Tugas Fisiografi Lingkungan, 2008

Tugas Fisiografi Lingkungan Dosen : Prof Sutikno

BAHAYA GUNUNGAPI MERAPI

Disusun Oleh : Sekti Mulatsih 08/275182/PMU/5429

PROGRAM STUDI ILMU LINGKUNGAN SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2008

Sekti Mulatsih, Program Studi Ilmu Lingkungan, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

2004). dimana di dalam proses ini dibagi menjadi 3 bentukan yaitu (1) daerah depan busur gunungapi (f ore arc basin) berupa daerah pantai dan pesisir.5' BT. banjir. dan (3) daerah belakang busur vulkanik (back arc basin) (Wacana. dan Magelang . Sementara itu Montgometry (1989. Gunungapi Merapi merupakan satu yang teraktif dari 129 gunungapi yang ada di Indonesia yang terletak 30 km sebelah Utara kota Yogyakarta tepatnya berada di perbatasan 2 Propinsi yaitu Daerah Istimewa Yogyakarta. lembah. Wilayah bahaya Gunungapi Merapi mencakup 4 kabupaten yaitu Sleman. atau berantai. Secara Geologi Negara Indonesia merupakan jalur pertemuan dari 3 lempeng besar di dunia yaitu Lempeng Indo-Australia di sebelah Selatan . gunungapi adalah tempat atau lubang keluarnya bahan pijar atau gas yang berasal dari dalam bumi ke permukaan bumi. dkk.Tugas Fisiografi Lingkungan.Barat Daya . tsunami. badai dan sebagainya (Wacana. gunungapi. 2008). dll. Lempeng Eurasia di sebelah Utara dan Lempeng Pasifik di sebelah Timur Laut. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta . Gunungapi Merapi mempunyai ketinggian 2968 meter dari permukaan air laut Sekti Mulatsih. Interaksi antar lempeng-lempeng ini membentuk suatu fenomena-fenomena geologi yang berupa proses pengangkatan kerak bumi ke permukaan yang disebut dengan proses tektonik lempeng. Boyolali. 1987) menyatakan bahwa gunungapi adalah tempat keluarnya magma. Selama proses-proses ini berjalan tidak heran kalau negara Indonesia disebut sebagai supermaket ancaman atau bahaya geologi yang beruapa bahaya gempa. 2008 A. Matahelemual (1982 dalam Azwar. longsor.Barat. dalam Azwar. 2002). 1987) mengartikan gunungapi sebagai bentuk timbulan kumpulan bahan letusan di muka bumi yang berasal dari magma yang tersebar secara sendiri. abu. dan Jawa Tengah dengan koordinat 7°32. berkelompok. Proses geologi terus akan berlangsung di bumi untuk mencapai suatu titik keseimbangan yang merupakan suatu siklus geologi atau bumi. Menurut Mac Donald (1972). dan gas hasil erupsi atau struktur yang dibentuk di sekitar pusat lubang volkan karena aktifitas erupsi (Anonim. yang terletak diantara 2 benua (Benua Asia dan Australia). PENDAHULUAN Negara Indonesia merupakan Negara kepulauan terbesar. gunungapi. Proses-proses ini membentuk fenomena-fenomen geologi seperti halnya perbukitan.5'LS dan 110°26. dataran dan fenomena alam lainnya. Program Studi Ilmu Lingkungan. (2) daerah vulkanik (magmatic arc). dan 2 Samudera (Samudera Hindia dan Samudera Pasifik). Klaten.

