Anda di halaman 1dari 10

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Kita tahu bahwa disetiap negara memiliki suatu sistem administrasi yang mengatur tata kehidupan yang ada di negara itu. Dalam membicarakan Administrasi Negara sebagai suatu sistem, beberapa hal perlu diperhatikan, yaitu : 1. Sifat Publik yang melekat pada istilah Administrasi Negara , karena sifat aktivitas dan pelayanan yang secara primer dipusatkan kepada masyarakat. 2. Administrasi Negara harus dipandang sebagai organisasi yang mempunyai tujuan dan aktivitas yang jelas, sehingga dapat memudahkan untuk menerapkan esensi setiap sistem yang terdiri dari struktur, fungsi, dan lingkungan. Fred W. Riggs dalam buku Trends in the Comparative Study of Public Administration menterjemahkan sistem Administrasi Negara sebagai struktur untuk mengalokasikan barang dan jasa dalam satu pemerintahan. 3. Dalam negara-negara yang menganut faham pemisahan kekuasaan, kedudukan Sistem Administrasi Negara amat jelas yaitu berfungsi untuk melaksanakan apa saja yang telah diputuskan oleh lembaga-lembaga legislatif. Walau kadang dalam kenyataan Sistem Administrasi Negara juga membuat keputusan-keputusan dan pemberi saran masukan dalam perumusan atau formulasi kebijakan. Berdasarkan pemikiran-pemikairan tersebut di atas, maka apa yang dimaksud dengan Sistem Administrasi Negara adalah sistem dari masukan, proses, keluaran, dan umpan balik. Menurut Riggs (1996) pembaharuan administrasi merupakan suatu pola yg menunjukkan peningkatan efektivitas pemanfaatan sumber daya yg tersedia utk mencapai tujuan yg telah ditetapkan. Birokrasi itu sendiri menurut pandangan

Riggs merupakan sebuah organisasi yg konkrit terdiri dari peran-peran yg bersifat hirarkis dan saling berkaitan yg bertindak secara formal sebagai alat (agent) utk suatu kesatuan (entity) atau sistem sosial yg lbh besar. Dengan demikian menurut pandangan ini tujuan dari birokrasi ditetapkan oleh kekuasaan di luar kewenangan birokrasi itu sendiri. Atas dasar ini maka kebertanggungjawaban (accountability) dari birokrasi dalam menjalankan tugas sangat esensial sifatnya. Oleh krn itu pembaharuan administrasi akan berkaitan erat dgn peningkatan

kebertanggungjawaban dalam proses pengambilan keputusan atau dalam hal bagaimana sumber daya instrumental dimobilisasi untuk mencapai tujuan. Masalah metodologi merupakan fokus perhatian dalam perbandingan administrasi negara oleh karena berkaitan dengan masalah data yang akan dikumpulkan guna kepentingan perbandingan . Dari hasil perbandingan ini selanjutnya diharapkan diketemukan perbedaan-perbedaan ataupun persamaanpersamaan serta hal-hal yang bersifat khusus atau unik yang dapat dirumuskan secara generalisasi dan berlaku secara universal. Jadi sistem Administrasi Negara bukanlah sesuatu yang dipandang berdiri sendiri, oleh Fred W. Riggs mengemukakan bahwa perkembangan baru dalam metode perbandingan sebagai suatu pergeseran kearah pola yang baru yang meliputi : 1. Pergeseran dari pendekatan normatif menuju kepada pendekatan yang empiris. 2. 3. Pergeseran dari pendekatan ideografis menuju kepada pendekatan monotetis Pergeseran dari pendekatan nonekologis menuju kepada pendekatan ekologis.

B. Rumusan Masalah 1. Mengetahui Pendekatan Normatif ke Empiris 2. Mengetahui Pendekatan Idiografis ke Nomotetis 3. Mengetahui Pendekatan Nonekologi ke Model Pemikiran Ekologi

BAB II PEMBAHASAN

Menurut FW Riggs dalam pelaksanaan perbandingan administrasi terkait dengan berbagai pendekatan yang dipakai di awal lahir studi perbandingan dengan perkembangan berikutnya yang dialami dalam perjalanannya, telah terjadi perubahan atau pergeseran yang meliputi tiga ciri atau karakteritik pendekatan, yaitu (1) Pergeseran dari normatif (normative approach) ke arah empirisme (empirical approach). (2) Pergeseran dari ideografik (ideographic approach) ke arah nomotetik (nomothetical approach). serta (3) Pergeseran dari struktural atau non ekologi (non ecological approach) ke arah ekologi administrasi (ecological approach). Tiga pergeseran ini menunjukkan perbedaan karakteristik pendekatan yang dipakai dan dominan pada awal perbandingan dengan pendekatan lanjut yang muncul dan berkembang serta lebih banyak dipakai dalam strudi perbandingan pada waktu yang lebih lanjut atau akhir. 1. Pendekatan normatif (normative approach) merupakan pendekatan berdasarkan prinsip tertentu yang memberikan semacam resep

administrasi yang ideal atau yang dicita-citakan, bukan sesuatu yang riel ada ditemukan dalam kehidupan administrasi negara. 2. Pendekatan empirik (empirical approach) pendekatan yang lebih menekankan pada usaha memperoleh data sebagaimana adanya. 3. Pendekatan ideografik (ideographic approach) adalah pendekatan yang lebih mengutamakan pada ketunggalan suatu peristiwa, sebagaimana digambarkan dalam studi kasus. 4. Pendekatan nomotetik (nomothetic approach) merupakan pendekatan yang lebih memusatkan perhatian kepada usaha untuk merumuskan/menemukan generalisasi, prinsip atau korelasi dari berbagai variabel.

5. Pendekatan non ekologi (non ecology based), pendekatan yang banyak menggunakan pendekatan struktural yang lebih bersifat legalistik, formalistik dan statik, sehingga yang menjadi sasaran atau obyek yang diperbandingkan hanyalah sistem administrasi saja (dalam artian terbatas). 6. Pendekatan ekologi administrasi (ecological approach) adalah pendekatan yang memperhatikan keterkaitan antara sistem administrasi dengan lingkungan ekologinya (faktor-faktor di luar administrasi). A. Pendekatan Normatif ke Empiris Pada awal studi perbandingan didominasi dengan analisis yang bersifat normatif (normative approach) berdasarkan prinsip tertentu yang memberikan semacam resep administrasi yang ideal atau yang dicita-citakan, bukan sesuatu yang riel ada ditemukan dalam kehidupan administrasi negara. Pada perkembangan yang lebih akhir maka karakteritik/ciri pendekatan itu mulai ditinggalkan dan bergeser atau berubah menjadi analisis empirik (empirical approach) yang lebih menekankan pada usaha memperoleh data sebagaimana adanya. Jadi yang menjadi obyek dalam studi perbandingan adalah segala seuatu yang riel betul-betul ada senyatanya dalam kehidupan administrasi negara yang ada pada berbagai masyarakat/negara, bukan menganalisis yang ingin diraih/capai lagi. Penelitian dengan pendekatan empiris selalu diarahkan kepada identifikasi (pengenalan) terhadap hukum nyata yang berlaku, yang implisit berlaku (sepenuhnya) bukan yang eksplisit (jelas, tegas diatur) di dalam perundangan atau yang diuraikan dalam kepustakaan. Begitu pula diarahkan kepada efektivitas (keberlakuan) hukum itu dalam kehidupan masyarakat. Dari data-data yang dikumpulkan di lapangan, maka dapat diketahui apakah hukum yang diatur di dalam perundangan atau teori-teori yang diuraikan dalam kepustakan hukum, benar-benar berlaku dalam kenyataan, ataukah belum berlaku, tidak berlaku, terjadi penyimpangan, telah berubah dan sebagainya.

Pada awal studi perbandingan didominasi dengan analisis yang bersifat normatif (normative approach) berdasarkan prinsip tertentu yang memberikan semacam resep administrasi yang ideal atau yang dicita-citakan, bukan sesuatu yang riel ada ditemukan dalam kehidupan administrasi negara. Pada perkembangan yang lebih akhir maka karakteristik atau ciri pendekatan itu mulai ditinggalkan dan bergeser atau berubah menjadi analisis empirik (empirical approach) yang lebih menekankan pada usaha memperoleh data sebagaimana adanya. Jadi yang menjadi obyek dalam studi perbandingan adalah segala seuatu yang riel betul-betul ada senyatanya dalam kehidupan administrasi negara yang ada pada berbagai masyarakat atau negara, bukan menganalisis yang ingin diraih atau capai lagi. B. Pendekatan Idiografis ke Nomotetis Pendekatan idiografik (ideographic approach) banyak dipakai dalam studi perbandingan administrasi dalam awal-awal masa kelahirannya. Pendekatan ini lebih mengutamakan pada ketunggalan suatu peristiwa, sebagaimana digambarkan dalam studi kasus. Berarti pada awal pelaksanaan studi perbandingan maka para ilmuwan administrasi negara sangat memperhatikan dan mencermati pada kasuskasus tertentu dalam suatu negara/masyarakat. Peristiwa spesifik atau tunggal yang berdiri sendiri terlepas dari yang lain. Pada perkembangan studi perbandingan lebih banyak didominasi oleh pendekatan nomotetik (nomothetic approach). Pendekatan ini lebih memusatkan perhatian kepada usaha untuk merumuskan/menemukan generalisasi, prinsip atau korelasi dari berbagai variabel. Berarti studi perbandingan administrasi lebih berupaya untuk menghasilkan simpulan-simpulan yang berlaku umum dan dapat dipakai sebagai suatu rujukan pada berbagai negara bangsa dan masyarakat. Pendekatan idiografik (ideographic approach) banyak dipakai dalam studi perbandingan administrasi dalam awal-awal masa kelahirannya. Pendekatan ini lebih mengutamakan pada ketunggalan suatu peristiwa, sebagaimana digambarkan dalam studi kasus. Berarti pada awal pelaksanaan studi perbandingan maka para

ilmuwan administrasi negara sangat memperhatikan dan mencermati pada kasuskasus tertentu dalam suatu negara/masyarakat. Peristiwa spesifik atau tunggal yang berdiri sendiri terlepas dari yang lain. Pada perkembangan studi perbandingan lebih banyak didominasi oleh pendekatan nomotetik (nomothetic approach). Pendekatan ini lebih memusatkan perhatian kepada usaha untuk merumuskan/menemukan generalisasi, prinsip atau korelasi dari berbagai variabel. Berarti studi perbandingan administrasi lebih berupaya untuk menghasilkan simpulan-simpulan yang berlaku umum dan dapat dipakai sebagai suatu rujukan pada berbagai negara bangsa dan masyarakat. C. Pendekatan Nonekologi ke Model Pemikiran Ekologi Pada awal studi perbandingan administrasi pendekatan yang dominan yang banyak dipakai bercirikan non ekologi (non ecology based). Pendekatan ini banyak menggunakan pendekatan struktural yang lebih bersifat legalistik, formalistik dan statik, sehingga yang menjadi sasaran atau obyek yang diperbandingkan hanyalah sistem administrasi saja (dalam artian yang lebih sempit/terbatas). Pendekatan ekologi administrasi (administrative ecology based) kemudian menggantikan orientasi perbandingan administrasi pada perkembangan

berikutnya. Pendekatan ini sangat memperhatikan keterkaitan antara sistem administrasi dengan lingkungan ekologinya. Berarti pada pendekatan yang lebih akhir ini dapat ditemukan berbagai data dan informasi yang cukup luas dan lengkap karena dikaitkannya sistem administrasi dengan lingkungannya yaitu semua faktor diluar administrasi yang ada hidup dan berkembang serta diakui oleh masyarakat yang bersangkutan. Sebagai ilustrasi awal pelaksanaan studi perbandingan administrasi negara, sangat baik disimak tulisan William J Siffin yang dipandang sebagai pionir dalam studi perbandingan administrasi negara pada tahun 1957, menyajikan sebuah model teoritik dan enam buah studi kasus, serta memperkenalkan pentingnya

