Anda di halaman 1dari 4

Riezki Amalia Sri Hartati

130112100097 130112100172

BST 1 : STROKE
Keterangan Umum Nama : Umur : Alamat : Pendidikan : Pekerjaan : Tanggal MRS : Elah Kurniasih 48 tahun Cibodas, Majalaya SD Ibu Rumah Tangga 17 November 2010

Anamnesis Pasien datang dengan keluhan lemas wajah dan anggota gerak kiri. Keluhan muncul tibatiba sejak 2 hari SMRS, saat pasien sedang mencuci pakaian. Pada saat kejadian, lengan hanya dapat digeser dan tungkai masih dapat diangkat tetapi terjatuh kembali. Pasien kemudian dibopong ke kamar oleh anggota keluarganya. Pada saat ini, pasien merasakan lengan dan kaki kirinya berat dan sulit untuk digerakkan, kesemutan juga dirasakan di bagian lengan, mulutnya mencong ke kanan, dan bicara rero. Keluhan disertai gejala lain seperti nyeri kepala, mual, pandangan berkunang-kunang dan buram, dan sulit buang air besar. Keluhan tersedak, pandangan ganda, gelap sesaat, pusing berputar, sulit menahan buang air kecil, dan sesak disangkal. Pasien memiliki riwayat hipertensi sejak lebih dari 10 tahun yang lalu dengan keluhan sering pusing. Keluhan hipertensi sempat diobati dengan captopril dan kontrol rutin namun pengobatan terhenti. Sebelumnya pasien belum pernah mengalami keluhan serupa. Riwayat penyakit jantung, kencing manis, merokok dan trauma disangkal. Riwayat keluhan yang sama pada anggota keluarga lain diakui, yaitu orang tua pasien yang juga memiliki riwayat hipertensi dan penyakit jantung. Riwayat alergi obat disangkal. Saat ini pasien sedang mengkonsumsi obat-obatan seperti captopril dan diltiazem. Pasien memiliki suami yang bekerja sebagai buruh pabrik dan 6 orang anak yang 2 di antaranya masih bersekolah. Rumah pasien bertingkat dan kamar pasien berada di lantai bawah, kamar mandi berada di dalam rumah dengan toilet jongkok, makan menggunakan tangan kanan, mengenakan baju dengan dibantu, dan pasien terbiasa memasak sendiri, sumber air di rumah berupa sumur pompa. Pemeriksaan Fisik Mobilisasi : berbaring-duduk Keadaan umum : Tensi : 180/100 mmHg Nadi : 80x/menit Kesadaran : compos mentis Komunikasi : Ekspresif :baik Reseptif : baik Pemeriksaan Neurologis CN VII : parese sinistra, sentral

CN IX/X : disartria CN XII : parese sinistra, sentral Pemeriksaan Motorik : 5 4 5 3 RF : normal RP : Babinski -/+, Chaddock -/-, Hoffman Tromner -/-, Klonus Achilles -/+ Pemeriksaan sensoris dangkal : 100 90 100 90 Propriosepsi : Normal Pemeriksaan fungsi otonom : Normal Pemeriksaan Psikologis Pemeriksaan Fungsi Mental Pemeriksaan Fungsional Aktivitas hidup sehari-hari Kegiatan rumah tangga : baik : baik

: terganggu : terganggu

Status Aktivitas Psikososial : baik Komunitas : tidak diketahui Vokasional : sebagai Ibu rumah tangga Diagnosis Kerja Medis : Stroke e.c Perdarahan Intraserebral (PIS) sistem karotis kanan FR hipertensi Rehabilitasi : Impairment : Hemiparesis sinistra, parese sentral CN VII, dan CN XII sinistra Disability : Sulit berjalan, mulut mencong ke kanan, lidah deviasi ke kanan Handicap : Peran sebagai ibu rumah tangga terganggu Manajemen 1. Medikal 2. Pencegahan a. Primer b. Sekunder (Program Rehabilitasi) Edukasi Proper bed positioning Turning setiap 2 jam AROM AG kanan AAROM AG kanan Terapi okupasi 3. Promotif : edukasi Prognosis Quo ad vitam Quo ad sanationam Quo ad functionam

: ad bonam : dubia ad bonam : dubia ad bonam

PEMBAHASAN
1. Mengapa pasien ini didiagnosis stroke ec PIS system karotis kanan fr hipertensi? Stroke adalah defisit neurologis baik fokal maupun global yang disebabkan oleh gangguan pembuluh darah otak dalam waktu lebih dari 24 jam dengan tidak ada penyebab lain selain penyakit serebrovaskular. Klasifikasi stroke berdasarkan 3 hal yaitu waktu, patologi, dan lokasi. Berdasarkan waktu yaitu improving stroke, sembuh sempurna dalam waktu 24 jam-3 minggu worsening stroke, bertambah berat secara kualitatif dan kuantitatif di mana pada system karotis terjadi <24 jam dan system vertebrobasiler >72 jam stable stroke, tidak berubah sama sekali atau sedikit sekali perubahan Berdasarkan patologi yaitu infark yang terbagi lagi menjadi aterotrombotik dan kardioemboli pendarahan yang terbagi menjadi pendarahan intraserebral dan subarakhnoid Berdasarkan lokasi yaitu sistem karotis sistem vertebrobasiler Faktor risiko terjadinya stroke berupa faktor non-modifiable dan modifiable (major dan minor). Faktor risiko non-modifiable seperti usia, jenis kelamin, riwayat stroke/TIA, dan riwayat keluarga dengan stroke. Faktor risiko modifiable yaitu faktor mayor berupa hipertensi, penyakit jantung dan diabetes melitus serta faktor minor yang berupa hiperlipidemia, rokok, alcohol, dan obesitas. Pada pasien ini terjadi defisit neurologis pada wajah dan ekstremitas bagian kiri berupa kelemahan dan hipestesia, keluhan dirasakan pasien secara mendadak dan selama lebih dari 24 jam sehingga diagnosisnya adalah stroke. Stroke pada pasien ini disebabkan perdarahan intraserebral berdasarkan riwayat hipertensi yang dialaminya selama lebih dari 10 tahun, adanya keluhan sakit kepala dan mual yang merupakan tanda tekanan tinggi intrakranial yang dapat disebabkan oleh pendarahan, dan keluhan muncul saat pasien sedang beraktivitas yaitu mencuci pakaian. Pasien juga memiliki faktor risiko riwayat orang tua dengan stroke. Lokasi stroke pada sistem karotis ditentukan oleh disangkalnya keluhan yang merupakan gangguan pada serebelum akibat stroke vertebrobasiler seperti pandangan ganda dan gelap sesaat. 2. Apa komplikasi yang dapat terjadi pada kasus ini? Gangguan yang dialami pasien ini yaitu hemiparesis sinistra yang dapat menyebabkan sulit berjalan dan melakukan aktivitas sehari-hari serta parese sentral CN VII dan CN XII sinistra yang menyebabkan mulut mencong ke kanan dan lidah deviasi ke kanan. Hal ini akan mengganggu peran pasien sebagai ibu rumah tangga. Hemiparesis mengharuskan pasien untuk berbaring dalam waktu yang lama, oleh karena itu dampak yang mungkin muncul akibat imobilisasi lama dapat menjadi penyulit pada kasus ini.

3. Bagaimana terapi rehabilitasi pada pasien ini? Terapi rehabilitasi yang dapat dilakukan yaitu bed positioning, latihan mobilisasi, latihan ADL, dan rehabilitasi okupasional. Posisi tidur yang benar disesuaikan agar tidak terjadi ulkus dekubitus. Posisi tidur harus selalu diubah dan untuk daerah tonjolan tulang diberikan penyangga. Latihan mobilisasi dapat dilakukan dengan lingkup gerak sendi baik aktif maupun pasif untuk mencegah terjadinya kontraktur, pasien dan keluarganya harus diberikan edukasi mengenai pengembalian fungsi yang masih fungsional secara optimal. Saat kondisi medis pasien sudah membaik sebaiknya sesegera mungkin diberikan terapi mobilisasi. Latihan ADL diperlukan untuk mengembalikan fungsi kehidupan sehari-hari pasien agar lebih mandiri. Setelah ADL optimal, dapat dilakukan rehabilitasi okupasional agar bisa mengembalikan fungsi dan peran pasien sebagai ibu rumah tangga.