Anda di halaman 1dari 10

BAB 3.

TEKNIK SKALA

Tujuan teknik skala adalah untuk mengetahui ciri-ciri atau karakteristik sesuatu hal berdasarkan suatu ukuran tertentu, sehingga kita ciri-ciri dapat atau

membedakan,

menggolong-golongkan,

bahkan

mengurutkan

karakteristik tersebut.

A. SIFAT SKALA Mengingat variable adalah konsep yang mempunyai variasi nilai, Aturan pertama yang perlu diketahui oleh seorang peneliti agar dapat mengukur atau memberikan nilai yang tepat untuk konsep yang diamatinya adalah mengenai tingkat pengukuran maka nilai variable dapat dibedakan menjadi empat tingkatan skala yaitu Nominal, Ordinal, Interval, dan Rasio.

1. Skala Nominal Skala nominal adalah tingkat pengukuran yang paling sederhana. Pada skala ini tidak ada asumsi tentang jarak maupun urutan antara kategorikategori dalam ukuran itu. Skala ini hanya sekedar membedakan suatu kategori dengan kategori lainnya dari suatu variable. Dasar penggolongan hanyalah kategori yang tidak tumpang tindih (mutually exclusive) dan tuntas (exchaustive). Angka-angka yang diberikan kepada obyek merupakan label dan tidak diasumsikan adanya tingkatan antara satu kategori dan kategori lainnya dari satu variable. Dengan tingkat ukuran nominal ini, peneliti dapat menggolongkan respondennya ke dalam dua kategori atau lebih. Variabel

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Ir. Agung Wahyudi B, MM TATA TULIS KARYA ILMIAH

kualitatif yang ditransformasi menjadi data kuantitatif dalam bentuk pengukuran nominal disebut juga variabel dummy.

2. Skala Ordinal Skala Ordinal adalah skala berikutnya dengan tingkatan lebih tinggi dibandingkan dengan skala nominal. Skala ini bertujuan untuk membedakan antara kategori-kategori dalam satu variable dengan asumsi bahwa ada urutan atau tingkatan skala. Angka-angka ordinal lebih menunjukkan urutan peringkat dari yang rendah menuju peringkat yang lebih tinggi atau sebaliknya. Angkaangka tersebut tidak menunjukkan kuantitas absolute, tidak pula memberikan petunjuk bahwa interval-interval antar setiap dua angka itu sama. Untuk variabel ini biasanya dipakai ukuran ordinal; atas, menengah dan bawah. Ukuran ini tidak menunjukkan angka rata rata kelas ekonomi, dan tidak memberikan informasi berapa interval antara kelas ekonomi rendah dan kelas ekonomi atas. Tingkat pengukuran ordinal banyak digunakan dalam penelitian sosial dan ekonomi terutama untuk mengukur kepentingan, sikap atau persepsi. Melalui ukuran ini peneliti dapat membagi respondennya ke dalam urutan ranking atas dasar sikapnya pada obyek atau tindakan tertentu. Misalnya, seorang mahasiswa ingin mengukur kepuasan nasabah bank di Bank Syariah Mandiri (BSM). Maka

dengan menggunakan skala ordinal ia dapat membagi urutan-urutannya sebagai berikut : Sangat tidak puas (STP) dengan bobot 1, Tidak Puas (TP) dengan bobot 2, Cukup (C) dengan bobot 3, Puas (P) dengan bobot 4, Sangat Puas (SP) dengan bobot 5. Semua penilaian yang positif atau baik misalnya Puas,

Setuju, Baik, Tinggi dan seterusnya dinilai paling tinggi yaitu misalnya 4, sedangkan penilaian yang kurang baik atau negative dimulai dari nilai rendah

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Ir. Agung Wahyudi B, MM TATA TULIS KARYA ILMIAH

misalnya nilai 1.

