Anda di halaman 1dari 26

METODE PENYARIAN

Berbagai macam metode penyarian yang digunakan tergantung dari wujud dan kandungan dari bahan yang disari (Harborne, 1987). PENYARIAN/EKSTRAKSI adalah kegiatan penarikan zat yang dapat larut dari bahan yang tidak dapat larut dengan pelarut cair.

Penyarian merupakan peristiwa pemindahan massa aktif yang semula di dalam sel, ditarik oleh cairan penyari sehingga zat aktif larut dalam cairan penyari. Simplisia ada yang lunak seperti rimpang, daun, kulit yang lunak dan ada yang keras seperti biji, kulit kayu, kulit akar.

Simplisia yang lunak mudah ditembus oleh cairan penyari, karena itu pada penyarian tidak perlu diserbuk sampai halus. Sebaiknya pada simplisia yang keras perlu dihaluskan terlebih dahulu sebelum dilakukan ekstraksi.

Ekstraksi dapat dilakukan dengan cara dingin dan panas.


Cara dingin antara lain dengan maserasi dan perkolasi. Cara panas antara lain dengan refluks, soxhlet, digesti dan infundasi, destilasi (Depkes RI, 1986).

Ekstraksi cara dingin


MASERASI Maserasi merupakan proses paling tepat dimana simplisia yang sudah halus memungkinkan untuk direndam dalam menstrum sampai meresap dan melunakkan susunan sel, sehingga zat-zat yang mudah larut akan melarut (Ansel, 1989)

Maserasi merupakan cara penyarian dengan cara merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari.

Menurut Farmakope Indonesia


Cara pembuatan ekstraksi dengan cara maserasi adalah 10 (sepuluh) bagian simplisia dengan derajat halus yang cocok dimasukkan delam bejana, kemudian dituangi dengan 75 (tujuh puluh lima) bagian cairan penyari, ditutup dan dibiarkan selama 5 (lima) hari terlindung dari cahaya, sambil berulang-ulang diaduk. Setelah 5 (lima) hari sari diserkai, ampas diperas. Ampas ditambah cairan penyari secukupnya, diaduk dan diserkai hingga diperoleh seluruh sari sebanyak 100 (seratus) bagian.

PRINSIPMASERASI
Prinsip maserasi adalah cairan penyari akan menembus dinding sel dan masuk ke dalam rongga sel yang mengandung zat aktif dimana zat aktif akan larut dan karena adanya perbedaan konsentrasi antara larutan dan zat aktif di dalam sel dengan di luar sel, maka larutan yang terpekat akan didesak keluar. Peristiwa tersebut berulang sehingga terjadi keseimbangan konsentrasi antara larutan di luar dan di dalam sel.

PERKOLASI
Perkolasi merupakan proses dimana serbuk simplisia yang sudah halus, zat larutnya diekstraksi dalam pelarut yang cocok dengan cara melewatkan perlahan-lahan melalui serbuk simplisia dalam suatu kolom. Serbuk simplisia dimampatkan dalam alat ekstraksi khusus disebut perkolator. Ekstrak yang telah dikumpulkan disebut perkolat. (Ansel, 1989).

PRINSIP PERKOLASI
Prinsip perkolasi adalah serbuk simplisia ditempatkan dalan suatu bejana silinder, yang bagian bawahnya diberi sekat berpori, cairan penyari dialirkan dari atas ke bawah melalui simplisia tersebut, cairan penyari akan melarutkan zat aktif. Sel-sel yang akan dilalui sampai mencapai keadaan jenuh. Gerak ke bawah disebabkan kekuatan gaya beratnya sendiri dan cairan diatasnya, dikurangi dengan gaya kapiler untuk menahan (Depkes RI, 1986).

Ekstraksi cara panas


REFLUKS Refluks adalah ekstraksi dengan pelarut pada temperatur titik didihnya selama waktu tertentu dan jumlah pelarut terbatas relatif konstan dengan adanya pendingin balik. S Refluks adalah ekstraksi dengan pelarut pada temperatur titik didihnya selama waktu tertentu dan jumlah pelarut terbatas relatif konstan dengan adanya pendingin balik.

PRINSIP REFLUKS
Prinsip refluks adalah cairan penyari diisikan ke dalam labu, simplisia pada tabung yang berlubang-lubang dari gelas baja tahan karat atau bahan lain yang cocok. Cairan penyari dipanaskan hingga mendidih, uap penyari akan naik ke atas

melalui simplisia, uap penyari akan mengembun karena


didinginkan oleh pendingin balik, embun turun melalui simplisia sambil melarutkan zat aktifnya dan kembali berulang seperti proses di atas (Depkes RI, 1986).

