Anda di halaman 1dari 74

TUHUK MAARIT

Insomnina

Permisi, boleh lihat-lihat tapi jangan marah-marah, boleh senyum-senyum tapi jangan bingung-bingung. Silahkan baca tapi jangan ambil pusing. (Jangan main ambil tanpa seizin yang empunya) Nanti kasihan orang yang jual obat. Bukan karena sok bijak jika saya memberi nasihat, Yang memberi nasihat belum tentu bijak, Bukan hanya orang bijak yang memberi nasihat. Buanglah sampah pada tempatnya. Nanti kasihan bak sampahnya kelaparan Kalau kertas ini sudah tidak terpakai ayo dibuang, Tapi sekali lagi, maaf, buanglah pada tempatnya, Setelah dipakai ngelap ingus, setelah dipakai nangkap bangkai tikus, dan lain sebagainya, mari jaga kebersihan lingkungan bersama-sama Nanti kasihan rumah saya kalau kebanjiran. Ini rahasia, Jika dibajak lebih bagus, tapi jangan bilang-bilang, Nanti saya malu! Ini rahasia!

Tuhuk Maarit

Insomnina

Kehilanganmu Di sini, lalu lima ketukan spasi, enternya ditekan terus. Terus, sampai halaman baru. Apa itu? Judul laguku. Padahal tinggal masukkan halaman kosong. Jangan! Nanti halamanku kosong. Biarlah isinya spasi. Spasi bukan kosong. Kau akan segera tahu bahwa banyak huruf berwarna putih di kertas putih.

Insomnina

Insomnina

Dia kepulan di ranjangku, berderit-derit saja kepulan itu mengalahkan bisingnya ranjangku yang kehabisan minyak. Jemarinya celingukan mencari asbak. Taruh saja di sana. Lalu foto-foto itu berayun minta dicium. Betina yang membuatku amnesia. Kenapa lagi setiap malam? Kereta api jatuh di belukar, kereta kosong: hanya apinya yang membakar. Jika saja api itu mengeringkan luka. Lalu kalender melompat jauh. Jauh. Jauh. Betina telah lama jadi sipir penjara: tatapan bengis. Ampuni aku, ampuni aku. Betina tak bergeming. Kepulan di ranjangku tak mau surut, masih duduk manis merayu, bibirnya basah dalam remang. Lampuku tak sanggup menyala lagi sejak lama, aku tahu bibirnya basah. Aku menunggu kereta. Satu domba, dua domba, tiga domba. Kepulan di ranjangku mulai bernyanyi dalam remang. Merayu. Satu nina, dua nina, tiga nina. Insomnina

Aku meraih panci dalam remang. Membantingnya. Ampuni aku, ampuni aku. Satu nina, dua nina, tiga nina. Betina tak bergeming Ampuni aku, ampuni aku.

Insomnina

Kasih Kepala Kita Untuk Ife Aku mencari, pisau Inggris buntung yang berganti kelima jarinya, diamputasi kedua jari depannya. Seperti berlutut Inggris yang hilang dua jari depannya juga; lalu berganti menjadi belut, tentu saja belut, Inggris. Pisau buntung tanpa kepala harus punya kepala, pisau yang ku cari berkepala apa dan di mana, seperti kepala apa yang tanpa kepala menjadi topi, seperti kepala di mana yang tanpa kepala menjadi di sini, sehingga genaplah keempat jari pisau yang ku cari. Di mana Inggris? padahal masih Inggris. Mencari tentu karena butuh, seperti setetes air yang tidak menjadi hujan jika sanak kerabatnya enggan kepala kawan Inggris ditambah semua Inggris. Mengapa butuh karena burung harus punya pisau, seperti pisau yang ku cari. Mengapa tidak ada Inggris? Berarti di sini Kita. Jika ketemu tentu genap empat jarinya menjadi lima dengan diriku. Pisau yang ku cari butuh aku. Agar ganjil tapi sempurna. Siapa peduli genap jika tidak sempurna. Harus Kita.

Insomnina

Di mana? Kau akan menemukannya di tahu. Bukan tahu perahan kedele, tapi tahu apa itu keledai agar tidak keledai, lalu Inggris. Kau akan menemukannya di tahu. Tapi bukan tahu Kita. Tahu Inggris. Aku mencarinya, terserah. O tidak ada di tahu, Inggris. Kau menemukannya? Aku masih mencari, pisau, bukan yang memotong, bukan yang membelah, bukan yang menusuk, bukan yang menikam. Aku masih mencari, pisau bait satu yaitu pisau bait dua, bait bukan Inggris! Tapi bait Kita. Kau menemukan yang kau cari? Kau menemukan yang ku cari? Kau dan aku mencari dua hal yang berbeda. Aku tahu yang kau cari, carilah di tahu, Inggris. Kau tahu apa yang ku cari? Kau tahu jika diberitahu; O tidak ada di tahu Inggris. Jika menemukannya buang saja. Agar kau tahu, terserah. Aku ingin kau tahu, terserah. Aku masih sibuk mencari, pisau tiga jari, karena sama dua jari dengan tahu, lalu jadi genap dengan kepala memakai ekor tahu Inggris. Insomnina

Seperti mau Inggris, jika tanpa kepala jadi semut, tentu semut Inggris. Kepala mau itulah kepala pisau yang ku cari. Jika semut Inggris memakai kepala itu jadi mau, jika pisau buntung Inggris memakai kepala itu jadi yang ku cari. Yang pertama ganda kamu dalam Inggris, kepala mau, kepala apa, kepala di mana. Ganda kamu dalam Inggris, ekor tahu. Itu kita Inggris. Bukan kita Kita, tapi kita Inggris. Itu kepala koma kita Inggris! Bukan kepala kita koma Inggris! Tapi kepalanya kita! Jadi, kita Inggris kepalanya ganda kamu dalam Inggris. Yang kedua di kunci Kita, bukan kunci Inggris, tapi Kita! Kuncinya Kita! Kita bukan Inggris! Hampir kawin Kita tapi bukan kawin Kita yang ku cari tapi ada di kawin Kita. Aku mencari pisau Inggris buntung seperti kepala dan ekor kawan Kita yang diamputasi, diganti dengan yang ada di dada kawan agar punya kepala Di kawan Kita dan di tahu Inggris. Pasti bukan tempe, bukan teman tempe, bukan suami tempe, bukan saudara tempe, maka bukan perahan kedele.

Insomnina

Kau tahu tahu-tahu itu tahu-tahu jadi tahu. Ada di tahu itu tapi bukan tahu itu. Tahu yang mana? Tahu yang: tahu pisau yang tidak memotong, tidak membelah, tidak menusuk, tidak menikam. Aku tidak mencari tahu, tapi pisau. Yang sederhana, tidak mengamputasi, tidak aborsi, tidak bunuh diri.

Insomnina

Peter Pan Pun

Astaga! Setiap hari. Menunggu cerita yang berita, tapi lalu kecewa. Si anu mengajak bermain, si anu yang lain mengajak bermain, hidup main-main. Peter pan pun menua. Jadi, mana kejutan yang lain? besok hari kiamat, nanti malam dunia akan meledak. Setiap hari. Astaga!

Insomnina

Disuruh Berenang

Kucurannya sampai ke dada, berai-berai yang piknik bersama ketombe, lalu komedo, lalu jerawat, menjadi kapalkapal yang hanyut. Aku gelisah, takut jika para penumpangnya melempar nakhoda. Padahal sekoci sudah dijual di swalayan dan minimarket. Ku tatap langit, hei! Tatap aku! Tak ada satupun yang jatuh. Tapi kenapa hangat? Padahal kompor masih tertidur, tapi kenapa hangat? Gelas-gelas berdenting kehausan. Mari tuang lagi, teman. Botolku masih penuh. Padahal kucurannya sampai ke dada. Aku gelisah, gelas-gelas terlalu banyak minum. Nanti mereka kehausan. Ku tatap lagi langit, hei! Gantian donk! Langit menuang botolnya, kucurannya sampai ke tanah. Hebat betul. Kucuranku hanya sampai ke dada. Tidak, hanya dingin lalu desau, lalu beku. Aku gelisah. Ku tuang lagi botolku, kucurannya hanyut, tapi kenapa hangat? Siapa yang merebusnya tadi subuh? Gelas-gelas kehausan. Bergelimpangan di meja makan. Insomnina

Ku tatap lagi langit, hei! Cukup! Nanti gelas-gelasku kedinginan! Nanti mereka tergenang! Aku gelisah, langit telah naik terlalu tinggi, suaraku tenggelam oleh raungan eskalatornya yang terus menanjak, padahal dia masih menuang botolnya. Tidak hanya dingin, desau, beku. Ketukan-ketukan di dinding dan pintu. Selimut yang menggigil. Kapal-kapal hanyut sampai ke bantal

Insomnina

Semoga Terlelap

Aku mengantuk. Ingin tidur, daritadi terus duduk. Ku tatap lagi secangkir kopi tumbuk yang sudah diaduk. Bismillah, ku pejamkan mata dan ku reguk.

