Anda di halaman 1dari 27

TRIAGE

Triage adalah proses khusus memilah pasien berdasar beratnya cedera atau penyakit untuk menentukan jenis perawatan gawat darurat serta transportasi selanjutnya. Tindakan ini merupakan proses yang berkesinambungan sepanjang pengelolaan musibah terutama musibah yang melibatkan massa. Proses triage meliputi tahap pre-hospital / lapangan dan hospital atau pusat pelayanan kesehatan lainnya. Triage lapangan harus dilakukan oleh petugas pertama yang tiba ditempat kejadian dan tindakan ini harus dinilai ulang terus menerus karena status triase pasien dapat berubah. Metode yang digunakan bisa secara METTAG (Triage tagging system) atau sistem triage Penuntun Lapangan START (Simple Triage And Rapid Transportation). Petugas lapangan memberikan penilaian pasien untuk memastikan kelompok korban seperti yang memerlukan transport segera atau tidak, atau yang tidak mungkin diselamatkan, atau mati. Ini memungkinkan penolong secara cepat mengidentifikasikan korban dengan risiko besar akan kematian segera atau apakah memerlukan transport segera, serta melakukan tindakan pertolongan primer dan stabilisasi_darurat.

Pada tahap rumah sakit, triage dapat juga dilakukan walaupun agak berbeda dengan triage lapangan. Dengan tenaga dan peralatan yang lebih memadai, tenaga medis dapat melakukan tindakan sesuai dengan kedaruratan penderita dan berdasarkan etika profesi. Saat menilai pasien, secara bersamaan juga dilakukan tindakan diagnostik, hingga waktu yang diperlukan untuk menilai dan menstabilkan pasien berkurang.

Simple Triage / Triage Sederhana / Triage inisial START, sebagai cara triage lapangan yang berprinsip pada sederhana dan kecepatan, dapat dilakukan oleh tenaga medis atau tenaga awam terlatih. Dalam memilah pasien, petugas melakukan penilaian kesadaran, ventilasi, dan perfusi selama kurang dari 60 detik lalu memberikan tanda dengan menggunakan berbagai alat berwarna, seperti bendera, kain, atau isolasi. Hitam : pasien meninggal atau cedera fatal yang tidak memungkinkan untuk resusitasi. Tidak memerlukan perhatian. Merah : pasien cedera berat atau mengancam jiwa dan memerlukan transport segera. Misalnya : gagal nafas cedera torako-abdominal cedera kepala atau maksilo-fasial berat shok atau perdarahan berat luka bakar berat Kuning : pasien cedera yang dipastikan tidak mengancam jiwa dalam waktu dekat. Dapat ditunda hingga beberapa jam. Misalnya : cedera abdomen tanpa shok, cedera dada tanpa gangguan respirasi, fraktura mayor tanpa syok

cedera kepala atau tulang belakang leher tanpa gangguan kesadaran luka bakar ringan Hijau : cedera ringan yang tidak memerlukan stabilisasi segera. Misalnya : cedera jaringan lunak, fraktura dan dislokasi ekstremitas, cedera maksilo-fasial tanpa gangguan jalan nafas gawat darurat psikologis Dapat juga menggunakan algoritma berikut : Advanced Triage / Triage lanjutan Pasien dengan harapan hidup yang kecil dengan tersedianya peralatan dan tenaga medis yang lebih lengkap diharapkan dapat ditingkatkan harapan hidupnya. Namun apabila tenaga medis dan perlengkapan tidak dapat memenuhi kebutuhan dari pasien, misalnya pada bencana yang melibatkan banyak korban, tenaga medis dapat memutuskan untuk lebih memberikan perhatian pada pasien dengan cedera berat yang harapan hidupnya lebih besar sesuai dengan etika profesional. Hal inilah yang menjadi tujuan dari triage lanjutan. Pemantauan pada triage lanjutan dapat menggunakan Revised Trauma Score (RVT) atau Injury Severity Score (ISS). RVT menggunakan parameter kesadaran (GCS), tekanan darah sistolik (dapat menggunakan per palpasi untuk mempercepat pantauan), dan frekuensi pernapasan. Skor 12 : delayed 11 : urgent, dapat ditunda 4 10 : immediate, memerlukan penatalaksanaan sesegera mungkin 0 3 : morgue, cedera serius yang tidak lagi memerlukan tindakan darurat

Glasgow Coma Scale GCS 15-13 12-9 8-6 5-4 3 4 3 2 1 0 Points

Systolic Pressure SBP >89 76-89 50-75 1-49 0 Points 4 3 2 1 0

Respiratory Rate RR 10-30 >30 6-9 1-5 0 Points 4 3 2 1 0

ISS menggunakan parameter 3 bagian tubuh. A : wajah, leher, kepala B : toraks, abdomen C : ekstremitas, jaringan lunak, kulit tiap parameter diberi skor 0 5 yaitu : 1. cedera ringan 2. cedera sedang 3. cedera serius 4. cedera berat

5. kritis Hasil skoring tersebut kemudian dikuadratkan dan dijumlahkan. ISS = A2 + B2 + C2 Hasil lebih dari 15 dianggap sebagai politrauma. Hasil dari perhitungan ISS ini digunakan sebagai perbandingan dalam penentuan prioritas penatalaksanaan pasien massal. Ada beberapa variasi dari penggunaan triage seperti di atas, pada beberapa kondisi atau di beberapa negara. Misalnya di medan perang, seringkali dilakukan reversed triage, dimana yang diprioritaskan adalah korban dengan luka paling ringan yang membutuhkan pertolongan sehingga korban dapat segera kembali ke medan perang. Di beberapa negara terdapat pedoman lain dalam penentuan triage, namun intinya tetap sama. Misalnya di Jerman, tidak seluruh trauma amputasi mayor dianggap ditandai dengan kartu merah. Trauma amputasi lengan bawah, setelah ditangani pendarahannya, dapat dianggap sebagai kartu kuning dan kemudian ditransfer ke rumah sakit. Kadang kala pembagian triage pun menggunakan 5 macam warna. Kategori T1 (I) Konsekuensi Penanganan dan Mengancam transportasi sesegera jiwa mungkin Observasi ketat, Cedera berat penanganan secepatnya, transport sedapat mungkin Ditangani bila Cedera memungkinkan, transport minor atau dan evakuasi bila tidak cedera memungkinkan Harapan Observasi dan bila hidup kecil memungkinkan pemberian atau tidak analgetik ada Menjaga jenazah, Meninggal identifikasi bila memungkinkan Makna Contoh Lesi yang melibatkan arteri, pendarahan organ dalam, trauma amputasi mayor Trauma amputasi minor, cedera jaringan lunak, fraktur dan dislokasi Laserasi minor, abrasi jaringan lunak, cedera otot Cedera berat, pendarahan berat, pemeriksaan neurologis negatif Dead on arrival, perburukan dari T1-4, tidak ada napas spontan

