P. 1
BAHAYA GUNUNGAPI MERAPI

BAHAYA GUNUNGAPI MERAPI

|Views: 5|Likes:
Dipublikasikan oleh Sekti Mulatsih
Tugas
Tugas

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: Sekti Mulatsih on Jun 12, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/07/2014

pdf

text

original

Tugas Fisiografi Lingkungan, 2008

Tugas Fisiografi Lingkungan Dosen : Prof Sutikno

BAHAYA GUNUNGAPI MERAPI

Disusun Oleh : Sekti Mulatsih 08/275182/PMU/5429

PROGRAM STUDI ILMU LINGKUNGAN SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2008

Sekti Mulatsih, Program Studi Ilmu Lingkungan, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

1987) menyatakan bahwa gunungapi adalah tempat keluarnya magma.5'LS dan 110°26. dan gas hasil erupsi atau struktur yang dibentuk di sekitar pusat lubang volkan karena aktifitas erupsi (Anonim. dimana di dalam proses ini dibagi menjadi 3 bentukan yaitu (1) daerah depan busur gunungapi (f ore arc basin) berupa daerah pantai dan pesisir. dll. longsor. yang terletak diantara 2 benua (Benua Asia dan Australia). berkelompok. Menurut Mac Donald (1972). PENDAHULUAN Negara Indonesia merupakan Negara kepulauan terbesar. dalam Azwar. Lempeng Eurasia di sebelah Utara dan Lempeng Pasifik di sebelah Timur Laut.5' BT. Klaten. Gunungapi Merapi mempunyai ketinggian 2968 meter dari permukaan air laut Sekti Mulatsih. Secara Geologi Negara Indonesia merupakan jalur pertemuan dari 3 lempeng besar di dunia yaitu Lempeng Indo-Australia di sebelah Selatan .Barat. Program Studi Ilmu Lingkungan. Wilayah bahaya Gunungapi Merapi mencakup 4 kabupaten yaitu Sleman. dataran dan fenomena alam lainnya. dan 2 Samudera (Samudera Hindia dan Samudera Pasifik). Matahelemual (1982 dalam Azwar. dkk. dan Jawa Tengah dengan koordinat 7°32. Proses geologi terus akan berlangsung di bumi untuk mencapai suatu titik keseimbangan yang merupakan suatu siklus geologi atau bumi. gunungapi. dan (3) daerah belakang busur vulkanik (back arc basin) (Wacana. badai dan sebagainya (Wacana. banjir. dan Magelang . Sementara itu Montgometry (1989. gunungapi adalah tempat atau lubang keluarnya bahan pijar atau gas yang berasal dari dalam bumi ke permukaan bumi. 1987) mengartikan gunungapi sebagai bentuk timbulan kumpulan bahan letusan di muka bumi yang berasal dari magma yang tersebar secara sendiri. gunungapi. Boyolali.Tugas Fisiografi Lingkungan. lembah. abu. Selama proses-proses ini berjalan tidak heran kalau negara Indonesia disebut sebagai supermaket ancaman atau bahaya geologi yang beruapa bahaya gempa. tsunami.Barat Daya . 2004). atau berantai. (2) daerah vulkanik (magmatic arc). Proses-proses ini membentuk fenomena-fenomen geologi seperti halnya perbukitan. 2008). Interaksi antar lempeng-lempeng ini membentuk suatu fenomena-fenomena geologi yang berupa proses pengangkatan kerak bumi ke permukaan yang disebut dengan proses tektonik lempeng. 2008 A. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta . 2002). Gunungapi Merapi merupakan satu yang teraktif dari 129 gunungapi yang ada di Indonesia yang terletak 30 km sebelah Utara kota Yogyakarta tepatnya berada di perbatasan 2 Propinsi yaitu Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kubah lava yang gugur akan menyebabkan terjadinya awan panas guguran. Tipe Merapi dicirikan oleh lavanya yang kental dan bersifat basalt. maka terbentuk sumbat atau kubah lava.Tugas Fisiografi Lingkungan. 2003). Bagi penduduk atau pengunjung yang kebetulan berada di atas bukit di kawasan rawan bencana apabila terkena hembusan awan panas maka dapat mati hangus atau minimal luka bakar yang jika sembuh akan berakibat cacat tubuh secara permanen. maka awan panas adalah yang paling berbahaya. sementara bagian bawah dari sumbat lava tersebuta akan cenderung dalam keadaan masih cair. Karena sifat magmanya tersebut. Bahaya langsung adalah bahaya yang Sekti Mulatsih. Gerakan aliran ini jauh lebih cepat dari orang lari apalagi di lereng gunungapi biasanya berupa jalan setapak sehingga tidak mungkin menyelamatkan diri pada saat kejadian. Dan berdasarkan mekanismenya bahaya gunungapi dibagi menjadi 2 yaitu bahaya langsung dan bahaya tidak langsung. Program Studi Ilmu Lingkungan. dapur magma relatif dangkal dan tekana gas agak rendah. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta . Kubah lava ini tumbuh semakin besar menumpang di atas bidang miring sehingga kedudukannya menjadi tidak stabil. Karateristik khas dari tipe ini adalah pertumbuhan kubah lava di puncak gunungapi. dan bahaya sekunder yaitu lahar dan longsoran tubuh gunungapi (longsoran tubuh gunungapi sebagai akibat proses alterasi hidrotermal). maka akan menyebabkan terjadinya letusan dan akan membentuk awan panas letusan (Anonim. Sedangkan bagi korban yang berada di dalam lembah aliran sungai maka tubuh akan hancur lebur tidak bersisa atau terkubur menjadi arang di bawah endapan awan panas yang tebal (Bronto dkk. jatuhan piroklastik (lapili. Hal ini dikarenakan awan panas mengalir sangat cepat (60 – 100 km/jam) dan bersuhu tinggi (300 – 7000C). merupakan gunungapi tipe strato dengan kubah lava (Sumber : Pusat Vulkanologi danMitigasi Bencana Geologi. pasir. DESDM) (LAPAN. 2002). lontaran abu. Pada akhirnya kubah lava tersebut longsor membentuk awan panas (nuee ardante) yang berupa luncuran lava pijar yang bercampur dengan massa abu dan gas vulkanik (Bronto. berdasarkan kegiatannya bencana gunungapi dibagi menjadi 2 yaitu bahaya primer yang meliputi aliran lava. 2003 dalam Wacana. BAHAYA GUNUNGAPI MERAPI Menurut Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi. 2008 (pengukuran tahun 2001). dan abu). 2006). aliran piroklastik atau awan panas. Berdasarkan letusannya Gunungapi Merapi dicirikan dengan periode letusan yang pendek dan dikenal sebagai Erupsi Tipe Merapi dan bersifat efusif. 2008). Diantara berbagai jenis bahaya gunungapi Merapi. B. Jika semakin tinggi tekanan gas karena pipa kepundan tersumbat.

Merapi Muda 2. gas racun. kemudian tahap ketiga adalah Merapi Menengah antara 6. Semenjak thun 1548 – 2001. yang berarti letusan yang diakibatkannya lebih besar. Sejak 4000 sampai 250 tahun yang lalu.200 – 600 tahun yang lalu dan Merapi Sekarang sejak 600 tahun lalu (LAPAN. 2003). Sedangkan secara keseluruhan.Tugas Fisiografi Lingkungan. Bila dibandingkan dengan frekuensi letusan yang sekarang. 7 diantaranya merupakan letusan besar.700 tahun yang lalu. sedangkan bahaya sekunder adalah bahaya yang ditimbulkan oleh adanya pengendapan material piroklastik di bagian puncak berupa breksi gunungapi yang diangkut oleh air dengan aliran rombakan bahan gunungapi (volcanic debris flow). 2008). frekwensi letusan yang signifikan terjadi di Gunungapi Merapi adalah 80 tahun sekali.700 – 2. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta . Berthommier. Program Studi Ilmu Lingkungan. dengan latusan kecil terjadi sekali dalam 2 sampai 7 tahun (Andreastuti. 1949 dalam Wacana. sedangkan yang terjadi pada periode letusan Sekti Mulatsih.200 tahun yang lalu. Bahaya primer adalah bahaya yang langsung ditimbulkan oleh aktivitas erupsi gunungapi yang terbentuk oleh proses aliran permukaan dengan mekanisme aliran debris-piroklastik yang mengalir dengan campuran partikel padat dan gas konsentrasi tinggi yang panas (Cas dan Wright. sekitar 33 letusan teramati dalam catatan stratigrafi. Frekuensi letusan Gunungapi Merapi bervariasi secara siginifikan. Gunungapi Merapi telah melakukan kegiatan sedikitnya 80 kali dengan waktu istirahat bervariasi antara 1 – 7 tahun dan waktu istirahat panjang mencapai 13 tahun. 2006). Letusan besar diperkirakan terjadi sekali dalam 150 – 500 tahun dengan rata-rata sekali dalam 400 tahun. Merapi Tua berumur antara 400. awan panas. Letusan-letusan tersebut bersekala kecil sampai besar. Bahaya tidak langsung adalah bahaya yang terjadi sebagai efek tidak langsung dari proses erupsi yaitu lahar hujan yaitu banjir lumpur yang disertai dengan batu-batu besar karena terbawanya material hasil letusan yang ada di puncak oleh air hujan menuruni lereng melalui lembah-lembah. Potensi bahaya erupsi Gunungapi Merapi dibedakan menjadi bahaya primer dan bahaya sekunder. 2008 ditimbulkan oleh erupsi gunungapi secara langsung yaitu berupa aliran lava. dan tsunami gunungapi. 1987). Namun jumlah ini hanya mencakup letusan vertikal yang menghasilkan endapan jatuhan dan tidak termasuk letusan yang terjadi akibat guguran kubah lava. atau masa campuran rombakan bahan gunungapi dan air yang mengalir dan disebut dengan lahar dingin (Bemmelem. Sebaliknya letusan yang terjadi saat ini menunjukkan bahwa letusan dengan indeks letusan 3 terjadi rata-rata 30 tahun.000 tahun yang lalu). 1990 membagi pembentukan Merapi dalam 5 tahap.000 sampai 6. periode waktu diam tersebut lebih panjang. yaitu Pra Merapi (>400.

