Anda di halaman 1dari 62

Pengenalan Kode Etik Profesi Bidan

Kelompok 1 Semester II/Jalur Umum A 2013

Materi
Pertemuan 1
Pengertian Etika, Etiket, Moral dan Hukum Sistematika Etika : Etika Umum & Etika Sosial/profesi Sumber Etika

Pertemuan 2
Pengenalan Kode Etik Bidan Internasional

Materi Pertemuan 1

KONSEP ETIKA MORAL DALAM MEMBERIKAN PELAYANAN KEBIDANAN

PENGERTIAN ETIKA, ETIKET, MORAL DAN HUKUM

Quote
Almost every individualexcluding perhaps those insane persons who have no sense of right and wrong, but certainly including everyone from religious leaders to gangsters and serial killershas a set of ethics. -George L. Head, Ph.D.
Hampir setiap individu mungkin termasuk orang-orang gila yang tidak memahami mana yang benar dan yang salah, dan tentu saja termasuk semua orang mulai dari para pemimpin agama hingga gangster dan pembunuh berantai sekali pun- memiliki seperangkat etika.

PENGERTIAN ETIKA
Secara Etimologi: Etika berasal dari bahasa yunani dari kata ethos yang berarti kebiasaan-kebiasaan atau tingkah laku manusia. Dalam bahasa inggris disebut ethics yang mempunyai pengertian sebagai ukuran tingkah laku atau perilaku manusia yang baik, yakni tindakan yang tepat, yang harus dilaksanakan oleh manusia sesuai dengan moral pada umumnya. (IBI, 2006:73)

PENGERTIAN ETIKA
K. Bertens (2002) merumuskan arti etika sebagai berikut. Kata etika dapat digunakan dalam arti nilai dan norma moral yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. Arti ini bisa dirumuskan sebagai sistem nilai. Sistem nilai dapat berfungsi dalam hidup manusia baik secara individu maupun sosial. Etika berarti kumpulan asas atau nilai moral, yang dimaksud di sini adalah kode etik. Etika mempunyai arti ilmu tentang apa yang baik atau buruk

PENGERTIAN ETIKA
Menurut Shirley R. Jones (2000): ethics is the application of the process and theories of moral philosophy to areal situation. It is concerned with the basic principles and concepts that guide human beings in thought and action, and which underline their values. Etika merupakan penerapan teori dan proses filsafat moral dalam kehidupan nyata. Etika mencakup prinsip, konsep dasar, dan nilai-nilai yang membimbing makhluk hidup dalam berpikir dan bertindak.

PENGERTIAN ETIKA
Etika merefleksikan mengapa seseorang harus mengikuti moralitas tertentu, atau bagaimana kita mengambil sikap yang bertanggung jawab ketika berhadapan dengan berbagai moralitas. Dalam pengertian ini, etika memberikan orientasi mengapa harus bersikap begini atau begitu, sehingga mampu mempertanggung jawabkan kehidupannya. -E.Y. Kanter, 2001

KELOMPOK ETIKA
Secara umum etik dapat dibedakan atas beberapa kelompok, yaitu: Yang berkaitan dengan sopan santun di dalam pergaulan, baik di dalam tata tertib masyarakat, maupun tata cara di dalam organisasi profesi Yang berkaitan dengan sikap tindak tanduk orang dalam menjalankan tugas profesinya yang biasa disebut kode etik profesi.

Tahapan-tahapan Etika
Menurut Shirley R. Jones (2000), Etika dibagi menjadi: Meta-Ethics: Mencakup pemikiran moral manusia mengenai suatu kejadian. Dalam tahap ini, manusia memandang etika hanya sebatas analisis pemikiran (konsep, bahasa), untuk menentukan suatu kejadian dianggap baik. buruk atau lainnya. Ethical/Moral Theory (Etika Normatif): dalam tahap ini manusia mencoba memformulasikan mekanisme untuk menyelesaikan masalah etika, dengan pengambilan keputusan yang cepat dan tepat untuk menghadapi konsekuensi dari keputusan tersebut. Practical Ethics: Dalam tahap ini manusia berupaya mengaplikasikan bentuk etika dalam wujud sikap atau perilaku untuk menghadapi masalah etika yang dihadapi sehari-hari. Contoh: Etika bisnis.

