P. 1
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI BESARNYA SIMPANAN MUDHARABAH PERBANKAN SYARIAH INDONESIA PERIODE 2002-2012 DALAM JANGKA PENDEK.pdf

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI BESARNYA SIMPANAN MUDHARABAH PERBANKAN SYARIAH INDONESIA PERIODE 2002-2012 DALAM JANGKA PENDEK.pdf

|Views: 924|Likes:
Dipublikasikan oleh Barep Prajitno
JURNAL ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI BESARNYA SIMPANAN MUDHARABAH PERBANKAN SYARIAH INDONESIA PERIODE 2002-2012 DALAM JANGKA PENDEK.pdf
JURNAL ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI BESARNYA SIMPANAN MUDHARABAH PERBANKAN SYARIAH INDONESIA PERIODE 2002-2012 DALAM JANGKA PENDEK.pdf

More info:

Categories:Types, Research
Published by: Barep Prajitno on Jun 12, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

05/01/2015

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI BESARNYA SIMPANAN MUDHARABAH PERBANKAN SYARIAH INDONESIA PERIODE 2002-2012 DALAM

JANGKA PENDEK

BAREP PRAJITNO (Mahasiswa Jurusan Ilmu Ekonomi & Studi Pembangunan FEB UIN Syarif Hidayatullah Jakarta) Email: Barepprayitno@hotmail.com Pembimbing Tony S. Chendrawan, ST., SE., M. Si ABSTRACT
This research has a purpose to provide empirical evident about factors that affect mudharabah saving. The factors that are examined on this research are profit sharing ratio and BI Rate. The statistic method used to test on the research hypothesis is linier regression. The result show that profit sharing ratio and BI Rate is a significant variables in determinant mudharabah. Keyword: Profit Sharing Ratio, BI Rate

I. PENDAHULUAN Kegiatan ekonomi dalam pendangan islam bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup seseorang secara cukup dan sederhana, memenuhi kebutuhan keluarga, memenuhi kebutuhan jangka panjang, memberikan bantuan social dan sumbangan menurut jalan Allah swt. Pada saat ini di Indoensia telah berkembang sistem perbankan syariah disamping sistem perbankan konvensional. Sistem syariah secara resmi ditetapkan pertama kali pada tahun 1992 ketika berdiri Bank Muamalat Indonesia. Fenomena perkembangan perbankan syariah ini merupakan sebuah fenomena yang sangat menarik dan unik, karena fenomena ini terjadi justru di saat kondisi perekonomian nasional berada pada keadaan yang mengkhawatirkan. Meskipun kalau dilihat dari volume usaha perbankan syariah jika dibandingkan dengan total keseluruhan volume usaha perbankan nasional, maka nilainya masih relative kecil. Maka itu keberadaan perbankan syariah sebagai bagian dari sistem perbankan nasional

diharapkan dapat mendorong perekonomian suatu Negara.

perkembagan

Dengan menyediakan beragam produk serta layanan jasa perbankan yang beragam dengan skema keuangan yang lebih bervariatif, perbankan syariah menjadi alternatif system perbankan yang kredibel dan dapat dinikmati oleh seluruh golongan masyarakat Indonesia tanpa terkecuali. Kemudian perbankan syariah dengan karakteristik sistemnya yaitu yang beroperasi berdasarkan prinsip bagi hasil memberikan alternatif system perbankan yang saling menguntungkan bagi masyarakat dan bank serta menonjolkan aspek keadilan dalam bertransaksi, mengedepankan nilai-nilai kebersamaan dalam berproduksi dan menghindari kegiatan spekulatif dalam bertransaksi keuangan. Perbankan syariah telah menawarkan berbagai macam produk inovasi dan pelayanan perbankan dimana salah satunya yaitu tabungan mudharabah. Secara umum yang dimaksud dengan tabungan adalah simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan menurut