Jenis bahaya Gunungapi Merapi yang paling banyak membawa korban manusia adalah jenis awan panas. Bahan padat berupa rempah gunung api terdiri dari material lepas berbagai ukuran mulai dari abu (/<2mm) hingga bongkah (/<64mm). Pada fase pertama mengalami durasi yang berulang dari panjang ke pendek. sedangkan fase kedua menunjukkan penurunan dari periode istirahat (Yudiantoro. 2003) mendifinisikan awan panas sebagai a hot. Secara definisis. sehingga sangat memerlukan kejelian dalam menentuan mitigasi (pengurangan resiko kerugian) bencana (Yudiantoro. Semakin berumur muda kegiatan Merapi menunjukkan waktu istirahat yang pendek antara 1 – 4 tahun. Dari batasan tersebut diketahui bahwa awan panas merupakan aliran massa dalam bentuk padat dan gas.7000C) bergerak lateral menuruni lereng gunungapi dengan kecepatan tinggi (60 – 100 km/jam). serta mungkin meleleh karena bersuhu tinggi (3000C . 2003). Awan panas yang lebih banyak mengandung gas daripada bahan padat disebut pyroclastic surge atau blast atau hembusan gas bercampur abu gunungapi (Bronto. Bahan padat berbutir kasar lebih banyak mengendap di cekungan atau lembah sungai sesuai pengaruh gravitasi. Material yang berukuran kasar block dan ash (campuran bongkah batuan dan abu gunungapi) diendapkan pada lembahlembah sungai. Di gunungapi Merapi dikenal ada 2 jenis awan panas yaitu awan panas guguran dan awan panas letusan. Sayudi dkk (1991) menyebutkan dari hasil analisis statistik terhadap letusan tahun 1548 – 1986 menghasilkan 2 fase yang berbeda. Program Studi Ilmu Lingkungan. awan panas adalah bualan gas panas (2000C – 6000C) yang bercampur dengan material vulkanik yang berukuran bongkah sampai abu sebagai akibat longsornya kubah lava atau runtuhnya kolom asap letusan yang bergulunggulung seperti awan bergerak dengan kecepat tinggi (100 – 300 km/jam) meluncur menjauhi pusat letusan menyusuri lereng. Dari kejadian letusan satu dengan kejadian letusan berikutnya seringkali mempunyai tanda-tanda letusan yang berbeda. sedangakan yang berukuran abu menyebar secara lateral menutupi Sekti Mulatsih.Tugas Fisiografi Lingkungan. Menurut Sparks (1976 dalam Bronto. Bencana ini selalu menghantui penduduk di kawasan Gunungapi Merapi khususnya bagi penduduk yang tinggal di sisi Barat. 2003). yaitu fase pertama (periode 1548 – 1812) dan fase kedua (1813 – 1986). Sementara itu Cas dan Wright (1992 dalam Bronto. which may in some instances be partly fluidized. perbedaan ini didasarkan pada genesanya. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta . baik awan panas letusan ataupun awan panas guguran. high particle concentration mass flow of pyroclastic debris. 2008 tahun 1548 – 1587 mencapai 71 tahun. gas rich. 2003). 2003) awan panas didefinisikan sebagai a lateral movement of pyrocalsts as a gravity controlled. variably fluidised.