Insomnina

Buka Pintunya Lain Kali Sore itu kita bermain layang-layang. Langit cerah, angin bertiup, layar terkembang. Naikkan jangkarnya, sayang. Layang-layang ingin terbang. Gulung benangnya, sayang. Langit cerah, tapi angin terlalu kencang. Kepalamu dalam kulkas, telingamu gelap tak mau terang. Penyesalan tertinggalkan. Layang-layang putus di atas awan. Itukah yang kau inginkan? sangkut di pepohonan? Sore ini langit secerah sore itu. Layang-layang dulu telah berbulan madu. nanti akan ada yang berlari-lari dan memanggilnya ibu.

Insomnina

Jangan Ganggu Nanti Nanti Malam Nanti ada yang marah. Tunggulah, nanti malam. Siapkan ini, siapkan itu, buat nanti malam. Cepat-cepat, sudah sore, nanti keburu malam. Nanti lama sekali ke mana saja, nanti malam. Nanti malam-malam Nanti mau marah-marah nanti malam. Jangan ganggu. Nanti marah. Jangan bilang ibu. Nanti ibu tanya kenapa Nanti malam-malam marah-marah nanti malam Jangan tunggu Nanti nanti-nanti, nanti Nanti marah. Jangan ganggu-ibu-lagi tidur. Nanti saja. Biar Nanti saja yang nanti bilang. Ayo. Tapi jangan berisik, nanti ketahuan Nanti.

Insomnina

Jalan-jalan Jangan Jauh-jauh Mau kemana? Kenapa jauh-jauh? Kita sudah sampai. Rekreasi hari ini ke kebun binatang. Tidak perlu mandi dan berganti baju. Kita sudah sampai. Dekatlah kemari, jangan jauh-jauh. Kalau jalan hati-hati, nanti diterkam macan. Oyang di kandang itu namanya tikus. Yang belum dikandang lebih banyak lagi, makanya kalau jalan hati-hati, nanti digigit tikus. Nah yang diikat itu namanya monyet. Yang belum diikat lebih banyak lagi, makanya kalau jalan hati-hati, nanti digigit monyet. Betul, yang di lantai itu namanya anjing. Yang belum dirantai lebih banyak lagi, makanya kalau jalan hati-hati, nanti digigit anjing. Kalau yang itu lebih hebat lagi. Dia pintar menggigit. Bisa jadi tikus. Bisa jadi monyet . Bisa jadi anjing. Makanya kalau jalan hati-hati. Kamu belum tikus, belum monyet, belum anjing. Kita hanya rekreasi. Kenapa jauh-jauh? Kita sudah sampai. Tapi jangan jauh-jauh, nanti dibawa setan.

Insomnina

Sapi Perkasa

Mendongeng lagi, malam tadi Putri Salju, malam ini Putri Salju, malam besok Putri Salju; cerita-cerita yang ku takuti. Setiap malam. Lusa papa mogok kerja, kalau boleh juga mogok cerita. Tapi jangan mogok makan, sayang. Kasihan nasinya nanti kekenyangan. Tapi jangan mogok tidur, sayang. Kasihan bantalnya nanti ketiduran. Mendongeng lagi, lalu kamu papa cium. Jangan erat-erat peluknya, sayang. Nanti papa ingat mama kamu. Nanti kamu ingat mama kamu. Nanti kamu mirip mama kamu. Mirip papa saja. Lusa kita banyak waktu seharian, sejak kamu lahir gaji belum dibayar. Bagus juga jika kita sehari jalan-jalan. Kenapa kamu belum tidur? Papa baik-baik saja. Papa tidak nangis. Papa hanya usap lipstik dan bedak. Papa tahu kamu lihat mama sering datang marah-marah. Papa tahu kamu lihat mama sering pukul papa tendang-tendang. Tapi papa kuat sayang. Papa tidak sakit. Papa tidak nangis. Kamu jangan nangis. Mendongeng lagi, sampai anakku tidur. Banyak paku di paru-paru. Dia datang. Menengok sapi, memerah lagi. Insomnina

Dia minta lagi. Ditampar lagi, memerah lagi. Dia pergi. Tapi minta lebih, hartaku. Bagaimana jika hartaku jangan menjelma sapi? Sayang, bangun. Papa bawa minuman. Supaya jadi Putri Salju. Supaya kita tidur. Menunggu pangeran tampan yang mencium. Mendongeng lagi, tapi terakhir kali, tentang sapi perkasa.

Insomnina

Suka Suka-suka Sesukanya

Hobinya main bola, tendang sana, tendang sini. Bagus, cita-cita piala dunia. Amin.

Hobinya suka-suka, suka sana, suka sini. Bagus, cita-cita suka-suka. Amin.

Hobinya main potong, potong sana, potong sini. Bagus, cita-cita potong bebek angsa. Amin.

Hobinya main-main, main sana, main sini. Bagus, cita-cita main-main. Amin.

Hobinya bola pimpong, oper sana, oper sini. Bagus, cita-cita oper-oper. Amin.

Generasi olahraga, generasi sehat, generasi suka suka-suka. Insomnina

Bu tidak Bertanya

Maaf Bu, dia meracuniku; Itu hanya lukisan. Telingaku sampai berdarah. Maaf Bu, jika tidak asli berarti palsu Belum, hampir, atau, kemungkinan. Metamorfosa, tidak lagi rupiah. Bu Dengarkan Dia si Botak Tidak ada lagi anjing menggonggong di pagi buta depan rumahku sudah seminggu. aku kenal sesuatu yang menggorengnya dalam jamban Lalu berak. Maaf tapi terimakasih Bu. Dia merampok meja kerjaku, membakar kamar mandiku, mencukur mata-telinga-lidahku, menyeretku ke jalan. Aku sempat menoleh, pulang atau menggapai krim es hangat coklat plastik ayam goreng tepung yang berenang di ujung sana, bersinar seperti batu di atas monitor yang menempel di dada saat kemarau berlari-larian di punggung lembu yang tersesat, ku dengar kau katakan tidak.

Insomnina

Jualan Eng

Cuma ini cuma-cuma Sisanya harus beli Cuma-cuma mudah Tinggal diam lalu pasrah Mengapa beli harus? Semua-harus-susah Mengapa beli? Beli-susah! Beli atu tajam, beli ati melukai Beli Eng Dilarang mengatakan jangan! Sisanya diam-diam beli

Insomnina

Oi

Oi, muliakan orang mulia Mereka memberi makan orang lapar Aku pun Memuliakan orang, tapi juga binatang Memberikan makan, tapi tertidur Makan orang lapar makan orang lapar makan orang sampai kenyang Oi, hormati orang terhormat Mereka memberi minum orang haus Aku pun Menghormati orang, tapi juga binatang Memberi minum, tapi terlelap Hormati mati minum orang mati minum orang sampai kenyang Oi Bangun!

Insomnina

Sisa Kenangan Seperempat Abad yang Entah Kenapa Lenyap Begitu Saja

Aku menyusuri tembok, kawat demi kawat. Belum ada yang berubah. Kami masih mengunyahnya. Pelan-pelan, lalu merambat ke dinding lainnnya. Aku tertatih juga. Hujan membuat mata pedih, ada garam disana, membasahi mata yang luka. Kami masih mereguknya. Pelan-pelan, lalu merayap ke pintu lainnnya. Aku berteduh pula. Bayang-bayang keringat dan embun. Debu-debu. Pelan-pelan, lalu ditumpuk dalam tanah tak bernama. Aku termenung seperempat abad yang lalu, tanah demi tanah. Kami masih menggigil, tetap menggalinya. Pelanpelan, lalu merangkak dari kawat ke kawat. Lagi. Rotasi dan metrum. Hingga bersua tanah tak bernama. Aku termenung seperempat abad kemudian. Aku belum dilahirkan.

Insomnina

Mari Insomnina

Ada yang mengetuk pintu Saat itu anak-anak berbaju rapi, ada sarang-sarang kepompong di perut mereka. Saat itu anak-anak memakai topi, ada jerigen-jerigen kosong di kepala mereka. Saat itu anak-anak berkalung dasi, ada singa-singa ompong di dada mereka. Dia melongok dari jendela O, hanya Insomnina Insomnina mulai menggedor pintu Kunci laci-laci Terkadang rantai dan gembok tidak melindungi. Silahkan masuk, Insomnina. Insomnina meringkuk beku Ribuan kilometer dari pintu Tak punya tangan tuk merangkak Matanya jatuh Aku aman dalam gelap, bersama weker, sajadah, tulangku, tubuhku. Dia menyimpannya dengan rapi. Terkadang lantai dan tembok tidak melindungi. Mari Insomnina Mataku tertusuk tiang bendera

Insomnina

Seakan Aku Pernah

Senja dimulai pagi itu dengan ceria. Bunga-bunga bermekaran diselimuti nyenyak dalam bantal, Ada juga obat nyamuk, obat malaria, obat anemia. Lembu terus berpacu di arlojiku menempel di dindingku. Senja hendak beranjak, matahari telah menanjak, Aku rindu anjing yang menggonggong. Dapurku disinari matahari; di sana pernah berserakan kekecewaan yang tega membanting gelas dan piring, kini terbaring di bak sampah. Aku merenung hingga ayam berkokok, matahari tenggelam. Saatnya tidur, Insomnina membanting ranjang.

