Anda di halaman 1dari 18

BAB I PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang Dengan meningkatnya perkembangan pasar dan hasil produksi yang

diciptakan, banyak perusahaan yang melaksanakan sistem penjualan yang terhandal dalam usahanya untuk menguasai pasar internasional dan berlomba untuk menjadi yang terdepan. Karena itu muncul anggapan bahwa keberhasilan suatu perusahaan sebagian besar ditentukan oleh keberhasilan dalam penerapan system dan kegiatan penjualan. Metode penjualan angsuran pada mulanya berasal dari penjualan rumah pada perusahaan real estate, tetapi pada masa sekarang penjualan dengan metode ini telah berkembang pada perusahaan yang bergerak dalam bidang perdagangan kendaraan seperti mobil, motor; mesin; alat-alat rumah tangga dan lainnya. Bahkan pada beberapa jenis industri metode penjualan angsuran ini telah menjadi kunci utama dalam mencapai operasi skala besar. Metode penjualan angsuran ini cukup berkembang pesat dan disukai di kalangan usahawan dan juga di kalangan pembeli. Bagi usahawan metode ini telah meningkatkan jumlah penjualan yang tentunya meningkatkan laba, bagi pembeli mereka merasa lebih ringan dalam hal pembayaran untuk melunasi barang yang dicicil tersebut. Meskipun dengan metode ini resiko atas tidak tertagihnya piutang akan meningkat, tetapi kelemahan metode ini dapat diatasi dengan meningkatnya volume penjualan perusahaan. Penjualan merupakan salah satu kegiatan yang sangat penting bagi suatu perusahaan, karena dengan adanya penjualan berarti baik secara langsung maupun tidak langsung perusahaan akan menerima suatu pendapatan. Secara langsung pendapatan akan diterima untuk perusahaan bila penjualan dilakukan secara tunai atau kas, dan secara tidak langsung pendapatan akan diterima apabila perusahaan melakukan penjualan secara kredit atau angsuran dank arena penjualan tersebut

Seminar Akuntansi Keuangan

perusahaan akan mempunyai tagihan kepada kreditur. Oleh karena itu untuk memaksimalkan pendapatan, perusahaan membutuhkan sebuah metode yang tepat. Dalam kegiatan penjualan dikenal dua macam pembayaran, yaitu dengan cara pembayaran tunai (cash payment) dan pembayaran angsuran (installment payment). Salah satu sistem penjualan yang banyak diterapkan pada

perkembangan sekarang ini adalah pembayaran pertama oleh konsumen disebut uang muka (down payment). Besarnya uang muka yang akan dibayar oleh konsumen dtetapkan berdasarkan kesepakatan antara pihak penjual dan konsumen dalam melaksanakan transaksinya. Ada beberapa alasan yang menyebabkan perusahaan melakukan kebijakan untuk menerapkan sistem penjualan angsuran, antara lain perekonomian yang kurang baik mengakibatkan rendahnya daya beli masyarakat untuk melakukan pembelian secara cash atau tunai. Semakin banyaknya perusahaan yang memproduksi barang sejenis sehingga mengakibatkan persaingan antar

peusahaan, usaha perusahaan untuk mencapai target penjualan atau meningkatkan volume penjualan dengan laba yang maksimum. Secara umum tujuan setiap perusahaan adalah untuk mencari laba. Tujuan ini akan terealisasi apabila perusahaan tersebut meningkatkan produksinya tentunya dengan diimbangi dengan usaha peningkatan volume penjulan. Dan salah satu langkah yang dapat ditempuh adalah dengan penjualan angsuran. Dengan demikian pihak-pihak internal dari perusahaan tersebut harus mengetahui seluk beluk dari penjualan angsuran baik strateginya maupun cara pencatatannya. Oleh kerena itu dengan makalah ini kami sebagai penyusun bermaksud memberikan gambaran kepada pembaca mengenai Penjulan Angsuran , baik gambaran umumnya sampai kepencatatannya karena tidak menutup kemungkinan bagi kita sebagai mahsiswa ekonomi akan bergelut dengan usaha ini, dan tentunya juga sebagai pendidik yang dibidang ekonomi dan akuntansi.

