Anda di halaman 1dari 8
PROSEDUR OPERASIONAL STANDAR & KETENTUAN TERKAIT DALAM PERWUJUDAN KONSTRUKSI JEMBATAN T E K S U
PROSEDUR OPERASIONAL STANDAR &
KETENTUAN TERKAIT DALAM PERWUJUDAN
KONSTRUKSI JEMBATAN
T E K S
U T A M A
Agustus 2007
DEPARTEMEN
P EKERJAAN
UMUM
DIREKTORAT
JEND ERAL
BINA
MARGA
DD
II
RR
EE
KK
TT
OO
RR
AA
TT
BB
II
NN
AA
TT
EE
KK
NN
II
KK
Jl. Pattimura No. 20 Gd. Sapta Taruna Lt. VI Keb-Baru Telp/Fax (021) 7251544 - 7247283 Jkt 12110

DAFTAR ISI

POS Penyelenggaraan Jembatan

1. Pendahuluan

1

2. Studi-Studi Pendukung

2

3. Perencanaan Teknis

4

4. Pelaksanaan Fisik

5

5. Pemanfaatan

5

Lampiran-Lampiran

1. POS Penyusunan Kerangka Acuan Kerja

2. POS Survey Pendahuluan

3. POS Survey Lalu Lintas

4. POS Survey Geodesi

5. POS Survey Geoteknik

6. POS Survey Hidrologi

7. POS Perencanaan Teknis Jembatan

8. POS Penyampaian DED

9. POS Penyelenggaraan Jembatan Khusus

POS Penyelenggaraan Jembatan

PROSEDUR OPERASIONAL STANDAR dan KETENTUAN TERKAIT DALAM PERWUJUDAN PRODUK KONSTRUKSI JEMBATAN

1. PENDAHULUAN

Prosedur Operasional Standar Penyelenggaraan Jembatan meliputi seluruh rangkaian yang dimulai gagasan/impian akan suatu infrastruktur sampai dengan tahapan operasionalisasi jembatan, dan biasanya dibagi ke dalam 4 kelompok besar yaitu:

- Studi-studi yang mendukung terwujudnya gagasan

- Perencanaan Teknis: Perwujudan dalam bentuk blueprint yang merupakan produk dari rekayasa atau perencanaan teknis

- Fisik Konstruksi: Perwujudan blueprint dalam bentuk fisik konstruksi yang merupakan sinerji pihak kontraktor bersama konsultan pengawas dalam mengamankan produk perencanaan teknis.

- Pemanfaatan dan pemeliharaan yang sesuai dengan asumsi dan pertimbangan dalam rekayasa.

Diagram berikut menunjukkan keterkaitan berbagai pihak dalam mewujudkan produk infrastruktur yang sesuai dengan kebutuhan dan pemanfaatan yang direncanakan

produk infrastruktur yang sesuai dengan kebut uhan dan pemanfaatan yang direncanakan Subdit Teknik Jembatan Hal :

POS Penyelenggaraan Jembatan

Selanjutnya, dalam kaitannya dengan lamanya waktu yang diperlukan untuk perwujudan suatu proyek jembatan, secara umum berkisar antara 2 sampai dengan 5 tahun tergantung pada besaran proyek yang ditinjau. Umumnya penyusunan rencana penyelenggaraan proyek jembatan mengikuti skema penjadwalan berikut ini:

Studi Sosial Ekonomi & Pra-Studi Kelayakan (1 Th)

Studi Sosial Ekonomi & Pra-Studi Kelayakan (1 Th) Studi Kelayakan (1 Th) Preliminary/ Design Development (1

Studi Kelayakan (1 Th)

Preliminary/ Design

Development

(1 Th)

Kelayakan (1 Th) Preliminary/ Design Development (1 Th) Final Engineering (2 Th) Konstruksi dan Supervisi (3
Kelayakan (1 Th) Preliminary/ Design Development (1 Th) Final Engineering (2 Th) Konstruksi dan Supervisi (3
Kelayakan (1 Th) Preliminary/ Design Development (1 Th) Final Engineering (2 Th) Konstruksi dan Supervisi (3
Kelayakan (1 Th) Preliminary/ Design Development (1 Th) Final Engineering (2 Th) Konstruksi dan Supervisi (3

Final Engineering

(2 Th)

Design Development (1 Th) Final Engineering (2 Th) Konstruksi dan Supervisi (3 Th) Operasional Dan

Konstruksi dan

Supervisi

(3 Th)

Development (1 Th) Final Engineering (2 Th) Konstruksi dan Supervisi (3 Th) Operasional Dan Pemeliharaan

Operasional

Dan

Pemeliharaan

Untuk memperoleh mutu yang baik sesuai dengan persyaratan yang diminta, setiap langkah pekerjaan mulai dari Studi Sosial Ekonomi & Pra Studi Kelayakan sampai dengan pekerjaan Konstruksi dan Supervisi, perlu diterapkan sistem manajemen mutu yang dituangkan di dalam Rencana Mutu berupa Rencana Mutu Proyek (RMP) maupun Rencana Mutu Kontrak (RMK).

2. STUDI-STUDI PENDUKUNG

Tersedia suatu prosedur yang sistematis dalam penyusunan rencana dan program proyek jembatan di lingkungan Direktorat Jenderal Bina Marga yaitu:

IBMS bersama-sama dengan IRMS, sistem yang diperuntukkan menyusun rencana dan program proyek jembatan.

Sedangkan untuk proyek-proyek baru atau proyek dengan kondisi lalu-lintas relatif kecil di bawah 1000 kendaraan per-hari, biasanya perlu dilakukan studi-studi pendukung, termasuk proyek jembatan yang besar dimana akan melibatkan investasi yang besar pula, kajian-kajian dan studi-studi menjadi sangat penting. Dengan cara yang sama juga dilakukan untuk proyek dengan kondisi volume lalu-lintas lebih dari 20000 kendaraan per-hari.

Dengan Sistem yang ada yaitu IBMS dapat disusun rencana dan program jembatan untuk jangka panjang (5 tahunan) dan program tahunan dengan prosedur

-

POS Penyelenggaraan Jembatan

analisa ekonomis inkremental dengan membandingkan adanya proyek dengan tidak adanya proyek dengan asumsi:

- Volume lalu-lintas terus meningkat dengan kenaikan tertentu

- Kerusakan jalan dan jembatan mengikuti suatu kurva kerusakaan tertentu (deteriotation model)

- Interest bunga bank tetap untuk suatu kurun waktu analisis.

Sedangkan untuk proyek yang tidak dapat dievaluasi menggunakan sistem-sistem yang ada, maka perlu dilakukan kajian-kajian dan studi-studi pendukung. Kajian dan studi ini menjadi sangat penting mengingat, kegagalan dalam menyiapkannya akan berdampak pada investasi yang salah yang akan melibatkan biaya yang besar dibandingkan dengan biaya yang diperlukan untuk melalukan studi dan kajian tersebut. Kurva berikut ini menggambarkan tingkat resiko investasi dibandingkan dengan biaya menyiapkan studi-kajian. Terlihat biaya yang diperlukan untuk studi dalam hal ini FS, relatif kecil bila dibandingkan dengan resiko investasi. Sedangkan kegagalan/atau ketidakoptimalan menyiapkan Perencanaan Teknis akan menyebabkan resiko investasi yang tidak terlalu besar dibandingkan dengan kegagalan menyiapkan FS.

Biaya Investasi Studi dan Kajian Perencanaan Teknis Pelaksanaan Fisik Pemanfaatan Resiko
Biaya Investasi
Studi dan Kajian
Perencanaan Teknis
Pelaksanaan Fisik
Pemanfaatan
Resiko

WAKTU

POS Penyelenggaraan Jembatan

3. PERENCANAAN TEKNIS JEMBATAN

Perencanaan teknis jembatan merupakan domain dari kegiatan Sub Direktorat Teknik Jembatan, Direktorat Bina Teknik, Ditjem Bina Marga.

Perencanaan teknis jembatan meliputi; pengembangan gagasan (design development), preliminari desain, detail engineering sampai dengan penyiapan rencana kerja (shopdrawing).

Konsep pengadaan perencanaan teknis yang ada sekarang masih belum optimal sehingga setiap pengadaan DED perlu dilengkapi dengan kajian alternatif design. Walaupun, pada tahap ini masih ada kegiatan pengembangan gagasan dan pemilihan alternatif rencana, namun sifatnya sudah terbatas mengingat perencana yang terlibat dan akan melakukan kajian sudah tertentu dan tidak ada banyak alternatif yang akan dihasilkan. Sehingga dengan demikian membatasi pilihan yang ada bagi pengguna jasa dalam menentukan alternatif yang optimal baik dari segi efektivitas, efisiensi dan estetika.

Pengadaan konstruksi dalam bentuk EPC (Engineering Procurement and Construction) dimana Perencanaan Teknis disiapkan oleh Penyedia Jasa memberikan alternatif pilihan DED yang optimal dari ketiga aspek di atas, apalagi bila ditunjang dengan perencanaan yang disayembarakan.

POS Perencanaan Teknis Jembatan meliputi:

No.

POS

Status

1.

POS Penyusunan KAK (TOR)

Tersedia

2.

POS Pengadaan Penyedia Jasa (Konsultan)

FC-1

3.

POS Survey Pendahuluan

Tersedia

4.

POS Inventarisasi Jembatan

Ex-BMS’92

5.

POS Detail Jembatan

Ex-BMS’92

6.

POS Survey Lalu Lintas

Tersedia

7.

POS Survey Geodesi

Tersedia

8.

POS Survey Geoteknik

Tersedia

9.

POS Survey Hidrologi

Tersedia

10.

POS Perencanaan Teknis Jembatan

Tersedia

11.

POS Penyampaian DED

Tersedia

12.

POS Penyusunan Harga Satuan

Ex-SK BM

13.

POS Permintaan Bahan Jalan & Jembatan

FC-4

Catatan : ex-BMS’92 = Manual Pemeriksaan Jembatan

POS Penyelenggaraan Jembatan

4. PELAKSANAAN FISIK

Perwujudan blueprint dalam bentuk produk fisik infrastruktur yang biasanya dalam sistem yang berlaku saat ini dilakukan oleh Penyedia Jasa (Kontraktor) bersama dengan pihak Konsultan Pengawas. Konsultan Pengawas disini berfungsi mengamankan produk perencanaan teknis agar dapat diwujudkan sesuai rencana.

Pihak Penyedia Jasa dalam sistem yang berlaku dapat dilakukan oleh satu badan usaha atau dapat juga dilakukan oleh beberapa badan usaha atau dapat juga dilaksanakan oleh subkontraktor.

POS Pelaksanaan Fisik telah disiapkan oleh instansi yang berkompeten dalam pelaksanaan fisik, antara lain:

No.

POS

1.

POS Pembebasan Tanah

2.

POS Pengadaan Penyedia Jasa (Kontraktor & Pengawas)

3.

POS Preaward Meeting

4.

POS PCM

5.

POS Pembayaran Monthly Sertifikat

6.

POS CCO

7.

POS Revisi Design

8.

POS Review Design

9.

POS Program Mutu

10.

POS PHO

11.

POS Eskalasi

12.

POS Putus Kontrak

5. PEMANFAATAN

Phase paska konstruksi sangat menentukan umur layanan jembatan yang dibangun. Pada tahap ini petunjuk operasional dan pemeliharaan/penanganan harus disiapkan sehingga umur layan yang direncanakan dapat dicapai dan kerusakan dini dapat dihindarkan.

Pada tahap ini infrastruktur jembatan disamping harus disiapkan POS untuk pemanfaatannya juga harus tersedia biaya yang cukup untuk melakukan penanganan yang baik terutama untuk pemeliharaan jembatan.

POS Pemanfaatan Bidang Jembatan:

POS Penyelenggaraan Jembatan

No.

POS

Status

1.

POS Survey Jembatan

Ex-BMS’92

2.

POS Pemeliharaan Jembatan

Ex-BMS’92

3.

POS Pemanfaatan fasilitas Jembatan Bagi Umum

 

4.

POS Permohonan Izin Lewat Cargo Super-Berat

 

Catatan : ex-BMS’92 = Manual Pemeriksaan Jembatan