negara-negara yang sedang berkembang dalam sttudi perbandingan administrasi negara. Enam buah studi kasus yang dikemukakannya, hanya satu yang mewakili negara maju dalam hal ini Perancis, sedangkan lima yang lain berkenaan dengan negara-negara yang sedang berkembang. Negara-negara dimaksud adalah Turki, Mesir, Bolivia, Philipina dan Thailand.

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan Kita tahu bahwa disetiap negara memiliki suatu sistem administrasi yang mengatur tata kehidupan yang ada di negara itu. Dalam membicarakan Administrasi Negara sebagai suatu sistem, beberapa hal perlu diperhatikan, yaitu : 1. Sifat Publik yang melekat pada istilah Administrasi Negara , karena sifat aktivitas dan pelayanan yang secara primer dipusatkan kepada masyarakat. 2. Administrasi Negara harus dipandang sebagai organisasi yang mempunyai tujuan dan aktivitas yang jelas, sehingga dapat memudahkan untuk menerapkan esensi setiap sistem yang terdiri dari struktur, fungsi, dan lingkungan. Fred W. Riggs dalam buku Trends in the Comparative Study of Public Administration menterjemahkan sistem Administrasi Negara sebagai struktur untuk mengalokasikan barang dan jasa dalam satu pemerintahan. 3. Dalam negara-negara yang menganut faham pemisahan kekuasaan, kedudukan Sistem Administrasi Negara amat jelas yaitu berfungsi untuk melaksanakan apa saja yang telah diputuskan oleh lembaga-lembaga legislatif. Walau kadang dalam kenyataan Sistem Administrasi Negara juga membuat keputusan-keputusan dan pemberi saran masukan dalam perumusan atau formulasi kebijakan. Berdasarkan pemikiran-pemikairan tersebut di atas, maka apa yang dimaksud dengan Sistem Administrasi Negara adalah sistem dari masukan, proses, keluaran, dan umpan balik. Menurut Riggs (1996) pembaharuan administrasi merupakan suatu pola yg menunjukkan peningkatan efektivitas pemanfaatan sumber daya yg tersedia utk mencapai tujuan yg telah ditetapkan. Birokrasi itu sendiri menurut pandangan

Riggs merupakan sebuah organisasi yg konkrit terdiri dari peran-peran yg bersifat hirarkis dan saling berkaitan yg bertindak secara formal sebagai alat (agent) utk suatu kesatuan (entity) atau sistem sosial yg lebih besar. Pergeseran pendekatan atau metode dalam Perbandingan administrasi Negara terjadi sejalan dengan perubahan dan perkembangan studi dalam administrasi Negara yang mengikuti perubahan yang terjadi dalam masyarakat negara. Tiga pergeseran yang terjadi adalah (1) Pergeseran dari normatif (normative approach) ke arah empirisme (empirical approach). (2) Pergeseran dari ideografik (ideographic approach) ke arah nomotetik (nomothetical approach). (3) Pergeseran dari struktural/non ekologi (non ecological approach) ke arah ekologi administrasi (ecological approach). B. Saran-saran Saya selaku pemakalah mohon maaf atas segala kekurangan yang terdapat dalam makalah ini, oleh karena itu saya mengharapkan kritik dan saran dari semuanya agar makalah ini dapat dibuat dengan lebih baik lagi. Dan mudahmudahan ini dapat bermanfaat bagi kita sebagai mahasiswa, umumnya bagi semuanya.

DAFTAR PUSTAKA

Pamudji, S, 1988. Ekologi Administrasi Negara. Bina Aksara: Jakarta. www.wikipedia.com

10

Anda mungkin juga menyukai