Anda di halaman 1dari 60

BAB I FONOLOGI

A. Pengertian Fonologi Fonologi merupakan bagian tata bahasa atau bidang ilmu bahasa yang menganalisis bunyi bahasa secara umum. Istilah fonologi, yang berasal dari gabungan kata Yunani phone bunyi dan logos tatanan, kata, atau ilmu dlsebut juga tata bunyi. Menurut Frank Parker (1994), fonologi merupakan suatu bidang yang mengkaji sistem bunyi suatu bahasa, yaitu rumus-rumus yang menentukan aspek sebutan, sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997) dinyatakan bahwa fonologi adalah bidang dalam linguistik yang menyelidiki bunyi bunyi bahasa menurut fungsinya. Dengan demikian fonologi adalah merupakan sistem bunyi dalam bahasa Indonesia atau dapat juga dikatakan bahwa fonologi adalah ilmu tentang bunyi bahasa.

B. Cabang-cabang Fonologi Fonologi dalam tataran ilmu bahasa dibagi dua bagian, yakni: 1. Fonetik Fonetik adalah ilmu bahasa yang membahas bunyi bunyi bahasa yang dihasilkan alat ucap manusia, serta bagaimana bunyi itu dihasilkan. Macam macam fonetik : a. Fonetik artikulatoris yang mempelajari posisi dan gerakan bibir, lidah dan organ-organ manusia lainnya yang memproduksi suara atau bunyi bahasa b. Fonetik akustik yang mempelajari gelombang suara dan bagaimana mereka didengarkan oleh telinga manusia

c. Fonetik auditori yang mempelajari persepsi bunyi dan terutama bagaimana otak mengolah data yang masuk sebagai suara

2. Fonemik Fonemik adalah ilmu bahasa yang membahas bunyi bunyi bahasa yang berfungsi sebagai pembeda makna. Jika dalam fonetik kita mempelajari segala macam bunyi yang dapat dihasilkan oleh alatalat ucap serta bagaimana tiap-tiap bunyi itu dilaksanakan, maka dalam fonemik kita mempelajari dan menyelidiki kemungkinan-kemungkinan, bunyi-ujaran yang manakah yang dapat mempunyai fungsi untuk membedakan arti.

C.

Fonem

a. Pengertian Fonem Fonem adalah satuan bunyi bahasa terkecil yang bersifat fungsional, artinya satuan memiliki fungsi untuk membedakan makna. Fonem tidak dapat berdiri sendiri karena belum mengandung arti, sedangkan menurut Supriyadi (1992) fonem adalah suatu kebahasaan yang terkecil. Fonem dalam bahasa dapat mempunyai beberapa macam lafal yang bergantung pada tempatnya dalam kata atau suku kata. Fonem /p/ dalam bahasa Indonesia, misalnya, dapat mempunyai 2 macam lafal. Bila berada pada awal kata atau suku kata, fonem itu dilafalkan secara lepas. Pada kata /pola/, misalnya, fonem /p/ itu diucapkan secara lepas untuk kemudian diikuti oleh fonem /o/. Bila berada pada akhir kata fonem /p/ tidak diucapkan secara lepas. Bibir kita masih tetap rapat tertutup waktu mengucapkan bunyi ini,mislanya, /suap/, /atap/, dan /katup/ Fonemisasi adalah usaha untuk menemukan bunyi-bunyi yang berfungsi dalam rangka pembedaan makna tersebut. Fonem sebuah istilah linguistik dan merupakan

satuan terkecil dalam sebuah bahasa yang masih bisa menunjukkan perbedaan makna. Fonem berbentuk bunyi.Misalkan dalam bahasa Indonesia bunyi [k] dan [g] merupakan dua fonem yang berbeda, misalkan dalam kata "cagar" dan "cakar". Tetapi dalam bahasa Arab hal ini tidaklah begitu. Dalam bahasa Arab hanya ada fonem /k/. Sebaliknya dalam bahasa Indonesia bunyi [f], [v] dan [p] pada dasarnya bukanlah tiga fonem yang berbeda. Kata provinsi apabila dilafazkan sebagai [propinsi], [profinsi] atau [provinsi] tetap sama saja. Fonem tidak memiliki makna, tapi peranannya dalam bahasa sangat penting karena fonem dapat membedakan makna. Misalnya saja fonem [l] dengan [r]. Jika kedua fonem tersebut berdiri sendiri, pastilah kita tidak akan menangkap makna. Akan tetapi lain halnya jika kedua fonem tersebut kita gabungkan dengan fonem lainnya seperti [m], [a], dan [h], maka fonem [l] dan [r] bisa membentuk makna /marah/ dan /malah/. Bagi orang Jepang kata marah dan malah mungkin mereka anggap sama karena dalam bahasa mereka tidak ada fonem. Terjadinya perbedaan makna hanya karena pemakaian fonem /b/ dan /p/ pada kata tersebut. Contoh lain: mari, lari, dari, tari, sari, jika satu unsur diganti dengan unsur lain maka akan membawa akibat yang besar yakni perubahan arti. b. Jenis-Jenis Fonem 1) Fonem vokal Fonem vokal dihasilkan tergantung pada beberapa hal sebagai berikut : a) b) bunyi) c) Maju mundurnya lidah ( jarak yang terjadi antara lidah dan lengkung kaki gigi). Posisi bibir (bentuk bibir ketika mengucapkan suatu bunyi) Tinggi rendahnya lidah ( posisi ujung dan belakang lidah ketika mengucapkan

2) Fonem diftong Yang dimaksud dengan Diftong adalah dua vokal berurutan yang berurutan yang diucapkan dalam satu kesatuan waktu. Difton dalam Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (1988) dinyatakan sebagai vokal yang berubah kualitasnya. Dalam sistim tulisan, difton dilambang oleh 2 huruf vokal. Kedua huruf vokal itu tidak dapat dipisahkan, bunyi law / pada kata pulau adalah diftong, sehingga <au> pada suku kata lau tidak dapat dipisah menjadi la-u seperti kasta mau. 3) Fonem konsonan Fonem konsonan adalah bunyi bahasa yang ketika dihasilkan mengalami hambatan-hambatan pada daerah artikulasi tertentu. Kualitasnya ditentukan oleh 3 faktor : ). Penyentuhan atau pendekatan berbagai alat ucap / artikulator ( bibir, gigi, gusi, Keadaan pita suara ( merapat atau meregang sampai bersuara atau tidak bersuara

lidah, dan langit-langit Cara alat ucap tersebut bersentuhan / berdekatan.

BAB II MORFOLOGI
A. Pengertian Morfologi Morfologi adalah cabang linguistik yang mengidentifikasi satuan-satuan dasar bahasa sebagai satuan gramatikal. Morfologi mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta pengaruh perubahan-perubahan bentuk kata terhadap golongan dan arti kata. Atau dengan kata lain dapat dikatakan bahwa morfologi mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta fungsi perubahan-perubahan bentuk kata itu, baik fungsi gramatik maupun fungsi semantik. (http://id.wikipedia.org/wiki/linguistik). Kata Morfologi berasal dari kata morphologie. Kata morphologie berasal dari bahasa Yunani morphe yang digabungkan dengan logos. Morphe berarti bentuk dan dan logos berarti ilmu. Bunyi [o] yang terdapat diantara morphed an logos ialah bunyi yang biasa muncul diantara dua kata yang digabungkan. Jadi, berdasarkan makna unsur-unsur pembentukannya itu, kata morfologi berarti ilmu tentang bentuk. Dalam kaitannya dengan kebahasaan, yang dipelajari dalam morfologi ialah bentuk kata. Selain itu, perubahan bentuk kata dan makna (arti) yang muncul serta perubahan kelas kata yang disebabkan perubahan bentuk kata itu, juga menjadi objek pembicaraan dalam morfologi. Dengan kata lain, secara struktural objek pembicaraan dalam morfologi adalah morfem pada tingkat terendah dan kata pada tingkat tertinggi. Itulah sebabnya, dikatakan bahwa morfologi adalah ilmu yang mempelajari seluk beluk kata (struktur kata) serta pengaruh perubahan-perubahan bentuk kata terhadap makna (arti) dan kelas kata.

B. Morfem 1. Pengertian Morfem Morfem adalah suatu bentuk bahasa yang tidak mengandung bagian-bagian yang mirip dengan bentuk lain, baik bunyi maupun maknanya. (Bloomfield, 1974: 6). Morfem adalah unsur-unsur terkecil yang memiliki makna dalam tutur suatu bahasa (Hookett dalam Sutawijaya, dkk.). Kalau dihubungkan dengan konsep satuan gramatik, maka unsur yang dimaksud oleh Hockett itu, tergolong ke dalam satuan gramatik yang paling kecil. Morfem, dapat juga dikatakan unsur terkecil dari pembentukan kata dan disesuaikan dengan aturan suatu bahasa. Pada bahasa Indonesia morfem dapat berbentuk imbuhan. Misalnya kata praduga memiliki dua morfem yaitu /pra/ dan /duga/. Kata duga merupakan kata dasar penambahan morfem /pra/ menyebabkan perubahan arti pada kata duga. (http://id.wikipedia.org/wiki/linguistik). Berdasarkan konsep-konsep di atas di atas dapat dikatakan bahwa morfem adalah satuan gramatik yang terkecil yang mempunyai makna, baik makna leksikal maupun makna gramatikal. Kata memperbesar misalnya, dapat kita potong sebagai berikut mem-perbesar per-besar Jika besar dipotong lagi, maka be- dan sar masing-masing tidak mempunyai makna. Bentuk seperti mem-, per-, dan besar disebut morfem. Morfem yang dapat berdiri sendiri, seperti besar, dinamakan morfem bebas, sedangkan yang melekat pada bentuk lain, seperti mem- dan per-, dinamakan morfem terikat. Contoh memperbesar di atas adalah satu kata yang terdiri atas tiga morfem, yakni dua morfem terikat mem- dan perserta satu morfem bebas, besar.

2. Morf dan Alomorf Morf dan alomorf adalah dua buah nama untuk untuk sebuah bentuk yang sama. Morf adalah nama untuk sebuah bentuk yang belum diketahui statusnya (misal: {i} pada kenai); sedangkan alomorf adalah nama untuk bentuk tersebut kalau sudah diketahui statusnya (misal [br], [b], [bl] adalah alomorf dari morfem ber-. Atau bias dikatakan bahwa anggota satu morfem yang wujudnya berbeda, tetapi yang mempunyai fungsi dan makna yang sama dinamakan alomorf. Dengan kata lain alomorf adalah perwujudan konkret (di dalam penuturan) dari sebuah morfem. Jadi setiap morfem tentu mempunyai almorf, entah satu, dua, atau enam buah. Contohnya, morfem meN- (dibaca: me nasal): me-, mem- men-, meny-, meng-, dan menge-. Secara fonologis, bentuk me- berdistribusi, antara lain, pada bentuk dasar yang fonem awalnya konsonan /I/ dan /r/; bentuk memberdistribusi pada bentuk dasar yang fonem awalnya konsonan /b/ dan juga /p/; bentuk men- berdistribusi pada bentuk dasar yang fonem awalnya /d/ dan juga /t/; bentuk menyberdistribusi pada bentuk dasar yang fonem awalnya /s/; bentuk meng- berdistribusi pada bentuk dasar yang fonem awalnya, antara lain konsonan /g/ dan /k/; dan bentuk mengeberdistribusi pada bentuk dasar yang ekasuku, contohnya {menge}+{cat}= mengecat. Bentuk-bentuk realisasi yang berlainan dari morfem yang sama tersebut disebut alomorf. 3. Prinsip-prinsip Pengenalan Morfem Untuk mengenal morfem secara jeli dalam bahasa Indonesia, diperlukan petunjuk sebagai pegangan. Ada enam prinsip yang saling melengkapi untuk memudahkan pengenalan morfem (Lihat Ramlan, 1980), yakni sebagai berikut: 3.1 Prinsip pertama Bentuk-bentuk yang mempunyai struktur fonologis dan arti atau makna yang sama merupakan satu morfem. membaca kemanusiaan

Contoh: baca pembaca bacaan membacakan 3.2 Prinsip Kedua Bentuk-bentuk yang mempunyai struktur fonolis yang berbeda, merupakan satu morfem apabila bentuk-bentuk itu mempunyai arti atau makna yang sama, dan perbedaan struktur fonologisnya dapat dijelaskan secara fonologis. Perubahan setiap morf itu bergantung kepada fonem awal morfem yang dilekatinya. Contoh: mem meNmen meny meng me: menulis : menyisir : menggambar : melempar : membawa ke-an kecepatan kedutaan kedengaran

Perubahan setiap morf itu bergantung kepada fonem awal morfem yang dilekatinya.

3.3 Prinsip Ketiga Bentuk-bentuk yang mempunyai struktur ontologis yang berbeda, sekalipun perbedaannya tidak dapat dijelaskan secara fonologis, masih dapat dianggap sebagai satu morfem apabila mempunyai makna yang sama, dan mempunyai distribusi yang komplementer. Perhatikan contoh berikut: berbelbe: berkarya, bertani, bercabang : belajar, belunjur : bekerja, berteriak, beserta

Kedudukan afiks ber- yang tidak dapat bertukar tempat itulah yang disebut distribusi komplementer. 3.4 Prinsip Keempat Apabila dalam deretan struktur, suatu bentuk berpararel dengan suatu kekosongan, maka kekosongan itu merupakan morfem, ialah yang disebut morfem zero. Misalnya: 1. Rina membeli sepatu 2. Rina menulis surat 3. Rina membaca novel 4. Rina menggulai ikan 5. Rina makan pecal 6. Rina minum susu Semua kalimat itu berstruktur SPO. Predikatnya tergolong ke dalam verba aktif transitif. Lau pada kalimat a, b. c, dan d, verba aktif transitif tersebut ditandai oleh meN-, sedangkan pada kalimat e dan f verba aktif transitif itu ditandai kekosongan (meN- tidak ada), kekosongan itu merupakan morfem, yang disebut morfem zero.

3.5 Prinsip Kelima Bentuk-bentuk yang mempunyai struktur fonologis yang sama mungkin merupakan satu morfem, mungkin pula merupakan morfem yang berbeda. Apabila bentuk yang mempunyai struktur fonologis yang sama itu berbeda maknanya, maka tentu saja merupakan fonem yang berbeda. Contoh: 1. a. Jubiar membeli buku b. Buku itu sangat mahal 1. a. Juniar membaca buku b. Juniar makan buku tebu Satuan buku pada kalimat 1. a dan 1. b merupakan morfem yang sama karena maknanya sama. Satuan buku pada kalimat kalimat 2. a dan 2. b bukanlah morfem yang sama karena maknanya berbeda. 3.6 Prinsip Keenam Setiap bentuk yang tidak dapat dipisahkan merupakan morfem. Ini berarti bahwa setiap satuan gramatik yang tidak dapat dipisahkan lagi atas satuan-satuan gramatik yang lebih kecil, adalah morfem. Misalnya, satuan ber- dan lari pada berlari, ter- dan tinggi pada tertinggi tidak dapat dipisahkan lagiatas satuan-satuan yang lebih kecil. oleh karena itu, ber-, lari, ter, dan tinggi adalah morfem.

4. Klasifikasi Morfem 4.1 Morfem Bebas dan Morfem Terikat Morfem ada yang bersifat bebas dan ada yang bersifat terikat. Dikatakan morfem bebas karena ia dapat berdiri sendiri, dan dikatakan terikat jika ia tidak dapat berdiri sendiri. Misalnya: 1. Morfem bebas saya, buku, dsb. 2. Morfem terikat ber-, kan-, me-, juang, henti, gaul, dsb. 4.2 Morfem Segmental dan Morfem Supra Segmental Morfem segmental adalah morfem yang terjadi dari fonem atau susunan fonem segmental. Sebagai contoh, morfem {rumah}, dapat dianalisis ke dalam segmen-segmen yang berupa fonem [r,u,m,a,h]. Fonem-fonem itu tergolong ke dalam fonem segmental. oleh karena itu, morfem {rumah} tergolong ke dalam jenis morfem segmental. Morfem supra segmental adalah morfem yang terjadi dari fonem suprasegmental. Misal, jeda dalam bahasa Indonesia. Contoh: 1. bapak wartawan 2. ibu guru bapak//wartawan ibu//guru

4.3 Morfem Bermakna Leksikal dan Morfem Tak Bermakna Leksikal Morfem yang bermakna leksikal merupakan satuan dasar bagi terbentuknya kata. morfem yang bermakna leksikal itu merupakan leksem, yakni bahan dasar yzng setelah mengalami pengolahan gramatikal menjadi kata ke dalam subsistem gramatika. Contoh: morfem {sekolah}. berarti tempat belajar.

Morfem yang tak bermakna leksikal dapat berupa morfem imbuhan, seperti {ber}, {ter-}, dan {se-}. morfem-morfem tersebut baru bermakna jika berada dalam pemakaian. Contoh: {bersepatu} berarti memakai sepatu. 4.4 Morfem Utuh dan Morfem Terbelah Morfem utuh merupakan morfem-morfem yang unsur-unsurnya bersambungan secara langsung. Contoh: {makan}, {tidur}, dan {pergi}. Morfem terbelah morfem-morfem yang tidak tergantung menjadi satu keutuhan. morfem-morfem itu terbelah oleh morfem yang lain. Contoh: {kehabisan} dan {berlarian} terdapat imbuhan ke-an atau {ke.an} dan imbuhan ber-an atau {ber.an}. contoh lain adalah morfem{gerigi} dan {gemetar}. Masing-masing morfem memilki morf /g..igi/ dan /g..etar/. Jadi, ciri terbelahnya terletak pada morfnya, tidak terletak pada morfemnya itu sendiri. morfem itu direalisasikan menjadi morf terbelah jika mendapatkan sisipan, yakni morfem sisipan {-er-} pada morfem {gigi} dan sisipan {-em} pada morfem {getar}. 4.5 Morfem Monofonemis dan Morfem Polifonemis Morfem monofonemis merupakan morfem yang terdiri dari satu fonem. Dalam bahasa Indonesia pada dapat dilihat pada morfem {-i} kata datangi atau morfem{a} dalam bahasa Inggris pada seperti pada kata asystematic. Morfem polifonemis merupakan morfem yang terdiri dari dua, tiga, dan empat fonem. Contoh, dalam bahasa Inggris morfem {un-} berarti tidak dan dalam bahasa Indonesia morfem {se-} berarti satu, sama. 4.6 Morfem Aditif, Morfem Replasif, dan Morfem Substraktif Morfem aditif adalah morfem yang ditambah atau ditambahkan. kata-kata yang mengalami afiksasi, seperti yang terdapat pada contoh-contoh berikut merupakan katakata yang terbentuk dari morfem aditif itu.

1. mengaji berbaju

2. childhood

houses Morfem replasif merupakan morfem yang bersifat penggantian. dalam bahasa

Inggris, misalnya, terdapat morfem penggantian yang menandai jamak. Contoh: {fut} {fi:t}. Morfem substraktif adalah morfem yang alomorfnya terbentuk dari hasil pengurangan terhadap unsur (fonem) yang terdapat morf yang lain. Biasanya terdapat dalam bahasa Perancis. C. Proses Morfologis Proses morfologis dapat dikatakan sebagai proses pembentukan kata dengan menghubungkan morfem yang satu dengan morfem yang lain yang merupakan bentuk dasar (Cahyono, 1995: 145). Dalam proses morfologis ini terdapat tiga proses yaitu: pengafiksan, pengulangan atau reduplikasi, dan pemajemukan atau penggabungan. 1. Pengafiksan Bentuk (atau morfem) terikat yang dipakai untuk menurunkan kata disebut afiks atau imbuhan (Alwi dkk., 2003: 31). Pengertian lain proses pembubuhan imbuhan pada suatu satuan, baik satuan itu berupa bentuk tunggal maupun bentuk kompleks, untuk membentuk kata (Cahyono, 1995:145). Contoh: 1. Berbaju 2. Menemukan 3. Ditemukan 4. Jawaban. Bila dilihat pada contoh, berdasarkan letak morfem terikat dengan morfem bebas pembubuhan dapat dibagi menjadi empat, yaitu pembubuhan depan (prefiks),

pembubuhan tengah (infiks), pembubuhan akhir (sufiks), dan pembubuhan terbelah (konfiks). 2. Reduplikasi Reduplikasi adalah pengulangan satuan gramatikal, baik seluruhnya maupun sebagian, baik disertai variasi fonem maupun tidak (Cahyono, 1995:145). Contoh: berbulan-bulan, satu-satu, seseorang, compang-camping, sayur-mayur. 3. Penggabungan atau Pemajemukan Proses pembentukan kata dari dua morfem bermakna leksikal (Oka dan Suparno, 1994:181). Contoh: 1. Sapu tangan 2. Rumah sakit 4. Perubahan Intern Perubahan intern adalah perubahan bentuk morfem yang terdapat dalam morfem itu sendiri. Contoh: dalam bahasa Inggris Singular Foot Mouse plural Feet mice

5. Suplisi Suplisi adalah proses morfologis yang menyebabkan adanya bentuk sama sekali baru. Contoh: dalam bahasa Inggris Go sing went sang

6. Modifikasi kosong Modifikasi kosong ialah proses morfologis yang tidak menimbulkan perubahan pada bentuknya tetapi konsepnya saja yang berubah. Contoh: read- read-read D. Proses Morfofonemik Proses perubahan fonem sebuah morfem yang digunakan untuk mempermudah ucapan. Contoh: Perubahan prefiks mengmeng + asah = mengasah meng + lihat = melihat menga + datangkan = mendatangkan meng + terjemah = menerjemahkan meng + patuhi = mematuhi

E. Proses morfemis menurut Verhaar 1. Afiksasi adalah pengimbuhan afiks 2. Prefix adalah imbuhan di sebelah kiri bentuk dasar. Contoh: mengajar 1. Sufiks adalah imbuhan di sebelah kanan bentuk dasar Contoh: ajarkan 1. Infiks adalah imbuhan yang disisipkan dalam kata dasar Contoh: gerigi 1. Konfiks adalah imbuhan dan akhiran pada sebuah bentuk dasar Contoh: perceraian 1. Fleksi adalah afiksasai yang terdiri atas golongan kata yang sama Contoh: mengajar diajar 3. Derifasi adalah afiksasi yang terdiri atas golongan kata yang tidak sama Contoh: mengajar pengajar 1. Klitika adalah morfem pendek yang tidak dapat diberi aksen atau tekanan melekat pada kata atau frasa lain dan meiliki arti yang tidak mudah untuk dideskripsikan secara leksikal, serta tidak melekat pada kelas kata tertentu. Contoh: -pun, -lah sekalipun apalah

F. Kata 1. Hakikat Kata Para linguis yang sehari-hari bergelut dengan kata ini, hingga dewasa ini, kiranya tidak pernah mempunyai kesamaan pendapat mengenai konsep apa yang di sebut dengan kata itu. Satu masalah lagi mengenai kata ini adalah mengenai kata sebagai satuan gramatikal. Menurut verhaar (1978) bentuk-bentuk kata bahasa Indonesia, misalnya: mengajar, di ajar, kauajar, terjar, dan ajarlah bukanlah lima buah kata yang berbeda, melainkan varian dari sebuah kata yang sama. Tetapi bentuk-bentuk, mengajar, pengajar, pengajaran, dan ajarlah adalah lima kata yang berlainan. Kata adalah satuan terkecil dari kalimat yang dapat berdiri sendiri dan mempunyai makna. Kata-kata yang terbentuk dari gabungan huruf atau morfem baru kita akui sebagai kata bila bentuk itu sudah mempunyai makna. (Lahmudin Finoza). Kata ialah morfem atau kombinasi morfem yang oleh bahasawan dianggap sebagai satuan terkecil yang dapat diujarkan sebagai bentuk yang bebas. (Kridalaksana). Perhatikan kata-kata di bawah ini. 1. Mobil 2. Rumah 3. Sepeda 4. Ambil 5. Dingin 6. Kuliah. Keenam kata yang kita ambil secara acak itu kita akui sebagai kata karena setiap kata mempunyai makna. Kita pasti akan meragukan, bahkan memastikan bahwa adepes, libma, ninggib, haklab bukan kata dari bahasa Indonesia karena tidak mempunyai makna. Dari segi bentuknya kata dapat dibedakan atas dua macam, yaitu (1) kata yang bermofem tunggal, dan (2) kata yang bermorfem banyak. Kata yang bermorfem tunggal

disebut juga kata dasar atau kata yang tidak berimbuhan. Kata dasar pada umumnya berpotensi untuk dikembangkan menjadi kata turunan atau kata berimbuhan. Perhatikan perubahan kata dasar menjadi kata turunan dalam tabel di bawah ini. 2. Pembentukan Kata Pembentukan kata ini mempunyai dua sifat, yaitu membentuk kata-kata yang inflektif, dan kedua yang bersifat derivatif. Apa yang dimaksud dengan inflektif dan derivatif akan dibicarakan berikut ini. 1). Inflektif Kata-kata dalam bahasa-bahasa berfleksi, seprti bahasa arab, bahasa latin, bahasa sansekerta, untuk dapat digunakan di dalam kalimat harus disesuaikan dulu bentuknya dengan kategori-kategori gramatikal yang berlaku dalam bahasa itu. 2). Derifatif Pembentukan kata secara derivatif adalah membentuk kata baru, kata yang identitas leksikalnya tidak sama dengan kata dasarnya, contoh dalam bahasa indonesia dapat diberikan, misalnya, dari kata air yang berkelas nomina dibentuk menjadi mengairi yang berkelas verba: dari kata makan yang berkelas verba dibentuk kata makanan yang berkelas nomina.

Tabel 1 Perubahan Kata Dasar Menjadi Kata Turunan yang Mengandung Berbagai Arti Kata Dasar Pelaku Asuh baca bangun buat cetak edar potong sapu tulis ukir pengasuh pembaca pembangun pembuat pencetak pengedar pemotong penyapu penulis pengukir Proses pengasuhan pembacaan pembangunan pembuatan pencetakan pengedaran pemotongan penyapuan penulisan pengukiran Hal/Tempat perbuatan percetakan peredaran perpotongan persapuan Perbuatan mengasuh membaca membangun membuat mencetak mengedar memotong menyapu menulis mengukir Hasil asuhan bacaan bangunan buatan cetakan edaran potongan sapuan tulisan ukiran.

Dalam tabel 1 itu terlihat perubahan kata dasar menjadi kata turunan selain mengubah bentuk, juga mengubah makna. Selanjutnya, perubahan makna mengakibatkan perubahan jenis atau kelas kata.

BAB III KALIMAT EFEKTIF


Kalimat efektif adalah kalimat yang secara tepat dapat mewakili gagasan atau perasaan pembicara atau penulis dan sanggup menimbulkan gagasan yang sama tepatnya di dalam pikiran pendengar atau pembaca seperti yang dipikirkan oleh pembicara atau penulis. SYARAT KALIMAT EFEKTIF : a. b. c. d. e. f. g. h. A. Bentukan kata harus sesuai EYD Struktur kalimat tepat Kesejajaran Kontaminasi Pleonasme Menggunakan kata baku Kelogisan Selalu menggunakan EYD Bentukan kata

Salah satu penyebab kalimat tidak efektif adalah penggunaan bentukan kata berimbuhan yang tidak tepat. Contoh: 1. 2. Anak-anak melempari batu ke dalam sungai. Guru menugaskan siswanya membuat karangan. Kalimat-kalimat tersebut tidak efektif karena menggunakan kata berimbuhan yang tidak tepat. Akhiran i pada kata melempari pada kalimat 1 membutuhkan objek yang bergerak, sedangkan akhiran kan pada kata menugaskan membutuhkan objek yang diam. Perbaikannya : 1. 2. Anak-anak melemparkan batu ke dalam sungai. Guru menugasi siswanya membuat karangan.

B.

Struktur kalimat Penyebab lain ketidakefektifan kalimat adalah pemakaian struktur kalimat yang

tidak tepat. Misalnya, penempatan subjek dan predikat yang tidak jelas. Contoh: 1. 2. Di antara ketiga anaknya memiliki perbedaan sifat. Kalau lulus ujian, maka saya akan mengadakan syukuran. Kalimat 1 tersebut tidak efektif karena tidak ada subjeknya. Subjek kalimat tersebut terganggu oleh adanya preposisi di. Sementara pada kalimat 2 induk kalimat saya akan mengadakan syukuran terganggu oleh munculnya konjungsi maka. Perbaikannya : 1. a. Ketiga anaknya memiliki perbedaan sifat

b. Di antara ketiga anaknya terdapat perbedaan sifat 2. Kalau lulus ujian, saya akan mengadakan syukuran. C. Kesejajaran Kesejajaran berarti kesamaan bentuk kata yang digunakandalam kalimat. Bila bentuk pertama menggunakan kata kerja, bentuk selanjutnya juga harus kata kerja. Dan seterusnya. Contoh: 1. Tugas para pekerja itu adalah mengecat rumah, perbaikan saluran air, dan

pemasangan pagar. 2. Kegiatan hari ini adalah mengedit karangan yang masuk dan perbaikan kata-kata

yang salah. Perbaikannya : 1. Tugas para pekerja itu adalah pengecatan rumah, perbaikan saluran air, dan

pemasangan pagar. 2. Kagiatan hari ini adalah pengeditan karangan yang masuk dan perbaikan kata-kata

yang salah. D. Kontaminasi Dalam bidang bahasa, kontaminasi berarti kerancuan atau kekacauan penggunaan kata, frasa, maupun kalimat.

Contoh: 1. 2. 3. Di yayasan itu dipelajarkan berbagai keterampilan wanita. Kita harus mengeyampingkan urusan pribadi kita. Buku itu sudah dibaca oleh saya. Pada kalimat 1 dan 2 terdapat kerancuan bentuk kata dipelajarkan dan mengeyampingkan sedangkan pada kalimat 3 terjadi kerancuan bentuk kalimat pasif. Perbaikannya: 1. a. Di yayasan itu diajarkan berbagai keterampilan wanita.

b. Di yayasan itu dipelajari berbagai keterampilan wanita. 2. Kita harus mengesampingkan urusan pribadi kita. 3. Buku itu sudah saya baca. E. Pleonasme Gejala pleonasme berarti menggunakan kata-kata yang berlebihan yang sebenarnya tidak diperlukan. Contoh: 1. 2. Pada zaman dahulu kala, Kerajaan Majapahit sangat berpengaruh. Kesehatannya telah pulih kembali. Kedua kalimat tersebut menggunakan kata yang berlebihan. Pada kalimat 1 kata zaman = waktu = kala, jadi cukup digunakan salah satu saja, sedangkan pada kalimat kedua kata pulih = kembali seperti semula. Perbaikannya : 1. 2. Pada zaman dahulu, Kerajaan Majapahit sangat berpengaruh. Kesehatannya telah pulih.

E. Transformasi kalimat Transformasi berasal dari bahasa inggris transformation yaitu suatu proses mengubah bentuk bahasa menjadi bentuk-bentuk lain. baik dari bentuk yang sederhana ke bentuk yang kompleks, maupun dari bentuk yang kompleks ke bentuk yang sederhana. Maka tranformasi kalimat berupa perubahan bentuk kalimat menjadi bentuk kalimat lain.

Jenis-jenis transformasi sebagai berikut: 1. Transformasi jeda, yaitu dengan menggunakan jeda. Jeda adalah perhentian sebentar. Perhentian sebentar ini dalam kalimat dapat diwujudkan setelah mengucapakan kata-kata yang ada di dalam kalimat. Contoh: a. Ibu Ruminah seorang guru. b. Ibu, Ruminah seorang guru. c. Ibu Ruminah, seorang guru. d. Ibu, Ruminah, seorang guru. Penempatan jeda mengakibatkan kalimat a) yang masih meragukan menjadi kalimat b) c) dan d) yang memiliki maksud berbeda. Kalimat b) yang berprofesi sebagai guru adalah Ruminah; kalimat c) yang berprofesi sebagai guru adalah Ibu Ruminah; dan d) yang berprofesi sebagai guru adalah Ibu dan Ruminah. Tanda baca (,) yang merupakan perhentian sebentar memiliki makna yang dalam. Jadi dalam menulis harus memperhatiakan tanda baca agar pemabaca dapat mememahami informasi yang disampaikan. Informasi yang tidak bisa dipahami pembaca mengakibatkan tulusan seorang penulis tidak komunikatif. Kalimat minor atau minim juga dapat dijadikan menjadi kalimat lain dengan transfornasi jeda. Contoh: a. Aduh. b. Aduh! c. Aduh?1 d. Aduh.? e. Aduh?

2. Transformasi aposisi, yaitu dengan menggunakan kata tugas yang. Perubahan bentuk kalimat antara dua komponen menggunakan kata tugas yang (monovalen) Contoh: a. Almari itu dipakai tempat baju. b. Almari itu dijual. Bentuk transformasinnya: a. Almari yang dipakai tempat baju itu dijual. b. Almari yang dijual itu dipakai tempat baju. Kalimat a) transformasi primer sebab gagasan pertama menempati posisi depan (bagian depan/kontur depan) Sedangakan gagasan kedua menempati posisi belakang. Pembentukan kalimat transformasi aposisi ini menggunakan tiga gagasan yang berbeda dan dideskripsikan berurutan. Transformasi aposisi ini dimanfaatkan pada bentuk deskripsi. Karangan diskripsi mengandalkan keahlian penulis dalam membuat bentuk-bentuk kalimat transformasi aposisi. Contoh kalimat: a. Pemuda ini sering mengantar aku sampai ke kos. b. Pemuda ini sering membiri ucapan selamt ulang tahun kepadaku. c. Pemuda ini diwisuda Agustus 2005. Diubah menjadi kalimat transformasi aposisi: Menjadi a+b+c; a+c+b; b+a+c; b+c+a; c+b+a dan c+a+b.

Pengembangan penalaran penulis tampak dalam kalimat yang disusun. Kelogisan eskripsi akan menjadi bahan pertimbangan bagi seorang penulis.

3. Transformasi setara, yaitu dengan menggunakan kata tugas dan. Pentransformasian ini akan menghasilkan kalimat majemuk setara/kalimat koordinat. Dua gagasan yang nilai komunikasinya sama disatukan oleh kata dan. Contoh: a. Hujan turun dan pohon tumbang. b. Ayah pergi dan ibu pulang. Hal yang bisa disatukan tentu saja memenuhi syarat nilai sama seperti kalimat diatas. Contoh: a. Hujan turun dan sudah wisuda. b. Ibu menjahit dan teroris bergerak. Ada kendala psikologis dalam penyusunan kalimat diatas, penulis nampak memaksa gagasan yang berbeda disatukan dalam satu kalimat.

4. Transformasi disjungtif, yaitu dengan menggunakan kata tugas atau/tetapi. Penggunaan kata atau untuk menghasilkan kesamaan dan penggunaan tetapi untuk menghasilkan ketidaksamaan.

Contoh: a. Ida makan, atau Ibu tidur. b. Ida makan, tetapi Ibu tidur.

c. Saya berbicara keras, tetapi guru menerangkan. d. Saya berbicara keras, tetapi guru tidak menghiraukan.

5. Transformasi opini, yaitu dengan menggunakan kata tugas benar atau tidak benar. Opini merupakn pandangan penulis. Transformasi opini merupakan pandangan subjektif penulis. Nilai pendapat ditentukan oleh kepandaian yang dimiliki penulis. Penulis yang dipercaya tentu saja berimbas pada kepercayaan terhadap kalimat yang dibuat. Pedapat yang berorientasi kepada pengakuan menggunakan kata tugas benar dan opini yang berorientasi kepada pengingkaran atau sanggahan menggunakan kata tugas tidak benar. Contoh: a. Benar, bahwa Ani mengikuti semester pendek ini. b. Tidak benar, rakyat belum makmur. Opini sering di sajikan berdasarkan pandangan seseorang terhadap hal yang terjadi di dalam kehidupan. Logika atau penalaran yang menyertai penyusunan kalimat opini ini adalah kondisi psikologis penuis. Kalimat ini bisa mendatangkan perdebatan adu argument yang serius manakala digunakan dalam komunikasi. Komunikasi tulis akan menimbulkan perang pena.

6. Transformasi Total, yaitu dengan menggunakan bentuk afirmatif dan negasi. Transformasi total atau dupik. Penulis menampilakn bentuk afirmatif dan negasi dalam bentuk kalimat. Contoh: a. Ayah pergi atau tidak pergi dan saya harus ada di rumah.

b. Sehat atau tidak sehat, saya harus mengikuti kuliah ini. c. Penjudi atau bukan penjudi, tetapi mereka tetap ditangkap. Transformasi total ini juga berdsarkan transfomasi disjungtif yang mempergunakan kata atau dan tetapi. C. Kalimat Topik Topik adalah pokok pembicara atau pikiran. Topik ditentukan sebelum penulis mulai kegiatannya. Wujud topik yang dibicarakan ada dua: 1. Topik yang berupa bentuk kata; Misal: a. terorisme (bentuk kata berimbuhan): terror + isme. b. BBM (bentuk singkatan) c. Pilkada (bentuk akronim) d. Antikorupsi (bentuk berimbuhan) e. Tsunami (bentuk kata) 2. Topik yang berupa bentuk kalimat. Misal: a. Terorisme sebagai ancaman perdamaian dunia. b. Krisis BBM. c. Demokrasi rakyat tebentuk melalui pilkada. d. Kondisi sekolah pascatsunami. e. Dukungan moral terhadap gerakan antikorupsi. Predikat kalimat topik adalah verba tak operasional, artinya bukan kata kerja transitif. Kata kerja transitif menghendaki kehadiran objek. Cara menyusun kalimat topik yaitu dengan mengganti verba transitif dengan kata tugas.

BAB IV EYD

Ejaan Yang Disempurnakan (EYD)

Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) merupakan penyempurnaan darai semua hasil usaha dalam bidang ejaan yang telah mendahuluinya. Penerapan Ejaan yang disempurnakan secara bertahap yang secara resmi mulai tanggal 17 Agustus 1972 dengan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 57/1972, tentang peresmian berlakunya Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan.

Adapun hal-hal yang diatur penggunaanya dalam EYD:

a. Pemakaian huruf,

b. Penulisan haruf,

c. Penulisan kata,

d. Penulisan unsur serapan,

e. Penggunaan tanda baca.

Bila kita mencoba membandingkan antara EYD dengan Ejaan Suwandi, maka ada beberapa hal penting yang dapat dicatat. Perbedaan hal itu, ialah sebagai berikut: a. EYD sudah mengurangi jumlah pemakaian dwihuruf yang melambangkan hanya satu

fonem. Dengan masih adanya penggunaan dwihuruf ini, berarti ejaan yang ideal belum terwujud, yaitu satu huruf satu fonem.

b. EYD mencantumkan perbedaan penulisan di, an, ke sebagai kata depan dan sebagai imbuhan. Hal itu, lebih baik ditinjau dari ilmu tata bahasa.

c. Karena perubahan fungsi huruf tertentu, mengakibatkan perubahan nama huruf yang bersangkutan. Hhuruf yang dimaksud ialah c dan j. selanjutnya perubahan nama ini menyebabkan perubahan nama singkatan yang menggunakan huruf tersebut.

Perlu dicatat disini bahwa EYD tidak menggunakan huruf baru, jadi mesin tik dan mesin cetak yang ada tetap dipakai. Dengan berlakunya EYD, maka ketertiban dan keseragaman dalam penulisan bahasa Indonesia mudah terwujud.

Ejaan a. 1) Menggunakan huruf kapital Huruf Kapital atau huruf besar dipakai sebagai huruf pertama kata pada awal kalimat. Misalnya: 2) Dia mengantuk. Apa maksudnya? Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama petikan langsung. Misalnya: 3) Adik bertanya, Kapan kita pulang? Bapak menasihatkan, Berhati-hati, Nak! Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama dalam ungkapan yang berhubungan dengan nama Tuhan dan kitab suci, termasuk kata ganti untuk Tuhan.

Misalnya: Allah, Yang Maha Pengasih, Alkitab, Qur'an, Weda, Islam, Kristen. 4) Tuhan akan menunjukkan jalan yang benar kepada hamba-Nya. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang diikuti dengan nama orang. Misalnya: Mahaputra Yamin, Sultan Hasanudin, Haji Agus Salim, Imam Syafii, Nabi Ibrahim. 5) Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang tidak diikuti nama orang. Misalnya: 6) Dia baru saja diangkat menjadi sultan. Tahun ini dia pergi naik haji. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang atau dipakai sebagai pengganti nama orang tertentu, nama instansi, atau nama tempat. Misalnya: Wakil Presiden Adam Malik, Perdana Menteri Nehru, Profesor Supomo, Laksamana Muda Udara Husein Sastranegara, Sekretaris Jendral Departemen Pertanian, Gubernur Kalimantan Selatan 7) Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama jabatan dan pangkat yang tidak diikuti nama orang, instansi, atau nama tempat. Misalnya: 8) Siapakah gubernur yang baru dilantik itu? Kemarin Brigadir Jenderal Ahmad dilantik menjadi mayor jenderal. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur-unsur nama orang.

Misalnya: Amir Hamzah, Dewi Sartika, Wage Rudolf Supratman, Halim Pernakusumah, Ampere. Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama orang yang digunakan sebagai nama jenis atau satuan ukuran. Misalnya: mesin diesel, 10 volt, 5 ampere 9) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa. Misalnya: bangsa Indonesia, suku Sunda, bahasa Inggris 10) Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku, dan bahasa yang dipakai sebagai bentuk dasar kata turunan. Misalnya: mengindonesiakan kata asing keinggris-inggrisan

11) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, hari raya, dan peristiwa bersejarah. Misalnya: tahun Hijriah, tarikh Masehi, bulan Agustus, bulan Maulid, hari Jumat, hari Galungan, hari Lebaran, hari Natal, Perang Candu, Prolamasi Kemerdekaan Indonesia. 12) Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf depan pertama peristiwa bersejarah yang tidak dipakai sebagai nama. Misalnya: Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan bangsanya. Perlombaan senjata membawa risiko pecahnya perang dunia.

13) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama gografi.

Misalnya: Asia Tenggara, Banyuwangi, Bukit Barisan, Cirebon, Danau Toba, Dataran Tinggi Dieng, Gunung Semeru, Jalan Diponegoro, Jazirah Arab, Kali Brantas, Lembah Baliem, Ngarai Sianok, Pegunungan Jayawijaya, Selat Lombok, Tanjung Harapan, Teluk Benggala, Terusan Suez. 14) Huruf Kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama istilah geografi yang tidak menjadi unsur nama diri. Misalnya: berlayar ke teluk, mandi di kali, menyebrangi selat, pergi ke arah tenggara. 15) Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama geografi yang digunakan sebagai nama jenis. Misalnya: garam inggris, gula jawa, kacang bogor, pisang ambon 16) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua unsur nama negara, lembaga pemerintahdan ketatanegaraan , serta nama dokumen resmi kecuali kata seperti dan. Misalnya: Republik Indonesia; Majelis Permusyawaratan Rakyat; Departemen Pendidikan dan Kebudayaan; Badan Kesejahteraan Ibu dan Anak; Keputusan Rresiden Republik Indonesia, Nomor 57, Tahun 1972. 17) Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata yang bukan nama resmi negara, lembaga pemerintahan dan ketatanegaraan, badan, serta nama dokumen resmi. Misalnya: menjadi sebuah republik, beberapa badan hukum, kerja sama antara pemerintah dan rakyat, menurut undang-undang yang berlaku. 18) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap unsur bentuk ulang sempurna yang terdapat pada nama badan, lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, serta dokumen resmi.

Misalnya: Perserikatan Bangsa-Bangsa, Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial, Undang-Undang Dasar Republik Indonesia, Rancangan Undang-Undang Kepegawaian. 19) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata (termasuk semua unsur kata ulang sempurna) di dalam nama buku, majalah, surat kabar, dan judul karangan kecuali kata seperti di, ke, dari, dan, yang, untuk yang tidak terletak di posisi awal. Misalnya: Saya telah membaca buku Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma. Bacalah majalah Bahasa dan Sastra. Dia adalah agen surat kabar Sinar Pembangunan.

20) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur singkatan nama gelar, pangkat, dan sapaan. Misalnya: 21) Dr. S.E. Sdr. Doktor Sarjana Ekonomi Saudara

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan seperti bapak, ibu, saudara, kaka, adik, dan paman yang dipakai dalam penyapaan dan pengacuan. Misalnya:

Kapan Bapak berangkat? tanya Harto. Adik bertanya, Itu apa, Bu? Surat Saudara sudah saya terima. Silakan duduk, Dik! kata Ucok.

Besok Paman akan datang. Mereka pergi ke rumah Pak Camat. Para ibu mengunjungi Ibu Hasan.

22) Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan yang tidak dipakai dalam pengacauan atau penyapaan. Misalnya: Kita harus menghormati bapak dan ibu kita. Semua kakak dan adik saya sudah berkeluarga.

23) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata ganti Anda. Misalnya: Sudahkah Anda mengerti apa yang saya sampaikan ? Buku Anda telah saya kembalikan.

b. 1) a)

Penulisan tanda baca Tanda Titik Tanda titik dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan. Misalnya :

Ayah tinggal di Solo. Biarlah mereka duduk disana.

b)

Tanda titik dipakai untuk singkatan nama orang. Misalnya :

c)

A.S. Kramawijaya Muh. Feedayen Tanda titik dipakai pada akhir singkatan atau gelar, jabatan, pangkat, dan sapaan. Misalnya :

d)

Dr. Kol. Prof. S.E

Doktor Kolonel Profesor Sarjana Ekonomi

Tanda titik dipakai pada singkatan kata atau ungkapan yang sangat umum. Pada singkatan yang terdiri atas tiga huruf atau lebih hanya dipakai satu tanda titik. Misalnya :

e)

a.n. Yth.

atas nama Yang terhormat

Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukan waktu. Misalnya :

f)

pukul 1.35.20 (pukul 1 lewat 35 menit 20 detik) Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka, jam, menit, dan detik yang menunjukan jangka waktu. Misalnya : 1.35.20 jam (1 jam, 35 lewat, 20 detik)

g)

Tanda titik tidak dipakai untuk memisahkan angak ribuan, jutaan, dan seterusnya yang tidak menunjukan jumlah. Misalnya :

h)

Ia lahir pada tahun 1950 di Bandung. Nomor gironya 045678. (Tanda titik di sini mengakhiri kalimat). Tanda titik tidak dipakai dalam singkatan yang terdiri dari huruf-huruf awal kata atau suku kata, atau gabungan keduanya, atau yang terdapat dalam akronim yang sudah diterima oleh masyarakat. Misalnya :

UUD

Undang Undang Dasar

i)

sekjen

sekretaris janderal

Tanda titik tidak dipakai dalam singkatan lambang kimia, satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang. Misalnya:

j)

TNT Cm L Kg

Trinitrotoluen Sentimeter Liter Kilogram

Tanda titik tidak dipakai pada akhir judul yang merupakan kepala karangan atau kepala ilutrasi, tabel dan sebagainya.\ Misalnya :

k)

Acara Kunjugan Adam Malik Bentuk dan Kedaulatan ( Bab I UUD 45) Salah Asuhan Tanda titik tidak dipakai di belakang alamat pengirim dan tanggal surat atau nama dan penerima surat. Misalnya :

1 April 1973 Yth. Sdr. Moh. Hanafi Jalan Pemuda 43 Yogyakarta

Kantor Penempatan Tenaga Kerja Jalan Cikini 71 Jakarta

2) Tanda Koma ( , ) a) Tanda koma dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu perincian atau pembilangan. Misalnya : b) Saya membeli kertas, pena, dan tinta. Satu, dua, tiga ! Tanda koma dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara berikutnya yang didahului oleh kata seperti tetapi, melainkan. Misalnya :

c)

Saya ingin datang, tetapi hari hujan. Didi bukan anak saya, melainkan anak Pak Kasim. Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat apabila anak kalimat tersebut mendahului induk kalimatnya. Misalnya :

d)

Kalau hari hujan, saya tidak akan datang. Karena sibuk, ia lupa akan janjinya. Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat apabia anak kalimat mengiringi induk kalimat. Misalnya :

e)

Saya tidak akan datang kalau hari hujan. Dia berpendapat bahwa soal itu tidak penting. Tanda koma dipakai dibelakang kata atau ugkapan penghubung antarkalimat yang terdapat pada awal kalimat. Termasuk di dalamnya oleh karena itu, jadi, meskipun, lagi pula, begitu, akan tetapi. Misalnya :

f)

Oleh karena itu, kita harus berhati-hati. Jadi, soalnya tidaklah semudah itu. Tanda koma dipakai di belakang kata-kata seperti o, ya, wah, aduh, kasihan, yang Misalnya : terdapat pada awal kalimat.

g)

O, begitu ? Wah, bukan main ! Tanda koma dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat. Misalnya : Kata ibu, Saya gembira sekali. Saya gembira sekali, kata ibu, Karena kamu lulus. Tanda koma dipakai diantara (i)nama alamat, (iii) bagian-bagian alamat, (iii) tempat dan tanggal, dan (iv) nama temapat dan wilayah atau negeri yang ditulis berurutan. Misalnya :

h)

Sdr. Hasan, Jalan Pisang Batu 1, Bogor. Surat-surat ini harap dialamatkan kepada Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Indonesia, Jalan Raya Salemaba 6, Jakarta.

i)

Surabaya, 10 Mei 1960 Tanda koma dipakai untuk memisahkan bagian yang dibalik susunannya dalam daftar pustaka. Misalnya :

Alisjahbana, Sultan Takdir. 1945. Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia. Jilid 1 dan 2. Djakarta : PT Pustaka Rakyat. j) Tanda koma dipakai diantara nama orang dan gelar akademik yang mengikutinya untuk membedakanya dari singkatan nama keluarga dan marga. Misalnya: k) Ratu Langi, S.E. Ny. Khadijah, M.A. Tanda koma di pakai di muka angka persepuluhan dan di antara rupiah dan sen dalam bilangan. Misalnya: l) 12,54 m Rp12,50 (lambang Rp tidak pakai titik) Tanda koma di pakai untuk mengapit keterangan tambahan dan keterangan aposisi. Misalnya: m) Guru saya, pak Ahmad, pandai sekali. Di daerah kami, misalnya, masih banyak orang laki-laki makan sirih. Seorang mahasiswa, selaku wakil kelompoknya, maju cepat-cepat. Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat apabila petikan lansung tersebut berakhiran dengan tanda tanya atau tanda seru dan mendahului bagian lain dalam kalimat itu. Misalnya: Di mana Saudara tinggal? tanya Karim. Berdiri lurus-lurus! perintahnya.

3) Tanda Titik Koma ( ; ) a) Tanda titik koma dapat di pakai untuk memisahkan bagian-bagian kalimat yang sejenis dan setara. Misalnya: Malam makin larut, kami belum selesai juga. b) Tanda titik koma dapat di pakai untuk memisahkan kalimat yang setara dalam suatu kalimat majemuk sebagai pengganti kata penghubung. Misalnya: Ayah mengurus tanaman di kebun; ibu sibuk bekerja di dapur; adik menghafalkan namanama pahlawan nasional; saya sendiri asyik mendengarkan siaran pilihan pendengar

4) Tanda Titik Dua ( : ) a) Tanda titik dua dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap bila diikuti rangkaian atau pemerian. Misalnya: Yang kita perlukan sekarang adalah barang-barang seperti berikut: kursi, meja, dan almari. b) Tanda titik dua dipakai sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian. Misalnya: tempat sidang pengantar acara hari c) : Ruang 104 : Bambang S. : Senin

Tanda titik dua dipakai dalam teks drama sesudah kata yang menunjukkan pelaku dalam percakapan. Misalnya: Ibu Amir Ibu : Bawa kopor ini, Mir! : Baik, Bu : Jangan lupa. Letakkan baik baik!

d)

Tanda titik dua tidak dipakai kalau rangkaian atau pemerian itu merupakan pelengkap yang mengakhiri pernyataan. Misalnya:

Kita memerlukan kursi, meja, dan lemari.

5) Tanda Hubung (-) a) Kata penghubung menyambung suku-suku kata dasar yang terpisah oleh pergantian baris. Ada kata baru juga

Misalnya:

Suku kata terdiri dari huruf tidak dipenggal supaya jangan terdapat satu huruf saja pada ujung baris atau pangkal baris. b) Kata hubung menyambung awalan dengan bagian kata di belakangnya, atau akhiran dengan bagian di depanya pada pergantian baris. Misalnya: Cara baru mengukur panas. Cara baru mengukur kelapa.

Akhiran i tidak dipenggal supaya jangan terdapat satu huruf saja pada pangkal baris. c) Tanda hubung Menghubungkan unsur-unsur kata ulang.

Misalnya: anak-anak berulang-ulang dibolak-balik kemerah-merahan Tanda ulang (.2) hanya digunakan pada tulisan cepat dan notula, dan tidak dipakai pada teks karangan. d) Tanda hubung menyambung huruf kata yang dieja satu-satu dan bagian-bagian tanggal. Misalnya: e) p-a-n-i-t-i-a. 8-4-1973 Tanda hubung dapat dipakai untuk memperjelas hubungan bagian-bagian yang terpisah oleh pergantian baris. Misalnya: f) ber-evolusi dengan be-revolusi Dua puluh lima-ribuan (20X5000) dengan dua puluh-lima-ribuan (1 x 25000) Istri-perwira yang ramah dengan istri perwira-yang-ramah. Tanda hubung dipakai untuk merangkaikan (a) se- dengan berikutnya yang dimulai dengan huruf kapital, (b) ke- dengan angka , (c) angka dengan an- , dan (d) singkatan huruf kapital dengan imbuan atau kata. Misalnya : se-Indonesia se-Jawa Bara hadiah ke-2 tahun 50-an ber-SMA KTP-nya nomor 141693 Bom-H

g)

Tanda hubung dipakai untuk merangkaikan unsur bahasa Indonesia dengan unsur bahasa asing. Misalnya : di-charter, pen-tackle-an

6) Tanda Tanya ( ? ) a) Tanda tanya dipakai pada akhir kalimat tanya. Misalnya : b) Kapan ia berangkat ? Saudara tahu, bukan ? Tanda tanya dipakai di antara tanda kurung untuk menyatakan bagian kalimat yang disangsikan atau kurang dapat dibuktikan kebenarannya. Misalnya : Ia dilahirkan pada tahun 1683 (?).

7)

Tanda Seru ( ! ) Tanda seru dipakai sesudah ungkapan atau pernyataan yang berupa seruan atau perintah, atau yang menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan, atau emosi yang kuat. Misalnya :

Alangkah seramnya peristiwa itu ! Bersihkan kamar ini sekarang juga !

8) Tanda Petik () a) Tanda Petik mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan, naskah, atau bahan tertulis lain. Kedua pasang tanda petik itu ditulis sama tinggi di sebelah atas baris. Misalnya : b) Sudah siap? tanya Awal. Saya belum siap, seru Mira, Tunggu sebentar! Tanda petik mengapit istilah ilmiah yang masih kurang dikenal atau kata yang mempunyai arti khusus. Misalnya :

Karangan Andi Hakim Nasution yang berjudul Rapor dan Nilai Prestasi di SMA diterbitkan dalam Tempo Sajak Berdiri Aku terdapat pada halaman 5 buku itu. Pekerjaannya itu dilaksanakannya dengan cara coba dan ralat saja. Ia bercelana panjang yang dikalangan remaja dikenal dengan nama cutbrai. Tanda petik penutup mengikuti tanda baca yang mengakhiri petikan langsung. Misalnya : Kata Tono, Saya juga minta satu.

c)

d)

Tanda baca penutup kalimat atau bagian kalimat ditempatkan dibelakang tanda petik yang mengapit kata atau ungkapan yang dipakai dengan arti khusus. Misalnya : Karena warna kulitnya, Budi mendapat julukan si Hitam. Bang Komar sering disebut pahlawan, ia sendiri tidak tahu sebabnya.

9) Tanda Garis Miring ( / ) a) Tanda garis miring dipakai dalam penomoran kode surat Misalnya : No. 7/PK/1973 b) Tanda garis miring dipakai sebagai pengganti kata dan, atau, per, atau nomor alamat. Misalnya : mahasiswa/mahasiswi harganya Rp 15,00/lembar jalan daksinapati IV/3

BAB V PEMBENTUKAN PARAGRAF


A. Pengertian Paragraf

Paragraf merupakan bagian karangan yang terdiri atas beberapa kalimat yang berkaitan secara utuh dan padu serta membentuk satu kesatuan pikiran.Terdapat tia persyaratan agar paragraph menjadi padu, yaitu kapaduan, kesatuan, dan kelngkapan. Apabila sebuah paragraf tu bukan paragraf deskriptif, secara lahiriah unsur paragraf itu berupa: 1. Kalimat topik atau kalimat utama

2. Kalimat pengembang atau kalimat penjelas

3. Kalimat penegas;

4. Kalimat, klausa, prosa, dan penghubung.

Dalam 1. 2. 3. Untuk Sebagai

sebuah menandai

karangan

yang

utuh, atau

fungsi awal tentang

uatama ide ide /

paragraf gagasan

yaitu: baru, atau

pembukaan lebih

pengembang

lanjut

sebulumnya,

Sebagai penegasaan terhadap gagasaan yang diungkapkan terlebih dahulu.

B. Persyaratan Paragraf Yang Baik

1. Kepaduan paragraph

Agar paragraf menjadi baik, Anda harus memperhatikan persyaratannya. Persyaratan paragraf yang baik yaitu adanya kepaduan, kesatuan, dan kelengkapan. Untuk mencapai kepaduan, langkah-langkah yang harus anda tempuh adalah kemampuan merangkai kalimat sehingga bertalian secara logis dan padu. Bagaimanakah agar kalimat-

kalimat

bertahan

secara

logis

dan

padu?

Gunakanlah

kata

penghubung

Terdapat dua jenis kata penghubung, yaitu kata penghubung intrakalimat dan kata penghubung antarkalimat. Kata penghubung intrakalimat adalah kata yang

menghubungkan anak kalimat dengan induk kalimat, sedangkan kata penghubung antarkalimat adalah kata yang menghubungkan kalimat yang satu dengan yang lainnya. Contoh penghubung intar kalimat yaitu karena, sehingga, tetapi, sedangkan, apabila, jika, maka, dan lain-lain. Contoh kata penghubung antarkalimat yakni olehkarena itu, jadi, kemudian, namun, selanjutnya, bahkan, dan lain-lain.

Syarat paragraf yang baik adalah adanya kesatuan, Kesatuan berarti setiap paragraf hanya mengandung satu pokok pikiran. Pokok pikiran diwujudkan dalam kalimat utama. Kalimat utama diletakkan di awal paragraf (deduktif) atau di akhir paragraf (induktif)

2. Kesatuan paragraph

Selain kepaduan, persyaratan penulisan paragraf yang baik adalah prinsip kesatuan. Yang dimaksud kesatuan adalah tiap paragraf hanya mengandung satu pokok pikiran yang diwujudkan dalam kalimat utama. Kalimat utama yang diletakkan di awal paragraf dinamakan paragraf deduktif, sedangkan kalimat utama yang diletakkan di akhir paragraf disebut paragraf induktif. Terdapat cirri-ciri dalam membuat kalimat utama, yakni yang harus mengandung permasalahan yang berpotensi untuk terperinci atau diuraikan lebih lanjut

3. Kelengkapan paragraph

Sebuah paragraf dikatakan lengkap apabila di dalamnya terdapat kalimat-kalimat panjelas secara lengkap untuk menunjukan pokok pikiran atau kalimat utama. Ciri-ciri kalimat penjelas yaitu berisi penjelasan berupa rincian, keterangan, contoh, dan lain-lain. Selain itu, kalimat penjelas berarti apa bila dihubungkan dengan kalimat-kalimat di dalam

paragraf. Kemudian kalimat penjelasan sering memerlukan bantuan kata penghubung, baik kata penghubung antar kalimat maupun kata penghubung intrakalimat.

C. Pengembangan Paragraf

Paragraf dapat dikembangkan dengan cara pertentangan , perbandingan, analogi, contoh, sebab akibat, definisi, dan klasifikasi.

1. Cara Pertentangan

Pengembangan paragraf dengan cara pertentangan biasanya menggunakan ungkapan-ungkapan seperti berbeda dengan , bertentangan dengan, sedangkan, lain halnya 1998 dengan, akan tetapi, dan bertolak belakang dari. Contoh: Orde 1998-2006 atau orde politik Indonesia kini jauh berbeda dari orde1967-

2. Cara Perbandingan

Pengembangan paragraf dengan cara perbandingan biasanya menggunakan ungkapan seperti serupa dengan, seperti halnya, demikian juga, sama dengan, akan tetapi, sejalan dengan, sedangkan, dan sementara itu Contoh: seperti halnya di dandung, di Jakarta juga menggunakan seruan kiri untuk menghentikan angkot

3. Cara Analogi

Analogi adalah bentuk pengungkapan suatu objek yang dijelaskan dengan objek lain yang memiliki kesamaan atau kemiripan. Biasanya, pengembangan analogi dilakuakan dengan bantuan kiasan. Kata-kata yang digunakan yaitu ibaratnya, seperti, dan bagaikan.

Contoh: ibaratnya kita diminta memegang telur

4. Cara Contoh-contoh

Kata seperti, misalnya, contohnya, dan lain-lain adalah ungkapan dalam mengembangan paragraf dengan contoh

Contoh: contohnya berhati terbuka, lancer dalam pergaulan, ramah tamah, penggembira

5. Cara Sebab Akibat

Pengembangan paragraf dengan cara sebab akibat dilakukan jika menerangkan suatu kejadian, baik dari segi penyebab maupun dari segi akibat. Ungkapan yang digunakan yaitu padahal, akibatnya, oleh karena,itu, dan karena

6. Cara Definisi

Adalah, yaitu, ialah, merupakan adalah kata-kata yang digunakan dalam mengembangkan paragraf dengan cara definisi. Kata adalah biasanya digunakanjika sesuatu yang akan didefinisikan diawali dengan kata benda, yaitu digunakan jika sesuatu yang akan didefinisikan di awali dengan kata keraja atau sifat. Jika akan menjelaskan sinonim suatu hal, kata ialah yang digunakan dan jika akan mendefinisikan pengertian rupa atau wujud, kata merupakan yang dipakai.

Contoh: psikologi adalah kejiwaan manusia dalam berintraksi dengan dunia sekitar

7. Cara Klasifikasi

Cara klasifikasi adalah pengembangan paragraf melalui pengelompokan berdasarkan ciri-ciri tertentu. Kata-kata atau ungkapan yang lazim digunakan yaitu dibagi menjadi, digolongkan menjadi, terbagi menjadi, dan mengklasifikasikan

Contoh: bahwa manusia dapat dibagi menjadi empat golongan menurut keadan zat-zat cair yang ada di dalam tubuhnya

BAB VI

UNSUR INTRINSIK DAN EKSTRINSIK PROSA

Unsur Intrinsik Prosa Sebuah karya sastra mengandung unsur intrinsik serta unsur ekstrinsik. Keterikatan yang erat antarunsur tersebut dinamakan struktur pembangun karya sastra. Unsur intrinsik ialah unsur yang secara langsung membangun cerita dari dalam karya itu sendiri, sedangkan unsur ekstrinsik ialah unsur yang turut membangun cerita dari luar karya sastra.

Unsur intrinsik yang terdapat dalam puisi, prosa, dan drama memiliki perbedaan, sesuai dengan ciri dan hakikat dari ketiga genre tersebut. Namun unsur ekstrinsik pada semua jenis karya sastra memiliki kesamaan.

Unsur intrinsik sebuah puisi terdiri dari tema, amanat, sikap atau nada, perasaan, tipografi, enjambemen, akulirik, rima, citraan, dan gaya bahasa. Unsur ekstrinsik yang banyak mempengaruhi puisi antara lain: unsur biografi, unsur kesejarahan, serta unsur kemasyarakatan. Yang dimaksud unsur-unsur intrinsik dalam sebuah karya sastra adalah unsurunsur pembangun karya sastra yang dapat ditemukan di dalam teks karya sastra itu sendiri. Untuk karya sastra dalam bentuk prosa, seperi roman, novel, dan cerpen, unsurunsur intrinsiknya ada tujuh: 1) tema, 2) amanat, 3) tokoh, 4) alur (plot), 5) latar (setting), 6) sudut pandang, dan 7) gaya bahasa.

1. Tema Gagasan, ide, atau pikiran utama yang mendasari suatu karya sastra disebut tema. Atau gampangnya, tema adalah sesuatu yang menjadi dasar cerita, sesuatu yang menjiwai cerita, atau sesuatu yang menjadi pokok masalah dalam cerita. Tema merupakan jiwa dari seluruh bagian cerita. Karena itu, tema menjadi dasar pengembangan seluruh cerita. Tema dalam banyak hal bersifat mengikat kehadiran atau ketidakhadiran peristiwa, konflik serta situasi tertentu, termasuk pula berbagai unsur intrinsik yang lain. Tema ada yang dinyatakan secara eksplisit (disebutkan) dan ada pula yang dinyatakan secara implisit (tanpa disebutkan tetapi dipahami). Dalam menentukan tema, pengarang dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain: minat pribadi, selera pembaca, dan keinginan penerbit atau penguasa. Dalam sebuah karya sastra, disamping ada tema sentral, seringkali ada pula tema sampingan. Tema sentral adalah tema yang menjadi pusat seluruh rangkaian peristiwa dalam cerita. Adapun tema sampingan adalah tematema lain yang mengiringi tema sentral. 2. Amanat Amanat adalah pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang terhadap pembaca melalui karyanya, yang akan disimpan rapi dan disembunyikan pengarang dalam keseluruhan cerita. Amanat adalah ajaran moral atau pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang melalui karyanya. Sebagaimana tema, amanat dapat disampaikan secara implisit yaitu dengan cara memberikan ajaran moral atau pesan dalam tingkah laku atau peristiwa yang terjadi pada tokoh menjelang cerita berakhir, dan dapat pula disampaikan secara eksplisit yaitu dengan penyampaian seruan, saran, peringatan, nasehat, anjuran, atau larangan yang berhubungan dengan gagasan utama cerita. 3. Tokoh Penokohan adalah : Pemberian watak terhadap pelaku-pelaku cerita dalam sebuah karya sastra. Tokoh Cerita terdiri atas : Tokoh Protagonis : tokoh dalam karya sastra yang memegang peranan baik. Tokoh Antagonis : tokoh dalam karya sastra yang merupakan penantang dari tokoh utama,biasanya memegang peranan jahat. Tokoh Tambahan : tokoh

yang tidak memegang peranan dan tidak mengucapkan sepatah katapun, bahkan dianggap tidak penting sebagai individu. Tokoh adalah individu ciptaan/rekaan pengarang yang mengalami peristiwa-peristiwa atau lakuan dalam berbagai peristiwa cerita. Pada umumnya tokoh berwujud manusia, namun dapat pula berwujud binatang atau benda yang diinsankan. Tokoh dapat dibedakan menjadi dua yaitu tokoh sentral dan tokoh bawahan. Tokoh sentral adalah tokoh yang banyak mengalami peristiwa dalam cerita. Tokoh sentral dibedakan menjadi dua, yaitu: 1. Tokoh sentral protagonis, yaitu tokoh yang membawakan perwatakan positif atau menyampaikan nilai-nilai positif. 2. Tokoh sentral antagonis, yaitu tokoh yang membawakan perwatakan yang bertentangan dengan protagonis atau menyampaikan nilai-nilai negatif. Adapun tokoh bawahan adalah tokoh-tokoh yang mendukung atau membantu tokoh sentral. Tokoh bawahan dibedakan menjadi tiga, yaitu: 1. Tokoh andalan. Tokoh andalan adalah tokoh bawahan yang menjadi kepercayaan tokoh sentral (baik protagonis ataupun antagonis). 2. Tokoh tambahan. Tokoh tambahan adalah tokoh yang sedikit sekali memegang peran dalam peristiwa cerita. 3. Tokoh lataran. Tokoh lataran adalah tokoh yang menjadi bagian atau berfungsi sebagai latar cerita saja. Penokohan adalah penyajian watak tokoh dan penciptaan citra tokoh. Ada dua metode penyajian watak tokoh, yaitu: 1. Metode analitis/langsung/diskursif, yaitu penyajian watak tokoh dengan cara memaparkan watak tokoh secara langsung. 2. Metode dramatik/tak langsung/ragaan, yaitu penyajian watak tokoh melalui pemikiran, percakapan, dan lakuan tokoh yang disajikan pengarang. Bahkan dapat pula dari penampilan fisiknya serta dari gambaran lingkungan atau tempat tokoh.

Adapun menurut Jakob Sumardjo dan Saini KM, ada lima cara menyajikan watak tokoh, yaitu: 1. Melalui apa yang diperbuatnya, tindakan-tindakannya, terutama bagaimana ia bersikap dalam situasi kritis. 2. Melalui ucapana-ucapannya. Dari ucapan kita dapat mengetahui apakah tokoh tersebut orang tua, orang berpendidikan, wanita atau pria, kasar atau halus. 3. Melalui penggambaran fisik tokoh. 4. Melalui pikiran-pikirannya 5. Melalui penerangan langsung 4. Alur (plot) Alur : rangkaian peristiwa / jalinan cerita dari awal sampai kimaks serta penyelesaian. Macam-macam Alur : Alur mundur : jalinan peristiwa dari masa kini ke masa lalu. Alur maju : jalinan peristiwa dari masa lalu ke masa kini Alur gabungan : gabungan dari alur maju dan alur mundur secara bersama-sama. Dan secara umum Alur terbagi ke dalam bagian-bagian berikut; Pengenalan situasi : memperkenalkan para tokoh, menata adegan, dan hubungan antar tokoh. Pengungkapan peristiwa : mengungkap peristiwa yang menimbulakan berbagai masalah. Menuju adanya konflik : terjadi peningkatan perhatian ataupun keterlibatan situasi yang menyebabkan bertambahnya kesukaran tokoh. Alur adalah urutan atau rangkaian peristiwa dalam cerita. Alur dapat disusun berdasarkan tiga hal, yaitu: 1. Berdasarkan urutan waktu terjadinya (kronologi). Alur yang demikian disebut alur linear. 2. Berdasarkan hubungan sebab akibat (kausal). Alur yang demikian disebut alur kausal. 3. Berdasarkan tema cerita. Alur yang demikian disebut alur tematik. Dalam cerita yang beralur tematik, setiap peristiwa seolah-olah berdiri sendiri. Kalau salah satu episode dihilangkan cerita tersebut masih dapat dipahami.

Adapun struktur alur adalah sebagai berikut: 1. Bagian awal, terdiri atas: 1) paparan (exposition), 2) rangsangan (inciting moment), dan 3) gawatan (rising action). 2. Bagian tengah, terdiri atas: 4) tikaian (conflict), 5) rumitan (complication), dan 6) klimaks. 3. Bagian akhir, terdiri atas: 7) leraian (falling action), dan 8- selesaian (denouement). Dalam membangun alur, ada beberapa faktor penting yang perlu diperhatikan agar alur menjadi dinamis. Faktor-faktor penting tersebut adalah: 1. Faktor kebolehjadian. Maksudnya, peristiwa-peristiwa cerita sebaiknya tidak selalu realistik tetapi masuk akal. 2. Faktor kejutan. Maksudnya, peristiwa-peristiwa sebaiknya tidak dapat secara langsung ditebak / dikenali oleh pembaca. 3. Faktor kebetulan. Yaitu peristiwa-peristiwa tidak diduga terjadi, secara kebetulan terjadi. Kombinasi atau variasi ketiga faktor tersebutlah yang menyebabkan alur menjadi dinamis. Adapun hal yang harus dihindari dalam alur adalah lanturan (digresi). Lanturan adalah peristiwa atau episode yang tidak berhubungan dengan inti cerita atau menyimpang dari pokok persoalan yang sedang dihadapi dalam cerita. 5. Latar (setting) Latar / setting : bagian dari sebuah prosa yang isinya melukiskan tempat cerita terjadi dan menjeaskan kapan cerita itu berlaku. Macam-macam Setting : Tempat : di rumah, di sekolah, di jalan. Waktu : pagi hari, siang hari, sore hari. Suasana : sedih, senang, tegang. Latar adalah segala keterangan, petunjuk, pengacuan yang berkaitan

dengan waktu, ruang, suasana, dan situasi terjadinya peristiwa dalam cerita. Latar dapat dibedakan ke dalam tiga unsur pokok: a. Latar tempat, mengacu pada lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. b. Latar waktu, berhubungan dengan masalah kapan terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. c. Latar sosial, mengacu pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku sosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi. Latar sosial bisa mencakup kebiasaan hidup, adat istiadat, tradisi, keyakinan, pandangan hidup, cara berpikir dan bersikap, serta status sosial. 6. Sudut pandang (point of view) Sudut pandang : pandangan pengarang untuk melihat suatu kejadian cerita. Macam-macam sudut pandang : Orang pertama : pengarang menjadi pelaku utama dan memakai istilah Aku dan Saya. Orang ketiga : pengarang yang menceritakan ceritanya atau berperan sebagai pengamat dan menggunakan itilah Dia,Ia,atau nama orang. Sudut pandang adalah cara memandang dan menghadirkan tokoh-tokoh cerita dengan menempatkan dirinya pada posisi tertentu. Dalam hal ini, ada dua macam sudut pandang yang bisa dipakai: a. Sudut pandang orang pertama (first person point of view) Dalam pengisahan cerita yang mempergunakan sudut pandang orang pertama, aku, narator adalah seseorang yang ikut terlibat dalam cerita. Ia adalah si aku tokoh yang berkisah, mengisahkan kesadaran dirinya sendiri, mengisahkan peristiwa atau tindakan, yang diketahui, dilihat, didengar, dialami dan dirasakan, serta sikapnya terhadap orang (tokoh) lain kepada pembaca. Jadi, pembaca hanya dapat melihat dan merasakan secara terbatas seperti yang dilihat dan dirasakan tokoh si aku tersebut.

Sudut pandang orang pertama masih bisa dibedakan menjadi dua: 1. Aku tokoh utama. Dalam sudut pandang teknik ini, si aku mengisahkan berbagai peristiwa dan tingkah laku yang dialaminya, baik yang bersifat batiniyah, dalam diri sendiri, maupun fisik, dan hubungannya dengan sesuatu yang di luar dirinya. Si aku menjadi fokus pusat kesadaran, pusat cerita. Segala sesuatu yang di luar diri si aku, peristiwa, tindakan, dan orang, diceritakan hanya jika berhubungan dengan dirinya, di samping memiliki kebebasan untuk memilih masalah-masalah yang akan diceritakan. Dalam cerita yang demikian, si aku menjadi tokoh utama (first person central). 2. Aku tokoh tambahan. Dalam sudut pandang ini, tokoh aku muncul bukan sebagai tokoh utama, melainkan sebagai tokoh tambahan (first pesonal peripheral). Tokoh aku hadir untuk membawakan cerita kepada pembaca, sedangkan tokoh cerita yang dikisahkan itu kemudian dibiarkan untuk mengisahkan sendiri berbagai pengalamannya. Tokoh cerita yang dibiarkan berkisah sendiri itulah yang kemudian menjadi tokoh utama, sebab dialah yang lebih banyak tampil, membawakan berbagai peristiwa, tindakan, dan berhubungan dengan tokoh-tokoh lain. Setelah cerita tokoh utama habis, si aku tambahan tampil kembali, dan dialah kini yang berkisah. Dengan demikian si aku hanya tampil sebagai saksi saja. Saksi terhadap berlangsungnya cerita yang ditokohi oleh orang lain. Si aku pada umumnya tampil sebagai pengantar dan penutup cerita. b. Sudut pandang orang ketiga (third person point of view) Dalam cerita yang menpergunakan sudut pandang orang ketiga, dia, narator adalah seorang yang berada di luar cerita, yang menampilkan tokoh-tokoh cerita dengan menyebut nama, atau kata gantinya: ia, dia, mereka. Nama-nama tokoh cerita, khususnya yang utama, kerap atau terus menerus disebut, dan sebagai variasi dipergunakan kata ganti. Sudut pandang dia dapat dibedakan ke dalam dua golongan berdasarkan tingkat kebebasan dan keterikatan pengarang terhadap bahan ceritanya:

1. Dia mahatahu. Dalam sudut pandang ini, narator dapat menceritakan apa saja hal-hal yang menyangkut tokoh dia tersebut. Narator mengetahui segalanya, ia bersifat mahatahu (omniscient). Ia mengetahui berbagai hal tentang tokoh, peristiwa, dan tindakan, termasuk motivasi yang melatarbelakanginya. Ia bebas bergerak dan menceritakan apa saja dalam lingkup waktu dan tempat cerita, berpindah-pindah dari tokoh dia yang satu ke dia yang lain, menceritakan atau sebaliknya menyembunyikan ucapan dan tindakan tokoh, bahkan juga yang hanya berupa pikiran, perasaan, pandangan, dan motivasi tokoh secara jelas, seperti halnya ucapan dan tindakan nyata. 2. Dia terbatas (dia sebagai pengamat). Dalam sudut pandang ini, pengarang mempergunakan orang ketiga sebagai pencerita yang terbatas hak berceritanya, terbatas pengetahuannya (hanya menceritakan apa yang dilihatnya saja). 7. Gaya bahasa Gaya bahasa : bahasa yang digunakan pengarang dalam menulis cerita yang berfungsi untuk menciptakan hubungan antara sesama tokoh dan dapat menimbulkan suasana yang tepat guna, adegan seram, cinta ataupun peperangan maupun harapan. Gaya bahasa adalah teknik pengolahan bahasa oleh pengarang dalam upaya menghasilkan karya sastra yang hidup dan indah. Pengolahan bahasa harus didukung oleh diksi (pemilihan kata) yang tepat. Namun, diksi bukanlah satu-satunya hal yang membentuk gaya bahasa. Gaya bahasa merupakan cara pengungkapan yang khas bagi setiap pengarang. Gaya seorang pengarang tidak akan sama apabila dibandingkan dengan gaya pengarang lainnya, karena pengarang tertentu selalu menyajikan hal-hal yang berhubungan erat dengan selera pribadinya dan kepekaannya terhadap segala sesuatu yang ada di sekitamya. Gaya bahasa dapat menciptakan suasana yang berbeda-beda: berterus terang, satiris, simpatik, menjengkelkan, emosional, dan sebagainya. Bahasa dapat menciptakan suasana yang tepat bagi adegan seram, adegan cinta, adegan peperangan dan lain-lain.

Unsur Extrinsik Prosa Unsur Ekstrinsik : Unsur yang terdapat di luar karya sastra. Unsur Ekstrinsik Prosa meliputi : Norma : aturan yang digunakan si pengarang dalam menulis Prosa. Biografi Pengarang : daftar riwayat hidup si pengarang. Contoh Novel: Judul Tema Amanat Tokoh : Goosebumps-SELAMAT DATANG DI RUMAH MATI: : : Horor Hati-hati pada surat yang tidak diketahu pengirimnya Amanda Benson, Josh Benson, Mr. and Mrs. Benson, Compton Carpenter, Jerry Franklin, Karen Somerset, Bill

Dawes, Ray Thurston, George Gregory Alur Sudut pandang Gaya bahasa Ringkasan cerita : : :

Alur gabungan Sudut pandang orang ketiga (third person point of view) Normal

Bermula dari datangnya surat yang menyatakan mereka mendapat warisan dari Paman Charlie (yang bahkan tak seorangpun ingat tentang dia), sebuah rumah besar di Dark Falls. Amanda, 12 tahun dan adiknya Josh 11 tahun tidak begitu suka akan kepindahan itu, tapi apalah daya. disinilah mereka sekarang, di Dark Falls. Mereka bertemu dengan Opsir Compton Dawes, polisi setempat yang menunjukkan mereka ke rumah yang mereka tuju. Sejak awal Petey-anjing peliharaan mereka- merasakan hal yang ganjil, ia terus menggonggong bahkan kepada Opsir Dawes, padahal biasanya ia tak pernah begitu. Sampailah mereka pada rumah itu, rumah yang besar dengan 2 jendela di kanan dan di kiri bagaikan sepasang mata yang memandang lekat pada Amanda dan Josh

yang juga merasakan adanya hal ganjil. Halamannya dipenuhi dedaunan yang gugur, agak aneh rasanya padahal sekarang baru pertengahan Juli. Dan susasananya terasa begitu suram dengan ranting pohon menggatung seakan menutupi jalannya cahaya matahari masuk. Setelah mereka sadari ternyata tidak hanya rumah yang akan mereka tinggali yang suram, tapi seluruh kota Dark Falls. Setelah selesai melihat-lihat keadaan dalam rumah, ayah dan ibu mereka menyarankan untuk berkeliling Dark Falls dan menyapa tetangga. Tapi yang mereka temui hanya suasana kota mati yang begitu sunyi dan bahkan tak satupun lampu hidup dari rumah rumah besar itu. Hingga di suatu pertigaan mereka menemui seorang anak seumuran mereka namanya Ray Thurston, Petey menggonggong ke arahnya hingga Ray agak sedikit mundur. Mereka bercakap cakap tentang Dark Falls dan anak anak sekitar sini, Ray bergabung dengan Amanda dan Josh berkeliling dan menemui sekelompok anak anak seumuran mereka, memang anak -anak itu rasanya agak berbeda dengan anak anak biasanya tapi perasaan itu cepat cepat Amanda dan Josh hilangkan, mereka hanya ingin berteman, itu saja. Kembali Petey menggonggong tanpa sebab kepada anak anak itu, Josh agak kesulitan untuk menenangkannya kali ini hingga akhirnya dia memutuskan untuk memasangkan rantai pada leher Petey. Ada 4 anak, George Carpenter, Jerry Franklin, Karen Somerset dan Bill Gregory. Begitulah awal perkenalan mereka, semakin hari mereka semakin akrab dan sering bermain bersama namun anehnya mereka takut akan cahaya matahari, Amanda dan Josh agak merasa aneh juga tentang hal itu tapi seketika perassan itu langsung hilang. Semenjak di Dark Falls, Amanda merasakan hal hal aneh, mulai dari gorden yang bergerak gerak padahal jendela tertutup rapat hingga dia melihat sesosok wanita sedang memandanginya dari jendela kamarnya, berulang kali dia mencoba menjelaskan hal itu pada orang tuanya tapi mereka tak pernah serius menanggapi. Di sisi lain sebenarnya Josh merasakan sebuah mimpi buruk yang terus terulang dalam tidurnya tapi dia enggan menceritakannya. Suatu malam Petey hilang, kebetulan orang tua mereka sedang pergi ke suatu acara, jadi Josh dan Amanda memutuskan untuk mencarinya. Di tangah jalan mereka bertemu dengan Ray, Josh mengatakan bahwa mereka akan mencari Petey di kuburan-tempat pertama Petey hilang setelah sampai di Dark Falls-. Ray melarang mereka dengan alasan sudah terlalu larut, namun Josh tetap bersikeras Ray pun tidak tinggal diam dia mengejar Josh. Sesampainya di kuburan, benar saja Petey ada disana

namun keadaannya tidak seperti biasanya, ia lebih mirip bangkai bahkan baunya pun sangat mirip. Josh segera memeluknya tapi dilepaskannya lagi karena tak tahan baunya. Amanda yang terburu buru mengejar Josh tanpa sengaja kakinya membentur sebuah batu nisan, matanya terbelalak membaca tulisan di batu nisan yang tepat didepan matanya KAREN SOMERSET 1960-1972 jantungnya berdegup begitu kencang, ia menarik Josh, reaksinya pun sama. Amanda mengarahkan senter ke batu nisan satunya, nama yang juga dia kenal GEORGE CARPENTER 1975-1988 dia tetap tak dapat percaya apa yang baru saja dilihatnya, batu nisan satunya JERRY FRANKLIN lalu satunya lagi BILL GREGORY. Anak anak yang biasa bermain bersama, pikirnya. Hingga ia terpaku pada satu batu nisan terakhir RAY THURSTON 1977-1988. Badannya seketikan lemas, Ray yang biasa bermain dengannya dan kini ada disebelahnya, namanya telah tertulis di batu nisan tepat didepannya. Pandangan Ray seketika berubah, ia menjelaskan semuanya, ia minta maaf bahwa tidak seharusnya Amanda melihat ini sekarang, ya, semua yang ada disini telah mati termasuk Petey, dialah yang dibunuh pertama saat datang ke Dark Falls karena semua tau bahwa anjing adalah makhluk pertama yang mengetahui adanya hal ganjil ini dan Ray adalah penjaga yang seharusnya melarang hal ini terungkap sebelum waktunya. Namun terlambat, kini mereka akan menjadi bagian dari zombie zombie itu. Terdengar bunyi mesin dari belakang mereka, itu Opsir Dawes! Itu mobil Opsir Dawes! Mereka segera naik, namun di tengah perjalanan Josh mengingatkan Amanda bahwa tadi ia melihat batu nisan bertuliskan COMPTON DAWES R.I.P 1950-1980 segera mereka melompat turun, Amanda berlari dengan pikiran yang berkecambuk, ia bahkan tak percaya bahwa Opsir Dawes juga salah satu dari mereka. Berlari, terus berlari tanpa tujuan. Berharap, tapi tak ada yang bisa diharapkan. Saat hampir putus asa mereka ingat orang tua mereka. Josh dan Amanda saling bertatapan sejenak, nampaknya mereka memikirkan hal yang sama. Mereka berbalik dan Opsir Dawes sudah berada didepan mereka, dengan gemetaran Amanda bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Terdiam sejenak, kemudian Opsir Dawes menjelaskan. Bertahun tahun yang lalu seluruh kota keracunan gas kuning dari sebuah pabrik kimia dan semua orang mati kemudian Dark Falls jadi kota zombie. Setiap tahun mereka selalu membutuhkan 1 darah segar untuk tetap menjaga mereka adalam bentuk zombie, dan surat wasiat itu, hanyalah akal akalan anak anak unutuk memanggil

Amanda dan keluarganya untuk menjadi korban berikutnya. Cukup mengerti akan penjelasan Opsir Dawes, Amanda menarik Josh dan lari kearah kuburan. Disana mereka menemukan orang tua mereka terbaring lemas dibawah pohon besar yang daun dan rantingnya begitu lebat sehingga tak satupun cahaya matahari masuk. Mulai bermunculan tangan tangan dari dalam tanah menggapai gapai. Amanda dan Josh tak dapat pergi tanpa menyelamatkan orang tua mereka, dalam pikiran yang tertutup kabut, akhirnya mereka ingat zombie zombie itu tak tahan cahaya matahari. Satu satunya cara hanya menyingkap daun dan ranting yang menggantung itu agar cahaya dapat masuk. Mereka mencoba, mendorong, menahan, namun gagal. Mendorong lagi, semakin kuat.. akhirnya masuk seberkas cahaya. Mereka terus mendorong dan mendorong, akhrinya cahaya matahari masuk sepenuhnya. Tangan tangan itu telah menghilang dari permukaan tanah dan ayah dan ibu mereka sudah mulai sadar. Amanda dan Josh tak dapat menjelaskan apa yang terjadi, mereka hanya bisa menyuruh untuk pergi dari tempat ini secepatnya. Tak lama kemudian mereka sudah berkendara meninggalkan Rumah Mati itu. Pada perjalanan pulang, ada 1 keluarga baru yang datang unutuk pindah ke rumah itu, dan yang mengejutkan adalah Opsir Dawes ada disana, di tempat pertama mereka menanyakan rumah itu padanya.