Anda di halaman 1dari 16

ANALISIS KESALAHAN CHOUON DAN SOKUON PADA PENULISAN KOTOBA (HYOUKI) STUDI KASUS TERHADAP MAHASISWA PRODI PENDIDIKAN

BAHASA JEPANG UNESA ANGKATAN 2012

TUGAS NIHONGO GOYOU BUNSEKI

Oleh : Kelompok 10 Kelas 2010B Trya Paramita Oktanurina (102104049) Libra Nita Sari (1021042210)

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA FAKULTAS BAHASA DAN SENI JURUSAN BAHASA ASING PRODI PENDIDIKAN BAHASA JEPANG 2012

ANALISIS KESALAHAN CHOUON DAN SOKUON PADA PENULISAN KOTOBA (HYOUKI) STUDI KASUS TERHADAP MAHASISWA PRODI PENDIDIKAN BAHASA JEPANG UNESA ANGKATAN 2012

TUGAS NIHONGO GOYOU BUNSEKI

Disusun untuk Memenuhi Nilai Ujian Tengah Semester Semester Gasal Tahun Ajaran 2012/2013 Mata Kuliah Nihongo Goyou Bunseki

Oleh : Kelompok 10 Kelas 2010B Trya Paramita Oktanurina (102104049) Libra Nita Sari (1021042210)

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA FAKULTAS BAHASA DAN SENI JURUSAN BAHASA ASING PRODI PENDIDIKAN BAHASA JEPANG 2012

Analisis Kesalahan Chouon dan Sokuon pada Penulisan Kotoba (Hyouki) Studi Kasus Terhadap Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Jepang Unesa Angkatan 2012

1.

Pendahuluan Kesalahan berbahasa kerap terjadi pada pembelajar bahasa kedua baik disadari

maupun tidak disadari. Kesalahan tersebut merupakan tahap dalam menguasai sebuah bahasa. Samsuri (1994:3) menyatakan bahwa penguasaan bahasa dapat diperoleh setelah bertahun-tahun dengan kesalahan yang tidak jemu-jemu dan kesalahan yang berulang-ulang. Proses pembelajaran bahasa kedua tidak terlepas dari adanya kesalahan seperti yang telah disebutkan. Jenis kesalahan yang dilakukan bervariasi mulai dari kesalahan menulis, kesalahan berbicara, kesalahan membaca, dan kesalahan mendengarkan. Makalah ini akan menganalisis kesalahan berbahasa dalam bahasa Jepang. Dalam makalah ini akan diangkat permasalahan mengenai Nihongo Goyou Bunseki () atau analisis kesalahan berbahasa Jepang kategori hyouki pada pembelajar awal yaitu mahasiswa prodi pendidikan bahasa Jepang Unesa angkatan 2012 melalui angket. Hyouki adalah tata cara penulisan bahasa Jepang yang terdiri dari tiga jenis huruf yakni Hiragana, Katakana, dan Kanji. Masing-masing huruf tersebut memiiki kaidah penulisan yang berbeda-beda. Salah satunya mengenai penulisan bunyi vokal panjang (Chouon) dan bunyi konsonan rangkap (Sokuon). Permasalahan tersebut diangkat karena Penulis banyak menemui kesalahan yang terkait dengan kedua hal tersebut.

2.

Analisis Kesalahan Berbahasa

2.1 Pengertian Kesalahan Berbahasa Proses pembelajaran bahasa asing telah membawa seseorang untuk mempelajari bahasa masyarakat lain. Sehingga tidak menutup kemungkinan dalam proses pembelajaran tersebut pembelajar akan mengalami kesalahan ataupun interferensi dari bahasa ibu. Jika dikaitkan dengan objek penelitian analisis ini maka bahasa Jepang berkedudukan sebagai bahasa asing dan bahasa Indonesia sebagai bahasa ibunya. Menurut Yoshikawa (1997:4) kesalahan berbahasa diartikan sebagai berikut : () Yang dimaksud dengan Kesalahan Berbahasa Jepang adalah bukan kesalahan dari penutur asli bahasa Jepang melainkan kesalahan dari pembelajar bahasa Jepang itu sendiri Kesalahan berbahasa Jepang itu bisa dogolongkan menjadi 5 kategori, yaitu kesalahan Hatsuon, kesalahan Hyouki, kesalahan Goi, kesalahan Hyougen dan kesalahan Bunpo (Yoshikawa, 1997:4).

2.2 Jenis-jenis Kesalahan Berbahasa Kesalahan berbahasa oleh pembelajar bahasa asing tediri dari beberapa jenis. Khususnya bahasa Jepang yang memilki bentuk huruf, tata bahasa dan kosakata sendiri. Menurut Yoshikawa (1997:4) jenis-jenis kesalahan berbahasa adalah sebagai berikut : 1. 2.3.4.5. Sebenarnya ada bermacam-macam kesalahan berbahasa. Untuk meneliti kesalahan berbahasa terlebih dahulu harus mengerti ada berapa macam kesalahan berbahasa tersebut. Sebagai dasar klasifikasi yaitu media berbahasa, diantaranya Hatsuon dan Hyouki, kemudian tingkatan bahasa, yaitu Goi, Bunpwodan Hyougen. Berikut ini ada 5 macma-macam kesalahan berbahasa tersebut diantaranya: 1. Kesalahan pada Hatsuon, 2. Kesalahan pada Hyouki, 3. Kesalahan pada Goi, 4. Kesalahan pada Bunpou, dan 5. Kesalahan pada Hyougen.

2.3 Penyebab Kesalahan Berbahasa Kesalahan berbahasa pada pembelajar bahasa Jepang disebabkan oleh berbagai macam fenomena. Menurut Yoshikawa (1977:11) penyebab kesalahan berbahasa tersbut diantaranya: 7.8. Adapun penyebab-penyebab kesalahan berbahasa yang disebutkan oleh Yoshikawa Takeji, diantaranya: 1. Interferensi oleh bahasa Ibu 2. Interferensi bahasa asing yang telah dipelajari sebelumnya 3. Pengaruh bahasa Jepang yang dipelajari sampai saat ini 4. Pemahaman yang tidak cukup 5. Penjelasan yang tidak cukup 6. Analogi yang tidak tepat 7. Telalu difikirkan, dll. 2.4 Analisis Kesalahan Berbahasa Ellis (1978) mengatakan bahwa analisis kesalahan adalah suatu prosedur kerja yang biasanya dilakukan oleh para peneliti dan guru bahasa yang meliputi pengumpulan sampel, pengidentifikasian kesalahan yang terdapat dalam sampel, penjelasan kesalahan tersebut, pengklasifikasian kesalahan tersebut berdasarkan penyebabnya serta pengevaluasian dan penilaian taraf keseriusan kesalahan itu. Untuk pengidentifikasian tipe kesalahan, digunakan format analisis kesalahan bahasa oleh Tarigan (1995) yang mengelompokkan kesalahan berdasarkan taksonomi kategori linguistik yaitu kesalahan fonologis, morfologis, sintaksis dan leksikon. Burth (1993) mengelompokkan jenis kesalahan dalam dua kategori yaitu local erros dan global errors. Local error adalah jenis kesalahan yang bersifat lokal dan tidak mempengaruhi makna kalimat secara keseluruhan, sedangkan global error adalah jenis kesalahan yang sudah mempengaruhi makna kalimat secara keseluruhan. Kesalahan global errors yang paling sistematis terjadi adalah kesalahan menyusun unsur pokok, kesalahan menempatkan kata sambung dan hilangnya ciri kalimat pasif. Sedangkan, kesalahan Chouon dan Sokuon termasuk dalam kesalahan local errors karena dalam beberapa kondisi pihak komunikan masih dapat menangkap kotoba yang dimaksud oleh pihak komunikator walaupun terdapat sedikit kesalahan penulisan bunyi vokal panjang atau bunyi konsonan rangkap pada penulisan pihak komunikator.

3.

Hyouki Bahasa Jepang merupakan bahasa yang memiliki tata cara penulisan dengan

menggunakan huruf yang bermacam-macam. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Iwabuchi dalam Sudjianto dan Dahidi (2009:55) yang menjelaskan bahwa bahasa Jepang merupakan bahasa yang dapat dinyatakan dengan tulisan yang menggunakan huruf-huruf (kanji, hiragana, katakana). Dalam bahasa Jepang penulisan disebut dengan hyouki. Hal tersebut didasarkan pada pengertian hyouki menurut Kokugo Daijiten (, 1978:1667) sebagai berikut.
()

Hyouki 1. Hal yang ditulis untuk menunjukkan kalimat. Hal yang menunjukkan tulisan. Seperti, yang terdapat pada contoh (alamat berdasarkan hyouki) 2. Menulis kosakata dengan huruf seperti yang terdapat pada contoh (akhir-akhir kana sering digunakan menulis). Hyouki itu sendiri terbagi menjadi dua jenis huruf yakni kanji dan kana. Kana itu sendiri terbagi menjadi hiragana dan katakana. Masing-masing huruf tersebut memiliki kaidah penulisan yang berbeda. 3.1 Hiragana Menurut Sudjianto (2009:73) Hiragana adalah huruf-huruf yang terbentuk dari gari-garis atau coretan-coretan yang melengkung (kyoukusenteki) dan berbentuk seperti dan sebagainya. Adapun huruf hiragana digunakan sebagai sarana untuk menyimbolkan hal-hal berikut ini, di antaranya : a. Lambang bunyi Chokuon Sudjianto, 2009:75 Chokuon adalah bunyi-bunyi yang dapat digambarkan dengan bentuk tulisan yang menggunakan sebuah huruf kana. Hiragana yang dapat dipakai untuk melambangkan bunyi chokuon terdiri dari : (1) beberapa hiragana yang menggambarkan bunyi seion; (2) beberapa hiragana yang menggambarkan bunyi dakuon; dan (3) beberapa hiragana yang menggambarkan bunyi handakuon. Hurufhuruf hiragana yang menggambarkan bunyi chokuon dapat dilihat pada daftar berikut ini :

b.

Lambang bunyi Sokuon

3.2 Katakana Menurut Iwabuchi (dalam Sudjianto, 2004:81) katakana adalah huruf-huruf yang berbentuk a (), i (), u (), e(), o () dan sebagainya. Katakana terbentuk dari garis-garis atau coretan-coretan yang lurus (chokusenteki). Di lain pihak, menurut Steward (1996:10) huruf katakana digunakan untuk menulis hal-hal sebagai berikut : 1. Untuk kata yang dipinjam dari bahasa-bahasa lain (kata pinjaman), seperti : (camera) dan (tenis). 2. Untuk nama-nama asing seperti: (Jonshon). 3. Untuk kata tiruan dan kata mimetik, seperti (bang) dan (bowwow). 4. Untuk kata atau frasa, biasanya ditulis dalam kanji atau hiragana, yang diberi tekanan; pemakaian ini hampir sama seperti menggarisbawahi, huruf miring atau cetak-tebal dalam bahasa Indonesia. 5. Untuk nama-nama tumbuhan dan binatang dalam penulisan ilmiah. Namun, tidak semua kata asing dapat dituliskan dengan huruf katakana. Berikut ini perkiraan bunyi bahasa Inggris yang tidak terdapat dalam bahasa Jepang sesuai dengan apa yang dikatakan Steward (1996:74-75) sebagai berikut : 1. Bunyi l bahasa Inggris diganti oleh bahasa Jepang dengan huruf r, seperti pada kata = remon = lemon. 2. Bunyi th dalam bahasa Inggris digantikan oleh bahasa Jepang dengan bunyi s, seperti pada kata = marason = marathon. 3. Bunyi v dalam bahasa Inggris diganti oleh bahasa Jepang dengan bunyi b, seperti pada kata = bideo = video. 4. Bunyi er dalam bahasa Inggris diganti oleh bahasa Jepang dengan bunyi a, seperti pada kata = hanbaagaa = hamburger. 5. Bunyi f bahasa Inggris diganti oleh Bahasa Jepang dengan bunyi h, seperti pada kata = iyahon = earphone. 5 (America) dan

3.3 Kanji Huruf-huruf seperti oo (), chii (), hito (), ko () dan sebagainya merupakan huruf kanji. Kanji merupakan hyoui moji, yaitu sebuah kanji dapat menyatakan arti tertentu. Seperti huruf oo () yang memiliki arti besar, hito () orang dan ko () yang memilki arti anak-anak. Menurut Sudjianto dan Dahidi (2009:81) kanji memiliki dua cara baca yaitu kunyomi dan onyomi. Kunyomi merupakan cara menetapkan bahasa Jepang sebagai cara membaca kanji berkenaan dengan arti kanji tersebut, seperti huruf kanji hito ( ) apabila dibaca secara kunyomi memiliki cara baca hito ( ). Sedangkan onyomi merupakan cara meniru pengucapannya dalam bahasa China zaman dulu, huruf kanji hito () apabila dibaca secara onyomi memilki cara baca jin () dan nin (). yang memilki arti

4.

Bunyi Bahasa dalam Bahasa Jepang

4.1 Bunyi Vokal Panjang (Chouon) Menurut Iwabuchi (dalam Sudjianto dan Dahidi, 2009:48) Chouon adalah bunyi panjang seperti yuu, nee, too pada kata yuubin, neesan dan otoosan. Ada yang menyebut Chouon sama dengan istilah nobasuon atau dengan istilah hikuon. Sebagai lawan dari istilah chouon adalah tanon (bunyi vokal pendek). Dilihat dari segi onsetsu (silabel), baik chouon maupun tanon terdiri dari satu silabel. Tetapi apabila melihatnya dari segi haku/moora (mora), maka chouon terdiri atas 2 haku/moora sedangkan tanon terdiri atas 1 haku/moora. 4.2 Bunyi Konsonan Rangkap (Sokuon) Sakuon disebut juga tsumaruon yaitu bunyi yang dapat digambarkan dengan huruf Hiragana tsu () atau huruf Katakana tsu (). Dalam pemakaiannya pada sebuah kata, lambang bunyi sokuon biasa dipakai di tengah kata. Pada kata-kata tertentu dapat dipakai pada akhir kata seperti kata aa () atau tsuu () walaupun bukan untuk menunjukkan konsonan rangkap melainkan sebagai penanda kata-kata atau kalimat yang menyatakan perasaan, ekspresi, atau emosi (Sudjianto dan Dahidi, 2009:79). Menurut Katoo (dalam Dahidi, 2009:43) sokuon secara konkrit dapat dinyatakan dengan bunyi-bunyi konsonan sebagai berikut : 1. [p], apabila dipakai dalam sebelum bunyi konsonan hambat bilabial yang tidak bersuara [p], misalnya ippo . Bunyi konsonan rangkap tersebut

dipengaruhi oleh silabel yang ada pada bagian berikutnya yang memiliki konsonan [p], sehingga menimbulkan penekanan bunyi yang sama. 2. [t], apabila dipakai sebelum bunyi konsonan hambat dental-alveolar yang tidak bersuara [t], bunyi konsonan hambat frikatif dental-alvelor yang tidak bersuara [ts] atau sebelum konsonan hambat frikatif alveolar palatal yang tidak bersuara [t], misalnya: ittai . Bunyi konsonan rangkap tersebut dipengaruhi oleh silabel yang ada pada bagian berikutnya yang memiliki konsonan [t], sehingga menimbulkan penekanan bunyi yang sama. 3. [k], apabila dipakai sebelum bunyi konsonan frikatif alvelar yang tidak bersuara [s], misalnya: sassoku . Bunyi konsonan rangkap tersebut dipengaruhi oleh silabel yang ada pada bagian berikutnya yang memiliki konsonan [k], sehingga menimbulkan penekanan bunyi yang sama. 4. [], apabila dipakai sebelum bunyi konsonan frikatif alveolar yang tidak bersuara [k], misalnya: issho . Bunyi konsonan rangkap teresbut dipengaruhi oleh silabel yang ada pada bagian berikutnya yang memiliki konsonan [ ], sehingga menimbulkan penekanan bunyi yang sama. Penggunaan sokuon juga dapat dinyatakan dengan konsonan-konsonan seperti: 1. [g], apabila dipakai sebelum bunyi konsonan hambat velar yang besuara [g], misalnya: hottodoggu . Bunyi konsonan rangkap tersebut dipengaruhi oleh silabel yang ada pada bagian berikutnya yang memiliki konsonan [g], sehingga menimbulkan penekanan bunyi yang sama. 2. [d], apabila dipakai sebelum bunyi konsonan hamat dental alveolar yang besuara [d], misalnya: beddo . Bunyi konsonan rangkap tersebut oleh silabel yang ada pada bagian berikutnya yang memiliki konsonan [g], sehingga menimbulkan penekanan bunyi yang sama. 3. [ ], apabila dipakai sebelum bunyi konsonan frikatif alveolar-palatal yang bersuara [] yang dipakai pada tengah kata, misalnya: hajji . Bunyi konsonan rangkap tersebut dipengaruhi oleh silabel yang ada bagian berikutnya yang memiliki konsonan [], sehingga menimbulkan penekanan bunyi yang sama. 4. [h], apabila dipakai sebelum bunyi konsonan frikatif glotal yang tidak bersuara [h], misalnya: mahha . Bunyi konsonan rangkap tersebut dipengaruhi oleh

silabel yang ada pada bagian berikutnya yang memiliki konsonan [h], sehingga menimbulkan penekanan bunyi yang sama.

5.

Metodologi Penelitian Analisis Kesalahan Chouon dan Sokuon pada Penulisan Kotoba Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis deskriptif.

Metode ini adalah metode yang berbentuk studi kasus yang mencoba menggambarkan dan menganalisis data mulai tahap penghimpunan, penyusunan data dibarengi dengan analisis dan interpretasi terhadap data tersebut seakurat mungkin sesuai dengan sifatsifat ilmiahnya (Djajasudarma ,1993:). Selain itu, penulis juga menggunakan metode analisis kesalahan. Kridalaksana (1993) mengatakan bahwa analisis kesalahan adalah metode untuk mengukur kemajuan belajar bahasa dengan mencatat dan mengklasifikasikan kesalahan-kesalahan yang dibuat oleh seseorang atau kelompok . Penelitian ini berupa studi kasus yang dilaksanakan terhadap Mahasiswa Angkatan 2012 Prodi Pendidikan Bahasa Jepang Unesa dengan fokus analisis kesalahan Chouon dan Sokuon pada penulisan kotoba. Sampel penelitian berjumlah 50 mahasiswa yang diambil dengan teknik proportional random sampling, yang dilakukan secara acak berlapis dari seluruh jumlah mahasiswa yang ada yang terdiri dari tiga kelas dan berjumlah 89 orang, sehingga didapat 15 sample dari kelas 12A; 16 sample dari kelas 12B; dan 19 sample dari kelas 12C. Instrumen diperoleh melalui : Angket yang berisi 20 kata berbahasa Indonesia (dengan proporsi soal : 10 soal mengenai Chouon dalam penulisan huruf hiragana; 5 soal mengenai Chouon dalam penulisan huruf katakana; dan 5 soal terakhir mengenai Sokuon dalam penulisan huruf hiragana), dan mahasiswa yang bersangkutan diinstruksikan untuk menuliskan bahasa Jepang dari 20 kata yang ada dengan menggunakan huruf hiragana dan katakana. Sebelum melakukan tes yang sebenarnya, terlebih dahulu dilakukan tes uji coba untuk menmperhitungkan validitas, reliabilitas, dan kejelasan petunjuk. Uji coba dilakukan diluar populasi, yakni sebanyak 5 orang mahasiswa. Data yang telah diperoleh dianalisis dengan menggunakan langkah Corder (1981) dan Tarigan (1993) yang meliputi: 1. Mengidentifikasi jenis kesalahan 2. Mentabulasi jenis kesalahan sesuai dengan kategori kesalahan

3. Mencatat

kesalahan

yang

dilakukan

oleh

pembelajar

dan

membuktikan

kesalahannya 4. Menemukan faktor penyebab kesalahan 5. Menyimpulkan hasil analisis data kesalahan yang telah diidentifikasi.

6.

Hasil dan Pembahasan Analisis Kesalahan Chouon dan Sokuon pada Penulisan Kotoba

6.1

Kesalahan Chouon pada Penulisan Hiragana Ketika dalam proses penyusunan soal untuk kategori ini Penulis telah memilih

kotoba-kotoba yang sering membuat pembelajar awal Bahasa Jepang kesulitan untuk menentukan bunyi panjang dan bunyi pendek dari kotoba tersebut pada penulisan hiragana. Adapun kesalahan yang dilakukan oleh para mahasiswa sampel pada kategori ini adalah banyak terjadi kesalahan penempatan Chouon, sehingga terdapat kotoba yang seharusnya mengandung Chouon ditulis Tanon, dan begitu juga dengan sebaliknya kotoba yang seharusnya Tanon ditulis dengan Chouon. Selain itu terdapat pula jenis kesalahan lainnya seperti ketidaksesuaian jawaban kotoba yang dituliskan oleh sampel dengan kotoba yang dimaksudkan oleh Penulis, lalu kesalahan penulisan hiragana, dan kesalahan lainnya yang diluar konteks Chouon sehingga tidak Penulis bahas secara mendetail. Berikut akan dibahas satu persatu mengenai kotoba yang ditanyakan serta kesalahan Chouon yang dilakukan oleh sampel. No 1 Soal Hari Sabtu Jawaban Benar Kesalahan Chouon Jumlah 4 Kesalahan Lainnnya Tidak diisi Jumlah 4

_ 2 Bank Belajar (25 sampel)

14

3a 3b

Tidak ditemukan kesalahan 4

1 4

Perpustakaan (25 sampel)

Sembilan

Minggu Depan

Kamus

11

Tahun Lalu

15

Tidak diisi Tidak diisi Tidak diisi Tidak diisi Tidak diisi

11

_ 8 Besar _ _

1 9 1 11

Kecil

10

Ibu (untuk orang lain)

15

Dari tabel tabulasi kesalahan di atas dapat dilihat bahwa kesalahan terbanyak mengenai Chouon pada penulisan hiragana yaitu pada kotoba dan di mana masing-masing ditemukan 11 sampel melakukan kesalahan yang sama yaitu kotoba yang seharusnya berbunyi vokal pendek ditulis menjadi yang berbunyi vokal panjang, dan sebaliknya pada kotoba yang seharusnya berbunyi vokal panjang ditulis menjadi yang berbunyi vokal pendek. 10

6.2

Kesalahan Chouon pada Penulisan Katakana Sama halnya dengan analisis kesalahan chouon pada penulisan hiragana, ketika

dalam proses penyusunan soal untuk kategori ini Penulis telah memilih kotoba-kotoba dari bahasa asing yang telah diserap ke Bahasa Jepang sehingga dituliskan dengan huruf katakana, serta kotoba ini juga sering membuat pembelajar awal Bahasa Jepang kesulitan untuk menentukan bunyi panjang dan bunyi pendek dari kotoba tersebut. Adapun kesalahan yang dilakukan oleh para mahasiswa sampel pada kategori ini tidak jauh berbeda dengan kesalahan chouon pada penulisan hiragana yaitu banyak terjadi kesalahan penempatan Chouon, sehingga terdapat kotoba yang seharusnya mengandung Chouon ditulis Tanon, dan begitu juga dengan sebaliknya kotoba yang seharusnya Tanon ditulis dengan Chouon. Selain itu terdapat pula jenis kesalahan lainnya seperti ketidaksesuaian jawaban kotoba yang dituliskan oleh sampel dengan kotoba yang dimaksudkan oleh Penulis, lalu kesalahan penulisan hiragana, dan kesalahan lainnya yang diluar konteks Chouon sehingga tidak Penulis bahas secara mendetail. Berikut akan dibahas satu persatu mengenai kotoba yang ditanyakan serta kesalahan Chouon yang dilakukan oleh sampel. No 11 Soal Buku Notes Jawaban Benar Kesalahan Chouon JumLah 10 Kesalahan Lainnnya Jumlah 6

12

Jus

18

13 Apartemen 14 15 Pesta Komputer 15 2

5 10 3 Tidak diisi 16 23

11

1 1

Dari tabel tabulasi kesalahan di atas dapat dilihat bahwa kesalahan terbanyak mengenai Chouon pada penulisan katakana yaitu pada kotoba di mana ditemukan 15 sampel melakukan kesalahan yang sama yaitu kotoba yang seharusnya berbunyi vokal panjang di akhir kata ditulis menjadi yang berbunyi vokal pendek di akhir katanya. Namun, di sisi lain pada kategori ini lebih banyak ditemukan kesalahan lainnya yaitu kesalahan pada penulisan huruf katakananya, seperti pada kotoba di mana ada 23 orang sampel yang melakukan kesalahan penulisan katakana.

6.3

Kesalahan Sokuon pada Penulisan Hiragana Dalam kategori ini Penulis memilih 5 kotoba yang mengandung Sokuon dari buku

Minna no Nihongo Shokyuu 1 yang merupakan buku wajib bagi mahasiswa angkatan 2012 prodi pendidikan bahasa jepang unesa. Adapun kesalahan lebih banyak terdapat pada kesalahan lainnya seperti kesalahan menjawab kotoba, kesalahan penulisan hiragana, bahkan juga terdapat kesalahan Chouon daripada kesalahan Sokuon.nya. No 16 17 18 19 20 Soal Majalah Sekolah Tanggal 3 Bersamasama Besok lusa Jawaban Benar Kesalahan Sokuon Jumlah 5 1 Kesalahan Lainnnya Jumlah 10 14 14 6 15

Tidak ditemukan kesalahan 2

Tidak ditemukan kesalahan

Dari tabel tabulasi kesalahan di atas dapat dilihat bahwa kesalahan mengenai Sokuon tidak banyak terlihat, namun justru kesalahan lainnya yang banyak terlihat, bahkan kesalahan Chouon juga banyak terjadi. Seperti pada kata , secara Sokuon jawaban ini benar, namun secara Chouon jawaban ini salah karena tidak memiliki bunyi vokal panjang di akhir katanya. 12

7.

Simpulan Dari studi kasus yang dilakukan oleh Penulis terhadap mahasiswa angkatan 2012

prodi pendidikan bahasa jepang Unesa mengenai analisis kesalahan chouon dan sokuon pada penulisan kotoba dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa hampir 50% dari sampel penguasaan kotoba.nya masih kurang maksimal. Terutama jika dikaitkan dengan bunyi vokal panjang dan pendek, serta bunyi konsonan rangkap. Hal ini terlihat dari banyaknya kesalahan penulisan yang dilakukan oleh sampel pada ketiga kategori soal angket yaitu : 1. Kesalahan chouon pada penulisan hiragana; 2. Kesalahan chouon pada penulisan katakana; dan 3. Kesalahan sokuon pada penulisan hiragana. Namun, diluar ketiga kategori tersebut juga banyak ditemukan kesalahan penulisan lainnya seperti kesalahan penulisan hiragana hingga tidak menjawab pertanyaan dengan kotoba yang benar.

13

Daftar Pustaka
Ellis, Rod. 1978.The Study Of Second Language Acquisition.Oxford: Oxford University Press Hamdi, Muhammad Ali. 2012. Analisis Kesalahan dan Interferensi Bahasa Pada Sakubun () Siswa Kelas XII Bahasa SMA Negeri 1 Sidayu Tahun Ajaran 2011/2012 (Konsentrasi Pada Hyouki, Goi dan Bunpou). Skripsi tidak diterbitkan. Surabaya: FBS Unesa. Samsuri. 1994. Analisis Bahasa. Jakarta: Erlangga. Saragih, Elza L.2008. ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA ANAK BILINGUAL (Studi Kasus Terhadap Siswa SMP METHODIST III Medan Dengan B1 Bahasa Cina Hokkien).Jurnal online tidak diterbitkan. http://akademik.nommensen-id.org/portal/public_html/JURNAL/VISIUHN/2008/VISI_Vol_16_No_2-2008/6_Elza_S.doc.07/11/2012, 7:02PM Siregar, Bahren.1998.Pemertahanan Bahasa dan Sikap Bahasa.Jakarta: Pusat Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Steward, Anne Matsumoto. 1996. Asas-asas Katakana. Jakarta: Oriental.

Sudjianto dan Dahidi. 2009. Pengantar Linguistik Bahasa Jepang. Jakarta: Kesaint Blanc. Tarigan,H.G.1988. Pengajaran pemerolehan Bahasa.Bandung: Angkasa Yoshikawa, Takeji. 1997. . Tokyo: Meijishouin.

14