Tugas Fisiografi Lingkungan, 2008

Tugas Fisiografi Lingkungan Dosen : Prof Sutikno

BAHAYA GUNUNGAPI MERAPI

Disusun Oleh : Sekti Mulatsih 08/275182/PMU/5429

PROGRAM STUDI ILMU LINGKUNGAN SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2008

Sekti Mulatsih, Program Studi Ilmu Lingkungan, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

(2) daerah vulkanik (magmatic arc). dkk.5'LS dan 110°26. Selama proses-proses ini berjalan tidak heran kalau negara Indonesia disebut sebagai supermaket ancaman atau bahaya geologi yang beruapa bahaya gempa. 2004). 1987) mengartikan gunungapi sebagai bentuk timbulan kumpulan bahan letusan di muka bumi yang berasal dari magma yang tersebar secara sendiri. dan gas hasil erupsi atau struktur yang dibentuk di sekitar pusat lubang volkan karena aktifitas erupsi (Anonim. Proses-proses ini membentuk fenomena-fenomen geologi seperti halnya perbukitan. dimana di dalam proses ini dibagi menjadi 3 bentukan yaitu (1) daerah depan busur gunungapi (f ore arc basin) berupa daerah pantai dan pesisir. dan Magelang . atau berantai. gunungapi. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta . abu. Menurut Mac Donald (1972). gunungapi. longsor. dan (3) daerah belakang busur vulkanik (back arc basin) (Wacana. Klaten. dan 2 Samudera (Samudera Hindia dan Samudera Pasifik). Matahelemual (1982 dalam Azwar. 2008 A. Lempeng Eurasia di sebelah Utara dan Lempeng Pasifik di sebelah Timur Laut. gunungapi adalah tempat atau lubang keluarnya bahan pijar atau gas yang berasal dari dalam bumi ke permukaan bumi. banjir. Boyolali. yang terletak diantara 2 benua (Benua Asia dan Australia).Barat. badai dan sebagainya (Wacana. berkelompok.Barat Daya . Wilayah bahaya Gunungapi Merapi mencakup 4 kabupaten yaitu Sleman.Tugas Fisiografi Lingkungan. Proses geologi terus akan berlangsung di bumi untuk mencapai suatu titik keseimbangan yang merupakan suatu siklus geologi atau bumi. 2008). 1987) menyatakan bahwa gunungapi adalah tempat keluarnya magma. dan Jawa Tengah dengan koordinat 7°32. Gunungapi Merapi merupakan satu yang teraktif dari 129 gunungapi yang ada di Indonesia yang terletak 30 km sebelah Utara kota Yogyakarta tepatnya berada di perbatasan 2 Propinsi yaitu Daerah Istimewa Yogyakarta. dalam Azwar. 2002). dll. lembah. Program Studi Ilmu Lingkungan. Secara Geologi Negara Indonesia merupakan jalur pertemuan dari 3 lempeng besar di dunia yaitu Lempeng Indo-Australia di sebelah Selatan . tsunami. Interaksi antar lempeng-lempeng ini membentuk suatu fenomena-fenomena geologi yang berupa proses pengangkatan kerak bumi ke permukaan yang disebut dengan proses tektonik lempeng. Gunungapi Merapi mempunyai ketinggian 2968 meter dari permukaan air laut Sekti Mulatsih. PENDAHULUAN Negara Indonesia merupakan Negara kepulauan terbesar.5' BT. dataran dan fenomena alam lainnya. Sementara itu Montgometry (1989.

