Tugas Fisiografi Lingkungan, 2008

Tugas Fisiografi Lingkungan Dosen : Prof Sutikno

BAHAYA GUNUNGAPI MERAPI

Disusun Oleh : Sekti Mulatsih 08/275182/PMU/5429

PROGRAM STUDI ILMU LINGKUNGAN SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2008

Sekti Mulatsih, Program Studi Ilmu Lingkungan, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

Sementara itu Montgometry (1989. dimana di dalam proses ini dibagi menjadi 3 bentukan yaitu (1) daerah depan busur gunungapi (f ore arc basin) berupa daerah pantai dan pesisir. Secara Geologi Negara Indonesia merupakan jalur pertemuan dari 3 lempeng besar di dunia yaitu Lempeng Indo-Australia di sebelah Selatan . badai dan sebagainya (Wacana. atau berantai. (2) daerah vulkanik (magmatic arc). gunungapi. 1987) mengartikan gunungapi sebagai bentuk timbulan kumpulan bahan letusan di muka bumi yang berasal dari magma yang tersebar secara sendiri. lembah. Wilayah bahaya Gunungapi Merapi mencakup 4 kabupaten yaitu Sleman. dan gas hasil erupsi atau struktur yang dibentuk di sekitar pusat lubang volkan karena aktifitas erupsi (Anonim.Tugas Fisiografi Lingkungan. dll. longsor. berkelompok. dkk. yang terletak diantara 2 benua (Benua Asia dan Australia). Gunungapi Merapi merupakan satu yang teraktif dari 129 gunungapi yang ada di Indonesia yang terletak 30 km sebelah Utara kota Yogyakarta tepatnya berada di perbatasan 2 Propinsi yaitu Daerah Istimewa Yogyakarta.5' BT. gunungapi adalah tempat atau lubang keluarnya bahan pijar atau gas yang berasal dari dalam bumi ke permukaan bumi. banjir. Selama proses-proses ini berjalan tidak heran kalau negara Indonesia disebut sebagai supermaket ancaman atau bahaya geologi yang beruapa bahaya gempa.Barat Daya . Klaten. abu.5'LS dan 110°26. PENDAHULUAN Negara Indonesia merupakan Negara kepulauan terbesar. dalam Azwar.Barat. Program Studi Ilmu Lingkungan. Proses geologi terus akan berlangsung di bumi untuk mencapai suatu titik keseimbangan yang merupakan suatu siklus geologi atau bumi. Menurut Mac Donald (1972). tsunami. Lempeng Eurasia di sebelah Utara dan Lempeng Pasifik di sebelah Timur Laut. 2002). dan (3) daerah belakang busur vulkanik (back arc basin) (Wacana. Matahelemual (1982 dalam Azwar. dan Magelang . dan Jawa Tengah dengan koordinat 7°32. dataran dan fenomena alam lainnya. 2008 A. 2004). Universitas Gadjah Mada Yogyakarta . dan 2 Samudera (Samudera Hindia dan Samudera Pasifik). Interaksi antar lempeng-lempeng ini membentuk suatu fenomena-fenomena geologi yang berupa proses pengangkatan kerak bumi ke permukaan yang disebut dengan proses tektonik lempeng. Proses-proses ini membentuk fenomena-fenomen geologi seperti halnya perbukitan. 2008). gunungapi. Boyolali. Gunungapi Merapi mempunyai ketinggian 2968 meter dari permukaan air laut Sekti Mulatsih. 1987) menyatakan bahwa gunungapi adalah tempat keluarnya magma.