BAHAYA GUNUNGAPI MERAPI Menurut Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi. maka terbentuk sumbat atau kubah lava. Sedangkan bagi korban yang berada di dalam lembah aliran sungai maka tubuh akan hancur lebur tidak bersisa atau terkubur menjadi arang di bawah endapan awan panas yang tebal (Bronto dkk. maka akan menyebabkan terjadinya letusan dan akan membentuk awan panas letusan (Anonim. Karateristik khas dari tipe ini adalah pertumbuhan kubah lava di puncak gunungapi. Diantara berbagai jenis bahaya gunungapi Merapi. aliran piroklastik atau awan panas. Bahaya langsung adalah bahaya yang Sekti Mulatsih. Karena sifat magmanya tersebut. Bagi penduduk atau pengunjung yang kebetulan berada di atas bukit di kawasan rawan bencana apabila terkena hembusan awan panas maka dapat mati hangus atau minimal luka bakar yang jika sembuh akan berakibat cacat tubuh secara permanen. pasir. Kubah lava ini tumbuh semakin besar menumpang di atas bidang miring sehingga kedudukannya menjadi tidak stabil. merupakan gunungapi tipe strato dengan kubah lava (Sumber : Pusat Vulkanologi danMitigasi Bencana Geologi. dapur magma relatif dangkal dan tekana gas agak rendah. Dan berdasarkan mekanismenya bahaya gunungapi dibagi menjadi 2 yaitu bahaya langsung dan bahaya tidak langsung. Kubah lava yang gugur akan menyebabkan terjadinya awan panas guguran. 2006). lontaran abu. Program Studi Ilmu Lingkungan. dan bahaya sekunder yaitu lahar dan longsoran tubuh gunungapi (longsoran tubuh gunungapi sebagai akibat proses alterasi hidrotermal). Gerakan aliran ini jauh lebih cepat dari orang lari apalagi di lereng gunungapi biasanya berupa jalan setapak sehingga tidak mungkin menyelamatkan diri pada saat kejadian. B. 2008). Jika semakin tinggi tekanan gas karena pipa kepundan tersumbat. dan abu). sementara bagian bawah dari sumbat lava tersebuta akan cenderung dalam keadaan masih cair. Pada akhirnya kubah lava tersebut longsor membentuk awan panas (nuee ardante) yang berupa luncuran lava pijar yang bercampur dengan massa abu dan gas vulkanik (Bronto. Hal ini dikarenakan awan panas mengalir sangat cepat (60 – 100 km/jam) dan bersuhu tinggi (300 – 7000C). jatuhan piroklastik (lapili. Berdasarkan letusannya Gunungapi Merapi dicirikan dengan periode letusan yang pendek dan dikenal sebagai Erupsi Tipe Merapi dan bersifat efusif. 2003 dalam Wacana. berdasarkan kegiatannya bencana gunungapi dibagi menjadi 2 yaitu bahaya primer yang meliputi aliran lava. 2003). Universitas Gadjah Mada Yogyakarta . Tipe Merapi dicirikan oleh lavanya yang kental dan bersifat basalt. 2008 (pengukuran tahun 2001). DESDM) (LAPAN. maka awan panas adalah yang paling berbahaya.Tugas Fisiografi Lingkungan. 2002).

yang berarti letusan yang diakibatkannya lebih besar. Sedangkan secara keseluruhan.700 – 2. 2008 ditimbulkan oleh erupsi gunungapi secara langsung yaitu berupa aliran lava. sedangkan bahaya sekunder adalah bahaya yang ditimbulkan oleh adanya pengendapan material piroklastik di bagian puncak berupa breksi gunungapi yang diangkut oleh air dengan aliran rombakan bahan gunungapi (volcanic debris flow). 2003). Bila dibandingkan dengan frekuensi letusan yang sekarang. frekwensi letusan yang signifikan terjadi di Gunungapi Merapi adalah 80 tahun sekali. Bahaya primer adalah bahaya yang langsung ditimbulkan oleh aktivitas erupsi gunungapi yang terbentuk oleh proses aliran permukaan dengan mekanisme aliran debris-piroklastik yang mengalir dengan campuran partikel padat dan gas konsentrasi tinggi yang panas (Cas dan Wright. 2008). Letusan besar diperkirakan terjadi sekali dalam 150 – 500 tahun dengan rata-rata sekali dalam 400 tahun. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta . Program Studi Ilmu Lingkungan. dengan latusan kecil terjadi sekali dalam 2 sampai 7 tahun (Andreastuti. Gunungapi Merapi telah melakukan kegiatan sedikitnya 80 kali dengan waktu istirahat bervariasi antara 1 – 7 tahun dan waktu istirahat panjang mencapai 13 tahun. Berthommier. 1990 membagi pembentukan Merapi dalam 5 tahap. atau masa campuran rombakan bahan gunungapi dan air yang mengalir dan disebut dengan lahar dingin (Bemmelem. gas racun.000 tahun yang lalu).700 tahun yang lalu. sekitar 33 letusan teramati dalam catatan stratigrafi.Tugas Fisiografi Lingkungan. 7 diantaranya merupakan letusan besar. Merapi Tua berumur antara 400. Sebaliknya letusan yang terjadi saat ini menunjukkan bahwa letusan dengan indeks letusan 3 terjadi rata-rata 30 tahun. Merapi Muda 2. 1949 dalam Wacana. 2006). Bahaya tidak langsung adalah bahaya yang terjadi sebagai efek tidak langsung dari proses erupsi yaitu lahar hujan yaitu banjir lumpur yang disertai dengan batu-batu besar karena terbawanya material hasil letusan yang ada di puncak oleh air hujan menuruni lereng melalui lembah-lembah. awan panas. Sejak 4000 sampai 250 tahun yang lalu.000 sampai 6. yaitu Pra Merapi (>400. Semenjak thun 1548 – 2001.200 tahun yang lalu. Namun jumlah ini hanya mencakup letusan vertikal yang menghasilkan endapan jatuhan dan tidak termasuk letusan yang terjadi akibat guguran kubah lava. dan tsunami gunungapi. 1987). kemudian tahap ketiga adalah Merapi Menengah antara 6. periode waktu diam tersebut lebih panjang. sedangkan yang terjadi pada periode letusan Sekti Mulatsih.200 – 600 tahun yang lalu dan Merapi Sekarang sejak 600 tahun lalu (LAPAN. Letusan-letusan tersebut bersekala kecil sampai besar. Potensi bahaya erupsi Gunungapi Merapi dibedakan menjadi bahaya primer dan bahaya sekunder. Frekuensi letusan Gunungapi Merapi bervariasi secara siginifikan.

7000C) bergerak lateral menuruni lereng gunungapi dengan kecepatan tinggi (60 – 100 km/jam). 2003). Di gunungapi Merapi dikenal ada 2 jenis awan panas yaitu awan panas guguran dan awan panas letusan. 2003) awan panas didefinisikan sebagai a lateral movement of pyrocalsts as a gravity controlled. Jenis bahaya Gunungapi Merapi yang paling banyak membawa korban manusia adalah jenis awan panas. which may in some instances be partly fluidized. Awan panas yang lebih banyak mengandung gas daripada bahan padat disebut pyroclastic surge atau blast atau hembusan gas bercampur abu gunungapi (Bronto. Dari batasan tersebut diketahui bahwa awan panas merupakan aliran massa dalam bentuk padat dan gas. 2003). sedangkan fase kedua menunjukkan penurunan dari periode istirahat (Yudiantoro. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta . 2008 tahun 1548 – 1587 mencapai 71 tahun. 2003). perbedaan ini didasarkan pada genesanya. baik awan panas letusan ataupun awan panas guguran. Menurut Sparks (1976 dalam Bronto. high particle concentration mass flow of pyroclastic debris. gas rich. Sementara itu Cas dan Wright (1992 dalam Bronto. Material yang berukuran kasar block dan ash (campuran bongkah batuan dan abu gunungapi) diendapkan pada lembahlembah sungai. Bahan padat berbutir kasar lebih banyak mengendap di cekungan atau lembah sungai sesuai pengaruh gravitasi. Pada fase pertama mengalami durasi yang berulang dari panjang ke pendek. yaitu fase pertama (periode 1548 – 1812) dan fase kedua (1813 – 1986). Semakin berumur muda kegiatan Merapi menunjukkan waktu istirahat yang pendek antara 1 – 4 tahun. Secara definisis. sedangakan yang berukuran abu menyebar secara lateral menutupi Sekti Mulatsih. 2003) mendifinisikan awan panas sebagai a hot.Tugas Fisiografi Lingkungan. sehingga sangat memerlukan kejelian dalam menentuan mitigasi (pengurangan resiko kerugian) bencana (Yudiantoro. awan panas adalah bualan gas panas (2000C – 6000C) yang bercampur dengan material vulkanik yang berukuran bongkah sampai abu sebagai akibat longsornya kubah lava atau runtuhnya kolom asap letusan yang bergulunggulung seperti awan bergerak dengan kecepat tinggi (100 – 300 km/jam) meluncur menjauhi pusat letusan menyusuri lereng. Bahan padat berupa rempah gunung api terdiri dari material lepas berbagai ukuran mulai dari abu (/<2mm) hingga bongkah (/<64mm). variably fluidised. Program Studi Ilmu Lingkungan. serta mungkin meleleh karena bersuhu tinggi (3000C . Sayudi dkk (1991) menyebutkan dari hasil analisis statistik terhadap letusan tahun 1548 – 1986 menghasilkan 2 fase yang berbeda. Bencana ini selalu menghantui penduduk di kawasan Gunungapi Merapi khususnya bagi penduduk yang tinggal di sisi Barat. Dari kejadian letusan satu dengan kejadian letusan berikutnya seringkali mempunyai tanda-tanda letusan yang berbeda.

jarak luncuran awan panas mencapai 7 – 14km ke arah Barat yaitu K. 1994. Namun demikian jika kegiatan gunungapi Merapi yang sangat sering itu berhenti dengan masa istirahat melampaui 7 hingga 10 tahun maka perlu diambil langkah-langkah antisipatif untuk menanggulangi kegiatan yang beresiko bahaya lebih besar (Bronto dkk. 2003). Bronto dkk (1996) membagi jarak luncuran awan panas dari asal sumber menjadi 5 bagian yaitu jarak sangat pendek (≤ 3km). dan K. 2003). dan pada puncaknya pada tanggal 16 Juni Sekti Mulatsih. dan 1998 masing-masing jarak luncur awan panas pendek (3 – 7km) ke arah Barat (K. pendek (3 – 7km). Dari data kejadian awan panas selama 1900 – 2001 jarak luncuran awan panas sangat bervariasi yaitu antara 1 – 12 km. Secara rinci perubahan arah luncuran awan panas sangat dipengaruhi oleh topografi Puncak Gunungapi Merapi. K Lamat. sedang (7 – 10km). Universitas Gadjah Mada Yogyakarta . 2003). dan K.Tugas Fisiografi Lingkungan. tidak menimbulkan korban jiwa kecuali letusan 1994 yang menimbulkan korban cukup banyak yaitu 66 jiwa (Yudiantoro. Setelah munculnya kubah lava 1984 maka berbentuk 2 cleah yaitu celah Barat Laut. Pada tahun 1954 – 1956 kegiatan gunungapi Merapi pernah mengarah ke Utara tetapi karena kondisi morfologi lereng atas bagian Utara ada pematang Gunung Merapi Tua yaitu Pusunglodon-Pasarbubar. antara pematang kawah Barat Laut dengan dengan kubah lava 1984. 2003). tetapi setelah runtuhnya ”geger boyo” pada tanggal 14 Juni 2006 menunjukkan bahwa arah ancaman cenderung ke Selatan tepatnya pada alur Kali Gendol. dan sangat panjang (>15km) (Yudiantoro. Blongkeng. 1997. 2008 punggungan mengikuti arah angin saat terjadi letusan. Pada erupsi tahun 2006 perubahan arah deformasi secara dinamis memberikan prediksi yang sama ke semua arah. Untuk mengetahui arah luncuran awan panas yang akan datang maka pengamatan topografi dan perkembangan pertumbuhan kubah lava di daerah puncak dan sekitarnya secara rutin mutlak harus dilakukan. Program Studi Ilmu Lingkungan. K Lamat. antara kubah lava 1984 dengan pematang kawah Selatan sering disebut kubah “geger buaya” (Bronto dkk. dan celah Barat Daya. Sedangkan pada periode 1990 – 2000 terdapat 4 kejadian letusan yaitu tahun 1992. Dengan bervariasinya jarak luncuran ini. panjang (10 – 15km). Awan panas Merapi paling banyak mengarah ke Barat sedang variasi pergeseran ke Baratdaya dan Tenggara jarang terjadi. maka aliran awan panas pada saat itu membelok ke Barat Laut mengikuti K. sedang ke arah Timur dan Utara belum pernah terjadi. Senowo. Dengan mengkorelasikan jarak luncuran awan panas terhadap jumlah korban diketahui bahwa selama periode 1920 – 1930 hanya terjadi 1 kejadian letusan yaitu pada tahun 1930 dengan jumlah korban 1369 jiwa. Putih). Apu. Senowo.