syarat tertentu yang disepakati, tetapi tidak dapat ditarik dengan cek atau alat lain yang dapat dipersamakan dengan itu. Adapun yang dimaksud dengan tabungan syariah adalah tabungan yang dijalankan sesuai dengan syariah. Dalam hal ini Dewan Syariah Nasional telah mengeluarkan Fatwa bahwa tabungan yang dibenarkan yaitu tabungan yang berdasarkan prinsip mudharabah. Tabel 1.1: Besarnya Simpanan Mudharabah, Tingkat Bagi Hasil Tabungan dan Tingkat Suku Bunga (BI Rate) Tahun 2010-2012.
Tahun Tabungan Mudharabah (Miliar Rupiah) 22,908 32,602 35,556 Tingkat bagi hasil (%) 3.06% 3.21% 2.71% BI Rate (%) 6.50% 6.00% 5.75%

penurunan dibandingkan tahun 2003, sedangkan tingkat suku bunga BI juga berfluktuasi dengan range yang lebih besar pada tahun yang sama pula. Maka dalam hal ini sungguh jelas perbedaan antara tabungan mudharabah perbankan syariah dengan sistem tabungan konvensional. Perbedaan utamanya terletak pada sistem perhitungan laba yang dalam tabungan konvensional menggunakan perhitungan bunga yang tidak sesuai dengan nilai-nilai syariah Islam. Dengan menabung di bank syariah relatif lebih aman ditinjau dari perspektif Islam, karena akan mendapatkan keuntungan atau bagi hasil yang dihasilkan dari bisnis yang halal. Dengan sistem bagi hasil ini, baik pihak bank maupun nasabah terhindar dari keuntungan yang bersifat ribawi. II. KERANGKA TEORITIS TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tingkat Bagi Hasil Tabungan Sistem bagi hasil merupakan sistem di mana dilakukannya perjanjian atauikatan bersama di dalam melakukan kegiatan usaha. Di dalam usaha tersebutdiperjanjikan adanya pembagian hasil atas keuntungan yang akan di dapat antara kedua belah pihak atau lebih. Bagi hasil dalam sistem perbankan syari’ah merupakan ciri khusus yang ditawarkan kapada masyarakat, dan di dalam aturan syari’ah yang berkaitan dengan pembagian hasil usaha harus ditentukan terlebih dahulu pada awal terjadinya kontrak (akad). Besarnya penentuan porsi bagi hasil antara kedua belah pihak ditentukan sesuai kesepakatan bersama, dan harus terjadi dengan adanya kerelaan (An-Tarodhin) di masing-masing pihak tanpa adanya unsur paksaan. Keharaman bunga dalam syariah membawa konsekuensi adanya penghapusan bunga secara mutlak. Teori PLS dibangun sebagai tawaran baru di luar sistem bunga yang cenderung tidak mencerminkan keadilan (injustice/dzalim) karena memberikan diskriminasi terhadap pembagian resiko maupun untung bagi para pelaku ekonomi (Sadeq, 1992). Principles of Islamic financedi bangun atas dasar larangan DAN

2010 2011 2012

Sumber: www.bi.go.id data diolah Data yang dirilis oleh Bank Indonesia sampai dengan akhir tahun 2012 menunjukkan bahwa Penghimpunan dana pihak ketiga perbankan syariah yaitu dalam hal ini adalah tabungan Mudharabah di Indonesia yang kian mengalami pertumbuhan. Nilai tabungan mudharabah perbankan syariah pada akhir 2012 sebesar Rp 35,556 Miliar, nilai tersebut lebih besar Rp 2,954 Miliar dibandingkan dengan tabungan mudharabah pada tahun sebelumnya yaitu akhir 2011. Bahkan jika dilihat, tabungan mudharabah perbankan syariah dari tahun ke tahun sejak tahun 2003 terus mengalami kenaikan yang sungguh signifikan. Pertumbuhan tersebut diindikasikan karena mulai meningkatnya kepercayaan nasabah terhadap pelayanan yang diberikan perbankan syariah. Pertumbuhan perbankan syariah akan dihadapkan pada persaingan antara tingkat bunga bank konvensional dengan tingkat bagi hasil tabungan yang diterima nasabah. Persaingan tersebut akan mengarah pada faktor pilihan masyarakat Indonesia dalam berinvestasi. Dan pada kenyataannya masyarakat memilih investasi di bank konvensional adalah melihat besarnya tingkat bunga yang ditawarkan. Tingkat bagi hasil tabungan bank syariah di atas mengalami fluktuasi dan cenderung mengalami

riba, larangan gharar, tuntunan bisnis halal, resiko bisnis ditanggung bersama, dan transaksi ekonomi berlandaskan pada pertimbangan memenuhi rasa keadilan (Alsadek, et al., 2006). Profit-loss sharing berarti keuntungan dan atau kerugian yang mungkin timbul dari kegiatan ekonomi/bisnis ditanggung bersamasama. Dalam atribut nisbah bagi hasil tidak terdapat suatu fixed and certain return sebagaimana bunga, tetapi dilakukan profit and loss sharingberdasarkan produktifitas nyata dari produk tersebut (Adiwarman Karim, 2001). Dalam sistem Profit Loss Sharingharga modal ditentukan secara bersama dengan peran dari kewirausahaan.Price of capital dan entrepreneurship merupakan kesatuan integratif yang secara bersamasama harus diperhitungkan dalam menentukan harga faktor produksi. Dalam pandangan syariah uang dapat dikembangkan hanya dengan suatu produktifitas nyata. Tidak ada tambahan atas pokok uang yang tidak menghasilkan produktifitas. Dalam perjanjian bagi hasil yang disepakati adalah proporsi pembagian hasil (disebut nisbah bagi hasil) dalam ukuran persentase atas kemungkinan hasil produktifitas nyata. Nilai nominal bagi hasil yang nyata-nyata diterima, baru dapat diketahui setelah hasil pemanfaatan dana tersebut benar-benar telah ada (ex post phenomenon, bukan ex ente). Nisbah bagi hasil ditentukan berdasarkan kesepakatan pihak-pihak yang bekerja sama. Besarnya nisbah biasanya akan dipengaruhi oleh pertimbangan kontribusi masing-masing pihak dalam bekerja sama (share and partnership) dan prospek perolehan keuntungan (expected return) serta tingkat resiko yang mungkin terjadi (expected risk) (Hendri Anto, 2003). 2.2. Tingkat Suku Bunga Tingkat suku bunga adalah salah satu dari variabel makro yang selalu menunjukkan perubahan dari waktu ke waktu atau tidak bersifat konstan. Pengetahuan yang baik terhadap tingkat suku bunga beserta perubahanperubahannya akan membantu memahami fenomena ekonomi yang sangat kompleks. Tingkat bunga dimaknai sebagai harga yang

didapatkan dari penggunaan uang dalam satu periode tertentu. Pendapat tentang munculnya tingkat bunga: a. Teori Klasik Dalam kaitannya dengan mazhab ini dikatakan bahwa bunga adalah harga dari pemakaian loanable funds atau dana investasi atau juga bisa dinamakan sebagai dana yang bisa dipinjamkan. Dalam pandangan klasik, bunga adalah dana investasi, karena bunga ‘harga’ yang terjadi di pasar dana investasi. Pasar dana investasi? b. Teori Keynesian Jawaban berikutnya muncul dari mazhab Keynesian. Pendapat ini mengacu kepada teori Keynes yang mengatakan bahwa tingkat bunga ditentukan oleh permintaan dan penawaran uang. Keynes juga pernah mencetuskan teori yang berkaitan dengan motif anggota masyarakat untuk memegang uang tunai, yaitu motif transaksi, berjagajaga serta spekulasi. Ketiga motif ini kemudian memunculkan adanya permintaan akan uang atau liquid preferences. Kemudian definisi BI Rate adalah suku bunga kebijakan yang mencerminkan sikap atau stance kebijakan moneter yang ditetapkan oleh bank Inodnesia dan diumumkan kepada public. BI Rate diumumkan oleh Dewan Gubernur Bank Indonesia setiap Rapat Dewan Gubernur bulanan dan diimplementasikan pada operasi moneter yang dilakukan Bank Indonesia melalui pengelolaan likuiditas (liquidity management) di pasar uang untuk mencapai sasaran operasional kebijakan moneter. Sasaran operasional kebijakan moneter dicerminkan pada perkembangan suku bunga Pasar Uang Antar Bank Overnight (PUAB O/N). Pergerakan di suku bunga PUAB ini diharapkan akan diikuti oleh perkembangan di suku bunga deposito, dan pada gilirannya suku bunga kredit perbankan. Dengan mempertimbangkan pula faktor-faktor lain dalam perekonomian, Bank Indonesia pada umumnya akan menaikkan BI Rate apabila inflasi ke depan diperkirakan melampaui sasaran yang telah ditetapkan, sebaliknya Bank

Indonesia akan menurunkan BI Rate apabila inflasi ke depan diperkirakan berada di bawah sasaran yang telah ditetapkan. Terkait dalam hal ini tingkat suku bunga Bank Indonesia menjadi acuan dalam menetapkan tingkat bagi hasil mudharabah. 2.3. Tabungan Mudharabah Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 Pasal 1 angka 21 yang mengatur perbankan syariah memberikan rumusan pengertian tabungan, yaitu: “Tabungan adalah simpanan berdasarkan akad wadiah atau investasi dana berdasarkan akad mudharabah atau akad lain yang tidak bertentangan dengan prinsip syariahyang penarikannya hanya dapat dilakukan menurut syarat dan ketentuan tertentu yang disepakati, tetapi tidak dapat ditarik dengan cek, bilyet giro, dan/atau alat lainnya yang dipersamakan dengan itu”. Sedangkan Dewan Syariah Nasional mengatur tabungan syariah dalam Fatwa Nomor 02/DSNMUI/IV/2000, yaitu: “Produk tabungan yang dibenarkan atau diperbolehkan secara syariah adalah tabungan yang berdasarkan prinsip mudharabah dan wadiah, sehingga kita mengenal tabungan mudharabah dan tabungan wadiah”. Tabungan yang dijalankan berdasarkan prinsip syariah, dewan syariah nasional telah mengeluarkan fatwa yang menyatakan bahwa tabungan yang berdasarkan prinsip Wadiah dan mudharabah. Tabungan mudharabah itu sendiri adalah tabungan yang dijalankan berdasarkan akad mudharabah. Mudharabah mempunyai dua bentuk, yakni mudharabah mutlaqoh dan mudharabah muqayyadah. Bank syariah bertindak sebagai mudharib dan nasabah sebagai shahibul mal. Bank syariah dalam kapasitasnya sebagai mudharib, mempunyai kuasa untuk melakukan berbagai macam usaha yang tidak bertentangan dengan prinsip Syariah serta mengembangkannya, termasuk melakukan akad mudharabah dengan pihak lain. Bank syariah juga memilki sifat sebagai seorang wali amanah,

yang berarti bank harus berhati –hati atau bijaksana serta beritikad baik dan bertanggung jawab atas segala sesuatu yang timbul akibat kesalahan atau kelalainnya. Dalam mengelola dana tersebut, bank tidak bertanggung jawab terhadap kerugian yang bukan disebabkan kelalainnya. Namun apabila yang terjadi adalah miss management, bank bertanggung jawab penuh terhadap kerugian tersebut. 2.4. Kerangka Pemikiran (Teori dan Diagram Kerangka Pemikiran)
Tingkat Bagi Hasil
(Teori Al-Ghazali)

Tabungan Mudharabah
(Undang-undang Dasar)

Tingkat Suku Bunga BI sebagai Acuan
(Teori Klasik, Teori Keynesian

2.5. Hipotesis Hipotesis dalam masalah analisis faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya simpanan mudharabah perbankan syariah Indonesia periode 2002-2012 dalam jangka pendek yang bersifat deskriptif. Penulis beranggapan bahwa naik turunnya tingkat bagi hasil dan suku bunga BI (hanya sebagai acuan) secara positif mempengaruhi variabel tabungan mudharabah. Tabungan Mudharabah = f(tbh, r) Tabungan Mudharabah = β0 + β1tbh + β2ᵣ + ε H0 = β1 = β2 Ditolak, tidak terdapat pengaruh tingkat bagi hasil tabungan (X1) dan tingkat suku bunga BI (X2) terhadap simpanan mudharabah (Y). H1 = β1 ≠ β2 ≠ 0 Diterima, terdapat pengaruh tingkat bagi hasil tabungan (X1) dan tingkat suku bunga BI (X1) terhadap simpanan mudharabah (Y).

Kaidah keputusan dengan taraf nyata 5% sebagai berikut : H0 diterima jika Fhitung < Ftabel H0 ditolak jika Fhitung > Ftabel III. METODOLOGI PENELITIAN Jenis data penelitian termasuk ke dalam data kuantitatif denga periode pengamatan dari tahun 2002 sampai tahun 2012. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder berupa data yang mendukung variabel independen dalam penelitian yaitu tingkat bagi hasil tabungan dan tingka suku BI sebagai acuan. Data dari variabel dependen adalah Tabungan mudharabah. Objek penelitian yaitu perbankan syariah terkait produk perbankan syariah. Data observasi diambil dari Laporan Tahunan Bank Indonesia, SEKI (Statistik Ekonomi dan Keuangan Indonesia) dengan data time series 2002 – 2012. Penelitian ini melibatkan satu variabel dependen yaitu tabungan mudharabah dari data Bank Indonesia yang diukur pada setiap akhir tahun yang dinyatakan dalam miliar rupiah. Sedangkan variabel independennya adalah tingkat bagi hasil tabungan dan tingkat suku bunga BI sebagai acuan yaitu dari data Bank Indonesia yang dinyatakan dalam persen. Dalam penelitian ini, analisa dilakukan dengan analisis Regresi. Model ini yang digunakan dalam penelitian ini adalah model regresi linier dan dikembangkan menjadi spesifikasi model yang akan dijadikan sebagai model penelitian menjadi seperti pada rumus berikut : Y = β0 + β1X1 + β2X2 + ε Keterangan : Y X1 X1 ε β0 = Tabungan Mudharabah = Tingkat Bagi Hasil Tabungan = Tingkat Suku Bunga BI = Error = Konstanta

β1 .. β2 = Koefisien regresi untuk variabel X1 dan X2 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Dalam penelitian ini menggunakan model regresi linier dengan konsep simple regresi. Berikut ini adalah penjelasan mengenai analisis faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya simpanan mudharabah perbankan syariah Indonesia berdasarkan data tahun 2002 sampai 2012. Berikut adalah data mengenai tabungan mudharabah, tingkat bagi hasil tabungan dan tingkat suku bunga BI. Tabel 4.1: Besarnya Tabungan Mudharabah dan Tingkat Bagi Hasil Tabungan Tahun 2002 2012.
Tahun Tabungan Mudharabah (Miliar Rupiah) 1,192 1,611 3,264 4,371 6,430 9,454 12,471 16,475 22,908 32,602 35,556 Tingkat Bagi Hasil Tabungan (%) 15.70% 12.11% 6.92% 3.96% 3.72% 3.32% 3.61% 2.76% 3.06% 3.21% 2.71%

2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012

Sumber: www.bi.go.id data diolah Dari tabel 4.1 diatas dapat dilihat bahwa perubahan tabungan mudharabah dari tahun ke tahun mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Perubahan terbesar terjadi pada tahun 2011 yaitu sebesar Rp 22, 908 miliar meningkat menjadi Rp 32, 602 miliar. Hal ini karena adanya pengaruh dari tingkat kepercayaan masyarakat pada pelayanan perbankan syariah Indonesia untuk menyimpan dananya. Kemudian dari tabel 4.1 juga terlihat bagaimana tingginya tingkat bagi hasil tabungan pada tahun 2002. Lalu seiring berjalannya waktu periode 2002 hingga 2012 tingkat bagi hasil tabungan nilainya mengalami penurunan. Hal tersebut dikarenakan melihat pada tingkat suku bunga Indonesia yang menjadi acuan untuk

menetapkan nilai tingkat bagi hasil tabungan tersebut. Tabel 4.2: Besarnya Tingkat Suku Bunga BI Tahun 2002 - 2012
Tahun 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 BI Rate (%) 16.76% 19.00% 7,5% 12.75% 9.75% 8.00% 9.25% 6.50% 6.50% 6.00% 5.75%

sebesar 9, 594325. Yang artinya bahwa untuk tabungan mudharabah pada setiap satu tahun dipengaruhi oleh kedua variabel independen dalam penelitian secara bersama sebesar 38,5 persen sedangkan sebesar 61,5 persen dipengaruhi oleh faktor lain. Pengaruh tingkat bagi hasil tabungan (X1) terhadap jumlah besarnya tabungan mudharabah (Y) dari hasil koefisien regresi. Dengan tingkat keyakinan 95% (α = 5%) df = n-2 = 11-2 = 9 maka diperoleh ttabel sebesar 2,262 dan berdasarkan perhitungan SPSS diperoleh thitung sebesar 0,053 sehingga thitung < ttabel dengan tingkat signifikasi 0,959 > 0,05. Dikarenakan thitung < ttabel dan tingkat signifikasi lebih besar dari 0,05 maka kaidah keputusan adalah H0 terima atau H1 ditolak. Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa tingkat bagi hasil tabungan tidak mempunyai pengaruh signifikan terhadap jumlah besarnya tabungan mudharabah. Pengaruh tingkat suku bunga BI (X2) terhadap jumlah besarnya tabungan mudharabah (Y) dari hasil koefisien regresi. Dengan tingkat keyakinan 95% (α = 5%) df = n-2 = 11-2 = 9 maka diperoleh ttabel sebesar 2,262 dan berdasarkan perhitungan SPSS diperoleh thitung sebesar -1,580 sehingga thitung < ttabel dengan tingkat signifikasi 0,153 > 0,05. Dikarenakan thitung < ttabel dan tingkat signifikasi lebih besar dari 0,05 maka kaidah keputusannya adalah H0 diterima atau H0 ditolak. Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa tingkat suku bunga BI tidak mempunyai pengaruh signifikan terhadap jumlah besarnya tabungan mudharabah. Untuk menguji hipotesis, maka dilakukan pengolahan atas data hasil penelitian. Dengan kriteria diterima H0 jika Fhitung > Ftabel, maka berdasarkan perhitungan SPSS diperoleh nilai Fhitung sebesar 4,129. Dengan mengambil taraf signifikasi α = 5% maka Ftabel sebesar 3,347 sehingga Fhitung > Ftabel dengan tingkat signifikasi sebesar 0,059 yang berarti lebih besar dari tingkat α = 5%. Dikarenakan Fhitung > Ftabel dan tingkat signifikasi lebih besar dari 0,05 maka kaidah keputusannya adalah tidak ada pengaruh

Sumber: www.bi.go.id data diolah Tabel 4.2 tersebut menunjukkan bagaimana nilai tingkat suku bunga pada tahun 2002 hingga 2012. Nilai tingkat suku bunga Indonesia tersebut adalah sebagai acuan perbankan syariah dalam menetapkan tingkat bagi hasil tabungan. Tabel 4.3: Rekapitulasi Hasil Regresi Linear Tabungan Mudharabah Periode 2002 – 2013
Variabel Bebas Tingkat Bagi Hasil Tabungan (X1) Tingkat Suku Bunga BI (X2) N: 11 Koefisien (Sig.)
0,959

Standar Error
1302,585

Thitung
0.053

0,153

1259,676

-1.580

Sig F: 0,059 Fhitung: 4,129

Adjusted R square: 0,385 Std error of estimate:
9,594325

Untuk mengetahui derajat keeratan (hubungan) antara tabungan mudharabah dengan tingkat bagi hasil tabungan dan tingkat suku bunga BI dilakukan perhitungan dengan menggunakan software SPSS. Berdasarkan perhitungan dari model regresi yang didapat, diketahui bahwa variabel prediktor dapat memprediksi atau menjelaskan variabel terikat atau variabel bebas sebesar nilai Adjusted R square 38,5 persen dengan tingkat kesalahan dalam memprediksi

yang signifikan dari tingkat bagi hasil tabungan dan tingkat suku bunga BI terhadap besarnya tabungan mudharabah pada perbankan syariah Indonesia. V. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil dan pembahasan penelitian mengenai analisis faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya simpanan mudharabah perbankan syariah Indonesia periode 2002 sampai dengan tahun 2012 dalam jangka pendek dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : a. Pertama, dari hasil pengujian secara serempak terhadap variabel tingkat bagi hasil tabungan dan tingkat suku bunga Bank Indonesia tidak mempunyai pengaruh yang signifikan ataupun pengaruh yang bermakna terhadap besarnya tabungan mudharabah perbankan syariah Indonesia. b. Kedua, berdasarkan hasil pengujian dapat ditarik kesimpulan bahwa variabel independen tingkat bagi hasil tabungan tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap besarnya tabungan mudharabah perbankan syariah Indonesia. c. Ketiga, berdasarkan hasil pengujian dapat ditarik kesimpulan bahwa variabel independen tingkat suku bunga Bank Indonesia dimana tingkat suku bunga Bank Indonesia tersebut hanya menjadi acuan dalam menetapkan nilai tingkat bagi hasil tabungan tidak terlalu mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap besarnya tabungan mudharabah perbankan syariah Indonesia. d. Keempat, berdasarkan hasil pengujian bahwa untuk tabungan mudharabah pada setiap satu tahun dipengaruhi oleh kedua variabel independen yaitu tingkat bagi hasil tabungan dan tingkat suku bunga Bank Indonesia dalam penelitian secara bersama sebesar 38,5 persen sedangkan sebesar 61,5 persen dipengaruhi oleh faktor lain. Berdasarkan kesimpulan yang telah dikemukakan diatas, penulis mencoba memberikan saran-saran yang diharapkan dapat memberikan manfaat, yaitu sebagai berikut :

a. Bagi Perbankan Syariah Indonesia Guna meningkatkan jumlah dana pihak ketiga yaitu terkait dalam hal ini adalah Tabungan Mudharabah, perbankan syariah Indonesia diharapkan lebih meningkatkan kualitas pelayanan dan kualitas pemasaran agar dapat menjangkau setiap lapisan masyarakat Indonesia. b. Bagi peneliti selanjutnya Dari hasil analisis penelitian diketahui bahwa semua variabel bebas memiliki pengaruh yang tidak signifikan. Maka itu penulis menyarankan untuk peneliti selanjutnya, bisa meneliti faktor-faktor lain yang mempunyai pengaruh terhadap besarnya tabungan mudharabah perbankan syariah Indonesia pada setiap perusahaan bank syariah yang ada di Indonesia mengingat penelitian kali ini membahas perbankan syariah Indonesia secara keseluruhan sehingga dari hasil penelitian yang didapat tidak dapat menjelaskan bankbank berbasis syariah manakah yang jumlah besarnya tabungan mudharabahnya dipengaruhi secara signifikan oleh faktorfaktor tersebut. Kemudian bagi peneliti selanjutnya dapat memperpanjang periode amatannya dan menggunakan sampel yang lebih banyak lagi. VI. REFERENSI Moh. Nazir. Ph. D., 2003. Metode Peneltian. Jakarta: PT. Ghalia Indonesia. Wiroso. 2005. Penghimpunan Dana dan Distribusi Hasil Usaha Bank Syariah. Jakarta: Grasindo. Samsul Ma’arif. 2009. Analisis Perhitungan Sistem Bagi Hasil Pada Tabungan Mudharabah. Skripsi Sarjana Tidak Diterbitkan, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Yulianti. 2012. Pengaruh Perubahan Giro Wadiah, Tabungan Mudharabah dan Deposito Mudharabah Terhadap Perubahan Pembiayaan yang Diberikan Bank Syariah.

Muchlis Yahya dan Edy Yusuf Agunggunanto. 2011. Teori Bagi Hasil (Profit and Loss Sharing) dan Perbankan Syariah dalam Ekonomi Syariah. Jurnal Dinamika Ekonomi Pembangunan, Juli 2011. Institut Agama Islam Negeri Walisongo dan Universitas Diponegoro. http://www.bi.go.id http://ekonomisyariah.info http://www.inkopsyahbmt.co.id

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->