Seminar Akuntansi Keuangan

1.2.

Rumusan Masalah Bagi akuntan, penjualan angsuran menimbulkan beberapa masalah.

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut diatas, maka masalah pokok yang hendak dibahas dalam Makalah ini adalah: 1. Bagaimana hakekat penjualan angsuran itu ? 2. Apa saja masalah yang timbul dalam penjualan angasuran tersebut ? 3. Apakah laba kotor dari penjualan angsuran dianggap telah direalisasi pada saat terjadinya penjualan ataukah harus diakui selama masa kontrak angsuran tersebut? 4. Apa yang harus dilakukan terhadap beban sehubungan dengan penjualan angsuran yang terjadi pada periode setelah penjualan tersebut? 5. Bagaimana menangani persoalan piutang usaha angsuran yang tidak dapat tertagih, pertukaran, dan pemilikkan kembali barang angsuran?

Seminar Akuntansi Keuangan

BAB II PEMBAHASAN

2.1.

Pengertian dan Masalah Penjualan Angsuran Penjualan angsuran adalah penjualan yang dilaksanakan dengan perjanjian

dimana pembayarannya dilakukan secara bertahap. Profit adalah salah satu tujuan umum setiap perusahaan dan salah satu langkah untuk mewujudkannya adalah dengan meningkatkan volume penjualan dengan penjualan yang pembayarannya secara bertahap. Hal ini akan menarik bagi para konsumen karena akan mendapatkan keringanan dalam pembayarannya. Namun penjualan dengan metode ini akan didampingi oleh resiko yang besar karena pembayarannya dilakukan beberapa priode di masa yang akan datang sehingga menimbulkan ketidak pastian. Secara garis besar masalah yang timbul dalam hal ini dapat dibagi 2, yaitu 1. Masalah Non-akuntansi 2. Masalah Akuntansi Masalah Non-akuntansi yaitu bagaimana menghindari resiko terjadinya adanya pembeli yang tidak memenuhi kewajibannya. Adapun langkah-langkah untuk mengidentifikasi resiko semacam ini adalah : Mengurangi kemungkinan terjadinya pembatalan penjualan angsuran dapat dilakukan dengan menilai, menyeleksi dari calon pembeli. Menyediakan perlindungan hukum kepada penjual, yaitu dengan perjanjian penjualan bersyarat, dengan pengadaan jaminan kredit dan menjaminkan kepada pihak ketiga serta perjanjian beli-sewa. Menyediakan perlindungan ekonomi kepada penjual, ini cendrung ke usaha supaya pembeli merasa rugi jika melakukan pembatalan pembelian, adapun langkah yang dapat ditempuh yaitu : Uang muka harus cukup besar Jangka waktu angsuran jangan terlalu panjang Angsuran cukup besar.

Seminar Akuntansi Keuangan

Masalah akuntansi yang dihadapi dalam penjualan angsuran dapat dikelompokkan menjadi 4, yaitu : a) Masalah yang berhubungan dengan pengakuan laba kotor. b) Masalah yang berhubungan dengan cara perhitungan bunga dan angsuran. c) Masalah yang berhubungan dengan tukar-tambah. d) Masalah yang berhubungan dengan pembatalan penjualan angsuran.

2.2.

Jaminan Bagi Pihak Penjual Pihak penjual biasanya melindungi diri dan memperoleh jaminan kalau

pihak pembeli gagal untuk menyelesaikan pembayaran menurut kontrak. Jika harta pribadi dijual, maka resiko kerugian karena kegagalan pihak pembeli menyelesaikan kontrak dapat diminimasi dengan pemilikian kembali atas harta benda tersebut. Untuk mengurangi barang angsuran tersebut dari resiko terbakar atau hilang, pihak penjual dapat menetapkan syarat bagi pembeli agar barang angsuran tersebut diasuransikan untuk kepentingkan pihak penjual. Premi asuransi ditanggung oleh pembeli, jika barang angsuran hilang atau terbakar, pihak asuransi akan membayar ganti rugi kepada penjual dan bukan pembeli. Kadang kala mungkin jiwa dari pembeli diwajibkan oleh penjual untuk diasuransikan dengan premi auransi atas tanggungan si pembeli. Jenis jenis Perjanjian Angsuran Untuk melindungi kepentingan si penjual atas kepentingan resiko atau tidak ditepatinya kewajiban- kewajiban oleh pihak pembeli, maka jual beli secara angsuran sering berdasarkan atas perjanjian. Perjanjian tersebut antara lain : 1. Perjanjian penjualan bersyarat ( Conditional Sales Contaract ), dimana barang barang telah diserahkan, tetapi hak atas barang-barang masih berada ditangan penjual sampai seluruh pembayarannya pertama. 2. Pada saat perjanjian ditandatangani dan pembayaran pertama telah dilakukan hak milik dapat diserahkan kepada pembeli, tetapi dengan

2.3.

Seminar Akuntansi Keuangan

menggadaikan atau menghipotik untuk bagian harga penjualan yang belum dibayar kepada si penjual. 3. Hak milik atas barang untuk sementara diserahkan kepada suatu badan trust (Trustee) sampai pembayaran harga penjualan dilunasi. Setelah pembayaran lunas oleh pembeli baru trustee menyerahkan hak atas barangbarang itu kepada pembeli. Perjanjian semacam ini dilakukan dengan membuat akte kepercayaan.
4. Beli Sewa ( Lease-puchase), dimana barang yang telah diserahkan kepada

pembeli. Pembayaran angsuran dianggap sewa sampai harga dalam kontrak telah dibayar lunas, baru sesudah itu hak milik berpindah kepada pembeli. Faktor Faktor yang Harus Diperhatikan dalam Penarikan Kembali 1. Pembayaran uang muka ( down payment ) harus cukup untuk menutup kemungkinan rugi sebagai turunnya nilai barang sebagai periode angsuran. 2. Jarak antar angsuran dengan angsuran berikutnya tidak terlalu lama.
3. Besarnya pembayaran angsuran periodic harus diperhitungkan cukup

2.4.

untuk kemungkinan penurunan nilai barang-barang yang ada selama jangka pembayaran yang satu dengan pembayaran angsuran berikutnya.

2.5.

Penjualan Angsuran untuk Barang-Barang Bergerak Dalam pencatatan transaksi-transaksi penjualan perlu untuk membedakan

antara penjualan regular ( regular sales ) dan penjualan angsuran ( installment sales ). Hal ini sangat penting bagi data untuk perhitungan laba kotor yang diakui sebagai hasil penerimaan pembayaran piutang dari penjualan angsuran. Metode yang digunakan dalam pencatatan penjualan barang-barang bergerak adalah : 1. Metode Periodik Harga pokok penjualan dicatat pada akhir periode sedangkan pembelian tidak langsung dicatat ke rekening persediaan. Begitu juga dalam penjualan barang rekening pesediaan tidak dicatat dalam kredit.

Seminar Akuntansi Keuangan

2. Metode Perpetual Harga pokok penjualan baik penjualan regular maupun angsuran harus disusun secara up to date. Rekening harga pkok penjualan regular atau angsuran didebet dan rekening persediaan barang dagangan dikredit.

2.6.

Penjualan Angsuran untuk Barang - Barang Tak Bergerak Di dalam metode angsuran atau dasar angsuran ( installment method or

installment basis ) yaitu setiap penerimaan pembayaran yang sesuai dengan perjanjian dicatat baik sebagai pengembalian harga pokok ( cost ) maupun sebagai realisasi keuntungan di dalam perbandingan yang sesuai dengan posisi harga pokok dan keuntungan yang terjadi pada saat perjanjian penjualan angsuran ditandatangani. Di dalam hal ini keuntungan akan selalu sejalan dengan tingkat pembayaran angsuran selama jangka pembayaran. Metode ini memberikan kemungkinan untuk mengakui, keuntungan proporsional dengan tingkat penerimaan pembayaran angsuran. Untuk itu, Di dalam metode angsuran ( installment method ) yang berdasarkan pengertian di atas, perbedaan antara harga penjualan ( dalam kontrak ) dengan harga pokoknya ( cost ) dicatat sebagai Laba Kotor Yang Belum Direalisasi ( Unrealized gross profit ).

2.7.

Metode Penetapan Laba Kotor Pada Penjualan Angsuran Untuk menghitung laba kotor dalam penjualan angsuran pada prakteknya

dapat dilakukan dengan dua metode, yaitu : Pengakuan Laba Kotor pada saat terjadinya penjualan angsuran. Pengakuan Laba Kotor sejalan dengan realisasi penerimaan kas. 1. Pengakuan Laba Kotor Pada Saat Terjadinya Penjualan Angsuran Dalam metode ini seluruh laba kotor diakui pada saat terjadinya penjualan angsuran, atau dengan kata lain sama seperti penjualan pada umumnya yang ditandai oleh timbulnya piutang/tagihan kepada pelanggan. Apabila prosedur demikian diikuti maka sebagai konsekuensinya pengakuan terhadap biaya-

Seminar Akuntansi Keuangan

biaya yang berhubungan dam dapat diidentifikasikan dengan pendapatanpendapatan yang bersangkutan harus pula dilakukan. Beban untuk pendapatan dalam periode yang bersangkutan harus meliputi biaya-biaya yang diperkirakan akan terjadi dalam hubungannya dengan pengumpulan piutang atas kontrak penjualan angsuran, kemungkinan tidak dapatnya piutang itu direalisasikan maupun kemungkinan rugi sebagai akibat pembatalan kontrak. Terhadap biaya yang ditaksir itu biasanya dibentuk suatu rekeningCadangan Kerugian Piutang. Jika barang tidak bergerak dijual secara angsuran, perusahaan akan mendebit piutang usaha angsuran dan mengkredit perkiraan aktiva yang bersangkutan serta mengkredit pula laba atas penjualan aktiva tersebut.

Jurnalnya adalah: Piutang usaha angsuran Aktiva tak gerak Laba atas penjualan aktiva tak gerak 2. xxxxxx xxxxxx xxxxxx

Pengakuan Laba Kotor sejalan dengan realisasi penerimaan kas. Prosedur yang menghubungkan tingkat keuntungan dengan realisasi

penerimaan angsuran pada perjanjian penjualan angsuran adalah: Penerimaan pembayaran pertama dicatat sebagai pengembalian harga pokok (Cost) dari barang-barang yang dijual atau service yang diserahkan, sesudah seluruh harga pokok (Cost) kembali, maka penerimaanpenerimaan selanjutnya baru dicatat sebagai keuntungan Penerimaan pembayaran pertama dicatat sebagai realisasi keuntungan yang diperoleh sesuai dengan kontrak penjualan; sesudah seluruh keuntungan yang ada terpenuhi, maka penerimaan-penerimaan selanjutnya dicatat sebagai pengumpulan kembali atau pengembalian harga pokok (Cost). Setiap penerimaan pembayaran yang sesuai dengan perjanjian dicatat baik sebagai pengembalian harga pokok (Cost) maupun sebagai realisasi keuntungan di dalam perbandingan yang sesuai dengan posisi harga pokok

Seminar Akuntansi Keuangan

dan keuntungan yang terjadi pada saat perjanjian penjualan angsuran ditandatangani.

2.8.