Insomnina

Memahami Teman

Seorang teman menatap apel di atas meja. Aku mengerti arti tatapannya, lalu memberinya pisau. Dia mulai mengupasnya sambil terus melirikku. Aku tidak mengerti arti lirikannya. Seorang teman membanting pisau-ku. Gila susah betul. Menggiurkan tapi kulitnya bencana. Makan saja bersama kulitnya. Aku memimpikan apel tanpa kulit. Kamu akan menyesal saat apel-mu jatuh ke lumpur. Aku tidak memakan yang telah jatuh. Kamu akan merindukan seni mengupas jika hidup di antara apel-apel tak berkulit. Aku sudah mati sebelum berbakat andai itu memang seni. Aku terdiam. Seorang teman terdiam. Kulit apel juga terdiam, teronggok di lantai, berdarah, darah-seorang teman. Seperti hidup. Solusi melukai jika terlalu tajam, tak berguna jika terlalu tumpul. Sebagian orang menelan dunia, bersama kulitnya, bersama darahnya, bersama pisaunya. Kadangkala kulit apel berlapis-lapis, terkadang isinya kulit melulu-kulit melulu. Aku menanam apel, siapa tahu ada yang memakannya. Aku mendalami seni mengupas tapi tidak mengamalkannya. Seharusnya aku mengerti arti lirikanseorang teman.

Insomnina

Ritma Dunia

Jemariku masih ingain menari -kan nada otakku yang terus berlari. Sedang batukku menghempaskan lagu. Udara yang gatal menggaruk tenggorokanku tak henti. Sedang asap tebal menghiasi kamarku yang berdebu. Sedang rokok dan pena masih bertengkar di jemari. Tidurku yang putus asa, payah, tak berdaya. Dikekang di kekang kalender dan jam dinding. Sedangkan uang dan waktu tak pernah bergeming. Cinta O cinta Kapan tidur kapan bekerja kapan tetap hidup Celaka kau hatiku satu tak seimbang dengan dua mata Perahuku terjebak dalam pusaran dilema. Jari manisku telah lelah menunggu dan bertanya. Sedang kau tidak berpangku hati. Meteran dan timbangan Cinta Kita Berbeda.

Insomnina

Bukan Tak Mau Tapi Enggan

Aku menggenggam pasir lalu membiarkannya berjatuhan, sungguh lebih kejam dari biadab. Polisi menahanku agar anjing-anjing tidak berlompatan dari mulutku. Apa salah anjing, apa salah, anjing. Aku merana pohonku tak bertelur kambing, tidak sapi, tidak kucing, ember saja, lalu pecahkan! Polisi menahanku agar pantat-pantat tidak bertunggingan ke tengah jalan, bisa saja tukang ojek menabraknya lalu menggiringnya ke rumah duka ke rumah sakit ke rumah makan. Bisa saja. Terimakasih polisi. Ke rumah makan, di sanalah. Mana rumah, jika ada mana makan, jika ada mana aku. Aku menggenggam pasir, pulang, nanti ku taburkan ke rekening-rekening listrik, ke kartu-kartu kredit, ke albumalbum foto, ke pigura-pigura, ke cermin. Siapa yang membiarkanku berjatuhan saat aku menggenggam di dalam genggaman? Cermin itu lebih kejam dari biadab. Bedebah saja yang ada di sana, berguling-guling minta pecahkan.

Insomnina

Amanat Pembina Upacara

Duit-duit yang saya cintai, bangsa ini adalah bangsa yang besar, sudah sepantasnya berdiri di antara yang besar-besar. Di sinilah kita belajar, maka buka mata lebar-lebar, tengok ke atas, lebih atas, lebih atas lagi! Ada sesuatu yang besar di sana menanti dengan lembar-lembar. Duit-duit yang saya cintai, kalian adalah hasil seleksi ketat, seketat-ketatnya. Tidak ada tempat untuk cacing-cacing. Hanya kelas ular, hingga kalian naik ke kelas naga! Naga menengah pertama, lalu naga menengah atas, lebih atas, lebih atas lagi! Mahanaga! Duit-duit yang saya cintai, kita berdiri di sini, demi menyongsong masa depan cerah, lapangan kerja yang mewah, kolam-kolam yang bahkan kompor-kompornya juga basah. Untuk menuju ke sana jangan sungkan kasih makan! Kasih makan yang atas, lebih atas, lebih atas lagi! Duit-duit yang saya cintai, budaya mulia ini harus dilestarikan, sejak buaian, sejak mengenal makna kemanusiaan: memberi makan! Kemuliaan ini yang membuat kursi kita naik ke atas, lebih atas, lebih atas lagi! Sampai cacing dimakan punah.

Insomnina

Dirantai Orang Kau gadis seberang rumah. Pipimu merah bibirmu merah, bolehlah dadamu ku buat merah Setiap pagi kau mencuci, setiap malam kau mengaji, bimbanglah aku meraih tanganmu. Kau gadis seberang rumah. Wajahmu cerah bibirmu pendiam matamu seterang kunang, ibalah aku kau tak punya ibu Setiap hari berangkat sekolah, setiap sore ku tunggu di balik jendela saja, nanti kau enggan melenggang juga. Kau gadis seberang rumah. Malam itu menjerit, bajumu koyak, kulitmu putih, mataku gelap, kau tersungkur, pipimu merah bibirmu merah, berdarah Tak kuasa aku kau menangis, ku lemparkan pisau itu ke tanah, membenturkan kepala ke dinding andai itu bisa menebusnya, nyawa yang hilang karena hilang akalnya. Kau kini di seberang juga. Rumah baruku sempit di dada, lantainya dingin, temboknya gelap, jiwaku mengaduh, tanganku pelacur, tlah merobek jantung punggungmu. Hari menunggu hukuman, kau datang pula menjenguk. Tak kuasa aku kau menangis, aduhai jangan kau tangisi jalang yang membuatmu dipanggil kini: yatim piatu.

Insomnina

Insomnina. Jangan gunakan kalimat tanya. Hanya judul, mungkin anemia: salah ketik, lalu amnesia.

Mei-Juni 2013 Insomnina

Ane-MIA

#1 INTRO Dua tahun yang lalu AARRGGHH.!! Jerit seorang gadis, Nasir hanya menoleh sebentar, Rose, salah satu anak orang kaya di sekolah, mata indahnya adalah buaian sekaligus tatapan sinis merendahkan, juara satu dalam kecantikan dan keangkuhan, menatap matanya dapat membuatmu mati menjadi batu, mati karena kagum terpesona atau mati karena terhina, dan ini berlaku untuk semua jenis kelamin, baik cewek, apalagi cowok. Berada dalam radius lima meter dengan Rose adalah masalah, apalagi jika status sosialmu lebih rendah, sekarang wajah cantik Rose memerah karena marah, seragamnya basah, Nasir buru-buru meneruskan langkah, seorang monster, gumam Nasir dalam hati, dan jika monster itu diberi nama, maka seharusnya bukan Rose, tapi Medusa!

Insomnina

Woy, kemana aja! Buruan! hardik Bara, Nasir hanya tersenyum sembari berlari kecil mendatangi sahabatnya, suara bentakan Rose dari kantin yang terdengar sayup-sayup tidak lagi mengganggu pikirannya. Sorry, tadi dari toilet, Bar sahut Nasir. Rizal yang berdiri di samping Bara mendengus, Sok british lu Sir, mana ada anak kampung ngomong sorry sama toilet? Nah, Rizal sudah memulai konfrontasi keluh Nasir dalam hati. Berdebat dengannya adalah tindakan sia-sia, dia tidak akan menyerah apalagi menggaku kalah, walau harus mati berkalang tanah, bahkan meski kau dapat membuktikan bahwa dia salah. Keras Kepala Akut. Berada di dekatnya mungkin aman, tapi masih ada kemungkinan terjadi masalah, kecuali jika telingamu bermasalah. Jadi seharusnya? sergah Nasir tanpa bermaksud mengajak adu mulut, namun tampaknya memulai sebuah perang mulut. WC dong! sahut Bara.
Insomnina

