Anda di halaman 1dari 8

PRAKTIKUM PENGENDALIAN VEKTOR Penghitungan Lalat

Hari/Tanggal Praktikum

: Selasa, 22 Mei 2012

A. Pendahuluan
Lalat merupakan species yang berperan dalam masalah kesehatan masyarakat. Ancaman lalat mulai diperhitungkan terutama setelah timbulnya masalah sampah yang merupakan dampak negatif dari pertambahan penduduk. Sampah yang tidak dikelola dengan baik akan mengundang lalat untuk datang dan berkontak dengan manusia. Dengan didorong oleh rendahnya tingkat pengetahuan masyarakat akan higienes dan sanitasi, pada akhirnya lalat akan menimbulkan masalah kesehatan masyarakat secara luas baik dari segi estetika sampai penularan penyakit. (Sitanggang, 2001). Penularan penyakit oleh lalat dapat terjadi melalui semua bagian dari tubuh lalat seperti : bulu badan, bulu pada anggota gerak, muntahan serta faecesnya. Upaya pengendalian penyakit menular tidak terlepas dari usaha peningkatan kesehatan lingkungan dengan salah satu kegiatannya adalah pengendalian vektor penyakit termasuk lalat. Saat ini terdapat sekitar 60.000 100.000 spesies lalat, tetapi tidak semua species perlu diawasi karena beberapa diantaranya tidak berbahaya terhadap kesehatan masyarakat (Santi, 2001). Saat ini, selain terancam berbagai penyakit infeksi seperti tifus dan diare, masyarakat, khususnya yang tinggal di sekitar tempat pembuangan sementara (TPS), mengeluhkan serbuan lalat hijau dalam beberapa hari terakhir akibat menggunungnya sampah di TPS. Lalat hijau tidak hanya hinggap di gunungan sampah, namun menyebar ke permukiman warga.

12

Fenomena munculnya lalat yang berkeliaran di TPS dan menyerbu permukiman penduduk di sekitarnya, tentu sangat mengganggu kenyamanan dan bisa menyebarkan berbagai penyakit. Sehingga secara langsung kondisi ini akan menyebabkan terjadinya ancaman penyakit kepada penduduk semakin besar. Jadi, bila pengelolaan sampah dalam beberapa hari masih terbengkalai, maka siap-siap ribuan lalat menyuplai beberapa bibit penyakit terhadap penduduk sekitar TPS sampah yang ada di beberapa sudut kota. Oleh karena itu perlu adanya pengendalian lalat agar perkembangbiakan lalat dapat terkontrol.

B. Tujuan
Tujuan dari praktikum pengendalian dan pembrantasan lalat adalah : 1. Agar mahasiswa mengetahui pentingnya lalat sebagai vektor penyakit. 2. Agar mahasiswa populasi kepadatan lalat di suatu wilayah tertentu.

C. Alat dan Bahan


Alat dan bahan yang digunakan dalam prakti8kum pengendalian dan pemberantasan lalat ini adalah : 1. Fly gril 2. Counter 3. Stop watch 4. Bolpoint 5. Form survey lalat

D. Cara Kerja

13

Cara kerja praktikum pengendalian dan pembrantasan lalat ini adalah : 1. 2. 3. 4. 5. 6. Siapkan alat dan bahan Letakan fly grill di tempat yang dianggap populasi lalat tinggi Hitung lalat yang hinggap diatas fly grill Catat dan masukkan ke dalam form penilaian Ulangi ditempat yang berbeda sebanyak 10 tempat yang berbeda Ambil hasil dari 5 tertinggi kemudian dirata-rata Setiap pengukuran dilakukan sebanyak 10 kali, lalu diambil 5 terbanyak kemudian dirata-rata. Kategori pada rata-rata tertinggi : a. 0 2 : rendah (tidak masalah). b. 3 5 : sedang (perlu dilakukan pengamatan tempat terbiaknya lalat). c. 6 20 : tinggi (populasi cukup padat & perlu pengamatan tempat terbiaknya lalatdan bila mungkin rencana pengendalian). d. 21 ke atas : sangat tinggi (populasi padat dan perlu pengamanan tempat terbiaknya lalat dan tindakan pengendalian).

E. Hasil
(Terlampir di Lampiran 1)

F. Pembahasan
Lalat termasuk insekta ordo Diptera yang ditandai sepasang sayap. Lalat ini berkembang biak dengan metamorfosis sempurna, yaitu dimulai dari telur, larva, pupa dan imago. Musca demostica ( lalat rumah ) bertelur antara 100-150 butir. Telur telur ini menetas menjadi larva kira kira dalam waktu

14

24 jam dan makanannya adalah bahan bahan yang dapat membusuk, dan keadaan dalam bentuk larva berlangsung antara 3 7 hari. Larva yang matur pindah ketempat yang sejuk dan kering serta membentuk pupa inaktif, bentuk pupa ini memerlukan waktu antara 3 sampai beberapa hari. Sayapnya tidak terlipat lagi dan kulitnya berchitin dn keras dan tergantung pada suhu dan iklim, lalat rumah dapat hidup dalam jaringan hidup manusia dan menyebabkan penyakit myasis. Lalat rumah mempunyai jarak terbang kira kira sampai 1 mil. Lalat rumah ini dapat menularkan penyakit penyakit seperti : 1. Kolera 2. Thypus 3. Disentri 4. Parathypus 5. Conjunctivitis 6. Trachoma, dan 7. Poliomyelitis Sedangkan lalat kandang ( stomoxis calcitrans ) adalah contoh lalat yang menusuk dan mengisap. Lalat demikian termasuk family tabanidae dan dapat menularkan penyakit seperti : Tulameria dan Anthrax. Kepadatan populasi lalat dapat di ukur dengan fly grill. Tehnik ini di kembangkan oleh schudder, terdiri atas kisi kisi yang tersusun olh 24 bilah kayu dengan panjang masing masing 36 inci, lebar 3/4 inci dan tebal 1/4 inci, dijajar dengan jarak masing masing bilah 3/4 inci pada sebuah kerangka berbentuk huruf z. Kepadatan lalat di hitung berdasarkan jumlah lalat yang hinggap pada grill per satuan waktu, dan belum ada ketentuan mengenai kesatuan waktu ini. Oleh karena alat ini hanya digunakan untuk mengukur kepadatan secara kualitatif, misalnya untuk membandingkan kepadatan di suatu wilayah tertentu dengan wilayah lain, maka satuan waktu bisa ditentukan sendiri oleh pengamat atau peneliti.

15

Dalam metode pengendalian lalat, fly grill diletakkan ditempat yang dianggap populasi lalat tinggi, kemudian lalat yang hinggap diatas fly grill dihitung dengan menggunakan stop watch dan counter. Hasilnya dicatat dan dimasukkan ke dalam form penilaian. Survey lalat tersebut dilakukan ditempat yang berbeda sebanyak 10 titik/10 tempat yang berbeda, setiap titik lokasi 30 detik. Kemudian dihitung kepadatan lalatnya dengan kategori berikut : 1. 0 2 2. 3 5 : rendah (tidak masalah). : sedang (perlu dilakukan pengamatan tempat terbiaknya lalat).

3. 6 20 : tinggi (populasi cukup padat & perlu pengamatan tempat terbiaknya lalatdan bila mungkin rencana pengendalian). 4. 21 ke atas : sangat tinggi (populasi padat dan perlu pengamanan tempat terbiaknya lalat dan tindakan pengendalian). Berdasarkan Lokasi yang kami pilihn diantaranya : 1. TPS Wirogunan Kartasura 2. Kadang Babi Kartasura 3. Pabrik Tahu (industri rumah tangga) Data yang diperoleh bahwa jumlah kepadatan lalat yang tinggi yaitu 44,4 di TPS Wirogunan Kartosura karena lokasi tersebut terdapat timbunan sampah yang banyak dan menyebabkan jumlah lalat pun tinggi. Berikut perincian dalam penghitungan di masing-masing lokasi :

1.

16

= 44,4 Keterangan : Sangat tinggi (populasi lalat padat dan perlu pengamanan tempat berbiaknya lalat dan tindakan pengendalian). Untuk mengendalikan populasi lalat agar tidak meningkat hendaknya : a. Memisahkan sampah organik dan anorganik. b. Membakar sampah agar tidak di jadikan tempat perbiakan lalat. c. Pengumpulan, pengangkutan dan pembuangan sampah yang dikelola dengan baik akan menghilangkan media perindukan lalat. Sehingga secara tidak langsung dapat mengendalikan perbiakan lalat.

2.

= 19,6

17

Keterangan : Tinggi (populasi cukup padat dan perlu pengaman tempat berbiaknya lalat dan bila mungkin rencana pengendalian). Untuk mengendalikan populasi lalat agar tidak meningkat hendaknya : a. b. c. d. Selalu menjaga sanitasi lingkungan. Membersihkan kandang setiap hari. Lantai kandang hendaknya kedap air yang memudahkan pembersihan kandang. Membuat SPAL (saluran pembuangan air limbah), yang nantinya air lumbah kotoran babi siap dibuang sehingga tidak mencemati air maupun tanah.

3.

= 18,4 Keterangan : Tinggi (populasi cukup padat dan perlu pengaman tempat berbiaknya lalat dan bila mungkin rencana pengendalian). Untuk mengendalikan populasi lalat agar tidak meningkat hendaknya : a. b. Pada tempat pembuatan tahu selalu menjaga sanitasi lingkungannya. Menyediakan tempat sampah (organik dan organik terpisah).

18

c.

Menutup dan selalu membersihkan tempat sampah dan kemudian di jemur hingga kering, serta menjaga hygiene personal.

G. Kesimpulan
Dari pembahasan diatas membuktikan bahwa lalat memang lebih menyukai tempat yang kotor terutama tempat sampah. Terlihat dari hasil pembahsan diatas bahwa populasi kepadatan lalat di TPS Wiroguno jauh lebih tinggi dibandingkan pada kandang babi dan pabrik tahu. Dari ketiga tempat praktikum yang dilakukan yaitu TPS Wirogunan, pembuatan tahu (industri rumah tangga) dan kandang babi, TPS merupakan tempat yang memiliki populasi lalat sangat padat. Kepadatan populasi lalat di wilayah desa Wirogunan, Kartosuro tepatnya di Tempat Pembuangan Sementara (TPS) sebesar 44,4. Angka tersebut menunjukan bahwa di wilayah TPS tersebut tingkat kepadatan populasi lalatnya dikategorikan sangat tinggi. Sedangkan di wilayah sekitar pabrik tahu dan sekitar kandang babi merupakan tempat yang masuk dalam kategori tingkat kepadatan yang tinggi yaitu sebesar 19,6 dan 18,4. Melihat dari hasil dari perhitungan kepadatan lalat tersebut maka perlu adanya upaya-upaya yang dilakukan pemerintah maupun masyarakat setempat untuk menekan populasi lalat di tempat-tempat tersebut agar masyarakat terhindar dari penyakit-penyakit yang dibawa oleh vektor lalat

19