Anda di halaman 1dari 8

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Ketimpangan Ekonomi Antar Wilayah

Oleh : LYRA BUMANTARA SYARIF1

Ketimpangan antar wilayah dapat disebabkan oleh banyak faktor. Para ilmuwan ekonomi memiliki pendapat yang berbeda mengenai faktor-faktor penyebab terjadinya ketimpangan antar wilayah. Namun demikian, perbedaan pendapat tersebut lebih disebabkan karena perbedaan fokus studi ketimpangan antar wilayah yang mereka lakukan. Berikut ini adalah beberapa pendapat dari sejumlah ilmuwan ekonomi mengenai faktor-faktor penyebab terjadinya ketimpangan antar wilayah: Williamson (dalam Adisasmita, 2013 : 76) mengemukakan 4 (empat) faktor yang mendasari disparitas antar wilayah dalam konteks pendapatan regional, yaitu : a). Sumber daya alam yang dimilki, b). Perpindahan tenaga kerja, c). Perpindahan modal, dan d). Kebijakan pemerintah. Sedangkan Subandi (2008 : 117-119) yang berfokus pada studi pembangunan ekonomi daerah berpendapat ketimpangan antar wilayah setidaknya disebabkan oleh 4 (empat) faktor, yaitu : a). Ketimpangan pembangunan sektor industri, b). Tingkat mobilitas faktor produksi yang rendah, c). Perbedaan demografis, d). Kurang lancarnya perdagangan antar daerah. Tambunan (2001 : 190-199) mengemukakan bahwa faktor-faktor utama yang menyebabkan terjadinya disparitas antar wilayah adalah : a). Konsentrasi kegiatan ekonomi wilayah, b). Alokasi investasi, c). Tingkat mobilitas faktor produksi yang rendah
1

Mahasiswa Prodi MPD S-1 pada Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Lembaga Administrasi Negara (STIA LAN) Jakarta

-1-

antar wilayah, d). Perbedaan sumber daya alam antar wilayah, e). Perbedaan demografis antar wilayah, dan f). Pola Perdagangan antar daerah. Hampir sama dengan pendapat Tambunan, Emilia dan Imelia (2006 : 46 - 49) juga mengemukakan dan mendeskripsikan faktor-faktor penyebab ketimpangan pembangunan ekonomi antar wilayah, yaitu : a) Konsentrasi Kegiatan Ekonomi Wilayah Konsentrasi kegiatan ekonomi yang tinggi di daerah tertentu merupakan salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya ketimpangan pembangunan antar daerah. Ekonomi dari daerah dengan konsentrasi tinggi cenderung tumbuh pesat jika dibandingkan dengan daerah yang memiliki tingkat konsentrasi ekonomi rendah. b) Alokasi Investasi Berdasarkan teori Harrod-Domar yang menerangkan adanya korelasi positif antara tingkat investasi dengan laju pertumbuhan ekonomi. Artinya rendahnya investasi disuatu wilayah membuat pertumbuhan ekonomi dan tingkat pendapatan masyarakat per kapita di wilayah tersebut rendah karena tidak ada kegiatan kegiatan ekonomi yang produktif. c) Tingkat Mobilitas dan Faktor-Faktor Produksi yang Rendah Antar Wilayah Jika perpindahan faktor produksi antar daerah tidak ada hambatan, maka pada akhirnya pembangunan ekonomi yang optimal antar daerah akan tercapai dan semua daerah akan lebih baik (Pareto Optimum atau better off ). Namun jika mobilitas faktor produksi seperti tenaga kerja dan kapital antar wilayah kurang lancar akan menyebabkan terjadinya ketimpangan ekonomi regional. Dengan asumsi terdapat / tersedia lowongan kerja, mobilitas tenaga kerja cenderung bergerak dari daerah yang tingkat upahnya rendah ke daerah yang tingkat upahnya lebih tinggi. Begitu juga

-2-

dengan kapital yang cenderung berpindah dari daerah yang tingkat kapital rendah ke daerah yang kapitalnya tinggi. d) Perbedaan Sumberdaya Alam Antar Wilayah Dasar pemikiran ekonom klasik mengatakan bahwa pembangunan ekonomi di daerah yang kaya sumberdaya alam akan lebih cepat maju dibandingkan dengan daerah yang miskin sumberdaya alam. Dalam arti sumber daya alam dilihat sebagai modal awal untuk pembangunan yang selanjutnya harus dikembangkan selain itu diperlukan fakor-faktor lain yang sangat penting yaitu teknologi dan sumber daya manusia. Semakin pentingnya penguasaan teknologi dan peningkatan sumber daya manusia, faktor endowment lambat laun akan tidak relevan. e) Perbedaan Kondisi Demografis Antar Wilayah Ketimpangan ekonomi regional juga disebabkan oleh perbedaan kondisi demografis, terutama dalam hal jumlah dan pertumbuhan penduduk, tingkat kepadatan, pendidikan, kesehatan, disiplin masyarakat dan etos kerja. Faktor-faktor ini mempengaruhi tingkat pembangunan dan pertumbuhan ekonomi lewat sisi permintaan dan penawaran. Dilihat dari sisi permintaan, jumlah penduduk yang besar merupakan potensi besar bagi pertumbuhan pasar, yang berarti faktor pendorong bagi pertuimbuhan kegiatan ekonomi. Dari sisi penawaran jumlah populasi yang besar dengan pendidikan dan kesehatan yang baik, disiplin yang tinggi, etos kerja tinggi merupakan aset penting bagi produksi. f) Kurang Lancarnya Perdagangan Antar Wilayah Kurang lancarnya perdagangan antar daerah juga merupakan unsur-unsur yang turut menciptakan terjadinya ketimpangan ekonomi regional. Ketidaklancaran tersebut lebih disebabkan oleh keterbatasan sarana transportasi dan komunikasi.
-3-

Adapun Sjafrizal (2012 : 119 - 122) yang berfokus pada ekonomi regional berpendapat bahwa ketimpangan antar wilayah dapat disebabkan oleh faktor-faktor berikut : a) Perbedaan Kandungan Sumber Daya Alam Adanya perbedaan kandungan sumber daya alam jelas akan mempengaruhi ketimpangan antar wilayah karena erat kaitannya dengan kegiatan produksi suatu daerah. Daerah dengan kandungan sumber daya alam cukup banyak akan dapat memproduksi barang dan jasa tertentu dengan biaya reltif murah dibandingkan dengan daerah lain yang mempunyai kandungan sumber daya alam lebih sedikit. Kondisi ini mendorong pertumbuhan ekonomi daerah bersangkutan menjadi lebih cepat. Sedangkan daerah lain yang mempunyai kandungan sumber daya alam lebih kecil hanya akan dapat memproduksi barang dan jasa dengan biaya produksi lebih tinggi sehingga daya saingnya menjadi lemah. Kondisi tersebut selanjutnya menyebabkan pula daerah yang bersangkutan cenderung mempunyai pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat. Dengan demikian, terlihat bahwa perbedaan kandungan sumber daya alam dapat mendorong terjadinya ketimpangan ekonomi antarwilayah yang lebih tinggi pada suatu negara. b) Perbedaan Kondisi Demografis Kondisi demografis erat kaitannya dengan ketimpangan antarwilayah dikarenakan hal tersebut berpengaruh terhadap produktivitas kerja masyarakat di suatu daerah. Daerah dengan kondisi demografis yang baik akan cenderung mempunyai tingkat produktivitas yang lebih tinggi. Kondisi ini selanjutnya akan mendorong pula peningkatan investasi ke daerah yang bersangkutan sehingga akan cenderung pula meningkatkan penyediaan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi daerah
-4-

tersebut. Sebaliknya, bila pada suatu daerah tertentu kondisi demografisnya kurang baik maka hal ini akan menyebabkan relatif rendahnya tingkat produktivitas kerja masyarakat setempat yang cenderung menimbulkan kondisi kurang menarik investor sehingga pertumbuhan ekonomi daerah bersangkutan menjadi lebih rendah. c) Kurang Lancarnya Mobilitas Barang dan Jasa Kurang lancarnya mobilitas barang dan jasa antarwilayah dapat mendorong peningkatan ketimpangan antarwilayah. Apabila mobilitas kurang lancar, maka kelebihan produksi suatu daerah tidak dapat dijual ke daerah lain yang membutuhkan. Akibatnya, ketimpangan antarwilayah akan cenderung lebih tinggi karena kelebihan suatu daerah tidak dapat dimanfaatkan oleh daerah lain yang membutuhkan, sehingga daerah terbelakang sulit mendorong kegiatan ekonominya. d) Konsentrasi Kegiatan Ekonomi Wilayah Terjadinya konsentrasi kegiatan ekonomi yang cukup tinggi pada wilayah tertentu jelas akan mempengaruhi ketimpangan ekonomi antarwilayah dikarenakan pertumbuhan ekonomi daerah akan cenderung lebih cepat terjadi pada daerah dengan konsentrasi kegiatan ekonomi yang cukup besar. Kondisi tersebut selanjutnya akan mendorong proses pembangunan daerah melalui peningkatan penyediaan lapangan kerja dan tingkat pendapatan masyarakat. Demikian pula sebaliknya bilaman, konsentrasi kegiatan ekonomi pada suatu daerah relatif rendah yang selanjutnya juga mendorong terjadi pengangguran dan rendahnya tingkat pendapatan masyarakat setempat. e) Alokasi Dana Pembangunan Antarwilayah Alokasi dana pembangunan antarwilayah dapat mempengaruhi ketimpangan antarwilayah dikarenakan investasi merupakan salah satu unsur yang sangat
-5-

menentukan pertumbuhan ekonomi suatu daerah. Karena itu, daerah yang mendapatkan alokasi investasi yang lebih besar dari pemerintah, atau dapat menarik lebih banyak investasi swasta ke daerahnya akan cenderung mempunyai tingkat pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat. Kondisi ini tentunya akan dapat pula mendorong proses pembangunan daerah melalui penyediaan lapangan kerja yang lebih banyak dan tingkat pendapatan per kapita yang lebih tinggi. Demikian pula sebaliknya terjadi bilamana investasi pemerintah dan swasta yang masuk ke suatu daerah tertentu ternyata lebih rendah, sehingga kegiatan ekonomi antarwilayah akan cenderung lebih rendah. Berdasarkan pendapat para ahli yang telah diuraikan di atas, dapat diketahui bahwa ketimpangan antar wilayah setidak-tidaknya disebabkan oleh 10 (sepuluh) faktor; yaitu perbedaan sumber daya alam, kebijakan pemerintah, ketimpangan pembangunan sektor industri, tingkat mobilitas produksi, perbedaan demografis, kurang lancarnya

perdagangan antar daerah, konsentrasi kegiatan ekonomi wilayah, alokasi investasi, pola perdagangan antar daerah, dan kurang lancarnya mobilitas barang dan jasa. Dengan demikian, melalui sintesis pendapat para ahli ekonomi tersebut dapat disimpulkan bahwa 3 (tiga) faktor yang paling dominan menyebabkan ketimpangan antar wilayah adalah tingkat mobilitas faktor produksi, perbedaan sumber daya alam, dan perbedaan kondisi demografis. Resume pemikiran para ahli mengenai faktor-faktor penyebab ketimpangan antar wilayah dapat dilihat pada tabel berikut :

-6-

Tabel 1 Resume Perbandingan Faktor Penyebab Ketimpangan Antar Wilayah Menurut Sejumlah Ilmuwan Ekonomi
Faktor Penyebab Ketimpangan Wilayah Sumber daya alam Kebijakan pemerintah Ketimpangan pembangunan sektor industri Tingkat mobilitas faktor produksi Perbedaan Demografis Kurang lancarnya perdagangan antar daerah Konsentrasi kegiatan ekonomi wilayah Alokasi Investasi Pola perdagangan antar daerah V
(tenaga kerja dan modal)

Pendapat Para Ilmuwan Ekonomi Williamson V V Subandi Tambunan V Emilia & Imelia V Sjafrizal V Resume

No.

1. 2.

4 1

3.

V 4

4. 5.

6.

7.

8. 9.

V V

3 1

Kurang lancarnya 10. mobilitas barang dan jasa

-7-

Daftar Pustaka

Adisasmita, Rahardjo (2013), Teori-Teori Pembangunan Ekonomi, Yogyakarta: Graha Ilmu. Emilia dan Imelia (2006), Modul Ekonomi Regional, Jambi: Jurusan Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Jambi. Sjafrizal (2012), Ekonomi Wilayah dan Perkotaan, Jakarta: Rajawali Pers. Subandi (2008), Sistem Ekonomi Indonesia, Bandung: Alfabeta. Tambunan, Tulus T.H. (2001), Transformasi Ekonomi di Indonesia Teori & Penemuan Empiris, Jakarta: Salemba Empat.

-8-

Anda mungkin juga menyukai