Ekstraksi padat - cair


Kafein dari Biji Kopi Kafein

SOXHL ETASI
Soxhlet merupakan alat ekstraksi dengan menggunakan pelarut yang selalu baru yang umumnya dilakukan dengan alat khusus sehingga terjadi ekstraksi yang kontinue dengan jumlah pelarut yang relatif konstan dengan adanya pendingin balik (Depkes RI, 2000: 11).

Bahan yang akan diekstraksi berada dalam sebuah kantung ekstraksi (kertas saring) di dalam sebuah alat ekstraksi dari gelas yang bekerja kontinue (perkolator). Wadah gelas yang mengandung kantung diletakkan diantara labu suling dan pendingin aliran balik dan dihubungkan melalui pipa samping. Labu tersebut berisi bahan pelarut yang menguap dan mencapai ke dalam pendingin aliran balik melalui pipa samping, lalu dikondensasi di dalamnya, menetes ke atas bahan yang diekstraksi dan membawa keluar bahan yang diekstraksi.

Larutan kumpul di dalam wadah gelas dan setelah mencapai tinggi maksimal secara otomatis ditarik ke dalam labu, dengan demikian zat yang terekstraksi tertimbun melalui penguapan kontinue dari bahan pelarut murni. Pada prinsipnya soxhlet sama dengan refluks hanya saja uap cairan penyari naik keatas melalui pipa samping kemudian diembunkan kembali oleh pendingin tegak, cairan turun ke labu melalui tabung yang berisi simplisia. Cairan penyari sambil turun melarutkan zat aktif simplisia karena adanya sifon, seluruh cairan akan kembali ke labu (Voight, 1994: 572).

Keuntungan metode soxhletasi


Uap panas tidak mengenai serbuk simplisia tetapi melalui pipa samping sehingga tidak merusak simplisia (zat aktif). Serbuk simplisia disari dengan cairan yang murni sehingga dapat menyari zat aktif lebih banyak. Penyarian dapat diteruskan sesuai dengan keperluan tanpa menambah cairan penyari.

Kerugian dengan soxhletasi


Karena dipanaskan terus-menerus maka cairan penyari yang digunakan harus murni. Tidak cocok untuk zat atau simplisia yang tidak tahan pemanasan karena cairan dipanaskan terus-menerus (Depkes RI, 1986: 28) Waktu yang dibutuhkan lebih lama sehingga kebutuhan energinya tinggi (listrik, gas) (Voight, 1994: 573).

DIGESTI
Digesti adalah cara maserasi dengan pemanasan lemah, yaitu pada suhu 40 - 50C. Cara ini hanya dapat dilakukan untuk simplisia yang zat aktifnya tidak tahan pemanasan (Depkes RI, 1986)

INFUS
Infus adalah sediaan cairan yang dibuat dengan mengekstraksi simplisia nabati dengan air air panas suhu 90C selama 15 menit (Depkes RI, 1995)

INFUNDASI
Infundasi adalah proses penyarian yang umumnya digunakan untuk menyari kandungan aktif yang larut dalam air dari bahan-bahan nabati. Penyarian dengan cara ini menghasilkan sari yang tidak stabil dan mudah tercemar oleh kuman dan kapang. Oleh sebab itu sari yang diperoleh dengan cra ini tidak boleh disimpan lebih dari 24 jam (Depkes RI, 1986).

EMULSI

Extraction (LLE)

Perlu ditambahkan bahwa diperlukan pengembangan obat untuk peluruh nyeri, narkotik yang tidak menyebabkan kecanduan. Disamping itu, juga obat untuk menurunkan kadar kolesterol, hipertensi, kerentanan terhadap penyakit infeksi atau bukan. Perlu terobosan-terobosan baru untuk menemukan obat penyakit tersebut. Kemungkinan obat tersebut dapat ditemukan diantara tumbuhan. Untuk penyakit yang disebut akhir diperlukan obat yang bersifat sebagai imunomodulator atau imunostimulan. Bidang ini sangat menarik dan membuka cakrawala baru dalam penelitian tumbuhan obat.

Obat dari tumbuhan yang digunakan dalam pengobatan sekarang, misalnya flavanolignan dari Silybum marianum yang bersifat antihepatotoksik, kemudian kurkumin dari Curcuma longa dan Curcuma Xanthorrhiza sebagai antiflamasi. -Karoten untuk antioksidasi, dikombinasi dengan vitamin C. Buah Schisandra Chinensis mengandung senyawa yang membuat tubuh tahan terhadap berbagai stres. Prolipid yang mengandung ekstrak daun jati belanda, daun kemuning dan daun tempuyung untuk kegemukan dan menurunkan kolesterol.