T2 (II)

T3 (III)

T4 (IV)

T5 (V)

Hasil Triage Evakuasi Simple triage mengidentifikasi pasien mana yang memerlukan tindakan secepatnya. Di lapangan, triage juga melakukan penilaian prioritas untuk evakuasi ke rumah sakit. Pada sistem START, pasien dievakuasi sebagai berikut : pasien meninggal ditinggalkan di posisi dimana mereka ditemukan, sebaiknya ditutup. Pada pemantauan START, seseorang dianggap meninggal bila tidak bernapas setelah dilakukan pembersihan jalan napas dan percobaan napas buatan.

Immediate atau prioritas 1 (merah), dievakuasi dengan menggunakan ambulance dimana mereka memerlukan penanganan medis dalam waktu kurang dari 1 jam. Pasien ini dalam keadaan kritis dan akan meninggal bila tidak ditangani segera. Delayed atau prioritas 2 (kuning), evakuasinya dapat ditunda hingga seluruh prioritas 1 sudah dievakuasi. Pasien ini dalam kondisi stabil namun memerlukan penanganan medis lebih lanjut. Minor atau prioritas 3 (hijau), tidak dievakuasi sampai prioritas 1 dan 2 seluruhnya telah dievakuasi. Pasien ini biasanya tidak memerlukan penanganan medis lebih lanjut setidaknya selama beberapa jam. Lanjutkan re-triage untuk mencegah terlewatnya perburukan kondisi. Pasien ini dapat berjalan, dan umumnya hanya memerlukan perawatan luka dan antiseptik.

Triage Sekunder (dalam rumah sakit) Pada sistem triage lanjutan, triage sekunder dilakukan oleh paramedis atau perawat terlatih di Instalasi Gawat Darurat rumah sakit selama terjadinya bencana. Pasien dipilah menjadi 5 kelompok. - hitam / expectant : pasien dengan cedera berat yang dapat meninggal karena cederanya, mungkin dalam beberapa jam atau hari selanjutnya. (luka bakar luas, trauma berat, radiasi dosis letal), atau kemungkinan tidak dapat bertahan hidup karena dalam krisis yang mengancam nyawa walaupun diberikan penanganan medis (cardiac arrest, syok septik, cedera berat kepala atau dada). Pasien ini sebaiknya dimasukkan dalam ruangan rawat dengan pemberian analgetik untuk mengurangi penderitaan. merah / immediate : pasien yang memerlukan tindakan bedah segera atau tatalaksana lain untuk menyelamatkan nyawa, dan sebagai prioritas utama untuk tim bedah atau ditransport ke rumah sakit yang lebih lengkap. Pasien ini dapat bertahan hidup bila ditangani sesegera mungkin. kuning / observation : kondisi pasien ini stabil sementara waktu namun memerlukan pengawasan dari tenaga medis terlatih dan re-triage berkala serta perawatan rumah sakit hijau / wait (walking wounded) : pasien ini memerlukan perhatian dokter dalam beberapa jam atau hari kemudian namun tidak darurat, dapat menunggu hingga beberapa jam atau dianjurkan untuk pulang dan kembali ke rumah sakit keesokan harinya (misal pada patah tulang sederhana, luka jaringan lunak multipel) putih / dimiss (walking wounded) : pasien ini mengalami cedera ringan, pengobatan P3K dan berobat jalan sudah cukup, peranan dokter disini tidak mutlak diperlukan. Contoh cedera pasien ini seperti luka robek, lecet, atau luka bakar ringan. Penderita yang mengalami kelumpuhan, walaupun tidak mengancam nyawa, dapat menjadi prioritas pada keadaan IGD yang sudah tenang. Selama masa ini juga, kebanyakan trauma amputasi dapat dianggap sebagai merah karena tindakan bedah perlu dilakukan dalam beberapa menit walaupun luka amputasi ini tidak mengancam nyawa.

Sistem Triage Rumah Sakit Pada sistem rumah sakit, langkah pertama yang harus dilewati saat masuk rumah sakit adalah penilaian oleh perawat triage. Perawat ini kemudian melakukan evaluasi kondisi pasien, perubahan-perubahan yang terjadi, dan menentukan prioritas giliran untuk masuk ke IGD dan prioritas dalam mendapatkan penanganan. Setelah pemeriksaan dan penanganan darurat selesai, pasien dapat masuk ke dalam sistem triage rumah sakit.

Pada beberapa rumah sakit yang sudah menggunakan dokter triage, dokter tersebut dapat menganjurkan seorang pasien untuk masuk dan menerima penanganan dari dokter IGD atau dirawat langsung oleh dokter yang merawat di ruangan. Hal ini untuk meningkatkan efektivitas dimana pasien dapat sesegera mungkin mendapat perawatan lebih lanjut. Pemilahan dalam rumah sakit ini juga memerlukan pengetahuan akan bed control dan tenaga bantuan, bed mana yang dapat digunakan dan fasilitas apa saja yang diperlukan selama dalam penanganan di IGD dan dalam perawatan di ruang rawat inap.
TRIAGE DAN MANJEMEN GAWAT DARURAT

TRIAGE
A. Defenisi Triage

Suatu sistem seleksi penderita yang menjamin supaya tidak ada penderita yang tidak mendapat perawatan (kapukonline.com). Sebuah tindakan pengelompokan pasien

berdasarkan berat ringannya kasus, harapan hidup dan tingkat keberhasilan yang akan dicapai sesuai dengan standar pelayanan UGD yang dimiliki (kompasiana.com) Triage is derived from french word, trier, meaning to sort out. It was first used by the french military during world war I, when victim were sorted and clasified according to the type and urgency of their condition for the purpose of determining medical treatment priorities (Grossman, 2003) Tujuan utama adalah untuk mengidentifikasi kondisi mengancam nyawa . Tujuan kedua adalah untuk memprioritaskan pasien menurut ke akutannya . Pengkatagorian

mungkin ditentukan sewaktu-waktu. Jika ragu, pilih prioritas yang lebih tinggi untuk menghindari penurunan triage.

