Anda di halaman 1dari 5

a.

Hipertensi Hipertensi didefinisikan sebagai peningkatan tekanan darah sistolik sedikitnya 140 mmHg atau tekanan darah diastolic sedikitnya 90 mmHg (Price dan Wilson, 2005). Ada 2 macam jenis hipertensi. Hipertensi renal dan hipertensi idiopatik. Hipertensi renal diderita oleh sebagian pasien hipertensi (kurang lebih 5%) yang dipicu oleh adanya penyakit ginjal dan kelenjar suprarenal. Sedangkan 95% sisanya merupakan hipertensi idiopatik (esensial hipertensi) yang dapat mengakibatnya

masalah yang kronik dengan komplikasi yang berat (Kumar et al, 2010). a. Klasifikasi Hipertensi Tabel 1. Klasifikasi Hipertensi Menurut JNC 7 Interpretasi Normal Prahipertensi Hipertensi derajat 1 Hipertensi derajat 2 b. Anamnesis Dalam penegakkan diagnosis hipertensi, perlu dilakukan penggalian informasi mengenai keluhan yang dirasakan penderita. Pada penyakit hipertensi, hal-hal penting yang perlu ditanyakan pada penderita adalah sebagai berikut: 1) Riwayat hipertensi : lama dan beratnya. 2) Obat anti hipertensi yang digunakan dan kepatuhannya. 3) Usia : sering pada usia 40 60 tahun. 4) Gejala sistem syaraf (sakit kepala, hoyong, perubahan mental, ansietas). 5) Gejala sistem ginjal (gross hematuri, jumlah urine berkurang) 6) Gejala sistem kardiovascular (adanya payah jantung, kongestif dan oedemparu, nyeri dada). 7) Riwayat penyakit : glomerulonefrosis, pyelonefritis. 8) Riwayat kehamilan : tanda eklampsi. Namun, dalam penerapannya bisa ditanyakan pertanyaan lain jika memang belum bisa dilakukan penegakkan diagnosis. c. Pemeriksaan Fisik Sistolik < 120 120-139 140-159 > 160 Diastolik < 80 80-89 90-99 > 100

Pada pemeriksaan fisik dilakukan pengukuran TD ( baring dan berdiri ) mencari kerusakan organ sasaran ( retinopati, gangguan neurologi, payah jantung kongestif, altadiseksi ). Perlu dibedakan komplikasi krisis hipertensi dengan kegawatan neurologi ataupun payah jantung, kongestif dan oedema paru. Perlu dicari penyakit penyerta lain seperti penyakit jantung koroner. d. Diagnonis Kerja dan Diagnosis Banding 1. Diagnosis Kerja : Hipertensi Esensial

2. Diagnosis Banding : Hipertensi Renal, Chepalgia, TTH (Tension Type Headhace) e. Pemeriksaan Penunjang Selain pemeriksaan fisik, data laboratorium ikut membantu diagnosis dan perencanaan. Urin dapat menunjukkan proteinuria, hematuri dan silinder. Hal ini terjadi karena tingginya tekanan darah juga menandakan keterlibatan ginjal apalagi bila ureum dan kreatinin meningkat. Gangguan elektrolit bisa terjadi pada hipertensi sekunder dan berpotensi menimbulkan aritmia. Pemeriksaan penunjang dilakukan dua cara yaitu : 1) Pemeriksaan yang segera a. Darah : darah rutin, BUN, creatinine, elektrolit, KGD. b. Urine : Urinalisa dan kultur urine. c. EKG : 12 Lead, melihat tanda iskemi, untuk melihat adanya hipertrofi ventrikel kiri ataupun gangguan koroner. d. Foto dada: apakah ada oedema paru (dapat ditunggu setelah pengobatan terlaksana). 2) Pemeriksaan lanjutan (tergantung dari keadaan klinis dan hasil pemeriksaan yang pertama) a. Sangkaan kelainan renal : IVP, Renal angiography (kasus tertentu), biopsi renald (kasus tertentu). b. Menyingkirkan kemungkinan tindakan bedah neurologi : Spinal tab, CAT Scan. c. Bila disangsikan Feokhromositoma : urine 24 jam untuk Katekholamine, metamefrin, venumandelic Acid (VMA). d. Ultrasonografi (USG) untuk melihat struktur gunjal dilaksanakan sesuai kondisi klinis pasien. f. Penatalaksanaan Medikamentosa

Penatalaksanaan penyakit hipertensi bertujuan untuk mengendalikan angka kesakitan dan kematian akibat penyakit hipertensi dengan cara seminimal mungkin menurunkan gangguan terhadap kualitas hidup penderita. Pengobatan hipertensi dimulai dengan obat tunggal , masa kerja yang panjang sekali sehari dan dosis dititrasi. Obat berikutnya mungkin dapat ditarnbahkan selama beberapa bulan pertama perjalanan terapi (Depkes RI, 2006). Pemilihan obat atau kombinasi yang cocok bergantung pada keparahan penyakit dan respon penderita terhadap obat anti hipertensi. Beberapa prinsip pemberian obat anti hipertensi sebagai berikut (Depkes RI, 2006): 1. Pengobatan hipertensi sekunder adalah menghilangkan penyebab hipertensi 2. Pengobatan hipertensi esensial ditujukan untuk menurunkan tekanan darah dengan harapan memperpanjang umur dan mengurangi timbulnya komplikasi. 3. Upaya menurunkan tekanan darah dicapai dengan menggunakan obat anti hipertensi. 4. Pengobatan hipertensi adalah pengobatan jangka panjang, bahkan pengobatan seumur hidup. Jenis-jenis obat antihipertensi (Depkes RI, 2006): 1. Diuretik Obat-obatan jenis diuretik bekerja dengan mengeluarkan cairan tubuh (Iewat kencing), sehingga volume cairan tubuh berkurang mengakibatkan daya pompa jantung menjadi ringan dan berefek turunnya tekanan darah. Digunakan sebagai obat pilihan pertama pada hipertensi tanpa adanya penyakit lainnya. 2. Penghambat Simpatis Golongan obat ini bekerja denqan menghambat aktifitas syaraf simpatis (syaraf yang bekerja pada saat kita beraktifitas). Contoh obat yang termasuk dalam golongan penghambat simpatetik adalah: metildopa, klonodin dan reserpin. Efek samping yang dijumpai adalah: anemia hemolitik (kekurangan sel darah merah kerena pecahnya sel darah merah), gangguan fungsi ahati dan kadang-kadang dapat menyebabkan penyakit hati kronis. Saat ini golongan ini jarang digunakan. 3. Betabloker Mekanisme kerja obat antihipertensi ini adalah melalui penurunan daya pompa jantung. Jenis obat ini tidak dianjurkan pada penderita yang telah diketahui mengidap gangguan pernafasan seperti asma bronkhial. Contoh obat golongan betabloker adalah metoprolol, propanolol, atenolol dan bisoprolol. Pemakaian pada

penderita diabetes harus hati-hati, karena dapat menutupi gejala hipoglikemia (dimana kadar gula darah turun menjadi sangat rendah sehingga dapat membahayakan penderitanya). Pada orang dengan penderita bronkospasme (penyempitan saluran pernapasan) sehingga pemberian obat harus hati-hati. 4. Vasodilatator Obat ini bekerja langsung pada pembuluh darah dengan relaksasi otot polos (otot pembuluh darah). Yang termasuk dalam golongan ini adalah prazosin dan hidralazin. Efek samping yang sering terjadi pada pemberian obat ini adalah pusing dan sakit kapala. 5. Penghambat enzim konversi angiotensin Kerja obat golongan ini adalah menghambat pembentukan zat angiotensin II (zat yang dapat meningkatakan tekanan darah). Contoh obat yang termasuk golongan ini adalah kaptopril. Efek samping yang sering timbul adalah batuk kering, pusing, sakit kepala dan lemas. 6. Antagonis kalsium Golongan obat ini bekerja menurunkan daya pompa jantung dengan menghambat kontraksi otot jantung (kontraktilitas). Yang termasuk golongan obat ini adalah : nifedipin, diltizem dan verapamil. Efek samping yang mungkin timbul adalah : sembelit, pusing, sakit kepala dan muntah. 7. Penghambat reseptor angiotensin II Kerja obat ini adalah dengan menghalangi penempelan zat angiotensin II pada reseptornya yang mengakibatkan ringannya daya pompa jantung. Obat-obatan yang termasuk .golongan ini adalah valsartan. Efek samping yang mungkin timbul adalah sakit kepala, pusing, lemas dan mual. Keterangan alur pengobatan hipertensi (Depkes RI, 2006): 1. Pada saat seseorang ditegakkan diagnosisnya menderita hipertensi maka yang pertama dilakukan adalah mencari faktor risiko apa yang ada, maka dilakukanlah usaha untuk menurunkan faktor risiko yang ada dengan modifikasi gaya hidup, sehingga dapat dicapai tekanan darah yang diharapkan. Bila dalam jangga waktu 1 bulan tidak tercapai tekanan darah normal, maka terapi obat pilihan diperlukan. 2. Terapiobatyangdiperlukansesuaidenganderajathipertensidanadatidaknnyaindikasi khusus, seperti diabetes mellitus, kehamilan , asma bronchial, kelainan hati dan kelainan darah.

3. Terapi pertama obat pilihan adalah pertama golongan tiazid, kedua golongan penghambat enzim konversi angitensin,kemudian diikuti golongan antagonis kalsium. 4. Bila terapi tunggal tidak berhasil maka terapi dapat dikombinasikan. 5. Bila tekanan darah tidak dapat dicapai baik melalui modifikasi gaya hidup dan terapi kombinasi maka dilakukakanlah sistem rujukan spesialistik. g. Penatalaksanaan Non-Medikamentosa Pengendalian Faktor Risiko (Depkes RI, 2006): 1. Mengatasi obesitas/menurunkan kelebihan berat badan. 2. Mengurangi asupan garam didalam tubuh. Nasehat pengurangan garam, harus memperhatikan kebiasaan makan penderita. Pengurangan asupan garam secara drastis akan sulit dilaksanakan. Batasi sampai dengan kurang dari 5 gram (1 sendok teh) per hari pada saat memasak. 3. Ciptakan keadaan rileks Berbagai cara relaksasi seperti meditasi, yoga atau hipnosis dapat menontrol sistem syaraf yang akhirnya dapat menurunkan tekanan darah. 4. Melakukan olah raga teratur Berolahraga seperti senam aerobik atau jalan cepat selama 30-45 menit sebanyak 3-4 kali dalam seminggu, diharapkan dapat menrnbah kebugaran dan memperbaiki metabolisme tubuh yang ujungnya dapat mengontrol tekanan darah. 5. Berhenti merokok 6. Mengurangi konsumsi alkohol.