dapur magma relatif dangkal dan tekana gas agak rendah. Bagi penduduk atau pengunjung yang kebetulan berada di atas bukit di kawasan rawan bencana apabila terkena hembusan awan panas maka dapat mati hangus atau minimal luka bakar yang jika sembuh akan berakibat cacat tubuh secara permanen. 2003). aliran piroklastik atau awan panas. Bahaya langsung adalah bahaya yang Sekti Mulatsih. Hal ini dikarenakan awan panas mengalir sangat cepat (60 – 100 km/jam) dan bersuhu tinggi (300 – 7000C). B. lontaran abu. 2006). dan bahaya sekunder yaitu lahar dan longsoran tubuh gunungapi (longsoran tubuh gunungapi sebagai akibat proses alterasi hidrotermal). sementara bagian bawah dari sumbat lava tersebuta akan cenderung dalam keadaan masih cair. Diantara berbagai jenis bahaya gunungapi Merapi. maka akan menyebabkan terjadinya letusan dan akan membentuk awan panas letusan (Anonim. dan abu). pasir. DESDM) (LAPAN. merupakan gunungapi tipe strato dengan kubah lava (Sumber : Pusat Vulkanologi danMitigasi Bencana Geologi. Dan berdasarkan mekanismenya bahaya gunungapi dibagi menjadi 2 yaitu bahaya langsung dan bahaya tidak langsung. Gerakan aliran ini jauh lebih cepat dari orang lari apalagi di lereng gunungapi biasanya berupa jalan setapak sehingga tidak mungkin menyelamatkan diri pada saat kejadian. maka terbentuk sumbat atau kubah lava. berdasarkan kegiatannya bencana gunungapi dibagi menjadi 2 yaitu bahaya primer yang meliputi aliran lava. maka awan panas adalah yang paling berbahaya. 2002). Berdasarkan letusannya Gunungapi Merapi dicirikan dengan periode letusan yang pendek dan dikenal sebagai Erupsi Tipe Merapi dan bersifat efusif. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta .Tugas Fisiografi Lingkungan. 2008 (pengukuran tahun 2001). jatuhan piroklastik (lapili. Kubah lava ini tumbuh semakin besar menumpang di atas bidang miring sehingga kedudukannya menjadi tidak stabil. 2003 dalam Wacana. 2008). Karena sifat magmanya tersebut. Tipe Merapi dicirikan oleh lavanya yang kental dan bersifat basalt. Pada akhirnya kubah lava tersebut longsor membentuk awan panas (nuee ardante) yang berupa luncuran lava pijar yang bercampur dengan massa abu dan gas vulkanik (Bronto. BAHAYA GUNUNGAPI MERAPI Menurut Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi. Sedangkan bagi korban yang berada di dalam lembah aliran sungai maka tubuh akan hancur lebur tidak bersisa atau terkubur menjadi arang di bawah endapan awan panas yang tebal (Bronto dkk. Jika semakin tinggi tekanan gas karena pipa kepundan tersumbat. Karateristik khas dari tipe ini adalah pertumbuhan kubah lava di puncak gunungapi. Program Studi Ilmu Lingkungan. Kubah lava yang gugur akan menyebabkan terjadinya awan panas guguran.

2006). Bahaya primer adalah bahaya yang langsung ditimbulkan oleh aktivitas erupsi gunungapi yang terbentuk oleh proses aliran permukaan dengan mekanisme aliran debris-piroklastik yang mengalir dengan campuran partikel padat dan gas konsentrasi tinggi yang panas (Cas dan Wright. periode waktu diam tersebut lebih panjang. Merapi Tua berumur antara 400. Bila dibandingkan dengan frekuensi letusan yang sekarang. Letusan-letusan tersebut bersekala kecil sampai besar. Potensi bahaya erupsi Gunungapi Merapi dibedakan menjadi bahaya primer dan bahaya sekunder. 7 diantaranya merupakan letusan besar.700 tahun yang lalu.000 sampai 6.Tugas Fisiografi Lingkungan. Namun jumlah ini hanya mencakup letusan vertikal yang menghasilkan endapan jatuhan dan tidak termasuk letusan yang terjadi akibat guguran kubah lava. sedangkan bahaya sekunder adalah bahaya yang ditimbulkan oleh adanya pengendapan material piroklastik di bagian puncak berupa breksi gunungapi yang diangkut oleh air dengan aliran rombakan bahan gunungapi (volcanic debris flow). 2003). Berthommier.700 – 2. Merapi Muda 2. 2008 ditimbulkan oleh erupsi gunungapi secara langsung yaitu berupa aliran lava. 1949 dalam Wacana. Program Studi Ilmu Lingkungan.200 – 600 tahun yang lalu dan Merapi Sekarang sejak 600 tahun lalu (LAPAN. Letusan besar diperkirakan terjadi sekali dalam 150 – 500 tahun dengan rata-rata sekali dalam 400 tahun. awan panas. Frekuensi letusan Gunungapi Merapi bervariasi secara siginifikan. dan tsunami gunungapi.000 tahun yang lalu). 1990 membagi pembentukan Merapi dalam 5 tahap. Sejak 4000 sampai 250 tahun yang lalu. atau masa campuran rombakan bahan gunungapi dan air yang mengalir dan disebut dengan lahar dingin (Bemmelem. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta . Sebaliknya letusan yang terjadi saat ini menunjukkan bahwa letusan dengan indeks letusan 3 terjadi rata-rata 30 tahun. yaitu Pra Merapi (>400. gas racun. dengan latusan kecil terjadi sekali dalam 2 sampai 7 tahun (Andreastuti. Bahaya tidak langsung adalah bahaya yang terjadi sebagai efek tidak langsung dari proses erupsi yaitu lahar hujan yaitu banjir lumpur yang disertai dengan batu-batu besar karena terbawanya material hasil letusan yang ada di puncak oleh air hujan menuruni lereng melalui lembah-lembah. Gunungapi Merapi telah melakukan kegiatan sedikitnya 80 kali dengan waktu istirahat bervariasi antara 1 – 7 tahun dan waktu istirahat panjang mencapai 13 tahun. Sedangkan secara keseluruhan. frekwensi letusan yang signifikan terjadi di Gunungapi Merapi adalah 80 tahun sekali. sedangkan yang terjadi pada periode letusan Sekti Mulatsih. Semenjak thun 1548 – 2001. yang berarti letusan yang diakibatkannya lebih besar.200 tahun yang lalu. kemudian tahap ketiga adalah Merapi Menengah antara 6. 1987). 2008). sekitar 33 letusan teramati dalam catatan stratigrafi.

Bencana ini selalu menghantui penduduk di kawasan Gunungapi Merapi khususnya bagi penduduk yang tinggal di sisi Barat.Tugas Fisiografi Lingkungan. 2003) awan panas didefinisikan sebagai a lateral movement of pyrocalsts as a gravity controlled. yaitu fase pertama (periode 1548 – 1812) dan fase kedua (1813 – 1986). serta mungkin meleleh karena bersuhu tinggi (3000C . 2008 tahun 1548 – 1587 mencapai 71 tahun. awan panas adalah bualan gas panas (2000C – 6000C) yang bercampur dengan material vulkanik yang berukuran bongkah sampai abu sebagai akibat longsornya kubah lava atau runtuhnya kolom asap letusan yang bergulunggulung seperti awan bergerak dengan kecepat tinggi (100 – 300 km/jam) meluncur menjauhi pusat letusan menyusuri lereng. Program Studi Ilmu Lingkungan. Bahan padat berupa rempah gunung api terdiri dari material lepas berbagai ukuran mulai dari abu (/<2mm) hingga bongkah (/<64mm). Bahan padat berbutir kasar lebih banyak mengendap di cekungan atau lembah sungai sesuai pengaruh gravitasi. variably fluidised. 2003). 2003). Semakin berumur muda kegiatan Merapi menunjukkan waktu istirahat yang pendek antara 1 – 4 tahun. Sayudi dkk (1991) menyebutkan dari hasil analisis statistik terhadap letusan tahun 1548 – 1986 menghasilkan 2 fase yang berbeda. sedangkan fase kedua menunjukkan penurunan dari periode istirahat (Yudiantoro. sehingga sangat memerlukan kejelian dalam menentuan mitigasi (pengurangan resiko kerugian) bencana (Yudiantoro. Di gunungapi Merapi dikenal ada 2 jenis awan panas yaitu awan panas guguran dan awan panas letusan. high particle concentration mass flow of pyroclastic debris. sedangakan yang berukuran abu menyebar secara lateral menutupi Sekti Mulatsih. Dari kejadian letusan satu dengan kejadian letusan berikutnya seringkali mempunyai tanda-tanda letusan yang berbeda. Jenis bahaya Gunungapi Merapi yang paling banyak membawa korban manusia adalah jenis awan panas. 2003). Secara definisis. Pada fase pertama mengalami durasi yang berulang dari panjang ke pendek. Material yang berukuran kasar block dan ash (campuran bongkah batuan dan abu gunungapi) diendapkan pada lembahlembah sungai. Dari batasan tersebut diketahui bahwa awan panas merupakan aliran massa dalam bentuk padat dan gas. baik awan panas letusan ataupun awan panas guguran. which may in some instances be partly fluidized. Sementara itu Cas dan Wright (1992 dalam Bronto.7000C) bergerak lateral menuruni lereng gunungapi dengan kecepatan tinggi (60 – 100 km/jam). Menurut Sparks (1976 dalam Bronto. gas rich. Awan panas yang lebih banyak mengandung gas daripada bahan padat disebut pyroclastic surge atau blast atau hembusan gas bercampur abu gunungapi (Bronto. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta . perbedaan ini didasarkan pada genesanya. 2003) mendifinisikan awan panas sebagai a hot.