WC kepanjangannya water kloset, Bar, masih sepupu sama toilet! potong Rizal. Kalo water kloset berarti WK dong sergah Bara tidak mau kalah. Udahan ah, pembuangan hajat aja diributin , baiklah, aku ralat nih, dengar dengan seksama, maaf, tadi habis dari kakus, puas Bu Guru?sahut Nasir melotot ke arah Rizal. Sejak kapan lu jadi anti-british Zal? Mimpi apa tadi malam? Tanya Bara menggoda. Mungkin benar jika Rizal adalah penderita keras kepala akut, namun Bara lebih parah, jika penyakit Bara kumat, keras kepalanya sudah dalam tahap sekarat dan harus dimasukkan dalam Unit Gawat Darurat. Nasir tertawa Pasti lagi kesurupan Jendral Soedirman nih anak.. hahaha... Nasir dan Bara tertawa terbahak-bahak. Rizal ingin mengucapkan sesuatu tapi suaranya tertahan di tenggorokan, kalah telak.
Insomnina

Jadi. Apa yang membuatmu mengumpulkan kita di sini? Tanya Bara sambil menatap Nasir dengan seksama. Tunggu! Kita belum selesai! geram Rizal. Nasir menyadari situasi ini lalu cepat-cepat mengalihkan perhatian mereka berdua, Nah, begini kawan. Jawab Nasir dengan muka berseri sembari merogoh saku celana. Tara!! Bara terkejut, Kau benar-benar keras kepala! Apa!? Keras kepala? Benarkah? Nasir bertanyatanya dalam hati, lalu tertegun sejenak membayangkan arti kata keras kepala. Nasir memalingkan pandangannya ke arah kantin, Rose dan Mita terlihat keluar dari sana dengan tergesa-gesa menuju ke arah kantor sekolah. Mungkin kau benar, Bar, kurasa aku memang keras kepala. Dan gadis itu adalah seekor monster. *****

Insomnina

Mari mudur kurang lebih setahun sebelumnya atau tepatnya tiga tahun yang lalu. Rabu. Kelas benar-benar hening, hanya terdengar suarasuara goretan pulpen di kertas, namun semenit kemudian beberapa siswa mengeluh pelan. Seorang cowok berambut botak terdengar sayup-sayup bergumam, matanya tertutup, suaranya terdengar seperti dukun membaca mantra dengan bahasa yang tidak dapat dimengerti, keringat menetes dari keningnya, gumaman itu semakin lama semakin nyaring, malah terdengar mirip lenguhan kerbau. Nasir menaikkan alisnya karena benar-benar merasa terganggu, menjengkelkan! keluhnya dalam hati. Diremasnya pulpen di tangannya sambil memaki dalam hati, Bara di depannya masih khusuk dengan mantranya. Seseorang harus menghentikan ini! namun yang bisa dilakukan Nasir hanyalah meremas pulpen, meremas Bara adalah benar-benar seperti meremas bara! Telapak tanganmu akan menjadi barbeque.
Insomnina

Berlebihan memang, tapi hanya dari melihat postur tubuhnya orang-orang tidak akan menyangka bahwa dia adalah siswa kelas satu SMA. Nasir hanya setinggi bahunya, dan itu membuatnya tak berdaya. Tapi siapa sangka, seseorang yang lebih sadis dan menyeramkan juga menyadari hal tersebut, dan tampaknya akan menjelma menjadi malaikat penolongnya ataukah sang pembawa bencana? Pertanyaan itu terjawab melalui sebuah penghapus papan tulis yang melayang di ruangan kelas. Dalam sepersekian detik Nasir melihat adegan itu sebagai slow motion, sebuah tembakan akurat dari Dra. Mance L. Tobing, M.Pd, seorang pembunuh berdarah dingin yang telah menewaskan ratusan siswa-siswi SMA 13 Kotabaru, dan jika berbicara masalah, maka ini adalah masalah besar jika berurusan dengan beliau, dan jika berbicara mengenai keras kepala, maka siapapun tahu kalau kepala beliau BENARBENAR KERAS. Lebih keras daripada arak Bali, begitu komentar Rizal. Dan jika berbicara mengenai tewasnya
Insomnina

ratusan siswa di tangan sang Killer, maka perlu kalian ketahui, bahwa kalimat itu bukan metafora ataupun hiperbola, semua korban-korban beliau benar-benar mati, MATI KUTU! Dalam slow-motion versi Nasir, perlahan-lahan penghapus tersebut mendekati wajah Bara. Nasir tersenyum lebar lalu memejamkan mata membayangkan apa yang akan terjadi sambil berteriak TARA. tanpa suara. HUWAAAA..!!!? Teriakan Bara. Dan menyusul Huwa yang kedua, bukan teriakan, tapi jeritan Nasir, namun suara jeritan itu tenggelam dalam penghapus papan tulis yang mengganjal di mulut Nasir. Akurat. Kelas menjadi menjadi gaduh sejenak, namun puluhan kepala menyadari betapa kejamnya sang Mance dan akhirnya mereka memutuskan untuk diam dan menganggap seolah tidak terjadi apa-apa, hanya terdengar suara cekikikan dan beberapa anak meremas perutnya karena menahan tawa. Hening.
Insomnina

Bara! Petir menggelegar mengiringi suara Bu Mance, Bawa mejamu keluar! Apa?! Saya tidak melakukan apa-apa! Bara berdiri dan matanya menentang tajam ke arah Bu Mance. Mengeluarkan suara apalagi berteriak seperti itu di saat ujian merupakan sebuah pelanggaran, dan setiap pelanggaran harus dipertanggungjawabkan! sahut Bu Mance tegas, lagipula kau tidak punya hak menentang keputusan gurumu, anak baru sambung Bu Mance Aku sudah selesai, jadi aku tidak perlu mengerjakan tugas ini di luar kelas kata Bara berapi-api sambil menatap Bu Mance. Bagus! Kumpulkan dan berdiri di luar selama sisa jam ujian! keputusan Bu Mance tidak mungkin bisa ditawar lagi, dengan berat hati Bara berjalan ke depan. Aku bersumpah, kau akan membayarnya desis Bara. Nasir tersentak, bulu kuduknya merinding, manusia ini mengerikan, tidak, dia bukan manusia! Dia adalah salah satu monster lainnya!
Insomnina

Nasir! Yang dipanggil terkejut, wajahnya memutih, ada malaikat maut yang memanggil namanya! Bawa penghapus itu ke sini kata Bu Mance kemudian. Beberapa siswa terlihat kembali cekikikan, Nasir menoleh sejenak ke arah suara itu, dua orang gadis, dan salah satunya menatap tajam dengan tawa sinis. Mata mereka bertemu dan Nasir melihat kilat yang menyambar dirinya. CETARR! Makhluk ini bahkan bisa membunuhku walau hanya dengan menatapku batin Nasir. Cepat-cepat dipalingkannya wajahnya, kelas ini benar-benar mengerikan, banyak monster yang tinggal di dalamnya. Nasir melangkah dengan gontai lalu menyerahkan penghapus di tangannya, tak disangka ternyata Bu Mance malah tertawa, dan tawanya sumbang. Nasir mengambil kesimpulan dengan cepat, dalam hal tertawa rupanya Bu Mance tidak berbakat. Lalu mengapa beliau harus tertawa? Monster yang satu ini sangat mengerikan pikirnya.
Insomnina

Ibu rasa kamu sebaiknya mencuci muka, sekarang! Itu bukan saran, tapi sebuah perintah! Apa?? Jadi itu yang membuat beliau tertawa? Nasir melongo sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan kelas. Benar saja, wajah bodohnya kini menjadi santapan yang sangat dinikmati dalam ketegangan. Semua tatapan siswa tertuju kepadanya, dan ekspresi mereka sama! Seorang siswa yang duduk di pojok kanan kelas malah tertawa dengan keras, dia merasa benar-benar terhibur oleh pertunjukan wajah belepotan Nasir, sungguh memalukan. Permisi Bu Nasir bergegas keluar kelas, pengalaman tahun pertama yang sangat memalukan. Rizal.!! Suara petir kembali menggelegar, Lakukan lagi yang seperti tadi dan Ibu yakin Bara akan punya teman untuk bersenang-senang di luar sana! kata Bu Mance sambil menunjuk Bara yang sedang berenang dalam terik mentari di depan kelas. Rizal langsung merubah mimik wajahnya, lalu berpura-pura konsentrasi penuh dengan kertas di depannya.
Insomnina

Nasir mencuci muka sambil meratapi nasipnya, setengah jam lagi waktu ujian berakhir, bahkan dia belum menyelesaikan menjawab setengahnya, aku harus bergegas batin Nasir lalu berlari menuju kelasnya. Bara berdiri dengan santai, namun wajahnya terlihat tegang dengan mata tertutup, tampaknya sedang berpikir keras. Permisi Bu kata Nasir sambil berjalan menuju mejanya, dia hanya bisa menatap lantai, kejadian barusan sangat menodai kehormatannya. BRUAKAKAKAKAKAK, ada Zorro dalam kelas!! BRUAKAKAKAKAKAK!! Spontan seisi kelas tertawa. Nasir tersentak, pasti yang dimaksud Zorro itu adalah dirinya! Otaknya berpikir dengan cepat, Zorro, seorang tokoh manga dalam One Piece, rambut hijau, anting-anting, tiga pedang, lalu kenapa mereka tertawa? Zorro. Otaknya kini dipaksa berpikir lebih cepat lagi, dan Astaga! Pahlawan berkuda, topeng, KUMIS!!.
Insomnina

Diam semuanya..!! Rizal.!! KELUAR..!! teriak Bu Mance, wajahnya merah padam. Kelas berubah menjadi kuburan. Mereka telah membangunkan monster yang sedang tidur. Permisi Bu seru Nasir tergagap membalikkan langkahnya kembali keluar kelas. Ibu Mance hanya bisa menghela nafas. Aarrgghh Nasir berlari dengan putus asa, sungguh menyedihkan. Dia kembali merenungi nasipnya saat mencuci kumisnya, tapi kali ini lebih dari merenungi, meratapi. Akhirnya ratapannya berakhir dengan suatu kesimpulan, tidak hanya wanita yang membutuhkan cermin!! Nasir melangkah dengan gontai, sebenarnya dia enggan masuk lagi ke dalam neraka itu, tidak sanggup menahan siksaan malu. Sekarang di depan kelas ada dua makhluk yang berdiri menikmati guyuran sinar matahari. Bara, dan seorang pemuda ceking, Rizal, Nasir tidak begitu mengenalnya. Namun ekspresi wajahnya sangat kontras dibandingkan Bara, tampaknya Rizal sangat menikmati ini,
Insomnina

tidak ada penyesalan di matanya. Calon monster berikutnya gumam Nasir dalam hati. Permisi Bu kata Nasir lirih mengucapkan kalimat itu untuk yang kesekian kalinya. Masih ada 20 menit untuk mengerjakan ujiannya. Benar-benar hening sekarang. Bahkan suara kedipan mata pun sepertinya akan kedengaran. Beberapa menit kemudian terdengar suara orang bercakapcakap, Bara dan Rizal. Tampaknya mereka sudah akrab sekarang. Percakapan seorang monster dan seekor calon monster, itulah yang terlintas di benak Nasir. Satu-persatu siswa mengumpulkan lembar jawaban mereka, waktu terasa berjalan sangat cepat. Nasir berjuang keras sampai terengah-engah menuliskan setiap baris jawaban dari pertanyaan essay yang terakhir. Tara!! gumamnya dalam hati, akhirnya selesai tepat waktu. Diangkatnya dagunya, Rose baru saja mengumpulkan lembar jawabannya dan sedang menuju kembali ke mejanya. Dia benar-benar cantik batin Nasir, dadanya bergemuruh. Tiba-tiba Rose menatapnya, cepat-cepat Nasir menunduk
Insomnina

sambil mengemasi alat tulisnya, ini buruk, sialan, mengapa monster ini sangat cantik? Tanya Nasir dalam hati lalu berdiri sambil menggelengkan kepalanya. ***** Kamis Bel tanda masuk kelas sudah berbunyi, koridor sekolah mulai kosong, hanya beberapa siswa yang terlihat masih duduk-duduk di depan kelas, sepertinya mereka menganggap kelas seperti sangkar. Terlebih bagi seorang pemuda berambut cepak yang kelihatannya terlambat pagi ini, Nasir. Ia berlari melintasi koridor sekolah, tas di punggungnya yang kokoh berayun mengikuti irama tubuhnya. Papan nama Kelas I-B kini sudah terlihat, sepertinya masih ada beberapa siswa yang berdiri di pintu masuk, berarti Pak Eko, wali kelas mereka belum datang. Nasir mengurangi kecepatan larinya, keringat bercucuran di
Insomnina

pelipisnya, padahal pagi ini masih dingin. Nasir berhenti sejenak beberapa meter dari pintu, teringat kejadian kemarin, membuatnya enggan masuk kelas. Kyaaaaaaaaaaa.! Terdengat jeritan gadis-gadis menyusul tawa beberapa anak laki-laki, tiba-tiba kelas menjadi gaduh menyusul suara meja dan kursi yang berbenturan keras. Beberapa siswa keluar kelas, Nasir buruburu menghampiri ingin tahu apa yang sedang terjadi, beberapa siswa di kelas I-A melongokkan kepala dari jendela. Nasir sudah sampai di depan pintu dan sekarang di depannya beberapa meja dan kursi berhamburan, Mamad sedang terkapar di lantai, tangan kiri Bara merenggut kerah baju Mamad, tangan kanannya terkepal dan sepertinya ingin memukul. Sebelum pukulan itu melayang, seorang siswa tibatiba naik ke atas meja, Nah, Batman! Gue rasa itu tadi udah cukup, kasian hidungnya entar ngocor kalo ditambah lagi lalu siswa berbadan ceking itu melompat turun, menghampiri Bara dan menepuk pundaknya, seakan pawang
Insomnina

singa yang sedang beraksi. Ajaibnya Sang Singa ternyata menurut, beberapa siswa bertepuk tangan, Rizal yang tak lain adalah si pawang tersenyum lebar sambil mengangkat kedua belah tangannya seperti mengakhiri sebuah pertunjukan. Apa-apan ini? Crows Zero? Atau Sirkus? Nasir menggelengkan kepala. Beberapa siswa merapikan meja, Mamad hanya terdiam, merapikan seragamnya, lalu menepuk-nepuk celananya yang kotor. Beberapa temannya mendatanginya dan berbisik-bisik. Sang Singa menghela nafasnya, lalu duduk setelah didorong-dorong Rizal dengan paksa. Nasir memasuki kelas, melewati Mamad yang nampak berantakan terutama wajahnya, kalau dipikir-pikir wajahnya memang berantakan dari dulu, dan sekarang sudah seperti adonan dalam blender, Nasir menyusuri meja demi meja, baru sampai di depan meja Bara, Rizal menoleh sebentar lalu senyumnya mengembang. Bruakakakak Zorronya telat! Sayang sekali, ga sempet nonton Jaka Tarub melawan Batman!
Insomnina

Jadi gue mesti bilang WOW gitu? Seru Nasir dalam hati, sok kenal banget nih anak, pantas aja dia dan Bara jadi akrab. Nasir melewati Rizal dan Bara tanpa ekspresi dan tanpa sepatah kata lalu duduk seakan tidak ada sesuatu apapun yang terjadi. Ckck, teman-teman, Zorro lagi sariawan, jangan diganggu dulu ya, nanti kumisnya bisa berubah berubah jadi pedang, bruakakakakak! seru Rizal sambil berlari menuju mejanya, Ngomong-ngomong Pak Eko udah datang tuh! Azzzzzz Lagi-lagi aku jadi bahan ejekan, tapi biarlah selama itu tidak menyakiti bagian tubuhku gumam Nasir dalam hati. Selamat pagi, anak-anak Pagi, Pak.. Nah, sebelum mulai, mari kita berdoa bersama sesuai agama dan kepercayaan masing-masing dalam hati, berdoa dimulai! Hening.
Insomnina

Otak Nasir berputar cepat, mencerna apa yang telah terjadi pagi tadi, adegan demi adegan, Mamad tersungkur di lantai dan kerah bajunya dalam genggaman Bara. Nasir kembali memutar otak dan ingatannya. Pagi itu ada jeritan, lalu kursi berserakan. Nasir menggelengkan kepala, ah, bukan urusanku serunya dalam hati. Seperti biasa Pak Eko adalah guru yang membosankan, ceramah sepanjang waktu, kadang-kadang cuma membacakan teks di buku, lain waktu menyuruh siswa-siswi mencatat atau menyalin sesuatu. Lalu apa bedanya dengan membaca di rumah atau perpustakaan? Paling tidak Pak Eko harus mengadakan sesi tanya jawab, keluh Nasir dalam hati. Sambil bengong Nasir melayangkan pandangan ke seisi ruangan, di deretan depan adalah wajah-wajah yang sepertinya tidak asing dengan buku, mereka sangat antusias mendengarkan khotbah Pak Eko, seperti bunga kering yang sangat mengharapkan siraman air ilmu pengetahuan. Ada Aceng dengan kacamata tebalnya, Eka cewek berjilbab yang duduk satu meja dengan Heni, dia mengenal ketiganya saat
Insomnina

Opspek. Selebihnya dia tak tahu. Kemudian deretan selanjutnya di meja ketiga dari kiri ada Mamad and the gang, Nasir kembali bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi pagi tadi, kemudian bersikukuh bahwa itu tidak penting untuk diketahui. Hanya Mamad, itupun saat Opspek, selebihnya dia tidak kenal. Deretan selanjutnya adalah deretan Nah! Bahkan dia tidak familiar sama sekali dengan wajah-wajah mereka, bahkan jika tidak ada papan nama kelas mungkin dia ragu sekarang ada di kelas mana! Deretan keempat adalah meja yang kini dihuni Bara, tepat berada di depannya. Dia duduk sendirian, kursi di sebelah kirinya kosong. Di samping kanan mejanya Bara ada dua cowok, Nasir menggaruk kepalanya lagi, siapa mereka? Alien? Lalu di sebelah kanannya lagi ada dua orang cewek. Jiah, itu dia, monster yang kemarin menyambarkan kilat saat menatap matanya, tapi dia cantik, dan teman di sebelahnya juga lumayan. Entah kenapa si monster memalingkan wajahnya ke belakang! Astaga! Jangan-jangan dia merasa diperhatikan? Nasir buru-buru mengalihkan pandangannya,
Insomnina

ya ampun, aku tidak mau mati muda! serunya dalam hati, jantungnya berdegup kencang. Kini pandangannya beralih ke deretannya sendiri. Gedubrak! Ternyata ada satu orang cewek duduk sendirian di sampingnya! Hah? Apa-apaan ini? Bahkan adanya tetangga di sebelah meja tidak pernah aku perdulikan! Seru Nasir lagi. Selanjutnya meja kosong tanpa penghuni, lalu meja yang terakhir, Pawang Singa! Dan Sang Pawang sedang nyegir menatapnya! Nasir akhirnya memandang langit-langit kelas, sudah tiga bulan berlalu, dan dia menyadari bahwa belum ada satu pun dari seisi kelas yang benar-benar berinteraksi dengan dia. Nasir menggaruk kepalanya, apakah dia benar-benar tertutup? Kurang bergaul? Minder? Kalau dari segi ketampanan sepertinya aku tidak kalah dengan yang lain, sebuah kepercayaan diri tinggi. Nasir mulai mengkoreksi diri, akhirnya dia menemukan sesuatu, dia sangat sederhana, tidak stylish, bahkan seragam dan celana yang dipakainya lusuh, sepatunya butut, tasnya belel. Begitu juga dalam mata pelajaran, dia tidak pernah
Insomnina

menonjol. Nasir menangis dalam hati, lalu mengambil kesimpulan dengan cepat, aku tidak keren, aku anak miskin, dan yang terakhir korban insiden kumis, airmatanya jatuh. ***** Di akhir pelajaran Pak Eko mulai mengabsen, biasanya Nasir hanya memperhatikan namanya saja, tapi kini dia penasaran dengan nama seseorang, lalu memutuskan untuk memperhatikan absensi dari awal. Hingga namanya dipanggil nama orang yang dia inginkan belum juga disebut. Nasir.? Namanya dipanggil untuk kedua kalinya. Hahadir pak! sahutnya terkejut, dia terlalu berkonsentrasi menatap punggung seseorang. Rose

Insomnina

Seorang cewek mengangkat tangan kanannya sebentar tanpa berkata apa-apa, Pak Eko menatap cewek itu dari balik kacamatanya sejenak lalu melanjutkan absensi. Yes! seru Nasir dalam hati, tak disangka ternyata namanya di absensi berada tepat sebelum cewek tersebut. Oh, jadi Rose ya? Nama apaan tuh? Kenapa pendek banget? Keluhnya dalam hati, paling tidak dia mengetahui namanya. Nasir menghirup nafas lega kemudian menghembuskannya. Bel istirahat berbunyi, setelah mengucapkan salam Pak Eko bergegas meninggalkan ruangan. Mamad tiba-tiba berdiri, dan Bara juga seperti diberi aba-aba ikut berdiri. Nasir yang terkaget-kaget juga ikutan berdiri, tapi duduk lagi sambil memukul kepalanya. Goblok! Kayak pertunjukan dancer aja, Nasir menyumpah dalam hati. Tapi tidak ada sesuatu yang terjadi, Mamad dan teman-temannya meninggalkan ruangan kelas. Bara sepertinya kebingungan, lalu kembali duduk, tapi kemudian berdiri lagi meninggalkan meja, Rizal telah menunggunya di depan pintu. Saat-saat istirahat seperti ini
Insomnina

biasanya hanya beberapa orang yang tinggal dalam kelas, dan yang tidak pernah absen adalah Nasir, sendirian di pojok ruangan. Bruakakakak, hey Zorro, ngapain bengong aja setiap hari? Ayo gabung! Rizal memanggilnya, namun Nasir hanya tersenyum pahit, menelan ludahnya, lalu kembali tersenyum. Nasir bingung apa yang harus dilakukan, mungkin ajakan itu adalah basa-basi, tapi sekarang adalah saatnya untuk bergaul, pikirnya dalam hati. Ayo! Rizal kali ini tampak sungguh-sungguh. Umm Mungkin lain kali, ada yang mau aku kerjakan dulu sahut Nasir tiba-tiba sambil tersenyum, kali ini senyumnya sedikit manis. Rizal hanya mengangguk, Bara hanya menoleh sebentar lalu mereka berjalan meninggalkan kelas. Astaga! Apa yang aku lakukan?? Keluh Nasir dalam hati, lidah dan otaknya tidak bekerja sama. Akhirnya seperti biasa, sendirian dalam kelas, Nasir mengeluarkan buku catatan, mungkin lebih baik aku mengulang pelajaran
Insomnina

selanjutnya dulu katanya dalam hati. Sunyi. Beberapa siswa keluar masuk ruangan, sayup-sayup terdengar percakapan, namun Nasir tenggelam dalam kesunyian. Nasir mengangkat dagunya, teringat seseorang, Rose, namun meja Rose masih kosong, dia belum datang. Nasir menghela nafas, memelototi tulisan di depannya, lalu terdengar bunyi goretan, ah suara ini tak asing pikirnya, kemudian meneruskan membaca. Tiba-tiba Nasir tersentak! Sudah tiga bulan dia mendengar suara itu setiap kali istirahat! Goretan itu! Nasir memalingkan wajahnya ke samping kanannya. GEDEBRAKKK!! Nasir terjatuh dari kursinya, kaget bukan kepalang, ternyata selama ini ada seorang makhluk yang menemaninya dalam kelas, dan dia tidak menyadarinya! Mulut Nasir ternganga, untunglah yang dia lihat hanya manusia biasa, dan lebih untung lagi tidak ada seekor seranggapun yang sedang lewat lalu masuk ke mulutnya. Seorang cewek dengan rambut dikepang dua sedang duduk menggambar sesuatu tepat di samping mejanya. Cewek itu memalingkan
Insomnina

wajahnya lalu tertegun, kamu tidak apa-apa? tanya cewek itu dengan nada terkejut. Aaaaiiya Nasir tergagap, lalu membetulkan letak kursinya. Nasir mengelus dadanya, seperti baru melihat hantu di siang bolong. Hening. ***** Bruakakakakakakak!! suara tawa Rizal terdengar di kejauhan, tak lama Bara masuk menyusul Rizal di belakang, muka keduanya berseri-seri, habis dapat lotre?? Wah, nyesel lu Zor, tadi ga ikut, seru deh pokoknya kata Rizal mendekat. Zor? Hahahaha sekarang giliran Bara yang tertawa. Eh Bar, gue putuskan sejak hari ini gue mesti pindah duduk! // Oh ya? Pindah kemana? Ke akhirat? // Asem lu Bar, ya kesini lah! Di samping elu, bruakakakakak Menjijikkan! Seperti percakapan sepasang homo, ketus Nasir dalam hati, perutnya mual. Bara menjatuhkan
Insomnina

pantatnya di kursi, aroma rokok yang khas mengiringi tubuhnya saat dia merebahkan punggungnya di kursi. Benar, setiap hari selalu bau itu yang aku cium, bisik Nasir. Hahahaha, apalagi yang lu tunggu? Ambil tas elu! sahut Bara kemudian. Rizal bergegas mengambil tasnya, melompati beberapa meja dan tiba-tiba sudah duduk di samping Bara. Hallooo tetangga bruakakakakakak Zorro beneran sariawan kayaknya Bar, liat aja dari tadi cuma bengong mulu, mungkin mikirin kudanya yang hilang, bruakakakak! Rizal tertawa terpingkal-pingkal, menyusul Bara. Nasir mengepalkan tinjunya di bawah meja, ada asap yang mengepul dari kepalanya. Yah selama itu tidak menyakiti bagian tubuhku dengus Nasir dalam hati kemudian meregangkan kepalan tangannya. Eh Zor, tumben kelimis hari ini? kumisnya dikemanain? Zorro ga pake kumis ga macho loh, bruakakakakakkak Rizal mulai lagi.
Insomnina

