Tugas Fisiografi Lingkungan, 2008

Tugas Fisiografi Lingkungan Dosen : Prof Sutikno

BAHAYA GUNUNGAPI MERAPI

Disusun Oleh : Sekti Mulatsih 08/275182/PMU/5429

PROGRAM STUDI ILMU LINGKUNGAN SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2008

Sekti Mulatsih, Program Studi Ilmu Lingkungan, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

2002). Gunungapi Merapi merupakan satu yang teraktif dari 129 gunungapi yang ada di Indonesia yang terletak 30 km sebelah Utara kota Yogyakarta tepatnya berada di perbatasan 2 Propinsi yaitu Daerah Istimewa Yogyakarta. dimana di dalam proses ini dibagi menjadi 3 bentukan yaitu (1) daerah depan busur gunungapi (f ore arc basin) berupa daerah pantai dan pesisir. Proses-proses ini membentuk fenomena-fenomen geologi seperti halnya perbukitan. 2004). Sementara itu Montgometry (1989. Interaksi antar lempeng-lempeng ini membentuk suatu fenomena-fenomena geologi yang berupa proses pengangkatan kerak bumi ke permukaan yang disebut dengan proses tektonik lempeng. PENDAHULUAN Negara Indonesia merupakan Negara kepulauan terbesar. gunungapi adalah tempat atau lubang keluarnya bahan pijar atau gas yang berasal dari dalam bumi ke permukaan bumi. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta . tsunami. 1987) menyatakan bahwa gunungapi adalah tempat keluarnya magma. Menurut Mac Donald (1972).5'LS dan 110°26. dll. dan Jawa Tengah dengan koordinat 7°32.Barat. berkelompok. Wilayah bahaya Gunungapi Merapi mencakup 4 kabupaten yaitu Sleman. 2008). dan Magelang . dalam Azwar. longsor. 1987) mengartikan gunungapi sebagai bentuk timbulan kumpulan bahan letusan di muka bumi yang berasal dari magma yang tersebar secara sendiri. gunungapi. abu. banjir. Secara Geologi Negara Indonesia merupakan jalur pertemuan dari 3 lempeng besar di dunia yaitu Lempeng Indo-Australia di sebelah Selatan . Boyolali. Program Studi Ilmu Lingkungan.Barat Daya . Gunungapi Merapi mempunyai ketinggian 2968 meter dari permukaan air laut Sekti Mulatsih. Matahelemual (1982 dalam Azwar. dan (3) daerah belakang busur vulkanik (back arc basin) (Wacana. 2008 A. (2) daerah vulkanik (magmatic arc). dataran dan fenomena alam lainnya. dan gas hasil erupsi atau struktur yang dibentuk di sekitar pusat lubang volkan karena aktifitas erupsi (Anonim. dkk. Klaten. atau berantai. badai dan sebagainya (Wacana. Proses geologi terus akan berlangsung di bumi untuk mencapai suatu titik keseimbangan yang merupakan suatu siklus geologi atau bumi. dan 2 Samudera (Samudera Hindia dan Samudera Pasifik).Tugas Fisiografi Lingkungan.5' BT. Lempeng Eurasia di sebelah Utara dan Lempeng Pasifik di sebelah Timur Laut. Selama proses-proses ini berjalan tidak heran kalau negara Indonesia disebut sebagai supermaket ancaman atau bahaya geologi yang beruapa bahaya gempa. gunungapi. yang terletak diantara 2 benua (Benua Asia dan Australia). lembah.

Bahaya langsung adalah bahaya yang Sekti Mulatsih. berdasarkan kegiatannya bencana gunungapi dibagi menjadi 2 yaitu bahaya primer yang meliputi aliran lava. 2006). Karateristik khas dari tipe ini adalah pertumbuhan kubah lava di puncak gunungapi. maka akan menyebabkan terjadinya letusan dan akan membentuk awan panas letusan (Anonim. Gerakan aliran ini jauh lebih cepat dari orang lari apalagi di lereng gunungapi biasanya berupa jalan setapak sehingga tidak mungkin menyelamatkan diri pada saat kejadian. Bagi penduduk atau pengunjung yang kebetulan berada di atas bukit di kawasan rawan bencana apabila terkena hembusan awan panas maka dapat mati hangus atau minimal luka bakar yang jika sembuh akan berakibat cacat tubuh secara permanen. 2003). Pada akhirnya kubah lava tersebut longsor membentuk awan panas (nuee ardante) yang berupa luncuran lava pijar yang bercampur dengan massa abu dan gas vulkanik (Bronto. pasir. Berdasarkan letusannya Gunungapi Merapi dicirikan dengan periode letusan yang pendek dan dikenal sebagai Erupsi Tipe Merapi dan bersifat efusif. Dan berdasarkan mekanismenya bahaya gunungapi dibagi menjadi 2 yaitu bahaya langsung dan bahaya tidak langsung. lontaran abu. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta . maka terbentuk sumbat atau kubah lava. Karena sifat magmanya tersebut. 2008 (pengukuran tahun 2001). aliran piroklastik atau awan panas. dapur magma relatif dangkal dan tekana gas agak rendah. sementara bagian bawah dari sumbat lava tersebuta akan cenderung dalam keadaan masih cair. dan abu). merupakan gunungapi tipe strato dengan kubah lava (Sumber : Pusat Vulkanologi danMitigasi Bencana Geologi. 2002). Hal ini dikarenakan awan panas mengalir sangat cepat (60 – 100 km/jam) dan bersuhu tinggi (300 – 7000C). Kubah lava yang gugur akan menyebabkan terjadinya awan panas guguran. Sedangkan bagi korban yang berada di dalam lembah aliran sungai maka tubuh akan hancur lebur tidak bersisa atau terkubur menjadi arang di bawah endapan awan panas yang tebal (Bronto dkk. Diantara berbagai jenis bahaya gunungapi Merapi. BAHAYA GUNUNGAPI MERAPI Menurut Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi. dan bahaya sekunder yaitu lahar dan longsoran tubuh gunungapi (longsoran tubuh gunungapi sebagai akibat proses alterasi hidrotermal). jatuhan piroklastik (lapili. Kubah lava ini tumbuh semakin besar menumpang di atas bidang miring sehingga kedudukannya menjadi tidak stabil. B. 2008). maka awan panas adalah yang paling berbahaya. 2003 dalam Wacana. Program Studi Ilmu Lingkungan.Tugas Fisiografi Lingkungan. Tipe Merapi dicirikan oleh lavanya yang kental dan bersifat basalt. Jika semakin tinggi tekanan gas karena pipa kepundan tersumbat. DESDM) (LAPAN.

Program Studi Ilmu Lingkungan. frekwensi letusan yang signifikan terjadi di Gunungapi Merapi adalah 80 tahun sekali.200 tahun yang lalu. Merapi Muda 2. dan tsunami gunungapi. Bahaya tidak langsung adalah bahaya yang terjadi sebagai efek tidak langsung dari proses erupsi yaitu lahar hujan yaitu banjir lumpur yang disertai dengan batu-batu besar karena terbawanya material hasil letusan yang ada di puncak oleh air hujan menuruni lereng melalui lembah-lembah. 7 diantaranya merupakan letusan besar. Letusan-letusan tersebut bersekala kecil sampai besar. awan panas. 2008 ditimbulkan oleh erupsi gunungapi secara langsung yaitu berupa aliran lava. 1987). yaitu Pra Merapi (>400. kemudian tahap ketiga adalah Merapi Menengah antara 6. atau masa campuran rombakan bahan gunungapi dan air yang mengalir dan disebut dengan lahar dingin (Bemmelem. Gunungapi Merapi telah melakukan kegiatan sedikitnya 80 kali dengan waktu istirahat bervariasi antara 1 – 7 tahun dan waktu istirahat panjang mencapai 13 tahun. Potensi bahaya erupsi Gunungapi Merapi dibedakan menjadi bahaya primer dan bahaya sekunder. Sebaliknya letusan yang terjadi saat ini menunjukkan bahwa letusan dengan indeks letusan 3 terjadi rata-rata 30 tahun. periode waktu diam tersebut lebih panjang. Bila dibandingkan dengan frekuensi letusan yang sekarang.700 – 2.Tugas Fisiografi Lingkungan. Semenjak thun 1548 – 2001. 2008). 2003). Sedangkan secara keseluruhan. Merapi Tua berumur antara 400. 2006). Letusan besar diperkirakan terjadi sekali dalam 150 – 500 tahun dengan rata-rata sekali dalam 400 tahun. sedangkan yang terjadi pada periode letusan Sekti Mulatsih. yang berarti letusan yang diakibatkannya lebih besar. Sejak 4000 sampai 250 tahun yang lalu.000 sampai 6.700 tahun yang lalu. Namun jumlah ini hanya mencakup letusan vertikal yang menghasilkan endapan jatuhan dan tidak termasuk letusan yang terjadi akibat guguran kubah lava.200 – 600 tahun yang lalu dan Merapi Sekarang sejak 600 tahun lalu (LAPAN. gas racun. sekitar 33 letusan teramati dalam catatan stratigrafi. dengan latusan kecil terjadi sekali dalam 2 sampai 7 tahun (Andreastuti. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta .000 tahun yang lalu). Bahaya primer adalah bahaya yang langsung ditimbulkan oleh aktivitas erupsi gunungapi yang terbentuk oleh proses aliran permukaan dengan mekanisme aliran debris-piroklastik yang mengalir dengan campuran partikel padat dan gas konsentrasi tinggi yang panas (Cas dan Wright. sedangkan bahaya sekunder adalah bahaya yang ditimbulkan oleh adanya pengendapan material piroklastik di bagian puncak berupa breksi gunungapi yang diangkut oleh air dengan aliran rombakan bahan gunungapi (volcanic debris flow). 1990 membagi pembentukan Merapi dalam 5 tahap. Frekuensi letusan Gunungapi Merapi bervariasi secara siginifikan. 1949 dalam Wacana. Berthommier.

high particle concentration mass flow of pyroclastic debris. 2003) mendifinisikan awan panas sebagai a hot. Pada fase pertama mengalami durasi yang berulang dari panjang ke pendek. variably fluidised. sedangakan yang berukuran abu menyebar secara lateral menutupi Sekti Mulatsih. gas rich. which may in some instances be partly fluidized. Sementara itu Cas dan Wright (1992 dalam Bronto. Dari batasan tersebut diketahui bahwa awan panas merupakan aliran massa dalam bentuk padat dan gas. Program Studi Ilmu Lingkungan.7000C) bergerak lateral menuruni lereng gunungapi dengan kecepatan tinggi (60 – 100 km/jam).Tugas Fisiografi Lingkungan. awan panas adalah bualan gas panas (2000C – 6000C) yang bercampur dengan material vulkanik yang berukuran bongkah sampai abu sebagai akibat longsornya kubah lava atau runtuhnya kolom asap letusan yang bergulunggulung seperti awan bergerak dengan kecepat tinggi (100 – 300 km/jam) meluncur menjauhi pusat letusan menyusuri lereng. Awan panas yang lebih banyak mengandung gas daripada bahan padat disebut pyroclastic surge atau blast atau hembusan gas bercampur abu gunungapi (Bronto. Di gunungapi Merapi dikenal ada 2 jenis awan panas yaitu awan panas guguran dan awan panas letusan. 2003). Bencana ini selalu menghantui penduduk di kawasan Gunungapi Merapi khususnya bagi penduduk yang tinggal di sisi Barat. 2003) awan panas didefinisikan sebagai a lateral movement of pyrocalsts as a gravity controlled. Sayudi dkk (1991) menyebutkan dari hasil analisis statistik terhadap letusan tahun 1548 – 1986 menghasilkan 2 fase yang berbeda. Dari kejadian letusan satu dengan kejadian letusan berikutnya seringkali mempunyai tanda-tanda letusan yang berbeda. serta mungkin meleleh karena bersuhu tinggi (3000C . Material yang berukuran kasar block dan ash (campuran bongkah batuan dan abu gunungapi) diendapkan pada lembahlembah sungai. sehingga sangat memerlukan kejelian dalam menentuan mitigasi (pengurangan resiko kerugian) bencana (Yudiantoro. 2003). Universitas Gadjah Mada Yogyakarta . perbedaan ini didasarkan pada genesanya. Secara definisis. Jenis bahaya Gunungapi Merapi yang paling banyak membawa korban manusia adalah jenis awan panas. 2008 tahun 1548 – 1587 mencapai 71 tahun. yaitu fase pertama (periode 1548 – 1812) dan fase kedua (1813 – 1986). 2003). sedangkan fase kedua menunjukkan penurunan dari periode istirahat (Yudiantoro. Semakin berumur muda kegiatan Merapi menunjukkan waktu istirahat yang pendek antara 1 – 4 tahun. Bahan padat berbutir kasar lebih banyak mengendap di cekungan atau lembah sungai sesuai pengaruh gravitasi. Bahan padat berupa rempah gunung api terdiri dari material lepas berbagai ukuran mulai dari abu (/<2mm) hingga bongkah (/<64mm). baik awan panas letusan ataupun awan panas guguran. Menurut Sparks (1976 dalam Bronto.

tidak menimbulkan korban jiwa kecuali letusan 1994 yang menimbulkan korban cukup banyak yaitu 66 jiwa (Yudiantoro. Secara rinci perubahan arah luncuran awan panas sangat dipengaruhi oleh topografi Puncak Gunungapi Merapi. 1997. Setelah munculnya kubah lava 1984 maka berbentuk 2 cleah yaitu celah Barat Laut. 2008 punggungan mengikuti arah angin saat terjadi letusan. antara kubah lava 1984 dengan pematang kawah Selatan sering disebut kubah “geger buaya” (Bronto dkk. Pada tahun 1954 – 1956 kegiatan gunungapi Merapi pernah mengarah ke Utara tetapi karena kondisi morfologi lereng atas bagian Utara ada pematang Gunung Merapi Tua yaitu Pusunglodon-Pasarbubar. Awan panas Merapi paling banyak mengarah ke Barat sedang variasi pergeseran ke Baratdaya dan Tenggara jarang terjadi. Putih). dan sangat panjang (>15km) (Yudiantoro. dan K. pendek (3 – 7km). Universitas Gadjah Mada Yogyakarta . Untuk mengetahui arah luncuran awan panas yang akan datang maka pengamatan topografi dan perkembangan pertumbuhan kubah lava di daerah puncak dan sekitarnya secara rutin mutlak harus dilakukan. Dengan bervariasinya jarak luncuran ini.Tugas Fisiografi Lingkungan. 2003). K Lamat. Sedangkan pada periode 1990 – 2000 terdapat 4 kejadian letusan yaitu tahun 1992. 2003). 2003). sedang (7 – 10km). dan K. Dengan mengkorelasikan jarak luncuran awan panas terhadap jumlah korban diketahui bahwa selama periode 1920 – 1930 hanya terjadi 1 kejadian letusan yaitu pada tahun 1930 dengan jumlah korban 1369 jiwa. Bronto dkk (1996) membagi jarak luncuran awan panas dari asal sumber menjadi 5 bagian yaitu jarak sangat pendek (≤ 3km). K Lamat. antara pematang kawah Barat Laut dengan dengan kubah lava 1984. Senowo. jarak luncuran awan panas mencapai 7 – 14km ke arah Barat yaitu K. sedang ke arah Timur dan Utara belum pernah terjadi. tetapi setelah runtuhnya ”geger boyo” pada tanggal 14 Juni 2006 menunjukkan bahwa arah ancaman cenderung ke Selatan tepatnya pada alur Kali Gendol. Apu. dan pada puncaknya pada tanggal 16 Juni Sekti Mulatsih. dan 1998 masing-masing jarak luncur awan panas pendek (3 – 7km) ke arah Barat (K. 1994. Program Studi Ilmu Lingkungan. Senowo. panjang (10 – 15km). 2003). dan celah Barat Daya. Dari data kejadian awan panas selama 1900 – 2001 jarak luncuran awan panas sangat bervariasi yaitu antara 1 – 12 km. Blongkeng. Namun demikian jika kegiatan gunungapi Merapi yang sangat sering itu berhenti dengan masa istirahat melampaui 7 hingga 10 tahun maka perlu diambil langkah-langkah antisipatif untuk menanggulangi kegiatan yang beresiko bahaya lebih besar (Bronto dkk. Pada erupsi tahun 2006 perubahan arah deformasi secara dinamis memberikan prediksi yang sama ke semua arah. maka aliran awan panas pada saat itu membelok ke Barat Laut mengikuti K.

kecepatan luncur sangat di pengaruhi oleh kimiringan lereng. dan pasir serta abu vulkanik yang mempunyai sifat merusak. kerusakan lingkungan. Sifat bahaya dipengaruhi oleh kondisi morfologi dan lereng. longsoran. Program Studi Ilmu Lingkungan. dan batu-batu besar yang mengendap di lereng berkemiringan terjal. Endapan material piroklastik berupa bahan lepas dengan gradasi mulai dari abu vulkanik. diameter sedimen. kerikil. Awalnya terjadinya aliran lahar ditentukan oleh beberapa parameter seperti kemiringan lereng. dan sudut geser dalam. kerakal. Abu vulkanik ini akan mempercepat gerak aliran lahar karena berfungsi sebagai pelicin diantara batu-batu. Aliran lahar akan mengalir masuk ke alur sungai di sekitarnya dan meluncur ke hilir dengan kecepatan tinggi. 2003). kedalaman air. pasir. awan panas mengalir melalui alur-alur sungai. bila bercampur air hujan akan menjadi tidak stabil. berat jenis sedimen dan air. Aliran debris  akan terjadi bila kemiringan dasar lereng lebih besar atau sama dengan kemiringan dasar kritik. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta . dan pasir. mudah runtuh. mengangkut batu-batu. Pada penampang Sekti Mulatsih. maupun erosi dasar sungai yang teangkut masuk alur sungai sehingga menyebabkan pendangkalan sungai. Bencana sedimen semacam ini dalam bahasa Jepang disebut dengan istilah Sabo yang berasal dari kata sa (sand = pasir) dan bo (prevention = pengendalian) dan arti secara umum ialah pengendalian erosi dan sedimentasi yang disebabkan bencana sedimen. Aliran debris berupa campuran sedimen dan air yang bergerak sama-sama dalam gerakan massa Aliran gravitasi sedimen  aliran lahar dapat berupa aliran lumpur atau disebut aliran gravitasi sedimen bila kemiringan kritik. dan menimbulkan kerugian harta benda bahkan korban jiwa (Djamal. 2008).Tugas Fisiografi Lingkungan. 2008 2006 erupsi besar awan panas melalui alur Kali Gendol mencapai 7 Km dari puncak ke arah tempat Wisata Kaliadem dan menelan 2 korban yang masuk ke dalam bungker. kerikil. dan berubah menjadi aliran lahar. Yang termasuk bencana sedimen ialah banjir lahar dingin dengan material berasal dari hasil letusan gunungapi. longsor. kerikil. semakin curam maka luncurannya akan semakin cepat sehingga desa yang berada di sekitar kurang dari 250 meter sebelah kiri dan kanan dan yang berada pada daerah belokan serta pada alur sungai yang memiliki tebing tinggi seperti tebing lava yang berada di bagian hulu alur Sungai Boyong mempunyai potensi risiko bencana yang sangat tinggi. Bahaya lahar dingin akan terakumulasi di lereng-lereng bagian hilir dengan morfologi landai – datar sehingga berpotensi risiko bencana terutama di desa-desa yang berada kurang dari 300 meter alur sungai dan lahan-lahan pertanian yang ada di sepanjang alur sungai (Wacana.

meloncat. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta . Medan Lava dan Teras Sungai Erosional (LAPAN. yaitu sangat rentan. 2006). Kondisi geomorfologis Gunungapi Merapi dikelompokkan ke dalam sepuluh bentuklahan. dan kurang rentan. menggelinding. 2003). Sumbat Lava. Tingkat kerentanan tiap-tiap bentuklahan terhadap bencana Gunungapi Merapi dikelaskan ke dalam tiga tingkat. Daerah-daerah tersebut dominan terdapat di lereng bagian Barat daya dan sekitarnya yang secara administrasi termasuk wilayah Kabupaten Magelang (Kecamatan Dukun dan Srumbung). Vulcanic Neck atau Leher Gunungapi. PEMBAGIAN DAERAH BAHAYA Berdasarkan analisis dan pemetaan geomorfologis terhadap kawasan Gunungapi Merapi dari data Landsat ETM+ tanggal 6 September 2002. Bahaya I dan Bahaya II. Selain itu juga mengarah ke Kabupaten Boyolali (Kecamatan Selo dan Musuk) dan Klaten (Kecamatan Manisrenggo dan Kemalang) Provinsi Jawa Tengah dan sebagian mengarah ke wilayah Kabupaten Sleman (Kecamatan Turi. Cangkringan dan Pakem) Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (Gambar 1) (LAPAN. Dataran Gunungapi. C. Program Studi Ilmu Lingkungan. dan Medan Lava. Kaki Gunungapi. Lembah Barranco.Tugas Fisiografi Lingkungan. Angkutan muatan dasar  merupakan aliran individu dimana sedimen bergerak di dasar sungai mengikuti arah aliran dengan cara mengguling. atau menggeser pada dasar sungai. Masing-masing yaitu tingkat sangat rentan meliputi Kawah Aktif. Angkutan sedimen dasar terjadi apabila kemiringan dasar sungai kecil (Djamal. Dataran Kaki Gunungapi. rentan. 2008 memanjang aliran dapat terlihat lapisan sedimen yang bergerak bersamasama di bawah permukaan air. Untuk keperluan mitigasi bencana alam. 2006) Sekti Mulatsih. Lereng Gunungapi. Kawah Aktif. dan Dataran Gunungapi. kompleks Gunungapi Merapi menunjukkan daerah daerah yang termasuk Daerah Terlarang. Teras Sungai Erosional. Dataran Kaki Gunungapi. sedangkan untuk tingkat kurang rentan meliputi Kaki Gunungapi. Lereng Gunungapi. berdasarkan interpretasi citra. Sumbat Lava. tingkat rentan meliputi Leher Gunungapi. yaitu . Lembah Barranco.

Ikatan Ahli Geologi (IAGI) Pengurus Daerah Jogjakarta-Jawa Tengah. Pusat Studi Bencana Alam Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta. 2003. Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. 2003. Citra Landsat-7 ETM+ Kompleks Gunungapi Merapi tanggal 6 September 2002 (Sumber: LAPAN) REFERENSI Anonim. Mensikapi Kelakuan Gunung Merapi : Studi Kasus Letusan Abad 20. Djamal. Ikatan Ahli Geologi (IAGI) Pengurus Daerah Jogjakarta-Jawa Tengah. 2003. Ikatan Ahli Geologi (IAGI) Pengurus Daerah Jogjakarta-Jawa Tengah. Kusumayudha. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta . Mekanika Guguran Lava dan Awan Panas Merapi. Bronto. Bidang Pemantauan Sumberdaya Alam dan Lingkungan Pusat Pengembangan Pemanfaatan dan Teknologi Penginderaan Jauh LAPAN http://www. 2002. 2006. Laporan Ekskursi Ancaman Pekan Pengurangan Risiko Bencana Propinsi D. Ikatan Ahli Geologi (IAGI) Pengurus Daerah Jogjakarta-Jawa Tengah. Pernahkah Letusan Besar Terjadi?. 2003.go. Pemantauan Peningkatan Aktivitas Gunungapi Merapi (Tahun 2006) berdasarkan Citra Satelit Penginderaan Jauh. 2003. Gunung Merapi: Antara Manfaat dan Bahaya.I Yagyakarta dan Jawa Tengah. 2008 Gambar 1. Sekti Mulatsih.Tugas Fisiografi Lingkungan. Sabo Dam dan Peranannya untuk Pengendalian Banjir Lahar di Wilayah Gunung Merapi Jawa Tengah. Program Studi Ilmu Lingkungan. Sejarah Letusan Gunung Merapi. Yudiantoro.id/SIMBA Wacana. 2008. Ikatan Ahli Geologi (IAGI) Pengurus Daerah Jogjakarta-Jawa Tengah.rs. Ikatan Ahli Geologi (IAGI) Pengurus Daerah Jogjakarta-Jawa Tengah. Dkk. LAPAN. 2003. Variasi Luncuran Awan Panas Merapi dan Bahayanya. Andreastuti. Petunjuk Praktikum Geomorfologi. Bronto.lapan.