Contoh Kasus penerapan Etika


Seorang guru memergoki salah satu muridnya (8 tahun) sedang mnyontek saat sedang ulangan di kelas. Si Guru memutuskan bahwa tindakan muridnya tersebut merupakan Perilaku buruk atau kejahatan. Pemikiran tersebut merupakan respons si guru setelah ia melihat perbuatan muridnya (meta-ethics). Dalam fase ini, si guru sedang menimbang tindakan yang akan ia lakukan berdasarkan nilai dan norma yang ia yakini. Ia mengetahui bahwa perbuatan muridnya itu salah, namun tindakan apa yang paling tepat ia lakukan untuk menyadari bahwa perbuatan muridnya salah dan membuat muridnya jera sehingga tidak akan mengulanginya lagi. Pilihannya antara lain mengeluarkan anak itu dari kelas dan menskorsnya, atau ia akan memanggil kedua orang tua murid tersebut sehingga orang tua bisa turut memperbaiki perilaku si anak (ethical/moral theory) Si guru mengambil tindakan yang dianggap paling tepat (practical ethics).

Gambar apakah ini?

Etiket
Etiket (etiquette) adalah aturan-aturan kesopanan atau tata krama bagi perilaku manusia dalam pergaulan bermasyarakat atau di antara anggotaanggota suatu profesi, atau dengan kata lain, etiket ialah cara bersopan santun dalam pergaulan. (E.Y. Kanter, 2001)

Persamaan antara etika & etiket


Sama-sama memiliki objek persoalan tentang perilaku manusia dan sama-sama berupaya mengatur perilaku manusia secara normatif (memberi norma pada tingkah laku manusia sehingga dapat menentukan mana yang baik dan mana yang buruk, apa yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan) -E.Y. Kanter, 2001

Perbedaan antara etika & etiket


Menurut E.Y. Kanter (2001), perbedaan antara Etika & Etiket ialah:
Etika Berkenaan nilai & norma moral bagi penilaian (baikburuk) terhadap suatu perbuatan sebagai manusia Tidak terbatas pada cara melakukan suatu perbuatan, tapi memberi norma juga pada perbuatan Menyangkut masalah apakah suatu perbuatan boleh atau tidak boleh dilakukan Bersifat absolut, sudah terinternalisasi dalam diri setiap individu (sudah tertanam dalam hati nurani setiap individu). Berlaku dimana saja dan kapan saja dan tidak bergantung pada kehadiran orang lain yang melihat ketika perbuatan itu dilakukan. Etiket Berkenaan dengan cara bersopan santun dalam pergaulan

Terbatas hanya pada cara melakukan sesuatu


Menyangkut cara melakukan sesuatu perbuatan yang tepat dan diharapkan Bersifat lokal dan relatif (contoh: cara menunjukkan sikap sopan terhadap orang tua berbeda-beda di berbagai tempat), sehingga hanya terbatas pada pada tempat dan kebudayaan (kelompok sosial) tertentu saja. Hanya berlaku dalam pergaulan pada suatu kelompok sosial atau kebudayaan tertentu & sangat bergantung pada kehadiran orang lain. Cenderung tidak berlaku bila orang lain tidak melihat. Tawar-menawar dapat terjadi tergantung pada sifat lingkungan sosial di sekitarnya. (contoh: karena rasa pengertian, orang tua membiarkan anaknya makan sambil bicara di telepon, padahal di masyarakat makan sambil bicara tidak diperbolehkan) Memungkinkan seseorang bersikap munafik

Prinsipnya tidak bisa ditawar-tawar(suatu kewajiban / keharusan untuk dilakukan)

Menuntun seseorang agar sungguh-sungguh menjadi baik agar memiliki sifat etis (tidak munafik, mengutamakan kejujuran dan kebenaran)

PENGERTIAN MORAL
Moral berasal dari bahasa Latin mos: adat istiadat, kebiasaan, kelakuan, tabiat, watak, akhlak, cara hidup. Sehingga secara etimologis arti kata etika sama dengan moral, yaitu adat istiadat mengenai baikburuk suatu perbuatan. (E.Y. Kanter, 2001)

Pengertian Moral
Moral ialah nilai-nilai dan norma-norma yang menjadi pegangan bagi seseorang atau sekelompok orang dalam mengatur tingkah lakunya, menyangkut apa yang baik dan yang buruk atau apa yang benar dan apa yang salah. Artinya moral menyangkut nilai dan norma bagaimana cara seseorang bertingkah laku dalam hubungan dengan orang lain agar ia menjadi manusia yang baik, yang bermoral sebagai manusia. -E.Y. Kanter, 2001

Moral
Istilah moral dipakai untuk menunjukkan aturan dan norma yang lebih konkret bagi penilaian baik buruknya perilaku manusia. Pada hakikatnya, moral mengindikasikan ukuran-ukuran yang telah diterima oleh suatu komunitas dan moral juga bersumber pada kesadaran hidup yang berpusat pada alam pikiran (Rachma, 2004)

Hukum
Thomas Aquinas: Hukum adalah sarana untuk mewujudkan apa yang baik yang menjadi tujuan manusia. Hukum itu merupakan cerminan tatanan akal budi yang berorientasi pada kesejahteraan seluruh anggota masyarakat dan diumumkan oleh yang bertanggung jawab kepada seluruh masyarakat.

Pengertian Hukum
Menurut E.Y. Kanter(2001): Hukum pada umumnya dipahami sebagai salah satu sistem norma atau kumpulan peraturan yang mengatur kehidupan bersama dalam masyarakat, yaitu keseluruhan peraturan tentang tingkah laku yang berlaku dalam kehidupan bersama dan dapat dipaksakan pelaksanaannya dengan suatu sanksi.

Pokok dalam Hukum


Pokok yang menyangkut hukum menurut E.Y. Kanter: Hukum adalah tatanan normatif yang mengatur bagaimana harus bertindak Hukum dapat dituntut pelaksanaannya dan terhadap pelanggaran dikenakan sanksi Hukum adalah sarana untuk menciptakan ketertiban yang menyediakan cara-cara penyelesaian konflik kepentingan Hukum ditetapkan secara eksplisit oleh otoritas yang diakui oleh masyarakat.

Hubungan antara Etika, Moral dan Hukum


ETIKA
(Suryani Soepardan, 2008)

HUKUM

MORAL

Etika, Moral dan Hukum ketiganya berhubungan erat dan saling mempengaruhi satu sama lain. F.A. Moeloek (2002) menyatakan bahwa etika, moral dan hukum merupakan the guardians (pengawal) bagi kemanusiaan. Ketiganya memiliki tugas dan wewenang untuk memanusiakan manusia dan memperadab manusia.

Hubungan antara Etika, Moral dan Hukum


ETIKA
(Suryani Soepardan, 2008)

HUKUM

MORAL

Etika Moral Etika dan moral senantiasa berjalan beriringan, sehingga suatu tindakan yang dinilai bermoral pasti etis dan sesuatu yang tidak bermoral pasti dianggap tidak etis pula.

Hubungan antara Etika, Moral dan Hukum


ETIKA
(Suryani Soepardan, 2008)

HUKUM

MORAL

Etika Hukum Etika dan hukum memiliki tujuan yang sama yaitu mengatur tertib dan tentramnya pergaulan hidup dalam masyarakat. Pelanggaran etik tidak selalu pelanggaran hukum, tapi sebaliknya pelanggaran hukum hampir selalu merupakan pelanggaran etik.

Hubungan antara Etika, Moral dan Hukum


ETIKA
(Suryani Soepardan, 2008)

HUKUM

MORAL

Etika Hukum
Etika tanpa hukum hanya bisa digunakan untuk memberi teguran, nasihat bahwa suatu tindakan itu salah atau benar, tanpa bisa berbuat lebih jauh lagi. Sebaliknya Hukum tanpa etika, ibarat rumah tanpa fondasi yang kuat. Etika hanya bisa bergerak sebatas memberi peringatan dan tuntutan, sedangkan hukum (dengan dasar etika yang jelas) bisa memberi sanksi yang lebih jelas dan tegas dalam bentuk tuntutan. Jadi Etika dan Hukum, keduanya saling membutuhkan dan keberadaaanya tidak bisa digantikan.

SISTEMATIKA ETIKA
Etika Umum & Etika Sosial/profesi

Sistematika Etika
Menurut Margis Suseno (1996), Sistematika Etika ialah:

Umum Etika Khusus/Terapan Etika Sosial Etika Profesi Etika Individual

Etika Umum
Etika umum membahas prinsip-prinsip moral dasar, seperti kebebasan dan suara hati. Dalam etika umum, terdapat beberapa tema penting yaitu mengenai: Kebebasan & tanggung jawab Suara hati Hak dan Kewajiban E.Y. Kanter (2001)

Etika Umum Kebebasan & tanggung jawab


Kebebasan dan tanggung jawab saling berkaitan sangat erat karena dalam pengertian kebebasan sudah termuat pengetian tanggung jawab, dan begitu pula sebaliknya. Kebebasan adalah syarat mutlak untuk tanggung jawab. Tanpa kebebasan, tak ada tanggung jawab. Juga, kebebasan harus digunakan secara bertanggung jawab. Semakin bebas seseorang, semakin ia dituntut untuk bertanggung jawab atas perbuatannya, dan semakin ia bertanggung jawab maka ia pun semakin bebas. E.Y. Kanter (2001)

Etika Umum Kebebasan & tanggung jawab


Lanjutan. Idealnya menurut etika, tanggung jawab dilakukan karena ia sadar sendiri (Otonomi Moral). Setiap keputusan dan tindakan yang diambil harus dipertanggungjawabkan sendiri, tidak dilemparkan kepada orang lain sebagai kambing hitam. Namun terkadang terdapat juga yang bertanggung jawab bukan karena kesadaran dalam dirinya sendiri melainkan bertanggung jawab karena ada paksaan, tekanan dan ketakutan pada orang atau lingkungan (Heteronomi Moral), ini membuat orang selalu bergantung pada pendapat dan sikap orang lain, sehingga dapat merendahkan martabat manusia. Meskipun baiknya tanggung jawab datang dari kesadaran dalam diri masing-masing individu, namun norma atau hukum juga sangat dibutuhkan agar dalam kebersamaan sosial itu seseorang dapat mengembangkan dan mengarahkan hidupnya dengan semestinya, sehingga tidak terjadi benturan-benturan atau saling memanipulasi kebebasan. E.Y. Kanter (2001)

Etika Umum Hati Nurani : Sumber kesadaran moral

Hati Nurani adalah kesadaran dalam batin seseorang akan kewajiban dan tanggung jawabnya sebagai manusia dalam situasi kongkrit kehidupannya. Hati nurani paling jelas kaitannya dengan moralitas, karena hati nurani menyingkap dengan terang dimensi etis dalam hidup manusia. Bila tidak mengikuti hati nurani, seseorang menghancurkan integritas pribadinya dan mengkhianai martabat yang terdalam pada dirinya, menghancurkan otonomi dirinya. E.Y. Kanter (2001)

Etika Umum Hati Nurani : Sumber kesadaran moral


Hati nurani menjadi saksi yang turut mengetahui dan menilai perbuatan seseorang dari segi moral. Hati nurani secara intuitif/langsung mengatakan mengatakan bahwa itu baik dan terpuji atau buruk dan tercela. Hati nurani akan mendatangkan gangguan & beban batin jika tidak dipedulikan. Namun hati nurani juga bisa saja keliru atau tersesat, maka agar tidak keliru diperlukan peranan penting pendidikan sejak dini. Hati nurani yang terdidik tidak akan mengabaikan nilai-nilai luhur dalam tradisi dan norma-norma yang berlaku. Hati nurani mesti senantiasa bersikap kritis-rasional dan berorientasi pada visi dan nilai-nilai luhir kehidpan manusia. E.Y. Kanter (2001)

Etika Umum Hak & Kewajiban

Setiap kewajiban seseorang berkaitan dengan hak orang lain, begitu juga sebaliknya. Namun itu tidak mutlak. Menurut John Stuart Mill (1806-1873) kewajiban terbagi menjadi 2 macam yaitu duties of perfect obligation (kewajiban sempurna) dan duties of imperfect obligation (kewajiban tidak sempurna). Kewajiban sempurna selalu terkait dengan hak orang lain(didasarkan pada keadilan). Kewajiban tidak sempurna didasarkan pada alasan moral lain, misalnya karena kemurahan hati. E.Y. Kanter (2001)

Etika Khusus
Membahas penerapan prinsip-prinsip dasar etika pada masingmasing bidang kehidupan manusia, biasa disebut juga etika terapan (applied ethics). Etika khusus terdiri dari etika individual dan etika sosial. Etika individual membicarakan kewajiban seseorang terhadap diri sendiri. Sedangkan Etika Sosial membahas kewajiban seseorang sebagai anggota masyarakat atau umat manusia. Etika sosial menyangkut kesadaran dan tangung jawab manusia dalam kehidupan bersama dengan sesama dan lingkungannya. Etika ini membahas masalah-masalah aktual pada zaman ini, yaitu tentang sikap terhadap sesama, keluarga, profesi, politik dan lingkungan hidup secara rasional, kritis dan sistematis. Etika sosial membicarakan prinsip-prinsip atau norma-norma moral bagi masalah khusus tersebut. Etika individual dan etika sosial tidak bisa dipisahkan secara tajam, karena kewajiban terhadap diri sendiri dan sebagai anggota terhadap umat manusia saling berkaitan. E.Y. Kanter (2001)

Etika Khusus
Lanjutan Dengan demikian luasnya lingkup dari etika sosial, maka etika sosial ini terbagi atau terpecah menjadi banyak bagian atau bidang. Dan pembahasan bidang yang paling aktual saat ini adalah sebagai berikut : 1. Sikap terhadap sesama 2. Etika keluarga 3. Etika profesi 4. Etika politik 5. Etika lingkungan 6. Etika idiologi E.Y. Kanter (2001)

Etika Khusus Etika sosial/Profesi

Sehingga etika profesi merupakan bidang etika khusus atau terapan yang merupakan produk dari etika sosial. Etika profesi menurut keiser dalam (Suhrawardi Lubis, 1994:6-7 ) adalah sikap hidup berupa keadilan untuk memberikan pelayanan professional terhadap masyarakat dengan penuh ketertiban dan keahlian sebagai pelayanan dalam rangka melaksanakan tugas berupa kewajiban terhadap masyarakat. E.Y. Kanter (2001)

Etika Khusus Etika sosial/Profesi


Lanjutan Profesi menjadi suatu kelompok yang mempunyai kekuasaan tersendiri dan karena itu mempunyai tanggung jawab khusus. Sehingga dalam etika profesi diperlukan adanya kode etik profesi. Alasannya: Dengan kode etik kepercayaan masyarakat akan suatu profesi dapat diperkuat, karena setiap klien mempunyai kepastian bahwa kepentingannya akan terjamin. Kode etik ibarat kompas yang menunjukkan arah moral bagi suatu profesi dan sekaligus juga menjamin mutu moral profesi itu dimata masyarakat Kode etik juga penting untuk mencegah pengawasan ataupun campur tangan yang diakukan oleh pemerintah atau oleh masyarakat.
E.Y. Kanter (2001)

SUMBER ETIKA

Sumber Etika
1. Didikan Masa Kecil Tak dapat disangkal, setiap individu belajar etika dari orang tuanya, apa yang mereka ajarkan baik berupa perkatan maupun yang paling penting melalui tindakan mereka. didikan ini membentuk sikap kita yang paling mendasar tentang apa yang "benar" dan apa yang "salah".

(George L. Head, Ph.D., 2006)

Sumber Etika
2. Pengalaman hidup Sama dengan didikan masa kecil, pengalaman hidup selanjutnya juga mempengaruhi. pengalaman-pengalaman hidup secara langsung dan sadar lebih membentuk etika seseorang

(George L. Head, Ph.D., 2006)

Sumber Etika
3. Kepercayaan Agama Hampir seluruh agama di dunia mengajarkan dasar kode etik yang sama yang menekankan pada kejujuran, saling menghargai orang lain dan hakhaknya, dan tidak mementingkan diri sendiri. Oleh karena itu baik dalam situasi bisnis maupun pribadi, orang yang religius lebih bersikap kepada tindakan yang sangat etis. Sedangkan mereka yang kurang religius akan lebih bersikap egois, dan kurang etis.

(George L. Head, Ph.D., 2006)

Sumber Etika
4. Obrolan dengan individu lain Hampir setiap hari, terjadi begitu saja, dan terkadang tanpa berpikir terlebih dahulu, hampir semua orang pernah berbicara mengenai orang lain (berpendapat apakah yang telah orang lain atau kita lakukan baik, benar dan masuk akal (atau mungkin sangat berlawanan)). Terbawa dalam obrolan ringan, gosip, obrolan ketika sedang makan yang tersirat (terkadang bahkan sangat terang-terangan), menilai etika tentang perilaku yang sedang didiskusikan.

(George L. Head, Ph.D., 2006)

Sumber Etika
Lanjutan Perilaku dan perkataan orang lain dicap "Bagus", "jahat", "serakah", "murah hati", dan lebih dari ratusan sifat lainnya. seiring berjalannya waktu, obrolan ini membawa setiap orang memahami akan apa yang orang-orang disekitar kita golongkan apakah itu baik dan buruk, etis dan tidak etis. Sehingga orangorang dapat mengetahui perilaku-perilaku yang etis dan tidak dan menanamkannya dalam perilaku mereka. Kecuali kita memiliki alasan pribadi atau pendirian tersendiri yang mengatakan sebaliknya tentang orang yang sedang di bicarakan itu, namun kebanyakan dari kita cenderung terbawa dengan opini-opini di sekitar kita, dibandingkan dengan menilai sendiri aspek etik dari tindakan orang lain itu. Sehingga hampir sering kali perilaku individu dalam lingkungan sosial dapat diterima, meskipun tanpa mengkaji kebenarannya berdasarkan (George L. Head, Ph.D., 2006) standar etika terlebih dahulu.

Sumber Etika
5. Filsuf etika Paraf filsuf yang mengembangkan sistem etika (seperti Plato, Aristoteles, Kant, Bentham dan para pemikir etika di seluruh dunia lainnya) telah mengembangkan prinsip dasar dari sistem etika. Prinsipprinsip ini digunakan oleh banyak orang sebagai acuan dalam berprilaku etik.
(George L. Head, Ph.D., 2006)

Sumber Etika
6. Dilema etik Sumber etika lainnya ialah pemikiran dengan dilema-dilema etik(lebih merupakan cara mengembangkan kesadaran etis dan kepekaan seseorang, daripada sumber dari pedoman etika). Dilema-dilema ini, baik dalam situasi nyata maupun tidak, pasti melibatkan dua atau lebih prinsip etika, yang melawan satu sama lain. untuk mengatasi dilema tersebut, kita harus memilih prinsip etika yang mana yang lebih penting atau memikirkan apakah ada cara untuk melakukan kedua/seluruh prinsip itu tanpa mengakibatkan etika lainnya salah.
(George L. Head, Ph.D., 2006)

Materi Pertemuan 2

PENGENALAN KODE ETIK PROFESI BIDAN

PENGENALAN KODE ETIK BIDAN INTERNASIONAL

Kode Etik Bidan Menurut NZCOM


A code of ethics is not a dry dusty piece of paper; it is a living breathing embodiment of spirit of midwifery and we are the ones that make it not only live, but sing and dance with the joy of life itself

Kode etik bukanlah sekedar kertas kering yang berdebu, tapi kode etik adalah sebuah perwujudan hidup dari jiwa seorang bidan, dan kitalah orang yang tidak hanya membuatnya hidup, tapi bernyanyi dan menari dengan kesenangan hidup itu sendiri. Bronwin Pelvin, 1992

KODE ETIK ICM


Preamble The aim of the International Confederation of Midwives (ICM) is to improve the standard of care provided to women, babies and families throughout the world through the development, education, and appropriate utilization of the professional midwife. In keeping with its aim of women's health and focus on the midwife, the ICM sets forth the following code to guide the education, practice and research of the midwife. This code acknowledges women as persons, seeks justice for all people and equity in access to health care, and is based on mutual relationships of respect, trust, and the dignity of all members of society.

Preambul Tujuan dari ICM adalah untuk meningkatkan standar pelayanan yang diberikan kepada wanita, bayi dan keluarga di seluruh penjuru dunia meliputi aspek pengembangan, pendidikan dan pemanfaatan dari profesionalisme bidan, Dalam mencapai sasarannya yaitu kesehatan wanita dan fokus terhadap bidan, ICM membentuk keempat kode etik untuk menuntun bidan dalam aspek pendidikan, praktik, dan penelitian bidan itu sendiri. Kode Etik ini mengakui wanita sebagai manusia yang seutuhnya, juga untuk memperoleh keadilan untuk semua orang dan keadilan dalam memperoleh akses kesehatan yang berbasis hubungan kepedulian, kepercayaan dan martabat dari semua anggota masyarakat.

KODE ETIK ICM


1. Midwifery Relationships
A.
B.

C.
D. E. F.

Midwives respect a woman's informed right of choice and promote the woman's acceptance of responsibility for the outcomes of her choices. Midwives work with women, supporting their right to participate actively in decisions about their care, and empowering women to speak for themselves on issues affecting the health of women and their families in their culture/society. Midwives, together with women, work with policy and funding agencies to define women's needs for health services and to ensure that resources are fairly allocated considering priorities and availability. Midwives support and sustain each other in their professional roles, and actively nurture their own and others' sense of self-worth. Midwives work with other health professionals, consulting and referring as necessary when the woman's need for care exceeds the competencies of the midwife. Midwives recognize the human interdependence within their field of practice and actively seek to resolve inherent conflicts.

KODE ETIK ICM


1. Hubungan Bidan Klien
A.

B.
C.

D. E. F.

Bidan menghargai hak wanita untuk memilih dan memberikan info mengenai hasil dari pilihannya tersebut (Informed Consent) Bidan bermitra dengan wanita, mendukung haknya untuk berpartisipasi aktif dalam menentukan pilihan (Pemberdayaan wanita) Bidan bermitra bersama wanita, dengan kebijakan yang ada untuk menentukan kebutuhan pelayanan kesehatannya berdasarkan prioritas dan ketersediaan sumber. (penentuan Prioritas) Bidan mendukung dan menopang satu sama lain, dan menjaga peran profesionalnya. (menjaga Keprofesionalismeannya) Bidan bekerjasama dengan tenaga kesehatan lain dalam mengonsultasikan kebutuhan wanita di luar kompetensinya (Kolaborasi) Bidan mengakui adanya saling ketergantungan manusia dengan bidang praktiknya dan secara aktif berusaha untuk menyelesaikan konflik yang ada. (Saling menghargai).

KODE ETIK ICM


2. Practice of Midwifery
A. B. C. D. E. F. Midwives provide care for women and childbearing families with respect for cultural diversity while also working to eliminate harmful practices within those same cultures. Midwives encourage realistic expectations of childbirth by women within their own society, with the minimum expectation that no women should be harmed by conception or childbearing. Midwives use their professional knowledge to ensure safe birthing practices in all environments and cultures. Midwives respond to the psychological, physical, emotional and spiritual needs of women seeking health care, whatever their circumstances. Midwives act as effective role models in health promotion for women throughout their life cycle, for families and for other health professionals. Midwives actively seek personal, intellectual and professional growth throughout their midwifery career, integrating this growth into their practice.

KODE ETIK ICM


2. Praktik Kebidanan
A. B. C. Bidan menyediakan pelayanan untuk wanita dan keluarga dalam pengasuhan anak dengan menghargai budaya yang ada sekaligus menghapus budaya yang berbahaya bagi ibu dan bayi (Pelayanan pada wanita dan ibu) Bidan mendorong ekspektasi nyata mengenai proses melahirkan pada wanita, sehingga wanita tidak merasa takut oleh konsep melahirkan. (Memberikan Keyakinan) Bidan menggunakan pengetahuan dan keprofesionalismeannya untuk memastikan proses melahirkan yang aman dalam lingkungan dan budayanya (Profesionalisme pengetahuan) Bidan merespon terhadap kebutuhan mental, fisik, emosi dan spiritual wanita dalam berbagai keadaan. (Empati) Bidan berprilaku sebagai sosok yang dicontoh (role model) dalam promosi kesehatan wanita selama siklus kehidupannya, keluarga dan tenaga kesehatan lainnya. (Role Model masyarakat) Bidan aktif mengembangkan pribadi, intelektual dan profesional sepanjang karir mereka dan mengintegrasikan pengembangan ini ke dalam praktek mereka (Pengembangan Pengetahuan)

D. E.

F.

KODE ETIK ICM


3. The Professional Responsibilities of Midwives
A. Midwives hold in confidence client information in order to protect the right to privacy, and use judgment in sharing this information. B. Midwives are responsible for their decisions and actions, and are accountable for the related outcomes in their care of women. C. Midwives may refuse to participate in activities for which they hold deep moral opposition; however, the emphasis on individual conscience should not deprive women of essential health services. D. Midwives participate in the development and implementation of health policies that promote the health of all women and childbearing families.