Perlu diketahui bahwa pada skala ordinal, kita tidak dapat

secara pasti mengatakan bahwa nilai Puas (4) adalah dua kali dari nilai Tidak Puas (2) .

3. Skala Interval Skala Interval adalah skala suatu variable yang selain dibedakan, dan mempunyai tingkatan, juga diasumsikan mempunyai jarak yang pasti antara satu kategori dan kategori yang lain dalam satu variable. Skala dan indeks sikap biasanya menghasilkan ukuran yang interval. Karena itu ukuran ini merupakan salah satu ukuran yang paling sering dipakai dalam penelitian sosial dan ekonomi. Analisis statistik parametrik dan ekonometrika dapat diterapkan pada data jenis ini. Contohnya adalah variable umur. adalah tidak adanya angka nol. Salah satu ciri khas dari nilai

4. Skala Rasio Skala Rasio adalah skala suatu variable yang selain dibedakan, mempunyai tingkatan serta jarak antara suatu nilai dengan nilai yang lainnya, juga diamsumsikan bahwa setiap nilai variable diukur dari suatu keadaan atau titik yang sama (mempunyai titik nol mutlak). Ukuran rasio diperoleh apabila selain informasi tentang urutan dan interval antar responden. Angka-angka pada skala menunjukkan besaran sesungguhnya dari sifatyang kita ukur. Karena ada titik nol, maka perbandingan rasio dapat ditentukan. Dengan adanya nilai nol absolute ini maka nilai pada skala pengukur adalah jumlah yang senyatanya dari yang diukur, dan karena itu semua operasi matematik dapat diterapkan pada ukuran rasio.

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Ir. Agung Wahyudi B, MM TATA TULIS KARYA ILMIAH

Misalnya, seandainya ada suatu skala rasio untuk prestasi, akan ada kemungkinan untuk mengatakan bahwa seorang mahasiswa yang mendapat skor 8 pada skala itu mempunyai prestasi yang dua kali lebih besar daripada mahasiswa yang skornya 4.

Tabel 7.1 Perbandingan Sifat Skala SIFAT Membedakan (=,=) Urutan (<,>) Jarak (+,-) Nol mutlak (x,:) NOMINAL Ya ORDINAL Ya Ya INTERVAL Ya Ya Ya RASIO Ya Ya Ya Ya

B. METODE SKALA Metode penggunaan skala dipergunakan apabila seluruh skala-skala tersebut di atas ingin digabungkan untuk mendapatkan variable baru. Untuk itu dipergunakan teknik skala yaitu Skala Likert dan Skala Guttman.

1. Skala Likert Dalam skala likert, kemungkinan jawaban tidak hanya sekedar setuju dan tidak setuju saja, melainkan dibuat dengan lebih banyak kemungkinan jawaban. Skala ini merupakan bentuk skala yang paling sering digunakan dalam penelitian sosial dan ekonomi. Apabila menggunakan skala jenis ini, maka variabel yang diukur dijabarkan menjadi dimensi, selanjutnya dimensi dijabarkan menjadi sub variabel, kemudian sub variabel dijabarkan menjadi indikatorindikator. Akhirnya indikator-indikator dapat dijadikan titik tolak untuk membuat

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Ir. Agung Wahyudi B, MM TATA TULIS KARYA ILMIAH

item instrument berupa pertanyaan yang akan dijawab oleh responden. misalnya : Sangat tidak setuju 1 Tidak setuju 2 Tidak ada Pendapat 3 4 Setuju Sangat Setuju 5

Cara mengerjakan adalah : 1. Mengumpulkan sejumlah pernyataan-pernyataan yang berkaitan dengan masalah yang akan diteliti. Responden diharuskan memilih sala satu dari sejumlah kategori jawaban yang tersedia. Kemudian masing-masing jawaban diberikan skor tertentu (misalnya, 1,2,3,4,5). 2. Membuat skor total untuk setiap orang dengan menjumlah skor untuk semua jawaban. 3. Menilai kekompakan antara-pernyataan. Caranya adalah

membandingkan jawaban antara dua responden yang mempunyai skor total yang sangat berbeda, tetapi memberikan jawaban yang sama untuk suatu pernyataan tertentu. Pernyataan yang bersangkutan dinilai tidak baik, dan pernyataan tersebut dikeluarkan (tidak dipergunakan untuk mengukur kondep yang diteliti). 4. Pernyataan yang kompak dijumlahkan untuk membentuk variable baru dengan mempergunakan teknik summated rating.

