Anda di halaman 1dari 90

Start : 6 Februari 2010. Proposal Disertasi DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN A. B. C. D. E.

Latar Belakang Masalah Perumusan Masalah Batasan Istilah Tujuan Penelitian Kegunaan Penelitian

BAB II KERANGKA TEORI A. B. Landasan Teori Kajian Terdahulu

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. B. C. D. E. Metode Penelitian Populasi dan Sumber Data Teknik dan Alat Pengumpulan Data Teknik Analisa Data Sistematika Penulisan

BAB I PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang Masalah

Pendidikan merupakan kebutuhan asasi manusia yang diperoleh secara berjenjang dari lingkungan orang tua dan keluarga, teman sebaya, masyarakat, dan institusi formal pendidikan (sekolah). Pendidikan menjadi kebutuhan asasi karena hanya melalui jalur itulah manusia dapat mengetahui segala sesuatu yang dia perlukan untuk dapat bertahan hidup, melanjutkan serta meningkatkan kualitas kehidupannya. Sebab, pada saat manusia dilahirkan ia tidak mengetahui sesuatu apa pun.1 Seiring dengan perkembangan kehidupan manusia, tuntutan terhadap materi pendidikan pun semakin meningkat. Tetapi kecepatan perubahan dan perkembangan dalam kehidupan tersebut sering tidak dapat diimbangi oleh materi pendidikan yang tersedia. Bahkan dalam konteks pendidikan nasional Indonesia, sebagian kalangan menilai eksistensi dunia pendidikan justru semakin hari semakin jauh dari apa yang seharusnya dapat dicapainya. Tidak banyak hubungan yang benar-benar nyata dan positif antara ilmu yang disediakan dunia pendidikan dengan realitas kehidupan masyarakat bangsa.2 Mencermati perilaku, sikap, ucapan, tindakan, dan moral bangsa yang mengemuka saat ini membuat kita sulit mengingkari kenyataan di atas. Pada lapisan atas dan

menengah masyarakat, terutama pada penyelenggara negara dan pemerintahan, perilaku


1 2

Q.S, Al-Nahl/ 16 : 78. Al Rasyidin, Rekonstruksi Filsafat Pendidikan, Jurnal Analytica Islamica, Vol 7, No.1, 2005,,

h. 75.

korupsi yang berkembang merata di seluruh negeri adalah contoh paling konkret yang mudah ditemukan. Pada lapisan masyarakat menengah dan bawah berkembang pemaksaan kehendak, bahkan secara fisik, kepada pihak lain dengan tidak mengindahkan nilai-nilai moral dan budaya bangsa. Terjadi kerentanan individu dan instabilitas emosi yang ditunjukkan dengan peningkatan intensitas agresifitas dan destruktifitas dalam ucapan dan perilaku masyarakat.3 Apa yang terlihat pada keseluruhan lapisan masyarakat dari atas sampai ke bawah adalah berkembangnya tindakan menghalalkan segala cara dalam mencapai tujuan. Dengan kata lain, terjadi fenomena desonansi nilai yang mengancam eksistensi dan martabat kemanusiaan4 manusia Indonesia. Masyarakat adalah pelaksana sekaligus produk dari proses pendidikan yang telah berlangsung selama ini. Gambaran tentang masyarakat sebagai produk pendidikan telah dikemukakan, dan gambaran tentang masyarakat sebagai pelaksana proses pendidikan pun ternyata tidak jauh berbeda. Apabila selama ini murid terbiasa dengan mencontek pekerjaan temannya dengan cara sembunyi-sembunyi, kini giliran guru yang mencontekkan hasil ujian kepada muridmuridnya secara massal sebagaimana praktik yang terjadi pada sejumlah sekolah dalam proses ujian nasional yang diselenggarakan pemerintah. Tujuannya tidak lain meningkatkan kuantitas angka kelulusan murid yang secara langsung akan berimbas kepada persepsi masyarakat tentang kualitas guru-guru di sekolah yang bersangkutan. Semakin sedikit murid yang gagal ujian, maka semakin berkualitas guru-gurunya dalam

3 Suprayetno W., Tantangan Psikologis Era Reformasi dalam Penegakan Jati Diri Muslim Indonesia, dalam Al Rasyidin, (ed.), Pendidikan dan Psikologi Islami, (Bandung : Citapustaka Media, 2007), h. 316. 4 Al Rasyidin, Pendidikan Nilai : Menegakkan Kembali Pendidikan Akhlak, dalam Al Rasyidin (ed.), Pendidikan dan Psikologi Islami, (Bandung : Citapustaka Media, 2007), h. 94.

pandangan masyarakat, dan lebih khusus lagi pada pandangan atasan dari guru-guru tersebut. Apabila selama ini guru dituntut berdasar kualitas tertentu dan pengalaman yang dimiliki untuk dapat diangkat sebagai kepala sekolah, maka dalam satu dasawarsa terakhir setelah reformasi bergulir, jabatan kepala sekolah justru bisa dijadikan sebagai komoditas yang dapat diperjual-belikan. Maka kebiasaan korupsi pun ikut masuk ke dunia pendidikan. Kondisi carut-marut dalam dunia pendidikan telah memunculkan realitas baru dimana banyak anggota masyarakat yang kini mencari sendiri pendidikan yang dinilai pas baginya di luar tembok sekolah dan perguruan tinggi. Bahwa pendidikan di sekolah dan perguruan tinggi tetap diperlukan dan dijalani dengan berbagai alasan dan tujuan adalah satu hal, tetapi penambahan materi yang sesuai dengan keinginan dari luaran adalah hal lain yang kini dicari dan dikejar masyarakat dari berbagai usia. Upaya pencarian yang dilakukan merupakan indikator yang menunjukkan adanya ketidakpuasan terhadap apa yang dapat dicapai dari institusi pendidikan formal selama ini. Pemerintah sendiri secara sadar mengakuinya. Ini ditandai dengan dimunculkannya jenis lembaga pendidikan berlabel plus serta sekolah standar nasional dan sekolah bertaraf internasional. Proses pencarian yang berlangsung telah memunculkan fenomena baru hadirnya sejumlah guru informal dengan kualitas beragam, yang memberikan materi dan pencerahan kepada masyarakat dengan menggunakan berbagai perangkat-perangkat teknologi mutakhir seperti televisi dan internet, disamping, yang tidak kalah menariknya, melalui medium konvensional cetak dalam bentuk buku.

Masyarakat pun berkenalan dengan Mario Teguh melalui program acara televisi dan internet Mario Teguh Golden Ways yang sangat fenomenal. Masyarakat meminati program acara televisi dan buku best-seller Pelatihan Shalat Khusyu dari Abu Sangkan, juga program-program pengembangan motivasi serta buku Quantum Ikhlas karya Erbe Sentanu. Kepopularan program Facebook, Twitter, dan sejenisnya di internet menunjukkan perkembangan yang lebih mencengangkan. Mario Teguh melalui milisnya,

http://www.MarioTeguh.asia memiliki 25.790 anggota (pembaca) pada tanggal 31 Januari 2010. 787.264 orang.5 Situs Mukjizat Sholat dan Doa di http://www.facebook. com /pages/MukjizatSholat-Dan-Doa/246320798295?ref=mf, pada tanggal 16 Februari 2009 diakses sebanyak 315.044 kali, padahal baru dipublikasikan oleh Muhammad Agus Syafii pada tanggal 18 Januari 2010. Artinya dalam kurun waktu satu bulan, topik tersebut mampu meraih sedemikian banyak peminat. Hampir setiap topik yang dimuat ditanggapi dengan antusias oleh antara seribu sampai empat ribuan orang. Bahkan ada yang mencapai 7.150 orang, yaitu ketika Muhammad Agus Syafii memuat : 'Hiduplah seperti pohon yang daunnya lebat, manis buahnya, hidup di tepi jalan, ketika dilempari orang dengan batu, tetapi dibalas dengan buahnya yang manis. ' (Abu Bakar As-Shiddiq). Situs Terapi Penyembuhan Melalui Sholat Tahajud yang dapat diakses di http://www.facebook.com/pages/Purwokerto-Indonesia /Terapi-Penyembuhan-MelaluiLalu, 18 hari kemudian, angka itu meningkat 30 kali lipat menjadi

http://www.facebook.com/pages/Mario-Teguh/52472954880?ref=search&sid= 1000006 81326 206. 4182938662..1#!/pages/Mario-Teguh/52472954880?v=info&ref=search, diunduh tanggal 18 Februari 2010.

Sholat-Tahajud/92174189254?ref=mf 52.698 fans.

pada tanggal 16 Februari 2010 diminati oleh

Situs Yusuf Mansur Network yang dibuka oleh Ustadz Yusuf Mansur pada posisi tanggal 16 Februari 2010 memiliki 345.506 fans. Situs ini merupakan jaringan dakwah demi menebar fadhilah pengetahuan ibadah, visi keislaman yang menyeluruh dan informasi dunia Islam, yang dapat diakses pada alamat http://www.facebook.com/? sk=messages&tid=1333757256745#!/pages/Tanggerang/Yusuf-Mansur-Network /10905 6501839 ?ref=mf. Demikian pula halaman yang dipublikasikan oleh KH Muhammad Arifin Ilham memiliki 235.911 pembaca.6 Berbagai contoh iluminatif yang dikemukakan merupakan bukti bagaimana sesungguhnya masyarakat mencari sendiritambahanproses pendidikan yang dia perlukan sehingga tidak terjebak dalam realitas buruk yang dikemukakan pada bagian awal paparan ini. Contoh-contoh di atas menunjukkan pula bahwa bagian terbesar dari proses pencarian yang sedang berlangsung ternyata bermuara pada upaya pendidikan hati atau jiwa atau pendidikan asketis yang sekaligus mengisyaratkan bahwa penyakit utama yang diderita bangsa Indonesia adalah memang penyakit hati. Tidak ada kelembutan hati akibat jauh dari mengingat Allah. Tidak ada kebersihan hati akibat memulai segala sesuatu tindakan tidak dilandasi karena Allah.

http://www.facebook.com/search/?q=arifin+ilham&init=quick#!/kh.muhammad.arifin . ilham?ref =search &sid=100000681326206.2476069804..1, diunduh tanggal 18 Februari 2010.

B.

Perumusan Masalah

Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaan. Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwanya dan merugilah orang yang mengotorinya.7 Sebagian anggota masyarakat dengan sadar, atau karena tidak berdaya melawan pengaruh buruk lingkungan masyarakat di sekitarnya, menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya8 dan berusaha meraihnya dengan segala cara yang mengotori jiwanya. Mereka inilah yang masuk kategori orang-orang yang merugi. Sebagian lagi tidak menemukan dalam dunia pendidikan yang dilaluinya jalan ketakwaan yang diharapkan, dan ada pula yang karena terlanjur sempat mengotori jiwa, berupaya ingin menyucikannya kembali. Mereka inilah yang masuk kategori orang-orang yang beruntung, karena ingat : Siapa yang ditimpa oleh kemurkaan-Ku, maka sesungguhnya binasalah ia. (Tetapi) sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar.9 Bagian paling awal dari Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional telah merumuskan pendidikan sebagai : Usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian , kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.10
Q.S, al-Syams/91 : 8-10. Q.S, Huud/11 : 15 9 Q.S, Thaha/20 : 81-82. 10 Undang-undang No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Bab I Pasal 1 Ayat 1, h.3. Huruf tebal tanda penegasan dari penulis.
8 7

Adapun ayat berikutnya menegaskan bahwa pendidikan nasional berakar pada nilainilai agama dan kebudayaan nasional.11 Perumusan telah ditegaskan secara eksplisit. Secara eksplisit pula telah dinyatakan bahwa empat dari enam tujuan pendidikan sejatinya berakar pada nilai-nilai agama. Lebih tegas lagi kita simpulkan, empat dari enam hal yang dituntut dapat dimiliki peserta didik sesungguhnya bersumber dari pendidikan membersihkan hati, atau yang selama ini popular sebagai pendidikan tasawuf. Masalah pertama telah mengemuka, yaitu minimnya, atau bahkan nyaris tidak ada pendidikan tasawuf yang diajarkan kepada peserta didik mulai dari institusi pendidikan dasar, menengah sampai institusi pendidikan tinggi di negeri ini. Satu-satunya pengecualian barangkali ada pada fakultas ushuluddin. Muncullah pertanyaan pertama yang cukup singkat : Mengapa? Pertanyaan pertama tersebut memunculkan sejumlah masalah dan pertanyaanpertanyaan baru, antara lain sebagai berikut : 1. Mungkinkah memperkenalkan pendidikan bersih hati kepada dunia pendidikan nasional Indonesia. Jika mungkin, dengan cara bagaimana? Pertanyaan ini pada hakikatnya terkait dengan materi apa yang harus disampaikan dan bagaimana pelaksanaan penyampaiannya. 2. Kepada anggota masyarakat yang tidak lagi berada pada lingkup pendidikan formal, atau tidak lagi berstatus peserta didik, dan lebih khusus lagi kepada mereka yang tergolong elit berkuasa, bagaimana pula cara penyampaiannya.
11

Ibid., Bab I Pasal 1 Ayat 2.

3.

Segelintir anggota masyarakat telah memulai mengembangkan materimateri pendidikan bersih hati melalui berbagai media komunikasi yang ada, dan sejauh ini terlihat cukup efektif dalam membangkitkan minat banyak anggota masyarakat lainnya. Penelitian ini pun bertujuan meneliti metoda yang digunakan dan materi yang diminati, yang mungkin dapat memberi sumbangan dalam menjawab pertanyaan pada poin 1 dan 2 di atas.

C.

Batasan Istilah

Pendidikan didefinisikan secara berbeda-beda oleh berbagai kalangan, yang banyak dipengaruhi pandangan dunia (weltanschaaung) masing-masing. Tetapi semuanya mempunyai titik temu yang dapat dirumuskan sebagai proses transfer ilmu pengetahuan, keterampilan, kecakapan, sikap dan nilai-nilai dari satu generasi ke generasi berikutnya.12 Dalam kaitan dengan tujuan penulisan ini yang secara khusus ditujukan kepada kepentingan bangsa Indonesia, maka sudah selayaknya pendidikan dimaknai sama dengan apa yang telah dikemukakan sebelumnya, yang mengutip UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional di atas, yaitu usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.13
Analisis tentang definisi yang berbeda-beda akan dikemukakan pada Bab II yang membahas tentang kerangka teori. 13 Lihat catatan kaki no. 7.
12

Meski demikian disadari perumusan dalam undang-undang di atas harus dikoreksi agar sesuai dengan pengertian pendidikan yang dimaksud dalam disertasi ini. Sebab usaha yang dilakukan secara tidak disadari pun dapat dipandang sebagai pendidikan, bahkan justru sering lebih vital pengaruhnya dibanding yang disadari dan dilakukan secara terencana. Sebagai contoh adalah apa yang dilakukan ibu saat mengandung, seperti kesiapan mental, kecukupan gizi dan nutrisi, pelaksanaan ibadah, tingkah laku dan ucapan sehari-hari, adalah usaha mendidik calon bayi yang dilakukannya tanpa disadari. Demikian pula sikap dan cara bicara orang tua terhadap anak-anak atau terhadap siapa saja yang dilakukan di depan anak-anak, adalah usaha atau bentuk pendidikan yang dilakukan tanpa disadari bahwa hal itu punya efek mendidik. Dapat dipahami bahwa pendidikan sebagaimana dimaksudkan dalam undang-undang di atas lebih mengacu terhadap pendidikan formal yang dilakukan pada institusi pendidikan seperti madrasah, sekolah, atau perguruan tinggi. Bersih hati adalah sebuah kata majemuk yang penulis kembangkan dari kata bersih dan hati. Bersih berarti sesuatu yang bebas dari kotoran, tidak bernoda, atau suci. Bersih juga bermakna tulus dan ikhlas.14 Keadaan yang disebut tulus dan ikhlas adalah keadaan yang ada dalam hati manusia (batin) yang telah mencapai taraf bersih. Dengan demikian, hati ialah sesuatu yang ada di dalam tubuh manusia yang dianggap sebagai tempat segala perasaan batin dan tempat menyimpan perasaan-perasaan dan pengertianpengertian. Hati juga berarti sifat atau tabiat batin manusia.15 Sebagai kata majemuk, bersih hati berarti usaha atau tindakan yang dilakukan untuk membersihkan atau menyembuhkan hati manusia dari penyakit-penyakit batin yang
Tim Penyusun, Kamus Bahasa Indonesia, (Jakarta : Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, 2008), h. 188. 15 Ibid., h. 514.
14

dideritanya. Dengan kata lain, bersih hati sesungguhnya merupakan tasawuf yang disederhanakan sehingga aplikatif terhadap masyarakat yang awam tasawuf dan dapat membuat mereka mencapai taraf ihsan dalam beribadah. Atau dengan meminjam judul buku karya M. Quraish Shihab, Membumikan Al-Quran, ini kurang lebih adalah upaya membumikan tasawuf. Sengaja tidak digunakan penamaan bersih jiwa (tazkiyah al-nafs) untuk menghindari kesan pengulangan dari apa yang telah dikemukakan dalam Tazkiyah alNafs pada Ihya Ulum al-Din karya Ab Hmid Muhammad al-Ghazl, meskipun materi dari karya agung tersebut jelas mengilhami dan menjadi sumber rujukan utama dari disertasi ini. Akan tetapi karena apa yang akan dirangkum dalam pembahasanpembahasan selanjutnya tidak melulu bersumber dari Tazkiyah al-Nafs tetapi ditambah dengan sumber-sumber lain, maka digunakan istilah Pendidikan Bersih Hati. Sumbersumber multidisiplin lain yang akan terangkum dalam Pendidikan Bersih Hati adalah Pendidikan Agama Islam yang terdiri dari dari Pendidikan Tauhid, Pendidikan Ibadah, dan Pendidikan Akhlak, kemudian Psikologi yang mencakup terutama Pendidikan Motivasi, Filsafat, khususnya Filsafat Etika dan Moral, serta Spiritualisme. Alasan lainnya adalah karena di Indonesia istilah jiwa selalu dikaitkan dan identik dengan Ilmu Jiwa (Psikologi), sehingga apabila dinamai Pendidikan Bersih Jiwa dikuatirkan akan secara a priori dipandang masyarakat awam yang menjadi sasaran yang dituju melalui karya ini, sebagai sebuah karya yang murni berada dalam lingkup disiplin ilmu Psikologi. Kondisi yang sama akan terjadi apabila disebut Pendidikan Tasawuf, karena tasawuf hampir selalu dikaitkan dengan gerakan tarekat, padahal tarekat bukanlah

jalan pintas yang dapat dilalui oleh manusia-manusia Indonesia yang masih terikat dengan urusan keduniaannya.

D.

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan merumuskan bentuk dan isi (muatan) pendidikan semacam tasawuf aplikatif terhadap bangsa Indonesia, khususnya yang beragama Islam. Dikatakan semacam tasawuf, karena sumbernya sebagaimana dikemukakan di atas tidak sematamata berasal dari ilmu tasawuf. Dalam beberapa bagian, upaya perumusan ini juga akan melibatkan konsep-konsep pendidikan motivasi dari ilmu pendidikan, konsep-konsep psikologi aplikatif dari disiplin ilmu psikologi, serta konsep-konsep spiritualisme sebagaimana berkembang dalam tradisi keilmuan Barat saat ini. Penelitian ini juga bertujuan meneliti dan menganalisa metode penyampaian muatan pendidikan bersih hati yang telah dilakukan banyak individu pada berbagai media, untuk mencari metode yang pas dan sesuai dengan berbagai tingkatan kebutuhan masyarakat. Wacana tentang akhlak belakangan ini lebih banyak berwarna filosofis dan abstrak yang tidak selalu dilengkapi dengan rumusan-rumusan aplikatif. Kesenjangan serius terjadi : filsafat dan pemikiran akhlak berkembang secara baik tetapi kemerosotan akhlak terus berlangsung.16 Upaya mengatasi kesenjangan yang terjadi dengan menawarkan sejumlah ide-ide aplikatif itulah yang menjadi tujuan utama yang hendak dicapai melalui penulisan ini.

