Anda di halaman 1dari 7

Kasus KTD Ny. B berumur 30 tahun sedang hamil 3 bulan anak ke 3.

Dia datang ke bidan dan bercerita kalau dirinya sebenarnya tidak ingin hamil lagi. Kehamilan ini terjadi karena mertuanya menyuruhnya untuk memiliki anak lagi. Ny. B takut jika tidak menuruti apa yang diinginkan oleh mertuanya. Dia takut ketika bayinya sudah lahir, dia tidak bisa menyayangi dan mengurus anaknya itu. Ditambah lagi Ny. B sibuk bekerja. Dia berpikir untuk menggugurkan kandungannya saja.

Dialog: Klien : Assalamualaikum. Bidan : waalaikumussalam. Silahkan masuk bu. silahkan duduk. Klien : Iya terima kasih bu bidan. Bidan : ibu apa kabar? Terima kasih ya sudah mau datang kesini lagi. Klien : Iya sama-sama bu. Alhamdulillah saya sehat. Bidan : ibu datang kesini sama siapa bu? Klien : sendiri saja bu bidan. Bidan : ooh begitu.. kelihatannya ibu sedang bingung dan kesal. Ada apa bu? Ibu bisa cerita pada saya. Insyaallah saya bisa menjaga rahasia ibu.. Klien : iya bu bidan.. saya kesal dan bingung.. Bidan : kesal dan bingung kenapa bu? Cerita saja bu.. tidak apa-apa.. Klien : saya kesal bu, sudah lama seperti ini. Mertua saya menyuruh saya untuk memiliki anak lagi. Tapi saya kan tidak mau bu. Saya tidak mau hamil lagi seperti sekarang. Tapi saya takut sama mertua saya. Bidan : oh begitu.. jadi ibu kesal karena ibu tidak mau hamil lagi seperti sekarang. Tapi ibu takut kalau tidak menuruti mertua ibu yang ingin memiliki cucu lagi. Begitu bu? Klien : iya bu bidan. Bidan : iya bu saya mengerti.. kalau boleh tau, ibu kenapa tidak ingin memiliki anak lagi?

Klien : anak saya sudah 2 bu bidan. saya juga sibuk kerja. karena saya tidak ingin hamil, saya takut tidak menyayangi anak ini. Terus nanti juga siapa lagi yang ngurusin anak ini. gimana ya bu bidan? Bidan : ibu tenang ya.. yakin pasti ada jalan.. ibu sudah berbicara pada suami ibu tentang hal ini? Klien : belum bu bidan. apa saya gugurkan saja kandungan saya ini? Bidan : bu.. menggugurkan kandungan bukan merupakan solusi untuk masalah ini. Aborsi atau menggugurkan kandungan akan membuahkan masalah-masalah baru yang bahkan lebih besar lagi bagi ibu dan keluarga. Aborsi bisa mengancam ibu, beresiko untuk kesehatan dan pikiran ibu. Klien : resiko kesehatan dan pikiran bagaimana bu bidan? Bidan : resiko kesehatan seperti kanker bu, bahkan bisa menyebabkan kematian pada ibu. Selain itu, akan diliputi rasa bersalah yang tidak hilang selama bertahun-tahun. Klien : tapi kan saya bingung bu bidan. Bidan : ibu tenang.. insyaallah saya akan berusaha untuk membantu ibu. Klien : lalu, saya harus bagaimana? Bidan : 1. Mungkin ibu bisa memberitahu suami ibu tentang hal ini. mungkin suami ibu mempunyai solusi yang baik tanpa harus aborsi. 2. Ibu juga bisa berbicara kepada mertua ibu kalau ibu takut tidak bisa mengurus anak yang dikandung ibu karena harus bekerja. mungkin mertua ibu bisa meluangkan waktunya untuk mengurus anak ibu nantinya karena kehamilan ini juga adalah keinginannya. Mertua ibu pasti menyayangi anak ibu nantinya. 3. Jika tidak bisa pun, ibu bisa mendatangkan babysitter untuk menjaga anak ibu. bagaimana bu? Klien : oh begitu.. nanti saya akan bicarakan ini terlebih dahulu kepada suami saya bu bidan.. Bidan : iya bu.. yakin bu, tenang.. Pasti ada jalan. Banyak berdoa kepada Allah. Karena ini semua adalah kehendaknya. bagaimana bu sudah dimengerti?

Klien : iya bu bidan.. terima kasih banyak. Bidan : ibu bisa menjelaskan kembali alternatif masalah yang saya katakan tadi? Klien : klien menjelaskan kembali. Bidan : iya bu.. saya ingatkan kembali ya bu. (bidan merangkum masalah dan alternatif pemecahan masalah). bagaimana ibu ada yang bisa saya bantu lagi? Klien : tidak ada bu.. Bidan : oh begitu.. kalau nanti ada yang perlu dibantu lagi, ibu bisa datang lagi kesini. ibu juga bisa datang ke fasilitas kesehatan lain. Klien : iya bu terima kasih. Saya pamit dulu. Bidan : iya.. terima kasih bu sudah datang kesini. semoga ibu sekeluarga diberikan kesehatan. Klien : iya bu terima kasih.

Kasus IMS Ibu X sedang hamil 12 minggu anak pertama. Dia datang ke bidan mengeluh luka pada kemaluannya, tetapi tidak nyeri. Ibu mengatakan suaminya menderita sfilis serta belum teratasi. Ibu merasa cemas jika ibu dan bayi yang dikandungnya tertular sfilis. Ibu bekerja sebagai ibu rumah tangga dan tidak mengetahui aktivitas suaminya diluar rumah. Ibu juga sebenarnya belum paham betul mengenai penyakit sifilis tersebut.

Dialog: Klien : Assalamualaikum. Bidan : waalaikumussalam. Silahkan masuk bu. silahkan duduk. Klien : Iya terima kasih bu bidan. Bidan : ibu baru pertama kali datang kesini? Klien : Iya bu.. Bidan : oh begitu, perkenalkan bu saya bidan Y. Ibu dengan ibu siapa? Klien : saya ibu X.. Bidan : oh iya.. terima kasih bu sudah datang kesini. ibu datang kesini sama siapa bu? Klien : sendiri saja bu bidan. Bidan : ooh begitu.. sepertinya ibu ada sesuatu. Ada yang bisa saya bantu bu? ibu bisa cerita pada saya. Insyaallah saya bisa menjaga rahasia ibu.. Klien : saya cemas bu.. Bidan : cemas kenapa bu? Cerita saja bu.. tidak apa-apa.. Klien : kemaluan saya tuh luka tapi saya tidak merasakan rasa sakit. Karena itu saya jadi cemas bu.. suami saya menderita sifilis. Penyakit itu takut tertular pada saya dan bayi dalam kandungan saya. Saya ini sedang hamil 12 minggu bu dan ini anak pertama saya. Bidan : ooh jadi ibu dikemaluan atau divagina ibu ada luka, tapi ibu tidak merasakan sakit. Lalu ibu cemas jika ibu dan bayi ibu tertular penyakit sifilis oleh suami ibu?

Klien : iya bu bidan. saya cemas. saya harus bagaimana? Bidan : iya bu saya mengerti.. ibu pasti cemas dengan hal ini.. kalau boleh tau, sejak kapan luka itu ada bu? Klien : kira-kira sejak sebulanan yang lalu.. saya diamkan saja karena tidak sakit. Lalu sekarang saya jadi merasa takut makanya saya datang kesini. Bidan : oh begitu. Ibu tenangkan pikiran ibu.. insyaallah saya akan berusaha membantu ibu. Klien : iya bu.. Bidan : ibu sudah menceritakan ini kepada suami ibu? Klien : belum bu.. Bidan : lalu, bagaimana dengan hubungan seksual ibu dengan suami? Klien : itulah bu, saya dan suami berhubungan ketika suami saya sudah terkena sifilis. Bidan : oh begitu.. maaf ibu, apakah ibu sudah mengetahui sifilis itu penyakit yang seperti apa? Klien : saya belum terlalu banyak mengetahui tentang penyakit itu.. Bidan : saya akan jelaskan ya bu.. Penyakit sifilis atau disebt raja singa adalah penyakit menular seksual yang disebabkan oleh treponema pallidum. Bakteri treponema pallidum masuk ke dalam tubuh manusia melalui selaput lendir di vagina atau mulut dan melalui kulit. Cara penularan penyakit sifilis biasanya melalui hubungan seksual. Seseorang yang pernah terinfeksi sifilis tidak akan menjadi kebal dan bisa terinfeksi kembali. Gejala penyakit sifilis dilihat berdasarkan tahapan infeksi. Ada empat fase. 1. Fase primer: luka akan muncul sekitar 3-4 minggu setelah infeksi. Salah satu gejalanya adalah tampak luka tunggal pada kemaluan dan tidak nyeri. 2. Fase sekunder: bintik/bercak merah ditubuh. 3. Fase laten: tidak ada gejala. Seperti sembuh. Berlangsung bertahun-tahu atau berpuluh tahu, namun bisa muncul kembali. 4. Fase tersier: kelainan jantung, saraf, kulit, dan pembuluh darah.

5. Tersier jinak: adanya benjolan diberbagai organ, tetapi paling sering pada kaki di bawah lutut, bagian atas wajah dan kulit kepala. Komplikasi: 1. Jika tidak diobati dapat menyebabkan kerusakan berat susunan sraf pusat dan jantung 2. Pada kehamilan dapat ditularkan pada bayi 3. Menyebabkan keguguran dann atau lahir cacat 4. Memudahkan penularan HIV Klien : lalu saya harus bagaimana bu? saya takut terjadi yang ibu sebutka n tadi.. Bidan : Ibu bisa bicarakan ini dulu dengan suami ibu. Dan untuk ibu, ibu bisa melakukan pemeriksaan laboratorium ke rumah sakit untuk mengecek terinfeksi sifilis atau tidak. Namanya pemeriksaan VDRL dan TPHA. Karena ibu umur kehamilannya 12 minggu, maka pemeriksaan ini bertujuan agar dapat dicegah penularannya kepada bayi. Jika terinfeksi, setelah melakukan pemeriksaan bisa segera terapi. Jika tidak segera diterapi maka akan terjadi juga gangguan pada janin. Klien : oh begitu.. Terapinya seperti apa bu? Bidan : Terapinya dengan diberikan obat.. bagaimana bu? ibu mau seperti apa? Klien : saya mau bicara kepada suami saya dan diperiksa dulu bu ke laboratorium.. Bidan : iya.. bagus bu.. ibu juga banyak berdoa. Karena Allah yang mengatur semuanya. bagaimana bu sudah dipahami? Klien : iya bu bidan.. terima kasih banyak. Bidan : ibu bisa menjelaskan kembali mengenai penyakit sifilis yang sudah ibu pahami? Klien : (klien menjelaskan kembali) Bidan : iya betul bu.. saya ingatkan kembali ya bu. (bidan merangkum masalah dan alternatif pemecahan masalah). bagaimana ibu ada yang bisa saya bantu lagi? Klien : tidak ada bu..

Bidan : oh begitu.. kalau nanti ada yang perlu dibantu lagi, ibu bisa datang lagi kesini. ibu juga bisa datang ke fasilitas kesehatan lain. Klien : iya bu terima kasih. Saya pamit dulu. Bidan : iya.. terima kasih bu sudah datang kesini. Klien : iya bu terima kasih.