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Ir. Agung Wahyudi B, MM TATA TULIS KARYA ILMIAH

2. Skala Guttman Tujuan skala ini adalah untuk memperoleh ukuran gabungan yang bersifat unidimensional (hanya mengukur satu dimensi saja). Skala ini didasarkan pada kenyataan bahwa relevansi tiap-tiap indikator terhadap variabel adalah berbeda; satu indikator mungkin lebih dapat mengukur variabel tersebut dengan lebih tepat. Skala guttman sangat baik untuk menyakinkan peneliti tentang kesatuan dimensi dan sikap atau sifat yang diteliti, yang sering disebut dengan atribut universal. Skala Guttman mencoba mempertahankan keunggulan dimensi, artinya skala sebaiknya hanya mengukur satu dimensi saja dari pada variabel yang memiliki beberapa dimensi. prinsip lain adalah

pernyataan0pernyataan mempunyai bobot yang berbeda-beda dan apabila seorang responden menyetujui pernyataan yang lebih besar bobotnya, maka dia diharapkan akan menyetujui pernyataan-pernyataan yang bobotnya lebih rendah. Misalnya, penelitian mengenai pembuatan skala pemilikan benda-benda bergerak (seperti, radio, televisi, sepeda motor, mobil). Harga benda-benda tersebut bresifat kumulatif juga. Artinya mereka yang mampu memiliki mobil juga mampu memiliki sepeda motor. Mereka yang mampu memiliki sepeda motor. Mereka yang mampu memiliki sepeda motor dianggap mampu memiliki sepeda, begitu seterusnya. Untuk itu diajukan pertanyyan sebagai berikut : A. Apakah anda memiliki radio ? B. Apakah anda memiliki televise ? C. Apakah anda memiliki sepeda motor ? D. Apakah anda memiliki mobil ? Andaikan kepada 15 reponden diajukan pertanyaan seperti tersebut di atas dan didapat hasi sebagai berikut :

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Ir. Agung Wahyudi B, MM TATA TULIS KARYA ILMIAH

Jawaban YA diberi kode 1, jawaban TIDAK diberi kode : 0 RESPONDEN 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 JUMLAH PEYIMPANGAN (e) : JUMLAH PILIHAN JAWABAN (Pj) : JAWABAN PERTANYAAN B C 0 0 0 0 0 0 1 0 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1

A 0 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1

D 0 0 0 0 0 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0=3

12

11

8 = 40

Jumlah keseluruhan jawaban (n) = 15 x 4 = 60 Berdasarkan skala Guttman ini dihitung Koefisien Reprodusibilitas (Kr)4 dan Koefiesien Skalabilitas (Ks)5

Kr

=1-

Jumlah Penyimpangan Jumlah pernyataan Jumlah responden

= 1 e/n = 1 3/60 = 0,95

Ks

=1-

Jumlah Penyimpangan Jumlah penyimpangan yang diharapkan

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Ir. Agung Wahyudi B, MM TATA TULIS KARYA ILMIAH

= 1 e/k,

dimana k = c (c Pj) c : Kemungkinan jawaban benar, karena alternative jawaban adalah ya dan tidak, maka c = 0,5 e Jp n k Jadi : Ks = 1 6/0,5 (60 40) = 0,70 berdasarkan perhitungan Kr dan Ks, diperoleh Kr lebih besar dari 0,90, demikian pula Ks lebih besar dari 0,60. maka skala tersebut dapat dianggap layak untuk dipergunakan. : Jumlah penyimpangan : Jumlah pilihan jawaban : Jumlah keseluruhan jawaban : Jumlah penyimpangan yang diharapkan

3. Skala Bogardus Skala Bogardus merupakan contoh skala yang baik. Skala Bogardus tidak hany berguna untuk mengukur hubungan antar Ras, tetapi dapat diubah untuk mengukur sikap politik, hubungan orang tua dan anak, hubungan antar negara, hubungan antar organisasi disamping aplikasi lainnya.

4. Skala Thurstone Suatu skala bertujuan untuk mengurutkan responden berdasarkan suatu kriteria tertentu. Skala yang disusun menurut metode Thurstone disusun

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Ir. Agung Wahyudi B, MM TATA TULIS KARYA ILMIAH

sedemikian rupa sehingga interval antar-urutan dalam skala mendekati interval yang sama besarnya. Ringkasan tahap-tahap yang harus ditempuh untuk menyusun skala Thurstone adalah sebagai berikut: 1) Penelitian mengumpulkan sejumlah pernyataan yang relevan untuk variabel yang hendak diukur. Pertanyaan ini dapat bersifat positif ataupun negatif. 2) Suatu panel ahli diminta menilai relevansi pernyataan-pernyataan tadi terhadap variabel yang hendak diukur. Penyataan-pernyataan yang paling mendapatkan penilaian sangat berbeda dari panel disingkirkan dan pernyataan-pernyataan yang mendapat penilaian yang hampir sama diikutkan dalam skala. 3) Setelah nilai skala tiap pernyataan ditentukan, dipilih sejumlah pernyataan yang mempunyai nilai yang merata untuk skala yang ditentukan. 4) Untuk mencegah sistematik-bias, sebaiknya pernyataan-pernyataan disusun secara acak, tidak mengikuti urutan skala. 5) Skor responden pada skala ini adalah nilai rata-rata dari nilai pernyataanpernyataan yang dipilihnya.

5. Metode Perbedaan Semantik (Semantic Differensial) Skala perbedaan semantik berusaha mengukur arti obyek atau konsep bagi seorang responden. Responden diminta untuk menilai suatu objek atau konsep pada suatu skala yang mempunyai dua ajektif yang bertentangan. Skala bipolar (dua kutub) ini mengandung tiga dimensi/unsur dasar sikap seseorang, yakni evaluasi, potensi, dan aktivitas. Unsur evaluasi, yaitu hal-hal yang menguntungkan atau tidak menguntungkan suatu obyek. Unsur potensi yaitu

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Ir. Agung Wahyudi B, MM TATA TULIS KARYA ILMIAH

kekuatan atau atraksi fisik suatu obyek. Ketiga unsur aktivitas, yaitu tingkatan gerakan suatu obyek Menurut Osgood, ketiga unsur ini dapat mengukur tiap dimensi sikap, yakni: 1) Evaluasi responden tentang obyek atau konsep yang sedang diukur. 2) Persepsi responden tentang potensi obyek atau konsep tersebut 3) Persepsi responden tentang aktivitas obyek. Langkah-langkah untuk menyusun suatu skala perbedaan semantik adalah sebagai berikut : 1) Tentukan konsep atau obyek yang hendak diukur. 2) Pilihlah pasangan ajektif yang relevan untuk konsep atau obyek tersebut. Penentuan ajektif harus dilakukan secara empiris pada dua kelompok sampel yang berbeda. 3) Skor buat seorang responden adalah jumlah skor dari pasangan ajektif.

Sumber Rujukan :
Sugiyono. 2008. Metodologi Penelitian Bisnis. Penerbit Alfabeta. Bandung

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Ir. Agung Wahyudi B, MM TATA TULIS KARYA ILMIAH

10