2003). 2003). 2008 punggungan mengikuti arah angin saat terjadi letusan. dan K. Senowo. 1994. Pada erupsi tahun 2006 perubahan arah deformasi secara dinamis memberikan prediksi yang sama ke semua arah. maka aliran awan panas pada saat itu membelok ke Barat Laut mengikuti K. antara pematang kawah Barat Laut dengan dengan kubah lava 1984.Tugas Fisiografi Lingkungan. Setelah munculnya kubah lava 1984 maka berbentuk 2 cleah yaitu celah Barat Laut. panjang (10 – 15km). dan celah Barat Daya. jarak luncuran awan panas mencapai 7 – 14km ke arah Barat yaitu K. K Lamat. Namun demikian jika kegiatan gunungapi Merapi yang sangat sering itu berhenti dengan masa istirahat melampaui 7 hingga 10 tahun maka perlu diambil langkah-langkah antisipatif untuk menanggulangi kegiatan yang beresiko bahaya lebih besar (Bronto dkk. Putih). antara kubah lava 1984 dengan pematang kawah Selatan sering disebut kubah “geger buaya” (Bronto dkk. K Lamat. Senowo. tidak menimbulkan korban jiwa kecuali letusan 1994 yang menimbulkan korban cukup banyak yaitu 66 jiwa (Yudiantoro. pendek (3 – 7km). 2003). Untuk mengetahui arah luncuran awan panas yang akan datang maka pengamatan topografi dan perkembangan pertumbuhan kubah lava di daerah puncak dan sekitarnya secara rutin mutlak harus dilakukan. Awan panas Merapi paling banyak mengarah ke Barat sedang variasi pergeseran ke Baratdaya dan Tenggara jarang terjadi. Bronto dkk (1996) membagi jarak luncuran awan panas dari asal sumber menjadi 5 bagian yaitu jarak sangat pendek (≤ 3km). Blongkeng. Program Studi Ilmu Lingkungan. Sedangkan pada periode 1990 – 2000 terdapat 4 kejadian letusan yaitu tahun 1992. Dengan mengkorelasikan jarak luncuran awan panas terhadap jumlah korban diketahui bahwa selama periode 1920 – 1930 hanya terjadi 1 kejadian letusan yaitu pada tahun 1930 dengan jumlah korban 1369 jiwa. Pada tahun 1954 – 1956 kegiatan gunungapi Merapi pernah mengarah ke Utara tetapi karena kondisi morfologi lereng atas bagian Utara ada pematang Gunung Merapi Tua yaitu Pusunglodon-Pasarbubar. Dari data kejadian awan panas selama 1900 – 2001 jarak luncuran awan panas sangat bervariasi yaitu antara 1 – 12 km. 1997. tetapi setelah runtuhnya ”geger boyo” pada tanggal 14 Juni 2006 menunjukkan bahwa arah ancaman cenderung ke Selatan tepatnya pada alur Kali Gendol. Dengan bervariasinya jarak luncuran ini. dan K. sedang ke arah Timur dan Utara belum pernah terjadi. dan sangat panjang (>15km) (Yudiantoro. Secara rinci perubahan arah luncuran awan panas sangat dipengaruhi oleh topografi Puncak Gunungapi Merapi. sedang (7 – 10km). dan pada puncaknya pada tanggal 16 Juni Sekti Mulatsih. dan 1998 masing-masing jarak luncur awan panas pendek (3 – 7km) ke arah Barat (K. Apu. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta . 2003).

2008). berat jenis sedimen dan air. Aliran debris  akan terjadi bila kemiringan dasar lereng lebih besar atau sama dengan kemiringan dasar kritik. semakin curam maka luncurannya akan semakin cepat sehingga desa yang berada di sekitar kurang dari 250 meter sebelah kiri dan kanan dan yang berada pada daerah belokan serta pada alur sungai yang memiliki tebing tinggi seperti tebing lava yang berada di bagian hulu alur Sungai Boyong mempunyai potensi risiko bencana yang sangat tinggi. kerikil. Bahaya lahar dingin akan terakumulasi di lereng-lereng bagian hilir dengan morfologi landai – datar sehingga berpotensi risiko bencana terutama di desa-desa yang berada kurang dari 300 meter alur sungai dan lahan-lahan pertanian yang ada di sepanjang alur sungai (Wacana. 2003). maupun erosi dasar sungai yang teangkut masuk alur sungai sehingga menyebabkan pendangkalan sungai. pasir. mengangkut batu-batu. kedalaman air. mudah runtuh. kerikil. dan menimbulkan kerugian harta benda bahkan korban jiwa (Djamal. Awalnya terjadinya aliran lahar ditentukan oleh beberapa parameter seperti kemiringan lereng. longsor. kerikil. dan pasir serta abu vulkanik yang mempunyai sifat merusak. dan batu-batu besar yang mengendap di lereng berkemiringan terjal. kecepatan luncur sangat di pengaruhi oleh kimiringan lereng. Bencana sedimen semacam ini dalam bahasa Jepang disebut dengan istilah Sabo yang berasal dari kata sa (sand = pasir) dan bo (prevention = pengendalian) dan arti secara umum ialah pengendalian erosi dan sedimentasi yang disebabkan bencana sedimen.Tugas Fisiografi Lingkungan. kerusakan lingkungan. dan pasir. dan sudut geser dalam. diameter sedimen. Abu vulkanik ini akan mempercepat gerak aliran lahar karena berfungsi sebagai pelicin diantara batu-batu. 2008 2006 erupsi besar awan panas melalui alur Kali Gendol mencapai 7 Km dari puncak ke arah tempat Wisata Kaliadem dan menelan 2 korban yang masuk ke dalam bungker. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta . Aliran lahar akan mengalir masuk ke alur sungai di sekitarnya dan meluncur ke hilir dengan kecepatan tinggi. Sifat bahaya dipengaruhi oleh kondisi morfologi dan lereng. Pada penampang Sekti Mulatsih. longsoran. dan berubah menjadi aliran lahar. awan panas mengalir melalui alur-alur sungai. bila bercampur air hujan akan menjadi tidak stabil. Yang termasuk bencana sedimen ialah banjir lahar dingin dengan material berasal dari hasil letusan gunungapi. Program Studi Ilmu Lingkungan. Endapan material piroklastik berupa bahan lepas dengan gradasi mulai dari abu vulkanik. Aliran debris berupa campuran sedimen dan air yang bergerak sama-sama dalam gerakan massa Aliran gravitasi sedimen  aliran lahar dapat berupa aliran lumpur atau disebut aliran gravitasi sedimen bila kemiringan kritik. kerakal.

C. Medan Lava dan Teras Sungai Erosional (LAPAN. Kawah Aktif. 2003). Dataran Gunungapi. kompleks Gunungapi Merapi menunjukkan daerah daerah yang termasuk Daerah Terlarang. dan kurang rentan. Program Studi Ilmu Lingkungan. yaitu sangat rentan. sedangkan untuk tingkat kurang rentan meliputi Kaki Gunungapi. Tingkat kerentanan tiap-tiap bentuklahan terhadap bencana Gunungapi Merapi dikelaskan ke dalam tiga tingkat. menggelinding. Dataran Kaki Gunungapi. Daerah-daerah tersebut dominan terdapat di lereng bagian Barat daya dan sekitarnya yang secara administrasi termasuk wilayah Kabupaten Magelang (Kecamatan Dukun dan Srumbung). Dataran Kaki Gunungapi. Lembah Barranco. Lembah Barranco. PEMBAGIAN DAERAH BAHAYA Berdasarkan analisis dan pemetaan geomorfologis terhadap kawasan Gunungapi Merapi dari data Landsat ETM+ tanggal 6 September 2002. rentan. Cangkringan dan Pakem) Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (Gambar 1) (LAPAN. atau menggeser pada dasar sungai. dan Dataran Gunungapi.Tugas Fisiografi Lingkungan. Lereng Gunungapi. Kaki Gunungapi. yaitu . dan Medan Lava. Kondisi geomorfologis Gunungapi Merapi dikelompokkan ke dalam sepuluh bentuklahan. 2008 memanjang aliran dapat terlihat lapisan sedimen yang bergerak bersamasama di bawah permukaan air. Angkutan sedimen dasar terjadi apabila kemiringan dasar sungai kecil (Djamal. Angkutan muatan dasar  merupakan aliran individu dimana sedimen bergerak di dasar sungai mengikuti arah aliran dengan cara mengguling. Sumbat Lava. berdasarkan interpretasi citra. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta . Sumbat Lava. Lereng Gunungapi. Masing-masing yaitu tingkat sangat rentan meliputi Kawah Aktif. Selain itu juga mengarah ke Kabupaten Boyolali (Kecamatan Selo dan Musuk) dan Klaten (Kecamatan Manisrenggo dan Kemalang) Provinsi Jawa Tengah dan sebagian mengarah ke wilayah Kabupaten Sleman (Kecamatan Turi. 2006). Vulcanic Neck atau Leher Gunungapi. Bahaya I dan Bahaya II. 2006) Sekti Mulatsih. Teras Sungai Erosional. tingkat rentan meliputi Leher Gunungapi. Untuk keperluan mitigasi bencana alam. meloncat.

lapan. Andreastuti. 2002. Ikatan Ahli Geologi (IAGI) Pengurus Daerah Jogjakarta-Jawa Tengah. Ikatan Ahli Geologi (IAGI) Pengurus Daerah Jogjakarta-Jawa Tengah. Mekanika Guguran Lava dan Awan Panas Merapi. Gunung Merapi: Antara Manfaat dan Bahaya. Program Studi Ilmu Lingkungan. Pernahkah Letusan Besar Terjadi?.Tugas Fisiografi Lingkungan. Sejarah Letusan Gunung Merapi.rs. Pusat Studi Bencana Alam Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta. 2003. Bronto. LAPAN.I Yagyakarta dan Jawa Tengah. 2006. Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Sekti Mulatsih. Mensikapi Kelakuan Gunung Merapi : Studi Kasus Letusan Abad 20. Djamal. Bronto. 2003. 2003. 2008. Ikatan Ahli Geologi (IAGI) Pengurus Daerah Jogjakarta-Jawa Tengah. 2003. Ikatan Ahli Geologi (IAGI) Pengurus Daerah Jogjakarta-Jawa Tengah. 2008 Gambar 1. Kusumayudha. Ikatan Ahli Geologi (IAGI) Pengurus Daerah Jogjakarta-Jawa Tengah. Sabo Dam dan Peranannya untuk Pengendalian Banjir Lahar di Wilayah Gunung Merapi Jawa Tengah. Laporan Ekskursi Ancaman Pekan Pengurangan Risiko Bencana Propinsi D. Bidang Pemantauan Sumberdaya Alam dan Lingkungan Pusat Pengembangan Pemanfaatan dan Teknologi Penginderaan Jauh LAPAN http://www. Dkk. Ikatan Ahli Geologi (IAGI) Pengurus Daerah Jogjakarta-Jawa Tengah. Variasi Luncuran Awan Panas Merapi dan Bahayanya. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta .id/SIMBA Wacana. 2003. 2003.go. Citra Landsat-7 ETM+ Kompleks Gunungapi Merapi tanggal 6 September 2002 (Sumber: LAPAN) REFERENSI Anonim. Pemantauan Peningkatan Aktivitas Gunungapi Merapi (Tahun 2006) berdasarkan Citra Satelit Penginderaan Jauh. Yudiantoro. Petunjuk Praktikum Geomorfologi.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->