maka awan panas adalah yang paling berbahaya. aliran piroklastik atau awan panas. Dan berdasarkan mekanismenya bahaya gunungapi dibagi menjadi 2 yaitu bahaya langsung dan bahaya tidak langsung. 2008 (pengukuran tahun 2001). BAHAYA GUNUNGAPI MERAPI Menurut Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi. merupakan gunungapi tipe strato dengan kubah lava (Sumber : Pusat Vulkanologi danMitigasi Bencana Geologi. 2003 dalam Wacana. maka terbentuk sumbat atau kubah lava. Diantara berbagai jenis bahaya gunungapi Merapi. 2003). Kubah lava yang gugur akan menyebabkan terjadinya awan panas guguran. Karateristik khas dari tipe ini adalah pertumbuhan kubah lava di puncak gunungapi. Bagi penduduk atau pengunjung yang kebetulan berada di atas bukit di kawasan rawan bencana apabila terkena hembusan awan panas maka dapat mati hangus atau minimal luka bakar yang jika sembuh akan berakibat cacat tubuh secara permanen. Pada akhirnya kubah lava tersebut longsor membentuk awan panas (nuee ardante) yang berupa luncuran lava pijar yang bercampur dengan massa abu dan gas vulkanik (Bronto. Kubah lava ini tumbuh semakin besar menumpang di atas bidang miring sehingga kedudukannya menjadi tidak stabil. sementara bagian bawah dari sumbat lava tersebuta akan cenderung dalam keadaan masih cair. berdasarkan kegiatannya bencana gunungapi dibagi menjadi 2 yaitu bahaya primer yang meliputi aliran lava. dapur magma relatif dangkal dan tekana gas agak rendah. maka akan menyebabkan terjadinya letusan dan akan membentuk awan panas letusan (Anonim. pasir. 2006). lontaran abu. dan abu). Program Studi Ilmu Lingkungan. Bahaya langsung adalah bahaya yang Sekti Mulatsih. 2008). Berdasarkan letusannya Gunungapi Merapi dicirikan dengan periode letusan yang pendek dan dikenal sebagai Erupsi Tipe Merapi dan bersifat efusif.Tugas Fisiografi Lingkungan. jatuhan piroklastik (lapili. Hal ini dikarenakan awan panas mengalir sangat cepat (60 – 100 km/jam) dan bersuhu tinggi (300 – 7000C). dan bahaya sekunder yaitu lahar dan longsoran tubuh gunungapi (longsoran tubuh gunungapi sebagai akibat proses alterasi hidrotermal). Gerakan aliran ini jauh lebih cepat dari orang lari apalagi di lereng gunungapi biasanya berupa jalan setapak sehingga tidak mungkin menyelamatkan diri pada saat kejadian. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta . Sedangkan bagi korban yang berada di dalam lembah aliran sungai maka tubuh akan hancur lebur tidak bersisa atau terkubur menjadi arang di bawah endapan awan panas yang tebal (Bronto dkk. DESDM) (LAPAN. Karena sifat magmanya tersebut. 2002). B. Jika semakin tinggi tekanan gas karena pipa kepundan tersumbat. Tipe Merapi dicirikan oleh lavanya yang kental dan bersifat basalt.

2008). frekwensi letusan yang signifikan terjadi di Gunungapi Merapi adalah 80 tahun sekali. gas racun. 1949 dalam Wacana. yang berarti letusan yang diakibatkannya lebih besar. Letusan besar diperkirakan terjadi sekali dalam 150 – 500 tahun dengan rata-rata sekali dalam 400 tahun. 2006). dan tsunami gunungapi. 1990 membagi pembentukan Merapi dalam 5 tahap.000 sampai 6. Merapi Tua berumur antara 400. periode waktu diam tersebut lebih panjang.700 tahun yang lalu.700 – 2.Tugas Fisiografi Lingkungan. Bahaya tidak langsung adalah bahaya yang terjadi sebagai efek tidak langsung dari proses erupsi yaitu lahar hujan yaitu banjir lumpur yang disertai dengan batu-batu besar karena terbawanya material hasil letusan yang ada di puncak oleh air hujan menuruni lereng melalui lembah-lembah. sedangkan bahaya sekunder adalah bahaya yang ditimbulkan oleh adanya pengendapan material piroklastik di bagian puncak berupa breksi gunungapi yang diangkut oleh air dengan aliran rombakan bahan gunungapi (volcanic debris flow). awan panas. Sedangkan secara keseluruhan. Gunungapi Merapi telah melakukan kegiatan sedikitnya 80 kali dengan waktu istirahat bervariasi antara 1 – 7 tahun dan waktu istirahat panjang mencapai 13 tahun.200 – 600 tahun yang lalu dan Merapi Sekarang sejak 600 tahun lalu (LAPAN. Bahaya primer adalah bahaya yang langsung ditimbulkan oleh aktivitas erupsi gunungapi yang terbentuk oleh proses aliran permukaan dengan mekanisme aliran debris-piroklastik yang mengalir dengan campuran partikel padat dan gas konsentrasi tinggi yang panas (Cas dan Wright. Berthommier. atau masa campuran rombakan bahan gunungapi dan air yang mengalir dan disebut dengan lahar dingin (Bemmelem. dengan latusan kecil terjadi sekali dalam 2 sampai 7 tahun (Andreastuti. Program Studi Ilmu Lingkungan. 2003). Potensi bahaya erupsi Gunungapi Merapi dibedakan menjadi bahaya primer dan bahaya sekunder. Namun jumlah ini hanya mencakup letusan vertikal yang menghasilkan endapan jatuhan dan tidak termasuk letusan yang terjadi akibat guguran kubah lava. Sebaliknya letusan yang terjadi saat ini menunjukkan bahwa letusan dengan indeks letusan 3 terjadi rata-rata 30 tahun. Bila dibandingkan dengan frekuensi letusan yang sekarang. 7 diantaranya merupakan letusan besar. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta . Semenjak thun 1548 – 2001. sekitar 33 letusan teramati dalam catatan stratigrafi.000 tahun yang lalu). 1987). 2008 ditimbulkan oleh erupsi gunungapi secara langsung yaitu berupa aliran lava. Frekuensi letusan Gunungapi Merapi bervariasi secara siginifikan. Letusan-letusan tersebut bersekala kecil sampai besar. sedangkan yang terjadi pada periode letusan Sekti Mulatsih. Merapi Muda 2.200 tahun yang lalu. kemudian tahap ketiga adalah Merapi Menengah antara 6. yaitu Pra Merapi (>400. Sejak 4000 sampai 250 tahun yang lalu.

baik awan panas letusan ataupun awan panas guguran. Program Studi Ilmu Lingkungan. Material yang berukuran kasar block dan ash (campuran bongkah batuan dan abu gunungapi) diendapkan pada lembahlembah sungai. awan panas adalah bualan gas panas (2000C – 6000C) yang bercampur dengan material vulkanik yang berukuran bongkah sampai abu sebagai akibat longsornya kubah lava atau runtuhnya kolom asap letusan yang bergulunggulung seperti awan bergerak dengan kecepat tinggi (100 – 300 km/jam) meluncur menjauhi pusat letusan menyusuri lereng. sedangkan fase kedua menunjukkan penurunan dari periode istirahat (Yudiantoro. which may in some instances be partly fluidized. Sementara itu Cas dan Wright (1992 dalam Bronto. Dari batasan tersebut diketahui bahwa awan panas merupakan aliran massa dalam bentuk padat dan gas. perbedaan ini didasarkan pada genesanya.Tugas Fisiografi Lingkungan. Bahan padat berupa rempah gunung api terdiri dari material lepas berbagai ukuran mulai dari abu (/<2mm) hingga bongkah (/<64mm). Secara definisis. 2003). variably fluidised. 2003) awan panas didefinisikan sebagai a lateral movement of pyrocalsts as a gravity controlled. Dari kejadian letusan satu dengan kejadian letusan berikutnya seringkali mempunyai tanda-tanda letusan yang berbeda. 2003) mendifinisikan awan panas sebagai a hot. 2008 tahun 1548 – 1587 mencapai 71 tahun. Semakin berumur muda kegiatan Merapi menunjukkan waktu istirahat yang pendek antara 1 – 4 tahun. Sayudi dkk (1991) menyebutkan dari hasil analisis statistik terhadap letusan tahun 1548 – 1986 menghasilkan 2 fase yang berbeda. Bencana ini selalu menghantui penduduk di kawasan Gunungapi Merapi khususnya bagi penduduk yang tinggal di sisi Barat. serta mungkin meleleh karena bersuhu tinggi (3000C . 2003). Di gunungapi Merapi dikenal ada 2 jenis awan panas yaitu awan panas guguran dan awan panas letusan. Menurut Sparks (1976 dalam Bronto. Awan panas yang lebih banyak mengandung gas daripada bahan padat disebut pyroclastic surge atau blast atau hembusan gas bercampur abu gunungapi (Bronto. sehingga sangat memerlukan kejelian dalam menentuan mitigasi (pengurangan resiko kerugian) bencana (Yudiantoro. 2003). Jenis bahaya Gunungapi Merapi yang paling banyak membawa korban manusia adalah jenis awan panas. Bahan padat berbutir kasar lebih banyak mengendap di cekungan atau lembah sungai sesuai pengaruh gravitasi. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta . Pada fase pertama mengalami durasi yang berulang dari panjang ke pendek. gas rich.7000C) bergerak lateral menuruni lereng gunungapi dengan kecepatan tinggi (60 – 100 km/jam). sedangakan yang berukuran abu menyebar secara lateral menutupi Sekti Mulatsih. yaitu fase pertama (periode 1548 – 1812) dan fase kedua (1813 – 1986). high particle concentration mass flow of pyroclastic debris.

