses respirasi sel. Eksperimen yang dilakukan dengan menghilangkan mtDNA pada S. cerevisceae menunjukan penurunan tingkat pertumbuhan yang signifikan yang ditandai dengan mengecilnya ukuran sel. Gambar 22: DNA Mitokondria

(sumber: http://epi.grants.cancer.gov/mitochondrial/)

Struktur DNA Mitokondria DNA mitokondria (mtDNA) berukuran 16.569 pasang basa dan terdapat dalam matriks mitokondria, berbentuk sirkuler serta memiliki untai ganda yang terdiri dari untai heavy (H) dan light (L). Dinamakan seperti ini karena untai H memiliki berat molekul yang lebih besar dari untai L, disebabkan oleh banyaknya kandungan basa purin. MtDNA terdiri dari daerah pengode (coding region)dan daerah yang tidak mengode (noncoding region). MtDNA mengandung 37 gen pengode untuk 2 rRNA, 22 tRNA, dan 13 polipeptida yang merupakan subunit kompleks enzim yang terlibat dalam fosforilasi oksidatif, yaitu: subunit 1, 2, 3, 4, 4L, 5, dan 6 dari kompleks I, subunit b (sitokrom b) dari kompleks III, subunit I, II, dan III dari kompleks IV (sitokrom oksidase) serta subunit 6 dan 8 dari kompleks V. Kebanyakan gen ini ditranskripsi dari untai H, yaitu 2 rRNA,14 dari 22 tRNA dan 12 40

polipeptida. MtDNA tidak memiliki intron dan semua gen pengode terletak berdampingan [Anderson et al., 1981, Wallace et al., 1992, Zeviani et al., 1998]. Sedangkan protein lainnya yang juga berfungsi dalam fosforilasi oksidatif seperti enzim-enzim metabolisme, DNA dan RNA polimerase, protein ribosom dan mtDNA regulatory factors semuanya dikode oleh gen inti, disintesis dalam sitosol dan kemudian diimpor ke organel. Daerah yang tidak mengode dari mtDNA berukuran 1122 pb, dimulai dari nukleotida 16024 hingga 576 dan terletak di antara gen tRNApro dan tRNAphe. Daerah ini mengandung daerah yang memiliki variasi tinggi yang disebut displacement loop (D-loop). D-loop merupakan daerah beruntai tiga (tripple stranded) untai ketiga lebih dikenal sebagai 7S DNA. D-loop memiliki dua daerah dengan laju polymorphism yang tinggi sehingga urutannya sangat bervariasi antar individu, yaitu Hypervariable I (HVSI) dan Hypervariable II (HVSII). Daerah non-coding juga mengandung daerah pengontrol karena mempunyai origin of replication untuk untai H (OH) dan promoter transkripsi untuk untai H dan L (PL dan PH) [Anderson et al., 1981]. Selain itu, daerah non-coding juga mengandung tiga daerah lestari yang disebut dengan conserved sequence block (CSB) I, II, III. Daerah yang lestari ini diduga memiliki peranan penting dalam replikasi mtDNA. Gambar 23: Struktur DNA Mitokondria

(sumber:http://www.ijhg.com/showbackIssue.asp?issn=0971-6866;year=2009;volume=15;issue=3)

41

Perbedaan DNA Inti dan Mitokondria Terdapat beberapa perbedaan antara DNA yang terdapat pada nucleus atau inti sel dengan DNA yang terdapat pada mitokondria. Perbedaan itu antara lain: Mitokondria Berbentuk sirkular (melingkar) Tidak berasosiasi dengan protein histon Mewariskan sifat yang berasal dari ibu Laju mutasi tinggi (10-17 kali DNA inti) Lebih dari 1000 kopi dalam tiap sel Ukuran genom kecil Tidak memiliki mekanisme reparasi yang efisien Terletak di mitokondria Inti Sel Berbentuk linear Berasosiasi erat dengan protein histon Memiliki pewarisan sifat kedua orang tua Laju mutasi rendah DNA inti berjumlah 2 kopi Ukuran genom besar Reparasi yang efisien Terletak di inti sel

Replikasi DNA Pada replikasi DNA, rantai DNA baru dibentuk berdasarkan urutan nukleotida pada DNA yang digandakan. Replikasi merupakan proses pelipatgandaan DNA. Proses replikasi ini diperlukan ketika sel akan membelah diri. Pada setiap sel, kecuali sel gamet, pembelahan diri harus disertai dengan replikasi DNA supaya semua sel turunan memiliki informasi genetik yang sama. Pada dasarnya, proses replikasi memanfaatkan fakta bahwa DNA terdiri dari dua rantai dan rantai yang satu merupakan "konjugat" dari rantai pasangannya. Dengan kata lain, dengan mengetahui susunan satu rantai, maka susunan rantai pasangan dapat dengan mudah dibentuk. Pada tahun 1958 Matthew Meselson dan Franklin Stahl berhasil menunjukan secara empiris bahwa replikasi DNA berlangsung dengan mekanisme secara semi konservatif. Jadi, pada saat itu diketahui bahwa ada 3 cara replikasi DNA secara sederhana, yakni:

42

a. Teori konservatif DNA induk tidak mengalami perubahan apapun, lalu urutan basabasa nitrogennya disalin sehingga terbentuk dua rantai DNA yang sama persis. b. Teori dispersif DNA induk terpotong-potong, kemudian potongan-potongan tersebut merangkai diri menjadi dua buah DNA baru yang mempunyai urutan basa-basa nitrogen sama persis seperti urutan basa nitrogen semula. c. Teori semikonservatif Pada saat akan mengadakan replikasi kedua, rantai polinukleotida akan memisahkan diri sehingga basa-basa nitrogen tidak berpasangpasangan. Nukleotida bebas mengandung basa nitrogen yang bersesuaian akan menempatkan diri berpasangan dengan basa nitrogen dari kedua rantai DNA induk, sehingga terbentuk dua buah DNA yang sama persis. Gambar 24: replikasi DNA

(sumber: http://dc366.4shared.com/doc/xpuHcay6/preview.html)

Mekanisme Replikasi DNA Pembentukan Garpu Replikasi Garpu replikasi atau cabang replikasi (replication fork) ialah struktur yang terbentuk ketika DNA bereplikasi.Garpu replikasi ini dibentuk akibat enzim helikase yang memutus ikatan-ikatan hidrogen yang menyatukan kedua untaian DNA, membuat terbukanya untaian 43

ganda tersebut menjadi dua cabang yang masing-masing terdiri dari sebuah untaian tunggal DNA.Masing-masing cabang tersebut menjadi "cetakan" untuk pembentukan dua untaian DNA baru berdasarkan urutan nukleotida komplementernya.DNA polimerase membentuk untaian DNA baru dengan memperpanjang oligonukleotida (RNA) yang dibentuk oleh enzim primase dan disebut primer. DNA polimerase membentuk untaian DNA baru dengan menambahkan nukleotida dalam hal ini, deoksiribonukleotidake ujung 3'-hidroksil bebas nukleotida rantai DNA yang sedang tumbuh.Dengan kata lain, rantai DNA baru (DNA "anak") disintesis dari arah 5'3', sedangkan DNA polimerase bergerak pada DNA "induk" dengan arah 3'5'.Namun demikian, salah satu untaian DNA induk pada garpu replikasi berorientasi 3'5', sementara untaian lainnya berorientasi 5'3', dan helikase bergerak membuka untaian rangkap DNA dengan arah 5'3'. Oleh karena itu, replikasi harus berlangsung pada kedua arah berlawanan tersebut Gambar 25: Pembukaan garpu replikasi pada replikasi DNA, keterangan :
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11.
(sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Replikasi_DNA)

Lagging Strand Leading Strand DNA Polimerase DNA Ligase RNA Primer Primase Fragmen Okazaki DNA Polimerase Enzim Helikase SSB Protein Topoisomerase

Replikasi DNA. Mula-mula, heliks ganda DNA (merah) dibuka menjadi dua untai tunggal oleh enzim helikase dengan bantuan topoisomerase yang mengurangi tegangan untai 44

DNA.Untaian DNA tunggal dilekati oleh protein-protein pengikat untaian tunggal untuk mencegahnya membentuk heliks ganda kembali.Primase membentuk oligonukleotida RNA yang disebut primer dan molekul DNA polimerase melekat pada seuntai tunggal DNA dan bergerak sepanjang untai tersebut memperpanjang primer, membentuk untaian tunggal DNA baru yang disebut leading strand dan lagging strand.DNA polimerase yang membentuk lagging strand harus mensintesis segmen-segmen polinukleotida diskontinu (disebut fragmen Okazaki).Enzim DNA ligase kemudian menyambungkan potongan-potongan lagging strand tersebut. Pembentukan leading strand Pada replikasi DNA, untaian pengawal (leading strand) ialah untaian DNA yang disintesis dengan arah 5'3' secara berkesinambungan.Pada untaian ini, DNA polimerase mampu membentuk DNA menggunakan ujung 3'-OH bebas dari sebuah primer RNA dan sintesis DNA berlangsung secara berkesinambungan, searah dengan arah pergerakan garpu replikasi. Pembentukan lagging strand Lagging strand ialah untaian DNA yang terletak pada sisi yang berseberangan dengan leading strand pada garpu replikasi. Untaian ini disintesis dalam segmen-segmen yang disebut fragmen Okazaki.Pada untaian ini, primase membentuk primer RNA.DNA polimerase dengan demikian dapat menggunakan gugus OH 3' bebas pada primer RNA tersebut untuk mensintesis DNA dengan arah 5'3'.Fragmen primer RNA tersebut lalu disingkirkan (misalnya dengan RNase H dan DNA Polimerase I) dan deoksiribonukleotida baru ditambahkan untuk mengisi celah yang tadinya ditempati oleh RNA. DNA ligase lalu menyambungkan fragmen-fragmen Okazaki tersebut sehingga sintesis lagging strand menjadi lengkap.

45

Gambar 26: Proses Replikasi DNA

(sumber: http://genmed.yolasite.com/fundamentals-of-genetics.php)

Replikasi DNA prokariot Replikasi DNA kromosom prokariot, khususnya bakteri, sangat berkaitan dengan siklus pertumbuhannya. Daerah ori pada E. coli, misalnya, berisi empat buah tempat pengikatan protein inisiator DnaA, yang masing-masing panjangnya 9 pb. Sintesis protein DnaA ini sejalan dengan laju pertumbuhan bakteri sehingga inisiasi replikasi juga sejalan dengan laju pertumbuhan bakteri.Pada laju pertumbuhan sel yang sangat tinggi, DNA kromosom prokariot dapat mengalami reinisiasi replikasi pada dua ori yang baru terbentuk, sebelum putaran replikasi yang pertama berakhir. Akibatnya, sel-sel hasil pembelahan akan menerima kromosom yang sebagian telah bereplikasi. Protein DnaA membentuk struktur kompleks yang terdiri atas 30 hingga 40 buah 46

molekul, yang masing-masing akan terikat pada molekul ATP. Daerah ori akan mengelilingi kompleks DnaA-ATP tersebut. Proses ini memerlukan kondisi superkoiling negatif DNA (pilinan kedua untai DNA berbalik arah sehingga terbuka). Superkoiling negatif akan menyebabkan pembukaan tiga sekuens repetitif sepanjang 13 pb yang kaya dengan AT sehingga memungkinkan terjadinya pengikatan protein DnaB, yang merupakan enzim helikase, yaitu enzim yang akan menggunakan energi ATP hasil hidrolisis untuk bergerak di sepanjang kedua untai DNA dan memisahkannya. Untai DNA tunggal hasil pemisahan oleh helikase selanjutnya diselubungi oleh protein pengikat untai tunggal atau single-stranded binding protein (Ssb) untuk melindungi DNA untai tunggal dari kerusakan fisik dan mencegah renaturasi. Enzim DNA primase kemudian akan menempel pada DNA dan menyintesis RNA primer yang pendek untuk memulai atau menginisiasi sintesis pada untai pengarah. Agar replikasi dapat terus berjalan menjauhi ori, diperlukan enzim helikase selain DnaB. Hal ini karena pembukaan heliks akan diikuti oleh pembentukan putaran baru berupa superkoiling positif. Superkoiling negatif yang terjadi secara alami ternyata tidak cukup untuk mengimbanginya sehingga diperlukan enzim lain, yaitu topoisomerase tipe II yang disebut dengan DNA girase. Enzim DNA girase ini merupakan target serangan antibiotik sehingga pemberian antibiotik dapat mencegah berlanjutnya replikasi DNA bakteri. Seperti telah dijelaskan di atas, replikasi DNA terjadi baik pada untai pengarah maupun pada untai tertinggal. Pada untai tertinggal suatu kompleks yang disebut primosom akan menyintesis sejumlah RNA primer dengan interval 1.000 hingga 2.000 basa. Primosom terdiri atas helikase DnaB dan DNA primase. Primer baik pada untai pengarah maupun pada untai tertinggal akan mengalami elongasi dengan bantuan holoenzim DNA polimerase III. Kompleks multisubunit ini merupakan dimer, separuh akan bekerja pada untai pengarah dan separuh lainnya bekerja pada untai tertinggal. Dengan demikian, sintesis pada kedua untai akan berjalan dengan kecepatan yang sama. Masing-masing bagian dimer pada kedua untai tersebut terdiri atas subunit a, yang mempunyai fungsi polimerase sesungguhnya, dan subunit e, yang mempunyai fungsi penyuntingan berupa eksonuklease 3 5.

47

Gambar 27: Replikasi DNA Prokariotik

(Sumber: PowerPoint.Replikasi DNA. Maman SF., S.Si, M.Biomed. 7 Oktober 2012)

Selain itu, terdapat subunit b yang menempelkan polimerase pada DNA.Begitu primer pada untai tertinggal dielongasi oleh DNA polimerase III, mereka akan segera dibuang dan celah yang ditimbulkan oleh hilangnya primer tersebut diisi oleh DNA polimerase I, yang mempunyai aktivitas polimerase 5 3, eksonuklease 5 3, dan eksonuklease penyuntingan 3 5. Eksonuklease 5 3 membuang primer, sedangkan polimerase akan mengisi celah yang ditimbulkan. Akhirnya, fragmen-fragmen Okazaki akan dipersatukan oleh enzim DNA ligase. Secara in vivo, dimer holoenzim DNA polimerase III dan primosom diyakini membentuk kompleks berukuran besar yang disebut dengan replisom. Dengan adanya replisom sintesis DNA akan berlangsung dengan kecepatan 900 pb tiap detik. Kedua garpu replikasi akan bertemu kirakira pada posisi 180C dari ori. Di sekitar daerah ini terdapat sejumlah terminator yang akan menghentikan gerakan garpu replikasi. Terminator tersebut antara lain berupa produk gen tus, suatu inhibitor bagi helikase DnaB. Ketika replikasi selesai, kedua lingkaran hasil replikasi masih menyatu.Pemisahan dilakukan oleh enzim topoisomerase IV.Masing-masing lingkaran hasil replikasi kemudian disegregasikan ke dalam kedua sel hasil pembelahan. 48

Replikasi DNA eukariot Pada eukariot replikasi DNA hanya terjadi pada fase S di dalam interfase. Untuk memasuki fase S diperlukan regulasi oleh sistem protein kompleks yang disebut siklin dan kinase tergantung siklin atau cyclin-dependent protein kinases (CDKs), yang berturut-turut akan diaktivasi oleh sinyal pertumbuhan yang mencapai permukaan sel. Beberapa CDKs akan melakukan fosforilasi dan mengaktifkan protein-protein yang diperlukan untuk inisiasi pada masing-masing ori. Berhubung dengan kompleksitas struktur kromatin, garpu replikasi pada eukariot bergerak hanya dengan kecepatan 50 pb tiap detik. Sebelum melakukan penyalinan, DNA harus dilepaskan dari nukleosom pada garpu replikasi sehingga gerakan garpu replikasi akan diperlambat menjadi sekitar 50 pb tiap detik. Dengan kecepatan seperti ini diperlukan waktu sekitar 30 hari untuk menyalin molekul DNA kromosom pada kebanyakan mamalia. Sederetan sekuens tandem yang terdiri atas 20 hingga 50 replikon mengalami inisiasi secara serempak pada waktu tertentu selama fase S. Deretan yang mengalami inisasi paling awal adalah eukomatin, sedangkan deretan yang agak lambat adalah heterokromatin. DNA sentromir dan telomir bereplikasi paling lambat.Pola semacam ini mencerminkan aksesibilitas struktur kromatin yang berbeda-beda terhadap faktor inisiasi. Seperti halnya pada prokariot, satu atau beberapa DNA helikase dan Ssb yang disebut dengan protein replikasi A atau replication protein A (RP-A) diperlukan untuk memisahkan kedua untai DNA. Selanjutnya, tiga DNA polimerase yang berbeda terlibat dalam elongasi. Untai pengarah dan masing-masing fragmen untai tertinggal diinisiasi oleh RNA primer dengan bantuan aktivitas primase yang merupakan bagian integral enzim DNA polimerase a. Enzim ini akan meneruskan elongasi replikasi tetapi kemudian segera digantikan oleh DNA polimerase d pada untai pengarah dan DNA polimerase e pada untai tertinggal. Baik DNA polimerase d maupun e mempunyai fungsi penyuntingan.Kemampuan DNA polimerase d untuk menyintesis DNA yang panjang disebabkan oleh adanya antigen perbanyakan nuklear sel atau proliferating cell nuclear antigen (PCNA), yang fungsinya setara dengan subunit b holoenzim DNA polimerase III pada E. coli.

49

Selain terjadi penggandaan DNA, kandungan histon di dalam sel juga mengalami penggandaan selama fase S. Mesin replikasi yang terdiri atas semua enzim dan DNA yang berkaitan dengan garpu replikasi akan diimobilisasi di dalam matriks nuklear. Mesin-mesin tersebut dapat divisualisasikan menggunakan mikroskop dengan melabeli DNA yang sedang bereplikasi.Pelabelan dilakukan menggunakan analog timidin, yaitu bromodeoksiuridin (BUdR), dan visualisasi DNA yang dilabeli tersebut dilakukan dengan imunofloresensi menggunakan antibodi yang mengenali BUdR.Ujung kromosom linier tidak dapat direplikasi sepenuhnya karena tidak ada DNA yang dapat menggantikan RNA primer yang dibuang dari ujung 5 untai tertinggal.Dengan demikian, informasi genetik dapat hilang dari DNA.Untuk mengatasi hal ini, ujung kromosom eukariot (telomir) mengandung beratus-ratus sekuens repetitif sederhana yang tidak berisi informasi genetik dengan ujung 3 melampaui ujung 5. Enzim telomerase mengandung molekul RNA pendek, yang sebagian sekuensnya komplementer dengan sekuens repetitif tersebut.RNA ini akan bertindak sebagai cetakan (templat) bagi penambahan sekuens repetitif pada ujung 3. Hal yang menarik adalah bahwa aktivitas telomerase mengalami penekanan di dalam sel-sel somatis pada organisme multiseluler, yang lambat laun akan menyebabkan pemendekan kromosom pada tiap generasi sel. Ketika pemendekan mencapai DNA yang membawa informasi genetik, sel-sel akan menjadi layu dan mati. Fenomena ini diduga sangat penting di dalam proses penuaan sel. Selain itu, kemampuan penggandaan yang tidak terkendali pada kebanyakan sel kanker juga berkaitan dengan reaktivasi enzim telomerase. Replikasi DNA bersifat semikonservatif, yaitu kedua untai tunggal DNA bertindak sebagai cetakan untuk pembuatan untai-untai DNA baru; seluruh untai tunggal cetakan dipertahankan dan untai yang baru dibuat dari nukleotida-nukleotida.

50

Gambar 28: Replikasi DNA prokariotik dan Eukariotik

(Sumber: PowerPoint.Replikasi DNA. Maman SF., S.Si, M.Biomed. 7 Oktober 2012)

B. RNA Asam ribonukleat (bahasa Inggris:ribonucleic acid, RNA) adalah satu dari tiga makromolekul utama (bersama dengan DNA dan protein) yang berperan penting dalam segala bentuk kehidupan. Asam ribonukleat berperan sebagai pembawa bahan genetik dan memainkan peran utama dalam ekspresi genetik. Dalam dogma pokok (central dogma) genetika molekular, RNA menjadi perantara antara informasi yang dibawa DNA dan ekspresi fenotipik yang diwujudkan dalam bentuk protein. Struktur RNA Struktur dasar RNA mirip dengan DNA. RNA merupakan polimer yang tersusun dari sejumlah nukleotida. Setiap nukleotida memiliki satu gugus fosfat, satu gugus pentosa, dan satu gugus basa nitrogen (basa N). Polimer tersusun dari ikatan berselang-seling antara gugus fosfat dari satu nukleotida dengan gugus pentosa dari nukleotida yang lain.