Nah aku tak tahan lagi! Bagian tubuhku benarbenar tersakiti! Telingaku! Teriak Nasir dalam hati, seperti ada binatang buas yang meronta-ronta di dadanya ingin keluar! Mata Nasir memerah, terbakar amarah, binatang buas itu hampir lepas. Ia lalu berdiri, bel berbunyi, siswa-siswi berhamburan masuk. Rose! Dan teman semejanya memasuki kelas, Nasir terpana sebentar menatap wajahnya, sekarang ada keringat yang mengalir di pipi Rose, dan Rose sedang tersenyum riang, semua beban di hatinya tiba-tiba sirna, kamu begitu cantik, dan kecantikanmu menyejukkan hati ini, bisik Nasir. Mamad Cs memasuki kelas, memar di wajahnya terlihat jelas, bekas tadi pagi, rupanya dia dan Bara berkelahi (Emangnya ngapain? Main pedang-pedangan??) dan buah tangan Bara membekas di wajahnya, ck, salah memilih lawan, Bara adalah sosok monster batin Nasir, dia dapat merasakan hawa itu sejak pertama melihatnya. Dan tidak
Insomnina

menutup kemungkinan dia akan menjadi Mamad yang kedua pagi ini andai saja Rose tidak masuk di saat yang tepat, ah Rose, senyummu menyelamatkan aku hari ini, bisik Nasir. Suasana tiba-tiba menegang, sepertinya Rizal dan Bara menahan nafas, Mamad hanya duduk, dan begitu saja, seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Ada apa sebenarnya? ***** Hari ini terasa sangat singkat, suara-suara Rizal tak lagi mengganggu Nasir, bunga itu telah menyita perhatiannya seharian. Pak Eko mengakhiri pelajaran Matematika lebih cepat. Ingat, jangan buat keributan, jangan lupa kerjakan tugas yang Bapak berikan, terimakasih atas perhatian Pak tiba-tiba Nasir mengangkat tangannya. Iya? Maaf? Pak Eko mencondongkan kepalanya ke arah Nasir Umm Anu Pak Sepertinya Bapak belum mengabsen sahut Nasir dengan susah payah.
Insomnina

Saya sedang buru-buru, absen jam ini saya percayakan kepada kalian, OK, selamat siang anak-anak kata Pak Eko Selamat siang, Pak sahut mereka serentak, Pak Eko mengangguk lalu meninggalkan ruangan. Nasir merasa kecewa, dia hanya ingin mendengar nama itu disebut lagi. Kelas jadi ramai, masing-masing berbicara dengan teman semeja, berbeda dengan Nasir yang hanya di pojok seorang diri. Sebenarnya masih ada satu orang lagi yang senasip, dia sedang asik menggambar sesuatu. Tentu saja yang paling berisik adalah Rizal, apalagi sekarang dia duduk di depanku, telingaku harus dilindungi perisai sebagai antisipasi, keluh Nasir dalam hati. Mamad memalingkan kepalanya ke belakang. Cesss Atmosfir buruk itu datang lagi dan tiba-tiba memenuhi seluruh ruangan kelas. Mamad berdiri dari kursinya, melangkah ke depan, lalu berdiri menghadap siswa lain, hening sejenak, pidato?? Yang terjadi pagi tadi sangat memalukan, dan gue sangat menyesalinya Mamad akhirnya bersuara. Semua
Insomnina

mata tertuju kepadanya. Nasir mencoba menangkap maksud dan arah pembicaraan Mamad. Memalukan? Menyesali? Otak Nasir berputar cepat, Perkelahian >> Memalukan >> Menyesal, Nasir mengambil kesimpulan, Mamad sadar bahwa perkelahian berakibat buruk pada wajahnya! Gue minta maaf sama Nana, gue janji gak kan mengulanginya lagi, gak Nana aja, yang lainnya juga Mamad melanjutkan lalu terdiam sejenak. Nah? Nana? Yang mana namanya Nana? Nasir bertanya-tanya dalam hati sambil menebarkan pandangan ke seluruh ruangan, berharap menemukan cewek dengan tulisan Nana di jidatnya. Teman-teman Mamad bertepuk tangan, kelas menjadi riuh. Dan terakhir, gue ucapin terimakasih kepada Bara, makasih bro, lu udah ngingetin gue! Mamad mengakhiri orasinya. Rizal malah naik ke atas kursi sambil menunjukkan jempolnya. Mantaaaaaaaapp! Begitu seharusnya jadi lelaki! disambut gemuruh dan tepuk tangan dari para pemirsa se-tanah air.
Insomnina

Rizal turun dari kursinya, Itupun setelah dipaksa dan gue kasih naskah untuk dibaca, bruakakakakak kata Rizal sambil menepuk-nepuk bahu Bara. Nasir semakin bingung, Perkelahian >> Maaf kepada Nana >> Terimakasih kepada Bara karna sudah mengingatkan?? Ada apa.?? Nasir mencoba mengambil kesimpulan, Mamad tiba-tiba gila dan merasa bahwa dia adalah macan lalu menerkam Nana yang dikira kambing, lalu akhirnya Bara memukul Mamad dua atau tiga kali supaya Mamad sadar? Ckck EGP batin Nasir. Mamad menghampiri meja di depan Rose, menggaruk kepalanya dan mengucapkan sesuatu kepada seorang cewek yang duduk di situ, yang diajak bicara hanya menunduk dan mengangguk. Lalu Mamad beranjak menuju kursinya. Itu pasti Nana batin Nasir. teman di samping Nana berdiri lalu menarik Nana untuk berdiri, Nana masih tertunduk tapi menurut saja saat digiring oleh teman semejanya, mereka berdua berjalan mendekati meja Bara.
Insomnina

Kak Bara, makasih banget ya kakak emang benar-benar bisa diandalkan! kata temannya Nana berapiapi kemudian mencubit lengan Nana, Ayo ngomong?! tapi Nana diam saja dan malah semakin menunduk menatap lantai. Wahahahahaha Bara tertawa, Itu bukan apa-apa, spontanitas aja sebenarnya, wahaha Cium.. Cium.. Cium.. tiba-tiba serentak semua murid meneriakkan kata yang sama, tak salah lagi, Rizal provokatornya, anak ini sangat berbakat! Nana langsung berbalik dan berlari menuju mejanya, sekilas terlihat pipinya memerah menahan malu. Teman Nana tertawa lalu berjalan meninggalkan Bara. Anak muda zaman sekarang sangat membingungkan batin Nasir. Teman Nana menghentikan langkahnya lalu berbalik menatap Bara, Kak Bara, kalo butuh nomer HP Nana tinggal bilang ya kak katanya sambil mengedipkan mata.

Insomnina

Dina.!! Nana menjerit, mukanya merah padam seperti udang dicat Avian warna merah (mungkin maksudnya seperti udang rebus). Wahahahahaha seperti biasa Bara hanya tertawa. Bel berakhirnya sekolah berbunyi. Prospek lu cerah banget, Bar, bruakakakakak Rizal kembali menepuk pundak Bara, Eh Bar, lu pulang naik apa? Motor gue masuk bengkel nih Bara berdiri, ikut gue aja kalo begitu. Nasir merapikan alat tulisnya, enak banget? ke sekolah bawa motor, padahal SIM aja belum punya, Nasir memikirkan itu sambil menghela nafas. Mereka meninggalkan ruang kelas beriringan, menyusuri koridor sekolah, melewati kelas-kelas kosong dan kantor dewan guru. Akhirnya mereka sampai di tempat parkir, tiba-tiba Rizal memutar kepalanya ke belakang, Nasir hanya beberapa langkah di belakangnya. Eh Zor, lu pulang naik apa? Kayaknya kita ga pernah ketemu sepanjang jalan pulang? Ck, Zor lagi. Aku
Insomnina

pulangnya dijemput, kalo berangkat naik angkot sahut Nasir santai namun ada nada pedih dalam kalimatnya. Oh kalo begitu kami duluan, hati-hati di jalan ya bruakakakak kata Rizal, Bara hanya mengangguk dan tersenyum. Nasir melanjutkan langkahnya, menyusuri halaman, melewati gerbang sekolah, lalu bertingkah seolah-olah sedang menunggu seseorang atau sesuatu (misalnya helikopter yang tiba-tiba mendarat, mobil patroli yang kebetulan lewat, atau sukur-sukur ada mobil ambulan yang jemput). BRUUUMMMMMMM Bruakakakakakakak!! Dadah. Bara dan Rizal akhirnya berlalu. Tidak ada satupun angkot yang lewat, sekolah mereka berada di kawasan pegunungan alias jauh dari kota. Angkot hanya lewat pada pagi hari, kalaupun ada angkot jam segini berarti angkot carteran beberapa siswa yang menjadi langganan antar-jemput. Jarak dari sekolah Nasir ke terminal terdekat sekitar dua kilometer, dan jarak
Insomnina

