Anda di halaman 1dari 178

BAB I ASESMEN DALAM BIMBINGAN DAN KONSELING

A. PENGANTAR Bimbingan dan konseling merupakan bagian penting dalam penyelenggaraan pendidikan pada setiap jenis, tingkat dan satuan pendidikan. Penyelenggara utama bimbingan dan konseling adalah guru bimbingan dan konseling (BK) atau konselor. Berbagai ketentuan, aturan dan pedoman resmi tentang keberadaan dan pelaksanaan tugas guru BK atau konselor, antara lain dapat dirujuk pada Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Permendiknas Nomor 22 tahun 2006 tentang Standar isi, Peraturan Pemerintah Nomor 74 tahun 2008 tentang Guru, Permendiknas Nomor 27 tahun 2008 Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Konselor, Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru Dan Angka Kreditnya, Peraturan Bersama Menteri Pendidikan Nasional dan Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor 03/V/Pb/2010 dan Nomor 14 Tahun 2010 tentang Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya dan Pedoman Pelaksanaan Penilaian Kinerja Guru (PK Guru) yang dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan 2010 (Buku 2: Pembinaan dan Pengembangan Profesi Guru). Penyelenggaraan tugas guru BK harus didukung oleh sejumlah kompetensi yang dapat dikelompokkan ke dalam empat kompetensi utama dengan segenap penjabarannya, yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi sosial, kompetensi profesional, dan kompetensi kepribadian. Salah satu kompetensi profesional guru bimbingan dan konseling atau konselor adalah menguasai konsep dan praksis asesmen untuk memahami kondisi, kebutuhan, dan masalah konseli (Permendiknas Nomor 27 tahun 2008). Uraian dan pembahasan pada bab ini dimaksudkan untuk meningkatkan sebagian dari kompetensi tersebut, dan terutama untuk penerapannya dalam penyelenggaraan pelayanan konseling di sekolah.

BIMTEK GURU BK SMK 2012

B.

KOMPETENSI, SUB KOMPETENSI DAN INDIKATOR Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 2008 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Konselor (SKAKK) dikemukakan salah satu kompetensi profesional konselor adalah menguasai konsep dan praksis asesmen untuk memahami kondisi, kebutuhan, dan masalah konseli. Sedangkan penjabaran dari kompetensi tersebut adalah: 1. menguasai hakikat asesmen 2. memilih teknik asesmen, sesuai dengan kebutuhan pelayanan bimbingan dan konseling 3. menyusun dan mengembangkan instrumen asesmen untuk keperluan bimbingan dan konseling 4. mengadministrasikan asesmen untuk mengungkapkan masalah-masalah konseli 5. memilih dan mengadministrasikan teknik asesmen pengungkapan kemampuan dasar dan kecenderungan pribadi konseli 6. memilih dan mengadministrasikan instrumen untuk mengungkapkan kondisi aktual konseli berkaitan dengan lingkungan 7. mengakses data dokumentasi tentang konseli dalam pelayanan bimbingan dan konseling 8. menggunakan hasil asesmen dalam pelayanan bimbingan dan konseling dengan tepat 9. menampilkan tanggung jawab profesional dalam praktik asesmen Berpedoman pada isi program yang diselenggarakan oleh Direktorat Pembinaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Menengah, Direktorak Jenderal Pendidikan Menengah Subdit PTK SMK yang lebih mengarah pada bimbingan teknis (Bimtek), dan berdasarkan arahan dari Direktur Pembinaan PTK Dikmen, kompetensi yang menjadi fokus dalam Bimtek ini adalah berkenaan dengan pengembangan instrumen, pemilihan instrumen, penggunaan instrumen, himpunan data, dan pelaporan. Merujuk pada Buku 2 Pembinaan dan Pengembangan Profesi Guru, khusus untuk guru BK, indikator yang hendak dicapai dalam bimtek ini adalah sebagai berikut. 1. Guru BK/Konselor dapat mengembangkan instrumen nontes (pedoman wawancara, angket, atau format lainnya) untuk keperluan pelayanan BK. 2. Guru BK/Konselor dapat mengaplikasikan instrumen nontes untuk mengungkapkan kondisi aktual peserta didik/konseli berkaitan dengan lingkungan. 3. Guru BK/Konselor dapat memilih jenis asesmen (Instrumen Tugas Perkembangan/ITP, Alat Ungkap Masalah/AUM, Daftar Cek Masalah/DCM, atau instrumen non tes lainnya) yang sesuai dengan kebutuhan layanan bimbingan dan konseling. 4. Guru BK/Konselor dapat mengadministrasikan asesmen (merencanakan, melaksanakan, mengolah data) untuk

BIMTEK GURU BK SMK 2012

mengungkapkan potensi, kebutuhan, dan masalah peserta didik/konseli 5. Guru BK/Konselor dapat menampilkan tanggung jawab profesional sesuai dengan azas BK (misalnya kerahasiaan, keterbukaan, kemutakhiran, dll.) dalam praktik asesmen. C. MATERI 1. Pengembangan instrumen a. Data yang dikumpulkan Program bimbingan dan konseling harus disusun berdasarkan analisis data dan kebutuhan peserta didik/konseli. Untuk itu diperlukan data yang akurat dan memadai berkenaan dengan diri, potensi, kebutuhan dan permasalahan serta lingkungan konseli. Analisis data dan kebutuhan didahului dengan pengumpulan data dan need assessment dengan menggunakan berbagai instrumen. Banyak data yang diperlukan untuk penyusunan program bimbingan dan konseling. Data tersebut antara lain adalah identitas diri, keluarga, riwayat kesehatan, riwayat pendidikan, kecerdasan, bakat, minat, kepribadian, pengalaman dan lingkungan sosial, harapan dan cita-cita, hobi dan kebiasaan, serta masalah-masalah dan kebutuhan (Tim Penyusun Pedoman Pelaksanaan Pendidikan Profesi Guru Bimbingan dan Konseling atau Konselor,2010). Menurut Furqon dan Yaya Sunarya (2011), data yang diperlukan untuk penyelenggaraan bimbingan dan konseling dapat dibedakan menjadi empat kelompok data, yaitu data pribadi, data kelompok, data umum, dan data khusus. Data pribadi adalah data atau keterangan secara lengkap dan menyeluruh yang menyangkut diri masing-masing siswa secara individual (perorangan), antara lain data identitas pribadi, keadaan fisik, data keluarga, riwayat pendidikan sebelumnya, dan riwayat kesehatan. Data kelompok menyangkut aspek tertentu dari sekelompok siswa, seperti gambaran menyeluruh tentang prestasi belajar siswa dalam satu kelas, hasil sosiometri, laporan penyelenggaraan hasil belajar kelompok, penyelenggaraan dan isi bimbingan dan konseling kelompok. Data umum (data lingkungan) merupakan data atau keterangan yang tidak secara langsung menyangkut diri siswa baik secara individual maupun secara kelompok, seperti informasi kesempatan mengikuti pendidikan dan pekerjaan, informasi keadaan lingkungan fisik-sosial-budaya. Sedangkan data khusus adalah keterangan tentang siswa dalam hal khusus, misalnya data tentang inteligensi, bakat, kebiasaan belajar, minat, hubungan sosial. Dikaitkan dengan fungsi pemahaman, data yang perlu dipahami dalam penyelenggaraan bimbingan dan konseling antara lain adalah kondisi diri, lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan masyarakat, informasi pendidikan dan pekerjaan (Prayitno, dkk., 2004; Tim Penyusun Pedoman Khusus Bimbingan dan Konseling, 2004). Di samping itu, W.S. Winkel dan M.M. Sri Hastuti (2010)
BIMTEK GURU BK SMK 2012 3

mengelompokkan data yang diperlukan untuk pelayanan bimbingan dan konseling adalah (1) latar belakang keluarga (data tentang orangtua, saudara-saudara, taraf ekonomi keluarga, suasana kehidupan dalam keluarga, (2) riwayat sekolah/pendidikan: seluruh jenjang pendidikan yang telah ditempuh termasuk lamanya, kesulitan-kesulitan yang dialami, (3) taraf prestasi yang mempunyai kaitan dengan perencanaan pendidikan lanjutan dan penentuan pekerjaan/jabatan, (4) kemampuan intelektual dan kemampuan akademik, (5) bakat khusus, (6) minat terhadap bidang studi dan bidang pekerjaan tertentu, (7) pengalaman di luar sekolah, (8) ciri-ciri kepribadian khusus, seperti temperamen, watak, karakter, keadaan emosi, nilai kehidupan, hubungan sosial, sikap dalam menghadapi permasalahan, (9) kesehatan jasmani antara lain kesehatan pada umumnya, gangguan pada alat indra, penyakit yang pernah diderita. Ditinjau dari tujuan penyelenggaraan aplikasi instrumentasi dalam bimbingan dan konseling, secara umum data atau keterangan yang diperlukan adalah (1) kebiasaan dan sikap dalam beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, (2) kondisi mental dan fisik siswa, (3) lingkungan dan hubungan sosial, (4) tujuan, sikap, kebiasaan, keterampilan dan kemampuan belajar, (5) informasi karir dan pendidikan, (6) kondisi keluarga dan lingkungan. Apabila dikelompokkan untuk setiap bidang pengembangan siswa (pribadi, sosial, belajar dan karir), Prayitno, dkk. (2004); Depdiknas (2007); Furqon dan Yaya Sunarya (2011); ILO (2011), data yang diperlukan untuk pelayanan bimbingan dan konseling sebagai berikut. 1) a) b) c) d) e) f) g) 2) Data untuk pengembangan pribadi, meliputi: kebiasaan dan sikap dalam beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa pengenalan dan penerimaan perubahan, pertumbuhan dan perkembangan fisik dan psikis yang terjadi pada diri siswa pengenalan tentang kekuatan diri, bakat dan minat, serta penyaluran dan pengembangannya kelemahan diri dan upaya penanggulangannya kemampuan mengambil keputusan dan pengarahan diri kepribadian (kepemimpinan, tanggung jawab, emosi, sosiabilitas) perencanaan dan penyelenggaraan hidup sehat

Data untuk pengembangan sosial, meliputi: a) kemampuan berkomunikasi serta menerima dan menyampaikan pendapat secara logis, efektif dan produktif b) kemampuan bertingkah laku dan berhubungan sosial (di rumah, sekolah dan masyarakat) dengan menjunjung tinggi
BIMTEK GURU BK SMK 2012 4

c) d) e) f) g) 3) a)

tatakrama, norma dan nilai-nilai agama, adapt istiadat dan kebiasaan yang berlaku hubungan dengan teman sebaya (di sekolah dan di masyarakat) penerimaan sosial oleh teman di sekolah pemahaman dan pelaksanaan disiplin dan peraturan sekolah, di tempat praktik/magang, di rumah, di lingkungan sekitar dan masyarakat pengenalan dan pengamalan pola hidup sederhana yang sehat dan diterima lingkungan sosial kemampuan bergotong royong.

Data untuk pengembangan karir, meliputi: kemampuan, bakat, minat, kepribadian, kondisi diri dan sosial ekonomi terkait dengan pekerjaan/karir b) pilihan dan latihan keterampilan c) orientasi karir, dunia kerja dan upaya memperoleh penghasilan d) informasi lembaga-lembaga keterampilan, dunia kerja dan industri sesuai dengan pilihan pekerjaan dan arah pengembangan karir Data untuk pengembangan kegiatan belajar, meliputi: a) pengenalan akan tujuan dan manfaat belajar b) sikap dan kebiasaan belajar, praktik dan magang c) keterampilan belajar, seperti mencatat materi pelajaran, mempesiapkan diri untuk belajar dan ujian, mengerjakan tugas atau PR, bertanya/menjawab/menanggapi, menyarikan bacaan/membaca efektif, dsb. d) kegiatan dan disiplin belajar serta berlatih secara efektif, efisien, dan produktif e) penguasaan materi pelajaran, dan latihan/keterampilan kejuruan f) motivasi belajar g) pengenalan dan pemanfaatan kondisi fisik, sosial dan budaya di sekolah, tempat latihan/magang dan lingkungan belajar h) potensi diri (kemampuan, bakat, minat) i) orientasi belajar di perguruan tinggi j) fasilitas belajar dan pemanfaatannya

4)

Khusus untuk pengembangan kegiatan belajar, perlu juga dipertimbangkan data berkenaan dengan berbagai faktor yang berpengaruh terhadap proses dan hasil belajar. Dari berbagai sumber, Daharnis (2005; 2011) merangkum berbagai faktor yang mepengaruhi proses dan hasil belajar, baik internal maupun eksternal; setiap faktor tersebut berinteraksi dan saling terkait satu dengan yang lainnya.
BIMTEK GURU BK SMK 2012 5

Di antara faktor internal yang cukup besar pengaruhnya terhadap proses dan hasil belajar siswa/mahasiswa adalah: 1. Kondisi psikologis, antara lain: a. kemampuan dasar umum/inteligensi b. bakat c. minat d. motivasi e. penguasaan keterampilan/pengetahuan dasar f. kegiatan/kebiasaan dan gaya belajar g. aspirasi dan cita-cita h. kematangan dan kesiapan i. ketekunan j. konsentrasi k. locus of control l. perhatian m. ingatan n. persepsi 2. Kondisi fisiologis, antara lain: a. kondisi tubuh pada umumnya dan kesehatan b. kondisi panca indra c. cacat tubuh/fisik Sedangkan faktor eksternal yang cukup besar pengaruhnya terhadap proses dan hasil belajar mahasiswa dapat ditinjau dari segi 1. Kondisi dalam keluarga, antara lain: a. hubungan antar sesama anggota keluarga b. kondisi sosial ekonomi keluarga (orangtua) c. aspirasi dan persepsi angota keluarga terutama terhadap pendidikan d. perhatian, motivasi serta perlakuan orangtua/anggota keluarga terhadap kegiatan belajar siswa/mahasiswa 1. Kondisi sekolah, antara lain: a. kondisi fisik b. kurikulum c. sarana dan prasarana d. karakteristik guru dan personil lainnya e. suasana serta hubungan siswa dengan guru dan antar siswa f. disiplin g. metode h. teknik i. media j. tugas-tugas yang harus dikerjakan siswa k. pengelolaan pembelajaran l. penilaian m. umpan balik dan reward 2. Kondisi masyarakat, antara lain:
BIMTEK GURU BK SMK 2012 6

pergaulan dengan teman sebaya media masa d unia kerja nilai/norma masyarakat Interaksi dan saling keterkaitan faktor-faktor tersebut dapat dilihat pada gambar-gambar berikut.

a. b. c. d.

BIMTEK GURU BK SMK 2012

PRESAGE VARIABLES Karakteristik

Guru
Kelas sosial Umur Jenis kelamin Pendd.& Pengalaman Inteligensi Motivasi Ket. mengajar Kepribadian CONTEXT VARIABLES Karakteristik Siswa Kelas sosial Umur Jenis kelamin Kemampuan Pengetahuan Sikap Kondisi Masyarakat, Sekolah/kelas

PROCESS VARIABLES

Perilaku di kelas Perilaku Guru Perubahan Perilaku Siswa Perilaku Siswa


PRODUCT VARIABLES

Hasil Belajar

dll.

Ukuran sekolah/kelas. Fasilitas Suasana


Gambar 1. Variabel-variabel yang berkaitan dengan kegiatan dan hasil belajar siswa (Diadaptasi dari Dunkin dan Biddle oleh Daharnis, 2005)

BIMTEK GURU BK SMK 2012

Karakteristik Guru Kualitas Pengalaman Bakat Pengt. tentang materi pelajaran Pengt. tentang pengajaran Nilai dan sikap Ekspektasi Kelas sosial dll.

Karakteristik Siswa Pengaruh kelas sosial, ras dan orangtua Bakat dan pengetahuan Nilai dan sikap Ekspektasi Aspirasi Persepsi Gaya belajar dll.

Kondisi Sekolah Ukuran Sumber keuangan Ratio Guru-Siswa. Administarsi Pelayanan staf Fasilitas Lokasi Kelas sosial Komposisi ras, dll

Performasi pengajaran Guru

Perilaku Belajar Siswa

Hasil Belajar

Kondisi Sekolah Org. & adm. Organisasi pengajaran Pengaruh kelompok sebaya Ukuran kelas Lingkungan, dll

Catatan: Menunjukkan hubungan kausal Menunjukkan hubungan, tetapi tidak hubungan kausal

Gambar 2. Variabel-variabel yang berkaitan dengan kegiatan dan hasil belajar siswa (Diadaptasi oleh Daharnis (2005 & 2011) dari: Centra dan Potter (dalam Elliot, Kratochwill, Littlefield, dan Travers, 1996)

Data lain yang diperlukan untuk penyusunan program bimbingan dan konseling adalah data masalah-masalah yang mungkin dialami oleh siswa. Dalam Mooney Problem Check List (MPCL) yang dikembangkan oleh Ross L. Mooney terdapat 330 masalah yang mungkin dialami oleh siswa-siswa tingkat SLTA yang dikelompokkan kedalam sebelas bidang (Mudjiran, dkk., 2010), yaitu: 1. Perkembangan jasmani dan kesehatan 2. Keuangan, lingkungan dan pekerjaan
BIMTEK GURU BK SMK 2012 9

3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10.

Kegiatan sosial dan rekreasi Seks, pacaran dan perkawinan Hubungan sosial-kejiwaan Hubungan pribadi-kejiwaan Moral dan agama Rumah dan keluarga Masa depan pekerjaan dan pendidikan Penyesuaian terhadap tugas-tugas sekolah

11. Kurikulum dan pengajaran

Sedangkan dalam Alat Ungkap Masalah (AUM) Seri Umum Format 2 untuk siswa SLTA yang dikembangkan sejak tahun 1997, termuat 225 butir masalah yang mungkin dialami oleh siswa SLTA, yang kesemuanya dikelompokkan kedalam sepuluh kelompok, yaitu : 1) Jasmani dan kesehatan 2) Diri pribadi 3) Hubungan sosial 4) Ekonomi dan keuangan 5) Karier dan pekerjaan 6) Pendidikan dan pelajaran 7) Agama, nilai dan moral 8) Hubungan muda-mudi dan perkawinan 9) Keadaan dan hubungan dalam keluarga 10) Waktu senggang b. Teknik dan Instrumen yang digunakan Pengumpulan data dan need assessment dalam bimbingan dan konseling dilakukan melalui aplikasi instrumenasi (Pusat Kurikulum, Balitbang Depdiknas, 2011), yaitu kegiatan mengumpulkan data tentang diri peserta didik/sasaran layanan dan lingkungannya, melalui aplikasi berbagai instrumen, baik tes maupun non-tes. Tim Penyusun Pedoman Pelaksanaan Pendidikan Profesi Guru Bimbingan dan Konseling atau Konselor (2010) mengemukakan bahwa teknik yang dapat digunakan untuk mengumpulkan data adalah teknik tes dan teknik non tes (Furqon dan Yaya Sunarya, 2011) atau menggunakan instrumen tes dan instrumen non tes (Prayitno, 2012). Tes merupakan himpunan pertanyaan yang harus dijawab atau pernyataan-pernyataan yang harus dipilih/ditanggapi atau tugas-tugas yang harus dilakukan oleh orang yang dites (testi) dengan tujuan untuk mengukur suatu aspek perilaku atau memperoleh informasi tentang trait atau atribut dari orang yang dites (Furqon dan Yaya Sunarya, 2011). Sejalan dengan itu Prayitno (2012) mengemukakan bahwa suatu instrumen disebut tes apabila
BIMTEK GURU BK SMK 2012 10

jawaban responden atas soal-soal yang diperiksa berdasarkan benar-salahnya jawaban tersebut, sementara jawaban instrumen non tes bukan atas benar salahnya, melainkan untuk melihat gambaran tentang kondisi responden tanpa menekankan apakah kondisi itu mutunya tinggi atau rendah, benar atau salah; instrumen non tes digunakan untuk mengetahui kondisi responden sebagaimana apa adanya. Perbedaan antara teknik/pendekatan tes dan non tes antara lain adalah (1) pada tes ada jawaban benar atau salah, sedangkan pada non tes, jawaban benar atau salah sangat bervariasi dan semuanya bisa betul/benar, (2) hasil pada non tes lebih kualitatif sedangkan pada tes lebih kuantitatif, walaupun akhirnya dapat dikualitatifkan, (3) pelaksana tes (psikologis) adalah orang profesional (berkewenangan khusus untuk melaksanakan tes tersebut) sedangkan pelaksana non tes tidak selamanya orang yang sangat profesional (Furqon dan Yaya Sunarya, 2011), (4) waktu pelaksanaan tes lebih ketat dibandingkan dengan pelaksanaan non tes, (5) penyelenggaraan dan pengawasan tes lebih ketat dibandingkan dengan non tes. Banyak teknik dan instrumen yang digunakan untuk pengumpulan data dalam bimbingan dan konseling, baik berupa tes atau pun non tes. Diantara teknik tes adalah menyelenggarakan tes kecerdasan, tes bakat, tes minat, tes kepribadian, dan tes hasil belajar, sedangkan beberapa teknik dan instrumen non tes antara lain dengan melakukan observasi (dengan menggunakan instrumen daftar cek, skala penilaian, catatan anekdot, dan alat-alat mekanik), interviu/ wawancara, kuesioner/angket, otobiografi), penggunaan daftar cek masalah atau alat ungkap masalah--AUM (baik masalah belajar ataupun masalah-masalah umum), dan penyelenggaraan sosiometri, studi dokumentasi, penggunaan inventori minat karir, kreativitas, hubungan sosial, dan tugas-tugas perkembangan. Sesuai dengan kebutuhan bimbingan teknis untuk peningkatan profesionalitas guru BK SMK dan memperhatikan relevansinya dengan analisis kebutuhan dalam penyusunan program bimbingan dan konseling di SMK, tidak semua teknik dan instrumen pengumpul data dibahas dalam uraian materi ini. Namun, dalam peyelenggaraan bimbingan teknis di lapangan, pembahasan dapat berkembang pada teknik-teknik dan instrumen yang tidak dibahas secara eksplisit dalam uraian materi ini.

1)

Observasi

Pengertian Observasi merupakan pengamatan sistematis tentang suatu objek. Melalui observasi, seorang guru BK dan tenaga pendidik
BIMTEK GURU BK SMK 2012 11

lainnya dapat mengetahui tingkah laku non verbal konseli (A. Muri Yusuf,2005); atau teknik merekam data tingkah laku individu melalui proses pengamatan langsung dan/atau tidak langsung dalam suatu kegiatan untuk memperoleh gambaran observable behavior (Tim Penyusun Pedoman Pelaksanaan Pendidikan Profesi Guru Bimbingan dan Konseling atau Konselor,2010). Dalam menyelenggarakan pengumpulan data melalui observasi diperlukan pencatatan yang sistematis tentang hal-hal yang diamati, antara lain fakta-fakta tentang tingkah laku siswa/konseli, misalnya dalam melakukan tugas, mengikuti proses belajar dan pembelajaran, berinteraksi dengan orang lain, maupun sifat-sifat khusus yang nampak dalam menghadapi suatu situasi atau masalah (Furqon dan Yaya Sunarya, 2011). Kunci keberhasilan observasi sebagai teknik pengumpulan data sangat banyak ditentukan oleh pengamat itu sendiri, karena pengamat dapat melihat, mendengar, mencium atau mendengarkan sesuatu tentang objek yang diamati, sehingga pengamat dapat mengambil kesimpulan.

Manfaat Observasi Observasi atau pengamatan bermanfaat untuk penyusunan program bimbingan dan konseling, terutama untuk pemahaman individu konseli, karena (1) diperoleh data perilaku spontan secara natural, (2) diketahui intensitas perilaku secara detail, dan (3) diketahui penyebab munculnya perilaku (A. Muri Yusuf, 2005), yang akhirnya dapat digunakan sebagai tolok ukur menyusun program bimbingan dan konseling komprehensif--lazim dinamakan need assessment (Tim Penyusun Pedoman Pelaksanaan Pendidikan Profesi Guru Bimbingan dan Konseling atau Konselor,2010).

Jenis Observasi Menurut Furqon dan Yaya Sunarya (2011), ada beberapa jenis observasi, yaitu (1) observasi sehari-hari, yaitu observasi yang tidak dipersiapkan secara seksama, misalnya sambil mengerjakan tugas sehari-hari, observasi yang tidak menggunakan pedoman observasi, atau dilakukan secara incidental, (2) observasi sistematis, yaitu observasi yang dipersiapkan secara sistematis, terencana dan dipersiapkan, (3) observasi partisipatif (participant observer), dan observasi non partisipatif (non participation observer). Participant observer, yaitu suatu bentuk observasi dimana pengamat (observer) secara teratur berpartisipasi dan terlibat dalam kegiatan yang diamati. Dalam hal ini pengamat mempunyai fungsi ganda, yaitu sebagai pengamat yang tidak diketahui dan dirasakan oleh anggota yang lain, dan kedua sebagai anggota yang berperan aktif sesuai dengan tugas yang dipercayakan kepadanya. Sedangkan non
BIMTEK GURU BK SMK 2012 12

participation observer, yaitu suatu bentuk observasi dimana pengamat tidak terlibat langsung dalam kegiatan kelompok, atau dapat juga dikatan pengamat tidak ikut serta dalam kegiatan yang diamatinya (A. Muri Yusuf, 2005).

Pedoman observasi Teknik observasi perlu dilengkapi dengan instrumen observasi, antara lain Daftar Cek ( Checklist), Skala Penilaian (Rating Scale), Catatan Anekdot (Anecdotal Records), dan alatalat mekanik. Berikut dikemukakan beberapa instrumen yang digunakan dalam observasi, yang diambil dan dimodifikasi dari draft yang dikembangkan oleh Tim Penyusun Pedoman Pelaksanaan Pendidikan Profesi Guru Bimbingan dan Konseling atau Konselor tahun 2010. a) Daftar Cek (Checklist) Pengertian Daftar cek sebagai instrumen observasi merupakan suatu daftar pernyataan tentang aspek-aspek yang mungkin terdapat dalam suatu situasi, tingkah laku, dan kegiatan (individu/kelompok). Gejala-gejala perilaku individu/konseli yang dapat diobservasi dengan instrumen/pedoman daftar cek adalah: kebiasaan belajar secara umum, kebiasaan belajar pada jam kosong atau saat guru tidak berada di kelas, kebiasaan dan keterampilan bekerja, aktivitas diskusi kelompok/kelas, kegiatan komunikasi dengan orang lain (teman, guru atau pihak lain), aktivitas ekstrakurikuler di sekolah (seperti Pramuka, KIR, PMR, Basket, Volly, dsb.), dan lain-lain topik yang relevan dengan kegiatan akadmik dan non akademik. Manfaat Daftar Cek Berbagai manfaat daftar cek untuk kepentingan pemahaman diri konseli di antaranya (a) mencatat kemunculan sejumlah tingkah laku secara sistematis, (b) mencatat kemunculan sejumlah tingkah laku dalam waktu singkat, (c) mencatat kemunculan perilaku di dalam dan/atau di luar sekolah, serta (d) mencatat kemunculan perilaku individu dan kelompok sekaligus. Prosedur Pengadministrasian Daftar Cek Selama mengadministrasikan pedoman daftar cek, maka ada tiga (3) tahap yang lazim di tempuh, yaitu tahap persiapan, tahap pelaksanaan, dan tahap analisis hasil. Tahap persiapan mencakup langkah-langkah berikut: (a) penetapan topik, (b) penentuan variabel, (c) penentuan indikator, (d) penentuan prediktor, dan (e) penyusunan pernyataan/item. Tahap pelaksananaan meliputi langkah-langkah berikut: (a) penyiapan pedoman/format, (b) penentuan posisi mudah mengamati perilaku observi dan tidak
BIMTEK GURU BK SMK 2012 13

menimbulkan perhatian observi, (c) pelaksanaan pengamatan yaitu mencatat dan menandai perilaku observi yang muncul pada format, dan (d) pencatatan terhadap perilaku observi (siswa/konseli yang diobservasi). Tahap analisis data mencakup langkah-langkah berikut: (a) skoring, (b) analisis dan interpretasi, dan (c) kesimpulan. Aplikasi Prosedur Pengadministrasian Daftar Cek 1) Tahap Persiapan, meliputi langkah-langkah berikut: (1) Penentuan topik yang akan diobservasi, misalnya kebiasaan belajar (2) Penentuan variabel, misalnya pertama adalah situasi jam kosong atau pada saat guru tidak ada di kelas; variabel kedua adalah kebiasaan belajar siswa di kelas. (3) Penentuan indikator dengan dua kategori yaitu kategori Ya sebagai petunjuk kemunculan sub-sub variabel atau pernyataan, dan kategori Tidak terhadap ketidakmunculan sub-sub variabel yang mungkin atau diperkirakan terjadi pada kebiasaan perilaku subyek/observi. Biasanya petunjuk Tidak dapat saja tidak disertakan dalam pedoman daftar cek . (4) Penentuan prediktor yaitu menetapkan kreterium terhadap frekuensi kemunculan perilaku. Kreterium ini dibuat berdasarkan kajian teori tentang kebiasaan belajar sebagaimana tertera pada topik. Prediktor ini sekaligus digunakan sebagai acuan untuk interpretasi data. Biasanya digunakan empat (4) kreterium untuk mengkonversi data, sebagaimana tercantum pada tabel konversi berikut.
Tabel Konversi Interval Persentase (%) 76 100 51 75 26 50 1 25 Klasifikasi Sangat Tinggi Cukup Tinggi Sedang Rendah Interpretasi Sangat rajin belajar pada jam kosong dan saat guru tidak ada di kelas Rajin belajar pada jam kosong dan saat guru tidak ada di kelas Cukup rajin belajar pada jam kosong dan saat guru tidak ada di kelas Tidak rajin/malas belajar pada jam kosong dan saat guru tidak ada di kelas

(5) Penyusunan pernyataan/item dengan merumuskan pernyataan/item sub-sub variabel sebagai ejawantahan aspek perilaku yang diobservasi, khususnya kebiasaan belajar siswa di kelas pada situasi jam kosong atau saat guru tidak ada di kelas. Berikut contoh pedoman/format daftar cek tentang kebiasaan belajar siswa di kelas pada saat jam kosong atau guru tidak ada di kelas (Tim Penyusun Pedoman Pelaksanaan

BIMTEK GURU BK SMK 2012

14

Pendidikan Profesi Guru Bimbingan dan Konseling atau Konselor,2010).

BIMTEK GURU BK SMK 2012

15

Pedoman Daftar Cek (Individual) I. Identitas Siswa 1. Nama 2. Kelas/program 3. NIS/absen 4. Jenis Kelamin 5. Tempat/tgl lahir 6. Hari/tgl observasi 7. Tempat observasi 8. Waktu/durasi : : : : : : : : : Kebiasaan belajar siswa pada situasi jam kosong dan saat guru tidak ada di kelas : Mengetahui kebiasaan belajar siswa pada situasi jam kosong dan saat guru tidak di kelas IV. Petunjuk : Berilah tanda cek (V) pada kolom yang sesuai dengan pernyataan atau gejala perilaku yang diamati YA TIDAK

II. Aspek yang diobservasi III. Tujuan observasi ada

V. Pernyataan/Item NO 1 2 3 4 5 6 7 8 .. .. Dst PERNYATAAN (SUB-SUB VERIABEL) Membaca catatan yang lalu Berbincang dengan teman tentang materi pelajaran Memprakarsai teman se kelas melakukan diskusi Berdiskusi dengan beberapa teman tentang materi pelajaran Mempelajari bahan pengayaan yang ditawarkan Menyusun masalah sendiri dan berusaha menemukan solusi Melakukan eksperimen atas prakarsa sendiri Mengoreksi kembali PR

Kesimpulan: Observer __________

BIMTEK GURU BK SMK 2012

16

Pedoman Daftar Cek (Kelompok) No 1 2 3 4 5 6 7 8 .. .. Dst Kesimpulan: Observer _________ PERNYATAAN Membaca catatan yang lalu Berbincang dengan teman tentang materi pelajaran Memprakarsai teman se kelas melakukan diskusi Berdiskusi dengan beberapa teman tentang materi pelajaran Mempelajari bahan pengayaan yang ditawarkan Menyusun masalah sendiri dan berusaha menemukan solusi Melakukan eksperimen atas prakarsa sendiri Mengoreksi kembali PR NAMA SISWA

2) Tahap Pelaksanaan Pada tahap pelaksanaan ini terlebih dahulu observer menyiapkan pedoman daftar cek, selanjutnya observer menempati posisi dekat dengan observi kemudian mencatat perilaku observi, pada saat pelaksanaan ini diusahakan agar observi tidak menyadari jika dirinya sedang diobservasi. 3) Tahap Analisis Hasil dan Interpretasi Ada lima (5) langkah lazim digunakan pada tahap analisis hasil. (1) menghitung jumlah frekuensi observasi (k), misalnya dilakukan sepuluh kali, maka diperoleh sejumlah 10 lembar daftar cek yang sudah diisi. (2) menentukan N dengan cara mengalikan jumlah item pernyataan (n = 8) dengan k (sebanyak 10), yaitu N = n X k, sehingga hasil perkalian tersebut diketahui N = 8X10= 80. (3) menjumlahkan seluruh frekuensi kemunculan perilaku kebiasaan belajar siswa (selama 10 kali pengmatan), maka diketahui (f), misalnya, sebanyak 60. (4) menghitung persentase (%) dengan rumus p = f/N X 100%, maka p = 60/80 X 100%, sehingga hasilnya sebesar 75%. (5) mengkonversikan hasil persentase
BIMTEK GURU BK SMK 2012 17

dengan tabel konversi yang dibuat sebelumnya (Tabel Konversi), sehingga hasil interpretasi data dapat disimpulkan. Berdasarkan hasil konversi dapat diketahui bahwa frekuensi kemunculan kebiasaan belajar siswa pada jam kosong dan saat guru tidak ada di kelas sebesar 75%, yang berarti siswa tersebut tergolong rajin belajar pada jam kosong dan saat guru tidak ada di kelas berdasarkan pencatatan/hasil observasi dengan menggunakan pedoman daftar cek. b) Skala Penilaian (Rating Scale) Pengertian Skala Penilaian Skala penilaian adalah alat rekam observasi yang memuat daftar gejala tingkah laku observable behavior yang dicatat/cek secara berskala. Proses pengamatan dengan skala penilaian ini, observer mencatat kemunculan perilaku berdasarkan kategori skala. Ada tiga jenis skala yang sering digunakan dalam pelaksanaan observasi, yaitu skala kuantitatif (skala angka), skala kualitatif (skala deskriptif/kata), dan skala grafis (perpaduan skala angka dan kata). Hal terpenting dalam pencatatan gejala perilaku observi dengan skala penilaian adalah makna tiap-tiap skala beserta penjabarannya. Misalnya, skala kualitatif/deskriptif dijabarkan dalam rentang deskripsi yang memiliki derajat penilaian berbeda mulai dari penilaian paling tinggi sampai penilaian paling rendah. Gejala perilaku dapat dicatat dengan menggunakan instrumen/pedoman skala penilaian antara lain: partisipasi siswa dalam kegiatan diskusi, kegiatan belajar siswa secara umu, kebiasaan belajar mata pelajaran tertentu, kebiasaan belajar pada jam kosong dan saat guru tidak ada di kelas, kebiasaan dan keterampilan bekerja, aktivitas diskusi kelompok/kelas, keterampilan komunikasi dengan teman sebaya atau guru, aktivitas ekstrakurikuler di sekolah, dan lain-lain topik yang relevan dengan kegiatan akadmik dan non akademik di sekolah. Manfaat Skala Penilaian Pada dasarnya skala penilaian ini bermanfaat bagi kepentingan pemahaman diri konseli melalui teknik observasi yang lebih khas diukur dari derajat penilaian. Manfaatnya adalah (a) mencatat kemunculan sejumlah tingkah laku secara sistematis, (b) mencatat kemunculan sejumlah tingkah laku dalam waktu singkat, (c) mencatat kemunculan sejumlah tingkah laku dalam derajat penilaian, (d) mencatat kemunculan perilaku di dalam dan/atau di luar sekolah, serta (e) mencatat kemunculan perilaku individu dan kelompok sekaligus. Prosedur Pengadministrasian Skala Penilaian Pengadministrasian observasi dengan pedoman skala penilaian dilakukan melalui tiga tahapan, yaitu tahap persiapan,
BIMTEK GURU BK SMK 2012 18

pelaksanaan, dan analisis hasil. Tahap persiapan mencakup langkah-langkah berikut: (a) penetapan topik, (b) penentuan variabel, (c) penentuan indikator, (d) penentuan prediktor, dan (e) penyusunan pernyataan/item. Tahap pelaksananaan meliputi langkah-langkah berikut: (a) penyiapan pedoman/format skala penilaian, (b) penentuan posisi observasi yaitu observer mengambil posisi yang tepat agar mudah mengamati perilaku observi dan tidak mengganggu perhatian observi, (c) pelaksanaan pengamatan yaitu mencatat derajat perilaku observi yang muncul pada format skala penilaian, dan (d) pencatatan terhadap perilaku observi (siswa/konseli yang diobservasi). Tahap analisis hasil mencakup langkah-langkah berikut: (a) skoring, (b) analisis dan interpretasi, dan (c) kesimpulan. Aplikasi Prosedur Pengadministrasian Skala Penilaian 1) Tahap persiapan, meliputi langkah-langkah berikut: (1) Penentuan topik yang relevan, misalnya kebiasaan belajar siswa (2) Penentuan variabel adalah kebiasaan belajar di sekolah. Variabel tersebut diuraikan menjadi sub-sub variabel yaitu kehadiran, kesiapan belajar, kelengkapan sarana belajar. Berdasarkan sub-sub variabel disusun penyataan/item dengan menggunakan kata-kata yang menggambarkan observable behavior. (3) Penentuan indikator. Pada langkah ini terlebih dahulu ditetapkan jenis atau derajat penilaian/skala, baik skala kuantitatif atau skala kualitatif/deskriptif maupun skala grafis. Misalnya, derajat penilaian kuantitatif ditetapkan dengan angka 1 5, derajat penilaian kualitatif/deskriptif dengan pernyataan mulai dari selalu, sering, kadang-kadang, dan tidak pernah, dan derajat penilaian grafis dengan penggabungan skala angka dan kata-kata. Pada dasarnya, langkah ini dimaknai sebagai penetapan derajat penilaian atas kemunculan perilaku observi pada suatu kegiatan. (4) Penentuan prediktor, yaitu menetapkan kreterium terhadap frekuensi kemunculan perilaku. Kreterium ini dibuat berdasarkan kajian teori tentang kebiasaan belajar sebagaimana tertera pada topik. Prediktor ini sekaligus digunakan sebagai acuan untuk interpretasi data. Ada empat (4) kreterium yang biasa digunakan untuk mengkonversi data, sebagaimana tercantum pada tabel konversi berikut.

BIMTEK GURU BK SMK 2012

19

Tabel Konversi Interval Persentase (%) 76 100 51 75 26 50 1 25 Klasifikasi Sangat Tinggi Cukup Tinggi Sedang Rendah Interpretasi Sangat rajin belajar Rajin belajar Cukup rajin belajar Tidak rajin/malas belajar

(5) Penyusunan pernyataan/item dengan merumuskan pernyataan/item berdasarkan pada penjabaran sub-sub variabel sebagai ejawantahan aspek perilaku yang diobservasi, khususnya kebiasaan belajar siswa. Berikut contoh pedoman skala penilaian.

BIMTEK GURU BK SMK 2012

20

Pedoman Skala Penilaian Kualitatif I. Identitas Siswa 1. Nama 2. Kelas/program 3. NIS/absen 4. Jenis Kelamin 5. Tempat/tgl lahir 6. Hari/tgl observasi 7. Tempat observasi 8. Waktu/durasi : .. : .. : .. : .. : .. : .. : .. : .. : Kebiasaan belajar siswa di : Mengetahui kebiasaan belajar di sekolah : Berilah tanda cek (V) pada skala yang sesuai dengan pernyataan gejala perilaku yang diamati V. Pernyataan/Item No 1 2 3 4 5 .. .. dst Kesimpulan: Observer _________ Sub Variabel Pernyataan Tingkah laku Datang tepat pada waktunya, atau lebih awal Mempersiapkan kelengkapan peralatan belajar Memperhatikan guru menyajikan pelajaran Mencatat materi pelajaran Merespon apabila diberi kesempatan Skala Selalu Sering Kadangkadang Tidak pernah

II. Aspek yang diobservasi sekolah III. Tujuan observasi siswa IV. Petunjuk atau

BIMTEK GURU BK SMK 2012

21

Pedoman Skala Penilaian Kuantitatif I. Identitas Siswa 1. Nama 2. Kelas/program 3. NIS/absen 4. Jenis Kelamin 5. Tempat/tgl lahir 6. Hari/tgl observasi 7. Tempat observasi 8. Waktu/durasi : .. : .. : .. : .. : .. : .. : .. : .. : Partisipasi diskusi mata pelajaran PKn III. Tujuan observasi IV. Petunjuk atau gejala perilaku yang diamati V. Pernyataan/Item Skala No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 .. .. dst Kesimpulan: Observer Sub Variabel Pernyataan Tingkah laku Kehadiran di kelas Duduk di tempat yang tersedia di kelas Mengeluarkan buku catatan dan peralatan tulis Mendengarkan penyajian materi diskusi Bertanya materi yang didiskusikan Menjawab pertanyaan sambil berargumen sesuai materi Menyampaikan saran-saran perbaikan Menulis/mencatat hasil diskusi Mengantuk atau tertidur Melakukan kegiatan lain sewaktu belajar Nilai 4 10 9 Nilai 3 8 7 6 Nilai 2 5 4 3 Nilai 1 2 1 : Mengetahui tingkat partisipasi siswa pada saat diskusi di kelas : Berilah tanda cek (V) pada skala yang sesuai dengan pernyataan

II. Aspek yang diobservasi

BIMTEK GURU BK SMK 2012

22

_________

BIMTEK GURU BK SMK 2012

23

Pedoman Skala Penilaian Grafis I. Identitas Siswa 1. Nama 2. Kelas/program 3. NIS/absen 4. Jenis Kelamin 5. Tempat/tgl lahir 6. Hari/tgl observasi 7. Tempat observasi 8. Waktu/durasi : .. : .. : .. : .. : .. : .. : .. : .. : Kebiasaan siswa mengikuti pelajaran di kelas : Mengetahui kebiasaan siswa mengikuti pelajaran di kelas : Berilah tanda cek (V) pada garis skala yang sesuai dengan pernyataan/gejala perilaku yang diamati

II. Aspek yang diobservasi III. Tujuan observasi IV. Petunjuk

V. Pernyataan/Item 1. Kehadiran siswa saat mengikuti pelajaran 1 Terlambat awal 2 Agak terlambat 3 Tepat waktu 4 Sangat

2. Persipan mengikuti pelajaran 1 2 Tidak siap Kurang siap siap 3. Sikap duduk di kelas 1 Tidak sopan sopan 2 Kurang sopan

3 Siap

4 Sangat

3 Sopan

4 Sangat

4. Mendengar penjelasan guru 1 2 Tidak pernah kadang-kadang

3 Sering

4 Selalu

Kesimpulan: Observer _________

2) Tahap Pelaksanaan Pada tahap pelaksanaan ini terlebih dahulu observer menyiapkan pedoman skala penilaian (Skala Penilaian Kualitatif, Skala Penilaian Kuantitatif, dan Skala Penilaian Grafis), selanjutnya observer menempati posisi dekat dengan observi kemudian mencatat perilaku observi. Pada saat pelaksanaan ini
BIMTEK GURU BK SMK 2012 24

diusahakan agar observi tidak menyadari jika dirinya sedang diobservasi atau terganggu oleh kegiatan observer. 3) Tahap Analisis Hasil dan Interpretasi Ada lima langkah yang diperlukan pada tahap analisis hasil observasi dengan menggunakan Skala Penilaian Kuantitatif. (1) menghitung jumlah frekuensi observasi (k), misalnya lima kali, maka diperoleh lembaran sebanyak 5 lembar, dengan derajat penilaian kuantitatif 4 skala (s) yaitu 1-2-3-4. (2) menentukan N dengan cara mengalikan jumlah item pernyataan (n = 10) dengan k (= 5) dan s (= 4), maka N = n X k X s, sehingga hasil perkalian tersebut diketahui N = 10 X 5 X 4 = 200. (3) menjumlahkan seluruh frekuensi kemunculan perilaku kebiasaan belajar siswa selama 5 kali pada derajat penilaian kuantitatif tertentu, maka diketahui (f), misalnya 150. (4) menghitung persentase (%) dengan rumus p = f/N X 100%, maka p = 150/200 X 100% diperoleh penghitungan sebesar 75%; (5) mengkonversikan hasil persentase dengan tabel konversi yang dibuat sebelumnya (Tabel Konversi), sehingga hasil interpretasi data dapat disimpulkan. Berdasarkan hasil konversi diketahui bahwa frekuensi kemunculan partisipasi siswa pada saat belajar di kelas (untuk mata pelajaran tertentu) sebesar 75%, yang berarti bahwa siswa tersebut tergolong siswa yang aktif belajar berdasarkan pencatatan/hasil observasi dengan menggunakan pedoman Skala Penilaian Kuantitatif. Tahap analisis hasil observasi sebagaimana contoh di atas berlaku untuk analisis Skala Penilaian Kualitatif dan Skala Penilaian Grafis. c) Catatan Anekdot (Anecdotal Records) Pengertian Catatan anekdot merupakan alat perekam observasi secara berkala terhadap suatu peristiwa atau kejadian penting yang melukiskan perilaku dan kepribadian seseorang dalam bentuk pernyataan singkat dan objektif. Rekaman peristiwa penting itu menggambarkan perilaku khusus, artinya perilaku keseharian yang terjadinya tidak umum, alih-alih khusus. Pencatatan laporan peristiwa penting harus dibedakan antara berita atau fakta dan pendapat (opini) observer. Peristiwa penting yang dimaksud seperti: perkelahian, membolos, menyontek, membuat gaduh di kelas. Dengan kata lain, observasi ini dilakukan terhadap perilaku khusus. Rekaman catatan anekdot ini sangat berguna untuk menyelidiki kasus dan menelaah perkembangan individu atau sekelompok individu. Menurut bentuknya catatan anekdot ini diklasifikasikan menjadi 3 yaitu: (a) Catatan Anekdot Deskriptif, yaitu catatan yang menggambarkan perilaku, kegiatan atau situasi
BIMTEK GURU BK SMK 2012 25

dalam bentuk pernyataan, baik pernyataan yang bersifat umum maupun khusus, (b) Catatan Anekdot Interpretatif, yaitu catatan yang menggambarkan perilaku, kegiatan atau situasi yang penafsirannya didukung oleh fakta, dan (c) Catatan Anekdot Evaluatif, menggambarkan perilaku, kegiatan atau situasi berupa penilaian oleh observer berdasarkan ukuran baik-buruk, benarsalah, layak-tidak layak, dan dapat diterima-tidak dapat diterima. Manfaat Catatan Anekdot Berbagai manfaat catatan anekdot adalah: (a) dapat memperoleh diskripsi perilaku individu yang lebih tepat, (b) dapat memperoleh gambaran sebab-akibat perilaku khusus individu, dan (c) dapat mengembangkan cara-cara penyesuaian diri dengan masalah-masalah dan kebutuhan individu secara mendalam. Di samping, kegunaan catatan anekdot bagi pemahaman diri individu, maka catatan anekdot ini pun berguna bagi: (i) guru baru dalam rangka penyesuaian diri dengan siswa, (ii) guru yang berminat untuk memahami problema-problema siswa, dan (iii) bagi konselor untuk memberikan layanan konseling bahkan untuk mengadakan pertemuan kasus (konferensi kasus). Prosedur Pengadministrasian Catatan Anekdot Pengadministrasian catatan anekdot terhadap peristiwa/perilaku khusus dilakukan dalam 3 tahapan, yaitu tahap persiapan, pelaksanaan, dan analisis hasil. Tahap persiapan ini tidak seperti umumnya dilakukan pada alat rekam observasi yang lain, melainkan lebih mengarah pada persiapan pelaksanaan, meliputi langkah-langkah: (a) penetapan siapa observi, (b) bentuk catatan anekdot yang digunakan, dan (c) berapa banyak observer yang terlibat selama proses pengamatan. Tahap pelaksanaan mencakup langkah-langkah: (a) menyiapkan format catatan anekdot, (b) menentukan posisi observasi, dan (c) mencatat perilaku observer. Tahap analisis hasil yaitu memberi komentar dan interpretasi. Aplikasi Prosedur Pengadministrasian Catatan Anekdot 1) Tahap persiapan mencakup langkah-langkah berikut: (1) Menentukan aspek perilaku observi yang akan dicatat. Semua perilaku anak tanpa terkecuali perlu diamati secara sistematis, sehingga akan mengenal ihwal mereka. Akan tetapi dalam praktiknya, besar kemungkinan diprioritaskan bagi anak-anak yang mengalami masalah dan menunjukkan prilaku khusus (khusus). Aspek-aspek perilaku tersebut, misalnya: kerjasama, ketelitian, perkelahian, membolos, membuat gaduh, menyontek, dan sebagainya. (2) Menentukan siapa yang melakukan pencatatan. Pada langkah ini perlu ada penegasan siapa saja yang dilibatkan dalam proses pengamatan dan dalam kapasitas profesional.
BIMTEK GURU BK SMK 2012 26

Apabila pencatatan dilakukan oleh seorang konselor untuk kepentingan bimbingan dan konseling, maka kesediaan dan kompetensi mereka dalam pengamatan tidak diragukan. Apabila pencatatan ini dilakukan oleh seorang guru, maka terlebih dahulu mereka harus mempunyai pemahaman dan menyadari pentingnya catatan anekdot, agar tumbuh kesediaan untuk menyusun catatan jika sewaktu-waktu diperlukan. Selanjutnya menentukan berapa banyak observer yang dilibatkan untuk melakukan pencatatan terhadap perilaku siswa. (3) Menetapkan bentuk catatan anekdot. Berbagai bentuk catatan anekdot seperti: kartu kecil yang berukuran setengah halaman jenis kertas folio berisi satu peristiwa dan lazim di sebut kartu/catatan asli. Catatan asli merupakan bahan konfidensial, sehingga dipertanggungjawabkan kerahasiaannya. Sedangkan kartu yang berukuran satu halaman jenis kertas folio berisi beberapa peristiwa siswa yang sama, dan bentuk catatan anekdor berkala. Beberapa contoh kartu/form catatan adalah sebagai berikut (Tim Penyusun Pedoman Pelaksanaan Pendidikan Profesi Guru Bimbingan dan Konseling atau Konselor,2010).

Form I: Kartu Catatan Anekdot

BIMTEK GURU BK SMK 2012

27

Siswa: L/P Kelas:

Tanggal: Tempat:

Kejadian

Pengamat:

Form II: Catatan Beberapa Peristiwa NO Tanggal Tempat Kejadian Komentar/ interpretasi Saran

Pengamat:

Form III. Ringkasan Catatan Anekdot Berkala Siswa: .. L/P No Tanggal Tempat Pengamat Kelas: Kejadian

.. Pengamat

2) Tahap Pelaksanaan Pada tahap pelasanaan observer menyiapkan format catatan asli, kemudian mengambil posisi yang memudahkan proses
BIMTEK GURU BK SMK 2012 28

pencatatan. Selanjutnya observer melakukan pencatatan terhadap perilaku khusus observi dan diusahakan agar ia tidak menyadari jika sedang diamati. 3) Tahap Analisis Hasil Tahap analisis hasil berupa pemberian komentar/interpretasi observer terhadap perilaku observi pada suatu kejadian berdasarkan hasil pencatatan. Ada beberapa hal yang dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam membuat interpretasi, antara lain: (1) Berisi ulasan kesimpulan dan komentar dari observer mengenai perilaku observi (2) Bersifat penilaian evaluatif (baik-buruk, benar-salah) (3) Mengungkap kemungkinan dibalik perilaku dan simpulan perilaku (4) Mempertimbangkan perasaan observi saat berperilaku dan sasaran perilakunya (5) Mencatat respon lingkungan (6) Memperhatikan anteseden control dan stimulus (7) Peka potensi konflik, kebiasaan, dan sifat-sifat individu observi d) Tally Pengertian Sebagaimana alat rekam observasi yang telah di sebutkan di atas, tally merupakan alat pencatatan observasi terhadap kemunculan perilaku dengan tanda garis tegak. Manfaat Tally Tally bermanfaat untuk mencatat intensitas perilaku dari waktu ke waktu dan berguna memahami individu untuk kepentingan layanan bimbingan dan konseling. Prosedur Pengadministrasian Tally Pengadministrasian observasi dengan tally dilakukan dalam tiga tahapan, yaitu tahap persiapan, pelaksanaan, dan analisis hasil. Tahap persiapan dilakukan dengan menyiapkan alat pencatat tally sebagai contoh berikut.

Daftar Tallis

BIMTEK GURU BK SMK 2012

29

Nama: .. Umur: .. Tingkah laku Mencoret-coret buku Bergurau Menjerit-jerit Memukul teman Keluar dari kerja kelompok . . .

Kelas: Sekolah:.. Hari/Tgl/bulan/Tahun

e)

Alat-alat Mekanik Alat-alat mekanik adalah alat-alat elektronis dan optis yang digunakan untuk merekam data selama proses observasi. Alat-alat mekanik ini biasanya digunakan sebagai alat bantu/dukung pengumpulan data dengan teknik observasi dan teknik lain, misalnya wawancara. Dengan memanfaatkan alat-alat mekanik ini, data akan lebih lengkap dan dapat digunakan kembali untuk menetapkan keabsahan data berdasarkan teknik yang digunakan.

2)

Wawancara (Interviu) Dari berbagai sumber (Wayan Nurkancana,1993; A.Muri Yusuf, 2005, Robert Edenborough, 2002; W.S.Winkel & M.M Sri Hastuti, 2010) interviu atau wawancara dapat diartikan suatu cara pengumpulan data dengan jalan mengajukan pertanyaan secara lisan kepada sumber data dan sumber data juga memberikan jawaban secara lisan pula. Wawancara dapat dibedakan menjadi beberapa kategori: (1) berdasarkan pertanyaan yang diajukan, wawancara dapat dikategorikan dalam tiga bentuk yaitu: (a) wawancara terencana-terstruktur, yaitu suatu bentuk wawancara dimana pewawancara dalam hal ini telah menyusun secara terinci dan sistematis rencana atau pedoman pertanyaan menurut pola tertentu dengan menggunakan format yang baku, dan dalam hal ini pewawancara hanya membacakan pertanyaan yang telah disusun dan kemudian mencatat jawaban responden secara tepat, (b) wawancara terencana-tidak terstruktur, yaitu suatu bentuk wawancara dimana pewawancara menyusun rencana wawancara tetapi tidak menggunaka format dan urutan yang baku, (c) wawancara bebas, yaitu wawancara berlangsung secara alami, tidak diikat atau diatur oleh suatu pedoman atau oleh suatu format yang baku; (2) berdasarkan responden yang diwawancarai: (a) wawancara langsung, yaitu wawancara yang dilakukan langsung berhadapan dengan responden, (b) wawancara tidak langsung, yaitu wawancara yang dilakukan dengan individu tertentu tetapi tidak untuk mendapatkan data tentang individu yang bersangkutan, melainkan untuk mendapatkan data tentang
BIMTEK GURU BK SMK 2012 30

individu lain; (3) berdasarkan situasi wawancara: (a) wawancara formal, yaitu apabila wawancara tersebut dilakukan dalam suatu ruangan tertentu yang memang sengaja disiapkan untuk mengadakan wawancara dan antara penginterviu dan responden terjalin hubungan yang bersifat resmi, (b) wawancara informal, yaitu apabila wawancara dilaksanakan tidak di tempat khusus dan antara pewawancara dengan responden terjalin hubungan yang tidak resmi; (4) berdasarkan perencanaan wawancara: (a) wawancara berencana, yaitu wawancara yang dilakukan karena waktu dan tempat wawancara telah direncanakan terlebih dahulu, (b) wawancara incidental, yaitu wawancara dilakukan karena kebetulan ada kesempatan yang baik untuk mengadakan wawancara. Aturan Umum Wawancara A. Muri Yusuf, 2005 mengemukakan beberapa aturan umum yang perlu diperhatikan pewawancara, yaitu sebagai berikut: (1) penampilan dan sikap, menyangkut kesederhanaan, kebersihan dan kerapian dalam penampilan yang akan mendorong kerjasama yang baik dari responden; sikap yang menyenangkan, rendah hati, hormat terhadap responden, lebih terbuka, ramah tamah, penuh perhatian, netral, mampu berbahasa yang baik dan benar serta mau dan dapat mendengarkan pernyataan responden dengan baik. Pewawancara hendaklah terbiasa dengan model pertanyaan yang akan disampaikan. Perlu diingat bahwa pewawancara jangan sekali-kali menghafal pertanyaan yang akan diajukan, (2) ikuti kata-kata dalam pertanyaan dengan tepat, (3) catat jawaban pertanyaan secara tepat dan benar, (4) bila jawaban belum jelas, gunakan teknik menjaring/probing, yaitu menggali informasi lebih dalam sehingga terdapat jawaban yang lebih spesifik, tepat dan makna yang lebih jelas serta baik. Pedoman Wawancara Langkah-langkah yang perlu diperhatikan dalam penyusunan pedoman wawancara adalah sebagai berikut (A. Muri Yusuf,2005): a) Melakukan studi literatur untuk memahami dan menjernihkan masalah secara tuntas. (1) Melakukan domain sebenarnya. yang mewakili masalah yang

(2) Mengidentifikasi sampel secara terinci. (3) Menentukan tipe wawancara yang akan digunakan. b) Menentukan bentuk pertanyaa wawancara (1) Apakah menggunakan langsung bentuk langsung atau tidak

BIMTEK GURU BK SMK 2012

31

(2) Apakah khusus atau tidak khusus (3) Apakah yang ditanyakan fakta atau pendapat (4) Apakah berupa pertanyaan atau pernyataan c) Menentukan isi pertanyaan wawancara (1) Nyatakan pertanyaan dalam urutan yang jelas (2) Mulai dari pertanyaan fakta dan sederhana (3) Pertanyaan yang kompleks (4) Gunakan bahan yang tidak meragukan dalam bentuk yang khusus sehingga dapat dipahami responden. (5) Pewawancara jangan mencoba berkomunikasi sebagai responden karena akan mengurangi hormat dari responden. (6) Hindari pertanyaan yang membimbing, yang menyarankan responden untuk memberikan jawaban sesuai dengan yang diharapkan pewawancara. Dalam pelaksanaan wawancara, beberapa pedoman yang perlu diperhatikan yaitu: a. Harus diingat bahwa wawancara bukanlah percakapan biasa. b. Memilih waktu yang tepat c. Pada waktu wawancara berusahalah: 1) 2) Ikuti tata aturan yang telah ditetapkan dalam petunjuk Tanyakan pertanyaan dengan hati-hati dan berusahalah agar bersifat informal sehingga hubungan tanya jawab menjadi lebih komunikatif. Janganlah menyarankan jawaban atau membuat persetujuan atau menolak suatu jawaban yang diberikan responden. Janganlah menginterpretasikan suatu pertanyaan. Jangan menambah kata dari pertanyaan yang ada. Ikutilah urutan pertanyaan yang ada dalam pedoman pertanyaan. Jangan bertanya berdasarkan pertanyaan yang telah dihafal, tetapi bacalah pedoman yang telah dibuat sebelumnya.

3)

4) 5) 6) 7)

BIMTEK GURU BK SMK 2012

32

8) 9)

Jangan bersikap reaktif terhadap jawaban responden. Tugas wawancara mengambil dan informasi, bukan memberi informasi. mengumpulkan

10) Usahakan merekam atau mencatat dengan baik, semua jawaban dari responden. 11) Usahakan untuk tidak menceriterakan pertanyaan berikutnya, sebelum pertanyaan yang diberikan dijawab responden. 12) Usahakan selama wawancara tidak ada orang lain yang menggangu wawancara. 13) Usahakan datang sendirian kepada responden, kecuali jika merupakan suatu tim. 14) 15) 16) 17) 18) Selalulah melakukan konsultasi dengan pembimbing jika pewawancara mengalami kesulitan. Usahakan selalu bersikap sabar dan terjauh dari perbuatan emosional. Usahakan untuk selalu wajar dalam tindakan. Usahakan selama wawancara untuk selalu memusatkan perhatian responden pada pertanyaan. Pada akhir wawancara jangan lupa mengucapkan terimakasih kepada responden atas bantuannya.

3)

Angket (Kuesioner) Angket adalah alat pengumpulan data secara tertulis yang berisi serangkaian pertanyaan atau pernyataan berhbungan dengan topik tertentu yang diisi oleh siswa/konseli, dan hasilnya digunakan untuk menggali serta menghimpun keterangan, informasi atau data sebagaimana dibutuhkan. Angket terdiri dari beberapa jenis (A. Muri Yusuf, 2005): (1) ditinjau dari segi isi, kuesioner dapat dibedakan: (a) Pertanyaan fakta dan informasi, yaitu pertanyaan fakta dan informasi yang tersedia berkaitan dengan pengetahuan yang diketahui tentang sesuatu, (b) pertanyaan tentang pendapat dan sikap, yaitu pertanyaan yang berkaitan dengan perasaan dan sikap responden tentang sesuatu, (c) pertanyaan perilaku, yaitu pertanyaan berkaitan dengan cara responden menilai sesuatu tentang perilakunya sendiri dalam hubungannya dengan orang lain atau lingkungan; (2) ditinjau dari bentuk pertanyaan, kuesioner dapat dibedakan: (a) angket terbuka, dimana pertanyaan/pernyataannya
BIMTEK GURU BK SMK 2012 33

memberikan kebebasan kepada responden untuk memberikan jawaban dan pendapat sesuai dengan keinginan mereka, (b) angket tertutup, dimana pertanyaan/pernyataannya tidak memberikan kebebasan kepada responden memberikan jawaban dan pendapatnya sesuai dengan keinginan mereka.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam membuat pertanyaan atau pernyataan dalam angket yaitu: a) pertanyaan/pernyataan yang dibuat harus jelas dan tidak meragukan. b) hindari pertanyaan/pernyataan ganda. c) responden harus mampu menjawab. d) pertanyaan/pernyataan harus relevan. e) pertanyaan/pernyataan sebaiknya tidak terlalu panjang. f) hindari pertanyaan/pernyataan yang bersifat bias/sugestif. Berikut dikemukakan beberapa tips pengembangan angket yang dimodifikasi dari A. Muri Yusuf (2005): 1. Menetapkan aspek atau data yang akan dikumpulkan 2. Memformulasikan pertanyaan sesuai dengan data yang dibutuhkan. 3. Menyatakan pertanyaan dengan jelas dan spesifik. 4. Menghindari pertanyaan yang panjang, dan kabur. 5. Menetapkan kerangka rujukan pertanyaan 6. Jangan apriori mengasumsikan bahwa responden mempunyai informasi factual atau mempunyai pendapat dari tangan pertama 7. Menentukan terlebih dahulu apakah akan menggunakan pertanyaa langsung atau tidak langsung 8. Menentukan terlebih dahulu apakah yang dibutuhkan pertanyaan umum atau khusus. 9. Menetapkan terlebih dahulu apakah digunakan pertanyaan terbuka atau tertutup atau kombinasi keduanya. 10. Lindungi ego dan perasaan siswa/konseli 11. Hindari kata-kata yang meragukan atau kata-kata yang tidak ada gunanya 12. Setiap pertanyaan dinyatakan dengan ringkas, jelas dan utuh 13. Susun pertanyaan yang tidak memaksa atau mengarahkan siswa/konseli untuk menjawab ke satu arah 14. Hindari kata-kata yang bersifat emosional dan sentimentil 15. Tanyakan dulu yang lebih sederhana, sebelum ke yang lebih kompleks

BIMTEK GURU BK SMK 2012

34

16. Jangan jawaban dipengaruhi oleh gaya bahasa atau bentuk jawaban tertentu 17. Beri kode tertentu (misalnya garis bawah) untuk hal-hal spesifik 18. Kategori respon hendaklah mudah dipahami 19. Usahakan pengetikan dan perwajahan bersih, rapi dan mudah dibaca 20. Jangan lupa memberi pengantar dan petunjuk cara mengerjakan

4)

Alat Ungkap Masalah (AUM) Umum AUM Umum merupakan salah satu jenis instrumen non tes yang dapat digunakan oleh guru BK/konselor untuk mengungkapkan masalah-masalah umum yang dialami oleh para siswa. Para calon guru BK/konselor diharapkan memahami dan terlatih dalam pengadministrasiannya sehingga dapat menunjang pelayanan konseling yang akan dilakukannya dalam bertugas. Aum Umum untuk Siswa SLTA (AUM yang lain untuk SD, SLTP, Mahasiswa, dan Masyarakat), terdiri dari 225 butir yang dikelompokkan ke dalam 10 bidang masalah. Ke 225 butir AUM Umum Siswa SLTA tersebut pernah ditandai oleh siswa (ujicoba) sebagai suatu masalah yang dialaminya. Kesepuluh bidang masalah tersebut adalah sebagai berikut: 1. Jasmani dan kesehatan 2. Diri pribadi 3. Hubungan sosial 4. Ekonomi dan keuangan 5. Karier dan pekerjaan 6. Pendidikan dan pelajaran 7. Agama, nilai dan moral 8. Hubungan muda-mudi dan perkawinan 9. Keadaan dan hubungan dalam keluarga 10. Waktu senggang AUM Umum untuk SLTA memiliki kesahihan dengan indeks kecocokan sebesar 84,25%, dan tingkat keterandalan (dengan teknik tes-rites) sebesar 0,86. Sedangkan keefektifan AUM, dengan membandingkan jumlah masalah yang dikemukakan siswa melalui cara non-AUM (yaitu dengan menuliskan masalahmasalah yang dialami pada selembar kertas kosong) dengan masalah-masalah yang terungkap melalui AUM, dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Keefektifan AUM Umum Jenis Alat Ungkap Jumlah masalah Terendah Tertinggi Rata-rata

BIMTEK GURU BK SMK 2012

35

Non AUM AUM

2 8

7 126

1, 367 45,176

Sebagai suatu instrumen yang telah distandardisasikan, AUM ini dilengkapi dengan manual yang berisi tentang deskripsi umum (latar belakang, karakteristik), petunjuk pengadministrasian (petunjuk pengerjaan, lembaran jawaban, waktu penyelenggaraan, dan frekuensi pengadministrasian), pengolahan hasil (tata cara pengolahan, data yang diperoleh individual dan kelompok), penggunaan hasil (umum, dan berdasarkan jenis-jenis layanan BK).

5)

AUM PTSDL AUM PTSDL merupakan salah satu jenis instrumen non tes yang dapat digunakan oleh guru BK/konselor untuk mengungkapkan mutu dan masalah belajar yang dialami oleh para siswa. Para guru BK/konselor diharapkan memahami dan terlatih dalam pengadministrasiannya sehingga dapat menunjang pelayanan konseling yang akan dilakukannya dalam bertugas. AUM PTSDL untuk siswa SLTA terdiri dari 165 butir yang dikelompokkan ke dalam lima bidang, yaitu Prasyarat Penguasaan Materi Pelajaran (P), Keterampilan Belajar (T), Sarana Belajar (S), Diri Pribadi (D), dan Lingkungan Belajar dan Sosio Emosional (L). AUM PTSDL untuk siswa SLTA memiliki kesahihan dengan indeks kecocokan sebesar 86,36%, dan tingkat keterandalan (dengan teknik tes-rites) sebesar 0,76. Sedangkan keefektifan AUM, dengan membandingkan jumlah masalah yang dikemukakan siswa melalui cara non-AUM (yaitu dengan menuliskan masalah-masalah yang dialami pada selembar kertas kosong) dengan masalah-masalah yang terungkap melalui AUM, dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Keefektifan AUM PTSDL SLTA Jumlah Masalah Terendah Tertinggi 1 4 9 97

Jenis Alat Ungkap Non AUM PTSDL AUM AUM PTSDL

Rata-rata 1,94 45,66

AUM PTSDL dilengkapi dengan manual yang berisi tentang deskripsi umum (latar belakang, karakteristik), petunjuk pengadministrasian (petunjuk pengerjaan, lembaran jawaban,
BIMTEK GURU BK SMK 2012 36

waktu penyelenggaraan, dan frekuensi pengadministrasian), pengolahan hasil (tata cara pengolahan, data yang diperoleh individual dan kelompok, baik tentang mutu kegiatan belajar maupun masalah belajar), penggunaan hasil (umum, dan berdasarkan jenis-jenis layanan BK).

6)

Sosiometri Sosiometri merupakan suatu metode untuk memperoleh data tentang hubungan sosial dalam suatu kelompok berdasarkan preferensi pribadi antara anggota-anggota kelompok (WS. Winkel, 2010). Preferensi pribadi dinyatakan dalam kesukaan untuk berada bersama dengan beberapa anggota kelompok dalam melakukan kegiatan tertentu; dengan tujuan untuk mengetahui hubungan yang ada di antara anggota dalam suatu kelompok (A. Muri Yusuf, 2005:145); atau untuk mengumpulkan data tentang pola dan struktur hubungan antara individu-individu dalam suatu kelompok (Wayan Nurkancana, 1993); atau dapat dikatakan bahwa sosiometri merupakan salah satu metode yang digunakan untuk mengetahui tingkat dan pola hubungan sosial antar individu dalam suatu kelompok yang mengacu pada kriteria tertentu, kriteria ini terkait dengan pengalaman individu dalam berinteraksi dengan individu lain di dalam suatu kelompok, yang diselidiki melalui metode ini adalah status sosial masing-masing anggota kelompok menurut pandangan pribadi anggota yang lain dalam kelompok; status sosial ini tercermin pada diterima atau tidak diterima oleh anggota kelompok. Merujuk pada definisi di atas, tujuan digunakannya teknik sosiometri adalah sebagai alat penyaringan untuk mengidentifikasi pola hubungan antar individu pada suatu kelompok, terkait dengan penyesuaian diri, ketertarikan, penolakan, popularitas, konflik dan potensi kelompok yang dapat digunakan sebagai pertimbangan untuk menciptakan iklim kelompok yang positif dan mendukung pengembangan diri individu (Eko Susanto, 2011). Hasil sosiometri tersebut dapat digunakan, antara lain untuk memperbaiki struktur hubungan sosial para siswa; memperbaiki penyesuaian hubungan sosial siswa secara individual; menemukan norma-norma pergaulan antar siswa yang diinginkan dalam kelompok/ kelas yang bersangkutan; menjadi dasar pertimbangan untuk menempatkan siswa dalam kelompok yang sesuai; merencanakan kegiatan intervensi dalam menciptakan iklim sosial yang diharapkan dengan cara meningkatkan hubungan sosial, partisipasi sosial, penerimaan sosial, dan pemahaman diri antar siswa berkenaan dengan pergaulan sosialnya; membantu konselor/guru BK
BIMTEK GURU BK SMK 2012 37

mengidentifikasi siswa yang memiliki potensi dan masalah berkenaan dengan hubungan sosial; sebagai dasar dalam penyusunan program bimbingan konseling. Dalam penggunaan teknik sosiometri, Eko Susanto (2011) merangkum berbagai istilah yang umum digunakan dalam sosiometri, sebagai berikut: a) (1) (2) (3) (4) Istilah umum Sosiometri ; metode yang dapat digunakan untuk mengevaluasi struktur kelompok. Kriteria ; pernyataan/pertanyaan sosiometri. Sosiogram ; istilah yang digunakan pada diagram yang secara visual menunjukkan struktur sosiometri. Sosiomatriks ; visualisasi deretan kode yang menunjukkan arah pilihan yang dihubungkan secara vertikal dan horizontal, biasanya dibuat dalam bentuk tabel, tampilan ini juga disebut tabulasi.

b)

Istilah yang digunakan untuk menunjukkan fenomena individual (1) Bintang(Star); disebut juga individu populer yang menerima jumlah pilihan yang besar pada sosiometri. Ketika sosiogram menunjukkanbanyak individu yang secara positif memilih orang yang sama, sehingga banyak panah yang semuanya mengarah kepada individu tertentu, induvidu yang demikian disebut bintang (stars). Mereka menjadi pusat atau pusat tarikmenarik (hub of attraction ). Dalam beberapa kasus dengan kriteria negatif mungkin kita akan menemukan individu yang terpilih sebagai bintang negatif (negative star). (2) Isolate; jumlah individu yang tersisihkan/terisolasi dari anggota kelompok yang lain, merekaadalah individu yang belum pernah mendapatkan pilihan positif dari siapapun didalam sebuah kelompok yang demikian biasanya didefinisikan sebagai isolate. Dalam visualisasi sosiogram biasanya diletakkan diluar pinggiran atau tepi untuk menandai isolate dalam sebuah kelompok. Istilah terisolasi (isolate), biasanya tidak digunakan untuk menggambarkan individu yang tidak menerima nominsasi negatif. Individu yang tidak menerima nominasi positif atau negatif disebut misterius (ghost).Tentu saja, jika tidak mencari informasi dengan menggunakan nominasi negatif, maka tidak akan ada perbedaan antara misterius (ghost) dan terisolasi (isolate). (3) Misterius (ghost); seperti dijelaskan di atas bahwa individu yang misterius (ghost) adalah seseorang yang bahkan tidak diakui sama sekali di dalam sebuah kelompok. Tak seorang pun yang memilih
BIMTEK GURU BK SMK 2012 38

mereka pada nominasi positif dan mereka tidak pula menerima pilihan pada nominasi negatif. Bagaimanapun, mereka telah membuat nominasi. Akibatnya, mereka mungkin juga tidak dikenal atau tidak diakui keberadaannya di dalam kelompok. (4) Neglectee: individu yang menerima pilihan relatif kecil pada sosiometri. (5) Rejectee ; individu yang menerima pilihan negatif/penolakan. (6) Mutual ; pilihan bolak-balik, atau pasangan; dua individu yang saling memilih satu sama lain pada kriteria sosiometri yang sama.Pasangan ini terdiri dari anak-anak yang memilih satu sama lain.Kondisi seperti ini merupakan fenomena yang diharapkan dalam suasana kelompok. Semakin banyak hubungan yang menyenangkan di dalam kelompok dengan demikian memungkinkanakan tercipta iklim sosial positif yang lebih besar ke dalam kelompok. Dengan demikian jelas bahwa, fenomena pilihan negatif akan membawa situasi berbahaya di dalam kelompok dan harus dihindari, dalam kondisi tersebut memungkinkan untuk dievaluasi dengan intervensi sosial yang dilakukan oleh konselor, atau setidaknya digunakan sebagai pengetahuan yang bermanfaat ketika mereka berada pada satu kelompok dengan kelompok yang lain. c) Istilah yang digunakan untuk menunjukkan fenomena kelompok (1) Rantai (Chain); pilihan berurutan seperti A-B-C-D, ketika satu individu menominasikan individu lain dan pada gilirannya ia menominasikan individu yang lain begitu seterusnya. Istilah ini biasanya digunakan untuk menggambarkan pilihan pertama dari nominasi yang diajukan. (2) Gaps; kelompok kecil ---kesenjangan dalam kelompok yakni situasi dimana sejumlah individu saling memilih pada kriteria sosiometri yang sama, namun memberikan pilihan yang relatif kecil pada individu diluar kelompok, seperti pulau (island), segitiga (triangels) dan lingkaran (circle). (a) Kepulauan (Islands); ketika pasangan saling memilih (mutual choice) sehingga membentuk kelompokkelompok kecil yang terpisah dari pola-pola yang lebih besar, dan anggota dari kelompok ini tidak dinominasikan oleh siapa pun dalam pola-pola lain, kondisi ini menggambarkan kelompok tersebut sebagai kepulauan (islands). Perlu dipahami bahwa istilah ini biasanya digunakan untuk menggambarkan pilihan pertama dari nominasi yang diajukan.
BIMTEK GURU BK SMK 2012 39

(b) Segitiga dan Lingkaran (Trianglesand Circles); ketika

sebuah rantai datang kembali pada dirinya sendiri oleh karena orang terakhir yang mencalonkan orang pertama, kondisi ini disebut sebagai SEGITIGA jika hanya melibatkan tiga orang. Jika terdapat lebih dari tiga orang dengan pola demikian disebut sebagai lingkaran. c. Prosedur Pengembangan Instrumen Instrumen yang baik harus memenuhi berbagai persyaratan, antara lain dapat ditinjau dari segi validitas, reliabilitas, efektifitas, daya beda, dan norma. Untuk mendapatkan instrumen yang baik, perlu diikuti prosedur pengembangan yang dikemukakan oleh berbagai ahli. Djoemadi Darmodjo (2002) mengemukakan prosedur pengembangan instrumen: Perencanaan umum, spesifikasi tujuan dan isi, penulisan item atau soal, penelaahan dan penyempurnaan item/soal, prates, penyusunan bentuk akhir, penggunaan, penilaian. Sedangkan menurut Syaifuddin Azwar (2004) prosedur pengembangan instrumen (khusus untuk pengungkapan aspekaspek psikologis) adalah: identifikasi tujuan (penetapan konstrak psikologis), operasionalisasi konsep (indikator perilaku), pemilihan format stimulus dan penskalaan, penulisan item dan reviu item, uji coba, analisis item, kompilasi I (seleksi item), pengujian reliabilitas, validasi, kompilasi II (format final). Hampir bersamaan dengan itu, Sumadi Suryabrata (2000), khususnya untuk pengembangan alat ukur psikologis, prosedur yang ditempuh adalah menentukan wilayah yang akan dikenai pengukuran, menentukan dasar konseptual atau dasar teoritis yang digunakan sebagai landasan, menentukan subjek yang akan dikenai pengukuran, menentukan materi alat ukur, menentukan tipe soal, menentukan jumlah soal, menentukan taraf kesukaran soal, menyusun kisi-kisi atau blue-print, merakit soal. Menurut Gerald Goldstein & Michel Hersen (2000) prosedur pengembangan instrumen asesmen adalah dengan mengikuti langkah-langkah berikut: 1) reviewing the literature 2) defining the construc 3) test planning and lay out 4) designing the test 5) item tryout 6) item analysis 7) building a scale 8) standardizing the test

BIMTEK GURU BK SMK 2012

40

Di samping itu, Djaali dan Pudji Muljano (dalam Imam Hanuji, 2011) merinci langkah-langkah penyusunan dan pengembangan instrumen (untuk penelitian) sebagai berikut: 1) Berdasarkan sintesis dari teori yang dikaji tentang suatu konsep dari variabel yang hendak diukur, kemudian dirumuskan konstruk dari variabel tersebut. 2) Berdasarkan konstruk tersebut dikembangkan dimensi dan indikator variabel. 3) Membuat kisi-kisi instrumen dalam bentuk tabel spesifikasi yang memuat dimensi, indikator, nomor, butir dan jumlah butir untuk setiap dimensi dan indikator. 4) Menulis butir-buti instrumen yang dapat berbentuk pertanyaan atau pernyataan. 5) Butir-butir yang telah ditulis merupakan konsep instrumen yang harus melalui proses validasi, baik teoritik maupun empirik. 6) Tahap validasi pertama yang ditempuh adalah validasi teoritik, yaitu melalui pemeriksaan pakar atau melalui panel yang pada dasarnya menelaah seberapa jauh butir instrumen yang dibuat secara tepat dapat mengukur indikator. 7) Revisi atau perbaikan berdasarkan saran dari pakar atau berdasarkan hasil panel. 8) Setelah konsep instrumen dianggap valid secara teoritik atau scara konseptual, dilakukanlah penggandaan instrumen secara terbatas untuk keperluan uji coba 9) Uji coba instrumen di lapangan merupakan bagian dari proses validasi empirik 10) Pengujian validitas 11) Berdasarkan pengujian validitas tersebut, diperoleh kesimpulan mengenai valid atau tidaknya sebuah butir atau sebuah perangkat instrumen. 12) Berdasarkan hasil analisis butir maka butir-butir yang tidak valid dikeluarkan atau diperbaiki untuk diuji coba ulang sedangkan butir-butir yang valid dirakit kembali menjadi sebuah perangkat instrumen 13) Selanjutnya dihitung koefisien reliabilitas 14) Perakitan butir-butir instrumen yang valid untuk dijadikan instrumen yang final. Dengan merujuk pendapat-pendapat di atas, berikut dikemukakan prosedur umum pengembangan instrumen (Furqon dan Yaya Sunarya, 2011; A. Muri Yusuf, 2005) yang dapat dilakukan oleh guru BK untuk kepentingan pelayanan konseling di sekolah. 1) Menetapkan tujuan 2) Mengembangkan spesifikasi/kisi-kisi/blue print instrumen 3) Menentukan format, tipe dan bentuk instrumen yang akan dikembangkan

BIMTEK GURU BK SMK 2012

41

4) Menulis atau merumuskan item-item sesuai dengan format yang dipilih 5) Mengkaji ulang rumusan item-item oleh ahli lain ( judgment) 6) Merevisi item-item berdasarkan hasil judgement 7) Menggandakan instrumen 8) Menggunakan instrumen 2. Pemilihan Instrumen Program bimbingan dan konseling harus disusun berdasarkan data dan analisis kebutuhan peserta didik. Untuk itu diperlukan data yang akurat dan memadai berkenaan dengan diri, potensi, kebutuhan dan permasalahan serta lingkungan konseli. Analisis data dan kebutuhan didahului dengan pengumpulan data dan need assessment dengan menggunakan berbagai instrumen, baik tes mau pun non tes. Agar penggunaan instrumen tersebut sesuai dengan tujuan dan maksud penggunaannya, diperlukan komampuan dan kejelian dalam memilih instrumen yang akan digunakan. Hal ini diperlukan karena tidak semua instrumen cocok dan perlu digunakan untuk semua responden; bahkan seringkali suatu instrumen hanya dapat digunakan untuk kelompok responden dengan kondisi tertentu; misalnya AUM PTSDL SLTP hanya cocok untuk mengungkapkan masalah-masalah anak SMP atau sedrajat, tes inteligensi hanya cocok untuk mengukur kecerdasan, tidak untuk mengukur bakat atau minat, inventori kreatifitas untuk mengukur kreatifitas, bukan hasil belajar matematika; dan sebagainya. Konselor yang akan mengaplikasikan intrumen harus benar-benar memilih dan menyesuaikan instrumen (materi, validitas, reliabilitas) dengan responden dan karakteristik yang hendak diakses pada diri responden (Prayitno, 2012), kebutuhan untuk apa data hasil instrumen tersebut akan digunakan, serta bentuk data (kelompok, individual, umum, khusus) yang akan dikumpulkan dengan penggunaan tersebut. Dalam pemilihan instrumen yang akan digunakan, maching antara instrumen dan responden harus benar-benar tepat, artinya instrumen benar-benar cocok digunakan untuk mengungkapkan apa yang ada pada diri responden. Untuk itu langkah-langkah umum yang perlu diikuti oleh guru BK atau konselor adalah: 1) mempelajari manual instrumen 2) mengidentifikasi karakteristik responden 3) melihat kesesuaian antara instrumen dan reponden 4) menyiapkan diri untuk mampu menyelenggarakan pengadiministrasian instrumen 5) menyiapkan aspek teknis dan adminstratif

BIMTEK GURU BK SMK 2012

42

3.

Penggunaan Instrumen a. Tata cara pelaksanaan Pengadministrasian instrumen pada dasarnya dilaksanakan sesuai dengan petunjuk yang dikemukakan dalam manual instrumen, khususnya instrumen yang sudah distandardisasikan. Kewenangan menyelenggarakan administrasi instrumen non tes pada umumnya lebih terbuka, dengan catatan calon penyelenggara itu harus terlebih dulu berlatih sehingga benar-benar mampu menyelenggarakan sesuai dengan syarat-syarat asesmen yang baik (Prayitno, 2012), yaitu: 1) memahami isi dan bentuk instrumen yang akan digunakan secara mendalam dan menyeluruh 2) memahami dan dapat melaksanakan prosedur dan cara-cara pengadministrasian instrumen yang akan digunakan 3) memahami dan dapat melaksanakan cara pengolahan respon/jawaban responden/konseli 4) memahamai dan dapat melaksanakan interpretasi/penafsiran terhadap hasil-hasil instrumen Untuk keperluan pelayanan konseling, pengadminstrasian instrumen perlu diawali dengan penjelasan tentang apa, mengapa, bagaimana dan untuk apa instrumen itu diadministrasikan kepada siswa atau konseli. Dalam hal ini konselor perlu mengemukakan: 1) pokok isi, bentuk, tujuan, dan kegunaan instrumen bagi responden 2) bagaimana menjawab dan mengerjakan instrumen, termasuk alokasi waktu yang disediakan 3) bagaimana jawaban/respon responden diolah 4) bagaimana hasil pengolahan disampaikan kepada responden 5) bagaimana hasil tersebut digunakan dan apa yang perlu atau diharapkan dilakukan responden Secara umum, operasionalisasi pengadmistrasian instrumen (mulai dari perencanaan sampai pada pelaporan adalah sebagai berikut (Mudjiran dkk, 2010; Prayitno, 2012). 1) Perencanaan a) Menetapkan objek yang akan diukur/diungkapkan b) Menetapkan subjek yang akan mengikuti asesmen c) Menetapkan/menyusun instrumen sesuai dengan objek dan subjek yang akan dites d) Menetapkan prosedur asesmen e) Menetapkan fasilitas f) Menyiapkan kelengkapan administratif 2) a) Pelaksanaan Mengkomunikasikan rencana aplikasi instrumen kepada pihak terkait pelaksanaan

BIMTEK GURU BK SMK 2012

43

b) c) d) e) f)

Mengorganisasikan kegiatan instrumentasi Mengadministrasikan instrumen Mengolah jawaban/respon responden Menafsirkan hasil instrumentasi Menetapkan arah penggunaan instrumentasi

hasil

3) a) b) c) d) 4)

Evaluasi Menetapkan materi evaluasi terhadap kegiatan instrumenasi serta penggunaan hasil-hasilnya Menetapkan prosedur dan cara-cara evaluasi Melaksanakan kegiatan evaluasi Mengolah dan menafsirkan hasil evaluasi

Tindak Lanjut a) Menetapkan jenis dan arah tindak lanjut terhadap kegiatan instrumenasi serta penggunaan hasil-hasilnya b) Mengkomunikasikan rencana tindak lanjut kepada pihak terkait c) Melaksanakan rencana tindak lanjut a) b) c) Laporan Menyusun laporan kegiatan aplikasi instrumenasi Menyampaikan laporan kepada pihak terkait Mendokumentasikan laporan kegiatan

5)

b.

Pengolahan hasil instrumen Hasil pengadministrasian instrumen harus segera diolah, untuk selanjutnya dipergunakan dalam pelayanan bimbingan dan konseling tertentu terhadap siswa yang bersangkutan. Sedapatdapatnya paling lambat dalam satu minggu hasil instrumen telah terolah dan digunakan. Apabila pengolahan tertunda, hasil-hasil pengadministrasian instrumen tersebut akan menjadi kedaluarsa, tidak cocok lagi dengan keadaan siswa yang sudah berubah. Jika hasil demikian itu terjadi, maka hasil instrumen akan menjadi siasia. Masalah-masalah siswa pada satu atau dua bulan kemudian, lebih-lebih dalam waktu yang lebih lama lagi, besar kemungkinan berbeda dari masalah-masalah yang mereka alami dan terungkapkan melalui instrumen pada waktu sebelumnya; kesegeraan dalam pengolahan hasil AUM akan menjunjung azas kekinian dalam bimbingan dan konseling (Mudjiran dkk, 2010). Tata cara pengolahan hasil instrumen, biasanya sudah termuat dalam manual instrumen yang digunakan, khususnya instrumen yang sudah distandardisasikan. Sedangkan untuk instrumen yang dikembangkan sendiri oleh guru BK atau konselor, biasanya sewaktu pengembangan instrumen tersebut sudah
BIMTEK GURU BK SMK 2012 44

dirancang juga tata cara pengolahan datanya serta penggunaan hasilnya. Ada di antara instrumen yang pengolahan datanya dengan men-tally atau menghitung frekuensi dan persentase, dan membandingkannya dengan kriteria/norma (yang telah ditetapkan); ada pula jenis instrumen yang pengolahannya menggunakan kunci untuk memperoleh skor (misalnya tes, AUM PTSDL) dan membandingkannya dengan kriteria/norma yang ada dalam manual instrumen. Di sisi lain, untuk satu instrumen, pengolahan hasilnya dapat dilakukan per item dan dapat pula untuk keseluruhan item dalam satu instrumen tersebut. Sesuai dengan kelompok data, hasil pengolahan instrumen akan mengarah pada pengelompokan data tersebut, yaitu berupa data individual, kelompok, umum, dan khusus. Satu instrumen yang diadministrasikan terhadap sekelompok atau satu kelas siswa, akan menghasilkan minimal data individual dan kelompok. Ditinjau dari keperluan pengumpulan data, yaitu untuk keperluan penyusunan program bimbingan dan konseling, dengan mengumpulkan data diri, potensi, kebutuhan dan permasalahan serta lingkungan siswa atau konseli, maka pengolahan data dan hasilnya mengarah pada keperluan tersebut. Artinya pengolahan data dan hasilnya, tidak hanya menghasilkan data berkenaan dengan kelemahan dan/atau masalah-masalah yang dialami siswa/konseli (hal-hal yang negatif), tetapi juga mengarah pada potensi (kekuatan dan hal-hal yang positif) dan kebutuhan siswa/konseli. Untuk data kelemahan/masalah siswa akan dientaskan, sedangkan untuk data potensi akan dikembangkan melalui program bimbingan dan konseling. Berikut dikemukakan langkah-langkah umum pengolahan data dari suatu instrumen dengan cara manual. 1. Menyiapkan kelengkapan pengolahan data, terutama formatformat hasil pengolahan, baik untuk jenis data individual maupun kelompok (tabel tabulasi, tabel data individual dan kelompok), kunci/pedoman scoring (untuk intrumen yang memerlukan kunci), dan norma. Melakukan pengolahan, baik dengan men-tally/menghitung frekuensi dan persentase, ataupun menskor jawaban siswa/konseli Memasukkan hasil pengolahan (langkah kedua) ke dalam tabel-tabel atau format-format yang telah dipersiapkan. Mengkonversi hasil pengolahan data dengan kriteria/norma instrumen (sesuai manual) Menginterpretasikan hasil pengolahan data
BIMTEK GURU BK SMK 2012 45

2.

3. 4. 5.

6.

Menetapkan arah penggunaan hasil instrumenasi

Apabila pengolahan data dilakukan dengan menggunakan program computer (misalnya AUM Umum dan AUM PTSDL, ITP, Sosiometri, tes, atau instrumen lain yang telah dirancang program pengolahannya), biasanya guru BK atau konselor cukup mengentrikan data dan mengikuti perintah-perintah yang ada dalam manual program pengolahan data instrumen tersebut. Melalui program tersebut, data hasil pengolahan akan diperoleh, baik untuk data kelompok maupun individual.

c.

Penafsiran hasil Setelah pengolahan data hasil instrumen (khususnya setelah konversi data dengan menggunakan kriteria/norma), langkah berikutnya yang harus dilakukan oleh guru BK atau konselor adalah penafsiran atau interpretasi data. Hasil interpretasi itu akan dimasukkan ke dalam himpunan data yang selanjutnya akan digunakan untuk penyusunan program bimbingan dan konseling. Tata cara interpretasi data, biasanya juga termuat dalam manual instrumen atau telah dirancang sebelumnya sewaktu pengembangan instrumen yang dilakukan oleh guru BK/konselor. Oleh sebab itu, bagi konselor yang menggunakan instrumen yang dikembangkan oleh orang lain (sudah distandardisasikan), guru BK/konselor harus mempelajari manualnya dengan seksama, supaya tidak terjadi kekeliruan, baik dalam pengadministrasian, pengolahan ataupun dalam interpretasinya. Kesalahan akan berakibat, di samping data tidak valid dan terbuang sia-sia sehingga program bimbingan dan konseling tidak tepat sasaran, membahayakan terhadap pribadi-pribadi siswa/konseli. Interpretasi instrumen, biasanya dapat dilakukan untuk data kelompok/kelas dan data individual; untuk setiap item dan untuk keseluruhan item (total) dalam suatu instrumen. Dari hasil interpretasi tersebut akan diketahui potensi, kebutuhan dan permasalahan serta lingkungan siswa atau konseli. Untuk data individual misalnya, akan diketahui potensi, kebutuhan, masalahmasalah yang dialami, serta kondisi lingkungan yang menghambat ataupun yang menunjang kesuksesan dan perkembangan siswa/konseli, sedangkan dari data kelompok akan dapat dilihat potensi, kebutuhan, masalah-masalah yang dialami, serta kondisi lingkungan yang menghambat ataupun yang menunjang kesuksesan untuk sekelompok siswa/konseli. Dari data tersebut, juga akan diketahui perbandingan antara individu dengan individu lain atau antara individu dengan kelompok, misalnya dengan memperhatikan rerata, range, skor tertinggi dan terendah. Dengan kata lain, dari hasil interpretasi, akan diketahui siapa dan
BIMTEK GURU BK SMK 2012 46

bagaimana potensi, kebutuhan, dan kondisi (positif dan negatif), baik secara individual maupun dalam posisinya sebagai anggota kelompok/kelas.

4.

Himpunan Data Data merupakan gambaran atau keterangan atau catatan tentang ada dan keadaan tertentu, sedangkan himpunan data ( commulative record) berarti berbagai jenis data dihimpun, dikolompokkan dan dikemas dalam bentuk tertentu; dengan tujuan menyediakan data dalam kualitas yang baik dan lengkap untuk menunjang pelayanan konseling sesuai dengan kebutuhan konseli (Prayitno, 2012). Kegiatan himpunan data dalam bimbingan dan konseling berarti kegiatan menghimpun data yang relevan dengan pengembangan peserta didik/sasaran layanan, yang diselenggarakan secara berkelanjutan, sistematis, komprehensif, terpadu, dan bersifat rahasia (Pusat Kurikulum, Balitbang Depdiknas, 2011). Data yang dihimpun tersebut adalah berkanaan dengan: a. Data perkembangan, kondisi dan lingkungan diri pribadi siswa, seperti: Identitas diri Potensi dasar: inteligensi, bakat, minat Identitas keluarga Riwayat kesehatan Catatan anekdot (kejadian khusus) Masalah diri pribadi b. Data perkembangan, kondisi hubungan dan lingkungan sosial, seperti: Sosiogram Teman dekat Data hubungan sosial Masalah sosial c. Data kemampuan, kegiatan dan belajar, seperti: Nilai hasil belajar Data kegiatan belajar Riwayat pendidikan Masalah belajar d. Data kemampuan, arah dan persiapan karir, seperti: Pekerjaan orangtua/keluarga Bakat-minat karir; jurusan yang diambil Masalah karir

BIMTEK GURU BK SMK 2012

47

Ditinjau dari pengelompokan data (pribadi, kelompok, umum), Prayitno (2012) mengemukakan tiga pengelompokan data, yaitu a. Data pribadi: semua data yang berkaitan dengan pribadi seseorang, antara lain: Identitas pribadi: nama, gelar, tempat dan tanggal lahir, alamat, kewarganegaraan, agama Kondisi fisik dan kesehatan Potensi diri: kemampuan dasar, bakat, minat dan kecenderungan pribadi, cita-cita Hasil karya Status dan kondisi keluarga Status dan kondisi pekerjaan atau karir Kondisi kehidupan sehari-hari dan permasalahannya b. Data Kelompok: Data mengenai sekelompok individu, antara lain: Hubungan sosial antar individu Kondisi kebersamaan Kerjasama kelompok Hasil belajar sekelompok individu c. Data Umum: Data yang tidak mengenai diri seseorang dan tidak pula berkenaan dengan kelompok individu tertentu (berasal dari luar diri pribadi atau kelompok). Misalnya kumpulan leaflet, brosur, informasi karir dan pendidikan, data lingkungan, dan sumber informasi lain) Dalam penyelenggaraannya, data dapat dihimpun dalam (1) buku data pribadi, (2) himpunan lembaran dengan format yang dirancang khusus, (3) kumpulan data kelompok dan laporan kegiatan, (4) program computer (file), (5) kumpulan data umum. Sedangkan kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam kegiatan himpunan data adalah (Prayitno, 2012): a. Menghimpun data Data pribadi Data kelompok Data umum b. Pengembangan Data Langsung: dari sumber asli Luas: sebanyak-banyaknya tetapi sesuai keperluan Lugas: bersifat apa adanya, padat dan jelas Luwes: tidak statis, yang tidak berguna dibuang, dan selalu ditambah dengan data baru yang benar-benar berguna Lancar: mudah penyelenggaraannya dan mudah menggunakannya, mudah menghimpunnya dan mudah pula mengaksesnya untuk digunakan c. Penggunaan Data
BIMTEK GURU BK SMK 2012 48

Perencanaan/program layanan Isi layanan Laporan kegiatan layanan Secara umum, operasionalisasi kegiatan himpunan data (mulai dari perencanaan sampai pada pelaporan adalah sebagai berikut (Mudjiran dkk, 2010; Prayitno, 2012). a. Perencanaan 1) Menetapkan jenis dan klasifikasi data serta sumber-sumbernya 2) Menetapkan bentuk himpunan data 3) Menetapkan dan himpunan data menata fasilitas pengisian, untuk penyelengaraan dan

4) Menetapkan mekanisme penggunaan himpunan data

pemelihraaan

5) Menyiapkan kelengkapan administrasi b. Pelaksanaan 1) Mengumpulkan dan memasukkan data ke dalam himpunan data sesuai dengan klasifikasi dan sistem etika yang ditetapkan 2) Memanfaatkan data untuk berbagai jenis layanan konseling 3) Memelihara dan mengembangkan himpunan data c. Evaluasi 1) Mengkaji efisiensi, sistematika dan penggunaan fasilitas yang digunakan 2) Memeriksa kelengkapan, keakuratan, kemanfaatan data dalam himpunan data d. keaktualan dan

Tindak Lanjut, mengembangkan lebih lanjut sesuai dengan hasil evaluasi: 1) Bentuk, klasifikasi, dan sistematika data 2) Kelengkapan, keakuratan dan keaktualan data 3) Kemanfataan data 4) Penggunaan teknologi 5) Teknik penyelenggaraan

e. Laporan 1) Menyusun laporan (secara berkala) kegiatan himpunan data 2) Menyampaikan laporan kepada pihak terkait
BIMTEK GURU BK SMK 2012 49

3) Mendokomentasikan laporan

5.

Pelaporan Kegiatan instrumenasi dan himpunan data yang dilakukan perlu disusun laporannya untuk berbagai keperluan, baik berkaitan dengan proses, instrumen dan fasilitas yang digunakan, hasil, dan penggunaannya. Suatu hal yang sangat perlu diperhatikan, baik berkenaan dengan penyusunan, penyimpanan/pendokumentasian ataupun penyampaian laporan kepada pihak terkait, adalah penerapan azas kerahasiaan. Jangan sampai data tentang siswa sampai kepada pihak-pihak yang dapat merugikan siswa/konseli. Secara umum, kegiatan yang dilakukan dalam pelaporan adalah: a. Menyusun laporan, yang memuat tentang proses, instrumen dan fasilitas yang digunakan, hasil dan penafsirannya,serta penggunaan atau arah penggunaan data. b. Menyampaikan laporan kepada pihak terkait, misalnya kepada kepala sekolah/wakil, dengan memperhatikan azas kerahasiaan c. Mendokomentasikan laporan dengan memperhatikan azas kerahasiaan

D.

Latihan Dalam kegiatan Bimtek ini, peserta diharapkan melakukan latihan, baik secara sendiri-sendiri ataupun secara berkelompok. Latihan dilakukan dalam kelas yang didampingi oleh instruktur. Hasil yang diharapkan dari latihan ini adalah peserta dapat mengaplikasikan kemampuannya di tempat bertugas, terutama berkenaan dengan instrumen dan kegiatan himpunan data dalam pelayanan bimbingan dan konselig di SMK. Materi latihan dapat berupa pengembangan item-item dari contoh instrumen yang sudah dikemukakan dalam bab ini (daftar cek, skala, tally), pengembangan instrumen wawancara, angket, sosiometri, atau melakukan kegiatan himpunan data, atau mengerjakan latihan dengan mengisi format-format yang tertera pada lampiran. Lampiran (Petunjuk dan format latihan) 1. Teknik/Instrumen yang Digunakan Petunjuk: 1. Tulis jenis data dan tentukan teknik/instrumen yang digunakan untuk pengumpulan data dengan mengisi tabel di bawah ini!
BIMTEK GURU BK SMK 2012 50

E.

Jenis Data dan

2.

Kelompokkan data tersebut dan rancang instrumen yang akan digunakan untuk pengumpulan data tersebut

BIMTEK GURU BK SMK 2012

51

Tabel Jenis Data dan Teknik/Instrumen yang Digunakan Teknik/Instrumen No Jenis Data Obs Wwc Ang Ket Tes Sosiometri Cat anek AUM ITP . . .

BIMTEK GURU BK SMK 2012

52

2. Layanan yang Dilaksanakan Petunjuk:

Jenis Data dan Jenis

Tulis jenis data dan tentukan jenis layanan yang dilaksanakan dengan mengisi tabel di bawah ini!
Tabel Jenis Data dan Jenis Layanan yang Dilaksanakan Jenis Layanan

No

Jenis Data

BIMTEK GURU BK SMK 2012

53

BAB II PROGRAM BIMBINGAN DAN KONSELING

A. PENGANTAR Siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) terkategori usia remaja, memiliki potensi untuk berkembang, unik dan dinamik, mempunyai kesempatan untuk memperoleh fasilitasi pendidikan dan bimbingan dan konseling. Siswa memiliki keterbatasan, memiliki harapan untuk sukes studi dan karirnya, memiliki hak untuk menempuh pendidikan, mengharapkan dapat bekerja sesuai dengan potensinya dan mengharapkan mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan. Siswa dalam kehidupannya tidak lepas dari persoalan yang harus diatasinya dan karena keterbatasan memerlukan bantuan dari pihak lain. Untuk itu, dalam hal ini peran bimbingan dan konseling memberikan fasilitasi bagi siswa untuk dapat mengoptimalkan fungsi potensinya sehingga dapat mencapai kemandirian dan dapat mengatasi persoalannya secara bertanggung jawab. Bimbingan dan konseling (BK) dalam seting pendidikan dilaksanakan oleh tenaga professional yaitu Sarjana Pendidikan bidang Bimbingan dan Konseling dan telah menempuh pendidikan profesi konselor. Tenaga yang
BIMTEK GURU BK SMK 2012 54

tidak professional diyakini tidak dapat melaksanakan tugas profesinya dengan baik. Kinerja Guru BK yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan siswa sangatlah diharapkan, dan program layanan BK di sekolah membantu tercapainya tujuan pendidikan nasional sebagaimana dituangkan dalam UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta tanggung jawab. BK memfasilitasi mengentaskan siswa agar dapat mandiri, berkembang optimal,

persoalan secara bertangung jawab dan mencapai

kehidupan yang sejahtera dan bahagia. Untuk melaksanakan layanan profesi BK diperlukan tenaga professional dalam bidang BK, kebijakan pemerintah yang mendukung program BK, dan kesadaran masyarakat terhadap profesi. Salah satu tugas guru BK sesuai dengan rumusan stadar kompetensi konselor sebagaimana tertuang dalam Permendiknas No. 27 Tahun 2008 adalah mampu merancang program bimbingan dan konseling. Untuk itu, diperlukan bimtek bagi guru BK tentang kompetensi tersebut. B. KOMPETENSI, SUB KOMPETENSI, DAN INDIKATOR KOMPETENSI Materi bimbingan teknis bagi guru BK SMK disiapkan untuk memberikan pengalaman pelajar yang sesuai dengan kompetensi yang harus dimiliki oleh guru BK atau konselor yaitu kompetensi profesional konselor.

BIMTEK GURU BK SMK 2012

55

SUB KOMPETENSI : Sub kompetensi profesional yang disiapkan bagi guru BK SMK dalam Bab ini adalah Merancang Program Bimbingan dan Konseling.

INDIKATOR Beberapa indikator materi bimbingan teknis (bimtek) kompetensi profesional dengan sub kompetensi merancang program Bimbingan dan Konseling, meliputi : 1. Menganalisis kebutuhan konseli 2. Menyusun program bimbingan dan konseling yang berkelanjutan berdasarkan kebutuhan peserta didik secara komprehensif dengan pendekatan perkembangan 3. Menyusun rencana pelaksanaan program bimbingan dan konseling 4. Merencanakan sarana dan biaya penyelenggaraan program bimbingan dan konseling. C. MATERI. 1. TUJUAN BIMBINGAN DAN KONSELING Tujuan pelayanan BK ialah membantu siswa/ konseli agar dapat: (1) merencanakan kegiatan penyelesaian studi, perkembangan karir serta kehidupan-nya di masa yang akan datang; (2) mengembangkan seluruh potensi dan kekuatan yang dimilikinya seoptimal mungkin; (3) menyesuaikan diri dengan lingkungan pendidikan, lingkungan masyarakat serta lingkungan kerjanya; (4) mengatasi hambatan dan kesulitan yang dihadapi dalam studi, penyesuaian dengan lingkungan pendidikan, masyarakat, maupun lingkungan kerja. Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut, mereka harus

mendapatkan kesempatan untuk: (1) mengenal dan memahami potensi, kekuatan, dan tugas-tugas perkem-bangannya, (2) mengenal dan memahami potensi atau peluang yang ada di lingkungannya, (3) mengenal dan menentukan tujuan dan rencana hidupnya serta rencana
BIMTEK GURU BK SMK 2012 56

pencapaian tujuan tersebut, (4) memahami dan mengatasi kesulitankesulitan sendiri (5) menggunakan kemampuannya untuk kepentingan dirinya, kepentingan lembaga tempat bekerja dan masyarakat, (6) menyesuaikan diri dengan keadaan dan tuntutan dari lingkungannya; dan (7) mengembangkan segala potensi dan kekuatan yang dimilikinya secara optimal. Secara khusus BK bertujuan untuk membantu siswa/ konseli agar dapat mencapai tugas-tugas perkembangannya yang meliputi aspek pribadi-sosial, belajar (akademik), dan karir. 1. Aspek pribadi-sosial siswa. a. Memiliki komitmen yang kuat dalam mengamalkan nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan YME, baik dalam kehidupan pribadi, keluarga, pergaulan dengan teman sebaya, sekolah, tempat kerja, maupun masyarakat pada umumnya. b. Memiliki sikap toleransi terhadap umat beragama lain, dengan saling menghormati dan memelihara hak dan kewajibannya masing-masing. c. Memiliki pemahaman tentang irama kehidupan yang bersifat fluktuatif antara yang menyenangkan (anugrah) dan yang tidak menyenangkan (musibah), serta dan mampu meresponnya secara positif sesuai dengan ajaran agama yang dianut. d. Memiliki pemahaman dan penerimaan diri secara objektif dan konstruktif, baik yang terkait dengan keunggulan maupun kelemahan; baik fisik maupun psikis. e. Memiliki sikap positif atau respek terhadap diri sendiri dan orang lain. f. Memiliki kemampuan untuk melakukan pilihan secara sehat g. Bersikap respek terhadap orang lain, menghormati atau menghargai orang lain, tidak melecehkan martabat atau harga dirinya. h. Memiliki rasa tanggung jawab, yang diwujudkan dalam bentuk komitmen terhadap tugas atau kewajibannya. i. Memiliki kemampuan berinteraksi sosial (human relationship), yang diwujudkan dalam bentuk hubungan persahabatan, persaudaraan,

BIMTEK GURU BK SMK 2012

57

atau silaturahim dengan sesama manusia. j. Memiliki kemampuan dalam menyelesaikan konflik (masalah) baik bersifat internal (dalam diri sendiri) maupun dengan orang lain.. k. Memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan secara efektif. 2. Aspek belajar adalah sebagai berikut. a. Memiliki kesadaran tentang potensi diri dalam aspek belajar, dan memahami berbagai hambatan yang mungkin muncul dalam proses belajar yang dialaminya. b. Memiliki sikap dan kebiasaan belajar yang positif, seperti kebiasaan membaca buku, disiplin dalam belajar, mempunyai perhatian terhadap semua pelajaran, dan aktif mengikuti semua kegiatan belajar yang diprogramkan. c. Memiliki motif yang tinggi untuk belajar sepanjang hayat. d. Memiliki keterampilan atau teknik belajar yang efektif, seperti keterampilan membaca buku, mengggunakan kamus, mencatat pelajaran, dan mempersiapkan diri menghadapi ujian. e. Memiliki keterampilan untuk menetapkan tujuan dan perencanaan pendidikan, seperti membuat jadwal belajar, mengerjakan tugastugas, memantapkan diri dalam memperdalam pelajaran tertentu, dan berusaha memperoleh informasi tentang berbagai hal dalam rangka mengembangkan wawasan yang lebih luas. f. Memiliki kesiapan mental dan kemampuan untuk menghadapi ujian. 3. a. b. c. Aspek karir adalah sebagai berikut. Memiliki pemahaman diri (kemampuan, minat dan kepribadian) yang terkait dengan pekerjaan. Memiliki pengetahuan mengenai dunia kerja dan informasi karir yang menunjang kematangan kompetensi karir. Memiliki sikap positif terhadap dunia kerja. Dalam arti mau bekerja dalam bidang pekerjaan apapun, tanpa merasa rendah diri, asal bermakna bagi dirinya, dan sesuai dengan norma agama. d. Memahami relevansi kompetensi belajar (kemampuan menguasai pelajaran) dengan persyaratan keahlian atau keterampilan bidang

BIMTEK GURU BK SMK 2012

58

pekerjaan yang menjadi citra-cita karirnya masa depan. e. Memiliki kemampuan untuk membentuk identitas karir, dengan cara mengenali ciri-ciri pekerjaan, kemampuan (persyaratan) yang dituntut, lingkungan sosiopsikologis pekerjaan, prospek kerja, dan kesejahteraan kerja. f. Memiliki kemampuan merencanakan masa depan, yaitu merancang kehidupan secara rasional untuk memperoleh peran-peran yang sesuai dengan minat, kemampuan, dan kondisi kehidupan sosial ekonomi. g. Dapat membentuk pola-pola karir, yaitu kecenderungan arah karir. Apabila seorang siswa bercita-cita menjadi seorang guru, maka dia senantiasa harus mengarahkan dirinya kepada kegiatan-kegiatan yang relevan dengan karir keguruan tersebut. h. Mengenal keterampilan, kemampuan dan minat. Keberhasilan atau kenyamanan dalam suatu karir amat dipengaruhi oleh kemampuan dan minat yang dimiliki. Oleh karena itu, maka setiap orang perlu memahami kemampuan dan minatnya, dalam bidang pekerjaan apa dia mampu, dan apakah dia berminat terhadap pekerjaan tersebut. i. Memiliki kemampuan atau kematangan untuk mengambil keputusan karir. Untuk dapat memberikan pengalaman belajar yang memadai tentang aspek karir siswa, maka dapat dilakukan beberapa upaya antara lain: guru BK atau konselor menyusun materi informasi sesuai tujuan BK aspek karir yaitu nomor 3 a s/d i, siswa diberikan informasi dunia karir baik jenis maupun persaratan dan cara mencapai karir tersebut, menghadirkan alumni yang berhasil untuk memberikan informasi dan orientasi keberhasilannya, oberservasi dan magang ke berbagai dunia usaha dan industri yang relevan dengan potensi siswa, pameran hasil karya siswa yang dapat diperdagangkan, dan kerjasama dengan lembaga usaha dan industri untuk memberikan pengalaman belajar dan peluang berkar ya serta kesempatan

BIMTEK GURU BK SMK 2012

59

bekerja. Layanan BK bersifat (1) pencegahan dalam arti bahwa mencegah jangan sampai siswa memiliki masalah,(2) perbaikan dalam arti memperbaiki kesalahan pikiran-perasaan-perilaku, (3) penyembuhan dalam arti menyembuhkan penyakit yang dapat sembuh dengan informasi-informasi yang tepat, (4) pemeliharaan dalam arti memelihara situasi dan kondisi siswa agar tetap terjaga menjadi stabil, dan (5) pengembangan dalam arti mengembangan bakat dan minat sesuai dengan potensi yang dimiliki siswa dan kesempatan yang ada. Di samping itu, layanan BK berfungsi: (1) pemahaman dalam arti membantu siswa untuk memahami diri secara baik tentang kelebihan dan kelemahannya, (2) penyesuaian dalam arti membantu siswa untuk menyesuaian terhadap situasi baru dimana siswa berada, (3) penyaluran dalam arti membantu siswa untuk menyalurkan bakat, minat dan kegemaran sesuai dengan kesempatan yang ada, (4) penempatan dalam arti membantu menempatkan siswa sesuai dengan ketentuan yang diberlakukan, (5) pengadaptasian dalam arti membantu pihak lain dalam upaya memahami siswa untuk kepentingan layanan bagi siswa yang bersangkutan. Strategi layanan BK antara lain dapat dilakukan dengan cara konseling individual, konseling kelompok, bimbingan kelompok, bimbingan klasikal, media, pertemuan kasus, kerjasama dengan profesi lain, referral, kerjasama dengan orang tua, home visit, kerjasama dengan instansi/lembaga/perusahaan yang dapat mengembangkan potensi siswa. 2. ANALISIS POTENSI DAN KEBUTUHAN Layanan BK diperuntukkan bagi seluruh siswa terkategori normal dalam upaya memberikan bantuan pencapaian keberhasilan belajar, pengembangan pribadi, sosial, dan karirnya. Untuk dapat memberikan layanan BK secara baik dan terarah diperlukan pemahaman secara mendalam tentang diri siswa (konseli) dan kondisi sekolah serta prospek siswa setelah lulus SMK. Pemahaman tentang diri siswa dapat dilakukan dengan cara penerapan teknik tes dan teknik non tes (sebagaimana diuraikan di Bab I).

BIMTEK GURU BK SMK 2012

60

Setidaknya perlu memahami siswa tentang identitas, kondisi fisik, psikis, latar belakang keluarga, latar belakang sekolah/pendidikan, latar belakang sosio-kultural dan kemasyarakatan. Hasil pemahaman dapat dipergunakan sebagai dasar penyusunan program layanan BK. Kondisi fisik siswa antara lain meliputi kelengkapan anggota tubuh, kesehatan panca indera, kesehatan organ tubuh, dan fungsi organ tubuh, kelebihan dan kelemahan fisik. Kondisi psikis siswa antara lain meliputi bakat, minat, motivasi, kecerdasan, kepribadian, kedisiplinan, kebiasaan, cita-cita, emosi, ketrampilan, hoby, prestasi yang dicapai, perkembangan siswa, dan kebutuhan layanan. Kondisi keluarga antara lain meliputi identitas orang tua, status anak dalam keluarga, status sosial ekonomi, pendidikan orang tua, intensitas hubungan antar anggota keluarga, fasilitas kebutuhan dalam kehidupan, perhatian orang tua. Kondisi latar belakang sekolah/pendidikan antara lain meliputi status sekolah, fasilitas sekolah, iklim sekolah, pengalaman belajar, keberhasilan dalam pendidikan, kegagalan dalam pendidikan, kondisi lingkungan dalam sekolah, hubungan sosial dengan guru-karyawan-antar teman, kualitas pendidik dan tenaga kependidikan. Kondisi latar belakang sosio-kultural dan kemasyarakatan antara lain meliputi budaya yang dianut, karakterisitik budayanya, peran dalam kemasyarakatan, kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari, tokoh-tokoh yang dianut dan disegani. Siswa memiliki kebutuhan dan diharapkan berkembang optimal sesuai dengan potensi diri dan mencapai kemandirian dalam kehidupannya. Guru BK atau Konselor hendaknya memahami dan memberikan bantuan pengembangan diri siswa sebagaimana yang telah dirumuskan menjadi Standar Kompetensi Kemandirian Peserta Didik (SKKPD) yang meliputi (1) Landasan hidup religius; (2) Landasan perilaku etis; (3) Kematangan emosi; (4) Kematangan intelektual; (5) Kesadaran tanggung jawab sosial; (6) Kesadaran gender; (7) Pengembangan diri; (8) Perilaku kewirausahaan (kemandirian perilaku ekonomis); (9) Wawasan dan kesiapan karier; (10) Kematangan hubungan dengan teman sebaya; dan (11) Kesiapan diri untuk menikah dan berkeluarga. Masing-masing aspek perkembangan memiliki

BIMTEK GURU BK SMK 2012

61

tiga dimensi tujuan, yaitu: (1) pengenalan/penyadaran (memperoleh pengetahuan dan pemahaman tentang aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai); (2) akomodasi (memperoleh pemaknaan dan internalisasi atas aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai) dan (3) tindakan (perilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari dari aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai). Pemahaman tentang standar kompetensi kemandirian peserta didik (SKKPD) BK atau konselor.
STANDAR KOMPETENSI KEMANDIRIAN PESERTA DIDIK PADA SEKOLAH LANJUTAN TINGKAT ATAS

dan penyiapan materi layanan dan

memberikannya secara terencana dan terjadwal perlu dilakukan oleh guru

No

Aspek Perkembangan
Landasan hidup

Tataran/Internalisasi Tujuan Pengenalan


Mempelajari hal ihwal ibadah Mengenal

Akomodasi
Mengembangkan pemikiran tentang

Tindakan
Melaksanakan ibadah atas keyakinan sendiri

1 religious

kehidupan beragama disertai sikap toleransi Menghargai norma sebagai rujukan pengambilan keputusan Bersikap toleran terhadap ragam ekspresi perasaan lain Berperilaku atas dasar keputusan yang mempertimbangkan aspek-aspek etis Mengekspresikan perasaan dalam caracara yang bebas,terbuka konflik Mengambil keputusan masalah atas dasar
62

Landasan perilaku 2 etis

keragaman sumber Keragaman sumber norma yang berlaku di masyaraakat Mempelajari cara-

Kematangan emosi

cara menghindari konflik dengan orang lain

diri sendiri dan orang dan tidak menimbulkan

Kematangan 4 intelektual

Mempelajari cara- Menyadari akan keputusan dan keputusan dan

cara pengambilan keragaman alternatif dan pemecahan

BIMTEK GURU BK SMK 2012

No

Aspek Perkembangan Pengenalan


pemecahan masalah secara objektif

Tataran/Internalisasi Tujuan Akomodasi


konsekuensi yang dihadapinya Menyadari nilai-nilai

Tindakan
informasi/data secara objektif

Kesadaran 5 tanggung jawab sosial

Mempelajari keragaman interaksi sosial

persahabatan dan

Berinteraksi dengan

keharmonisan dalam orang lain atas dasar konteks keragaman kesamaan interaksi sosial Menghargai

Mempelajari Kesadaran gender antar jenis dalam

keragaman peraan

Berkolaborasi secara harmonis dengan lain

perilaku kolaborasi laki-laki atau

perempuan sebagai jenis dalam keragaman keharmonisan hidup

ragam kehidupan aset kolaborasi dan peran

Mempelajari Pengembangan diri

Menerima keunikan

keunikan diri dalam diri dengan segala konteks kehidupan kelebihan dan sosial Mempelajari strategi dan Menerima nilai-nilai hidup hemat,ulet sungguh-sungguh peluang untuk berperilaku kekurangannya

Menampilkan keunikan diri secara harmonis dalam keragaman

Perilaku kewirausahaan

Menampilkan hidup hemat, ulet, sungguhsungguh dan kompetitif atas dasar kesadaran sendiri

hemat,ulet, dan kompetitif 8 (kemandirian sengguh-sungguh sebagai aset untuk perilaku ekonomis) dan kompetitif mencapai hidup dalam keragaman mandiri kehidupan Wawasan dan 9 kesiapan karier Mempelajari kemampuan diri, Internalisasi nilai-

Mengembangkan karir dengan


63

niolai yang melandasialternatif perencanaan

peluang dan ragam pertimbangan

BIMTEK GURU BK SMK 2012

No

Aspek Perkembangan Pengenalan


pekerjaan, pendidikan, dan aktifitas yang terfokus pada pengembangan

Tataran/Internalisasi Tujuan Akomodasi Tindakan

pemilihan alternatif karir

mempertimbangkan kemampuan, peluang dan ragam karir

alternatif karir yang lebih terarah Mempelajari caraKematangan 10 hubungan dengan teman sebaya cara membina dan kerjasama dan toleransi dalam pergaulan dengan teman sebaya Menghargai nilai-nilai kerjasama dan toleransi sebagai persahabatan dengan teman sebaya Mengharagai normanorma pernikahan Kesiapan diri untuk Mengenal norma11 menikah dan berkeluarga norma pernikahan dan berkeluarga dan berkeluarga sebagai landasan bagi terciptanya kehidupan masyarakat yang harmonis Mengekspresikan keinginannya untuk mempelajari lebih intensif tentang norma pernikahan dan berkeluarga Mempererat jalinan persahabatan yang lebih memperhatikan norma yang berlaku

dasar untuk menjalin akrab dengan

3. KONSELING

PENYUSUNAN

PROGRAM

BIMBINGAN

DAN

Program BK di SMK disusun atas dasar kebutuhan perkembangan diri siswa (standar kemandirian peserta didik), peta permasalahan yang dihadapi siswa, kondisi lingkungan sekolah, visi dan misi BK, kemampuan guru BK, fasilitasi sekolah, konsep BK serta mendukungan tercapainya
BIMTEK GURU BK SMK 2012 64

tujuan pendidikan nasional. Program dapat terlaksana dan mencapai hasil yang diharapkan sebagaimana dalam rancangan program apabila rancangan disusun secara tepat dan kualitas unggul dan dilaksanakan sesuai rencana. Program BK yang disusun tahunan, semesteran, bulanan, dan mingguan, masing-masing saling terkait sehingga menjadi satu matarantai rencana program BK yang utuh. Program BK memberikan gambaran apa yang akan dilaksanakan dalam layanan BK. Dalam rancangan program hendaknya disajikan : rasional, landasan hukum, visi dan misi BK, depkripsi hasil analisis kebutuhan layanan bagi siswa berdasarkan need asesmen, tujuan yang ingin dicapai dari program layanan, komponen program layanan yang akan dilaksanakan, bidang gerak, strategi layanan, sasaran, waktu pelaksanaan, personalia pelaksana program, evaluasi baik perencanaan, proses, maupun pelaksanaan, pengembangan rencana pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling (RPLBK), anggaran yang diperlukan dan sumber serta pertanggunganjawaban, dan pelaporan program BK. Dalam merumuskan program, struktur dan isi/materi program ini bersifat fleksibel disesuaikan dengan kondisi atau kebutuhan siswa berdasarkan hasil penilaian kebutuhan di masing-masing sekolah. 1. Rasional Rumusan dasar pemikiran tentang urgensi BK dalam keseluruhan program Sekolah. Ke dalam rumusan ini dapat menyangkut konsep dasar yang digunakan, kaitan BK dengan implementasi kurikulum, dampak perkembangan iptek dan sosial budaya terhadap gaya hidup masyarakat (termasuk para peserta didik), dan hal-hal lain yang dianggap relevan. 2. Visi dan Misi Secara mendasar visi dan misi BK perlu dirumuskan ulang ke dalam fokus isi: Visi: Membangun iklim Sekolah bagi kesuksesan siswa

BIMTEK GURU BK SMK 2012

65

Misi: Memfasilitasi seluruh siswa memperoleh dan menguasai kompetensi di bidang akademik, pribadi-sosial, karir berlandaskan pada tata kehidupan etis normatif dan ketaqwaan kepada Tuhan YME. Sedangkan visi dan misi ditentukan oleh sekolah masing-masing. 3. Deskripsi Kebutuhan Rumusan hasil needs assessment (penilaian kebutuhan) siswa dan lingkungannya ke dalam rumusan perilaku-perilaku yang diharapkan dikuasai peserta didik. Rumusan ini tiada lain adalah rumusan tugas-tugas perkembangan, yakni Standar Kompetensi Kemandirian Peserta Didik (SKKPD). 4. Tujuan a. Rumuskan tujuan yang akan dicapai dalam bentuk perilaku yang harus dikuasai siswa setelah memperoleh pelayanan BK. Tujuan hendaknya dirumuskan ke dalam tataran tujuan: b. Penyadaran, untuk membangun pengetahuan dan pemahaman peserta didik terhadap perilaku atau standar kompetensi yang harus dipelajari dan dikuasai c. Akomodasi, untuk membangun pemaknaan, internalisasi, dan menjadikan perilaku atau kompetensi baru sebagai bagian dari kemampuan dirinya, dan d. Tindakan, yaitu mendorong peserta didik untuk mewujudkan perilaku dan kompetensi baru itu dalam tindakan nyata sehari-hari. 5. Komponen Program Komponen program meliputi: (a) Komponen Pelayanan Dasar, (b) Komponen Pelayanan Responsif, (c) Komponen Perencanaan Individual, dan d) Komponen Dukungan Sistem (manajemen) 6. Rencana Operasional. Rencana kegiatan diperlukan untuk menjamin program BK dapat dilaksanakan secara efektif dan efesien. Rencana kegiatan adalah uraian detil dari program yang menggambarkan struktur isi program, baik kegiatan

BIMTEK GURU BK SMK 2012

66

di Sekolah maupun luar Sekolah, untuk memfasilitasi siswa mencapai tugas perkembangan atau kompetensi tertentu. Atas dasar komponen program di atas maka : a. Identifikasikan dan rumuskan berbagai kegiatan yang harus/perlu dilakukan. Kegiatan ini diturunkan dari perilaku/tugas perkembangan/ kompetensi yang harus dikuasai peserta didik b. Pertimbangkan porsi waktu yang diperlukan untuk melaksanakan setiap kegiatan di atas. Apakah kegiatan itu dilakukan dalam waktu tertentu atau terus menerus. Berapa banyak waktu dan yang diperlukan dalam untuk setiap melaksanakan pelayanan bimbingan konseling

komponen program perlu dirancang dengan cermat. Perencanaan waktu ini didasarkan kepada isi program dan dukungan manajemen yang harus dilakukan oleh konselor. c. Inventarisasikan kebutuhan yang diperoleh dari needs assessment ke dalam tabel kebutuhan yang akan menjadi rencana kegiatan. Rencana kegiatan dimaksud dituangkan ke dalam rancangan jadwal kegiatan untuk selama satu tahun. Rancangan ini bisa dalam bentuk matrik; Program Tahunan dan Program semester. d. Program BK Sekolah yang telah dituangkan ke dalam rencana kegiatan perlu dijadwalkan ke dalam bentuk kalender kegiatan. Kalender kegiatan mencakup kalender tahunan, semesteran, bulanan, dan mingguan. e. Program BK perlu dilaksanakan dalam bentuk (a) kontak langsung, dan (b) tanpa kontak langsung dengan siswa. Untuk kegiatan kontak langsung yang dilakukan secara klasikal di kelas (pelayanan dasar) perlu dialokasikan waktu terjadwal 2 (dua) jam pelajaran per-kelas per-minggu. Adapun kegiatan bimbingan tanpa kontak langsung dengan peserta didik dapat dilaksanakan melalui tulisan (seperti e-mail, buku-buku, brosur, atau majalah dinding), home visit, konferensi kasus , dan alih tangan (referral). 7. Pengembangan Tema/Topik (bisa dalam bentuk dokumen tersendiri) Tema ini merupakan rincian lanjut dari kegiatan yang sudah diidentifikasikan yang terkait dengan tugas-tugas perkembangan. Tema

BIMTEK GURU BK SMK 2012

67

secara spesifik dirumuskan dalam bentuk materi untuk setiap komponen program. 8. Pengembangan Satuan Pelayanan atau Rencana Pelayanan

Bimbingan dan Konseling (dapat dalam bentuk dokumen tersendiri) Dikembangkan secara bertahap sesuai dengan tema/topik. 9. Evaluasi Rencana evaluasi perkembangan siswa dirumuskan atas dasar tujuan yang ingin dicapai. Sejauh mungkin perlu dirumuskan pula evaluasi program yang berfokus kepada keterlaksanaan program, sebagai bentuk akuntabilitas pelayanan BK. 10. Anggaran Rencana anggaran untuk mendukung implementasi program dinyatakan secara cermat, rasional, dan realistik. 4. KONSELING Program BK mengandung empat komponen pelayanan, yaitu: (1) pelayanan dasar bimbingan, (2) pelayanan responsif, (3) perencanaan individual, dan (4) dukungan sistem. Keempat komponen program tersebut dapat digambarkan sebagai berikut.
Pelayanan Dasar

KOMPONEN

PROGRAM

BIMBINGAN

DAN

Komponen Program BK

Pelayanan Responsif

Peserta didik

Pelayanan Per.Indiv.
Pengembangan Profesional,

Dukungan Sistem

Konsultasi, Kolaborasi, dan Kegiatan


Manajemen

BIMTEK GURU BK SMK 2012

68

Gambar 1. Komponen Program Bimbingan dan Konseling Komposisi pengaturan waktu layanan setiap komponen program BK adalah Pelayanan Dasar = 25 35 %, Pelayanan responsive = 15 25 %, Pelayanan perencanaan individual = Dukungan sistem = 10-15% a. Pelayanan Dasar 1). Pengertian Pelayanan dasar diartikan sebagai proses pemberian bantuan kepada seluruh siswa/ konseli melalui kegiatan penyiapan pengalaman terstruktur secara klasikal atau kelompok yang disajikan secara sistematis dalam rangka mengembangkan perilaku jangka panjang sesuai dengan tahap dan tugas-tugas perkembangan (yang dituangkan sebagai standar kompetensi kemandirian peserta didik) yang diperlukan dalam pengembangan kemampuan memilih dan mengambil keputusan dalam menjalani kehidupannya. Penggunaan instrumen asesmen perkembangan dan kegiatan tatap muka terjadwal di kelas sangat diperlukan untuk mendukung implementasi komponen ini. Asesmen kebutuhan diperlukan untuk dijadikan landasan pengembangan pengalaman terstruktur yang disebutkan. 2). Tujuan Pelayanan ini bertujuan untuk membantu semua siswa/ konseli agar memperoleh perkembangan yang normal, memiliki mental yang sehat, dan memperoleh keterampilan dasar hidupnya, atau dengan kata lain membantu konseli agar mereka dapat mencapai tugas-tugas perkembangannya. Secara rinci tujuan pelayanan ini dapat dirumuskan sebagai upaya untuk membantu konseli agar (1) memiliki kesadaran (pemahaman) tentang diri dan lingkungannya (pendidikan, pekerjaan, sosial budaya dan agama), (2) mampu mengembangkan keterampilan untuk mengidentifikasi tanggung jawab atau seperangkat tingkah laku
BIMTEK GURU BK SMK 2012 69

25-35% (dapat maksimal), dan

yang layak bagi penyesuaian diri dengan lingkungannya, (3) mampu menangani atau memenuhi kebutuhan dan masalahnya, dan (4) mampu mengembangkan dirinya dalam rangka mencapai tujuan hidupnya. 3). Fokus pengembangan Untuk dikembangkan mencapai tujuan tersebut, fokus perilaku yang menyangkut aspek-aspek pribadi, sosial, belajar dan

karir. Semua ini berkaitan erat dengan upaya membantu siswa/ konseli dalam mencapai tugas-tugas perkembangannya (sebagai standar kompetensi kemandirian). Materi pelayanan dasar dirumuskan dan dikemas atas dasar standar kompetensi kemandirian peserta didik self-esteem, (2) motivasi antara lain mencakup pengembangan: (1) pemecahan masalah,

berprestasi, (3) keterampilan pengambilan keputusan, (4) keterampilan (5) keterampilan hubungan antar pribadi atau dan (7) perilaku (2) berkomunikasi, (6) penyadaran keragaman budaya,

bertanggung jawab. Hal-hal yang terkait dengan perkembangan karir mencakup pengembangan: (1) fungsi agama bagi kehidupan, pemantapan pilihan program studi, (3) keterampilan kerja profesional, (4) kesiapan pribadi (fisik-psikis, jasmaniah-rohaniah) dalam menghadapi pekerjaan, (5) perkembangan dunia kerja, (6) iklim kehidupan dunia kerja, (7) cara melamar pekerjaan, (8) kasus-kasus kriminalitas, (9) bahayanya perkelahian masal (tawuran), dan (10) dampak pergaulan bebas. 4). Strategi Pelayanan dasar a).Bimbingan Kelas Program yang dirancang menuntut konselor untuk melakukan kontak langsung dengan para peserta didik di kelas. Secara terjadwal, konselor memberikan pelayanan bimbingan kepada para peserta didik. Kegiatan bimbingan kelas ini bisa berupa diskusi kelas atau brain storming (curah pendapat). b). Pelayanan Orientasi Pelayanan ini merupakan suatu kegiatan yang memungkinkan siswa dapat memahami dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, untuk
BIMTEK GURU BK SMK 2012 70

mempermudah atau memperlancar berperannya mereka di lingkungan baru tersebut. Pelayanan orientasi ini biasanya dilaksanakan pada awal program pelajaran baru. Materi pelayanan orientasi di sekolah biasanya mencakup organisasi sekolah, staf dan guru-guru, kurikulum, program BK, program ekstrakurikuler, fasilitas atau sarana prasarana, dan tata tertib sekolah. c). Pelayanan Informasi Yaitu pemberian informasi tentang berbagai hal yang dipandang bermanfaat bagi peserta didik. melalui komunikasi langsung, maupun tidak langsung (melalui media cetak maupun elektronik, seperti : buku, brosur, leaflet, majalah, dan internet). d). Bimbingan Kelompok Konselor memberikan pelayanan bimbingan kepada peserta didik melalui kelompok-kelompok kecil (5 s.d. 10 orang). Bimbingan ini ditujukan untuk merespon kebutuhan dan minat para peserta didik. Topik yang didiskusikan dalam bimbingan kelompok ini, adalah masalah yang bersifat umum (common problem) dan tidak rahasia, seperti : cara-cara belajar yang efektif, kiat-kiat menghadapi ujian, dan mengelola stress. e). Pelayanan Pengumpulan Data (Aplikasi Instrumentasi) Merupakan kegiatan untuk mengumpulkan data atau informasi tentang pribadi peserta didik, dan lingkungan peserta didik. Pengumpulan data ini dapat dilakukan dengan berbagai instrumen, baik tes maupun non-tes. b. Pelayanan responsif
1). Pengertian Pelayanan responsif merupakan pemberian bantuan kepada siswa / konseli yang menghadapi kebutuhan dan masalah yang memerlukan pertolongan dengan segera, sebab jika tidak segera dibantu dapat menimbulkan gangguan dalam proses pencapaian tugas-tugas perkembangan. Konseling individual, konseling krisis, konsultasi dengan orangtua, guru, dan alih tangan kepada ahli lain adalah ragam bantuan yang dapat dilakukan dalam pelayanan responsif. 2).Tujuan

BIMTEK GURU BK SMK 2012

71

Tujuan pelayanan responsif adalah membantu siswa konseli agar dapat memenuhi kebutuhannya dan memecahkan masalah yang dialaminya atau membantu konseli yang mengalami hambatan, kegagalan dalam mencapai tugas-tugas perkembangannya. Tujuan pelayanan ini dapat juga dikemukakan sebagai upaya untuk mengintervensi masalah-masalah atau kepedulian pribadi konseli yang muncul segera dan dirasakan saat itu, berkenaan dengan masalah sosial-pribadi, karir, dan atau masalah pengembangan pendidikan. 3). Fokus pengembangan Fokus pelayanan responsif bergantung kepada masalah atau kebutuhan konseli. Masalah dan kebutuhan konseli berkaitan dengan keinginan untuk memahami sesuatu hal karena dipandang penting bagi perkembangan dirinya secara positif. Kebutuhan ini seperti kebutuhan untuk memperoleh informasi antara lain tentang pilihan karir dan program studi, sumbersumber belajar, bahaya obat terlarang, minuman keras, narkotika, pergaulan bebas. Masalah lainnya adalah yang berkaitan dengan berbagai hal yang dirasakan mengganggu kenyamanan hidup atau menghambat perkembangan diri siswa/ konseli, karena tidak terpenuhi kebutuhannya, atau gagal dalam mencapai tugas-tugas perkembangan. Masalah siswa / konseli pada umumnya tidak mudah diketahui secara langsung tetapi dapat dipahami melalui gejala-gejala perilaku yang ditampilkannya. Masalah yang mungkin dialami siswa/ konseli diantaranya: (1) merasa cemas tentang masa depan, (2) merasa rendah diri, (3) berperilaku impulsif (kekanak-kanakan atau melakukan sesuatu tanpa mempertimbangkannya secara matang), (4) membolos dari sekolah, (5) malas belajar, (6) kurang memiliki kebiasaan belajar yang positif, (7) kurang bisa bergaul, (8) prestasi belajar rendah, (9) malas beribadah, (10) masalah pergaulan bebas ( free sex), (11) masalah tawuran, (12) manajemen stress, dan (13) masalah dalam keluarga.

BIMTEK GURU BK SMK 2012

72

4). Strategi pelayanan responsive. a). Konseling Individual dan Kelompok Pemberian pelayanan konseling ini ditujukan untuk membantu siswa/konseli yang mengalami kesulitan atau hambatan dalam mencapai tugas-tugas perkembangannya. Melalui konseling, siswa/ konseli dibantu untuk mengidentifikasi masalah, penyebab masalah, penemuan alternatif pemecahan masalah, dan pengambilan keputusan secara lebih tepat. Konseling ini dapat dilakukan secara individual maupun kelompok. b). Referal Apabila guru BK atau konselor merasa kurang memiliki kemampuan untuk menangani masalah siswa/ konseli, maka sebaiknya dia mereferal atau mengalihtangankan kepada ahli lain yang lebih berwenang. Siswa/ konseli yang sebaiknya direferal adalah mereka yang memiliki masalah, seperti depresi, tindak kejahatan (kriminalitas), kecanduan narkoba, dan penyakit kronis. c). Kolaborasi dengan Guru Mata Pelajaran atau Wali Kelas. Guru BK atau konselor berkolaborasi dengan guru mata pelajaran dan wali kelas dalam rangka memperoleh informasi tentang siswa (seperti : prestasi belajar, kehadiran, aktivitas selama pembelajaran), membantu memecahkan masalah siswa, dan mengidentifikasi aspek-aspek bimbingan yang dapat dilakukan oleh guru mata pelajaran. Aspek-aspek itu di antaranya : (1) menciptakan iklim sosio-emosional kelas yang kondusif bagi belajar siswa; (2) memahami karakteristik siswa yang unik dan beragam; (3) menandai siswa yang diduga bermasalah; (4) membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar melalui program remedial teaching; (5) mereferal (mengalihtangankan) siswa yang memerlukan pelayanan BK kepada guru BK atau koselor; (6) memberikan informasi yang up to date tentang kaitan mata pelajaran dengan bidang kerja yang diminati siswa; (7) memahami perkembangan dunia industri atau perusahaan, sehingga dapat memberikan informasi yang luas kepada siswa tentang dunia kerja (tuntutan keahlian kerja, suasana kerja, persyaratan kerja, dan prospek kerja); (8) menampilkan pribadi yang

BIMTEK GURU BK SMK 2012

73

matang, baik dalam aspek emosional, sosial, maupun moral-spiritual (hal ini penting, karena guru merupakan figur central bagi siswa); dan (9) memberikan informasi tentang cara-cara mempelajari mata pelajaran yang diberikannya secara efektif. d). Kolaborasi dengan Orang tua Guru BK atau konselor perlu melakukan kerjasama dengan para orang tua peserta didik. Kerjasama ini penting agar proses bimbingan terhadap siswa tidak hanya berlangsung di Sekolah, tetapi juga oleh orang tua di rumah. Melalui kerjasama ini memungkinkan terjadinya saling memberikan informasi, pengertian, dan tukar pikiran antar guru BK atau konselor dan orang tua dalam upaya mengembangkan potensi siswa atau memecahkan masalah yang mungkin dihadapi siswa. Untuk melakukan kerjasama dengan orang tua ini, dapat dilakukan beberapa upaya, seperti: (1) kepala Sekolah atau komite Sekolah mengundang para orang tua untuk datang ke Sekolah (minimal satu semester satu kali), yang pelaksanaannya dapat bersamaan dengan pembagian rapor, (2) Sekolah memberikan informasi kepada orang tua (melalui surat) tentang kemajuan belajar atau masalah siswa, dan (3) orang tua diminta untuk melaporkan keadaan anaknya di rumah ke Sekolah, terutama menyangkut kegiatan belajar dan perilaku sehari-harinya. e). Kolaborasi dengan pihak-pihak terkait di luar sekolah. Yaitu berkaitan dengan upaya Sekolah untuk menjalin kerjasama dengan unsur-unsur masyarakat yang dipandang relevan dengan peningkatan mutu pelayanan bimbingan. Jalinan kerjasama ini seperti dengan pihakpihak (1) instansi pemerintah, (2) instansi swasta, (3) organisasi profesi BK, (4) para ahli dalam bidang tertentu yang terkait dalam pendidikan, (5) Musyawarah Guru Bimbingan dan Konseling (MGBK), dan (6) Depnaker (dalam rangka analisis bursa kerja/lapangan pekerjaan). f). Konsultasi Guru BK atau konselor menerima pelayanan konsultasi bagi guru, orang tua, atau pihak pimpinan Sekolah yang terkait dengan upaya membangun kesamaan persepsi dalam memberikan bimbingan kepada para siswa,

BIMTEK GURU BK SMK 2012

74

menciptakan lingkungan Sekolah

yang kondusif bagi perkembangan

siswa, melakukan referal, dan meningkatkan kualitas program BK. g). Bimbingan Teman Sebaya (Peer Guidance/Peer Facilitation) Bimbingan teman sebaya ini adalah bimbingan yang dilakukan oleh siswa terhadap siswa yang lainnya. Siswa yang akan diperankan sebagai pembimbing sebelumnya diberikan latihan atau pembinaan oleh guru BK atau konselor. Siswa terlatih berfungsi sebagai mentor atau tutor yang membantu siswa lain dalam memecahkan masalah yang dihadapinya, baik akademik maupun non-akademik. Di samping itu dia juga berfungsi sebagai mediator yang membantu guru BK atau konselor dengan cara memberikan informasi tentang kondisi, perkembangan, atau masalah siswa yang perlu mendapat pelayanan BK. h). Konferensi Kasus Yaitu kegiatan untuk membahas permasalahan peserta didik dalam suatu pertemuan yang dihadiri oleh pihak-pihak yang dapat memberikan keterangan, kemudahan dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan peserta didik itu. Pertemuan konferensi kasus ini bersifat terbatas dan tertutup. i). Kunjungan Rumah Yaitu kegiatan untuk memperoleh data atau keterangan tentang peserta didik tertentu yang sedang ditangani, dalam upaya menggentaskan masalahnya, melalui kunjungan ke rumahnya. c. Perencanaan individual 1). Pengertian Perencanaan individual diartikan sebagai bantuan kepada siswa / konseli agar mampu merumuskan dan melakukan aktivitas yang berkaitan dengan peren-canaan masa depan berdasarkan pemahaman akan kelebihan dan kekurangan dirinya, serta pemahaman akan peluang dan kesempatan yang tersedia di lingkungannya. Pemahaman siswa/ konseli secara mendalam dengan segala karakteristiknya, penafsiran hasil asesmen, dan penyediaan informasi yang akurat sesuai dengan peluang dan potensi yang dimiliki

BIMTEK GURU BK SMK 2012

75

konseli amat diperlukan sehingga konseli mampu memilih dan mengambil keputusan yang tepat di dalam mengem-bangkan potensinya secara optimal, termasuk keber-bakatan dan kebutuhan khusus konseli. Kegiatan orientasi, informasi, konseling individual, rujukan, kola-borasi, dan advokasi diperlukan di dalam implementasi pelayanan ini. 2). Tujuan Perencanaan individual bertujuan untuk membantu siswa/ konseli agar (1) memiliki pemahaman tentang diri dan lingkungannya, (2) mampu merumuskan tujuan, perencanaan, atau pengelolaan terhadap perkembang-an dirinya, baik menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar, maupun karir, dan (3) dapat melakukan kegiatan berdasarkan pemahaman, tujuan, dan rencana yang telah dirumuskannya. Tujuan perencanaan individual ini dapat juga dirumuskan sebagai upaya memfasilitasi siswa/ konseli untuk merencanakan, memonitor, dan mengelola rencana pendidikan, karir, dan pengembangan sosial-pribadi oleh dirinya sendiri. Isi layanan perencanaan individual adalah hal-hal yang menjadi kebutuhan konseli untuk memahami secara khusus tentang perkembangan dirinya sendiri. Dengan demikian meskipun perencanaan individual ditujukan untuk memandu seluruh konseli, pelayanan yang diberikan lebih bersifat individual karena didasarkan atas perencanaan, tujuan dan keputusan yang ditentukan oleh masing-masing konseli. Melalui pelayanan perencanaan individual, siswa/ konseli diharapkan dapat: 1) Mempersiapkan diri untuk mengikuti pendidikan lanjutan,

merencanakan karir, dan mengembangkan kemampuan sosialpribadi, yang didasarkan atas pengetahuan akan dirinya, informasi tentang Sekolah, dunia kerja, dan masyarakatnya. 2) Menganalisis kekuatan dan kelemahan dirinya dalam rangka pencapaian tujuannya. 3) Mengukur tingkat pencapaian tujuan dirinya. 4) Mengambil keputusan yang merefleksikan perencanaan dirinya. 3). Fokus pengembangan
BIMTEK GURU BK SMK 2012 76

Fokus pelayanan perencanaan individual berkaitan erat dengan pengembangan aspek akademik, karir, dan sosial-pribadi. Secara rinci cakupan fokus tersebut antara lain mencakup pengembangan aspek (1) akademik meliputi memanfaatkan keterampilan belajar, melakukan pemilihan pendidikan lanjutan atau pilihan jurusan, memilih kursus atau pelajar-an tambahan yang tepat, dan memahami nilai belajar sepanjang hayat; (2) karir bekerja meliputi yang mengeksplorasi positif; dan (3) peluang-peluang sosial-pribadi karir, mengeksplorasi latihan-latihan pekerjaan, memahami kebutuhan untuk kebiasaan meliputi pengembangan konsep diri yang positif, dan pengembangan keterampilan sosial yang efektif. 4). Strategi Guru BK atau konselor membantu siswa menganalisis kekuatan dan kelemahan dirinya berdasarkan data atau informasi yang diperoleh, yaitu yang menyangkut pencapaian tugas-tugas perkembangan, atau aspekaspek pribadi, sosial, belajar, dan karier. Melalui kegiatan penilaian diri ini, peserta didik akan memiliki pemahaman, penerimaan, dan pengarahan dirinya secara positif dan konstruktif. Pelayanan perencanaan individual ini dapat dilakukan juga melalui pelayanan penempatan (penjurusan, dan penyaluran), untuk membentuk siswa menempati posisi yang sesuai dengan bakat dan minatnya. Siswa/ konseli menggunakan informasi tentang pribadi, sosial, belajar dan karir yang diperolehnya kegiatan untuk (1) merumuskan yang tujuan, dan merencanakan (alternatif kegiatan) menunjang

pengembangan dirinya, atau kegiatan yang berfungsi untuk memperbaiki kelemahan dirinya; (2) melakukan kegiatan yang sesuai dengan tujuan atau perencanaan yang telah ditetapkan, dan (3) mengevaluasi kegiatan yang telah dilakukannya. d. Dukungan sistem Dukungan sistem merupakan komponen pelayanan dan kegiatan manajemen, tata kerja, infra struktur (misalnya Teknologi Informasi dan

BIMTEK GURU BK SMK 2012

77

Komunikasi), dan pengembangan kemampuan profesional guru BK atau konselor secara berkelanjutan, yang secara tidak langsung memberikan bantuan kepada konseli atau memfasilitasi kelancaran perkembangan siswa/ konseli. Program ini memberikan dukungan kepada guru BK atau konselor dalam memperlancar penyelenggaraan pelayanan diatas. Sedangkan bagi personel pendidik lainnya adalah untuk memperlancar penyelenggaraan program pendidikan di Sekolah. Dukungan sistem ini meliputi aspek-aspek: (1) pengembangan jejaring (networking), (2) kegiatan manajemen, (3) riset dan pengembangan. 1) Pengembangan Jejaring (networking) Pengembangan jejaring menyangkut kegiatan guru BK atau konselor yang meliputi (1) konsultasi dengan guru-guru, (2) menyelenggarakan program kerjasama dengan orang tua atau masyarakat, (3) berpartisipasi dalam merencanakan dan melaksanakan kegiatan-kegiatan Sekolah, (4) bekerjasama dengan personel Sekolah lainnya dalam rangka menciptakan lingkungan Sekolah/Madrasah yang kondusif bagi perkembangan konseli, (5) melakukan penelitian tentang masalah-masalah yang berkaitan erat dengan bimbingan dan konseling, dan (6) melakukan kerjasama atau kolaborasi dengan ahli lain yang terkait dengan pelayanan BK. 2) Kegiatan Manajemen Kegiatan manajemen merupakan berbagai upaya untuk memantapkan, memelihara, dan meningkatkan mutu program BK melalui kegiatankegiatan (1) pengembangan program, (2) pengembangan staf, (3) pemanfaatan sumber daya, dan (4) pengembangan penataan kebijakan. a). Pengembangan Profesionalitas Guru BK atau konselor secara terus menerus berusaha untuk memutakhirkan pengetahuan dan keterampilannya melalui (a) inservice training, (b) aktif dalam organisasi profesi, (c) aktif dalam kegiatan-kegiatan ilmiah, (d) melakukan riset, (e) menempuh

BIMTEK GURU BK SMK 2012

78

pendidikan profesi konselor (PPK), dan program yang lebih tinggi.

(f) melanjutkan studi ke

b). Pemberian Konsultasi dan Berkolaborasi Guru BK/ Konselor perlu melakukan konsultasi dan kolaborasi dengan guru, orang tua, staf Sekolah lainnya, dan pihak institusi di luar Sekolah (pemerintah, dan swasta) untuk memperoleh informasi, dan umpan balik tentang pelayanan bantuan yang telah diberikannya kepada para siswa/ konseli, menciptakan lingkungan Sekolah yang kondusif bagi perkembangan siswa/ konseli, melakukan referal, serta meningkatkan kualitas program BK. Dengan kata lain strategi ini berkaitan dengan upaya Sekolah untuk menjalin kerjasama dengan unsur-unsur masyarakat yang dipandang relevan dengan peningkatan mutu pelayanan BK. Jalinan kerjasama ini seperti dengan pihak-pihak (1) instansi pemerintah, (2) instansi swasta, (3) organisasi profesi, (4) para ahli dalam bidang tertentu yang terkait, dan orang tua siswa/ konseli, (5) Musyawarah Guru Bimbingan dan Konseling (MGBK), dan (6) Depnaker (dalam rangka analisis bursa kerja/lapangan pekerjaan). c). Manajemen Program Suatu program pelayanan BK tidak mungkin akan terselenggara, dan tercapai bila tidak memiliki suatu sistem pengelolaan (manajemen) yang bermutu, dalam arti dilakukan secara jelas, sistematis, dan terarah. Oleh karena itu BK harus ditempatkan sebagai bagian terpadu dari seluruh program pendidikan/ sekolah dengan dukungan wajar baik dalam aspek ketersediaan sumber daya manusia (konselor), sarana, dan pembiayaan. Keterkaitan antar komponen pelayanan dan strategi peluncurannya dapat kerangka kerja utuh BK sebagai berikut.

BIMTEK GURU BK SMK 2012

79

Asesmen Lingkungan

Harapan dan Kondisi Lingkungan

KOMPONEN PROGRAM

STRATEGI PELAYANAN

Pelayanan Dasar Bimbingan dan Konseling (Untuk seluruh peserta didik dan Orientasi Jangka Panjang) Pelayanan Responsif (Pemecahan Masalah, Remidiasi) Pelayanan Perencanaan Individual (Perencanaan Pendidikan, Karir, Personal, Sosial) Dukungan Sistem (Aspek Manajemen dan Pengembangan)

Perangkat Tugas Perkembangan/ (Kompetensi/ kecakapan hidup, nilai dan moral peserta didik) Tataran Tujuan Bimbingan dan Konseling (Penyadaran Akomodasi, Tindakan) Permasalahan yang perlu

Asesmen Perkembangan Konseli

Harapan dan Kondisi Konseli

Pelayanan Orientasi Pelayanan Informasi Konseling Individual Konseling kelompok Bimbingan kelompok Bimbingan klasikal R eferal Bimbingan Teman Sebaya Pengembangan media Instrumentasi Penilaian Individual atau Kelompok Penempatan dan penyaluran Kunjungan rumah Konferensi kasus Kolaborasi Guru Kolaborasi Orangtua Kolaborasi Ahli Lain Konsultasi Akses informasi dan teknologi Sistem Manajemen Evaluasi, Akuntabilitas Pengembangan Profesi

Kerangka Kerja Utuh Bimbingan dan Konseling d). Riset dan Pengembangan kegiatan riset dan pengembangan merupakan aktivitas guru BK atau konselor yang berhubungan dengan pengembangan professional secara berkelanjutan, meliputi : (1) merancang, melaksanakan dan memanfaatkan penelitian dalam BK untuk meningkatkan kualitas layanan BK sebagai sumber data bagi kepentingan kebijakan sekolah dan implementasi proses pembelajaran, serta pengembangan program bagi peningkatan unjuk kerja professional, (2) merancang dan melaksanakan serta mengevaluasi aktivitas pengembangan diri guru BK atau konselor professional sesuai dengan standar kompetensi konselor, (3) mengembangkan kesadaran komitmen terhadap etika

BIMTEK GURU BK SMK 2012

80

professional, (4) berperan aktif di dalam organisasi dan kegiatan profesi BK. 5. PROGRAM BK Sarana dan prasarana serta biaya yang memadai bagi pelaksanaan profesi bimbingan dan konseling akan membantu kelancaran dan pencapaian tujuan layanan BK, antara lain. a. Ruang Bimbingan dan Konseling Ruang BK merupakan salah satu sarana penting yang turut mempengaruhi keberhasilan pelayanan BK. Dengan memperhatikan prinsipprinsip BK, pengadaan ruang BK perlu mempertimbangkan letak atau lokasi, ukuran, jenis dan jumlah ruangan, serta berbagai fasilitas pendukung yang diperlukan. Letak atau lokasi ruang BK di sekolah dipilih lokasi yang mudah diakses (strategis) oleh siswa/ konseli tetapi tidak terlalu terbuka. Dengan demikian seluruh siswa/konseli bisa dengan mudah dan tertarik mengunjungi ruang BK, dan prinsip-prinsip confidential tetap terjaga. Jumlah ruang BK disesuaikan dengan kebutuhan jenis layanan dan jumlah personal. Antar ruangan sebaiknya tidak tembus pandang. Jenis ruangan yang diperlukan meliputi: (1) ruang kerja, (2), ruang administrasi/ data, (3) ruang konseling individual, (4) ruang bimbingan dan konseling kelompok, (5) ruang biblio terapi, (6) ruang relaksasi/ desensitisasi, dan (7) ruang tamu. Adapun besaran ukuran ruangan disesuaikan dengan jumlah kehadiran siswa/ konseli ke ruang BK dan jumlah guru BK/ konselor yang ada di suatu sekolah. Ruangan kerja BK disiapkan agar dapat berfungsi mendukung produktivitas kinerja guru BK/ konselor, maka diperlukan fasilitas berupa: komputer, meja-kursi kerja, sebagainya. Ruangan administrasi/data perlu dilengkapi dengan fasilitas berupa: lemari penyimpan dokumen (buku pribadi, catatan-catatan layanan BK, dan almari, jaringan internet, dan SARANA DAN PEMBIAYAAN PENYELENGGARAAN

BIMTEK GURU BK SMK 2012

81

lain-lain), dan disimpan dalam bentuk soft copy. Dalam hal ini harus menjamin keamanan data yang disimpan. Ruangan konseling individual merupakan tempat yang nyaman dan aman untuk terjadinya interaksi antara guru BK/ konselor dengan konseli. Ruangan ini dilengkapi dengan satu set meja kursi atau sofa, tempat untuk menyimpan majalah, yang dapat berfungsi sebagai biblio terapi. Ruangan BK kelompok merupakan tempat yang nyaman dan aman untuk terjadinya dinamika kelompok dalam interaksi antara guru BK/ konselor dengan konseli dan konseli dengan konseli. Ruangan ini dilengkapi dengan perlengkapan antara lain: sejumlah kursi, karpet , tape recorder, VCD dan televisi. Ruangan biblio terapi pada prinsipnya mampu menjadi tempat bagi siswa/ konseli dalam menerima informasi, baik yang berkenaan dengan informasi pribadi, sosial, belajar/akademik, dan karir di masa datang. Karena itu selain menyediakan informasi secara lengkap, ruangan nyapun mampu menopang banyak orang. Ruangan ini dilengkapi dengan perlengkapan sebagai berikut: daftar buku/ referensi (katalog), rak buku, ruang baca, buku daftar kunjungan siswa. Jika memungkinkan fasilitas pendukung seperti fasilitas internet. Ruangan relaksasi / desensitisasi / sensitisasi, yang bersih, sehat, nyaman, dan aman. Jika memungkinkan ruangan ini dapat dilengkapi dengan karpet, tape recorder, televisi, VCD/ DVD, dan bantal . Ruangan tamu hendaknya berisi kursi dan meja tamu, buku tamu, jam dinding, tulisan dan atau gambar yang memotivasi siswa/ konseli untuk berkembang dapat berupa motto, peribahasa, dan lukisan. Fasilitas ruangan yang diharapkan tersedia ialah ruangan tempat bimbingan yang khusus dan teratur, serta perlengkapan lain yang memungkinkan tercapainya proses pelayanan BK yang bermutu. Ruangan itu hendaknya sedemikian rupa sehingga di satu segi para siswa/ konseli yang berkunjung ke ruangan tersebut merasa nyaman, dan segi lain di ruangan tersebut dapat dilaksanakan pelayanan dan kegiatan BK lainnya sesuai dengan asas-asas dan kode etik BK. Khusus ruangan konseling

BIMTEK GURU BK SMK 2012

82

individual harus merupakan ruangan yang memberi rasa aman, nyaman dan menjamin kerahasiaan konseli. Di dalam ruangan hendaknya juga dapat disimpan segenap perangkat instrumen BK, himpunan data siswa/ konseli, dan berbagai data serta informasi lainnya. Ruangan tersebut hendaknya juga mampu memuat berbagai penampilan, seperti penampilan informasi pendidikan dan jabatan. Di samping, ruangan kesuksesan program. Ruangan BK yang cukup dan penataan ruang kerja professional, dengan contoh sebagaimana terlampir. Contoh panataan ruang BK di sekolah dikutip dari Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan Dan Konseling Dalam Jalr Pendidikan Formal (PMPTK,2007), dengan modifikasi ukuran ruang. Di samping itu, dapat dikembangkan alternative tata ruang BK dengan memperhatikan jumlah personal BK dan lokasi gendung sebagaimana terlampir. b. Fasilitas Lain Selain ruangan, fasilitas lain yang diperlukan untuk penyelenggaraan bimbingan dan konseling antara lain: 1). Dokumen program BK (misalnya : buku program tahunan, buku program semesteran, buku kasus, dan buku harian) 2). Instrumen pengumpul data dan kelengkapan administrasi seperti: a). Alat pengumpul data berupa tes yaitu: tes inteligensi, tes bakat khusus, tes bakat, tes/inventori kepribadian, tes/inventori minat, dan tes prestasi belajar. b). Alat pengumpul data teknik non-tes yaitu: biodata siswa/konseli, pedoman wawancara, pedoman observasi (seperti pedoman observasi dalam kegiatan pembelajaran, pedoman observasi dalam BK kelompok), catatan anekdot, daftar cek, skala penilaian, angket (angket siswa/konseli dan orang tua), biografi dan autobiografi, sosiometri, AUM, ITP, format rencana/satuan pelayanan, format-format surat hendaknya nyaman yang menyebabkan para pelaksana BK betah bekerja. Kenyamanan itu merupakan modal utama bagi

BIMTEK GURU BK SMK 2012

83

(panggilan, referal), format pelaksanaan pelayanan, dan format evaluasi. c). Alat penyimpan data, khususnya dalam bentuk himpunan data. Alat penyimpan data itu dapat berbentuk kartu, buku pribadi, map dan file dalam komputer. Bentuk kartu ini dibuat sedemikian rupa dengan ukuran-ukuran serta warna tertentu, sehingga mudah untuk disimpan dalam filling cabinet. Untuk menyimpan berbagai keterangan, informasi atau pun data untuk masing-masing konseli, maka perlu disediakan map pribadi. Mengingat banyak sekali aspek-aspek data konseli yang perlu dan harus dicatat, maka diperlukan adanya suatu alat yang dapat menghimpun data secara keseluruhan yaitu buku pribadi. d). Kelengkapan penunjang teknis, seperti data informasi, paket bimbingan, alat bantu bimbingan perlengkapan administrasi, seperti alat tulis menulis, blanko surat, kartu konsultasi, kartu kasus, blanko konferensi kasus, dan agenda surat, buku-buku panduan, buku informasi tentang studi lanjutan atau kursus-kursus, Dalam kerangka pikir dan kerangka kerja BK terkini, guru BK/ konselor perlu terampil menggunakan perangkat komputer, perangkat komunikasi dan berbagai software untuk membantu mengumpulkan data, mengolah data, menampilkan data maupun memaknai data sehingga dapat diakases secara cepat dan secara interaktif. Perangkat tersebut memiliki peranan yang sangat strategis dalam pelayanan BK. Dalam konteks ini, para guru BK atau konselor dituntut untuk menguasai sewajarnya penggunaan beberapa perangkat lunak dan perangkat keras komputer. Banyak sekali perangkat lunak yang dapat dimanfaatkan oleh guru BK atau konselor dalam upaya memberikan pelayanan terbaik kepada para siswa/konseli. Selain itu dengan menggunakan perangkat lunak komputer, guru BK atau konselor dapat memberikan pelayanan BK secara lebih efisien, dan dengan daya jangkau pelayanan yang lebih luas. Komputer yang disediakan di ruang BK hendaknya memiliki memori yang cukup karena akan menyimpan semua data

BIMTEK GURU BK SMK 2012

84

siswa/konseli, berbagai macam program ( software ),

memiliki

kelengkapan audio agar dapat dimanfaatkan setiap konseli untuk menggunakan berbagai CD interaktif informasi maupun pelatihan sesuai dengan kebutuhan dan masalah, serta kelengkapan akses internet agar dapat mengakses informasi penting yang diperlukan konseli maupun dimanfaatkan konseli untuk melakukan e-counseling. modul bimbingan, atau buku materi pelayanan bimbingan, buku hasil wawancara, laporan kegiatan pelayanan, data kehadiran konseli, leger Bimbingan dan Konseling, buku realisasi kegiatan BK, bahan-bahan informasi pengembangan keterampilan pribadi, sosial, belajar maupun karir, dan buku/ bahan informasi pengembangan keterampilan hidup, perangkat elektronik (seperti komputer, tape recorder, film, dan CD interaktif, CD pembelajaran, OHP, LCD, TV); filing kabinet/ lemari data (tempat penyimpanan dokumentasi dan data konseli), dan papan informasi BK. c. Biaya Perencanaan anggaran merupakan komponen penting dari manajemen BK, oleh karena itu perlu dirancang dengan cermat berapa anggaran yang diperlukan untuk mendukung implementasi program. Anggaran ini harus masuk ke dalam Anggaran dan Belanja Sekolah (ABS) Memilih strategi manajemen yang tepat dalam usaha mencapai tujuan program BK memerlukan analisa terhadap anggaran yang dimiliki. Strategi manajemen program yang dipilih harus disesuaikan dengan anggaran yang dimiliki. Strategi yang dipilih tanpa mempertimbangkan anggaran yang dimiliki mungkin hanya akan menjadi angan-angan yang mungkin sulit untuk sampai mencapai tujuan program. Kebijakan lembaga yang kondusif perlu diupayakan. Kepala Sekolah harus memberikan dukungan yang serius dan sistematis terhadap penyelenggaraan program BK. Pelaksanaan program BK harus diperlakukan sebagai kegiatan yang utuh dari seluruh program pendidikan. Komponen anggaran meliputi:

BIMTEK GURU BK SMK 2012

85

1. Anggaran untuk semua aktivitas yang tercantum pada program 2. Anggaran untuk aktivitas pendukung ( misalnya : home visit, pembelian buku pendukung/ sumber bacaan, mengikuti seminar/ workshop atau kegiatan profesi dan organisasi profesi, pengembangan staf, penyelenggaraan MGBK, pembelian alat/ media untuk pelayanan BK, pengembangan alat/ media untuk pelayanan BK). 3. Anggaran untuk pengembangan dan peningkatan kenyamanan ruang atau pelayanan BK (misalnya : pembenahan ruangan, pengadaan buku-buku untuk terapi pustaka, penyiapan perangkat layanan konseling individual dan kelompok). Sumber biaya program BK adalah ABS ( Anggaran Belanja Sekolah), dana block grand pemerintah, sumber dana hibah kompetitif, dan sumber lain yang tidak mengikat sekolah. Dengan demikian satuan biaya penyelenggaraan program BK sesuai dengan aturan keuangan yang ditetapkan baik dana dari pemerintah maupun dana sumber lain yang tidak mengikat.

BIMTEK GURU BK SMK 2012

86

D. LATIHAN Sebagai lanjutan dari sajian materi secara teoritis, peserta Bimtek diharapkan untuk melakukan pemahaman dan pelatihan meliputi : 1. 2. prasarana BK Menyusun rancangan program BK di sekolah Menyusun rancangan pengembangan sarana dan

1. MENYUSUN RANCANGAN PROGRAM BK Alternatif format 1. PROGRAM BIMBINGAN DAN KONSELING SMK . TAHUN PELAJARAN 2012-2013 A. Rasional B. Landasan Yuridis C. Visi dan Misi Sekolah D. Visi dan Misi BK E. Diskripsi kebutuhan siswa (SKKPD) F. Tujuan BK G. Bidang gerak BK H. Sifat / fungsi layanan BK I. Komponen program BK (pengertian dan strategi) J. Rencana Operasional. (disusunnya program tahunan, semesteran, dan bulanan serta harian). K. Pengembangan Tema/Topik layanan L. Pengembangan Satuan Layanan/ Rencana Pelaksanaan Layanan Konseling Individual (RPLKI), Rencana Pelaksanaan Layanan Konseling Kelompok (RPLKK) , Rencana Pelaksanaan Layanan Bimbingan Kelompok (RPLBK) Rencana Pelaksanaan Layanan Bimbingan Klasikal (RPLBK). M. Sasaran/ subyek layanan BK N. Personalia (guru BK atau konselor, adakah mahasiswa praktik, atau profesi lain yang praktik) O.. Waktu pelaksanaan Program ( tahun ajaran). P. Evaluasi keterlaksanaan program dan hasil Q. Anggaran yang diperlukan untuk keterlaksanaan program Jakarta, 23 Mei 2012 Guru Bimbingan dan Konseling/Konselor Tulislah Konselor bagi yang sudah Kons.

Mengetahui Kepala Sekolah

87

Alternative format 2. NEED ASSESSMEN KEBUTUHAN (PENILAIAN KEBUTUHAN) SISWA/ KONSELI.


No Kebutuhan/ permasalahan

Tujuan

Kegiatan

Komponen Program

Strategi layanan

Alternative format 3. PROGRAM TAHUNAN BIMBINGAN DAN KONSELING SMK . Tahun Ajaran 2012/2013
No
Prog ram laya nan tuju an Bida ng BK Standar Kompet ensi Kompo nen progra m Strat egi layan an sasar an Tol ok uku r Evalu asi Wak tu (bul an) Penangg ung jawab

Alternative format 4. PROGRAM SEMESTERAN/BULANAN BIMBINGAN DAN KONSELING SMK . Tahun Ajaran 2012/2013 Disusun berdasarkan waktu, (semester yang Nampak bulan) . berdasarkan format 3 dapat disusun alternative format 4. 2. MENYUSUN RENCANA SARANA DAN PRASARANA Alternative format 1. Rencana kebutuhan barang/alat BK
No Nama Spesifikasi Jumlah barang/alat Harga satuan Harga Kegunaan

Alternative format 2. Rencana kebutuhan ruang kerja BK.

88

Dikembangkan sesuai dengan kondisi sekolah dan jumlah personal namun tetap memperhatikan tata ruang kerja professional. Contoh penataan ruang Bimbingan dan Konseling (dikutip dari Rambu-rambu pelaksanaan BK dalam Jalur Pendidikan Formal, PMPTK, 2007, dengan modifikasi ukuran tata ruang konseling)

89

Alternative 1 Contoh penataan ruang Bimbingan dan Konseling dengan memperhatikan model tersebut dengan penambahan ruang.

90

Alternative 2 Contoh penataan ruang Bimbingan dan Konseling dengan memperhatikan model tersebut dengan penambahan ruang.

91

BAB III IMPLEMENTASI PROGRAM BIMBINGAN DAN KONSELING


A. PENGANTAR Program Bimbingan dan Konseling sebagaimana telah dirancang pada Bab II yang dikembangkan dari analisis kebutuhan sebagaimana dijelaskan di Bab I, membutuhkan berbagai kemampuan pengimplementasiannya. Pada bab ini akan dikemukakan berbagai kemampuan yang harus dikuasai oleh guru bimbingan dan konseling atau konselor untuk mengimplementasikan program. Oleh karena itu, dengan mempelajari bab ini, guru bimbingan dan konseling atau konselor diharapkan dapat melaksanakan program bimbingan dan konseling lebih baik dari yang mereka kerjakan selama ini, mampu melaksanakan pendekatan kolaboratif dalam pelayanan bimbingan dan konseling, mampu memfasilitasi perkembangan akademik, karier, personal, dan sosial konseli, serta dapat mengelola sarana dan biaya program bimbingan dan konseling secara efektif dan efisien. Sebelum mempelajari dan berlatih terkait materi, resapi dulu indikatorindikator sebagai perwujudan dari kompetensi yang harus dicapai setelah mengikuti bimbingan teknis di bab ini. Materi secara berturut-turut dijabarkan untuk mencapai kompetensi yang telah ditentukan. Sub kompetensi pertama tidak dijabarkan tersendiri, sebab yang dimaksud sub kompetensi itu bila diprasyarati oleh sub kompetensi yang berikutnya. Pada bagian awal akan dikemukakan berbagai kegiatan yang harus dilakukan oleh Konselor sebagai sebuah pedekatan kolaboratif. Dalam pendekatan kolaboratif ini dikemukakan kemampuan Konselor bekerja secara kolaboratif, kemampuan konsultasi, dan pemberian pelayanan referal. Pada bagian berikutnya dikembangkan materi terkait dengan kemampuan Konselor untuk menfasilitasi perkembangan pribadi-sosial, belajar, dan karier konseli. Beberapa kemampuan yang harus dikuasai Konselor adalah kemampuan untuk melakukan bimbingan kelompok, bimbingan klasikal, konseling individual, dan konseling kelompok. Pada bagian terakhir akan dikemukakan kemampuan Konselor untuk mengelola saran dan biaya program. Bab ini ditutup dengan latihan yang harus diselenggarakan setelah mengikuti semua topik pembahasan. Dalam latihan akan diselenggarakan secara berkelompok, sehingga ada kesempatan untuk melakukan testing realitas walaupun masih dengan kolega guru Bimbingan dan Konseling sendiri. Harapannya, peserta akan mengembangkan kemampuan ini dalam praktik nyata di sekolah. B. KOMPETENSI, SUB KOMPETENSI, INDIKATOR Kompetensi

92

Mengimplementasikan program Bimbingan dan Konseling yang komprehensif. Sub Kompetensi Melaksanakan program Bimbingan dan Konseling. Melaksanakan pendekatan kolaboratif dalam pelayanan Bimbingan dan Konseling. Memfasilitasi perkembangan akademik, karier, personal, dan sosial konseli. Mengelola sarana dan biaya program Bimbingan dan Konseling. Indikator Guru Bimbingan dan Konseling atau Konselor dapat melaksanakan pelayanan Bimbingan dan Konseling sesuai program yang telah direncanakan. Guru Bimbingan dan Konseling atau Konselor dapat melaksanakan pendekatan kolaboratif dengan pihak terkait dalam pelayanan Bimbingan dan Konseling, termasuk referal dan konsultasi. Guru Bimbingan dan Konseling atau Konselor dapat memfasilitasi perkembangan akademik, karier, personal, dan sosial peserta didik/konseli melalui layanan bimbingan kelompok, bimbingan klasikal, konseling individual, dan konseling kelompok. Guru Bimbingan dan Konseling atau Konselor dapat mengelola sarana dan biaya program pelayanan Bimbingan dan Konseling. C. MATERI 1. IMPLEMENTASI PROGRAM KOLABORASI, REFERAL, DAN KONSULTASI Pekerjaan Bimbingan dan Konseling merupakan pekerjaan yang bersifat kompleks, sehingga tidak mungkin dilakukan sendiri oleh Konselor. Berbagai fihak harus terlibat aktif dalam pelaksanaan bantuan untuk mengembangkan semua siswa secara optimal. Kegiatan bersama antara berbagai fihak dalam Bimbingan dan Konseling yang paling banyak dilakukan adalah kerja kolaborasi, referal, dan konsultasi. KOLABORASI Mengapa program Bimbingan dan Konseling yang diusulkan akhir-akhir ini bersifat komprehensif? Ini terkait dengan kedudukan Bimbingan dan Konseling dalam seting pendidikan, dimana setiap komponennya memiliki arah yang sama yakni perkembangan optimal setiap siswa. Program Bimbingan dan Konseling memiliki sejumlah keuntungan bagi fihak-fihak

93

terkait, antara lain siswa, orangtua, guru, kepala sekolah, Konselor, dan lainlain. Bagi Siswa: a. Membantu mengenali potensi akademik; b. Memperluas pengetahuan akan dunia yang selalu berubah; c. Meningkatkan pengetahuan akan diri sendiri untuk berhubungan secara efektif dengan orang lain; d. Meningkatkan pengetahuan dan bantuan dalam eksplorasi karier; e. Mengembangkan keterampilan pengambilan keputusan; dan f. Meningkatkan hubungan Konselor-siswa. Bagi Orangtua: a. Memberikan dukungan orangtua dalam memperhatikan perkembangan pendidikan anak-anak mereka; b. Mengembangkan sistem untuk perencanaan jangka panjang anaknya; c. Membantu orangtua untuk memperoleh sumber-sumber yang diperlukan; dan

d. Meningkatkan kesempatan interaksi konselor-orangtua. Bagi Guru: e. Membantu siswa untuk mempelajari pelajaran yang diampunya secara tuntas dan efektif; f. Mendorong hubungan kerja yang suportif dan positif; g. Meningkatkan kerja tim dalam mendukung belajar anak; dan h. Menjelaskan peran Konselor sebagai orang sumber. Bagi Kepala Sekolah: a. Memberikan struktur program dengan isi khusus melibatkan peran Konselor; b. Memberikan kerangka kerja untuk mengevaluasi usaha-usaha program Bimbingan dan Konseling sekolah; dan c. Menjelaskan kesan program Bimbingan dan Konseling sekolah kepada masyarakat. Bagi Konselor: a. Menawarkan kesempatan untuk melayani semua siswa; b. Memberikan alat manajemen program; dan c. Memberikan pemahaman yang jelas akan peran dan fungsi Konselor. Bagi Staf Pelayanan Siswa Lainnya (dokter, psikolog, pekerja sosial):

94

a. Mendorong pendekatan tim untuk meningkatkan hubungan kerja kooperatif; b. Memberikan batasan overlapping wilayah layanan. Bagi Dinas Pendidikan: a. Memberikan informasi adanya pelayanan Bimbingan dan Konseling dalam meningkatkan prestasi siswa. b. Memberikan dasar bagi alokasi dana bagi program Bimbingan dan Konseling. Bagi Kalangan Industri dan Bisnis: a. Menyiapkan tenaga kerja potensial dengan keterampilan pengambilan keputusan yang kuat dan kematangan pekerja yang meningkat; b. Memberikan kesempatan kolaborasi antara Konselor dan masyarakat kerja; c. Meningkatkan kesempatan kalangan industri dan bisnis untuk berpartisipasi dalam program sekolah; dan d. Menjelaskan peran Konselor sebagai orang sumber bagi industri dan bisnis. Catatan tentang keuntungan program Bimbingan dan Konseling di atas, mengisyaratkan kebutuhan perencanaan kerja kolaboratif yang utuh dari berbagai fihak. Dengan demikian Bimbingan dan Konseling tidak dipandang sebagai tambal sulam saja dalam proses pendidikan di sekolah. Peran Bimbingan dan Konseling yang nyata diantara berbagai fihak yang berkepenting-an dengan pendidikan dan penyiapan karier siswa perlu dirancang dengan baik. Sebagai gambaran umum, ada peran-peran kolaboratif internal di sekolah yakni dengan kepala sekolah, guru, staf pelayanan lainnya, serta siswa. Ada pula peran kolaborasi eksternal yakni dengan orangtua dan kalangan bisnis dan industri. Di lingkungan sekolah dapat dijelaskan kolaborasi yang ditandai dengan job describtion yang tegas untuk bidang Bimbingan dan Konseling. Dalam bidang pelayanan belajar ( service learning) misalnya, pembagian tanggungjawab dicontohkan sebagai berikut.

TANGGUNGJAWAB KEPALA SEKOLAH Mengevalasi usaha sebelumnya dan mengidentifikasi kebutuhan sistem saat ini Memberi peluang inservice untuk pengembangan profesionalitas. Membentuk komisi

TANGGUNGJAWAB GURU Mengidentifikasi kebutuhan siswa saat ini

TANGGTUNGJAWAB KONSELOR Membuat alat asesmen untuk mengidentifikasi kebutuhan siswa dan sekolah Menghasilkan progam service-learning untuk kegiatan in-service pengembangan profesionalitas pendidik Berpartisipasi dalam

TANGGUNGJAWAB BERBAGI (KS, GURU, KONSELOR) Merumuskan tujuan pelayanan belajar

Berpartisipasi dalam inservice dalam pengembangan profesionalitas Berpartisipasi dalam

Menerima strategi service-learning

Membina hubungan

95

kurikulum Menfasilitasi kontak masyarakat

pengembangan kurikulum Membuat kurikulum akademik

pengembangan kurikulum Membuat kurikulum sosial dan emosional

kolaboratif Mengintegrasikan kurikulum sosial, emosional, dan akademik. Mendukung supervisi yang tepat dalam masyarakat Mengkompilasi data refleksi siswa

Menfasilitasi hubungan partnerships sekolah dan masyarakat Mengakui pentingnya refleksi dalam belajar

Mengawali pengalaman masyarakat Memberi kesempatan bagi siswa untuk merefleksi belajar sosial, emosional, etika, dan akademiknya. Merefleksi pengalamanpengalaman servicelearning Mengukur dan mengevaluasi hasil akademik dari pelayanan belajar Mengevaluasi dampak masyarakatnya

Mengatur jadwal pelayanan

Memberi kesempatan bagi siswa untuk merefleksi belajar sosial, emosional, etika, dan akademiknya. Merefleksi pengalamanpengalaman servicelearning Mengukur dan mengevaluasi hasil perkembangan sosial dan emosional dari pelayanan belajar Mengevaluasi dampak masyarakatnya

Memberi kesempatan pertemuan dewan guru Bekerja dengan dinas pendidikan untuk mempertahankan keberlangsungan kurikulum service-learning Memberikan insentif atas pelayanan yang dilakukan dewan guru

Mengkompilasi data refleksi diri professional Menentukan komponenkomponen pelayanan pembelajaran yang efektif Mengenali prestasi siswa

Contoh diatas adalah untuk bidang bimbingan belajar, untuk bidang lainnya yakni binbingan pribadi, sosial, dan karier dapat dikembangkan oleh Saudara sendiri. REFERAL Pada dasarnya layanan referal berada dalam satuan kegiatan layanan responsif yang dilakukan dalam upaya membantu konseli agar mereka mendapatkan layanan yang optimal dari ahli lain yang benar-benar handal. Apabila Konselor merasa kurang memiliki kemampuan untuk menangani masalah konseli, maka sebaiknya dia mereferal atau mengalihtangankan kepada pihak lain yang lebih berwenang, seperti guru mata pelajaran, psikolog, psikiater, dokter, kepolisian, dan lain-lain. Konseli yang sebaiknya direferal adalah mereka yang memiliki masalah yang tak terselesaikan bersama konselor, seperti kesulitan belajar, depresi, tindak kejahatan (kriminalitas), kecanduan narkoba, dan penyakit kronis. Secara umum, tujuan layanan referal adalah agar konseli mendapat layanan yang optimal atas masalah yang dialaminya. Selain itu tujuan khusus dari layanan referal ialah terwujudnya keempat fungsi Bimbingan dan Konseling tarutama dalam upaya pengentasan masalah konseli. Namun demikian juga untuk mewujudkan upaya pemahaman dan pencegahan serta pengembangan dan pemeliharaan. Komponen Referal a. Konseli dan masalahnya. Ada sejumlah masalah yang tidak menjadi kewenangan Konselor. Beberapa masalah tersebut misalnya masalah

96

belajar substansi mata pelajaran, penyakit, perbuatan kriminal, penggunaan zat psikotropika, dan sebagainya. Bila dijumpai masalahmasalah seperti itu, referal perlu dilakukan, karena keterbatasan kewenangan Konselor. b. Konselor. Konselor perlu menyadari akan keterbatasan kewenangannya. Dalam banyak catatan Konselor bekerja membantu individu yang sehatnormal. c. Ahli lain. Beberapa ahli guru mata pelajaran, dokter, polisi, psikolog, psikiater, dan beberapa profesi lainnya menjadi rujukan penting bagi Konselor. Dalam melaksanakan referal, azas yang digunakan adalah kesukarelaan konseli untuk dipindahtangankan kepada ahli lain yang diprediksi akan lebih pas bagi penyelesaian masalahnya. Namun demikian, azas kerahasiaan juga harus dijaga oleh Konselor. Tahap-Tahap Referal a. Perencanaan Menetapkan kasus yang akan direferal, meyakinkan konseli akan referal, menghubungi ahli lain yang menjadi arah referal, menyiapkan materi referal dan kelengkapan administrasinya. b. Pelaksanaan Mengkomunikasikan rencana referal kepada pihak terkait dan mereferalkan konseli kepada pihak terkait tersebut. Dalam hal ini tanggungjawab Konselor tetap ada, karena Konselor bekerja di sekolah, dimana siswa tetap akan menjadi bagian pelayanannya selama ia masih sekolah. c. Evaluasi Membahas hasil referal melalui refleksi oleh konseli, laporan dari ahli lain dan analisis hasil referral, kemudian mengkaji hasil referral kaitannya dengan upaya mengatasi masalah yang dialami konseli. d. Analisis hasil evaluasi Melakukan analisis terhadap efektivitas referal bagi penyelesaian masalah kaitannya dengan perkembangan konseli. e. Tindak lanjut Menyelenggarakan layanan lanjutan oleh Konselor jika diperlukan atau konseli memerlukan referal ke ahli lain lagi. f. Pelaporan Menyusun laporan kegiatan referal, menyampaikan laporan dan mendokumentasinya.

97

KONSULTASI Bimbingan dan Konseling di sekolah sebagaimana komponen pendidikan lainnya juga mengalami reformasi, Bimbingan dan Konseling berubah dari model posisi pelayanan, terutama bagi penyelesaian masalah, menuju ke program komprehensif yang berlandaskan pada pertumbuhan dan perkembangan manusia (Gysbers dan Henderson, 2009). Hal ini mengisyaratkan bahwa kerjasama dengan staf pendidikan lain di sekolah dan orangtua menjadi sangat penting. Salah satu bentuk pelayanan yang harus dilakukan guru Bimbingan dan Konseling adalah konsultasi. Konselor, sendiri atau dalam kerjasama dengan staf sekolah lainnya dan stakeholders, melakukan pelayanan untuk membantu siswa memenuhi kebutuhan dan mengatasi masalahnya. Dalam konteks layanan responsif, konsultasi sebagai bentuk kegiatan sejajar dengan konseling individual, konseling kelompok, dan referral. Dalam bidang Bimbingan dan Konseling, konsultasi (consulting) dirancang untuk memberikan bantuan teknis kepada guru, administrator dan orang tua dalam membantu siswa agar lebih efektif (Shertzer dan Stone, 1981). Konsultasi merupakan sebuah elemen penting dari program bimbingan, karena Konselor menyadari bahwa model layanan langsung tidak selalu tepat dalam kasus-kasus tertentu. Konselor mencari metode-metode alternatif yang akan memiliki pengaruh positif terhadap individu atau kelompok atau terhadap sistem yang memiliki pengaruh negatif kepada siswa. Konsultasi, seperti konseling, biasanya dihubungkan dengan pemberian bantuan. Dari review tentang literatur konsultasi, tidak ada satu difinisipun yang bisa diterima secara universal. Kebanyakan definisi konsultasi menyertakan acuan kata konseli, konsulti, dan konsultan. Konseli adalah orang, organisasi, atau sistem dengan suatu masalah; consulti adalah orang yang berusaha memecahkan masalah; dan konsultan adalah orang yang membantu consulti memecahkan masalah konseli. Konsultasi dalam bimbingan dan konseling didefinisikan sebagai suatu proses dari menyediakan bantuan secara teknis kepada para guru, orang tua, kepala sekolah, dan konselor lain untuk perbaikan terhadap hal-hal yang membatasi efektivitas para siswa dimana hal tersebut bisa membatasi efektivitas pendidikan di sekolah.
KONSULTAN/ KONSELOR KONSULTI/GURU , ORTU

KONSELI

Gambar: Pola Hubungan Konsultasi

98

Tujuan konsultasi Di sekolah, konsustasi memiliki sejumlah tujuan. Semua aspek tujuan selalu kembali untuk kepentingan siswa. Tujuan tersebut terdiri atas: meningkatkan dan mengembangkan lingkungan belajar bagi siswa. meningkatkan komunikasi melalui menyampaikan diperlukan oleh orang-orang yang kompeten. yang kondusif informasi yang

mendudukkan peran dan fungsi dari semua fihak dalam meningkatkan lingkungan belajar. meningkatkan layanan ahli. memperluas pendidikan in-service bagi guru dan kepala sekolah. membantu orang lain mempelajari cara mempelajari perilaku. menciptakan sebuah lingkungan yang memadukan seluruh komponen pendidikan yang bisa membentuk sebuah lingkungan belajar yang kondusif. membentuk lembaga self-help atau setiap komponen pendidikan sekolah dapat memahami perannya dan berkiprah untuk meningkatkan prestasi siswa. Tugas pertama yang harus dilakukan oleh konselor sebagai seorang konsultan adalah mengidentifikasi situasi-situasi yang paling bermasalah dalam organisasi (sekolah/keluarga) dan mengenal orang-orang yang membutuhkan bantuan (siswa sebagai konseli). Seringkali konsultan harus membantu mengembangkan keinginan konsulti untuk berubah, sehingga solusinya tidak akan dipaksakan. Sangat perlu untuk mengidentifikasi terhadap situasi-situasi yang bermasalah dan pengembangan kesiapan konsultasi melalui melibatkan sumber-sumber informasi. Dengan kata lain, perubahan fihak konsulti kaitannya dengan konseli membutuhkan kearifan yang mendalam dari Konselor, agar dalam kerjanya Konselor tidak memaksakan perubahan-perubahan. Secara sadar, lambat laun konsulti mau untuk berubah demi perkembangan siswa. Sasaran Konsultasi a. Guru. Konselor dapat menggunakan konsultasi untuk membantu guru dalam memahami perilaku-perilaku bermasalah dari siswa-siswa tertentu, merencanakan dan mengimplementasikan strategi-strategi kelas untuk mengatasi perilaku-perilaku ini dan membantu perkembangan siswa. Konsultasi dibutuhkan karena guru melihat siswa menunjukkan perilaku yang salah dan merusak di kelas. Konsultasi ini didasarkan pada pemberian bantuan kepada guru untuk menjalankan aktifitasnya, bukan mengkritik dan mengevaluasi prosedur-prosedur pengajarannya. Sebagai seorang konsultan, Konselor bisa membantu menemukan dan membentuk

99

materi-materi pembelajaran atau membantu guru dalam mengubah gaya pembelajarannya. Gaya pembelajaran guru dan pola motivasional bisa dianalisis untuk menentukan pengalaman pembelajaran terbaik yang bisa digunakan siswa. b. Orang Tua. Situasi pelaksanaan konsultasi dengan orang tua telah dirangkum oleh Dinkmeyer dan Carlson. Diantara situasi tersebut mencakup peningkatan hubungan orang tua-anak, membantu orang tua memahami makna dari hubungannya dan dialognya dengan anak-anak mereka, dan membantu pemerolehan ketrampilan komunikasi yang efektif. Situasi lainnya meliputi pengorganisasian sekolah dan rumah untuk mencapai usaha-usaha konsisten dalam pendidikan anak dan membantu orang tua dalam memahami pengaruh dari keluarga terhadap perkembangan anak. c. Administrator. Konselor berkonsultasi dengan staf administrasi sekolah, termasuk kepala diknas pendidikan, kepala sekolah, wakil kepala sekolah, wali kelas, dan staf pengawas untuk mengembangkan program, prosedur, aktivitas in-service atau perubahan-perubahan organisasi yang dibutuhkan. Perubahan-perubahan ini tidak muncul dengan mudah tapi sebagian besar administrator memiliki ide-ide yang sangat bagus mengenai apa yang dibutuhkan, jadwal yang ada, dan hasil-hasil yang diharapkan. Walz dan Benjamin mengidentifikasi empat cara dasar yang digunakan oleh Konselor dalam melakukan perubahan: (a) memberikan energi bagi sistem sekolah dengan mendorongnya untuk melakukan sesuatu terhadap masalah yang ada, (b) menawarkan solusi bagi perubahan-perubahan yang dibutuhkan (c) berfungsi sebagai penghubung terhadap sumber-sumber daya manusia dan fisik yang tersedia di lingkungan pendidikan, dan (d) berfungsi sebagai konsultan proses, yang tugasnya membantu menangani masalah. Tahap-Tahap konsultasi a. b. Sebelum Konsultasi. Konsultan menjelaskan nilai-nilai, kebutuhan, asumsi, dan tujuan-tujuan lembaga, dalam hal ini sekolah; Memasuki Konsultasi. Atas temuan kesenjangan yang ada yang diperkirakan mengganggu kinerja sistem, konsultan menyatakan masalah yang dihadapi dan menyatakan prognosis seandainya masalah tidak diselesaikan. Mengumpulkan Informasi. Mengumpulkan informasi tambahan yang dibutuhkan bersama dengan konsulti untuk memperoleh gambaran komprehensif adanya masalah. Mendefinisikan Masalah. Menilai informasi untuk menemukan masalah yang diharapkan diselesaikan dalam pertemuan konsultatif. Menentukan Langkah Mengatasi Masalah . Informasi dianalisis dan disintesis untuk menemukan alternatif-alternatif solusi terbaik.

c.

d. e.

100

f.

Menyatakan Tujuan Konsultasi. Yaitu menyatakan tujuan yang berupa hasil akhir dari konsultasi yang dinyatakan secara operasional dan terukur. Mengimplementasikan Rencana Tindakan . Intervensi yang telah dipilih direncanakan secara operasional dalam bentuk panduan terbimbing. Kapan, dimana, dengan siapa, dan bagaimana melakukan rencana dirinci sedetail mungkin. Evaluasi. Secara terus menerus (on going) pelaksanaan dan hasil bantuan konsultasi dimonitor dan dinilai efisiensi dan efektivitasnya. Terminasi. Mengakhiri bantuan konsultasi.

g.

h. i.

2. FASILITASI PERKEMBANGAN Dalam menfasilitasi perkembangan pribadi, sosial, belajar, dan karier setiap peserta didik, guru Bimbingan dan Konseling atau Konselor setidaknya harus menguasai empat pendekatan utama yaitu bimbingan kelompok, bimbingan klasikal, konseling individual, konseling kelompok. Masing-masing diuraikan sebagai berikut. a. BIMBINGAN KELOMPOK Melalui usaha-usaha kolaboratif pendidik, orangtua, dan orang-orang kunci lainnya, program Bimbingan dan Konseling sekolah memberdayakan setiap siswa untuk menjadi penyelesai masalah yang lebih kreatif, warga negara yang peduli dan gemar menolong, serta menjadi pebelajar sepanjang hidup, yang secara efektif mampu menghadapi tantangan-tantangan dalam kehidupan di masyarakat global. Untuk itu semua, maka program Bimbingan dan Konseling baik individual maupun kelompok sebagai pelayanan yang unik dari Konselor atau guru Bimbingan dan Konseling diharapkan menjadi pengalaman pendidikan total bagi setiap siswa. Setiap siswa membutuhkan program dan pelayanan Bimbingan dan Konseling yang akan membantu mereka terkait dengan (1) penyelesaian masalah dengan teman, personil sekolah, dan orangtua, (2) memahami dan memperjelas perasaan mereka dan penyelesaiannya dalam cara-cara yang tepat secara sosial, (3) merencanakan pendidikan dan karier mereka ke depan, dan (4) memaksimalkan prestasi pendidikan mereka. Dapat dikatakan bahwa program dan pelayanan Bimbingan dan Konseling dimaksudkan untuk membantu perkembangan pribadi-sosial, perencanaan hidup dan karier, serta perkembangan pendidikan. Banyak dari perkembangan ini yang dapat dilakukan melalui bimbingan kelompok. Perkembangan Pribadi-Sosial Bimbingan kelompok berperan dalam pengembangan pribadi-sosial siswa. perkembangan yang dimaksudkan antara lain: 1) (1) siswa akan menyadari, memahami, dan menghargai karakteristik pribadinya, perkembangan fisik dan intelektialnya serta

101

perkembangan kepribadiannya, 2) siswa akan memahami, menghargai, dan peduli terhadap orang lain dengan maksud untuk mengembangkan dan mempertahankan hubungan yang efektif dengan teman sebaya dan orang dewasa, 3) siswa akan mengembangkan dan memelihara keterampilan mendengarkan dan mengekspresikan diri untuk berhubungan secara efektif dengan orang lain, 4) siswa akan mengembangkan keterampilan interaksi kelompok dan keterampilan kepemimpinan, 5) siswa akan mengambil keputusan dengan tepat tentang penggunaan obat-obatan dan 102lcohol, 6) siswa akan mengambil keputusan dengan tepat tentang keamanan pribadinya. Apa yang dipelajari dari setiap aspek tersebut, masing-masing dapat dicontohkan sebagai berikut. Penerimaan dan penghargaan diri: Siswa akan dapat mengenali karakteristik fisik, intelektual dan emosionalnya. Siswa akan dapat mengenali karakteristik fisik, intelektual dan emosional orang lain. Siswa akan dapat mengenali bahwa semua orang didengarkan dan berbicara dengan orang-orang lainnya. perlu

Hubungan dengan orang lain secara efektif:

Komunikasi yang efektif:

Keterampilan Kepemimpinan : Kerjasama Siswa akan dapat beriteraksi dengan orang lain dalam cara yang menunjukkan perilaku kerjasama. Siswa akan dapat memahami bahwa ada banyak jenis obat-obatan, dan bahwa beberapa obat akan membantu fisiknya dan sebagian lainnya merusak fisik. Siswa akan dapat mengetahui perbedaan antara sentuhan dan sapaan yang tepat dan yang tidak tepat.

Obat-obatan dan alkohol: Jenis/Menolong/Merusak

Keamanan Pribadi: Sentuhan dan Sapaan

Perencanaan Hidup dan karier Bimbingan kelompok juga berperan dalam membantu siswa mengembang kan kemampuan untuk merencanakan hidup dan kariernya. Secara rinci antara lain: 1) siswa akan menggunakan proses pengambilan keputusan secara sistematis. 2) siswa akan menggunakan proses problemsolving secara efektif dan bijak. 3) siswa akan menggunakan keterampilan merencanakan dan menyusun tujuan untuk menetapkan tujuan karier

102

tentatifnya sejalan dengan minat, kapabilitas dan nilai-nilai yang dianutnya. 4) siswa akan menghubungkan pilihan kariernya dengan tuntutan dunia kerja. 5) siswa akan menyiapkan untuk menemukan dan mempertahankan pekerjaan. Sebagai contoh diuraikan berikut. Pembuatan keputusan: Kesulitan Memutuskan Siswa akan mengenali bahwa keputusan-keputusan kadangkadang sulit dilakukan. Siswa akan mengenali situasi-situasi yang menghasilkan perasaan bahagia atau tidak bahagia atau bahkan kemarahan serta bagaimana untuk mengatasinya. Siswa akan dapat mendeskribsikan aktivitas-aktivitas dan minatminat yang mendatangkan kepuasan. Siswa akan dapat mendefinisikan kerja dan mengenali situasi atau kesempatan kerja di rumah, sekolah, dan masyarakat.

Penyelesaian Masalah: Mengenali Perasaan

Perumusan Tujuan: Aktivitas/Minat

Kerja: Definisi

Perkembangan Pendidikan Dalam hal perkembangan pendidikan ada beberapa hal yang harus dilakukan bimbngan kelompok dalam membantu siswa, antara lain: 1) (1) Siswa akan mengambil tanggungjawab untuk belajar di sekolah, 2) siswa akan mengambil tanggungjawab untuk merencanakan menggunakan kesempatan pendidikan masa depan, dengan menekankan pada perencanaan dalam mengambil langkah pendidikan lanjutan secara berhasil, 3) siswa akan mengambil tanggungjawab akan tingkahlaku-tingkahlakunya di lingkungan sekolah. 4) Siswa akan mempelajari keterampilan-keterampilan mengikuti tes. Masing-masing dicontohkan sebagai berikut. Sekolah/Belajar: Membuat Kesalahan Siswa akan dapat memahami bahwa membuat kesalahan merupakan hal yang wajar di dalam belajar, namun tetap berniat untuk memperbaikinya. Siswa akan dapat mendeskribsikan perguruan tinggi apa ke depan yang akan disenangi dan apa yang akan ditempuh di tingkat selanjutnya itu.

Kesempatan Pendidikan: Melongok ke Masa Depan

Tanggungjawab Pribadi: Penghargaan

103

Siswa akan dapat menunjukkan tanggungjawab dan menghargai miliknya, milik orang lain, milik lembaga sekolah. Siswa akan mampu untuk mendeskripsikan bagaimana mengingat informasi-informasi yang penting dengan cepat.

Mengikuti Tes: Ingatan akan Informasi

Semua kegiatan dalam bidang-bidang Bimbingan dan Konseling di atas dapat dikemas dalam pelayanan bimbingan kelompok. Hakekat Bimbingan Kelompok Bimbingan dan Konseling merupakan strategi untuk memfasilitasi perkembangan positif siswa-siswa di sekolah dalam semua aspek di atas. Layanan Bimbingan dan Konseling memiliki pengaruh sinergik dalam mengembangkan pertumbuhan sosial dan emosional positif siswa seraya meningkatkan hasil perkembangan karier dan akademik mereka. Bimbingan kelompok melibatkan beberapa orang yang bertemu dalam kelompok dimana setiap orang mendiskusikan masalahnya untuk semua anggota kelompok lainnya. Ini merupakan cara yang efektif dalam merespon berbagai kebutuhan siswa dan biasanya dilakukan dalam seting kelas, terutama dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan perkembangannya dan untuk menerapkan program-program pencegahan maupun pengentasan dari masalah yang dihadapi. Bimbingan kelompok dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhankebutuhan khusus anggota dan memberi kesempatan kepada anggota kelompok untuk mengembangkan dan mengeksplorasi tujuan-tujuan serta meningkatkan perubahan-perubahan positif dalam suasana yang saling berbagi dan saling mendengarkan. Diakui bahwa bimbingan kelompok merupakan cara yang efektif dan efisien untuk mendukung dan membantu siswa dalam mencegah timbulnya masalah dan memecahkan masalahmasalah di bidang perkembangan pendidikan, karier, dan pribadi-sosial. Tujuan bimbingan kelompok (a) memberi kesempatan siswa untuk saling berbagi informasi terkait topik-topik informasi karier, keterampilan belajar, dan persoalan-persoalan pribadi-sosial lainnya; (b) untuk membantu siswa mengembangkan keterampilan seperti keterampilan peer helping, peer tutoring dan conflict resolution/management ; (c) untuk membantu siswa mengembang-kan pengetahuan dan mempelajari keterampilan sosial serta pengelolaan pribadi seperti mengatasi masalah perasaan, mengatasi tekanan teman sebaya, merumuskan tujuan hidup, memecahkan masalah, dan keterampilan komunikasi. Di dalam kelompok, konselor mendorong setiap anggota untuk mengekspresikan perasaannya. Jadinya beberapa orang siswa akan merasa sangat terbantu melalui belajar bahwa mereka tidak sendirian dalam menghadapi masalahnya.

104

Proses Bimbingan Kelompok Proses bimbingan kelompok menganut peristiwa belajar kolaboratif yang didasarkan atas tiga prinsip utama, yaitu (1) Keterampilan kooperatif diajarkan, dipraktekkan, dan balikan diberikan pada bagaimana sebaiknya keterampilan-keterampilan digunakan; (2) Kelas didorong untuk menjadi kelompok yang kohesif; dan (3) Individu diberi tanggung jawab untuk belajar dan melakukan aktivitas. Ada dua elemen dasar dari aktivitas kooperatif, yaitu (1) adanya tujuan yang sama; dan (2) adanya interdependensi positif antar anggota. Atas dasar prinsip di atas, maka untuk merancang bimbingan kelompok perlu memperhatikan dimensi kolaboratif yang ditujukan pada pembentukan keterampilan kooperatif. Ada empat keterampilan kooperatif yang harus dikuasai dalam belajar kolaboratif, yaitu (1) Tahap membentuk kelompok, (2) Tahap Inti sebagai kelompok, (3) Tahap Pemecahan Masalah, dan (4) Tahap mengelola Perbedaan-Perbedaan. Membentuk Kelompok Ketika kita membentuk kelompok diperlukan keterampilan kooperatif. Biasanya kita bisa bekerja secara berkelompok dengan mudah kalau bersama dengan kawan akrab. Namun konfigurasi lain harus dicoba. Ada gunanya kita membentuk kelompok heterogin, karena anggota kelompok dengan keterampilan kooperatif tertentu bisa menjadi model bagi yang lainnya. Bagaimana mulai kelompok, kita dapat melakukan dengan cara-cara 1) buat jarak antar orang, 2) buat pasangan atau lingkaran, 3) buat kontak mata, 4) betahlah bertahan dalam kelompok, 5) gunakan suara jelas, 6) gunakan atau sebut nama orang, 7) berkelilinglah, 8) jaga tangan dan kaki untuk mereka, 9) bentuk kelompok tanpa mengabaikan lainnya, 10) beri kesempatan setiap anggota untuk bicara, dan 11) dengarkan secara aktif. Tahap Inti sebagai Kelompok Setelah kelompok terbentuk, ada sejumlah cara yang dapat digunakan untuk memulai belajar sesuatu atau topik yang telah direncanakan berdasar kebutuhan secara efektif dalam kelompok. Secara tradisional, biasanya kelompok memilih mengawali dengan membuat aturan-aturan dan menyusun langkah-langkah. Dengan memanfaatkan dua karakteristik sebagaimana dikemukakan di muka, yakni memahami perspektif orang lain dan keterampilan berinteraksi, maka pemimpin kelompok dapat mengawali kerja kelompok. Sebagai pedoman umum yang perlu dikenali pemimpin kelompok bahwa dalam tahap inti ini setiap anggota dalam kelompok dapat diperankan sebagai pengamat, pencatat, penanya, penyimpul, pemberi penguatan, pemerjelas, pengorganisasi, dan penjaga waktu.

105

Memecahkan Masalah Untuk memecahkan masalah-masalah yang diangkat sebagai suatu masalah kelompok, kita dapat mengembangkan keterampilan-keterampilan seperti 1) keterampilan mendefinisikan masalah, 2) brainstorming, 3) mengklarifikasi ide, 4) mengkonfirmasi ide, 5) mengelaborasi ide, 6) melihat konsekuensi-konsekuensi dari keputusan tindakan, 7) memberikan tanggapan kritis terhadap ide, 8) mengorganisasi informasi, dan 9) menemukan solusisolusi atas permasalahan. Mengelola Perbedaan-Perbedaan Pada uraian di muka telah disinggung-singgung adanya perbedaan, yakni perbedaan kemampuan dan perbedaan latar kehidupan anggota kelompok. Atas dasar kenyataan adanyat perbedaan tersebut dibutuhkan kemampuan mengelolanya oleh setiap anggota kelompok dan pimpinan kelompok. Pengelolaan ini dengan prinsip memanfaatkan setiap adanya perbedaan untuk meningkatklan kekohesifan kelompok. Jadi perbedaan tidak ditutup-tutupi, malahan dimanfaatkan untuk kepentingan kelompok seluasluasnya. Keterampilan mengelola perbedaan-perbedaan merupakan keterampilan yang penting dimanapun. Melihat masalah dari berbagai perspektif, belajar untuk bersosialisasi, dan menengahi konflik yang panas tidak hanya diperlukan di sekolah, tetapi juga di rumah dan kehidupan lainnya. Apa saja keterampilan yang harus dikuasai dalam mengelola perbedaan? Keterampilan mengelola perbedaan antara lain 1) nyatakan posisi mereka dalam kelompok, 2) lihat masalah dari berbagai sudut pandang, 3) melakukan negosiasi, 4) memberikan mediasi, serta 5) membuat konsensus. Perkembangan keterampilan kooperatif merupakan inti dari bimbingan kelompok kolaboratif. Perasaan terlibat menjadi bagian kelompok dan kekohesifan kelompok merupakan tiket bagi terjadinya suasana kooperatif. Ada sejumlah teknik bimbingan kelompok yang bisa diterapkan untuk mengembangkan siswa dalam setiap bidang pengembangan. Oleh karena bimbinban kelompok ini dimaksudkan untuk menghantarkan siswa SMK agar mencapai prestasi tinggi (terkait indikasi banyak siswa SMK jeblok perolehan danemnya) dan agar mampu merencanakan karier dengan baik maka dalam contoh-contoh teknik bimbingan kelompok ini ditekankan penggunaannya di kedua bidang garapan Bimbingan dan Konseling. Terkait dengan belajar, Konselor berperan dalam hal service learning. Dimana maknanya belajar di bidang akademik, karier, sosial, dan emosional. Dalam reformasi pendidikan kita harus diperhatikan ke arah mana siswa dikembangkan. Mestinya kita menyiapkan siswa menjadi warga negara yang bertanggungjawab yang berpengetahuan luas dan terampil dalam bidang yang digelutinya. Tantangannya adalah bagaimana semua siswa belajar dan siap untuk bertanggungjawab secara sosial, peduli terhadap orang lain. Konselor

106

memiliki tanggungjawab panjang atas pentingnya belajar emosional dan sosial di sekolah. Namun yang sering terjadi adalah program bimbingan belajar emosional dan sosial ini tidak nyambung dengan misi sekolah yang dapat dipertanggung-jawabkan kaitannya dengan tugas sekolah untuk membantu siswa mencapai prestasi akademik tinggi. b. KONSELING INDIVIDUAL Dalam membahas konseling individual, ada beberapa hal yang dikemukakan, yakni isu-isu praktik konseling, keterampilan dasar komunikasi, dan pendekatan konseling. Isu-Isu Pokok Praktik Konseling Masalah vs Aset Positif Mendengar kata konseling selalu diasosiasikan dengan individu yang menghadapi masalah. Konseling diartikan sebagai upaya bantuan untuk memecahkan masalah. Pandangan ini mulai beralih ke sisi lain, dimana konseling tidak saja diorientasikan bagi penyelesaian masalah, tetapi dikandung maksud untuk mengenali asset positif setiap konseli dan mengoptimalkan asset positif tersebut bagi perkembangan setiap konseli yang dilayani, sehingga masalah tidak terjadi. Makna Wawancara dalam Konseling Modal utama konseling adalah kemampuan wawancara. Selama ini ada kesan, konseling itu identik dengan nasehat. Pandangan bahwa konseling adalah nasehat banyak dibantah dengan berbagai teori konseling dan wawancara intensional untuk konseling. Banyak teori yang mengungkap bahwa konseling cenderung merupakan proses mendengarkan secara aktif. Cara ini akan memberi banyak peluang bagi Konselor untuk memhami dengan cermat tentang konseli yang dilayani dan dapat memantulkan kembali kondisi ini untuk modal pengubahan pikiran, perasaan, dan perilaku mereka. Proses Konseling Secara garis besar proses konseling terbagi ke dalam lima tahapan, yaitu 1) mengawali pertemuan dengan membangun rapport dan mengatur pertemuan, 2) mengumpulkan data untuk mengenali kekuatan dan masalah konseli, 3) merumuskan tujuan, 4) working atau tahap inti bantuan konseling, dan 5) mengakhiri pertemuan. Penjelajahan aset positif konseli dan bila selalu diperhatikan dalam lima tahap di atas akan memberikan jaminan bagi proses wawancara yang baik. Harapan yang ada di balik memperhatikan aset positif dalam kelima tahap dijelaskan sebagai berikut. Secara umum konseli akan mempertahankan hubungan yang positif dengan Konselor, mereka akan menceriterakan hidupnya, akan menyusun

107

tujuan, akan mengembangkan pandangan-pandangan baru, dan akan mentransfer hasil belajar yang baru tersebut ke kehidupan sehari-hari. Dalam setiap tahapan tersebut diuraikan sebagai berikut. Tahap I: Konseli akan merasa difasilitasi dan tahu mengenai apa yang diharapkan darinya. Tahap II: Konseli akan berbagi pikiran, perasaan, dan perilakunya. Dengan maksud mengejar aset positifnya, konseli akan menyampaikan kekuatan-kekuatan dirinya dan sumber-sumber yang tersedia untuk menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi. Tahap III: Konseli akan mendiskusikan arah baru, pikiran baru, perasaan yang diinginkan, dan perilaku yang hendak diubah. Tahap IV: Konseli akan menguji kembali tujuannya dan mulai bergerak ke arah ceritera hidup baru dan perbuatan baru melalui mengkonfrontasi adanya kesenjangan-kesenjangan, menghadapi tantangan baru, Creative problem solving menjadi penting disini. Tahap V: Jika tahap 1-4 berhasil, maka diharapkan konseli mendemonstrasikan perubahan tingkalaku, pikiran, perasaan itu dalam kehidupan sehari-hari di luar seting wawancara. Overviu Teori Konseling Konseling Psikoanalitik. Tokoh: Sigmund Freud. Teori perkembangan kepribadian, filosofi hakekat manusia, dan metode psikokonseling yang berfokus pada faktor-faktor ketidaksadaran ( unconscious) yang memotivasi perilaku. Perhatian ditujukan pada usia 6 tahun pertama sebagai penentu (determinants) perkembangan kepribadian pada usia selanjutnya. Konseling Adlerian. Tokoh Alfred Adler, diikuti Rudolf Dreikurs yang terkenal di AS. Pendekatan ini lebih menekankan pada tanggung jawab, menciptakan satu destiny, dan menemukan makna dan tujuan untuk menciptakan kehidupan yang lebih berarah tujuan. Existential therapy. Tokoh: Viktor Frankl, Rollo May, and Irvin Yalom. Bereaksi terhadap kecenderungan memandang konseling sebagai sistem teknik yang didefinisikan dengan baik, model ini menekankan membangun konseling pada kondisi-kondisi dasar adanya manusia seperti pilihan, kebebasan dan tanggungjawab untuk membentuk kehidupan seseorang, serta self-determination. Konseling ini memusatkan pada kualitas hubungan terapeutik person-to-person. Konseling Person-centered. Penemu: Carl Rogers; tokoh kunci: Natalie Rogers. Pendekatan ini dikembangkan selama tahun 1940s sebagai reaksi nondirektif terhadap psychoanalysis. Berdasarkan pada pandangan subyektif atas pengalaman manusia, teori ini menempatkan kepercayaan dan memberikan tanggung jawab kepada konseli dalam menghadapi masalah dan kekhawatirannya. Konseling Gestalt. Penemu: Fritz and Laura Perls; Tokoh Kunci: Miriam and Erving Polster. Konseling experiential menekankan pada kesadaran dan integrasi, ia tumbuh sebagai reaksi terhadap konseling psikoanalitik. Ia mengintegrasikan fungsi tubuh dan pikiran.

108

Konseling Behavior. Tokoh Kunci: B. F. Skinner, Arnold Lazarus, dan Albert Bandura. Pendekatan ini mnerapkan prinsip-prinsip belajar untuk meresolusi masalah-masalah perilaku spesifik. Hasil merupakan subyek elsperimentasi terus-menerus. Metode pendekatan ini selalu dalam proses perbaikan. Konseling behavior-kognitif. Tokoh Kunci: Albert Ellis penemu rational emotive behavior therapy, suatu model konseling yang sangat berorientasi didaktik, kognitif, dan action yang menekankan peranan berpikir dan sistem belief sebagai akar probem pribadi. Konseling Realita. Penemu: William Glasser. Tokoh Kunci: Robert Wubbolding. Pendekatan short-term ini didasarkan pada teori pilihan ( choice theory) dan memusatkan pada konseli untuk memikul tanggung jawab di masa sekarang. Selama proses konseling, konseli dapat belajar dengan cara yang lebih efektif dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Pendekatan Postmodern. Ada sejumlah tokoh kunci. Steve de Shazer dan Insoo Kim Berg yang mengembangkan solution-focused brief therapy. Michael White dan David Epston merupakan tokoh-tokoh kunci narrative therapy. Konstruksionisme sosial, solution-focused brief therapy, dan narrative therapy semua berasumsi bahwa tidak ada kebenaran tunggal, melainkan diyakini bahwa realitas dikonstruksi secara sosial melalui interaksi manusia. Pendekatan ini mempertahankan bahwa konseli adalah seorang ahli dalam hidupnya sendiri. Family systems therapy. Ada sejumlah tokoh kunci antara lain Alfred Adler, Murray Bowen, Virginia Satir, Carl Whitaker, Salvador Minuchin, Jay Haley, dan Clo Madanes. Pendekatan sistemik ini didasarkan pada asusmi bahwa kunci perubahan individu adalah pemahaman dan kerja dengan keluarga. Dalam bimtek ini tentu tidak cukup waktu untuk mempelajari semua teori konseling tersebut. Secara ringkas akan dipraktikan masing-masing dua teori dalam konseling individual dan konseling kelompok. Keterampilan Dasar Komunikasi a) Kedudukan Komunikasi dalam Konseling Bimbingan teknis di bagian ini merupakan bagian utama dalam pengembangan kompetensi Konselor yang pada dasarnya bergerak di seputar dua sumbu, yaitu (a) eksplorasi Paradigma Baru dalam Terapan Kontekstual Konseling, dan (b) penguasaan keterampilan komunikasi yang merupakan wahana utama dalam pelaksanaan konseling. Konseling merupakan wilayah yang berkaitan dengan layanan ahli bagi individu normalsehat yang dinamakan konseli (counselee), namun mengalami gangguan fungsi sosial-vokasional sehingga perlu diatasi dalam rangka penyelenggaraan layanan Bimbingan dan Konseling. Keterampilan komunikasi perlu dikuasai konselor karena saat ini berkembang pemikiran bahwa semua layanan the helping professions mengutamakan penemuan self-healing capacity dari setiap individu yang

109

dilayani sehingga masing-masing mampu mengatasi masalahnya sendiri. Pada gilirannya, selain ditentukan oleh ketepatan pilihan paradigma, kemanjuran faktor-faktor umum tersebut terfasilitasi oleh komunikasi yang efektif antara Konselor dengan Konseli. Artinya, kemampuan Konselor dalam berkomunikasi akan mampu menjaring kapasitas konseli ( positive asset search). Sebagaimana halnya dalam pembelajaran, layanan ahli Konseling meniscayakan penggunaan terapan kontekstual, yaitu terapan yang mempersyaratkan penggunaan rujukan normatif sebagai kriteria keberhasilan layanan, dan rujukan prosedural yang menyediakan rambu-rambu teknis penerapannya. Apabila Pembelajaran yang Mendidik menetapkan terbentuknya karakter serta penguasaan hard skills dan soft skills sebagai pengejawantahan tujuan utuh pendidikan, maka layanan ahli Konseling menetapkan kemandirian konseli dalam melakukan pilihan, kemampuan meraih serta kemampuan mempertahankan karier untuk hidup produktif dan sejahtera serta kepedulian terhadap kemaslahatan umum ( the Common Good) sebagai kriteria keberhasilan. Dalam Konseling diperlukan penyetalaan (fine-tuning) antara cara Konselor merasa, berpikir dan berperilaku berdasarkan caranya ia melihat tugasnya, melihat konselinya dan melihat dunianya, dengan pemahamannya tentang cara tiap konselinya itu merasa, berpikir dan berperilaku berdasarkan asumsinya tentang cara konseli atau konseli tersebut melihat dirinya dan melihat dunianya. Kesetalaan persepsi ini penting ditekankan, sebab dalam melaksanakan konseling seyogianya Konselor tidak menyarankan kepada konselinya rujukan serta cara penataan diri yang tidak akan dia ikuti, seandainya rujukan serta cara penataan diri itu disarankan kepada dirinya. Ini berarti bahwa keberhasilan Konseling sangat bergantung pada adanya saling percaya ( trust) dalam hubungan antara Konseli dengan Konselor (Joni, Sutanto, dan Triyono, 2007). Sebagaimana telah diisyaratkan, komunikasi antar pribadi merupakan wahana utama dalam interaksi Konseling. Ini berarti bahwa diperlukan kejernihan makna dalam komunikasi sehingga tidak ada salah tangkap antara apa yang dimaksud oleh pihak yang menyampaikan pesan (konseli) dengan pihak yang menerima pesan (konselor), dan sebagaiman diketahui, dalam komunikasi peran sebagai pengirim dan sebagai penerima pesan itu selalu berganti secara dinamis. Selanjutnya, berbeda dari sumber dan penerima suara dalam sarana pancar-rekam mekanik, kejernihan makna dalam komunikasi antar pribadi juga sangat tergantung pada makna kontekstual yang melekat pada tiap ujaran dan isyarat non-verbal yang lazim menyertai ujaran, yang pada dasarnya tergantung pada kesetalaan antara pengolah makna budaya yang digunakan oleh Konselor dengan pengolah makna budaya yang digunakan oleh Konseli. Pada dasarnya trust terbangun atas dasar dua unsur yang dipersepsi oleh konseli yaitu adanya kepercayaan oleh Konseli kepada Konselor bahwa Konselor yang membantunya (a) memiliki kompetensi untuk menolong dirinya, dan (b) Konselor tidak akan menggunakan kelebihan kompetensinya itu untuk mencederai dirinya. Ini juga berarti bahwa trust itu tidak jatuh dari langit, melainkan harus ditumbuhkan setahap demi setahap melalui interaksi yang produktif serta menyejukkan.

110

Pada gilirannya, selain bergantung pada kejernihan komunikasi, kemanjuran konseling juga bergantung pada ketepatan pilihan paradigma yang diterapkan dalam pelaksanaan konseling, untuk menghindari terjadinya apa yang dinamakan sindroma the Procrustean Bed. (Ini istilah yang menggambarkan ketika pasien tidak cukup di tempat tidur, maka dipotong aja kakinya biar cukup). Artinya, kita tidak bisa memaksakan pendekatan konseling kita dan membiarkan konseli mengikuti mau kita sesuai pendekatan yang kita anut. Jadi dalam bagian ini, peserta akan belajar bagaimana berkomunikasi dengan orang lain secara efektif, terutama dengan konseli. Peserta diharapkan menguasai ketrampilan memperhatikan ( attending), mendengarkan (listening), dan mempengaruhi (influencing) secara tepat. Keterampilan Memperhatikan Overview di muka mengisyaratkan bahwa Konselor harus mampu memadukan kekuatan-kekuatan pribadi sebagai internal skills dan keterampilan-keterampilan yang dipelajari sebagai external skills. Keterampilan eksternal yang secara umum terdiri atas keterampilan memperhatikan, keterampilan mendengarkan, dan keterampilan mempengaruhi harus dikuasai agar Konselor mampu menjadi trust sehingga tercapai maksud: On becoming a humane counselor . Konselor yang memiliki atau menguasai internal skills dan external skills dan mempribadikannya (menginternalisasika sebagai bagian pribadinya), diharapkan akan mampu membantu konseli secara tepat, sebab orientasi membantunya akan didasarkan pada internal frame of reference dari setiap konseli yang dibantunya (Joni dkk, 2007). Penggunaan keterampilan konseling (keterampilan komunikasi interpersonal atau eksternal) tidak akan mengejawantah dalam efek terapeutik jika mereka tidak meluber dari Konselor yang telah dan selalu menata motif-motif dalam dirinya dan mendayagunakan mind-skills yang membantu serta berefek penyembuhan atau terapeutik. Penataan motif-motif itu secara praktikal bermakna menumbuh-kembangkan motif membantu (altruistic), menyelaraskan motif pragmatik dengan motif altruistik yang selalu ditumbuhkembangkan, dan menggarap-mengatasi-melampaui motif-motif yang berpotensi membahayakan, yaitu: (1) Motif yang berakar dalam nyeri jiwani yang belum terselesaikan; (2) Motif yang berakar dalam kebutuhan berlebih untuk mendominasi dan mengontrol; (3) Motif yang berakar dalam kebutuhan berlebih untuk mendapatkan pembenaran; (4) Motif yang berakar dalam kebutuhan mencari keintiman dan relasi seksual; (5) Motif yang berakar dalam mentalitas korban (Joni dkk, 2007). Mind-skills yang perlu selalu ditata adalah: (1) Wicara-dalam-diri; (2) Pengharapan-pengharapan-dalam-diri; (3) Penjelasan-penjelasan-dalam-diri; (4) Persepsi-persepsi-dalam-diri; (5) Kaidah-kaidah-dalam-diri; (6) Citra-citra visual-dalam-diri. Semuanya harus menyatu menjadi motif altruistic yang diharapkan oleh setiap diri konseli.

111

Dalam praktik konseling, trust ini dibangun sejak awal pertemuan pertama. Rapport merupakan aspek penting yang harus dibangun dalam menjamin terjadinya trust. Menyebut nama merupakan bagian utama dalam menciptakan rapport. Ini dilakukan sepanjang sesi konseling. Membangun rapport, oleh sejumlah kalangan dipandang tahapan awal yang paling penting. Membangun rapport membutuhkan dua keterampilan yaitu: perilaku memperhatikan dan keterampilan mengamati konseli. Perilaku memperhatikan dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa Konselor memahami dan tertarik/berminat tehadap konseli. Dengan cara ini diharapkan konseli menjadi merasa enak atau menjadi rilek dalam kebersamaannya dengan Konselor. Syarat Konselor yang bisa membangun rapport: open, authentic, congruent dengan konseli, serta luwes dalam menemukan kebutuhankebutuhan yang diekspresikan konseli. Perilaku memperhatikan ditujukan terhadap tampilan visual ( visual/eye contacts), vokal (vocal qualities), verbal (verbal tracking), dan bahasa tubuh (attentive and authentic body language ). Konsekuensi yang diharapkan, konseli akan lebih bebas dan terbuka, khususnya di seputar topik yang diberi perhatian. Dalam konseling, structuring merupakan bagian penting kedua di tahap awal, setelah rapport. Ini dimaksudkan untuk menangkap apa yang diharapkan konseli dari interview. Bila Konselor menampilkan keterampilan memperhatikan dan mendengarkan, maka konseli akan merasa bahwa Konselor benar-benar menjadi pendengar yang diharapkan. Ketika seseorang tiba-tiba datang dan menyatakan: Saya minta saransaran agar hubunganku dengan teman-teman di sekolah ini menjadi harmonis lagi, kayak dulu. Dalam percakapan awam, mayoritas orang akan langsung memberi saran dengan referensi pengalaman pribadinya atau informasi yang pernah didengarnya. Bisakah Konselor langsung memberi saran? Di muka telah dikupas bahwa Konselor bekerja berlandaskan pada internal frame of reference-nya konseli. Ini berarti bahwa ada keperluan untuk melakukan pembatasan peran dan dinyatakan dalam pertemuan pembantuan tersebut. Beberapa hal harus dibatasi, antara lain pembatasan peran, pembatasan masalah atau topic, pembatasan waktu, karena konseling merupakan hubungan professional. Keterampilan Mendengarkan Fungsi dan tujuan pengumpulan data adalah untuk menemukan mengapa konseli datang konseling dan mendengarkan apa ceriteranya. Keterampilan mendefinisikan masalah akan membantu menghindari pembahasan topik yang tidak berguna dan memberi arah bagi wawancara selanjutnya. Ketrampilan ini juga akan membantu untuk mengidentifikasi kekuatankekuatan yang nyata yang dimiliki konseli. Fungsi dan tujuan pengumpulan data adalah untuk menemukan mengapa konseli datang konseling dan mendengarkan apa ceriteranya. Keterampilan mendefinisikan masalah akan

112

membantu menghindari pembahasan topik yang tidak berguna dan memberi arah bagi wawancara selanjutnya. Ketrampilan ini juga akan membantu untuk mengidentifikasi kekuatan-kekuatan yang nyata yang dimiliki konseli. Keterampilan yang umumnya digunakan adalah mendengarkan secara aktif. Keterampilan lain dapat digunakan jika diperlukan. Misalnya, jika masalahnya tidak jelas, kita bisa gunakan keterampilan mempengaruhi. Pencarian aset positif konseli akan sangat bermanfaat dalam menyelesaikan masalah. Fungsi dan tujuan pengumpulan data adalah untuk menemukan mengapa konseli datang konseling dan mendengarkan apa ceriteranya. Keterampilan mendefinisikan masalah akan membantu menghindari pembahasan topik yang tidak berguna dan memberi arah bagi wawancara selanjutnya. Ketrampilan ini juga akan membantu untuk mengidentifikasi kekuatankekuatan yang nyata yang dimiliki konseli. Fungsi dan tujuan pengumpulan data adalah untuk menemukan mengapa konseli datang ke konseling dan mendengarkan apa ceriteranya. Keterampilan mendefinisikan masalah akan membantu menghindari pembahasan topik yang tidak berguna dan memberi arah bagi wawancara selanjutnya. Pencarian aset positif konseli akan sangat bermanfaat dalam menyelesaikan masalah. Kemampuan mendengarkan secara aktif terdiri atas lima teknik komunikasi yaitu questioning, encouraging, paraphrasing, reflecting feeling, dan summarizing. Masing-masing dijelaskan sebagai berikut. 1) Questioning Isu-isu utama terkait keterampilan bertanya, antara lain 1) Pertanyaan membantu memulai percakapan. 2) Pertanyaan terbuka akan membantu mengelaborasi dan memperkaya ceritera konseli. 3) Pertanyaan membantu mengungkap dunia spesifik-konkrit konseli. 4) Pertanyaan merupakan hal kritis dalam asesmen. 5) Kata pertama dalam pertanyaan terbuka akan menentukan apakah konseli mau melanjutkan ceiteranya. 6) Pertanyaan potensial menjadi masalah. 7) Dalam situasi lintas-budaya, pertanyaan dapat menimbulkan distrust. 8) Pertanyaan dapat digunakan untuk membantu konseli menjelajahi aset-aset positifnya. Ada dua jenis pertanyaan, yaitu pertanyaan terbuka dan pertanyaan tertutup. Konsekuensi dari pertanyaan, konseli akan menjawab pertanyaan terbuka secara lebih detail. Sebaliknya konseli akan memberi informasi khusus atas pertanyaan tertutup. Hati-hati, seringkali pertanyaan tertutup membuat konseli hanya menjawab Ya atau Tidak (bisa terjebak resistensi) 2) Encouraging Mendengarkan bukan proses pasif, keterampilan-keterampilan yang dibahas mulai dari encouraging ini tanda bahwa Konselor aktif. Encouraging merupakan perilaku verbal dan non-verbal Konselor yang menjadi penanda bagi konseli untuk melanjutkan ceritera hidupnya. Beberapa jenis keterampilan encouraging ini adalah acceptance, restatement, dan silent. Acceptance

113

Non-verbal: anggukan kepala, gerakan membuka tangan Verbal: he eh, ya ya, ok, saya mengerti jalan pikiranmu, saya memahami perasaanmu Restatement Kata: ulangi kata atau frasa kunci yang dinyatakan konseli. Kalimat: Ulangi kalimat, sebagian atau seluruhnya. Silent Diam kadang diperlukan karena konselipun diam. Mengapa konseli diam? Konseli kehabisan energi Konseli kehabisan bahan ceritera Konseli resisten Senyuman dan kehangatan interpersonal yang tepat merupakan encouragers utama yang akan membantu konseli merasa nyaman dan suka berceritera terus. 3) Paraphrasing Paraphrasing merupakan feedback bagi konseli terkait esensi dari apa yang dikatakan. Konselor akan meringkas dan memperjelas pernyataanpernyataan konseli yang panjang dan seringkali tidak teratur. Konselor/konselings = guru bahasa yang bisa membuat kalimat baru, ringkas, segar, dan tepat. Membuat parafrase bukan pembeo, Konselors menggunakan kata-kata sendiri dipadu dengan kata-kata penting yang dinyatakan konseli. Biasanya digunakan awal kalimat: Singkatnya Pada intinya Boleh dikatakan

Paraphrasing dilakukan sebagai tanda bahwa helper mendengakan. Artinya helper menegaskan apa isi pokok pernyataan konseli. Fungsi dari paraphrasing sebagai feedback bagi konseli akan apa yang ia katakan. Catatan: Konselor harus tepat memilih kata baru dan segar sebagai padanan pernyataan konseli. Konsekuensi yang diharapkan: Konseli akan merasa didengar, sehingga cenderung melanjutkan ceritera, tidak mengulang-ulang ceritera yang sama. Jika parafrase tak sama, akan memberi kesempatan konseli mengoreksi konselings. Jika disuarakan dengan nada tanya, konseli akan ceritera lebih lanjut.

114

4) Reflecting feeling Dalam proses merefleksi perasaan, Konselor mengobservasi perasan verbal dan non verbal. Selanjutnya diikuti dengan memantulkan perasaan yang ada di balik pernyataan. Observasi harus jeli, sebab seringkali ada beda antara pernyataan verbal dan ekspresi nonverbal konseli. Konsekuensi yang diharapkan: Konseli akan masuk ke dalam pengalaman emosionalnya dan konseli dapat mengoreksi dengan kata-kata perasaan lainnya. Banyak penulis yang mengakui bahwa pikiran-pikiran dan perbuatan kita hanya merupakan cerminan dari pengalaman perasaan dan emosi kita. Keterampilan reflecting feeling dimaksudkan untuk membantu orang lain merasakan dan mengalami bagian dirinya yang dalam. Mengapa menangkap emosi penting? Emosi dan perasan sebagai sumber dari banyak pikiran dan perbuatan konseli. Emosi dan perasaan dapat ditangkap dari labeling perilaku konseli: sedih, muram, gusar, ceria. Beberapa hal yang harus dicatat: 1) Kata-kata emosional digunakan oleh konseli; 2) Kata-kata emosional implisit tidak dinyatakan langsung; 3) Ekspresi non verbal yang dapat ditangkap melalui gerak tubuh; dan 4) Paduan cue verbal dan nonverbal. Perasaan dapat dilihat langsung, ditangkap melalui bertanya, atau direfleksi dari apa yang ada di balik pernyataan. 5) Summarizing Summarizing intinya sama dengan paraphrasing. Bedanya summarizing untuk menyimpulkan beberapa pernyataan konseli. Teknik ini berfungsi sebagai feedback bagi konseli akan apa yang ia katakan. Jenis: memulai/mengakhiri wawancara, transisi ke topik baru, mengklarifikasi isu-isu kompleks.Utama: mengorganisasi pikiran helper dan konseli menganai apa yang terjadi dalam wawancara. Konsekuensi yang diharapkan: Konseli merasa didengarkan dan belajar bagaimana ceritera mereka diintegrasikan. Utamanya: mengintegrasikan pikiran, perasaan, dan tingkahlaku konseli. Simpulan menggunakan gabungan bahasa paraphrasing dan reflecting feeling. Ia dapat dilakukan di awal, tengah, dan akhir pertemuan. Simpulan di awal: Biasanya dilakukan untuk menyatakan apa-apa yang telah dibahas pada pertemuan-(pertemuan) sebelumnya. Simpulan di tengah: Simpulan dilakukan ketika beberapa pernyataan konseli perlu diringkas sehingga jelas kelebihan/kekuatan dan kelemahan/masalah konseli. Simpulan di akhir:

115

Simpulan merupakan review dari keseluruhan wawancara pada suatu sesi. Contoh penerapan teknik komunikasi terhadap pernyataan konseli sebagai berikut: Saya tak tahu, ia selalu menghindar. Saya jadi gila. Henny pulang, tak berkata apa-apa, langsung putar tv. Jika saya coba tanya, ia memalingkan muka. Tak tahu apa yang harus saya lakukan, saya nggak bisa berbuat apa. Respon konselo r sebagai berikut: Nonverbal encourager: (anggukan kepala) Key-word encouragers: Menghindarimu?, Jadi gila? (fokus pertama pada isi, dan kedua pada emosi) Restatement: Jika anda coba tanya, ia memalingkan muka? Paraphrase: Hanny menghindarimu dan kamu tak tahu harus berbuat apa? Reflecting feeling: Anda benar-benar frustrasi menghadapi situasi itu Dalam banyak kasus wawancara, konselings bisa gunakan paduan dari respon-respon encouraging, paraphrasing, dan reflecting feeling. Bagaimana Bapak dan Ibu merespon pernyataan konseli sebagai berikut: Saya bermasalah dengan isteri saya. Ia selalu merasa bahwa ia harus selalu ke luar rumah, melihat dunia luar, bekerja. Saya seorang manajer dan saya pikir saya memiliki income yang baik. Anak saya melihat Surti sebagai Ibu yang sempurna, sayapun demikian melihat isteri saya sempurna. Tapi malam lalu kami memiliki pandangan yang berbeda dan masing-masing mempunyai argumentasinya. Pernyataan konseli di atas, kalau direspon dengan teknikteknik berikut, bagaimana bunyinya: Key-word encouragers: . Restatement: . Paraphrase: . Perumusan tujuan konseling yang ideal adalah dilakukan secara bersama-sama antara konseli dan Konselor. Atas dasar temuan-temuan masalah pada tahap 2 (Pengumpulan Data) dirumuskan perilaku target yang akan menghantarkan Konselor melayani konseli merancang program tindakan yang tepat. Oleh karena kunci keberhasilan membantu terletak pada pemikiran bahwa konseli tumbuh dari kekuatannya sendiri , maka perlu diperhatikan dalam pembuatan rumusan tujuan aspek kekuatan konseli. Ada hal yang perlu diperhatikan, yakni seringkali apa yang dipikirkan konseli berbeda dari apa yang dipikirkan Konselor. Misalnya, konseli akan puas bila bisa tidur nyenyak di malam hari (itu saja cukup), sedangkan Konselor mengangap bahwa konseli ybs harus mampu merekonstruksi kepribadiannya. Kadang keduanya sejalan, misalnya konseli ingin pekerjaan baru, Konselor ingin memberikan

116

tes vokasional. Namun, kadang konseli mempunyai harapan berlebih dari apa yang mampu dilakukan Konselor. Dalam praktik, pernyataan tujuan penting dan tidaknya sangat bergantung pendekatan yang Konselor gunakan. Konselor yang beracuan Rogerian menghindari tujuan konkrit, sebaliknya yang beracuan decision making misalnya konseling behaviorisme, REBT akan mementingkan pembuatan rumusan tujuan yang dapat diukur secara objektif. Keterampilan Mempengaruhi Pada tahap working yaitu tahap dimana alternatif penyelesaian masalah dikembangkan, tujuan utamanya memecahkan masalah dan menemukan jalan baru bagi konseli. Masalahnya, konseli seringkali tidak mampu datang dengan alternatif. Oleh karena itu, tugas Konselor menemukan berbagai kemungkinan dan membantu konseli menemukan cara-cara baru untuk bertindak secara tepat. Bagaimana mengkonfrontasi adanya kesenjangan antara harapan dan perilaku konseli? Ada dua pilihan tindakan Konselor/Konselor: Pertama, membuat ringkasan konflik dengan frame of reference konseli dan dengan teknik-teknik mendengarkan menghantarkan konseli mencari solusi. Kedua, membuat ringkasan konflik dan menambahkan frame of reference Konselor dengan teknik-teknik mempengaruhi. Pada initinya semua teknik komunikasi (merespon konseli) itu ada unsur mempengaruhi konseli. Namun tingkat pengaruh interpersonal bervariasi mulai dari pengaruh yang lemah, menengah sampai pengaruh yang kuat. Beberapa teknik mempengaruhi yang kuat antara lain Confronting, Reflecting Meaning, Self-Disclosure, Feedback, Advice, Reassurance . 1) Confronting Sebuah perlawanan suportif yang didalamnya ketidaksebangunan/ kesenjangan yang tampak pada diri konseli, diberi feedback. Konseluensi yang diharapkan Konseli akan merespon terhadap konfrontasi dengan ide-ide, pikiran-pikiran, perasaan-perasaan, dan perilaku-perilaku baru. Teknik ini digunakan untuk menunjukkan kesenjangan pada diri konseli yang membuat konseli menjadi mandeg (tidak berkembang), atau membuat konseli inactive menjadi active. Ibarat dokter gunakan teknik kejutan jika pasien jantungnya mandeg. Kesenjangan bisa jadi: 1) Antara dua pernyataan; 2) Antara apa yang dikatakan dan apa yang dilakukan (gerak); 3) Antara pernyataan lisan dan ekspresi non-verbal; 4) Antara pernyatan dan konteks kejadian; 5) Antara pandangan dua atau lebih orang. Dalam respon konfrontasi, respon Konselor berbentuk konflik: Di satu sisi , di sisi lain Tahap Utama merespon dengan konfrontasi: 1) Mengidentifikasi konflik melalui memadukan pesan-pesan kesenjangan; 2) Menyatakan konflik tersebut kepada konseli dengan jelas; dan 3) Mengevaluasi keefektifan intervensi terhadap perubahan dan pertumbuhan konseli.

117

2) Reflecting Meaning Reflecting meaning menekankan pada pikiran-pikiran yang mendalam terkait dengan nilai-nilai dan sikap. Teknik paraphrasing dan reflecting feeling menjadi bagian penting disini. Teknik ini digunakan dengan mengharapkan konsekuensi berupa konseli akan mendiskusikan ceritera, isu, dan masalah secara lebih dalam dengan menekankan pada makna, nilai, dan pemahaman yang mendalam di balik ceritera tersebut. 3) Self-Disclosure Konselor sharing dirinya melalui menyampaikan pengalaman hidup pribadinya. Seringkali dimulai dengan kata Saya. Konseluensi yang diharapkan konseli akan tergerak untuk mengalami self-disclosure lebih dalam. Bila efektif akan membuat konseli merasa lebih enak dalam hubungan terapeutik. Topik self-disclosure sampai saat ini masih menjadi perdebatan: boleh atau tidak boleh? Banyak ahli yang beranggapan bahwa Konselor yang berbagi diri secara terbuka akan membuat jarak. Sebaliknya, banyak juga yang mengakui bahwa self-disclosure akan membua konseli berceitera, membuat lebih trust dan menciptakan hubungan sederajat ( equal relationship). Isi self-disclosure terdiri atas: 1) Mengunakan pernyataan: Saya (subyek, pribadi); 2) Kata kerja isi atau perasaan: Saya pikir , Saya rasa.. Saya berpengalaman (predikat); 3) Objeknya berupa deskriptor sifat: Saya merasa bahagia karena Anda mampu lebih terbuka (asertif) dengan orangtua secara langsung, Pengalaman saya bercerai, seperti Anda. Saya merasa dan 4) Kata perasaan atau ekspresi perasaan. 4) Feedback Memberikan data yang akurat tentang bagaimana Konselor atau orang lain memandang terhadap sudut pandang konseli. Konsekuensi yang diharapkan Konseli memperoleh perspektif Konselor atau orang lain tentang fikiran, perasaan, dan perilaku dan hal ini dapat mengarahkan ke perubahan yang dikehendaki. Feedback efektif untuk melihat diri sendiri sebagaimana orang lain melihat kita. Untuk mendengar bagaimana orang lain mendengarkan kita. Untuk disentuh sebagaimana kita menyentuh orang lain. Petunjuk memberi feedback: 1) Konseli yang menerima feedback harus dalam keadaan siap (be in charge), 2) Memuatkan pada kekuatan atau hal yang dilakukan konseli, 3) Harus spesifik dan konkrit, 4) Relatif tanpa penilaian, 5) Harus persis, dan 6) Lihat kembali bagaimana feedback Anda, diterima konselikah? 5) Advice

118

Memberi informasi/nasehat kepada konseli agar ia menjadi lebih jelas/lebih pasti tentang apa yang hendak dilakukan. Setidaknya ada tiga jenis saran, yaitu: Direct advice diberikan kalau konseli tidak tahu sama sekali. Persuasive advice diberikan kalau konseli sudah tahu alasanalasan logis atas rencananya. Alternative advice diberikan setelah konseli tahu kelebihan dan kelemahan setiap alternatif. 6) Reassurance Konselor mendukung apa yang dinyatakan konseli. Dukungan ini diharapkan menghantarkan konseli mampu menganisipasi secara lebih baik konsekuensi dari perbuatan dan perubahan pikiran, perasaan, dan perilakunya. Setidak-tidaknya mereka akan memahami dampaknya bagi dirinya. Ada tiga jenis dukungan yaitu postdiction reassurance, prediction reassurance, dan factual reassurance. Masing-masing digambarkan sebagai berikut. Prediction Reassurance: Ketika konseli menyatakan bahwa ia akan melakukan suatu rencana tindakan positif, maka Konselor/Konselor dapat mendukung pernyataan konseli tersebut. Mis: Jika benar2 Kau lakukan rencana itu, maka (prediksi) Postdiction reassurance: Semula konseli merasa takut menghadapi sesuatu, tetapi dengan keberaniannya ternyata ia berhasil juga menyelesaikan tugas yang selama ini ia takutkan. Mis: Bagus, ternyata apa yang Anda bayangkan selama ini tidak terbukti. Factual reassurance: Pada saat konseli mengalami musibah, misalnya, Konselor/Konselor dapat membantu meringankan beban konseli dengan memberikan dukungan faktual bahwa apa yang dialami konseli juga dapat dialami oleh orang lain dan merasakan seperti apa yang dirasakan konseli saat ini. Keterampilan-keterampilan dasar komunikasi di atas akan sangat penting bagi pelaksanaan konseling. Mereka akan sangat berguna dalam konseling apapun dengan kadar yang berbeda-beda. Pembahasan berikut adalah teori-teori konseling yang ditertapkan dalam Teori Konseling Kontemporer: REBT a) Pandangan Hakekat Manusia Pendekatan Konseling Rasional Emotif Behavior (REB) didasarkan pada model psikoedukasionaI yang terstruktur, dan mereka menekankan peran pekerjaan rumah, menempatkan tanggung-jawab pada konseli untuk mengambil peran aktif baik selama di dalam dan di luar sesi konseling, dan mengambil berbagai strategi kognitif dan perilaku untuk mewujudkan

119

perubahan. Sebagian besar Konseling REB didasarkan pada asumsi bahwa reorganisasi pernyataan diri seseorang akan menghasilkan reorganisasi perilaku seseorang. Asumsi dasar Konseling REB adalah bahwa orang berkontribusi pada permasalahan psikologisnya sendiri, dan juga pada gejala-gejala khusus dalam cara mereka menginterpretasi peristiwa dan situasi. REB didasarkan pada asumsi bahwa kesadaran, emosi. dan perilaku berinteraksi secara signifikan dan mempunyai huhungan sebab akibat timbal-balik. REB secara konsisten menekankan ketiga modalitas ini dalam interaksinya, sehingga dianggap sebagai pendekatan yang terpadu. Konseling REB menganut paham bahwa orang terganggu bukan oleh sesuatu hal, tetapi oleh pandangan mereka sendiri terhadap sesuatu hal tersebut. Ellis kemudian mengatakan:orang mengganggu dirinya sendiri karena hal-hal yang terjadi pada dirinya, dan karena pandangan, perasaan, dan tindakan mereka. Hipotesis Konseling REB adalah bahwa emosi kita utamanya muncul dari keyakinan, evaluasi, interpretasi, dan reaksi kita terhadap situasi pekerjaan. Kepada konseli, Konselor harus memberikan alat agar bisa mengidenfikasi dan mengatasi keyakinan yang tidak rasional yang terjadi ~ karena proses indoktrinasi diri konseli. Konseli belajar bagaimana menggantikan cara berpikir yang tidak efektif dengan kognisi yang rasional dan afeksi yang benar. Fokusnya adalah bekerja dengan pemikiran dan tindakan, bukannya pada pengungkapan perasaan. Ada kolaborasi antara konseli dan Konselor. Konseling REB memandang manusia sebagai berikut. 1. Manusia dilahirkan dengan potensi pemikiran yang rasional dan irasional. 2. Manusia memiliki predisposisi dalam usaha rnencapai kebahagiaan, mampu menjaga diri. berpikiran dan benkemampuan verbal, mencintai, berkomuni-kasi dengan orang lain. bertumbuh, dan mampu mengaktualisasikan diri. 3. Manusia juga memiliki kecenderungan merusak diri. menghindari diri dari pemikiran, terus melakukan kesalahan, takhayul, mahkluk yang meskipun terus membuat kesalahan namun pada saat bersamaan belajar hidup damai dengan dirinya sendiri. tidak toleran. perfeksionis, menyalahkan diri, dan penghindaran dari aktualisasi diri. 4. Manusia memiliki kemampuan reflektif (berbicara pada diri sendiri), dapat mengevaluasi dan menguatkan diri. 5. Manusia memiliki kecenderungan untuk bertumbuh dan dapat mengaktualisasikan diri namun kurang berkembang dan bertumbuh karena pola penyalahan (mempersalahkan) diri yang dipelajari. 6. Konseling REB berusaha membantu agar manusia mampu menerima diri mereka sendiri sebagai makhluk yang meskipun terus membuat kesalahan namun pada saat yang bersamaan belajar hidup damai dengan dirinya sendiri.

120

7. Gangguan terjadi karena pada masa kanak-kanak manusia mempelajari keyakinan yang irasional dan penyalahan diri. Manusia memiliki kecenderungan kuat untuk membuat dirinya terganggu secara emosional. 8. Untuk memulihkan diri dari gangguan emosi bisa dilakukan melalui berhenti menyalahkan diri, menerima dan menghindari diri dari hasrat untuk mengatakan harus, seharusnya dan dari tuntutan atau perintah yang irasional. Misalnya. saya harus mendapatkan cinta dan pengakuan dari orang-orang penting dalam hidup saya. b) Kondisi-kondisi Konseling Tujuan Konseling Manusia cenderung menilai tindakannya dengan predikat baik dan buruk, bernilai dan sia-sia dan mengukur dirinya berdasarkan apa yang nampak. Oleh karena itu tujuan konseling REB adaIah mendidik konseli bagaimana cara memisahkan evaluasi tingkah laku mereka dan evaluasi esensi diri dari totalitasnya dan cara menerima diri dengan segala kekurangannya. Meminimalisir gangguan emosi dan tingkah laku penyalahan diri dengan memahami filosofis hidup yang lebih realistis dan bisa dijalankan: mengajari konseli mngubah tingkah laku dan emosi disfungsional menjadi tingkah laku dan emosi yang sehat yang fungsional. Tujuan utama Konseling REB, Pertama, membantu konseli dalam proses mencapai penenimaan diri tanpa syarat ( Unconditional Self Acceptance) dan penerimaan orang lain tanpa syarat ( Unconditional Others Acceptance). Kedua, melihat bagaimana keduanya berhubungan. Saat konseli lebih mampu menerima diri mereka sendiri, maka mereka cenderung akan menerima orang lain tanpa syarat. Peran dan Fungsi Konselor Menunjukkan kepada konseli bahwa keyakinan tentang harus dan sebaiknya yang ada dalam diri mereka itu adalah suatu yang irasional. Menunjukkan bahwa pengindoktrinasian diri secara berulang yang dilakukan konseli adalah suatu yang tidak logis dan tidak realistis. Konselor mengajak konseli bertanggungjawab penuh untuk mengubah kondisi mereka. Membantu konseli memodifikasi pemikiran dan mengabaikan gagasan yang irasional. Artinya, membantu konseli memahami proses lingkaran setan menyalahkan diri sendiri dan mengubah penyalahan diri itu. Mengembangkan filosofi hidup yang rasional sehingga di masa depan mereka mampu menghindari diri agar tidak menjadi korban keyakinan tidak rasional yang lainnya.

121

Peran Konseli Peran konseli adalah sebagai pebelajar dan pelaksana tindakan. Konseling dipandang sebagai proses reedukatif dimana konseli belajar cara menerapkan pemikiran psikologis, bereksperimen, menyelesaikan pekerjaan rumah untuk memecahkan masalah untuk mencapai perubahan emosi. Proses penyembuhan berfokus pada pengalaman konselit di masa kini. konseli bekerja aktif di luar sesi konselingi: belajar cara yang efektif untuk meruntuhkan pemikiran yang menyalahkan diri, mengulas kemajuanya sendiri, membuat rencana, dan mengidentifikasi strategi pengatasan masalah potensial yang berkelanjutan. Hubungan Konselor dan Konseli Hubungan ditandai dengan menerima semua konseli dan mengajari mereka untuk tanpa syarat menenima orang lain dan diri mereka sendiri. Konselor menunjukkan penerimaan penuh dengan tidak mengevaluasi diri konseli. Konselor menerima konseli sebagai makhluk tidak sempurna yang bisa ditolong dengan menunjukkan bahwa Konselor peduli tanpa membuat konseli merasa didikte dan dengan menggunakan beragam tehnik seperti bibliokonseling dan modifikasi tingkah laku. Konselor membangun hubungan dengan konseli dengan cara menunjukkan pada konseli bahwa Konselor memiliki keyakinan yang besar akan kemampuan konseli dalam mengubah diri mereka sendiri dan mengatakan bahwa Konselor mempunyai cara untuk membantu mereka melakukannya. c) Proses dan Teknik Konseling Proses konseling REB Secara garis besar, konseling REB terbagi menjadi tiga tahapan, yaitu tahap kognitif, tahap emotif, dan tahap behavioristik. Masing-masing dijelaskan sebagai berikut. Tahap Kognitif. Konselor menyajikan alasan kognitif kepada konseli. Seperti setiap mulai sesi konseling bertanya, " Apa masalah yang mengganggu diri Anda?". Selama tahap awal, konseli dapat belajar untuk mengendalikan emosi mereka dan menjadi sadar akan pikiran-pikiran yang mendasari masalah mereka serta belajar alternatif untuk mengubah pikiran mereka yang irasional. Tahap Emotif. Fase emotif ditujukan untuk membantu konseli menyadari pikiran-pikiran mereka. Hal ini sering dilakukan dengan meminta konseli untuk menuliskan pikiran-pemikiran yang mengganggu mereka.

122

Tahap Behavioristik. Selama tahap akhir, konseli dilatih untuk melakukan verbalisasi kognisi alternatif dan untuk mengubah perilaku mereka. Dalam pembahasan lain, tahap-tahap konseling REBT terbagi menjadi . Assessment of feeling and activating event Empathic reflection of feelings by counselor Assessment of the ABC relationship Assessment of behavioral consequence Assessment of cognition Counselor summarizes ABC assessment data Counselor guides client toward solving problem (Disputing-Effect-New feeling) Dalam setiap tahapan di atas dapat digunakan berbagai teknik yang akaj diuraikan pada bagian berikut. Teknik-Teknik Konseling REB Teknik Kognitif 1) Mempersoalkan keyakinan tidak rasional dan mengajari konseli cara mengatasi tantangan ketidakrasionalanya sampai ia mampu menghilangkan dan melunturnya kata harus dalam dirinya. Pertanyaan yang perlu dipelajari konseli misalnya, Mengapa orang harus memperlakukan saya secara adil? Atau pernyataan, Jika saya tidak mendapatkan pekerjaan seperti yang saya inginkan, akan sangat mengecewakan, walaupun saya bisa bertahan? 2) Mengerjakan pekerjaan rumah. Konseli membuat daftar masalah mereka, mencari keyakinan absolutisme mereka, dan mempertentangkan keyakinan-keyakinan tersebut. Dengan cara yang perlahan-lahan dan yang dibagi ke dalam beberapa sesi, konseli belajar mengatasi kecemasan dan mempertanyakan pemikiran tidak rasionalnya yang mendasar. Mereka diminta untuk belajar membuat diri sendiri bahagia dan tidak terpengaruh oleh gangguan-gangguan. Mereka juga mendengar dan mengevaluasi rekaman sesi konseling mereka sendiri. Semua itu dilakukan untuk merevisi pemikiran, perasaan, dan tingkah laku konseli. 3) Mengubah bahasa harus dan sebaiknya untuk meminimalisir kesalahan diri. Misalnya mengubah dari mengatakan akan sangat kacau bila. . . , menjadi mengatakan akan kurang baik kiranya... . Pergantian itu akan membawa konseli kepada penerapan pernyataan diri yang baru, yang membantu mereka berpikir dan bertindak secara berbeda. Sebagai konsekuensinya, mereka juga mulai merasakan perbedaannya. 4) Humor. Gangguan emosi sering disebakan oleh karena terlalu seriusnya seseorang menganggap sesuatu sehingga kehilangan perspektif humor

123

terhadap peristiwa hidup. Humor menunjukkan absurditas beberapa gagasan yang dihadapi konseli, dan humon bisa sangat berharga untuk membantu konseli lebih santai dan tidak menganggap masalahnya terlalu serius. Misalnya, humor bisa dilakukan dengan menyanyikan lagu humor, konseli diminita untuk menyanyikannya di saat mereka merasa tertekan dan cemas. Juga bisa dilakukan dengan ceritera-ceritera lucu dalam buku atau film. Teknik Emotif Dengan menggunakan beragam prosedur emotif yang penuh penerimaan tanpa syarat, permainan peran emotif rasional, pemodelan, imajinasi emotif rasional, dan latihan mencegah rasa malu dan pemberian tugas yang selektif, membantu konseli mengubah sejumlah pemikiran. emosi, dan tingkah laku mereka. 1) Perbandingan emotif rasional. Teknik ini merupakan bentuk praktek mental yang dirancang untuk menciptakan pola emosi baru. Konseli membayangkan diri mereka berpikir, merasakan, dan bertingkahlaku pensis seperti cara berpikir, merasakan, dan bertingkahlaku yang mereka kehendaki dalam kehidupan nyata. Kepada mereka ditunjukkan bagaimana cara membayangkan salah satu hal terburuk yang mungkin terjadi pada mereka, bagaimana merasakan perasaan tersebut secara intensif, dan kemudian mengubahnya menjadi perasaan negatif yang sehat. Hal itu dilakukan beberapa minggu supaya mencapai titik di mana konseli tidak lagi akan merasa marah apabila terjadi peristiwa negatif. 2) Bermain peran. Konseli dihadapkan dengan kondisi sosial yang direkayasa, yang secara nyata membebani mereka. Konseli bisa melatih beberapa tingkah laku yang diperlukan dalam situasi tertentu. 3) Latihan menanggulangi rasa malu. Latihan ini ditujukan untuk meningkatkan penerimaan diri dan tanggung-jawab serta membantu konseli memandang bahwa sebagian besar perasaan mereka tentang rasa malu berhubungan dengan cara mereka mengenali kenyataan. Caranya dengan menugaskan konseli melakukan tindakan yang ditakuti karena memikirkan perasaan orang terhadap apa yang dilakukannya. Latihan terus dilakukan sampai konseli menyadari bahwa tidak ada gunanya menggubris reaksi atau pemikiran orang lain yang akan menghambatnya untuk melakukan sesuatu yang dikehendaki. 4) Menggunakan kekuatan dan energi . Konseli disarankan untuk menggunakan kekuatan dan energi sebagai satu cara untuk membantu berpindah dan berwawasan intelektual menjadi berwawasan emosional. Kepada konseli juga ditunjukkan cara bagaimana melakukan dialog memaksa diri mereka sendiri di mana mereka bisa mengekspresikan keyakinan tidak rasional dan kemudian dengan kekuatan penuh mempertanyakannya. Terkadang konseli akan melakukan permainan peran terbalik dengan filosofi penyalahan diri yang dipegang kuat. Selanjutnya, konseli diminta untuk melawannya dengan berbagai daya

124

upaya untuk meninggalkan gagasan disfungsional tersebut. Desakan dan kekuatan merupakan bagian dasar latihan pencegahan rasa malu. Tehnik Behavior 1) Dalam teknik ini Konselor menggunakan prosedur behavioral: pengkondisian, prinsip manajemen diri, desensitisasi sistematis, teknik relaksasi, dan pemodelan. Teknik-tekni tersebut diharspkan telah menjadi pengetahuan siap pada diri konselor dalam bimtek ini. 2) Memberikan tugas yang dilaksanakan secara sistematis dan dicatat serta dianalisis dalam sebuah format isian. 3) Konseli dipacu untuk menyembuhkan diri secara perlahan, misalnya konseli yang takut naik elevator mungkin akan bisa mengurangi rasa ketakutannya melalui teknik flooding dengan cara naik turun elevator 20 sampai 30 kali sehari. Teori Konseling Postmodern: SFBT a) Konsep Kunci Oleh karena memusatkan pada keberhasilan daripada kegagalan konseli, membuat Solution-Focused Brief Therapy (SFBT) lebih cepat berhasil ketimbang konseling lainnya. Model ini menggunakan pendekatan sistematis dengan tahapan yang lebih ditentukan oleh konseli. Digunakan dengan berbagai macam masalah, dan hampir selalu berhasil, karena dengan memusatkan pada kesuksesan, konseli lebih tertantang, ketimbang ngurusi masalah. Dengan memusatkan pada kelebihan, kekuatan daripada kelemahan memberi insentif bagi usaha-usaha yang berhasil ke depan. Proses membuat konseli terlibat aktif dan sekaligus menerima tangungjawab akan tingkahlakunya. Konseli akan menjadi diberdayakan bila sejak awal dikenali kemampuan-kemampuannya. Resistensi akan dapat dikurangi karena secara sadar ia ingin terlibat terus dalam proses konseling. Konselor akan menemukan bahwa dengan memusatkan pada solusi ketimbang problem dalam setiap sesi, akan berdampak lebih positif. Masalah-masalah yang sering terjadi di sekolah: siswa tidak selalu siap belajar, guru tidak selalu suka menghadapi anak yang underachieving dan atau anak-anak yang berperilaku menyimpang. Iklim sekolah membikin stres, banyak anak yang melakukan kekerasan, aktivitas geng, dan perilaku menyimpang lain di lingkungan sekolah, sementara kepala sekolah menuntut keadaan zero kekerasan di sekolahnya, seraya membangun lingkungan belajar yang berpusat pada siswa, untuk meningkatkan prestasi akademik semua siswa. Demikianpun tuntutan dan tekanan dari berbagai fihak, terutama pemerintah akan perolehan prestasi siswa yang terukur dengan standar tinggi harus dicapai. Menghadapi hal di muka, sekolah dapat menempatkan solusi, kekuatan, dan kesuksesan sebagai kunci keberhasilan pendidikan di sekolah.

125

Untuk itu, Konselor bersama pendidik lain, perlu mengutamakan solusi yang harus selalu siap diterjadikan di sekolahnya. SFBT, suatu pendekatan yang berasal dari the Family Therapy Center di Milwaukee, Wisconsin (Steve DeShazer (DeShazer, 1985, 1988, 1991, 1994; DeShazer et al., 1986). Insoo Kim Berg (Berg, 1994; Berg & DeJong, 1996; Berg & Miller, 1992) serta koleganya (seperti Miller, Hubble, & Duncan, 1996; Walter & Peller, 1992), telah menerapkan secara berhasil untuk mengubah perilaku anak dan remaja, termasuk perilaku agresif siswa. Studi efektivitas SFBT lebih jauh di sekolah telah dilakukan banyak peneliti (Franklin, Biever, Moore, Clemons, & Scamardo, 2001; Geil, 1998; LaFountain & Gardner, 1996; Littrell, Malia, & Vanderwood, 1995, De Jong & Berg,2008; de Shazer, Dolan et al., 2006, dalam Corey, 2009 ). Oleh karena SFBT menekankan pendekatan konstrusi sosial dan mendorong keterlibatan guru, orangtua, dan fihak lain yang terkait dengan pendidikan anak, maka ia konsisten dengan ciri-ciri intervensi yang menekankan keberhasilan di sekolah. Penelitian lain juga menunjukkan bahwa SFBT tepat untuk meningkatkan self-esteem dan sikap-sikap positif anak. SFBT didasarkan pada orientasi membangun solusi ketimbang memecah-kan masalah. Fokusnya pada keinginan konseli mendatang ketimbang problem masa lalu atau konflik-konfliknya saat ini. Konseli didorong untuk meningkatkan frekuensi perilaku-perilaku yang bermanfaat saat ini. Tidak ada masalah yang terjadi sepanjang waktu. Ada pengecualian (exceptions) yakni waktu-waktu dimana masalah telah terjadi tetapi tidak diapa-apakan yang dapat digunakan oleh Konselor untuk mengkonstruk solusi. Konselor membantu konseli untuk menemukan alternatif pola perilaku, pikiran, dan interaksi yang diinginkan saat ini. Berbeda dari intervensi membangun keterampilan dan perilaku oleh model konseling sebelumnya, model SFBT ini beranggapan bahwa tingkahlaku solusi telah ada dalam diri konseli. Diakui bahwa perubahan-perubahan skala kecil akan menghantarkan ke perubahan yang besar. Keterampilan percakapan ( conversational skills) diperlukan untuk mendorong konseli membuat solusi, berbeda dari konseling tradisional dimana keterampilan tersebut untuk mendiagnosis dan mentreatment. Konseling tradisional fokusnya untuk mengeksplorasi perasaan, pikiran, dan interaksi keduanya, memberikan interpretasi, konfrontasi, dan edukasi pada konseli. Sebaliknya, SFBT membantu konseli membuat visi masa depan ketimbang ngurusi problem untuk dipecahkan. Dilanjutkan dengan mengeksplorasi dan mengatur hubungan pengecualian ( exceptions), kekuatan-kekuatan, dan sumber daya ( sources) yang ada untuk mengkonstrusi jalan tol khusus bagi konseli untuk menjadikan visinya menjadi sebuah kenyataan. Proses dan Teknik SFBT

126

Bertolino and OHanlon, dalam Corey (2009) menekankan pentingnya menciptakan hubungan terapeutik kolaboratif yang sangat diperlukan dalam konseling yang berhasil. Konselor diharapkan ahli dalam menciptakan lingkungan untuk terjadinya perubahan. Kita juga tahu bahwa konseli adalah ahli dalam kehidupan mereka sendiri dan seringkali memiliki pemahaman yang baik tentang apa yang dikerjakan dan tidak dikerjakan yang lalu serta mungkin yang dikerjakan mendatang. Walter and Peller, dalam Corey (2009) mendefinisikan empat aspek SFBT, yaitu (1) menemukan apa yang konseli inginkan ketimbang mencari apa yang mereka tidak inginkan; (2) tidak melihat patologi atau gangguan dan tidak mencoba untuk mereduksi konseli dengan label diagnostik. Alih-alih mendiagnosis, konselor melihat apa yang konseli lakukan dan mendorong mereka untuk melanjutkan dalam arah yang benar; (3) jika konseli tidak melakukan apa yang ingin dilakukan, dorong konseli untuk mencoba dengan berbagai cara yang berbeda; (4) pelihara konseling ringkas ini dengan selalu memperhatikan sesi-sesi konseling. Kita yakin bahwa setiap diri konseli dapat membangun solusi sendiri atas masalah yang dihadapinya tanpa mengungkit-ungkit masalahnya. Oleh karena itu, pendekatan problem solving merupakan kunci SFBT dan secara berurutan dapat ditempuh melalui tahap-tahap sebagai berikut: 1. Konseli diberi kesempatan untuk mendeskripsikan masalahnya sendiri. Konselor mendengarkan dengan penuh perhatian ketika konseli menjawab pertanyaan Bagaimana saya akan dapat berguna bagimu? 2. Konselor dan konseli bekerja bareng untuk mengembangkan tujuan yang paling mungkin dapat dicapai. Apa yang akan menjadi berbeda dalam kehidupan Anda, jika masalah Anda diselesaikan? 3. Konselor bertanya kepada konseli tentang jika saat ini masalah-masalah Anda tidak muncul atau jika masalah Anda kurang berpengaruh. Konseli dibantu dalam mengeksplorasi pengecualian-pengecualian ini, dengan tekanan khusus pada apa yang mereka perbuat saat kejadian ini terjadi. 4. Pada akhir setiap percakapan pembuatan solusi, konselor menawarkan kepada konseli balikan ringkas, memberi penguatan, dan merangsang apa yang mungkin konseli amati atau lakukan sebelum sesi pertemuan selanjutnya untuk memecahkan masalah mereka . 5. Konselor bersama konseli mengevaluasi kemajuan dalam menemukan solusi yang memuaskan dengan menggunakan ratings scale. Konseli ditanya tentang kebutuhan apa yang mereka inginkan sebelum melihat problem yang hendak dipecahkan dan juga apa yang mereka inginkan mendatang. Dalam sebuah ringkasan, tahap-tahap konseling SFBT secara berurut dikemuka-kan sebagai berikut. 1. Menciptakan hubungan kolaboratif

127

Konselor dapat memilih dari sejumlah intervensi ketika membantu konseli dalam mencari dan menemukan solusi serta membuat hidup lebih berbahagia. Namun demikian, jika prosedur ini dilakukan secara rutin tanpa pengembangan kerja bersama-sama, tidak akan tercapai hasil yang efektif. Yang penting bahwa konselor harus benar-benar yakin bahwa konseli mereka adalah ahli dalam hidup mereka sendiri. Semua teknik yang dibahas disini harus diimplementasikan atas dasar hubungan kerja kolaboratif. 2. Perubahan dalam Prakonseling Pada pertemuan awal konseling umumnya konselor bertanya: Apa yang telah Anda lakukan yang telah membuat perbedaan dalam masalah Anda? Dengan bertanya tentang perubahan-perubahan tersebut, konselor dapat menjabarkan, membangkitkan, dan memperkuat apa yang konseli telah siap lakukan untuk membuat perubahan-perubahan positif. Perubahan ini tidak dapat dikaitkan dengan proses konseling itu sendiri, artinya kita cenderung untuk mendorong konseli untuk kurang mengandalkan konselor mereka melainkan lebih mengandalkan pada sumber daya mereka sendiri untuk menyelesaikan pencapaian tujuan konseling mereka (de Shazer & Dolan, 2007; McKeel, 1996; Weiner-Davis, de Shazer, & Gingerich, 1987, dalam Corey, 2009). 3. Pertanyaan Pengecualian (Exceptions) SFBT didasarkan pada pandangan bahwa ada waktu-waktu dalam kehidupan konseli dimana masalah-masalah diidentifikasi bukan problematik. Ada waktu-waktu yang disebut exceptions. Konselor mengajukan pertanyaan-pertanyaan exceptions langsung kepada konseli jika masalah tampak tidak ada, atau jika masalah tidak berat. Exceptions merupakan pengalaman masa lalu dalam kehidupan konseli dimana ia menjadi alasan kuat adanya masalah. Melalui membantu konseli mengidentifikasi dan mengukur exceptions ini akan muncul kesempatan bagi konseli untuk bekerja kearah solusi. Eksplorasi ini mengingatkan konseli bahwa masalah tidak semuanya kuat dan tidak akan ada selamanya, tetapi juga menyediakan peluang sebagai sumber daya yang membangkitkan, melibatkan kekuatan, dan memposisikan kemungkinan solusi.
4. Pertanyaan Ajaib (Miracle)

Tujuan konseling dikembangkan dengan menggunakan pertanyaan ajaib, yang merupakan teknik utama SFBT. Konselor bertanya, "Jika keajaiban terjadi dan masalah Anda terpecahkan dalam semalam, bagaimana Anda tahu itu terpecahkan, dan apa yang akan menjadi berbeda? " Konseli kemudian didorong untuk memberlakukan "apa yang akan menjadi berbeda" meskipun masalah tetap dirasakan. Mintalah konseli untuk mempertimbang-kan bahwa keajaiban akan membuka berbagai kemungkinan masa depan. Konseli disarankan untuk membiarkan diri mereka untuk bermimpi sebagai cara untuk mengidentifikasi jenis

128

perubahan yang paling mereka ingin lihat. Pertanyaan ini memiliki fokus masa depan dimana konseli dapat mulai mempertimbangkan kehidupan yang berbeda yang tidak didominasi oleh masalah tertentu. Intervensi ini menggeser penekanan dari masalah masa lalu dan saat ini menuju kehidupan yang lebih memuaskan di masa depan.
5. Pertanyaan Penskalaan (Scaling Question) Konselor juga menggunakan pertanyaan scaling ketika perubahan pengalaman manusia tidak mudah diamati, seperti perasaan, suasana hati, atau komunikasi. Sebagai contoh, seorang wanita melaporkan perasaan panik atau kecemasannya, mungkin konselor bisa bertanya: "Pada skala 0 sampai 10 dimana nol adalah bagaimana perasaanmu ketika pertama kali datang ke konseling dan 10 adalah bagaimana perasaan Anda sehari setelah keajaiban terjadi dan masalah Anda hilang, bagaimana anda menilai kecemasan Anda saat ini?" Jika konseli hanya menjauh dari nol ke satu, dia sudah membaik. Bagaimana dia melakukannya? Apa yang dia lakukan untuk memindahkan ke skala lain sampai skala 10? Pertanyaan Scaling memungkinkan konseli untuk memperhatikan lebih dekat terhadap apa yang mereka lakukan dan bagaimana mereka dapat mengambil langkah-langkah yang akan mengarah pada perubahan yang mereka inginkan. 6. Formula Tugas Sesi Pertama Formula tugas sesi pertama adalah suatu bentuk pekerjaan rumah yang diberikan kepada konseli dari sesi pertama ke sesi kedua. Konselor mengatakan: "Antara sekarang dan waktu berikutnya kita bertemu, saya ingin Anda untuk melakukan pengamatan, sehingga Anda dapat menjelaskan kepada saya waktu berikutnya, apa yang terjadi dalam diri Anda (termasuk di dalamnya keluarga, kehidupan, hubungan, dll) yang ingin terus terjadi. Pada sesi kedua, konseli diminta menceriterakan apa yang mereka amati dan apa yang mereka ingin memiliki di masa depan. Jenis penugasan memungkinkan konseli berharap bahwa perubahan tidak bisa dihindari. Tidak masalah jika perubahan akan terjadi, tapi kapan itu akan terjadi. Intervensi ini cenderung meningkatkan optimisme konseli. Hal yang penting bahwa konseli merasa dimengerti sebelum mereka diarahkan untuk membuat perubahan.

7. Balikan Konselor Terhadap Konseli Umumnya konselor SFBT mengambil istirahat 5 sampai 10 menit menjelang akhir setiap sesi untuk menulis pesan ringkasan untuk konseli. Selama istirahat konselor merumuskan umpan balik yang akan diberikan kepada konseli setelah istirahat. Ada tiga bagian dasar struktur umpan balik yaitu pujian, jembatan, dan tugas sugesti. Pujian diberikan kepada apa yang sudah konseli lakukan yang mengarah pada solusi yang efektif. Adalah penting bahwa memuji tidak dilakukan dengan cara rutin atau mekanistis, tetapi dengan cara yang menggembirakan yang menciptakan harapan dan menyampaikan harapan kepada konseli bahwa mereka dapat

129

mencapai tujuan mereka dengan menggambarkan kekuatan dan keberhasilannya. Kedua, jembatan yang menghubungkan pujian awal dengan tugas sugesti yang akan diberikan. Jembatan ini memberikan alasan atas saran/sugesti yang diberikan. Aspek ketiga dari umpan balik berupa tugas sugesti kepada konseli, yang dapat dianggap sebagai pekerjaan rumah. Tugas observasional meminta konseli untuk memperhatikan beberapa aspek kehidupan mereka. Proses pemantauan diri membantu konseli perhatikan perbedaan yang lebih baik, terutama apa yang berbeda tentang cara mereka berpikir, merasa, atau berperilaku. Tugas perilaku mengharuskan konseli benar-benar melakukan sesuatu dan konselor percaya bahwa apa yang dilakukan akan berguna untuk mereka dalam membangun solusi. Umpan balik konselor kepada konseli membahas apa yang harus konseli lakukan secara berbeda untuk meningkatkan kemungkinan pencapaian tujuan mereka. 8. Terminasi Jika konseli telah mampu mengkonstruk solusi, maka konselor dapat mengakhiri konseling. Dalam kaitan ini seringkali terkait dengan pertanyaan konselor yang berbunyi, misalnya Kebutuhan-kebutuhan apakah yang berbeda dalam kehidupan Anda sebagai hasil dari pertemuan kita?, Jika masalah terselesaikan, hal lain apa yang akan Anda lakukan? Dengan menggunakan pertanyaan penskalaan ( Scaling questions), konselor dapat membantu konseli untuk memonitor kemajuan mereka sehingga konseli dapat menentukan kapan mereka tidak membutuhkan lagi datang ke konselor. Hal yang terpenting dalam akhir konseling adalah konselor membantu konseli untuk mengidentifikasi halhal yang bisa dilakukan untuk melanjutkan perubahan-perubahan mendatang. Sebelum mengakhiri konseling, konselor membantu konseli dalam mengidentifikasi hal-hal yang dapat mereka lakukan untuk melanjutkan perubahan yang mereka telah buat ke masa depan. Konseli juga dapat dibantu untuk mengidentifikasi rintangan atau hambatan yang dirasakan yang bisa menghalangi dalam mempertahankan perubahan yang telah mereka buat. Karena model konseling adalah singkat, sangat mungkin bahwa konseli akan mengalami masalah perkembangan lain di lain waktu. Konseli dapat meminta sesi tambahan setiap kali mereka merasa perlu untuk mendapatkan kehidupan mereka kembali ke jalur yang benar atau untuk memperbarui kisah mereka. c. KONSELING KELOMPOK 1. Pentingnya Konseling Kelompok Ada banyak catatan mengapa konseling kelompok penting. Oleh karena praktik Bimbingan dan Konseling di sekolah menghadapi banyak siswa dengan berbagai kemungkinan permasalahannya yang bisa jadi mirip, maka konseling kelompok dipandang efektif. Dalam konteks sekolah, ada berbagai

130

kesamaan misalnya dalam hal usia, problem, latar kehidupan, dan banyak isuisu yang mirip dialami oleh siswa-siswa, misalnya kecemasan menghadapi ujian, isu-isu anak perempuan, isu anak laki-laki, dan banyak lainnya yang mendorong perlunya dibantu secara efisien. Konselor bisa menjadi integratif dalam menerapkan teori-teori konseling. Pendekatan kelompok memiliki keuntungan khusus dalam konseling di sekolah. Masalah-masalah terkait perkembangan pendidikan, pribadi sosial, dan karier siswa dapat dibantu dan saling membantu di antara siswa. Konseling kelompok juga bermatra preventif disamping utamanya kuratif. 2. Proses Awal Perkembangan Kelompok Dalam konseling kelompok, secara garis besar ada dua tahap utama yaitu proses awal perkembangan kelompok dan proses lanjut perkembangan kelompok. Pada proses awal ada tiga tahap yang dilakukan yaitu membentuk kelompok, orientasi dan eksplorasi, serta tahap transisi. Masing-masing dijelaskan sebagai berikut. a) Tahap 1: Isu-Isu PrakelompokMembentuk Kelompok 1) Memberitahukan kelompok dan rekrutmen anggota kelompok Bagaimana kelompok diperkenalkan akan mempengaruhi diterima/ tidaknya oleh anggota-anggota potensial dan orang-orang yang diduga cocok mengikuti kegiatan kelompok. Walaupun bisa diberitahukan lewat tertulis, tapi ketemu langsung dengan populasi sangat penting. Misalnya datang langsung ke kelas menyampaikan kegiatan konseling kelompok ini dan diberitahukan prosedurnya. 2) Screening dan seleksi anggota kelompok Ada stadar etika yang harus diperhatikan dalam memilih anggota. Kebutuhan dan tujuan anggota merupakan aspek utama. Konselor harus bertanya pada diri sendiri: Bagaimana saya bisa memutuskan siapa yang paling mungkin memperoleh manfaat dari kelompok yang saya rencanakan? Siapa yang mungkin terganggu oleh partisipasi kelompok atau menjadi pengaruh negatif untuk anggota lainnya? Screening harus proses dua-arah. Calon anggota harus memperoleh kesempatan interviu pribadi untuk mengajukan pertanyaan apakah kelompok benar-benar bermanfaat baginya. Sebaliknya, Konselor (pimpinan kelompok) harus mendorong anggota terlibat dalam mengambil keputusan bahwa ia tepat berpartisipasi dalam kelompok. 3) Hal-hal praktis dalam formasi kelompok Ada beberapa hal praktis yang harus diperhartikan dalam membentuk kelompok. Bentuk-bentuk kelompok tersebut antara lain. Kelompok terbuka vs Kelompok tertutup . Kebanyakan kelompok jangka pendek, berpusat solusi. Kelompok terbuka atau tertutup ditentukan

131

oleh populasi dan setting-nya. Masing-masing punya kelebihan tergantung pada isu-isu yang digarap. Keanggotaan sukarela vs tidak sukarela . Apakah anggota kelompok hanya yang sukarela saja atau boleh juga yang tidak sukarela? Dalam banyak pengalaman, banyak anggota yang tidak sukarelapun memperoleh manfaat dari konseling kelompok yang diikutinya. Di lembaga sekolah keanggotaan tidak sukarela ini perlu digarap, karena senyatanya masih banyak ditengarai siswa enggan memanfaatkan pelayanan konseling. Kelompok homogin vs heterogin. Diakui bahwa kelompok homogin lebih membawa manfaat, terutama homogin dalam usia, karena permasalahan mereka relatif serupa. Namun diakui juga kelompok heterogin juga membawa manfaat. Ada manfaat dari perbedaan yang ada untuk saling membantu. Tempat pertemuan. Setting pertemuan merupakan aspek lain yang harus diperhatikan. Hal privacy harus diperhatikan, tempat yang memungkinkan terjadinya interaksi face to face. Seting yang jelek dapat membikin suasana yang negatif yang berpengaruh pada kohesivitas kelompok. Semua usaha harus membuat suasana aman. Besar kelompok. Besarnya kelompok bergantung pada beberapa faktor, misalnya usia, tipe kelompok, pengalaman Konselor, dan tipe problem yang dieksplor. Namun pada umumnya yang efektif bergerak antara 4 8 orang. Frekuensi dan lamanya pertemuan. Seberapa sering kelompok ketemu dan seberapa lama setiap pertemuan? Ini bergantung tipe kelompok juga pengalaman pemimpin kelompok. Biasanya dilakukan seminggu sekali. Tapi untuk konseli anak dan remaja lebih baik sering tetapi waktunya lebih pendek. Kelompok jangka pendek vs jangka panjang . Adalah bijak jika terminasi kelompok merupakan hasil komitmen. Apakah jangka pendek atau panjang bergantung pada tipe kelompok, populasi, lembaga. Kebijakan berapa lama tentu saja bergantung keperluan lembaga dan konseli. Setelah kelompok terbangun, apakah tanggungjawab pimpinan agar anggota memperoleh keuntungan optimal dari kegiatan kelompok? Persiapan harus mengeksplorasi harapan, ketakutan-ketakutan, tujuan, miskonsepsi anggota, sebagai dasar dari proses kelompok. Resiko psikologis bagi anggota harus diminimalisir. 4) Pedoman orientasi dan penyiapan anggota Pertemuan kelompok yang pertama kali dimanfaatkan untuk orientasi proses kelompok. Bahwa partisipasi anggota merupakan

132

investasi kerja kelompok. Dorong anggota memikirkan sebelumnya tentang isu-isu pribadi yang ingin dieksplorasi. Anggota diminta menuliskan jurnal reaksi-reaksi mereka setiap sesi. Anggota diminta untuk memanfaatkan kelompok untuk mencoba tingkahlaku baru. Ringkasan isu prakelompok, dapat disebutkan sebagai berikut. Anggota harus memiliki pengetahuan memadai tentang hakekat kelompok dan dampaknya bagi dirinya. Anggota perlu menentukan kapan kelompok tepat bagi dirinya. Anggota dapat memperoleh keuntungan melalui menyiapkan diri berpikir apa yang ingin dialami selama kelompok. Mengidentifikasi tujuan umum dan sasaran khusus kelompok Mengembangkan proposal tertulis wecara jelas mengenai formasi kelompok Memberitahu kelompok dg cara memberi informasi tepat bagi partisipan. Melakukan interviu awal Mengambil keputusan dalam memilih anggota Mengorganisasi detail praktis untuk keberhasilan kelompok Minta ijin orangttua (jika perlu) Menyiapkan secara psikologis akan tugas kepemimpinan Mengatur sesi awal untuk membuat aturan, membuat prediksi keberhasilan anggota. b) Tahap 2: Tahap Awal Orientasi dan Eksplorasi Karakteristik pada tahap awal ini sebagai berikut. Orientasi dan eksplorasi yang terdiri atas peristiwa 1) menentukan struktur kelompok, 2) berkenalan, dan 3) mengeksplorasi pengharapan anggota. Setiap anggota diharapkan belajar fungsi kelompok, menyadari bahwa kelompok ini merupakan tempat yang pas bagi realisasi pengharapan-pengharapannya. Tugas utama dalam tahap inisiasi ini terdiri atas dua hal yaitu inkluasi dan identifikasi serta membangun trust. Dalam hal inklusi dan identifikasi dimaksudkan untuk menemukan identitas dalam kelompok dan menentukan sejauh mana seseorang akan menjadi anggota kelompok yang aktif adalah tugas utama tahap awal. Anggota biasa bertanya-tanya: saya akan di dalam atau keluar dari kelompok ini? Sebewrapa banyak saya akan terbuka akan diri sendiri? Seberapa banyak aku ingin ambil resiko? seberapa aman untuk mengambil risiko? saya bisakah benarbenar percaya orang-orang ini?Seberapa lama aku bisa bertahan? Akankah aku ditolak atau diterima?

133

Trust harus dibangun untuk keberlangsungan kelompok. Tanpa trustinteraksi akan di permukaan saja, eksplorasi diri kecil, tantangan konstruktuf tak akan terjadi, kelompok akan berjalan di bawah hambatan perasaan tersembunyi. Cara membangun trust: 1) Tingkahlaku pimpinan dapat berpengaruh pada iklim kelompok. Apakah pimpinan hadir antusias, penuh pribadi, hadir secara psikologis dan terbuka? 2) Pemimpin yang sukses dalam mempertahankan trust tergantung pada seberapa baik ia mempersiapkan kelompok. 3) Trust tudak hanya bergantung sikap dan perilak pemimpin tetap juga anggota. Cara mempertahankan trust: 1) Ada kecendeungan anggota untuk cepat2 melompat ke saran. Ini jangan cepat dituruti, dan 2) Perasaan negatif anggota ke anggota lain dan pemimpin bisa tidak efektif. Perlu perubahan prosedur agar anggota terbebas dari perasaan negatif. Peranan pimpinan kelompkm selama tahap inisiasi: 1) Modeling, 2) Membantu mengidentifikasi tujuan, 3) Mengatur tanggung jawab, dan structuring. c) Tahap 3: Tahap Transisi Mengatasi Resistensi Pada tahap transisi dapat digambarkan anggota kelompok dalam keadaan Cemas (anxiety) Konflik dan berjuang untuk mengontrol konflik Tantangan bagi pimpinan kelompok Resistensi Mengatasi reaksi diri terhadap resistensi anggota, pimpinan harus memperhatikan bahwa pribadi Konselor dapat mempengaruhi tingkahlaku masalah, hindari mengkategorikan orang atas tipe masalah. 3. Proses Lanjut Perkembangan Kelompok Pada proses lanjut, juga ada tiga tahapan yaitu tahapan inti untuk pembentukan kohesivitas dan produktivitas, konsolidasi dan terminasi, serta evaluasi dan tindak lanjut. Masing-masing dijelaskan sebagai berikut. a) Tahap 4: Tahap Inti Pembentukan Kohesivitas dan Produktivitas 1) Perkembangan Kohesi Kelompok Hakekat kohesi kelompok adalah sense of belonging, inklusi, dan solidaritas. Kohesi sebagai kekuatan pemersatu. Saya tidak sendirian dalam kesakitan saya dan dengan problem saya . Tahapmini penting, namun bisa menghambat perkembangan kelompok bila tidak didorong maju ke depan. Biasanya kalau kohesivitas terbangun, cenderung mengarah ke kurang serius, kalau tidak dijaga. 2) Karakteristik Kerja Kelompom Yang Efektif

134

Ada produktivitas kerja yang efektif. Anggota benar-benar menjadi kelompok dan telah mengembangkan keterampilan relasi antar anggota, kurang bergantung kepada pemimpin kelompok. Cirinya: Fokus pada isu disini dan sekarang. Siap identifikasi tujuan Berkeinginan melakukan di luar kelompok dg tingkahlaku yang telah berubah Merasa in dalam kelompok Terus mengukur tingkat kepuasannya dalam kelompok. 3) Faktor-faktor Terapeutik Kelompok Agar kelompok efektif sebagai kelompok untuk penyembuhan, dibutuhkan sejumlah syarat, antara lain saling percaya dan menerima, empati dan perhatian, intim, penuh harapan, ada kebebasan untuk bereksperimen, ada kesempatan katarsis, ada kesempatan melakukan restrukturisasi kognitif, komitmen terhadap perubahan, ada kesempatan membuka diri, ada konfrontasi dan balikan. b) Tahap 5: Tahap Akhir Konsolidasi dan Terminasi Cara efektif mengakhiri kelompok adalah mengurusi perasaan anggota kelompok. Sehingga dapat dikatakan bahwa anggota mengalami perubahan perasaan di awal takutdi tengah dapat dukungandi akhir sendiri lagi menghadapi rasa takutnya. Mengukur efek kelompok melalui memberi kesempatan setiap anggota untuk menyampaikan lesson learn-nya atau pengalamannya selama mengikuti kegiatan konseling kelompok. Pada saat ini semua anggota memberi dan menerima balikan, melengkapi tugas-tugas yang belum dapat diselesaikan dalam kelompok (melengkapi unfinished business-nya). c) Tahap 6: Isu-Isu Pasca Kelompok Evaluasi dan Tindak Lanjut 1) Mengevaluasi Proses dan Hasil Kelompok Evaluasi sebagai aspek dasar yang menguntungkan bagi anggota dan pimpinan kelompok. Evaluasi gunanya untuk melihat efektivitas kelompok. Pada tahap ini minta anggota menuliskan pengalaman kelompom mereka. Minta anggota menjawab pertanyaan singkat (Adakah kelompok berpengaruh negatif? Apa kelompok mempengaruhi anda dalam berhubungan dengan orang lain? Perubahan apakah yang anda dapatkan? ). 2) Tindak Lanjut Sesi Kelompok

135

Adalah bijak di sesi akhir untuk memberi kesempatan anggota mendiskusikan pengalaman-pengalamannya. Ini tidak hanya bernilai bagi pemimpin, tapi juga anggota untuk memberi gambaran realistik atas pengaruh kelompok kepadanya dan teman-temannya. Anggota dapat mendiskusikan usaha nyata setelah ddi kehidupan nyata. 3) Sesi Tindak Lanjut Individual Jika mungkin, setelah sesi konseling kelompok ditindaklanjuti pertemuan face to face. Jika prates dilakukan di akhir juga bisa dilakukan pascates untuk mengukur sikap, nilai, dan penyesuaian pribadinya. Wawancara individual sekitar 20 menitan dapat digunakan untuk membantu anggota membicarakan hal yang tak terungkap dalam kelompok. Semua sesi kelompok di atas akan terejawantahkan dalam semua pendekatan konseling. Sebagai pengalaman belajar, dalam bimtek ini akan dipelajari penerapan konseling kelompok behavioristik dan konseling kelompok realitas. 4. Pendekatan Teoritik Konseling Kelompok a) Pendekatan Behavioristik Asumsi Bahwa sebagian besar masalah perilaku, kognisi, dan emosi yang telah dipelajari dapat dimodifikasi melalui proses belajar. Konseling kelompok sebagai sebuah proses pendidikan menekankan pada pembelajaran yang memiliki nilai-nilai yang melekat dalam sebuah kelompok. Perilaku konseli bermasalah bukan hanya gejala masalah, tetapi dapat diukur dan dapat diamati. Konseling kelompok behavioral memiliki karakteristik yang unik yang membedakan dengan pendekatan lain, antara lain: 1) Melakukan penilaian perilaku, 2) Mengkaji tujuan konseling dengan tepat, 3) Merumuskan prosedur konseling secara spesifik, dan 4) Secara objektif dilakukan evaluasi hasil konseling. Asesmen perilaku ditujukan untuk mengumpulkan informasi rinci tentang masalah konseli; berfokus pada kondisi konseli saat ini; mengambil sampel dari perilaku konseli untuk memberikan informasi tentang bagaimana tindakan konseli seharusnya dalam berbagai situasi; lebih fokus pada perilaku konseli; dan konseling bagian integral dan berkesinambungan. Tujuan Konseling Menentukan arah gerakan terapeutik, walaupun pemimpin kelompok memimpin diskusi untuk mencapai tujuan. Keputusan tujuan pribadi tetap dari anggota kelompok itu sendiri.

136

Perencanaan Treatment Setelah anggota menetapkan tujuan-tujuan mereka, maka dirumuskanlah rencana untuk mencapai tujuan tersebut, yang berlandaskan pada teknik perilaku yang berorientasi tindakan. Kelompok behavioral menekankan pentingnya evaluasi efektivitas teknik-teknik yang digunakan untuk menilai kemajuan konseli guna mencapai tujuan mereka secara terus-menerus. Peran dan Fungsi Pimpinan Kelompok Pemimpin harus terampil dalam memilih berbagai intervensi singkat yang secara efisien dan efektif memecahkan masalah dan membantu anggota dalam mengembangkan keterampilan baru. Pemimpin kelompok diharapkan untuk aktif, direktif, dan mendukung peran dalam kelompok dan menerapkan pengetahuan tentang prinsip-prinsip perilaku dan keterampilan penyelesain masalah. Pemimpin kelompok dengan hati-hati mengamati dan menilai perilaku untuk menentukan kondisi yang terkait dengan masalah-masalah tertentu dan kondisi yang akan memfasilitasi perubahan. Tahap Konseling Kelompok Behavioral Sebagaimana konseling kelompok lainnya, Corey membaginya menjadi tiga tahapan besar, yaitu initial stage, working stage, dan final stage. Masing-masing dijelaskan sebagai berikut. 1. Initial Stage Wawancara individual dan sesi awal kelompok bisa untuk mengeksplorasi pengharapan siswa sehingga siswa mau bergabung dalam kelompok. Di sesi awal, anggota kelompok belajar mengenai fungsi kelompok dan bagaimana setiap sesi diatur. Hal yang penting pada tahap awal adalah proses membangun kohesi. Pemimpin harus mampu menciptakan situasi kelompok menjadi situasi yang hangat dan menyenangkan bagi setiap anggota kelompok. 2. Working Stage Setelah hubungan terbangun dengan baik, lanjutkan merencanakan treatmen melalui menerapkan teknik-teknik: Reinforcement Contingency contract Modeling Behavioral rehearsal Coaching Homework Feedback dengan

137

Cognitive restructuring Problem solving Teknik-teknik tersebut akan dibahas penerapannya dalam bimtek. 3. Final Stage Transfer perubahan perilaku yang dipelajari dalam kelompok ke lingkungan hidup dari hari ke hari. Dorong anggota untuk bertanggungjawab atas tingkahlakunya. Beri situasi praktis untuk menstimulasi tingkahlaku dalam kehidupan nyata. Siapkan anggota hadapi situasi yang tak bersahabat dalam dunia nyata. Latih anggota dengan tingkahlaku target yang diinginkan. b) Pendekatan Konseling Kelompok Realitas Konsep-konsep kunci Konseling Kelompok Realitas 1) Konseling realitas adalah konseling yang dikembangkan oleh William Glasser, seorang ahli psikiatri. Dalam pandangan Glasser, semua manusia memiliki lima kebutuhan dasar untuk dipenuhi, yaitu kebutuhan bertahan hidup secara fisik (physical survival), cinta dan rasa memiliki (love and belonging), kekuasaan dan prestasi (power and achievement), kebebasan (freedom), dan kesenangan (fun). 2) Dalam bukunya yang terkenal, School without failure, konseling realitas ini pas diterapkan untuk membantu siswa-siswa mengembangkan diri. Sekolah harus dibangun sebagai lingkungan yang mampu membangun identitas sukses bagi seluruh siswa, sekolah harus bebas dari suasan yang menghukum, sebaliknya tidak pula permisif, yang penuh ampunan. Lingkungan sekolah yang baik adalah yang memberi kesempatan kepada setiap siswa untuk mengembangkan identitas berhasilnya sedikit demi sedikit. Sekolah lebih banyak bertanya apa yang terjadi dan apa selanjutnya, bagaimana selanjutnya, menghindarkan pertanyaan mengapa terjadi. Karena jawaban atas pertanyaan mengapa akan berujung pada alasan-alasan yang biasanya berujung ampunan. 3) Prinsip penting yang diajarkan Glasser adalah prinsip 3Rs ( responsibility, reality, dan right). Apabila anak berperilaku memenuhi syarat 3 Rs tersebut, maka padanya akan berkembang identitas sukses ( success identity), sebaliknya jika perilakunya tidak memenuhi 3 Rs, maka padanya akan berkembang identitas gagal (failure identity). Dengan demikian, konseling dimaksudkan untuk mengubah perilaku anak dari beridentitas gagal menuju ke identitas berhasil. 4) Konseling Kelompok Realitas bersifat aktif, direktif, didaktik, berfokus pada perencanaan perilaku dan perbuatan. Hubungan baik dalam konseling diperlukan untuk menunjukkan dan memenuhi kebutuhan akan cinta kasih lingkungan, namun tidak cukup untuk diterjadikannya perubahan pada diri konseli dari identitas gagal menuju identitas sukses.

138

5) Total perilaku manusia ibarat mobil. Kebutuhan dasarnya sebagai motornya. Perbuatan dan berpikirnya sebagai roda depan, perasaan dan penampakan fisiknya sebagai roda belakang. Prosedur Konseling Kelompok Realitas Praktik konseling realitas berisi dua komponen utama: (1) lingkungan konseling, dan (2) prosedur spesifik yang mengarah pada perubahan tingkahlaku. Terkait lingkungan konseling, tugas pertama Konselor adalah menciptakan iklim yang aman bagi anggota kelompok sebagai dasar penggunaan konselng secara efektif. Sikap dan perilaku konselor juga menjadi bagian penting dalam menghantarkan perubahan yang positif. Glasser mengatakan bahwa konseling untuk mengaitkan komponenkomponen kekuatan dalam diri konseli menjadi satu kekuatan untuk membantu konseli mengevaluasi hidup mereka dan berpindah ke arah perilaku baru yang lebih efektif. Untuk melakukan konseling secara sistematis, Wubbolding, dalam Corey (2009) telah memformulakan komponen-komponen konseling ke dalam sistem WDEP, dimana setiap huruf merepresentasikan sekelompok kemampuan dan teknik untuk mendukung konseli agar memiliki kontrol yang lebih baik atas hidup mereka, selanjutnya berjuang untuk memenuhi kebutuhan mereka demi memuaskan hidup mereka sendiri dan masyarakat. WDEP kependekan dari W = wants; D = direction and doing; E = selfevaluation; dan P = planning. Masing-masing dijelaskan sebagai berikut. W (Wants) Tanyakan kepada konseli apa yang mereka inginkan dengan menggunakan pertanyaan yang cerdas dan tidak cepat menyerah. Konselor membantu konseli untuk menyatukan, menjelaskan, mendefinisikan, dan memprioritaskan elemen-elemen kebutuhan yang ada dalam gambaran dunia mental mereka. Pertanyaan: Apa yang Anda inginkan? Eksplorasi: Penjelasan tentang apa yang mereka harapkan atau mereka butuhkan. Evaluasi: Apakah hal itu yang paling Anda inginkan? Direction dan Doing Tanyakan kepada konseli apa yang ia lakukan selama ini dan apa tujuan umum mereka. Pertanyaan global berikut bertujuan membantu konseli meningkatkan pengetahuan mereka terkait pilihan hidup mereka. Dengan mendeskripsikan tujuan umum mereka, konseli akan menjadi siap untuk mengevaluasi dan mengubah cara berpikir dan perilaku mereka saat ini. Pertanyaan: Apakah yang Anda lakukan selama ini akan membawa pada keinginanmu?

139

Pengarahan: Menghadapkan konseli pada realitas dan konsekuensi dari perilakunya selama ini. Fokus: Pembicaraan berfokus pada masa sekarang dan masa mendatang. Self-Evaluation Mintalah konseli untuk melakukan evaluasi diri yakni mengevaluasi apakah tingkahlakunya selama ini mengarah tujuan atau mampu memenuhi kebutuhannya. Glasser mendeskripsikan evaluasi diri sebagai inti dari konseling. Wubbolding melihat evaluasi diri sebagai dasar dari prosedur konseling. Evaluasi dimaksukan untuk menghubungkan antara tingkahlakutingkahlaku saat ini dengan kebutuhan, sehingga jika tidak dilakukan akan terjadi kekacauan. Pertanyaan: Perilaku apa yang akan menyebabkan kesuksesan? Perilaku apa yang akan menyebabkan kegagalan? Perubahan apa yang diperlukan untuk mencapai keberhasilan? Focus: Pada tahap ini, intervensi Konselor kecil, serahkan konseli untuk menilai tingkahlakunya sendiri. Tujuan dari konseling realitas adalah perubahan perilaku, pertumbuhan kepribadian, gaya hidup yang lebih baik dan berkembang, membuat keputusan secara lebih baik, sehingga semakin efektif semakin memuaskan kebutuhan akan ketahanan fisik, cinta dan keterlibatan atau rasa memiliki, kekuasaan dan prestasi, kebebasan, serta keceriaan. Planning Mintalah konseli membuat rencana untuk memenuhi kebutuhan mereka secara lebih efektif. Ketika konseli membuat recana dan mengikuti rencana itu, mereka berkuasa atas jalan hidup mereka sendiri dengan mengirimkan energi positif bagi hidup mereka. Konselor memfasilitasi pembentukan rencana dengan mengajarkan karakteristik rencana yang berhasil. Karakter-karakter rencana yang berhasil adalah sederhana, mudah diraih, dapat diukur, langsung, dan memiliki tujuan. Rencana yang paling efektif adalah yang dibentuk bersama-sama dengan konseli, bukan yang disarankan Konselor. Ketika konseli bisa menjawab pertanyaan Apakah rencana anda dengan strategi yang detail untuk berubah? maka mereka telah mengambil kontrol dan tujuan yang lebih baik atas hidup mereka. Pertanyaan : Rencana apa yang diprediksi mampu memenuhi kebutuhan Anda, ? Fokus : Terbuatnya rencana tingkahlaku baru yang diharapkan benar-benar mampu memenuhi kebutuhan konseli.

140

PENGELOLAAN SARANA DAN ANGGARAN PROGRAM BIMBINGAN DAN KONSELING Pengelolaan Sarana Semua sarana harus mudah diakses untuk mendukung program Bimbingan dan Konseling. Bahan harus relevan dengan program, yang layak bagi masyarakat, dan jumlah yang cukup untuk digunakan. Konselor harus memiliki file terkunci dan hubungan telepon tersendiri. Semua fasilitas harus mudah diakses dan memadai untuk pelaksanaan program bimbingan, khususnya, konselor harus memiliki setidaknya hal berikut: sebuah kantor, lengkap dan kedap suara, dibangun dengan pertimbangan hak privasi dan kerahasiaan siswa, akses mudah menuju fasilitas untuk melakukan konseling dan bimbingan kelompok kecil/kelompok besar atau klasikal, ruang yang memadai untuk mengorganisir dan menampilkan bahan bimbingan, dan ruang penyimpanan. Semuanya dimaksudkan untuk menfasilitasi tercapainya proses layanan Bimbingan dan Konseling yang bermutu. Ruangan hendaknya sedemikian rupa sehingga di satu segi para siswa yang berkunjung ke ruangan tersebut merasa senang, aman dan nyaman, serta segi lain di ruangan tersebut dapat dilaksanakan layanan dan kegiatan bimbingan lainnya sesuai dengan asas-asas dan kode etik Bimbingan dan Konseling. Unsur-unsur sarana Bimbingan dan Konseling: (1) tempat kegiatan, yang meliputi ruang kerja Konselor, ruang layanan konseling dan bimbingan kelompok, ruang tunggu tamu, ruang tenaga administrasi, dan ruang perpustakaan; (2) instrumen dan kelengkapan administrasi, seperti : angket siswa dan orang tua, pedoman wawancara, pedoman observasi, format konseling, format satuan layanan, dan format surat referal; (3) Buku-buku panduan, buku informasi tentang studi lanjutan atau kursus-kursus, modul bimbingan, atau buku materi layanan bimbingan, buku program tahunan, buku program semesteran, buku kasus, buku harian, buku hasil wawancara, laporan kegiatan layanan, data kehadiran siswa, leger Bimbingan dan Konseling, dan buku realisasi kegiatan Bimbingan dan Konseling; (4) perangkat elektronik (seperti komputer, dan tape recorder); dan (5) filing kabinet (tempat penyimpanan dokumentasi dan data siswa). Di dalam ruangan itu hendaknya juga dapat disimpan segenap perangkat instrumen Bimbingan dan Konseling, himpunan data siswa, dan berbagai data serta informasi lainnya. Ruangan tersebut hendaknya juga mampu memuat berbagai penampilan, seperti penampilan informasi pendidikan dan jabatan, informasi tentang kegiatan ekstra kurikuler, dan sebagainya. Yang tidak kalah penting ialah, ruangan itu hendaklah nyaman yang menyebaBimbingan dan Konselingan para pelaksana Bimbingan dan Konseling betah bekerja. Kenyamanan itu merupakan modal utama bagi kesuksesan pelayanan yang terselenggara. Sarana yang diperlukan untuk penunjang layanan Bimbingan dan Konseling adalah sebagai berikut. (1) Alat pengumpul data, baik tes maupun non-tes. Alat pengumpul data berupa tes yaitu: tes inteligensi, tes bakat khusus, tes bakat sekolah, tes/inventori kepribadian, tes/inventori minat, dan tes prestasi belajar. Alat pengumpul data yang berupa non-tes yaitu: pedoman observasi, catatan anekdot, daftar cek, skala penilaian, alat-alat mekanis, pedoman wawancara, angket, biografi dan autobiografi, dan sosiometri.

141

(2) Alat penyimpan data, khususnya dalam bentuk himpunan data. Alat penyimpan data itu dapat berbentuk kartu, buku pribadi dan map. Bentuk kartu ini dibuat sedemikian rupa dengan ukuran-ukuran serta warna tertentu, sehingga mudah untuk disimpan dalam filling cabinet. Untuk menyimpan berbagai keterangan, informasi atau pun data untuk masing-masing siswa, maka perlu disediakan map pribadi. Mengingat banyak sekali aspek-aspek data siswa yang perlu dan harus dicatat, maka diperlukan adanya suatu alat yang dapat menghimpun data secara keseluruhan yaitu buku pribadi. (3) Kelengkapan penunjang teknis, seperti data informasi, paket bimbingan, alat bantu bimbingan Perlengkapan administrasi, seperti alat tulis menulis, format rencana satuan layanan dan kegiatan pendukung serta blanko laporan kegiatan, blanko surat, kartu konsultasi, kartu kasus, blanko konferensi kasus, dan agenda surat. Pengelolaan Anggaran Perencanaan anggaran merupakan komponen penting dari manajemen Bimbingan dan Konseling. Perlu dirancang dengan cermat berapa anggaran yang diperlukan untuk mendukung implementasi program. Anggaran ini harus masuk ke dalam Anggaran dan Belanja Sekolah. D. LATIHAN 1. Latihan Kegiatan Kolaborasi Berlatihlah untuk bekerja secara kolaboratif dengan guru mata pelajaran. Pilih dari antara bentuk-bentuk kegiatan berikut: a. Bekerjasama dengan guru matematika untuk kemampuan regulasi diri dalam belajar matematika. b. mengembangkan

Bekerjasama dengan guru bahasa Indonesia untuk mengembangkan kemampuan komunikasi siswa

Bersama guru, susunlah RPP materi tertentu dan diantara susunan RPP tersebut sebutkan efek samping dari pengembangan pribadi siswa yang merupakan kerja dari guru bimbingan dan konseling atau konselor. 2. Latihan Referal Di sekolah saudara, ditemukan seorang siswa yang membutuhkan bantuan fihak lain, karena persoalan yang dhadapi siswa di luar batas kewenangan Saudara. Misalnya, ada siswa yang mengalami hambatan belajar dikirim ke guru bidang studi; siswa terlibat penggunaan narkoba dikirm ke dokter, dan sebagainya. 3. Latihan Konsultasi Seorang siswa mempunyai potensi akademik yang tinggi, namun prestasi belajarnya selalu rendah. Penelitian pendahuluan menunjukkan bahwa tidaklah mungkin siswa dapat berprestasi tinggi karena ada pekerjaan di

142

rumah yang menyita waktunya. Sebenarnya pekerjaan ini tidaklah prinsip, tetapi terpaksa dilakukan anak. Untuk itu, perubahan harus dilakukan melalui perubahan peran orangtua terhadap anaknya. a) Ikuti 9 tahap konsultasi untuk membantu siswa tersebut. b) Praktikkan dalam kelompok orangtua bagi belajar anaknya. 4. Latihan Bimbingan Kelompok Susunlah RPBK dengan mengambil topik bimbingan pribadi social, belajar, dan karier di materi di atas. Praktikkan dalam bentuk bimbingan kelompok atau bimbingan klasikal dan dilakukan pengamatan serta refleksi pasca praktik. 5. Latihan Konseling Individual Latihan konseling individual terdiri atas dua tugas yaitu menyusun scenario konseling individual dan praktik konseling individual. c) Skenario konseling Untuk persiapan kegiatan praktikum konseling, susunlah scenario. Cara ini ditempuh agar fasilitator dapat membantu Saudara membenahi bagianbagian yang masih belum tuntas Saudara pelajari. Isi scenario dengan catatan sebagai berikut. 1) Isi scenario hanyalah cerita singkat dari setiap tahap konseling, bukan percakapan konselor dan konseli (verbatim). 2) Scenario ditulis paling banyak 2 halaman, dengan tulisan yang mudah terbaca. 3) Isi scenario konseling REB Dalam scenario konseling REB saudara harus menjelaskan bagaimana cara Saudara membangun/membina hubungan baik; cara Saudara mengidentifikasi perasaan dan perilaku negative akibat masalah (C) dan menemukan kejadian-kejadian yang menimbulkan masalah (A); cara Saudara dalam menemukan pikiran-pikiran irrasional (Bir) yang merupakan persepsi mereka terhadap A; cara Saudara mengajak konseli menguasai Pemahaman Kognisi, atau menerapkan teknik-teknik konseling. Disini harus jelas teknik konseling apa yang akan Saudara gunakan untuk Disputing (D); cara Saudara melihat bagaimana konseli menata emosinya dan bagaimana cara mengembangkan tingkahlaku baru yang lebih rasional; dan cara Saudara untuk memberikan tugas, melakukan komitmen, serta menutup pertemuan konseling. 4) Isi scenario konseling SFBT bagaimana Saudara memberdayakan

143

cara Saudara membangun/membina hubungan kolaboratif; cara Saudara mengidentifkasi perubahan-perubahan prakonseling; cara Saudara menggunakan pertanyaan pengecualian; cara Saudara menggunakan pertanyaan ajaib; cara Saudara menggunakan pertanyaan penskalaan; cara Saudara menformulasikan tugas sesi pertama; cara Saudara memberikan balikan kepada konseli; cara Saudara melakukan terminasi. d) Praktikum konseling individual Praktikkan scenario Saudara dan lakukan pengamatan serta refleksi atas latihan. 6. Latihan Konseling Kelompok Latihan konseling kelompok dibagi menjadi dua bagian yaitu menyusun scenario konseling kelompok dan mempraktikan secara simulatif. a) Skenario Konseling Kelompok Pilih salah satu pendekatan konseling kelompok yang kita pelajari dalam bimtek ini, dan susunlah skenario konselingnya. Tuliskan secara ringkas bagaimana langkah-langkah konseling dilakukan untuk mengatasi masalah yang Saudara pilih. Catatan setiap pendekatan konseling yang dipilih. Konseling kelompok behavioral Dalam scenario konseling behavioral saudara harus menjelaskan bagaimana cara saudara dalam membangun/membina hubungan baik; cara saudara dalam menelaah tingkahlaku faulty learning (assesment), melalui melihat berbagai aspek tingkahlaku; cara saudara mengajak konseli merumuskan tujuan konseling (goal setting); cara saudara menerapkan teknik konseling (techniques implementation): menfokuskan tingkahlaku yang hendak diubah, merencana langkah-langkah aplikasi teknik konseling; dan cara saudara melakukan evaluasi dan terminasi. Konseling kelompok realitas Dalam scenario konseling Realita Saudara harus jelas bagaimana Cara membentuk/membina hubungan penuh cinta dan pengharapan; Cara konselor mengidentifikasi perilaku kekinian, keinginan, kebutuhan konseli (Want); Cara konselor mengidentifikasi perilaku konseli dalam memenuhi kebutuhannya (Direction/Doing); Cara konselor mengajak konseli melakukan pertimbangan nilai

144

(Evaluation); Cara konselor mengembangan perencanaan perilaku baru yang lebih memenuhi 3Rs (Planning); Cara konselor mengajak konseli melakukan Komitmen; dan Cara konselor mengakhiri pertemuan konseling. b) Praktik Konseling Kelompok. Praktikkan scenario yang telah Saudara tuliskan. Dalam praktik simulatif ini, lakukan pengamatan dan diskusikan hasilnya.

BAB IV EVALUASI PROSES DAN HASIL PELAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING


A. PENGANTAR Keberhasilan suatu kegiatan atau program yang telah dilaksanakan akan tampak pada hasil yang ditunjukkan berupa pencapaian terhadap tujuan yang telah ditetapkan. Demikian pula kekurangan atau kelemahan yang dimiliki akan dapat dilihat serta penyebab tujuan yang belum dapat diraih sepenuhnya. Melalui suatu tahapan kegiatan yang disebut dengan evaluasi, pelaksana suatu kegiatan dapat melihat, mengenali dan kemudian menganalisis kelemahan-kelemahan tersebut untuk dilakukan perbaikan dalam proses berikutnya. Evaluasi suatu program lazimnya dilakukan oleh beberapa pihak, terutama pihak yang melaksanakan program tersebut. Kemudian, pihak lain yang dapat mengevaluasi adalah pihak atasan (pimpinan) pelaksana progran serta pihak yang menerima sasaran kegiatan. Dalam pelaksanaan program layanan bimbingan dan konseling, yang memiliki tanggung jawab dalam melaksanakan evaluasi program adalah guru bimbingan dan konseling atau konselor itu sendiri. Evaluasi program sebenarnya memberikan informasi yang sangat berarti bagi kelanjutan pelaksanaan program berikutnya, karena hasil evaluasi dapat mendorong semua pihak untuk memberikan masukan dan merencanakan langkah-langkah perbaikan dan peningkatan bagi tercapainya tujuan yang telah ditetapkan. Oleh karena itu, sebagai bagian dalam penyusunan dan pengembangan program bimbingan dan konseling, evaluasi menjadi tahapan yang sangat penting untuk dilaksanakan.

145

B. KOMPETENSI DAN INDIKATOR Kompetensi: Menilai proses dan hasil kegiatan bimbingan dan konseling Indikator: 1. Melakukan evaluasi hasil, proses dan program bimbingan dan konseling 2. Melakukan penyesuaian proses pelayanan bimbingan dan konseling 3. Menginformasikan hasil pelaksanaan evaluasi pelayanan bimbingan dan konseling kepada pihak terkait 4. Menggunakan hasil pelaksanaan evaluasi untuk merevisi dan mengembang-kan program bimbingan dan konseling.

C. MATERI 1. Pentingnya Evaluasi dan Model Evaluasi Konseling Evaluasi atau penilaian merupakan bagian penting dalam pengelolaan atau manajeman pelaksanaan bimbingan dan konseling. Sesuai dengan perkembangan yang terjadi baik pada program sekolah secara kesuluruhan, perkembangan sosial dan tantangan yang terjadi dalam pendidikan maka program layanan bimbingan dan konseling tidak boleh statis atau dari itu ke itu. Demikian pula dilihat dari perkembangan program itu sendiri, suatu program layananan bimbingan dan konseling perlu dikembangkan dan diperbaiki sehingga dapat dirancang dan direalisasikan sesuai dengan perkembangan kebutuhan peserta didik sebagai salah satu sasaran layanan. Sekalipun layanan evaluasi bukan merupakan layanan yang langsung kepada siswa, namun pelaksanaan evaluasi akan memberikan dampak terhadap peningkatan layanan yang dibutuhkan oleh siswa. Sehingga pada akhirnya siswa dapat merasakan dampak langsung dari pelaksanaan evaluasi baik itu berupa perkembangan, peningkatan atau perubahan yang sesuai dengan dinamika pada aspek yang dikembangkan dalam suatu program. dalam Bimbingan dan

146

Evaluasi program dapat dilaksanakan dengan menggunakan beberapa model, setiap model dapat dipilih berdasarkan kepentingan dan kesesuaian dengan program yang sedang dilaksanakan. Posavac dan Carey (1992) menjelaskan beberapa model evaluasi yaitu model tradisional, model berdasar tujuan, model berorientasi manajemen, model pendapat ahli, model natural. Di dalam model berorientasi tujuan dikenali model utamanya yaitu model kesenjangan, sementara pada model berorientasi manajemen dikenali model CIPP. Dalam Bimtek ini, peserta akan dilatih untuk mampu mengevaluasi dengan satu model yang relatif mudah untuk dilakukan di lapangan yaitu model berorientasi yang dikembangkan oleh Ralph W Tyler. Ia memahami bahwa evaluasi sebagai sebuah proses yang cukup mudah menentukan tujuan-tujuan program mana yang telah tercapai dan mana yang belum dapat dicapai. Oleh karena orientasi program bimbingan dan konseling berdasarkan pada standar dan kriteria keberhasilan yang telah ditetapkan, maka untuk mengukur keberhasilannya bisa membandingkan hasil yang dicapai dengan kriteria yang ditetapkan. Tahap-tahap evaluasi model berorientasi tujuan secara umum (1) Menentukan tujuan umum, (2) Mengklasifikasikan tujuan umum dan tujuan khusus (goal and objective), (3) Menentukan tujuan dalam rumusan tingkahlaku nyata, (4) Menemukan situasi dimana capaian target tersebut dapat ditunjukkan, (5) Mengembangkan atau memilih teknik-teknik pengukuran, (6) Mengumpulkan data performansi, dan (7) Membandingkan data performansi dengan tingkahlaku yang telah ditentukan dalam tujuan. Bentuk utama dari orientasi tujuan dikembangkan oleh Provus yang diberi nama model kesenjangan (descripancy model). Malcolm Provus (1973) memandang evaluasi sebagai proses manajemen informasi yang berkelanjutan. Evaluasi merupakan proses yang mencakup 1) kesepakatan tentang standarstandar dan kriteria-kriteria tertentu (kata lain dari sasaran/ objective), 2) menentukan ada/tidak ada kesenjangan yang muncul antara performansi dan sejumlah aspek program dan perangkat standar untuk performansi tersebut, 3)

147

menggunakan informasi

tentang kesenjangan

dalam memutuskan

untuk

mengembangkan atau melanjutkan atau menghentikan program keseluruhan ataupun salah satu aspek dari program tersebut. Menggunakan model kesenjangan ini hanya perlu menempuh empat tahap yaitu (1) Perencanaan, (2) Instalasi, (3) Proses (hasil sementara), dan (4) Hasil. Jika diperlukan dapat ditambahkan tahap yang ke lima yaitu analisa biaya (pilihan, kalau diperlukan).

1. Tahap pertama: Perencanaan Tahap perencanaan difokuskan pada menentukan tujuan, proses atau aktivitas dan memaparkan sumber-sumber kekuatan yang diperlukan serta partisipan yang turut-serta dalam pelaksanaan dan menyelesaikan tujuan-tujuan. Provus menganggap bahwa program adalah sebuah sistem dinamik yang meliputi input (antecedents), proses, dan output (outcomes). 2. Tahap kedua: instalasi. Desain program dalam hal ini dijadikan sebagai standar untuk pelaksanaan penilaian program. Evaluator menghasilkan perangkat tes (alat ukur) yang sesuai untuk mengidentifikasi sejumlah kesenjangan antara yang diharapkan dengan implementasi program yang aktual. 3. Tahap ketiga: proses, Penilaian memfokuskan pada pengumpulan data tentang laporan-laporan partisipan untuk menentukan apakah mereka menunjukkan perubahan tingkahlaku seperti yang diharapkan. Peninjauan dapat dilakukan terhadap program yang disinyalir banyak siswa yang mengalami kesulitan, untuk kemudian diputuskan apakah program tersebut diberlakukan ulang atau dihentikan. 4. Tahap keempat: hasil,

148

Evaluasi dilakukan untuk menentukan apakah tujuan jangka pendek (terminal objectives) dari program tersebut telah dicapai. Provus membedakan antara istilah terminal objective (immediate outcome) dengan ultimate objectives (longterm outcome). Selain empat fase tersebut, Provus juga menambahkan fase kelima

sebagai suatu pilihan, yaitu berkaitan dengan analisis tentang biaya. Hal ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana memperkirakan biaya yang akan dikeluarkan dalam program tersebut. Apabila dalam pelaksanaannya terjadi ketidaksesuaian antara program dengan hasil, Provus menyarankan agar dilakukan proses problem solving oleh staf program atau konselor dan evaluator. Proses ini untuk menjawab pertanyaan: 1) mengapa ada ketidaksesuaian ?, 2) tindakan korektif apa yang mungkin dapat dilakukan? dan, 3) tindakan korektif apa yang paling sesuai? Kekuatan dan daya tarik terbesar dari pendekatan yang berorientasi pada tujuan ke evaluasi adalah kesederhanaannya. Yaitu, mudah dipahami, diikuti dan diterapkan, serta menghasilkan informasi bagi para pengambil kebijakan program untuk melakukan perbaikan yang berkait dengan misi yang akan dicapai.

2. Kesulitan dalam melaksanakan evaluasi program Bimbingan dan Konseling Dalam banyak kasus, evaluasi terhadap program jarang dilakukan, termasuk program Bimbingan dan Konseling di sekolah. Dalam bidang Bimbingan dan Konseling, Konselor seringkali tidak melakukan evaluasi, walaupun mengetahui bahwa evaluasi merupakan bagian penting dalam program pelayanan Bimbingan dan Konseling. Ada beberapa alasan yang diajukan guru bimbingan dan konseling atau Konselor, mengapa mereka tidak melakukan evaluasi, antara lain: 1. Banyak praktisi Bimbingan dan Konseling menyatakan merasa waktu untuk mengevalasi, karena merasa kekurangan memberilakan layanan. 2. Materi yang diperoleh pada saat perkuliahan belum memberikan pengalaman praktis dalam evaluasi program. tidakmemiliki dalam personil

149

3. Program bimbingan dan konseling dipandang unik, dan kompleks sehingga sulit untuk diberikan penilaian. 4. Guru bimbingan dan konseling merasa kesulitan untuk merumuskan kriteria keberhasilan layanan, karena standar keberhasilannya belum konkrit sehingga sulit untuk menemukan indikatornya. 5. Tidak terbiasa mencatat dan mendokumentasikan layanan yang telah diberikan serta hasilnya, sehingga kesulitan dalam mengumpulkan data. 6. Pihak pimpinan dipandang tidak meminta hasil evaluasi yang terprogram dan terencana, sehingga merasa tidak ada tuntutan. 7. Evaluasi terhadap hasil layanan bimbingan dan konseling hanya dilakukan apabila ada kepentingan sekolah dalam memenuhi program tertentu. Kesulitan yang dihadapi guru bimbingan dan konseling seperti disebutkan di atas, memberikan alasan untuk tidak melakukan evaluasi yang semestinya dilakukan. Kesulitan ini akan bertambah, manakala pihak sekolah tidak menunjukkan kepedulian terhadap proses maupun hasil layanan bimbingan dan konseling. Melihat pentingnya evaluasi terhadap layanan bimbingan dan konseling, diharapkan guru bimbingan dan konseling dapat memiliki pemahaman dan kemampuan untuk melaksanakan evaluasi program bimbingan dan konseling, sehingga kondisi yang ada di sekolahnya menjadi bagian yang dievaluasi dan memberikan alasan yang kuat untuk berupaya melakukan peningkatan sehingga kinerja guru bimbingan dan konseling dapat menunjukkan akuntabilitasnya yang dipercaya oleh pimpinan, guru mata pelajaran, dan personil lainnya yang menjadi bagian dukungan sistem terhadap pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling. 3. Sikap Yang Perlu Dimiliki Oleh Guru Bimbingan Dan Konseling Dalam Melaksanakan Evaluasi Program Pentingnya evaluasi terhadap program perlu diketahui dan disadari oleh guru bimbingan dan konseling sebagai kesempatan untuk meningkatkan kualitas kerja seiring dengan tuntutan sebagai guru bimbingan dan konseling yang profesional. Kesadaran untuk melakukan evaluasi bisa jadi belum dimiliki oleh semua guru bimbingan dan konseling, dengan berbagai alasan seperti diungkapkan dalam

150

kesulitan melakukan evaluasi. Kesiapan untuk melaksanakan evaluasi hendaknya disadari sebagai suatu tahap atau kegiatan dalam penyusunan program bimbingan dan konseling seperti halnya dalam penyusunan program apapun pada umumnya. Selain itu guru bimbingan dan konseling perlu memiliki sikap yang positif tentang perlunya evaluasi terhadap aktivitas dan layanan bimbingan dan konseling yang telah diberikannya, baik terhadap kondisi-kondisi yang memungkinkan terlaksananya program, proses yang terjadi serta hasil atau produk yang diperoleh. Sikap yang dimaksud antara lain : a. Memahami bahwa dalam pelaksanaan suatu program dimungkinkan akan ada kondisi-kondisi yang dapat menyebabkan belum tercapainya tujuan yang telah ditetapkan. b. Memiliki keinginan dan kebutuhan untuk mengetahui kekurangan atau kelemahan sebagai bahan untuk meningkatkan kinerja yang lebih baik. c. Memaknai kekurangan sebagai bagian dari proses untuk mengembangkan diri. d. Menerima masukan dan kritikan dari pihak lain baik pimpinan, kolega (guru mata pelajaran), personil lain di sekolah serta pihak orang tua maupun siswa. e. Membuka pikiran untuk belajar dari kegagalan yang dialami f. Berusaha untuk memaknai masukan sebagai kesempatan meningkatkan diri g. Membandingkan apa yang sudah dilakukan dengan hasil yang diperoleh h. Menyediakan diri untuk berdialog dengan pihak-pihak yang memberikan penilaian Sikap terbuka akan masukan dan menerima kekurangan serta keinginan untuk meningkatkan berkelanjutan diri merupakan dapat kunci pembuka untuk melakukan evaluasi program sehingga mengantarkan bagi pengembangan

selanjutnya dan kesempatan mengembangkan diri bagi guru bimbingan dan konseling (konselor). Uraian di atas diharapkan dapat menjawab alasan para konselor yang tidak melakukan asesmen dan evaluasi atas program dan pelayanannya. Berbicara tentang asesmen tidak dapat dilepaskan dengan istilah evaluasi. Ada beberapa istilah evaluasi yang bersifat aplikatif atau sering digunakan di kehidupan sehari-

151

hari.. Berdasarkan kajian definisi aplikatif itu akhirnya dapat disimpulkan bahwa evaluasi mengandung keputusan substansial tentang kebermanfaatan atau keuntungan dari sesuatu. 4. Tujuan Evaluasi Evaluasi digunakan sebagai metode untuk penelitian dan pengambilan keputusan. Langkah pertama yang dilakukan adalah menentukan standar kualitas dan tingkat relativitas dari standar layanan Bimbingan dan Konseling yakni standar kemandirian peserta didik yang menjadi pengarusutamaan seluruh hasil pelayanan bimbingan dan konseling. Kedua, mengumpulkan informasi yang relevan dengan pelayanan bimbingan dan konseling; dan ketiga, mengaplikasikan standar untuk menentukan nilai, kualitas, utilitas dan efektifitasnya. Tujuan dasar evaluasi adalah menyampaikan keputusan tentang nilai dari objek yang dievaluasi. Tujuan lainnya adalah memberikan informasi sebagai dasar perbaikan program, mendorong dialog yang bermanfaat dan memberikan wawasan terhadap kesempurnaan program dan hasil pelayanan bimbingan dan konseling. Evaluasi bisa berbentuk sumatif atau formatif. Evaluasi formatif dirancang untuk perbaikan program dan kinerja orang-orang yang terkait program, sedangkan evaluasi sumatif berfungsi sebagai dasar keputusan tentang proses melaksanakan program, melanjutkan program atau melakukan ekspansi program. Pihak-pihak yang dilibatkan untuk mengevalusi dalam hal ini evaluator mempunyai banyak peran termasuk sebagai ahli, fasilitator, perencana, kolaborator, pengambil keputusan dan sebagai kritikus. Evaluator dapat diambil secara internal dan eksternal organisasi, artinya bisa dari lingkung sekolah atau dari lingkung di luar sekolah, seperti dari perguruan tinggi. Keduanya memiliki arti penting, misalnya evaluator internal lebih mengetahui lingkungan organisasional sekolah, dapat memfasilitasi komunikasi dan penggunaan hasil evaluasi, sedangkan evaluator eksternal dapat memberikan kredibilitas yang lebih tinggi dalam evaluasi dan membawa perspektif segar terhadap evaluasi. Berdasarkan pengertian etis, evaluasi penting dalam kegunaannya sebagai alat kunci dalam melayani secara adil. Dalam konteks pengertian pelayanan pendidikan di sekolah termasuk bimbingan dan konseling, berarti mengarahkan

152

usaha pendidikan yang paling dibutuhkan saat ini dan yang akan datang. Sedangkan dalam pengertian intelektualnya berarti memperbaiki konsep-konsep pemikiran sistem pendidikan yang mutakhir. Menurut konteks pengertian pribadi, evaluasi penting untuk memberikan dasar bagi penghargaan diri konselor, sehingga akuntabilitasnya dapat dipertanggung jawabkan bimbingan dan konseling.

5. Objek Utama Evaluasi Bimbingan dan Konseling Sebuah pertanyaan yang tidak mudah dijawab adalah Bagaimana Konselor menunjukkan bukti bahwa program bimbingan dan konseling telah memberikan perubahan di sekolah? evaluasi program adalah salah satu proses yang dapat digunakanuntuk membantuKonselorsekolahdalam memberikan bukti ini. Evaluasi program merupakan penelitian terapan, didefinisikan sebagai proses sistematis dalam mengumpulkan dan menganalisis informasi tentang efisiensi, efektivitas, dan dampak dari program dan layanan (Boulmetis &Dutwin, 2000). Salah satu alasan bahwa evaluasi program dipandang sebagai alat berharga bagi Konselor karena evaluasi dapat dianggap sebagai suatu jenis penelitian tindakan yang dimaksudkan untuk memantau dan meningkatkan program atau layanan bimbingan dan konseling yang diselengarakan. Evaluasi dapat dilakukan pada skala yang lebih kecil, dapat direncanakan dan diimplementasikan oleh para praktisi bimbingan dan konseling, serta dapat digunakan untuk mengkomunikan dampak program dan pelayanan bimbingan dan konseling terhadap pencapaian prestasi siswa dalam bidang akademik/belajar, pribadi dan sosial serta karir juga variabel penting lainnya, terutama pengarusutamaan (mainstraim) perkembangan kemandirian siswa. Ada beberapa pertanyaan kunci evaluasi program bimbingan dan konseling yang dapat membantu konselor, seperti: a. Bagaimana pengelolaan program? b. Bagaimana program bimbingan dilaksanakan? c. Bagaimana program konseling dilaksanakan? d. Bagaimana konsultasi oleh guru bimbingan dan konseling? e. Bagaimana koordinasi dilakukan dengan pihak lain?

153

f. Bagaimana penilaian kebutuhan (need assessment) dilakukan? g. Bagaimana sikap professional guru bimbingan dan konseling? h. Bagaimana standar professional guru bimbingan dan konseling? Evaluasi kinerja guru bimbingan dan konseling menjadi bagian penting dari evaluasi program bimbingan dan konseling komprehensif. Konselor semakin dituntut untuk menunjukkan bahwa pekerjaan mereka memberikan kontribusi atas keberhasilan siswa, baik dibidang akademik, pribadi, soaial dan karir. Tiga jenis evaluasi diperlukan konselor untuk menunjukkan bahwa pekerjaan mereka dalam kerangka program bimbingan dan konseling komprehensif serta memberikan kontribusi untuk keberhasilan siswa secara keseluruhan. Pertama, evaluasi personil, menggambarkan cara konselor disupervisi dan dievaluasi. Kedua, evaluasi program, review terhadap status program kaitannya dengan standar program yang ditetapkan untuk memastikan sejauh mana program dilaksanakan. Terakhir, ketiga adalah evaluasi hasil, berfokus pada dampak kegiatan dan pelayanan bimbingan dan konseling bagi siswa, sekolah, dan masyarakat. Setiap jenis evaluasi itu penting, bagaimana mereka berhubungan dan berinteraksi satu sama lain akan menjadi lebih penting lagi. Evaluasi personil ditambah evaluasi program sama dengan evaluasi hasil. Personel sebuah program harus melakukan pekerjaan program, dan program tersebut harus berfungsi penuh untuk mencapai hasil yang diinginkan.

6. Evaluasi Kinerja Guru Bimbingan dan Konseling atau Konselor Agar kinerja guru bimbingan dan konseling atau konselor efektif, guru bimbingan dan konseling atau konselor harus memiliki karakteristik kepribadian sebagai berikut: hangat dan penuh pemahaman, menampilkan sikap penerimaan dan optimis terhadap potensi siswa dan percaya bahwa siswa dapat berubah ke arah yang positif, dan berkomitmen terhadap perubahan dan perkembangan diri. Konselor harus memiliki kemampuan komunikasi yang efektif dengan orang lain dari semua level dan latarbelakang suku yang berbeda. Ketika seorang guru bimbingan dan konseling memiliki komptensi yang dijelaskan diatas, maka kemungkinan memiliki program bimbingan dan konseling yang efektif akan meningkat.

154

Dalam rangka mengimplementasikan program dengan efektivitas yang optimal, guru bimbingan dan konseling harus berada dalam lingkungan kerja yang postif, termasuk hubungan interpersonal yang baik dengan staf, administrasi yang mendukung terhadap program bimbingan dan konseling, dana yang memadai dan materi bimbingan. Guru bimbingan dan konseling yang bekerja dalam lingkungan yang positif akan memiliki kebebasan untuk membuat kontribusi yang unik terhadap program pendidikan dan terhadap pertumbuhan dan perkembangan siswa. Delapan bidang berikut merupakan tanggungjawab seorang guru bimbingan dan konseling profesional.
a. Bidang manajemen (pengelolaan) program, konselor merencanakan,

mengimplementasikan, mengevaluasi dan mengadvokasi program bimbingan perkembangan komprehensif termasuk 4 komponen berikut (1) kurikulum bimbingan (layanan dasar), (2) layanan responsif, (3) perencanaan individual (4) dukungan sistem. Konselor berkolaborasi dengan yang lainnya untuk menentukan keseimbangan diantara empat komponen tersebut untuk memenuhi kebutuhan siswa dan komunitas sekolah. Managemen program menuntut personel yang terorganisir, sumber daya fisik, dan aktivitas dalam rangka memenuhi kebutuhan, prioritas dan objektivitas dalam rangka menjaga kontribusi program bimbingan dan konseling terhadap program pendidikan secara keseluruhan. Guru bimbingan dan konseling menggunakan kompetensi managemen program dalam komponen dukungan sistem pada program bimbingan dan konseling komprehensif.
b. Bidang Bimbingan, dalam memberikan bimbingan, Konselor secara proaktif

membantu siswa untuk mengembangkan dan mengaplikasikan keterampilan untuk pencapaian pendidikan karir, pribadi, dan pertumbuhan sosial selama sekolah dan setelahnya. Konselor menggunakan bimbingan untuk layanan menyediakan aktivitas pengembangan yang tepat melalui bidang komprehensif.
c. Bidang Konseling, konseling adalah intervensi yang diberikan kepada

dasar dan perncanaan individual dalam program bimbingan dan konseling

seluruh siswa yang membutuhkannnya, berfokus pada pribadi, atau pada masalah yang mengganggu perkembangan akademis, karir, pribadi dan

155

sosial.

Guru

bimbingan

dan

konseling

menggunakan

kompetensi

konselingnya dalam komponen layanan responsif pada program bimbingan dan konseling komprehensif.
d. Bidang konsultasi, Konselor berfungsi sebagai konsultan, mengadvokasi

siswa dan merupakan ahli profesional dalam membantu staf, petugas administrasi, orang tua dan komunitas sekolah lainnya dalam memahami perilaku individu dan hubungan diantara manusia. Konselor mengumpulkan informasi yang relevan dari komunitas sekolah terkait dengan perkembangan dan kebutuhan siswa
e. Bidang Koordinasi,

Konselor sebagai koordinator, mengkoordinasikan

personel dan sumberdaya yang ada di rumah, sekolah, dan komunitas untuk mendukung optimalisasi perkembangan siswa dalam bidang akademik, karir, pribadi dan sosial.
f.

Bidang Asesmen, Konselor menginterpretasi hasil tes dan data lainnya tentang siswa dalam mengambil keputusan. Perilaku profesional, Guru bimbingan dan konseling yang

g. Bidang

profesional menerima tanggung jawab untuk selalu mengembangkan profesionalitasnya melalui usaha yang berkelanjutan untuk meningkatkan kompetensinya.
h. Bidang

Standar

Profesional,

Guru

bimbingan

dan

konseling

yang

profesional menggunakan standar yang profesional dalam semua komponen proram bimbingan dan konseling komprehensif.

7. Pengembangan Standar Dan Kreteria Keberhasilan Seperti apa standar, kriteria, dan deskriptor kinerja konselor dalam program bimbingan dan konseling komprehensif? Untuk menggambarkan, berikut ini adalah dua contoh standar, kriteria, dan beberapa deskripsi berdasarkan pedoman evaluasi kinerja konselor. Deskripsi Standar managemen program: Standar 1 : merancang program bimbingan dan konseling komprehensif yang seimbang yang termasuk layanan dasar, layanan responsif, perencanaan individual, dan dukungan sistem

156

Deskripsi

:
1. Merancang prioritas program bimbingan 2. Penilaian terhadap kebutuhan siswa, sekolah dan komunitas sekolah 3. Membuat tujuan program 4. Berkolaborasi dengan komponen sekolah lainnya 5. Mendapatkan dukungan dana bagi pelaksanaan program.

Standar 2 Standar 3 Standar 4 Standar 5

: Implementasi program : Evaluasi dan pengembangan berkelanjutan : Pengembangan area kontent program : pengelolaan personel dan sumber daya

Standar 6 : Kolaborasi guru bimbingan dan konseling dengan personel sekolah, siswa, orang tua, masyarakat danlain-lain. Standar 7 : Mengadvokasi program Bimbingan dan Konseling komprehensif.

Deskripsi Bidang Bimbingan Standar 1 Standar 2 Standar 3 : Merencanakan kelompok materi yang terstruktur : Memberikan kelompok materi yang efektif dan diberikan pada layanan dasar : Melibatkan siswa, guru, orang tua dan yang lainnya untuk mempromosikan implementasi bimbingan klasikal. Standar 4 : Membimbing siswa secara individu dan kelompok beserta orang tua dalam merencanakan, memonitor dan mengelola perkembangan akademis siswa. terstruktur yang

157

Standar 5

: Membimbing siswa secara individu dan kelompok beserta orang tua dalam merencanakan, memonitor dan mengelola perkembangan karir siswa

Standar 6

: Membimbing siswa secara individu dan kelompok beserta orang tua dalam merencanakan, memonitor dan mengelola perkembangan pribadi sosial siswa.

Standar 7

: Menggunakan teori dan teknik yang efektif untuk mempromosikan perkembangan siswa dalam bidang karir, akademis, pribadi dan sosial.

Deskripsi bidang konseling Standar 1 : Menggunakan teori yang dapat diterima dan tekhnik yang efektif untuk membantu perkembangan individu, pencegahan, remedial atau konseling krisis Standar 2 : Menggunakan teori yang dapat diterima dan tekhnik yang efektif untuk membantu perkembangan kelompok, pencegahan, remedial, atau konseling krisis.

Deskripsi Bidang Konsultasi Standar 1 : Berkonsultasi dengan orang tua, personel sekolah, dan komunitas sekolah lainnya dalam rangka membantu meningkatkan efektifitas pendidikan siswa. Standar 2 : Berkonsultasi dengan personel sekolah, orang tua dan komunitas sekolah lainnya untuk membantu memahami perkembangan siswa, perilaku individual, lingkungan sekolah dan hubungan antara manusia. Standar 3 : kolaborasi dalam mengadvokasi individu siswa dan kelompok siswa tertentu.

158

2. Deskripsi Bidang Koordinasi

Standar 1

: Mengkoordinir orang dan sumber lainnya di sekolah, rumah dan komunitas lainnya untuk mendukung kesuksesan siswa.

Standar 2

: Menggunakan proses yang efektif ketika mereferal siswa.

Deskripsi Bidang penilaian siswa (assessment) Standar 1 : Menggunakan standar yang profesional, legal dan etis dalam melakukan penilaian (assessment) Standar 2 Standar 3 : Menginterpretasi hasil tes : Memberikan pemahaman mengenai hasil tes dan data penilaian lainnya kepada personel sekolah dan orang tua. Bidang tindakan Profesional Standar 1 : Menunjukan profesionalisme, termasuk komitmen untuk mengembangkan profesionalitas. Standar 2 : Mengadvokasi lingkungan sekolah yang memberikan pemahaman dan penghormatan terhadap perbedaan. Standar 3 : Menjaga hubungan yang profesional diantara petugas administrasi, guru, personel sekolah, dan anggota komunitas sekolah.

Bidang Standar Profesional Standar 1 Standar 2 : Mendukung standar yang legal termasuk kebijakan sekolah : Mendukung standar, aturan, dan prosedur di sekolah.

159

Standar 3

: Berkomitmen terhadap standar profesional terbaru dalam hal kompetensi dan praktek.

Standar 4 Standar 5 Standar 6

: Mengikuti standar etik organisasi profesi : Menunjukan kinerja yang profesional dan bertanggungjawab : Menggunakan keterampilan menulis, komunikasi dan hubungan interpersonal yang profesional.

Pengembangan Standar Dan Kreteria Keberhasilan Seperti apa standar, kriteria, dan deskriptor kinerja Konselor dalam program

Bimbingan dan Konseling komprehensif? Untuk menggambarkan, berikut ini adalah dua contoh standar, kriteria, dan beberapa deskripsi berdasarkan pedoman evaluasi kinerja Konselor. Tabel 4.1 Standar, Kriteria, dan Deskriptor Kinerja Guru Bimbingan dan Konseling atau Konselor
STANDAR
Konselor profesional menerapkan Komponen Kurikulum Bimbingan (Layanan Dasar) melalui penggunaan keterampilan pembelajaran yang efektif dan perencanaan sesi kelompok terstruktur yang cermat untuk semua siswa. (catatan: standar ini untuk program bimbingan kelas/kelompok). Konselor profesional mendorong keterlibatan staf sekolah untuk memastikan pelaksanaan pelayanan dasar efektif

KRITERIA
Konselor profesional mengajarkan unit bimbingan secaraefektif.

DESKRIPTOR
Konselor profesional: 1. mengatur unit bimbingan yang harus dikuasai siswa berdasarkanpada kebutuhan siswa. 2. menggunakan strategi pembelajaran yang efektif. 3. menetapkan suatu lingkungan belajar yang kondusif bagisiswa melalui penggunaan manajemen kelas yang efektif. 1. dst Konselor profesional: 1. bekerja sama dengan atau membantu guru dalam mengembangkan unit pengajaran dan/atau bimbingan secara efektif.

160

STANDAR

KRITERIA

DESKRIPTOR
2. berfungsi sebagai resources tentang bahan yang memadai untuk unit-unit bimbingan yang diajarkan. 3. menyediakan pelatihan in-service bagi guru mata pelajaran yang berhubungan dengan bimbingan dan metode pembelajaran dan bimbingan. 4. dst Untuk mengukur pencapaian kriteria konseling individual digunakan skala 5: 1 2 3 4 5 Implementasi

Siswa memiliki akses untuk memperoleh layanan responsif yang membantu mereka dalam menangani isu-isu dan masalah yang dapat mempengaruhi perkembangan pribadi, akademik, sosial, dan karir.

Layanan konseling individu tersedia untuk semua siswa yang mungkin mengalami masalah yang mengganggu perkembangan pribadi, sosial, belajar, dan karier mereka. Konseling kelompok kecil tersedia untuk semua siswa yang mungkin mengalami masalah yang mempengaruhiperkembangan pribadi, sosial, belajar, dan karier mereka.

Implementasi Implementasi

Awal Parsial Penuh Untuk mengukur pencapaian kriteria konseling kelompok kecil digunakan skala 5: 1 2 3 4 5

Implementasi Implementasi Awal Parsial

Implementasi Penuh

Evaluasi konselor dengan menggunakan standar, kriteria, dan deskriptor harus ditemukan dalam dokumen pedoman evaluasi formatif dan sumatif. Pengembangan profesional berkelanjutan dan prosedur supervisi menggunakan standar, kriteria, dan deskripsi di program bimbingan dan konseling. atas merupakan bagian dari evaluasi formatif. Sementara evaluasi sumatif dari proses evaluasi kinerja konselor ada pada akhir

8. Evaluasi Proses dan Hasil Pelayanan Bimbingan dan Konseling Evaluasi program adalah prosedur yang digunakan untuk menentukan sejauh mana program bimbingan dan konseling komprehensif berfungsi sepenuhnya. Penilaian dibuat tentang status program dengan menggunakan standar evaluasi program dan kriteria yang bersumber langsung dari bahasa kerangka program

161

bimbingan dan konseling komprehensif (Gysbers & Henderson, 2006). Kecukupan standar dan kriteria evaluasi program diperlukan untuk memastikan bahwa panduan program bimbingan dan konseling komprehensif lengkap dan sepenuhnya diwakili oleh standar dan kriteria tersebut. Setelah standar dan kriteria dipilih yang sepenuhnya mewakili program bimbingan dan konseling komprehensif, selanjutnya skala dibuat untuk setiap kriteria yang dapat berkisar dari 5 sampai 6 atau 7 poin. Kadang-kadang pedoman skoring disediakan sehingga mampu menjelaskan apa yang harus evaluator perhatikan dalam setiap titik skala. Sebuah panduan skoring juga dapat mencakup contohcontoh bukti yang evaluator harapkan temukan bersama dengan dokumentasi yang diperlukan untuk menunjukkan sejauh mana standar dan kriteria telah dipenuhi. Seperti apa standar evaluasi program teresebut? Untuk menggambarkan, berikut ini adalah contoh standar dengan beberapa contoh kriteria. Standar 2: Siswa memiliki akses untuk memperoleh layanan responsif yang membantu mereka dalam mengatasi masalah dan kecemasan yang dapat mempengaruhi perkembangan pribadi, akademik, sosial, dan karir mereka. Kriteria 1: Layanan konseling individu tersedia untuk semua siswa yang mungkin mengalami masalah yang mengganggu perkembangan yang sehat mereka. Kriteria 1: Konseling kelompok kecil tersedia untuk semua siswa yang mungkin mengalami masalah yang mengganggu perkembangan kesehatan mereka. Untukmenilaisejauh manasetiap kriteriadi atas dicapai, dikembangkan skala7 poinsebagai berikut:
1 Mulai Dilaksanakan 2 3 4 5 6 7 Sebagian Dilaksanakan Sepenuhnya Dilaksanakan

Kapan dan seberapa sering kita harus melakukan evaluasi program bergantung pada tujuanyang ingin dicapai. Kita dapat menggunakan evaluasi program untuk menentukan apakah program Bimbingan dan Konseling sekolah kita telah memenuhi standar dan kriteria sebagaimana telah ditetapkan. Apakah evaluasi

162

program dilakukan tahunan atau berkala, akan mampu melihat apakah program yang telah ditetapkan mampu dilaksanakan dengan baik. Hasil evaluasi program menunjukkan di mana kemajuan telah dibuat atau aspek apakah yang kurang menunjukkan kemajuan dari keseluruhan program dan pelaksanaan bimbingan dan konseling komprehensif. Terhadap setiap pelayanan yang kita gelar, seharusnya dilakukan evaluasi. Evaluasi Hasil Evaluasi hasil merupakan prosedur yang digunakan untuk menjawab pertanyaan Apa dampak program bimbingan dan konseling komprehensif (kegiatan dan layanan) terhadap keberhasilan dan kemandirian siswa, terutama pada prestasi akademik mereka? Hasil yang biasanya dibahas dalam evaluasi hasil meliputi tingkat kehadiran di kelas, perilaku disiplin, nilai rata-rata, nilai tes prestasi belajar, dan perilaku siswa di kelas/sekolah, kemampuan siswa dalam mengambil keputusan. Perubahan positif dalam hal-hal di atas diantisipasi sebagai hasil dari partisipasi siswa dalam program bimbingan dan konseling komprehensif. Disarankan bahwa konselor mengembangkan dan melaksanakan rencana evaluasi berbasis hasil sebagai bagian dari pelaksanaan keseluruhan bimbingan dan konseling komprehensif mereka. Hasil yang diharapkan harus sudah dibahas dalam rencana kegiatan bimbingan dan konseling untuk melakukan perbaikan pernyataan misi dan/atau rencana strategis bimbingan dan konseling. Dokumen-dokumen ini berisi hasil yang direncanakan untuk mencapai. Sebuah rencana evaluasi hasil dapat difokuskan pada bimbingan khusus dan kegiatan konseling atau layanan yang dipilih sehingga hasil yang spesifik dapat diidentifikasi dalam rencana perbaikan komprehensif atas segala layanan bimbingan dan konseling. Jika pendekatan ini yang dipilih, maka rencana perlu menyertakan hasil spesifik yang diinginkan, kegiatan atau layanan yang akan digunakan untuk mencapai hasil yang diinginkan, bagaimana kegiatan atau layanan akan diberikan dan diberikan oleh siapa, bagaimana desain evaluasi yang akan digunakan, bagaimana data akan dikumpulkan dan dianalisis, dan jenis laporan yang bagaimana yang akan disiapkan dan kepada siapa akan disajikan. Sebuah rencana evaluasi

163

hasil juga dapat lebih fokus pada dampak luas bimbingan dan konseling ke seluruh program pendidikan sekolah. Dalam merancang rencana evaluasi hasil, beberapa jenis data dapat digunakan. Jenis pertama adalah data proses yang menggambarkan kegiatan bimbingan dan konseling dan layanan apa, kapan diberikan, dan untuk siapa diberikan. Data proses memberikan bukti bahwa kegiatan dan layanan bimbingan dan konseling benar-benar disediakan. Jenis yang kedua adalah data persepsi, yang memberitahu kita apa yang siswa, orang tua, guru, kepala sekolah, atau orang lain pikirkan atau rasakan tentang kegiatan dan layanan serta pekerjaan konselor. Data hasil merupakan jenis ketiga, yaitu perilaku sebenarnya dari siswa yang diukur dengan tingkat kehadiran, tingkat kedisiplinan, nilai rata-rata di kelas, dan skor tes prestasi. Semua jenis data berguna dalam memastikan dampak program bimbingan dan konseling komprehensif terhadap perilaku siswa. Pemerincian data merupakan langkah penting dalam analisis data karena memungkinkan kita untuk melihat jika ada siswa yang tidak melakukan sesuatu sebagaimana siswa lainnya. Bidang umum untuk dirinci adalah sebagai berikut: 1. Jenis kelamin, 2. Etnis, 3. Status sosial ekonomi, 4. Pekerjaan (catatan program pekerjaan sepanjang sejarah hidup anak), 5. Bahasa lisan di rumah, 6. Pendidikan khusus yang pernah diterima, 7. Tingkat kelas, dan 8. Guru-guru yang pernah mengajarnya. Sebuah alat yang penting untuk analisis data hasil adalah program pencatatan hasil seperti Microsoft Excel. Program ini memungkinkan kita untuk memasukkan data hasil dan melakukan berbagai prosedur statistik yang sesuai. Selain itu, berbagai grafik dapat dibuat untuk menunjukkan hubungan dari data hasil evaluasi dengan hasil lainnya, misalkan data ainteligensi siswa, bakat, dan minat serta kepribadian siswa. Akhirnya, rencana evaluasi hasil perlu menekankan bagaimana hasil data akan digunakan. Salah satu penggunaan data tersebut untuk menunjukkan

164

kontribusi Konselor terhadap tujuan pendidikan seperti yang disajikan dalam rencana perbaikan komprehensif sekolah. Yang kedua adalah bagaimana data digunakan untuk meningkatkan program bimbingan dan konseling komprehensif saat ini. Jadi asesmen dan evaluasi terhadap program dan hasil bimbingan dan konseling akan sangat berguna untuk membuat dan meningkakan program bimbingan dan konseling sekolah.

9. Instrumen Evaluasi Program Dan Hasil Tabel 4.2 Contoh Instrumen Pengelolaan Program NO 1 Pernyataan Guru bimbingan dan konseling membuat rancangan program bimbingan dan konseling 2 Guru bimbingan dan konseling melaksanakan need assessment terhadap kebutuhan siswa 3 Guru bimbingan dan konseling melaksanakan need assessment terhadap kebutuhan sekolah 4 5 Guru bimbingan dan konseling membuat tujuan program Guru bimbingan dan konseling berkolaborasi dengan komponen sekolah lainnya dalam membuat tujuan program 6 Guru bimbingan dan konseling mengembangkan kalender tahunan 7 Guru bimbingan dan konseling menggunakan keterampilan organisasi yang efektif 8 Guru bimbingan dan konseling memilih aktivitas yang sesuai dengan prioritas kebutuhan siswa dan sekolah 9 Guru bimbingan dan konseling membuat rancangan program dengan waktu yang sesuai dan efektif Jawaban ya tidak

165

NO 10

Pernyataan Guru bimbingan dan konseling bertanggung jawab memberikan layanan kepada siswa sesuai dengan kbutuhannya

Jawaban ya tidak

11

Guru bimbingan dan konseling menggunakan instrumen untuk mendapatkan informasi dari siswa

12

Guru bimbingan dan konseling menggunakan hasil evaluasi untuk memperkokoh tujuan, strategi dan aktivitas

13

Guru bimbingan dan konseling mengukur hasil bimbingan secara sistematis dan berkala

14

Guru bimbingan dan konseling merancang program yang memungkinkan siswa ikut terlibat aktif di dalamnya

15

Guru bimbingan dan konseling berkolaborasi dengan guru, petugas administrasi dalam menjalankan program

16

Guru bimbingan dan konseling mengevaluasi penguasaan siswa terhadap materi program bimbingan

17

Guru bimbingan dan konseling menggunakan sumber daya secara efektif dan efisien

18

Guru bimbingan dan konseling menerima saran dengan fikiran terbuka

19

Guru bimbingan dan konseling menjelaskan filosofi, prioritas dan praktek program bimbingan secara efektif dan akurat

20

Guru bimbingan dan konseling menginformasikan kepada siswa, guru, petugas administrasi dan komponen sekolah lainnya mengenai program bimbingan

21

Guru bimbingan dan konseling menghargai keahlian dan profesionalitas personel sekolah lainnya.

22

Guru bimbingan dan konseling mengevaluasi kinerja secara berkala

166

NO 23 Guru bimbingan

Pernyataan dan konseling menganalisis dan

Jawaban ya tidak

menginterpretasi data siswa 24 Guru bimbingan dan konseling merancang aktivitas yang dapat membantu siswa secara efektif 25 Guru bimbingan dan konseling menjaga sarana dan fasilitas yang tersedia 26 Guru bimbingan dan konseling menggunakan materi yang tepat dalam mengimplementasikan program 27 Guru bimbingan dan konseling membuat kesimpulan dari data yang didapatkan dari siswa 28 Guru bimbingan dan konseling membuat rekomendasi dari data yang didapatkan dari siswa 29 Guru bimbingan dan konseling memberikan dukungan terhadap guru bimbingan dan konseling baru (in-training) 30 Guru bimbingan dan konseling menjelaskan kontribusi yang dapat diberikan oleh personal sekolah

Tabel 4.3 Contoh Instrumen perencanaan individual NO 1 Pernyataan Apakah terdapat proses yang sistematis yang dapat membantu siswa mengembangkan rencana belajarnya? 2 3 Apakah terdapat sistem perencanaan individual di sekolah Apakah terdapat sistem yang dapat melibatkan orang tua siswa? 4 Apakah guru bimbingan dan konseling melaksanakan aktivitas Jawaban ya tidak

167

NO

Pernyataan penilaian (Need Assessmenet)

Jawaban ya tidak

5 6

Apakah guru bimbingan dan konseling melaksanakan konsultasi Apakah siswa guru bimbingan dan konseling melaksanakan

identifikasi tujuan karir jangka pendek dan jangka panjang bagi

Apakah guru bimbingan dan konseling membantu siswa dalam mendapatkan pendidikan karir

Apakah guru bimbingan dan konseling berkolaborasi dengan orang tua

Apakah guru bimbingan dan konseling membantu siswa dalam membuat rencana pribadi siswa yang direvisi paling tidak setahun sekali

10

Apakah tersedia prosedur dalam proses perencanaan individual

D. LATIHAN Di bawah ini terdapat standar-standar yang harus dicapai dari masing-masing bidang, buatlah deskripsi dari standar-standar tersebut! 1) Bidang Manajemen Program Standar 1 Merancang program bimbingan dan konseling komprehensif yang seimbang meliputi layanan dasar, layanan responsif, perencanaan individual, dan dukungan sistem. Deskripsi:
a) ..................................................................................... b) ..................................................................................... c) ..................................................................................... d) .....................................................................................

168

e) ..................................................................................... f) Dst.

Standar 2 Mengimplementasikan program yang telah dirancang. Deskripsi:


a) ..................................................................................... b) ..................................................................................... c) ..................................................................................... d) ..................................................................................... e) ..................................................................................... f) Dst.

Standar 3 Evaluasi dan pengembangan berkelanjutan. Deskripsi:


a) ..................................................................................... b) ..................................................................................... c) ..................................................................................... d) ..................................................................................... e) ..................................................................................... f) Dst.

169

2) Bidang Bimbingan Standar 1 Merencanakan kelompok materi yang terstruktur. Deskripsi: a) ..................................................................................... b) ..................................................................................... c) ..................................................................................... d) ..................................................................................... e) ..................................................................................... f) Dst.

Standar 2 Memberikan kelompok materi yang efektif dan terstruktur yang diberikan pada layanan dasar. Deskripsi: a) ..................................................................................... b) ..................................................................................... c) ..................................................................................... d) ..................................................................................... e) ..................................................................................... f) Dst.

Standar 3 Melibatkan siswa, guru, orang tua dan yang lainnya untuk mempromosikan implementasi bimbingan klasikal. Deskripsi: a) .....................................................................................

170

b) ..................................................................................... c) ..................................................................................... d) ..................................................................................... e) Dst.

3) Bidang Konseling Standar 1 Menggunakan teori yang dapat diterima dan tekhnik yang efektif untuk membantu perkembangan individu, pencegahan, remedial atau konseling krisis. Deskripsi: a) ..................................................................................... b) ..................................................................................... c) ..................................................................................... d) ..................................................................................... e) ..................................................................................... f) Dst.

4) Bidang Konsultasi Standar 1 Berkonsultasi dengan orang tua, personel sekolah, dan komunitas sekolah lainnya dalam rangka membantu meningkatkan efektivitas pendidikan siswa. Deskripsi: a) ..................................................................................... b) ..................................................................................... c) .....................................................................................

171

d) ..................................................................................... e) ..................................................................................... f) Dst.

5) Bidang Koordinasi Standar 1 Mengkoordinir orang dan sumber lainnya di sekolah, rumah dan komunitas lainnya untuk mendukung kesuksesan siswa. Deskripsi: a) ..................................................................................... b) ..................................................................................... c) ..................................................................................... d) ..................................................................................... e) ..................................................................................... f) Dst.

6) Bidang Penilaian Siswa (Assessment) Standar 1 Menggunakan standar yang profesional, legal dan etis dalam melakukan penilaian (asessment). Deskripsi: a) ..................................................................................... b) ..................................................................................... c) ..................................................................................... d) .....................................................................................

172

e) ..................................................................................... f) Dst.

7) Bidang Tindakan Profesional Standar 1 Menunjukan Deskripsi: a) ..................................................................................... b) ..................................................................................... c) ..................................................................................... d) ..................................................................................... e) Dst. profesionalisme, termasuk komitmen untuk

mengembangkan profesionalitas.

8) Bidang Profesional Standar 1 Mendukung standar yang legal termasuk kebijakan sekolah. Deskripsi: a) ..................................................................................... b) ..................................................................................... c) ..................................................................................... d) ..................................................................................... e) Dst.

173

Standar 2 Mendukung standar, aturan, dan prosedur di sekolah. Deskripsi: a) ..................................................................................... b) ..................................................................................... c) ..................................................................................... d) ..................................................................................... e) ..................................................................................... f) Dst.

Standar 3 Berkomitmen terhadap standar profesional terbaru dalam hal kompetensi dan praktek. Deskripsi: a) ..................................................................................... b) ..................................................................................... c) ..................................................................................... d) ..................................................................................... e) ..................................................................................... f) Dst.

174

175

DAFTAR PUSTAKA AACE. 2003. Competencies in Assessment and Evaluation for School Counselor . http://aace.ncat.edu Ahia, C.E. & Bradly, R.W. 1984. Assessment of secondary school student needs in Kwara State, Nigeria. International Journal for The Advancement of Counseling, 7: 147-157. Berg, B., Robert, Garry L. Landreth, & Kevin A. Fall. 2006. Group Counseling Concepts and Procedures. Fourth Edition. Madison Avenue, New York: Routledge. Corey, Gerald. 2009. Theory and Practice of Counseling and Psychotherapy . Belmont, CA: Thomson Higher Education. Corey, Gerald. 2012. Theory & Practice of Group Counseling. Belmont, CA: Brooks/ Cole Cronbach, L.J. 1963. Design Evaluation of Educations & Social Program . San Fransisco: Jessev-Base. Daharnis. 2005. Hubungan Sejumlah Karakteristik Mahasiswa, Kondisi Lingkungan, Pembelajaran, Kegiatan Belajar dan Prestasi Belajar Mahasiswa Universitas Negeri Padang. Disertasi tidak diterbitkan. Malang: Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Daharnis. 2011. Hubungan Aspirasi, Persepsi, Locus of Control, Angkatan dan Status Masuk dengan Kegiatan Belajar Mahasiswa Jurusan Bimbingan dan Konseling FIP UNP. Laporan Penelitian (Tidak diterbitkan). Jurusan BK FIP UNP Depdiknas. 2004. Pedoman Khusus Bimbingan dan Konseling . Jakarta: Depdiknas Depdiknas. 2007. Rambu-rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal. Jakarta: Depdiknas Djoemadi Darmodjo. 2002. Pengembangan Tes Lokal. Bahan Pelatihan Sertifikasi Tes bagi Konselor Pendidikan. Malang: PPS UM Eko Susanto. 2011. Pengembangan Instrumen dan Program Analisis Sosiometri untuk Bimbingan dan Konseling di Sekolah (Studi pada SMP dan SMA di Kota Padang). Tesis tidak diterbitkan. Padang. UNP Elliot, S.H., Kratochwill, T.R., Littlefield, J.F. & Travers, J.F. 1996. Educational Psychology. Madison: Brown & Benchmark Furqon dan Yaya Sunarya. 2011. Pengembangan Instrumen Asesmen Perkembangan Siswa. dalam Mamat Supriatna. 2011. Bimbingan dan Konseling Berbasis Kompetensi. Jakarta: Rajawali Press

Gerald Goldstein & Michel Hersen (eds). 2000. Hanbook of Psychological Assesment. New York: Elsevier Science

176

Gysbers, N. C. dan P. Henderson. 2006. Developing and Managing your School Guidance and Counseling Program (4th Ed). A lexandria, VA: ACA. Gysbers, Norman C. 2003. Comprehensive Guidance and Counseling Programs:The Evolution of Accountability. A version of this article was presented at the ACES/ASCA School Counseling Research Summit on June 2829, 2003, in St. Louis, MO. Gysbers, Norman C. and Patricia Henderson. Comprehensive Guidance and Counseling Program Evaluation: Program + Personnel = Results . Article Hornby, Garry; Carol Hall; and Eric Hall .2003. Counselling Pupils in Schools: Skills and strategies for teachers New Fetter Lane, London: Routledge Falmer ILO. 2011. Panduan Pelayanan Bimbingan Karir Bagi Guru Bimbingan Konseling/Konselor pada Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah . Jakarta: Organisasi Perburuhan Internasional

Imam Hanuji. 2011. Hubungan Persepsi Siswa tentang Penerapan High-Touch oleh Wali Kamar dengan Penyesuaian Diri Siswa di Asrama serta Implikasinya dalam Bibingan dan Konseling di SMP Pesantren Modern Terpadu Prof. Dr. Hamka Kabupaten Padang Pariaman. Tesis (Tidak diterbitkan). Padang: Universitas Negeri Padang. Joni, T, Raka; Limas Sutanto, Triyono. 2007. Penajaman Teknik Konseling dan Psikoterapi. Materi Pelatihan bagi Psikiater Februari sd Mei 2007 di PPS UM Malang Kelly Coker J., Randall L. Astramovich, and Wendy J. Hoskins. Introducing the Accountability Bridge Model: A Program Evaluation Framework for School Counselors. Article Kemendiknas. 2010. Pembinaan dan Pengembangan Profesi Guru (Buku 2): Penilaian Kinerja Guru (PK GURU). Jakarta: Kemendiknas Mudjiran dkk, 2010. Praktik Instrumentasi dalam Konseling. Padang: UNP Muri Yusuf , A.. 2005. Metodologi Penelitian. Padang. UNP Nina W.Brown. 2004. Psychoeducational Groups: Process And Practice. Second Edition. New York: Brunner-Routledge Peraturan Bersama Menteri Pendidikan Nasional dan Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor 03/V/Pb/2010 dan Nomor 14 Tahun 2010 tentang Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya Peraturan Pemerintah Nomor 74 tahun 2008 tentang Guru Permendiknas Nomor 22 tahun 2006 tentang Standar isi Permendiknas Nomor 27 tahun 2008 Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Konselor

177

Prayitno,dkk. 2004. Seri Pemandu Pelaksanaan Pelayanan Bimbingan dan Konseling di SMK. Jakarta: Bina Sumber Daya MIPA. Prayitno. 2012. Jenis Layanan dan Kegiatan Pendukung Konseling . Padang: UNP Pusat Kurikulum Balitbang Depdiknas. 2011. Model Pengembangan Diri. Jakarta: Puskur Robert Edenborough. 2002. Effective Interviewing: A Handbook of Skills and Techniques. London: Clays Ltd. Rosemary A. Thompson. 2003. Counseling Techniques: Improving Relationships With Others, Ourselves, Our Families, And Our Environment. Madison Avenue, New York: Routledge Sears, W., Richard; John R. Rudisill; Carrie Mason-Sears. 2006. Consultation Skills for Mental Health Professionals. Hoboken, New Jersey : John Wiley & Sons, Inc., Shertzer, B. & Stone, S.C. 1981. Fundamental of Guidance. Boston: Houghton Mifflin Company Suherman, U. 2008. Manajemen dalam Bimbingan dan Konseling . Bandung: Madani Sumadi Suryabrata. 2004. Pengembangan Alat Ukur Psikologis. Yogyakarta: Andi Syaifuddin Azwar. 2004. Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Tim Penyusun Pedoman Pelaksanaan Pendidikan Profesi Guru Bimbingan dan Konseling atau Konselor. 2010. Asesmen dan Pemahaman Individu. Draft Belum Diterbitkn Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional W.S.Winkel & M.M Sri Hastuti. 2010. Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Yogyakarta: Media Abadi Wayan Nurkancana.1993. Pemahaman Individu.Surabaya: Usaha Nasional

178