pendek (3 – 7km). Blongkeng. Pada erupsi tahun 2006 perubahan arah deformasi secara dinamis memberikan prediksi yang sama ke semua arah. sedang (7 – 10km). 2003). Dengan bervariasinya jarak luncuran ini. maka aliran awan panas pada saat itu membelok ke Barat Laut mengikuti K. dan pada puncaknya pada tanggal 16 Juni Sekti Mulatsih. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta . Untuk mengetahui arah luncuran awan panas yang akan datang maka pengamatan topografi dan perkembangan pertumbuhan kubah lava di daerah puncak dan sekitarnya secara rutin mutlak harus dilakukan. Dari data kejadian awan panas selama 1900 – 2001 jarak luncuran awan panas sangat bervariasi yaitu antara 1 – 12 km. Namun demikian jika kegiatan gunungapi Merapi yang sangat sering itu berhenti dengan masa istirahat melampaui 7 hingga 10 tahun maka perlu diambil langkah-langkah antisipatif untuk menanggulangi kegiatan yang beresiko bahaya lebih besar (Bronto dkk. 2003). dan 1998 masing-masing jarak luncur awan panas pendek (3 – 7km) ke arah Barat (K.Tugas Fisiografi Lingkungan. Senowo. 1994. Secara rinci perubahan arah luncuran awan panas sangat dipengaruhi oleh topografi Puncak Gunungapi Merapi. dan sangat panjang (>15km) (Yudiantoro. 1997. panjang (10 – 15km). Setelah munculnya kubah lava 1984 maka berbentuk 2 cleah yaitu celah Barat Laut. antara kubah lava 1984 dengan pematang kawah Selatan sering disebut kubah “geger buaya” (Bronto dkk. Bronto dkk (1996) membagi jarak luncuran awan panas dari asal sumber menjadi 5 bagian yaitu jarak sangat pendek (≤ 3km). Dengan mengkorelasikan jarak luncuran awan panas terhadap jumlah korban diketahui bahwa selama periode 1920 – 1930 hanya terjadi 1 kejadian letusan yaitu pada tahun 1930 dengan jumlah korban 1369 jiwa. 2003). Program Studi Ilmu Lingkungan. Apu. 2008 punggungan mengikuti arah angin saat terjadi letusan. jarak luncuran awan panas mencapai 7 – 14km ke arah Barat yaitu K. Sedangkan pada periode 1990 – 2000 terdapat 4 kejadian letusan yaitu tahun 1992. dan K. 2003). K Lamat. dan celah Barat Daya. Pada tahun 1954 – 1956 kegiatan gunungapi Merapi pernah mengarah ke Utara tetapi karena kondisi morfologi lereng atas bagian Utara ada pematang Gunung Merapi Tua yaitu Pusunglodon-Pasarbubar. dan K. sedang ke arah Timur dan Utara belum pernah terjadi. antara pematang kawah Barat Laut dengan dengan kubah lava 1984. Senowo. tidak menimbulkan korban jiwa kecuali letusan 1994 yang menimbulkan korban cukup banyak yaitu 66 jiwa (Yudiantoro. tetapi setelah runtuhnya ”geger boyo” pada tanggal 14 Juni 2006 menunjukkan bahwa arah ancaman cenderung ke Selatan tepatnya pada alur Kali Gendol. K Lamat. Awan panas Merapi paling banyak mengarah ke Barat sedang variasi pergeseran ke Baratdaya dan Tenggara jarang terjadi. Putih).

Aliran lahar akan mengalir masuk ke alur sungai di sekitarnya dan meluncur ke hilir dengan kecepatan tinggi. Awalnya terjadinya aliran lahar ditentukan oleh beberapa parameter seperti kemiringan lereng. longsor. kerikil. bila bercampur air hujan akan menjadi tidak stabil. dan pasir. 2003). Sifat bahaya dipengaruhi oleh kondisi morfologi dan lereng. kerikil. Endapan material piroklastik berupa bahan lepas dengan gradasi mulai dari abu vulkanik.Tugas Fisiografi Lingkungan. dan berubah menjadi aliran lahar. semakin curam maka luncurannya akan semakin cepat sehingga desa yang berada di sekitar kurang dari 250 meter sebelah kiri dan kanan dan yang berada pada daerah belokan serta pada alur sungai yang memiliki tebing tinggi seperti tebing lava yang berada di bagian hulu alur Sungai Boyong mempunyai potensi risiko bencana yang sangat tinggi. dan sudut geser dalam. awan panas mengalir melalui alur-alur sungai. dan batu-batu besar yang mengendap di lereng berkemiringan terjal. dan menimbulkan kerugian harta benda bahkan korban jiwa (Djamal. diameter sedimen. Bencana sedimen semacam ini dalam bahasa Jepang disebut dengan istilah Sabo yang berasal dari kata sa (sand = pasir) dan bo (prevention = pengendalian) dan arti secara umum ialah pengendalian erosi dan sedimentasi yang disebabkan bencana sedimen. Aliran debris berupa campuran sedimen dan air yang bergerak sama-sama dalam gerakan massa Aliran gravitasi sedimen  aliran lahar dapat berupa aliran lumpur atau disebut aliran gravitasi sedimen bila kemiringan kritik. berat jenis sedimen dan air. Pada penampang Sekti Mulatsih. mengangkut batu-batu. kerikil. longsoran. Program Studi Ilmu Lingkungan. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta . kedalaman air. kerusakan lingkungan. dan pasir serta abu vulkanik yang mempunyai sifat merusak. pasir. kecepatan luncur sangat di pengaruhi oleh kimiringan lereng. kerakal. Bahaya lahar dingin akan terakumulasi di lereng-lereng bagian hilir dengan morfologi landai – datar sehingga berpotensi risiko bencana terutama di desa-desa yang berada kurang dari 300 meter alur sungai dan lahan-lahan pertanian yang ada di sepanjang alur sungai (Wacana. 2008 2006 erupsi besar awan panas melalui alur Kali Gendol mencapai 7 Km dari puncak ke arah tempat Wisata Kaliadem dan menelan 2 korban yang masuk ke dalam bungker. Yang termasuk bencana sedimen ialah banjir lahar dingin dengan material berasal dari hasil letusan gunungapi. mudah runtuh. Abu vulkanik ini akan mempercepat gerak aliran lahar karena berfungsi sebagai pelicin diantara batu-batu. 2008). Aliran debris  akan terjadi bila kemiringan dasar lereng lebih besar atau sama dengan kemiringan dasar kritik. maupun erosi dasar sungai yang teangkut masuk alur sungai sehingga menyebabkan pendangkalan sungai.