dari sekolah ke rumah Nasir kira-kira enam kilometer. Nasir sudah terbiasa jalan kaki, bahkan jika tidak terbiasa pun maka sejak memutuskan masuk SMA Negeri 13 Kotabaru maka dia harus membiasakan diri, untuk menghemat ongkos, setiap rupiah sangat berarti baginya. Jalan raya sepi, sesekali sepeda motor dan truk melintasi jalan, benak Nasir melayang, Rose. Ck, Nasir menggelengkan kepala, mimpi di siang bolong. Nasir merogoh saku celananya, sebenarnya masih ada seribu rupiah, tapi kalo aku berjalan empat kilometer lagi berarti aku bisa menabung hari ini, desah Nasir lalu tersenyum. Matahari bersinar sangat terik, keringat mengucur di kening dan lehernya, haus. Tiba-tiba dia teringat adiknya di rumah, Nasir menyinggahi sebuah warung untuk membelikan sesuatu, rumahnya hanya sekitar dua kilometer lagi. Permisi.. Nasir memanggil penjaga warung, tapi tidak ada orang. Nasir menengok ke sebelah warung, ada bengkel, Permisi. yang punya warung mana ya?
Insomnina

tanya Nasir kepada seseorang yang hanya memakai singlet dan celana SMA, orang yang ditanya berbalik. Bara!! Nasir??? Astaga! Nasir terkesiap, ingin rasanya menghilang atau bersembunyi tapi sudah terlambat. Apa yang harus aku katakan?? Keluh Nasir dalam hati. ***** Jumat Pagi yang cerah. Nasir berjalan melalui koridor sekolah, wajahnya masih seperti biasa, tanpa ekspresi. Pikirannya melayang akan kejadian kemarin siang, Bara bersikeras mengantarnya pulang ke rumah, Nasir hanya bisa pasrah, bahkan Bara tidak banyak bertanya apa dan kenapa. Nasir melintasi pintu kelas, dilihatnya sebagian kursi masih kosong, diliriknya jam dinding, 06.47. Bara sudah ada di kursinya, sedang asik membaca sesuatu. Pagi Bar kata Nasir sambil tersenyum, selama tiga bulan ini Bara adalah manusia pertama yang disapanya
Insomnina

(biasanya Nasir menyapa tumbuh-tumbuhan, jangkrik, capung, dan beberapa hewan melata). Yo yo sahut Bara tetap konsen dengan bacaannya. Nasir meletakkan tasnya di meja lalu duduk di kursi. Nasir melirik ke samping kanan, hanya meja-meja dan kursikursi kosong, bahkan sampai ke ujung, dia seorang diri di deretan paling belakang. Nasir mengalihkan pandangan ke meja favoritnya, kosong. Beberapa menit kemudian Mita memasuki kelas, aha, pekik Nasir dalam hati, namun orang yang diharapkannya tidak juga muncul. Nasir mengeluh sejenak, mana Rose? Mungkin teman duduknya mengetahuinya batin Nasir, tapi itu tidak mungkin aku tanyakan, memalukan, lagipula aku tidak tahu nama teman Rose tersebut, pikir Nasir kemudian. Rizal memasuki kelas, wajahnya cerah seperti biasa. Bar, permisi Bar numpang lewat, badan lu tambah hari tambah bengkak aja, kebanyakan minum oli bekas sih! // Daripada kayak elu, cacingan! // Jiah, jangan pandang kurusnya donk! Yang penting gemuk otaknya! // Tapi
Insomnina

masih gemuk otak gue // Ea gemuk tapi ga ada isinya, BRUAKAKAKAK, eh, hari ini pengumuman kelas peminatan akademik kan? Lu milih apa? Katanya masih bisa pindah loh, mending ikut gue aja di kelas Bahasa, Bar! // Gak menantang, makanya otak lu cacingan, coba gue nih, mendaftar di kelas Matematika dan Sains, hahaha // Itu juga kalo lulus, eh Zor? Lu masuk mana? Ck sepertinya bakal dipanggil Zorro seumur hidup. Sosial sahut Nasir pendek. Huwaaa membosankan ikut gue aja Zor, di kelas Bahasa, ayolah, gue bakal kesepian tanpa elu sahut Rizal. Nasir hanya diam. SMA Negeri 13 Kotabaru tahun ini menjadi bahan uji publik kurikulum baru sebagai sekolah percontohan, sistem ini hanya berlaku pada kelas X, tidak ada pemilihan jurusan IPA, IPS, Bahasa, namun diganti menjadi mata pelajaran wajib, mata pelajaran pilihan (peminatan akademik), dan mata pelajaran pilihan bebas (sesuai minat dan bakat). Agak mirip dengan perkuliahan, karena masingInsomnina

masing kelas menuntut sejumlah jam pelajaran yang harus diambil, mirip-mirip SKS. Hari ini adalah pengumuman hasil ujian kelas peminatan akademik, ada tiga kriteria hasil ujian, lulus, pertimbangan, dan tidak lulus. Yang lulus dipastikan akan mengikuti kelas yang dipilih setiap hari Kamis dan Sabtu, yang masuk dalam pertimbangan, boleh mengulang atau tetap bertahan, dan yang tidak lulus tentu saja harus mengulang atau menyerahkan keputusan kepada guru. Walaupun namanya kelas pilihan, tetap saja diadakan ujian, hal ini karena keterbatasan ruangan, dikhawatirkan jumlah peminat tidak seimbang, mungkin saja salah satu kelas hanya berisi beberapa siswa sedangkan kelas yang lain kelebihan muatan. Bel masuk berbunyi. Rose tetap tidak muncul, Pak Eko memasuki ruangan, mengucapkan salam, dan memulai khotbah. Nasir merasakan ada sesuatu yang hilang dalam dirinya, entah apa, dia tidak bersemangat pagi ini, tatapan hanya tertuju ke suatu tempat, tempat yang seharusnya diisi
Insomnina

Rose. Dua jam berlalu begitu saja, Pak Eko mulai mengabsen. Hadir, Pak. Sahut Nasir lesu. Rose, Pak Eko berhenti sejenak, lalu seperti teringat sesuatu Oh iyaselanjutnya Rusdi.. Hadir, Pak! sahut Rusdi. Tidak ada penjelasan tentang Rose? Nasir jadi bertanya-tanya. Pengumuman hasil ujian kelas peminatan akademik sudah dipasang di Mading depan kantor, yang ingin mengulang diharapkan datang lusa, Minggu pukul 9 pagi ke sekolah, atau dinyatakan menyerahkan keputusan pilihan kepada guru. Sekian. Selamat Pagi anak-anak kata Pak Eko. Selamat pagi, Pak. Sahut siswa serempak. Bel istirahat belum berbunyi, Pak Eko sepertinya suka mengkorupsi waktu, kadang-kadang setengah jam lebih cepat. Siswa-siswi mulai membicarakan tentang kelas
Insomnina

pilihan mereka, suara mereka mendengung seperti sekumpulan lebah. Bel istirahat akhirnya berbunyi. Ayo Bar! tiba-tiba Rizal bersuara lalu menoleh ke Nasir, Zor, barengan yuk lihat hasilnya! Sebagian besar murid kelas X menyerbu papan pengumuman, Nasir berjalan dengan enggan di belakang Bara dan Rizal, Rizal hanya setinggi telinga Bara, jika mereka bertiga berjalan beriringan denagn urutan Bara>Rizal>Nasir, maka akan tampak seperti tangga menurun. Beberapa siswa mengeluh, sebagian yang lain menunjukkan wajah girang, puluhan siswi hanya bisa menunggu di barisan belakang karena tidak mau ikut berdesakan. Bara maju bagaikan Bulldozer menyeruak di antara kerumunan, menyusul Rizal di belakang, sepertinya itu memang ide Rizal. Bruakakakakak, gue lulus Bar, lu sama Zorro masuk pertimbangan, sudahlah, Minggu pagi ikut ujian kelas Bahasa aja, dijamin lulus! seru Rizal. Kelas Bahasa sedikit peminat. Nasir teringat sesuatu, Eh tunggu disitu
Insomnina

Bar! katanya kemudian menyeruak menghampiri Bara. Nasir mencari sebuah nama. Rose Lulus. Kelas wajib adalah kelas yang mereka tempati sekarang, mulai Oktober kelas wajib berlaku pada Senin sampai Rabu, hari ini yaitu Jumat selanjutnya akan jadi kelas pilihan bebas, dan akan terus begitu selama tiga tahun. Nasir merenung sesampainya di kelas. Rizal dan Bara mungkin sedang bersemedi di semak-semak, merokok. Rose masuk kelas Sains, jika aku memilih kelas lain berarti aku tidak akan melihatnya selama dua hari dalam seminggu, kalau dalam setahun ada 40 minggu efektif berarti (perhitungan ini terjadi dalam otak Nasir >> 2 hari x 40 minggu x 3 tahun = 240 hari). Tidak.! Nasir menjerit, Wulan yang sedang menggambar di sampingnya menoleh keheranan, akhir-akhir ini Nasir sering bertingkah aneh dan mendadak. Nasir mengerang membayangkan 240 hari tanpa Rose, belum lagi jika ditambah dengan kelas pilihan bebas. Aku harus mengambil keputusan, seru Nasir dalam hati.
Insomnina

Minggu

Insomnina