Tugas Fisiografi Lingkungan, 2008

Tugas Fisiografi Lingkungan Dosen : Prof Sutikno

BAHAYA GUNUNGAPI MERAPI

Disusun Oleh : Sekti Mulatsih 08/275182/PMU/5429

PROGRAM STUDI ILMU LINGKUNGAN SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2008

Sekti Mulatsih, Program Studi Ilmu Lingkungan, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

Proses-proses ini membentuk fenomena-fenomen geologi seperti halnya perbukitan. Lempeng Eurasia di sebelah Utara dan Lempeng Pasifik di sebelah Timur Laut. dan 2 Samudera (Samudera Hindia dan Samudera Pasifik). dan Jawa Tengah dengan koordinat 7°32. 2008 A. PENDAHULUAN Negara Indonesia merupakan Negara kepulauan terbesar. dalam Azwar. Interaksi antar lempeng-lempeng ini membentuk suatu fenomena-fenomena geologi yang berupa proses pengangkatan kerak bumi ke permukaan yang disebut dengan proses tektonik lempeng. Gunungapi Merapi mempunyai ketinggian 2968 meter dari permukaan air laut Sekti Mulatsih.Barat. berkelompok. dimana di dalam proses ini dibagi menjadi 3 bentukan yaitu (1) daerah depan busur gunungapi (f ore arc basin) berupa daerah pantai dan pesisir. 2002). yang terletak diantara 2 benua (Benua Asia dan Australia). Secara Geologi Negara Indonesia merupakan jalur pertemuan dari 3 lempeng besar di dunia yaitu Lempeng Indo-Australia di sebelah Selatan . Program Studi Ilmu Lingkungan. lembah. atau berantai. dkk. Klaten. gunungapi.5'LS dan 110°26. badai dan sebagainya (Wacana. dataran dan fenomena alam lainnya. Selama proses-proses ini berjalan tidak heran kalau negara Indonesia disebut sebagai supermaket ancaman atau bahaya geologi yang beruapa bahaya gempa. 1987) mengartikan gunungapi sebagai bentuk timbulan kumpulan bahan letusan di muka bumi yang berasal dari magma yang tersebar secara sendiri. dan gas hasil erupsi atau struktur yang dibentuk di sekitar pusat lubang volkan karena aktifitas erupsi (Anonim. 2008). gunungapi. Sementara itu Montgometry (1989. dan Magelang . abu. Wilayah bahaya Gunungapi Merapi mencakup 4 kabupaten yaitu Sleman. Matahelemual (1982 dalam Azwar. longsor. Menurut Mac Donald (1972).5' BT. tsunami. dan (3) daerah belakang busur vulkanik (back arc basin) (Wacana. Proses geologi terus akan berlangsung di bumi untuk mencapai suatu titik keseimbangan yang merupakan suatu siklus geologi atau bumi. banjir. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta . 2004). gunungapi adalah tempat atau lubang keluarnya bahan pijar atau gas yang berasal dari dalam bumi ke permukaan bumi. Boyolali. Gunungapi Merapi merupakan satu yang teraktif dari 129 gunungapi yang ada di Indonesia yang terletak 30 km sebelah Utara kota Yogyakarta tepatnya berada di perbatasan 2 Propinsi yaitu Daerah Istimewa Yogyakarta.Tugas Fisiografi Lingkungan. (2) daerah vulkanik (magmatic arc). dll.Barat Daya . 1987) menyatakan bahwa gunungapi adalah tempat keluarnya magma.

dan bahaya sekunder yaitu lahar dan longsoran tubuh gunungapi (longsoran tubuh gunungapi sebagai akibat proses alterasi hidrotermal). 2003). maka akan menyebabkan terjadinya letusan dan akan membentuk awan panas letusan (Anonim. Karena sifat magmanya tersebut. Bahaya langsung adalah bahaya yang Sekti Mulatsih. Hal ini dikarenakan awan panas mengalir sangat cepat (60 – 100 km/jam) dan bersuhu tinggi (300 – 7000C). maka awan panas adalah yang paling berbahaya. Karateristik khas dari tipe ini adalah pertumbuhan kubah lava di puncak gunungapi. aliran piroklastik atau awan panas. jatuhan piroklastik (lapili. Bagi penduduk atau pengunjung yang kebetulan berada di atas bukit di kawasan rawan bencana apabila terkena hembusan awan panas maka dapat mati hangus atau minimal luka bakar yang jika sembuh akan berakibat cacat tubuh secara permanen. Gerakan aliran ini jauh lebih cepat dari orang lari apalagi di lereng gunungapi biasanya berupa jalan setapak sehingga tidak mungkin menyelamatkan diri pada saat kejadian. 2002). merupakan gunungapi tipe strato dengan kubah lava (Sumber : Pusat Vulkanologi danMitigasi Bencana Geologi. dapur magma relatif dangkal dan tekana gas agak rendah. B. dan abu). berdasarkan kegiatannya bencana gunungapi dibagi menjadi 2 yaitu bahaya primer yang meliputi aliran lava. Dan berdasarkan mekanismenya bahaya gunungapi dibagi menjadi 2 yaitu bahaya langsung dan bahaya tidak langsung. Pada akhirnya kubah lava tersebut longsor membentuk awan panas (nuee ardante) yang berupa luncuran lava pijar yang bercampur dengan massa abu dan gas vulkanik (Bronto. 2008 (pengukuran tahun 2001). 2006). pasir.Tugas Fisiografi Lingkungan. 2008). Sedangkan bagi korban yang berada di dalam lembah aliran sungai maka tubuh akan hancur lebur tidak bersisa atau terkubur menjadi arang di bawah endapan awan panas yang tebal (Bronto dkk. Program Studi Ilmu Lingkungan. lontaran abu. DESDM) (LAPAN. Kubah lava ini tumbuh semakin besar menumpang di atas bidang miring sehingga kedudukannya menjadi tidak stabil. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta . Kubah lava yang gugur akan menyebabkan terjadinya awan panas guguran. maka terbentuk sumbat atau kubah lava. Tipe Merapi dicirikan oleh lavanya yang kental dan bersifat basalt. sementara bagian bawah dari sumbat lava tersebuta akan cenderung dalam keadaan masih cair. Diantara berbagai jenis bahaya gunungapi Merapi. Berdasarkan letusannya Gunungapi Merapi dicirikan dengan periode letusan yang pendek dan dikenal sebagai Erupsi Tipe Merapi dan bersifat efusif. BAHAYA GUNUNGAPI MERAPI Menurut Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi. 2003 dalam Wacana. Jika semakin tinggi tekanan gas karena pipa kepundan tersumbat.

periode waktu diam tersebut lebih panjang. Bila dibandingkan dengan frekuensi letusan yang sekarang. 1949 dalam Wacana. Semenjak thun 1548 – 2001.Tugas Fisiografi Lingkungan. kemudian tahap ketiga adalah Merapi Menengah antara 6. 2008). Bahaya tidak langsung adalah bahaya yang terjadi sebagai efek tidak langsung dari proses erupsi yaitu lahar hujan yaitu banjir lumpur yang disertai dengan batu-batu besar karena terbawanya material hasil letusan yang ada di puncak oleh air hujan menuruni lereng melalui lembah-lembah.200 – 600 tahun yang lalu dan Merapi Sekarang sejak 600 tahun lalu (LAPAN. 7 diantaranya merupakan letusan besar. dengan latusan kecil terjadi sekali dalam 2 sampai 7 tahun (Andreastuti. Bahaya primer adalah bahaya yang langsung ditimbulkan oleh aktivitas erupsi gunungapi yang terbentuk oleh proses aliran permukaan dengan mekanisme aliran debris-piroklastik yang mengalir dengan campuran partikel padat dan gas konsentrasi tinggi yang panas (Cas dan Wright. 2006). Potensi bahaya erupsi Gunungapi Merapi dibedakan menjadi bahaya primer dan bahaya sekunder. Letusan besar diperkirakan terjadi sekali dalam 150 – 500 tahun dengan rata-rata sekali dalam 400 tahun. dan tsunami gunungapi. sekitar 33 letusan teramati dalam catatan stratigrafi.000 tahun yang lalu). Merapi Tua berumur antara 400.200 tahun yang lalu. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta . Berthommier. gas racun. sedangkan yang terjadi pada periode letusan Sekti Mulatsih.700 tahun yang lalu. Sebaliknya letusan yang terjadi saat ini menunjukkan bahwa letusan dengan indeks letusan 3 terjadi rata-rata 30 tahun. Letusan-letusan tersebut bersekala kecil sampai besar. 1990 membagi pembentukan Merapi dalam 5 tahap.700 – 2. Frekuensi letusan Gunungapi Merapi bervariasi secara siginifikan. Sejak 4000 sampai 250 tahun yang lalu. atau masa campuran rombakan bahan gunungapi dan air yang mengalir dan disebut dengan lahar dingin (Bemmelem. 2003). yang berarti letusan yang diakibatkannya lebih besar. frekwensi letusan yang signifikan terjadi di Gunungapi Merapi adalah 80 tahun sekali. Sedangkan secara keseluruhan. Namun jumlah ini hanya mencakup letusan vertikal yang menghasilkan endapan jatuhan dan tidak termasuk letusan yang terjadi akibat guguran kubah lava. awan panas. 2008 ditimbulkan oleh erupsi gunungapi secara langsung yaitu berupa aliran lava. Merapi Muda 2.000 sampai 6. 1987). yaitu Pra Merapi (>400. sedangkan bahaya sekunder adalah bahaya yang ditimbulkan oleh adanya pengendapan material piroklastik di bagian puncak berupa breksi gunungapi yang diangkut oleh air dengan aliran rombakan bahan gunungapi (volcanic debris flow). Program Studi Ilmu Lingkungan. Gunungapi Merapi telah melakukan kegiatan sedikitnya 80 kali dengan waktu istirahat bervariasi antara 1 – 7 tahun dan waktu istirahat panjang mencapai 13 tahun.

7000C) bergerak lateral menuruni lereng gunungapi dengan kecepatan tinggi (60 – 100 km/jam). 2008 tahun 1548 – 1587 mencapai 71 tahun. Pada fase pertama mengalami durasi yang berulang dari panjang ke pendek. Menurut Sparks (1976 dalam Bronto. Sementara itu Cas dan Wright (1992 dalam Bronto. yaitu fase pertama (periode 1548 – 1812) dan fase kedua (1813 – 1986). Dari batasan tersebut diketahui bahwa awan panas merupakan aliran massa dalam bentuk padat dan gas. variably fluidised. Di gunungapi Merapi dikenal ada 2 jenis awan panas yaitu awan panas guguran dan awan panas letusan. Bahan padat berbutir kasar lebih banyak mengendap di cekungan atau lembah sungai sesuai pengaruh gravitasi. gas rich. Jenis bahaya Gunungapi Merapi yang paling banyak membawa korban manusia adalah jenis awan panas. sedangkan fase kedua menunjukkan penurunan dari periode istirahat (Yudiantoro. Semakin berumur muda kegiatan Merapi menunjukkan waktu istirahat yang pendek antara 1 – 4 tahun. sehingga sangat memerlukan kejelian dalam menentuan mitigasi (pengurangan resiko kerugian) bencana (Yudiantoro. Bahan padat berupa rempah gunung api terdiri dari material lepas berbagai ukuran mulai dari abu (/<2mm) hingga bongkah (/<64mm). 2003) awan panas didefinisikan sebagai a lateral movement of pyrocalsts as a gravity controlled. which may in some instances be partly fluidized. Program Studi Ilmu Lingkungan. sedangakan yang berukuran abu menyebar secara lateral menutupi Sekti Mulatsih.Tugas Fisiografi Lingkungan. 2003). serta mungkin meleleh karena bersuhu tinggi (3000C . high particle concentration mass flow of pyroclastic debris. awan panas adalah bualan gas panas (2000C – 6000C) yang bercampur dengan material vulkanik yang berukuran bongkah sampai abu sebagai akibat longsornya kubah lava atau runtuhnya kolom asap letusan yang bergulunggulung seperti awan bergerak dengan kecepat tinggi (100 – 300 km/jam) meluncur menjauhi pusat letusan menyusuri lereng. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta . perbedaan ini didasarkan pada genesanya. Secara definisis. 2003) mendifinisikan awan panas sebagai a hot. 2003). Awan panas yang lebih banyak mengandung gas daripada bahan padat disebut pyroclastic surge atau blast atau hembusan gas bercampur abu gunungapi (Bronto. baik awan panas letusan ataupun awan panas guguran. Sayudi dkk (1991) menyebutkan dari hasil analisis statistik terhadap letusan tahun 1548 – 1986 menghasilkan 2 fase yang berbeda. Dari kejadian letusan satu dengan kejadian letusan berikutnya seringkali mempunyai tanda-tanda letusan yang berbeda. 2003). Bencana ini selalu menghantui penduduk di kawasan Gunungapi Merapi khususnya bagi penduduk yang tinggal di sisi Barat. Material yang berukuran kasar block dan ash (campuran bongkah batuan dan abu gunungapi) diendapkan pada lembahlembah sungai.

Blongkeng. sedang ke arah Timur dan Utara belum pernah terjadi. Senowo. K Lamat. Sedangkan pada periode 1990 – 2000 terdapat 4 kejadian letusan yaitu tahun 1992. 2003). dan pada puncaknya pada tanggal 16 Juni Sekti Mulatsih. dan K. panjang (10 – 15km). Untuk mengetahui arah luncuran awan panas yang akan datang maka pengamatan topografi dan perkembangan pertumbuhan kubah lava di daerah puncak dan sekitarnya secara rutin mutlak harus dilakukan. Awan panas Merapi paling banyak mengarah ke Barat sedang variasi pergeseran ke Baratdaya dan Tenggara jarang terjadi. dan 1998 masing-masing jarak luncur awan panas pendek (3 – 7km) ke arah Barat (K. Program Studi Ilmu Lingkungan. 2003). Dengan bervariasinya jarak luncuran ini. 2003). jarak luncuran awan panas mencapai 7 – 14km ke arah Barat yaitu K. dan K. Bronto dkk (1996) membagi jarak luncuran awan panas dari asal sumber menjadi 5 bagian yaitu jarak sangat pendek (≤ 3km). Pada erupsi tahun 2006 perubahan arah deformasi secara dinamis memberikan prediksi yang sama ke semua arah. K Lamat. 2008 punggungan mengikuti arah angin saat terjadi letusan. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta . dan sangat panjang (>15km) (Yudiantoro. sedang (7 – 10km). Apu. dan celah Barat Daya. antara pematang kawah Barat Laut dengan dengan kubah lava 1984. 1994. 2003). Pada tahun 1954 – 1956 kegiatan gunungapi Merapi pernah mengarah ke Utara tetapi karena kondisi morfologi lereng atas bagian Utara ada pematang Gunung Merapi Tua yaitu Pusunglodon-Pasarbubar. tetapi setelah runtuhnya ”geger boyo” pada tanggal 14 Juni 2006 menunjukkan bahwa arah ancaman cenderung ke Selatan tepatnya pada alur Kali Gendol. Dengan mengkorelasikan jarak luncuran awan panas terhadap jumlah korban diketahui bahwa selama periode 1920 – 1930 hanya terjadi 1 kejadian letusan yaitu pada tahun 1930 dengan jumlah korban 1369 jiwa. antara kubah lava 1984 dengan pematang kawah Selatan sering disebut kubah “geger buaya” (Bronto dkk. Dari data kejadian awan panas selama 1900 – 2001 jarak luncuran awan panas sangat bervariasi yaitu antara 1 – 12 km. tidak menimbulkan korban jiwa kecuali letusan 1994 yang menimbulkan korban cukup banyak yaitu 66 jiwa (Yudiantoro. Senowo.Tugas Fisiografi Lingkungan. Putih). Secara rinci perubahan arah luncuran awan panas sangat dipengaruhi oleh topografi Puncak Gunungapi Merapi. Namun demikian jika kegiatan gunungapi Merapi yang sangat sering itu berhenti dengan masa istirahat melampaui 7 hingga 10 tahun maka perlu diambil langkah-langkah antisipatif untuk menanggulangi kegiatan yang beresiko bahaya lebih besar (Bronto dkk. Setelah munculnya kubah lava 1984 maka berbentuk 2 cleah yaitu celah Barat Laut. 1997. maka aliran awan panas pada saat itu membelok ke Barat Laut mengikuti K. pendek (3 – 7km).

Program Studi Ilmu Lingkungan. dan pasir serta abu vulkanik yang mempunyai sifat merusak. 2008 2006 erupsi besar awan panas melalui alur Kali Gendol mencapai 7 Km dari puncak ke arah tempat Wisata Kaliadem dan menelan 2 korban yang masuk ke dalam bungker. longsor. bila bercampur air hujan akan menjadi tidak stabil. Pada penampang Sekti Mulatsih. diameter sedimen. 2003). mengangkut batu-batu. dan sudut geser dalam. pasir. kerusakan lingkungan. Awalnya terjadinya aliran lahar ditentukan oleh beberapa parameter seperti kemiringan lereng. dan batu-batu besar yang mengendap di lereng berkemiringan terjal. semakin curam maka luncurannya akan semakin cepat sehingga desa yang berada di sekitar kurang dari 250 meter sebelah kiri dan kanan dan yang berada pada daerah belokan serta pada alur sungai yang memiliki tebing tinggi seperti tebing lava yang berada di bagian hulu alur Sungai Boyong mempunyai potensi risiko bencana yang sangat tinggi. Bencana sedimen semacam ini dalam bahasa Jepang disebut dengan istilah Sabo yang berasal dari kata sa (sand = pasir) dan bo (prevention = pengendalian) dan arti secara umum ialah pengendalian erosi dan sedimentasi yang disebabkan bencana sedimen. Endapan material piroklastik berupa bahan lepas dengan gradasi mulai dari abu vulkanik. longsoran. dan berubah menjadi aliran lahar. kerikil. Sifat bahaya dipengaruhi oleh kondisi morfologi dan lereng. Aliran lahar akan mengalir masuk ke alur sungai di sekitarnya dan meluncur ke hilir dengan kecepatan tinggi. kedalaman air. kerakal. Aliran debris berupa campuran sedimen dan air yang bergerak sama-sama dalam gerakan massa Aliran gravitasi sedimen  aliran lahar dapat berupa aliran lumpur atau disebut aliran gravitasi sedimen bila kemiringan kritik. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta .Tugas Fisiografi Lingkungan. dan menimbulkan kerugian harta benda bahkan korban jiwa (Djamal. berat jenis sedimen dan air. kecepatan luncur sangat di pengaruhi oleh kimiringan lereng. maupun erosi dasar sungai yang teangkut masuk alur sungai sehingga menyebabkan pendangkalan sungai. kerikil. Yang termasuk bencana sedimen ialah banjir lahar dingin dengan material berasal dari hasil letusan gunungapi. mudah runtuh. 2008). Aliran debris  akan terjadi bila kemiringan dasar lereng lebih besar atau sama dengan kemiringan dasar kritik. kerikil. Bahaya lahar dingin akan terakumulasi di lereng-lereng bagian hilir dengan morfologi landai – datar sehingga berpotensi risiko bencana terutama di desa-desa yang berada kurang dari 300 meter alur sungai dan lahan-lahan pertanian yang ada di sepanjang alur sungai (Wacana. awan panas mengalir melalui alur-alur sungai. dan pasir. Abu vulkanik ini akan mempercepat gerak aliran lahar karena berfungsi sebagai pelicin diantara batu-batu.

Dataran Kaki Gunungapi. dan Medan Lava. meloncat. Cangkringan dan Pakem) Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (Gambar 1) (LAPAN. Sumbat Lava. PEMBAGIAN DAERAH BAHAYA Berdasarkan analisis dan pemetaan geomorfologis terhadap kawasan Gunungapi Merapi dari data Landsat ETM+ tanggal 6 September 2002. C. atau menggeser pada dasar sungai. Kaki Gunungapi. Lembah Barranco. yaitu sangat rentan. Daerah-daerah tersebut dominan terdapat di lereng bagian Barat daya dan sekitarnya yang secara administrasi termasuk wilayah Kabupaten Magelang (Kecamatan Dukun dan Srumbung). Tingkat kerentanan tiap-tiap bentuklahan terhadap bencana Gunungapi Merapi dikelaskan ke dalam tiga tingkat. Selain itu juga mengarah ke Kabupaten Boyolali (Kecamatan Selo dan Musuk) dan Klaten (Kecamatan Manisrenggo dan Kemalang) Provinsi Jawa Tengah dan sebagian mengarah ke wilayah Kabupaten Sleman (Kecamatan Turi. Sumbat Lava. dan kurang rentan. 2003). Universitas Gadjah Mada Yogyakarta . Program Studi Ilmu Lingkungan. Medan Lava dan Teras Sungai Erosional (LAPAN. 2006) Sekti Mulatsih. Vulcanic Neck atau Leher Gunungapi. berdasarkan interpretasi citra. tingkat rentan meliputi Leher Gunungapi. kompleks Gunungapi Merapi menunjukkan daerah daerah yang termasuk Daerah Terlarang. 2008 memanjang aliran dapat terlihat lapisan sedimen yang bergerak bersamasama di bawah permukaan air. Angkutan sedimen dasar terjadi apabila kemiringan dasar sungai kecil (Djamal. Untuk keperluan mitigasi bencana alam. Teras Sungai Erosional. Lereng Gunungapi. rentan. Lereng Gunungapi. Angkutan muatan dasar  merupakan aliran individu dimana sedimen bergerak di dasar sungai mengikuti arah aliran dengan cara mengguling. 2006). Bahaya I dan Bahaya II. dan Dataran Gunungapi. sedangkan untuk tingkat kurang rentan meliputi Kaki Gunungapi. Lembah Barranco. Dataran Kaki Gunungapi. yaitu . Kawah Aktif. Dataran Gunungapi. Masing-masing yaitu tingkat sangat rentan meliputi Kawah Aktif. Kondisi geomorfologis Gunungapi Merapi dikelompokkan ke dalam sepuluh bentuklahan.Tugas Fisiografi Lingkungan. menggelinding.

Kusumayudha. Yudiantoro. Ikatan Ahli Geologi (IAGI) Pengurus Daerah Jogjakarta-Jawa Tengah. 2002. Sekti Mulatsih. LAPAN. 2003.rs. Pusat Studi Bencana Alam Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta.I Yagyakarta dan Jawa Tengah. Djamal. 2008 Gambar 1. Ikatan Ahli Geologi (IAGI) Pengurus Daerah Jogjakarta-Jawa Tengah. Ikatan Ahli Geologi (IAGI) Pengurus Daerah Jogjakarta-Jawa Tengah. 2003. Petunjuk Praktikum Geomorfologi. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta . 2003. Ikatan Ahli Geologi (IAGI) Pengurus Daerah Jogjakarta-Jawa Tengah. Bronto. Program Studi Ilmu Lingkungan. Gunung Merapi: Antara Manfaat dan Bahaya. 2006. Sejarah Letusan Gunung Merapi. Laporan Ekskursi Ancaman Pekan Pengurangan Risiko Bencana Propinsi D.go. Bidang Pemantauan Sumberdaya Alam dan Lingkungan Pusat Pengembangan Pemanfaatan dan Teknologi Penginderaan Jauh LAPAN http://www. 2008. 2003. Mensikapi Kelakuan Gunung Merapi : Studi Kasus Letusan Abad 20. Pemantauan Peningkatan Aktivitas Gunungapi Merapi (Tahun 2006) berdasarkan Citra Satelit Penginderaan Jauh. Ikatan Ahli Geologi (IAGI) Pengurus Daerah Jogjakarta-Jawa Tengah. Sabo Dam dan Peranannya untuk Pengendalian Banjir Lahar di Wilayah Gunung Merapi Jawa Tengah. Andreastuti.id/SIMBA Wacana.Tugas Fisiografi Lingkungan. Pernahkah Letusan Besar Terjadi?. Citra Landsat-7 ETM+ Kompleks Gunungapi Merapi tanggal 6 September 2002 (Sumber: LAPAN) REFERENSI Anonim. Ikatan Ahli Geologi (IAGI) Pengurus Daerah Jogjakarta-Jawa Tengah. 2003. Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Dkk. Mekanika Guguran Lava dan Awan Panas Merapi.lapan. Bronto. 2003. Variasi Luncuran Awan Panas Merapi dan Bahayanya.