Anda di halaman 1dari 25

PETA PROVINSI SETEMPAT

- Kota Banjarbaru - Kabupaten Banjar - Kabupaten Tanah Laut - Kabupaten Hulu Sungai Utara

Oleh : Kelompok 1 Semester/Kelas Mata Kuliah Dosen Pengampu : : : 3/A Pendidikan IPS SD 2 Drs. H. Zulkipli, M.Pd

Peta Wilayah Setempat...Pendidikan IPS SD 2 Kelompok 1 Sem 3/A

1. Peta Wilayah Kota Banjarbaru

0327' s/d 0329' LS dan 11445' s/d 11445' BT.

Kota Banjarbaru adalah salah satu kota di provinsi Kalimantan Selatan, Indonesia. Kota Banjarbaru merupakan sebuah kota yang baru dalam wilayah Provinsi Kalimantan Selatan, berdiri pada tanggal 20 April 1999 berdasarkan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1999. Kota Banjarbaru memiliki luas wilayah 371,30 km (37.130 ha) atau 3,8 x luas Banjarmasin atau luas Jakarta. Banjarbaru merupakan bagian dari kawasan perkotaan Banjar Bakula. Banjarbaru terbagi atas 5 kecamatan dan 12 kelurahan. A. Geografi Kota Banjarbaru terletak pada koordinat 0327' s/d 0329' LS dan 11445' s/d 11445' BT. Posisi geografis Kota Banjarbaru terhadap Kota Banjarmasin adalah 35 km pada arah 29630' sebelah tenggara Kota Banjarmasin, sedangkan posisi terhadap Martapura, Kabupaten Banjar adalah 5 km pada arah 5530' sebelah barat daya Kota Martapura. Kota Banjarbaru merupakan kota penghasil intan yang terdapat di Kecamatan Cempaka, Banjarbaru yang
Peta Wilayah Setempat...Pendidikan IPS SD 2 Kelompok 1 Sem 3/A

merupakan pusat pemukiman atau perkampungan tertua yang ada di kota ini. Wilayah Kota Banjarbaru berada pada ketinggian 0500 m dari permukaan laut, dengan ketinggian 07 m (33,49%), 7-25 m (48,46%), 25-100 m (15,15%), 100-250 m (2,55%) dan 250-500 m (0,35%). B. Pembagian administratif Kota Banjarbaru terdiri dari lima kecamatan, antara lain: 1. 2. 3. 4. 5. Banjarbaru Selatan Banjarbaru Utara Cempaka Landasan Ulin Liang Anggang

C. Geologi Adapun kondisi fisik tanah yang dapat dipergunakan untuk menggambarkan kondisi efektif pertumbuhan tanaman adalah kelerengan, kedalaman efektif tanah, drainase dan keadaan erosi tanah dapat dijelaskan sebagai berikut:

Klasifikasi kelerengan Kota Banjarbaru adalah: o 0-2% yang mencakup 59,35 persen luas wilayah o 2-8% yang mencakup 25,78 persen wilayah o 8-15% mencakup 12,08 persen wilayah. Klasifikasi kedalaman efektif tanah terbagi dalam empat kelas, yaitu: <30 cm, 30-60 cm, 60-90 cm dan >90 cm. Kota Banjarbaru secara umum mempunyai kedalaman efektif lebih 90 cm dimana jenis-jenis tanaman tahunan akan dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Drainase di Kota Banjarbaru tergolong baik, secara umum tidak terjadi penggenangan. Namun ada daerah yang tergenang periodik, yaitu tergenang kurang dari 6 (enam) bulan, terdapat di Kecamatan Landasan Ulin yang merupakan peralihan daerah rawa (persawahan) di Kecamatan Gambut dan Aluh-Aluh. Berdasarkan Peta Kemampuan Tanah Skala 1:25.000, erosi tidak terjadi di wilayah Kota Banjarbaru. Berdasarkan Peta Geologi tahun 1970, batuan di Kota Banjarbaru terdiri dari: o Alluvium (Qha) 48,44 persen o Martapura (Qpm) 37,71 persen o Binuang (Tob) 3,64 persen o Formasi Kerawaian (Kak) 2,26 persen o Formasi Pitap 3,47 persen
3

Peta Wilayah Setempat...Pendidikan IPS SD 2 Kelompok 1 Sem 3/A

Jenis tanah terbentuk dari faktor-faktor pembentuk tanah antara lain: batuan induk, iklim, topografi, vegetasi dan waktu. Tiap jenis tanah mempunyai karakteristik tertentu yang membedakan antara satu dengan yang lainnya. Karakteristik tanah tersebut misalnya berkaitan tingkat kepekaan nya terhadap erosi, kesuburan tanah, tekstur tanah dan konsistensi tanah. Berdasarkan peta skala 1:50.000 yang diterbitkan oleh Lembaga Penelitian Tanah Bogor tahun 1974, di wilayah Kota Banjarbaru terdapat 3 (tiga) kelompok jenis tanah, yaitu: o Podsolik 63,82 persen o Latosol 6,36 persen o Organosol 29,82 persen

D. Batas wilayah Batas wilayah Kota Banjarbaru sebagai berikut: Utara Selatan Barat Timur Kecamatan Martapura, Kabupaten Banjar Kecamatan Bati-Bati, Kabupaten Tanah Laut Kecamatan Gambut dan Aluh-Aluh, Kabupaten Banjar Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar

E. Lambang Daerah Lambang daerah Kota Banjarbaru memiliki arti sebagai berikut: 1. Bintang bersudut lima, menggambarkan Pancasila sebagai falsafat dan pandangan hidup bangsa Indonesia. 2. Pilar kiri dan kanan, menggambarkan Kota Banjarbaru sebagai kota 4 (empat) dimensi, yakni pusat Pemerintahan, Pendidikan, Industri dan Permukiman, selain itu pilar kiri dan kanan juga menggambarkan gerbang transportasi udara dari dan ke Kalimantan Selatan. Jumlah petak pada kiri dan kanan masingmasing 10 buah dengan jumlah seluruhnya 20 buah menggambarkan tanggal berdirinya Pemerintah Kota Banjarbaru. Pilar kiri dan kanan masing-masing berjumlah 2 (dua) buah dengan jumlah seluruhnya 4 (empat) buah menggambarkan bulan April, yaitu berdirinya Pemerintah Kota Banjarbaru. 3. Pita berwarna hijau, bertuliskan Gawi Sabarataan, menunjukkan motto Kota Banjarbaru. 4. Buku, menggambarkan Banjarbaru sebagai Kota Pelajar dan Pusat Pendidikan karena terdapat prasarana dan sarana penunjang pendidikan yang memadai dari disiplin ilmu.

Peta Wilayah Setempat...Pendidikan IPS SD 2 Kelompok 1 Sem 3/A

5. Alat Linggang, menggambarkan pendulangan tradisional intan cempaka yang terdapat di Kecamatan Cempaka dan merupakan objek wisata budaya dan sejarah di Kota Banjarbaru. 6. Museum Lambung Mangkurat, sebagai objek wisata dan sejarah dan budaya yang diapit rumah menggambarkan Kota Banjarbaru sebagai Pusat Pemerintahan dan Pusat Permukiman. 7. Roda (gir), menggambarkan roda industri dan perdagangan karena di Kota Banjarbaru sangat potensial menjadi daerah industri dan perdagangan. 8. Perisai, menggambarkan sebagai alat pelindung dalam mencapai cita-cita luhur bangsa (Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945) dan Pembangunan Nasional berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. F. Suku bangsa Jumlah penduduk di Kota Banjarbaru adalah sebanyak 199.359 jiwa (2010) yang terdiri dari beberapa suku bangsa antara lain: 1. Suku Banjar 2. Suku Jawa 3. Suku Toraja 4. Suku Bugis 5. Suku Mandar 6. Suku Madura 7. Suku Buket 8. Suku Bakumpai 9. Suku Sunda 10. Lainnya : : : : : : : : : : 75.537 jiwa 37.975 jiwa 975 jiwa 947 jiwa 6 jiwa 1.180 jiwa 1.728 jiwa 85 jiwa 2.319 jiwa 4.340 jiwa

G. Sejarah Banjarbaru

Gunung Apam Wilayah Banjarbaru sekarang, dulunya adalah perbukitan di pinggiran Kota Martapura

yang dikenal dengan nama Gunung Apam. Daerah Gunung Apam dikenal sebagai daerah persitirahatan buruh-buruh penambang intan selepas menambang di Cempaka. Pada era tahun 1950-an, Gubernur dr. Murjani dibantu seorang perencana Van der Pijl merancang Banjarbaru sebagai Ibukota Provinsi Kalimantan. Namun pada perjalanan selanjutnya, perencanaan ini terhenti sampai pada perubahan status Kota Banjarbaru menjadi Kota Administratif.
Peta Wilayah Setempat...Pendidikan IPS SD 2 Kelompok 1 Sem 3/A

Nama Banjarbaru sedianya hanyalah nama sementara yang diberikan Gubernur dr. Murjani, untuk membedakan dengan Kota Banjarmasin, yaitu kota baru di Banjar. Namun akhirnya melekat nama Banjarbaru sampai sekarang. Sebagai kota administratif, Kota Banjarbaru berada dalam lingkungan Kabupaten Banjar, dengan ibukotanya Martapura. Jadi Kota Banjarbaru merupakan pemekaran dari Kabupaten Banjar. Kota Banjarbaru berdiri berdasarkan Undang-undang (UU) Nomor 9 Tahun 1999. Lahirnya UU tersebut menandai berpisahnya Kota Banjarbaru dari Kabupaten Banjar yang selama ini merupakan daerah administrasi induk. Kota Banjarbaru yang sebelumnya berstatus sebagai Kota Administratif, sempat berpredikat sebagai kota administratif tertua di Indonesia. Kini, jumlah penduduk di Kota Banjarbaru terus berkembang dengan adanya perpindahan penduduk dari luar Kota Banjarbaru, baik dari Kalimantan sendiri maupun dari luar Kalimantan. Perkembangan penduduk ini beriringan dengan semakin terbukanya wilayah Kota Banjarbaru, baik untuk kawasan permukiman serta Bandar Udara Syamsudin Noor maupun peruntukan yang lain.

Gunung Apam termasuk wilayah Kampung Guntung Payung, Kampung Jawa, Kecamatan Martapura, Kabupaten Banjar.

1951, Gubernur dr. Murdjani menyampaikan usulan untuk merancang Gunung Apam menjadi Kota Banjarbaru sebagai calon Ibukota Provinsi Kalimantan.

1953, pembangunan perkantoran dan pemukiman di Banjarbaru, dirancang oleh D.A.W. Van der Peijl.

9 Juli 1954, Gubernur K.R.T. Milono mengusulkan kepada pemerintah pusat untuk memindahkan ibukota Provinsi Kalimantan ke Banjarbaru, namun tidak ada realisasi.

27 Juli 1964, DPRD-GR Kalimantan Selatan mengeluarkan resolusi agar Banjarbaru ditetapkan sebagai Ibukota Provinsi Kalimantan Selatan.

6 Oktober 1965, Panitia Penuntut Kotamadia Banjarbaru menuntut agar meningkatkan status Banjarbaru menjadi daerah tingkat II/kotapraja dan mendesak direalisirnya kota Banjarbaru menjadi ibukota Provinsi Kalimantan Selatan.

12 Oktober 1965, DPRD-GR Tingkat II Banjar di Martapura mendukung desakan direalisirnya kota Banjarbaru menjadi ibukota Provinsi Kalimantan Selatan.

17 Agustus 1968, penetapan status Banjarbaru sebagai Kota Administratif.


6

Peta Wilayah Setempat...Pendidikan IPS SD 2 Kelompok 1 Sem 3/A

27 April 1999, penetapan status Banjarbaru sebagai Kotamadya.

H. Daftar wali kota Berikut ini adalah daftar wali kota administratif dan wali kota Banjarbaru dari tahun 1966 hingga sekarang : No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Periode 1966-1970 1970-1975 1975-1981 1981-1983 1983-1984 1984-1986 1986-1990 1990-1993 1993-1998 1998-2000 2000-2005 2005 2005-2010 2010-2015 Nama H. Baharuddin, BA H. Abd. Gaffar Hanafiah H. Abdul Moeis Drs. H. Abdurrahman Drs. H. Edy Rosasi Drs. H. Zawawi M. Aini Drs. H. Yuliansyah Drs. H. Raymullan Drs. H. Hamidhan B. Drs. H. A. Fakhrulli Drs. H. Rudy Resnawan Drs. H. Hadi Soesilo Drs. H. Rudy Resnawan Ruzaidin Noor Keterangan Wali kota Administratif Wali kota Administratif Wali kota Administratif Wali kota Administratif Wali kota Administratif Wali kota Administratif Wali kota Administratif Wali kota Administratif Wali kota Administratif Wali kota Administratif Wali kota Pejabat Wali kota Wali kota Wali kota

Peta Wilayah Setempat...Pendidikan IPS SD 2 Kelompok 1 Sem 3/A

2. Peta Wilayah Kabupaten Banjar

Kabupaten Banjar adalah salah satu kabupaten di provinsi Kalimantan Selatan, Indonesia. Ibu kota kabupaten ini terletak di Martapura. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 4.688 km dan berpenduduk sebanyak 506.204 jiwa (hasil Sensus Penduduk Indonesia 2010). Kabupaten Banjar termasuk dalam calon Wilayah Metropolitan Banjar Bakula. Motto daerah ini adalah "Barakat" yang artinya "Berkah" (bahasa Banjar). A. Sejarah Pembentukan Kabupaten Sejak tahun 1826 dibuat perjanjian perbatasan antara Sultan Adam dengan pemerintah Hindia Belanda. Pada tahun 1835 sewaktu pemerintahan Sultan Adam Alwasiqubillah telah dibuat untuk pertama kalinya ketetapan hukum tertulis dalam

menerapkan hukum Islam di Kesultanan Banjar yang dikenal dengan Undang-Undang Sultan Adam. Tahun 1855, daerah Kesultanan Banjarmasin merupakan sebagian dari De zuiderafdeeling van Borneo termasuk sebagian daerah Dusun (Tamiang Layang) dan sebagian Tanah Laut.
Pangeran Suria Winata, regent Martapura terakhir

Peta Wilayah Setempat...Pendidikan IPS SD 2 Kelompok 1 Sem 3/A

Dari beberapa sumber disebutkan ada beberapa tempat yang menjadi kedudukan raja (istana pribadi Sultan) setelah pindah ke Martapura, seperti Kayu Tangi, Karang Intan dan Sungai Mesa. Tetapi dalam beberapa perjanjian antara Sultan Banjar dan Belanda, penanda tanganan di Bumi Kencana. Begitu juga dalam surat menyurat ditujukan kepada Sultan di Bumi Kencana Martapura. Jadi Keraton Bumi Kencana Martapura adalah pusat pemerintahan (istana kenegaraan) untuk melakukan aktivitas kerajaan secara formal sampai dihapuskannya Kesultanan Banjar oleh Belanda pada tanggal 11 Juni 1860. Status Kesultanan Banjar setelah dihapuskan masuk ke dalam Karesidenan Afdeeling Selatan dan Timur Borneo. Bekas Kesultanan Banjar dibagi menjadi dua divisi yaitu daerah Banua Lima di bawah regent Raden Adipati Danu Raja dan daerah Martapura di bawah regent Pangeran Jaya Pamenang. Divisi Martapura terbagi dalam 5 Distrik, yaitu Distrik Martapura, Distrik Riam Kanan, Distrik Riam Kiwa, Distrik Benua Empat dan Distrik Margasari. Wilayah Kalimantan Selatan dibagi dalam 4 afdeeling, salah satunya adalah afdeeling Martapura. Terjadi perubahan dalam keorganisasian pemerintahan Hindia Belanda diantaranya penghapusan jabatan regent tahun 1884. Regent Martapura terakhir adalah Pangeran Suria Winata. Sejak 1898 di bawah Afdeeling terdapat Onderafdeeling dan distrik. Pembagian administratif tahun 1898 menurut Staatblaad tahun 1898 no. 178, Afdeeling Martapoera dengan ibukota Martapura terdiri dari : 1. Onderafdeeling Martapoera terdiri dari : Distrik Martapura. 2. Onderafdeeling Riam Kiwa dan Riam Kanan terdiri dari : 1. Distrik Riam Kiwa 2. Distrik Riam Kanan 3. Onderafdeeling Tanah Laoet terdiri dari : 1. Distrik Pleihari 2. Distrik Maluka 3. Distrik Satui Afdeeling Martapura terdiri 3 onderafdeeling, salah satunya adalah onderafdeeling Martapura dengan distrik Martapura. Dalam tahun 1902, Afdeeling Martapura membawahi 3 onderafdeeling: Martapura, Pengaron dan Tanah Laut. Perubahan selanjutnya Martapura menjadi onderafdeeling di bawah Afdeeling Banjarmasin. Afdeeling dipimpin oleh Controleur dan Kepala Distrik seorang Bumiputera dengan pangkat Kiai. Setelah kedaulatan diserahkan oleh pemerintah Belanda kepada Republik Indonesia tanggal 27 Desember 1949, ditetapkan
Peta Wilayah Setempat...Pendidikan IPS SD 2 Kelompok 1 Sem 3/A

daerah Otonomi Kabupaten Banjarmasin. Daerah otonom Kabupaten Banjarmasin meliputi 4 Kawedanan. DPRDS pada tanggal 27 Februari 1952, mengusulkan perubahan nama Kabupaten Banjarmasin menjadi Kabupaten Banjar yang disetujui dengan Undang-undang Darurat 1953, kemudian dikukuhkan dengan Undang-undang No. 27 Tahun 1959.[9] B. Administrasi Kabupaten Banjar terbagi menjadi 19 kecamatan, yaitu: 1. Aluh Aluh 2. Aranio 3. Astambul 4. Beruntung Baru 5. Gambut 6. Karang Intan 7. Kertak Hanyar 8. Martapura 9. Martapura Barat 10. Martapura Timur 11. Mataraman 12. Paramasan 13. Pengaron 14. Sambung Makmur 15. Simpang Empat 16. Sungai Pinang 17. Sungai Tabuk 18. Telaga Bauntung 19. Tatah Makmur

C. Perekonomian Sebagian besar masyarakatnya bermata pencaharian sebagai petani dari perkebunan karet yang rata-rata adalah kebun perseorangan. Selain itu perkebunan jeruk menjadi penopang hidup sebagian masyarakat yang merupakan produk unggulan dari Kecamatan Astambul. Keberadaan perusahaan lokal, nasional dan asing yang bergerak dibidang Tambang Batubara turut memberikan andil besar terhadap perekonomian di Kabupaten Banjar.

Peta Wilayah Setempat...Pendidikan IPS SD 2 Kelompok 1 Sem 3/A 10

Tambang Batubara di kabupaten ini dikelola oleh perusahaan seperti PT. Pamapersada Nusantara, PT. Kalimantan Prima Persada, PT. Pinang Coal Indonesia dan lain-lain yang diawasi oleh Perusahaan Daerah (PD. Baramarta). D. Suku bangsa Suku bangsa yang ada di Kabupaten Banjar antara lain: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Suku Banjar: 361.692 jiwa Suku Jawa: 29.805 jiwa Suku Bugis: 828 jiwa Suku Madura: 13.047 jiwa Suku Bukit: 1.737 jiwa Suku Mandar: 17 jiwa Suku Bakumpai: 34 jiwa Suku Sunda: 1.187 jiwa Suku lainnya: 3.554 jiwa

E. Kepala daerah
Daftar Bupati Banjar

Berikut ini adalah daftar nama-nama yang pernah memimpin Kabupaten Banjar sejak tahun 1950: No.
1. 2. 3. 4. 5. 6.

Foto
A. Basoeni A. Roeslan

Nama

Periode
19501952 19521953 19531956 19561958 19581959 1959 Bupati Bupati Bupati Bupati Bupati

Keterangan

H.M. Yusran Mansyah Gt.Masrudin Wahyu Arief

Kepala Daerah

Peta Wilayah Setempat...Pendidikan IPS SD 2 Kelompok 1 Sem 3/A 11

7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16.

H.A. Hudari H. Basri, BA H.A.H. Budhigawis Soendijo Drs.H.Mochtar Sofyan Rusiansjah, B.Ac Drs. Fadhullah Thaib Drs. Faisal Hasanuddin H. Abdul Madjid Drs.H. Rudy Ariffin, MM

19591960 19601965 19651972 19721982 19821987 19871989 19891990 19901995 19951999 19992005

Bupati KDH Bupati KDH Bupati KDH Bupati KDH Bupati KDH Bupati KDH Pejabat sementara (pjs.) Bupati KDH Bupati KDH Bupati KDH Bupati Banjar Terpilih secara demokratis melalui Pilkada 2005 dan 2010

17.

Ir.H.Gusti Khairul Saleh, MM

2005sekarang

F. Lagu Daerah Lagu-lagu daerah yang berasal dari wilayah ini adalah: 1. Sungai Martapura 2. Hura Ahui 3. Kambang Barenteng

Peta Wilayah Setempat...Pendidikan IPS SD 2 Kelompok 1 Sem 3/A 12

4. Peta Wilayah Kabupaten Tanah Laut

Kabupaten Tanah Laut adalah salah satu kabupaten di provinsi Kalimantan Selatan, Indonesia. Ibukota kabupaten ini terletak di Pelaihari yang merupakan pusat kegiatan Kabupaten Tanah Laut. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 3.631,35 km dan berpenduduk sebanyak 296.282 jiwa, terdiri dari 152.426 jiwa laki-laki dan 143.856 jiwa perempuan (hasil Sensus Penduduk Indonesia 2010). Alternatif penulisan nama Tanah Laut adalah Tanah Lawut. Motto daerah ini adalah "Tuntung Pandang" (bahasa Banjar) sedangkan maskot fauna daerah adalah "kijang emas". A. Sejarah Menurut Staatsblad van Nederlandisch Indi tahun 1849, wilayah ini termasuk dalam zuid-ooster-afdeeling berdasarkan Bsluit van den Minister van Staat, Gouverneur-Generaal van Nederlandsch-Indie, pada 27 Agustus 1849, No. 8.
E:\DATA

ANNA\DATA\Kabupaten_Tanah_Laut.htm - cite_note-4 Dalam tahun 1863 daerah Tanah Laut

merupakan Afdeeling Tanah-Laut.

Menurut Staatblaad tahun 1898 no. 178 Tanah Laut

Peta Wilayah Setempat...Pendidikan IPS SD 2 Kelompok 1 Sem 3/A 13

menjadi salah satu onderafdeeling di dalam Afdeeling Martapoera yaitu Onderafdeeling Tanah Laoet terdiri dari : 1. Distrik Pleihari 2. Distrik Maluka 3. Distrik Satui Selanjutnya Tanah Laut adalah sebuah kewedanan yang berada di dalam wilayah Daswati II Banjar, dengan wilayahnya yang luas dan memiliki potensi yang besar sebagai sumber pendapatan asli daerah, seperti hutan beserta isinya, laut dan kekayaan alam di dalamnya dan barang-barang tambang dan galian yang tersimpan di dalam tanah serta kesuburan tanahnya. Potensi cukup besar yang dimiliki oleh Tanah Laut pada waktu itu belum bisa terkelola dikarenakan belum tersedianya sarana dan prasarana yang memadai. Oleh karena keadaan yang demikian dan sejalan dengan adanya beberapa kewedanan di Kalimantan Selatan yang menuntut untuk dijadikan Daswati II, membangkitkan semangat dan keinginan yang kuat bagi tokoh-tokoh dan masyarakat Tanah Laut untuk meningkatkan kewedanannya menjadi Daswati II. Hasrat tersebut pernah disampaikan oleh wakil-wakil LVRI Tanah Laut melalui sebuah resolusi dalam Konverda LVRI se-Kalimantan Selatan di Martapura yang disampaikan oleh Ach. Syairani dan kawan-kawan pada tahun 1956. Kemudian pada tahun 1957 H. Arpan dan kawan-kawan, selaku wakil rakyat Tanah laut yang duduk di DPRD Banjar, memperjuangkan bagi otonom Daswati II Tanah Laut, namun belum juga membuahkan hasil. Kemudian pada tanggal 15 April 1961 bertempat di rumah H. Bakeri, Kepala Kampung Pelaihari, berkumpullah lima orang pemuda yaitu: Atijansyah Noor, Moh. Afham, Materan HB, H. Parhan HB dan EM. Hulaimy bertukar pendapat untuk memperjuangkan kembali kewedanan Tanah Laut menjadi Daswati II. Tukar pendapat tersebut membuahkan hasil berupa tekad yang kuat memprakarsai untuk menghimpun kekuatan moril maupun material dalam upaya memperjuangkan terwujudnya Daswati II Tanah Laut. Tekad dan prakarsa tersebut dimulai dengan terselenggaranya rapat pada tanggal 3 Juni 1961, bertempat di rumah Moh. Afham yang dipimpin oleh materan HB. Rapat tersebut menghasilkan terbentuknya sebuah Panitia Persiapan Penuntut Daswati II Tanah Laut dengan ketua umum Soeparjan. Panitia ini dikenal dengan nama Panitia Tujuh Belas dengan tugas pokok persiapan penyelenggaraan musyawarah besar seluruh masyarakat
Peta Wilayah Setempat...Pendidikan IPS SD 2 Kelompok 1 Sem 3/A 14

Tanah laut. Untuk terlaksananya tugas pokok tersebut panitia menetapkan lima program kerja, sebagai berikut: 1. Mengadakan hubungan dengan pemuka/tetuha masyarakat guna mendapat dukungan. 2. Mengumpulkan data potensi daerah. 3. Mengusahakan pengumpulan dana. 4. Membuat pengumuman untuk disebarluaskan ke masyarakat. 5. Menyelenggarakan ceramah dengan meminta kesediaan Ach. Syairani, H.M.N. Manuar, Wedana Usman Dundrung, Mahyu Arief dan H. Abdul Wahab. Usaha Panitia Tujuh Belas berhasil dengan terselenggaranya Musyawarah Besar se-Tanah Laut pada tanggal 1-2 Juli 1961 dan menghasilkan resolusi pernyataan serta terbentuknya "Panitia Penyalur Hasrat Rakyat Tuntutan Daswati II Tanah Laut" yang diketuai H.M.N. Manuar. Pada tanggal 12 Juli 1962, panitia ini menyampaikan memori Tanah Laut kepada Bupati dan Wakil Ketua DPRD GR Banjar, kemudian pada tanggal 6 Agustus 1962, Ketua Seksi A DPRD GR Banjar meninjau Tanah Laut dan dalam sidangnya pada tanggal 3 September 1962 mendukung Tuntutan Tanah Laut untuk dijadikan Daswati II dengan surat keputusan nomor 37/3/DPRDGR/1962, tanggal 3 September 1962. Dengan terbitnya keputusan DPRD GR Banjar tersebut, Panitia Penyalur terus berusaha mendapat dukungan di tingkat Provinsi, baik melalui Kerukunan Keluarga Tanah Laut (KKTL) di Banjarmasin maupun di DPRD GR Tingkat I Kalimantan Selatan. Atas usaha tersebut maka pada tanggal 26 November 1962 Tim DPRD GR Tingkat Kalimantan Selatan meninjau Tanah Laut, dari hasil kunjungan tersebut DPRD GR Tingkat I Kalimantan Selatan mendukung terbentuknya Daswati II Tanah laut dalan bentuk sebuah resolusi yang ditujukan kepada Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah, tanggal 11 Desember 1962, nomor 12/DPRDGR/RES/1962. Sebagai realisasi dari resolusi DPRD GR Tingkat I Kalimantan Selatan, Maka DPRD GR RI mengirim Tim yang dipimpin oleh Ketua Komisi B, yaitu Imam Sukarni Handokowijoyo dan tiba di Tanah Laut pada tanggal 2 Oktober 1963 yang disambut dengan rapat umum, kemudian melakukan peninjauan ke Kintap dan Ujung Batu serta pertemuan dengan pejabat dan panitia penuntut.

Peta Wilayah Setempat...Pendidikan IPS SD 2 Kelompok 1 Sem 3/A 15

Dalam pertemuan dengan TIM DPRD GR RI Ketua tim menganjurkan agar Panitia Penyalur ditingkatkan menjadi Badan Persiapan, maka pada tanggal 27 Oktober 1963 Panitia Penyalur telah berhasil membentuk "Badan Persiapan Pembentukan Daswati II Tanah laut ", dengan Ketua H. M. N. Manuar. Pada tanggal 31 Oktober 1963 sidang DPRD GR Tingkat I Kalimantan Selatan menyetujui resolusi yang mendesak kepada Gubernur untuk menunjuk Penguasa Daerah bagi Tapin, Tabalong dan Tanah Laut. Kemudian pada tanggal 11 Agustus 1964 diadakan serah terima kekuasaan kewedanan Tanah Laut dengan Bupati Banjar yang selanjutnya tanggal 9 September 1964 diresmikan berdirinya Kantor Persiapan Tingkat II Tanah Laut oleh Bapak Gubernur sekaligus melantik GT. M. Taberi sebagai kepala Kantor Persiapan. Pada tanggal 24 April 1965 Badan persiapan yang ada diperbaharui dalam suatu musyawarah bertempat di Gedung Bioskop Sederhana Pelaihari yang dipimpin oleh A. Wahid dan berhasil menyusun Badan Persiapan Tingkat II yang baru dengan Ketua Umum R. Sugiarto dan Sekretaris Umum adalah A. Miskat. Dalam kurun waktu Agustus sampai dengan November 1965, Badan Persiapan mengadakan beberapa kali rapat dan pertemuan dalam rangka mempersiapkan menyambut lahirnya Kabupaten Tanah Laut yang sudah di ambang pintu. Dengan lahirnya Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1965, tentang Pembentukan Daswati II Tapin, Tabalong dan Tanah Laut, maka pada tanggal 2 Desember 1965 dilaksanakan upacara peresmian berdirinya Daswati II Tanah Laut oleh Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah DR. Soemarno. Dengan demikian tanggal 2 Desember dicatat sebagai Hari Jadi Kabupaten Tanah Laut yang diperingati setiap tahunnya. B. Geografi Kabupaten Tanah Laut terletak pada posisi 11430'20 BT 11523'31 BT dan 330'33 LS - 411'38 LS dengan batasbatas administratif sebagai berikut : Utara Selatan Barat Timur Kabupaten Banjar dan Kota Banjarbaru Laut Jawa Laut Jawa Kabupaten Tanah Bumbu dan Laut Jawa

Peta Wilayah Setempat...Pendidikan IPS SD 2 Kelompok 1 Sem 3/A 16

Luas wilayah Kabupaten Tanah Laut adalah 3.631,35 km (363.135 ha) atau sekitar 9,71% dari luas Provinsi Kalimantan Selatan, secara administratif terdiri dari 11 wilayah kecamatan, 130 desa dan 5 kelurahan. Daerah yang paling luas adalah Kecamatan Jorong dengan luas 628,00 km, kemudian Kecamatan Batu Ampar seluas 548,10 km dan Kecamatan Kintap dengan luas 537,00 km, sedangkan kecamatan yang luas daerahnya paling kecil adalah Kecamatan Kurau dengan luas hanya 127,00 km. Berdasarkan tingkat kelandaiannya wilayah Kabupaten Tanah Laut dapat diklasifikasikan ke dalam empat kelompok, yaitu meliputi wilayah datar (kemiringan 0-2%) sebesar 290.147 ha, wilayah bergelombang (kemiringan 2-15%) sebesar 43.060 ha, wilayah curam (kemiringan 15-40%) sebesar 26.833 ha dan wilayah sangat curam (kemiringan >40%) sebesar 12.890 Hektar.

C. Pemerintahan Di Kabupaten ini ada 2 (dua) kelembagaan penting yang membentuk Pemerintahan Daerah, yaitu kelembagaan untuk pejabat politik, yaitu Kepala Daerah dan DPRD serta kelembagaan untuk pejabat karier yang terdiri dari perangkat daerah (Dinas, Badan, Kantor, Sekretariat, Kecamatan, Kelurahan dan lain-lain). Bupati Nama-Nama Bupati Kabupaten Tanah Laut 1966-2008 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Nama Gt. M. Tabri A. Syahril M. Roeslan Soemarsono PA Kamaruddin Dimeng Soepirman Drs. Fadhullah Thaib H. Totok Soewarto Drs. H. M. Danche R. Arsa Drs. H. Adriansyah Drs. H. Adriansyah Masa Jabatan 1966 s/d 1967 1967 s/d 1972 1972 s/d 1978 1978 s/d 1983 1983 s/d 1988 1988 s/d 1992 1992 s/d 1993 1993 s/d 1998 1998 s/d 2003 2003 s/d 2008 2008 s/d sekarang Keterangan Bupati Bupati Bupati Bupati Bupati Bupati Pj. Bupati Bupati Bupati Bupati Bupati

Peta Wilayah Setempat...Pendidikan IPS SD 2 Kelompok 1 Sem 3/A 17

D. Organisasi Perangkat Daerah Pemerintah Kabupaten Tanah Laut telah menyusun Organisasi Perangkat Daerah sebagaimana digambarkan dalam tabel dibawah ini: BENTUK KELEMBAGAAN ORGANISASI Sekretariat Daerah dan Sekretariat DPRD Dinas Daerah Badan Kecamatan Kelurahan JUMLAH 2 13 7 11 5

E. Sosial Budaya 1. Demografi Kabupaten Tanah Laut memiliki jumlah penduduk mencapai 270.091 jiwa, terdiri dari 137.574 jiwa laki-laki (50,94%) dan 132.517 jiwa perempuan (49,06%) dengan mayoritas usia 1560 tahun sebesar 174.399 jiwa. Tingkat kepadatan penduduk rata-rata sebesar 74 jiwa/km pada tahun 2008. 2. Suku bangsa Suku asli di daerah ini adalah suku Banjar dan suku Dayak Bukit di desa Bajuin. Adapun keseluruhan suku bangsa yang ada di kabupaten ini antara lain: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Suku Banjar Suku Jawa Suku Madura Suku Bukit Suku Bakumpai Suku Mandar Suku Sunda Suku lainnya : 142.731 jiwa : 73.237 jiwa : 3.282 jiwa : 585 jiwa : 32 jiwa : 49 jiwa : 2.739 jiwa : 5.268 jiwa

3. Obyek wisata Tempat tujuan wisata yang dapat dikunjungi di wilayah ini antara lain:

Pantai Batakan dan Pulau Datu Pantai Swarangan Pantai Takisung dan Batu Bejanggut Pantai Tabanio dan Pantai Batu Lima

Peta Wilayah Setempat...Pendidikan IPS SD 2 Kelompok 1 Sem 3/A 18

Air Terjun Bajuin Air Terjun Balangdaras Pantai Sarang Tiung

4. Peta Wilayah Kabupaten Hulu Sungai Utara

Koordinat : 2' LS-3'LS dan 115'BT-116'BT

Kabupaten

Hulu

Sungai Kalimantan

Utara Selatan

merupakan

salah

satu kabupaten di provinsi

. Ibukota kabupaten ini

terletak di Amuntai. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 892,7 km atau 2,38% dari luas provinsi Kalimantan Selatan dan berpenduduk sebanyak 209.037 jiwa (hasil Sensus Penduduk Indonesia 2010). Secara

umum kabupaten Hulu Sungai Utara terletak pada koordinat 2' sampai 3' Lintang Selatan dan 115' sampai 116' Bujur Timur.

A. Sejarah Pembentukan Kabupaten Status Kesultanan Banjar setelah dihapuskan masuk ke dalam Karesidenan

Afdeeling Selatan dan Timur Borneo. Wilayah dibagi dalam 4 afdeeling, salah satunya adalah afdeeling Amoentai yang terbagi dalam beberapa Distrik, yaitu Distrik Amoentai, Batang Allai, Laboean-Amas, Balangan, Amandit, Negara dan Kloewa. Dalam

perkembangannya Afdeeling Amoentai kemudian dimekarkan menjadi Afdeeling Amuntai dan Afdeeling Kandangan. Afdeeling Amoentai dengan ibukota Amoentai, terdiri atas:
Peta Wilayah Setempat...Pendidikan IPS SD 2 Kelompok 1 Sem 3/A 19

1. Onderafdeeling Amoentai, terdiri atas: 1. Distrik Amuntai 2. Distrik Tabalong 3. Distrik Kelua 2. Onderafdeeling Alabioe en Balangan, terdiri atas: 1. Distrik Alabio 2. Distrik Balangan Amuntai adalah ibukota Kabupaten Hulu Sungai Utara. Ejaan Amuntai di zaman pendudukan Belanda adalah Amoentai, Amoenthaij atau Amoenthay. Pada zaman Hindia Belanda dahulu dipakai sebagai nama kawedanan/Distrik Amuntai (Amoenthaij) dan juga pernah dipakai sebagai nama kabupatennya yaitu Kabupaten Amuntai. Dahulu kota Amuntai adalah sebuah kecamatan utuh hingga dimekarkan menjadi 3 kecamatan, yakni : 1. Amuntai Selatan dengan luas 174 km dan jumlah populasi penduduk 26.545 jiwa 2. Amuntai Tengah dengan luas 80,50 km dan jumlah populasi penduduk 46.631 jiwa 3. Amuntai Utara dengan luas 37 km dan jumlah populasi penduduk 21.262 jiwa.[3] Di kecamatan Amuntai Tengah-lah pusat pemerintahan dan perdagangan kabupaten Hulu Sungai Utara yang ditandai dengan adanya kantor bupati, kantor-kantor dinas pemkab Hulu Sungai Utara, sentra perdagangan, dan sarana/prasarana lainnya dan Amuntai Tengah merupakan kecamatan dengan penduduk terpadat di kabupaten Hulu Sungai Utara. Proses pengembangan wilayah dan sistem pemerintahan yang berorientasi kepada peraturan perundang- undangan, tidak berhenti sampai para tokoh masyarakat baik yang sudah duduk dalam DPRD Kabupaten Hulu Sungai (sebelum pengembangannya menjadi 2 kabupaten), maupun yang berada di luarnya, telah menyadari bahwa dalam keadaan demikian, sangat penting memiliki otonomi daerah sendiri. Inilah awal pemikiran yang mengilhami para tokoh Hulu Sungai Utara untuk melangkah kepada tuntutan berdirinya otonomi daerah, lepas dari Kabupaten Hulu Sungai yang beribukota di Kandangan. Maka lahirlah di Amuntai PETIR (Penyatuan Tindakan Rakyat), yaitu suatu wadah perjuangan untuk mewujudkan cita- cita dan aspirasi masyarakat tersebut.

Peta Wilayah Setempat...Pendidikan IPS SD 2 Kelompok 1 Sem 3/A 20

Presidium "PETIR" terbentuk dengan pimpinan yang terdiri dari Haji Morhan, Abdulhamidhan, H. Saberan Effendi, H. Abdul Muthalib M. dan Gusti Anwar (semuanya kini telah almarhum). Sedang pimpinan hariannya, selain H. Morhan, adalah Tarzan Noor dan M. Juhrani Sidik. "PETIR" menganggap bahwa daerah ini mempunyai potensi politik, sosial ekonomi, budaya, territorial/pertahanan, baik dari segi letak geografi / geologisnya, maupun keluasan wilayah dan pertumbuhan penduduknya, benar- benar potensial dan wajar untuk melangkah kakinya kedepan. Tak heran, seluruh lapisan masyarakat Hulu Sungai Utara, baik Ulama, Pemuda, partai politik, maupun organisasi kemasyarakatan lainnya, di dalam dan di luar daerah menyatakan dukungan yang hangat sekali. Tak terkecuali pula media cettak harian Kalimantan Berjuang Banjarmasin senantiasa memberikan opini yang sensitif terhadap aspirasi tersebut. Karenanya, tercatat bahwa Hulu Sungai Utara yang lebih awal memperjuangkan status kabupaten yang memiliki otonomi sendiri, dibanding dengan daerah-daerah setingkat lainnya se-Banua Lima. Puncak kegiatan "PETIR" saat itu adalah diselenggarakannya rapat umum terbuka dihalaman pasar Amuntai yang dipadati oleh ribuan orang. Rapat Akbar tersebut melahirkan sebuah Mosi atau tuntutan rakyat yang menghendaki agar belahan utara dari wilayah Hulu Sungai ini menjadi kabupaten daerah otonom yang berdiri sendiri. Beberapa hari kemudian "PETIR" mengadakan rapat plenonya di ruangan Sekolah Rakyat IV Amuntai (sekarang berdirinya Kantor Bupati Hulu Sungai Utara) untuk membahas mosi tersebut dan langkah- langkah selanjutnya. Sidang DPRDS Kabupaten Hulu Sungai di Kandangan yang membahas mosi/tuntutan "PETIR" tersebut, cukup berjalan mulus, karena 16 anggotanya (dari 20 anggota) berasal dari Hulu Sungai Utara yang mendukung dan menyetujui tuntutan tersebut. Dengan persetujuan DPRDS di atas, makin meluangkan jalan bagi "PETIR", tak saja ke Pemerintahan Daerah Tingkat I Kalimantan tetapi juga ke Pemerintah Pusat di Jakarta. Sementara itu, untuk menghadap Gubernur Kalimantan (Dr. Murjani) dipercayakan kepada deputasi Gusti Anwar dan Ahmad Syahman. Perutusan "PETIR" yang berangkat ke Jakarta adalah Haji Morhan dan H. Saberan Effendi. Di ibu kota beliau- beliau ini bergabung dengan Idham Khalid (tokoh Kalimantan Selatan) yang berdomisili disana dan mereka bersama-sama menghadap Menteri Dalam Negeri, Mr. Iskak Cokrohadisuryo.
Peta Wilayah Setempat...Pendidikan IPS SD 2 Kelompok 1 Sem 3/A 21

Sambutan dari para pejabat tersebut, baik yang di Banjarmasin maupun yang di Jakarta cukup baik dan memberikan angin segar bagi deputasi "PETIR". Dan kesegaran tersebut semakin terasa ketika beberapa waktu kemudian, tibanya surat Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor Pem. 20-7-47 tertanggal 16 November 1951 yang isinya menetapkan:

Daerah Kabupaten

Amuntai dengan

ibu

kota Amuntai sebagai

Bupati

Kepala

Daerahnya, bapak H. Muhammad Said.

Daerah Kabupaten Kandangan dengan ibukotanya Kandangan sebagai Bupati Kepala Daerahnya, bapak Syarkawi.

Tindak lanjut keputusan tersebut oleh Gubernur Kepala Daerah Kalimantan yang mengeluarkan surat keputusannya Nomor Des. 310-2-3 tanggal 9 April 1952, atas dasar Surat Keputusan Mendagri No. Des. 1/1/14 Rahasia yang sementara waktu menetapkan jumlah:

Anggota DPRDS untuk Kabupaten Kandangan 20 orang dan DPDS 5 orang Anggota DPRDS untuk Kabupaten Amuntai 16 orang dan DPDS 4 orang Atas hasil pemilihan, maka pimpinan DPRDS Kabupaten Amuntai pada awal

berdirinya, adalah Haji Anang Busyra sebagai Ketua dan Ahmad Samidie sebagai wakil ketua. Dari sinilah sekaligus diadakan persiapan perletakan karangka pembenahan pengaturan personal aparat, fisik, material kewilayahan dan lain- lainnya, sebagai upaya untuk menata rumah tangga pemerintah daerah Kabupaten ini yang telah diberi hak otonominya. Hari yang dinanti-nantikan itu akhirnya tibalah ketika pada hari Kamis, pukul 10.00, tanggal 1 Mei 1952, ketika Residen Koordinator Kalimantan Selatan, Zainal Abidin gelar Sutan Komala Pontas yang mewakili Gubernur Kepala Daerah Kalimantan, mengucapkan kata pelantikan terhadap para anggota DPRDS Kabupaten Amuntai yang berjumlah 16 orang. Hal ini menandai berdirinya kabupaten Amuntai secara resmi, pada tanggal 1 Mei 1952. Sejalan dengan perkembangan wilayah dan sistem pemerintahan yang berawal dari Undang-undang No. 22 Tahun 1948, maka pada tanggal 14 Januari 1953, nama Kabupaten Amuntai diubah menjadi Kabupaten Hulu Sungai Utara hingga sekarang. Meskipun pada kurun waktu 12 tahun kemudian, wilayah kewedanaan Tabalong memisahkan diri menjadi Kabupaten Tabalong pada 1 Desember 1965, nama Kabupaten Hulu Sungai Utara tetap berlaku hingga sekarang. B. Geografis

Peta Wilayah Setempat...Pendidikan IPS SD 2 Kelompok 1 Sem 3/A 22

Ditinjau secara geografis, Kabupaten Hulu Sungai Utara terletak pada koordinat antara 2 sampai 3 lintang selatan dan 115 sampai 116 bujur timur. Wilayah Kabupaten Hulu Sungai Utara terletak di daerah dataran rendah dengan ketinggian berkisar antara 0 m sampai dengan 7 m di atas permukaan air laut dan dengan kemiringan berkisar antara 0 persen sampai dengan 2 persen. Curah hujan di suatu tempat antara lain dipengaruhi oleh keadaan iklim, keadaan geografi dan perputaran/pertemuan arus udara. Jumlah curah hujan terbanyak di tahun 2005 terjadi pada bulan Februari yang mencapai 359 mm dan pada bulan April yang mencapai 351 mm dengan jumlah hari hujan masing-masing 14 dan 19. Data penggunaan tanah pada tahun 2005 di wilayah Kabupaten Hulu Sungai Utara, yaitu:

Kampung seluas 4.283 ha Sawah seluas 23.853 ha Kebun campuran 1.859 ha Hutan rawa 29.711 ha Rumput rawa 22.768 ha Danau seluas 1.800 ha Penggunaan lainnya seluas 1.224 ha

C. Luas Wilayah Luas wilayah Kabupaten Hulu Sungai Utara adalah 892,7 km atau hanya 2,38 persen dibandingkan dengan luas wilayah Provinsi Kalimantan Selatan. Dengan luas wilayah sebesar 892,7 km ini, sebagian besar terdiri atas dataran rendah yang digenangi oleh lahan rawa baik yang tergenang secara monoton maupun yang tergenang secara periodik. Kurang lebih 570 km adalah merupakan lahan rawa dan sebagian besar belum termanfaatkan secara optimal.

D. Batas Wilayah Batas wilayah Kabupaten Hulu Sungai Utara adalah sebagai berikut:

Utara

Provinsi Kalimantan Tengah dan Kabupaten Tabalong

Peta Wilayah Setempat...Pendidikan IPS SD 2 Kelompok 1 Sem 3/A 23

Selatan Kabupaten Hulu Sungai Tengah

Barat

Provinsi Kalimantan Tengah

Timur Kabupaten Balangan

E. Administrasi Wilayah Kabupaten Hulu Sungai Utara terdiri dari 10 (sepuluh) kecamatan setelah

terbentuknya Kabupaten Balangan dengan jumlah desa/kelurahan yang tersebar sebanyak 219 desa/kelurahan. Selain itu, desa/kelurahan di Kabupaten Hulu Sungai Utara dapat diklasifikasikan menjadi 3 (tiga) kategori, antara lain Desa Swadaya sebanyak 3 (di Kecamatan Banjang), Desa Swakarya ada 1 (di Kecamatan Banjang) dan Desa Swasembada sebanyak 215 desa. Adapun daftar 10 kecamatan tersbut adalah: 1. Amuntai Selatan 2. Amuntai Tengah 3. Amuntai Utara 4. Babirik 5. Banjang 6. Danau Panggang 7. Haur Gading 8. Paminggir 9. Sungai Pandan 10. Sungai Tabukan

F. Kependudukan Jumlah penduduk Kabupaten Hulu Sungai Utara berdasarkan hasil Sensus Penduduk Indonesia 2010 adalah 209.037 jiwa tersebar di 219 kelurahan/desa. Kabupaten dengan luas wilayah 892,7 km ini memiliki kepadatan penduduk (population density) 220 jiwa per km
Peta Wilayah Setempat...Pendidikan IPS SD 2 Kelompok 1 Sem 3/A 24

dan rata-rata setiap keluarga terdiri dari 4 orang. Laju pertumbuhan penduduk Hulu Sungai Utara antara tahun 20002010 sebesar 0,61% dan merupakan urutan terendah untuk kabupaten/kota di Kalimantan Selatan.

G. Lain-lain Di kabupaten ini Alabio dan kerbau terkenal rawa ( dengan Latin fauna khasnya, yaitu Itik ) Mamar atau itik dikecamatan Danau

: Bubalus

bubalis

Panggang dan kecamatan Paminggir.

Peta Wilayah Setempat...Pendidikan IPS SD 2 Kelompok 1 Sem 3/A 25