51

Perbedaan RNA dengan DNA terletak pada satu gugus hidroksil cincin gula pentosa, sehingga dinamakan ribosa, sedangkan gugus pentosa pada DNA disebut deoksiribosa.[1] Basa nitrogen pada RNA sama dengan DNA, kecuali basa timina pada DNA diganti dengan urasil pada RNA. Jadi tetap ada empat pilihan: adenina, guanina, sitosina, atau urasil untuk suatu nukleotida. Selain itu, bentuk konformasi RNA tidak berupa pilin ganda sebagaimana DNA, tetapi bervariasi sesuai dengan tipe dan fungsinya. RNA merupakan polinukleotida, namun ukurannya jauh lebih pendek dari polinukleotida penyusun DNA. RNA hanya terdiri dari satu rantai.Gula pentosa yang menyusun RNA adalah gula ribosa. Basa nitrogen yang menyusun RNA adalah: a. Purin yang terdiri dari adenin (A) dan guanin (G) b. Pirimidin yang terdiri dari sitosin (C) dan urasil (U) RNA dibentuk oleh DNA di dalam inti sel. Gambar 29: Struktur RNA

52

(sumber: http://learning.orangespace.pl/genetics.htm)

53

Macam-Macam RNA: a. RNA duta (messenger RNA) Dari bahasa Inggris, messenger-RNA) adalah satu jenis RNA yang sintesisnya diarahkan oleh gen pada rentang DNA sebagai pembawa pesan. Molekul mRNA berinteraksi dengan perangkat pensintesis protein dalam sel untuk memproduksi polipeptida. mRNA memiliki tugas utama menjadi "pembawa pesan" kode dari DNA kepada rRNA untuk "dibaca" dan selanjutnya diterjemahkan (translasi) menjadi urutan protein. Bentuknya berupa rantai basa tunggal lurus dengan kerangka fosfat dan gula ribosa Molekul ini dihasilkan dari proses transkripsi di dalam inti sel oleh enzim RNA-polimerase. Pada eukariota setelah transkripsi dapat terjadi proses pascatranskripsi, seperti splicing dan penambahan poli-A. Setelah "matang", mRNA berpindah tempat menuju sitoplasma dan akan ditangkap oleh rRNA untuk dibaca. b. RNA Transfer Transfer-Ribonucleic acid atau asam ribonukleat transfer adalah molekul Yang menginterpretasikan pesan genetik berupa serangkaian kodon di sepanjang molekul mRNA dengan cara mentransfer asam-asam amino ke ribosom dalam proses translasi. Dengan kata lain, tRNA merupakan molekul pembawa asam-asam amino yang akan disambungkan menjadi rantai polipeptida. Struktur primer tRNA merupakan rantai nukleotida linear dengan ukuran panjang 73 sampai 93 nukleotida dengan berat molekul total antara 25 sampai 30 kilo dalton. Pada Misalnya pseudourasil dan dihidrourasil yang merupakan modifikasi dari basa urasil. (Hal ini karena kemampuan tRNA dalam membentuk kompleks dengan asam-asam amino. Asam amino yang dibawa tRNA spesifik, oleh karena itu ada sekitar 20 macam tRNA yang masing-masing membawa asam amino yang spesifik karena di alam ada sekitar 20 asam amino yang menyusun protein. Asam amino yang dibawa oleh tRNA sesuai dengan antikodon yang merupakan komplemen dari kodon mRNA dan akan berpasangan secara antiparalel saat translasi. 54

Fungsinya mengenali kodon dan menerjemahkan menjadi asam amino di ribosom. Peran RNA transfer ini dikenal dengan nama translasi (penerjemahan). Urutan basa nitrogen pada RNA transfer disebut antikodon. Bentuk RNA transfer seperti daun semanggi dengan 4 ujung yang penting, yaitu: 1) Ujung pengenal kodon yang berupa triplet basa yang disebut antikodon. 2) Ujung perangkai asam amino yang berfungsi mengikat asam amino. 3) Ujung pengenal enzim yang membantu mengikat asam amino. 4) Ujung pengenal ribosom. Contoh: Apabila kodon dalam RNA duta mempunyai urutan UGS ASS UAU GGA maka antikodon yang sesuai pada RNA transfer adalah ASG UGG AUA SSU. Gambar 30: tRNA

(sumber: http://www.angelfire.com/dc/apgenetics/tRNA.structure.good.jpg)

c.

RNA Ribosom (RNAr) rRNA (ribosome-Ribonucleic Acid) atau Asam Ribonukleat ribosomal adalah molekul

utama penyusun ribosom. rRNA dan protein secara bersama membangun subunit-subunit ribosom yang terdiri dari subunit kecil dan subunit besar untuk kemudian bergabung membentuk ribosom fungsional ketika dua subunit terikat pada mRNA saat translasi. Pada prokaryot, subunit 55

kecil mempunyai koefisien sedimentasi sebesar 30S (unit Svedberg) sedangkan subunit besar berukuran 50S, akan tetapi saat bergabung koefisien sedimentasinya adalah 70S (terdiri dari RNA 16S, 5S dan 23S). Pada eukaryot subunit kecil berukuran 40S sedangkan subunit besar berukuran 60S, akan tetapi sebagai suatu kesatuan, ribosom eukaryot memiliki koefisien sedimentasi sebesar 80S (terdiri dari 18S, 5S, 5,8S, dan 28S). rRNA merupakan salah satu tipe dari kelompok RNA. RNA ini merupakan RNA terbanyak yang dikandung oleh suatu sel, yaitu sekitar 83% dari RNA yang terdapat dalam suatu sel (menyusun ribosom). Ribosom terdapat di dalam sel dalam jumlah yang cukup banyak, yaitu sekitar 200.000 ribosom yang menyusun sekitar 25% berat kering total selnya). Dan sekitar 60% dari berat suatu ribosom adalah rRNa. Besarnya jumlah rRNA dalam sel juga dipengaruhi strukturnya yang stabil dan ukurannya yang besar. Fungsinya sebagai tempat pembentukan protein. Ribosom RNA terdiri dari 2 sub unit, yaitu: 1) Sub unit kecil yang berperan dalam mengikat RNA duta. 2) Sub unit besar yang berperan untuk mengikat RNA transfer yang sesuai. Perbedaan DNA dan RNA DNA Rantai Ganda Gula deoksiribosa Jumlah Tetap Basa Organik AGTS Enzim DNA-ase Rantai untai panjang Jumlah tetap Informasi Genetik Semua Gen harus disalin dalam sintesis DNA Mampu bereplikasi Pada sintesis menggunakan deoksirobonukleotida Gambar 31: DNA dan RNA RNA Rantai Tunggal Gula ribosa Jumlah tidak tetap Basa Organik AGUS Enzim RNA-ase Untai jauh lebih pendek Jumlah tidak tetap Sintesis Protein Hanya sebagian gen yg disalin dalam sintesi DNA Tidak mampu bereplikasi Pada sintesis menggunakan ribonukleotida

56

(sumber: http://riniindra.wordpress.com/2010/02/08/hubungan-dna-rna-dan-protein/)

2.6 Penyakit Kelainan Gen Pengakit kelainan gen menyangkut inverse, delesi, dan adisi atau substitusi basa-basa di dalam gen-gen atau menyangkut duplikasi, yang merupakan pengulangan adanya gen-gen tunggal. Mutasi gen dapa dipelajari pada kelainan-kelainan haemoglobin manusia, karena jaringan ini dapat dipisahkan dengan dampak yang lebih kecil pada donor, dan dalam batas-batas tertentu dapat dipisahkan sewaktu-waktu, karena tubuh mampu menggatikan kembali persediaan darah dalam waktu kira-kira seminggu.11

11

Nirwana Siregar, Buku Ajar Biologi Kedokteran Genetika (Jakarta: UPN Veteran Jakarta), hal. 65.

57

a. Anemia Sel sabit Penyebabnya adalah substitusi suatu asam amino valin bagi asam amino normal glutamate. b. Hemoglobin Lepore Suatu varian haemoglobin yang timbul sebagai hasil pindah silang yang tidak sama antara gen-gen yang menentukan sintesis rantai beta dan rantai delta c. Anemia Cooley (Thalassemia) Rantai hemogloin adalah normal tetapi terlalu sedikit diproduksi untuk menopang fungsi normal. Bisa terdapat pada defisiensi pada rantai alfa maupun beta

58

BAB IV MUTASI 4.1 Definisi Mutasi Mutasi gen adalah perubahan struktur kimia gen yang bersifat turun-menurun yang terjadi secara spontan dan tidak spontan oleh zat kimia, radiasi, sinar radioaktif, terinfeksi virus. 4.2 Faktor Penyebab Mutasi

Bahan-bahan yang menyebabkan terjadinya mutasi disebut mutagen. Mutagen dibagi menjadi 3, yaitu: 1. Mutagen bahan kimia, contohnya adalah kolkisin dan zat digitonin. Kolkisin adalah zat yang dapat menghalangi terbentuknya benang-benang spindel pada proses anaphase dan dapat menghambat pembelahan sel. 2. Mutagen bahan fisika, contohnya sinar ultraviolet, sinar radioaktif. 3. Mutagen bahan biologi, diduga virus dan bakteri dapat menyebabkan terjadinya mutasi. Bagian virus yang dapat menyebabkan terjadinya mutasi adalah DNA-nya.

4.3

Macam-macam Mutasi

Macam-macam mutasi berdasarkan sel yang bermutasi:

a.) Mutasi Spontan (Alami) Mutasi alami adalah perubahan materi genetik yang terjadi dengan sendirinya atau secara alamiah. Faktor-faktor penyebabnya adalah panas, radiasi sinar kosmos, sinar ultraviolet, radiasi dan kesalahan DNA dalam metabolisme. Mutasi alami biasanya terjadi secara kebetulan dan jarang terjadi, tetapi dapat terjadi setiap saat.

59

b.) Mutasi Buatan Ditinjau dari kepentingan manusiamutasi buatan dapat dilakukan untuk menghasilkan mutan yang lebih berguna atau lebih menguntungkan dari keadaan individu sebelumnya, misalnya dalamm pembuatan bibit unggul suatu tanaman. Contoh peristiwa ini adalah pembentukan semangka tanpa biji.

Macam-macam mutasi berdasarkan sel yang bermutasi: Mutasi somatik adalah mutasi yang terjadi pada sel somatic. Mutasi ini tidak akan diwariskan pada keturunannya. Mutasi gametik adalah mutasi yang terjadi pada sel gamet. Karena terjadi di sel gamet, maka akan diwariskan oleh keturunannya. Pada umumnya, mutasi itu merugikan, mutannya bersifat letal dan homozigot resesif. Namun mutasi juga menguntungkan, diantaranya, melalui mutasi, dapat dibuat tumbuhan poliploid yang bersifat unggul. Contohnya, semangka tanpa biji, jeruk tanpa biji, buah stroberi yang besar,dll. Terbentuknya tumbuhan poliploidnini menguntungkan bagi manusia, namun merugikan bagi tumbuhan yang mengalami mutasi, karena tumbuhan tersebut menjadi tidak bisa berkembang secara generatif. Macam-macam mutasi berdasarkan bagian yang bermutasi Mutasi titik merupakan perubahan pada basa N dari DNA atau RNA. Mutasi titik relatif sering terjadi namun efeknya dapat dikurangi oleh meknisme pemulihan gen. Mutasi titik dapat berakibat berubahnya urutan asam amino pada protein, dan dapat mengakibatkan berkurangnya, berubahannya atau hilangnya fungsi enzim. Teknologi saat ini menggunakan mutasi titik sebagai marker (NSP) untuk mengkaji perubahan yang terjadi pada gen dan dikaitkan dengan perubahan fenotip yang terjadi. Aneuploidi mutasi kromosom, sering juga disebut dengan mutasi besar/gross mutation atau aberasi kromosom adalah perubahan jumlah kromosom dan susunan atau urutan gen dalam kromosom. Mutasi kromosom sering terjadi karena kesalahan meiosis dan sedikit dalam mitosis. Aneuploidi adalah perubahan jumlah seluruh set kromosom.

60

Mutasi Kromosom Mutasi kromosom adalah perubahan yang terjadi pada struktur kromosom. Perubahan mutasi kromosom bisa terjadi secara spontan ataupun tidak spontan. Salah satu penyebab mutasi kromosom misalnya adalah radiasi kromosom. Akibat mutasi kromosom misalnya berbagai kelainan genetik sindrom turner, sindrom klinefleter. Ada enam macam kelainan kromosom: 1. Delesi adalah mutasi kromosom di mana sebagian dari kromosom menghilang. Delesi bisa terjadi akibat kegagalan ketika bertranslokasi ataupun tidak kembali menyambungnya bagian kromosom setelah kromosom putus. 2. Duplikasi adalah mutasi kromosom di mana sebagian dari kromosom mengalami penggandaan (duplikasi). Duplikasi menyebabkan adanya materi genetic tambahan. 3. Translokasi adalah tersusun kembalinya kromosom dari susunan sebelumnya. Ada dua macam translokasi yaitu translokasi resiprok dan translokasi Robertsonian. Pada translokasi resiprok, ada dua kromosom yang bertukar materi genetik. Sementara pada translokasi Robertsonian, kedua lengan kromosom pendek hilang dan lengan panjangnya membentuk kromosom baru. Translokasi Robertsonian biasanya terjadi pada kromosom dengan bentuk akrosentrik. Tranlokasi Robertsonian pada manusia terjadi pada kromosom 13, 14, 15, 21, 22. 4. Inversi adalah penyusunan kembali materi genetik kromosom tetapi tebalik dari susunan sebelumnya 5. Formasi cincin, kedua ujung lengan kromosom membetuk bulatan seperti cincin. Ada tiga kemungkinan, kedua ujung lengan kromosom akan menghilang kemudian kedua lengan berdifusi, hanya salah satu ujung lengan kromosom menghilang kemudian kedua lengan berdifusi 6. Isokromosom terjadi pada kromosom yang kehilangan salah satu lengannya, kemudian mengkopi lengannyayang tidak hilang. Hasil kopian lengan yang tersisa ini merupakan pencerminan dari lengan kromosom yang tidak hilang.

61

Gambar 32: Mutasi Kromosom

(sumber: http://biologigonz.blogspot.com/2010/11/mutasi-kromosom.html)

Mutasi gen Pasangan basa nitrogen pada DNA, antara timin dan adenine atau antara guanine dan sitosin dihubungkan oleh ikatan hydrogen yang lemah. Atom-atom hydrogen dapat berpindah dari satu posisi ke posisi lain pada purin atau pirimidin. Perubahan kimia sedemikian disebut perubahan tautomer. Misalnya secara tidak normal, adenine berpasangan dengan sitosin dan timin dengan guanine. Peristiwa perubahan genetic seperti ini disebut mutasi gen karena hanya terjadi di dalam gen. Mutasi gen disebut juga dengan mutasi titik (point mutation). Mutasi gen dapat terjadi karena substitusi basa N. Macam macam mutasi gen antara lain: 1. Mutasi tak bermakna (nonsense mutation) Tejadi perubahan kodon (triplet) dari kode basa N asam amino tetapi tidak mengakibatkan kesalahan pembentukan protein, misalnya UUU diganti UUS yang sama-sama kode dari fenilalamin. 2. Mutasi ganda tiga (triplet mutation) 62

Terjadi karena adanya penambahan atau pengurangan tiga basa secara bersama-sama. 3. Mutasi bingkai (frameshift mutation) Terjadi karena adanya penambahan sekaligus pengurangan satu atau beberapa pasangan basa secara bersama-sama. 4. Mutasi titik (point mutation) Merupakan mutasi yang melibatkan penggantian satu pasang basa (substitusi basa), di mana satu basa pada satu sekuens DNA diganti dengan basa yang berbeda. Bila DNA direplikasi maka hasilnya adalah substitusi pasangan basa. Contoh mutasi titik AGCGT GGCGT TCGCA CCGCA Mutasi ini dapat menyebabkan beberapa hal tergantung dari letak mutasinya pada gen.Bila penggantian basa berlangsung di dalam gen yang mengkode protein, maka mRNA yang ditranskripsi dari gen akan membawa basa yang salah. Bila mRNA tersebut ditranslasi menjadi protein, maka kesalahan basa tersebut dapat menyebabkan tidak terjadinya pembentukan protein, atau terbentuknya protein abnormal, atau terbentuknya kodon nonsense (kodon STOP) yang menghentikan sintesis lengkap protein fungsional, dikenal sebagainonsense mutation. Terbentuknya asam amino yang berbeda dari normal pada sintesis asam amino akibat kesalahan basa pada mutasi titik disebut dengan missense mutation.Misalnya sickle-cell anemia (anemia sel sabit), merupakan penyakit akibatmissense mutation tunggal pada basa pengkode protein hemoglobin. Protein hemoglobin tersusun atas 147 asam amino. Pada asam amino ke-6, adenine digantikan dengan timin. Perubahan ini menyebabkan perubahan asam amino glutamate menjadi valin, sehingga mengubah bentuk molekul hemoglobin pada kondisi kadar oksigen rendah, dan menyebabkan sel darah merah menjadi berbentuk bulan sabit. Bentuk bulan sabit menyulitkan transport sel darah merah melalui pembuluh darah kapiler. Contoh missense mutation 63

Mutasi pasangan basa dapat juga menyebabkan perubahan pada DNA yang disebut dengan frameshift mutation. Mutasi ini berupa delesi (pemotongan) atau insersi (penyisipan) satu atau beberapa pasang nukleotida pada DNA dan menyebabkan terjadinya pergeseran pembacaan kerangka sandi (reading frameshift), sehingga akan menyebabkan perubahan asam amino. Contoh kasusframeshift mutation adalah penyakit Huntungton (Huntungton disease), suatu penyakit saraf yang disebabkan oleh adanya penyisipan basa tambahan pada DNA. Mutasi penggantian (substitusi) basa dan mutasi frameshift dapat terjadi secara spontan akibat kesalahan pada replikasi DNA. Mutasi spontan ini umumnya muncul tanpa pengaruh dari bahan bahan penyebab mutasi (bahan mutagenic atau mutagen) seperti halnya senyawa kimia atau factor pengaruh radiasi. Jenis mutasi yang lain adalah mutasi supresor, mutasi yang dapat meniadakan mutasi yang terjadi sebelumnya sehingga menjadi normal kembali. Mutasi ini disebut juga mutasi balik (reversed mutation) dan menghasilkanrevertan, yaitu gen yang mengalami mutasi balik dan menjadi normal kembali. contoh mutasi gen adalah reaksi asam nitrit dengan adenin menjadi zat hipoxanthine. Zat ini akan menempati tempat adenin asli dan berpasangan dengan sitosin, bukan lagi dengan timin. Mekanisme Mutasi Meskipun tidak selalu, perubahan urutan asam amino pada suatu protein dapat menyebabkan perubahan sifat-sifat biologi protein tersebut. Hal ini karena pelipatan rantai polipeptida sebagai penentu struktur tiga dimensi molekul protein sangat bergantung kepada interaksi di antara asam-asam amino dengan muatan yang berlawanan. Contoh yang paling sering dikemukakan adalah perubahan sifat biologi yang terjadi pada molekul. Setiap perubahan asam amino disebabkan oleh perubahan urutan basa nukleotida pada molekul DNA. Akan tetapi, perubahan sebuah basa pada DNA tidak selamanya disertai oleh substitusi asam amino karena sebuah asam amino dapat disandi oleh lebih dari sebuah triplet 64

kodon (lihat Bab X). Perubahan atau mutasi basa pada DNA yang tidak menyebabkan substitusi asam amino atau tidak memberikan pengaruh fenotipik dinamakan mutasi tenang (silent mutation). Namun, substitusi asam amino yang tidak menghasilkan perubahan sifat protein atau perubahan fenotipik pun dapat dikatakan sebagai mutasi tenang. Mutasi yang terjadi pada sebuah atau sepasang basa pada DNA disebut sebagai mutasi titik (point mutation). Mekanisme terjadinya mutasi titik ini ada dua macam, yaitu (1) substitusi basa dan (2) perubahan rangka baca akibat adanya penambahan basa (adisi) atau kehilangan basa (delesi). Mutasi titik yang disebabkan oleh substitusi basa dinamakan mutasi substitusi basa, sedangkan mutasi yang terjadi karena perubahan rangka baca dinamakan mutasi rangka baca (frameshift mutation) . Apabila substitusi basa menyebabkan substitusi asam amino seperti pada kasus hemoglobin anemia bulan sabit, maka mutasinya dinamakan mutasi salah makna (missense mutation). Sementara itu, jika substitusi basa menghasilkan kodon stop, misalnya UAU (tirosin) menjadi UAG (stop), maka mutasinya dinamakan mutasi tanpa makna (nonsense mutation) atau mutasi terminasi rantai (chain termination mutation). Mutasi substitusi basa dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu transisi dan transversi. Pada transisi terjadi substitusi basa purin oleh purin atau substitusi pirimidin oleh pirimidin, sedangkan pada transversi terjadi substitusi purin oleh pirimidin atau pirimidin oleh purin. Sementara itu, mutasi rangka baca akan mengakibatkan perubahan rangka baca semua triplet kodon di belakang tempat terjadinya mutasi tersebut. Akan tetapi, adisi atau pun delesi sebanyak kelipatan tiga basa pada umumnya tidak akan menimbulkan pengaruh fenotipik mutasi rangka baca. Demikian pula, seperti dikatakan pada Bab X adisi satu basa yang diimbangi oleh delesi satu basa di tempat lain, atau sebaliknya, akan memperbaiki kembali rangka baca di belakang tempat tersebut. Selain itu, apabila adisi atau delesi terjadi pada daerah yang sangat dekat dengan ujung karboksil suatu protein, maka mutasi rangka baca yang ditimbulkannya tidak

65

akan menyebabkan sintesis protein nonfungsional. Dengan perkataan lain, mutasi tidak memberikan pengaruh fenotipik. Repair DNA DNA dalam inti sel di tubuh kita bisa mengalami kerusakan dari berbagai agen luar (eksternal agent) maupun kerusakan secara langsung (spontaneous endogenous processes). Proses kerusakan DNA oleh agen dapat menimbulkan meliputi : radikal bebas, single & double strand breaks, merusak residu deoxyribose, menginduksi base alterations misalnya metilasi, perubahan basa karena proses kimia tertentu. Kerusakan DNA dapat terjadi karena metabolisme seluler, eksposur dengan sinar UV, radiasi ion, eksposur dengan bahan kimia, kesalahan replikasi. Perbaikan kerusakan DNA dengan cara aktivasi cek point pada siklus sel, aktivasi program transkripsi, DNA repair (direct reversal, base excision repair, nucleotide excision repair, mismatch repair, double strand break repair, homolog recombination), apoptosis.Kerusakan DNA diklasifikasikan dalam beberapa cara, yaitu : Modifikasi basa: - Perubahan kimia - Ikatan kovalen antara basa yang berdekatan - Kehilangan basa Intrastrand cross-linking, mencegah replikasi dan transkripsi DNA Kerusakan DNA tipe tiga - Kerusakan strand DNA, yang paling hebat yaitu kerusakan double-strand DNA (DSBs) yang menyebabkan DNA-nya putus. Beberapa cara untuk repair / memperbaiki Single step reactions, direct reversal (langsung diganti) dengan single enzyme seperti photolyase atau O-6-methyl-DNA-alkyltransferase. Single and multi-step base excision repair mechanisms. (glikosilasis) Multi-step reaction

Perbaikan DNA / DNA repair dikelompokkan menjadi 3 cara: 66

- Damage reversal: langsung digantikan - Damage removal: dihilangkan - Damage tolerance: mentoleransi kesalahan Bila terjadi kesalahan, misal DNA polymerase melakukan kesalahan sehingga timbul misincorporated nucleotide sehingga kalau tidak sesuai (misalnya harusnya G dipasang A) maka akan timbul tonjolan, sehingga proof reading akan mundur karena memiliki exonuclease activity, membetulkan kesalahan dan selanjutnya maju lagi. Damage removal Lebih kompleks karena melibatkan replacing (penggantian) dengan dipotong-potong. Ada tiga tipe damage removal, yaitu: Base excision repair, hanya 1 basa yang rusak dan digantikan dengan yang lain. Mismatch repair, penggantian basa yang tidak sesuai yang dilakukan dengan enzim. Nucleotide excision repair, memotong pada salah satu segmen DNA yang mengalami kerusakan. Base Excision repair Kerusakan pada basa dipotong (Glycosylase) --> dikeluarkan (phosphodiesterase) --> diganti (DNA polymerase) --> dan ditempelkan dengan enzim (ligase) Gambar 33: Base Excision repair

(sumber:http://www.web-books.com/MoBio/Free/Ch7G.htm)

67

Nucleotide Excision repair Kesalahannya pyrimidine dimer (kesalahan 2 basa tetangga), maka yang dilakukan dengan memotong pada satu tempat tertentu dan dilepas oleh DNA helicase, selanjutnya DNA polymerase dan DNA ligase bekerja untuk memperbaikinya. Pada mismatch proofreading karena kesalahan pada kedua strand sehingga harus dipotongpotong. Gambar 34: Nucleotide Excision repair

(sumber: (http://www.web-books.com/MoBio/Free/Ch7G.htm)

Damage tolerance dilakukan bila kesalahan tidak dapat diperbaiki sehingga kesalahan terpaksa ditoleransi dan yang terpotong adalah kedua strand. Ada 2 cara: - Homolongous recombination (HR), menggunakan sister kromatid untuk memperbaiki kerusakan. Pada cara ini tidak akan terjadi delesi. - Non homologous end joining (NHEJ), bila putusnya tidak sama makan akan diratakan dulu dengan eksonukleuse, kemudian ada enzim tertentu yang bekerja dan akan menggabungkan. Tetapi akan terjadi delesi.

68

BAB V EKSPRESI GEN (DOGMA SENTRAL)

5.1 Definisi Ekspresi Gen Ekspresi gen adalah proses dimana kode-kode informasi yang ada pada gen diubah menjadi protein-protein yang beroperasi di dalam sel. Atau proses penerjemahan imformasi yang terkadung pada struktur gen menjadi proses metabolisme atau pola kehidupan organisme. 5.2 Mekanisme Ekspresi Gen DOGMA SENTRAL / EKSPRESI GEN: Dogma di sini adalah suatu kerangka kerja untuk dapat memahami urutan transfer informasi antara biopolymer (DNA, RNA, protein) dengan cara yang paling umum dalam organisme hidup. Sehingga secara garis besar, dogma sentral maksudnya adalah semua informasi terdapat pada DNA, kemudian akan digunakan untuk menghasilkan molekul RNA melalui transkripsi, dan sebagian informasi pada RNA tersebut akan digunakan untuk menghasilkan protein melalui proses yang disebut translasi.. Berikut adalah mekanisme prosesnya : TRANSKRIPSI Ini merupakan tahapan awal dalam proses sintesis protein yang nantinya proses tersebut akan berlanjut pada ekspresi sifat-sifat genetik yang muncul sebagai fenotip. Dan untuk mempelajari biologi molekuler tahap dasar yang harus kita ketahui adalah bagaimana mekanisme sintesis protein sehingge dapat terekspresi sebagai fenotip. Transkripsi merupakan proses sintesis molekul RNA pada DNA templat. Proses ini terjadi pada inti sel / nukleus (Pada organisme eukariotik. Sedangkan pada organisme prokariotik berada di sitoplasma karena tidak memiliki inti sel) tepatnya pada kromosom. 69

Komponen yang terlibat dalam proses transkripsi yaitu :

DNA templat (cetakan) yang terdiri atas basa nukleotida Adenin (A), Guanin (G), Timin (T), Sitosin (S) enzim RNA polimerase faktor-faktor transkripsi prekursor (bahan yang ditambahkan sebagai penginduksi).

Hasil dari proses sintesis tersebut adalah tiga macam RNA, yaitu :

mRNA (messeger RNA) tRNA (transfer RNA) rRNA (ribosomal RNA)

Sebelum itu saya akan memaparkan terlebih dahulu bagian utama dari suatu gen. Gen terdiri atas : promoter, bagian struktural (terdiri dari gen yang mengkode suatu sifat yang akan diekspresikan), dan terminator. Tahapan dalam proses transkripsi pada dasarnya terdiri dari 3 tahap, yaitu : 1) Inisiasi Transkripsi tidak dimulai di sembarang tempat pada DNA, tapi di bagian hulu (upstream) dari gen yaitu promoter. Salah satu bagian terpenting dari promoter adalah kotak Pribnow (TATA box). Inisiasi dimulai ketika holoenzim RNA polimerase menempel pada promoter. Tahapannya dimulai dari pembentukan kompleks promoter tertutup, pembentukan kompleks promoter terbuka, penggabungan beberapa nukleotida awal, dan perubahan konformasi RNA polimerase karena struktur sigma dilepas dari kompleks holoenzim. 2) Elongasi Proses selanjutnya adalah elongasi. Pemanjangan di sini adalah pemanjangan nukleotida. Setelah RNA polimerase menempel pada promoter maka enzim tersebut akan terus bergerak sepanjang molekul DNA, mengurai dan meluruskan heliks. Dalam pemanjangan, nukleotida ditambahkan secara kovalen pada ujung 3 molekul RNA yang baru terbentuk. Misalnya nukleotida DNA cetakan A, maka nukleotida RNA yang ditambahkan adalah U, dan 70

seterusnya. Laju pemanjangan maksimum molekul transkrip RNA berrkisar antara 30 60 nukleotida per detik. Kecepatan elongasi tidak konstan. 3) Terminasi Terminasi juga tidak terjadi di sembarang tempat. Transkripsi berakhir ketika menemui nukleotida tertentu berupa STOP kodon. Selanjutnya RNA terlepas dari DNA templat menuju ribosom. Rantai mRNA terbentuk yang belumberfungsi dalam sintesis protein karena pada bagian strukural dijumpai adanya urutan nukleotida yang tidak bias ditranslasi diesbut intron, sedangkan nukleotida yang bias ditranslasi disebut exon. Intron yang tidak dapat ditranslasi di putus atau di splicing. Lalu, setelah itu baru terbentuk exo semua yang disebut sistron. Gambar 35: Proses Transkripsi

(http://biologyondemand.blogspot.com/p/bab-3.html)

71

TRANSLASI Translasi terjadi setelah proses transkripsi. Translasi merupakan suatu proses penerjemahan urutan nukleotida yang ada pada molekul mRNA menjadi rangkaian asam-asam amino yang menyusun suatu polipeptida atau protein. Yang diperlukan dalam proses translasi adalah :

mRNA ribosom tRNA asam amino Ribosom terdiri atas subunit besar dan kecil. Bila kedua subunit digabung akan

membentuk suatu monosom. Subunit kecil mengandung sisi Peptidil (P), dan Aminoasil (A).Sedangkan subunit besar mengandung Exit (E), P, dan A. Kedua subunit tersebut mengandung satu atau lebih molekul rRNA.rRNA sangat penting untuk mengidentifikasi bakteri pada tataran biologi molekuler, pada prokariot 16 S (subunit) dan eukariot 18 S. Seperti halnya transkripsi, pada translasi juga dibagi dalam tiga tahap : 1. Inisiasi

Pertama tRNA mengikat asam amino, dan hal ini menyebabkan tRNA teraktivasi atau peristiwa ini disebut amino-asilasi. Proses amino-asilasi ini dikatalisis oleh enzim tRNA sintetase. Kemudian ribosom mengalami pemisahan menjadi subunit besar dan kecil. Subunit kecil selajutnya melekat pada molekul mRNA dengan kodon awal tempat menempel : 5 AGGAGG 3. Urutan tempat menempelnya subunit kecil disebut urutan Shine-Dalgarno. Subunit kecil dapat menempel pada mRNA bila ada IF-3. Pembentukan kompleks IF-2/tRNA-fMet dan IF3/mRNA-fMet disebut asam amino N-formilmetionin dan memerlukan banyak GTP sebagai sumber energi. tRNA-fMet kemudian menempel pada kodon pembuka P subunit kecil. Selanjutnya Subunit besar menempel pada subunit kecil. Pada proses ini IF-1 dan IF-2 dilepas dan GTP dihidrolisis menjadi GDP, dan siap melakukan elongasi. 72

2.

Elongasi

Perbedaan pada proses transkripsi, pada translasi asam amino yang dipanjangkan. Tahapan yang dilakukan pada proses elongasi, pertama adalah pengikatan tRNA pada sisi A yang ada di ribosom. Pemidahan tersebut akan membentuk ikatan peptida. 3. Terminasi Translasi akan berakhir pada waktu salah satu dari ketiga kodon terminasi (UAA, UGA, UAG) yang ada pada mRNA mencapai posisi A pada ribosom. Pada E. coli ketiga sinyal penghentian proses translasi tersebut dikenali oleh suatu protein yang disebut release factor (RF). Penempelan RF pada kodon terminasi tersebut mengaktifkan enzim peptidil transferase yang menghidrolisis ikatan antara polipeptida dng tRNA pada sisi P dan menyebabkan tRNA yang kosong mengalami translokasi ke sisi E (exit). Begitulah mekanisme proses transkripsi maupun translasi. Proses selanjutnya adalah protein yang telah dibuat akan disalurkan pada bagian-bagian yang dibutuhkan dan akan diekspresikan oleh tubuh kita dalam bentuk fenotip. Proses transkripsi DNA menjadi mRNA dan translasi mRNA menjadi sebuah polipeptida disebut dogma sentral (central dogma). Gambar 36: Proses Translasi

(sumber: www.google.com)

73

TRANSKRIPSI PROKARYOT A. Inisiasi Pada prokaryot, transkripsi dimulai dengan penempelan RNA polimerase holoenzim pada bagian promoter suatu gen. Pada awal penempelan RNA polimerase, masih belum terikat secara kuat dan struktur promoter masih dalam keadaan tertutup (closed promotor complex). RNA polimerase menempel secara langsung pada DNA di daerah promoter tanpa melalui suatu ikatan dengan protein lain. Dalam proses penempelan promoter tersebut, subunit berperan dalam menemukan bagian promoter suatu gen sehingga RNA polimerase dapat menempel. Ia hanya menstimulasi inisiasi transkripsi tetapi tidak mempercepat laju pertambahan untaian RNA. Bagian DNA yang terbuka setelah RNA polimerase menempel biasanya terjadi pada daerah sekitar -9 sampai +3 sehingga menjadi struktur untai tunggal. Bagian DNA yang berikatan dengan RNA polimerase membentuk suatu struktur gelembung transkripsi (transcription bubble). Setelah struktur promoter terbuka secara STABIL, maka selanjutnya RNA polimerase melakukan proses inisiasi transkripsi dengan menggunakan urutan DNA cetakan sebagai panduannya. Dalam proses transkripsi, nukleotida RNA digabungkan sehingga membentuk transkrip RNA. Nukeotida pertama yang digabungkan hampir selalu berupa molekul purin. Setelah RNA polimerase menempel pada promoter dan proses inisiasi transkripsi usai terjadi, subunit melepaskan diri dari struktur holoenzim. Ia terlepas dari enzim inti dan dapat digunakan lagi oleh enzim inti RNA polimerase yang lain. Jika ke dalamm sistem tersebut dimasukkan RNA polimerase inti yang baru, maka transkripsi kemudian berjalan kembali. Keadaan ini menunjukkan bahwa RNA polimerase inti yang baru tersebut kemudian bergabung dengan subunit yang sebelumnya telah dilepaskan dari enzim RNA polimerase inti lainnya. Antibiotik rifampisin = penghambat proses inisiasi.

74

B. Elongasi Pada bagian gelembung transkripsi, basa-basa molekul RNA membentuk hibrid dengan DNA cetakan sepanjang kurang lebih 12 nukleotida. Hibrid RNA-DNA ini bersifat sementara sebab setelah RNA polimerasenya berjalan, maka hibrid tersebut akan lepas, dan bagian DNA yang terbuka tersebut akhirnya akan menutup lagi. RNA polimerase akan berjalan membaca DNA cetakan untuk melakukan proses pemanjangan (elongasi) untaian RNA. Dalam pemanjangan transkrip, nukleotida ditambahkan secara kovalen pada ujung 3 molekul RNA yang baru terbentuk. Nukleotida RNA yang ditambahkan tersebut bersifat komplementer dengan nukleotida pada untaian DNA cetakan. Sebagai contoh, jika nukleotida pada DNA cetakan adalah A, maka nukleotida RNA yang ditambahkan adalah U. Dalam proses pemanjangan transkrip RNA, demikian juga pada proses inisiasi sintesis RNA, terjadi pembentukan ikatan fosfodiester antara nukleotida RNA yang satu dengan nukleotida berikutnya. Pembentukan ikatan fosfodiester tersebut ditentukan oleh keberadaan subunit pada RNA polimerase. Transkrip akan berakhir pada saat RNA polimerase mencapai ujung gen yang disebut terminator. Antibiotik streptodiligin = penghambat proses elongasi. C. Terminasi Pada bakteri E. coli ada dua macam terminator, yaitu: 1. Terminator yang Tidak Tergantung pada Faktor Rho Pengakhiran terminasi yang tidak tergantung pada rho dilakukan tanpa harus melibatkan suatu protein khusus, melainkan ditentukan oleh adanya suatu urutan nukleotida tertentu pada bagian terminator. Sinyal yang akan mengakhiri transkripsi dengan mekanisme semacam ini ditentukan oleh daerah yang mengandung banyak urutan GC yang dapat membentuk struktur batang dan lengkung (stem-and-loop) pada RNA. Struktur batang-lengkung tersebut menyebabkan RNA polimerase berhenti. Dua ciri utama pengakhiran transkripsi tanpa melibatkan faktor rho, yaitu (1) adanya rangkaian basa berulang-balik yang dapat membentuk lengkungan, dan (2) adanya rangkaian 75

basa T pada untaian DNA bukan cetakan (nontemplate strand) sehingga terbentuk pasangan basa yang lemah antara rU-dA yang menahan transkrip RNA pada untaian DNA cetakan. Pada waktu lengkungan RNA terbentuk, maka RNA polimerase berhenti dan ikatan basa yang lemah menyebabkan RNA yang baru terbentuk akan terlepas. 2. Terminator yang Tergantung pada Faktor Rho Mekanisme transkripsi ini memerlukan protein (rho). Pengakhiran transkripsi yang memerlukan faktor rho hanya terjadi pada daerah jeda yang terletak pada jarak tertentu dari promoter.dengan demikian, jika ada daerah jeda yang terletak di dekat promoter, maka daerah itu tidak dapat berfungsi sebagai daerah pengakhiran transkripsi. Terminator yang tergantung pada rho terdiri atas suatu urutan berulang-balik yang dapat membentuk lengkungan (loop), tetapi tidak ada rangkaian basa T seperti pada daerah terminator yang tidak melibatkan faktor rho. Faktor rho diduga ikut terikat pada transkrip dan mengikuti pergerakan RNA polimerase sampai akhirnya RNA polimerase berhenti pada daerah terminator yaitu sesaat setelah menyintesis lengkungan RNA. Selanjutnya, faktor rho menyebabkan destabilisasi ikatan RNA-DNA sehingga transkrip RNA terlepas dari DNA cetakan. --TRANSLASI PROKARYOT 1. Disosiasi ribosom 70S menjadi subunit 50S dan 30S dengan menggunakan faktor IF-1. 2. Pengikatan IF-3 pada subunit 30S. 3. Pengikatan IF-1, IF-2, dan GTP bersama-sama dengan IF-3. 4. Pengikatan mRNA dan fMetuntuk membentuk kompleks inisiasi 30S.

5. Pengikatan subunit 50S, IF-1 dan IF-3 terlepas. 6. IF-2 terlepas dari kompleks bersamaan dengan hidrolisis GTP sehingga terbentuk kompleks inisiasi 70S yang siap melakukan proses pemanjangan polipeptida. --TRANSKRIPSI EUKARYOT Secara umum, mekanisme transkripsi pada eukaryot serupa dengan yang terjadi pada prokaryot. Proses transkripsi diawali (diinisiasi) oleh proses penempelan faktor-faktor transkripsi dan kompleks enzim RNA polimerase pada daerah promoter. Berbeda halnya dengan yang terjadi pada prokaryot, RNA polimerase eukaryot tidak menempel secara langsung pada DNA di 76

daerah promoter, melainkan melalui perantaraan protein-protein lain yang disebut sebagai faktor transkripsi (transcription factor, TF). Faktor transkripsi dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu (1) faktor transkripsi umum, dan (2) faktor transkripsi yang khusus untuk suatu gen. Faktor transkripsi umum mengarahkan RNA polimerase ke promoter. Penempelan RNA polimerase pada promoter oleh faktor transkripsi umum hanya menghasilkan transkripsi pada arah dasar (basal level). Pengaturan transkripsi yang lebih spesifik dilakukan oleh faktor transkripsi yang khusus untuk suatu gen. Meskipun demikian, proses penempelan tersebut sangat vital bagi keberlangsungan proses transkripsi. Setelah faktor-faktor transkripsi umum dan RNA polimerase menempel pada promoter, selanjutnya akan terjadi pembentukan kompleks promoter terbuka (open promoter complex). Transkripsi dimulai pada titik awal transkripsi ( RNA inititation site, RIS) yang terletak beberapa nukleotida sebelum urutan kodon awal ATG. Pada eukaryot terdapat tiga kelas gen, yaitu gen kelas I, kelas II, kelas III yang masingmasing dikatalisis oleh RNA polimerase dan faktor transkripsi yang berbeda. Transkripsi Gen Kelas II Transkripsi gen kelas II dilakukan oleh RNA polimerase II yang dibantu oleh beberapa faktor transkripsi umum. Penyusunan kompleks faktor transkripsi umum dan RNA polimerase II pada daerah promoter membentuk kompleks pra-inisiasi yang akan segera mengawali transkripsi jika ada nukleotida. Ikatan semacam ini membuat daerah promoter menjadi terbuka sehingga RNA polimerase II dapat membaca urutan DNA pada cetakan. Faktor transkripsi umum yang berperan dalam mengarahkan RNA polimerase II ke promoter adalah TFIIA, TFIIB, TFIID, TFIIE, TFIIF, TFIIH, dan TFIIJ. Faktor-faktor transkripsi tersebut akan menempel ke daerah promoter secara bertahap sebelum akhirnya terbentuk kompleks pra-inisiasi. Penempelan faktor transkrisi tersebut terjadi dengan urutan, (1) pertama-tama TFIID menempel pada bagian kotak TATA pada promoter, yang dibantu oleh faktor TFIIA sehingga membentuk komoleks DA, (2) kemudian diikuti oleh penempelan TFIIB, (3) TFIIF selanjutnya menempel diikuti oleh penempelan RNA polimerase II, (4) akhirnya faktor TFIIE akan menempel diikuti oleh TFIIH dan TFIIJ. Kompleks pra-inisiasi yang terbentuk disebut sebagai kompleks DABPoIFEH. TFIID adalah faktor transkripsi pertama yang secara langsung berikatan dengan kotak TATA sehingga penempelan faktor transkripsi ini akan mengarahkan faktor-faktor transkripsi yang lain dan RNA 77

polimerase II untuk mengenali daerah promoter. Peranan TFIIA adalah meningkatkan daya ikat (affinity) TFIID terhadap kotak TATA. Protein yang melekat langsung pada kotak TATA sebenarnya hanya protein TBP, sedangkan protein yang lain dalam kompleks TFIID berikatan melalui ikatan protein dengan protein. TBP juga terlibat dalam proses pembentukan kompleks pra inisiasi dalam ekspresi gen kelas I dan gen kelas III. Faktor transkripsi yang penting untuk mengawali (inisiasi) proses transkripsi adalah TBP, TFIIB, TFIIF, dan RNA polimerase II. TFIIE dan FIIH diperlukan dalam proses pelepasan dari promoter. Pelepeasan dari promoter tersebut dikatalisis oleh aktivitas DNA helikase yang dimililki oleh TFIIH sehingga menyebabkan terbukanya DNA pada daerah promoter. Pembentukan gelembung transkripsi memungkinkan RNA polimerase untuk memulai transkripsi dan bergerak ke arah hilir sepanjang 10-12 nukleotida. Pergerakan RNA polimerase tersebut dibantu oleh aktivitas TFIIH yang menyebabkan pemanjangan gelembung transkripsi. Prosess pemanjangan transkrip distimulasi oleh suatu faktor yang disebut TFIIS. Faktor ini diketahui dapat memengaruhi proses pemanjangan transkrip tetapi tidak berperan dalam proses inisiasi transkripsi. Transkripsi Gen Kelas I Dimulai dengan pembentukan kompleks pra-inisiasi yang dilakuakan oleh RNA polimerase I dan dua faktor transkripsi, yaitu SL1 dan UBF. Faktor SL1 berperan dalam penyusunan kompleks pra-inisiasi RNA polimerase I. Faktor ini merupakan suatu kompleks protein yang tersusun atas TBP dan tiga molekul TAF. Selain faktor SL1 inisiasi transkripsi gen kelas I juga memerlukan faktor transkripsi UBF. Faktor UBF inilah yang menempel pada daerah promoter gen rRNA secara langsung dan bukannya RNA polimerase I. SL1 dan UBF diketahui berinteraksi dalam menstimulasi aktivitas promoter gen rRNA melalui daerah pengendali sebelah hulu. SL1 spesifik untuk objeknya. Apabila SL1 berasal dari manusia, maka hanya dapat digunakan untuk manusia. Sebaliknya, UBF bisa digunakan kepada mencit walaupun UBF berasal dari manusia. Transkripsi Gen Kelas III Dilakukan oleh RNA polimerase III dibantu oleh sekelompok protein yang dikenal sebagai faktor transkripsi TFIII yang meliputi TFIIIA, TFIIIB, dan TFIIIC serta protein TBP. 78

Pertama-tama, faktor TFIIIC menempel pada kotak A dan kotak B yang ada pada promoter internal. Penempelan TFIIIC mendorong penempelan TFIIIB dan TBP pada daerah sebelah hulu dari titik awal transkripsi. Selanjutnya, RNA polimerase III menempel pada daerah awal transkripsi dan siap memulai proses transkripsi. Pada saat transkripsi dimulai, RNA polimerase III diduga menyebabkan TFIIIC terlepas dari ikatannya dengan kotak A dan kotak B pada daerah promoter internal, smenetara TFIIIB tetap berada di tempatnya. Translasi dapat dijalankan apabila proses transkripsi sudah selesai dilakukan. --TRANSLASI EUKARYOT Pada fase ini terjadi beberapa proses yanng unik pada eukaryot, anatara lain (1) pemotongan dan penyambungan RNA (RNA splicing), (2) poliadenilasi (penambahan gugus poli-A pada ujung 3 mRNA), (3) penambahan tudung (cap) pada ujung 5 mRNA, dan (4) penyuntingan mRNA. Pemotongan dan penyambungan RNA Gen yang banyak terorganisasi oleh ekson dan intron. Dimana pengertian splicing ialah bagian intron dipotong saat pre-mRNA terjadi, kemudian ekson yang masih ada disambungkan sesama ekson. Gambar 37: Pemotongan dan penyambungan DNA

sumber: http://www.phschool.com/science/biology_place/biocoach/transcription/premrna.html

79

Poliadenilasi mRNA Yaitu penambahan poliA (rantai AMP). Penambahan poliA semacam ini tidak terjadi pada rRNA maupun tRNA. Rantai poliA tersebut ditambahakan pasca-transkripsi karena tidak ada bagian gen yang mengkode rangkaian RA atau T semacam ini. Proses ini menggunakan aktivitas enzim poli(A) polimerase yang ada di dalam nukleus. Sebagian besar mRNA mengandung poliA, kecuali mRNA histon. Penambahan poliA pada ujuang 3 meningkatkan stabilitas mRNA sehingga mRNA mmepunyai umur yang lebih panjang dibandingkan dengan mRNA yang tidak mempunyai poliA. Keberadaan poliA juga meningkatan efisiensi translasi mRNA, mempunyai kemungkinan yang lebih tinggi untuk mengikat ribosom. Bagian mRNA yang disintesis setelah sisi poliadenilasasi selanjutnya akan didegradasi. Penambahan tudung(cap) pada mRNA Tudung mRNA tersebut disinteses dalam beberapa tahapan. Yang pertama, enzim RNA trifosfatase memotong gugus fosfat pada ujung pre-mRNA, kemudian enzim guanilil transferase menambahkan GMP (guanosin monofosfat). Selanjutnya, enzim metil trasnferase melakukan metilasi tudung guanosin pada N7 dan gugus 2-O-metil pada nukleotida ujung tudung tersebut. Proses penmbahan tudung tersebut berlangsung pada tahapan awal transkripsi sebelum transkrip mencapai panjang 30 nukleotida. Empat fungsi tudung mRNA yaitu melindungi mRNA dari degradasi, meningkatkan efisiensi translasi mRNA, meningkatkan pengangkutan mRNA dari nukleus ke sitoplasma, meningkatkan efisiensi proses splicing mRNA. Tudung berikatan dengan mRNA melalui ikatan trifosfat dan hal ini diduga melindungi mRNA dari serangan Rnase yang tidak dapat memotong ikatan trifosfat. Penyuntingan RNA Penyuntingan tersebut dilakukan oleh suatu molekul RNA yang disebut sebagai guide RNA( gRNA). Molekul gRNA tersebut berhidbridasi dengan bagian mRNA yang tidak diedit dan menyediakan nukleotida A dan G sebagai cetakan untuk penggabungan nukleotida U yang tidak ada mRNA. Kadang-kadang gRNA tidak mempunyai A atau G yang dapat berpasangan dengan U pada mRNA sehingga nukleotida tersebut dihilangkan menggunakan enzim eksonuklease. 80

Perbedaan Ekspresi Gen Prokariot dengan Eukariot Aktifitas transkripsi Eukariot lebih rumit dibandingkan dengan prokariot. Akses RNA polimerase terhadap DNA lebih lemah karena DNA dikemas dengan protein histon. Molekul pre-mRNA/hnRNA mengalami modifikasi sebelum proses translasi (modifikasi pasca transkripsi), melalui: pemasangan tudung/cap, penambahan poli A, dan pemenggalan (splicing). Gambar 38: Dogma Sentral

(sumber: http://biologigonz.blogspot.com/2009/11/sintesa-protein-2.html)

81

5.3 Faktor Ekspresi Gen Beberapa Promoter Transkripsi A. TATA box Terletak pada 25 bp upstream dari starpoint Lokasi tetap, terdapat pada mamallia, aves, insekta dan tanaman Sekuens konsensus 8 bp terdiri dari A-T Biasanya diapit oleh sekuen yang kaya akan G-C. Penting : Mutasi noktah menyebabkan gangguan fungsi.

B. Enhanser Berperan dalam inisiasi, terletak agak jauh dari starpoint, bisa upstream ataupun downstream Komponen seperti promotor, terdiri dari elemen modul yang bersambungan Merupakan target untuk pengaturan keunikan jaringan, kerja berhubungan dengan promotor untuk polimerase I

5.4 Penyakit Kelainan Gen Mutasi Pada proses sintesis protein dapat mengakibatkan suatu popi peptide tidak fungsional.12

12

Neil Campbell. Biologi. (Jakarta: Erlangga) .2000

82

BAB VI AMNIOSINTESIS 6.1 Definisi Amniosintesis Amniosentesis adalah tes yang dapat mendeteksi atau aturan keluar kelainan bawaan tertentu dalam janin. Hal ini juga menilai kematangan paru-paru untuk melihat apakah janin dapat bertahan dengan pengiriman awal. Juga dapat mengetahui jenis kelamin bayi.13 . Waktu yang paling baik di lakukanya pemeriksaan Amniosintesis ini adalah pada wanita dengan usia kandungan mencapai 14-16 minggu. Jika terlalu awal dilalkukan, maka cairan amnion belum cukup banyak, sedangkan jika terlambat melakukanya, maka akan lebih sulit untuk membuat kultur dari sel-sel fetus yang ikut terbawa cairan amnion. Amniosentesis digunakan untuk menentukan kesehatan bayi yang belum lahir. Cairan ketuban mengandung sel-sel yang biasanya gudang dari janin. Sampel sel-sel ini diperoleh dengan menarik beberapa cairan ketuban. Analisis kromosom sel-sel ini dapat dilakukan untuk menentukan kelainan. Selain itu, sel-sel dapat dibudidayakan dan dianalisis untuk enzim, atau bahan lain yang mungkin mengindikasikan penyakit genetik menular. Penelitian lain bisa dilakukan langsung pada cairan ketuban termasuk pengukuran alpha-fetoprotein.14

Efek setelah pemeriksaan Amniosintesis: Bagian di sekitar perut menjadi kram Terkadang keluarnya cairan ketuban dari vagina Tingkat komplikasinya hanya 1 % Dan yang paling jarang terjadi yaitu adanya pendarahan pada vagina.

6.2 Fungsi Amniosintesis 13 14

Mengetahui kalinan sang janin.

http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/presentations/100192_1.htm http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/imagepages/1062.htm

83

Mengetahui jenis kelamin sang janin. Mengetahui tingkat kematangan paru janin. Mengetahui ada tidaknya infeksi cairan amnion (karioamnionitis). Mengetahui ada atau tidaknya penyakit keturunan seperti sindrom Tay-Sachs, atau kelainan kromosom seperti Sindrom Down, cacat urat syaraf, dan penyakit Rhesus.

6.3 Mekanisme Amniosintesis

Dokter umumnya menawarkan amniosentesis untuk perempuan dengan peningkatan risiko melahirkan bayi dengan kelainan tertentu, termasuk mereka yang: Berumur 35 th (lebih beresiki bayi mendapat kecacatan). Memiliki kerabat dekat dengan gangguan. Apakah kehamilan sebelumnya atau bayi yang terkena gangguan. Memiliki hasil tes (seperti jumlah alpha-fetoprotein tinggi atau rendah) yang dapat mengindikasikan suatu kelainan.

Dokter juga menawarkan amniosentesis untuk wanita dengan komplikasi kehamilan, seperti Rh-ketidakcocokan, yang memerlukan pengiriman awal.

Gambar 39: Amniosintesis

84

(sumber: http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/presentations/100192_1.htm)

Amniosentesis dilakukan di ruang pemeriksaan, baik dengan atau tanpa anestesi lokal. Ini biasanya membutuhkan waktu hanya beberapa menit, di mana Pasien harus berbaring diam. Seorang teknisi menempatkan janin dengan USG. Menggunakan USG untuk bimbingan, dokter dengan hati-hati memasukkan jarum, panjang, tapi tipis berongga melalui perut dan ke dalam kantung ketuban. Pasien harus menerima immune globulin Rh (RHIG) pada saat amniosentesis jika Anda pasien Rh-negatif unsensitized.

Gambar 40: Amniosintesis

85

(sumber:http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/presentations/100192_2.htm)

Dokter kemudian ekstrak sekitar empat sendok teh cairan ketuban. Cairan ini mengandung sel-sel janin yang tumbuh teknisi di laboratorium dan analisis. Hasil tes umumnya tersedia dalam dua sampai tiga minggu.

Dokter merekomendasikan pasien beristirahat dan menghindari ketegangan fisik (seperti mengangkat) setelah amniosentesis. Ada antara 0,25% dan risiko 0,50% dari keguguran dan risiko yang sangat sedikit infeksi rahim (kurang dari 001%) setelah amniosentesis. Di tangan terlatih dan dibawah bimbingan dari ultrasound, tingkat keguguran mungkin bahkan lebih rendah.

Dalam kebanyakan kasus, hasil tes akan tersedia dalam waktu dua minggu. Dokter akan menjelaskan hasil dan, jika masalah didiagnosis, memberikan informasi tentang mengakhiri kehamilan atau bagaimana cara terbaik untuk merawat bayi setelah lahir.

86

Gambar 41: Amniosintesis

(http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/presentations/100192_3.htm)

Amniosentesis mendeteksi sindrom Down, yang menyebabkan keterbelakangan mental, cacat jantung bawaan, dan karakteristik fisik seperti lipatan kulit di dekat mata. Amniosentesis juga mendeteksi cacat tabung saraf seperti spina bifida. Bayi yang lahir dengan spina bifida memiliki tulang punggung yang tidak menutup dengan benar. Komplikasi serius dari spina bifida dapat mencakup kelumpuhan kaki, kandung kemih dan ginjal cacat, pembengkakan otak (hidrosefalus), dan keterbelakangan mental.

6.4 Cara Pembacaan Hasil Amniosintesis Setelah melakukan prosedur amniosentesis, sampel cairan ketuban (cairan yang mengelilingi bayi yang belum lahir di dalam rahim) akan dibawa ke laboratorium untuk pengujian.

87

Rapid test Rapid test mencari kelainan pada kromosom tertentu (bagian dari sel-sel tubuh yang membawa gen). Rapid test dapat mengidentifikasi sejumlah kondisi kromosom yang menyebabkan kelainan fisik dan mental. Ini adalah: Down syndrome - yang disebabkan oleh kelainan kromosom ekstra 21 Edward sindrom - disebabkan oleh kelainan kromosom ekstra 18 Sindrom Patau - disebabkan oleh kelainan kromosom ekstra 13 Hasil tes cepat harus siap setelah tiga hari kerja. Tes ini hampir 100% akurat, tetapi hanya tes untuk tiga kondisi di atas.

Full karotype Setiap sel dalam tubuh mengandung 23 pasang kromosom, full karotype memeriksa semua ini. Sel-sel dalam sampel cairan ketuban yang tumbuh hingga 10 hari di laboratorium sebelum diperiksa di bawah mikroskop untuk memeriksa: Jumlah kromosom Tampilan pada kromosom Hasil dari Full karotype biasanya akan siap dalam dua atau tiga minggu. Sekitar 1 dari setiap 100 tes, hasil mungkin tidak jelas,Ini bisa disebabkan oleh darah ibu mengkontaminasi sampel cairan ketuban, yang mungkin telah mencegah sel-sel dari tumbuh dengan benar. Gambar 42: Analisa Kromosom

88

(sumber: Mutasi dan Penyakit kelainan Genetika. Dra. Cut fauziah, M.Biomed. 9Oktober 2012)

89

BAB VII PENUTUP

7.1 Kesimpulan Genetika adalah ilmu tentang pewarisan sifat. Bahan penyusun kromosom adalah benang kromatin yang terdiri dari DNA (asam deoksiribonukleat), RNA hasil transkripsi dan protein(bersifat histon atau asam & non histon atau basa). Tiap kromatidmembawa sebuah molekul DNA yang strukturnya berupa untai ganda sehingga di dalam kedua kromatid terdapat dua molekul DNA. Mutasi pada tingkat gen atau tingkat kromosom dapat mengakibatkan kecacatan pada janin. Kelainan kromosom terdiri dari dua jenis yaitu: 1. Kelainan pada jumlah kromosom, dimana terdapat jumlah kromosom yang berlebihan (disebut dengan trisomi), 2. Kelainan pada struktur kromosom, diantaranya adalah delesi pada kromosom yang menyebabkan kromosom lebih pendek dari kromosom normal, insersi pada kromosom yang menyebabkan kromosom lebih panjang dari normal dan berpindahnya bagian satu kromosom ke bagian kromosom yang lain atau yang disebut dengan translokasi. Sintesis dibagi menjadi tiga tahap, yaitu transkripsi, translasi dan translokasi.

7.2 Saran

90

BAB VIII DAFTAR PUSTAKA

Murray, Robert K. Granner, Daryl K. Rodwell, Victor W. Biokimia Harper.27 thed. Jakarta.Penerbit Buku Kedokteran EGC: 2009. Campbel, N.. Bilogy Concept & Connection. San Fransisco : Pearson Education.2003 Dorland, W.A. Newman. Kamus Dorland. Edisi 29. Jakarta:Penerbit Buku Kedokteran EGC 2002. Sherwood, Laurale. Fisiologi Manusia: Dari Sel ke Sistrm.Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.2012. Subowo.Biologi Sel.Jakarta: Sagung Seto.2012 Juono dan Achmad Zulfa Juniarto.Biologi Sel.Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.2003 Yuwono, Triwibowo. Biologi Molekular.Jakarta: Penerbit Erlangga.2005 Bruce, Johnson Lewis Raaf Molekular Biology of The Cell. Edisi 4. Newyork : Garlan.2002 Marks, Dawn B, PhD, Allan D. Marks, Colleen M.Smith. Biokimia Kedokteran Dasar. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.2000. Siregar, Nirwana, Dra. Biologi Kedokteran Biologi Genetika. Jakarta : Departemen Biologi FKUPNVJ Suryo. Genetika Manusia. Yogyakarta : Gajah MAda University. .2008

91

Yuwono, Triwibowo. Biologi Molekuler. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.2008 Robins. Buku Ajar Patologi.Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.2012 Website: http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/003921.htm http://www.scribd.com/doc/77214540/Pewarisan-Gen-Autosomal-Resesip http://biologimediacentre.com/hereditas-pada-manusia/ http://zianarmie.wordpress.com/2011/02/09/pewarisan-sifat/#more-98 http://biochronica.blogspot.com/p/pola-pola-hereditas.html http://4sinaps.blogspot.com

92