Dengan mengkorelasikan jarak luncuran awan panas terhadap jumlah korban diketahui bahwa selama periode 1920 – 1930 hanya terjadi 1 kejadian letusan yaitu pada tahun 1930 dengan jumlah korban 1369 jiwa. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta . Setelah munculnya kubah lava 1984 maka berbentuk 2 cleah yaitu celah Barat Laut. Pada erupsi tahun 2006 perubahan arah deformasi secara dinamis memberikan prediksi yang sama ke semua arah. dan 1998 masing-masing jarak luncur awan panas pendek (3 – 7km) ke arah Barat (K. 2003). Sedangkan pada periode 1990 – 2000 terdapat 4 kejadian letusan yaitu tahun 1992. Bronto dkk (1996) membagi jarak luncuran awan panas dari asal sumber menjadi 5 bagian yaitu jarak sangat pendek (≤ 3km). tidak menimbulkan korban jiwa kecuali letusan 1994 yang menimbulkan korban cukup banyak yaitu 66 jiwa (Yudiantoro. pendek (3 – 7km). antara pematang kawah Barat Laut dengan dengan kubah lava 1984. Namun demikian jika kegiatan gunungapi Merapi yang sangat sering itu berhenti dengan masa istirahat melampaui 7 hingga 10 tahun maka perlu diambil langkah-langkah antisipatif untuk menanggulangi kegiatan yang beresiko bahaya lebih besar (Bronto dkk. sedang ke arah Timur dan Utara belum pernah terjadi. dan celah Barat Daya. 2003). sedang (7 – 10km). 1997. antara kubah lava 1984 dengan pematang kawah Selatan sering disebut kubah “geger buaya” (Bronto dkk. Apu. 2003). Putih). K Lamat. Senowo. Dengan bervariasinya jarak luncuran ini. 2008 punggungan mengikuti arah angin saat terjadi letusan. K Lamat. dan K. Pada tahun 1954 – 1956 kegiatan gunungapi Merapi pernah mengarah ke Utara tetapi karena kondisi morfologi lereng atas bagian Utara ada pematang Gunung Merapi Tua yaitu Pusunglodon-Pasarbubar. Awan panas Merapi paling banyak mengarah ke Barat sedang variasi pergeseran ke Baratdaya dan Tenggara jarang terjadi. jarak luncuran awan panas mencapai 7 – 14km ke arah Barat yaitu K. dan K. Secara rinci perubahan arah luncuran awan panas sangat dipengaruhi oleh topografi Puncak Gunungapi Merapi. tetapi setelah runtuhnya ”geger boyo” pada tanggal 14 Juni 2006 menunjukkan bahwa arah ancaman cenderung ke Selatan tepatnya pada alur Kali Gendol. 2003). Untuk mengetahui arah luncuran awan panas yang akan datang maka pengamatan topografi dan perkembangan pertumbuhan kubah lava di daerah puncak dan sekitarnya secara rutin mutlak harus dilakukan. Program Studi Ilmu Lingkungan.Tugas Fisiografi Lingkungan. panjang (10 – 15km). Senowo. dan sangat panjang (>15km) (Yudiantoro. Blongkeng. Dari data kejadian awan panas selama 1900 – 2001 jarak luncuran awan panas sangat bervariasi yaitu antara 1 – 12 km. 1994. maka aliran awan panas pada saat itu membelok ke Barat Laut mengikuti K. dan pada puncaknya pada tanggal 16 Juni Sekti Mulatsih.

longsor. dan berubah menjadi aliran lahar. Aliran debris berupa campuran sedimen dan air yang bergerak sama-sama dalam gerakan massa Aliran gravitasi sedimen  aliran lahar dapat berupa aliran lumpur atau disebut aliran gravitasi sedimen bila kemiringan kritik. Endapan material piroklastik berupa bahan lepas dengan gradasi mulai dari abu vulkanik. 2003). Sifat bahaya dipengaruhi oleh kondisi morfologi dan lereng. awan panas mengalir melalui alur-alur sungai. Pada penampang Sekti Mulatsih.Tugas Fisiografi Lingkungan. 2008 2006 erupsi besar awan panas melalui alur Kali Gendol mencapai 7 Km dari puncak ke arah tempat Wisata Kaliadem dan menelan 2 korban yang masuk ke dalam bungker. diameter sedimen. semakin curam maka luncurannya akan semakin cepat sehingga desa yang berada di sekitar kurang dari 250 meter sebelah kiri dan kanan dan yang berada pada daerah belokan serta pada alur sungai yang memiliki tebing tinggi seperti tebing lava yang berada di bagian hulu alur Sungai Boyong mempunyai potensi risiko bencana yang sangat tinggi. maupun erosi dasar sungai yang teangkut masuk alur sungai sehingga menyebabkan pendangkalan sungai. Abu vulkanik ini akan mempercepat gerak aliran lahar karena berfungsi sebagai pelicin diantara batu-batu. 2008). kerikil. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta . Program Studi Ilmu Lingkungan. kerusakan lingkungan. dan pasir serta abu vulkanik yang mempunyai sifat merusak. Aliran lahar akan mengalir masuk ke alur sungai di sekitarnya dan meluncur ke hilir dengan kecepatan tinggi. Yang termasuk bencana sedimen ialah banjir lahar dingin dengan material berasal dari hasil letusan gunungapi. Awalnya terjadinya aliran lahar ditentukan oleh beberapa parameter seperti kemiringan lereng. dan sudut geser dalam. kerakal. kecepatan luncur sangat di pengaruhi oleh kimiringan lereng. dan batu-batu besar yang mengendap di lereng berkemiringan terjal. Bencana sedimen semacam ini dalam bahasa Jepang disebut dengan istilah Sabo yang berasal dari kata sa (sand = pasir) dan bo (prevention = pengendalian) dan arti secara umum ialah pengendalian erosi dan sedimentasi yang disebabkan bencana sedimen. kerikil. berat jenis sedimen dan air. kedalaman air. mengangkut batu-batu. Bahaya lahar dingin akan terakumulasi di lereng-lereng bagian hilir dengan morfologi landai – datar sehingga berpotensi risiko bencana terutama di desa-desa yang berada kurang dari 300 meter alur sungai dan lahan-lahan pertanian yang ada di sepanjang alur sungai (Wacana. dan menimbulkan kerugian harta benda bahkan korban jiwa (Djamal. pasir. bila bercampur air hujan akan menjadi tidak stabil. Aliran debris  akan terjadi bila kemiringan dasar lereng lebih besar atau sama dengan kemiringan dasar kritik. mudah runtuh. longsoran. dan pasir. kerikil.

