PENGARUH PENERIMAAN PAJAK DAN RETRIBUSI DAERAH TERHADAP PENINGKATAN PENDAPATAN ASLI DAERAH DI KABUPATEN PONOROGO

SKRIPSI

Oleh: Septian Dwi Kurniawan 06130017

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL FAKULTAS TARBIYAH UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG APRIL 2010

PENGARUH PENERIMAAN PAJAK DAN RETRIBUSI DAERAH TERHADAP PENINGKATAN PENDAPATAN ASLI DAERAH DI KABUPATEN PONOROGO
SKRIPSI Diajukan kepada Fakultas Tarbiyah Unversitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang untuk memenuhi Salah Satu Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Strata Satu Sarjana Pendidikan (S.Pd)

oleh: Septian Dwi Kurniawan 06130017

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL FAKULTAS TARBIYAH UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG APRIL 2010

LEMBAR PERSETUJUAN PENGARUH PENERIMAAN PAJAK DAN RETRIBUSI DAERAH TERHADAP PENINGKATAN PENDAPATAN ASLI DAERAH DI KABUPATEN PONOROGO SKRIPSI Oleh: Septian Dwi Kurniawan NIM. 06130017

Telah Disetujui Oleh: Dosen Pembimbing

Dr. H. Abdul Bashith,S.Pd, M.Si NIP.197610022003121003

Mengetahui, Ketua Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial

Drs. M.Yunus, M.Si NIP. 196903241996031002

Si : NIP. H.) Panitia Ujian Ketua Sidang. Abdul Bashith. M. Lc. Si NIP. S. 196903241996031002 : Mengetahui. Dr.. Zainuddin. Misbahul Munir. Pd. Drs. MA NIP. S. H. 197610022003121003 Penguji Utama. M. M. Pd. H.Si : NIP. H. M. 196205071995031001 .LEMBAR PENGESAHAN PENGARUH PENERIMAAN PAJAK DAN RETRIBUSI DAERAH TERHADAP PENINGKATAN PENDAPATAN ASLI DAERAH DI KABUPATEN PONOROGO SKRIPSI Dipersiapkan dan disusun oleh Septian Dwi Kurniawan (06130017) Telah dipertahankan di depan penguji pada tanggal 17 April 2010 dan telah dinyatakan diterima sebagai salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar strata satu Sarjana Pendidikan IPS (S.Ei NIP. 19750707200501100005 Tanda Tangan : Sekretaris Sidang. 197610022003121003 Pembimbing. M.Pd. M. Dekan Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Dr. Dr. Abdul Bashith.Yunus.

Pd. H. Dosen Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang NOTA DINAS PEMBIMBING Hal : Septian Dwi Kurniawan Lamp : 4(empat) Eksemplar Kepada Yth. kami berpendapat bahwa skripsi tersebut sudah layak diajukan untuk diujkan. H.Dr. Wb. mohon dimaklumi adanya. bahasa. S. Abdul Bashith. M. Dekan Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang di Malang Assalamu’alaikum Wr. dan setelah membaca skripsi mahasiswa tersebut dibawah ini: Nama : Septian Dwi Kurniawan NIM : 06130017 Jurusan : Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Judul Skripsi : Pengaruh Penerimaan Pajak dan Retribusi Daerah Terhadap Peningkatan Pendapatan Asli Daerah di Kabupaten Ponorogo maka selaku Pembimbing. 28 April 2010 Pembimbing. Pd. Sesudah melakukan beberapa kali bimbingan.197610022003121003 . Demikian... Abdul Bashith. Wb Malang. S. Dr. maupun teknik penulisan.Si NIP. Si. Wassalamualaikum Wr. M.. baik dari segi isi.

kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar rujukan. bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan pada suatu perguruan tinggi. 28 April 2010 Septian Dwi Kurniawan . Malang.SURAT PERNYATAAN Dengan ini saya menyatakan. juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain. dan sepanjang pengetahuan saya.

tersayang. Nurul Mu’awanah) ..... tercinta UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANAMALIK IBRAHIM MALANG Untuk orang yang selalu ada disampingku..... terima kasih buku dan semua bimbingannya.. Ibunda (Hj.. Indarwijanto)..PERSEMBAHAN Skripsi ini saya persembahkan kepada: Ayahanda (H. .terimakasih Untuk saudara sepupuku (aang).. Semua teman-teman yang mendukungku............ Mbak(Novia) & kakakku (arif). Almamater...... tersayang......

segala puja dan syukur senantiasa penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kekuatan. Bapak Prof. Imam Suprayogo. Dalam penyusunan skipsi dengan judul ”Pengaruh Penerimaan Pajak dan Retribusi Daerah Terhadap Peningkatan Pendapatan Asli Daerah di Kabupaten Ponorogo” penulis mengucapkan terima kasih kepada: 1. Bapak Dr. Bapak Dr. S. Dr. Yunus. H. .SI. Bapak Drs. penulis mengucapkan terima kasih. yang telah membuka tabir penerangan bagi seluruh umatnya sekaligus sebagai tumpuan harapan pemberi syafa’at di akhirat. Segenap teman-teman yang telah memberikan masukan. H. MA selaku Dekan Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang 3. yang telah membantu kelancaran proses penulisan skripsi ini. M. selaku staf pengajar Jurusan Pendidikan IPS (Prodi Ekonomi) yang telah memberikan saran. M. selaku dosen pembimbing yang telah memberikan arahan dalam penelitian ini. selaku rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Sholawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Agung Muhammad SAW. H. Abdul Bashith. 6. Alhamdulillahirabbil „Alamin.KATA PENGANTAR Bismillahirahmanirrahim.Si. Moh. 7. M. Seluruh pegawai dan staf Dinas Pengelolaan Pendapatan Keuangan dan Asset Daerah yang telah bersedia memberikan izin untuk melakukan penelitian.SI. kritik dan masukan. M. Seluruh Dosen-Dosen Jurusan Pendidikan Ilmu pengetahuan Sosial. 8. Pd. 5. Zainuddin. 2. selaku Ketua Jurusan Pendidikan IPS (Prodi Ekonomi) Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang 4. Ibu Umi Julaihah. kesempatan dan petunjuk kepada penyusun sehingga dapat menyelesaikan tugas penyusunan skripsi ini.

Akhirnya. 28 April 2010 Septian Dwi Kurniawan . Malang. penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi kita semua dan bagi dunia pendidikan. untuk itu penulis mengharap saran dan kritik dari semua pihak sebagai perbaikan untuk yang akan datang. Semua pihak yang telah membantu penulis karya ini. penulis mengucapkan banyak-banyak terima kasih Penulis sadar bahwa skripsi ini masih belum bisa dikatakan sempurna.9. Amien.

.........................7 4....................................... Jumlah Bentuk Usaha Menurut Jenisnya....... Jumlah Pegawai Negeri Sipil Daerah dan Pusat dilingkungan Pemerintah Kabupaten Ponorogo...12 Nama Rumah Makan/Depot di Ponorogo .................... Jumlah Perusahaan Yang Mendaftar Dirinci Menurut Bentuk Usaha ...................DAFTAR TABEL 4............. Nilai Produk Domestik Regional Bruto ( PDRB Tahun 2005-2007)................................... Belanja Daerah..............1 4.........................2 4......................................................................... 4.................................... Potensi Areal Perkebunan Kabupaten Ponorogo.....................................................................4 APBD Tahun Anggaran 2005-2007................ ...............5 62 4.........13 Tenaga Kerja yang di latih dan SiapTerjun di Lapangan Kerja ..................11 Hotel dan Penginapan di Ponorogo ...........3 4..8 4........ 59 60 60 61 4... Penyebaran Industri dan Kerajinan ..........................6 64 65 65 68 69 71 72 73 4...... 4.......................9 4.............................................................................. 4............................. Sumbangan Masing-masing Sektor Perekonomian Daerah Terhadap PDRB....10 Data Luas Areal Produksi Tanaman Perkebunan .....

........4 4..................... Trend Analisis dari Pajak Daerah..................................................................................................10 F test.....................9 Grafik Uji t pengujian satu arah negatif ..................................................... Hasil Regresi setelah diolah....................... Grafik Uji t pengujian satu arah positif ............5 4.......2 4.4 4.... Grafik Histogram dari Retribusi Daerah...... Trend Analisis dari Retribusi Daerah...2 3.................... T test 2 ( retribusi daerah ).................................. T test 1 ( pajak daerah ).......6 4....................3 4.......................................................................3 3...... 54 55 55 57 75 75 76 77 78 79 80 83 84 85 4...................................1 3........................... Grafik Histogram dari Pendapatan Asli Daerah............................................................................... Grafik Uji t pengujian dua arah ............7 4...................................................................1 4....................DAFTAR GAMBAR 3.................................. ...................................................................... Trend Analisis dari PAD...................... Grafik Uji F .................................................................8 4.................................. Grafik Histogram dari Pajak Daerah...............

Realisasi Retribusi Daerah Kabupaten Ponorogo 5. Tabel t 9. Bukti Konsultasi 7. Retribusi Daerah dan Pendapatan Asli Daerah 6. Tabel F .DAFTAR LAMPIRAN 1. Jumlah Pajak Daerah. Realisasi Pajak Daerah Kabupaten Ponorogo 4. Surat izin penelitian 3. Hasil regresi setelah diolah 2. Daftar riwayat hidup 8.

.................................. 5) Azas Pemungutan Pajak.................... Rumusan Masalah Penelitian ....... E............ b............................................................. Tujuan Penelitian .................. a....................... KATA PENGANTAR..................................................……………………………………............ DAFTAR LAMPIRAN. C.................................... HALAMAN JUDUL ..................................... d........................................................................................ Tinjauan Pajak…….. PENDAHULUAN A........... LEMBAR PERSETUJUAN................ 1....... Kajian Teori ........ D............................................... 1) Pengertian Pajak Daerah................. KAJIAN PUSTAKA A. LEMBAR PERSEMBAHAN .................... DAFTAR ISI ............. LEMBAR PERNYATAAN ...................................................................... a.............................................................................................. B............................................................ LEMBAR PENGESAHAN ........................... HALAMAN ABSTRAK................................... Retribusi Daerah.......................................... Pajak Derah............. 3) Objek Pajak Daerah .......................................................... Subjek Retribusi Daerah.............. 2) Jenis-jenis Pajak Daerah............................................................... Kajian Terhadap Penelitian Terdahulu ................................... I.......................................................................................................................................................................................... II...................................................................................................................................................... 4) Subjek Pajak dan Wajib Pajak Daerah .................................................... b................................ LEMBAR NOTA DINAS ................. B................................................................................ i ii iii iv v vi vii viii x xi xii xiii xv 1 5 5 6 6 7 8 9 9 9 9 13 16 18 18 19 30 31 32 33 33 34 38 38 .................................................................... Objek Retribusi Daerah........ Manfaat Penelitian .................................................................. Hipotesis Penelitian...................................................................DAFTAR ISI HALAMAN SAMPUL .................. Jenis-jenis Retribusi Daerah.................................... Latar Belakang Masalah ........................................................ 2) Pengklasifikasian Pajak....................................................................... F.............................. 2................................................. DAFTAR GAMBAR............ DAFTAR TABEL.......... Batasan Penelitian ...................... Pengertian Retribusi Daerah................................................................... Pajak........................ 1) Pengertian Pajak............................................................................................................................... c.................. 3) Fungsi Pajak.........

c. Prinsip dan Sasaran Penetapan Tarif Retribusi Daerah... 3. Pendapatan Asli Daerah....................................................... 4. Pajak dan Retribusi Daerah dalam Prespektif Islam ............ III. METODE PENELITIAN ................................................................... 1. Lokasi Penelitian………………………………………….......... 2. Pendekatan dan Jenis Penelitian ................................................... 3. Data dan Sumber Data. ................................................................. 4. Populasi dan Sampel ……………………………………............ 5. Analisis Data ................................................................................ IV. HASIL PENELITIAN ....................................................................... A. Keadaan Umum Wilayah Penelitian ........................................... 1. Keadaan Geografi, Topografi, Klimatologi, Luas Wilayah, Jumlah Penduduk dn Wilayah Administrasi Penelitin........... 2. Gambaran Umum Pembangunan Tahun 2005-2007.............. B. Deskripsi Data ............................................................................. C. Analisis Regresi ........................................................................... 1. Analisa Regresi Linier Gerganda ........................................... 2. Koefisien Determinasi ........................................................... D. Pengujian Hipotesis ..................................................................... 1. Uji t ....................................................................................... 2. Uji F ...................................................................................... V. PEMBAHASAN DAN HASIL PENELITIAN .................................. VI. PENUTUP ......................................................................................... A. Kesimpulan .................................................................................. B. Saran ............................................................................................ DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

38 49 43 48 48 48 48 59 50 58 58 58 59 74 80 80 81 82 82 84 86 94 94 95

ABSTRAK Dwi Kurniawan, Septian .2010. Pengaruh Penerimaan Pajak dan Retribusi Daerah terhadap Peningkatan Pertumbuhan Ekonomi di Kabupaten Ponorogo. Skripsi, Program Studi Pendidikan Ekonomi, Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial, Fakultas Tarbiyah, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Dr. H. Abdul Bashith, S. Pd, M.Si. Kata Kunci: Pajak Daerah, Retribusi Daerah dan Pertumbuhan Ekonomi. Pembangunan ekonomi yang kuat harus dibarengi dengan penerimaan yang kuat. Sumber penerimaan negara yang paling besar berasal dari pajak. Begitu pula pembangunan didaerah, sumber penerimaan daerah berasal dari pajak dan retribusi daerah. Pajak dan retribusi daerah harus terus ditingkatkan untuk pertumbuhan ekonomi Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) Apa pengaruh penerimaan pajak daerah terhadap pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Ponorogo, (2) Apa pengaruh penerimaan retribusi daerah terhadap pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Ponorogo, (3) Apa pengaruh penerimaan pajak daerah dan retribusi daerah terhadap pertumbuhan ekonomi Kabupaten Ponorogo. Jenis penelitian yang digunakan pendekatan kuantitatif yang bersifat ex post facto yakni mempelajari fakta-fakta yang sudah ada. Prosesnya berupa mendiskripsikan dengan cara menginterpretasi data yang telah diolah. Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data time series (runtut waktu) selama tahun 2005 sampai dengan tahun 2008 mulai bulan Januari sampai bulan Desember meliputi data: pajak daerah, retribusi daerah, dan pendapatan asli daerah Kabupaten Ponorogo. Analisis yang digunakan adalah analisis regresi linier berganda. Hasil regresi linier berganda menunjukan bahwa pajak daerah berpengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi sebesar 1,90 dan retribusi daerah berpengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi sebesar 0,873. Berdasarkan penelitian, peneliti menyarankan agar penarikan pajak dan retribusi daerah diawasi penerikannya agar lebih maksimal dan menambah jumlah tenaga kerja karena dapat membantu proses penarikan dan jangkauan wilayah yang luas.

xv

1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Bangsa Indonesia sejak lama telah mencanangkan suatu gerakan

pembangunan yang dikenal dengan istilah pembangunan nasional. Pembangunan nasional adalah kegiatan pembangunan yang berlangsung secara terus-menerus yang sifatnya memperbaiki dan bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan

masyarakat. Pembangunan nasional diawali dengan pembangunan pondasi ekonomi yang kuat sehingga menciptakan pertumbuhan ekonomi. Untuk itu pemerintah harus berusaha meningkatkan pendapatan guna menunjang

keberhasilan pembangunan. Keberhasilan pembangunan dapat tercapai dengan adanya penerimaan yang kuat, dimana sumber pembiayaan diusahakan tetap bertumpu pada penerimaan dalam negeri baik migas maupun non migas. Penerimaan pemerintah yang paling sentral adalah pajak, sumbangan pajak bagi anggaran pemerintah sangat besar, sehingga peran pajak begitu sentral.

Untuk itu pemerintah selalu berupaya meningkatkan pendapatan dari sektor pajak, melalui upaya-upaya pemberantasan mafia pajak. Pemerintah saat ini

memperbaiki sistem pajaknya karena sistem lama dianggap banyak mempunyai kelemahan-kelemahan ini dilakukan untuk mengamankan pendapatan negara dari sektor pajak agar tidak bocor, upaya ini dilakukan agar penerimaan negara dari pajak dari tahun-tahun terus meningkat. Kemandirian pembangunan diperlukan baik ditingkat pusat maupun ditingkat daerah. Hal ini tidak terlepas dari keberhasilan penyelenggaraan

Pajak daerah merupakan pendapatan yang paling besar yang diperoleh daerah. Pajak Penerangan Jalan 6. Pembiayaan daerah dahulu. Pajak Restoran 3. Pajak Parkir . pembiayaan tidak hanya berasal dari pusat saja akan juga berasal dari daerahnya sendiri. sehingga pemerintah daerah berusaha meningkatkan pendapatan asli daerah itu sendiri. Pajak Hotel 2.2 pemerintahan propinsi maupun kabupaten atau kota yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pemerintah pusat dengan kebijakannya. Kebijakan tentang keuangan daerah ditempuh oleh pemerintah pusat agar pemerintah daerah mempunyai kemampuan untuk membiayai pembangunan daerahnya sesuai dengan prinsip daerah otonomi. Dengan adanya otonomi. Pajak Pengambilan dan Penggalian C 7. Kabupaten Ponorogo merupakan salah satu kabupaten yang ada di Propinsi Jawa Timur. berasal dari pemerintah pusat saja. pemerintah Kabupaten Ponorogo berusaha untuk meningkatkan pendapatan asli daerah salah satunya melalui pajak dan retribusi daerah. Pajak Reklame 5. Jenis-jenis pajak daerah yang ada di Ponorogo meliputi: 1. Untuk meningkatkan pendapatan asli daerah pemerintah berusaha memperbaiki sistem pajak daerahnya. Pajak Hiburan 4. Guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah 9.. Retribusi Parkir ditepi Jalan Umum 6. Retribusi Penyediaan/ Penyedotan Kakus 14.000 . Retribusi Biaya Cetak KTP dan Akte CAPIL 4. Retribusi Penjualan Usaha Daerah 17. Retribusi Pasar Grosir/ Pertokoan 10. Retribusi Tempat Rekreasi dan Olahraga 16.dan terealisasi Rp .3 Jenis-jenis retribusi daerah yang ada di Ponorogo meliputi: 1. Retribusi Tempat Penginapan/ Pesanggrahan 13. Retribusi Terminal 11.080. Retribusi Pelayanan Kesehatan 2. Retribusi Jasa Usaha Rumah Potong Hewan 15.972. Retribusi Perizinan Tertentu Di Kabupaten Ponorogo pajak daerah dan retribusi daerah merupakan sumber penerimaan yang potensial. Retribusi Pelayanan Sampah/ Kebersihan 3. karena sampai pada bulan November tahun 2009 di Kabupaten Ponorogo total pajak daerah dan retribusi daerah masingmasing adalah: Pajak Daerah dari target Rp 8. Retribusi Pelayanan Pemakaman dan Pengabuan Mayat 5. Retribusi Tempat Khusus Parkir 12. Retribusi Pengujian Kendaraan Bermotor 8. Retribusi Pasar 7. Retribusi Izin Peruntukan Penggunaan Tanah 18.

4700 .642. Perbedaan terletak pada sistem penerikannya.53 . Dengan adanya pembangunan tersebut diharapkan perekonomian dapat berkembang dan tujuan akhirnya adalah kesejahteraan . Perbedaan ini meminimalisir adanya kebocoran-kebocoran dari pendapatan daerah dari sektor pajak daerah dan retribusi daerah. Di Kabupaten Ponorogo sistem pemungutan pajak daerah berbeda dengan pajak pemerintah pusat.retribusi daerah dari target penerimaan Rp 28. pajak daerah di Kabupaten Ponorogo ditarik langsung oleh pegawai pemerintahan dan ada pajak-pajak tertentu dimana wajib pajak bisa membayar langsung di kantor Kabupaten.449. Terdapat kaitan erat antara penerimaan daerah. pembangunan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.613.728. Potensi-potensi yang ada di Ponorogo seharusnya bisa dimaksimalkan lagi untuk menambah sumber penerimaan yang diterima oleh daerah.dan terealisasi Rp 25.4 9. Tujuan adanya peningkatan pajak daerah dan retribusi daerah adalah untuk mendorong perekonomian Kabupaten Ponorogo melalui pembangunan sarana prasarana yang menunjang perekonomian.463. Sistem pemungutan retribusi daerah menggunakan karcis. Karcis sebagai bukti pembayaran dari penyediaan jasa layanan kepada masyarakat. Dan diharapkan akan meningkatkan pendapatan daerah dari pajak daerah dan retribusi daerah. Dimana semakin tinggi penerimaan yang diterima daerah maka semakin tinggi peluang untuk membangun perekonomian daerah dan mensejahterakan masyarakat. Hal ini menunjukkan pajak daerah dan retribusi daerah sangat potensial memberi sumbangan dana bagi Pendapatan Asli Daerah.-.246.992..653.5 .

Apa pengaruh penerimaan retribusi daerah terhadap peningkatan pendapatan asli daerah di Kabupaten Ponorogo? 3. yaitu bahwa pajak daerah mempengaruhi pendapatan asli daerah. Untuk mengetahui pengaruh pajak daerah terhadap peningkatan pendapatan asli daerah di Kabupaten Ponorogo. maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan mengambil judul : ”PENGARUH TERHADAP PENERIMAAN PENINGKATAN PAJAK DAN RETRIBUSI ASLI DAERAH DI PENDAPATAN DAERAH KABUPATEN PONOROGO ” B. Untuk mengetahui pengaruh penerimaan pajak daerah dan retribusi daerah terhadap peningkatan pendapatan asli daerah di Kabupaten Ponorogo. .5 masyarakat. 2. Tujuan Penelitian 1. maka permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini: 1. Apa pengaruh penerimaan pajak daerah dan retribusi daerah terhadap peningkatan pendapatan asli daerah di Kabupaten Ponorogo? C. Untuk mengetahui pengaruh retribusi daerah terhadap peningkatan pendapatan asli daerah di Kabupaten Ponorogo 3. Rumusan Masalah Berdasarkan pada pokok pikiran yang dituangkan dalam latar belakang masalah. Apa pengaruh penerimaan pajak daerah terhadap peningkatan pendapatan asli daerah di Kabupaten Ponorogo? 2.Berdasarkan uraian diatas.

Hipotesis Penelitian Hipotesis penelitian adalah suatu kesimpulan awal yang masih bersifat sementara. E. 4.6 D. penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan informasi untuk penelitian lebih lanjut khususnya pada pembahasan bidang yang sama sehingga diharapkan munculnya generasi bangsa yang lebih baik dan bertanggungjawab. 2. Bagi Peneliti Sebagai salah satu persyaratan mencapai gelar sarjana. dan menambah pengetahuan serta sarana dalam menerapkan teori-teori keilmuwan yang pernah diperoleh sebelumnya. sehingga masyarakat (khususnya masyarakat Ponorogo) mengetahui pentingnya membayar pajak daerah dan retribusi daerah demi meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat. Manfaat Penelitian 1. 3. Bagi Masyarakat Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan informasi. Bagi Lembaga Sebagai bahan perbandingan dari produk pendidikan Universitas. Hipotesis ini digunakan dalam penelitian ini adalah pajak daerah . Bagi Pemerintah Daerah Penelitian ini diharapkan menjadi masukan bagi pemerintah daerah (Khususnya Pemerintah Daerah Kabupaten Ponorogo) dalam pengambilan keputusan kebijakan diwaktu akan datang.

Diduga pajak daerah berpengaruh positif signifikan terhadap peningkatan pendapatan asli daerah. 2. Diduga pajak daerah dan retribusi daerah secara simultan berpengaruh positif signifikan terhadap peningkatan pendapatan asli daerah. . secara simultan berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi. Batasan Penelitian Batasan – batasan penelitian digunakan agar penelitian lebih terarah dan fokus. 3. maka penulis memberikan batasan penelitian yang meliputi: 1. Diduga retribusi daerah berpengaruh positif signifikan terhadap peningkatan pendapatan asli daerah. 2. Pengaruh variabel-variabel tersebut dihipotesiskan sebagai berikut : 1.7 dan retribusi daerah. Analisa hanya dibatasi pada faktor-faktor pajak dan retribusi daerah. Penelitian dilakukan di Kabupetan Ponorogo saja. menganalisis pengaruh pajak dan retribusi daerah terhadap peningkatan pendapatan asli daerah. F.

61% dengan rata-rata pertumbuhan pertahunnya sebesar 5.08% per tahun.89% pertahunnya. KAJIAN TERHADAP PENELITIAN TERDAHULU Penelitian pertama oleh Mohammad Riduansyah. judul penelitian ”Analisis Kontribusi Pajak Hotel dan Restoran Terhadap Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Purworejo Tahun 1989-2003”. Komponen pajak daerah dalam kurun waktu TA 1993/1994 – 2000 rata-rata pertahunnya memberikan kontribusi sebesar 7. Tingkat inflasi berpengaruh positif tidak signifikan dan Jumlah . Penelitian kedua oleh Indra Widhi Ardhiyansyah. Hasilnya adalah Jumlah hotel dan restoran berpengaruh positif signifikan.8 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. dikaitkan dengan kemampuannya untuk melaksanakan otonomi daerah terlihat cukup baik. pada kurun waktu yang sama. memberikan kontribusi rata-rata per tahunnya sebesar 15. Sedangkan pendapatan yang berasal dari komponen retribusi daerah.81% per tahun dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 22. judul penelitian “Kontribusi Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Guna Mendukung Pelaksanaan Otonomi Daerah (Studi Kasus Pemerintah Daerah Kota Bogor)” Hasil penelitian kontribusi penerimaan pajak daerah dan retribusi daerah terhadap total perolehan penerimaan Pemda Bogor tercermin dalam APBDnya.

(3) Pendapatan asli daerah . (4) Pajak daerah dan retribusi daerah dalam prespektif Islam.9 wisatawan Nusantara tidak signifikan tehadap Realisasi pajak hotel dan restoran. Pajak Salah satu usaha untuk mewujudkan kemandirian suatu bangsa atau negara dalam pembiayaan pembangunan adalah menggali sumber dana yang berasal dari dalam negeri berupa pajak yang digunakan untuk membiayai pembangunan yang berguna untuk kepentingan bersama. dengan judul “Penerimaan realisasi pajak daerah selalu mengalami pertumbuhan selama 9 tahun terakhir dan merupakan sumber pendapatan yang memberikan kontribusi terbesar pada PAD kota Malang jika dibandingkan dengan jenis PAD lainnya”. 1. Tinjauan Pajak a. (2) Retribusi daerah. Kajian teori yang digunakan dalam penelitian ini meliputi:(1) Tinjauan Pajak. Penelitian ketiga oleh Rima Anggraeni. yang langsung . 1) Pengertian Pajak Pajak menurut Rochmat Soemitro adalah “iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan Undang-Undang (yang dapat dipaksakan) dengan tidak mendapat jasa imbal (kontraprestasi) dengan tidak mendapat jasa imbal (kontraprestasi). KAJIAN TEORI Kajian teori merupakan landasan teoritis terhadap permasalahan yang dipilih dalam sebuah penelitian. B.

2 Definisi lain juga dikemukakan oleh S. tanpa ada manfaat yang secara langsung bisa 1 Rochmat Soemitro.”3 Pernyataan lain menyebutkan bahwa pajak pada hakikatnya adalah iuran yang dapat dipaksakan yang dipungut berdasarkan Undang-Undang. Perpajakan (Yogyakarta: Akademika Manajemen Perusahaan YKPN.1 Pengertian tersebut kemudian Beliau sempurnakan dalam berpidato di depan Wisuda Sarjana Universitas Parahyangan. Perpajakan (Yogyakarta: Akademika Manajemen Perusahaan YKPN. 2002). p-5) Achmad Tjahjono dan Muhammad F.10 dapat ditunjukkan dan digunakan untuk membayar pengeluaran umum”. sebagaimana dikutip oleh (R.I Djajadiningrat. dan perbuatan yang memberikan kedudukan tertentu. pajak merupakan iuran wajib rakyat kepada negara. tetapi bukan sebagai hukuman.3. Sanntoso Brotodihadjo. hml. 3 S. 1993. untuk memelihara kesejahteraan umum. hml. sebagaimana dikutip oleh Mardiasmo.3. Husain. tetapi tidak ada jasa imbal balik dari negara secara langsung.1997).1997). menurut peraturan yang ditetapkan pemerintah serta dapat dipaksakan. Dalam pengertian secara umum. kejadian.sebagaimana dikutip oleh Achmad Tjahjono dan Muhammad F.I Djajadiningrat adalah “pajak sebagai sesuatu kewajiban menyerahkan sebagian daripada kekayaan ke kas negara disebabkan suatu keadaan. Husain. menurut Rochmat Soemitro pajak adalah “peralihan kekayaan dari pihak rakyat kepada kas negara untuk membiayai pengeluaran rutin dan “surplusnya” digunakan untuk “public saving” yang merupakan sumber utama untuk membiayai “public invesment””. Perpajakan ((Yogyakarta: Andi Yogyakarta. hlm1 2 Rochmat Soemitro. .

berdasarkan Undang-Undang serta aturan-aturan. d) Sifatnya yang dapat memaksa. Unsur-unsur yang ada dalam difinisi pajak diantaranya adalah: (1) iuran masyarakat kepada negara dalam arti bahwa yang berhak memungut pajak hanyalah negara. (3) tidak adanya balas jasa atau manfaat dari negara secara langsung berarti bahwa jasa timbal balik yang diberikan negara kepada rakyatnya tidak dapat dihubungkan secara langsung dengan pajaknya. (2) berdasarkan Undang-Undang atau dapat dipaksakan yang berarti bahwa walaupun negara mempunyai hak memungut pajak namun dalam pelaksanaannya harus memperoleh persetujuan dari rakyat yaitu melalui Undang-Undang. b) Pajak dipungut oleh pemerintah. Dari pengertian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa pajak sebagai: a) Iuran dari masyarakat kepada pemerintah. . c) Tidak ada timbal balik secara langsung dari pemerintah kepada wajib pajak. dan (4) digunakan untuk menjalankan fungsi negara untuk membiayai pengeluaran pemerintah yang bersifat umum berarti bahwa pengeluaran-pengeluaran pemerintah tersebut mempunyai manfaat secara umum.11 didapatkan oleh wajib pajak dan hasilnya digunakan untuk menjalankan tata pemerintah yang baik.

12 e) Pajak digunakan sebagai pembiayaan pengeluaran negara. minuman keras. Bea keluar ini di Indonesia juga dikenal dengan nama Pajak Ekspor dan Pajak Ekspor Tambahan. a) Bea materai adalah pajak yang dikenakan atas dokumen dengan menggunakan benda materai ataupun alat lainnya. ada beberapa pungutan lain yang mirip tetapi mempunyai perlakuan dan sifat yang berbeda yang dilakukan oleh negara terhadap rakyatnya. b) Bea masuk dan bea keluar. Bea masuk adalah pungutan atas barang-barang yang dimasukkan ke dalam daerah pabean berdasarkan harga/nilai barang itu atau berdasarkan tarif yang sudah ditentukan (tarif spesifik). gula.. c) Cukai merupakan pungutan dikenakan atas barang-barang tertentu yang sudah ditetapkan untuk masing-masing jenis barang tertentu. dan lain-lain. misalnya tembakau. bensin. Pungutan-pungutan tersebut ialah: Menurut Muqodim. Sedangkan bea keluar adalah pungutan yang dilakukan atas barang yang dikeluarkan dari daerah pabean berdasarkan tarif yang sudah ditentukan bagi masing-masing golongan barang. Disamping pajak. d) Retribusi merupakan pungutan yang dilakukan sehubungan dengan sesuatu jasa atau fasilitas yang diberikan oleh .

a) Menurut golongan Menurut golongan.13 pemerintah secara langsung dan nyata kepada pembayar (misalnya: parkir. pajak dikelompokan menjadi dua yaitu pajak langsung dan pajak tidak langsung: (1) Pajak langsung Pajak langsung adalah pajak yang harus dipikul atau ditanggung sendiri oleh wajib pajak dan tidak bisa dilimpahkan atau dibebankan kepada orang lain atau pihak lain.1997). Pajak harus menjadi beban sendiri oleh wajib pajak yang bersangkutan. Perpajakan (Yogyakarta: Akademika Manajemen Perusahaan YKPN. e) Iuran adalah pungutan yang dilakukan sehubungan dengan sesuatu jasa atau fasilitas yang diberikan pemerintah secara langsung dan nyata kepada kelompok atau golongan pembayar. Husain. dan menurut lembaga pemugutnya. yaitu menurut golongan.3. Husain. jalan tol). f) Lain-lain pungutan yang sah/legal berupa sumbangan wajib. hml. . menurut sifat. yang dapat dikelompokkan menjadi tiga. 2) Pengklasifikasian Pajak Menurut Achmad Tjahjono dan Muhammad F. 4 terdapat berbagai jenis pajak. 4 Muqodim sebagaimana yang dikutip oleh Achmad Tjahjono dan Muhammad F. pasar.

pajak dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu pajak subjektif dan pajak objektif. peristiwa. Pajak Penghasilan dibayar atau ditanggung oleh pihak-pahak tertentu yang memperoleh penghasilan tersebut.14 Contoh: Pajak Penghasilan. misal terjadi penyerahan barang atau jasa. (1) Pajak subjektif . Contoh: Pajak Pertambahan nilai. (b) Untuk menentukan cara pengadakan proses peradilan karena perselisihan. tagihan susulan. (2) Pajak tidak langsung Pajak tidak langsung adalah pajak yang pada akhirnya dapat dibebankan atau dilimpahkan kepada orang lain atau pihak ketiga. perbuatan yang menyebabkan terutangnya pajak. b) Menurut sifat Menurut sifatnya. kadaluarsa. misalnya untuk menentukan : saatnya timbulnya hutang pajak. Manfaat pembedaan pajak kedalam pajak langsung dan pajak tidak langsung adalah: (a) Untuk keperluan sistematik dalam ilmu pengetahuan. Pajak tidak langsung terjadi jika terdapat suatu kegiatan.

15

Pajak subjektif adalah pajak yang pengenaannya memperhatikan pada keadaan pribadi wajib pajak atau pengenaan pajak yang memperhatikan keadaan subjeknya. Contoh: pajak penghasilan. (2) Pajak obyektif Pajak yang pengenaannya memperhatikan pada

objeknya baik berupa, benda, keadaan, perbuatan, atau peristiwa yang mengakibatkan timbulnya kewajiban

membayar pajak, tanpa memperhatikan keadaan pribadi subjek pajak (wajib pajak) maupun tempat tinggal. Contoh: Pajak pertambahan nilai dan pajak penjualan atas barang mewah. c) Menurut Lembaga Pemungutan (1) Pajak Negara atau Pajak Pusat Pajak negara atau pajak pusat yaitu pajak yang dipungut oleh pemerintah pusat dan digunakan untuk membiayai rumah tangga negara. (a) Pajak yang dipungut oleh Dirjen Pajak: (1)) Pajak penghasilan (2)) PPN (3)) Pajak bumi dan bangunan (4)) Bea materi (5)) Bea lelang

16

(b) Pajak yang dipungut Bea Cukai (Dirjen Bea Cukai) (2) Pajak daerah Pajak daerah yaitu pajak yang dipungut oleh pemerintah daerah dan digunakan untuk membiayai rumah tangga daerah.5 3) Fungsi Pajak Menurut Achmad Tjahjono dan Muhammad F. Husain, Namun ada fungsi lainnya yang tidak kalah pentinya yaitu pajak sebagai fungsi mengatur. Berikut ini adalah penjelasan untuk masing-masing fungsi tersebut. a) Sumber Keuangan Negara Pemerintah memungut pajak terutama atau semata-mata untuk memperoleh uang sebanyak-banyaknya untuk membiayai pengeluaran-pengeluarannya baik bersifat rutin maupun untuk pembangunan, Fungsi sumber keuangan negara yaitu fungsi pajak untuk memasukkan uang ke kas negara atau dengan kata lain fungsi pajak sebagai sumber penerimaan negara dan digunakan untuk pengeluaran negara baik pengeluaran rutin maupun

pengeluaran pembangunan. Negara seperti halnya rumah tangga memerlukan sumbersumber keuangan untuk membiayai kelanjutan hidupnya.
5

Achmad Tjahjono dan Muhammad F. Husain, Perpajakan (Yogyakarta: Akademika Manajemen Perusahaan YKPN,1997), hml.7-9..

17

Dalam keluarga sumber keuangan dapat berupa gaji/upah atau laba usaha. Sedangkan bagi suatu negara, sumber keuangan yang utama adalah pajak dan retribusi. b) Fungsi Mengatur atau non budgetair Disamping usaha untuk memasukkan uang sebanyak mungkin untuk kegunaan kas negara, pajak harus dmaksudkan sebagai usaha pemerintah untuk turut campur tangan dalam mengatur dan bilamana perlu, mengubah susunan pendapatan dan kekayaan dalam sektor swasta. Pada alat untuk melaksanakan kebijakan negara dalam bidang ekonomi dan sosial, sebagai alat untuk mencapai tujuantujuan tertentu yang letaknya diluar bidang keuangan.6 Beberapa contoh pungutan pajak yang berfungsi

mengatur, menurut Achmad Tjahjono dan Muhammad F. Husain: (1) Pemberlakuan tarif progresif (dalam hal ini pajak dikenal juga berperan sebagai alat dalam Reditribusi Pendapatan) (2) Pemberlakuan bea masuk yang tinggi bagi impor dengan tujuan untuk melindungi produksi dalam negeri. (3) Pemberian fasilitas tax holiday atau pembebasan pajak untuk beberapa jenis industri tertentu dengan maksud

6

Achmad Tjahjono dan Muhammad F. Husain, Perpajakan (Yogyakarta: Akademika Manajemen Perusahaan YKPN,1997), hml.4-6

Raja Grafindo Persada) hal.8 Dengan demikian. Undang-undang Nomor: 34 tahun 2000 tentang perubahan undang-undang nomor: 18 tahun 1997 tentang pajak daerah dan retribusi daerah. Siahaan. Pajak daerah dan retribusi daerah( Jakarta: PT. 10 8 . Pajak Daerah 1) Pengertian Pajak Daerah Pengertian pajak daerah adalah iuran wajib yang dilakukan oleh daerah kepada orang pribadi atau badan tanpa imbalan langsung yang seimbang.18 mendorong atau memotivasi para investor untuk meningkatkan investasinya.. yang dapat dipaksakan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. yang wewenang pemungutannya dilaksanakan oleh pemerintah daerah dan hasilnya digunakan untuk membiayai 7 Ibid.7 b. (4) Pengenaan jenis pajak tertentu dengan maksud menghambat gaya hidup mewah. yang digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintah daerah dan pembangunan daerah. pajak daerah merupakan pajak yang ditetapkan oleh pemerintah daerah dengan peraturan daerah (Perda). pasal 1 angka 6 sebagaimana dikutip oleh Marihot P. (5) Pembebasan PPh atas Sisa Hasil Usaha Koperasi yang diperoleh sehubungan dengan kegiatan usahanya yang semata-mata dari dan untuk anggota.

Pajak daerah dan retribusi daerah( Jakarta: PT. ditetapkan sebelas jenis pajak daerah.10. Berdasarkan undang-undang no:34 tahun 2000. 2) Jenis-jenis Pajak Daerah. Siahaan. Siahaan. (2) Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dan kendaraan diatas air. Pajak daerah di Indonesia berdasarkan undang-undang no: 34 tahun 2000 terbagi menjadi dua. (3) Pajak Bahan Bakar Kendraan Bermotor. Raja Grafindo Persada) hal. (4) Pajak pengambilan dan pemanfaatan air bawah tanah dan air permukaan b) Pajak Daerah Tingkat II (Kabupaten) 9 Marihot P. Pembagian ini dilakukan sesuai dengan kewenangan pengenaan dan pemunhutan masing-masing jenis pajak daerah pada wilayah administrasi propinsi atau kabupaten/kota yang bersangkutan. Menurut undang-undang nomor 34 tahun 2000: a) Pajak Daerah Tingkat I (Propinsi) (1) Pajak Kendaraan Bermotor dan kendaraan diatas air.19 pengeluaran pemerintah daerah dalam melaksanakan penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan didaerah. yaitu empat jenis pajak propinsi dan tujuh jenis pajak kabupaten/kota.9 Menurut undang-undang nomor 34 tahun 2000 oleh Marihot P. . yaitu pajak propinsi dan pajak kabupaten/kota.

untuk dapat dipungut pada suatu daerah kabupaten/kota. (b) Objek pajak Hotel Objek pajak hotel adalah pelayanan yang disediakan oleh hotel dengan pembayaran.20 (1) Pajak Hotel (a) Pengertian Pajak hotel adalah pajak atas pelayanan hotel. . pemerintah daerah harus terlebih dahulu menerbitlkan peraturan daerah tentang hotel. Pengenaan pajak hotel tidak mutlak pada seluruh daerah kabupaten/kota yang ada di Indonesia. Oleh karena itu. Pengertian hotel disini termasuk juga rumah penginapan yang memungut bayaran. Fasilitas penginapan atau fasilitas tinggal jangka pendek antara lain: gubuk pariwisata (cottage). Hal ini berkaitan dengan kewenangan yamg diberikan kepada pemerintah kabupaten/kota untuk mengenakan atau tidak mengenakan suatu jenis pajak kabupaten/kota. Peraturan itu akan menjadi landasan hukum operasional dalam teknis pelaksanaan pengenaan dan pemungutan pajak hotel di daerah kabupaten atau kota yang bersangkutan. termasuk pelayanan sebagaimana di bawah ini: (1)).

yang menjadi subjek pajak adalah orang pribadi atau badan yang melakukan pembayaran atas pelayanan hotel. Dengan . fotokopi.21 motel. teleks. (2)) Pelayanan penunjang. losmen dan rumah penginapan. Sementara itu yang menjadi wajib pajak hotel adalah pengusaha hotel. golf. Secara sederhana yang menjadi subjek pajak adalah konsumen yang menikmati dan membayar pelayanan yang diberikan oleh pengusaha hotel. faksimile. pub. antara lain : telepon. karaoke. (3)) Fasilitas olahraga dan hiburan khusus untuk tamu hotel antara lain: pusat kebugaran (fitness center). pesanggrahan (Hostel). kolam renang. wisma pariwisata. tenis. diskotik yang disediakan atau disediakan oleh hotel. taksi dan pengangkutan lainnya yang disediakan atau dikelola hotel. pelayanan cuci. (c) Subjek pajak dan wajib pajak hotel Pada pajak hotel. sertrika. (4)) Jasa persewaan ruangan untuk kegiaatan acara atau pertemuan di hotel.

Oleh karena itu. 245-249 . Siahaan. 10 Pelayanan di Marihot P. dan sejenisnya. Yang termasuk dalam objek pajak restoran adalah rumah makan. Hal ini berkaitan dengan kewenangan yang diberikan kepada pemerintah kabupaten atau kota untuk mengenakan atau tidak mengenakan suatu jenis pajak kabupaten/kota.22 demikian. pemerintah daerah harus terlebih dahulu menerbitkan peratuan daerah tentang pajak restoran yang akan menjadi landasan hukum operasional dalam teknis pelaksanaan pengenaan dan pemungutan pajak restoran didaerah kabupaten atau kota yang bersangkutan. untuk dapat dipungut pada suatu daerah kabupaten atau kota.10 (2) Pajak Restoran. bar. Pengenaan pajak restoran tidak mutlak ada pada seluruh daerah kabupaten/kota yang ada di Indonesia. (b) Objek pajak restoran Objek pajak restoran adalah pelayanan yang disediakan restoran dengan pembayaran. Raja Grafindo Persada) hal. cafe. (a) Pengertian Pajak restoran adalah pajak atas pelayanan restoran. subjek pajak dan wajib pajak pada pajak hotel tidak sama. Pajak daerah dan retribusi daerah( Jakarta: PT.

(c) Subjek pajak dan wajib pajak restoran. Pada pajak restoran yang menjadi subjek pajak adalah orang pribadi atau badan yang melakukan pembayaran kepada restoran.23 restoran/rumah makan meliputi penjualan makanan dan atau minuman direstoran/rumah makan. Pajak daerah dan retribusi daerah( Jakarta: PT. Dengan demikian. pajak hiburan dapat diartikan sebagai pungutan daerah atas penyelenggaraan hiburan. yaitu orang pribadi atau badan dalam bentuk apapun yang dalam lingkungan perusahaan atau pekerjaannya melakukan usaha dibidang rumah makan. Siahaan. termasuk penyediaan penjualan makanan/minuman yang diantar/dibawa pulang.11 (3) Pajak Hiburan. subjek pajak dan wajib pajak pada pajak restoran tidak sama. Selain itu. (a) Pengertian Pajak hiburan adalah pajak atas penyelenggaraan hiburan. Secara sederhana yang menjadi subjek pajak adalah konsumen yang menikmati dan membayar pelayannan yang diberikan oleh pengusaha restoran. Raja Grafindo Persada) hal271-274 . Pengenaan pajak hiburan tidak mutlak ada pada seluruh 11 Marihot P. Sementara itu yang menjadi wajib pajak adalah pengusaha restoran.

subjek . Ini berkaitan dengan kewenangan yang diberikan kepada pemerintah kabupaten atau kota untuk mengenakan atau tidak mengenakan suatu jenis pajak kabupaten/kota. mandi uap. wajib pajak adalah orang pribadi atau badan yang menyelenggarakan hiburan. (c) Subjek Pajak dan Wajib Pajak Hiburan Pada pajak hiburan subjek pajak adalah konsumen yang menkmati hiburan. diskotik. Sementara itu. Dengan demikian. pertunjukan dan keramaian umum lainnya.24 daerah kabupaten atau kota yang ada di Indonesia. sejenisnya. (b) Objek Pajak Hiburan Objek pajak hiburan adalah penyelenggaraan hiburan yang dipungut bayaran. karaoke. Dengan demikian. pagelaran. Yang dimaksud hiburan antara lain berupa tontonan film. permaianan biliar. pertandingan olahraga. penyelenggaraan diskotik penyelenggaraan tempat-tempat wisata dan sejenisnya pertandingan olahraga. panti pijat. objek pajak hiburan meliputi: pertunjukan pertunjukan kesenian. pertunjukan dan film. kesenian. klub malam. pagelaran musik dan tari. permainan ketangkasan.

Hal ini berkaitan dengan kewenangan yang diberikan kepada pemerintah kabupaten atau kota untuk mengenakan atau tidak mengenakan suatu jenis pajak kabupaten/kota. Raja Grafindo Persada) hal. reklame berjalan. Siahaan. reklame suara. reklame megatron. Pengenaan pajak reklame tidak mutlak ada seluruh daerah kabupaten atau kota yang ada di Indonesia.25 pajak dan wajib pajak pada pada pajak hiburan tidak sama. reklame film dan reklame peragaan. Penyelenggaraan dapat dilakukan oleh penyelenggara reklame atau perusahaan jasa periklanan yang terdaftar pada dinas pendapatan daerah kabupaten/kota. reklame selebaran. 297-302 . Pajak daerah dan retribusi daerah( Jakarta: PT. (b) Objek Pajak Reklame Objek pajak reklame adalah semua reklame penyelengaraan reklame. reklame udara. reklame kain.12 (4) Pajak Reklame. reklame melekat (stiker). Penyelenggaraan reklame yang ditetapkan menjadi objek pajak reklame adalah meliputi: reklame papan. 12 Marihot P. (a) Pengertian Pajak reklame adalah pajak atas penyelenggaraan reklame.

26 (c) Subjek dan Wajib Pajak Reklame Pada pajak reklame subjek pajak adalah orang pribadi atau badan yang menyelenggarakan atau melakukan pemesanan reklame. (b) Objak Pajak Penerangan Jalan Objek pajak penerangan jalan adalah penggunaan tenaga 13 listik di wilayah daerah yang tersedia Marihot P. wajib pajak reklame adalah orang pribadi atau badan tersebut. pihak ketiga tersebut menjadi wajib pajak reklame. misalnya perusahaan jasa periklanan. Raja Grafindo Persada) hal. Apabila penyelenggarakan reklame dilaksanakan oleh pihak ketiga. Pajak daerah dan retribusi daerah( Jakarta: PT.13 (5) Pajak Penerangan Jalan (a) Pengertian Pajak penerangan jalan adalah pajak atas penggunaan tenaga listrik. Siahaan. dengan ketentuan bahwa di wilayah daerah tersebut tersedia penerangan jalan. atau Jika badan yang menyelenggarakan reklame diselengarakan langsung oleh orang pribadi atau badan yang memanfaatkan reklame untuk kepentingan sendiri. Sementara itu wajib pajak adalah orang pribadi reklame. yang rekeningnya dibayar dibayar oleh pemerintah daerah. 323-327 .

(a) Pengertian Pajak pengambilan bahan galian golongan C adalah pajak atas kegiatan pengambilan bahan galian golongan C sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku. 14 Marihot P. Sementara itu. Pajak daerah dan retribusi daerah( Jakarta: PT. (c) Subjek Pajak dan Wajib Pajak Penerangan Jalan Pada pajak penerangan jalan. 349-352 . Raja Grafindo Persada) hal. Secara sederhana subjek pajak adalah konsumen yang menikmati dan membayar pelayanan yang diberikan oleh pengusaha penerangan jalan. subjek pajak adalah orang pribadi atau badan yang menggunakan tenaga listrik. Dalam hal ini berarti subjek pajak sama dengan wajib pajak. wajib pajak adalah oarang pribadi atau badan yang menjadi pelanggan dan atau pengguna tenaga listrik.14 (6) Pajak Pengambilan Bahan galian Golongan C. Siahaan.27 penerangan jalan yang rekeningnya dibayar oleh pemerintah kabupaten/kota. Penggunaan tenaga listrik meliputi penggunaan tenaga listrik baik yang disalurkan PLN dan bukan PLN. Bahan galian golongan C adalah bahan galian golongan C sebagaimana dimaksud dalam peraturan perundangan-undangan yang berlaku.

pada pajak pengambilan bahan galian golongan C subjek pajak sama dengan wajib pajak. Dengan demikian. (c) Sujek Pajak dan Wajib Pajak Pada pajak pengambilan bahan galian golongan C.28 Yang termasuk bahan galian golongan C terdiri dari: nitrat. wajib pajak adalah orang pribadi atau badan yang menyelenggarakan pengambilan bahan galian golongan C. Pengertian pengambilan bahan galian golongan C adalah pengambilan golongan C dari sumber alam didalam atau di permukaan bumi untuk dimanfaatkan. batu apung. Pajak daerah dan retribusi daerah( Jakarta: PT. fosfat. tawas. (b) Objek Pajak Pengambilan Bahan Galian Golongan C Objek pajak pengambilan bahan galian golongan C adalah kegiatan pengambilan bahan galian golongan C. asbes. pasir kuarsa. dan granit. Sementara itu.15 15 Marihot P. batu kapur. Raja Grafindo Persada) hal. 373-287 . subjek pajak adalah orang pribadi atau badan yang mengambil bahan galian golongan C. marmer. Siahaan. batu permata.

(b) Objek Pajak Parkir Objek pajak parkir adalah penyelenggaaan tempat parkir diluar badan jalan.29 (7) Pajak Parkir. Klasifikasi tempat parkir diluar badan jalan yang dikenakan pajak parkir adalah: gedung parkir. baik yang disediakan berkaitan dengan pokok usaha maupun yang disediakan sebagai suatu usaha. . termasuk penyediaaan tempat penitipan kedaraan bermotor dan garasi kendaraan bermotor yang memungut bayaran. Raja Grafindo Persada) hal. garasi kendaraan bermotor yang memungut bayaran dan tempat penitipan kendaraan bermotor. baik yang disediaakan berkaitan dengan pokok usaha maupun yang disediakan sebagai usaha. 43-44. Pajak daerah dan retribusi daerah ( Jakarta: PT. (c) Subjek pajak dan Wajib pajak Parkir 16 Marihot P. termasuk penyediaan tempat penetipan kendaraan bermotor dan garasi kendaraan bermotor yang memungut bayaran. pelataran parkir.16 (a) Pengertian Pajak parkir adalah pajak yang di kenakan atas penyelenggaraan tempat parkir diluar badan jalan oleh orang pribadi atau badan. Siahaan.

Raja Grafindo Persada) hal. Penentuan yang menjadi objek pajak daerah pada saat ini dapat dilihat pada Peraturan Pemerintah nomor 65 tahun 2001 tentang pajak daerah. Dengan demikian. 407-411 . Pajak daerah dan retribusi daerah( Jakarta: PT.30 Pada pajak parkir. mengingat pemberlakuan suatu jens pajak daerah pada suatu propinsi atau kabupaten/kota ditetapkan dengan peraturan daerah untuk 17 Marihot P. Pengusaha tersebut secara otomatis ditetapkan sebagai wajib pajak yang harus membayar wajib pajak yang terutang. Hal ini merupakan penentuan objek pajak secara umum.17 3) Objek Pajak Daerah Undang-undang nomor 18 tahun 1997 maupun undangundang nomor 34 tahun 2000 tidak secara tegas dan jelas menentukan apa yang menjadi objek pajak pada setiap jenis pajak daerah. Pajak parkir dibayar oleh pengusaha yang menyediakan tempat parkir dengan dipungut bayaran. tetapi menyerahkannya pada peraturan pemerintah. pada pajak parkir subjek pajak dan wajib pajak tidak sama. subjek pajak adalah orang pribadi atau badan yang melakukan pembayaran atas tempat parkir. yang merupakan pengganti dari Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 1997 tentang pajak daerah. Siahaan.

18 Marihot P. Siahaan.18 4) Subjek Pajak dan Wajib Pajak Daerah Dalam pemungutan pajak daerah. terdapat istilah yang kadang disamakan walaupun sebenarnya memiiki pengertian yang berbeda yaitu subjek pajak dan wajib pajak. Oleh sebab itu. Raja Grafindo Persada) Hal 55-56 .31 mengetahui apa yang menjadi objek pajak harus dilihat apa yang ditetapkkan peraturan daerah dimaksud sebagai objek pajak. termasuk pemungut atau pemotong pajak tertentu. Subjek pajak adalah orang pribadi atau badan yang dapat dikenakan pajak daerah. seseorang atau suatu badan menjadi wajib pajak apabila telah ditentukan oleh peraturan daerah untuk melakukan pembayaran pajak. Hal ini menunjukkan bahwa wajib pajak dapat merupakan subjek pajak yang dikenakan kewajiban membayar pajak maupun pihak lain yang bukan merupakan merupakan subjek pajak. yang memenuhi syarat objektif yang ditentukan dalam suatu peraturan daerah tentang pajak daerah. Dengan demikian. akan menjadi subjek. yang berwenang memungut pajak dari subjek wajib pajak. Sementara itu. wajib pajak adalah orang pribadi atau badan yang menurut peraturan perundang-undangan perpajakan daerah diwajibkan untuk melakukan pembayaran pajak yang terutang. serta orang atau badan yang diberi kewenangan untuk memungut pajak dari subjek pajak. Pajak daerah dan retribusi daerah( Jakarta: PT. siapa saja baik orang pribadi atau badan.

Duta dan konsulat asing tidak boleh dibebankan kecuali dengan keputusan presiden. Perbedaan dalam tingkat penghasilan harus digunakan sebagai dasar di dalam retribusi beban pajak itu.32 5) Azas Pemungutan pajak Daerah Dalam skripsi. juga perlu diperhatikan bahwa prinsip bagi pengenaan pajak yang baik kepada wajib pajak. Pemungutan pajak daerah selain didasarkan dan dilaksanakan menurut asas-asas dan norma-norma hukum. Indra Widhi Ardiasyah azas pemunguatan pajak daerah sebagai berikut: a) Harus ada kepastian hukum b) Pemungutan pajak daerah tidak boleh diborong c) Masalah pajak harus jelas d) Barang-barang langsung keperluan hidup sehari-hari daerah dan tidak boleh dikenakan pajak memberikan keistimewaan yang menguntungkan kepada seseorang atau golongan. b) Prinsip kepastian . Prinsip-prinsip tersebut yaitu: a) Prinsip kesamaan Artinya bahwa beban pajak harus sesuai dengan kemampuan relatif dari setiap wajib pajak. sehingga bukan beban pajak dalam arti uang yang penting tetapi beban riil dalam arti kepuasan yang hilang.

sripsi.20 Beberapa pengertian istilah yang terkait dengan retribusi daerah menurut Mardiasmo. pasal 1 angka 26 sebagaimana dikutip oleh Marihot P. Yogyakarta. Retribusi daerah adalah pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus yang disediakan dan atau diberikan oleh pemerintah daerah untuk kepentingan orang pribadi atau badan. “Analisis Kontribusi Pajak Hotel Dan Restoran Terhadap Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Purworejo Tahun 1989 -2003”. 2005. Retribusi Daerah a. Siahaan.19 2. sehingga mudah dimengerti oleh mereka dan juga akan memudahkan administrasi pemerintah sendiri.33 Pajak jangan sampai membuat rumit bagi wajib pajak. Pengertian Retribusi Daerah Menurut Undang–undang no 34 tahun 2000. hml 58-59 Undang-undang no 34 tahun 2000 tentang perubahan undang-undang no 18 tahun 1997 tentang pajak daerah dan etribudsi daerah. c) Prinsip kecocokan Pajak jangan sampai menekan bagi wajib pajak. sehingga wajib pajak akan dengan suka dan senang hati melakukan pembayaran pajak kepada pemerintah. Raja Grafindo Persada) Hal 6 20 . Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia. Pajak daerah dan retribusi daerah( Jakarta: PT. 19 Indra Widhi Ardiasyah. antara lain: 1) Retribusi daerah adalah pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan atau diberikan oleh pemerintah daerah untuk kepentingan orang pribadi atau badan.

pengaturan. prasarana. fasilitas. pengendalian. 5) Perizinan tertentu adalah kegiatan tertentu pemerintah daerah dalam rangka pemberian izin kepada oarng pribadi atau badan yang dimaksudkan untuk pembinaan. atau kemanfaatan lainnya yang dapat dinikmati oleh orang pribadi atau badan. barang. 4) Jasa usaha adalah jasa yang disediakan oleh pemerintah daerah dengan menganut prinsip-prinsip komersial karena pada dasarnya dapat pula disediakan oleh sektor swasta. 3) Jasa umum adalah jasa yang disediakan atau diberikan oleh pemerintah daerah untuk tujuan kepentingan dan kemanfaatan umum serta dapat dinikmati oleh orang pribadi atau badan.34 2) Jasa adalah kegiatan pemerintah daerah berupa usaha atau pelayanan yang menyebabkan barang.21 b. Perpajakan (Yogyakarta: Andi Yogyakarta. sarana atau fasilitas tertentu guna melindungi lingkungan. dan pengawasan atas kegiatan. 2002). penggunaan sumber daya alam. Jenis-Jenis Retribusi Daerah: Jenis retribusi daerah dibagi menjadi tiga golongan. yatiu: 1) Retribusi Jasa Umum Retribusi jasa umum ditetapkan dengan peraturan pemerintah dengan kriteria-kriteria sebagai berikut: kepentingan umum dan menjaga kelestarian 21 Mardiasmo. pemanfatan ruang. hlm100-101 .

35 a) Retribusi jasa umum bersifat bukan pajak dan bersifat bukan retribusi jasa usaha atau retribusi perizinan tertentu. b) Jasa yang bersangkutan merupakan kewenangan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. g) Pemungutan retribusi memungkinkan penyediaan jasa tersebut dengan tingkat dan atau kualitas pelayanan yang baik. disamping untuk melayani kepentingan dan kemanfatan umum. c) Jasa tersebut memberikan manfaat khusus bagi orang pribadi atau badan yang diharuskan membayar retribusi. Jenis-jenis retribusi jasa umum adalah: a) Retribusi pelayanan kesehatan b) Retribusi pelayanan persampahan/kebersihan c) Retribusi penggantian biaya cetak KTP dan akte cacatan sipil d) Retribusi pelayanan pemakaman dan pengabuan mayat e) Retribusi parkir ditepi jalan umum f) Retribusi pasar g) Retribusi pengujian kendaraan bermotor . f) Retribusi dapat dipanggul secara efektif dan efisien. serta merupakan salah satu sumber pendapatan daerah yang potensial dan. d) Jasa terebut layak untuk dikenakan retribusi e) Retribusi tidak bertentangan dengan kebijakan nasional mengenai penyelenggaraannya.