B. Golongan Triage Dalam triage ada 5 golongan 1. Golongan I (Label Hijau) : Penderita tidak luka / menderita gangguan jiwa sehingga tidak memerlukan tindakan bedah. 2. Golongan II (Label Kuning) : Penderita dengan luka ringan dan memerlukan tindakan bedah minor. 3. Golongan III (Label Merah) : Penderita keadaan luka berat / syok. 4. Golongan IV (Label Putih) : Penderita dengan luka berat tetapi sulit ditolong 5. Golongan V (Label Hitam) : Penderita meninggal dunia

C. Sistem Triage Sistem triage ada 2 yaitu : 1. Non Disaster Untuk menyediakan perawatan sebaik mungkin bagi setiap individu pasien 2. Disaster Untuk menyediakan perawatan yang lebih efektif untuk pasien dalam jumlah banyak

D. Tipe-tipe Triage di Rumah Sakit 1. Type 1 : Traffic Director or Non Nurse a. Hampir sebagian besar berdasarkan system triage b. Dilakukan oleh petugas yang tak berijasah c. Pengkajian minimal terbatas pada keluhan utama dan seberapa sakitnya d. Tidak ada dokumentasi e. Tidak menggunakan protocol

2. Type 2 : Cek Triage Cepat

a. Pengkajian cepat dengan melihat yang dilakukan perawat beregristrasi atau dokter b. Termasuk riwayat kesehatan yang berhubungan dengan keluhan utama c. Evaluasi terbatas d. Tujuan untuk meyakinkan bahwa pasien yang lebih serius atau cedera mendapat perawatan pertama

3. Type 3 : Comprehensive Triage a. Dilakukan oleh perawat dengan pendidikan yang sesuai dan berpengalaman b. 4 sampai 5 sistem katagori c. Sesuai protokol

E. Klasifikasi Triage Berdasarkan Kasus 1. Prioritas 1 Kasus Berat a. Perdarahan berat b. Asfiksia, cedera cervical, cedera pada maxilla c. Trauma kepala dengan koma dan proses shock yang cepat d. Fraktur terbuka dan fraktur compound e. Luka bakar > 30 % / Extensive Burn f. Shock tipe apapun 2. Prioritas 2 Kasus Sedang a. Trauma thorax non asfiksia b. Fraktur tertutup pada tulang panjang c. Luka bakar terbatas d. Cedera pada bagian / jaringan lunak 3. Prioritas 3 Kasus Ringan a. Minor injuries b. Seluruh kasus-kasus ambulant / jalan 4. Prioritas 0 Kasus Meninggal a. Tidak ada respon pada semua rangsangan b. Tidak ada respirasi spontan c. Tidak ada bukti aktivitas jantung

d. Tidak ada respon pupil terhadap cahaya

MANAJEMEN GAWAT DARURAT


A. Defenisi Manajemen Gawat Darurat Manajemen Gawat Darurat Dalam sebuah pelayanan kesehatan tentunya juga tidak terlepas dari sebuah unit yang menangani kegawatdaruratan dan di rumah sakit biasa kita kenal dengan nama dan istilah Unit Gawat Darurat (UGD).

B. Prinsip Manajemen Gawat Darurat 1. Bersikap tenang tapi cekatan dan berpikir sebelum bertindak (jangan panik). 2. Sadar peran perawat dalam menghadapi korban dan wali ataupun saksi. 3. Melakukan pengkajian yang cepat dan cermat terhadap masalah yang mengancam jiwa (henti napas, nadi tidak teraba, perdarahan hebat, keracunan). 4. Melakukan pengkajian sistematik sebelum melakukan tindakan secara menyeluruh. Pertahankan korban pada posisi datar atau sesuai (kecuali jika ada ortopnea), lindungi korban dari kedinginan. 5. Jika korban sadar, jelaskan apa yang terjadi, berikan bantuan untuk menenangkan dan yakinkan akan ditolong. 6. Hindari mengangkat/memindahkan yang tidak perlu, memindahkan jika hanya ada kondisi yang membahayakan. 7. Jangan diberi minum jika ada trauma abdomen atau perkiraan kemungkinan tindakan anastesi umum dalam waktu dekat. 8. Jangan dipindahkan (ditransportasi) sebelum pertolongan pertama selesai dilakukan dan terdapat alat transportasi yang memadai.

C. Kesiapan Dalam Gawat Darurat 1. Siap mental, dalam arti bahwa emergency can not wait. Setiap unsur yang terkait termasuk perawat harus menghayati bahwa aritmia dapat membawa kematian dalam 1 2 menit. Apnea atau penyumbatan jalan napas dapat mematikan dalam 3 menit. 2. Siap pengetahuan dan ketrampilan. Perawat harus mempunyai bekal pengetahuan teoritis dan patofisiologi berbagai penyakit organ tubuh penting. Selain itu juga keterampilan manual untuk pertolongan pertama.

3.

Siap alat dan obat. Pertolongan pasien gawat darurat tidak dapat dipisahkan dari penyediaan/logistik peralatan dan obat-obatan darurat.

D. Urutan Pertolongan Dalam Keadaan Gawat Darurat 1. Bila mungkin, minta orang lain untuk memanggil dokter/ambulan sementara anda melakukan pertolongan pertama. 2. Periksa pernafasan. Bila berhenti, segera mulai dengan pernafasan dari (resusitas) mulut ke mulut. Prioritas utama adalah mengusahakan penderita bernafas kembali kecuali pada penderita kasus tersedak. 3. Periksa adanya perdarahan hebat. Bila ada, hentikan perdarahan 4. Bila menduga adanya cedera tulang, belakang, jangan merubah posisi penderita. (Cidera tulang belakang bisa terjadi bila penderita jatuh dari tempat tinggi, kecelakaan lalu lintas yang serius, atau mengalami rasa kebal/hilang rasa/tidak bisa menggerakkan anggota tubuh atas ataupun bawah). 5. Bila penderita pingsan tetapi pernafasan normal tanpa cedera tulang belakang, baringkan dalam posisi istirahat. 6. Jangan meninggalkan penderita sebelum petugas medis datang. Bila anda sendirian dan tidak mungkin memanggil petugas medis, tetapi tidak ada cedera tulang belakang dan keadaan penderita cukup stabil, bawa penderita ke Unit gawat darurat di rumah sakit/Puskesmas terdekat.

DIARE CAIR AKUT (DCA)

A. PENGERTIAN Diare adalah kondisi dimana terjadi frekuensi defekasi yang abnormal (> 3 kali/hari), serta perubahan isi/volume (> 200 gr/hari) dan konsistensi feces cair (Brunner & Suddarth, 2002). Diare cair akut (GEA) adalah Diare yang terjadi secara akut dan berlangsung kurang dari 14 hari (bahkan kebanyakan kurang dari 7 hari), dengan pengeluaran tinja yang lunak / cair yang sering dan tanpa darah. Mungkin disertai muntah dan panas. Diare cair akut menyebabkan dehidrasi, dan bila masukan makanan kurang dapat mengakibatkan kurang gizi.

Kematian yang terjadi disebabkan karena dehidrasi.

B. ETIOLOGI 1. 2. 3. Virus : Rotavirus, penyebab terbanyak pada diare akut. Bakteri : E coli, salmonella, shigella. Parasit (Entamuba tristositica, crypto sporadium)

Penyebab terpenting pada anak-anak : Shigella, Campylobacter jejuni dan Cryptosporidium, Vibrio cholera, Salmonella, E. coli, rotavirus

C. KLASIFIKASI DIARE 1. Diare akut Banyak menyerang pada anak dengan umur < 5 tahun, dapat terjadi dehidrasi. Gejala dehidrasi akut : Diare lebih dari 3 kali dengan konsistensi tinja cair, bersifat mendadak dan berlangsung dalam waktu kurang dari 1 minggu dan banyak di sebabkan oleh agen infeksius yang mencakup virus, bakteri dan potongan parasit. 2. Diare kronik Kondisi dimana terjadi peningkatan frekuensi BAB dan peningkatan konsistensi cair dengan durasi 14 hari atau lebih. (Wholey & Wongs, 1994)

D. PATOFISIOLOGI Penyebab gastroenteritis akut adalah masuknya virus (Rotravirus, Adenovirus enteris, Virus Norwalk), Bakteri atau toksin (Compylobacter, Salmonella, Escherihia Coli, Yersinia dan lainnya), parasit (Biardia Lambia, Cryptosporidium). Beberapa mikroorganisme patogen ini menyebabkan infeksi pada sel-sel, memproduksi enterotoksin atau Cytotoksin dimana merusak sel-sel, atau melekat pada dinding usus pada Gastroenteritis akut. Penularan Gastroenteritis bisa melalui fekal-oral dari satu penderita ke yang lainnya. Beberapa kasus ditemui penyebaran patogen dikarenakan makanan dan minuman yang terkontaminasi. Mekanisme dasar penyebab timbulnya diare adalah gangguan osmotic (makanan yang

tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotic dalam rongga usus meningkat sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit kedalam rongga usus,isi rongga usus berlebihan sehingga timbul diare ). Selain itu menimbulkan gangguan sekresi akibat toksin di dinding usus, sehingga sekresi air dan elektrolit meningkat kemudian terjadi diare. Gangguan multilitas usus yang mengakibatkan hiperperistaltik dan hipoperistaltik. Akibat dari diare itu sendiri adalah kehilangan air dan elektrolit (Dehidrasi) yang mengakibatkan gangguan asam basa (Asidosis Metabolik dan Hipokalemia), gangguan gizi (intake kurang, output berlebih), hipoglikemia dan gangguan sirkulasi darah.

E. TANDA DAN GEJALA 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Sering buang air besar, tinja cair atau encer. Ada tanda dehidrasi: turgor jelek, ubun-ubun dan mata cekung, membran mukosa kering. Kram abdominal. Demam Mual. Anorexia. Lemah, Pucat. Nadi dan pernafasan cepat.

10. Urin sedikit atau tidak sama sekali. 11. Pada diare yang dehidrasi berat disertai shock.

F. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK Pemeriksaan diagnostik diare dapat ditegakkan melalui ananmnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. 1. Beberapa petunjuk anamnesis yang mungkin dapat membantu diagnosis: a. Bentuk feses (waterry diare atau disentri diare)

b. Makanan dan minuman 6-24 jam terakhir yang dimakan atau diminum oleh penderita c. Adakah orang lain sekitarnya menderita hal serupa, yang mungkin oleh karena keracunan makanan atau pencemaran sumber air d. Dimana tempat tinggal penderita e. Siapa, misalnya: wisatawan asing patut dicurigai kemungkinan infeksi cholera, E.coli, amebiasis, dan giardiasis; pola kehidupan seksual

2. Pemeriksaan fisik antara lain: a. Suhu tubuh b. Berat badan c. Status gizi d. Tanpa dehidrasi e. Kemungkinan komplikasi lain 3. Pemeriksaan penunjang yang perlu dikerjakan antara lain: a. Pemeriksaan tinja makroskopis dan mikroskopis. b. Biakan kuman untuk mencari kuman penyebab. c. Tes resistensi terhadap berbagai antibiotik. d. pH dan kadar gula jika diduga ada sugar intolerance. e. Pemeriksaan darah darah lengkap f. Darah perifer lengkap, analisa gas darah dan elektrolit (terutama Na, Ca, K dan P serum pada diare yang disertai kejang), anemia (hipokronik, kadang-kadang nikrosiotik) dan dapat terjadi karena mal nutrisi/malabsrobsi tekana fungsi sumsum tulang (proses

imflemasi kronis), peningkatan sel-sel darah putih. g. Pemeriksaan kadar ureum dan kreatinin darah untuk mengetahui faal ginjal. h. Pemeriksaan elektrolit tubuh terutama kadar natrium, kalium, kalsium, bikarbonat terutama pada penderita diare yang mengalami muntah-muntah, pernapaan cepat dan dalam, kelemahan otot-otot, ilius paralitik. i. Duodenal intubation untuk mengetahui kuman penyebab secara kuantitatif dan kualitatif terutama pada diare kronik

G.

KLASIFIKASI TINGKAT DEHIDRASI ANAK DENGAN DIARE


A Yang dinilai Tanpa dehidrasi 1. Riwayat Diare Muntah Rasa haus < 4 x / hari cair Sedikit / tidak Normal 4 10 x / hr cair Sering sekali 10 x / hr cair Sangat sering Dehidrasi tidak berat Dehidrasi berat B C

Harus sesuai jika di beri Tidak dapat minum minum rakus Sedikit gelap

2.

Air kemih Periksa Keadaan umum

Normal

Tidak BAK dalam 6 jam

Sehat, aktif

Tampak sakit, mengantuk, lesu, rewel, gelisah Tidak ada

Sangat mengantuk, tidak sadar, lemah

Air mata Mata Ada Normal

Tidak ada Cekung Kering dan sangat cekung Sangat kering Mulut / lidah Nafas Basah Cepat & dalam Agak cepat Kering

Normal

3.

Raba Kulit di cubit Denyut nadi Normal Ubun-ubun Normal Cekung Agak cepat Sangat cepat lemah, tidak teraba Sangat cekung Kembali normal Kembali lambat Kembalinya sangat lambat

4 . Kehilangan Berat badan < 40 gr / kg BB 40 100 gr / kgBB > 100 gr / kgBB

H. KOMPLIKASI 1. 2. 3. 4. 5. Dehidrasi Acidosis metabolik Hipokalemia Gangguan sirkulasi syok Masalah Gizi : malobsorbsi, kehilangan zat gizi secara langsung.

I.

PENGOBATAN Prinsip pengobatan diare ialah menggantikan cairan yang hilang melalui tinja dengan atau tanpa muntah, dengan cairan yang mengandung elektrolit dan glukosa atau karbohidrat lain (gula, air tajin, tepung beras dan sebagainya). Dalam garis besarnya pengobatan diare dibagi dalam:

a. Pengobatan kausal Pada penderita diare antibiotik hanya boleh diberikan jika: - Ditemukan bakteri patogen pada pemeriksaan mikroskopik dan/atau biakan. - Pada pemeriksaan makroskopik /mikroskopik ditemukan darah pada tinja. - Secara klinis terdapat tanda-tanda yang menyokong adanya infeksi enteral. - Di daerah endemik kolera. - Pada neonatus jika diduga terjadi infeksi nasokomial. b. Pengobatan simptomatik - Obat-obat anti diare. - Adsorbent. - Antiemetik. - Antipiretik. c. Pengobatan cairan Ada 2 jenis cairan, yaitu: 1) Cairan rehidrasi oral (CRO) Ada beberapa macam cairan rehidrasi oral: Cairan rehidrasi oral dengan formula lengkap mengandung NaCl, KCl, NaHCO3 dan glukosa penggantinya, yang dikenal dengan nama oralit. Cairan rehidrasi oral yang tidak mengandung keempat komponen di atas, misalnya larutan gula-garam (LGG), larutan tepung beras-garam, air tajin, air kelapa, dan lain-lain caiaran yang tersedia di rumah, disebut CRO tidak lengkap. 2) Cairan rehidrasi parenteral (CRP)

Sebagai hasil rekomendasi Seminar Rehidrasi Nasional ke I s/d IV dan pertemuan ilmiah penelitian diare, Litbangkes (1982) digunakan cairan Ringer Laktat sebagai cairan rehidrasi parenteral tunggal untuk digunakan di Indonesia, dan cairan inilah yang sekarang terdapat di puskesmas-puskesmas dan di rumah-rumah sakit di Indonesia. Pada diare dengna penyakit penyerta (KKP< jantung, ginjal) cairan yang dianjurkan adalah Half Strength Darrow Glukose yaitu cairan Hartmann setengah dosis di dalam 2,5 % glukosa atau cairan Darrow setengah dosis di dalam glukosa 2,5%, karena keduanya mengandung natrium, kalium, klorida, laktat (basa), dan glukosa. Kebutuhan cairan dapat dihitung sebagai berikut: 24 jam pertama: Dehidrasi ringan; 180 ml/kg (sekitar 3 fl. oz per lb) per hari. Dehidrasi sedang; 220 ml per kg (sekitar 4 fl. oz per lb) per hari Dehidrasi berat; 260 ml per kg (sekitar 4 fl. oz per lb) per hari Hari-hari berikutnya: Kebutuhan normal sehari-hari adalah 140 ml per kg (sekitar 2,5 fl. oz per lb), ditambah dengan penggantian pengeluaran cairan, yang dihitung secara kasar lewat buang air besar atau lewat muntahnya. Semua cairan yang diberikan dalam berbagai cara diatas harus dicatat dan dijumlahkan sertiap hari. d. Pengobatan diuretik 1. Untuk anak kurang dari 1 tahun dengan BB kurang dari 7 kg, jenis makanannya berupa: Susu (ASI/ susu formula yang mengandung laktosa rendah dan asam lemak tak jenuh misalnya; LLM, almiron). Makanan setengah padat (bubur susu) atau makanan padat (nasi tim) bila anak tidak mau minum susu karena di rumah sudah biasa diberi makanan padat Susu khusus yaitu susu yang tidak mengandung laktosa atau susu dengan asam lemak berantai sedang/tidak jenuh, sesuai dengan kelainan yang ditemukan.

2. Untuk anak diatas 1 tahun dengan BB lebih dari 7 kg, jenis makanannya berupa makanan padat atau makanan cair/susu sesuai dengan kebiasaan makan di rumah.

J. PENATALAKSANAAN 1. Tanpa Dehidrasi Penderita tanpa dehidrasi Cairan rumah tangga, ASI diberikan semuanya, oralit diberikan sesuai usia, setiap kali buang air besar atau muntah dengan dosis. : Kurang dari 1 th 1 5 th 75 th 2. 50 100 cc 100 200 cc 150 300 cc

Dehidrasi tidak berat (ringan sedang) Rehidrasi dengan oralit 75cc / kgBB dalam 4 jam pertama. Dilanjutkan pemberian kehilangan cairan yang sedang berlangsung sesuai umur seperti di atas setiap kali buang air besar.

3.

Dehidrasi berat Rehidrasi parenteral dengan cairan Ringer Laktat 100 cc /kgBB Cara pemberian : Kurang dari 1 th : 30cc / kgBB dalam 1 jam pertama, dilanjutkan 70cc/kgBB dalam 5 jam berikutnya. Lebih dari 1 th : 30cc / kgBB dalam jam pertama, dilanjutkan 70 cc/kgBB dalam 2 jam berikutnya.

Minum diberikan jika pasien sudah mau minum 5cc / kgBB selama proses rehidrasi. Kalau shock Cairan RL 20cc / kgBB diberikan 2x, selanjutnya koloid 10cc / kgBB, bila tidak teratasi baru diberikan inotropik. Nutrisi Anak tidak boleh di puasakan. Makanan diberikan sedikit-sedikit tetapi sering (lebih kurang 6x sehari) rendah serat, buah-buahan diberikan terutama pisang. Antibiotik Antibiotik sesuai hasil pemeriksaan penunjang, sebagai pilihan adalah kotrimoxazol, amoxillin dan atau sesuai hasil uji sensitivitas. Anti parasit : metronidazol.

K.

Diagnosa Keperawatan 1. Defisit volume cairan b/d kehilangan cairan aktif 2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d penurunan intake nutrisi karena factor biologis 3. Risiko kerusakan integritas kulit dengan faktor risiko frekwensi BAB sering 4. Kurang pengetahuan orang tua tentang proses penyakit b/d keterbatasan informasi 5. Hipertermia b.d penyakit/ trauma, dehidrasi 6. PK. Hipernatremia 7. PK. Hiponatremia

8. PK. Hiperkalemia 9. PK. Hipokalemia 10. PK Asidosis Metabolik

RENPRA DCA

No

Diagnosa Defisit volume cairan b/d kehilangan cairan aktif

Tujuan Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama x24 jam, terjadi keseimbangan cairan dengan criteria hasil: Mempertahankan urine output sesuai dengan usia dan BB, BJ urine normal, HT normal Manajemen Cairan

Intervensi

Timbang popok/pembalut jika diperlukan Pertahankan catatan intake dan output yang akurat (ukur balance cairan) Monitor status hidrasi (kelembaban membran mukosa, nadi adekuat, tekanan darah ortostatik), jika diperlukan Ukur vital sign Kolaborasikan pemberian cairan intravena Tawarkan snack ( jus buah, buah segar) Kolaborasi dengan tim kesehatan lain jika ada tanda kelebihan cairan

Tekanan darah, nadi, suhu tubuh dalam batas normal Tidak ada tandatanda dehidrasi (Elastisitas turgor kulit baik, membran mukosa lembab, tidak ada rasa haus yang berlebihan)

Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d penurunan intake nutrisi karena factor

Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama ..x24 jam intake nutrisi pasien meningkat dengan kriteria hasil: Adanya peningkatan

Manajemen Nutrisi Kaji adanya alergi makanan Berikan penjelasan kepada pentingnya intake nutrisi keluarga dan pasien

biologis

intake nutrisi per oral Mampu mengidentifikasi kebutuhan nutrisi Tidak ada tanda tanda malnutrisi Tidak terjadi penurunan berat badan yang berarti (20%)

Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan nutrisi yang dibutuhkan pasien. Anjurkan pasien untuk meningkatkan intake Fe Monitor jumlah nutrisi dan kandungan kalori Berikan makanan porsi kecil tapi sering

Monitor Nutrisi Monitor adanya penurunan berat badan, jika perlu Timbang BB / hari Monitor interaksi anak atau orangtua selama makan Kondisikan lingkungan yang nyaman selama makan Atur Jadwal pengobatan dan tindakan diluar jam makan Monitor turgor kulit Monitor kekeringan, rambut kusam, dan mudah patah Monitor mual dan muntah Periksa kadar albumin, total protein, Hb, dan kadar Ht Kaji makanan kesukaan Monitor pertumbuhan dan perkembangan Monitor pucat, kemerahan, dan kekeringan jaringan konjungtiva

Risiko kerusakan integritas kulit dengan faktor risiko frekwensi BAB sering

Setelah dilakukan Asuhan keperawatan selama ....x24jam, tidak terjadi kerusakan integritas kulit dengan kriteria hasil: Integritas kulit baik/dipertahankan (sensasi, elastisitas, temperatur, hidrasi, pigmentasi)

Manajemen Tekanan Anjurkan pasien untuk menggunakan pakaian yang longgar dan berbahan yang menyerap air Hindari kerutan pada tempat tidur Jaga kebersihan kulit agar tetap bersih dan kering Mobilisasi pasien (ubah posisi pasien) setiap dua jam sekali Monitor kulit akan adanya kemerahan Oleskan lotion atau minyak/baby oil pada daerah yang tertekan Monitor aktivitas dan mobilisasi pasien Monitor status nutrisi pasien Libatkan keluarga dalam perawatan anak

Kulit utuh Perfusi jaringan baik Mampu mempertahankan kelembaban kulit dan perawatan alami

Kurang pengetahuan orang tua tentang proses penyakit b/d keterbatasan informasi

Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama ...x24 jam, pengetahuan tentang proses penyakit bertambah dengan Kriteria Hasil : Ortu/ keluarga menyatakan pemahaman tentang penyakit, kondisi, prognosis dan program pengobatan Ortu/ keluarga mampu melaksanakan prosedur yang dijelaskan secara benar Ortu/ keluarga mampu menjelaskan kembali apa yang dijelaskan perawat/tim kesehatan lainnya.

Penjelasan proses penyakit Berikan penilaian tentang tingkat pengetahuan ortu/ keluarga tentang proses penyakit yang spesifik Jelaskan patofisiologi dari penyakit dan bagaimana hal ini berhubungan dengan anatomi dan fisiologi, dengan cara yang tepat pada keluarga. Gambarkan tanda dan gejala yang biasa muncul pada penyakit, dengan cara yang tepat pada keluarga Gambarkan proses penyakit, dengan cara yang tepat pada keluarga Identifikasi kemungkinan penyebab, dengan cara yang tepat pada kelurga Sediakan informasi pada keluarga tentang kondisi, dengan cara yang tepat Hindari harapan yang kosong Sediakan bagi keluarga informasi tentang kemajuan pasien dengan cara yang tepat Diskusikan perubahan gaya hidup yang mungkin diperlukan untuk mencegah komplikasi di masa yang akan datang dan atau proses pengontrolan penyakit Diskusikan pilihan terapi atau penanganan

Hipertermia b.d penyakit/ trauma, dehidrasi

Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama x24 jam, pengaturan suhu normal, dengan Kriteria Hasil : Suhu tubuh dalam rentang normal Nadi dan RR dalam rentang normal Tidak ada perubahan warna kulit dan tidak ada pusing

Penatalaksanaan Demam Ukur suhu sesering mungkin / tiap 4 jam Monitor IWL Monitor warna dan suhu kulit Ukur tekanan darah, nadi dan RR Monitor penurunan tingkat kesadaran

Periksa WBC, Hb, dan Hct Monitor intake dan output / balance cairan Kolaborasi untuk pemberian anti piretik Lakukan tapid sponge Kolaborasi pemberian cairan intravena Kompres pasien pada lipat paha dan aksila dengan air hangat Tingkatkan sirkulasi udara

Pengaturan Suhu Ukur suhu minimal tiap 2 jam Rencanakan monitoring suhu secara kontinyu Ukur TD, nadi, dan RR Monitor warna dan suhu kulit Monitor tanda-tanda hipertermi dan hipotermi Tingkatkan intake cairan dan nutrisi Selimuti pasien untuk mencegah hilangnya kehangatan tubuh Ajarkan pada pasien cara mencegah keletihan akibat panas Diskusikan tentang pentingnya pengaturan suhu dan kemungkinan efek negatif dari kedinginan Beritahukan tentang indikasi terjadinya keletihan dan penanganan emergency yang diperlukan Ajarkan indikasi dari hipotermi dan penanganan yang diperlukan

6 PK. Hipernatremia Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama x24 jam, perawat dapat menangani dan

Pantau tanda dan gejala hipernatremia ( Haus, Penurunan haluaran urine, Agitasi, Kejang, Edema, Takikardi ) Berikan pengganti cairan sesuai nilai osmolaritas serum Pantau kejang

PK. Hiponatremia

meminimalkan gejala Hipernatremia Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama x24 jam, perawat dapat menangani dan meminimalkan gejala Hiponatremia

Pantau berat badan Pantau masukan dan pengeluaran (balanc cairan) Pantau tanda dan gejala hiponatremia ( letargi, sakit kepala, lemah, kejang, mual,muantah, diare ) Berikan cairan NaCL IV dan jangan teruskan pengobatan dengan diuretik, sesuai program.

PK. Hiperkalemia

Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama ...x24 jam, perawat dapat menangani dan meminimalkan gejala Hiperkalemia

Pantau tanda dan gejala hiperkalemia Batasi makanan dan minuman yang mengandung kadar kalium yang tinggi Lakukan latihan rentang gerak pada ekstremitas untuk mengurangi kram Kolaborasi pemberian obat obatan untuk menurunkan nilai kalium, seperti kalsium IV, Natrium bikarbonat, dan Resin penukar kation atau Kayexalate Pantau tanda dan gejala hipokalemia Anjurkan pasien untuk meningkatkan makan yang mengandung kalium Pantau keadaan pasien Obsevasi sisi IV terhadap infiltrasi Jika pengobatan kalium diberikan secara parenteral harus diencerkan pada dewasa tidak boleh lebih dari 20 mEq/jam.

PK. Hipokalemia

Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama ..x24 jam, perawat dapat menangani dan meminimalkan gejala hipokalemia

PK Asidosis Metabolik

Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama x24 jam, perawat dapat menangani/ mengurangi gejala asidosis metabolik

Pantau tanda dan gejala asidosis metabolik (Pernapasan cepat dan lambat, Sakit kepala, Mual dan muntah, Bikarbonat plasma dan pH arteri darah rendah, Perubahan tingkah laku dan mengantuk, Kalsium serum meningkat, PCO2 kurang dari 35 40 mmHg, Penurunan HCO3, Pernapasan cepat dan lambat Mulai dengan mengganti cairan secara IV sesuai program tergantung penyebab dasarnya Kaji tanda dan gejala hipokalsemia, hipokalemia dan

alkalosis setelah asidosisnya terkoreksi Lakukan koreksi pada pada setiap gangguan ketidakseimbangan elektrolit sesuai program dokter. Rujuk ke PK : Ketidakseimbangan elektrolit untuk intervensi spesifik Pantau nilai gas darah arteri dan pH urine

PENGERTIAN Diare adalah buang air besar dengan jumlah feces yang lebih banyak dari biasanya (normal 100-200 ml/jam feces). Dengan feces berbentuk cairan atau setengah cair (setengah padat) dapat pula disertai frekuensi BAB yang meningkat. (Kapita Selekta Kedokteran Jilid 1 Edisi Arief Mansjoer, 2000) Diare akut adalah diare yang awalnya mendadak dan berlangsung singkat, dalam beberapa jam sampai 7 atau 14 hari. (Kapita Selekta Kedokteran Jilid 1 Edisi Arief Mansjoer, 2000) Diare adalah BAB encer atau cair lebih dari tiga kali sehari (WHO/1980). II. ETIOLOGI

Infeksi merupakan penyebab utama diare akut, baik oleh bakteri, parasit maupun virus. Penyebab lain adalah faksin dan obat, nutrisi enteral diikuti puasa yang berlangsung lama, kemoterapi, impaksi fekal (overflow diarrhea) atau berbagai kodisi lain. Infeksi bakteri : vibrio, escherichia coli, salmonella, shigella, campylobacter, yershinia, dan lain-lain. Infeksi virus : entenevirus, (Virus ECHO, coxsackaie, poliomelitis), adenovirus, rotovirus, dan lain-lain. Infeksi parasit : cacing (ascori, trichoris, oxyuris, histolitika, gardia lamblia, tricomona hominis), jamur (candida albicans) Infeksi diluar alat perncernaan makanan seperti : Otitis media akut (OMA), tansilitis, aonsilotaringitis, bronco pneumonia, encetalitis III. MANIFESTASI KLINIS

Pasien dengan diare akut akibat infeksi sering mengalami naurea, muntah, nyeri perut sampai kejang perut, deman dan diare. Terjadinya renjatan hipovolemik harus dihindari. Kekurangan

cairan menyebabkan pasien akan merasa haus, lidah kering, tulang pipi menonjol, turgor kulit menurun, serta suara menjadi serak. Gangguan Biokimiawi seperti asidosis metabolik akan menyebabkan frekuensi pernafasan lebih cepat dan dalam (pernafasan kusmaul). Bila terjadi renjatan hipovolemik barat maka denyut nadi cepat (lebih dari 120x / menit). Tekanan darah menurun sampai tak terukur, pasien gelisah, muka pucat, ujung-ujung ekstrimitas dingin, kadang sianosis. Kekurangan kalium menyebabkan aritmia jantung perfusi ginjal menurun sehingga timbul anuria, sehingga bila kekurangan cairan tak segera diatasi dapat timbul penyakit berupa nekrosis tubulas akut. Secara klinis diare karena infeksi akut terbagi menjadi 2 golongan : 1. Koleriform, dengan diare yang terutama terdiri atas cairan saja. 2. Disentriform, pada diare didapatkan lendir kental dan kadang-kadang darah.

Akibat diare

Dehidrasi. Asidosis metabolik. Gangguan gizi akibat muntah dan berak-berak. Hipoglikemi. Gangguan sirkulasi darah akibat yang banyak keluar sehingga terjadi syock.
Derajat dehidrasi

1. Tidak ada dehidrasi bila terjadi penurunan BB 2,5 %. 2. Dehidrasi ringan, bila terjadi penurunan BB 2,5 5 %. 3. Dehidrasi sedang, bila terjadi penurunan BB 5 10 %. 4. Dehidrasi berat, bila terjadi penurunan BB 10 %. IV. 1. PEMERIKSAAN PENUNJANG Pemeriksaan darah tepi lengkap.

2. Pemeriksaan analisis gas darah, elektrolit, ureum, kreatin dan berat jenis, plasma dan urine. 3. 4. 5. V. Pemeriksaan urin lengkap. Pemeriksaan feces lengkap dan biakan feces dari colok dubur. Pemeriksaan biakan empedu bila demam tinggi dan dicurigai infeksi sistemik. PENATALAKSANAN

Pada anak-anak, penatalaksanaan diare akut akibat infeksi terdiri: 1. Rehidrasi sebagai prioritas utama pengobatan.

4 hal penting yang perlu diperhatikan a. Jenis cairan.

Pada diare akut yang ringan dapat diberikan oralit. Diberikan cairan ringel laktat bila tidak terjadi dapat diberikan cairan NaCl Isotonik ditambah satu ampul Na bicarbonat 7,5 % 50 m. b. Jumlah cairan.

Jumlah cairan yang diberikan sesuai dengan jumlah cairan yang dikeluarkan. c. Jalan masuk atau cara pemberian cairan.

Rute pemberian cairan pada orang dewasa dapat dipilih oral / IV. d. Jadwal pemberian cairan.

Dehidrasi dengan perhitungan kebutuhan cairan berdasarkan metode Daldiyono diberikan pada 2 jam pertama. Selanjutnya kebutuhan cairan Rehidrasi diharapkan terpenuhi lengkap pada akhir jam ke tiga. 2. Identifikasi penyebab diare akut karna infeksi.

Secara klinis, tentukan jenis diare koleriform atau disentriform. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan penunjang yang terarah. 3. Terapi simtomatik.

Obat anti diare bersifat simtomatik dan diberikan sangat hati-hati atas pertimbangan yang rasional. Antimotalitas dan sekresi usus seperti Loperamid, sebaiknya jangan dipakai pada infeksi salmonella, shigela dan koletis pseudomembran, karena akan memperburuk diare yang diakibatkan bakteri entroinvasif akibat perpanjangan waktu kontak antara bakteri dengan epithel usus. Pemberian antiemetik pada anak dan remaja, seperti metoklopopomid dapat menimbulkan kejang akibat rangsangan ekstrapiramidal. 4. Terapi Definitif

Pemberian edurasi yang jelas sangat penting sebagai langkah pencegahan. Higiene perorangan, sanitasi lingkungan dan imunisasi melalui vaksinasi sangat berarti, selain terapi farmakologi. (Kapita Selekta Kedokteran 1 Edisi 2000) VI. KOMPLIKASI

Komplikasi diare mencakup potensial terhadap disritmia jantung akibat hilangnya cairan dan elektrolit secara bermakna (khususnya kehilangan kalium). Pengeluaran urin kurang dari 30 ml / jam selam 2 3 hari berturut-turut. Kelemahan otot dan parastesia. Hipotensi dan

anoreksia serta mengantuk karena kadar kalium darah di bawah 3,0 mEq / liter (SI : 3 mmol / L) harus dilaporkan, penurunan kadar kalium menyebabkan disritmia jantung (talukardio atrium dan ventrikel, febrilasi ventrikel dan kontraksi ventrikel prematur) yang dapat menimbulkan kematian.