KODE ETIK ICM


3. Profesionalisme dan Tanggung Jawab Bidan
A. Bidan memegang menjaga hak privasi klien, dan mempertimbangkan saran yang diberikan pada kliennya saat sharing. (Privasi Klien) B. Bidan bertanggung jawab terhadap keputusan dan tindakannya, dan bertanggung gugat atas hasil dari tindakan dalam pemberian pelayanan terhadap wanita. (Tanggung jawab keputusan) C. Bidan boleh menolak berpartisipasi dalam kegiatan yang bertentangan dengan kompetensinya. (Hak menolak) D. Bidan berpartisipasi dalam pengembangan kebijakan kesehatan yang mempromosikan kesehatan wanita dan anak. (Promosi Kesehatan)

KODE ETIK ICM


4. Advancement of Midwifery Knowledge and Practice

A. Midwives ensure that the advancement of midwifery knowledge is based on activities that protect the rights of women as persons. B. Midwives develop and share midwifery knowledge through a variety of processes, such as peer review and research. C. Midwives participate in the formal education of midwifery students and midwives.

KODE ETIK ICM


4. Pengembangan Pengetahuan dan Praktik Bidan A. Bidan memastikan pengembangan pengetahuan yang berdasarkan pada aktifitas dalam melindungi hak wanita (Pengembangan Pengetahuan) B. Bidan mengembangkan dan berbagi mengenai pengetahuan kebidanannya melalui berbagai proses, seperti review antar teman sejawat.

(Reflective Practice)

C. Bidan menempuh pendidikan formal kebidanan

Poin penting dalam Kode Etik dari ICM


1. Keadilan dalam memperoleh akses kesehatan (dalam Preambule) : hal ini mengimpelementasikan keadilan dalam alokasi kebutuhan klien, contohnya : populasi dan kelompok rentan mengidap penyakit yang harus diperhatikan akses kesehatannya. 2. Penyimpangan Budaya dan HAM (dalam III.B) : ketika wanita disetir oleh orang lain, maka haknya dalam menentukan pilihan akan berkurang, juga berkurangnya akses pendidikan, kesehatannya juga akan berkurang. 3. Keterkaitan antar manusia (Dalam I.F) : sejak bidan bermitra dengan wanita dan yang lainnya, dan terkadang wanita tidak selalu setuju dengan keutusan yang diberikan, maka penting untuk Bidan untuk mengerti alasan dari ketidaksetujuan tersebut. Bidan tidak pernah menyerah dalam memberi pengertian, menghargai dan hal apapun itu. Bidan bekerja untuk memecahkan konflik tersebut agar usaha menjaga kode etik untuk tetap berjalan.
www.midwiferytoday.com

Poin penting dalam Kode Etik dari ICM


Lanjutan 4. Hati Nurani setiap individu (dalam III.C) : didefinisikan sebagai refleksi dari pemikiran, analisi, dan pendalaman moral. Dalam konteks ini, bidan bisa menolak untuk memberikan pelayanan dan melimpahkannya kepada orang lain yang lebih tepat untuk melakukan pelayanan tersebut. 5. Inform Choice (dalam I.A) : Informasi yang diberikan haruslah secara untuh agar dapat dipahami oleh wanita sehingga wanita tersebut tau mengenai risiko, keuntungan dan masalah yang ditimbulkan dari pilihannya tersebut. 6. Hak Moral Manusia (dalam I.G) : setiap manusia berhak dihargai dan berhak atas hak dasarnya tidak boleh dilanggar atau diabaikan. Bidan harus mempertimbangkan aspek ini terhadap dirinya dan kliennya.

www.midwiferytoday.com

Poin penting dalam Kode Etik dari ICM


Lanjutan 7. Profesionalisme (dalam Preambul ) : hal ini dibahas agar dimengerti bahwa profesionalisme ada untuk kode etik, jika tidak professional maka tidak memenuhi kode etik. Peran ini dijalani bersama sama dalam lingkungan masyarakat. 8. Ilmu pengetahuan yang professional (dalam II.C) : hal ini memiliki arti bahwa bidan memperoleh pengetahuan dari pendidikan formal dan informal yang mengantarkannya pada kompetensi dalam melakukan praktik. 9. Hasil keputusan (dalam III.C) : Bidan bertanggungjawab terhadap hasil keputusan dan tindakannya. Namun mereka tidak bisa mempertanggungjawabkan tindakan diluar tanggung jawabnya (contoh : gen). www.midwiferytoday.com