P. 1
Akses Berobat; Serial Diskusi Masalah Kesehatan

Akses Berobat; Serial Diskusi Masalah Kesehatan

|Views: 94|Likes:
...dimanapun fasilitas pelayanan kesehatannya, apakah itu di Rumah Sakit milik
pemerintah maupun milik swasta, dan bahkan di Puskesmas, selalu saja orang kaya (kuintil 5) menjadi pengakses terbanyak!

Apakah orang kaya cenderung sakit?
Atau orang miskin lebih punya daya tahan terhadap rasa sakit?
Jangan-jangan orang miskin gak punya cukup duit buat berobat?
Dimana letak equity-nya?
...dimanapun fasilitas pelayanan kesehatannya, apakah itu di Rumah Sakit milik
pemerintah maupun milik swasta, dan bahkan di Puskesmas, selalu saja orang kaya (kuintil 5) menjadi pengakses terbanyak!

Apakah orang kaya cenderung sakit?
Atau orang miskin lebih punya daya tahan terhadap rasa sakit?
Jangan-jangan orang miskin gak punya cukup duit buat berobat?
Dimana letak equity-nya?

More info:

Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/14/2013

pdf

text

original

Sections

Akses BEROBAT!

Serial Diskusi Masalah Kesehatan

AGUNG DWI LAKSONO

Health Advocacy

i

Akses BEROBAT!
Serial Diskusi Masalah Kesehatan

Penulis: Agung Dwi Laksono

©Health Advocacy Yayasan Pemberdayaan Kesehatan Masyarakat Jl. Bibis Karah I/41 Surabaya 60232 Email: healthadvocacy@information4u.com

Cetakan Pertama – Maret 2012 Penata Letak – ADdesign Desain Sampul – ADdesign ISBN: 978-602-98177-7-5

Hak Cipta dilindungi oleh Undang-Undang Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari Pemegang Hak Cipta.

ii

Pengantar
Puji Tuhan akhirnya buku ‘Akses BEROBAT!’ yang merupakan ke-empat ‘Serial Diskusi Masalah Kesehatan’ yang dapat diselesaikan. Diawali dengan keprihatinan bahwa bidang kesehatan lebih menjadi ‘mainstream’ pemerintah daripada menjadi milik masyarakat! Apalagi bagi anak muda. Untuk itu penulis mencoba membuat diskusi dengan bahasa ringan setiap senin pagi lewat media ‘Diskusi Senin Pagi’ di Facebook, media sejuta umat-nya anak muda. Meski juga ternyata anak ‘tua’ pun turut andil memberi banyak pencerahan menyegarkan dalam diskusi ini. Harapan bahwa bidang kesehatan bisa membumi, ngobrol tentang ‘pembiayaan kesehatan’ seenak ngomongin trend baju terbaru, diskusi ‘pelayanan kesehatan’ senyaman ngrumpi di mall, Sungguh penulis berupaya untuk itu! Saran dan kritik membangun tetap ditunggu. Salam facebooker!

Surabaya, Maret 2012

iii

iv

Daftar Isi
Pengantar Penulis Daftar Isi Orang Kaya, Penikmat Utama Fasilitas Pelayanan Kesehatan Kita! Sebaran Jarak menuju Fasilitas Pelayanan Kesehatan ...dan Pasien pun Berkata "emoh ahh!" 82,9% Penduduk Indonesia ke Bidan untuk Berobat! Privilege... Lebaran dan Mudik Pulang Paksa! Spritualitas dalam Pelayanan Kesehatan Bayangmu yang Berkabut... Jampersal di Lobar; Apa Memang Begini Mekanismenya??? iii v

1 11 21 29 47 63 71 79 89 97

v

vi

Orang Kaya, Penikmat Utama Fasilitas Pelayanan Kesehatan Kita!

Orang Kaya, Penikmat Utama Fasilitas Pelayanan Kesehatan Kita!

Monday, May 10, 2010 Morning all… Untuk diskusi pagi ini saya akan memaparkan komposisi masyarakat yang memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan rawat jalan di rumah sakit pemerintah, puskesmas dan rumah sakit swasta berdasarkan kuintil tingkat pengeluaran per kapita per tahun. Data ini dimunculkan masih dalam upaya untuk melihat kesiapan sistem pelayanan kesehatan kita dalam upaya mewujudkan universal coverage (jaminan kesehatan untuk seluruh masyarakat).

1

Serial Diskusi Masalah Kesehatan ‘Akses Berobat’ Data saya olah berdasarkan data dasar Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007. Berikut adalah komposisinya.

Persentase Penduduk yang Melakukan Rawat Jalan di Rumah Sakit Pemerintah Berdasarkan Kuintil Tingkat Pengeluaran Per Kapita Per Tahun

Persentase Penduduk yang Melakukan Rawat Jalan di Puskesmas

2

Orang Kaya, Penikmat Utama Fasilitas Pelayanan Kesehatan Kita!
Berdasarkan Kuintil Tingkat Pengeluaran Per Kapita Per Tahun

Persentase Penduduk yang Melakukan Rawat Jalan di Rumah Sakit Swasta Berdasarkan Kuintil Tingkat Pengeluaran Per Kapita Per Tahun

Berdasar tiga tampilan data di atas… dimanapun fasilitas pelayanan kesehatannya, apakah itu di Rumah Sakit milik pemerintah maupun milik swasta, dan bahkan di Puskesmas, selalu saja orang kaya (kuintil 5) menjadi pengakses terbanyak! Banyak hal bisa dipertanyakan dari tiga tampilan data tersebut… Apakah orang kaya cenderung sakit? Atau orang miskin lebih punya daya tahan terhadap rasa sakit? Jangan-jangan orang miskin gak punya cukup duit buat berobat? *Meski katanya sudah ditanggung Jamkesmas* Dimana letak equity-nya?

Saya sedang tidak ingin sendirian memahami latar belakang data ini. Monggo… sampeyan semua saya persilahkan ikut berpikir kritis mencermati data ini! 3

Serial Diskusi Masalah Kesehatan ‘Akses Berobat’

Comment

Dian Sastro Orang kaya rata-rata minim pengetahuan tentang obat-obatan tradisional dan & menjalani pola hidup dan makanan yang salah (kayak yang nulis), tapi orang miskin lebih back to nature dalam makanan/obat-obatan makanya jarang sakit (kalii)

Dian Sastro Harus dibenahi juga manajemen dan kualitas pelayanannya, percuma pengguna Askeskin kalau sering dipersulit dan dianaktirikan,orang miskin juga jadi malas kaleee. untuk yang Orang Kesehatan harusnya lebih mikir!

Dian Sastro Please deh, jangan bisanya cuma diskusi dan sosialisasi aja, masyarakat kelas bawah perlunya bukti bukan janji. Benernya masih banyak uneg-uneg tentang kenyataan yang ada, tapi kayaknya useless deh..!

Bas Aja Penjelasan mbak dian udah komplet, ngikut aja mas ...! Heheheh namun permasalahan mendasar seluruh komponen kesehatan maupun lainnya adalah komitmen untuk maju masih jauh dari harapan ...!

Ilham Akhsanu Ridlo Yang pertama, bisa jadi demikian pa kalau orang miskin tuh daya tahan tubuhnya lebih kuat karena 4

Orang Kaya, Penikmat Utama Fasilitas Pelayanan Kesehatan Kita! senantiasa merasakan sakit, tapi ngempet (menahan, red), kalau gak puarah banget gak ke Rumah Sakit. Yang Kedua, adanya kesenjangan pengetahuan untuk penanganan penyakit (kalau orang kaya pusing dikit dibawa ke RS)..heheheh...Yang ketiga tentu saja masalah biaya dan akses. Kalau yang ketiga ini mah udah jadi alasan formal..hihihi...Yang Keempat, kan "Orang Miskin Dilarang Sakit" jadi ya hanya orang kaya aja yang boleh sakit..wkwkwwk...Jadi kesimpulannya adalah masalah "Equity" baik pengelolaan pembiayaan, akses maupun pengetahuan antar "kuitil" tadi masih jauh gapnya..wis nomor-nomor selanjutnya monggo dilanjutkan..xixixi

Ratna Wati Bener, banget komentar-komentar di atas,...Orang miskin sepertinya lebih tahan daya tahan tubuhnya, mungkin karena keadaan yang membuatnya begitu, sedang Orang kaya, yang malah banyak mengkonsumsi segala jenis makanan, bahkan obat, malah rentan dengan segala jenis penyakit (gaya hidup turut mempengaruhi), sedang askeskin tidak menjamin Orang miskin mendapatkan pelayanan optimal, malah seringkali diabaikan, makanya orang miskin lebih tau dirilah dengan keadaan seperti ini,...makanya pula ga heran yang berduit yang mampu berobat! sepertinya equity belum berpihak pada Orang miskin tuh!

Weny Lestari asline podo wae pak, hasil kualitatifku kemarin terhadap orang di kota usia produktif dengan beda gender (Laki-laki/Perempuan), pendapatan (miskin/kaya), pendidikan (rendah/tinggi), kepemilikan Askes(ada/tdk), mereka manfaatin pelayanan kesehatan klo memang dah dirasa benarbenar sakit parah (sangat mnganggu aktivitas), sebelumnya dibiarkan 3-5 harian, diobati sendiri baik itu dengan cara alamiah ato obat bebas. Kota yang notabene Fasilitas Kesehatan banyak 5

Serial Diskusi Masalah Kesehatan ‘Akses Berobat’ ga menjamin masyarakat nggunain, ada pilihan-pilihan berdasar pengalaman, budaya, relasi sosial, performa pelayanan kesehatan, yang membuat mereka menggunakan pelayanan kesehatan sebagai alternatif pilihan terakhir di kala sakit sudah tak tertahankan.

Tya Mico ...Mungkin harus dibalik... Asuransi kesehatan wajib dimiliki oleh orang kaya, karena orang kaya kan lebih paham urusan surat menyurat....

Agung Dwi Laksono pada dasarnya, dengan universal coverage semua lapisan masyarakat ditanggung! bukan hanya yang miskin saja. Tapi yang ditanggung hanya biaya pelayanan, tetap saja perlu dipikirkan biaya di luar pelayanan bagi orang miskin. Misalnya biaya transport, percuma saja gratis bila letaknya jauh...

Rifmi Utami aku setuju sama pendapatmu mas...klo si kaya begitu mudahnya datang ke pelayanan kesehatan, tanpa mikir ongkos transport sehingga nggak perlu nunggu sakit-sakit amat. Sebaliknya terjadi pada si miskin, uang untuk makan susah, apalagi mau dihambur buat ongkos jalan. Sungguh kasihan. Belum lagi budaya di tempatku, yang milih berbondongbondong nganter ke pelayanan kesehatan, padahal mereka nggak sekedar nganter tok, tapi numpang makan, huhhh sebel...!! Mungkin perlu sistem yang komprehensif untuk menyikapinya, termasuk edukasi masyarakat tentang budaya yang sangat-sangat merugikan si sakit dan penting juga penelitian tentang opportunity cost dan lain-lain yang dikeluarkan untuk sakitnya seseorang... 6

Orang Kaya, Penikmat Utama Fasilitas Pelayanan Kesehatan Kita!

Sujud M Raharja wah wes (sudah, red) lengkap tuh. Tapi ada satu lagi, kapitalisme, sepertinya kesehatan sudah mengadop kapitalisme. Peningkatan Puskesmas jadi rawat inap plus spesialis dll, sadar ato tidak adalah bukti kapitalisme (promotif dan preventif ‘sedikit dilupakan’ padahal itu ruh Puskesmas), dan petugas pun senang karena banyak income, pembelinya ya siapa lagi? Orang miskin, tetap aja jadi korban.

Tite Kabul Data ini diambil berdasarkan wawancara dengan masyarakat, kalau tidak salah sudah direncanakan akan ada riset di fasilitas, sehingga analisa kelak mungkin bisa lebih komprehensif.

Dwee Why bisa juga pengetahuan orang tidak kaya itu tidak yakin atas pengobatan medis, masih lebih percaya ama dukun kampung dan sejenisnya (like Ponari Sweat, dll). orang di kampung biasanya takut disuntik, hehehehe... pake alat suntik spuit itu maksudnya.

Tya Mico ....Bisnis paling menggiurkan, ya bidang kesehatan... Biar mahal pasti dikejar...biar cuma mitos pasti diburu...hehe..ingat Ponari..??? ...Yach, kalau ada yang mau beramal dibidang kesehatan pastilah dia berhati mulia....

7

Serial Diskusi Masalah Kesehatan ‘Akses Berobat’

Femmy Skotia *just be a good listener this time. Not in the mood to give some comment*

Evi Sulistyorini cross check dengan asuransi kesehatan yang biasa dimiliki orang kaya (biasanya mempunyai lebih dari satu asuransi), karena merasa sayang mensia-siakan pembayaran per bulan ke asuransi, maka setiap merasa sakit walaupun sepele, sebagian besar langsung berobat ke pelayanan kesehatan, bahkan karena sistem dari asuransi bisa double claim maka jika dia sakit, malah dapat uang cash dari asuransi yang lainnya.... *beruntung karena sakit*

Christine Indrawati wis, sip kabeh komen ne. Sekali ini ngikut wae..cuma tambahan bahwa semakin hari 'kesehatan' menjadi ladang bisnis yang sangat subur yang perlu diantisipasi agar tidak membuat 'sehat' itu semakin mahal..

Evie Sopacua semua yang udah komen oks banget.. nambahi info Dian Sastro dan mbak Wenny, memang saat ini menurut WHO, selfcare meningkat sehingga orang cenderung ke RS ketika sudah parah. Untuk orang kaya maybe no problem..but untuk orang miskin? seperti kata Tya Mico, bisnis paling menggiurkan, maka kabupaten/kota dan kecamatan aja, ramerame mendirikan RS.. dan RS jadi sumber PAD.. can you imagine that? Untuk orang miskin yang cenderung ga ngerti prosedur dan birokrasi persuratan Jamkesmas and all like that.. wegah (gak mau, red) ke RS karena ribet. Kisah seorang lurah di Jember yang sangat care kalo warganya sakit, adalah 8

Orang Kaya, Penikmat Utama Fasilitas Pelayanan Kesehatan Kita! mengantarnya ke RS dan mengurusi segala persuratan terkait orang miskin yang cenderung dipersulit (wawancara dengan saya), maka jangan heran kalo orang miskin emoh ke RS, selfcare aja, hanya ini menjadi tugas teman-teman yang dekat dengan masyarakat (puskesmas, puskesmas pembantu, poskesdes, polindes, etc) untuk membantu mengarahkan kepada selfcare yang tepat sepertt herbal medicine, jamu yang sudah teruji, dll. krn menurut WHO, selfcare adalah suatu cara pemberdayaan masyarakat yang membuat mereka faham tentang sehat dan sakit, sesuai kondisi mereka (local specific), yang pingin mendalami sila masuk situs WHO en download, (coz maybe i'm wrong karena bahas inggris yang 'salah faham' dan ini bisa jadi materi diskusi yang lain).. so ponari sweat maybe one kind of selfcare juga but on the wrong side.. itu yang perlu dijelaskan dalam memahami selfcare.. hehehe.. melenceng ya..biarin ah..

Farida Handayani Skm Masyarakat miskin memang jarang ke Puskesmas karena ngempet (menahan, red) kalau sakit hehehe...

9

Serial Diskusi Masalah Kesehatan ‘Akses Berobat’

10

Sebaran Jarak Menuju Fasilitas Pelayanan Kesehatan

Sebaran Jarak menuju Fasilitas Pelayanan Kesehatan

Monday, May 3, 2010 at 5:36am

Minggu lalu.. sebelum saya bertolak mengikuti rapat koordinasi Riskesdas di Balikpapan, saya mampir Jakarta untuk mengikuti roundtable discussion yang diselenggarakan AUSaid. *terima kasih bu lia undangannya* Diskusi digelar dalam upaya mewujudkan universal coverage (jaminan kesehatan semesta, jaminan kesehatan untuk seluruh lapisan masyarakat) di Indonesia. Dengan undangan yang cukup beragam melibatkan pakar, lembaga donor, NGO, dan juga beberapa penggiat bidang kesehatan. Saya tak hendak memaparkan tentang proses maupun hasil diskusi. Saya hanya akan memaparkan data yang saya punya yang lebih merupakan evidence base yang riil terjadi dalam 11

Serial Diskusi Masalah Kesehatan ‘Akses Berobat’ lingkup sistem pelayanan kesehatan kita. Data ini merupakan data hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2007-2008.

Sebaran Jarak Rumah Tangga ke Pelayanan Kesehatan

Persentase Rumah Tangga Menurut Jarak ke Sarana Pelayanan Kesehatan berdasarkan Tipe Wilayah (Pedesaan-Perkotaan)

Kalo dilihat dari gambar di atas… masih ada 8,9% penduduk kita di pedesaan yang untuk mencapai fasilitas pelayanan kesehatan menempuh perjalanan yang lebih dari 5 km. sedang di perkotaan memiliki persentase yang jauh lebih baik.

12

Sebaran Jarak Menuju Fasilitas Pelayanan Kesehatan

Persentase Rumah Tangga Menurut Jarak ke Sarana Pelayanan Kesehatan berdasarkan Kuintil Tingkat Pengeluaran

Sedang bila jarak akses dilihat berdasarkan kuintil tingkat pengeluaran rumah tangga menjadi lebih menarik lagi! Coba perhatikan hanya pada persentase yang memiliki jarak tempuh lebih dari 5 km. Pada gambar tersebut menunjukkan gradasi persentase yang justru semakin miskin (kuintil 1) menjadi semakin besar persentasenya. *bingung? belon keliatan yak? Oke deh… saya pindahin aja yak gambarnya…*

13

Serial Diskusi Masalah Kesehatan ‘Akses Berobat’

Persentase Rumah Tangga Menurut Jarak Ke Sarana Pelayanan Kesehatan >5 km berdasarkan Kuintil Tingkat Pengeluaran

Naaahhhh! Keliatan bukan?!! Masih menjadi masalah besar bagi kita soal equity sebaran fasilitas pelayanan kesehatan yang tersedia. Masih banyak bukan yang musti dibenahi dan dipersiapkan sebelum benar2 menerapkan universal coverage jaminan pelayanan kesehatan! *** Salah seorang pakar yang hadir, Prof Hasbullah, juga menggunakan data ini untuk mengkounter keraguan akan ketersediaan fasilitas pelayanan kesehatan, meski secara biaya ato perduitan bukanlah sebuah masalah. Prof Hasbullah berkelit bahwa masyarakat yang memiliki akses jarak ke fasilitas pelayanan kesehatan lebih dari 5 km hanya kurang dari 10 persen. Tapi menurut saya pak Hasbullah masih kurang jeli mengamati data yang dikumpulkan melalui Riskesdas ini. 14

Sebaran Jarak Menuju Fasilitas Pelayanan Kesehatan Sarana pelayanan kesehatan yang dimaksud dalam instrumen Riskesdas meliputi Rumah Sakit, Puskesmas, Puskesmas Pembantu, Dokter Praktek dan Bidan Praktek. Puskesmas pembantu (pustu) di sebagian besar wilayah kita (pedesaan) hampir tidak tersedia tenaga medis (dokter), apalagi bidan praktek. Jelas sekali bahwa persentase jarak ke fasilitas pelayanan kesehatan ini menjadi bias bila benefit package (paket manfaat) universal coverage-nya adalah ke pelayanan kesehatan sesuai dengan regulasi ato kebijakan yang ada, terutama UU kesehatan maupun UU praktek kedokteran. jangan tertipu dengan jargon perluasan akses bila ternyata... hanya akses pada pelayanan kesehatan yang tidak berkualitas. udah yak.. udah siang! mau ke bandara dulu.. ntar ketinggalan pesawat kan gak lucu!

15

Serial Diskusi Masalah Kesehatan ‘Akses Berobat’

Comment

Feni Novikasari Gak lucu karena argumentnya kuraaaaaang..

Mujiyanto Sadali Sayang yah..coba Riskesdas dilengkap dengan GPS (Global Positioning System) tidak hanya bentuk tabular yang disajikan tapi bisa dilihat jarak dan juga distribusinya dalam bentuk Peta....

Dyah Yusuf Hemmm... kok desa siaga tidak disebut? Poskesdes juga memberikan yankesdas lho... oh iya Riskesdas 2007 belom ada Poskesdes ya... semoga desa siaga dan poskesdesnya akan menggoncang grafik Riskesdas 2010 secara signifikan... ;)

Evi Sulistyorini di daerah terpencil terutama diluar Jawa, tenaga kesehatan (yang basicnya tidak berhubungan dengan perawat ato dokter), bagi masyarakat sekitar yang penting dia kerja di pelayanan kesehatan, sewaktu-waktu akan dimintain pertolongan untuk hal-hal yang urgent dalam perawatan kesehatan, misal melahirkan, pengobatan orang sakit. so ga heran kalo teman-teman dari kesehatan lingkungan, gizi, dll pinter nyuntik jika mereka ada di tempat terpencil.