rentan. Masing-masing yaitu tingkat sangat rentan meliputi Kawah Aktif. Dataran Gunungapi. menggelinding. Selain itu juga mengarah ke Kabupaten Boyolali (Kecamatan Selo dan Musuk) dan Klaten (Kecamatan Manisrenggo dan Kemalang) Provinsi Jawa Tengah dan sebagian mengarah ke wilayah Kabupaten Sleman (Kecamatan Turi. PEMBAGIAN DAERAH BAHAYA Berdasarkan analisis dan pemetaan geomorfologis terhadap kawasan Gunungapi Merapi dari data Landsat ETM+ tanggal 6 September 2002. Vulcanic Neck atau Leher Gunungapi. Untuk keperluan mitigasi bencana alam. yaitu . Kondisi geomorfologis Gunungapi Merapi dikelompokkan ke dalam sepuluh bentuklahan. Angkutan muatan dasar  merupakan aliran individu dimana sedimen bergerak di dasar sungai mengikuti arah aliran dengan cara mengguling. Lembah Barranco. 2008 memanjang aliran dapat terlihat lapisan sedimen yang bergerak bersamasama di bawah permukaan air. Lereng Gunungapi. 2006) Sekti Mulatsih. berdasarkan interpretasi citra. sedangkan untuk tingkat kurang rentan meliputi Kaki Gunungapi. Tingkat kerentanan tiap-tiap bentuklahan terhadap bencana Gunungapi Merapi dikelaskan ke dalam tiga tingkat. dan kurang rentan. Cangkringan dan Pakem) Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (Gambar 1) (LAPAN. Kawah Aktif. 2006). Universitas Gadjah Mada Yogyakarta . Sumbat Lava. Lereng Gunungapi. kompleks Gunungapi Merapi menunjukkan daerah daerah yang termasuk Daerah Terlarang. dan Dataran Gunungapi. Dataran Kaki Gunungapi. Dataran Kaki Gunungapi. tingkat rentan meliputi Leher Gunungapi. Medan Lava dan Teras Sungai Erosional (LAPAN. Bahaya I dan Bahaya II. meloncat. Angkutan sedimen dasar terjadi apabila kemiringan dasar sungai kecil (Djamal. Daerah-daerah tersebut dominan terdapat di lereng bagian Barat daya dan sekitarnya yang secara administrasi termasuk wilayah Kabupaten Magelang (Kecamatan Dukun dan Srumbung). Program Studi Ilmu Lingkungan. Sumbat Lava. atau menggeser pada dasar sungai. Lembah Barranco. yaitu sangat rentan. C. 2003). Kaki Gunungapi. Teras Sungai Erosional. dan Medan Lava.Tugas Fisiografi Lingkungan.

lapan.id/SIMBA Wacana. Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.go. Djamal. Mekanika Guguran Lava dan Awan Panas Merapi. Dkk. Ikatan Ahli Geologi (IAGI) Pengurus Daerah Jogjakarta-Jawa Tengah. 2003. Citra Landsat-7 ETM+ Kompleks Gunungapi Merapi tanggal 6 September 2002 (Sumber: LAPAN) REFERENSI Anonim. Ikatan Ahli Geologi (IAGI) Pengurus Daerah Jogjakarta-Jawa Tengah. Program Studi Ilmu Lingkungan. 2003. Ikatan Ahli Geologi (IAGI) Pengurus Daerah Jogjakarta-Jawa Tengah. Bronto. Mensikapi Kelakuan Gunung Merapi : Studi Kasus Letusan Abad 20. Sekti Mulatsih. 2003. 2003. Pernahkah Letusan Besar Terjadi?. 2008 Gambar 1. Variasi Luncuran Awan Panas Merapi dan Bahayanya. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta . 2003. Bidang Pemantauan Sumberdaya Alam dan Lingkungan Pusat Pengembangan Pemanfaatan dan Teknologi Penginderaan Jauh LAPAN http://www. Ikatan Ahli Geologi (IAGI) Pengurus Daerah Jogjakarta-Jawa Tengah.I Yagyakarta dan Jawa Tengah. 2003. Sabo Dam dan Peranannya untuk Pengendalian Banjir Lahar di Wilayah Gunung Merapi Jawa Tengah. Bronto. Petunjuk Praktikum Geomorfologi.rs. 2006. Yudiantoro. Ikatan Ahli Geologi (IAGI) Pengurus Daerah Jogjakarta-Jawa Tengah. Gunung Merapi: Antara Manfaat dan Bahaya. Laporan Ekskursi Ancaman Pekan Pengurangan Risiko Bencana Propinsi D. Pusat Studi Bencana Alam Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta. LAPAN. Ikatan Ahli Geologi (IAGI) Pengurus Daerah Jogjakarta-Jawa Tengah.Tugas Fisiografi Lingkungan. Andreastuti. Kusumayudha. Sejarah Letusan Gunung Merapi. 2008. Pemantauan Peningkatan Aktivitas Gunungapi Merapi (Tahun 2006) berdasarkan Citra Satelit Penginderaan Jauh. 2002.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful