Anda di halaman 1dari 16

Menikahi Wanita Hamil

TUGAS MATA KULIAH MASAILUL FIQH

DISUSUN OLEH:
Eka Lusiandani Koncara

SEMESTER 7 PAI
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM DR. KHEZ. MUTTAQIEN
PURWAKARTA
2008/2009
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT, akhirnya


kami bisa menyelesaikan tugas makalah yang berjudul “Menikahi Wanita Hamil”
ini tanpa menemukan hambatan sedikitpun.
Makalah ini kami susun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah
Masailul Fiqh.
Kami menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan makalah
ini, maka untuk itu kami mohon kritik dan saran kepada semua pihak, terutama
dosen pembimbing yang telah setia membimbing kami selama ini.
Terima kasih banyak kami haturkan kepada semua pihak yang telah
berpartisipasi hingga selesainya penyusunan tugas makalah ini.
Semoga bermanfaat...

Purwakarta, Januari 2009

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................... i


DAFTAR ISI ........................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN ..................................................................................... 1


BAB II MENIKAHI WANITA HAMIL ................................................................... 3
BAB III PENUTUP ............................................................................................... 13

DAFTAR PUSTAKA................................................................................................ 14

ii
BAB I
PENDAHULUAN

Tentang hamil diluar nikah sendiri sudah kita ketahui sebagai perbuatan
zina baik oleh pria yang menghamilinya maupun wanita yang hamil. Dan itu
merupakan dosa besar. Persoalannya adalah bolehkah menikahkan wanita yang
hamil karena zina? Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini, ada yang
secara ketat tidak memperbolehkan, ada pula yang menekankan pada
penyelesaian masalah tanpa mengurangi kehati-hatian mereka. Sejalan dengan
sikap para ulama itu, ketentuan hukum Islam menjaga batas-batas pergaulan
masyarakat yang sopan dan memberikan ketenangan dan rasa aman. Patuh
terhadap ketentuan hukum Islam, insya Allah akan mewujudkan kemaslahatan
dalam masyarakat.
Dalam Impres No. 1 Tahun 1991 tentang penyebarluasan Kompilasi
Hukum Islam (KHI), Bab VIII Kawin Hamil sama dengan persoalan menikahkan
wanita hamil. Pasal 53 dari BAB tersebut berisi tiga(3) ayat , yaitu :
1. Seorang wanita hamil di laur nikah, dapat dinikahkan dengan pria yang
menghamilinya.
2. Perkawinan dengan wanita hamil yang disebut pada ayat (1) dapat
dilangsungkan tanpa menunggu lebih dulu kelahiran anaknya.
3. Dengan dilangsungkan perkawinan pada saat wanita hamil, tidak diperlukan
perkawinan ulang setelah anak yang dikandung lahir.
Persoalan menikahkan wanita hamil apabila dilihat dari KHI,
penyelesaiaanya jelas dan sederhana cukup dengan satu pasal dan tiga ayat.
Yang menikahi wanita hamil adalah pria yang menghamilinya, hal ini termasuk
penangkalan terhadap terjadinya pergaulan bebas, juga dalam pertunangan.
Asas pembolehan pernikahan wanita hamil ini dimaksudkan untuk memberi
perlindungan kepastian hukum kepada anak yang ada dalam kandungan, dan
logikanya untuk mengakhiri status anak zina.

1
Dalam kasus wanita hamil yang akan menikah dengan laki-laki lain yang
tidak menghamilinya, ada dua pendapat yaitu :
pertama, harus menunggu sampai kelahiran anak yang dikandung wanita
tersebut. Dan status anak yang dilahirkan kelak, dapat dianggap sebagai anak
laki-laki yang mengawini wanita tersebut dengan kesepakatan kedua belah
pihak.
Kedua, siapapun pria yang mengawini dianggap benar sebagai pria yang
menghamili, kecuali wanita tersebut menyanggahnya. Ini pendapat ulama Hanafi
yang menyatakan bahwa menetapkan adanya nasab (keturunan) terhadap
seorang anak adalah lebih baik dibanding dengan menganggap seorang anak
tanpa keturunan alias anak haram.
Perkawinan dalam kasus ini dapat dilangsungkan tanpa menunggu
kelahiran bayi, dan anak yang dikandung dianggap mempunyai hubungan darah
dan hukum yang sah dengan pria yang mengawini wanita tersebut. Di sinilah
letak kompromistis antara hukum Islam dan hukum adat dengan menimbang
pada kemaslahatan, aspek sosiologis dan psikologis.
Sebagai akhir dari penjelasan ini adalah pembolehan Jumhur ulama
berdasar pada hadis 'Aisyah dari Ath-Thobary dan ad-Daruquthny, sesungguhnya
Rasulullah SAW ditanya tentang seorang laki-laki yang berzina dengan seorang
perempuan dan ia mau mengawininya. Beliau berkata:"Awalnya zina akhirnya
nikah, dan yang haram itu tidak mengharamkan yang halal."Sahabat yang
mebolehkan nikah wanita berzina adalah Abu Bakar, Umar, Ibnu Abbas yang
disebut madzab Jumhur. (Ali Assobuny/I/hlm49-50).

2
BAB II
MENIKAHI WANITA HAMIL

Untuk menghindari aib maksiat hamil di luar nikah, terkadang masyarakat


kita justru sering menutupinya dengan maksiat lagi yang berlipat-lipat dan
berkepanjangan yang semuanya itu karena kurangnya pemahaman ajaran Islam
di dalam setiap keluarga di Indonesia). Bila seorang laki-laki menghamili wanita,
dia menikahinya dalam keadaan si wanita sedang hamil atau meminjam orang
untuk menikahi-nya dengan dalih untuk menutupi aib, nah apakah pernikahan
yang mereka lakukan itu sah dan apakah anak yang mereka akui itu anak sah
atau dia itu tidak memiliki ayah ?

A. Status Pernihakan
Wanita yang hamil karena perbuatan zina tidak boleh dinikahkan, baik
dengan laki-laki yang menghamilinya atau pun dengan laki-laki lain kecuali bila
memenuhi dua syarat.
1. Dia dan si laki-laki taubat dari perbuatan zinanya. Hal ini dikarenakan Allah
Subhanahu wa Ta’ala telah mengharamkan menikah dengan wanita atau laki-
laki yang berzina, Dia Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Laki-laki yang berzina
tidak mengawini, kecuali perempuan yang berzina, atau perempuan yang
musyrik dan perempuan yang berzina tidak dikawini, melainkan oleh laki-laki
yang berzina atau laki-laki musyrik dan yang demikian itu, diharamkan atas
orang-orang yang mu?min.” (QS: An Nur : 3.)
Syaikh Al-Utsaimin berkata, “Kita mengambil dari ayat ini satu hukum yaitu
haramnya menikahi wanita yang berzina dan haramnya menikahkan laki-laki
yang berzina, dengan arti, bahwa seseorang tidak boleh menikahi wanita itu
dan si laki-laki itu tidak boleh bagi seseorang (wali) menikahkannya kepada
putri-nya.”

3
Bila seseorang telah mengetahui, bahwa pernikahan ini haram dilakukan
namun dia memaksakan dan melanggarnya, maka pernikahannya tidak sah
dan bila melakukan hubungan, maka hubungan itu adalah perzinahan. Bila
terjadi kehamilan, maka si anak tidak dinasabkan kepada laki-laki itu atau
dengan kata lain, anak itu tidak memiliki bapak. Orang yang menghalalkan
pernikahan semacam ini, padahal dia tahu bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala
telah mengharamkannya, maka dia dihukumi sebagai orang musyrik. Allah
Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Apakah mereka mempunyai sembahan-
sembahan (sekutu) selain Allah yang mensyari?atkan untuk mereka agama
yang tidak diizinkan Allah” (QS: Asy Syruraa : 21)
Di dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan orang-orang yang
membuat syari’at bagi hamba-hamba-Nya sebagai sekutu, berarti orang yang
menghalalkan nikah dengan wanita pezina sebelum taubat adalah orang
musyrik.
Namun, bila sudah bertaubat, maka halal menikahinya, tentunya bila syarat
ke dua berikut terpenuhi.
2. Dia harus beristibra (menunggu kosongnya rahim) dengan satu kali haidl, bila
tidak hamil, dan bila ternyata hamil, maka sampai melahir-kan
kandungannya.
Rasulullah bersabda: “Tidak boleh digauli (budak) yang sedang hamil, sampai
ia melahir-kan dan (tidak boleh digauli) yang tidak hamil, sampai dia
beristibra? dengan satu kali haid. “ (Lihat Mukhtashar Ma\’alimis Sunan 3/74,
Kitab Nikah, Bab : Menggauli Tawanan (yang dijadikan budak), Al Mundziriy
berkata : Di Dalam isnadnya ada Syuraik Al Qadliy, dan Al Arnauth menukil
dari Al Hafidz Ibnu Hajar dalam At Talkhish : Bahwa isnadnya hasan, dan
dishahihkan oleh Al Hakim sesuai syarat Muslim. Dan hadits ini banyak
jalurnya sehingga dengan semua jalan-jalannya menjadi kuat dan
shahih.(Lihat Taisir Fiqhi catatan kakinya 2/851.) )

4
Di dalam hadits di atas, Rasulullah melarang menggauli budak dari tawanan
perang yang sedang hamil sampai melahirkan dan yang tidak hamil ditunggu
satu kali haidl, padahal budak itu sudah menjadi miliknya.
Juga sabdanya: Artinya, “Tidak halal bagi orang yang beriman kepada Allah
dan Hari Akhir, dia menuangkan air (maninya) pada semaian orang lain.”
(Abu Dawud, lihat, Artinya: ‘alimus Sunan 3/75-76.)
Mungkin sebagian orang mengatakan, bahwa yang dirahim itu adalah
anak yang terbentuk dari air mani si laki-laki yang menzinainya yang hendak
menikahinya. Jawabnya adalah apa yang dikatakan oleh Al Imam Muhammad
Ibnu Ibrahim Al Asyaikh , “Tidak boleh menikahi-nya sampai dia taubat dan
selesai dari ?iddahnya dengan melahirkan kandung-annya, karena perbedaan
dua air (mani), najis dan suci, baik dan buruk dan karena bedanya status
menggauli dari sisi halal dan haram.”
Ulama-ulama yang tergabung dalam Al-Lajnah Ad-Daimah menga-takan,
?Dan bila dia (laki-laki yang menzinainya setelah dia taubat) ingin menikahinya,
maka dia wajib menung-gu wanita itu beristibra? dengan satu kali haidl sebelum
melangsungkan akad nikah dan bila ternyata dia hamil, maka tidak boleh
melangsungkan akad nikah dengannya, kecuali setelah dia melahirkan
kandungannya, berdasar-kan hadits Nabi yang melarang seseorang menuangkan
air (maninya) di persemaian orang lain.
Bila seseorang nekad menikahkan putrinya yang telah berzina tanpa beristibra
terlebih dahulu, sedangkan dia tahu bahwa pernikahan itu tidak boleh dan si laki-
laki serta si wanita juga mengetahui bahwa itu adalah haram, maka
pernikahannya itu tidak sah. Bila keduanya melakukan hubungan badan maka itu
adalah zina. Dia harus taubat dan pernikahannya harus diulangi, bila telah selesai
istibra? dengan satu kali haidh dari hubungan badan yang terakhir atau setelah
melahirkan.

5
B. Status Anak Hasil Hubungan di Luar Nikah
Semua madzhab yang empat (Madzhab Hanafi, Malikiy, Syafi’i dan
Hambali) telah sepakat bahwa anak hasil zina itu tidak memiliki nasab dari pihak
laki-laki, dalam arti dia itu tidak memiliki bapak, meskipun si laki-laki yang
menzinahinya dan yang menaburkan benih itu mengaku bahwa dia itu anaknya.
Pengakuan ini tidak dianggap, karena anak tersebut hasil hubungan di luar nikah.
Di dalam hal ini, sama saja baik si wanita yang dizinai itu bersuami atau pun tidak
bersuami.
Jadi anak itu tidak berbapak. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah
Shallallaahu alaihi wa Sallam yang artinya: Anak itu bagi (pemilik) firasy dan bagi
laki-laki pezina adalah batu (kerugian dan penyesalan).
Firasy adalah tempat tidur dan di sini maksudnya adalah si istri yang
pernah digauli suaminya atau budak wanita yang telah digauli tuannya, keduanya
dinamakan firasy karena si suami atau si tuan menggaulinya atau tidur
bersamanya. Sedangkan makna hadits tersebut yakni anak itu dinasabkan
kepada pemilik firasy. Namun karena si pezina itu bukan suami maka anaknya
tidak dinasabkan kepadanya dan dia hanya mendapatkan kekecewaan dan
penyesalan saja.
Dikatakan di dalam kitab Al-Mabsuth, seorang laki-laki mengaku berzina
dengan seorang wanita merdeka dan (dia mengakui) bahwa anak ini anak dari
hasil zina dan si wanita membenarkannya, maka nasab (si anak itu) tidak terkait
dengannya, berdasarkan sabda Rasulullah Shalallahu 'alaihi Wa sallam : Artinya
anak itu bagi pemilik firasy, dan bagi laki-laki pezina adalah batu (kerugian dan
penyesalan.
Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam telah menjadikan kerugian dan
penyesalan bagi si laki-laki pezina, yaitu maksudnya tidak ada hak nasab bagi si
laki-laki pezina, sedangkan penafian (peniadaan) nasab itu adalah murni hak
Allah Subhanahu wa Ta'ala.

6
Ibnu Abdil Barr berkata, Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda,
“Dan bagi laki-laki pezina adalah batu (kerugian dan penyesalan). Maka beliau
menafikan (meniadakan) adanya nasab anak zina di dalam Islam.
Oleh karena itu anak hasil zina itu tidak dinasabkan kepada laki-laki yang
berzina maka: anak itu tidak berbapak. Anak itu tidak saling mewarisi dengan
laki-laki itu. Bila anak itu perempuan dan di kala dewasa ingin menikah, maka
walinya adalah wali hakim, karena dia itu tidak memiliki wali.
Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda, Artinya: Maka sulthan (pihak
yang berwenang) adalah wali bagi orang yang tidak memiliki wali.
Satu masalah lagi yaitu bila si wanita yang dizinahi itu dinikahi sebelum
beristibra? dengan satu kali haidh, lalu digauli dan hamil terus melahirkan anak,
atau dinikahi sewaktu hamil, kemudian setelah anak hasil perzinahan itu lahir,
wanita itu hamil lagi dari pernikahan yang telah dijelaskan di muka bahwa
pernikahan ini adalah haram atau tidak sah, maka bagaimana status anak yang
baru terlahir itu?
Bila si orang itu meyakini bahwa pernikahannya itu sah, baik karena taqlid
kepada orang yang membolehkannya atau dia tidak mengetahui bahwa
pernikahannya itu tidak sah, maka status anak yang terlahir akibat pernikahan itu
adalah anaknya dan dinasabkan kepadanya, sebagaimana yang diisyaratkan oleh
Ibnu Qudamah tentang pernikahan wanita di masa ?iddahnya di saat mereka
tidak mengetahui bahwa pernikahan itu tidak sah atau karena mereka tidak
mengetahui bahwa wanita itu sedang dalam masa ?iddahnya, maka anak yang
terlahir itu tetap dinisbatkan kepadanya padahal pernikahan di masa. Iddah itu
batal dengan ijma para ulama, berarti penetapan nasab hasil pernikahan di atas
adalah lebih berhak.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan hal serupa,
beliau berkata, “Barangsiapa menggauli wanita dengan keadaan yang dia yakini
pernikahan (yang sah), maka nasab (anak) diikutkan kepadanya, dan dengannya
berkaitanlah masalah mushaharah (kekerabatan) dengan kesepakatan ulama

7
sesuai yang saya ketahui, meskipun pada hakikatnya pernikahan itu batil di
hadapan Allah dan RasulNya, dan begitu juga setiap hubungan badan yang dia
yakini tidak haram padahal sebenarnya haram, (maka nasabnya tetap diikutkan
kepadanya)”
Semoga orang yang keliru menyadari kekeliruannya dan kembali taubat
kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, sesungguhnya Dia Maha luas ampunannya
dan Maha berat siksanya. (Abu Sulaiman).

C. Hukum Menikahi Wanita Hamil Karena Berzina


Menikahi wanita yang sedang dalam keadaan hamil hukumnya ada dua.
Yang pertama, hukumnya haram. Yang kedua, hukumnya boleh.
Yang hukumnya haram adalah apabila yang menikahi bukan orang yang
menghamili. Wanita itu dihamili oleh A, sedangkan yang menikahinya B.
Hukumnya haram sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
Tidak halal bagi orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, dia
menuangkan air (maninya) padatanaman orang lain. (HR Abu Daud)
Yang dimaksud dengan tanaman orang lain maksudnya haram melakukan
persetubuhan dengan wanita yang sudah dihamili orang lain. Baik hamilnya
karena zina atau pun karena hubungan suami isteri yang sah. Pendeknya, bila
seorang wanita sedang hamil, maka haram untuk disetubuhi oleh laki-laki lain,
kecuali laki-laki yang menyetubuhinya.
Dari dalil di atas kita mendapatkan hukum yang kedua, yaitu yang
hukumnya boleh. Yaitu wanita hamil karena zina dinikahi oleh pasangan zina
yang menghamilinya. Hukumnya boleh dan tidak dilarang.
Maka seorang laki-laki menikahi pasangan zinanya yang terlanjur hamil
dibolehkan, asalkan yang menyetubuhinya (mengawininya) adalah benar-
benardirinya sebagai laki-lakiyang menghamilinya, bukan orang lain.

8
D. Perbedaan Pendapat Tentang Kebolehan Menikahinya
Memang ada sebagian pendapat yang mengharamkan menikahi wanita
yang pernah dizinainya sendiri dengan berdalil kepada ayat Al-Quran Al-Kariem
berikut ini:
Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang
berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak
dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang
demikian itu diharamkan atas oran-orang yang mu'min. (QS. An-Nur: 3)
Namun kalau kita teliti, rupanya yang mengharamkan hanya sebagian
kecil saja. Selebihnya, mayoritas para ulama membolehkan.
1. Pendapat Jumhur (mayoritas) ulama
Jumhurul fuqaha' (mayoritas ahli fiqih) mengatakan bahwa yang
dipahami dari ayat tersebut bukanlah mengharamkan untuk menikahi wanita
yang pernah berzina. Bahkan mereka membolehkan menikahi wanita yang
pezina sekalipun. Lalu bagaimana dengan lafaz ayat yang zahirnya
mengharamkan itu?
Para fuqaha memiliki tiga alasan dalam hal ini.
Dalam hal ini mereka mengatakan bahwa lafaz 'hurrima' atau diharamkan
di dalam ayat itu bukanlah pengharaman namun tanzih (dibenci).
Selain itu mereka beralasan bahwa kalaulah memang diharamkan, maka
lebih kepada kasus yang khusus saat ayat itu diturunkan.
Mereka mengatakan bahwa ayat itu telah dibatalkan ketentuan
hukumnya (dinasakh) dengan ayat lainnya yaitu:
Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian di antara kamu, dan
orang-orang yang layak dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan
hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan
memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas lagi Maha
Mengetahui.(QS. An-Nur: 32).

9
Pendapat ini juga merupakan pendapat Abu Bakar As-Shiddiq dan
Umar bin Al-Khattab radhiyallahu 'anhuma. Mereka membolehkan seseorang
untuk menikahi wanita pezina. Dan bahwa seseorang pernah berzina tidaklah
mengharamkan dirinya dari menikah secara syah.
Pendapat mereka ini dikuatkan dengan hadits berikut:
Dari Aisyah ra berkata, "Rasulullah SAW pernah ditanya tentang
seseorang yang berzina dengan seorang wanita dan berniat untuk
menikahinya, lalu beliau bersabda, "Awalnya perbuatan kotor dan akhirnya
nikah. Sesuatu yang haram tidak bisa mengharamkan yang halal." (HR
Tabarany dan Daruquthuny).
Dan hadits berikut ini:
Seseorang bertanya kepada Rasulullah SAW, "Isteriku ini seorang
yang suka berzina." Beliau menjawab, "Ceraikan dia!." "Tapi aku takut
memberatkan diriku." "Kalau begitu mut'ahilah dia." (HR Abu Daud dan An-
Nasa'i)
Selain itu juga ada hadits berikut ini
Dimasa lalu seorang bertanya kepada Ibnu Abbas ra, "Aku melakukan
zina dengan seorang wanita, lalu aku diberikan rizki Allah dengan bertaubat.
Setelah itu aku ingin menikahinya, namun orang-orang berkata (sambil
menyitir ayat Allah), "Seorang pezina tidak menikah kecuali dengan pezina
juga atau dengan musyrik'. Lalu Ibnu Abbas berkata, "Ayat itu bukan untuk
kasus itu. Nikahilah dia, bila ada dosa maka aku yang menanggungnya." (HR
Ibnu Hibban dan Abu Hatim)
Ibnu Umar ditanya tentang seorang laki-laki yang berzina dengan
seorang wanita, bolehkan setelah itu menikahinya? Ibnu Umar menjawab,
"Ya, bila keduanya bertaubat dan memperbaiki diri."
2. Pendapat Yang Mengharamkan
Sebagian kecil ulama ada yang berpendapat untuk mengharamkan
tindakan menikahi wanita yang pernah dizinainya sendiri. Paling tidak

10
tercatat ada Aisyah, Ali bin Abi Thalib, Al-Barra' dan Ibnu Mas'ud radhiyallahu
'anhum ajmain.
Mereka mengatakan bahwa seorang laki-laki yang menzinai wanita
maka dia diharamkan untuk menikahinya. Begitu juga seorang wanita yang
pernah berzina dengan laki-laki lain, maka dia diharamkan untuk dinikahi
oleh laki-laki yang baik (bukan pezina).
Bahkan Ali bin Abi Thalib mengatakan bahwa bila seorang isteri
berzina, maka wajiblah pasangan itu diceraikan. Begitu juga bila yang berzina
adalah pihak suami. Tentu saja dalil mereka adalah zahir ayat yang kami
sebutkan di atas (aN-Nur: 3).
Selain itu mereka juga berdalil dengan hadits dayyuts, yaitu orang
yang tidak punya rasa cemburu bila isterinya serong dan tetap
menjadikannya sebagai isteri.
Dari Ammar bin Yasir bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Tidak akan
masuk surga suami yang dayyuts." (HR Abu Daud)
Di antara tokoh di zaman sekarang yang ikut mengharamkan adalah
Syeikh Al-Utsaimin rahmahullah.
3. Pendapat Pertengahan
Sedangkan pendapat yang pertengahan adalah pendapat Imam
Ahmad bin Hanbal. Beliau mengharamkan seseorang menikah dengan wanita
yang masih suka berzina dan belum bertaubat. Kalaupun mereka menikah,
maka nikahnya tidak syah.
Namun bila wanita itu sudah berhenti dari dosanya dan bertaubat,
maka tidak ada larangan untuk menikahinya. Dan bila mereka menikah, maka
nikahnya syah secara syar'i.
Nampaknya pendapat ini agak menengah dan sesuai dengan asas
prikemanusiaan. Karena seseorang yang sudah bertaubat berhak untuk bisa
hidup normal dan mendapatkan pasangan yang baik.

11
Lalu, karena penegakan syariah dan hukum hudud hanya bisa
dilakukan oleh ulil amri (pemerintah) maka hukum rajam, cambuk, dan yang
lain belum bisa dilakukan. Sebagai gantinya, tobat dari zina bisa dengan
penyesalan, meninggalkan perbuatan tersebut, dan bertekad untuk tidak
mengulangi.
Dan hukum pernikahan di antara mereka sudah sah, asalkan telah
terpenuhi syarat dan rukunnya. Harus ada ijab qabul yang dilakukan oleh
suami dengan ayah kandung si wanita disertai keberadaan 2 orang saksi laki-
laki yang akil, baligh, merdeka, dan 'adil.

E. Pernikahan Tidak Perlu Diulang


Kalau kita mengunakan pendapat mayoritas ulama yang mengatakan
pernikahan mereka sah, maka karena akad nikah mereka sudah sah, sebenarnya
tidak ada lagi keharusan untuk mengulangi akad nikah setelah bayinya lahir.
Karena pada hakikatnya pernikahan mereka sudah sah. Tidak perlu lagi ada
pernikahan ulang.
Buat apa diulang kalau pernikahan mereka sudah sah. Dan sejak mereka
menikah, tentunya mereka telah melakukan hubungan suami isteri secara sah.
Hukumnya bukan zina.

12
BAB III
PENUTUP

Menurut pendapat Imam Syafi'I, menikah dengan wanita yang hamil dari
perzinaan boleh dan sah dengan menetapi persyaratan, yaitu dengan
mendatangkan 2 saksi dan wali. Juga disunnahkan mengadakan walimah.
Demikian juga menurut Hanafiyah, hanya saja, menurut madzhab ini, sang suami
tidak diperbolehkan mengumpuli istrinya hingga ia melahirkan anaknya.
Perbedaan madzhab-madzhab ini, jika sang suami bukan lelaki yang berbuat zina
kepada wanita tersebut. Apabila sang suami adalah orang yang berbuar zina
kepada sang wanita, maka semuanya sepakat memperbolehkan pernikahan
tersebut. Baik wanitanya hamil atau tidak. Akan tetapi semua itu tidak
mengurangi dosa zina.
Ia hanya bisa ditebus dengan penyesalan dan taubat yang sungguh-
sungguh. Imam Ahmad mensyaratakan taubat yang sungguh-sungguh bagi
diperbolehkannya kawin dengan orang-orang yang berbuat zina.
Adapun masalah status anak, jika anak ini lahir 6 bulan setelah akad
nikah, maka si anak sah dinasabkan pada si bapak.
Namun jika bayi lahir sebelum bulan keenam setelah pernikahan, maka
anak ini tidak bisa langsung dinasabkan pada Bapaknya, kecuali jika si Bapak
menyatakan secara tegas bahwa si anak memang benar-benar dari darah
dagingnya

13