Anda di halaman 1dari 2

Menurut literatur, tembaga dan ion seng dapat diabsorbsi oleh serbuk gergaji pohon poplar (Sciban et al.

2006a) namun belum ada penelitian lebih lanjut mengenai kinetik adsorpsi. Pengaruh asam sulfat terhadap serbuk gergaji pohon poplar yang telah diolah telah diteliti dan dikaji oleh Acar dan Eren (2006), dimana asam sulfat dengan serbuk gergaji poplar memiliki removal/penghapusan yang baik (92,4% Cu2+) pada pH 5, sedangkan serbuk gergaji poplar yang belum diolah hanya bisa menghilangkan 47%. Kinetika ikatan tembaga menunjukkan proses yang cepat, sekitar 70-80% ion tembaga dihilangkan dari larutan dalam waktu 10 menit. Namun persentase penghilangan ion tembaga ini menurun seiring dengan meningkatnya konsentrasi logam. Peningkatan persen adsorpsi dengan dosis adsorben disebabkan oleh peningkatan luas permukaan dan ketersediaan banyaknya sisi aktif. Kapasitas adsorpsi maksimum serbuk poplar yang telah diolah ini menunjukkan nilai 13,945 mg g-1 sedangkan nilai adsorpsi untuk serbuk poplar yang belum diolah (diikuti model isoterm langmuir) ialah 5,432 mg g -1. Kapasitas nilai adsorpsi asam sulfat memiliki hasil yang maksimum dengan serbuk poplar dibandingkan dengan nilai adsorpsi NaOH dengan serbuk poplar. Asam sulfat pekat juga digunakan untuk memodifikasi serbuk gergaji pohon kelapa yang digunakan untuk menghilangkan merkuri dan nikel. Dapat diketahui bahwa mercury dapat dihilangkan sebanyak 100% dan nikel dapat dihilangkan sebanyak 81% dalam adsorpsi selama 1jam. Menurut literatur (Rehman et al. 2006) diketahui penghapusan ion Ni 2+ menggunakan NaOH yang diolah dengan serbuk gergaji dari Dalbergia sissoo (pabrik penggergajian). Didapat Paduan serbuk gergaji dengan NaOH ini menghasilkan konversi metil ester terutama dalam selulosa, hemiselulosa, dan lignin dengan ligan karbonat. Ion nikel ini dapat diadsorpsi dalam waktu 20 menit karena adanya ikatan ekstra seluler. diketahui kapasitas adsorpsi maksimal dari ion Ni2+ yaitu 10,47 mg g-1 (50oC). Dengan demikian adsorpsi lebih baik dilakukan pada temperatur yang lebih tinggi dengan mengikuti model isoterm Freundlich dan Langmuir. Dilakukan juga sebuah perbandingan pada efisiensi adsorbsi terhadap NaOH yang diolah dengan serbuk kayu dari Cedrus Deodar dan dengan yang tidak diolah. Diketahui bahwa serbuk gergaji cedrus deodar terdiri dari deterjen asam urat (selulosa dan lignin). Menurut titrasi asam basa, serbuk gergaji memiliki empat kelompok besar yang bertanggung jawab untuk mengikat kadmium yang berkarboksilat, fosfat, amina dan fenolik. Penghapusan kadmium lebih disukai oleh NaOH yang diolah dengan serbuk gergaji, dengan nilai kapasitas adsorpsi empat kali lebih besar daripada yang tidak diolah. Penghapusan kadmium secara maksimum terjadi pada pH diatas 4.Ketika pH diatas 4, kelompok karboksilat akan terdeprotonisasi dan permukaan adsorben akan bernilai negatif sehingga adsorpsi kadmium menjadi lebih tinggi. Namun pada pH kurang dari 3, gugus karboksilat menjadi terprotonasi dan situs adsorpsi tidak dapat menarik ion Cd 2+. NaOH yang diolah dengan serbuk gergaji lebih mudah juga untuk menyaring atau memisahkan adsorben dari larutannya. Pertukaran ion dianggap sebagai mekanisme adsorpsi kadmium dominan sebagai nilai-nilai energy adsorpsi (E) 916 KJ mol-1 yang ditentukan dari plot Dubinin-Radushkevic. Kapasitas adsorpsi maksimum yang dicatat pada suhu 20oC adalah 73, 62 mg g-1. Adapun sebuah analisa rinci pada konsentrasi ideal NaOH yang dilakukan untuk memodifikasi serat juniper pada adsorpsi kadmium (Min et al. 2004). Dimana, NaOH diolah dengan bahan lignoselulosa yang dapat menyebabkan peningkatan

luas permukaan internal, penurunan derajat polimerisasi, penurunan kristalinitas, pemisahan hubungan struktural antara lignin dan karbohidrat, dan gangguan struktur lignin. NaOH ini merupakan reagen yang baik untuk saponifikasi (konversi dari kelompok ester karboksilat dan alkohol) dengan persamaan reaksinya : Berdasarkan analisa FTIR ditemukan bahwa konsentrasi NaOH dan jumlah karboksilat meningkat, dimana konsentrasi NaOH meningkat dari 0 M ke 0,1 M. Konsentrasi maksimum NaOH (0,5 M) cocok untuk melaksanakan proses saponifikasi. Setelah diolah dengan basa, kapasitas adsorpsi maksimum kadmium meningkat menjadi tiga kalinya (dari 9,18 menjadi 29,54 mg g -1). Data yang diperoleh ini juga mengungkapkan bahwa basa yang diolah dengan serat juniper memiliki nilai yang lebih tinggi dari yang tidak diolah dalam aspek kapasitas adsorpsi qe (mg g-1) dan konstanta laju adorpsi mula-mula h (mg g-1 min-1) Adsorpsi Hexavalent chromium dengan formaldehid yang diolah dengan serbuk gergaji (Barat et al. 2006). Dimana Formaldehid ini merupakan senyawa yang umum digunakan untuk melunturkan warna dan senyawa yang larut dalam air dari serbuk gergaji. Kapasitas adsorpsi Cr (VI) yang ditentukan dari isoterm Langmuir adalah rendah (3,60 mg g-1) dengan waktu adsorpsi sekitar 5 jam. Proses adsorpsi sangat dipengaruhi oleh beberapa parameter fisika-kimia seperti pH, dosis adsorben, suhu dan konsentrasi awal larutan kromium. Adsorpsi maksimal terjadi pada kisaran pH 3-6 dan berkurang secara signifikan jika pH melebihi 6. Persentase adsorpsi Cr (VI) meningkat dengan peningkatan dosis adsorben, namun persentase akan menurun dengan meningkatnya konsentrasi logam dan suhu. laju adsorpsi cenderung meningkat dengan meningkatnya dosis adsorben. konsentrasi Cr (VI) meningkat dengan jumlah dosis adsorben yang tetap, ion Cr (VI) akan lebih banyak dalam fase air, sehingga persentase adsorpsi akan menjadi kecil. Penurunan laju adsorpsi dengan peningkatan suhu menunjukkan sifat adsorpsi yang eksotermik, dimana adsorpsi lebih menguntungkan pada suhu yang lebih rendah