Metode Cicilan Pada penggunaan metode cicilan dalam perkiraan , maka selisih antara

harga jual kontrak dengan harga pokok penjualan dicatat sebagai laba kotor yang ditangguhkan. Saldo ini ditetapkan sebagai pendapatan yang secara berkala membandingkan periode penagihan uang kas terhadap harga jual. Penagihan laba kotor, pada dasarnya menyatakan penangguhan hasil penjualan yang disertai dengan pangguhan harga pokok penjualan, yang berkaitan dengan hasil penjualan seperti itu. Penangguhan laba kotor dapat menyatakan penangguhan biaya yang dikeluarkan dalam promosi penjualan cicilan. Walaupun biaya barang dagangan dipandang sebagai nilai aktiva yang dapat dikompensasi untuk tahun berikutnya, namun biaya penjualan dan administrasi secara umum tidak dapat dibuat untuk nilai seperti itu. Kesulitan yang serius akan kita jumpai dalam memilih biaya yang harus ditangguhkan dan dalam menentukan prosedur pembebanan yang harus ditempuh dalam penggunaan penangguhan tersebut. Metode cicilan yang melaporkan laba kotor dapat digunakan untuk tujuan pajak penghasilan dalam harta benda tidak bergerak pribadi oleh agen-agen penjual secara teratur melakukan rencana penjualan cicilan. Wajib pajak yang menerima pembayaran yang rendah setelah pajak untuk tahun dimana penjualan itu terjadi dapat menggunakan metode dalam melaporkan kasual harta benda tak bergerak pribadi yang keuntungan atas penjualan yang lain daripada persediaan dan atas penjualan atau penempatan harta benda tak bergerak nyata, biayanya tidak dapat ditangguhkan untuk tujuan pajak.

2.9. 1.

Kelebihan dan Kekurangan Dalam Metode Penjualan Angsuran Metode Flat

Kelebihan :

Seminar Akuntansi Keuangan

Bagi perusahaan metode flat ini sangat menguntungkan karena perusahaan memperoleh laba yang maksimum. Apabila si kreditor ( peminjam ) melunasi sisa hutangnya maka kreditor harus membayar bunga sampai sisa waktu kreditnya. Sehingga perusahaan akan mendapat keuntungan. Kekurangan : Dalam metode Flat ini apabila terjadi kenaikan suku bunga dalam periode berjalan, si kreditor tidak menanggung suku bunga. Maka keuntungan perusahaan akan berkurang. 2. Metode Long End Interest

Kelebihan : Bagi perusahaan metode ini menguntungkan karena dapat menghasilkan bunga relative besar diawal periode. Kerugian : Bunga yang dibebankan oleh perusahaan setiap periode semakin lama semakin kecil sesuai dengan semakin kecilnya saldo pokok pinjaman. Sehingga berakibat keuntungan perusahaan berkurang. Apalagi jika pada periode tersebut mengalami kenaikan suku bunga. 3. Metode Annuitet

Kelebihan : Pada saat sisa hutang masih besar diawal periode penjualan, perusahaan sudah mengambil keuntungan yang cukup besar. Kekurangan : Apabila terjadi pelunasan, kreditor hanya membayar sisa hutang tanpa membayar bunga sisa jangka waktu hutangnya. Dalam hal ini perusahaan akan memdapatkan kerugian. Apabila terjadi kenaikan suku bunga dalam periode yang berjalan,kreditor tidak menanggung kenaikan suku bunga tersebut. 2.10. Penyusunan Laporan Keuangan Pada Penjualan Angsuran 1. NERACA

Seminar Akuntansi Keuangan

10

Penyusunan neraca pada perusahan yang melakukan penjualan nagsuran sama dengan penjualan biasa, hanya terdapat hal yang harus dieprhatikan adalah: Piutang usaha angsuran biasanya dikelompokkan sebaagi aktiva lancar dan harus dijelaskan pada penjelasan laporan keuangan atau dengan catatan kaki yang mengungkapkan tanggal jatuh temponya. Hal ini dengan asumsi bahwa definisi dari aktiva lancar adalah sumber-sumber yang diharapkan dapat direalisir menjadi kas atau dijual. Maka jangka waktu piutang usaha angsuran tersebut diabaikan. Laba kotor yang belum direalisasikan dapat dikelompokkan: Kelompok kewajiban atau pendapatan yang belum direalisasi. Pengurang piutang usaha angsuran. Kelompok modal yang menjadi bagian dari laba yang ditahan Cara yang paling umum adalah laba kotor yang belum direalisasi dicatat sebagai kelompok kewajiban. 2. LAPORAN LABA RUGI Di dalam penyusunan perhitungan rugi/laba untuk penjualan angsuran, harus dipisahkan antara penjualan biasa dengan angsuran. Laba kotor penjualan angsuran periode tersebut dikurangi dengan saldo laba kotor yang belum direalisasi pada akhir periode, yang menghasilkan laba kotor periode tersebut yang telah direalisasi. 3. LAPORAN PERUBAHAN MODAL / LABA DITAHAN Didalam laporan ini tidak menyajikan pos-pos yang berhubungan dengan penjualan angsuran.

2.11. Penjualan Angsuran Dengan Tukar Tambah ( TRADE- IN ) Dalam penjualan cicilan, perusahaan akan menerima barang tukar tambah sebagai pembayaran sebagian atas kontrak penjualan cicilan baru. Jika jumlah yang ditetapkan atas barang yang ditukarkan, merupakan nilai yang akan memungkinkan perusahaan merealisasikan laba kotor normal atas penjualannya

Seminar Akuntansi Keuangan

11

kembali, maka tidak akan timbul masalah khusus. Barang tukar tambah dicatat dengan nilai yang ditetapkan atas barang tersebut. Perkiraan kas di debet dengan setiap pembayaran yang menyertai tukar tambah, perkiraan piutang usaha cicilan didebet untuk saldo harga jual dan perkiraan penjualan cicilan di kredit sebesar jumlah penjualan. Pemberian nilai tukar tambah sebenarnya merupakan pengurangan atas harga jual dan perkiraan harus melaporkan kenyataan ini dengan tepat. Barang tukar tambah harus dicatat dengan harga belinya, selisih antara nilai tukar tambah dan nilai belinya bagi perusahaan harus dilaporkan baik sebagai beban pada perkriaan nilai tukar lebih maupun sebagai pengurangan dalam perkiraan penjualan angsuran.

2.12. Ketidakmampuan Membayar dan Pemilikan Kembali Ketidakmampuan membayar atas kontrak penjualan cicilan dan pemilikan kembali barang yang telah dijual membutuhkan sebuah ayat jurnal dalam buku pihak penjual, yang melaporkan barang dagangan yang diperolehnya kembali, yang membatalkan piutang usaha cicilan beserta saldo laba kotor yang ditangguhkan. Dan mencatat keuntungan atau kerugian atas pemilikan barang kembali. Jika sistem perseidaan perpectual diselenggarakan, maka barang yang dimiliki kembali dibebankan pada saldo persediaan, jika diselenggarakan secara periodik maka pemilikan kembali dicatat dalam perkiraan normal tersendiri dan saldo ini ditambahkan pada pembelian dalam menghitung harga pokok penjualan.

2.13. Penghitungan Bunga dan Angsuran Dalam hal ini pembayaran kredit terdiri-dari dua unsur, yaitu : 1. Bunga yang diperhitungkan 2. Angsuran pokok pinjaman Dengan demikian besarnya pembayaran yang diterima tergantung : 1. Dasar perhitungan bunga 2. Dasar penentuan angsuran pokok pinjaman Didalam dasar perhitungan bunga ada 2 dasar yang sering dipakai, yaitu :

Seminar Akuntansi Keuangan

12

a. Bunga dihitung dari sisa pinjaman (sistem bunga menurun) Di dalam perhitungan bunga ini tergantung pada total sisa pinjaman. Karena sisa pinjaman dari priode ke priode semakin menurun maka pembayaran bunga pun ikut menurut, atau dihitung dengan mengkalikan persentase tingkat bunga dengan sisa pinjaman tersebut. b. Bunga dihitung dari pokok pinjaman (sistem bunga tetap) Di dalam perhitungan ini besarnya bunga untuk semua priode didasarkan pada pokok pinjaman awal, atau besarnya pembayaran bunga untuk setiap priode adalah dengan mengkalikan tingkat persentase bunga dengan pokok pinjaman awal. Di dalam dasar perhitungan angsuran pokok pinjaman, terdapat 2 sistem perhitungan angsuran pokok pinjaman, yaitu : a. Sistem angsuran tetap Di dalam perhitungan angsuran pokok pinjaman dengan sistem ini dengan membagi total pokok pinjaman dengan banyaknya angsuran. b. Sistem anuitet Dalam sistem ini terbagi menjadi : 1. Sistem bunga tetap dan angsuran pokok pinjaman tetap. Di dalam sistem ini besarnya angsuran pokok pinjaman dan besarnya bunga untuk setiap priodenya selalu tetap. 2. Sistem bunga menurun dan angsuran pokok pinjaman tetap. Dalam sitem ini besarnya bunga per periode selalu menurun sedangkan besarnya angsuran pokok pinjaman tetap, sehingga jumlah angsuran secara keseluruhan selalu menurun. 3. Bunga menurun dan angsuran pinjaman meningkat. Dalam sistem ini besarnya angsuran per tahun dihitung dengan menggunakan pendekatan anuitet. Besarnya jumlah angsuran, bunga dan angsuran pokok pinjaman dihitung dengan prosedur : Menghitung besarnya kas yang diterima per priode dengan membagi pokok pinjaman dengan nilai tunai yang akan diterima setiap periode selama jangka waktu angsuran.

Seminar Akuntansi Keuangan

13

Menghitung bunga, dengan mengkalikan tingkat bunga dengan sisa pokok pinjaman pada awal priode. Menghitung angsuran pokok pinjaman, dengan menjumlahkan kas yang diterima dengan bunga pada priode tersebut.

2.14. Pembatalan Penjualan Angsuran Hal ini terjadi karena pembatalan atas penjualan angsuran yang belum dilunasi. Dengan demikian perusahaan akan menerima kembali barang yang sudah dijual, menghapus piutang penjualan angsuran yang belum direalisasi, dan juga mengakui laba/rugi pembatalan penjualan angsuran. Besarnya laba/rugi pembatalan penjualan angsuran tergantung pada metode pengakuan laba kotor atas penjualan angsuran, yang terdiri dari : 1. Metode Accrual Di dalam metode ini, semua laba penjualan angsuran sudah diakui pada saat penjualan, sehingga saldo piutang penjualan angsuran menunjukkan besarnya harga pokok penjualan yang belum diterima pembayarannya. Maka besarnya laba atau rugi yang diakui dari pembatalan penjualan angsuran adalah sama dengan selisih antara nilai pasar barang bekas yang diterima dengan saldo piutang penjualan angsuran yang belum diterima

pembayarannya. Pencatatan transaksi dalam meteode ini dengan : Persediaa barang dagangan ................................ Rugi pembatalan penjualan angsuran ................. Piutang penjualan angsuran ......................... 2. Metode Penjualan Angsuran Di dalam metode ini perusahaan baru mengakui laba kotor penjualan angsuran secara proporsional dengan besarnya penerimaan kas. Dengan demikian saldo piutang penjualan angsuran terdiri atas dua unsur, yaitu harga pokok penjulan angsuran dan laba kotor yang belum direalisasi. Besarnya harga pokok penjualan angsuran yang belum diterima pembayarannya adalah sama dengan saldo piutang penjualan angsuran dikurangi dengan saldo laba xxxx xxxx xxxx

Seminar Akuntansi Keuangan

14

kotor belum direalisir atas penjualan angsuran yang dibatalkan tersebut. Besarnya laba atau rugi pembatalan penjualan angsuran dapat dihitung dengan rumus : L = TNRS (PPA LBBR)

Keterangan : L TNRS PPA LBBR : : : : Laba/rugi penjualan Taksiran nilai realisasi bersih barang yang diterima kembali Saldo piutang penjualan angsuran Laba kotor yang belum diralisir

Pencatatan transaksi dalam metode ini dengan : Persediaan barang dagangan .................................. Labar kotor belum direalisir .................................... Piutang penjualan angsuran ............................. Laba pembatalan penjualan angsuran ............. xxxx xxxx xxxx xxxx

2.15. Pengakuan Laba Penjualan Angsuran Dalam Kaitanya Dengan Undang Undang Perpajakan Undang-undang Perpajakan No. 7 tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan : Menurut salah satu metode penjualan angsuran bahwa laba kotor diakui sejalan dengan tagihan uang kas yang diterima, sehingga laba kotor akan diakui untuk beberapa periode fiskal. Sedangkan menurut pajak penghasilan sesuai dengan undang-undang no.7 bahwa laba hasrus diakui pada saat penjualan dilakukan. Sehingga terdapat perbedaan persepsi antara laba menurut metode penjualan angsuran dengan undang-undang pajak penghasilan. Menurut Prinsip Akuntansi Indonesia pasal 9 tentang pajak penghasilan, yaitu:

Seminar Akuntansi Keuangan

15

Dalam Perhitungan rugi/laba, jumlah pajak penghasilan dapat dihitung berdasarkan laba menurut akuntansi atau laba kena pajak, dengan tarif sebagaimana ditetapkan oleh fiskus. Dalam hal pajak penghasilan dihitung menurut laba akuntansi, selisih perhitungan tersebut dengan hutang pajak (yang dihitung menurut laba kena pajak), yang disebabkan perbedaan waktu pengakuan pendapatan dan beban untuk tujuan akuntansi dengan tujuan pajak akan ditampung ke dalam pos pajak penghasilan yang ditangguhkan dan dialokasikan pada beban pajak pengahsilan tahun-tahun berikutnya. Sehingga dengan demikian jika perusahaan menghitung laba menurut metode pengakuan laba kotor sejalan dengan penerimaan kas hasil penjualan angsuran, maka selisih antara pajak penghasilan perusahaan dengan pajak pengahsilan menurut fiskus ditampung dalam perkiraan pajak penghasilan yang ditangguhkan (belum direlisasi).

Seminar Akuntansi Keuangan

16

BAB III PENUTUP

3.1.

Kesimpulan Penjualan angsuran adalah penjualan berang dagangan dengan

pembayaran secara berangsur. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan volume penjualan yang akhirnya meningkatkan laba yang didapatkan, karena metode penjualan ini memberikan kemudahan kepad konsumen dalam pembayaran barang yang dibelinya, sehingga konsumen tertarik untuk melakukan pembelian. Namun disisi lain perusahaan menghadapi kemungkinan terjadinya kerugian karena adanya pembeli yang tidak melaksanakan kewajibannya, untuk menghadapi semacam itu perusahaan perlu berhati-hati dalam penjualannya. Pembeli perlu diseksi terlebih dahulu dan membuat perjanjian yang mengikat kedua belah pihak untuk melaksanakan kewajibannya. Permasalahan dari penjualan angsuran ini tidak terbatas pada hal diatas tetapi juga masalah perhitungan besarnya bunga dan angsuran beserta pencatatannya. Untuk pembayaran bunga perusahaan dapat menerapkan 2 dasar perhitungan, yaitu bunga dihitung dari sisa pinjaman dan dari pokok pinjaman, sedangkan perhitungan angsuran pokok pinjaman dapat dilakukan dengan sistem angsuran tetap dan sistem anuitet.

3.2.

Saran-saran Kami sebagai penyusun mengharapkan dengan adanya makalah ini dapt

memberikan gambaran dari seluk beluk penjualan angsuran, sehingga temanteman pembaca dapat mengetahui dan menerapkan isi dari makalah ini.

Seminar Akuntansi Keuangan

17

DAFTAR PUSTAKA

Widayat, Utoyo. Akuntansi Keuangan Lanjutan. Edisi Revisi. Fakultas Ekonomi Universitas Indonesi 1999. Suparwoto L. Akuntansi Keuangan Lanjutan. Edisi satu. Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada 1991. http://perjalanansibungsu.blogspot.com/2012/12/makalah-angsuranpenjualan.html http://genoveva-eva.blogspot.com/2009/11/penjualan-angsuran.html http://fatma-rlf.blogspot.com/2010/06/makalah.html

Seminar Akuntansi Keuangan

18