Anda di halaman 1dari 19

KATA PENGANTAR Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala kelimpahan rahmat dan

karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan referat yang berjudul Gangguan Afektif. Referat ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat dalam mengikuti ujian kepanitraan dibagian ilmu kedokteran kejiwaan RS.Polpus RS Sukanto. Penulis sangat menyadari dalam penyusunan dan penulisan referat ini ada banyak sekali kekurangan, oleh karena itu penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun untuk perbaikan dan memperluas wawasan penulis. Sekian saja kata pengantar dari penulis,semoga referat ini dapat memberi tambahan ilmu bagi penulis sendiri khususnya dan dapat memberikan manfaat bagi yang membaca referat ini.

Jakarta, 21 Juni 2010

Penulis

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR 1 DAFTAR ISI .. 2 BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang .. 3 2. Tujuan 4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 1. 2. 3. 4. 5. 6. Definisi Etiologi. Manifestasu Klinis Dan Diagnostik ..... Pemeriksaan Status Mental .. Perjalanan Penyakit Dan Prognosis .. Terapi . 5 5 6 11 14 15

BAB III KESIMPULAN 18 DAFTAR PUSTAKA . 19

BAB I PENDAHULUAN 1. LATAR BELAKANG Kelainan dari gangguan afektif (gangguan mood) adalah dimana gangguan mencakup penyakit-penyakit dengan gangguan afektif sebagai gejala primer, dan semua gejala lain yang menyertai hanya bersifat sekunder. Gejala utama dari gangguan afektif adalah perubahan mood yang bergantian antara manik dan depresi yang disebut unipolar sedangkan jika terjadi bersamaan disebut bipolar. Semua gejala ini sifatnya primer, sedangkan apabila diikuti oleh kelainan psikiatri lain atau penyakit fisik lain itu sifatnya sebagai sekunder. Berdasarkan dari epidemiologi yang sudah ada, gangguan unipolar lebih banyak diderita oleh wanita dari pada laki-laki. Sedangkan tingkat terjadinya gangguan bipolar lebih jarang dari pada gangguan depresi berat, dan prevalensi pada laki-laki dan perempuan sama. Apabila ditinjau dari usia, pada gangguan bipolar biasanya terjadi mulai terjadi pada usia anak-anak( mulai dari 5 tahun) sampai dengan usia 50 tahun, rata-rata pada usia 30 tahun. Sedangkan pada gangguan unipolar sering terjadi pada rentan usia antara 20 tahun sampai 50 tahun, dan rata-rata usia tersering yang menderita adalah usia 40 tahun. Status dari perkawinan sangat mempengaruhi, pada pasien dengan gangguan unipolar sangat berhubungan dengan interpersonal yang erat atau yang bercerai atau berpisah. Sedangkan pada gangguan bipolar lebih sering terjadi pada orang yang bercerai dan hidup sendiri dari pada orang yang menikah. Pasien yang depresi merasa hilangnya energi, perasaan bersalah, mudah tersinggung, hilangnya nafsu makan, dan penarikan diri dari lingkungan sosial. Sedangkan pasien yang manic menunjukkan kebahagiaan yang luar biasa, gagasan yang meloncat-loncat, peninggian harga diri, emosi yang labil,hiperaktivitas,dll. Penurunan serotonin dapat mencetuskan depresi tetapi peningkatan kadar serotonin dalam celah sinaps neuron,khususnya pada sistem limbik, yang berdampak terhadap dopamine receptor supersensitivity dapat mencetuskan manik. Cara kerja dari obat anti mania adalah mengurangi dopamine receptor supersensitivity dengan cara meningkatkan cholinergic-muscarinic activity, dan menghambat cyclic AMP (adenosine monophosphate)& phosphoinositides.
3

Sedangkan cara kerja obat anti depresi adalah menghambat reuptake aminergic neurotransmitter dan menghambat penghancuran enzyme monoamine oxidase sehingga terjadi peningkatan jumlah aminergic neurotransmitter pada celah sinaps neuron tersebut yang dapat meningkatkan aktivitas reseptor serotonin. Pemilihan atau pemberian obat anti mania atau anti depresi prisnsipnya sama, tergantung pada toleransi pasien terhadap efek samping dan penyesuaian efek samping terhadap kondisi pasien, pada dasarnya pemberian obat anti mania tergantung pada gejala pada pasien. Pada referat gangguan afektif ini saya akan menjelaskan secara detail khususnya gangguan depresif.

2. TUJUAN 2.1. Tujuan Umum Untuk memenuhi salah satu syarat dalam mengikuti program studi kepanitraan klinik kesehatan jiwa RUMKIT POLPUS R.S. SUKANTO. 2.2. Tujuan Khusus Untuk mengetahui dan memahami mengenai gangguan afektif khusunya bagian gangguan depresif.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 1. DEFINISI Mood adalah suatu emosi yang meresap dan mempertahankan, yang dialami secara subyektif dan dilaporkan oleh pasien dan terlihat oleh orang lain. Sedangkan afek adalah ekspresi eksternal dari mood saat itu. 2. ETIOLOGI 2.1 Faktor Biologis Dari penelitian yang ada didapatkan hipotesis bahwa gangguan mood adalah berhubungan dengan disregulasi heterogen pada amin biogenik. Norepinefrin dan serotonin dari amin biogenik merupakan dua transmitter yang paling berperan dalam patofisiologi mood. Penuruan serotonin merupakan salah satu pencetus depresi, seperti penelitian yang dilakukan pada orang yang bunuh diri, didalam cairan serebrospinal mereka ditemukan kadar serotonin yang rendah. 2.2 Faktor Genetika Dari data penelitian pada faktor genetic dinyatakan bahwa perkembangan gangguan mood sangat dipengaruhi oleh genetik. Peran dari faktor genetik pada bipolar lebih besar dari depresi. Penelitian yang dilakukan dalam keluarga, apabila satu orang dari orang tua penderita gangguan mood memiliki gangguan mood maka anak mereka memiliki faktor resiko 50%. Contoh lain pada anak kembar monozigotik, presentasi untuk bipolar sekitar 33%-90% sedangkan pada depresi memiliki presentasi sekitar 50%, tetapi untuk anak kembar dizigotik memiliki presentasi hanya 25%. 2.3 Faktor Psikosisoal Dari pengamatan klinis yang diamati, peristiwa kehidupan sangatlah memainkan peran dalam gangguan mood terutama depresi. Seperti adanya penelitian anak yang kehilangan orang tuanya pada saat mereka berusia kurang dari 11 tahun atau kehilangan pasangan merupakan stressor terbesar pada gangguan mood terutama depresi.

3. MANIFESTASI KLINIK DAN DIAGNOSIS


Untuk menegakkan diagnosa depresi seseorang, maka harus ada gejala utama dan gejala penyerta lainnya, lama gejala yang muncul, dan ada tidaknya episode depresi ulang. Sebagaimana tersebut berikut ini :

3.1 Gangguan Depresi 3.1.1. Episode Depresi - Gejala

- Gejala utama ( pada derajat ringan, sedang, dan berat ) : - Afek depresif - Kehilangan minat dan kegebiraan. - Rasa cepat lelah dan menurunnya aktivitas. - Gejala lain : - Konsentrasi berkurang - Kepercayaan berkurang - Merasa bersalah dan tidak berguna - Pesimistik - Memiliki ide membahayakan diri sendiri (bunuh diri) - Tidak ada nafsu makan - Gangguan tidur - Derajat :

- Episode depresif ringan - Minimal harus ada 2-3 gejala utama depresi dan 2 gejala lain. - Lamanya episode minimal berlangsung selama 2 minggu - Tidak terlalu mengganggu aktivitas sehari-harinya

- Episode depresif sedang - Minimal harus ada 2-3 gejala utama dan 3 gejala lain - Lamanya episode minimal berlangsung 2 minggu. - Mulai mengganggu aktivitas - Episode depresi berat tanpa gejala psikotik : - Semua gejala utama dan disertai 4 gejala tambahan. - ketidak mampuan pasien untuk menceritakan secara rinci, misalnya adanya agitasi atau retardari psikomotor yang mencolok. - Lamanya berlangsung harus minimal 2 minggu tetapi apabila onsetnya sangat cepat maka dapat dilakukan diagnosis sebelum 2 minggu. - Pasien sudah tidak mungkin melakukan aktivitas. - Episode depresif dengan gejala psikotik : - Memenuhi criteria episode berat. - waham dan halusinasi positif. Waham berupa kemiskinan, malapetaka yang mengancam dan pasien merasa bertanggung jawab akan hal tsb. Halusinasi berupa auditorik atau olfatorik, halusinasi auditorik berupa suara yang menghina atau menuduh, sedangkan halusinasi olfaktorik berupa pasien mencium bau kotoran atau daging busuk. - Retardasi psikomotor yang berat dapat menuju stupor. 3.1.2. Gangguan depresif berulang Gangguan ini tersifat dengan episode berulang dari : Gangguan depresif berulang episode kini ringan kriteria untuk gangguan depresif berulang harus dipenuhi dena episode sekarang harus memenuhi kriteria untuk episode depresif ringan. Gangguan depresif berulang episode kini sedang Kriteria untuk gangguan depresif berulang harus dipenuhi dan episode sekarang harus memenuhi kriteria untuk episode depresif sedang. Gangguan depresif berulang episode kini berat tanpa gejala psikotik

Kriteria untuk gangguan depresif berulang harus dipenuhi dan episode sekarang harus memenuhi kriteria untuk episode depresif berat tanpa gejala psikotik Gangguan depresif berulang episode kini berat dengan gejala psikotik Kriteria untuk gangguan depresif berulang harus dipenuhi dan episode sekarang harus memenuhi kriteria untuk episode depresif berat dengan gejala psikotik. Gangguan depresif berulang kini dalam remisi Kriteria untuk gangguan depresif berulang harus pernah dipenuhi masa lampau tetapi keadaan sekarang seharusnya tidak memenuhi kriteria untuk episode depresif dengan derajat keparahan apapun atau gangguan lain apapun.

Episode rata-rata berlangsung sekitar 6 bulan, akan tetapi frekuensinya lebih jarang daripada gangguan afektif bipolar. Tanpa riwayat adanya episode tersendiri dari peningkatan afek dan hieraktivitas yang memenuhi kriteria mania. Namun kategori ini tetep harus digunakan jika ternyata ada episode singkat dari peninggian afek dan hipersensitivitas ringan yang memenuhi kriteria hipomania segera sesudah suatu periide depresif (kadang-kadang tampaknya dicetuskan oleh pengobatan depresi ). Tingkat pemuliahan pada gangguan depresi sangat sempurna, namun sebagian kecil pasien pemulihan tidak terjadi secara sempurna dan akhirnya menetap biasanya terutama terjadi pada usia lanjut ( untuk keadaan ini, kategori harus tetap digunakan). Masing- masing episode dalam berbagai tingkat keparahannya, sering kali dicetuskan oleh peristiwa kehidupan, misalnya stress atau trauma mental lainnya ( adanya stress bukan menjadi alasan untuk penegakan diagnosis). Pada semua episode, sekurang-kurangnya ada dua episode yang telah berlangsung masing-masing selama 2 minggu dengan ada waktu beberapa bulan tanpa gangguan afektif yang bermakna. 3.2. Gangguan Bipolar 1 Gangguan ini ditandai oleh adanya episode depresif dan episode manik yang berlangsung secara berulang, dan pada keadaan tersebut afek dan aktivitas dari pasien sangat terganggu, sebagai contoh pasien dalam waktu tertentu mengalami peningkatan afek disertai dengan penambahan energi serta aktivitas yaitu mania atau hipomania, dan dalam keadaan lain pasien bisa mengalami penurunan afek disertai dengan pengurangan energi dan aktivitas yaitu depresi. Yang khas dari bipolar adalah adanya waktu dimana dia sembuh atau tanpa gejala apa-apa di antara dua episode. Kita lihat dari waktunya, episode depresi cenderung berlangsung lebih lama yaitu kurang lebih selama 6 bulan dan jarang sampai terjadi selama 1 tahun,
8

kecuali apabila terjadi pada orang yang lanjut usia. Sedangkan pada episode mania, waktu terjadinya tiba-tiba dan berlangsung antara 2 bulan hingga 4-5 bulan. Dua macam episode tersebut diatas biasanya terjadi setelah pasien mengalami stressor yang berat atau adanya trauma mental lainnya. 3.2.1. Macam-macam gangguan afek bipolar : Gangguan afektif bipolar, episode kini hipomanik, episode kini harus memenuhi kriteria hipomania. Gangguan afektif bipolar, episode kini manic tanpa gejala psikotik, episode sekarang harus memenuhi kriteria episode kini tanpa gejala psikotik. Gangguan afektif bipolar, episode kini manic dengan gejala psikotik, episode sekarang harus memenuhi kriteria episode kini dengan gejala manic. Gangguan afektif bipolar, episode kini depresif ringan atau sedang, episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk episode depresif ringan atau sedang. Gangguan afektif bipolar, episode kini depresif berat tanpa gejala psikotik atau dengan gejala psikotik, episode kini harus memenuhi kriteria depresif berat dengan atau tanpa gejala psikotik. Gangguan afektif bipolar, episode kini campuran, episode yang sekarang menunjukkan gejala-gejala campuran ( mania, hipomania, depresif) yang terjadi bergantian secara cepat dan terjadi sekurang-kurangnya 2 minggu. Gangguan afektif bipolar, episode kini dalam remisi, pasien sekarang tidak menderita gangguan afektif apapun tetapi pada masa lalu pernah mengalami minimal 1 episode afektif. Pada semua episode harus ada sekurang-kurangnya 1 episode lain, yaitu hipomanik, manic, depresif atau campuran, yang semua itu terjadi di masa lampau. 3.3. Gangguan Afektif menetap 3.3.1. Siklotimia Siklotiamia merupakan ketidakstabilan yang menetap dari afek, dimana meliputi banyanya episode depresi ringan dan hipomania ringan serta tidak adanya episode yang berat atau yang terjadi dalam waktu cukup

lama, sehingga tidak dapat dikatagorikan dalam gangguan depresi berulang atau gangguan afektif bipolar. 3.3.2. Distimia Distimia memiliki ciri yaitu dimana terjadi afek depresif yang berlangsung dalam waktu yang sangat lama tetapi jarang atau tidak pernah mencapai episode berat. Oleh karena itu Distimia tidak dapat dikatagorikan dalam gangguan depresif berulang ringan atau sedang. 3.4. Episode Manik Manik adalah dimana keadaan afek yang meningkat, serta diikuti oleh peningkatan dalam jumlah dan kecepatan aktivitas fisik dan mental, dalam berbagai macam derajat keparahan. Adapun kategorinya yaitu : Hipomania o Hipomania memiliki derajat gangguan yang lebih ringan dibandingkan mania, afek yan meninggi atau berubah-ubah disertai dengan peningkatan aktivitas, dan menetap selama minimal beberapa hari berturut-turut dalam suatu derajat, serta melebihi apa yang ada pada siklotimia, dan perlu diingat pada hipomania tidak disertai halusinasi atau waham. o Pada Hipomania gangguan mulai terlihat dengan adanya kekacauan dalam pekerjaan dan aktivitas sosial. Perlu diingat apabila kekacauan berat atau sudah menyeluruh maka diagnosis mania harus ditegakkan. Mania tanpa gejala psikotik o Episode harus berlangsung sekurang-kurangnya selama 1 minggu, dan episode cukup berat sehingga mengacaukan pekerjaan dan aktivitas sosial yang biasa dilakukan. o Perubahan afek yang terjadi harus diikuti oleh peningkatan energi sehingga dapat terjadi aktivitas yang berlebih, serta percepatan dari berbicara dan kebutuhan tidur yang berkuran, lalu adanya ide-ide yang berhubungan dengan kebesaran dan pasien terlalu optimistic. Mania dengan gejala psikotik o Gambaran klinisnya lebih berat dari mania tanpa gejala psikotik o Pada mania dengan gejala psikotik waham mulai muncul. Seperti pada keadaan pasien yang memiliki harga diri yang tinggi dan gagasan kebesaran dapat berkembang menjadi waham kejar, contoh lain pasien dengan kecurigaan juga akan muncul waham kejar. Waham dan halusinasi yang muncul sesuai dengan keadaan afek pasien.

10

4. PEMERIKSAAN STATUS MENTAL EPISODE DEPRESIF 4.1.1. Episode depresif Deskripsi umum Psikomotor merupakan gajala yang paling umum. Menggenggamkan tangan dan menarik rambut merupakan gejala agitasi yang paling sering. Postur orang depresi yaitu membungkuk , tidak terdapat pergerakan yang sponta, dan pandangan mata yang putus asa serta memalingkan pandangan. Pada pemeriksaan fisik tampak pasien seperti pasien skizofrenia katatonik. Mood ,afek, dan perasaan Stengah dari pasien yang memiliki gangguan depresi selalu menyangkal penyakitnya. Pasien sering kali dibawa oleh anggota keluarganya atau teman kerjanya oleh karena penarikan sosal dan penurunan aktivitas secara menyeluruh. Bicara Banyak pasien terdepresi menunjukkan suatu kecepatan dan volume bicara yang menurun, berespon terhadap pertanyaan dengan kata tunggal dan menunjukkan respon yang melambat terhadap pertanyaan. Gangguan persepsi Pasien terdepresi dengan waham atau halusinasi dikatakan menderita episode depresi berat dengan cirri psikotik. Waham sesuai mood pada pasien terdepresi adalah waham bersalah,memalukan, kegagalan, kemiskinan, tidak berguna, penyakit somatic terminal (sebagai contoh penyakit kanker dan otak yang membusuk). Halusinasi relative jarang terjadi. Pikiran Pasien terdepresi biasanya memiliki pandangan negative tentang dunia dan dirinya sendiri. Isi pikiran mereka sering kali melibatkan perenungan tentang kehilangan, bersalah, bunuh diri dan kematian. Kira-kira 10% dari pasien memiliki gejala jelas gangguan berpikir, biasanya penghambatan pikiran dan kemiskinan isi pikiran. Daya ingat Kira-kira 50%-70% dari semua pasien terdepresi memiliki suatu gangguan kognitif yang sering kali dinamakan pseudodemensia depresif, dengan keluhan gangguan konsentrasi dan mudah lupa.

11

Pengendalian impuls Kira-kira 10-15% pasien terdepresi melakukan bunuh diri dan kira-kira dua pertiga memiliki gagasan bunuh diri. Resiko meninggi untuk melakukan bunuh diri saat mereka mulai mebaik dan mendapat kembali energy yang diperlukan untuk merencanakan dan melakukan suatu bunuh diri.

Reliabilitas Semua informasi yang didapat dari pasien selalu menonjolkan hal yang buruk dan menekankan yang baik

4.1.2. Episode manic - Deskripsi umum Pasien yang sedang dalam episode manic akan banyak bicara, hiperaktif, dan tereksitasi. Pada waktu tertentu mereka jelas sekali menunjukkan gejala psikotik dan terdisorganisasi, sampai mereka memerlukan pengikatan fisik dan penyuntikan intramuscular obat sedatif agar mereka dapat tenang dan terkontrol. Mood, afek dan perasaan Pasien yang sedang dalam episode manic biasanya euphoria dan lekas marah. Secara emosional mereka sangatlah labil, mereka bisa sangat gampang berubah dari tertawa menjadi marah dan bisa menjadi depresi dalam waktu yang singkat. Bicara Pasien dalam episode manic sangatlah susah untuk dipotong saat mereka sedang berbicara dan sering kali menjadi pengganggu badi orang-orang disekitarnya. Apabila mereka sedang dalam keadaan aktifitas yang meningkat, maka mereka akan berbicara penuh kelucuan, dan banyaknya hal- hal yang tidak relefan. Dan apabila aktifitas lebih meningkat lagi maka kemampuan konsentrasi mereka mulai hilang sehingga akan muncul gagasan yang meloncat-loncat. Gangguan persepsi Waham ditemukan 75% dari semua pasien manic. Pikiran Isi pikirannya hanyalah kepercayaan dan kebesaran diri, pasien dengan episode manic sering sekali perhatiannya mudah dialihkan. Sedangkan fungsi kognitifnya tidak dapat dikendalikan, oleh sebab ide mereka begitu cepat dan tidak terkendali. Sensorium dan kognisi
12

pada pasien dengan episode manic mereka masih bisa orientasi dengan baik dan daya ingat mereka juga cukup baik, meskipun pada beberapa pasien yang sangat euforik, mereka sering kali menjawab secara tidak tepat(mania delirium). Pengendalian impuls Pasien dengan episode manic rata-rata senang menyerang dan senang mengancam. Pertimbangan dan Tilikan Tanda dari pasien manic adalah gangguan pertimbangan, dan mereka senang melanggar peraturan.

Reliabilitas Pasien manic sudah sangat dikenal tidak dapat dipercaya informasinya.

13

5. PERJALANAN PENYAKIT DAN PROGNOSIS PADA GANGGUAN DEPRESI 5.1. Perjalanan penyakit Dari banyak penelitian didapatkan hasil bagwa gangguan mood cenderung memiliki perjalanan penyakit yang panjang dan pasien cenderung mengalami kekambuhan. Stressor psikososial sebagai penyebab awal dari timbulnya gangguan mood. Kira-kira 50% dari pasien di dalam episode pertama gangguan depresi berat mengalami gejala depresi yang bermakna sebelum episode pertama yang diidentifikasi. Episode depresif yang tidak diobati berlangsung 6 sampai 13 bulan, sebagian besar episode yang diobati berlangsung kira-kira 3 bulan. Menghentikan obat anti depresan sebelum 3 bulan hampir selalu menyebabkan kembalinya gejala. Kira-kira 5-10% pasien dengan diagnosis awal gangguan depresif berat menderita suatu episode manic 6-10 tahun setelah episode depresif awal. Sedangkan pada gangguan Bipolar 1, paling sering dimulai oleh episode depresi dan merupkan gangguan yang rekuren. Sebagian besar pasien dengan gangguan bipolar 1 mengalami episode depresi dan manic, meskipun ada yang hanya manic saja. Episode manic biasanya memiliki onset yang cepat ( dalam beberapa jam atau hari), tetapi dapat berkembang lebih dari 1 minggu. Pada episode manic yang tidak diobati dapat berlangsung hinggal 3 bulan atau lebih,oleh sebab itu, dokter tidak boleh menghentikan obat sebelum waktu tersebut.

5.2 . Prognosis - Prognosis baik apabila : - Episodenya ringan, tidak ada gejala psikotik. - Perawatan dirumah sakit hanya singkat. - Selama masa remaja, pasien memiliki riwayat psikososial yang baik. - Tidak ada gangguan psikiatrik komorbiditas. - Tidak ada gangguan kepribadian. - prognosis buruk apabila :
14

- Adanya penyerta gangguan distimik - Penyalah gunaan zat - Gejala gangguan cemas - riwayat lebih dari satu episode depresi - laki-laki lebih sering menjadi kronis dan mengganggu dibandingkan perempuan. Gangguan depresif berat bukan merupakan gangguan yang ringan. Keadaan ini cenderung merupakan gangguan kronis, dan pasien cenderung akan meengalami relaps. Pasien dengan gangguan bipolar lebih buruk prognosisnya dibadingkan dengan pasien dengan gangguan depresif berat. 6. TERAPI 6.1. Tujuan - Menjamin keamanan pasien - Pemeriksaan diagnostic yang lengkap pada pasien - Suatu rencana pengobatan bukan hanya untuk mengobati gejala saja melainkan untuk kesehatan pasien selanjutnya. 6.2. Indikasi untuk perawatan dirumah sakit Perlu prosedur diagnostic Resiko bunuh diri atau membunuh Penurunan jelas kemampuan pasien untuk mendapatkan makanan atau tampat berlindung. Riwayat gejala yang berkembang dengan cepat Hancurnya sistem pendukung pasien.

6.3. Terapi psikososial Terapi kognitif Tujuannya adalah menghilangkan episode depresi dan mencegah rekurennya dengan membantu pasien mengidentifikasi dan uji kognitif negative. Mengembangkan cara berpikir alternative, fleksibel, dan positif, serta melatih kembali respon kognitif dan perilaku yang baru. Terapi interpersonal

15

Terapi interpersonal efektif didalam pengobatan gangguan depresif berat. Program tersebut terdiri dari 12-16 sesi mingguan. Terapi ditandai dengan pendekatan terapeutik aktif. Terapi perilaku Terapi didasarkan pada hipotesis bahwa pola perilaku maladaptive menyebabkan seseorang mendapatkan sedikit umpan balik positif dari masyarakat dan kemungkinan penolakan yang palsu. Dengan demikian pasien belajar untuk berfungsi di dunia dengan cara tertentu dimana mereka mendapatkan dorongan positif.

6.4. Farmakoterapi Obat anti depresi digolonkan dalam : 1. Obat anti depresi trisiklik = Amitriptylin, Imipramine, Clomipramine, Tianeptin. 2. Obat anti depresi tetrasiklik = Maprotilin, Mianserin, Amoxapine. 3. Obat anti depresi MAOI-reversible = Moclobemide 4. Obat anti depresi SSRI ( Selective Serotonin Reuptake Inhibitors ) = Sertraline, Paroxetine, Fluvoxamine, Fluoxetine, Duloxetine, Citalopram. 5. Obat anti depresiAtypical = Trazodone, Mirtazapine, Venlafaxine Mekanisme dari obat anti depresi pada dasarnya adalah untuk menghambat reuptake aminergic neurotransmitter dan menghambat penghancuran oleh enzim monoamine oxidase. Sehingga terjadi peningkatan jumlah aminergic neurotransmitter pada celah sinaps neuron tersebut yang dapat meningkatkan aktivitas reseptor serotonin. Pemilihan obat anti depresi tergantung pada toleransi pasien terhadap efek samping dan penyesuaian efek samping terhadap kondisi pasien. Urutan pemilihan obat anti depresi : Step 1 = Golongan SSRI Step 2 = Golongan Trisiklik Step 3 = Golongan tetrasiklik,Atypical, MAOI reversible. Pertimbangkan juga bahwa pergantian SSRI ke MAOI atau sebaliknya membutuhkan waktu 2-4 minggu istirahat untuk wash out period guna mencegah timbulnya serotonin malignant syndrome. Yaitu suatu gejala yang timbul akibat dari interaksi obat SSRI+MAOI dengan gejala : gastrointestinal distress ( mual,muntah,diare), agitasi (mudah marah, ganas), gelisah, gerakan kedutan otot,dll. Pengaturan dosis perlu pertimbangan :
16

o Onset efek primer : Sekitar 2-4 minggu o Onset efek sekunder : Sekitar 12-24 jam o Waktu paruh : 12-48 jam (pemberian 1-2x perhari) Proses dalam pengaturan dosis : 1. 2. 3. 4. Test dosis, untuk mencapai dosis anjuran selama 1 minggu Optimal dosis, mulai dari dosis anjuran sampai dosis efektif Dosis yang stabil, dosis optimal yang dipertahankan 2-3 bulan. Dosis maintenance, selama 3-6 bulan. Dosis pemeliharaan biasanya dosis optimal. 5. Penurunan dosis,selama 1 bulan. Kebalikan dari test dosis. Dengan demikian obat anti depresi dapat diberhentikan total. Apabila sindrom depresi kambuh lagi, maka proses dimulai dari awal dan seterusnya.

17

BAB III KESIMPULAN Gangguan afektif merupakan sekelompok penyakit yang bervariasi beratnya. Gejala utamanya adalah perubahan mood yang secara periodik berganti-gantian antara manik dan depresi, biasanya diikuti oleh gejala-gejala yang khas. Faktor penyebab gangguandepresi yang berperan penting adalah gangguan biologis, faktor genetika, dan psikososial. Penurunan serotonin adalah salah satu pencetus depresi. Penurunan reseptor serotonin setelah pemaparan jangka panjang dengan antidepresan yang menurunkan jumlah tempat ambilan kembali serotonin dan suatu peningkatan konsentrasi serotonin telah ditemukan postmortem pada otak korban bunuh diri. Mekanisme obat anti depresi adalah menghambat reuptake aminergik neurotransmitter dan menghambat penghancuran oleh enzim monoamine oxidase. Sehingga terjadi peningkatan jumlah aminergic neurotransmitter pada celah sinaps neuron tersebut yang dapat meningkatkan aktivitas reseptor serotonin. Pemilihan obat anti depresi tergantung pada toleransi pasien terhadap efek samping dan penyesuaian efek samping terhadap kondisi pasien. Gangguan depresi cenderung merupakan gangguan kronis, dan pasien cenderung mengalami relaps. Adanya ciri psikotik mencerminkan keparahan penyakit dan merupakan indicator prognosis yang buruk. Pasien dengan gangguan bipolar 1 memiliki prognosis yang lebih buruk dibandingkan dengan pasien gangguan depresif berat. Hamper 1/3 dari pasien dengan gangguan bipolar 1 memiliki gejala kronis dan adanya penurunan sosial yang bermakna.

18

DAFTAR PUSTAKA 1. Kaplan & saddock, harlock l, Kaplan MD, Benjamin D, saddock.Sinopsis Psikiatri, Ilmu Pengetahuan Perilaku Psikiatri Klinis. Gangguan Mood, bab 15. Jilid I .Ed. VII, Jakarta. Binarupa Aksara, 1997.H;777-857. 2. Maslim Rusdi, Dr.Diagnosis Gangguan Jiwa. Rujukan Ringkas Dari PPDGJ-III. Pedoman Diagnostik : F 30-39 : gangguan suasana perasaan/mood (gangguan afektif). Jakarta, Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK- UNIKA Atmajaya. 2001. H; 58-69 3. Maslim Rusdi, Dr. Panduan Praktis Penggunaan Klinis Obat Psikotropik. Obat Anti Depresi. Ed III. Jakarta, Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK-UNIKA Atmajaya.2007. H; 23-30.
4. 5. 6. 7. 8. http://mercywords.blogspot.com/2008/08/depresi.html http://hufmataurus.blogspot.com/p/depresi.html . Diunduh:26 juni 2010. http://creasoft.wordpress.com/2008/04/19/depresi/ . Diunduh : 26 juni 2010 http://www.medscape.com/viewarticle/431115_6 . diunduh : 26 juni 2010 http://aryaverdiramadhani.blogspot.com/2008/07/vj37vii2008-mooddisorders.html . diunduh : 26 juni 2010

9. Ingram I M, Timbury G C, Mowbray R M. Catatan Kuliah Psikiatri.

Kelainan Afektif, Bab 7. Ed. VI, Jakarta. Penerbit buku kedokteran, 1993. H; 43-50.

19