Bahaya I dan Bahaya II. Medan Lava dan Teras Sungai Erosional (LAPAN. Lembah Barranco. Dataran Kaki Gunungapi. Angkutan muatan dasar  merupakan aliran individu dimana sedimen bergerak di dasar sungai mengikuti arah aliran dengan cara mengguling. Cangkringan dan Pakem) Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (Gambar 1) (LAPAN. Dataran Kaki Gunungapi. sedangkan untuk tingkat kurang rentan meliputi Kaki Gunungapi. dan Medan Lava. Tingkat kerentanan tiap-tiap bentuklahan terhadap bencana Gunungapi Merapi dikelaskan ke dalam tiga tingkat. Daerah-daerah tersebut dominan terdapat di lereng bagian Barat daya dan sekitarnya yang secara administrasi termasuk wilayah Kabupaten Magelang (Kecamatan Dukun dan Srumbung). Dataran Gunungapi. yaitu sangat rentan. Vulcanic Neck atau Leher Gunungapi. berdasarkan interpretasi citra. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta . atau menggeser pada dasar sungai. Masing-masing yaitu tingkat sangat rentan meliputi Kawah Aktif. dan kurang rentan. Teras Sungai Erosional. 2006) Sekti Mulatsih. Untuk keperluan mitigasi bencana alam. Lereng Gunungapi. dan Dataran Gunungapi. Kawah Aktif. C. 2003). 2006). Program Studi Ilmu Lingkungan. 2008 memanjang aliran dapat terlihat lapisan sedimen yang bergerak bersamasama di bawah permukaan air. Angkutan sedimen dasar terjadi apabila kemiringan dasar sungai kecil (Djamal.Tugas Fisiografi Lingkungan. Lembah Barranco. Kaki Gunungapi. Kondisi geomorfologis Gunungapi Merapi dikelompokkan ke dalam sepuluh bentuklahan. Selain itu juga mengarah ke Kabupaten Boyolali (Kecamatan Selo dan Musuk) dan Klaten (Kecamatan Manisrenggo dan Kemalang) Provinsi Jawa Tengah dan sebagian mengarah ke wilayah Kabupaten Sleman (Kecamatan Turi. kompleks Gunungapi Merapi menunjukkan daerah daerah yang termasuk Daerah Terlarang. menggelinding. meloncat. Sumbat Lava. Sumbat Lava. tingkat rentan meliputi Leher Gunungapi. PEMBAGIAN DAERAH BAHAYA Berdasarkan analisis dan pemetaan geomorfologis terhadap kawasan Gunungapi Merapi dari data Landsat ETM+ tanggal 6 September 2002. yaitu . rentan. Lereng Gunungapi.

2003. LAPAN. Variasi Luncuran Awan Panas Merapi dan Bahayanya. Bronto. Yudiantoro. Ikatan Ahli Geologi (IAGI) Pengurus Daerah Jogjakarta-Jawa Tengah. 2003. Ikatan Ahli Geologi (IAGI) Pengurus Daerah Jogjakarta-Jawa Tengah. Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. 2002.Tugas Fisiografi Lingkungan.rs. Sejarah Letusan Gunung Merapi. 2006. 2008 Gambar 1. Bronto. Citra Landsat-7 ETM+ Kompleks Gunungapi Merapi tanggal 6 September 2002 (Sumber: LAPAN) REFERENSI Anonim. 2008. Ikatan Ahli Geologi (IAGI) Pengurus Daerah Jogjakarta-Jawa Tengah. Gunung Merapi: Antara Manfaat dan Bahaya.I Yagyakarta dan Jawa Tengah. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta . Andreastuti. Pernahkah Letusan Besar Terjadi?. 2003. 2003. Dkk. 2003.lapan. Petunjuk Praktikum Geomorfologi. Pemantauan Peningkatan Aktivitas Gunungapi Merapi (Tahun 2006) berdasarkan Citra Satelit Penginderaan Jauh. Djamal. Bidang Pemantauan Sumberdaya Alam dan Lingkungan Pusat Pengembangan Pemanfaatan dan Teknologi Penginderaan Jauh LAPAN http://www. Mensikapi Kelakuan Gunung Merapi : Studi Kasus Letusan Abad 20. 2003. Ikatan Ahli Geologi (IAGI) Pengurus Daerah Jogjakarta-Jawa Tengah.go. Sekti Mulatsih. Ikatan Ahli Geologi (IAGI) Pengurus Daerah Jogjakarta-Jawa Tengah. Program Studi Ilmu Lingkungan. Laporan Ekskursi Ancaman Pekan Pengurangan Risiko Bencana Propinsi D. Pusat Studi Bencana Alam Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta. Ikatan Ahli Geologi (IAGI) Pengurus Daerah Jogjakarta-Jawa Tengah. Kusumayudha.id/SIMBA Wacana. Sabo Dam dan Peranannya untuk Pengendalian Banjir Lahar di Wilayah Gunung Merapi Jawa Tengah. Mekanika Guguran Lava dan Awan Panas Merapi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful