Anda di halaman 1dari 27

BAB I LAPORAN KASUS

I. IDENTIFIKASI Nama Jenis Kelamin Usia Kebangsaan Agama Status Pekerjaan Alamat MRS : Tn. Efendi Tami : Laki-laki : 55 tahun : Indonesia : Islam : Menikah : Pedagang : Palembang : 13 Januari 2013

1.1.ANAMNESIS (Tanggal 13 Januari 2013) Keluhan Utama: Luka bakar api pada lengan kanan, tungkai kanan, dan tungkai kiri.

Riwayat Perjalanan Penyakit: 3jam SMRS Penderita tersambar api ketika sedang memadamkan api yang menjalar ke motor yang sedang terbakar, luka bakar mengenai lengan kanan, tungkai kanan, dan tungkai kiri. Penderita tidak tampak sesak nafas, sukar bicara (-), penderita dibawa ke rumah sakit AK.Gani kemudian dirujuk ke RSMH. Riwayat terperangkap dalam ruangan tidak ada Riwayat penyakit yang pernah diderita tidak ada

1.2.PEMERIKSAAN FISIK SURVEY PRIMER A: B: C: Baik Pernafasan Nadi TD Berat Badan : 21X/Menit : 89X/Menit : 110/ 70 mmHg : 70Kg

SURVEY SEKUNDER Tampak Luka bakar pada Lengan kanan Tungkai kanan Tungkai kiri Total : 6 % grade II B : 12% grade. II B : 9 % grade II B : 27 % Grade II B

1.3.PEMERIKSAAN PENUNJANG Pemeriksaan Laboratorium (tanggal 13 Januari 2013) Hb Ht Eritrosit Leukosit LED Trombosit Diff Con Ureum Creatinin Natrium Kalium BSS : 14, g/dl : 42 vol% : 4.740.000 mm : 13.700 mm : 15 mm/jam : 200.000 mm : 0/2/0/81/12/5 : 31 mg/dl : 0,9 mg/dl : 146 mmol/l : 4,0 mmol/l : 113 mg/dl

1.5 DIAGNOSIS KERJA Luka bakar api 27 % Grade II B

1.7 PENATALAKSANAAN IVFD RL o Resusitasi dengan RL metoda Baxter RL 4 cc x berat badan x % luas luka bakar per 24 jam 4cc x 70Kg x 27% = 7560cc 50% diberikan dalam 8 jam I = 3780cc 50% diberikan dalam 16 jam berikutnya = 3780cc O2 Antibiotik Analgetik ATS Pemasangan Kateter urin Observasi vital sign dan urin output Debridement

1.8 PROGNOSIS Quo ad vitam : Dubia at bonam

Quo ad functionam : Dubia at bonam

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi Luka Bakar Luka bakar adalah luka yang disebabkan oleh kontak dengan suhu tinggi seperti api, air, panas, listrik, bahan kimia, dan radiasi; juga dapat oleh sebab kontak dengan suhu rendah (frost-bite). Kerusakan kulit (dapat disertai kerusakan jaringan di bawahnya) yang luas akan menyebabkan tingginya tingkat penguapan cairan tubuh yang juga disertai pengeluaran protein dan energi sehingga akan mengganggu metabolisme. Selain itu, tubuh juga rentan terhadap infeksi karena hilangnya kulit sebagai sawar. Pada kebakaran dalam ruangan tertutup atau bila luka bakar mengenai daerah muka/ wajah dapat menimbulkan kerusakan mukosa jalan napas akibat gas, asap atau uap panas yang terhisap. Cedera inhalasi disebabkan oleh jenis bahan kimia terbakar (tracheobronchitis) dari saluran pernapasan. Bila cedera ini terjadi pada pasien dengan luka bakar kulit yang parah, kematian sangat tinggi antara 48% sampai 86%. Edema yang terjadi dapat menyebabkan gangguan berupa hambatan jalan napas.

2.2. Epidemiologi Telah dilaporkan di Rumah Sakit Cipto Mangun Kusumo Jakarta pada tahun 1998 dilaporkan 107 kasus luka bakar yang dirawat, dengan angka kematian 37,38% sedangkan di Rumah Sakit Dr. Sutomo Surabaya pada tahun 2000 dirawat 106 kasus luka bakar, kematian 26, 41 %. Studi North West England menemukan angka rata-rata yang datang ke rumah sakit dengan trauma inhalasi akibat luka bakar adalah 0,29 per 1000 populasi tiap tahun. Perbandingan antara laki-laki dan perempuan yaitu 2:1. Referensi lain menyebutkan bahwa kurang lebih sepertiga (20-35%) pasien luka bakar yang datang ke Pusat Luka Bakar adalah dengan trauma inhalasi.

2.3. Anatomi Jaringan Kulit

Gambar 1. Penampang kulit

Kulit merupakan pelindung tubuh, beragam luas dan tebalnya. Luas kulit orang dewasa 1,5-2 m2 . Tebalnya antara 1-1,5 mm, tergantung letak, umur, jenis kelamin, suhu, dan keadaan gizi. Kulit paling tipis di kelopak mata, penis, labium minor dan bagian medial lengan atas. Sedangkan kulit tebal terdapat pada telapak tangan dan kaki, punggung, bahu, dan bokong. Organ tambahan (apendiks) kulitpun berbeda menurut tempatnya. Fungsi kulit mulai dari pelindung cedera fisik, kekeringan, kuman, indra dan pengatur suhu. Untuk peraba dan perasa ada ujung saraf sensoris VaterPacini, Meissner, Krause dan Ruffini yang terdapat di dermis.

2.4. Etiologi / Faktor Predisposisi Luka bakar disebabkan oleh pengalihan energi dari suatu sumber panas kepada tubuh melalui hantaran atau radiasi elektromagnetik. Berikut ini adalah beberapa penyebab luka bakar, antara lain : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Panas (misal api, air panas, uap panas) Radias Listrik Petir Bahan kimia (sifat asam dan basa kuat) Ledakan kompor, udara panas Ledakan ban, bom Sinar matahari Suhu yang sangat rendah (frost bite)

2.5. Patofisiologi Kulit mengandung air cukup banyak oleh karena itu kulit lambat menyerap panas dan lambat pula mengeluarkan panas. Panas akan terus masuk ke kulit bagian dalam walaupun sumber panas sudah tidak ada lagi. Pendinginan luka bakar secara cepat akan menurunkan temperatur jaringan, akan tetapi hal ini memiliki keterbatasan pada luka bakar yang luas atau berat karena akan mengakibatkan penurunan temperatur suhu tubuh. Area luka bakar umumnya meliputi: 1. Zona koagulasi (central) : non-viable, kerusakan jaringan masih reversible. 2. Zona statis (middle) : memiliki karakteristik khas dengan adanya dilatasi pembuluh darah dan difusi kapiler. Setelah 24 hingga 28 jam, dilatasi tersebut akan menutup dengan hasil akhir perubahan zona ini menjadi zona koagulasi. Kerusakan pada jaringan ini bisa saja reversible dengan penatalaksanaan yang sesuai (pendinginan, resusitasi cairan, critical care). 3. Zona hiperemis (outer) : terdiri dari jaringan kulit yang masih viable, jaringan kulit edematous.

Luka bakar

Hilang lapisan kulit

Kerusakan jaringan

Hasilkan zat peptida

Penguapan berlebihan cairan sel Jaras nyeri cepat Plasma darah keluar untuk mengatasi dehidrasi seluler

nosiseptor

Bradikinin, histamin,serotonin

Jaras nyeri lambat Respon vasodilatasi pemb.darah

Serat A dan

Serat C Kebocoran protein ke interstitial

Penurunan volume darah Hipoproteinemia = tek. onkotik Penurunan tekanan darah Cairan tertarik ke intertitial

Luka bakar mengakibatkan peningkatan permeabilitas pembuluh darah sehingga air, klorida dan protein tubuh akan keluar dari dalam sel dan menyebabkan edema yang dapat berlanjut pada keadaan hipovolemia dan hemokonsentrasi. Burn shock (shock Hipovolemik) merupakan komplikasi yang sering terjadi, manisfestasi sistemik tubuh terhadap kondisi ini adalah : 1. Respon kardiovaskuiler Curah jantung akan menurun sebelum perubahan yang signifikan pada volume darah terlihat dengan jelas. Karena berlanjutnya kehilangan cairan dan berkurangnya volume vaskuler, maka curah jantung akan terus turun dan terjadi penurunan tekanan darah. Keadaan ini merupakan awitan syok luka bakar. Sebagai respon, sistem saraf simpatik akan melepaskan katekolamin yang meningkatkan resistensi perifer (vasokontriksi) dan frekuensi denyut nadi. Selanjutnya vasokontriksi pembuluh darah perifer menurunkan curah jantung.

2. Respon Renalis Ginjal berfungsi untuk menyaring darah jadi dengan menurunnya volume intravaskuler maka aliran ke ginjal dan GFR menurun mengakibatkan keluaran urin menurun dan bisa berakibat gagal ginjal. 3. Respon Gastro Intestinal Ada 2 komplikasi gastrointestinal yang potensial, yaitu ileus paralitik (tidak adanya peristaltik usus) dan ulkus curling. Berkurangnya peristaltik usus dan bising usus merupakan manifestasi ileus paralitik yang terjadi akibat luka bakar. Distensi lambung dan nausea dapat mengakibatkan vomitus kecuali jika segera dilakukan dekompresi lampung (dengan pemasangan sonde lambung). Perdarahan lambung yang terjadi sekunder akibat stres fisiologik yang masif dapat ditandai oleh darah dalam feses atau vomitus yang berdarah. Semua tanda ini menunjukkan erosi lambung atau duodenum (ulkus curling). Respon umum pada luka bakar > 20 % adalah penurunan aktivitas gastrointestinal. Hal ini disebabkan oleh kombinasi efek respon hipovolemik dan neurologik serta respon endokrin terhadap adanya perlukan luas. Pemasangan NGT mencegah terjadinya distensi abdomen, muntah dan aspirasi. 4. Respon Imonologi Pertahanan imunologik tubuh sangat berubah akibat luka bakar. Sebagian basis mekanik, kulit sebagai mekanisme pertahanan dari organisme yang masuk.Terjadinya gangguan integritas kulit akan memungkinkan

mikroorganisme masuk ke dalam luka. 5. Respon Pulmoner Pada luka bakar yang berat, konsumsi Oksigen oleh jaringan akan meningkat dua kali lipat sebagai akibat dari keadaan hipermetabolisme dan respon lokal. Cedera pulmoner dapat diklasifikasikan menjadi beberapa kategori yaitu cedera saluran napas atas terjadi akibat panas langsung, cedera inhalasi di bawah glotis terjadi akibat menghirup produk pembakaran yang tidak

sempurna atau gas berbahaya seperti karbon monoksida, sulfur oksida, nitrogen oksida, senyawa aldehid, sianida, amonia, klorin, fosgen, benzena, dan halogen. Komplikasi pulmoner yang dapat terjadi akibat cedera inhalasi mencakup kegagalan akut respirasi dan ARDS (adult respiratory distress syndrome).

2.6. Klasifikasi Luka Bakar 1. Berdasarkan penyebab a. Luka bakar karena api b. Luka bakar karena air panas c. Luka bakar karena bahan kimia d. Laka bakar karena listrik e. Luka bakar karena radiasi f. Luka bakar karena suhu rendah (frost bite).

2. Berdasarkan kedalaman jaringan yang rusak Klasifikasi luka bakar berdasarkan kedalaman kerusakan jaringan berbeda-beda untuk masing-masing negara oleh karena ini sangat bergantung terhadap manajemen pengobatan yang digunakan oleh negara tersebut. Penentuan kedalaman kerusakan jaringan berperan dalam prognosis pasien baik dalam hal penampilan maupun fungsi organ yang terkena. Dalamnya kerusakan jaringan dikarenakan luka bakar tergantung pada tingginya suhu sumber panas, ketebalan kulit yang terkena, lama kontak dengan sumber panas, dan kemampuan kulit dalam mengurangi panas (sebagai contoh: aliran darah).

Gambar 2. Klasifikasi luka bakar berdasarkan kedalaman kerusakan jaringan

a. Luka bakar derajat I Luka bakar ini merupakan luka bakar teringan dimana kerusakan hanya terjadi pada epidermis. Kulit yang mengalami luka bakar derajat I tampak kering, hiperemi berupa eritema dikarenakan vasodilatasi kulit, dan nyeri karena ujung-ujung saraf sensorik teriritasi. Dalam 2 hingga 3 hari biasanya kemerahan dan rasa nyeri pada kulit akan berkurang. Luka bakar derajat ini akan sembuh tanpa jaringan parut dalam waktu 5 7 hari, dimana epitelium yang rusak akan mengelupas. Luka bakar derajat I umumnya terjadi dikarenakan sengatan matahari.

10

Gambar 3. Luka bakar derajat I

b. Luka bakar derajat II (luka bakar dermis) Luka bakar derajat dua kerusakan meliputi epidermis dan sebagian dermis tetapi masih ada element epitel yang tersisa, seperti sel epitel basal, kelenjar sebasea, kelenjar keringat, dan folikel rambut. Dengan adanya sisa epitel yang sehat ini, luka dapat sembuh sendiri dalam 10 21 hari. Oleh karena kerusakan kapiler dan ujung syaraf di dermis, luka derajat ini tampak lebih pucat dan merah, tergantung ada tidaknya aliran darah ke dermis, serta lebih nyeri dibandingkan luka bakar superficial. Pada luka bakar derajat II dasar luka terletak lebih tinggi di atas permukaan kulit normal. Juga timbul bula berisi cairan eksudat yang keluar dari pembuluh karena permeabilitas dindingnya meninggi. Luka bakar derajat II dibedakan menjadi :

11

o Derajat II dangkal (Derajat IIA) Dimana kerusakan mengenai bagian superficial dari dermis dan penyembuhan terjadi secara spontan dalam 10-14 hari. Apendises kulit seperti folikel rambut, kelenjar keringat, dan kelenjar sebacea masih utuh. Luka bakar derajat ini jarang menyebabkan parut hipertrofik, namun seringkali menyebabkan perubahan warna kulit yang mencolok. Luka bakar derajat II dangkal seringkali disebabkan tumpahan atau semburan air panas, dan paparan api dalam jangka waktu pendek. o Derajat II dalam (Derajat IIB) Dimana kerusakan mengenai hampir seluruh bagian dermis. Permukaan luka bakar biasanya tampak bercak-bercak putih dan pink dikarenakan perbedaan aliran darah ke dermis (bagian putih memiliki sedikit bahkan tidak ada aliran darah, dan bagian pink memiliki aliran darah). Penderita sering mengeluh rasa tidak nyaman dibandingkan sensasi nyeri. Penyembuhan terjadi lebih lama tergantung bagian dari dermis yang memiliki kemampuan reproduksi sel-sel kulit (epitel, stratum germinativum, kelenjar keringat, kelenjar sebasea, dan sebagainya) yang tersisa. Biasanya penyembuhan terjadi dalam waktu lebih dari satu bulan. Pada penderita luka bakar derajat II dalam sering terjadi parut hipertrofik dan kontraktur.

12

Gambar 4. Luka bakar derajat II (a. Luka bakar derajat II dangkal ; b. Luka bakar derajat II dalam) o

Luka bakar derajat III Luka bakar derajat III meliputi seluruh kedalaman kulit, mungkin subkutis, atau organ yang lebih dalam. Kulit yang terbakar berwarna abu-abu dan pucat, kering, letaknya lebih rendah serta dengan atau tanpa bula. Penderita luka bakar derajat III tidak merasakan nyeri dikarenakan rusaknya ujung-ujung saraf sensorik. Pada luka bakar derajat III dapat terbentuk eskar, yang merupakan suatu struktur intak namun nonvital berasal dari koagulasi protein pada lapisan epidermis dan dermis yang apabila dibiarkan selama beberapa hari hingga beberapa minggu akan terpisah dari jaringan di bawahnya yang viabel. Oleh karena tidak ada lagi apendises kulit yang hidup dan dapat sembuh hanya dengan kontraktur luka, epitelialisasi tepi luka dan cangkok kulit.

13

Gambar 4. Luka bakar derajat III

Berdasarkan tingkat keseriusan luka American Burn Association menggolongkan luka bakar menjadi tiga kategori, yaitu: a. Luka bakar mayor (berat) 1) Luka bakar derajat II 25 % atau lebih pada orang dewasa . 2) Luka bakar derajat II 20 % atau lebih pada anak anak. 3) Luka bakar derajat III 10 % atau lebih 4) Terdapat luka bakar pada tangan, muka, mata, telinga, kaki, dan perineum. 5) Terdapat trauma inhalasi dan multiple injuri tanpa memperhitungkan derajat dan luasnya luka. 6) Terdapat luka bakar listrik bertegangan tinggi. b. Luka bakar moderat (sedang) 1) Luka bakar derajat II 15-25 % pada orang dewasa 2) Luka bakar derajat II 10 20% pada anak anak 3) Luka bakar derajat III < 10 % 4) Tidak terdapat luka bakar pada tangan, muka, mata, telinga, kaki, dan perineum. c. Luka bakar minor (ringan) 1) Luka bakar derajat II <15 % 2) Luka bakar derajat II < 10 % pada anak anak

14

3) Luka bakar derajat III < 2 % 4) Tidak terdapat luka bakar di daerah wajah, tangan, dan kaki. 5) Luka tidak sirkumfer. 6) Tidak terdapat trauma inhalasi, elektrik, fraktur.

2.7. Luas Luka Bakar Wallace membagi tubuh atas bagian bagian 9 % atau kelipatan dari 9 terkenal dengan nama Rule of Nine atau Rule of Wallace. Kepala dan leher Lengan Badan Depan Badan Belakang Tungkai Genitalia/perineum Total :9% : 18 % : 18 % : 18 % : 36 % :1% : 100 %

Dalam perhitungan agar lebih mempermudah dapat dipakai luas telapak tangan penderita adalah 1 % dari luas permukaan tubuhnya. Pada anak anak dipakai modifikasi Rule of Nine menurut Lund and Brower, yaitu ditekankan pada umur 15 tahun, 5 tahun dan 1 tahun.

15

Beberapa hal yang perlu mendapat perhatian 1. Luka bakar yang disebabkan : Listrik : luka bakar tampak kecil tetapi kerusakan di dalam jaringan tubuh cukup luas. Kimia : masing-masing bahan memiliki ciri-ciri sendiri. 2. Daerah yang terkena : Wajah Tangan dan kaki Kemaluan, bokong, dan paha bagian dalam Sendi : Karena dapat terjadi penyulit dalam proses penyembuhannya dikemudian hari. 3. Faktor penyulit Usia kurang dari 5 tahun atau lebih dari 55 tahun, dianggap berat. Adanya penyakit penyerta

2.8.Gejala Klinis 1. Luka bakar derajat I: Kerusakan terbakar pada lapisan epidermis (superficial). Kulit kering, hiperemik berupa eritema. Tidak dijumpai bullae. Nyeri karena ujung-ujung saraf sensorik teriritasi. Penyembuhan terjadi secara spontan dalam waktu 5-10 hari. Contohnya adalah luka bakar akibat sengantan matahari

2. Luka bakar derajat II Kerusakan meliputi epidermis dan sebagian dermis, berupa reaksi inflamasi disertai proses eksudasi. Dijumpai bullae. Nyeri karena ujung-ujung saraf sensorik teriritasi. o Dasar luka berwarna merah atau pucat, sering terletak lebih tinggi diatas kulit normal.

16

Derajat II dangkal (superficial). Kerusakan mengenai bagian superfisial dari dermis. Organ-organ kulit seperti folikel rambut, kelenjar keringat, kelenjar sebasea masih utuh. Penyembuhan spontan dalam waktu 10-14 hari, tanpa skin graft

Derajat II dalam (deep). Kerusa kan hampir seluruh bagian dermis. Organ-organ kulit seperti folikel rambut, kelenjar keringat, kelenjar sebasea sebagian besar masih utuh. Penyembuhan terjadi lebih lama, tergantung biji epitel yang tersisa. Biasanya penyembuhan lebih dari satu bulan. Bahkan perlu dengan operasi penambalan kulit (skin graft).

3. Luka bakar derajat III Kerusakan meliputi seluruh tebal dermis dan lapisan yang lebih dalam. Organ-organ kulit seperti folikel rambut, kelenjar keringat, kelenjar sebasea mengalami kerusakan. Tidak dijumpai bulae. Kulit yang terbakar berwarna abu-abu dan pucat, karena kering lebih rendah dibanding kulit sekitar. Terjadi koagulasi protein pada epidermis dan dermis yang dikenal sebagai eskar. Tidak dijumpai rasa nyeri dan hilang sensasi, oleh karena ujung-ujung saraf sensorik mengalami kerusakan/kematian. Penyembuhan terjadi lama karena tidak ada proses epitelisasi spontan dari dasar luka.

17

2.9.Pemeriksaan Penunjang 1. Hitung darah lengkap : peningkatan Ht awal menunjukkan hemokonsentrasi sehubungan dengan perpindahan/kehilangan cairan. 2. Elektrolit serum : kalium meningkat karena cedera jaringan /kerusakan SDM dan penurunan fungsi ginjal. Natrium awalnya menurun pada kehilangan air. Alkalin fosfat : peningkatan sehubungan dengan perpindahan cairan interstitiil/ganguan pompa natrium. 3. Urine : adanya albumin, Hb, dan mioglobulin menunjukkan kerusakan jaringan dalam dan kehilangan protein. 4. Foto rontgen dada : untuk memastikan cedera inhalasi 5. Skan paru : untuk menentukan luasnya cedera inhalasi 6. EKG untuk mengetahui adanya iskemik miokard/disritmia pada luka bakar listrik. 7. BUN dan kreatinin untuk mengetahui fungsi ginjal. 8. Kadar karbon monoksida serum meningkat pada cedera inhalasi. 9. Bronkoskopi membantu memastikan cedera inhalasi asap. 10. Albumin serum dapat menurun karena kehilangan protein pada edema cairan. Fotografi luka bakar : memberikan catatan untuk penyembuhan luka bakar selanjutnya.

2.10. Penanganan Luka Bakar Secara Umum Nilai keamanan tempat kejadian dan keselamatan diri penolong 1. Identifikasi sumber dan hentikan proses luka bakar 2. Lepaskan pakaian dan perhiasan 3. Lakukan penilaian dini 4. Tentukan derajat luka bakar dan luas luka bakar 5. Tutup luka bakar 6. Jaga suhu tubuh penderita 7. Rujuk ke fasilitas kesehatan

18

Indikasi rawat inap: 1. Jika berumur 10-50 tahun a. > 20% grade II atau b. > 5% grade III 2. Jika < 10 atau > 50 tahun : > 10% TBSA II/III 3. Luka bakar mengenai wajah, genital dan perineum 4. Luka bakar sirkumfrensial ekstremitas 5. Luka bakar listrik, trauma radiasi, trauma kimia 6. Trauma inhalasi dengan luka bakar

Penatalaksanaan pasien luka bakar: A. Airway and Breathing 1. Intubasi A. Seringkali diperlukan untuk mencegah obstruksi saluran nafas akibat edema. B. Pasien dengan luka bakar luas (>50%) membutuhkan intubasi. C. Gunakan oksigen yang dilembabkan. 2. Luka bakar pada dinding dada dan abdomen dapat mengakibatkan gangguan ventilasi. Hal ini mungkin membutuhkan escharotomies.

B. Circulation Pada luka bakarberat / mayor terjadi perubahan permeabilitaskapiler yang akan diikuti dengan ekstrapasi cairan (plasma protein dan elektrolit) dari intravaskuler ke jaringan interfisial mengakibatkan terjadinya hipovolemic intra vaskuler dan edema interstisial. Keseimbangan tekanan hidrostatik dan onkotik tergangu sehingga sirkulasi kebagian distal terhambat, menyebabkan gangguan perfusi / sel / jaringan / organ. Pada luka bakar yang berat dengan perubahan permeabilitas kapiler yang hamper menyeluruh, terjadi penimbunan cairan massif di jaringan interstisial menyebabkan kondisi hipovolemik. Volume cairan

19

intravaskuler

mengalami

deficit,

timbul

ketidakmampuan

menyelenggaraan proses transportasi oksigen ke jaringan. Keadaan ini dikenal dengan sebutan syok. Syok yang timbul harus diatasi dalam waktu singkat, untuk mencegah kerusakan sel dan organ bertambah parah, sebab syok secara nyata bermakna memiliki korelasi dengan angka kematian. Beberapa penelitian membuktikan bahwa penatalaksanaan syok dengan metode resusutasi cairan konvensional (menggunakan regimen cairan yang ada) dengan penatalaksanaan syok dalam waktu singkat, menunjukkna perbaikkan prognosis, derajat kerusakan jaringan diperkecil (pemantauan kadar asam laktat), hipotermi dipersingkat dan koagulatif diperkecil kemungkinannya, ketiganya diketahui memiliki nilai prognostic terhadap angka mortalitas. Pada penanganan perbaikan sirkulasi pada luka bakar dikenal beberapa formula berikut : 1. Evans Formula 2. Brooke Formula 3. Parkland Formula 4. Modifikasi Formula 5. Monafo Formula

BAXTER formula Hari Pertama : Dewasa : Ringer Laktat 4 cc x berat badan x % luas luka bakar per 24 jam Anak : Ringer Laktat: Dextran = 17 : 3 o 2 cc x berat badan x % luas luka ditambah kebutuhan faali. o Kebutuhan faali : < 1 Tahun : berat badan x 100 cc 1 3 Tahun : berat badan x 75 cc 3 5 Tahun : berat badan x 50 cc

jumlah cairan diberikan dalam 8 jam pertama. diberikan 16 jam berikutnya.

20

Hari Kedua : Dewasa : Dextran 500-2000 cc + D5% Selanjutnya sesuai kebutuhan dan keadaan klinis penderita Anak : diberi sesuai kebutuhan faali

Menurut Evans Cairan yang dibutuhkan : 1. RL / NaCl = luas combustio % X BB/ Kg X 1 cc 2. Plasma = luas combustio % X BB / Kg X 1 cc 3. Pengganti yang hilang karena penguapan D5 2000 cc Hari I 8 jam X 16 jam X Hari II Hari III hari I hari ke II

C. Disability : secepatnya lakukan pemeriksaan neurologi dasar, terutama bila luka bakar disertai trauma tumpul, trauma kepala, paparan karbon monoksida atau memerlukan sedative.

D. Exposure : mencari trauma lain dengan melepaskan pakaian penderita dan perawatan luka, yaitu : 1. Hentikan proses luka bakar. 2. Tutup luka: bersihkan, keringkan, kenakan pakaian yang tidak lengket untuk memproteksi luka dan mencegah hipotermi. 3. Beri analgesik. 4. Beri profilaksis tetanus. 5. Beri profilaksis antibiotik kombinasi ataupun intravena bila ada indikasi.

E. Monitor level elektrolit karena sering terjadi hiponatremia dan hipokalemia.

21

F. Infeksi Agen antimikroba topikal 1. Silvadene (1% silver sulfadiazine) 2. Sulfamylon (10% mafenide acetate) 3. Silver nitrate (0.5% solution) 4. Bacitracin zinc ointment

H. Eksisi dan grafting 1. Biasanya setelah hemodinamik stabil. Biasanya dimulai dalam 2-4 hari. 2. Eksisi a. Eksisi jaringan hingga mencapai jaringan yang masih viabel b. Graf di subkutan kemungkinan lemah karena kurangnya suplai darah. 3. Kegagalan graft a. Debridement luka yang tidak adekuat b. Infeksi c. Seroma, hematoma d. Kurang kelembaban e. Posisi, pakaian atau penutup yang tidak baik f. Status nutrisi atau keseluruhan fisiologis yang kurang baik (contoh sepsis)

I. Kebutuhan nutrisi pada luka bakar Kebutuhan Kalori berdasarkan rumus curreri Kebutuhan kalori 24 jam = (25 kcal x kg BB) + (40 kcal x TBSA of the burn) Protein: 2.5 - 3 g/kg per hari pada dewasa dan 3 - 4 g/kg per hari pada anak-anak.

22

Pemberian makan peroral dilakukan sedini mungkin setelah 24-48 jam dipuasakan. Vitamin B komplek dan vitamin C.

Penanganan beberapa luka bakar khusus : Luka bakar Kimia : Nilai keamanan tempat kejadian dan keselamatan diri penolong : o Segera siram /aliri luka bakar dengan air sebanyak - banyaknya, sekurang-kurangnya 20 menit. Jangan buang waktu mencari antidotnya. o Jangan menyiram bahan kimia yang bereaksi makin kuat dengan air misalnya bubuk kaustik soda. o Bila mengenai mata, siram dengan air mengalir, dan lepaskan lensa kontak. o Minimalkan kontaminasi lanjut dengan aliran air sedemikian rupa hingga tidak mengenai daerah sehat. Bila penderita terkontaminasi, upayakan membersihkan penderita dari jauh, jangan sampai penolong juga terkena bahan kimia. o Bahan kimia padat / bubuk, asap dengan sikat halus kemudian siram dengan air sebanyak - banyaknya. o Siram atau aliri dengan air sekurang - kurangnya selama 20 menit. o Amankan bekas pakaian penderita yang terkontaminasi. o Pasang penutup luka steril pada bagian luka. o Atasi syok bila ada. o Rujuk ke fasilitas kesehatan.

23

Luka bakar listrik Gejala dan tanda syok listrik : Perubahan status mental dan penurunan respon Tampak luka bakar berat Pernapasan dangkal, tidak teratur atau tidak ada Denyut nadi lemah, tidak teratur atau tidak ada Patah tulang majemuk karena kontraksi otot.

Penanganan luka bakar listrik Nilai keamanan tempat kejadian dan keselamatan diri penolong 1. Lakukan penilaian dini 2. Periksa dan cari luka bakar di daerah listrik masuk dan tempat listrik keluar 3. Tutup muka dengan penutup luka steril kering 4. Atasi syok, bila ada 5. Rujuk ke fasilitas kesehatan.

Catatan : Penolong harus siap melaukan RJP pada penderita yang tersengat listrik. Penderita harus dipantau dengan ketat, karena henti napas dan henti jantung sering berulang.

Luka bakar Inhalasi Gejala dan tanda yang mungkin ditemukan : 1. 2. Bulu hidung hangus terbakar Luka bakar pada wajah bicara 3. 4. Butir arang karbon dalam cairan ludah Bau asap atau jelaga pada pernapasan (sianosis). 5. Kesukaran napas 8. Gerakan dada terbatas 9. Kulit kebiruan 6. Pernapasan berbunyi 7. Serak, batuk, sukar

24

Penanganan : Nilai keamanan tempat kejadian dan keselamatan diri penolong 1. 2. 3. 4. 5. Pindahkan penderita ke tempat aman Berikan oksigen, bila perlu oksigen yang dilembabkan melalui masker Penilaian dini terutama jalan napas dan pernapasan Bila perlu, lakukan pernapasan buatan dengan intubasi endotrakeal Rujuk ke fasilitas kesehatan

Catatan : Hati-hati dengan pemberian oksigen di daerah kebakaran. Pastikan penderita sudah diamankan secukupnya untuk mencegah terjadinya reaksi antara oksigen dengan api.

2.11. Komplikasi Luka Bakar A. Dehidrasi B. Infeksi C. Curlings ulcer D. Gangguan jalan nafas E. Konvulsi

2.12. Prognosa 1. Tergantung derajat luka bakar. 2. Luas permukaan 3. Daerah yang terkena, perineum, ketiak, leher dan tangan karena sulit perawatan dan mudah kontraktur. 4. Usia dan kesehatan penderita.

25

BAB III ANALISIS KASUS

Seorang laki-laki berumur 55 tahun beralamat di Palembang dibawa ke RSMH dengan keluhan luka bakar api. Dari autoanamnesis didapatkan bahwa laki-laki tersebut tersambar api dari lampu minyak yang meledak dan tidak tampak mengalami sesak nafas dan tidak sukar berbicara. Pada pemeriksaan fisik status generalis didapatkan keadaan umum pasien tampak sakit sedang, pasien sadar serta pernapasan, nadi, dan suhu dalam batas normal. Dari survei sekunder pada luka bakar diperkirakan total luas permukaan tubuh sebesar 27%, terdiri dari lengan kanan 6%, tungkai kanan 12%, dan tungkai kiri 9%. Kedalaman luka bakar yang diderita pasien derajat IIB. Tidak ditemukan kelainan di kepala, pupil, leher, thorak, abdomen, dan genitalia. Jadi dapat disimpulkan pada pasien ini mengalami luka bakar api derajat IIB 27%. Hasil pemeriksaan laboratorium didapatkan leukositosis dan pada pemeriksaan laoboratorium lainnnya masih dalam batas normal. Penatalaksanaan pada pasien ini direncanakan pemberian O2, resusitasi RL dengan metoda baxter, pemberian antibiotik, analgesik dan antitetanus, pemasangan kateter urine, observasi vital sign dan urine output, serta dilakukan debridement. Pada pasien ini, tubuh kehilangan kulit sebagai protective barrier sehingga rentan terhadap infeksi, oleh karena itu diberikan antibiotik spektrum luas dan anti tetanus serum sebagai profilaksis pada pasien ini. Untuk mengurangi rasa sakit, dikarenakan pada luka bakar grade II terjadi iritasi ujung-ujung saraf perifer, analgetik diberikan pada pasien ini. Pasien dirawat dengan pemberian antibiotik topikal silver sulfadiazine cream 1% yang memiliki aktifitas bakterisid terhadap bakteri gram positif dan gram negatif juga jamur. Prognosis pasien ini adalah Quo ad vitam dubia ad bonam dan quo ad fungtionam dubia ad bonam. Hal ini tentunya tergantung pada penatalaksanaan yang adekuat pada pasien ini, respon pasien terhadap cedera luka bakar dan therapi, serta faktor luka bakar itu sendiri.

26

DAFTAR PUSTAKA

1. Mirzani H, Leksana. Edt. 2006. Pediatricia. Edisi II. Yogyakarta: Tosca Enterprise. 2. R Sjamsuhidajat, Wim De Jong, Buku Ajar Ilmu Bedah Penerbit Buku Kedokteran, EGC. 2007 3. Sumiardi K, Bachsinar B. 1995. Bedah Minor. Edisi II. Jakarta: Hipokrates. 4. Corwin, Elizabeth J. 2009. Buku Saku Patofisiologi Edisi 3. Jakarta: EGC 5. Guyton, Arthur C., dkk. 1997. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 9. Jakarta: EGC 6. M Sjaifudin Noer, Penanganan Luka Bakar, Airlangga University Press, 2006 7. Pedoman Diagnosis dan Terapi, Lab/ Ilmu Bedah, Rumah Sakit Dr. Sutomo. Jakarta: EGC 8. Moenadjat, Yefta. 2005. Petunjuk Praktis Penatalaksanaan Luka Bakar. Komite Medik ALBI : Jakarta 9. Schwarz, et. al. 2005. Burns Wound Infections. Available at : http://oascentral.emedicine.com/RealMedia/ads/emedicine.com/Med/InfectDis /BurnWoundInfect. Accessed at: September 6th 2012

27