16

Sebaran Jarak Menuju Fasilitas Pelayanan Kesehatan

Evi Sulistyorini Mas Muji: setuju mas, maju terus pemetaan kesehatan... (aku pengen ngangsu kawruh dengan njenengan ki).

Agung Dwi Laksono @feni; weww.. ini cuman pancingan buat diskusi non. Loe pelototin datanya dan komen nyang pedes, nti aku counter dengan argumen dari Mataram. selak kepancal pesawat ki! @muji; mungkin bisa diusulkan pada Rifaskes (Riset Fasilitas Kesehatan) 2011. Atau usulin proposal ke AUSaid untuk pemetaan fasilitas pelayanan kesehatan untuk daerah terpencil dan daerah terluar. Aku mau tuh jadi enumeratornya! Pulau Talaud juga oke..

Agung Dwi Laksono @dyah; Poskesdes sudah ada pada Riskesdas 2007. Cuman.. lagi-lagi tenaga yang tersedia bukannya tenaga medis seperti yang diminta benefit package universal coverage. Seperti saya ingatkan sebelumnya.. 'jangan tertipu jargon perluasan akses' yang ternyata bukan akses pada pelayanan kesehatan yang benar. Apa gak akan menambah panjang daftar tenaga kesehatan (perawat) yang masuk penjara? @evi; inilah Indonesia kita! dan betapa aku mencintainya...

Ilham Akhsanu Ridlo ada bangunannya tapi yang Nyuntik pak mantri, yang Ngasih Penyuluhan Bu Bidan, yang yang yang itu ini gak ada...yang sama juga lontong..eh bohong

17

Serial Diskusi Masalah Kesehatan ‘Akses Berobat’

Ilham Akhsanu Ridlo @Papa dan Pak Muji: beli aja pak GPS Garmin Nuvi. Hehehe.. coz peta Indonesia lengkap sampek laut-lautnya udah ada dan tersedia (www.navigasi.net) ...tinggal melengkapi dengan fasilitas kesehatan..

Didik Budijanto kalo menurut Mas Agung kuesionernya Riskesdas tentang akses pelayanan kesehatan masih bercampur antara RS, Puskesmas dan jajarannya ke bawah... yo emang repot yach untuk mengindikasi kualitas pelayanan kesehatan, karena khan beda tuh standart kualitas masing-masing level pelayanan kesehatan. Untuk sementara kita 'berasumsi’ aja dulu mengenai data tersebut bahwa sing endi sing dibayangkan ama si respondennya..... Insyaallah di tahun 2011 nanti RISET FASILITAS KESEHATAN bisa berjalan lancar dan disinilah level-level pelayanan kesehatan bisa terevaluasi dengan baik tanpa mencampuradukkan satu dengan yang lainnya>>>> Met ketemu di Bandara Yo... kita diskusi Manajemen Data dan jadual-jadual TC

Rachmad Pg Soal akses (jarak dan waktu), yang penting dilihat juga adalah fasilitas sarana jalan dan penerangannya. Meski kurang 5 km, tapi kalo jalannya gak bagus, lampu belum ada jadi masalah juga.... Dengan kata lain, soal universal coverage juga perlu lihat aspek HL Blum, karena aku khawatir sudah ada anggapan bahwa dengan universal coverage punya korelasi positif terhadap derajat kesehatan, padahal itu baru 1/4 dari upaya. Universal Coverage bukan tujuan akhir, ini baru awal dari sebuah kerja besar, dan universal coverage harus dilakukan dengan kondisi 'apa yang kita miliki sekarang'... 18

Sebaran Jarak Menuju Fasilitas Pelayanan Kesehatan

Siswanto Darsono Semakin ke arah kuintil 5 maka akses jarak yang lebih 5 km, semakin kecil persentasenya. Artinya, ya orang kaya pasti membangun rumahnya tidak pada lokasi ‘remote area’ yang jauh dari pelayaan kesehatan. Ato, sebaliknya begitu ada lingkungan (perumahan orang kaya) pasti ada dokter praktik ato bidan praktik yang membuka jasanya. Saya kira ini hukum supply dan demand (permintaan dan penawaran). So, agar terjadi equity dalam pelayanan kesehatan, ya "puskesmas keliling" harus digalakkan lagi ketimbang harus bangun pustu-pustu baru. Bagaimana menurut teman2?????

Rachmad Pg Soal bahwa dilakukan bertahap, mengambil sasaran terbatas, its okay... perdebatan kualitas akan berujung pada idiom telur dan ayam. Harus diakui persoalan Indonesia tidak sekedar geografis, tapi lebih luas lagi, terutama moral hazards penguasa. Semua itu harus berjalan seiring dengan agenda penuntasan KKN, good governance, dan tentu saja paradigma sehat....wallahu alam....

Rachmad Pg Pak Sis ; banyak jalan menuju Roma! asal punya komitmen...

Mujiyanto Sadali @Pak Ilham : Untuk kegiatan semacam kami pernah melakukan kebetulan sudah memiliki GPS juga dan data Peta. Kami pernah melakukan di suatu kabupaten, mulai pemetaan Puskesmas, Pustu, Polindes, lengkap dengan data atribut dokkter, perawat...Untuk GPS Nuvi lebih ke navigasi Pak Ilham. 19

Serial Diskusi Masalah Kesehatan ‘Akses Berobat’

Farida Dwi Handayani Terima kasih Pak Agung..wah, universal coverage jaminan kesehatan juga harus diikuti dengan jaminan yang lain, seperti bidang transportasi misalnya, kalau jalan mulus dan transportasi mudah biar layanan 'sedikit jauh' akan tetap tercapai dengan cepat. Bidang pendidikan juga pengaruh besar. Jangan-jangan ada pustu di depan mata tapi lebih percaya dukun!! Hehehe...

Christine Indrawati aku agak apatis tentang penyediaan pelayanan kesehatan yang sesuai standar, ada tenaga medisnya, di Indonesia saat ini ya. Cuman aku yakin bahwa dengan semakin banyaknya produksi tenaga medis, akan terjadi penyebaran tenaga medis yang semakin mendekat pada masyarakat, entah berapa tahun lagi hehehe.. setuju dengan Pak Sis untuk membangunkan 'pusling' lagi, sekaligus tenaga medis memberi pendidikan kesehatan pada masyarakat secara langsung.

Sekar Jedija yang di lapangan boleh usul ba..bi..bu...be...bo...keputusan tetep ada diatas, kalau yang di atas ga ambil tindakan... ya wis... asik... besok bikin Riskesdas lagi, Riskesdas 2007 sudahkah kelihatan tindakannya, merubah image penduduk apalagi yang di pelosok ga gampang bapak-bapak dan ibu-ibu... apalagi prasarana tidak menunjang... gimana mau ditunjang orang buat bancakan di kota sama Gayus-Gayus. Tengkiu...

20

...dan Pasien pun Berkatan “emoh ahh!”

...dan Pasien pun Berkata "emoh ahh!"

Monday, August 23, 2010 at 5:03am Dear all, Bila minggu lalu kita berdiskusi tentang fenomena pasien pulang paksa menjelang lebaran, maka kali ini kita membahas fenomena yang justru lebih parah lagi. Yaitu pasien yang menolak rawat inap! Pasien yang menolak kebanyakan adalah pasien rumah sakit yang berobat di klinik spesialis, meski juga ada beberapa yang berada di klinik umum. Bahkan dalam catatan Juliwati Surya (2000) di klinik spesialis anak sebuah rumah sakit di Surabaya angka penolakannya mencapai 58,9%! Sebuah angka yang cukup fantastis untuk diabaikan begitu saja, dan tentu saja harus dicari solusi pemecahannya. Karena sekali 21

Serial Diskusi Masalah Kesehatan ‘Akses Berobat’ lagi, resiko secara epidemiologis dengan ketidaktuntasan pengobatan secara individu bisa berdampak sangat besar terhadap kesehatan masyarakat secara luas. Saya tidak lagi peduli bahwa penolakan tersebut terjadi di rumah sakit swasta dan atau milik pemerintah, karena toh akibatnya akan sama saja! kesehatan masyarakat secara luas yang menjadi target resikonya.

FAKTOR PASIEN
Banyak hal dari sisi pasien yang turut mempengaruhi sebuah keputusan menolak untuk dirawatinapkan. Pertimbangan paling utama dari sisi pasien adalah masalah yang sangat klasik... duit! 22

...dan Pasien pun Berkatan “emoh ahh!” yang dalam bahasa ilmiah sering dipermanis dengan penyebutannya sebagai masalah sosial ekonomi. Masalah keuangan tersebut adalah utama dan paling sering dijadikan sebagai alasan penolakan untuk rawat inap. Meski juga setelah dilakukan pendalaman banyak terungkap faktor lain yang turut andil dalam penolakan tersebut. Beberapa diantaranya adalah persepsi terhadap penyakit, referensi, dan juga pengalaman rawat inap sebelumnya.

FAKTOR RUMAH SAKIT
Bila dari sisi pasien faktor paling utama dan paling sering adalah masalah duit, maka faktor penolakan dari sisi rumah sakit adalah faktor tarif! Sama saja bukan??? faktor duit!!! bwakakak... Tarif rawat inap rumah sakit sebagai masalah utama juga tak lepas dari faktor lain yang turut menjadi kambing hitam. Diantaranya adalah faktor kualitas pelayanan, prosedur di rumah sakit yang mbulet, dan juga komunikasi dokter-pasien yang kurang komunikatif.

FAKTOR LINGKUNGAN
Dalam beberapa tahun terakhir, faktor lingkungan yang paling dominan menjadi kambing hitam adalah krisis ekonomi. Sedang faktor lain yang ikut berperan yang ternyata sangat Indonesia banged adalah masalah geografis, yang banyak sekali tercermin dalam hal lokasi dan transportasi. *** 23

Serial Diskusi Masalah Kesehatan ‘Akses Berobat’ Dalam beberapa hal sebenarnya fenomena ini sudah terwakili dalam diskusi kita beberapa waktu lalu. Yaitu tentang aksesibilitas pelayanan kesehatan! Dalam hal ini dominasi akses secara pembiayaan yang justru jauh lebih dominan daripada akses secara fisik (geografis & transportasi). Solusinya??? Beberapa faktor dalam skala kecil bisa diupayakan sendiri oleh rumah sakit. Misalnya dengan perbaikan kualitas baik secara teknis medis maupun kualitas secara pelayanan sebuah jasa. Dengan mengikutkan para pemberi layanan pengobatan (dokter, dokter gigi, perawat, bidan, dll) dalam 'sekolah kepribadian' mungkin bisa menjadi resep yang sangat mujarab dalam hal pelayanan. Hehehe... Tapi dalam skala besar, saya rasa perlu perbaikan secara sistemik. Terutama dalam hal pembenahan sistem pembiayaan kesehatan. Dan saya rasa solusinya teuteub saja sama... jaminan semesta!

24

...dan Pasien pun Berkatan “emoh ahh!”

Comment

Momo Sudarmo Panas setahun terhapus hujan sehari... Itu faktor utama dalam masyarakat menengah kebawah : mengumpulkan uang dengan susah payah (itupun tidak semua bisa ada sisa untuk dikumpulkan), harus rela "dirampok" sebagai beaya rawat inap...

Sutopo Patria Jati kira-kira dengan jaminan semesta pun harus ada beberapa tahap/PR yang mesti dilewati... mulai dari penjabaran dan operasionalisasi terhadap berbagai bentuk regulasi (setelah UU SJSN tahun 2004 diluncurkan sampai dengan sekarang nampaknya belum sepenuhnya "megar" payungnya), hal ini terkait juga dengan benturan kepentingan diantara para player utama dari SJSN itu sendiri ya? Sisi lain adalah komitmen anggaran dan pengalokasiannya (sesuai UU Kesehatan 2009) jika sumber sudah ada, jumlah sudah "mencukupi" maka yang kemudian dipertaruhkan adalah "ketepatan pemanfaatan" dari booming dana untuk sektor kesehatan... jangan sampai salah milih sasaran prioritas, salah strategi dan banyak dimalingi lagi :)

Sudarto Hs Solusinya ada pada 3 pelaku: Pelaku Atas, Pelaku Menengah dan pelaku Bawah...Visi dan Misi terhadap kesehatan masyarakat sudah aplikatif atau masih sekedar slogan saja...

25

Serial Diskusi Masalah Kesehatan ‘Akses Berobat’

Feni Novikasari jangankan rawat inap..minum obat aja aras-arasen (malas, red) kikikik...

Rifmi Utami memang sepertinya masalah terletak di duit alias "pembiayaan"...mulai dari sekedar merespon kalimat "orang miskin dilarang sakit" (mampu dan mau bayarnya tanda tanya, tarif tak terjangkau karena menetapkannya asal-asalan, dll) sampai dengan "keramahan petugas yang minim" (remunerasi tak berbasis kinerja, penetapan gaji asal-asalan pula)... Sungguh suatu hal yang sebenarnya harus kita perinci akar masalahnya dan ditangani komprehensif... Entah...hal tersebut sudah dimulai atau belum, aku juga terkadang bertanya pada diri sendiri... apakah aku turut berperan "positif" atau "negatif"...terkadang aku kebingungan sendiri menjawabnya...

Ilham Akhsanu Ridlo tuh kan...jamkesmas semesta dah... mau ya mau harus mau gitooo... pa anak-anak FKM yang pada mau skripsi gimana kalau neliti masalah dari diskusi senin pagi?? ntar minta data awalnya ke papa? hehehehe.. seurius nih pa..

Sulistyawati Itheng serius meneh...

Langit Kresna Hariadi sekali sekali ya serius ta Bu Sulis Itheng, aja sing santai thok. 26

...dan Pasien pun Berkatan “emoh ahh!”

Sulistyawati Itheng klo diskusi dengan Agung biasane saya serius terus kok, ni wis kesel (capek, red) seriusnya...

Langit Kresna Hariadi serius kii ning pipi kaku ya?

Sulistyawati Itheng bathuk kok ya melu panas...

Agung Dwi Laksono jaminan semesta memang bukan segalanya! tapi sepertinya menjadi entry point yang punya daya ungkit sangat besar dalam pembenahan sistem pelayanan kesehatan kita. Bila disinyalir akan melahirkan buaya-buaya baru? itu sudah pasti akan terjadi, itu sangat Indonesia banged! hehehe...

Sudarto Hs nek aku batuke sing kaku...pipine panas

Sulistyawati Itheng SD : hahahaa...haaaa itu harus rawat inap ya Gung???

Agung Dwi Laksono gak usah mak! bawa ke panti pijet aja, ntar panasnya bisa pindah ndiri.. hihihi.. 27

Serial Diskusi Masalah Kesehatan ‘Akses Berobat’

Sudarto Hs Mung gari sing loro nggon opo... nek otot keseleo... panas kabeh Mas Agung...

Dwee Why kurang kesadaran masyarakat terhadap kesehatan. Mestinya fenomena seperti itu patut diketahui hal-hal yang dapat menjadi resiko (seperti yang udah dibahas di 'Pulang paksa'). Sekarang sudah banyak jaminan kesehatan yang bisa membantu permasalahan pembiayaan (jamkesmas, jamkesda, rujukan tidak mampu), walau dalam manajemen pengelolaannya masih belum jelas sejelas-jelasnya tapi itu yang jadi tantangan bagi kaum manajemen RS & pemerintah untuk dapat mengurangi faktor yang jadi pembahasan terutama tentang biaya. huh hah huh hah..... gak sempat narik napas. hehehehe....

Christine Indrawati kayake masih butuh waktu 10-15 taon lagi agar masyarakat, utamanya kelas menengah ke bawah, untuk menyadari pentingnya asuransi kesehatan, ato apapun namanya deh.. jadi saat ini yang bisa dilakukan ya masih panjang mulut menjelaskan tentang penyakitnya dan konsekuensinya kalo gak opname.

28

82,9% Penduduk Indonesia ke Bidan untuk Berobat!

82,9% Penduduk Indonesia ke Bidan untuk Berobat!

Monday, May 24, 2010 at 5:45am

Dear friends, Kali ini kita coba membedah salah satu andalan Kementerian Kesehatan dalam pelayanan kesehatan ibu dan anak yang berbasis UKBM (Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat), yaitu Polindes (Pondok Bersalin di Desa). Saat ini, menurut pengakuan Bapennas, setiap desa atau kelurahan di seluruh Indonesia, minimal tersedia 1 tenaga bidan. Tenaga bidan adalah tenaga utama pelayanan kesehatan ibu dan anak di polindes. Berdasarkan hasil survey Riskesdas 2007-2008 (Riset Kesehatan 29

Serial Diskusi Masalah Kesehatan ‘Akses Berobat’ Dasar), dari seluruh penduduk yang tinggal Indonesia, hanya sebesar 21,9% yang memanfaatkan Polindes (Pondok Bersalin di Desa) atau bidan desa. Untuk daerah perdesaan yang memanfaatkan sebesar 25,8%, sedang untuk daerah perkotaan lebih kecil lagi, hanya sebesar 15,6% dari seluruh total penduduk. Yang mengejutkan adalah… dari seluruh yang memanfaatkan Polindes atau bidan desa itu, sebesar 82,9% memanfaatkannya untuk pengobatan! Untuk berobat!!!

Kompetensi Bidan Bidan dididik dalam kompetensi sebagai pemberi layanan asuhan kebidanan, sebagaimana perawat yang dididik dalam kompetensi sebagai pemberi layanan asuhan keperawatan. Tidak ada dalam kurikulum sekolah kebidanan yang menunjukkan kompetensi bidan dalam hal pengobatan. Sekali lagi, tidak ada pelayanan pengobatan dalam kamus kompetensi bidan!

30

82,9% Penduduk Indonesia ke Bidan untuk Berobat!

Bagaimana bisa terjadi?
Realitas ini bukan baru saja terjadi, sudah belasan atau bahkan puluhan tahun sejak tenaga bidan didistribusikan ke seluruh pelosok Republik ini. Pendistribusian tenaga bidan sejatinya adalah dalam upaya penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) di Republik ini, yang pada saat itu, menunjukkan angka tertinggi di wilayah ASEAN atau bahkan Asia. Saat ini Angka Kematian Ibu maupun Angka Kematian Bayi sudah jauh lebih berkurang, keadaan sudah jauh lebih baik, meski… tetap saja tertinggi di wilayah ASEAN! Dengan kebijakan awal bertarget satu desa satu bidan, membuat distribusi tenaga bidan merupakan distribusi tenaga kesehatan paling merata di negeri ini. bidan tersedia sampai ke pelosok negeri. Tenaga bidan, bisa dibilang adalah tenaga kesehatan yang paling dekat dengan masyarakat. Yang juga secara otomatis merupakan tenaga andalan Puskesmas bin Kementerian Kesehatan dalam pensuksesan program-programnya di lapangan. Kedekatan inilah yang membuat bidan bisa diterima masyarakat dengan mudah. Image bidan sebagai salah satu petugas Puskesmas, dan image bahwa petugas Puskesmas bisa nyuntik tau mengobati masih begitu kental di masyarakat kita. Bukan hanya di perdesaan, tapi juga di perkotaan. Terbukti 77,9% penduduk perkotaan yang 31

Serial Diskusi Masalah Kesehatan ‘Akses Berobat’ memanfaatkan pelayanan bidan, memanfaatkannya untuk meminta pengobatan. Sedikit lebih kecil dari penduduk perdesaan sebesar 84,8% yang memanfaatkan pelayanan bidan untuk pengobatan.

Pelanggaran Undang-undang Mau tidak mau, suka tidak suka… realitas ini adalah pelanggaran undang-undang. Tenaga bidan melaksanakan kegiatan yang bukan kompetensinya. Tenaga bidan bisa dijerat pasal-pasal sebagaimana Misran, perawat yang dipidana karena melaksanakan kegiatan di luar kompetensi asuhan keperawatannya. Tapi bagaimanapun, kesalahan ini bukan melulu kesalahan tenaga bidan! Praktek seperti ini sudah berlangsung sekian lama, dan masyarakat maupun pemerintah, dalam hal ini Kementerian Kesehatan tutup mata dengan kondisi ini. dan sudah menjadi hal yang sangat lumrah di masyarakat kita.

32

82,9% Penduduk Indonesia ke Bidan untuk Berobat!

Comment

Mujiyanto Sadali Masyarakat membutuhkan tindakan yang cepat, nah bidan memiliki akses yang luar biasa. Mereka dekat dengan masyarakat apalagi di daerah rural, 24 jam bisa dikatakan siap..Saya sebenarnya salut juga dengan para bidan sehingga normal saja dalam pengucapannya mereka, ada tambahan penyebutan Bidan xxx yang nggak ditemui dalam penyebutan Perawat.....

Siswanto Darsono Data yang sampeyan angkat bagus Mas, karena ‘cukup menggelitik’. Dalam sistem pelayanan kesehatan kita, tampaknya telah terjadi "cross-cutting" antar jenis profesi. Ternyata ‘pengobatan’ yang menurut UU Praktik Kedokteran adalah domain ‘kedokteran’ dijalankan oleh bidan, perawat, bahkan di desa saya juga oleh Jurim, pekarya kesehatan. Mengapa bisa demikian? Banyak hal saya kira variabel penjelasnya. Pertama, dokter kan jumlahnya belum memadai. Kalaupun di setiap puskesmas, atau kecamatan, taruhlah ada 1 atau 2 dokter, kan belum cukup melayanani penduduk 1 wilayah kerja Puskesmas. Kedua, ability to pay masyarakat terhadap pelayanan dokter. Karena tidak cukup uang mereka pasti memilih yang murah (bidan, perawat, atau pekarya kesehatan yang lain). Ketiga, menyangkut persepsi masyarakat pedesaan terhadap ppetugas kesehatan’. Jaman dulu, mungkin sekarang juga masih, orang desa menyebut ‘semua petugas kesehatan’ dengan sebutan ‘mantri kesehatan’ (termasuk dokter puskesmas). Dalam konsep ‘mantri kesehatan’, orang desa beranggapan bahwa ‘mantri kesehatan’ dapat mengerjakan segalanya, termasuk pengobatan penyakit. Perlu studi antropologi untuk masalah ini, menurut saya.

33

Serial Diskusi Masalah Kesehatan ‘Akses Berobat’ Lha...... dalam sistem yang belum tertata dengan baik inilah mekanisme ‘penawaran-permintaan’ (hukum ekonomi) berjalan. Akhirnya, permintaan pelayanan (dengan ATP yang rendah), lalu di pasar juga ada substitusi pelayanan kedokteran, termasuk pelayanan oleh Ponari, terjadilah transaksi jual beli. Solusinya yang jitu, menurut saya adalah terapkan asuransi kesehatan sesuai UU No. 40 SJSN dengan kepesertaan wajib (compulsory enrolement). Dengan model asuransi maka kelemahan sistem pelayanan kesehatan akan terperbaiki secara inherent. Pertama, sistem rujukan akan jalan. Kedua, masyarakat akan mencari pelayanan menurutnya lebih baik (karena tidak bayar pada point pelayanan). Kan premi sudah dibayar di depan. Sekaligus menghilangkan masalah keuangan pada sisi permintaan. Ketiga, mutu akan dapat dijaga, karena dengan asuransi kesehatan Quality Review akan dijalankan. Termasuk di sini, provider kesehatan akan bekerja profesionalisme, sesuai dengan profesinya. Karena, dengan sistem asuransi, akan jelas siapa berhak mengerjakan apa (dituangkan dalam pedomanpedoman). Gicuuuuuuu......ini menurut saya. Selamat beraktivitas pada hari senin ini. MGBU

Didik Budijanto Gungg....Banyak hal yang perlu dicermati dan perlu diluruskan kalo kita berbicara masalah Nakes Bidan. yang pertama: masalah TUPOKSInya di daerah dan yang kedua: masalah KOMPETENSInya. kalo masalah tupoksi Bidan emang diformat untuk menjalankan fungsinya mengayomi KESEHATAN IBU dan ANAK, termasuk di dalamnya ASUHAN KEBIDANAN. dalam menjalankan ayoman KIA sebagian kecilnya adalah preventif dan kuratif Ibu dan Anak sehingga tidak luput dari fungsi pengobatan (meski yang ringanringan aja). disamping itu dalam Tupoksinya itu tenaga Bidan di desa merupakan ‘Kepanjangan Tangan’ dari Puskesmas, 34

82,9% Penduduk Indonesia ke Bidan untuk Berobat! sehingga fungsi-fungsi lain diluar tupoksinya yo katut dikerjakan. Nah dalam hal ini semestinya tupoksi bidan di desa dikembalikan ke khitahnya yaitu KIA. Sebagian besar tupoksi bidan adalah Asuhan Kebidanan (menolong partus dll). tupoksi ini sebenarnya telah dijalankan oleh bidan, hanya saja dalam proses menjalankannya khan gak tiap hari nolong partus, tetapi juga menjaga Kesehatan Ibu (hamil dll) dan Anak yang di dalamnya ada preventif dan kuratifnya. so itulah kenapa yang memanfaatkan bidan sebagian besar 'pengobatan', coba bayangkan kalo yang memanfaatkan bidan sebagian besar Partus..... wah program lain yaitu KB bisa dicap gagal lho...!! Dilematiskah...? Nah dalam menjalankan tupoksinya bidan perlu juga disoroti dari sisi kompetensinya. aspek kompetensi mestinya tidak hanya dilihat dari HARDSKILL nya saja padahan SOFTSKILL bidan sangat menentukan. dari sisi HARDSKILL pun misal Knowledge yang semestinya samapai pada 6 level kognitif, yaitu : Know, comprehension, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi. hasil kajian saya selama 3 th terakhir ternyata bidan yang seniorpun kemampuan Knowledge-nya masih pada level ke 3 yaitu APLIKASI, sedangkan level analisis, sintesis dan evaluasi hasilnya Ruarbiasa jembug alias masih harus ditingkatkan lebih jauh. kenapa kok bisa begitu? bisa jadi karena tupoksinya di desa yang seperti ‘puskesmas kecil’ sehingga waktu untuk merenungkan hasil aplikasinya dan menganalisis hasil kajiannya gak ada waktu dan ini terjadi secara SISTEMATIK terus menerus.....!! Ini tantangan kita di dunia kesehatan SDM.

Ilham Akhsanu Ridlo satu hal yang terbukti adalah AKSES, AKSES dan AKSES...tanpa mengesampingkan kompetensi dan kode etik maka secara nyata masyarakat mengesampingkan itu semua karena yg dibutuhkan adalah dia bisa dengan cepat memperoleh kesehatan menurut versi mereka (terdapat faktor-faktor lain juga yang mendorong mereka 35

Serial Diskusi Masalah Kesehatan ‘Akses Berobat’ memilih pelayanan kesehatan). Bu Bidan sebagai tenaga kesehatan yang dapat dikatakan perintis ke wilayah terdekat dengan masyarakat seperti yang dijelaskan papa tadi merupakan (kalau boleh lebay) satu-satunya nakes yg menjadi panutan kesehatan terutama di wilayah terpencil..jadi masalah ini dengan sendirinya (mungkin) bisa diselesaikan dengan AKSES kesehatan yang merata..dan tentunya pemerataan nakes yang dalam hal ini bisa nyuntik..(tanpa bermaksud lain) wong nakes yang berkompeten nyuntik kayaknya gak mau ke desa-desa..ini mungkin karena memang jumlahnya yang memang terbatas atau memang mereka berat untuk meninggalkan kota? ya ya...gitu deh,,,: p

Farida Handayani Skm semestinya memang bidan dikembalikan ke tupoksi-nya. Tapi ada beberapa bidan yang sudah tahu sehingga kalau ada yang berobat diarahkan ke dokter yang notabene minimal dalam 1 kecamatan sudah ada 1 dokter praktek swasta kalau sore hari atau ke puskesmas kalau pagi hari.

Tite Kabul dalam menghadapi berbagai permasalahan, kita memang harus lakukan prioritas masalah, saat ini pemerataan pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan adalah penting, Bidan sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan yang adil dan merata mau tidak mau harus diberi tanggung jawab pengobatan, bukankah sudah ada kebijakan, untuk tempat yang tidak terjangkau dokter, maka Bidan, Perawat diberi surat tugas oleh Dinkes setempat untuk melakukan pelayanan kesehatan lainnya....kebijakan itu ada kok dik?, sepengetahuan saya hal itu sudah berjalan.... mudah-mudahan tulisan ini tidak memicu sweeping Bidan dan Perawat oleh aparat yaaa...karena dianggap melanggar UU

36

82,9% Penduduk Indonesia ke Bidan untuk Berobat!

Filaili Mauludiani bidan adalah tenaga kesehatan yang paling dekat dengan masyarakat. Distribusi dokter bisa gak sampai ke desa melayani POSKESDES? Perawat dan Bidan kan boleh memberi obat dan menyuntik asal atas perintah dokter maksudnya dalam pengawasan dokter juga kan. Nah sekarang dibuat mungkin semacam surat tugas atau apalah bentuknya yang intinya dokter puskesmas memberikan perintah kepada bidan atau perawat untuk melakukan pengobatan. Jadi masih dibawah pengawasan dan tanggung jawab dokter kan.

Agung Dwi Laksono pak Sis, compulsary enrolement dalam universal coverage mungkin merupakan solusi terbaik pembiayaan kesehatan saat ini, tapi tidak serta merta menyelesaikan semua masalah. Biaya yang dibutuhkan untuk sistem pembiayaan kesehatan mungkin bisa disediakan, tapi kita juga butuh biaya lebih besar lagi utk pembenahan sistem pelayanan kesehatan kita

Agung Dwi Laksono sampai saat ini upaya kita selalu terfokus pada peningkatan akses sebagai konsekuensi wilayah kita yang terlalu luas. Tapi selalu saja pada akhirnya melupakan masalah kualitas. yang muncul pada akhirnya adalah semacam Poskesdes dan Desa Siaga

Rima Tunjungsari yups..sependapat mas, hal itu hanya mengatasi masalah namun bukan pada pointnya (enggak kayak pegadaian ‘mengatasi masalah tanpa masalah’)

37

Serial Diskusi Masalah Kesehatan ‘Akses Berobat’

Agung Dwi Laksono dalam beberapa kebijakan memang disebut tentang kewenangan dalam kondisi darurat dan daerah terpencil. tapi tidak pernah disebutkan bagaimana kriteria darurat dan terpencil tersebut, dan juga batasan kewenangan sampai batas mana? dan bila kondisi itu terpenuhi, apa layak ada 'jual-beli'? kan kondisi darurat!

Didik Supriyadi Kalu dilihat dari jumlah perguruan tinggi yang mempunyai pendidikan kedokteran tentunya sangat naif bila kita bicara ‘negara ini kekurangan tenaga medis’.Coba kita lihat dengan kondisi ‘tentunya di Jawa’ Puskesmas berlomba-lomba untuk menjadi RS ato Puskesmas keperawatan (ini pun dikarenakan masalah akses katanya). Beberapa Puskesmas (kota) menjadi tempat praktek tenaga medis (bahkan spesialis). Apakah ini yang kemudian dikatakan sebagai pemerataan distribusi tenaga kesehatan (medis)? atau dikatakan sebagai prioritas? Jika ditinjau ulang maka saya sangat setuju bila sistem pelayanan kesehatan dikaji ulang.

Didik Supriyadi Mas Agung, aku jadi inget waktu mas Agung di Puskesmas Tulungagung dulu. Senin dateng, Jum’at ilang. Persis sama dokternya......hehehe. Jok ngamuk lho....

Evie Sopacua Agung and temans dear,.. kan dilemanya udah sejak bidan di desa dilaksanakan, berapa puluh tahun lalu... ketika saya mengobservasi bidan di desa yang PTT (Pegawai Tidak Tetap) lini pertama (beberapa puluh tahun lalu) di Jember di puncak bukit kebun kopi, yang klo kesana janjian dulu sama 38

82,9% Penduduk Indonesia ke Bidan untuk Berobat! yang punya mobil angkutan, dan kalo ga ada ya numpang mobil PTP di bak belakang atau jalan kaki.. selain Polindes (waktu itu satu-satunya di Jember), Pustunya jauh, apalagi Puskesmas, jadi tenaga kesehatan terdekat di desa tersebut adalah bidan di desa. Selama observasi (dari pukul 5 sore s/d pukul 9 pagi karena saya menginap di Polindes dengan bidan di desa, di desa yang duiiiingiin) yang datang tidak ada yang WUS atau bayi balita tapi yang udah lebih 35 tahun, kakek-kakek, dan nenek-nenk... yang flu, batuk, demam, dan minta suntik vitamin, obat yang diberikan adalah sesuai dengan obat Puskesmas yang ada di Polindes dan walau saya tahu ga ada SOP tertulis, bidan tersebut mengikuti SOP tidak tertulis yang disepakati, terlepas dari ATP, hardskill, softskill, skala knowledge, kompetensi, peraturan, perUU... saya justru pingin nanya, apa yg akan kita lakukan BILA kita berada pada posisi bidan di desa yang Polindesnya di puncak bukit kebun kopi dan berkilometer dari Pustu dan Puskesmas menghadapi masyarakat yang mau berobat... dan justru bukan yang terkait KIA, (WUS dan bayi balita)..? apa yang akan kita lakukan?? karena setelah beberapa puluh tahun lalu, kita masih memasalahkan masalah yang sama, terkait WTP, ATP, hardskill, softskill, skala knowledge, kompetensi, peraturan, perUU terkait bidan dan bidan di desa, dan yang parah menjadikan mereka kambing hitam yang knowledge rendah, yang ga kompeten, melanggar peraturan dan UU, dst, dll, dsb.. btw, saya tidak membela bidan..tetapi ini adalah masalah yang dihadapi nakes yang ada di daerah terpencil, sulit, dlll, dst, dsb..n not only di Papua, Maluku, NTT, dan daerah-daerah yang menurut SK Mendagri dan lain sebagainya digolongkan sulit, terpencil, dll, dst, dsb, tapi ada di Jatim, Jateng, Jabar dan daerah-daerah yang katanya tidak sulit...SO WHAT WILL WE DO, IF U R IN THEIR POSITION, FRIENDS??

Didik Supriyadi Bagi saya bukannya menyudutkan satu profesi tertentu (dalam hal ini bidan).Yang ingin saya tekankan adalah bila kita sudah punya aturan main, tolong KONSISTEN 39

Serial Diskusi Masalah Kesehatan ‘Akses Berobat’ dong! Apa kata dunia bila aturan main yang kita buat sendiri ternyata kita langgar sendiri (dengan alasan kekurangan tenaga atau alasan-alasan yang lain). Apa kita bisa terima kalo masyarakat yang terus menerus jadi obyek ‘percobaan regulasi’?

Evie Sopacua yang buat perturan bidan di desa ga konsisten siapa Dik?

Didik Supriyadi Yang lebih saya pertanyakan Bu, adalah korelasi antar aturan yang dikeluarkan oleh ......... itu yang saya pertanyakan. Lha yang buat kan ibu lebih tahu...

Rifmi Utami in the real fact... aku sebagai tenaga medis di kecamatan, cukup terbantukan dengan adanya mereka. Coba klo ngga ada mereka, aku bisa mati berdiri mengobati tiga puluh ribuan orang sakit di wilayah kerjaku. Cuman sementara aku mengandalkan ‘kepercayaan’ bahwa pendelegasian tugas dalam hal pengobatan, ada batas-batas tertentu, dan sekiranya ada hal gawat darurat yang memaksa, maka HOTLINE service via telepon untuk kolaborasi haruslah tidak terbatas... Tapi alangkah seneng dan tenangnya hati ini, jika teman sejawatku sesama dokter nantinya rela untuk bertugas sebagai ‘dokter desa’ bukan hanya mengandalkankan ‘bidan desa’...

Purwani Pujiastuti Ikut nimbrung ya.., setahuku dalam Juknis Poskesdes bidan yang telah dilatih memang diberi kewenangan untuk memberikan pelayanan kesehatan dasar (termasuk pengobatan). Bahkan hal tersebut masuk salah satu 40

82,9% Penduduk Indonesia ke Bidan untuk Berobat! materi pelatihan. (Mantan MOT pelatihan Desa Siaga nih he..he..). Jadi memang kebijakan yang semakin mendorong realitas pada judul diskusi ini. Dan berarti bukan salah bidan-nya kan? Soal kenapa-nya, itu saya yang kurang paham. Mungkin perlu pengakajian khusus.

Rachmad Pg Diperlukan powerful leadership untuk mengkoordinir tenaga kesehatan di Indonesia.... sesama tenaga kesehatan, seringnya ego dulu yang keluar... Berbagai kebijakan, termasuk UU Kesehatan, hegemoni satu profesi, lebih parah lagi yang dipakai mindset ibukota...

Didik Budijanto Lanjutin komenku yang terputus......!! dari aspek hardskill selain kedalaman hanya sampai level 3, sebenarnya kalo dilihat ketrampilannya (aspek Practice) ternyata hasil kajian aku dulu bagus. sedangkan dari aspek softskill yang sebagiannya adalah Attitude ternyata unda-undi (lebih kurang) kurang bagus. So kalo dilihat secara grafikal KAP atau PAK gitu tidak linear (dan emang tidak harus linear), misal Kognitifnya hanya sampai level 3, Attitudenya kurang bagus tetapi Practicenya wow bagus..... ARTINE OPO KUWI??? (artinya apa ituu???,red) kalo menurut pandangan saya ITU SEJENIS TUKANG. TUKANG MELAHIRKAN. Gimana tidak, wong knowledge kurang jangkep (kurang lengkap, red) tapi praktek wes jozz...!! mungkin emang saat ini Indonesia dalam menurunkan Angka Kematian Ibu/Anak masihlah perlu TUKANG seperti itu dan gak perlu ndakik-ndakik (terlalu tinggi, red) untuk level analisis, sintesis dan evaluasi. Dari sisi softskill juga perlu digarap sing tenanan (betulan, red), jarang (kalo tidak boleh tidak ada) sekali pelatihan-pelatihan bidan ke arah softskill, yang banyak adalah ke hardskill (Knowledge and practice). sampai-sampai si Bidan ini bergelar MSc (Master Of Short Course). Ayolah tantangan ini kita jawab bersama. karena emang 41

Serial Diskusi Masalah Kesehatan ‘Akses Berobat’ mestinya begitu khan...??? Salam tuk semua...... MERDEKAAAAA!!!!

Vita Darmawati sekarang ada program Ponkesdes sehingga perawat ada di desa juga, untuk Jatim ntar pembekalannya pertengahan Juni di Surabaya. tapi apa & bagaimana pelaksanaannya, tetap tergantung ketersediaan SDM, di tempatku tetap saja ada wilayah yang tidak ada petugas (ini di Pulau Jawa lho!) dengan alasan kekurangan tenaga, padahal di tempat lain ada yang bertumpuk petugas, mungkin distribusi yang harus dipikirkan juga. mungkin kompetensi harus segera dijalankan, tapi bagaimana mau ditegakkan kalau di wilayah itu hanya ada bidan??? wacana bagus, tapi entah kapan Indonesia siap untuk itu... apalagi memang benar ada banyak permasalahan seperti kata pak Racmad di atas.

Hanifa Denny Lha sekarang kita lihat dulu distribusi tenaga dokter yang menurut silabus kurikulum akan kompeten untuk pengobatan...! Lihat juga secara kualitatif, mengapa mereka ke bidan, efektifitas sembuh sakit atau hilang rasa sakit, ayo dikaji dulu dengan kualitatif riset, barulah kita bisa diskusi dengan dasar kuat.. he he aku di US dilatih tidak boleh berpendapat tanpa ada bukti EVIDENCE BASED PUBLIC HEALTH RESEARCH.. Salam

Riffa Hany kalau memang masyarakat ternyata membutuhkan bidan sebagai tenaga kesehatan yang memberikan pengobatan, kenapa tidak bidan/calon bidan kita berikan keahlian untuk bisa mengobati, ibaratnya.....kita selesaikan masalah yang sudah ada dan mengakar di masyarakat kita. tidak usahlah 42

82,9% Penduduk Indonesia ke Bidan untuk Berobat! memperjuangkan satu atau dua profesi tertentu yang merasa paling berhak mengobati, klu toh masyarakat ternyata lebih suka berobat ke bidan karena berbagai sebab..., kita siapkan aja bidan untuk lebih ahli di bidang tersebut, tinggal ganti kurikulum, nambahin kompetensi dan ganti per-UU yang merugikan masyarakat, ok?

Christine Indrawati yang sempat hangat di tempatku, bidan komplain ke perawat yang menolong partus karena, kembali lagi, kepercayaan masyarakat pada perawat tersebut cukup besar. Jadi salah kaprah-e semakin ruwet, sementara bidan ngobati juga gak mau disalahkan. Menurutku kita semua harus introspeksi. Bidan juga cukup membantu menjadi kepanjangan tangan dokter dengan melimpahkan sebagian wewenang untuk pengobatan pada bidan. Setuju dengan ususlan mbak Riffa, kenapa gak kita ajari saja bidan tentang pengobatan yang simple dengan baik dan benar.

Evie Sopacua dear all, nanggapi mas Agung yang bilang 'kriteria dan kewenangan di daerah terpencil tidak pernah disebutkan' mungkin kurang tepat... karena mungkin yang diketahui mas Agung hanya sebatas Jawa Timur terutama Tulungagung dan beberapa daerah yang menjadi daerah penelitian, yang dengan defenisi operasional peneliti yang menggarisbawahi kompetensi bidan yg sebenarnya hanya dilihat melalui tes tertulis yang diberikan 1 jam, FGD 3 jam.. dan peneliti sendiri waktunya terbatas (3 or 4 hari??) karena anggaran terbatas (orde lama je!!).. tapi pernah ga menjajagi Perda terkait di daerah-daerah dari Aceh sampai Papua, dari Sangihe Talaud sampai Gili Terawangan atau yang terkait dengan penduduk di pulau-pulau terluar atau bukan yang terdiri dari 4-10 rumah tangga? klo mas Agung and friends ada di pulau paling terluar yang kalau malam bisa melihat sinar lampu dari 43

Serial Diskusi Masalah Kesehatan ‘Akses Berobat’ kota di New Zealand or Australia, or Filipina, apa kita bukannya mengedepankan pelayanan yang baik, tepat, segera dan tidak membahayakan jiwa, apa itu ga termasuk kualitas dan kompeten yang sesuai kebutuhan lokal.. bisa disebut 'tukang', tapi emang kenape? klo rumah kita bocor, kan cari tukang? apa mau diberesin sendiri?... tapi, walau mereka digolongkan 'tukang melahirkan'..hehehe.. dari tukang-tukang ini berapa yang sudah jadi doktor, insinyur, ekonom yang Ph.D, Dr.PH.. jenderal, presiden, termasuk yang digelar markus + ?? hahaha.. klo orangnya ga smart, ga bisa loh jd markus + !!.. btw, karena lagi di Ambon, mau ke Dinkesprov dulu nyelesain beberapa masalah Riskesdas, termasuk dengan BPS.. nti saya mau wawacara yang kelola bidan di desa ya..pamit.. eh, mas Anis, nti saya 'jual' dikau ya... and di beberapa kabupaten, kebetulan yang bagian perencanaan adalah friends and kita konek mereka dengan sistem informasi.. so yu must go to east.. more east, hehehe.. may God bless us all..o ya nti saya bagi info tentang kewenangan untuk bidan yang saya tau ya.. maybe bermanfaat.. bye

Christine Indrawati @bu evi : setujuuuuuuuuuuuuuuu...

Agung Dwi Laksono hehh... *menghela nafas puanjaaang!*

Evie Sopacua dear frens.. ternyata di provinsi seribu pulau, Maluku manise menggunakan gugus pulau untuk pelaksanaan pelayanan kesehatan.. tetapi macet karena banyak hal walau di beberapa kabupaten masih menggunakannya.. kewenangan ke bidan di desa juga masih kesepakatan lisan, 44

82,9% Penduduk Indonesia ke Bidan untuk Berobat! belum kewenangan tertulis seperti yang diharapkan mas Agung.. pengawasan dan supervisi dari Dinkes Kabupaten juga kurang dan hampir tidak ada, kecuali program tertentu seperti saat ini yaitu pemberdayaan masyarakat lewat Desa Siaga menyebabkan Dinas Provinsi dan Kabupaten harus turun sampai ke pulau-pulau yang jauh.. kalau temans lihat peta, maka jajaran pulau terbawah di Provinsi Maluku yang berakhir dekat Timor Leste, itu semuanya berpenduduk dan harus dilayani.. kebayang ga? temans BPS yang lagi sensus penduduk di Maluku stres berat karena pingin cepat-cepat balik ke ibu kota kabupaten, terhalang ombak dan kapal perintis yang menyisir pulau ke pulau ga kunjung datang.. so, saya ga mau banyak komen tentang bidan di desa.. Tentang kewenangan tertulis yang saya tahu adalah di Papua Barat, yang dilakukan dokter SPOG di RS Manokwari dengan bidan di desa dan didukung SK Gubernur/Bupati terkait dalam pemberian antibitotika untuk kasus ibu melahirkan dan nifas (nama obat saya lupa, tapi derivat penisilin..) dengan kriteria tertulis untuk kasus apa, berapa flacon/cc..ini merupakan kerjasama dengan IMHEI (bagian dari Unicef) yang menyediakan obat antibiotiknya.. karena kematian ibu di desa yang jauh dari Manokwari cukup tinggi, menyebabkan hal ini harus ditempuh.. bidan di desa diberi pelatihan dll, sedangkan supervisi dalam pemberian obat dilakukan Dinkes Prov dan IMHEI.. karena saya mewawancarai doketr SPOG-nya maka beliau menceritakan beberapa kasus yang tertolong dengan kewenangan ini, antara lain ada ibu dengan placenta previa, yang dengan pemberian antibiotik oleh bidan di desa mampu bertahan sampai 2 minggu menunggu pesawat untuk mengantarnya ke RS Manokwari untuk dioperasi.. bisa bayangkan bagaimana bau di pesawat yang mengangkut ibu tersebut (pesawat kecil isi 9 orang), karena placentanya udah biru kehitaman, tapi si ibu survive.. cuman, karena ini program IMHEI, mudah-mudahan masih terus jalan,.. nti klo saya ke manokwari lagi, saya tanyakan.. hehehe.. oce, saya ga punya komen lain untuk bidan di desa, karena dengan plus minus kompetensi or kualitas yang mereka punya, 45

Serial Diskusi Masalah Kesehatan ‘Akses Berobat’ sebagai mata rantai terlemah dalam sistem pelayanan kesehatan di Kabupaten, seharusnya mereka disupport,.. baru-baru ini di Jember saya ketemu dengan bidan di desa yang oke banget, profesional (menururt saya), dan berhasil mengubah persepsi masyarakat tentang sehat dan sakit khususnya untuk ibu hamil, nifas dan bayi/balita.. di Bantul, ada bidan di desa yang desanya selalu dikunjungi tamu nasional dan internasional.. sekarang bidannya lagi ambil S1.. saya tanya nti habis S1 mau kemana? dijawab, balik ke desa ngopeni (merawat, red) masyarakat dan Polindes.. so, masih ada yang oce koq.. maka jangan heran klo 80% ke bidan di desa.. so what getoo lhoo.. to all, tetap semangat dan selamat berkarya ;o)

46

Privilege...

Privilege...

Monday, November 8, 2010 at 5:48am

Dear all, Kemaren, saat bandara di Kota Semarang ditutup akibat dampak debu vulkanis, maka jadwal travelling saya ikut-ikutan terkena dampak. Tapi ma’ap saya tak hendak bercerita tentang kemujuran saya tersebut!Saat masih gonjang-ganjing nyari ganti penerbangan laen… ada seorang bapak dengan sangat kweren, sedang complain dengan gagahnya…

47

Serial Diskusi Masalah Kesehatan ‘Akses Berobat’ “Kamu sudah berani terima uang saya! Seharusnya kamu kerja dong!” teriak bapak itu mengomentari beragam jurus jawaban penangkalyang dilontarkan petugas frontliner maskapai. Sang petugas tercekat.. diam! ngeloyor pergi mengusahakan permohonan bapak itu untuk dicarikan ganti penerbangan lain yang lebih pagi dari yang ditawarkan maskapai. Si bapak keliatan gusar banged dengan kinerja petugas frontliner maskapai yang dianggapnya sudah seenaknya memindah jadwal penerbangan yang seharusnya jam 8.45WIB menjadi jam 14.00WIB, meski dengan alasan force majeur macam yang terjadi saat itu. *** Mungkin bagi kita akan keliatan sepele soal ganti jadwal macam ntu! Apalagi dengan alasan yang memang bukan kesalahan mutlak maskapai. Kita tentu akan dengan tidak terlalu menyesal menerima tawaran solusi penerbangan lain. Ini adalah ciri orang yang sangat njawani… Tapi… Sebagai sebuah perusahaan jasa, sebagai sebuah perusahaan professional, maskapai mempunyai tangung jawab lebih! 48

Privilege... Ketika seseorang membeli sebuah tiket penerbangan… maka dia telah mempercayakan buanyak hal dalam hidupnya pada maskapai! Ga percaya??? Pada saat memesan tiket… seseorang telah menyerahkan jadwal hidupnya pada maskapai. Penandatanganan kontrak senilai 200 juta di Jakarta sana tidak bisa menunggu dan berganti jadwal begitu saja sesuai dengan kemauan maskapai memindah jam penerbangan. Kontrak senilai 200 juta! Kata bapak itu… Bukan hanya soal uang yang akan hilang! Berapa banyak pegawai yang tergantung dengan keberhasilan kontrak itu? masa depan perusahaan menjadi taruhan… Nilai kepercayaan? Kepercayaan dalam sebuah pelayanan jasa… Itu adalah nyawa! Dan kita bener-benar mempercayakan nyawa kita bukan hanya dalam artian kias macam itu, tapi juga sebenarbenar nyawa kita dalam arti sebenarnya! *** Hahaha… lalu apa urusannya sama bidang kesehatan yak? Saya… membayangkan… bila kita memakai jasa sebuah pelayanan kesehatan, berobat di rumah sakit misalnya, bisakah kita complain macam bapak tadi??? Bukankah pelayanan rumah sakit juga sebuah jasa? Bukankah kita juga menyerahkan nyawa kita dalam arti sebenarnya? 49

Serial Diskusi Masalah Kesehatan ‘Akses Berobat’ Bisakah kita berteriak macam bapak tadi pada pihak rumah sakit… “Kamu sudah berani terima uang saya! Seharusnya kamu kerja dong!” Piye jal???

50

Privilege...

Comment

Siu Kim Piye.... mama kim ra iso komen.... matur nuwun wae.. sugeng enjang...

Lie Liana Met pagi pa'...rumit yah...hehe

Ilham Akhsanu Ridlo sama-sama jasa tapi ada perbedaan soal 'tingkat kepasarahan'...orang sakit=pasrah gompo'an sama rumah sakit.. orang sehat kayak ntuh bapak=komplain gompo'an walaupun dia akhirnya pasrah njawani..

Siu Kim gompo'an... artinya apa.?

Veronica Suci Fridani Selamat pagi, Pa... berdasarkan pengalaman pribadi dan pengalaman sahabatsahabat, saat kita sudah menyerahkan uang pada pihak rumah sakit, berarti kita sudah 'memasrahkan' hidup-mati kita. Entah dirawat berapa hari, ditangani dokter ahli atau baru lulus, diberi obat apa, segalanya sudah menjadi tanggungjawab yang seyogyanya dilaksanakan dengan baik oleh pihak rumah sakit. Selama ini, dokter dan perawat bereaksi negatif (galak dan sangar) sewaktu kita kritis bertanya, dan menjawab dengan berbagai argumen yang ujung-ujungnya: alasan medis. Walau dokter salah melakukan tindakan, kita tak bisa protes. 51

Serial Diskusi Masalah Kesehatan ‘Akses Berobat’ Saya pernah mengalami, sahabat saya pun 'terpaksa' menerima kenyataan pahit yang mengakibatkan suaminya koma dan akhirnya meninggal dunia. Lantas, supaya ada sinergi antara dokter dan pasien (sama-sama terbuka terhadap informasi yang dibutuhkan dan penanganan yang tepat), sebaiknya bagaimana ya, Pa?

Rifmi Utami tentu beda... urusan nyawa adalah urusan Sang Maha PembuatNya... Tugas kita sebagai pelayan jasa kesehatan adalah meng’upaya’kan diagnostik dan pengobatan sedemikian rupa, sedangkan hasilnya tidak... Dan selama menjalani proses ‘upaya’ itulah sepatutnya kita membuat mereka nyaman dan ‘tiada dusta’ diantara pasien dan provider kesehatan...

Margaretha Anggara Kasih Wah .....kalau di rumah sakit bisa bahaya pa .... malah di suntik tidur sama dokternya di kira lagi kumat .... hehehehe .... bayar dulu .... bayar dulu semua selalu begitu tanpa ada rasa bersalah .... padahal pasien sudah sekarat.... Thanks

Ilham Akhsanu Ridlo @siu kim; gompo'an artinya sepenuhnya

Anisa Riza Loading dulu pak... bingung mau komentar apa... hehe....

52

Privilege...

Agung Dwi Laksono banyak hal memang yang membedakan diantara pelayanan jasa kesehatan/medis dengan jasa lainnya. dalam UU Perlindungan Konsumen ato dalam UU Kesehatan ato dalam UU Praktek Kedokteran menyatakan bahwa memang jasa medis adalah jasa pelayanan 'upaya', bukan hasil! meski juga berorientasi pada hasil! Banyak pengobat (dokter) kita yang berdedikasi dengan pekerjaannya, yang tau persis apa yang harus dikerjakan! untuk yang semacam ini, maka diskusi dan informasi yang diperlukan pasien bisa mengalir dengan enak Masalahnya ada juga yang... klo saya boleh berprasangka... tidak tau apa yang harus dikerjakannya! ketika ditanya penyakitnya apa? hanya diam membisu dan mengalihkan pada topik lainnya. kebanyakan berlindung pada sisi profesi Privilege (hak khusus) yang diberikan oleh negara pada profesi medis seharusnya menjadi pemicu untuk benar-benar memahami tugas dalam tujuan mulia! menggenggam sumpah yang diucapkan sebagai sebuah garis tegas... Tapi sayangnya negara memberi privilege yang sungguh sangat istimewa, tetapi lemah dalam kontrol. dan bahkan kualitas lulusan antara Jawa dan non Jawa bisa jadi seperti bumi dan langit.

Rifmi Utami oh....poorly my profecy hiks hiks... andai tahu begini, aku tak memilihnya sebagai profesiku kini... semoga Allah kan selalu melindungiku...

53

Serial Diskusi Masalah Kesehatan ‘Akses Berobat’

Agung Dwi Laksono heiii... ntu berkah! tidak setiap orang mendapat hak istimewa untuk berbuat!

Agung Dwi Laksono non mimi yang seorang dokter... saya jadi kepikiran satu indikator untuk membedakan dua keadaan tersebut. *insting peneliti neh! Tentu semua dokter akan protes ato minimal mengernyitkan dahi membaca tulisan macam ini. ketika seorang dokter terusik dan bereaksi keras, saya jadi tau ke dokter mana saya harus berobat! Karena dokter yang tidak memahami pekerjaannya akan diam... dan tetap diam...

Veronica Suci Fridani Pa... tak bermaksud menyanggah paparan yang Anda berikan... namun, dalam kenyataan, kalau kita sakit, paling tidak kita sudah merasa sakit di bagian tubuh yang mana... sehingga kita pasti akan menyebutkan saat ditanya (walau diliputi keraguan) dan berharap dokter membuktikan dengan berbagai tindakan medis (uji lab dll) Banyaknya tahapan yang mesti dilalui pasien dalam upaya menggapai kesembuhan, membuat pasien sekarang lebih cenderung menjalani pengobatan alternatif. Holistik merupakan salah satu upaya, karena yang dicapai kesembuhan secara menyeluruh, baik tubuh, jiwa, dan raga 54

Privilege... (body, mind, and soul), sehingga kita bisa lebih mengenali dan mengetahui diri kita yang sesungguhnya. Misalnya: pasien mengeluh maagnya kambuh. Dokter akan memberikan obat maag dan berbagai nasihat lainnya yang wajib dilakukan pasien: makan teratur atau jangan sampai telat makan... Namun, holistik juga berusaha menguak penyebab dia sakit maag, misalnya kecemasan, stres, kekhawatiran yang berlebihan, 'ngoyo dalam bekerja 'tuk mewujudkan cita dan cintanya... Di sini, dokter tak bisa berperan sendiri namun bergandengan tangan dengan yang lain agar upaya penyembuhan itu bukan lagi suatu hil yang mustahal...eit, hal yang mustahil...

Rifmi Utami sebegitu buruknya hampir semua orang memandang profesiku... tentu itu karena kesalahan sistemik yang telah kronis... pengharapan terhadap kami terlampau tinggi... sedangkan pribadi masing-masing kami mayoritas terjebak pada pragmatisme berpikir yang cenderung menerjunkannya pada level terendah... sungguh kontradiksi... Perlu curhat yang panjaaanggg untuk sekedar melepaskan beban yang terganjal di hati... sepagi ini sampeyan telah membuatku sesak, mas Agung...hehehe tapi aku masih bisa ketawa dengan komen penghiburmu...trims, untuk tidak apriopri pada semua dokter...

Ilham Akhsanu Ridlo Asimetric knowledge (-) ---->Moral Hazard... kesenjangan pengetahuan('informasi') yang harus diperpendek untuk menciptakan pemahaman (+)... 55

Serial Diskusi Masalah Kesehatan ‘Akses Berobat’

Agung Dwi Laksono weww... saya bekerja di lingkungan kesehatan! Saya tau bagaimana seorang dokter yang berdedikasi! saya pernah ada dan bekerja bersama mereka! Bukan omong kosong... saya 5 taon di puskesmas, dan saya sudah menyusuri banyak pelosok negeri! bertemu orang-orang hebat! Bukan hanya dokter, juga perawat dan bidan yang mempertaruhkan nyawanya menembus ombak besar di laut lepas untuk memberi pelayanan di pulau terpencil... Kita tidak tau ato bahkan mungkin tidak mau tau... mereka bisa seminggu tidak pulang hanya untuk keperluan tersebut! Hanya dibekali uang 150 ribu untuk bahan bakar boat... Kenyataan itu ada!

Veronica Suci Fridani @ Kak 'Mimi': Judulnya 'kan... Diskusi Senin Pagi, dan hari ini aku diundang oleh Papa untuk meramaikan. Daripada hanya berdiam diri tanpa komentar, maka aku mencoba merapikan 'benang kusut' yang selama ini terjalin antara dokter dan pasien, agar lebih akrab dalam berkomunikasi... Kak 'Mimi', dari lubuk hati yang terdalam... aku tetap butuh dokter, kok... tetaplah semangat...

Dyah Yusuf Kalau pelayanan kesehatan kan bayare belakangan... kalau ada yang pake DP ya agak lain kali yaa... 56

Privilege...

Veronica Suci Fridani ^_^ ... @ Papa: "I'm proud of you, Papa! God bless you now and forever..."

Ratih Dewi hmmm...diskusi dengan materi berat tuk seorang ibu seperti saya,,, yang saya tahu saat anak-anak saya sakit, saya akan bawa mereka berobat ke dokter.. Jadi siapa seeh yang ga butuh dokter????

Sylvia Andriani siapa sih yang ga butuh jasa nakes (dokter, bidan, perawat, dll).. butuh koq, swear. Tenaga kesehatan cuma lakukan upaya pengobatan alias mengobati bukan menyembuhkan.. tapi tetap pelayanannya itulah yang perlu senantiasa dikritisi dan ditingkatan mutunya. Indonesia sehat 2010..terwujudkah? OMG.

Tite Kabul memang dalam pelayanan kesehatan, kesembuhan pasien adalah dampak bukan output.....jadi hasil kerja sesuai standar adalah outputnya, sehingga kalau ada pasien yang marah karena pelayanan tidak sesuai dengan standar masih sah-sah saja.

Christine Indrawati semoga aku masuk barisan dokter yang masih bisa diajak omong pa hehe... 57

Serial Diskusi Masalah Kesehatan ‘Akses Berobat’

Ade Ayu kembali kita di hadapkan pada moral antar sebagai sesama manusia dan perbedaan sosial yang ada.. Mungkin kalo si bapak tadi berani protes dan berkata kasar itu sangat terlihat wajar karena kantongnya tebal jadi dia gak akan takut mo ngomong apa aja.. Coba kalo yg isi dompetnya cuma 500 ribu dan itupun hanya dia pegang sebulan sekali mungkin reaksinya akan beda pula... Tapi masa iya yang berpenghasilan 500 ribu/bulan bisa naik pesawat kalo dia gak dapat mukzizat Tuhan.....????????? Heheheeee... Nah begitu juga dengan kesehatan dia.. Mungkin si borjuis bisa teriak-teriak kesurupan ato bahkan bisa memperkarakan tenaga medis ke meja hijau kalo pelayanan mereka kurang memuaskan ato cuma karna terjadi kesalahan sepele.. Sedangkan bagi si buncis bisakah dia begitu...???? Jangankan untuk teriak-teriak, buat protes aja dibutuhkan keberanian yang gede agar dia gak di cuekin dengan keadaannya yang bener-bener membutuhkan pertolongan tenaga medis... ^_^

Evia Udiarti terkadang memang setiap dokter tidak sama, malah kasusnya di tempatku sekarang untuk masalah dokter kandungan, mereka ndak mau diganggu pas Sabtu dan minggu, berapapun pasien berani bayar... nah yang jadi permasalahan emang waktu jam kelahiran isa ditentuin yang tau kan yang di atas.. trus suruh nunggu ampe Senin isa berabe klu gini sapa yang bermasalah

Uly Giznawati diskusi tentang sebuah pertanggungjawaban oleh sebuah layanan jasa dan begitulah 58

Privilege... kadang klien/penumpang pesawat disini tak punya nilai tawar ia pasrah oleh keputusan apapun jadwal pesawat tersebut

Agung Dwi Laksono nilai tawar yang amat sangat mirip antara klien maskapai dengan klien pelayanan kesehatan! untuk itu negara harus mengatur ketat hal tersebut...

Riffa Hany seharusnya maskapai maskapai punya pesawat cadangan atau kerjasama dg maskapai lain duooong, ini berandai andai... bila maskapai bisa memberikan ganti rugi dan hubungan dengan pelayanan kesehatan kita... seandainya pelayanan kesehatan kita menawarkan ganti rugi kepada pasien apabila ada keterlambatan penanganan atau kesalahan diagnosa atau kesalahan pengobatan...., bisa dibayangkan banyak RS atau RB atau dokter atau bidan yang gulung tikar..., loh ya jelazzzzz banyak bangettt nakes kita yang pelayanannya di bawah standart getuuuuu loh

Rachmad Pg ........ Ketika mimpimu yang begitu indah, tak pernah terwujud..ya sudahlah Saat kau berlari mengejar anganmu, dan tak pernah sampai..ya sudahlah (hhmm) Apapun yang terjadi, ku kan slalu ada untukmu Janganlah kau bersedih..coz everything's gonna be OKAY... -----------------------------------------------------------------------------Kebetulan minggu lalu, berkesempatan hospital touring ke beberapa RS yang katanya standar internasional.....

59

Serial Diskusi Masalah Kesehatan ‘Akses Berobat’ Ternyata emang ada yang memerhatikan persoalan privileges itu dengan tegas dan seksama, dengan bingkai patient safety mereka betul-betul bekerja menjaga pasien dengan memberi treatment yang penuh dengan perhatian dan sayang....(meski selesainya kudu bayar mahal...hehe) Dalam prakteknya, di dalam internal RS ada yang berperan sebagai patient advocate (ini istilah kerennya, kalo istilah yang umum ya pelayanan pelanggan) mereka bertugas memastikan pasien-pasien yang dirawat diberikan pelayanan yang prima. Bila ada yang merasa tidak prima, bisa disalurkan melalui patient advocate tersebut. Patient advocate itu akan dalam waktu 1 x 24 jam akan membereskan segalanya... sampai betul-betul mereka puas dan dapat layanan prima....... -----------------------------------------------------------------------------Terlintas, bisakah RS/yankes yang lain berbuat seperti itu? Mestinya kalo sudah ada satu contoh yang mampu, mestinya yang lain juga mampu ya.....tapi...... -----------------------------------------------------------------------------Kita sambung satu persatu sebab akibat tapi tenanglah mata hati kita kan lihat menuntun ke arah mata angin bahagia kau dan aku tahu, jalan selalu ada juga ku tahu lagi problema kan terus menerjang bagai deras ombak yang menabrak karang namun ku tahu..ku tahu kau mampu tuk tetap tenang hadapi ini bersamaku hingga ajal datang Sempat kau berharap keramahan cinta, tak pernah kau dapat..ya sudahlah yeeah..dengar ku bernyanyi..lalalalalala heyyeye yaya dedudedadedudedudidam..semua ini belum berakhir *inspired by Bondan Prakoso feat Fade 2 Black*

60

Privilege...

Evie Sopacua Nyanyi aja deh nemani rachmad..'apapun yang terjadi, ku kan slalu ada untukmu (slalu ada untukmu)..lalalaladedumdedamdedumdidam..everything gonna be okay..

Agung Dwi Laksono i love this country...fullllll!

Ella Sofa papa lupa nge-tag aku lagi ya? ga papa, banyak pesanan pastinya. memang ada kok dokter yang klo ditanya ga jawab. pokoke kita disuruh bismillah aja trus minum obat. ntar klo ga sembuh disuruh balik lagi. kok pinteran gue ditanya apa-apa ga bisa jawab tapi yang siip juga banyak kok. tinggal pilih-pilih aja lah

Dwee Why hahahaha...... kalo mau 'death' ditunda dulu dech kayaknya. Malaikatnya suruh shopping dulu, tar kalo urusan RS dah kelar ntar di call. iya ya, dilema banget.

61

Serial Diskusi Masalah Kesehatan ‘Akses Berobat’

62

Lebaran dan Mudik

Lebaran dan Mudik

Monday, September 13, 2010 at 6:06am

Dear all, Sebelumnya… karena masih dalam suasana lebaran, maka sekali lagi saya mengucapkan… Selamat hari raya Iedul Fitri 1431 H Mohon ma’af lahir dan bathin… semoga kita dimasukkan ke dalam golongan umat yang kembali menjadi fitrah! ***

63

Serial Diskusi Masalah Kesehatan ‘Akses Berobat’ Lebaran! Sebuah momen akbar bagi kita. Sebuah moment sekali setahun yang bisa merubah tatanan yang sudah mapan setahun sebelumnya. Terjadi pergerakan manusia dan sumber dana yang begitu besar. Banyak sekali hal positif terkait dengan keberadaannya… bisa terjadi redistribusi keuangan dari perkotaan ke perdesaan, dan bahkan dari luar negeri ke dalam negeri. Dalam moment yang ditunggu bukan hanya oleh umat muslim di Indonesia ini juga menjadi ajang re-humanisasi manusia kota, sebuah upaya positif untuk memanusiakan kembali manusia yang kota yang sudah terjebak dengan rutinitas pekerjaan demi segenggam berlian. Menjadi robot2 dunia material… *ngomong apaan sih ini??? hihihi… *** Banyak hal positif… dan tentu saja tidak berarti tidak ada hal negatif! Ditulis tidak untuk menyurutkan arti momen sakral ini, tapi untuk mengantisipasi keberadaannya… Kali ini kita review saja beberapa masalah yang pernah dibahas yang sangat mungkin muncul secara bersamaan pada moment lebaran… Dengan terjadinya pergerakan manusia yang demikian missal dari satu wilayah ke wilayah lain, yang lebih sering sih dari perkotaan ke perdesaan, selain terjadi re-distribusi keuangan, juga terjadi banyak re-distribusi lainnya. Salah satunya adalah penyakit. Ini yang perlu diwaspadai oleh kita… 64

Lebaran dan Mudik Banyaknya kasus pulang paksa pasien rawat inap menjelang lebaran bisa mendorong terjadinya transfer penyakit antar wilayah. Dengan terjadinya pergerakan manusia yang massif hal ini bukanlah mustahil. Untuk itu perlu sekali lagi kebijakan yang khusus untuk bidang kesehatan yang melampaui batas wilayah, yang mana hal ini menjadi sangat sulit di era otonomi daerah. Masalah lain adalah pembiayaan kesehatan. Pada moment seperti ini ‘jaminan semesta’ yang meliput seluruh rakyat menjadi mutlak diperlukan, karena ‘jaminan lokal’ menjadi mandul, kehilangan fungsi jaminannya ketika lintas wilayah, karena portabilitasnya menjadi melempem. Orang Bali yang mudik ke Jawa dan jatuh sakit di Jawa harus merogoh kocek pribadi, karena jaminan kesehatannya yang berlaku di Bali tidak berlaku lagi. Hal lain yang mungkin bisa terjadi adalah culture shock! Kebiasaan-kebiasaam masyarakat perkotaan yang dibawa ke perdesaan, dan diadopsi secara massif tanpa disadari. Kebiasaan makan makanan jenis junk food misalnya, yang pada akhirnya juga ikut andil dalam membuat pemerataan prevalensi obesitas ato kegendutan sampai ke pelosok desa, dan tentu saja penyakit degeneratif include didalamnya Tiga hal ini hanya beberapa masalah yang bisa ditulis disini, masih banyak masalah lain yang kemungkinan bisa terjadi. Monggo silahkan share masalah laen disini, saya tak molor lagi… mau melanjutkan tidur pagi menjelang siang. Moment istimewa lain yang jarang bisa saya jumpai… hehehe…

65

Serial Diskusi Masalah Kesehatan ‘Akses Berobat’

Comment

Feni Novikasari hadewwwh..

Rifmi Utami arus mudik bukan hanya dari kota ke desa, tapi juga dari daerah kerja ke daerah asal... itulah yang terjadi pada dokter-dokter... tak jarang di Puskesmas yang dokternya cuman satu-satunya, menjadi sekian lama ngga ber-dokter...di kota, praktek-praktek pribadi tutup, hanya di RS dan klinik 24 jam saja yang buka... jelas momen ini membuat akses pelayanan kesehatan menjadi lumpuh sementara... semoga penyakitnya juga lumpuh selama minimnya akses pelayanan kesehatan deh...amien...

Agung Dwi Laksono momen lebaran juga membawa ke pola konsumsi yang berlemak, full kolesterol, plus asam urat! ooohh... kenapa semua makanan enak dilarang... hehehe...

Rifmi Utami hmm... yang protes pasti yang perutnya "njemblis" hehehe...nyatanya memang kita miskin pengetahuan cara mengolah dan menyajikan makanan enak yang imbang zat gizinya...mungkin harus masuk kurikulum pendidikan tuh...terutama buat calon-calon ibu...

66

Lebaran dan Mudik

Tite Kabul Itulah dinamika hidup... Dibalik kemudahan pasti ada kesulitan.... Dibalik kesusahan pasti ada kebahagiaan...

Agung Dwi Laksono ato kudu mulai mengumpulkan bahan tulisan untuk mengolah resep jenis menu makanan sehat yang lezat, yang disertai dengan kandungan zat gizinya. hmmm... ada nggak ya anak 'ilmu gizi' yang mau memulai? berbagi... berbagiiii.... nyoooook...

Riffa Hany lebaran membuat dietku saat puasa jadi berantakan..., berat badan naik lagi dweh......!!!! belum kalau kena diare karena kebanyakan makanan manizzz..., mustinya menu snack di rumah harus 4 sehat 5 sempurna yo......, ben lebaran juga dapet gizi seimbang.....

Rachmad Pg Demi budaya sosial yang bernama mudik, dilaporkan yang tewas di jalan raya sudah mencapai angka tiga digit....

Ade Ayu Hemm... dasar pegawai kesehatan.. Moment mudik pun bisa di jadiin ajang adu argumen.. Youwez lha... Berhubung ayu gak mudik ke mana-mana jadi di usahain jadi pendengar aja dei... 67

Serial Diskusi Masalah Kesehatan ‘Akses Berobat’ Tak lupa ayu ucapkan minal aidzin wal faidzin mohon maap lok ayu ada salah baik di sengaja maupun gak disengaja...

Christine Indrawati aku termasuk pemudik juga neh... tapi dari pedesaan ke kota hehe.. momen kayak gini juga ditunggu oleh dokter yang notabene bisa ikut libur cukup panjang nek lebaran, kecuali yang piket. kapan lagi bisa libur gak praktek kalo gak lebaran hehe... jadi kita nikmati aja deh kesempatan yang cuma setahun sekali ini. makan bebas sekali ini, abis tu diet hehe... dan kembali ke makanan sehat lagi..

Dian Sastro Oouuwwwww...

Bambang Andriyono Mas Agung, topiknya tentang Mudik Lebaran atau Makanan selama Lebaran to? kalo dilihat dari aspek ekonomi makro ceritanya lain lagi Mas..

Agung Dwi Laksono wah menarik ini... kados pundi critane kang? (bagaimana ceritanya mas? Red)

Evie Sopacua sebenarnya nonton orang mudik yang enak... di terminal, di stasiun, bandara dan pelabuhan... pernah? asyik man... kita ngitung berapa banyak kardus dan tas yang dibawa 1 keluarga, ketemu range terendah sampai tertinggi.. anak-anak yang tahes (sehat, red) dan yang nangiiiiiiiisss, orang tua yang kebingungan kehabisan tiket dan banyak orang lain 68

Lebaran dan Mudik yang jualan makanan dari berbagai tipe.. nasi bungkus sampai resto mewah.. nah.. di moment seperti ini kita motret wajah senang, tegang, miris..dll.. dan kita duduk 'observasi' (ceile.. peneliti) lalu berpikir betapa kuatnya budaya yang bernama mudik.. yang pada akirnya juga membuka peluang berdagang makan minum... cuman memang perlu hati-hati karena copet juga banyak dengan menggunakan modus jualan makananminuman.. eh.. balik-balik cerita mudik koq ke makananminuman ya.. udahan ah.. selamat lebaran buat temans, maaf lahir dan batin..

Nagiot Cansalony Salomo Tambunan Dehumanisasi di Jabodetabek pasca mudik (tidak macet), tidak 100% terasakan Gung. Abis gara-gara pemanasan global, iklim tidak bersahabat bagi ‘penglaju’. Soal masalah-masalah, yah termasuk juga kecelakaan lalu-lintas yang timbul akibat PST yang tidak sinkron, belum lagi kesehatan jiwa masyarakat, ingat kasus pembakaran bus ato masy yang ngamuk karena lambatnya evakuasi korban kecelakaan. Bila ditilik dan ditelisik lebih jauh dan dalam, ini bukan masalah yang ikut karena lebaran, namun masalah yang pada awalnya sudah lama berpotensi, terjadi, salah dikelola dan didiamkan. Hak dan Kewajiban NEGARA, Masyarakat, dan Individu. Yah, mungkin rasa capek/penat/lelah dan berkumpulnya banyak orang, membuat tindakantindakan/masalah-masalah tadi terjadi. Banyak PR nih....

Bambang Andriyono Evie : Swear, dulu ('95 s/d 98) aku suka ngajak anakku ke stasiun, terminal, atau di pertigaan jalan, sekali waktu pas lebaran ga liat, anakku yang kecil malah minta "Pak, kok ga liat org mudik lagi?"..asyikk betull, aasli sli.

69

Serial Diskusi Masalah Kesehatan ‘Akses Berobat’

Ilham Akhsanu Ridlo maap pa absen comment kemarin.. di desa kagak ada sinyal internet..: P

Dfc Surabaya mudik bisa juga menjadi agenda rekreasi... plus momen saling memaafkan... kesempatan buat yang salahnya banyak untuk mendapatkan kata maaf... mengurangi ketegangan... mengurangi resiko stres dan depresi... mengurangi potensi pasien RSJ ha ha ha ha....

70

Pulang Paksa!

Pulang Paksa!

Monday, August 16, 2010 at 5:14am

Dear all, Bulan ini, bulan Ramadhan... yang merupakan bulan penuh berkah bagi umat Islam, bisa jadi merupakan bulan buruk bagi kinerja (performa) sebuah rumah sakit di Indonesia! Bagaimana tidak? Pada akhir bulan ini angka kejadian pulang paksa pasien rawat inap akan meningkat tajam! Pasien rawat inap yang seharusnya belon boleh pulang, memaksakan diri untuk bisa pulang, meski dengan resiko menahan rasa sakit yang memang belon sembuh. Tapi aroma fitri dan godaan untuk bertemu dan berkumpul dengan keluarga 71

Serial Diskusi Masalah Kesehatan ‘Akses Berobat’ besar... sungguh sebuah godaan yang sangat sulit untuk dilewatkan dalam moment sebesar itu. Keputusan dengan pertimbangan kepuasan bathiniah sungguh jauh lebih besar ketimbang keputusan rasional dengan pertimbangan medis.

Hak Azasi Manusia
Keputusan soal kepulangan paksa, secara sederhana bisa jadi hanya merupakan hak azasi manusia si pasien. Keputusan soal mau berhenti berobat, melanjutkan berobat ke tempat lain, ato mau bener2 terus melanjutkan pengobatan mutlak merupakan keputusan pasien secara pribadi. Bila penyakit si pasien rawat inap adalah patah tulang misalnya, maka resiko rasa sakitnya bisa jadi mutlak hanya milik si pasien ato maksimal keluarga si pasien yang akan ikut kerepotan. Tapi bila penyakit si pasien adalah penyakit menular??? Demam berdarah misalnya... Resikonya bisa jadi akan sangat besar! Bukan hanya untuk si pasien, tapi juga memiliki eksternalitas yang sangat amat besar.

72

Pulang Paksa! Selain tubuh si pasien tetap membawa bibit penyakit yang merupakan sumber penularan, maka keputusan berhenti berobat juga membawa dampak pada perkembangan penyakit itu sendiri secara epidemiologis. Si bibit penyakit bisa menjadi resisten dengan pengobatan yang dilakukan sebelumnya, dan menjadi perlu peningkatan dosis yang lebih tinggi untuk pengobatan selanjutnya. Eksternalitasnya secara epidemiologis menjadi lebih besar lagi ketika ternyata si pasien mudik melintasi batas wilayah geografisnya. Teteub masih mau pulang paksa? pikir lagi deeeh...

73

Serial Diskusi Masalah Kesehatan ‘Akses Berobat’

Comment

Farida Dwi Handayani serba sulit memang ya! :) yaa..RS menyediakan fasilitas teleconference supaya pasien ngga pulang, hehe

Rifmi Utami Pulang paksa ditempatku sih bukan karena kepuasan batiniah mas...tapi lebih banyak karena alasan ‘finansial’, entah karena biaya pengobatannya atau karena membengkaknya ‘opportunity cost’ yang dominan karena masalah budaya... Sementara ber’busa’nya mulutku untuk mencegah terjadinya externalitas negatif seperti ngga digubris... Hmm...kapan nih ‘universal coverage’ yang utuh dijalanin... sepertinya sistem itu deh yang bisa me-reduce pulang paksa...

Agung Dwi Laksono klo pulang paksanya karena alasan financial keknya terjadi sepanjang tahun, bukannya musiman lagi... universal coverage sudah jadi isu publik... dan sudah diambang mata! semoga...

Feni Novikasari tenaga kesehatannya seneng pakde.. Hemat tenaga pan lagi puasa kikikik...

74

Pulang Paksa!

Sulistyawati Itheng pilih pulang suka dan rela....

Nurul Agustini trus, apa yang harus kami lakukan agar pasien ga pulang paksa, mas? (padahal pulang paksa menjelang idul fitri adalah hak asasi,,,,)

Ilham Akhsanu Ridlo Papa juga disuruh pulang paksa ntuh sama si mama..: P.. rupanya sepertinya kita harus membuat parameter untuk pulang paksa.. jadi yang boleh pulang paksa adalah pasien dengan (bla bla bla)...or apa sudah ada ya?

Riffa Hany mungkin di RS... tenaga kesehatnnya juga ogah-ogahan merawat karena lagi lemes karena puasa semua...., so... pasiennya jadi pengen pulang dehhhhhh

Siu Kim kurangnya kesadaran akan kesehatan..... met siang dan makasi..

Vita Darmawati yaa... memang serba sulit karena tadi pagi saja sudah dengar teman yang dirawat beberapa hari di RS sudah merasa lebih baik & bosan di RS, ijin berkali-kali ke dokter yang merawat untuk boleh pulang, walau belum pulih 75

Serial Diskusi Masalah Kesehatan ‘Akses Berobat’ benar... tentu belum boleh & sudah punya niat untuk pulang paksa!

Dwee Why pihak RS, terutama yang menangani pasien, misalnya dokter, wajib menjelaskan kondisi pasien yang seperti apa. sehingga pasien bisa mengerti dan bisa menetap sampai masa kritis berlalu atau masa beresiko telah berlalu. karena kadang pasien merasa dirinya baik-baik saja karena dalam kondisi tidak batuk, tidak luka, bisa berjalan ataupun kondisi lain yang dirasakan pasien tidak sakit. namun mereka tidak paham bahwa dalam tubuh mereka membawa penyakit dan bisa menularkan penyakit jika diluar perawatan RS. hah, panjaaangngng banget.

Christine Indrawati perasaan dokter e dah berbusa-busa deh kalo ngasih penjelasan tentang penyakit yang belum sembuh. tapi apa daya jika pasien pengen pulang dengan alasan apapun yang intine 'minta pulang' titik... lama-lama yang ngerawat di RS alias dokter juga males omong jadine ya, lha wong gak dianggep tuh... tetep aja kalo minta pulang ya pulang, terutama pas lebaran hehe... sampe ada istilah 'cuti pulang lebaran' hehe..

Nurul Agustini eh, kirain klo di jawa ga ada cuti pulang lebaran :) bener, karena setelah lebaran mereka rela balik lagi ke RS klo emang belum sembuh.

Lila Djamhari hemmmm... ga ngerti komen apa???? yang pasti tengkyu dah berbagi pengetahuan... pasiennya nakal... 76

Pulang Paksa!

Hernah Lokaria resiko ditanggung pasien... yang penting dah dikasi tau kondisi sebenarnya... faktor budaya masih kentel banget sih...

Dewiyanti Ruslan Effendi tenaga medis jalanin amanahNya tugas dia walau sampai ndower (sampai bibir memble, red) terangin ke pasien bla bla bla... selanjutnya resiko medis termasuk dampak eksternal terserah pasien... loro lan doso (sakit dan dosa, red) tanggung dewe hehehe...

Guntur Bergas universal coverage mas, moga-moga JPKM bukannya asuransi... jadi lebih komprehensif

Didik Supriyadi Konsisten dengan aturan, tanpa terpengaruh budaya lingkungan... tapi apa ya mungkin?

Ratna Wati Kabangetan deh kayaknya kalo musti maksain pulang, sementara pasien perlu perawatan, kudunya mah pihak rumah sakit juga harus tegas memberi peringatan jangan sampai menyalahkan dokter yang menangani.

77

Serial Diskusi Masalah Kesehatan ‘Akses Berobat’

Tite Kabul ha ha ha... memang susah dik, saya juga pernah kok minta pulang paksa... karena ngak betah dirumah sakit... biar pake fasilitas TV, sofa dsb sehingga bisa ditunggu keluarga tetap saja ngak nyaman... dan waktu itu saya sakit DBD...hiks hiks hiks...

78

Spiritualitas dalam Pelayanan Kesehatan

Spritualitas dalam Pelayanan Kesehatan

Monday, July 26, 2010 at 6:01am

Dear friends, Kali ini kita coba intepretasi bebas atas buku ‘Spirituality in patient care’ tulisan Harold G. Koenig. (2002). Kita tak hendak mengupas satu persatu pemikiran beliau, hanya mengadaptasi dalam konteks kekinian dalam pandangan kita atas lingkungan madani di sekitar kita. *** Indonesia… memiliki beragam budaya yang jumlahnya mengikut dengan banyaknya suku, tak terkecuali soal kepercayaan ato agama. Suatu saat agama yang sama tetap tidak bisa membuat alur persepsi yang sama terhadap suatu aspek, lebih banyak tergantung pada persepsi dan intepretasi yang dipengaruhi oleh 79

Serial Diskusi Masalah Kesehatan ‘Akses Berobat’ latar sosial dan budaya. Keberagaman ini juga berpengaruh pada pandangan atas sebuah masalah kesehatan misalnya. *dwoooh… susah bener mau masuknya* Untuk itu, menjadi sangad penting bagi seorang professional kesehatan memasukkan aspek spiritualitas ini ke dalam salah satu kompetensi yang harus dimiliki, dengan memanfaatkan sebesar2nya untuk kesembuhan pasien.

MENGAPA SPIRITUALITAS???
Ada beberapa hal sangat penting yang pada akhirnya mengharuskan kita benar2 memperhatikan aspek spiritualitas ini. • spritualitas banyak membantu kita dalam menghadapi sebuah persoalan, termasuk didalamnya persoalan kesehatan. Kita menjadi lebih sabar ketika sakit, karena meyakini sebagai sebuah upaya pengurangan dosa. • dalam beberapa kasus yang sangat serius, spiritualitas mampu mempengaruhi pengambilan sebuah keputusan 80

Spiritualitas dalam Pelayanan Kesehatan medis. Soal keputusan aborsi pada ibu hamil dengan factor penyulit yang luar biasa misalnya. • spiritualitas dalam kepercayaan dan aktifitasnya juga berhubungan dengan kondisi dan kualitas kesehatan yang lebih baik. Ketenangan batin menjadi aspek psikologis yang menguntungkan dalam upaya penyembuhan pasien. • banyak pasien berharap para professional kesehatan juga melengkapi dirinya dengan atribut spiritualitas dalam pelayanan pengobatannya. Dalam atribut religy Islam misalnya, dengan mengucap ‘bismillah…’ ketika hendak menyuntik.

MUDHARAT SPIRITUALITAS DALAM KESEHATAN
Banyak aspek dari spiritualitas yang berpengaruh positif terhadap kesehatan ato upaya penyembuhan, meski juga terselip beberapa yang berimbas negatif. Jangan terburu-buru untuk tersinggung dengan pernyataan ini! Kebenaran agama sudah dapat dipastikan kebenarannya! Tapi… intepretasi manusia atas kebenaran itu bisa jadi bersifat relative. Disinilah peluang yang merugikan kesehatan bisa timbul atas spiritualitas. Konflik yang merepresentasikan aspek teknologi pengobatan sebagai suatu hal yang modern dan aspek spiritualitas yang merepresentasikan tradisional sudah terlalu sering terjadi. Dalam beberapa hal aspek spiritualitas memberi alasan pembenar atas kedengkian, prejudis, atopun stigma, yang dalam beberapa hal menjadi boomerang atas sebuah upaya pemberantasan 81

Serial Diskusi Masalah Kesehatan ‘Akses Berobat’ penyakit. Masih lekat ingatan atas stigma penyakit lepra sebagai sebuah penyakit kutukan! Ato stigma penyakit HIV/AIDS sebagai penyakit yang menyerang kaum homoseksual saja, yang ternyata masih eksis keberadaannya sampai dengan saat ini. *** Sebenarnya… aspek spiritualitas ini bukanlah hal baru! Interaksi antara aspek spiritualitas, pelayanan kesehatan dan pengobatan, sudah terjadi dalam kurun waktu yang lama. Cukup lama untuk melebihi umur kematangan teknologi pengobatan modern. Menyikapi penyakit sebagai sebuah hukuman, cobaan, dan ato upaya pengurangan dosa menjadi sangat relatif. Memaknai sakit sebagai kasih sayang Tuhan atas kita, juga

bukan perkara mudah. Kepriben? 82

Spiritualitas dalam Pelayanan Kesehatan

Comment

Rifmi Utami sakit adalah nikmat dari sisi berbeda... proses untuk mengelolanya adalah ikhtiar... salah satu ikhtiar adalah pelayanan kesehatan normatif menurut kita, tapi tak pelak diluar hal itu yang banyak diyakini juga dapat "membebaskan" nikmat sakit...adalah mewarnai kehidupan kita dan turut berperan dalam derajat kesehatan masyarakat... Sudah saatnya untuk tidak arogan menganggap dunia medis adalah "mesti" benar, walau terbukti dg "evidence based"-pun, kita tak pernah tahu yg sesungguhnya benar yg menjadi hak Yang Kuasa...

Masagus Zainuri mas menurut saya judulnya tidak cocok, seharusnya kalo berjudul "spritualitas dan pelayanan kesehatan" yang dihubungkan adalah aspek spritual pemberi pelayanan kesehatan dan kesehatan itu sendiri, jangan dihubungkan dengan kpercayaan yang berkembang dimasyarakat,terlalu luas bahasannya,jadi gak gigit...he...tul gak??sory kalo salah saran...

Agung Dwi Laksono @mimi; butuh berjuta ke'waras'an untuk bisa bersikap benar! meski juga hanya ke'benar'an menurut kita... @nuri; bebas saja! boleh tidak setuju, boleh berselisih paham, boleh berseberangan! untuk memenuhi keberagaman... pan biar rame! asoy bukan?

83

Serial Diskusi Masalah Kesehatan ‘Akses Berobat’ "...dan Allah menjadikan kalian berbeda (bersuku, berbangsa) supaya kalian saling mengenal"

Masagus Zainuri mantap!

Feni Novikasari jadi pilihan ada ditangan kita.. *loh...

Rifmi Utami indikator ‘benar’ yang sesungguhnya-pun kita tak pernah tahu... yang ada adalah ikhtiar kita membuat kriteria "benar" yg terkadang hanya "kita" yg menganggapnya objektif...nah, lho..klo hanya "kita" berarti "subyektif" dunk...(hhhhehhh...menghela nafas mode:on)

Agung Dwi Laksono yah lumayanlah... kebenaran kolektif! hehehe... setidaknya bukan solipsisme* *kebenaran menurut diri sendiri*

Dfc Surabaya Spiritual itu bagian dari budaya lho... nilai-bilai yang diyakini kebenarannya oleh masyarakat dominan dan diwariskan secara turun-temurun... meskipun budaya itu sendiri tidak stagnan... dia bisa berubah seiring kemampuan manusia berpikir dalam upaya strategi adaptif mencapai tujuan hidupnya... 84

Spiritualitas dalam Pelayanan Kesehatan

Spiritual dalam kesehatan adalah bagian holistik dari upaya mencapai kesehetan... ikhtiar (bekerjalah) sungguh-sungguh dan berdoalah (spiritual) sungguh-sungguh... Spiritual tidak mesti sama dengan agama... agama bagian dari konsep spiritual... dan masih banyak bagian-bagian dari spiritual yang bertentangan dengan "kebenaran" agama itu sendiri... Kalau soal stigma itu masalah sosial dan edukasi bukan masalah agama... cos tidak ada satu agamapun yang mengijinkan membenci... karena agama itu mengajarkan cinta fdan kasih...

Nagiot Cansalony Salomo Tambunan Ada juga yang bilang, keseimbangan aspek material dan non material. Spiritualitas dalam health care...yah bagaimana perilaku kita untuk mengelola kesehatan pribadi; tentu untuk yang baik2/sehat, begitu jugalah seharusnya provider health care terhadap subyeknya. Manusia sudah diberi akal budi, tinggal memanfaatkan itu untuk menghasilkan perilaku, teknologi dan budaya yang bermanfaat bagi sesama manusia. Namun, level spiritualitas ini menempati urutan awal dari definisi SEHAT (kata beberapa ilmuwan paripurna). 'tul kah? Betul juga sih!...Coba, gimana dokter yang lagi stres dan tak bisa senyum, mau bedah pasien atau diajak konsul, diagnosis, nulis resep. Rakyat benar juga, bila milih layanan kesmas yang bersih, ramah, cepat dan tanggap. Sebagian besar ekspektasi itu tidak dapat terpenuhi secara lengkap di layanan kesmas publik?????? Walopun harga/ongkos lebih mahal. Sisi spiritual (kepuasan batin) mengalahkan logika untung rugi material. So....mari kelola akal budi untuk sesama. Salam SEHAT.

85

Serial Diskusi Masalah Kesehatan ‘Akses Berobat’

Sulistyawati Itheng kok abot ta Nang diskusimu kali ini, aku ra tekan le mikir hhehee,,.. tak sellehke wae..

Sutopo Patria Jati agaknya pemahaman makna kesehatan yg didalamnya mengandung unsur spiritualitas jika diformalisasikan kedalam sistem pelayanan kesehatan akan terbentur pada dua dimensi yg menurut saya berbeda, yg satu lebih pada tataran konseptual sedangkan utk pelayanan kesehatan lebih pada tataran praktikal. Namun grey area sbg tempat persinggungan dari dua dimensi ini selalu saja akan mungkin terjadi dg segala manifestasinya dan itupun amat wajar. Agaknya yang selama ini menjadi masalah adalah pola pendidikan (modern) dr sebagaian besar tenaga kesehatan sangat sedikit sekali berani menyentuh dimensi spiritualisme ini. Sedangkan model pelayanan kesehatan "tradisional" lebih memiliki sifat yg fleksibel sehingga unsur spiritualitasnya lebih kental kelihatan. Apakah mau dibandingkan atau dicari mana yg lebih "efektif dan efisien" metode yg "garing" spiritualitas dg yg lebih kental tsb diatas ? saya rasa nggak perlu ibaratnya ingin melihat mana yg lebih penting unsur jasad vs rohani pada diri satu orang sama .. :)

Herlinasusialenni Lenni ok bila saya ikt nimbrung karena saya ada didalamnya yg memberikan pelayanan kpd pasien yaitu sangat setuju bahwa spiritual dlm kontek keshatan tdk bisa dpisahkan keduanya saling bgandengan tangan untuk sama2 satu tujuan yaitu berusaha u mencr pertolongan u sembuh

86

Spiritualitas dalam Pelayanan Kesehatan dari keluhan d berdoa kata bdoa adalah secara bhatiniah jadi k2nya jalan imbang bgaimana teman2 apa bisa dterima?

Didik Supriyadi 'dan tolong menolonglah dalam kebaikan'.ato"tidaklah ada keraguan dalam kitabullah".sy yakin kesehatan dpt dikelola dgn baik.

Agung Dwi Laksono konsep spiritualitas dalam pelayanan kesehatan setidaknya juga harus dibedakan antara kesehatan individu dengan kesehatan masyarakat, karena akan menjadi sangat berbeda dampaknya antara sikap religy perorangan dengan sikap religy kolektif. juga pembedaan antara aspek religy pada pasien maupun aspek religy pada pemberi layanan, termasuk di dalamnya aspek religy interaksi antara keduanya. lagi2 bukan soal salah-benar... hanya berpikir pragmatis bagaimana aspek spiritual dapat memberi dampak positif pada sebuah kesembuhan maupun kesehatan masyarakat! ahh... betapa naifnya...

Sulistyawati Itheng naif dan betapa....!!

Lidwina Yanuar dr pengalamanku di pedalaman asmat, peranan para toga dlm kesehatan sangat bermanfaat, prlu kerjasama yg baik..

87

Serial Diskusi Masalah Kesehatan ‘Akses Berobat’

Tite Kabul Sehat itu kan sejahtera badan, jiwa dan sosial (UU Kes); penyakit itu sebag besar berkaitan dengan badan (kec pny jiwa), jadi dalam menghadapi suatu penyakit ketiga unsur kesehatan itu memang harus seimbang; jadi kalao saya sakit disamping makan obat dari dokter, saya juga munajat kepada sang khalik agar obat ini merupakan jalan menuju kesembuhan....so spritual dalam pengobatan tidak selalu diartikan pergi kedukun yaaa?...kalaupun mau, datangilah para ulama. seperti pengalaman Lidwina dipedalaman asmat para ulama asmat memang memegang peran penting...utk itu pelu kolaborasi

Riffa Hany sebenarnya di indonesia udah banyak banget yankes yang mengatasnamakan spiritual, ada Rs islam, RS kristen, RS katholik..., mustinya disetiap pelayanan baik tempat,sarana maupun pemberi layanannyapun hrs mencerminkan agama apa yang mjd pondasi,shg pasien bs merasa tenang saat menghadapi sakit atau saat mendekati maut....., tapi sudahkah semua RS kita yang mengatasnamakan spiritual sudah seperti itu...???nggak konsekuen dan pinjem nama doang dong,,,,biar RSnya laku..., yach begitulah indonesia

Nagiot Cansalony Salomo Tambunan Mari upayakan SEHAT spiritual, jiwa, emosi, raga, badan....Rakyat SEHAT Negara KUAT.....mau perang?...@mode canda

88

Bayangmu yang Berkabut...

Bayangmu yang Berkabut...

October 11, 2010 at 5:16am

Dear all, Di negeri tercinta ini… berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar 2007 proporsi responden yang mengaku pernah didiagnosis katarak oleh tenaga kesehatan dan atau mempunyai gejala penglihatan berkabut dan silau dalam 12 bulan terakhir secara nasional mencapai 17,3% dari seluruh penduduk yang ada. Tiga proporsi tertinggi ada di Propinsi Nusa Tenggara Timur sebesar 28,1%, kemudian Sulawesi Tengah sebesar 28% dan peringkat ketiga Gorontalo sebesar 27,6%. Survey ini dilakukan pada penduduk berumur lebih atau sama dengan tiga puluh tahun ke atas. Keterbatasan penelitian pada pengumpulan data survey katarak adalah kemampuan pengumpul data (surveyor) yang bervariasi dalam menilai lensa mata 89

Serial Diskusi Masalah Kesehatan ‘Akses Berobat’ menggunakan alat bantu pen-light, sehingga pemakaian lensa intra-okular okular pada responden yang mengaku telah menjalani operasi katarak tidak dapat dikonfirmasi. Sebenarnya cakupan penduduk yang didiagnosis menderita katarak rendah sekali, secara nasional hanya ya mencapai kisaran angka 1,8%, sisanya adalah penduduk yang mempunyai gejala penyakit katarak, yaitu penglihatan berkabut dan silau, tetapi tidak kontak dengan petugas kesehatan. Ini bisa menjadi gambaran bahwa betapa kesehatan mata belum menjadi priorita prioritas bagi sebagian besar penduduk kita.

FENOMENA???
Bila gambaran proporsi penduduk yang terdiagnosa oleh petugas kesehatan kita breakdown menurut kuintil tingkat kemelaratan (diambil nerdasarkan data pengeluaran pengeluaran per kapita per tahun), maka gambaran aran datanya akan nampak seperti di bawah ini…

90

Bayangmu yang Berkabut...

Proporsi Penduduk >= 30 tahun yang Didiagnosa menderita Katarak oleh Petugas Kesehatan di Indonesia berdasarkan Kuintil Tingkat Pengeluaran per Kapita per Tahun, Riskesdas 2007

Bila kita lihat gambaran proporsi tersebut secara mandiri, maka menunjukkan bahwa semakin kaya (kuintil 5) semakin banyak yang terjangkit penyakit katarak! Tapi coba perhatikan gambaran proporsi penduduk yang memiliki gejala katarak di bawah ini berdasarkan tingkat kemelaratannya…

91

Serial Diskusi Masalah Kesehatan ‘Akses Berobat’

Proporsi Penduduk >= 30 tahun yang Memiliki Gejala menderita Katarak di Indonesia berdasarkan Kuintil Tingkat Pengeluaran per Kapita per Tahun, Riskesdas 2007

Terlihat jelas perbedaannya… Bahwa semakin miskin (kuintil 1) maka proporsi penduduk yang memiliki gejala penyakit katarak semakin besar! Daaaaannn… kesimpulannya adalah… Kesehatan… masih tetap merupakan kebutuhan tersier bagi rakyat miskin, masih tetap merupakan barang mahal yang tak terjangkau oleh rakyat miskin. Aksesibilitas kesehatan, terutama kesehatan mata, masih saja tidak menunjukkan equity (keadilan) yang memihak pada rakyat miskin.

92

Bayangmu yang Berkabut... Bagaimana? Sampeyan tidak setuju dengan kesimpulan saya? Boleeeeeh…

93

Serial Diskusi Masalah Kesehatan ‘Akses Berobat’

Comment

Rifmi Utami klo menurut aku sih...bkn menganggap kebut tersier, cmn mereka tdk melihat keterkaitan antar kebutuhan. Pd dsrnya toh yg mereka cari adalah seputar : makan, baju, tempat berlindung, kebut rekreasi klo bisa...dan semua itu penunjang utama kesehatan tubuh. Andai mereka mencarinya dgn berwawasan kesehatan, maka insyaAllah ngga ada masalah kesehatan yang berarti. Pun kesehatan mata, betapapun mata adalah jendela dunia, terkadang mereka tak begitu perhatian akan kualitas pandangan mereka sampai menemukannya sudah benar2 dlm keadaan visus 0. Mungkin sebaiknya perlu menumbuhkan "sense of bodyself care" atau istilah apa yg pantas, shg kita peduli pd diri kita sendiri saat sehat sblm datang sakit kita..

Evi Sulistyorini nek masalah silau to kang, surveyornya yg berjidat agak lebar harus pake topi trs n harap jgn pamer gigi dl saat wwncra biar hasilnya ga bias... Hehehehe

Rima Tunjungsari yah aq s7 dh b.rifmi, prl bgt mnumbuhkn kpedulian thd kndisi kshtan diri, wl hal itu pst brkaitn dg tgkt kmmpuan diri scr eknmi..

Jane Kartika Propiona Nelhemida kesh blm dianggap sbg hal yg pntg krn msh terkalahkan dgn keb makan. Jangankan rkyt miskn, rakyat yg memp kemamp ekonomi mampu jg menganggap kesh sbg keb sambil lalu terbukti msh sdktnya yg 94

Bayangmu yang Berkabut... ikt asuransi kesh ato mengalokasikan sdkt pendapatan untk kesh ataupun melak tndk med chek sbg tndkn preventif. Jd paradigma ato mindset masy tntg kesh perlu dirubah.

Decy Tarius kakean pikiran........

Ade Ayu Ckckckkkkk.... Jelas aja semua penyakit kebanyakan numpuk pada rakyat miskin.. Jangankan mikirin kesehatan, mikir yg mo di makan besok aja masih gelap... Hemm.... Tapi ngomong2 um..., kq ayu kalo mengimajinasikan wajah u'um yg hadir kq cuma bayangan kabur aja yaa...????

Agung Dwi Laksono hmm...

Riffa Hany saya ikut sediiih, tambah lagi deh penyakit akibat kemiskinan..., artinye bila semua org jadi kaya..., penyakitnya banyak yang ilang dwongggg...,nti ganti penyakit org kaya..., yach biarlah ...penyakit itu tetep pada posisinya...!!!!

Agung Dwi Laksono setiap posisi ada tantangannya! sebagaimana orang miskin pun orang kaya. tapi tetep aja klo bisa milih aku milih jadi orang kaya! hehehe... 95

Serial Diskusi Masalah Kesehatan ‘Akses Berobat’

Anisa Riza kadang bukan hanya mereka "orang miskin" pak,,,tapi kita,mereka dan semua orang kadang susah untuk memahami pentingnya menjaga kesehatan. BAGI ORANG MISKIN = sakit di biarin,,karena gak ada uang untuk berobat tapi.... karena banyak uang,,jadi mikirinya,,klu sakit gampanglah..berobat saja=BAGI ORANG KAYA jadi bingung pak..hehe pokonya pengen bisa buka pikiran dan hati masyarakat,,,bahwa >>>Sehat itu MURAH,,yang MAHAL itu sakit! >>>Menjaga dan mencegah itu lebih baik daripada mengobati! maaf,,klu pendapat ica hanya berdasarkan pengalaman pribadi...bukan pengamalan ilmu,,heheh...

Ratna Wati Gung, kayaknya sih, semua berpulang pada Pemerintah Negara ini deh, coba aja kalo semua serba terjangkau pan enak tuh! Dan pengertian kesehata pada masyarakat secara menyeluruh, dgn komen2 diatas : Menjaga dan mencegah lbh baik daripada keluar duit! Hehe...

Tite Kabul memang menangani masyarakat tidak mampu itu perlu kerja sama lintas sektor yaaa, walaupun katakanlah yankes gratis.....mereka punya kendala yang diluar kendali kesehatan...trasportasinya, kmd biaya hidup di RS dll, shg banyak orang tak mampu lebih memilih jalan ditempat.

96

Jampersal di Lobar; Apa Memang Begini Mekanismenya???

Jampersal di Lobar; Apa Memang Begini Mekanismenya???

July 11, 2011 at 5:16am Dear all, Sekali tepuk tujuh lalat mati, filosofi yang mulai mulai menggejala sebagai sebuah pendekatan di PDBK! Atau mungkin keingintahuan atau bahkan mulut nyiyir peneliti yang mau tahu segalanya! Hahaha… Berikut hasil investigasi terkait Jampersal di Kabupaten Lombok Barat yang dilakukan bersamaan dengan wawancara Rifaskes dan PDBK di Puskesmas Gunungsari-Lombok Barat. 97

Serial Diskusi Masalah Kesehatan ‘Akses Berobat’ Saya keluarkan dulu ringkasan bombastisnya… Bidan dalam menolong persalinan di wilayah Kabupaten Lombok Barat hanya menerima 60% dari paket resmi Jampersal! (80% dari 75% paket resmi pertolongan persalinan) Bagaimana bisa??? Saya sungguh tercengang dengan realitas ini. Apakah memang begini yang seharusnya? Bila benar, berarti saya telah salah untuk takjub. Alur pengajuan klaim biaya pertolongan persalinan di Lombok Barat sebagai berikut; 1. Setelah melakukan pertolongan persalinan, bidan desa mengajukan klaim ke dinas kesehatan lewat puskesmas. 2. Setelah dilakukan verivikasi, dinas kesehatan memberikan feedback ke puskesmas, lanjut ke bidan. 3. Selanjutnya puskesmas mengajukan usulan pengambilan uang ke PT Pos. surat usulan pengambilan ini tidak bisa langsung diajukan, tetapi harus meminta tanda tangan kepala dinas kesehatan dan kepala bidang yang bersangkutan. 4. Setelah surat dilengkapi dengan tanda tangan kadinkes dan kabid, baru diajukan ke PT Pos. menunggu 3-4 hari sampai uang tersedia, baru bisa cair. 5. Uang cair… masalah belum selesai sodara! Uang yang telah cair di setorkan oleh puskesmas ke dinas kesehatan. 6. Selanjutnya dinas kesehatan menyetorkan uang tersebut ke pemerintah daerah. 7. Dari pemerintah daerah uang turun ke puskesmas sebagai dana DIPA. Uang yang diterimakan sebanyak 75% dari hasil klaim dengan mata anggaran sebagai biaya operasional puskesmas. 98

Jampersal di Lobar; Apa Memang Begini Mekanismenya??? 8. Selanjutnya puskesmas menerimakan ke bidan penolong persalinan sebesar 80% dari total 75% yang diterima puskesmas. 9. Jadi setelah perhitungan akhir, bidan penolong persalinan menerima bersih 60% dari total biaya resmi yang seharusnya didapatkan. 10. Dalam proses tersebut memakan waktu 3-4 bulan dari mulai proses klaim sampai dengan uang 60% diterima bidan penolong persalinan. Pada poin ini dapat disimpulkan bahwa klaim Jampersal dikategorikan sebagai PAD (pendapatan asli daerah) Kabupaten Lombok Barat. Biaya resmi pertolongan persalinan di Kabupaten Lombok Barat untuk Jampersal adalah; Persalinan; Rp. 350.000,-, termasuk 1 hari rawat inap. ANC; 4 kali kunjungan x Rp. 10.000,PNC; 3 kali kunjungan x Rp. 10.000,-

Jadi total paket biaya pertolongan persalinan sebesar Rp. 420.000,(mohon koreksi bila salah). Mohon penjelasan untuk yang berwenang pada Jampersal. Sekali lagi… apakah mekanismenya memang seperti ini??? Semoga ada yang berkenan menjawabnya.

99

Serial Diskusi Masalah Kesehatan ‘Akses Berobat’

Comment
sebelum masuk pada diskusi di Facebook, saya paparkan hasil diskusi di milis PDBK; *** Pak Usman, Tolong dijawab. Kalau benar daerahnya memotong, segera hubungi kadinkesnya. Buat surat dari saya, tembusan Mendagri. Kl perlu Menkokesra dan Wapres. TIDAK BOLEH ada yg menghambat program yg merupakan upaya penurunan AKI dan AKB ini. Terimakasih. #Endang Rahayu Sedyaningsih - MK *** ADL, yang hebat; Bu Ron, cari jawab ya; Kita smua cari jawab dg download juknis jampersal, apakah juknis tdk mengatakan apa yg ingin/harus kita katakan? Atau juknis kita bisa ditafsir demikian. Kerugian jika kejadian ini benar: 1) jika 60% itu lbh kecil dr tarif biasanya, maka bidan akan ambil dari pasien; kalo bidan 'jahat' dia ambil dua100

Jampersal di Lobar; Apa Memang Begini Mekanismenya??? duanya, dia pasti punya cara, paling tidak ambil dari pasien dengan discount, sehingga pasien untung juga, asal pasien mau 'tutup mulut'. 2) ya tujuan jampersal tidak tercapai 3) realisasi jampersal rendah, kita salah kesimpulan untuk planning berikutnya. Mari Jo #Sawidjan Gunadi *** mas Agung kayaknya bukan hanya di lombok aja deh, temantemanku bidan yang di madura juga pada ngeluh dengan adanya jampersal karena banyak potong sana sini. alhasil yang mereka dapatkan juga gak sesuai, sama aja kerja bakti dong kalo begitu. Kalo kinerja tidak dihargai dengan baik, maka mutu pelayananpun patut untuk dipertanyakan. #Fenty Dwi *** Dear PDBkers...... Salam sukses pdbk......! Dear pak ADL, pak Sawi, and all JAMPERSAL...Jampersal: Tujuannya untuk mengejar MDG's dengan menurunkan AKI dan AKB.....! Karena AKI penyebab utamanya 3 TERLAMBAT maka Jampersal adalah untuk persalinan oleh NaKes di Faskes. Kenapa Faskes? NakeS?

101

Serial Diskusi Masalah Kesehatan ‘Akses Berobat’ Jika terjadi Komplikasi dalam masa persalinan (in-partu sampai dengan 2 jam post partum) dapat segera diatasi (dikirim ke faskes yang lebih mumpuni) ... hilangkan 3T tadi, Jika persalinan di Non-Faskes pasti akan terjadi lebih lambat...! Akibatnya dapat diduga.... Dimana faskes jampersal? Disemua faskes yang punya fasilitas pelayanan persalinan yang tanda tangan PKS (Perjanjian Kerja Sama) dengan Dinkes kabupaten/kota selaku pengelola Jamkesmas dan BOK. Sasarannya siapa sih?: Seluruh ibu hamil dan melahirkan di kelas 3, dan neonatus (baru lahir sampai dengan 28 hari) Mengapa ga pakai Surat NiKAH? Karena tujuan jampersal menyelamatkan para IBU dan BAYI saat kelahiran.....maka tidak mempermasalahkan ibunya kawin resmi atau anak hasil perselingkuhan...yang terakhir ini urusan Kementerian Agama.....!! Kalau mereka ga boleh Jampersal dan terjadi penyulit persalinan, dan ga bisa bayar, dan kasus terus mati berarti ga jadi AKINO tapi AKIJI (AKI siJI mati hehehehee) Bagaimana Pembiayaan? Seluruh jenis biaya jampersal yang disampaikan pak ADL adalah betul..... (Mulai ANC sampai dengan PNC) Seluruh biaya tersebut dapat langsung diterima oleh pemberi pelayanan jampersal, bagi faskes pemerintah dan swasta.... 102

Jampersal di Lobar; Apa Memang Begini Mekanismenya??? Apa saja yang diperlukan untuk pelayanan persalinan? diperlukan: 1) Ruangan, Tempat tidur fisiologis/patologis pervaginam 2) Makanan minuman selama rawat inap 3) Air listrik selama rawat inap 4) Perlengkan alat kesehatan untuk fasilitas menolong persalinan 5) Obat-obatan 6) Alas tidur (laken, dll) 7) Tenaga yang kompeten untuk persalinan 8) Dll Butir-butir yang diperlukan dalam pertolongan persalinan tersebut akan beda perlakuannya untuk fasilitas kesehatan pemerintah atau swasta. Kalau faskes pemerintah kan butir 1-6 disediakan dari anggaran operasional puskesmas atau Pemda, jadi wajar donk kalau dikenakan beban biaya....? Kalau faskes swasta kan semua millik sendiri jadi ya dibayarkan full semua, TAPI INGAT pegawainya Faskes swasta juga tidak akan terima full.. Pasti dia mendapat se per"X" dari biaya persalinan jampersal... Kalau semuanya diberikan kepada bidannya... lama-lama faskes swastanya ga bisa opersional donk....? Bener gak sih? Bisa di copy? Nah seiring atau analog dengan pegawai faskes swasta... berarti pegawai faskes pemerintah juga alami hal yang sama... demikian juga untuk BPS (bidan praktek swasta) pasti ada cost untuk nonnakes dan cost untuk nakes... Begituuuu kawankuuu..... Untuk faskes pemerintah tampaknya rumit ya? Tapi kalau kita mau masuk ke manajemen faskes swasta sesungguhnya prosesnya sama, hanya periode waktu putarannya relatif lebih pendek... 103

Serial Diskusi Masalah Kesehatan ‘Akses Berobat’ #Theresia Rony *** Mari kita tangkap dulu permasalahannya : Tentang masuk kas daerah. - Uang Jampersal masuk rekening Dinkeskab, - Setelah terjadi pelayanan, kadinkes mengeluarkan dari rekening & membayarkan kepada pemberi pelayanan persalinan, - bayaran itulah yg masuk ke kas daerah - dari kas daerah dikeluarkan untuk dibayarkan kepada petugas pemberi layanan persalinan, - jika petugas itu melayani di puskesmas dibayarkan sebesar tarif perda/perbup tentang tarif persalinan (jadi kalo tarif pusat untuk persalinan lebih besar dari perda, maka selisih itu tertinggal di kas daerah donk, atau ini yang disebut retribusi pajak). - jika di poskesdes maka kas daerah membayar kepada penolong persalinan 100%. 100% ini sebesar tarif pusat atau tarif perda/perbup. - jika analisa saya betul, dan pengetahuan saya bahwa ada tarif pusat itu betul, maka terdapat dua tarif; disini ada potensi keliru, karena mengambil dari rekening sebesar tarif pusat dan membayar kepada penolong sebesar tarif perbup. - jika tidak ada yang salah dalam besaran tarif, masih benarlah setiap penerimaan uang hasil pelayanan masuk ke kasda, tetapi mengurangi penerimaan itu baru dibayarkan kepada pemberi layanan berarti daerah ini hidup dari hasil retribusi orang-orang sakit, yang lebih khusus lagi adalah berarti mengganggu maksud dari terobosan ini; - barangkali perlu sosialisasi menyeluruh, diperkaya oleh informasi empiris seperti ini, kepada semua aparat pemeriksa agar pernak-pernik pelaksanaan jampersal ini memperoleh jawaban yang memadai, bagaimana 104

Jampersal di Lobar; Apa Memang Begini Mekanismenya??? menurut berbagai ketentuan normal dan kalau ada terobosan sesuai prioritas program maka harus dilakukan/terbitkan apa. saya belum baca lengkap juknis jampersal, masih di BauBau yang susah download.

-

Mohon maaf kepada para pihak yang berwenang, saya hanya mengurai statement yang ditulis Mas Agung, yang sangat bisa jadi saya salah besar. Moga-moga uraian saya membantu mengatasinya, karena tak mungkin mengatasi persoalan jika kita tidak terlebih dulu clear dengan masalahnya. Sip, kami sedang bersiap kalakarya di Kota Bau-Bau, Kota Pertama Berkalakarya. Mohon doa, demi kemanusiaan. manusia sehat, dimanapun dia. #Sawidjan Gunadi *** Pak Sawi, pak DB dkk PDBK, mohon maaf saya lambat respon. Beberapa terkait dengan Jamkesmas dan Jampersal secara singkat sebagai berikut: 1. Peserta Jamkesmas adalah fakir miskin dan tidak mampu yang telah mempunyai identitas kartu peserta. Untuk masuk menjadi peserta Jamkesmas ditetapkan oleh bupati/walikota, dengan demikian peserta Jamkesmas tidak mendaftarkan diri. Bila ada yang masih miskin dan tidak mampu tetapi tidak masuk dalam keputusan bupati/walikota sebagai peserta Jamkesmas maka pembiayaannya menjadi tanggung jawab daerah melalui Jamkesda (berbagai varian nama/model dan paket yang belum seragam). Sasaran Jampersal terbuka untuk semua Ibu hamil yang mau menggunakan perangkat ini (yang belum memiliki jaminan kesehatan).

105

Serial Diskusi Masalah Kesehatan ‘Akses Berobat’ 2. Pelayanan kesehatan a. Jaringan pelayanan kesehatan peserta jamkesmas untuk primary care dilaksanakan di Puskesmas dan jaringannya, sedangkan untuk Jampersal dapat melibatkan BPS, klinik bersalin, dokter praktek dll., yang secara sukarela berkeinginan ikut dalam progaram Jampersal (melakukan PKS dengan Dinas Kesehatan). b. Manfaat yang diterima peserta Jamkesmas bersifat komprehensif sesuai indikasi medis, dengan demikian apabila secara medis dokter (profesional yang sudah disumpah) maka kasus penyakit ditanggung. Yang dibatasi adalah kacamata, prothesa dll. Paket yang diberikan bersifat standar artinya secara medis ditanggung tetapi yang ditanggung adalah harga yang paling cost efective dan rasional termasuk juga penggunaan obat dan AMHP. Yang tidak dijamin adalah pelayanan yang bersifat kosmetik, upaya mendapat keturunan seperti bayi tabung, general check up, gigi palsu dll sejenis. Manfaat yang diberikan untuk Jampersal adalah seluruhnya yang terkait dengan persalinannya, persalinan normal, risti, persalinan macet, aborsi dengan indikasi, retensio placenta, gravi dll. c. Pelayanan kesehatan Jamkesmas dan Jampersal dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. Terstruktur artinya untuk persalinan harus dilakukan ANC, dan PNC. Berjenjang artinya dilakukan berdasarkan rujukan. Persalinan normal dilakukan di pelayanan dasar (di faskes puskesmas, bidan praktek swasta, klinik bersalin), sedangkan bila ditemukan kemungkinan Risti wajib dirujuk ke faskes yang lebih tinggi (kecuali kasus kedaruratan dapat tanpa rujukan). 3. Pendanaan Jamkesmas dan Jampersal a. Sumber biaya APBN dengan jenis belanja bantuan sosial b. Alokasi dana kab/kota. Alokasi dana jamkesmas diperhitungkan berdasarkan jumlah peserta jamkesmas kabupaten/kota x 12 ribu + 10% 106

Jampersal di Lobar; Apa Memang Begini Mekanismenya??? + alokasi dana persalinan. Alokasi dana persalinan 60% x estimasi persalinan x 80% (estimasi persalinan normal). Kedua alokasi ini menjadi satu kesatuan (terintegrasi), dengan demikian dapat digunakan flexibel apabila alokasi Jampersal habis dapat digunakan dana jamkesmas dan sebaliknya. Dana ditransfer langsung dari KPPN V Jakarta ke rekening Dinkes kabupaten/kota. (Berbeda dengan tahun 2010 kebelakang, dana tersebut dikirim melalui kantor pos dan penggunaannya diusulkan puskesmas dengan membuat POA, disetujui dinas, PKM ambil dana, laksanakan kegiatan, kemudian pertanggungjawaban). c. Setelah dana diterima oleh dinkes (pengelola), dana tersebut digunakan untuk membayar klaim atas usulan klaim kegiatan pelayanan kesehatan (termasuk persalinan) yang dilakukan oleh puskesmas atau bidan praktek swasta, dll (langsung ke dinkes). Dinkes akan melakukan verifikasi klaim dan membayarnya. d. Status dana yang ditransfer dan masuk ke rekening dinkes kabupaten/kota adalah dana peserta Jamkesmas dan peserta persalinan, bukan dana pemerintah atau dana daerah. Dana ini dikelola tanpa melalui mekanisme daerah (tidak melalui kas daerah) sebagaimana SK DG perbendaharaan negara (dapat didownload di web kemkes), dengan demikian dana tersebut tidak dapat dimasukan ke kas daerah karena belum menjadi pendapatan daerah. Setelah dana tersebut dibayarkan (atas klaim) kepada PKM maka status dana tersebut berubah menjadi pendapatan PKMS/bidan praktek swasta/klinik bersalin, dll (bukan lagi dana peserta). Setelah menjadi pendapatan PKMS maka berlakulah mekanisme daerah, dengan demikian memang dana ini menjadi kewenangan daerah sesuai dengan pengaturannya (Permendagri 59/2007, PP 25/2010), segala jenis pendapatan harus masuk ke Kas daerah. Namun demikian Kemkes melalui Permenkes tentang Jukknis Jaminan Persalinan tahun 2011, dengan pemikiran keberlangsungan program ini membuat pengaturannya melalui beberapa opsi yang dapat 107

Serial Diskusi Masalah Kesehatan ‘Akses Berobat’ dipilih sesuai dengan yang sudah berjalan di daerah dan atau akan diterapkan daerah sebagai berikut: 1) Pendapatan tersebut langsung digunakan oleh PKM untuk membayar jasa pelayanan, setelah itu nettonya disetorkan ke kas daerah. 2) Pendapatan tersebut digunakan langsung oleh PKM tetapi seluruh pendapatannya dilaporkan ke Kasda untuk dicatat (tidak secara fisik). 3) Pendapatan tersebut seluruhnya disetorkan ke kas daerah tetapi dalam waktu satu bulan dikembalikan ke PKM untuk pembayaran jasa pelayanan, dll. Catatan : Jasa pelayanan sebagaimana dimaksud dari 3 opsi tersebut diatur sebagai berikut: 1) Jasa pelayanan kesehatan umum (dari peserta Jamkesmas) sebesar minimal 50% dari Perda tarif yang berlaku didaerah tersebut, 2) khusus utk persalinan min 75% dari tarif yg ditetapkan pd juknis/permenkes Apapun pilihan opsinya harus diatur melalui payung pengaturannya. Apabila belum ada perda yg mengatur ttg hal tsbt dapat digunakan keputusan bup/wli atas usulan kadinkes setempat. Simpulan : 1) Dari hasil penelususan dan diskusi, banyak opsi pilihan pada no 3, artinya masuk dahulu kekas daerah, baru kmdn dkembalikan ke puskesmas 2) Pilihan2 tsbt tentu daerah mempertimbangkan berbagai hal demi utk kelancaran dan keamanan pengelola daerah (bukan menambah dan mempersulit dng birokrasi) 3) Lap pelaksanaan di Lobar harus didalami kembali krn terkesan masih dualisme pelaksanaan, thn ini tdk ada dana yg dialirkan mllui kantor pos. 4) Program persalinan walaupun barang lama tetapi masih memerlukan perhatian ttg pemahamannya terutama dalam pengelolaan dana dan Hak serta kewajiban peserta

108

Jampersal di Lobar; Apa Memang Begini Mekanismenya??? 5) Banyak hal yg seharusnya bersifat dilaksanakan fardhu Ain masih kita berlakukan fardhu kifayah, krn masih dilakukan pendekatan persuasif. Kita masih memberikan pembelajaran, kedispilinan, pengetahuan dll kpd masyarakat pengguna. Contoh banyak persalinan normal yg dilakukan di RS ttp masih kita toleransi, begitu juga penggunaan alkon kb, wajib tp tetap juga kita bayar kalau ybs menolak. Masih perlu waktu utk menegakan disiplin sesuai pengaturan sebenarnya 6) Masih banyak kelemahanya tetapi tdk usyah diragukan programnya, kita perbaiki secara saksama dan dalam tempo secepat cepatnya. Sudah banyak manfaat dari program ini, bahkan skrang kita harus perhatian thdp kebutuhan RS yg sdh overload persalinan dan pasien jamkesmas umumnya sbgmn juga lap pak Ts 7) Tidak ada yg sempurna dari suatu sistem, yg kita lakukan ada memperbaiki, mendekatinya. Pengalaman menunjukan bhw konsistensi secara terus menerus dari suatu sistem akan lebih baik apabila selalu bongkar pasang namun demikian sistem juga beradapsi dng waktu. Sistem yg skrnag berjalan belum tentu tepat utuk sepuluh atau duapuluh thn kedepan. Tidak ada yg kekal, tidak ada yg sempurna dari suatu sistem, krn yg kekal dan sempurna hanya yg maha pencipta alam dan seisinya Bila dimungkinkan ada pertemuan tim pdbk dapat dilakukan pembekalan dan diskusi hasil lapangan agara ada masukan perbaikan kedepan. Kita juga memerlukan sosialisasi program (tidak hanya jamkesmas dan jampersal) kpd pemeriksa BPK pusat maupun wilayah krn banyak pemahaman yg berbeda2. Mdh2an bermanfaat utk semua #Usman Sumantri *** luar biasa, luar biasa, 109

Serial Diskusi Masalah Kesehatan ‘Akses Berobat’ luar biasa, Pak USP2JK sdh melaksanakan tugas kepekaannya dg luar biasa, tinggal kita himpun 'temuan luar biasa dari lapngan' utk kita bawa kekelas, dan kita diskusikan dg Pak USP2JK dalam 'Kelas Berbagi' sebagaimana ddisebut dalam Buku 1,2,3; dg catatan, tangkap baik2 seluruh persoalan, sd clear betul dimana soalnya, Pak USP2JK, jangan Bapak kecil hati krn dipuji hanya oleh seorang setafff, krn sesungguhnya melalui kami jugalah niat baik MK dan Bapak akan tersampaikan dg baik ke sasaran dg baik juga. hayoo kapan kita buka lagi 'kelas berbagi' pedebekers, apalagi kalau kelas itu ada ketua kelas beneran. aku sdh punya soalan2 al : 1) ada Kapusk yg terus menyimpan slrh bukti pengeluaran kegiatan puskesmasnya th 2010, yg tdk terbayar krn tdk dpt kiriman uang jamkesmas, sdg th 2011 sdh tdk ada lagi kiriman utk puskesmas, hrs ke dinkes dan disana ditolak, beliau membutuhkan penjelasan dan dokumen legal utk membackup penjelasannya bagi seluruh jajaran puskesmasnya; 2) bagaimana jika HANYA in-partu saja, krn sdg dalam perjalanan, bagaimana mengelolanya; 3) dari uraian Pak US ketika kadis membayar menggunakan tarif pusat, ketika petugas dibayar menggunakan tarif perda/perbup/perwali, kalau demikian sebenarnya kita / jampersal membayari pemda atau membayari petugas2 yg bekerja ekstra keras atau membayari ibu-persal; 4) bahwa jampersal dan jamkesmas bisa saling lebur ini harus disosialisasikan ekstra keras dan hati2 krn logikanya sejak uang diterima ya disatukan saja, kalau kita bilang bhw stlh salah satu habis bisa diambil dari salah satu yg lain tanpa penjelasan lain akan menimbulkan keraguan di bawah; ketika ragu mereka akan cari aman, toh tdk ada keuntungan di level dinas; 5) point 4) sdh ada contohnya, karena ternyata soalan 1) saya diatas menurut Rony (saya sdg bersamanya) terjadi di banyak puskesmas, itu terjadi krn dinkes tdk melakukan realokasi antar 110

Jampersal di Lobar; Apa Memang Begini Mekanismenya??? puskesmas pd 2010 seperti saran pusat, saran yg membebani / ribet tdk menguntungkan daerah. shg terdpt pusk yg kelebihan anggaran kmdn disetor sementara ada pusk yg kekurangan yg hanya bisa berdoa dan tdk bisa memaksa kadinkesnya utk realokasi; begitulah rasanya kita semua setuju dg Pak US utk memperbanyak kelas berbagi. #Sawidjan Gunadi *** Pak ADL.... Good job.....! Perlakuan pembayaran Jampersal kpd faskes swasta dan faskes pemda memang beda.... Bidan ketika siang....menjadi peg puskesmas.....dan ketika persalinan di puskesmas/faskes milik pemerintah daerah berarti wajib setor ke kas daerah dulu.... Ketika persalinan diluar jam kerja dan berada diluar faskes pemda maka biaya persalinan diserahkan 100%...... Nah, polindes itu kan bukan milik pemda? Berarti biaya persalinan dapat diberikan 100 %, kecuali bidannya menggunakan obat/alat milik pemda tentunya menjadi tidak bulat seratus persen.... Harusnya kebijakan pekalongan itu dapat dibenarkan. Oh ya, perlu dicatat: bahwa semua faskes non pemda/non pemerintah harus dilakukan PKS ya... (PKS÷ Perjanjian kerja Sama) Salam sukses pdbk #Theresia Rony 111

Serial Diskusi Masalah Kesehatan ‘Akses Berobat’

***

Ilham Akhsanu Ridlo PAD?? penasaran nih pap...

Anni Haryati aduhaiiii... teman-teman bidankuuu...

Sutopo Patria Jati apa ini terjadi hanya di Lombok atau di daerah lain pak? Jika sudah masuk /dianggap sebagai PAD maka seberapa efektifnya pemerintah pusat melakukan intervensinya ya pak ?

Hasyim Purwadi Jampersal masuk PAD atau tidak, tergantung tempat pelayanan dan kebijakan pemda setempat. kalo pertolongan persalinan di puskesmas maka pendapatan jampersal masuk ke kas daerah (PAD) dan bidan penolong mendapat jasa pelayanan sesuai perda atau kebijakan daerah... klo pelayanan di polindes dan polindes tidak masuk obyek retribusi daerah.. maka jampersal dapat diterima 100% oleh bidan desa yang menolong..

Agung Dwi Laksono Pak topo dan pak hasyim, sikap pemerintah Pusat sudah jelas! Komen pertama di note ini adalah komentar dan sikap tegas menteri kesehatan atas berita ini 112

Jampersal di Lobar; Apa Memang Begini Mekanismenya???

Hasyim Purwadi Pak Agung, pengalaman saya selama ini, kalo hanya sikap menteri kesehatan tanpa ada surat hasil "komunikasi or koordinasi" dengan BPK kita selalu disalahkan oleh Pemeriksa BPK karena BPK selalu berpedoman bahwa semua dana hasil pelayanan kesehatan harus masuk kas daerah....inilah Indonesia ...begitu sulitnya birokrasi pak..pengalaman lain saya... vaksin yang bersumber dari JPS-BK yang sekarang jadi jamkesmas..saya diinterogasi mengapa vaksin tidak digunakan tepat sasaran yi bayi miskin...padahal klo di posyandu memilah bayi miskin dan tidak miskin kan rada susah...weleh-weleh...tobat negeriku ini pak...

Hasyim Purwadi kalo saya sepakat biaya diserahkan 100% ke penolong persalinan... tapi pemeriksa BPK harus dikasih pengertian biar tidak jadi temuan pak...

Agung Dwi Laksono pak Hasyim Purwadi akan saya teruskan tanggapan bapak ini pada yg terkait pak. pada bu MK dan pak Usman. semoga ada solusi yang memuaskan antara harapan kita dengan kenyataan di lapangan

Ella Sofa menyimak, prihatin...

Sutopo Patria Jati @Mas Hasyim: di Pekalongan berarti ada 2 mekanisme pencairan dana jampersal (mohon dikoreksi jika saya salah), yang satu sama seperti yang di Lombok seperti 113

Serial Diskusi Masalah Kesehatan ‘Akses Berobat’ diatas, dan yang satunya tidak dimasukkan ke PAD tetapi langsung ditransfer ke bidan desa/polindes? Pertanyaan selanjutnya yang masuk PAD apakah juga dipotong oleh pemda maupun DKK seperti kasus diatas? Berapa potongannya mas? Suwun sharingnya ya

Arih Diyaning Intiasari Di daerahku Klaim Jampersal bisa buat partus saja tidak harus sepaket dengan ANC nya..yg masih belum jelas memang untuk pembiayaan paket kontap IUD yang harusnya dari BKKBN mulai dari alat sampai jasa pemasangan.... untuk mekanisme pencairan dana 100 % untuk bidan penolong persalinan yang masih belum purna, baik di PKD, Puskesmas maupun BPM.....bahkan ada COD dengan JPKM daerah untuk menghapus benefit partus pada skema JPKM daerah dan biaya persalinan diarahkan sepenuhnya pada skema jampersal... Yang menjadi masalah....setelah hampir 2 bulan start...tak satupun klaim jampersal yang diajukan ke DKK.....ada resistensi dari bidan sebagai tenaga pelaksana dengan alasan klaimnya terlalu kecil... terutama oleh bidan senior... kebetulan juga topik nih jadi grand design penelitianku tahun ini... mulai dari studi pendahuluan analisis unit cost persalinan normal oleh bidan di beberapa fasilitas kesehatan...

Anni Haryati @ Bu Arih Diyaning Intiasari : Untuk paket kontap IUD, RS ku dapat paket dari BKKBN (mereka siap buffer di RS,) kita siap masangkan... dan biaya pemasangan ini gratis kok buuu.. suueerr deeh...Untuk KIE di ruang bersalin dan poli kandungan juga di-handle tenaga RS. Perkara mau pasang di bidan atau RS terserah pasien nanti dibikinkan pengantarnya, oleh petugas RS. Alhamdulillah lancar sampai dengan hari ini... 114

Jampersal di Lobar; Apa Memang Begini Mekanismenya???

Hasyim Purwadi @ mas Sutopo : di Kabupaten Pekalongan dana jampersal tergantung tempat pelayanan, kalo ditolong bidan di polindes diserahkan 100% karena polindes/PKD tidak masuk obyek retribusi, tapi kalo persalinan di Puskesmas jampersal masuk 100% ke kasda/PAD, bidan diberi jasa pelayanan sesuai Perda..besarnya aku lupa....jadi tidak ada potongan mas..TQ

Sutopo Patria Jati Terimakasih @ mas Hasyim. Makin menarik kelihatannya untuk jampersal ini ternyata masih cukup banyak "variasi" dalam implementasinya di masing-masing daerah. Pertanyaan lebih lanjut, apa lebih baik dibiarkan seperti ini atau perlu ada penyeragaman dalam regulasi dan sebatas mana "toleransi" yang bisa diberikan, dan bagaimana tahapan untuk mengimplementasikannya biar tujuan utama dari jampersal ini tetap tercapai (AKI dan AKB lebih cepat turun) ?

Vita Darmawati aduhai bapak, begitu kok penasaran... sebelum jauh-jauh ke situ, sekali-kali yang di Jawa di amati gitu... xixixixixixixixi

Hasyim Purwadi @mas Sutopo : tidak sinkronnya pusat dengan daerah karena variasinya obyek retribusi di daerah serta aturan keuangan yang harus mengikuti PP tentang keuangan daerah. Disebutkan bahwa semua pendapatan harus masuk kas daerah... sehingga kalo mau... diseragamkan kayaknya kok sulit... contoh kecil PKD ada daerah daerah lain yang menyebutkan PKD masuk obyek retribusi di pihak lain PKD tidak masuk 115

Serial Diskusi Masalah Kesehatan ‘Akses Berobat’ obyek retribusi... yang paling penting adalah adanya kesepahaman antara Kemenkes dengan BPK sehingga wong daerah gak selalu disalahkan.....

Alexander Gultom horasss.....di Republik tercinta ini kalo menurut saya ada dualisme....pengelolaan keuangan APBD dan APBN diatur dengan peraturan yang berbeda... pada juknis Jampersal dibuat 3 opsi tentang pemanfaatn dananya. Juknis dibuat dengan permenkes. Pada saat audit oleh BPK, mereka selalu merujuk ke peraturan yang lebih tinggi yakni PP 58 tahun 2005 tentang pengelolaan keuangan daerah. Sementara dana jamkesmas/jampersal adalah merupakan Dana Bantuan Sosial. Edaran Dirjen Perbendaharaan menyebutkan bahwa dana jamkesmas bukan bagian dari dana transfer ke Pemkab/Pemko dan tidak melalui Kas Daerah. yang bingung akhirnya para pengelola di kabupaten/kota. namun itu tadi, auditor selalu merujuk ke peraturan yang lebih tinggi... maksud menolong orang miskin, kalo caranya gak benar....bisa-bisa nginap di prodeo... horasssss

Hasyim Purwadi Alexander Gultom Betul mas maksud hati menolong sesuai keputusan Menkes...e ..oleh BPK gak diterima...capek dehhh...dulu di juknis jamkesmas dialokasikan jasa pelayanan 20%...oleh BPK sesuai UU maksimal 5% (upah pungut) eyalah yo wis ....bingung sing bawah..

Agung Dwi Laksono pak Hasyim Purwadi menurut njenengan kebijakan pembiayaan yg mana saja yang terjadi 'miskomunikasi' seperti ini?

116

Jampersal di Lobar; Apa Memang Begini Mekanismenya???

Hasyim Purwadi Agung Dwi Laksono pengalaman saya selama ini, dana yang trouble semacam ini kalo dana yang ada kaitan dengan pendapatan daerah, misalnya jamkesmas dan jampersal.....BOK tidak masalah karena untuk kegiatan langsung di Puskesmas...jamkesmas dan jampersal yang untuk pelayanan setelah dinkes membayar, uang yang keluar kan sebagai pendapatan daerah ini yang harus mengkuti PP 58 tahun 2005 dimana semua pendapatan harus masuk kasda pak Agung... makanya di Kabupaten Pekalongan saya atur kalo pelayanan di PKD biaya persalinan dan ANC/PNC diserahkan 100% kepada pemberi pelayanan (bidan desa) karena di Kabupaten Pekalongan PKD tidak masuk obyek retribusi... kalo pelayanan persalinan dan ANC/PNC di Puskesmas biaya pelayanan masuk kas daerah... pembayaran jasa pelayanan sesuai yang tercantum di Perda pelayanan kesehatan... semoga bisa dipakai bahan kajian p Agung di Pusat... sumber krusial mungkin ada di UU Nomor 1 tahun 2004 tentang Keuangan Negara dan PP Nomor 58 tahun 2005 tentang Keuangan Daerah... mungkin perlu revisi di aturan tersebut... ada pasal khusus yang mengatur dan mekanisme pertanggunggung jawaban keuangan bantuan sosial dari pusat ke daerah.....

Hasyim Purwadi Mas Agung Dwi Laksono kalo jenengan bisa melobi dann mempelopori perubahan/revisi UU Nomor 1/2004 dan PP Nomor 58/2005 alangkah indahnya..?

Agung Dwi Laksono Saya ini bukan kerja di pusat pak hasyim. Saya ini cuman provokator!

117

Serial Diskusi Masalah Kesehatan ‘Akses Berobat’

Hasyim Purwadi Mas Agung Dwi Laksono orang di pusat itu kayaknya kurang manjur.. buktinya kalo ada pertemuan nasional selalu aku sampaikan kendala pelaksanaan di daerah tapi gak ada tindak lanjut, adanya tindak terus... barangkali dari provocator panjenengan bisa lebih manjur ...hehehe..

Agung Dwi Laksono Saya janji teruskan keluhan ini nyampe ke bu MK. Tapi saya Ga bisa janji untuk penyelesaiannya, karena toh bu MK sudah mendisposisi ke pak Usman Sumantri dari P2JK untuk tindak lanjutnya.

Hasyim Purwadi Ok pak Agung Dwi Laksono selamat berjuang semoga sukses for all... amin

Anni Haryati lhooooo..provokator...??? bukan aahh... ayoo ayoo jujur di sini, alangkah indahnya.. salut untuk urun rembug yang gayeng... tapi tetep deh pertanyaanya... kok bisa macem-macem gitu ya penafsirannya. Opo dulu juknisnya nggak dibawa duduk sama-sama..??

Adi Laksono Assalamu’alaikum wr wb. Mas ADL, Kebijakan Jampersal memang kontroversial di Lapangan. Ketentuan bahwa Jampersal bukan hanya buat Maskin saja sudah menjadi masalah, belum besarnya klaim yang "kurang besar" menurut beberapa daerah. Belum lagi proses pencairannya yang harus masuk ke Kasda. Memang bagus buat pengawasan dan 118

Jampersal di Lobar; Apa Memang Begini Mekanismenya??? pencegahan penyelewengan (kurupsi) namun kurang praktis. Untuk poin (7) yang anda sebutkan, itu tergantung masingmasing daerah, di tempat kami Alhamdulillah tidak terjadi. Sedangkan poin (8), tergantung kebijakan masing-masing Kabupaten/kota dan kesepakatan dengan Puskesmas sebagai tempat para Bidan PNS tersebut bekerja. Kalau dengan Bidan Swasta kami belum melaksanakannya. Semoga bermanfaat. Wass wr wb

Agung Dwi Laksono Untuk tahun depan sudah dirancang ada kenaikan biaya pelayanannya pak Adi. Variasi antar wilayah di negara kita memang Besar, di sini kita merasa terlalu murah, sedang banyak di wilayah lain di luar Jawa angka tersebut sudah lebih dari cukup.

119

Serial Diskusi Masalah Kesehatan ‘Akses Berobat’

120

Profil Health Advocacy

Health Advocacy
adalah wadah terbuka bagi setiap orang/lembaga yang bersedia menjadi provokator untuk mewujudkan kesempatan yang sama bagi setiap orang dalam mendapatkan pelayanan kesehatan yang berkualitas

Visi dan Misi
Visi yang dikembangkan oleh Health Advocacy ini adalah mampu memberikan pencerahan pada pembangunan kesehatan secara holistik dalam berbagai sudut pandang keilmuan. Sedang misi yang diemban oleh Health Advocacy adalah : • • Memacu pengembangan kebijakan sistem kesehatan daerah Memberikan overview dan advokasi pengembangan dan pelaksanaan manajemen kesehatan daerah Melakukan upaya pelaksanaan capacity building stake holder pengelola pembangunan kesehatan daerah Melakukan upaya pemberdayaan masyarakat grass root dalam pelaksanaan pembangunan kesehatan daerah.

Dapatkan! e book serial pertama buku Diskusi Masalah Kesehatan pada link berikut; http://www.scribd.com/doc/57170398/Konspirasi http://www.scribd.com/doc/57170398/KonspirasiProvokator

122

Nyang ini juga bisa di-download d! e book serial kedua buku Diskusi Masalah Kesehatan pada link berikut; http://www.scribd.com/doc/77821601/Kekalahan http://www.scribd.com/doc/77821601/Kekalahan-KaumIbu-Serial-Diskusi-Masalah-Kesehatan Kesehatan

123

Jangan ketinggalan pula! e book serial ketiga buku Diskusi Masalah Kesehatan pada link berikut; http://www.scribd.com/doc/76912212/JEBAKANKEBIJAKSANAAN-Serial-Diskusi-Masalah-Kesehatan

124

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->