Hasan Asari, Posmodernisme dan Pembinaan Akhlak di PTAI : Sebuah Ikhtiar Meracik Strategi, dalam Al-Rasyidin (ed.), Pendidikan dan Psikologi Islami (Bandung : Citapustaka Media, 2007),, h. 81.

16

E.

Kegunaan Penelitian

Penelitian ini pada tataran teoretis diharapkan dapat bermanfaat mengembangkan ilmu pengetahuan baru yang berguna memperkaya khasanah intelektual bangsa Indonesia. Ilmu pengetahuan baru yang diberi nama Pendidikan Bersih Hati tersebut pada tataran teoretis yang sama diharapkan berguna menyederhanakan sejumlah materi pendidikan tasawuf yang selama ini dipandang berat sehingga menjadi lebih aplikatif dan mudah diserap oleh para pemula. Pada tataran praktis, penelitian ini diharapkan bermanfaat mengatasi kejumudan dalam pendidikan bangsa yang berlangsung selama ini yang terbukti belum juga berhasil mengatasi berbagai kelemahan, kesenjangan dan penyakit sosial yang ada di tengahtengah masyarakat. Siapa pun masyarakat yang berminat akan dapat memanfaatkan ilmu ini untuk membersihkan hatinya, hati anggota keluarga dan masyarakat di sekitarnya, sehingga pada gilirannya nanti akan tercipta kelompok-kelompok masyarakat yang berbudi pekerti luhur dan taat kepada Allah swt.

BAB II KERANGKA TEORI

A. Landasan Teori

Rasulullah Muhammad saw bersabda, Setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci, maka kedua ibu bapaknyalah yang menjadikannya Yahudi, menasranikannya atau memajusikannya, sebagaimana hewan melahirkan kumpulan hewan, adakah yang aneh dengan hal itu?17 Penegasan pertama yang dikemukakan dalam hadis di atas adalah anak lahir dalam keadaan suci. Akan tetapi dihubungkan dengan ayat al-Quran yang telah dikutip sebelumnya,18 dalam jiwa si anak telah ditentukan dua jalan, yaitu jalan kebaikan dan jalan keburukan, atau jalan takwa dan jalan fasik. Maka yang menjadi penentu jalan mana yang akan ditempuh anak tersebut dalam perjalanan hidupnya, dalam perspektif Ilmu Pendidikan Islam adalah kedua orang tuanya, dan dalam perspektif Ilmu Tauhid adalah qadha dan qadar-nya. Sebab sebelum menjadi janin pun Allah swt telah mengambil kesaksian atau telah menyahadatkan jiwa manusia menyangkut keesaan-Nya, sehingga nantinya manusia tak punya alasan melemparkan kesalahan dan pengingkaran yang diperbuatnya kepada kedua orang tuanya,19 meski orang tua berstatus penentu. Dengan demikian orang tua beserta seluruh anggota keluarga mempunyai peranan paling penting dalam pendidikan, karena merupakan tempat pertumbuhan anak yang pertama. Dalam keluarga anak mendapatkan pengaruh dari anggota-anggotanya pada masa yang amat penting dan paling kritis dalam pendidikannya, yaitu tahun-tahun pertama dalam kehidupan (usia pra-sekolah). Pada masa tersebut apa yang ditanamkan dalam diri anak akan sangat membekas, tak mudah hilang atau berubah sesudahnya. Kelanjutannya, keluarga mempunyai peranan besar dalam pembangunan masyarakat,

17 18

Shahih Muslim, jilid 1, h. 365. Lihat catatan kaki no. 7. 19 QS al-Araf/7 : 172-173.

karena keluarga merupakan batu pondasi bangunan masyarakat dan tempat pembinaan pertama untuk mempersiapkan tiap-tiap individu anggotanya.20 Pandangan al-Quran tentang dua jalan yang dibekalkan Allah swt kepada manusia sejak awal penciptaan, sama dengan acuan para filosof yang memandang manusia sebagai makhluk moral yang memiliki kesadaran diri dan akal, sebagaimana juga memiliki jiwa yang independen dan bersifat spiritual, melalui mana manusia melaksanakan kebebasan berkehendak atau kebebasan memilih.21 Agar dapat sampai kepada tujuan dari jalan yang hendak ditempuh, manusia dibekali dengan sumber-sumber pengetahuan yang dapat digunakannya mencapai tujuan dimaksud. Sumber-sumber pengetahuan tersebut dapat juga dipandang sebagai jalan yang ditempuh manusia untuk sampai kepada tujuannya, apakah pada akhirnya tujuannya adalah kebaikan atau takwa, atau juga keburukan atau fasik. Ketiga jalan tersebut adalah indra, akal dan hati (intuisi). Jalan pertama adalah melalui indra. Aliran filsafat empirisisme bahkan memandang indra sebagai satu-satunya sumber pengetahuan.22 Sekian banyak ayat dalam al-Quran yang menganjurkan untuk menggunakan mata, dan telinga. Ini bukti bahwa yang diperintahkan untuk dilihat dan didengar itu adalah sesuatu yang wujud. Al-Quran juga menganjurkan melakukan perjalanan dan menjadikan pengalaman sebagai pelajaran yang harus dimanfaatkan. Karena itu kita dapat berkata bahwa dalam pandangan al-Quran wujud yang yang diinformasikan oleh indra - selama dalam wilayah kerjanya -dapat

Yusuf Muhammad al-Hasan, Pendidikan Anak dalam Islam, MSI-UII.Net, 20-02-2008 dalam www.alsofwah.or.id. Diunduh 28-3-2009. 21 Mulyadhi Kartanegara, Menyibak Tirai Kejahilan, Pengantar Epistemologi Islam , (Bandung : Mizan, 2003), h. 13. 22 Ibid,, h. 18.

20

diandalkan dan bahwa apa yang dijangkaunya adalah satu kebenaran. Dengan catatan selama indra itu . tidak mengalami gangguan dari dalam dan luar dirinya.23 Melalui mata, misalnya, kita bisa mengetahui bentuk, keberadaan, sifat-sifat atau karakteristik benda-benda yang ada. Melalui lidah kita bisa menentukan sesuatu itu asam, manis atau asin.24 Sepanjang tidak ada penyakit atau gangguan lainnya, biasanya semua orang akan sependapat bahwa gula itu manis dan garam itu asin. Ini adalah wujud kebenaran yang bisa dijangkau indra manusia. Bahkan dengan bekal indra, manusia kembali ditunjukkan Tuhan dua jalan yang bisa ditempuh ; jalan kebenaran dan jalan yang salah, sebagaimana tergambar dalam penafsiran Ibn Kathir 25 terhadap ayat AlQuran berikut :

Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah dan dua buah bibir. Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan.(Q.S. Al-Balad : 8-10).

Dalam upaya memperoleh kebenaran dari objek-objek fisik yang tertangkap indra tadi (mahsusat), para ilmuwan umumnya menggunakan metode observasi atau eksperimen (tajribi), tetapi dengan bantuan sejumlah metode lain atau alat bantu yang diciptakan, seperti Ibn Haitsam yang menambahi dengan metode matematika (kalkulus)

23

M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Quran tentang Epistemologi, http://www.iepistemology.net/quraish-shihab/48-quraish-shihab/44-wawasan-al-quran-tentang-epistemologi.html? tmpl =component&print=1&page= 24 Kartanegara, loc.cit. 25 Tafsir Ibn Kathir, English edition dalam http://salafidb.googlepages.com/.

untuk mengatasi kelemahan observasi langsung dengan pandangan mata, ditambah dengan penggunaan observatorium dan teleskop.26 Akan tetapi sebaik-baiknya indra manusia, ia memiliki keterbatasan dalam menemukan kebenaran terhadap objek-objek yang dapat ditangkapnya. Mata memandang bintang itu kecil, laut dan langit itu biru, padahal kenyataan ilmiah menunjukkan tidak demikian adanya. Sebab mata hanya dapat menangkap gelombang cahaya dengan

frekuensi tertentu saja, seperti juga telinga misalnya, yang hanya mampu menangkap gelombang suara dalam frekuensi yang terbatas. Manusia masih bisa berjalan di tempat yang cahayanya remang-remang, tetapi ayam yang matanya lebih terbatas lagi tangkapan gelombang cahayanya akan terdiam tak bisa bergerak karena apa yang diistilahkan sebagai rabun senja. Tidak demikian halnya dengan anjing, kucing, harimau, dan musang yang wilayah tangkapan gelombang cahaya oleh kedua matanya jauh lebih tinggi lagi frekuensinya dibanding manusia, tak punya kendala apa pun untuk bergerak dalam gelap (gelap untuk ukuran mata manusia). Kesimpulannya, indra dapat digunakan menemukakan kebenaran mutlak (garam itu asin) dan kebenaran relatif (bintang itu kecil), tetapi tetap dengan segala keterbatasannya, sehingga dibutuhkan jalan kedua yaitu dengan penggunaan akal. Jalan kedua yang dapat ditempuh ialah jalan akal. Apabila jalan pertama adalah menggunakan indra, yang dimaksud tentu saja adalah indra fisik atau indra lahir. Tapi dalam epistemologi Islam juga dikenal adanya indra batin yang efektif dalam membantu fungsi esensial akal.27

26 27

Kartanegara, op.cit., h. 52-53. Penjelasan tentang indra batin ini keseluruhannya (kecuali disebut lain) dikutip dari Kartanegara, op.cit., h. 21-24.

Indra batin yang pertama adalah indra bersama (al-hiss al-musytarak), yang menyebabkan sebuah obyek indriawi muncul sebagai sebuah kesatuan yang utuh dengan segala dimensinya dan tidak lagi data parsial yang biasa disumbangkan oleh indra lahir. Indra bersama ini secara ringkas bertugas melakukan sintesis terhadap apa yang diperoleh dari indra fisik. Contohnya, bulan sabit menunjukkan mata tidak mampu melihat bagian lain dari bulan tersebut yang tersembunyi, tetapi indra bersama mempersepsikan bagian lain dari bulan yang tidak terlihat itu, sehingga terciptalah dalam akal gambaran bulan yang bulat (purnama). Al-hiss al-musytarak ini berlokasi pada ruang (kamar) pertama dari otak depan; bertugas menggabungkan semua bentuk dari objek inderawi yang diterima dari panca indra. Pada saat indra mata melihat madu, kita langsung dapat menyimpulkan bahwa madu itu manis, cair, dan berbau enak, tanpa lidah kita perlu mengecapnya. Sebab memori tentang madu telah tersimpan dalam al-hiss al-musytarak kita.28 Indra batin kedua adalah daya imajinasi retentif atau khayal ( al-khayal), yang berfungsi merekam dan menyimpan semua objek inderawi yang tertangkap melalui indera lahir. Gangguan pada indra batin inilah yang menyebabkan orang menderita amnesia. Indra batin ketiga adalah daya estimasi (wahm), yang berfungsi memberi penilaian tentang maksud tersembunyi dari sebuah objek indrawi. Melalui wahm, manusia dan hewan menyadari api itu panas dan karenanya mengambil tindakan menghindarinya; menyadari makanan enak dan mengambil tindakan memakannya. Dengan kata lain, wahm yang terletak pada bagian paling belakang dari otak tengah adalah insting, dan karenanya juga dinamakan intelejensia hewani.29
28

M. Saeed Sheikh & Alparslan Acikgenc, Dictionary of Islamic Philosophical Terms (Lahore : Institute of Islamic Culture, 1970), h. 56, dalam http://www.muslimphilosophy.com/pd/default.htm. 29 Ibid., h. 106.

Indra batin keempat adalah imajinasi (al-mutakhayyilah), yang menempati posisi pada bagian tengah otak. Sebagaimana indra batin pertama, ia juga dapat menangkap atau menyimpulkan bentuk objek fisik secara utuh. Kelebihan al-mutakhayyilah ialah bisa mengabstraksikan bentuk objek fisik yang disimpulkannya sesuai keinginannya sendiri yang berbeda dengan objek fisik yang utuh tersebut. Dengan kata lain, al-mutakhayyilah dapat menggambarkan sendiri objek fisik yang dia lihat dengan wujud yang berbeda dengan wujud objek fisik yang asli. Dengan kata lain, imajinasi adalah kapasitas atau kemampuan untuk menghadirkan atau mengadakan sesuatu yang sebenarnya tidak ada.30 Contoh sederhana putri duyung yang digambarkan setengah manusia (biasanya gadis cantik) dan setengah ikan, kuda terbang, kuntilanak, dan gambaran-gambaran lain yang biasanya kita temukan dalam cerita-cerita dongeng. Indra batin kelima adalah memori (al-hafizhah atau disebut juga al-quwwat almutadhakkirah), berlokasi pada bagian belakang otak, dan berfungsi merekam bentukbentuk imajiner gabungan yang diperoleh dari indra batin keempat. Melalui kelima indra batin tersebut, kita memfungsikan akal untuk

menyempurnakan kesan yang kita peroleh dari indra fisik, sehingga menjadilah kesan itu menjadi pengetahuan sebagaimana adanya.31 Akal dapat membawa kita kepada sesuatu kebenaran karena akal memiliki kemampuan untuk bertanya secara kritis tentang segala hal; apa, bagaimana, siapa, mengapa, kapan, dan banyak pertanyaan lainnya yang seolah atau bahkan bisa tak habishabisnya, dalam upayanya memperoleh sumber informasi yang membawa kita bermuara

30

Immanuel Kant, Anthropologie in Pragmatischer Hinsicht, 25, Werke (ed. Weischedel), Darmstadt 1975, h.466, dikutip dalam Arne Grn , Imagination and Subjectivity, Ars Disputandi, vol. 2, 2002, h. 1. 31 Kartanegara, op.cit., h. 24.

kepada kebenaran. Akal dapat pula menangkap esensi (mahiyyah) atau kuiditas (quiddity ; sifat atau unsur yang melekat pada sesuatu) dari sesuatu yang diamatinya dan kemudian menyusun dan merumuskan konsep universal dari pengamatan tersebut, menyimpannya, dan mengeluarkannya jika diperlukan.32 Akal memiliki kecakapan kognitif sehingga mampu menyerap entitas-entitas rohani (maqulat), membedakan antara yang benar dengan yang salah, yang baik dengan yang buruk, dan juga dapat menjamin pengekangan hawa nafsu dan penyempurnaan akhlak.33 Dengan kata lain akal berpotensi dan mampu membedakan antara yang haq dengan yang bathil.34 Metode yang paling lazim digunakan untuk kepentingan ini adalah metode demonstratif (burhani), yang pada dasarnya adalah metode logika atau penalaran rasional yang digunakan untuk menguji kebenaran. Dalam gambaran al-Farabi, metode ini antara lain mengatur dan menuntun akal ke arah pemikiran yang benar dalam hubungannya dengan setiap pengetahuan yang mungkin salah, melindungi suatu pengetahuan dari kemungkinan salah, dan menjadi alat bantu dalam menguji dan memeriksa pengetahuan yang mungkin tidak, atau belum tentu bebas dari kesalahan. 35 Mengetahui jalan menuju kebenaran, pada saat yang sama, kita harus tahu jalan yang menjerumuskan kita kepada kesalahan.36

32

Mungkin termasuk dalam akal ketiga menurut al-Kindi. Lihat Nurcholish Madjid, (ed.) Khasanah Intelektual Islam, (Jakarta : Bulan Bintang, 1994), h. 97-98. 33 Mulyadhi Kartanegara, Nalar Religius, (Jakarta : Erlangga, 2007), h. 48-49. Lihat juga Abbas Mahmud al-Aqqad, Al-Insan fi al-Quran al-Karim (Kairo, Dar al-Islam, 1973), h. 22, Abu Hamid Muhammad al-Ghazali, Ihya Ulum al-Din, jilid I (Singapura, Sulaiman Mari, tt), h. 17. 34 Ibrahim Madkur, Mujam al-Maqayis li al-Lughah (Kairo, Al-Haiah al-Ammah li al Syuun alMutabi al-Amiriyah, 1979), h. 120. 35 Kartanegara, Menyibak Tirai Kejahilan, h. 56. 36 Kartanegara, Menyibak Tirai Kejahilan, h. 58.

Meski demikian, para ilmuwan Muslim, menyadari betapa akal pun punya keterbatasan. Al-Ghazali mengatakan, apa yang kita alami dalam mimpi semua terlihat masuk akal, tapi setelah tersadar kita menyadari akal tak mampu memahaminya. 37 Ibn Khaldun pun demikian pula. Akal, katanya, sempurna sebagai timbangan emas atau perak, tapi tak mungkin digunakan menimbang gunung.38 Sehingga diperlukan jalan ketiga yaitu jalan hati (qalb) atau jalan intuisi, yaitu jalan pada saat akal tak mampu memahami wilayah kehidupan emosional, maka hatilah yang akan berperan. Sebab hati dapat menerobos ke alam gaib dan mengalami hal-hal yang bersifat mistik atau religius. Lebih dari itu, hati pun bisa memahami sebuah peristiwa sebagai sebuah peristiwa yang khusus dengan menghindari kecenderungankecenderungan generalisasi yang bersifat rasional.39 Dengan akal, seorang pengarang atau sutradara film menggambarkan kisah cinta yang hampir pasti, selalu dibumbui dengan pernyataan aku cinta padamu (baca : bahasa rasional), tetapi sepasang manusia yang mengalaminya langsung, justru bisa-bisa tak pernah mengucapkan kalimat itu sepanjang hidupnya, tapi cukup dengan pandangan mata dan getaran sukma yang punya makna lebih mendalam bagi keduanya (baca : bahasa hati). Contoh yang sangat menarik dan tetap kontroversial bagi kita tentu saja cinta yang begitu mendalam yang menyebabkan seorang Al-Hallaj tak lagi menyebut ana alHallaj tapi telah berubah menjadi ana al-Haqq, karena ia menganggap dirinya telah bersatu dengan Kekasihnya, yaitu Allah swt.40
37

Kartanegara, Menyibak Tirai Kejahilan, h. 26. Abu Hamid al-Ghazali, Munkidh min al-Dalal, dalam The Confessions of al-Ghazali, trans. by Claud Field, (London: J. Murray, 1909), dikutip dari http://www.fordham.edu/halsall/basis/1100ghazali-truth.html. 38 Kartanegara, Menyibak Tirai Kejahilan, Ibid. 39 Kartanegara, Menyibak Tirai Kejahilan, h. 28-29. 40 Ibid., h. 29.

Al-Ghazali menyebut qalb selain sebagai hati atau jantung dalam pengertian organ fisik, juga sebagai kemampuan manusia dalam menangkap pengertian, pengetahuan, dan kearifan.41 Jalan kedua dan ketiga yang dikemukakan yaitu jalan akal dan jalan hati sesungguhnya hampir bersinggungan. Lebih tepat menyebut ada wilayah-wilayah tertentu dimana keduanya bisa dan dapat bersinggungan. Dalam Risalah tentang Akal dari al-Kindi, dikemukakan bagaimana jiwa (baca : qalb) berfikir secara potensial dan beralih menjadi aktual disebabkan adanya akal pertama. Jika suatu bentuk yang rasional menyatu dengan jiwa, maka jiwa dan akal adalah hal yang sama atau suatu kenyataan tunggal; sebagai pelaku pemikiran (aqil) sekaligus sasaran pemikiran (maqul).42 Dalam Surah al-Hajj ayat 46 dikemukakan bagaimana persinggungannya (qalbun yaqilun), bahkan bagaimana kolaborasi yang bisa dikembangkan bersama dengan jalan kebenaran pertama, yaitu indra pendengaran.


Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dapat memahami (hati yang berakal) atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada. (Q.S. 22 : 46)

41

42

Al-Ghazali, Ihya Ulum al-Din, jilid III, h. 3-4. Madjid, op cit., h. 97.

Sejumlah contoh menarik tentang bagaimana kita bisa memahami hati yang berakal terlihat dari sikap Rasulullah saw terhadap benda-benda mati, yang menunjukkan bahwa dalam qalb Rasulullah benda-benda itu sesungguhnya hidup dan merasa. Beliau misalnya bersabda: "Bukit Uhud mencintai kita dan kita pun mencintainya." 43 Bendabenda tak bernyawa beliau beri nama, seperti pedangnya dinamai Dzul Fiqar, gelas minumnya as-Shadir, cerminnya al-Midallah, yang mengandung arti bahwa benda-benda itu memiliki "personality" yang merasa atau paling tidak membutuhkan persahabatan dan kasih sayang dari pemiliknya.44 Apabila kita membaca dari bagian awal di atas, dengan mudah bisa timbul kesan bahwa paling tidak ada tiga jalan yang dapat dicapai untuk sampai kepada kebenaran, yaitu jalan indra, jalan akal dan jalan qalb. Padahal maksudnya, ketiga jalan itu sesungguhnya hanyalah alat dalam menuju kebenaran, dan hanya efektif berfungsi jika digunakan secara bersamaan. Sebagaimana dalam Q.S. 22:46 di atas, dalam Surah alAraf pun dikemukakan bagaimana hati harus difungsikan bersamaan dengan indra dan akal untuk bisa memahami ayatullah :


Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia yang mempunyai hati, tetapi tidak digunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah), dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak digunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga
Hadis marfu dan mutawatir dalam Shahih Muslim, hadis no. 2467, http://hadith.alislam.com/Bayan/ind/.
44

43

Shihab, loc cit.

(tetapi) tidak digunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orangorang yang lalai.(Q.S. 7 :179). Dalam Surah al-Mumin ditegaskan pula:


Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati. (Q.S. 40 : 19) Meskipun tidak setepat ilmu Allah seperti diungkap pada ayat di atas, tetapi kita pun secara umum dikarunia kemampuan ilmu Allah tersebut dalam membaca pandangan mata seseorang terhadap kita. Bahkan hewan pun demikian pula. Kucing peliharaan kita, terlebih dahulu meminta izin dengan memandang mata kita untuk mengetahui apakah dia akan kena marah atau tidak, jika hendak melompat ke pangkuan kita.

Dengan demikian, difungsikannya ketiga alat itu barulah akan membuat kita dapat efektif memasuki hanya satu jalan kebenaran yang disediakan Allah swt, yaitu jalan alshirath al-mustaqim. Jalan tersebut ada pada Allah dan Allah ada pada jalan tersebut sebagaimana Dia kemukakan dalam Surah Hud :


Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah, Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak ada suatu binatang melata pun melainkan Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku ada di jalan yang lurus (Q.S. 11 : 56).

Atau perintah yang lebih tegas dari-Nya dalam Surah al-Anam :


Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan yang lain, karena jalanjalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.(Q.S. 6 : 153). Allah menunggalkan lafaz shiratin mustaqim dan sabilihi, sebagai penegas bahwa jalan kebenaran itu hanya satu, dan pada saat yang sama membanyakkan lafaz al-subula yang menunjukkan perbedaan bahwa terdapat banyak jalan kesesatan selainnya. Kesimpulannya, jalan yang mengantarkan kita kepada Allah hanya ada satu, yaitu jalan yang karenanya Allah mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab. Tak seorang pun bisa sampai kepada Allah kecuali lewat jalan ini. Andaikan manusia melalui berbagai macam jalan dan membuka berbagai macam pintu, maka jalan itu adalah jalan buntu dan pintu itu pun adalah pintu yang terkunci.45

.Mulyadi tentang indra, akal, dan hati. Conception andFoundationReligious Feelings(General) 578 Emotions / Feelings Emotions / Feelings 1. Although feelings are once more in vogue, and psychologists currently even speak of an emotional turn (Euler/Mandl 1983), scientific research into feelings and emotions is still in its infancy. This state of affairs can be seen in the fact that the concept of emotions is accompanied by considerable imprecision. And so the word feeling in psychological parlance (kebiasaan) is
45

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Madarijus Salikin, terj. Kathur Suhardi (Jakarta : Al-Kautsar, 1999),

h. 22.

best understood in an enumeration (penyebutan satu per satu) of particular sensations. Feelings are experiences such as joy, hatred, (kebencian) grief, (kesedihan), anger, compassion, (keharuan) dislike, and so on. They betoken (mengungkapkan) the individuals personal positions with respect to the content of her experience, usually emphasizing (menekankan) inclination (kecenderungan) or aversion, (keengganan) without, however, being characteristic of all feelings. The terms feeling and emotion (Lat., emovere, move out, shake, deeply move) are frequently used synonymously. In English terminology, emotion more often means the affect.(pengaruh) By affect (from Lat., affectus, mood,passion) is understood an intensive, transitory feeling. Affects are often accompanied by strong expressions, and are tied to organic experiences. Mood, on the other hand, means a vague feeling expressing a persons comprehensive sensitivity, and extending over a long period. Moods present the background against which experiences stand out like figures, and thus form a long-lasting tone. 2. Since Schleiermacher (17681834), but actually since the late Enlightenment (the age of sensitivity) and the pre-Romantic era, and pietism, feeling belongs among the determining elements of religion. Feelings, then, form one of the principal objects of the psychology of religion. Wilhelm Wundt (18321920) held that religion is the feeling that our world participates in a wider, supernatural world, in which the highest goals of human striving would be realized. In his foundational work in the philosophy of religion, Das Heilige: ber das Irrationale in der Idee des Gttlichen und sein Verhltnis zum Rationalen (1917; Ger., The Holy: The Irrational in the Idea of the Divine and its Relation to the Rational), Evangelical theologian Rudolf Otto (18691937) has developed the Kreaturgefhl (Ger., feeling of being creature), defining it as a sensation of impotence in the human being vis--vis a divine, that has been experienced as revelation. The experience of the numinous happens to persons, impinges on their being, above all in a sensation of the mysterium tremendum and fascinosum (Lat.), the mystery that sets them atremble, fascinates and rivets(terpaku) them, yet at the same time fills them with a feeling of love, hope, and happiness. A third element of the numinous,(suci) according to Otto, is its energy, power, and dynamism that bursts all human categories. Thus, any experience of Ottos numinous would also have the nature of a personal relation between God and the human being. There must, then, be specific religious feelings. Helmut Bennesch, for example, ranges religious feelings under the cognitive emotions, those determined by consciousness. Here he understands spiritual experiences of different characters, in terms of ones religious center and personal relationship. For those persons who believe in a personal God, prayer, for example, is an emotional reference of experience, a sensation of bondedness(keterikatan)

a Bindungsgefhlthat can reach from childlike surrender to a bonding with an absolute conceptualized as absolute. These experiences of bondedness have found rich formation and expression. Basically, all feelings existing in the area of the profane are also known in the area of the religious, but through their religious reference are specially tinted (mewarnai) and enriched: as presentations of heavenly gladness, fear of the torments of hell, hope of a redemption (penyelamatan) in the beyond, expectancy of a justice in the life to come that there seems not to be on earth, and banishment of the terrors of death. All religious actions, as well, such as pilgrimages, festivals, rites, prayers, sacrifices, are to some extent (diperluas) bound up with more or less developed feelings, so that one can speak of special feelings connected to religion. But at the same time, special religious feelings among believers are conveyed and promoted through environmental factors, such as religious architecture (Gothic or baroque churches, Buddhist temples, a synagogue, mosque, prehistoric caves), psychotropic materials (incense, alcohol), or fine arts, music, and dance. Many deities, likewise, incorporate particular feelings, such as Aphrodite does for love and beauty, and so can be interpreted, in terms of depth psychology, as collective projections of feelings ( Projection). In terms of a cultural comparison of religious feelings, questions arise that are difficult to solve, such as that of their cultural peculiarity (keanehan)thus their incomparabilitywhen it comes to the various religions, or, conversely, that of their universality. Is there a world of emotions proper to each religion, that would then have to be addressed? Here, viewpoints must be researched both peculiar to each respective culture (emic) and spanning the cultures (etic). There is the additional difficulty that, in many cultures, no linguistic Emotions / Feelings 579 elements are present that would correspond to particular feelings; and many complex religious feelings are not translatable into other languages, but require a detailed commentary, such as the Melanesian mana, a feeling of a kind of personal power and psychic energy. Further, particular emotions in the various religions seem to prevail over others, such as fear and guilt in Christianity, or the ecstasy of trance in Afro-Brazilian Candombl, so that the structure of feelings in the various religions comes out very differently, and are consequently difficult to compare. 3. Out of the inexhaustible plenitude of religious feelings, the following somewhat arbitrary selection of particular religious feelings will disregard feelings as they arise in combination.46 1. Ethics and moral philosophy are frequently employed as synonyms, to denote, systematically, the rules of ideal human behavior. Where the two terms are differentiated, the concept of ethics, derived from the Greek thos (habit, custom), denotes the systematic discussion and isolation of the good or commanded, in opposition to the evil or forbidden and reprehensible;(tercela)
Kocku von Stuckrad (ed.), The Brill Dictionary of Religion, vol. I-IV, (Leiden; Boston : Brill, 2006), h. 579-580.
46

while the concept moral, derived from the Latin mores (customs), denotes the ideal type of ways of behaviorthe right doing in concrete situations. Each area can be closely connected with religion, but need not be. 2. a) As the sheep called Dolly was cloned in Great Britain in February 1997, British researchers prided themselves on a scientific breakthrough. Their delight rapidly dimmed, however, as a worldwide wave of protest and rejection disapproved of this kind of research, and urged laws against such experiments ( Genetic Engineering). In particular the representatives of the great world religions, among them the Pope, explained that in this case the demarcation between the technological feasible and the ethically permissible had plainly been overstepped. There was a correspondingly sharp reaction of disapproval toward the announcement by an American research team, in January 1998, of its attempt to clone human beings. In each case, it was explained that such research was ethically reprehensible, even though, for its defense and legitimization, the investigators had indicated its potential value for combating diseases like Parkinsons or Alzheimers. rejection ethically, and subsequently came forward as advocates of ethical principles, but cited no specifically religious arguments. b) The Pope expressed moral considerations in January 1998, in a letter to the German bishops declaring that the practice, prescribed in Germany in parag. 219, of issuing pregnant women a counseling voucher entitling them to a legal abortion, was also being carried out by church counseling offices. From the Popes standpoint, ecclesiastical institutions were thereby participating in the morally irresponsible killing of unborn life. Notwithstanding all of the arguments of the bishops, the Pope insisted in this question that fundamental moral principles unambiguously deduced from the teaching of the Church be uncompromisingly upheld. Both examples indicate a close connection between religion and ethics/ morals. But they also underscore the independence of the area of ethics/ morals: the arguments themselves are presented with strong ethical/moral grounding, and the relationship to religious stipulations is underplayed as far as at all possible. 3. a) Central to the philosophical concept of ethics is the thought that the content of the good can be specified in such a way as to constitute an adequate premise of the ideal type of the behavior of the good human being. Thus, ethics becomes a norm, for human behavior that is clearly defined and unambiguously specified vis--vis evil or the prohibited. This norm is intended to provide orientation with respect to newly appearing problems, and to offer reasonable solutions. Here it is presupposed that the human being is good in principle, and can be restrained from doing evil through the corresponding orientation (positive philosophical anthropology). Plato, appealing to Socrates, indicates the principles of the true, the good, and the beautiful as the foundation of such a philosophical ethics. Aristotles Nicomachean Ethics supports the same content.

A signboard of proverbs at a park in Katmandu, in Nepal, reminds passersby of Hindu expressions for the basis of living. Signboards erected by the Office of Press and Publication are in three languages: Nepali, Sanskrit, and English. The maxims inscribed on them are from the Tattiriya Upanishad, one of Indias oldest philosophical writings. (Benita von Behr) Ethics: Deduction of the Good and the Commanded 624 Ethics / Morals b) The world as a whole, like the world of the human being, can produce an order of conclusions, with the help of reason, on the basis of its inner lawfulness. This world ought to be laid out systematically, in such a way that all concretely existing problems of human behavior can be inserted into this systematic order and thereby solved. The fundamental principle in such an arrangement is that the whole always takes precedence over its parts. This premise is valid for nature just as for society and for individual people. With regard to society, it generates the concept of the bonum commune (Lat., common good), to which individuals must subordinate their private interests and their opportunities for self-determination. For the individual, this means that the good of the whole human being is to take precedence over measures serving a particular individual good. More recent discussion shows that, when the nature of the human being is understood purely biologically, the application of contraceptive measures is an unacceptable intervention in the nature of the human being, while the application of the natural phases of infertility (Knaus-Ogino method) is acceptable. A second approach maintains a broader concept of natureone that implies that medical intervention from without is not necessarily defined as unnatural or against nature, provided that it serves human personhood, in which case means of contraception are acceptable. Two key criteria, then, can be held: the concept of human worth, and the concept of natural/unnatural. Here, casuistrytheoretical case solving is a legitimate and useful tool. In ethics, it is a matter eitheras in the case of hedonism ( Luck/Happiness)of the establishment of universal principles of the good, oras with the case of cloningof a general kind and manner of how to address and solve newly arising problems.

c) Here every ethics proceeds from the premise that human beings may themselves determine their action. The Silver Rule (Do not do unto others as you would not have them do unto you), the simplest kind of ethical imperative, has only this sense and meaning; and the case with Immanuel Kants categorical imperative is no differentAct in such a manner that you could at any time impose the principle of your action as a universally valid law.1 The nonobservance of an ethical imperative, then, may be requited with punishment, whether by human society, or by a metaphysical agent. On the other hand, were the human being to be altogether determined, there would then be no responsibility, and no guilt: punishment and repentance/expiation would have no meaning or sense ( Determinism; Fatalism). Accordingly, the free will of the human being is a necessary premise for the possibility of ethics. The extent to which this freedom of activity is concretely at hand is disputed. Lack of insight, powerful compulsion or psychic drive can all contribute to a limitation of personal responsibility, and therefore of the capacity to incur guilt. Modern psychoanalysis, as it happens, has gained important knowledge and understanding of these features. Punitive processes increasingly take this circumstance into account. In the history of religions, a combination of determinism and ethics has occasionally been soughtas, for example, in Calvinism, whose premise is that, while human beings are indeed predetermined in their action (predestination), still they do not know what God has determined, so that the possibility of an ethics remains. d) All classical orders of value have their point of departure in the notion that values and norms have objective validity, for society as for the Human Worth and the Concept of the Natural/Unnatural Self Determination and Responsibility Validity of Norms and Values Ethics / Morals 625 individual. Ethical conflicts therefore arise only when distinct ethical principles (e.g., saving the life of a pregnant woman who is critically ill, or the life of her unborn child) lead to a dilemma requiring a choice in behalf of the one or the other. Ethical discussion in such societies is therefore often casuistically decided. The universal validity of the values and norms themselves is not in question. It is otherwise in societies of a pluralistic Weltanschauung. Here the autonomy of the person functions as a criterion in matters of ethics and morality. In this case, there is a question of positing the norms, and grounding them oneself, in order to apply them as a matter of obligation. The per se evidence, the non-negotiability, of the order can therefore no longer be invoked in its favor. Concretely, this means that the decision is reached by votes cast in parliaments or supreme courts, in all questions of ethics and morality on permissibility and impunity (which

are not the same!). A return to metaphysical principles for the validation of norms is not an option. For a practical norm, or law, the question arises whether means and ways can be discoveredand whether the validity of such a law may or even must be establishedin order for its applications to be permissible and possible in a global and cross-cultural context. This feasibility must be established even against the individual interests of such powers and states that call into question or reject the per se evidence of the validity of the universal norm ( Human Rights). 4. Human beings right activity is a question of ideal behavior in all of lifes situations and conditions. All cultures and religions have directives for action prepared for the implementation of this principle. For all the difference in their doctrinal content and systematic foundations, these directives are very extensively comparable to what the Judeo-Christian tradition conveys and transmits in the second Mosaic table: Honor your father and your mother. [. . .] You shall not murder. You shall not commit adultery, and so on (Exod 20:2-17). However, the manner in which father and mother are to be honored can materialize very differently from culture to culture. By the Commandment, You shall not murder, the Bible forbids, for instance, the unjust killing of human beings. But the same Bible also knows legitimate forms of killing:capital punishment, or the killing of soldiers in military actions. From the very beginning, Christian tradition (Matt 5:21-22, 5:27,28) placed value on right behavior not only as a practice to grasp, but as the right attitude to demand, as well. In this way, Christianity powerfully contributes to the internalization of norms and values, and helps to developconscience as the inner instance: conscience is not thus integrated in the religiosity of all cultures as it is in the Judeo-Christian tradition. The reference to conscience is not without problems with respect to the universal validity of norms. Conflicts can arise between the demands of ones own conscience and officially valid norms. Christian tradition knows this series of problems very well. It became matter for discussion in terminology that included invincibly erroneous conscience and situational ethics. But a comprehensive answer was never given to the question of whether a person sins or not, when declining to follow his or her conscience in order to abide by the will of God. The classic example is the story of Abraham, who intends to sacrifice his son Isaac at Gods command, even though to do so would violate his conscience (Gen 22). Opposed stands Jesuss appeal to the conscience of those who were about to stone the adulteress (Let anyone among you who is without sin be the first to throw a stone at her; John 8:7). In the Morality: Right Doing 626 Ethics / Morals theory of drama, from antiquity onward, the conflict between conscience and law, or inclination and duty, presents the most important example of tragic conflict (for instance, Sophocless Antigone, or J. W. von Goethes Iphigenia in Tauris: in order to fulfill her duty as priestess, Iphigenia would be obliged to sacrifice her own brother). Here we have an expression of the relation between morality and religion, just as we have had, above, with ethics

and religion. 5. a) For many centuries, Western ethics has been the special domain of philosophers, of whom most were also theologians. Thus, these thinkers conducted their ethical reflections in close connection with theology. An exemplary case is the theology of Thomas Aquinas (d. 1274), who understands the ethical philosophy of Aristotle as coinciding with that of Christian faith, since Thomas interprets God as the Good simpliciter, the Summum Bonum. In this fashion, he integrates Aristotles ethics into Christianity ( Scholasticism). Accordingly, Thomass ethics and theology has God bestow the Ten Commandments because, content-wise, they correspond in principle to the Idea of the Good. Applied to newly arisen problems, then, Thomas holds, it is possible to deduce Gods will and direction from a systematic unfolding of the Idea of the Good. Such a possibility and opportunity fail, however, when, as did the Christian Nominalists of the late Middle Ages, one so expounds Gods freedom that the divine decree could have been different from, indeed the opposite of, what it has actually commanded. Here, other patterns of explanation must supervene. This discussion, arising out of the conflict over universals, can be readily seen in connection with the corresponding one maintained, in Islamic theology, between the two dominant schools of Sunnite Islam. According to al-Asari (d. 935)founder of the school that bears his name, the Asariyyainstead of You shall not lie, God could have issued the instruction, You shall lie. No one can prescribe God the divine commands and prohibitions. However, Gods freedom does not mean that good and evil have no intrinsic qualities, and are arbitrary instructions handed down by the divine free will. Rather, it means that the ultimate truth of good and evil is known only to God. The underlying thought is that, being omniscient, God needs no directions from anyone as to what to think. Al-Asari would find anything else blasphemous. Applied to the human being, this means that this theology is dependent upon the divine word as ultimate authority. The second great Sunnite school, the Maturidiyya (after the founding figure, Al-Maturidi) takes a different position on this question. Here, the human being understands with reason whether something is good or evil. But the foundation of why good is to be done and evil to be shunned is received from revelation. b) Another form of disconnection between ethics/moral philosophy and religion emerges from a basic premise maintained by certain religions. Thus, as religions of redemption, Buddhism and Christianity focus primarily on the redemption of the human being, and offer appropriate orientation. Whether, as in the Pauline letters in the New Testament, this orientation is granted exclusively by Gods gracious condescension, or whether, as in many forms of Mahayana Buddhism, it is founded in the love of the Bodhisattva for human beings and concern to save them, in either case human beings concrete activity in behalf of redemption plays Ethics, Morality, and Religion

Social Ethics and Government Morals Ethics / Morals 627 a subordinate role. The history of both religions shows that this distance from ethical principles and concrete moral instructions could not be long maintained. As soon as these religions became state religions, whose formative effects must operate in all areas, they were propelled into the realism of all of the concrete functions of a social ethics and government morality. To this purpose, Christianity, once it became the establishment religion, very quickly borrowed its basic tenets and practical instructions from Judaism and the Stoic-Cynic philosophy. Theravada Buddhism, in those lands in which it was the only establishment religion (for example in Sri-Lanka and Thailand), adopted basic ethical principles and moral instructions from Hinduism and local traditions. Of course, where Buddhism was not responsible for government morality (e.g., in China, Korea, and Japan), it concentrated exclusively on redemption and left the ethics and moral philosophy to other institutions (e.g., Confucianism and Shintoism). The concrete result is that, in Japan still today, Shintoism or the secular state prescribe the governmental regulations for abortions, while Buddhism grants a generous forgiveness to women who have secured an abortion, and through the loving concern and mediation of Bodhisattva Jizu, assures for the fetuses who have been killed in this way the prospect of a blissful rebirth, as soon as these mothers have turned, in complete trust, to that bodhisattva. Grace and salvation at the hands of the bodhisattva become so visible in their format of purity, that, in this kind of Mahayana-Buddhist religion of grace, any aftertaste of guilt and atonement is circumvented. Religion and the promise of salvation are thus completely divorced from ethics and morals. This separation does not mean that human deeds are entirely irrelevant. They still attest to good or bad karma, but they do not rigidly cling to its effect, since the bodhisattva, who is familiar with the illusory character of karma, interrupts the karmic chain of reality with work and effect. c) The relationship between religion and ethics or morality, then, can surely present great variety within a single religion. The history of religions affords abundant further evidence, from different traditions and cultures, of what is here presented by way of example. Seen typologically, the models are even more diverse than these variants. For example, there are societies that sanction the rules of human association with an appeal to God or a sacred order, and thereby withdraw the element of human partialityreligions whose operation is entirely and exclusively moral, as is often the case with tribal religions. All of these models have one thing in common. They begin with the solidly ordained framework of a valid order that, as such, neither stands available, nor underlies changes of principle. Everything that is or can be, is settled in this frameworknever beyond it. Hence all of these models have a static element.