Bahaya lahar dingin akan terakumulasi di lereng-lereng bagian hilir dengan morfologi landai – datar sehingga berpotensi risiko bencana terutama di desa-desa yang berada kurang dari 300 meter alur sungai dan lahan-lahan pertanian yang ada di sepanjang alur sungai (Wacana. semakin curam maka luncurannya akan semakin cepat sehingga desa yang berada di sekitar kurang dari 250 meter sebelah kiri dan kanan dan yang berada pada daerah belokan serta pada alur sungai yang memiliki tebing tinggi seperti tebing lava yang berada di bagian hulu alur Sungai Boyong mempunyai potensi risiko bencana yang sangat tinggi. Aliran lahar akan mengalir masuk ke alur sungai di sekitarnya dan meluncur ke hilir dengan kecepatan tinggi. dan berubah menjadi aliran lahar. longsoran. pasir. dan pasir serta abu vulkanik yang mempunyai sifat merusak. 2008). dan pasir. kedalaman air. Sifat bahaya dipengaruhi oleh kondisi morfologi dan lereng. Endapan material piroklastik berupa bahan lepas dengan gradasi mulai dari abu vulkanik.Tugas Fisiografi Lingkungan. Pada penampang Sekti Mulatsih. kecepatan luncur sangat di pengaruhi oleh kimiringan lereng. kerikil. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta . kerusakan lingkungan. Abu vulkanik ini akan mempercepat gerak aliran lahar karena berfungsi sebagai pelicin diantara batu-batu. dan sudut geser dalam. dan menimbulkan kerugian harta benda bahkan korban jiwa (Djamal. 2003). kerakal. bila bercampur air hujan akan menjadi tidak stabil. mudah runtuh. Aliran debris  akan terjadi bila kemiringan dasar lereng lebih besar atau sama dengan kemiringan dasar kritik. diameter sedimen. kerikil. kerikil. Aliran debris berupa campuran sedimen dan air yang bergerak sama-sama dalam gerakan massa Aliran gravitasi sedimen  aliran lahar dapat berupa aliran lumpur atau disebut aliran gravitasi sedimen bila kemiringan kritik. Awalnya terjadinya aliran lahar ditentukan oleh beberapa parameter seperti kemiringan lereng. Bencana sedimen semacam ini dalam bahasa Jepang disebut dengan istilah Sabo yang berasal dari kata sa (sand = pasir) dan bo (prevention = pengendalian) dan arti secara umum ialah pengendalian erosi dan sedimentasi yang disebabkan bencana sedimen. maupun erosi dasar sungai yang teangkut masuk alur sungai sehingga menyebabkan pendangkalan sungai. 2008 2006 erupsi besar awan panas melalui alur Kali Gendol mencapai 7 Km dari puncak ke arah tempat Wisata Kaliadem dan menelan 2 korban yang masuk ke dalam bungker. berat jenis sedimen dan air. awan panas mengalir melalui alur-alur sungai. Program Studi Ilmu Lingkungan. dan batu-batu besar yang mengendap di lereng berkemiringan terjal. mengangkut batu-batu. longsor. Yang termasuk bencana sedimen ialah banjir lahar dingin dengan material berasal dari hasil letusan gunungapi.

Daerah-daerah tersebut dominan terdapat di lereng bagian Barat daya dan sekitarnya yang secara administrasi termasuk wilayah Kabupaten Magelang (Kecamatan Dukun dan Srumbung). Dataran Gunungapi. dan kurang rentan. Vulcanic Neck atau Leher Gunungapi. meloncat. yaitu . dan Dataran Gunungapi. 2006) Sekti Mulatsih. 2008 memanjang aliran dapat terlihat lapisan sedimen yang bergerak bersamasama di bawah permukaan air. Dataran Kaki Gunungapi. Selain itu juga mengarah ke Kabupaten Boyolali (Kecamatan Selo dan Musuk) dan Klaten (Kecamatan Manisrenggo dan Kemalang) Provinsi Jawa Tengah dan sebagian mengarah ke wilayah Kabupaten Sleman (Kecamatan Turi. Teras Sungai Erosional. menggelinding.Tugas Fisiografi Lingkungan. atau menggeser pada dasar sungai. Lembah Barranco. 2006). sedangkan untuk tingkat kurang rentan meliputi Kaki Gunungapi. berdasarkan interpretasi citra. Program Studi Ilmu Lingkungan. Bahaya I dan Bahaya II. Masing-masing yaitu tingkat sangat rentan meliputi Kawah Aktif. kompleks Gunungapi Merapi menunjukkan daerah daerah yang termasuk Daerah Terlarang. Kawah Aktif. Tingkat kerentanan tiap-tiap bentuklahan terhadap bencana Gunungapi Merapi dikelaskan ke dalam tiga tingkat. Lembah Barranco. Untuk keperluan mitigasi bencana alam. tingkat rentan meliputi Leher Gunungapi. yaitu sangat rentan. Dataran Kaki Gunungapi. Lereng Gunungapi. C. PEMBAGIAN DAERAH BAHAYA Berdasarkan analisis dan pemetaan geomorfologis terhadap kawasan Gunungapi Merapi dari data Landsat ETM+ tanggal 6 September 2002. Lereng Gunungapi. 2003). Sumbat Lava. Kondisi geomorfologis Gunungapi Merapi dikelompokkan ke dalam sepuluh bentuklahan. Angkutan muatan dasar  merupakan aliran individu dimana sedimen bergerak di dasar sungai mengikuti arah aliran dengan cara mengguling. Kaki Gunungapi. rentan. Angkutan sedimen dasar terjadi apabila kemiringan dasar sungai kecil (Djamal. Medan Lava dan Teras Sungai Erosional (LAPAN. dan Medan Lava. Cangkringan dan Pakem) Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (Gambar 1) (LAPAN. Sumbat Lava. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta .

Citra Landsat-7 ETM+ Kompleks Gunungapi Merapi tanggal 6 September 2002 (Sumber: LAPAN) REFERENSI Anonim. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta . Pusat Studi Bencana Alam Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta. Ikatan Ahli Geologi (IAGI) Pengurus Daerah Jogjakarta-Jawa Tengah. Sejarah Letusan Gunung Merapi. Kusumayudha. Gunung Merapi: Antara Manfaat dan Bahaya.I Yagyakarta dan Jawa Tengah.rs. Petunjuk Praktikum Geomorfologi. Yudiantoro. Sabo Dam dan Peranannya untuk Pengendalian Banjir Lahar di Wilayah Gunung Merapi Jawa Tengah. Variasi Luncuran Awan Panas Merapi dan Bahayanya. 2006. Pernahkah Letusan Besar Terjadi?.lapan. 2003. 2003. Mensikapi Kelakuan Gunung Merapi : Studi Kasus Letusan Abad 20. 2003. Bronto. Bidang Pemantauan Sumberdaya Alam dan Lingkungan Pusat Pengembangan Pemanfaatan dan Teknologi Penginderaan Jauh LAPAN http://www. 2002. 2003. Ikatan Ahli Geologi (IAGI) Pengurus Daerah Jogjakarta-Jawa Tengah. LAPAN. 2003. 2003. Ikatan Ahli Geologi (IAGI) Pengurus Daerah Jogjakarta-Jawa Tengah. Bronto. Mekanika Guguran Lava dan Awan Panas Merapi. 2008 Gambar 1. Sekti Mulatsih. Dkk. Ikatan Ahli Geologi (IAGI) Pengurus Daerah Jogjakarta-Jawa Tengah.id/SIMBA Wacana. Andreastuti. Program Studi Ilmu Lingkungan. 2008. Ikatan Ahli Geologi (IAGI) Pengurus Daerah Jogjakarta-Jawa Tengah. Pemantauan Peningkatan Aktivitas Gunungapi Merapi (Tahun 2006) berdasarkan Citra Satelit Penginderaan Jauh.Tugas Fisiografi Lingkungan. Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.go. Laporan Ekskursi Ancaman Pekan Pengurangan Risiko Bencana Propinsi D. Ikatan Ahli Geologi (IAGI) Pengurus Daerah Jogjakarta-Jawa Tengah. Djamal.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful