P. 1
Penatalaksanaan Nyeri Akut Pasca Operasi

Penatalaksanaan Nyeri Akut Pasca Operasi

|Views: 83|Likes:
Dipublikasikan oleh adekonstantin
Penatalaksanaan Nyeri Akut Pasca Operasi
Penatalaksanaan Nyeri Akut Pasca Operasi

More info:

Categories:Types, Research
Published by: adekonstantin on Jun 12, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/30/2013

pdf

text

original

PENATALAKSANAAN NYERI AKUT PASCA OPERASI

Oleh: Gunawan Hadiwidjaja Putu Diah Vedaswari

Pendahuluan
Nyeri  keluhan paling sering Merupakan manifestasi proses patologis Penatalaksanaan  mengatasi proses patologis penyebab dan nyeri itu sendiri Nyeri akut  respon fisiologis yang memperingatkan seseorang akan adanya atau akan terjadinya suatu kerusakan jaringan

Pendahuluan
Nyeri pascaoperasi  bentuk nyeri akut Nyeri adalah pengalaman sensoris & emosional, nyeri pascaoperasi  kecemasan dan penderitaan Nyeri pascaoperasi bersifat sangat individual, tindakan yang sama pada pasien dg KU hampir sama, tidak selalu mengakibatkan nyeri pascaoperasi yang sama

Batasan Nyeri
Nyeri  komponen fisiologis & psikologis

  

Sensoris, deteksi neural dari stimulus noksius Kognitif, pemikiran mengenai nyeri Afektif, reaksi emoional terhadap nyeri Tingkah laku, aksi atau mekanisme menghindari yang dilakukan untuk mengurangi atau menghilangkan rasa nyeri

Batasan Nyeri Intenational Association For The Study of Pain (IASP) Nyeri adalah pengalaman sensoris dan emosional yang tidak menyenangkan. yang tejadi karena adanya kerusakan jaringan atau ancaman kerusakan jaringan .

Batasan Nyeri Nosisepsi tidak langsung diterjemahkan  sensasi nyeri Medula spinalis meningkatkan atau menurunkan sinyal nosisepsi menuju ke otak Tingkat psikologis seseorang  mempengaruhi sensasi nyeri sesuai respon emosional dan tingkah lakunya Pendekatan psikologis (terapi pengalihan perhatian dan teknik relaksasi) jg berperan penting .

Anatomi .

Sensasi noksius (2 komponen) yaitu   nyeri tajam.Fisiologi Nyeri Nosiseptor Diaktifkan oleh ambang tinggi dan mengkode intensitas stimulus dengan meningkatkan discharge rate secara gradual Stimuli yang berulang  adaptif. sensitisasi. dan tidak dapat dilokalisasi dengan baik . cepat dan dilokalisasi dengan baik nyeri tumpul onset lebih lambat. dan after discharge.

Fisiologi Nyeri Nosiseptor Kulit Nosiseptor Somatik Dalam   tersensitisasi oleh peradangan bersifat tumpul dan tidak dapat dilokalisasi dengan baik Nosiseptor Viseral (silent nosiseptors) .

Glutamat . Substansi P (sP).Fisiologi Nyeri Mediator Kimiawi Nyeri Kebanyakan mengandung lebih dari satu neurotransmiter yang dilepaskan secara bersamaan. peptida kalsitonin tergantung gen (CGRP).

Fisiologi Nyeri Substansi P    degranulasi histamin dari sel mast dan 5-HT dari platelet. vasodilator poten chemoattractant poten untuk leukosit. Neuron yang melepaskan sP juga menginervasi viseral dan memberikan kolateral ganglion simpatis paravertebral .

atau struktur supraspinal Dapat menghambat (supresi) atau memfasilitasi rasa nyeri . medula spinalis.Fisiologi Nyeri Modulasi Nyeri Modulasi nyeri dapat terjadi pada bagian nosiseptor.

Fisiologi Nyeri Modulasi Perifer Hiperalgesia Primer     diperantarai oleh pelepasan alogen yang berasal dari jaringan yang rusak Histamin (sel mast. basofil dan platelet) Bradikinin setelah aktivasi faktor XII Prostaglandin .

Fisiologi Nyeri Modulasi Perifer Hiperalgesia Sekunder   pelepasan sP (kemungkinan CGRP) akson kolateral neuron aferen primer  degranulasi histamin dan 5-HT. termasuk induksi pembentukan leukotrien  “tripel respon” . vasodilatasi pembuluh darah. menyebabkan edema jaringan.

Fisiologi Nyeri Modulasi sentral mekanisme yang mengaktikan medula spinalis secara sentral:    Efek penjumlahan dan sensitisasi dari neuron kedua. . Neuron WDR akan mengalami Wind Up Perluasan lapangan reseptor  Alodinia Hipereksitabilitas dari reflek fleksi.

angiotensin dan galanin. CGRP. L-glutamat dan L-aspartat  perubahan eksitabilitas membran  interaksi dengan reseptor membran terikat Gprotein  mengaktifkan intracellular second messenger  fosforilasi substrat protein  konsentrasi Ca++ intrasel  . kolesistokinin (CCK). peptida intestinal vasoaktif (VIP).Fisiologi Nyeri Modulasi sentral  sP.

Efek Kardiovaskuler Efek Respirasi Efek gastrointestinal Efek Genitourinarius Efek Imunologis Efek pada fungsi koagulasi Efek umum . katabolisme protein.Fisiologi Nyeri Efek Sistemik Nyeri Efek Endokrin   Hormon katabolik meningkat  Glukoneogenesis meningkat Hormon anabolik menurun  Lipolisis.

Tempat operasi.Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Nyeri Akut Pascaoperasi Pengaruh patofisiologi : Trauma jaringan → pelepasan bahan kimia → input sensoris ke SSP → mempengaruhi morbiditas dan mortalitas. paling nyeri: toraks. punggung belakang dan daerah anorektal. sendi utama. abdomen atas. .

Perawat→memberi penjelasan di bangsal dan memberikan jawaban. .Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Nyeri pascaoperasi Persiapan preoperasi :    Dokter bedah→menjelaskan alasan pembedahan. Ahli anestesi→diskusi pilihan mengontrol nyeri intra dan pascaoperasi.

Memiliki penyakit medis lain. sakit akut.Trauma.Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Nyeri pascaoperasi Status fisik dan emosional pasien : . . rehabilitasi dan penyembuhan.Persepsi pasien ttg pembedahan. . nyeri kronik→ menghabiskan energi dan tenaga pasien.Trauma/sakit→memicu emosi→ mempengaruhi penampilan. . .

manipulasi jaringan. intubasi. .v. .Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Nyeri pascaoperasi Manajemen intraoperasi : .Berhati-hati dan lembut: memasang jalur i. Efektifitas tim pascaoperasi : dari persiapan dan terapi dapat dilihat dari efek yang terlihat pada pre. memposisikan.Premedikasi→analgesia preemptif. intra dan pascaoperasi.

Umur : ambang rangsang ortu > tinggi. Kepribadian : pasien neurotik lebih merasakan nyeri. Motivasi pasien : pembedahan paliatif tumor ganas lebih nyeri. .Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Nyeri pascaoperasi Jenis kelamin : wanita lebih cepat nyeri. Pembedahan sebelumnya: ditempat sama →nyeri tidak sehebat sebelumnya.

d. e. Menentukan diagnosis Anamnesis nyeri Pemeriksaan fisik Pemeriksaan laboratorium Tes untuk mengetahui derajat nyeri Observasi prilaku Penampilan pasien . b.Evaluasi Pasien a. c. f. g.

Manajemen Nyeri Akut pascaoperasi Berdasarkan mekanisme dan lintasan nyeri: Di tingkat transduksi  Stimulus noksius→pelepasan zat algesik: Prostaglandin→dihambat NSAIDs. .  Obat anestesi lokal dapat mempengaruhi fungsi reseptor nyeri.

.Manajemen Nyeri Akut pascaoperasi Proses transmisi Obat anestesia lokal mempengaruhi fungsi transmisi serat-serat aferen A delta dan C. Proses modulasi Opioid mempengaruhi proses modulasi di tingkat medula spinalis.

Modalitas Nyeri Akut pascaoperasi Analgetik narkotik    Pilihan utama pengobatan nyeri akut. muntah. sedasi. mual. mensupresi batuk. peningkatan mood. Efek samping: gatal. Efek menguntungkan: analgesia. sedasi. retensi urin dan depresi nafas. disforia. .

setelah pemberian→ada periode waktu sebelum obat diabsorpsi ke sistemik .Analgetik narkotik Pemberian intramuskular Jumlah obat dalam darah dan efek klinis bervariasi. tgt jumlah darah yang mengalir. Kekurangan: pasien harus memanggil perawat bila merasa sakit.

. efek samping minimal.Patient Controlled Analgesia (PCA) Pasien memberikan sendiri opioid iv/epidural untuk mendapatkan efek analgesia maksimal.

Dosis > kecil→risiko oversedasi < .m. pasien atau alat.Patient Controlled Analgesia (PCA) Keuntungan: . .Mengobati nyeri yang timbul tiba-tiba. .Menurunkan kebutuhan akan perawat. . Kekurangan: efek buruk akibat kesalahan operator.Analgesi lebih bagus dibandingkan i.

Obat yang sering digunakan: morfin. petidin dan fentanil yang bebas preservatif. . Keuntungan:    Selektif reseptor opioid. Tidak menyebabkan blok motorik. Dosis kecil menghasilkan analgesia dgn durasi lebih lama. tidak tjd hipotensi krn blok simpatis.Terapi narkotik perispinal Memasukkan obat opioid dekat medula spinalis.

Opioid sublingual Mudah dan menyenangkan. Opioid oral Pada pasien yang dapat menelan. efek samping depresi nafas sangat jarang. Morfin sulfat. analgesia adekuat selama 6-8 jam. . Masa kerja lama (lebih dari 8 jam). Buprenorfin (agonis antagonis).

Teknik analgesia regional Infiltrasi lokal Analgesia selama beberapa jam pada daerah operasi. terutama dengan epinefrin. dan operasi plastik. Pada operasi day care: hernia inguinalis. Operasi > besar→irigasi berulang dengan kateter dibawah kulit dan otot yang diinsisi → disuntikkan anestesi lokal intermiten . ligasi vena varikosa.

Blok saraf minor .

Blok saraf mayor .

Blok saraf pusat .

Kembalinya aktivitas normal lebih awal. Penurunan stres dan hipersensitisasi SSP. Penurunan kebutuhan opioid → penurunan efek samping.Teknik analgesia regional Keuntungan:    Pasien masih sadar.  .

Waktu dan personel yang banyak untuk blok ulang dan follow up. Kurangnya pelatihan. Peralatan yang banyak.Teknik analgesia regional Kerugian :     Efek samping anestesi lokal → blok sensoris dan motorik. keterampilan dan keinginan pada staf medis dan perawat. .

kateter epidural→risiko terjadi infeksi . Meningkatkan efek analgesia dan mengurangi efek samping Infus epidural kontinyu bupivakain dan morfin. dan bupivakain dan sufentanil.Opioid dengan Anestesi Lokal Efek sinergis penggunaan anestesi lokal dengan opioid untuk analgesia epidural. bupivakain dan fentanil.

tidak ada efek euforia Analgesi obat dalam derajat sedang . Jarang mendepresi nafas.Analgetik nonnarkotik Obat agonis-antagonis opioid Potensi analgesi seperti opioid.

pada nyeri lebih berat. Melemahkan fungsi ginjal. coumarin/heparin .Nonsteroidal anti-inflammatory drugs (NSAIDs) Pada nyeri oleh proses inflamasi. Tidak dgn diuretik. Peningkatan analgesia dan penurunan efek samping bila dikombinasi dengan opioid. steroid. Obat lini pertama nyeri ringan dan sedang. platelet dan menyebabkan perdarahan. Kombinasi opioid.

Obat-obat ajuvan Obat anticemas. ESO: sedasi dan disorientasi. Fenotiazin hanya berefek sebagai sedatif. mengatasi kecemasan dan kesedihan. Antihistamin. efek sedasi dan analgesik nonspesifik. .

kontras dingin dan hangat bergantian. transcutaneus electrical nerve stimulation (TENS).Modulasi sensoris Hiperstimulasi sistem saraf akan menurunkan impuls nyeri ke SSP. Pijatan. . Akupuntur.

Terapi hipnosis → perhatian terfokus. Penjelasan dan informasi kepada pasien dan keluarganya tentang terapi untuk pasien.Teknik psikologis/regulasi diri Memberikan kontrol perasaan pada pasien selama nyeri pascaoperasi atau postrauma. Latihan biofeedback dan relaksasi .

Luka pada jaringan→ujung terminal saraf menjadi tersensitisasi & peningkatan eksitabilitas saraf spinal→hipersensitivitas tehadap nyeri: “nyeri pascaoperasi”.Analgesia Preemptif Pemberian analgesia sebelum terjadi luka untuk mengatasi nyeri setelah luka. . lebih lama daripada obat yang diberi setelah terjadi luka.

Anastesi lokal memblok impuls sensorik.Analgesia Preemptif Pengobatan preemptif tunggal tidak cukup → analgesia preemptif kontinyu . Opiat mencegah sensitisasi sentral . NSAIDs mengurangi aktivasi/sensitisasi perifer nosiseptor.

KESIMPULAN Nyeri  keluhan paling sering Merupakan manifestasi proses patologis Penatalaksanaan  mengatasi proses patologis penyebab dan nyeri itu sendiri Nyeri akut  respon fisiologis yang memperingatkan seseorang akan adanya atau akan terjadinya suatu kerusakan jaringan .

KESIMPULAN Sensasi yang dirasakan pasien sebagai nyeri tidak bisa diobati dengan cara yang sama. cepatnya masa pemulihan. masa rawat lebih singkat dan berkurangnya biaya . Tujuan semua terapi: tercapainya kenyamanan pasien. Terapi yang terbaik adalah sesuai dengan penyebab nyeri dan terapi yang mampu menghilangkan rasa nyeri.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->