6. The more recent debate over ethics/morals and religion moves in a field of tension between (1) a relativization of values through modernization, and (2) the accompanying globalization, with its call for a global consensus on universally valid values. The proclamation of human rights in the French Revolution (August 26, 1789), which stands in an Enlightenment frame of reference, may be seen as a first expression of this consensus. Of similar significance, however, is the United Nations General Declaration on Ethics and Morality in the Age of Globalization 628 Ethics / Morals Human Rights (December 10, 1948). In nineteenth-century historism, with its faith in progress, as also in the biologistic debate on the cultural evolution of humanity, the relativization of a value system is shown to be the product of a historical development, in outlines like Nietzsches Genealogy of Morality. In recent times, the biologistic approach is discussed in connection with questions of bioethics. Attempts at a global consensus on basic values, one beyond cultural relativism, find their expression in, for instance, German theologian Hans Kngs Project World Ethos. Kng believes that the Declaration on Human Rights represents progress in the sense of human beings cultural development. The Declaration on a World Ethos seeks to take this into account, and to note progress in humanitys ethical consciousness progress that the religions can positively support and help to convey. The fact that representatives of all of the great religionshowever varying their numberhave signed the Declaration on a World Ethos shows that, while setting new standards, the principles therein formulated have definitively surpassed none of the norms of the great traditions. The relativization of the values transmitted by the classical religions, in the wake of the modern development of industrialization, globalization, and so on, brings these religions themselves more and more frequently into conflict with that development, as has become clear from the discussion on genetic engineering, abortion, and so on. Accordingly, the suitability of the norms and values held so high by the religions is called into question down to its very principles. Now its further suitability is anything but secured. In the future, ethics and morality will possibly have altogether different content from that so far known through the history of religions and cultures, as well as through the secular world. The quest for orientation has restarted. What satisfactory standards it will find is unknown. 1. Kant, Immanuel, Grundlegung zur Metaphysik der Sitten, 1785. In: Idem, Werke, ed. W. Weischedel, 4:51. Literature Antes, Peter (ed.), Ethik in nichtchristlichen Kulturen, Stuttgart 1984; Callahan, Daniel et al. (eds.), The Roots of Ethics: Science, Religion, and Values, New York 1981; Gadamer, Hans-Georg, Hermeneutics, Religion, and Ethics, New Haven 1999; Kng, Hans (ed.), Yes to a Global Ethic, New York 1996; Popkin, Richard H./Stroll, Avrum,

Philosophy and Contemporary Problems: A Reader, New York 1984; Schweiker, William (ed.), The Blackwell Companion to Religious Ethics, Malden 2005; Wilson, Bryan R./Ikeda, Daisaku, Human Values in a Changing World: A Dialogue on the Social Role of Religion, London 1984. Abortion/Contraception, Bioethics, Christianity, Conscience, Evil, Genetic Engineering, Guilt, Hinduism, Islam, Judaism, Luck/Happiness, Psychoanalysis, Sin, Values, Will ( free) Peter Antes Ethics / Morals 47 Sufism In traditional scholarship as well as in conventional usage, Sufism is commonly referred to as the mystical tradition of Islam ( Mysticism). This ascription is problematic for three reasons. First, it divides Islam artificially into two traditions presumably separable from each other; secondly, not all manifestations of Sufism are mystical;1 and thirdly, the idea of a universally valid category of Mysticism manifesting itself in particular interpretations of different world religions is itself increasingly disputed.2 Orientalist scholarship coined the term Sufism in the late eighteenth century within the context of European colonialism. Particular to the early European conceptualizations of Sufism was the attempt to describe it as a phenomenon distinct or only superficially attached to Islam. In this view, the deep personal spirituality discovered among the Sufis was incompatible with the prevalent stereotypes of a legalist and spiritually superficial Islam. Rather, it fit into the romantic category of Mysticism that was understood and still isas essentially transgressing the boundaries of religion.3 The Arabic epithet as-Sf appears already in the eighth century. It is most likely a derivative of sf, wool, a reference to the woolen garb these early Sufis used to wear. They were pious ascetics, like Hasan al-Basr (d. 728), and Ibrhm Ibn Adham (d. 770?), fiercely criticizing immersion in the false 1818 Sufism Sufism and Mysticism The Concept Sufism 1819 splendors of the world (dunya). The first Sufis were vigorous reformers, urging a return to the pure faith of the Quran, which they perceived as having been lost in the context of the territorial and material gains of the Umayyad Caliphate (661750). The Muslim term for Sufism is tasawwuf, literally meaning becoming a Sufi. Soon it became a common name for the practice and philosophy of the Sufi movement. Abstinence of worldly pleasures was the remedy they prescribed, and it was achieved through practices of prayer, meditation, fasting, seclusion, and sleep deprivation. Sufis themselves sometimes prefer to
47

Ibid., h. 629-629.

derive tasawwuf from saf, purity. This etymology would render tasawwuf the process of becoming pure, and the Sufi would accordingly be the one embarked on this processan interpretation very much in line with the initial character of the Sufi movement and Sufi self-understanding. While otherworldly orientation and asceticism remained important features of Sufism until today, they were tempered and sometimes countered with more positive attitudes towards the creation and especially the creator. Still in the tradition of the ascetic movement that regarded the world as mere illusion, Rbia al-Adawya (d. 801) is the woman credited for introducing the theme of mystical love into Sufism. For her, absolute devotion to the Beloved (a Sufi metaphor for God) was the means to achieve a state of mystical union with God. In fact, the poems ascribed to Rbia make for some of the earliest examples of mystical themes within the Sufi movement. For the first two Muslim centuries it is, however, very difficult to limit mystical interpretations of Islamwhich can be found from early on, arguably already in the Quranto a distinguishable social group within the Muslim community.4 A gradual institutionalization of Sufism occurred from the ninth century onwards. It found its expression in Dh al-Nn al-Misrs (d. 859) attempt to systematize the nature of the Sufi path (tarqa), conceptualized as a sequence of stages of mystical maturity (maqm, pl. maqmt) to which particular psychological states (hl, pl. ahwl) were attributed. This basic categorization became a cornerstone of Sufi discourse, subsequently refined by later Sufi authors, who developed sophisticated roadmaps of the mystical pathmostly divided into the four maqmt shara, tarqa, marfa (esoteric knowledge; Esotericism), and haqqa (truth). Advancing from stage to stage, the seeker (murd) has to confront and gradually overcome his lower soul, or ego-self (nafs) that binds him to the world, in order to eventually achieve its annihilation (fan). The ultimate goal of the path is to achieve unity with the Divine in the realization of absolute truth (haqqa), sometimes also referred to as baq, i.e. abiding (in union with God). The systematization of Sufi thought and practice went along with Sufisms growth as a social movement, a first expression of which was the development of master-disciple relationships. Early examples of small circles around eminent Sufi teachers can be dated back to the eighth century. These informal circles used to dissolve with the masters passing. The earliest examples of Sufi manuals, small guidebooks designed for the core exercise of conscience examination for Sufi novices, date from the ninth century. From the twelfth century onwards, Sufi circles began to transform into traditions; revolving around the personalities and teachings of venerated past Sufi masters, distinct Sufi orders (tarqa, pl. turuq) emerged, led by Sheikhs (Ar., shaykh; Pers., pr) believed to carry the spiritual knowledge and authority of Early History of Sufism Systematization and Growth a unbroken chain of holy men reaching back to the prophet Muhammad

himself. This sacred chain (silsila) embodies the legitimacy of a Sufi master ( Master/Pupil). The Sufi orders spread quickly, and established their branches virtually everywhere Muslims lived. In its earlier stages, Sufism had been the domain of a religious elite, i.e. ascetic, poetic, and philosophical virtuosi. Some of the greatest masters of Sufi poetry such as Farduddn Attr (d. 1131?) and Mawln Jalluddn Rm (d. 1273), and major theoreticians of Sufism such as Ibn Arab (d. 1240) were not initiated into Sufi orders.5 The emergence and rapid development of the Sufi order as a new Muslim institution, and the Sufi lodges and convents (Ar., zawya; Pers., khnq, dergh; Turk., tekke) as new Muslim spaces, contributed to a popularization of Sufism, which then became accessible to a much broader audience. Different degrees of initiation and different levels of sophistication in the study of the Sufi path allowed for more or less commitment. Organized hierarchicallyideally in accordance with the individual stages of spiritual maturitySufi orders became efficient socio-religious networks with often considerable political influence. They distinguish themselves from each other mainly through their lineages, the religious rules they subscribe to, and the practices they follow. The practice most characteristic of Sufism is the dhikr, literally remembrance (of God). Dhikr is a meditation on the names of God and selected Quranic sequences, often inducing ecstatic states (wajd). It can be done individually or in community, silently or aloud; which formulas are used for the invocation, as well as the outer form a dhikr, differs from order to order. Audible dhikr often involves particular breathing techniques, and rhythmic body movements. Some Sufi orders have their dhikr accompanied by music and/or dance ceremonies such as e.g. the Turkish Mevlevis, widely known as the order of the Whirling Dervishes. Until the nineteenth century, the Sufi orders were in almost all Muslim societies well accredited institutions with often considerable social, political, and economic powers.6 Since then, however, Sufism became increasingly marginalized within Muslim discourse, and sometimes even declared un-Islamic. In the last two centuries, secular nationalists and Westernist modernizers (such as e.g. Kemal Ataturk from Turkey) have targeted Sufism as a major obstacle for modernization and rationalization. They regarded Sufism as a seed of irrationality and superstition, and thus as an obstacle on the road to modernity; they mistrusted the networks and authority structures of the Sufi orders, which were based on close personal allegiances, as a potential threat to the centralizing measures a nation state required.7 Today, anti-Sufi sentiments are mostly fed by revivalist movements (such as the Wahhbiyya and the Salafiyya), which aim to restore an idealized pure form of Islam by cleansing it from all traditions and customs not sanctioned by Quran or hadth (authorized collections of the sayings and deeds of Muhammad). Both secular and religious propaganda have contributed to the declining significance of Sufism as a major form of social organization in Muslim societies, even if there are still some orders with considerable social and political influence (e.g. the Muridiyya in Senegal). Artistic manifestations of

Sufism, however, especially the amazing beauty and diversity of Sufi poetry and music, are still an integral part of Muslim culture. With capitalisms discovery of new age and well-being, Sufi commodities also entered the West European and North American markets, where Sufi poetry, music, 1820 Sufism Dhikr and the Whirling Dervishes Sufism and Modernity Sufism 1821 and practices are advertised and sold under the labels of esoteric globalization such as Eastern spirituality, world music, world literature, and Islamic Mysticism. This market sometimes overlaps, but mostly contrasts, with the presence of Sufi Muslims in Western countries, where branches of many orders were established in the second half of the twentieth century.8 As in most Muslim majority lands, these Sufi communities in the West lead a marginal existence at the edge of Muslim communities and are hardly noticed by the non-Muslim public. Nevertheless, they have proved to be in many instances very successful in the adaptation to new environments, often attracting considerable numbers of converts. Sufism is today in a defensive position, often having to justify its very location within Muslim discourse. Nevertheless, the Sufi tradition within Islam is still very much alive, responding to needs for charismatic guidance and close personal relationships in small-sized communities, as well as strong religious experiences. 1. See Chittick, W. C., Faith and Practice of Islam: Three Thirteenth Century Sufi Texts, Albany 1992, 168-173. 2. Cf. King, R, Orientalism and Religion: Postcolonial Theory, India and The Mystic East, London 1999, 7-34; Schmidt, L. E., The Making of Modern Mysticism, in: Journal of the American Academy of Religion 71 (2003), 273-302. 3. The Orientalist interpretation of Sufism as a movement of freethinking ecstatic mystics hadand haslittle to do with the average outlook and behavior of the Sufis, also called dervishes (lit. poor ones), who for the most part subscribe to the practical and legal prescriptions of Islam (shara). Libertarian and antinomian strands in Sufism certainly exist, but have always been in the minority. Cf. Ernst, C. W., The Shambhala Guide to Sufism, Boston 1997, 8-16. 4. In fact, the gradual objectification of both Sufism and Islam as signifying categories was not completed before the nineteenth century; ibid., XIVf. 5. For examples of their work see Chittick, W. C., The Sufi Path of Love: The Spiritual Teachings of Rumi, Albany 1983; Fard al-Dn Attr, The Conference of the Birds, trans. D. Davis et al., Harmondsworth et al. 1984; Chittick, W. C., The Self-Disclosure of God: Principles of Ibn al-Arabs Cosmology, Albany 1998. 6. For a closer look at some selected Sufi orders see Gaborieau, M. et al., Naqshbandis: cheminements et situation actuelle dun ordre mystique musulman. Actes de la Table ronde de Svres (Varia Turcica 18), Istanbul et al. 1990; Popovic, A./Veinstein, G., Bektachiyya. tudes sur lordre mystique des Bektachis et les groupes relevant de Hadji

Bektach, Istanbul 1995; Popovic, A./Veinstein, G., Les voies dAllah. Les ordres mystiques dans lIslam des origines aujourdhui, [Paris] 1996. 7. A good example for a Sufi order becoming the organizational platform for a resistance movement against the secular nation state is the Sheykh Said uprising in Turkey (1925); see v Bruinessen, M., Agha, Shaikh and State: The Social and Political Structures of Kurdistan, London et al. 1992, esp. chapters 4-5. 8. See e.g. Hermansen, M., Hybrid Identity Formations in Muslim America. The Case of American Sufi Movements, in: Muslim World 90 (2000), 158-197; Schlessmann, L., Sufismus in Deutschland. Deutsche auf dem Weg des mystischen Islam, Cologne etc. 2003. 9. For anthropological accounts of contemporary Sufism see e.g. Frembgen, J., Derwische. Gelebter Sufismus, wandernde Mystiker und Asketen im islamischen Orient, Cologne 1993; Gilsenan, M., Saint and Sufi in Modern Egypt: An Essay in the Sociology of Religion, Oxford 1973; Lings, M. A., Sufi Saint of the Twentieth Century: Shaikh Ahmad al-Alaw. His Spiritual Heritage and Legacy, Cambridge 1993; Werbner, P./Basu, H. (eds.), Embodying Charisma: Modernity, Locality, and Performance of Emotion in Sufi Cults, London et al. 1998; Werbner, P., Pilgrims of Love: The Anthropology of a Global Sufi Cult, Bloomington 2003. Literature Awn, P. J., Sufism, in: The Encyclopedia of Religion, ed. M. Eliade, New York, vol. 14, 1986, 104-123; Chittick, W. C., Sufism: A Short Introduction, Oxford 2000; Ernst, C. W., The Shambhala Guide to Sufism, Boston 1997; Fard al-Dn Attr, Muslim Saints and Mystics: Episodes from the Tadhkirat al-Auliya (Memorial of the Saints), trans. A. J. Arberry, London etc. 1990; Gramlich, R., Die schiitischen Derwischorden Persiens, vol. II: Glaube und Lehre, Wiesbaden 1976; Karamustafa, A. T., Gods Unruly Friends: Dervish Groups in the Islamic Later Middle Period 12001550, Salt Lake City 1994; Knysh, A. D., Islamic Mysticism: A Short History, Leiden etc. 2000; Lewisohn, L. (ed.), The Heritage of Sufism, 3 vols., Oxford etc. 1999; Massignon, L., The Passion of al-Hallj: Mystic and Martyr of Islam (Bollingen series 98), 4 vols., Princeton 1982; Radtke, B./De Jong, F. (eds.), Islamic Mysticism Contested: Thirteen Centuries of Controversies and Polemics, Leiden etc. 1999; Schimmel, A., Mystical Dimensions of Islam, Chapel Hill 1992; Sells, M. A., Early Islamic Mysticism: Sufi, Quran, Miraj, Poetic and Theological Writings, New York 1996; Trimingham, J. S., The Sufi Orders in Islam, New York 1998. Dance, Esotericism, Islam, Kabbalah, Monasticism, Music, Mysticism, Order/Brotherhoods, Orientalism/Exotism, Quran, Rhythm, Trance Markus Dressler48
48

Ibid., h. 1818-1822.

e) One of the most important accomplishments of the sociology of religion is the tradition of a quantitative sociometry. This is intended to demonstrate and illuminate the (religious) behavior of a group or society and its concepts (of beliefs) through empirical investigation, for example, with questionnaires (opinion surveys). The data acquired have today reached a high degree of methodological verification. Nevertheless, with statistics, there is always the (source critical) question of the epistemological interest of their gathering, and the political or ideological environment in which the latter is effected. Classic lines of questioning here concern faith conceptualizations and everyday religious activity (faith in God; participation at rituals, such as assisting at divine service on Sunday), or questioning in terms of the religious conceptualizations of social classes, sub-classes, or groups (e.g. industrial workers; physicians; theologians). Thus, quantitative profiles of opinion can serve in the discernment of trends in religious behavior, and can reveal aspects of current everyday piety and applied belief that lie outside publications of religious professionals. For large church organizations, ecclesio-sociological polls of this kind, concerning their members religious behavior and attitudes, are highly informative. Sociology of religion based on empirical social research is an influential tradition in the United States (cf. Journal for the Scientific Study of Religion), as well as having an influential role in French sociology. For the debate concerning religious trends, movements, and problematics of the present, quantitative collections are an indispensable aid, as shown by fertile studies on the new religious movements and the social type known as the seeker since the 1970s, as well as on fundamentalism or the politicized religion of minorities and immigrants. Poll results from opinion research institutes on the nations religious state constitute a public and popular form of this kind or social analysis. Despite possessing elements of significant objective import that ought to be verified individually, the media-friendly Sociometry xx Introduction preparation of the results is in itself a part of contemporary religious history as is the political discourse that tends to usurp the results of these studies.49 TEORI BELAJAR HUMANISTIK Menurut Teori humanistik, tujuan belajar adalah untuk memanusiakan manusia\proses belajar dianggap berhasil jika si pelajar memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Siswa dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambatlaun ia mampu mencapai

49

Ibid., h. xix-xx.

aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya. Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya, bukan dari sudut pandang pengamatnya. Tujuan utama para pendidik adalah membantu si siswa untuk mengembangkan dirinya, yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada dalam diri mereka. Para ahli humanistik melihat adanya dua bagian pada proses belajar, ialah : 1. Proses pemerolehan informasi baru, 2. Personalia informasi ini pada individu. Tokoh penting dalam teori belajar humanistik secara teoritik antara lain adalah: Arthur W. Combs, Abraham Maslow dan Carl Rogers. a. Arthur Combs (1912-1999) Bersama dengan Donald Snygg (1904-1967) mereka mencurahkan banyak perhatian pada dunia pendidikan. Meaning (makna atau arti) adalah konsep dasar yang sering digunakan. Belajar terjadi bila mempunyai arti bagi individu. Guru tidak bisa memaksakan materi yang tidak disukai atau tidak relevan dengan kehidupan mereka. Anak tidak bisa matematika atau sejarah bukan karena bodoh tetapi karena mereka enggan dan terpaksa dan merasa sebenarnya tidak ada alasan penting mereka harus mempelajarinya. Perilaku buruk itu sebenarnya tak lain hanyalah dati ketidakmampuan seseorang untuk melakukan sesuatu yang tidak akan memberikan kepuasan baginya. Untuk itu guru harus memahami perlaku siswa dengan mencoba memahami dunia persepsi siswa tersebut sehingga apabila ingin merubah perilakunya, guru harus berusaha merubah keyakinan atau pandangan siswa yang ada. Perilaku internal membedakan seseorang dari yang lain. Combs berpendapat bahwa banyak guru membuat kesalahan dengan berasumsi bahwa siswa mau belajar apabila materi pelajarannya disusun dan disajikan sebagaimana mestinya. Padahal arti tidaklah menyatu pada materi pelajaran itu. Sehingga yang penting ialah bagaimana membawa si siswa untuk memperoleh arti bagi pribadinya dari materi pelajaran tersebut dan menghubungkannya dengan kehidupannya.

Combs memberikan lukisan persepsi dir dan dunia seseorang seperti dua lingkaran (besar dan kecil) yang bertitik pusat pada satu. Lingkaran kecil (1) adalah gambaran dari persepsi diri dan lingkungan besar (2) adalah persepsi dunia. Makin jauh peristiwaperistiwa itu dari persepsi diri makin berkurang pengaruhnya terhadap perilakunya. Jadi, hal-hal yang mempunyai sedikit hubungan dengan diri, makin mudah hal itu terlupakan. a. Maslow Teori Maslow didasarkan pada asumsi bahwa di dalam diri individu ada dua hal : (1) suatu usaha yang positif untuk berkembang (2) kekuatan untuk melawan atau menolak perkembangan itu. Maslow mengemukakan bahwa individu berperilaku dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat hirarkis. Pada diri masing-masing orang mempunyai berbagai perasaan takut seperti rasa takut untuk berusaha atau berkembang, takut untuk mengambil kesempatan, takut membahayakan apa yang sudah ia miliki dan sebagainya, tetapi di sisi lain seseorang juga memiliki dorongan untuk lebih maju ke arah keutuhan, keunikan diri, ke arah berfungsinya semua kemampuan, ke arah kepercayaan diri menghadapi dunia luar dan pada saat itu juga ia dapat menerima diri sendiri(self). Maslow membagi kebutuhan-kebutuhan (needs) manusia menjadi tujuh hirarki. Bila seseorang telah dapat memenuhi kebutuhan pertama, seperti kebutuhan fisiologis, barulah ia dapat menginginkan kebutuhan yang terletak di atasnya, ialah kebutuhan mendapatkan ras aman dan seterusnya. Hierarki kebutuhan manusia menurut Maslow ini mempunyai implikasi yang penting yang harus diperharikan oleh guru pada waktu ia mengajar anakanak. Ia mengatakan bahwa perhatian dan motivasi belajar ini mungkin berkembang kalau kebutuhan dasar si siswa belum terpenuhi. a. Carl Rogers

Carl Rogers lahir 8 Januari 1902 di Oak Park, Illinois Chicago, sebagai anak keempat dari enam bersaudara. Semula Rogers menekuni bidang agama tetapi akhirnya pindah ke bidang psikologi. Ia mempelajari psikologi klinis di Universitas Columbia dan mendapat gelar Ph.D pada tahun 1931, sebelumnya ia telah merintis kerja klinis di Rochester Society untuk mencegah kekerasan pada anak. Gelar profesor diterima di Ohio State tahun 1960. Tahun 1942, ia menulis buku pertamanya, Counseling and Psychotherapy dan secara bertahap mengembangkan konsep Client-Centerd Therapy. Rogers membedakan dua tipe belajar, yaitu: 1. 1. Kognitif (kebermaknaan) 2. experiential ( pengalaman atau signifikansi) Guru menghubungan pengetahuan akademik ke dalam pengetahuan terpakai seperti memperlajari mesin dengan tujuan untuk memperbaikai mobil. Experiential Learning menunjuk pada pemenuhan kebutuhan dan keinginan siswa. Kualitas belajar experiential learning mencakup : keterlibatan siswa secara personal, berinisiatif, evaluasi oleh siswa sendiri, dan adanya efek yang membekas pada siswa. Menurut Rogers yang terpenting dalam proses pembelajaran adalah pentingnya guru memperhatikan prinsip pendidikan dan pembelajaran, yaitu: 1. Menjadi manusia berarti memiliki kekuatan yang wajar untuk belajar. Siswa tidak harus belajar tentang hal-hal yang tidak ada artinya. 2. Siswa akan mempelajari hal-hal yang bermakna bagi dirinya. Pengorganisasian bahan pelajaran berarti mengorganisasikan bahan dan ide baru sebagai bagian yang bermakna bagi siswa 3. Pengorganisasian bahan pengajaran berarti mengorganisasikan bahan dan ide baru sebagai bagian yang bermakna bagi siswa.

4. Belajar yang bermakna dalam masyarakat modern berarti belajar tentang proses. Dari bukunya Freedom To Learn, ia menunjukkan sejumlah prinsip-prinsip dasar humanistik yang penting diantaranya ialah : a. Manusia itu mempunyai kemampuan belajar secara alami. b. Belajar yang signifikan terjadi apabila materi pelajaran dirasakan murid mempunyai relevansi dengan maksud-maksud sendiri. c. Belajar yang menyangkut perubahan di dalam persepsi mengenai dirinya sendiri diangap mengancam dan cenderung untuk ditolaknya. d. Tugas-tugas belajar yang mengancam diri ialah lebih mudah dirasakan dan diasimilasikan apabila ancaman-ancaman dari luar itu semakin kecil. e. Apabila ancaman terhadap diri siswa rendah, pengalaman dapat diperoleh dengan berbagai cara yang berbeda-beda dan terjadilah proses belajar. f. Belajar yang bermakna diperoleh siswa dengan melakukannya. g. Belajar diperlancar bilamana siswa dilibatkan dalam proses belajar dan ikut bertanggungjawab terhadap proses belajar itu. h. Belajar inisiatif sendiri yang melibatkan pribadi siswa seutuhnya, baik perasaan maupun intelek, merupakan cara yang dapat memberikan hasil yang mendalam dan lestari. i. Kepercayaan terhadap diri sendiri, kemerdekaan, kreativitas, lebih mudah dicapai terutama jika siswa dibiasakan untuk mawas diri dan mengritik dirinya sendiri dan penilaian dari orang lain merupakan cara kedua yang penting. j. Belajar yang paling berguna secara sosial di dalam dunia modern ini adalah belajar mengenai proses belajar, suatu keterbukaan yang terus menerus terhadap pengalaman dan penyatuannya ke dalam diri sendiri mengenai proses perubahan itu.

Salah satu model pendidikan terbuka mencakuo konsep mengajar guru yang fasilitatif yang dikembangkan Rogers diteliti oleh Aspy dan Roebuck pada tahun 1975 mengenai kemampuan para guru untuk menciptakan kondidi yang mendukung yaitu empati, penghargaan dan umpan balik positif. Ciri-ciri guru yang fasilitatif adalah : 1. Merespon perasaan siswa 2. Menggunakan ide-ide siswa untuk melaksanakan interaksi yang sudah dirancang 3. Berdialog dan berdiskusi dengan siswa 4. Menghargai siswa 5. Kesesuaian antara perilaku dan perbuatan 6. Menyesuaikan isi kerangka berpikir siswa (penjelasan untuk mementapkan kebutuhan segera dari siswa) 7. Tersenyum pada siswa Dari penelitian itu diketahui guru yang fasilitatif mengurangi angka bolos siswa, meningkatkan angka konsep diri siswa, meningkatkan upaya untuk meraih prestasi akademik termasuk pelajaran bahasa dan matematika yang kurang disukai, mengurangi tingkat problem yang berkaitan dengan disiplin dan mengurangi perusakan pada peralatan sekolah, serta siswa menjadi lebih spontan dan menggunakan tingkat berpikir yang lebih tinggi. Implikasi Teori Belajar Humanistik a. Guru Sebagai Fasilitator Psikologi humanistik memberi perhatian atas guru sebagai fasilitator yang berikut ini adalah berbagai cara untuk memberi kemudahan belajar dan berbagai kualitas sifasilitator. Ini merupakan ikhtisar yang sangat singkat dari beberapa guidenes(petunjuk): 1. Fasilitator sebaiknya memberi perhatian kepada penciptaan suasana awal, situasi kelompok, atau pengalaman kelas

2. Fasilitator membantu untuk memperoleh dan memperjelas tujuan-tujuan perorangan di dalam kelas dan juga tujuan-tujuan kelompok yang bersifat umum. 3. Dia mempercayai adanya keinginan dari masing-masing siswa untuk melaksanakan tujuan-tujuan yang bermakna bagi dirinya, sebagai kekuatan pendorong, yang tersembunyi di dalam belajar yang bermakna tadi. 4. Dia mencoba mengatur dan menyediakan sumber-sumber untuk belajar yang paling luas dan mudah dimanfaatkan para siswa untuk membantu mencapai tujuan mereka. 5. Dia menempatkan dirinya sendiri sebagai suatu sumber yang fleksibel untuk dapat dimanfaatkan oleh kelompok. 6. Di dalam menanggapi ungkapan-ungkapan di dalam kelompok kelas, dan menerima baik isi yang bersifat intelektual dan sikap-sikap perasaan dan mencoba untuk menanggapi dengan cara yang sesuai, baik bagi individual ataupun bagi kelompok 7. Bilamana cuaca penerima kelas telah mantap, fasilitator berangsur-sngsur dapat berperanan sebagai seorang siswa yang turut berpartisipasi, seorang anggota kelompok, dan turut menyatakan pendangannya sebagai seorang individu, seperti siswa yang lain. 8. Dia mengambil prakarsa untuk ikut serta dalam kelompok, perasaannya dan juga pikirannya dengan tidak menuntut dan juga tidak memaksakan, tetapi sebagai suatu andil secara pribadi yang boleh saja digunakan atau ditolak oleh siswa 9. Dia harus tetap waspada terhadap ungkapan-ungkapan yang menandakan adanya perasaan yang dalam dan kuat selama belajar 10. Di dalam berperan sebagai seorang fasilitator, pimpinan harus mencoba untuk menganali dan menerima keterbatasan-keterbatasannya sendiri. Aplikasi Teori Humanistik Terhadap Pembelajaran Siswa

Aplikasi teori humanistik lebih menunjuk pada ruh atau spirit selama proses pembelajaran yang mewarnai metode-metode yang diterapkan. Peran guru dalam pembelajaran humanistik adalah menjadi fasilitator bagi para siswa sedangkan guru memberikan motivasi, kesadaran mengenai makna belajar dalam kehidupan siswa. Guru memfasilitasi pengalaman belajar kepada siswa dan mendampingi siswa untuk memperoleh tujuan pembelajaran. Siswa berperan sebagai pelaku utama (student center) yang memaknai proses pengalaman belajarnya sendiri. Diharapkan siswa memahami potensi diri , mengembangkan potensi dirinya secara positif dan meminimalkan potensi diri yang bersifat negatif. Tujuan pembelajaran lebih kepada proses belajarnya daripada hasil belajar. Adapun proses yang umumnya dilalui adalah : 1. Merumuskan tujuan belajar yang jelas 2. Mengusahakan partisipasi aktif siswa melalui kontrak belajar yang bersifat jelas , jujur dan positif. 3. Mendorong siswa untuk mengembangkan kesanggupan siswa untuk belajar atas inisiatif sendiri 4. Mendorong siswa untuk peka berpikir kritis, memaknai proses pembelajaran secara mandiri 5. Siswa di dorong untuk bebas mengemukakan pendapat, memilih pilihannya sendiri, melakukkan apa yang diinginkan dan menanggung resiko dariperilaku yang ditunjukkan. 6. Guru menerima siswa apa adanya, berusaha memahami jalan pikiran siswa, tidak menilai secara normatif tetapi mendorong siswa untuk bertanggungjawab atas segala resiko perbuatan atau proses belajarnya. 7. Memberikan kesempatan murid untuk maju sesuai dengan kecepatannya 8. Evaluasi diberikan secara individual berdasarkan perolehan prestasi siswa Pembelajaran berdasarkan teori humanistik ini cocok untuk diterpkan pada materi-materi pembelajaran yang bersifat pembentukan kepribadian, hati nurani, perubahan sikap, dan

analisis terhadap fenomena sosial. Indikator dari keberhasilan aplikasi ini adalah siswa merasa senang bergairah, berinisiatif dalam belajar dan terjaadi perubahan pola pikir, perilaku dan sikap atas kemauan sendiri. Siswa diharapkan menjadi manusia yang bebas, berani, tidak terikat oleh pendapat orang lain dan mengatur pribadinya sendiri secara bertanggungjawab tanpa mengurangi hak-hak orang lain atau melanggar aturan , norma , disiplin atau etika yang berlaku. Sumber: 1. Psikologi Belajar: Dr. Mulyati, M.Pd 2. Psikologi Belajar: Drs. H. Abu Ahmadi dan Drs. Widodo Supriyono 3. Psikologi Pendidikan: Sugihartono,dkk 4. Psikologi Pendidikan: Rochman Natawidjaya dan Moein Moesa 5. Landasan Kependidikan: Prof. Dr. Made Pidarta

Mengapa pendidikan tasawuf yang mendominasi materi pendidikan bersih hati perlu disederhanakan? Karena pendidikan tasawuf yang ada selama ini terlalu kompleks dan complicated untuk bisa dimengerti oleh masyarakat Indonesia yang awam tasawuf, padahal manfaatnya demikian besar untuk memperbaiki kualitas kehidupan manusia, baik dalam konteks posisi manusia sebagai hamba Allah maupun dalam posisinya sebagai khalifah Allah. Penyederhanaan materi dilakukan karena sesuai dengan tujuannya, yaitu bagaimana agar pendidikan tasawuf benar-benar aplikatif. Di sisi lain, penyederhanaan diperlukan karena manusia memang memiliki perbedaan dalam kemampuan belajar dan kemampuan mencerap ilmu pengetahuan. Ab Hmid Muhammad al-Ghazl (450-505/1058-1111) misalnya, membagi kemampuan belajar manusia kepada tiga kelompok. Kelompok para

nabi yang memperoleh sebagian besar pengetahuan mereka tanpa usaha sama sekali, kelompok orang-orang jenius yang mampu belajar cepat dan meraih ilmu pengetahuan dalam waktu singkat, dan kelompok terakhir yang juga dituju dalam penelitian ini yaitu masyarakat kebanyakan yang harus berusaha keras untuk dapat memahami sesuatu.50 Dalam konteks masyarakat kebanyakan Indonesia, pengelompokan terakhir dari alGhazl di atas pun masih harus kita bagi ke dalam subkelompok-subkelompok yang dapat mencerminkan taraf kemampuan belajar yang kurang lebih seragam dalam masingmasing subkelompok. Pembagian yang paling sesuai adalah berdasar kategori usia dikaitkan dengan pendidikan formal terakhir yang ditempuh, serta jenis pendidikan formal yang di Indonesia secara garis besar terbagi kepada pendidikan umum dan pendidikan agama. Artinya, pada tingkat usia yang sama dan pendidikan formal terakhir yang sama, mereka yang melaluinya pada jenis pendidikan agama diyakini memiliki kemampuan belajar yang tidak sama dalam hal ini relatif lebih baik dalam bidang pendidikan tasawuf dibanding dengan mereka yang berasal dari pendidikan umum. oleh : Akhmad Sudrajat ika menelaah literatur psikologi, kita akan menemukan banyak teori belajar yang bersumber dari aliran-aliran psikologi. Dalam tautan di bawah ini akan dikemukakan empat jenis teori belajar, yaitu: (A) teori behaviorisme; (B) teori belajar kognitif menurut Piaget; (C) teori pemrosesan informasi dari Gagne, dan (D) teori belajar gestalt. A. Teori Behaviorisme Behaviorisme merupakan salah aliran psikologi yang memandang individu hanya dari sisi fenomena jasmaniah, dan mengabaikan aspek aspek mental. Dengan kata lain, behaviorisme tidak mengakui adanya kecerdasan, bakat, minat dan perasaan individu
50

Hasan Asari, Filsafat Pendidikan al-Ghazali, Jurnal Analytica Islamica, Vol 6, No. 2, 2004, h.

78.

dalam suatu belajar. Peristiwa belajar semata-mata melatih refleks-refleks sedemikian rupa sehingga menjadi kebiasaan yang dikuasai individu. Beberapa hukum belajar yang dihasilkan dari pendekatan behaviorisme ini, diantaranya : 1. Connectionism ( S-R Bond) menurut Thorndike. Dari eksperimen yang dilakukan Thorndike terhadap kucing menghasilkan hukumhukum belajar, diantaranya: Law of Effect; artinya bahwa jika sebuah respons menghasilkan efek yang memuaskan, maka hubungan Stimulus Respons akan semakin kuat. Sebaliknya, semakin tidak memuaskan efek yang dicapai respons, maka semakin lemah pula hubungan yang terjadi antara Stimulus- Respons.

Law of Readiness; artinya bahwa kesiapan mengacu pada asumsi bahwa kepuasan organisme itu berasal dari pemdayagunaan satuan pengantar (conduction unit), dimana unit-unit ini menimbulkan kecenderungan yang mendorong organisme untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu.

Law of Exercise; artinya bahwa hubungan antara Stimulus dengan Respons akan semakin bertambah erat, jika sering dilatih dan akan semakin berkurang apabila jarang atau tidak dilatih.

2. Classical Conditioning menurut Ivan Pavlov Dari eksperimen yang dilakukan Pavlov terhadap seekor anjing menghasilkan hukumhukum belajar, diantaranya :

Law of Respondent Conditioning yakni hukum pembiasaan yang dituntut. Jika dua macam stimulus dihadirkan secara simultan (yang salah satunya berfungsi sebagai reinforcer), maka refleks dan stimulus lainnya akan meningkat.

Law of Respondent Extinction yakni hukum pemusnahan yang dituntut. Jika refleks yang sudah diperkuat melalui Respondent conditioning itu didatangkan kembali tanpa menghadirkan reinforcer, maka kekuatannya akan menurun.

3. Operant Conditioning menurut B.F. Skinner Dari eksperimen yang dilakukan B.F. Skinner terhadap tikus dan selanjutnya terhadap burung merpati menghasilkan hukum-hukum belajar, diantaranya :

Law of operant conditining yaitu jika timbulnya perilaku diiringi dengan stimulus penguat, maka kekuatan perilaku tersebut akan meningkat. Law of operant extinction yaitu jika timbulnya perilaku operant telah diperkuat melalui proses conditioning itu tidak diiringi stimulus penguat, maka kekuatan perilaku tersebut akan menurun bahkan musnah.

Reber (Muhibin Syah, 2003) menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan operant adalah sejumlah perilaku yang membawa efek yang sama terhadap lingkungan. Respons dalam operant conditioning terjadi tanpa didahului oleh stimulus, melainkan oleh efek yang ditimbulkan oleh reinforcer. Reinforcer itu sendiri pada dasarnya adalah stimulus yang meningkatkan kemungkinan timbulnya sejumlah respons tertentu, namun tidak sengaja diadakan sebagai pasangan stimulus lainnya seperti dalam classical conditioning. 4. Social Learning menurut Albert Bandura Teori belajar sosial atau disebut juga teori observational learning adalah sebuah teori belajar yang relatif masih baru dibandingkan dengan teori-teori belajar lainnya. Berbeda dengan penganut Behaviorisme lainnya, Bandura memandang Perilaku individu tidak semata-mata refleks otomatis atas stimulus (S-R Bond), melainkan juga akibat reaksi yang timbul sebagai hasil interaksi antara lingkungan dengan skema kognitif individu itu sendiri. Prinsip dasar belajar menurut teori ini, bahwa yang dipelajari individu terutama dalam belajar sosial dan moral terjadi melalui peniruan (imitation) dan penyajian contoh perilaku (modeling). Teori ini juga masih memandang pentingnya conditioning. Melalui pemberian reward dan punishment, seorang individu akan berfikir dan memutuskan perilaku sosial mana yang perlu dilakukan. Sebetulnya masih banyak tokoh-tokoh lain yang mengembangkan teori belajar behavioristik ini, seperti : Watson yang menghasilkan prinsip kekerapan dan prinsip

kebaruan, Guthrie dengan teorinya yang disebut Contiguity Theory yang menghasilkan Metode Ambang (the treshold method), metode meletihkan (The Fatigue Method) dan Metode rangsangan tak serasi (The Incompatible Response Method), Miller dan Dollard dengan teori pengurangan dorongan. B. Teori Belajar Kognitif menurut Piaget Piaget merupakan salah seorang tokoh yang disebut-sebut sebagai pelopor aliran konstruktivisme. Salah satu sumbangan pemikirannya yang banyak digunakan sebagai rujukan untuk memahami perkembangan kognitif individu yaitu teori tentang tahapan perkembangan individu. Menurut Piaget bahwa perkembangan kognitif individu meliputi empat tahap yaitu : (1) sensory motor; (2) pre operational; (3) concrete operational dan (4) formal operational. Pemikiran lain dari Piaget tentang proses rekonstruksi pengetahuan individu yaitu asimilasi dan akomodasi. James Atherton (2005) menyebutkan bahwa asisimilasi adalah the process by which a person takes material into their mind from the environment, which may mean changing the evidence of their senses to make it fit dan akomodasi adalah the difference made to ones mind or concepts by the process of assimilation Dikemukakannya pula, bahwa belajar akan lebih berhasil apabila disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif peserta didik. Peserta didik hendaknya diberi kesempatan untuk melakukan eksperimen dengan obyek fisik, yang ditunjang oleh interaksi dengan teman sebaya dan dibantu oleh pertanyaan tilikan dari guru. Guru hendaknya banyak memberikan rangsangan kepada peserta didik agar mau berinteraksi dengan lingkungan secara aktif, mencari dan menemukan berbagai hal dari lingkungan. Implikasi teori perkembangan kognitif Piaget dalam pembelajaran adalah : 1. Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa. Oleh karena itu guru mengajar dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berfikir anak. 2. Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan dengan baik. Guru harus membantu anak agar dapat berinteraksi dengan lingkungan sebaik-baiknya.

3. Bahan yang harus dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing. 4. Berikan peluang agar anak belajar sesuai tahap perkembangannya. 5. Di dalam kelas, anak-anak hendaknya diberi peluang untuk saling berbicara dan diskusi dengan teman-temanya. C. Teori Pemrosesan Informasi dari Robert Gagne Asumsi yang mendasari teori ini adalah bahwa pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan. Perkembangan merupakan hasil kumulatif dari pembelajaran. Menurut Gagne bahwa dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi, untuk kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar. Dalam pemrosesan informasi terjadi adanya interaksi antara kondisi-kondisi internal dan kondisi-kondisi eksternal individu. Kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan proses kognitif yang terjadi dalam individu. Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran. Menurut Gagne tahapan proses pembelajaran meliputi delapan fase yaitu, (1) motivasi; (2) pemahaman; (3) pemerolehan; (4) penyimpanan; (5) ingatan kembali; (6) generalisasi; (7) perlakuan dan (8) umpan balik. D. Teori Belajar Gestalt Gestalt berasal dari bahasa Jerman yang mempunyai padanan arti sebagai bentuk atau konfigurasi. Pokok pandangan Gestalt adalah bahwa obyek atau peristiwa tertentu akan dipandang sebagai sesuatu keseluruhan yang terorganisasikan. Menurut Koffka dan Kohler, ada tujuh prinsip organisasi yang terpenting yaitu : 1. Hubungan bentuk dan latar (figure and gound relationship); yaitu menganggap bahwa setiap bidang pengamatan dapat dibagi dua yaitu figure (bentuk) dan latar belakang. Penampilan suatu obyek seperti ukuran, potongan, warna dan sebagainya membedakan figure dari latar belakang. Bila figure dan latar bersifat samar-samar, maka akan terjadi kekaburan penafsiran antara latar dan figure.

2. Kedekatan (proxmity); bahwa unsur-unsur yang saling berdekatan (baik waktu maupun ruang) dalam bidang pengamatan akan dipandang sebagai satu bentuk tertentu. 3. Kesamaan (similarity); bahwa sesuatu yang memiliki kesamaan cenderung akan dipandang sebagai suatu obyek yang saling memiliki. 4. Arah bersama (common direction); bahwa unsur-unsur bidang pengamatan yang berada dalam arah yang sama cenderung akan dipersepsi sebagi suatu figure atau bentuk tertentu. 5. Kesederhanaan (simplicity); bahwa orang cenderung menata bidang pengamatannya bentuk yang sederhana, penampilan reguler dan cenderung membentuk keseluruhan yang baik berdasarkan susunan simetris dan keteraturan; dan 6. Ketertutupan (closure) bahwa orang cenderung akan mengisi kekosongan suatu pola obyek atau pengamatan yang tidak lengkap. Terdapat empat asumsi yang mendasari pandangan Gestalt, yaitu: 1. Perilaku Molar hendaknya banyak dipelajari dibandingkan dengan perilaku Molecular. Perilaku Molecular adalah perilaku dalam bentuk kontraksi otot atau keluarnya kelenjar, sedangkan perilaku Molar adalah perilaku dalam keterkaitan dengan lingkungan luar. Berlari, berjalan, mengikuti kuliah, bermain sepakbola adalah beberapa perilaku Molar. Perilaku Molar lebih mempunyai makna dibanding dengan perilaku Molecular. 2. Hal yang penting dalam mempelajari perilaku ialah membedakan antara lingkungan geografis dengan lingkungan behavioral. Lingkungan geografis adalah lingkungan yang sebenarnya ada, sedangkan lingkungan behavioral merujuk pada sesuatu yang nampak. Misalnya, gunung yang nampak dari jauh seolah-olah sesuatu yang indah. (lingkungan behavioral), padahal kenyataannya merupakan suatu lingkungan yang penuh dengan hutan yang lebat (lingkungan geografis). 3. Organisme tidak mereaksi terhadap rangsangan lokal atau unsur atau suatu bagian peristiwa, akan tetapi mereaksi terhadap keseluruhan obyek atau peristiwa. Misalnya, adanya penamaan kumpulan bintang, seperti : sagitarius, virgo, pisces,

gemini dan sebagainya adalah contoh dari prinsip ini. Contoh lain, gumpalan awan tampak seperti gunung atau binatang tertentu. 4. Pemberian makna terhadap suatu rangsangan sensoris adalah merupakan suatu proses yang dinamis dan bukan sebagai suatu reaksi yang statis. Proses pengamatan merupakan suatu proses yang dinamis dalam memberikan tafsiran terhadap rangsangan yang diterima. Aplikasi teori Gestalt dalam proses pembelajaran antara lain : 1. Pengalaman tilikan (insight); bahwa tilikan memegang peranan yang penting dalam perilaku. Dalam proses pembelajaran, hendaknya peserta didik memiliki kemampuan tilikan yaitu kemampuan mengenal keterkaitan unsur-unsur dalam suatu obyek atau peristiwa. 2. Pembelajaran yang bermakna (meaningful learning); kebermaknaan unsur-unsur yang terkait akan menunjang pembentukan tilikan dalam proses pembelajaran. Makin jelas makna hubungan suatu unsur akan makin efektif sesuatu yang dipelajari. Hal ini sangat penting dalam kegiatan pemecahan masalah, khususnya dalam identifikasi masalah dan pengembangan alternatif pemecahannya. Hal-hal yang dipelajari peserta didik hendaknya memiliki makna yang jelas dan logis dengan proses kehidupannya. 3. Perilaku bertujuan (pusposive behavior); bahwa perilaku terarah pada tujuan. Perilaku bukan hanya terjadi akibat hubungan stimulus-respons, tetapi ada keterkaitannya dengan dengan tujuan yang ingin dicapai. Proses pembelajaran akan berjalan efektif jika peserta didik mengenal tujuan yang ingin dicapainya. Oleh karena itu, guru hendaknya menyadari tujuan sebagai arah aktivitas pengajaran dan membantu peserta didik dalam memahami tujuannya. 4. Prinsip ruang hidup (life space); bahwa perilaku individu memiliki keterkaitan dengan lingkungan dimana ia berada. Oleh karena itu, materi yang diajarkan hendaknya memiliki keterkaitan dengan situasi dan kondisi lingkungan kehidupan peserta didik. 5. Transfer dalam Belajar; yaitu pemindahan pola-pola perilaku dalam situasi pembelajaran tertentu ke situasi lain. Menurut pandangan Gestalt, transfer belajar

terjadi dengan jalan melepaskan pengertian obyek dari suatu konfigurasi dalam situasi tertentu untuk kemudian menempatkan dalam situasi konfigurasi lain dalam tata-susunan yang tepat. Judd menekankan pentingnya penangkapan prinsip-prinsip pokok yang luas dalam pembelajaran dan kemudian menyusun ketentuan-ketentuan umum (generalisasi). Transfer belajar akan terjadi apabila peserta didik telah menangkap prinsip-prinsip pokok dari suatu persoalan dan menemukan generalisasi untuk kemudian digunakan dalam memecahkan masalah dalam situasi lain. Oleh karena itu, guru hendaknya dapat membantu peserta didik untuk menguasai prinsip-prinsip pokok dari materi yang diajarkannya. Sumber : http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/02/02/teori-teori-belajar/

Teori belajar gestalt


Psikologi Gestalt bermula pada lapangan pengamatan ( persepsi ) dan mencapai sukses yang terbesar juga dalam lapangan ini. Demonstrasinya mengenai peranan latar belakang dan organisasinya terhadap proses-proses yang diamati secara fenomenal demikian meyakinkan sehingga boleh dikatakan tidak dapat di bantah. Ketika para ahli Psikologi Gestalt beralih dari masalah pengamatan ke masalah belajar, maka hasil-hasil yang telah kuat / sukses dalam penelitian mengenai pengamatan itu dibawanya dalam studi mengenai belajar . Karena asumsi bahwa hukum hukum atau prinsip-prinsip yang berlaku pada proses pengamatan dapat ditransfer kepada hal belajar, maka untuk memahami proses belajar orang perlu memahami hukum-hukum yang menguasai proses pengamatan itu. Pada pengamatan itu menekankan perhatian pada bentuk yang terorganisasi (organized form) dan pola persepsi manusia . Pemahaman dan persepsi tentang hubungan-hubungan dalam kebulatan (entities) adalah sangat esensial dalam belajar. Psikologi Gestalt ini terkenal juga sebagai teori medan (field) atau lazim disebut cognitive field theory. Kelompok pemikiran ini sependapat pada suatu hal yakni suatu prinsip dasar bahwa pengalaman manusia memiliki kekayaan medan yang memuat fenomena keseluruhan lebuh dari pada bagianbagiannya.

Keseluruhan ini memberikan beberapa prinsip belajar yang penting, antara lain : 1. Manusia bereaksi dengan lingkunganya secara keseluruhan, tidak hanya secara intelektual, 2. dengan 4. Belajar adalah tetapi juga adalah secara fisik, emosional,sosial diri dengan dan sebagainya lingkungan. aspek-aspeknya. kearah diferensiasi ynag lebih luas. Belajar penyesuaian segala perkembangan

3. Manusia berkembang sebagai keseluruhan sejak dari kecil sampai dewasa, lengkap

5. Belajar hanya berhasil, apabila tercapai kematangan untuk memperoleh insight. 6. Tidak mungkin ada belajar tanpa ada kemauan untuk belajar, motivasi membei dorongan 7. diisi. Belajar sangat menguntungkan untuk kegiatan memecahakan masalah. Hal ini nampaknya juga relevan dengan konsep teori belajar yang diawali dengan suatu pengamatan. Belajar memecahkan masalah diperlukan suatu pengamatan secara cermat dan lengkap. Kemudian bagaiman seseorang itu dapat memecahknan masalah mrnurut J. Dewey merumuskan 2. Mengajukan hipotesa, sebagai suatu jalan yang mungkin memberi arah pemecahan masalah. 3. Mengumpulkan data atau informasi, dengan bacaan atau sumber-sumber lain. 4. Menilai dan mencobakan usah pembuktian hipotesa dengan keterangan-keterangan yang pemecahan soal diperoleh. itu. 5. Mengambil kesimpulan, membuat laporan atau membuat sesuatu dengan hasil Teori medan ini mengibaratkan pengalaman manusia sebagai lagu atau melodi yang lebih daripada kumpulan not, demikian pila pengalaman manusia tidak dapat dipersepsi sebagai sesuatu yang terisolasi dari lingkungannya. Dengan kata lain berbeda dengan teori asosiasi maka toeri medan ini melihat makna dari suatu fenomena yang relatif ada 5 upaya pemecahannya yakni: 1. Realisasi adanya masalah. Jadi harus memehami apa masalahnya dan juga harus dapat Belajar yang akan mengerakan berhasil seluruh kalau ada organisme. tujuan.

8. Belajar merupakan suatu proses bila seseorang itu aktif, bukan ibarat suatu bejana yang

terhadap lingkungannya. Sesuatu dipersepsi sebagai pendek jika objek lain lebih panjang. Warna abu-abu akan terlihat lebih cerah pada bidang berlaatr belakang hitam pekat. Warna abu-abu akan terliaht biru pada latar berwarna kuning. Belajar melibatkanproses mengorganisasikan pengalaman-pengalaman kedalam polapola yang sistematis dan bermakna. Belajar bukan merupakan penjumalahan (aditif), sebaliknya belajar mulai dengan mempersepsi keseluruhan, lambat laun terjadi proses diferensiasi, yakni menangkapbagian bagian dan detail suatu objek pengalaman. Dengan memahami bagian / detail, maka persepsi awalakan keseluruhan objek yang semula masih agak kabur menjadi semakin jelas. Belajar menurut paham ini merupakan bagian dari masalah yang lebih besar yakni mengorganisasikan persepsi kedalam suatu struktur yang lebih kompleks yang makin menambah pemahaman akan medan. Medan diartikan sebagaikeseluruhan dunia yang bersifat psikologis. Seseorang meraksi terhadap lingkungan seauai dengan persepsinya terhadap lingkungan pada saat tersebut. Manusia mempersepsi lingkungan secara selektif, tidak semua objek masuk kedalam fokus persepsi individu, sebagian berfungsi hanya sebagai latar. Tekanan ke-2 pada psikologi medan ini adalah sifat bertujuandari prilaku manusia. Individu menetaokan tujuan berdasarkan tilikan (insight) terhadap situasi yang dihadapinya. Prilakunya akan dinilai cerdas atau dungu tergantung kepada memdai atau tidaknya pemahamanya akan situasi Dalam hukum-hukum belajar Gestalt ini ada satu hukum pokok , yaitu hukum Pragnaz, dan empat hukum tambahan (subsider) yang tunduk kepada hukum yang pokok itu,yaitu hukum hukum keterdekatan , ketertutupan, kesamaan , dan kontinuitas.

C.

Kajian Terdahulu

BAB III METODOLOGI PENELITIAN F. G. Metode Penelitian Populasi dan Sumber Data

H. I. J.

Teknik dan Alat Pengumpulan Data Teknik Analisa Data Sistematika Penulisan

MENUJU SHALAT SEMPURNA http://www.facebook.com/group.php? gid=142944711727&ref=mf Rangga Van Persie' gmn ci,sholat yg paling cempurna tch?ad yg bs kasi tw gk? February 21 at 7:35am Mahfuz Budi Pada tahap awal kita shalat tanpa sedikitpun keinginan dalam hati agar shalatnya cepatcepat selesai. Artinya tidak tergesa-gesa. Ada petunjuk praktis pada rubrik Tasawuf Bijak dalam discussion board Mahfuz Budi. Silakan kalau berminat. Devi Yulianti Pengen Sholat saya lbh khusu',,hufttt.... Ditanggapi : Muhammad Ariefin "Ya ALLOH kuatkan iman ku dalam menunaikan tugas kepadamu,jangan biarkan setan membolak balikan hatiku saat aku mulai bertakbir untuk bersujud kepadamu". Wed at 3:05pm March 1 at 8:27pm Mahfuz Budi Coba buat jeda antara gerakan yang satu dengan gerakan yang lain sebanyak dua kali tarikan nafas. Lengkapnya bisa dibaca pada discussion board Tasawuf Bijak. Insya Allah. Roy Fanstroy Gmn crax sholat qu bsa kusu' February 28 at 5:19pm

Dhara Idar Apakah shalat seorang pezina diterima Allah swt. selama dia masih melakoni profesinya tersebut? February 24 at 6:49pm Udy Sony innassholaata tanha nil fahsyaa'i wal mungkar...ssngguhx sholat itu mencegah perbuatan fasik(keji)dan mungkar...mksudx jka sholat ssorg tdk bs mencegah dirix dr brbuat keji dan mungkar,mka tdklah brguna sholatx itu... February 26 at 4:18pm Mohalli Stay Dzikir udy: betul..betul..betul.. klo masih melakukan zina berarti sholatnya masih belum benar... sholatnya masih skedar pelengkap aj.. hanya tubuhnya aj yg gerak... hatinya mati.. hatinya tdk berinteraksi dgn Alloh... February 26 at 6:45pm Pittofbjie Pitto Apakah dikatakan sempurna jika shalat yang tidak merubah Perilaku buruk seseorang.....? February 23 at 10:48am Mahfuz Budi Jawabnya pasti : belum! Vera Hidayanti ^,^ Sholat sempurna... Mau..!!! February 16 at 8:12pm Virgolia Syanie .. Ku ingin sholatku khusyu da sempurna...... February 12 at 9:32pm -Eva Ervina- Assalamu'alaikum...aq brusaha agar sholatku sLaLu khusuk tp knp ga bs?gmn carana agar sholat bs khusuk? February 12 at 3:03am Mahfuz Budi Ada petunjuk yang bisa diikuti dalam discussion board Tasawuf Bijak pada wall-nya Mahfuz Budi. Haawa' AnNissa'- Assalamu'alaykum,, af1,adakah hadits yang meriwayatkan bhwa pd saat hendak sujud,kita disunahkan untUk menurunkan tangan terlebih dahulu drpd lutut??? JazakalLahu khayran untUk jwbnya.. March 2 at 11:56am Mahfuz Budi

Wail bin Hujrin r.a. telah meriwayatkan: Nabi s.a.w. bilamana sujud, beliau terlebih dahulu meletakkan kedua lututnya sebelum kedua tangannya. Bilamana bangun ( dari sujud) , maka beliau terlebih dahulu mengangkat kedua tangannya sebelum kedua lututnya.Dan beliau sujud dengan meletakkan kening, hidung, kedua tangan, kedua lutut, serta kedua kaki bagian bawah.

Tgl 8-3-2010 : Baginda Siregar saya mau tanya nih? apa yang dimaksud dengan nur muhamad karena ada juga orang alih bilah yang untuk mengenal tuhan kita harus belajar nur muhamad,sifat dua puluh,dan asma husna jadi mana yang harus dipelajari terlibih dahulu karena saya lihat semuanya berkaitan cuman beda2 sikit ajah . Qsom Ahmad Prmisi..,nur mukhammad itu ada pd dr anda sendiri,jd kenali sj dr anda sendiri..., Yesterday at 9:44am Report Sly Katungau Yg awal dicipta oleh Allah adalah Ruh Muhammad. Ruh Muhammad dicipta dr Cahaya (Nur) zat Allah (Maksud hadis qudsi:Aku ciptakan ruh muhammad dari cahaya zat-ku). Hakikat muhammad juga dikenal sebagai nur muhammad ke(ana ia bersih dari kegelapan yg menghalangi utk dekat kepada Allah.., sebgmana yg firman Allah dlm al-quran yg bermaksud:telah datang... See More kepada mu cahaya dan kitab penerang dr Allah. Dari ruh muhammmad, maka Allah telah menciptakan ruh2 makhluk d muka bumi ini. Oleh itu ruh semua makhluk di bumi ini adalah percikkan dari ruh (nur) muhammad. (Ref: Sirrurasror; Sy. Abd Qodir al-jilani). Allahu a'lam bissowwab. Mufran Jaya hati itu ibarat cermin...kalau tidak pernah dibersihkan maka tidak dapat memantulkan bayangan yang ada di depannya..jadi supaya hati dapat menangkap semua apa yang ada..maka hati harus dibersihkan..cara membersihkan hati adalah berzikir.. Mahfuz Budi Dan zikir terbaik adalah shalat khusyu' dan thuma'ninah

Munkar Roni Nakir saat kecil aku ibadah karena takut akan neraka dan mengharap surga.tapi sekarang ibadah yg kulalkukan hanya untuk minta bimbingan Allah Belajar Praktek Tasawuf dari Bustanul Arifin Ahmad
Darwin Sitorus Camkan baik2 Syariat tanpa hakikat batal Hakikat tanpa syariat omong besar Kalau mau belajar tasawuf masuklah thariqat., karna di thariqat itu dah sekalian prakteknya, kalau tasawuf cuman teorinya saja. BERILMU TANPA DIGURUKAN, GURUNYA ADALAH SYAITAN. Rahma Indarwati berilmu tnpa di gurukan mk setan adlh gurunya.benarkah slalu bgitu?bagaimana jk seseorang menguasai ilmu krn iradat Allah?apakah konsep itu masih berlaku?bukankah guru sejati ada d dlm diri kita sendiri?

March 2 at 5:13pm Acep Coboy emang ada gitu yg dpt ilmu tanpa guru ?,kalo emang ada,berarti info baru nich. March 2 at 8:31pm ahma Indarwati ada,Alhamdulillah sy d beri ksempatan tuk berkenalan dng beliau...orang macam ini 10001 di bumi ini. March 2 at 8:49pm -Rihan AlqudsiBerilmu tanpa guru yg haq berarti gurunya adalah syaithon,kayanya sih bener juga n berlaku untuk semua tingkatan manusia sekalipun laduni. Di kitab ihya mungkin beliau lupa nulis "haq" dikit,maklum al ghozali juga kan manusia. Guru sejati ada didlm diri,tapi guru haqiqi ada di~. March 2 at 10:17pm Acep Coboy pagi maz rihan !,yup yup yup..kesimpulanya ada ilmu pasti ada guru,hehehe..berani dg niat untuk mencari yg haq adalah ibadah. March 3 at 5:26am Rihan AlqudsiPagi juga mas acep.. "Ta'atlah kpd ALLOH n ta'atlah kpd Rosul". Mas,menurut guruku sih IRODAT ALLOH terhadap makhluq telah terjadi awalnya saat di alam tulisan. Gimana menurut mas acep ? March 3 at 5:49am Acep Coboy hmmm.. Alhamdulillah,tentunya begitu,sehingga kini berlaku yg dikenal dg istilah Sunatulloh. salam buat gurumu. March 3 at 6:01am Rahma Indarwati hee...sudah ku duga bakal happy ending. Acep : sejak awal firasat sy uda mngatakn kalo anda sbenarnya tau banyak hal.anda hanya pura2 jadul az kan?anda sngaja mancing2 kan? Rihan : anda koq slalu hadir di ending crita sih?uda janjian ya ama acep? sy emg sengaja balas pancingan anda dng menggantungkn acep bgtu az,krn sy tau bakal ada aktor di balik layar yg akn buat segalanya happy ending. ha...ha...ha....huss!! (cewek koq ngakak ya?).but it's oke sy suka cara anda berdua.asik jg sih..tp ngomong2 Acep suka mancing orang,pernah balas kena pancingan wanita gak?jlas uda ya?nih uda kupancing,tp anda gak sadar kan?hee....... See More well,,makasih buat anda berdua uda bantu sy dengan cara yg beda.smoga Allah senantiasa melindungi anda berdua.amin!! sampai jumpaaaa.... March 3 at 12:38pm Qsom Ahmad Prmisi ikutn koment...,benr apa kt mbak rahma,guru sejati adalh d dalm jiwa kt masing2,secara umum memng guru kita adalh si A,si B dll...,klau ada yg mengatakn berilmu tanpa guru yg haq brarti brguru pd syetan (nafsu) itu jg benr,jd intinya smua tinggl sudt pandangnya sj dr mana..........

Acep Coboy @qsum: ma'af mas numpang nanya,kalo guru sejati yg ada dlm diri itu siapa sih sebenernya ?,truz kalo syetan dg nafsu apa bedanya ?,mohon petunjuknya ! March 3 at 10:56pm Abu Ensy "mohon maafn mo ikutn koment"...,benr apa kt mbak rahma&Qsom ahmad,guru sejati itu d dlm jiwa (biasanaya Ruh & Tengkorak manusia sudah saling berinteraksi),olh karnanya selalu dibimbing olh para malaikat & utusannya (tergantung kedudukan & derajat Ruhnya"di ketuhanan biasanya krn iradat Alla yg sudah ada dari manusia sebelum dewasa/baliqh . ... See Moremasing2,secara umum memng guru kita adalh si A,si B dll...kiasan Syariatnya yg berupa tengkorak manusianya,klau ada yg mengatakn berilmu tanpa guru yg haq brarti brguru pd syetan itu juga benar tapi bagi orng yg ber syariat, itu jg benr,jd intinya smua tergantung pada derajat manusianya/ kedudukannya dalam berilmu .......... Thu at 3:50pm Rahma Indarwati dng tegas Al qur'an membantah adax guru mursyid selain Allah..."km tak akn mndptkan seorang pemimpin pun yg dpt mberi ptunjuk...(al kahfi 18:17). Orng yg tak berguru mk gurunya adlh setan adlh kalimt yg dilontarkn oleh sufi yg tdk tahu mendudukn tasawuf pd tmpat yg sebenarx.yg benar adlah orng yg tdk prnah belajar,mnolak n lari dr ilmu dialah yg berguru pd setan. sedang yg berjln ats dasar ilmu itu berarti iman dan gurunya adlh ilmu n syariat (kutipn Syeikh Ar Rifa'i) Thu at 5:52pm Acep Coboy @qsom:salam kenal ya!, mas,ada kabar "nafsi itu awalnya fitrah" bagaimana pendapat mas ? Thu at 6:05pm Rahma Indarwati dan lg bgmn mungkin setan bs jd guru orng beriman,pdhal jlas2 setan tak bs kuasai orng beriman (An Nahl 16:99-100). Thu at 6:05pm Acep Coboy @abu ensy: salam kenal yap!. mas,kalo yg berguru itu hanya ditujukan pd bab syariat,bagai mana dg bab lainnya,apakah tanpa guru mas? Thu at 6:58pm Rahma Indarwati bung Acep,mumpung mrk masih mikir bolehkah sy yg bertanya pd anda? knp di sini smuax laki2? mana wanitanya?stiap situs tasawuf yg sy masuki knp laki smua?dan knp wali banyak yg laki2? apa sy produk cacat disini or apa nih? Thu at 7:25pm Acep Coboy @rahma:untuk pertanyaanmu..disini tak semua laki2,wanitanya ada tuhh..kalo pengen banyak wanita di jejaring ajakin donx ma kamu. kalo ga salah waliyulloh yg wanita jg

banyak dech.. yg aku tau,kamu bukan produk cacat,kamu telah diciptakanNYA dg sebaik2nya. Thu at 7:43pm Rahma Indarwati bung Acep,prtanyaan anda gak bs sy jawab...jujur az,sbenarx sy tdk prnah punya guru.jd klo rada berbau teori n menggunakn istilah2 sy g paham.Tuhan lah guru sy.buat sy mngenal Tuhan dng rasa,bukan smata dng konsep.krn prtama kali sy bs "bertemu" Tuhan.sy justru nol soal makrifat...wah panjang critax dan rada gak masuk akal.maaf ya, sy asli gak bisa jwb tuk kali ini.tp prtanyaan buat bung Qsam sy bs jwb. Thu at 8:20pm Acep Coboy @rahma:teori ada karena sebab kan?,hehe..truz tuhan manusia itu banyak,tuhan yg manakah yg kamu temui?,jgn bilang tak masuk akal,karena fungsi akal selaras dg penguasaan ilmu. Thu at 8:53pm Rahma Indarwati ah Tuhan hanya nama koq.yg sbenarnya dia adlah ZAT yg tak berhuruf,tak berbekas..Dialah zat tunggal,tmpat kita berasal dan kmbali..anda benar ttg teori.makax sy gabung di sini agar sy dpt teori.tp sy sadar klo sy harus kontrol diri agar tdk mrasa tahu.jk dah gini brati sy bertuhan pd teori.dan anda adlh salah satu perantara ilmu yg membuat sy makin... See More paham ssuatu.don't worry sy tau adab koq.sy hrs mndoakan anda krn anda jg guru zahir sy. sy pamit dulu ya..nih ada ttangga sakit malam2.sy mo k sana.wasalam. Thu at 9:18pm Acep Coboy w'as.wr.wb..aku do'akan semoga kelak kamu faham siapa DZAT MAHA TUNGGAL n siapa dzat tunggal. n semoga tetangga kamu dirahmatiNYA,amin Thu at 9:46pm Abu Ensy @Acep Coboy:yg di maksud guru syariat: guru nyata(dunia) mas bukannya gaib, yg mengajarkan semua bab mengenai islam. Fri at 9:00am Abu Ensy Rahma: tertulis anda tidak berguru maksudnya berguru syariat, & yg di maksud tuhan itu guru anda... berarti gaib, berarti yg anda pelajari itu kalo boleh saya tebak adalah ILMU KETUHANAN ya,, kalo salah berarti keilmuan apa??? Fri at 9:04am Acep Coboy @abu ensy:mas,aku pernah denger "ada seseorang belajar syariat pd ghaib" bagai mana menurut mas ? Qsom Ahmad Kang Acep..,Salm kenl jg.,Klau bicara nafsi (diri) sebnrnya fitroh,jd ingt crita Nabi Adam & Ibu Hawa,ketika mereka d syurga dia dalm keadaan fitroh knp d turnkan k dunia psti smua tau dia melanggr larangan Allah dan menjadikannya tidk fitroh lg,tp..,prnhkh kt brfikir se jagad raya ini kenikmatn Allah d berikan dg cuma2 kpd kt..,tp knp hanya se

so2k buah kuldi sj tidk boleh di makn..,(pasti mempunyai arti trsendiri),minta' penjelasan pd rekn2... Fri at 11:40am

February 27 at 11:37pm

Fri at 3:23pm

Fri at 12:20pm Yusuf Mansur Networks,1132010 Keutamaan Zuhud Dalam Kehidupan - Anti Tamak Share Yesterday at 3:28pm Zuhud bermakna mengambil sesuatu yang halal hanya sebatas keperluan. Zuhud terhadap dunia bukanlah mengharamkan yang halal dan membuang semua harta. Akan tetapi zuhud terhadap dunia adalah lebih menyakini apa yang ada di sisi Allah ketimbang apa yang ada di tangan kita. Rasulullah saw., ingin membawa para sahabatnya pada sikap zuhud, beliau memberikan panduan bagaimana seharusnya orang-orang beriman menyikapi kehidupannya di dunia. Rasulullah bersabda, Jadilah kamu di dunia seperti orang asing atau musafir.(HR Bukhari). Selanjutnya Rasulullah mencontohkan langsung kepada para sahabat dan umatnya bagaimana hidup di dunia. Beliau adalah orang yang paling rajin bekerja dan beramal shalih, paling semangat dalam ibadah, paling gigih dalam berjihad. Tetapi pada saat yang sama beliau tidak mengambil hasil dari semua jerih payahnya di dunia berupa harta dan kenikmatan dunia. Kehidupan Rasulullah saw. sangat sederhana dan bersahaja. Beliau lebih mementingkan kebahagiaan hidup di akhirat dan keridhaan Allah swt. Ibnu Masud ra. melihat Rasulullah saw. tidur di atas kain tikar yang lusuh sehingga membekas di pipinya, kemudian berkata, Wahai Rasulullah saw., bagaimana kalau saya ambilkan untukmu kasur? Maka Rasulullah saw. menjawab, Untuk apa dunia itu! Hubungan saya dengan dunia seperti pengendara yang mampir sejenak di bawah pohon, kemudian pergi dan meninggalkannya. (HR At-Tirmidzi) Keutamaan Zuhud terhadap Dunia Zuhud merupakan sifat mulia orang beriman karena tidak tertipu oleh dunia dengan segala kelezatannya baik harta, wanita, maupun tahta. Zuhud bukan berarti meninggalkan

dunia. Tapi, orang beriman beramal shalih di dunia, memakmurkan bumi, dan berbuat untuk kemaslahatan manusia, kemudian mereka meraih hasilnya di dunia berupa fasilitas dan kenikmatan yang halal di dunia. Pada saat yang sama, hati mereka tidak tertipu pada dunia. Mereka meyakini betul bahwa dunia itu tidak kekal dan akhiratlah yang lebih baik dan lebih kekal. Sehingga, orang-orang beriman beramal di dunia dengan segala kesungguhan bukan hanya untuk mendapatkan kenikmatan sesaat di dunia, tetapi untuk meraih ridha Allah dan surga-Nya di akhirat. Berikut ini ayat-ayat Al-Quran dan beberapa Hadits yang menerangkan keutamaan zuhud terhadap dunia: Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). Katakanlah: Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu? Untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya. Dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah; dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. (Ali Imran: 14-15). Rasulullah saw. bersabda, Demi Allah, bukanlah kefakiran yang aku takuti atas kalian, tetapi aku takut pada kalian dibukakannya dunia bagi kalian sebagaimana telah dibuka bagi umat sebelum kalian. Kemudian kalian berlomba-lomba sebagaimana mereka berlomba-lomba, dan menghancurkan kalian sebagaimana telah menghancurkan mereka. (Muttafaqun alaihi) Rasulullah saw. mengabarkan kepada kita bahwa didatangkan orang yang paling senang di dunia sedang dia adalah ahli neraka di hari kiamat, dicelupkan ke dalam api neraka satu kali celupan. Kemudian ditanya, Wahai anak Adam, apakah engkau pernah merasakan kebaikan? Apakah engkau merasakan kenikmatan (di dunia)? Maka dia menjawab, Tidak, demi Allah, wahai Rabbku. Kemudian didatangkan orang yang paling menderita di dunia dan dia ahli surga, dicelupkan satu kali celupan di surga. Kemudian ditanya, Wahai Anak Adam, apakah engkau pernah menderita kesulitan? Apakah lewat padamu suatu kesusahan (di dunia)? Maka ia menjawab, Tidak, demi Allah, wahai Rabbku, tidak pernah aku mengalami kesusahan dan kesulitan sedikitpun. (HR Muslim) Rasulullah bersabda, Demi Allah, perbandingan dunia dengan akhirat seperti seorang menyelupkan tangannya ke dalam lautan, lihatlah apa yang tersisa. (HR Muslim) Orang-orang fakir yang ikhlas dan tak berkeluh kesah menghadapi keadaannya adalah manusia yang paling utama. Ia tenang dan qanaah dari apa yang diterimanya atas karunia Allah. Karena itu Rasulullah saw bersabda,berbahagialah orang yang mendapatkan petunjuk kepada Islam dan kehidupannya merasa cukup (tidak menjadi beban orang lain) dan puas apa yang ada.

Rasulullah saw bersabda,wahai golongan orang-orang yang fakir, berikanlah keridhaan dari hati kamu kepada Allah pasti kamu akan mendapatkan kebahagiaan dengan pahala kefakiran. Apabila tidak kamu tidak memperolehnya. Orang fakir yang qanaah dan ikhlas akan mendapatkan pahala. Sedangkan fakir yang rakus sama sekali tidak mendapatkan pahala dari kemiskinannya itu. Diterangkan bahwa orang-orang fakir yang sabar akan duduk berkumpul dan dekat dengan Allah di hari kiamat. Rasulullah saw bersabda, sesungguhnya setiap sesuatu itu mempunyai kunci. Adapun kunci surga adalah menyintai orang-orang miskin dan orang-orang fakir, karena kesabaran mereka. Mereka adalah orang-orang yang duduk berkumpul dekat Allah pada hari kiamat. http://www.facebook.com/notes/yusuf-mansur-network/keutamaan-zuhuddalam-kehidupan-anti-tamak/384763160209

mario teguh 11032010 Sahabat saya yang baik hatinya,

Kita membangun impian di atas apa pun kualitas dari keadaan kita hari ini, dan berharap bahwa pencapaiannya akan menyelesaikan masalah-masalah kita, dan mengindahkan kehidupan kita bersama keluarga tercinta.

Tetapi, tidak sedikit dari kita yang dalam membangun keindahan impiannya, juga membayangkan penderitaan yang lebih besar jika mereka gagal dalam mengupayakan pencapaian impian-impian itu.

Dengannya, ada dua bayangan yang bersaing, dan pemenangnya selalu ditentukan oleh ketegasan pribadi kita;

yang pertama adalah bayangan indah mengenai keberhasilan, dan yang kedua adalah bayangan buruk mengenai kegagalan.

Padahal, kita menjadikan yang paling kuat menguasai pikiran dan perasaan kita.

Jika kita memikirkan dan merasakan yang buruk dan jelek sebagai kemungkinan masa depan kita, maka pikiran dan perasaan itulah yang mengkerdilkan ketegasan kita untuk memilih pergaulan dan pekerjaan yang membesarkan, yang menguatkan, dan yang meninggikan.

Maka, janganlah menjadi yang pertama dalam meragukan kemungkinan keberhasilan Anda dalam membangun peran-peran yang besar bagi pembaikan kehidupan sesama.

Anda hanya sebesar yang mungkin bagi Anda. Janganlah berkata tidak mungkin bagi yang ingin Anda capai.

Pembatasan pertama bagi yang mungkin Anda capai - dimulai dari pendapat Anda sendiri mengenai yang mungkin atau yang tidak bagi Anda.

Segera setelah Anda memutuskan sesuatu itu tidak mungkin Anda capai, Anda akan menggunakan semua kemampuan pikiran dan perasaan Anda untuk membuktikan bahwa itu tidak mungkin.

Dan hebatnya, setelah itu Anda akan memulai proses mengeluh dan mengasihani diri sendiri yang merasa tidak diperlakukan adil oleh kehidupan ini.

Maka, janganlah Anda menggunakan pikiran dan perasaan Anda sebagai pembatal kemungkinan bagi yang ingin Anda capai.

Apa pun yang Anda inginkan, mungkinkan!

...........

Sahabat saya yang besar hak-hak keberhasilan yang menyertai kelahirannya,

Tetaplah bekerja dengan sikap dan pikiran yang baik menuju kecemerlangan melalui semua kesulitan, keraguan, dan kegagalan - karena itu adalah sifat dari sebuah jiwa yang kuat.

Marilah kita memutuskan dengan lebih tegas.

Kita tidak mungkin bisa menghindari keharusan untuk memutuskan.

Semua yang kita sebut sebagai kemungkinan itu adalah hasil dari dibuatnya atau tidak dibuatnya keputusan.

Jika Anda tegas memutuskan untuk melakukan yang baik, akan ada kemungkinan untuk gagal, tetapi ada lebih besar kemungkinan untuk berhasil.

Karena,

Keberhasilan berpihak kepada pribadi yang berlaku tegas bagi kebaikannya.

Jika Anda ragu memutuskan (dan dengannya Anda TIDAK memutuskan) untuk melakukan yang Anda ketahui sebagai yang harus Anda lalukan untuk memperbaiki keadaan, akan ada kemungkinan bahwa keadaan menjadi baik dengan sendirinya, tetapi lebih besar kemungkinan bahwa Anda akan memasuki keadaan-keadaan yang lebih sulit.

Akan selalu ada kemungkinan bagi Anda, apakah Anda memutuskan atau tidak.

Karena, bukankah ragu-ragu untuk memutuskan adalah keputusan untuk menunda keputusan?

Sahabat saya yang jernih pikirannya,

Marilah kita terima dengan ikhlas, bahwa

Semua orang yang berhasil, mencapai keberhasilan mereka melalui ketegasan

untuk menjadikan diri mereka lebih kuat daripada masalah mereka.

..

Sahabat Indonesia yang super,

yang sedang menghebatkan dirinya bagi pemuliaan kehidupan diri, keluarga, dan semua yang dilayaninya,

mudah-mudahan Super Note yang bersahaja di atas dapat mendampingi kerja keras Anda hari ini.

Sesungguhnya,

Setiap jiwa dari kita berhak untuk hidup dalam keindahan impiannya, jika saja dia ikhlas menjadikan diri dan perilakunya sebagai pemandangan yang indah bagi Tuhan.

Mudah-mudahan Tuhan selalu menaungi Anda dan keluarga terkasih dalam lindungan kasih sayang-Nya yang tak berbatas.

Sampai kita berjumpa suatu ketika nanti, dan berjabat-tangan, dan mengobrol ke sana

ke mari, dan tertawa dalam kebahagiaan, dan mensyukuri persaudaraan dan persahabatan bersama jiwa-jiwa yang damai.

Mohon disampaikan salam sayang untuk keluarga Anda tercinta, dari Ibu Linna dan saya.

Loving you all as always,

Mario Teguh Founder | MTSuperClub | 081-211-56900 | For The Happiness Of Others | Jakarta

Manfaat Muhasabah

By: agussyafii

Kondisi perkembangan dewasa ini di Indonesia suhu politik yang kian memanas, ekonomi senantiasa pasang surut, fenomena alam seperti gempa, banjir, tanah longsor seolah kita tidak mampu menolaknya, belum lagi karena memang ada 'human error' dalam pengelolaan. Semua kejadian dalam keseharian sangat berpengaruh pada kemampuan kejiwaan yang terdiri, kognisi, afeksi dan konasi.

pada sisi kognisi kita dituntut mencari penyelesaian atau problem solving, pada sisi afeksi bagaimana kita mengelola emosi dan pada konasi dituntut bertindak yang

nyata. Untuk itu perlu dicoba menggunakan pendekatan 'self help' untuk mengoptimalkan kemampuan jiwa kita. Maka disinilah menjadi penting peranan muhasabah.

Muhasabah menurut Ibnu al-Qayyim berarti berhenti sejenak, disaat kita memiliki lintasan keinginan melakukan sesuatu. Pemberhentian tersebut untuk menimbang dan berpikir, apakah pekerjaan tersebut berguna atau tidak. Sementara menurut Ibnu Taimiyah berpandangan bahwa muhasabah disebut juga dengan 'self critism' atau 'self interrogation' merupakan agenda kegiatan yang dilakukan oleh seseorang setiap hari, setiap saat untuk menilai baik atau buruk, benar atau salah. Selain itu juga sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala atas segala kelimpahan karunia-Nya dan memohon ampun segala kesalahan.

Muhasabah ini menjadi sangat penting kita lakukan sebagai bentuk ketaatan kita kepada Sang Khaliq sehingga muhasabah akan memiliki manfaat dalam kehidupan sehari-hari kita diantaranya.

1. Usaha untuk meningkatkan kemampuan kecerdasan emosional kita seperti sabar dan ikhlas.

2. Meningkatkan kemampuan evaluasi diri terhadap apa dan bagaimana hari ini untuk menyiapkan hari esok. Sa'id Hawwa (1998) mengutip firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam bukunya 'Tazkiyatun Nafs' tentang keuntungan muhasabah yaitu, 'Hai

orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok. (QS. al-Hasyr:18).

3. Ibarat lampu, muhasabah adalah lampu yang menerangi dirinya sendiri dengan melalui mengingatkan dan menasehati diri sendiri, seperti firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala, 'Sesungguhnya orang yang bertaqwa bila mereka ditimpa was-was, mereka ingat Allah. Maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya (QS. al-A'raf : 201).

4. Membawa kedamaian dan ketenangan hidup.

5. Terhindar dari distress dan strain expressed.

Itulah muhasabah bagi kehidupan sehari-hari kita sangat berguna dan sangat bermanfaat sebagai salahsatu cara pemecahan masalah, kalau kita berikhtiar semua masalah akan bisa diselesaikan dengan baik. Sebagaimana Firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala, 'Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya..'(QS. al-Baqarah: 286).

Wassalam, agussyafii ---

Tulisan ini dibuat dalam rangka kampanye program Kegiatan 'Muhasabah Amalia (MUSA)' Hari Ahad, Tanggal 18 April 2010 Di Rumah Amalia. Kirimkan dukungan dan partisipasi anda di http://www.facebook.com/agussyafii2, http://www.facebook.com/agussyafii atau http://agussyafii.blogspot.com/, http://www.twitter.com/agussyafiiatau sms di 087 8777 12 431

Mario Teguh Super Note - RASAKANLAH RASA TAKUT ANDA, TETAPI TETAPLAH MELANGKAH MAJU. Share Today at 1:47pm Sahabat Indonesia yang super,

yang sedang memilihkan pikiran, rasa, dan tindakan yang paling berdampak bagi kesejahteraan, kebahagiaan, dan kecemerlangan hidupnya.

Mudah-mudahan sapa saya di siang ini mendapati Anda sedang dalam kesehatan yang prima dan kedamaian yang mendasari kesungguhan kerja Anda hari ini.

Rasa percaya diri adalah keyakinan mengenai kemampuan untuk berhasil menangani apa pun yang terjadi di masa depan.

Saya mohon Anda untuk membayangkan yang satu ini;

jika rasa takut Anda - datang menghampiri dengan jemarinya yang kejam,

rasakanlah cubitan dan pedih tusukan kuku panjang dari ketakutan-ketakutan Anda, lalu bayangkanlah hadiah yang akan diuraikan di hadapan Anda jika Anda menggagahkan diri dan tetap melangkah maju dalam penghormatan yang penuh doa kepada rencana-rencana pengindahan hidup Anda.

Rencana-rencana Anda adalah peta perjalanan kehidupan Anda.

Jangan biarkan siapa pun dan apa pun - menarik Anda keluar dari jalur yang setia kepada tuntunan kebaikan hidup Anda.

Kita hanya akan menemukan kebaikan di jalan kebaikan.

Tidak ada kebaikan di jalur lain yang selain kebaikan. Dan jika kita sedang berjalan di jalan kebaikan, apakah kira-kira tujuan dari semua janji muluk dan manis yang mengajak kita meninggalkan kebaikan?

Tetapkanlah ini di hati Anda yang baik itu, bahwa

Jika niat Anda baik, yang Anda katakan baik, dan yang Anda lakukan baik - Anda tidak mungkin salah.

Maka,

Rasakanlah cubitan dari rasa takut Anda, tetapi tetap laksanakanlah rencana Anda.

Karena, hati yang ikhlas akan mudah menerima, bahwa

Sesungguhnya keberanian adalah penunjuk tingkat iman.

Sahabat saya yang baik hatinya,

Berikut adalah Super Note yang saya susunkan bagi pemuliaan kebersamaan kita di ruang keluarga MTSC yang jujur dan saling memuliakan ini.

Please kindly enjoy, absorb, and apply.

..

MARIO TEGUH SUPER NOTE RASAKANLAH RASA TAKUT ANDA, TETAPI TETAPLAH MELANGKAH MAJU.

..

Sahabat saya bersahaja dalam kehebatannya, yang potensi kebesaran pribadinya sedang menanti pengupayaan yang ikhlas,

Marilah kita terima, bahwa

Seorang pemberani adalah juga jiwa yang penuh dengan ketakutan, tetapi yang memilih untuk melakukan yang harus dilakukannya,

karena,

Dia yang disebut berani adalah pribadi yang justru melakukan yang ditakutinya.

Perhatikanlah,

semua kehidupan yang biasa adalah kehidupan yang dibangun oleh orang-orang yang hanya bersedia melakukan yang tidak membutuhkan keberanian, yang menghindari apa pun yang menakutkan, dan yang memilihkan bagi diri mereka pekerjaan yang mudah-mudah saja.

Hanya orang yang tidak biasa, yang merasa gelisah di dalam ke-rata-rata-an hidupnya.

Dan

Tidak ada orang hebat yang akan merasa damai dalam kehidupan yang kecil.

Dia mengetahui, bahwa

Cara terbaik untuk menjadi orang rata-rata adalah bekerja dan hidup menggunakan cara-cara umum.

Jika yang umumnya adalah menghindari pekerjaan di masa muda, jangan gunakan cara itu, karena ia akan mengharuskan kita bekerja keras di masa tua - bersama banyak orang yang malas semasa muda.

Jika yang umumnya adalah mengerjakan sedikit untuk mendapatkan yang banyak, jangan gunakan cara itu, karena ia akan menjadikan kita orang tua yang bekerja keras untuk hasil yang kecil - bersama banyak orang yang biasa berlaku tidak adil kepada yang membayarnya.

Jika yang umumnya adalah malas belajar di masa muda dan mendahulukan kesenangan sementara, jangan gunakan cara itu, karena ia akan mengharuskan kita rajin minta-minta di masa tua dengan penderitaan yang rasanya seperti permanen.

Sahabat saya yang baik hatinya,

Hati Anda adalah singgasana bagi kebesaran jiwa Anda.

Tetapi, seperti semua tempat yang mulia, yang berupaya keras untuk mendudukinya adalah belum tentu yang juga mulia.

Semua perasaan berikut ini adalah anggota laskar perata-rataan hidup yang misi operasinya adalah menguasai penggunaan hati Anda,

agar Anda tidak memerankan hati Anda untuk menghebatkan kehidupan, dan agar Anda menyerahkan hati Anda bagi pelemahan keseluruhan masa kini dan masa depan Anda,

yaitu:

rasa malas, kegemaran menunda, rasa takut, keraguan, kesombongan, minder, iri hati, prasangka buruk, kesedihan, kebencian, cemooh, perasaan sebagai korban, mengasihani diri sendiri, pengabaian kasih sayang Tuhan, dan semua perasaan yang penikmatannya menjadikan kita pribadi yang sulit disukai oleh manusia dan yang menggundahkan Tuhan.

Dan,

Siapa pun yang hatinya dikuasai oleh rasa-rasa perendah kehidupan itu, sebetulnya adalah juga sutradara yang mengijinkan semua perasaan itu berperan dan berdampak.

Disadarinya atau tidak,

dialah yang mengijinkan rasa malasnya menggantikan keindahan dari kerja-kerasnya,

dialah yang mengijinkan rasa takutnya menomor-akhirkan keberserahannya kepada Tuhan Yang Maha Melindungi,

dialah yang mengijinkan kesedihannya untuk mentenagai protesnya terhadap keadilan Tuhan,

dialah yang mengobarkan prasangka buruknya kepada Tuhan yang sangat menyayanginya,

dialah yang menenggelamkan hatinya dalam kenikmatan mengasihani diri, dan menggunakannya untuk melupakan kesyahduan dari ratapan dan tangisan di pangkuan Tuhan,

dialah yang meng-kaku-kan hatinya dengan mengabaikan pengertian, bahwa

Bersama kesulitan, datang kemudahan,

yang akan mengeluarkannya dari keadaan-keadaan yang tidak membahagiakannya,

dialah yang memilihkan kesulitan sebagai pengisi hatinya, dan bukan keyakinan bahwa

Kesulitan hanyalah rasa tidak enak dari kemudahan,

yang sedang dihidangkan bagi peningkatan kualitas hidupnya.

oohh

seandainya saja kita lebih ikhlas ber-Tuhan

akan indah sekali kehidupan ini.

Tidak akan ada orang yang menyombongkan diri di atas kelemahan saudaranya, karena kita tahu bahwa Tuhan-lah yang memuliakan kita, dan bahwa tugas kita adalah menguatkan sesama,

tidak akan ada orang yang tergesa-gesa mencuri - karena khawatir akan kehabisan barang curian, karena kita tahu bahwa Tuhan-lah yang menyejahterakan kita yang jujur dan adil,

tidak akan ada orang yang memimpin dalam kepalsuan, karena kita tahu bahwa Tuhan Maha Mengetahui dan juga memiliki cara-cara yang tak terpikirkan dalam membongkar kepalsuan,

tidak akan ada pasangan hidup yang mengkhianati satu sama lain, karena kita tahu bahwa pernikahan adalah kebersamaan yang dirahmati oleh Tuhan,

tidak akan ada orang tua yang menelantarkan anak-anaknya, karena kita tahu bahwa anak adalah pembesar masa depan yang dititipkan pendidikannya kepada kita,

tidak akan ada orang yang melupakan Tuhan dalam nafas dan kesadarannya, karena kita tahu kita datang dari Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan,

tidak akan ada orang yang berpikiran buruk, karena kita tahu Tuhan mengetahui pikiran kita,

tidak akan ada orang yang berhati buruk, karena Tuhan mendengar suara hati kita,

tidak ada orang yang berperilaku buruk, karena kita tahu bahwa Tuhan menyaksikan setiap detik perilaku kita,

dan

tidak ada orang yang berlaku kejam, karena kita tahu Tuhan mengasihi jiwa yang mengasihi sesamanya,

dan dengannya

Air mata kita menerima peran utuh-nya, bukan hanya sebagai tanda luka-nya hati, tetapi terutama sebagai tanda keharuan hati yang ikhlas menyadari bahwa kita sangat dikasihi Tuhan.

Marilah kita bisikkan kepada Tuhan yang selalu hadir sangat dekat dengan bibir dan hati kita,

dengan semua kelembutan dan kemerduan suara yang ada dalam seindah-indahnya kemampuan kita,

..

Tuhan aku sangat mengasihi-Mu.

Perlakukanlah aku dengan penuh kasih.

Terangkanlah jalanku, kuatkanlah hatiku, dan lengkapilah aku dalam kekurangankekuranganku.

Cegahlah aku dari perilaku yang mengecewakan-Mu.

Isi hatiku hanyalah niat untuk membahagiakan-Mu.

Tuhan aku sangat mengasihi-Mu

..

Sahabat saya yang hatinya besar,

yang hatinya dirancang oleh Tuhan sebagai wadah bagi semua perasaan dalam kehidupannya, yang menampung semua kegembiraan dan kesedihannya, yang mewadahi semua keraguan dan ketakutannya, dan yang mewaduki semua rezeki dan keberkahan dalam hidupnya,

Janganlah pernah menyepelekan kehadiran Anda dalam kehidupan ini.

Anda sangat penting bagi Tuhan, maka janganlah siapa pun dan apa pun menyebabkan Anda mengurangi hormat Anda kepada diri sendiri.

Anda sangat dikasihi oleh Tuhan, maka janganlah kejadian apa pun membuat Anda meragukan kasih sayang dalam rencana-rencana Tuhan bagi pemuliaan kehidupan Anda.

Anda sangat diutamakan oleh Tuhan, maka janganlah pengabaian dan penyepelean oleh orang lain membuat Anda merasa tidak berhak bagi kehidupan yang baik.

Anda sangat dihargai oleh Tuhan, maka janganlah rendahnya penghargaan orang lain kepada Anda - membuat Anda menerima apa adanya dan mengabaikan upaya untuk mencapai yang pantas bagi pribadi yang sangat dihargai oleh Tuhan.

Hati Anda merindukan kedamaian yang adalah hak kelahiran Anda, dan yang dengan setia membisikkan keberpihakan kepada sikap dan cara-cara yang baik.

Tuhan merancang hati kita sebagai penentu kualitas keberadaan kita dalam kehidupan ini, dan yang menjadi penentu kemuliaan dalam kehidupan setelah kehidupan ini.

Marilah kita berdayakan hati kita untuk memuliakan kehidupan.

..

Sahabat Indonesia yang super,

yang kebaikannya secara bersama menentukan kebaikan kehidupan bangsa dan kebaikan nama negeri.

Marilah kita tetap bersahabat dalam kebenaran dan kesabaran.

Mudah-mudahan Tuhan segera mengutamakan pemuliaan kehidupan kita, dan tidak perlu lagi menguji kita dengan ujian yang bisa kita atasi, dan menguatkan kita untuk lulus dalam ujian-ujian yang lebih besar dan sulit.

Mudah-mudahan Tuhan segera langsung saja mencurahkan kesejahteraan yang sesuai dengan kejujuran kita, kedamaian yang sesuai dengan kesantunan kita, dan kemuliaan yang sesuai dengan kasih sayang kita kepada keluarga dan mereka yang kita layani.

Sampai kita bertemu suatu ketika nanti, dan berjabat-tangan, dan berbincang akrab mengenai keindahan kasih sayang dalam keluarga dan persahabatan kita, dan berandai-andai dalam rencana-rencana besar bagi pemuliaan kehidupan sesama.

Hidup ini indah sekali, jika kita memilih kebaikan sebagai warna bagi hati, aroma bagi nafas, dan langgam bagi perilaku kita.

Mohon disampaikan salam sayang untuk keluarga Anda terkasih, dari Ibu Linna dan saya.

Loving you all as always,

Mario Teguh 1132010

Daftar Kepustakaan

Al Rasyidin (ed.), Pendidikan dan Psikologi Islami, (Bandung : Citapustaka Media, 2007).

Al Rasyidin, Pendidikan Nilai : Menegakkan Kembali Pendidikan Akhlak, dalam Al Rasyidin (ed.), Pendidikan dan Psikologi Islami, (Bandung : Citapustaka Media, 2007). Al Rasyidin, Rekonstruksi Filsafat Pendidikan, Jurnal Analytica Islamica, Vol 7, No.1, 2005. Asari, Hasan, Posmodernisme dan Pembinaan Akhlak di PTAI : Sebuah Ikhtiar Meracik Strategi, dalam Al-Rasyidin (ed.), Pendidikan dan Psikologi Islami (Bandung : Citapustaka Media, 2007). Kartanegara, Mulyadhi, Menyibak Tirai Kejahilan, Pengantar Epistemologi Islam, (Bandung : Mizan, 2003). Muhammad al-Hasan, Yusuf, Pendidikan Anak dalam Islam, MSI-UII.Net, 20-02-2008 dalam www.alsofwah.or.id. Shahih Muslim, jilid 1. Tim Penyusun, Kamus Bahasa Indonesia, (Jakarta : Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, 2008). Undang-undang No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. W. Suprayetno, Tantangan Psikologis Era Reformasi dalam Penegakan Jati Diri Muslim Indonesia, dalam Al Rasyidin, (ed.), Pendidikan dan Psikologi Islami, (Bandung : Citapustaka Media, 2007).

Situs

http://www.facebook.com/pages/Mario-Teguh/52472954880?ref=search&sid= 1000006 81326 206. 4182938662..1#!/pages/Mario-Teguh/52472954880?v=info&ref=search. http://www.facebook. com/pages/Mukjizat-Sholat-Dan-Doa/246320798295?ref=mf. http://www.facebook.com/pages/Purwokerto-Indonesia /Terapi-Penyembuhan-MelaluiSholat-Tahajud/92174189254?ref=mf. http://www.facebook.com/? sk=messages&tid=1333757256745#!/pages/Tanggerang/Yusuf-Mansur-Network 10905 6501839 ?ref=mf. http://www.facebook.com/search/?q=arifin+ilham&init=quick#!/kh.muhammad.arifin. ilham?ref =search &sid=100000681326206.2476069804..1, http://www.MarioTeguh.asia. /