Jenis retribusi Jasa Usaha adalah: a) Retribusi pemakaian kekayaan daerah b) Retribusi pasar grosir dan/atau pertokoan c) Retribusi tempat pelelangan d) Retribusi terminal e) Retribusi tempat khusus parkir f) Retribusi tempat penginapan/pesanggrahan/villa g) Retribusi penyedotan kakus h) Retribusi rumah potong hewan i) Retribusi pelayanan pelabuhan kapal . b) Jasa yang bersangkutan adalah jasa yang bersifat komersial yang seyogyanya disediakan oleh sektor swasta tetapi belum memadai atau terdapatnya harta yang dimiliki/dikuasai daerah yang belum dimanfaatkan secara penuh oleh pemerintah daerah.36 h) Retribusi pemeriksaan alat pemadam kebakaran i) Retribusi biaya cetak peta j) Retribusi pengujian kapal perikanan 2) Retribusi Jasa Usaha Retribusi Jasa Usaha ditetapkan dengan peraturan pemerintah dengan kriteri-kreteria: a) Retribusi jasa usaha yang bersifat bukan pajak dan bersifat bukan retribusi jasa umum atau retribusi perizinan tertentu.

37 j) Retribusi tempat rekreasi dan olah Raga k) Retribusi penyeberangan diatas Air l) Retribusi pengolahan limbah cair m) Retribusi penjualan produksi daerah 3) Retribusi Perizinan Tertentu Retribusi perizinan tertentu ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah dengan kriteria-kriteria: a) Perizinan tersebut tersebut termasuk kewenangan pemerintahan yang diserahkan kepada daerah dalam rangka desentralisasi. b) Perizinan tersebut benar-benar diperlukan guna melindungi kepentingan umum c) Biaya yang menjadi beban daerah dalam penyelenggaraan izin tersebut dari biaya untuk menanggulangi dampak negatif dari perizinan tersebut cukup besar sehingga layak dibiayai dari retribusi perizinan. Jenis retribusi Perizinan Tertentu adalah: a) Retribusi Izin Mendirikan Bangunan b) Retribusi Tempat Penjualan Minuman Beralkohol c) Retribusi Izin Trayek c. Objek Retribusi Daerah Objek Retribusi daerah terdiri dari: .

e. dan pengawasan atas kegiatan pemanfatan ruang.38 1) Jasa Umum yaitu berupa pelayanan yang disediakan atau diberikan pemerintah daerah untuk tujuan kepentingan dan kemanfatan umum serta dapat dinikmati oleh orang pribadi atau badan. d. 3) Retribusi Perizinan Tertentu adalah orang pribadi atau badan yang memperoleh izin tertentu dari pemerintah daerah. prasarana. 3) Perizinanan tertentu yaitu kegiatan tertentu pemerintah daerah dalam rangka pemberian izin kepada orang pribadi atau badan yang dimaksudkan untuk pembinaan. pengendaian. 2) Jasa Usaha yaitu berupa layanan yang disediakan oleh pemerintah daerah dengan menganut prinsip komersial. Prinsip dan Sasaran Penetapan Tarif Retribusi Daerah Prinsip dan sasaran penetapan tarif jenis retribusi sebagai berikut: pelayanan jasa umum yang kepentingan umum dan menjaga kelestarian . barang. penggunaan sumber daya alam. 2) Retribusi Jasa Usaha adalah orang pribadi atau badan yang memperoleh izin tetentu dari perintah daerah. Subjek Retribusi Daerah Subjek Retribusi Daerah: 1) Retribusi Jasa Umum adalah orang pribadi atau badan yang menggunakan/menikmati bersangkutan. atau fasilitas tertentu guna melindungi lingkungan. sarana. pengaturan.

Yogyakarta. kemampuan masyarakat. Jadi pengertian dari pendapatan asli daerah dapat dikatakan sebagai pendapatan rutin dari usaha-usaha pemerintah daerah dalam memanfaatkan potensi-potensi sumber keuangan daerahnya untuk membiayai tugas dan tanggungjawabnya. Perpajakan ((Yogyakarta: Andi Yogyakarta. Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia.22 3.23 22 Mardiasmo. berdasarkan pada tujuan untuk menutup sebagian atau seluruh biaya penyelenggaraan pemberian izin yang bersangkutan. 2005. sripsi. hml 61-62 23 . Pendapatan Asli Daerah Pendapatan asli daerah dikategorikan dalam pendapatan rutin Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Pendapatan Asli Daerah merupakan suatu pendapatan yang menunjukkan suatu kemampuan daerah menghimpun sumber-sumber dana untuk membiayai kegiatan rutin maupun pembangunan. hlm101-104 Widhi Ardiasyah. 3) Retribusi perizinan tertentu. 2002).39 1) Retribusi jasa umum berdasarkan kebijakan daerah dengan memperhatikan biaya penyediaan jasa yang bersangkutan. dan aspek keadilan 2) Retribusi jasa usaha berdasarkan pada tujuan untuk memperoleh keuntungan yang layak sebagaimana keuntungan yang pantas diterima oleh pengusaha swasta sejenis yang beroperasi secara efisien dan berorientasi pada harga pasar. Indra “Analisis Kontribusi Pajak Hotel Dan Restoran Terhadap Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Purworejo Tahun 1989 -2003”.

pembangunan fasilitas umum dan fasilitas lain. Sedangkan dampak yang dirasakan masyarakat dengan adanya peningkatan penerimaan pendapatan asli daaerah adalah kelancaran pembangunan. adalah dengan melihat komposisi dari penerimaan daerah yang ada. skripsi. 2009. retribusi daerah. Tetapi semakin kecil komposisi pendapatan asli daerah terhadap penerimaan daerah maka ketergantungan terhadap pusat semakin besar.33 Tahun 2004 oleh Rima Anggraeni adalah terdiri dari penerimaan daerah dari sektor pajak daerah. hasil perusahaan milik derah. Semakin besar komposisi pendapatan asli daerah. Jurusan Akutansi.24 24 Kesit sebagaimana dikutip oleh Rima Anggraeni. “Analisis Penerimaan Pajak Daerah Dalam Peningkatan Pendapatan Asli daerah dan Kesejahteraan Hidup Masyarakat Kota Malang”.40 Pendapatan Asli Daerah (PAD) menurut Undang-Undang No. Salah satu upaya untuk melihat kemampuan daerah dalam rangka self suporting dari segi keuangan daerah dalam rangka mengurangi ketergantungan terhadap pemerintah pusat. maka semakin besar pula kemampuan kemampuan pemerintah daerah untuk memikul tanggungjawab yang lebih besar. hlm 24-25 . hasil pengolahan kekayaan daerah yang dipisahkan. Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. dan lain-lain pendapatan yang sah. Undang-Undang tersebut juga menyebutkan bahwa tujuan pendapatan asli daerah adalah memberikan keleluasaan kepada daerah dalam menggali pendanaan pelaksanaan otonomi daerah sebagai perwujudan desentralisasi. Pembangunan meliputi berbagai sektor diantaranya adalah pembangunan jalan.

sripsi. pelayanan masyarakat dan pembangunan. Fungsi distribusi dan fungsi stabilitas pada umumnya lebih efektif dilaksanakan oleh pemerintah daerah. Untuk mendorong penyelenggaraan otonomi daerah diperlukan kewenagan yang luas. nyata dan bertanggungjawab di daerah secara proporsional yang diwujudkan dengan pengaturan. pertahanan dan keamanan. Yogyakarta. 2005. serta perimbangan keuangan pemerintah pusat dan daerah. dekonsentrasi dan pembantuan. maka pemerintah suatu negara pada hakekatnya mengemban tugas dan fungsi utama yaitu fungsi alokasi yang meliputi alokasi yang meliputi antara lain pendapatan dan kekayaan masyarakat.41 Dalam rangka menyelenggarakan pemerintahan. hml 62-63 . karena daerah pada umumnya lebih mengetahui kebutuhan serta standar pelayanan masyarakat. Dengan demikian pembagian ketiga fungsi dimaksudkan sangat penting sebagai landasan dalam menentukan dasardasar perimbangan keuangan antara pusat dan daerah. ekonomi dan moneter. pemerataan pembangunan.25 25 Widhi Ardiasyah. pembagian dan pemanfaatan sumber daya nasional yang berkeadilan. Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia. Sumber pembiayaan pemerintah daerah dalam rangka perimbangan keuangan pemerintah pusat dan daerah dilaksanakan atas dasar desentralisasi. dan fungsi stabilitas yang meliputi antara lain. Namun dalam pelaksanaannya perlu diperhatikan kondisi dan situasi yang berbeda-beda dari masing-masing wilayah. Indra “Analisis Kontribusi Pajak Hotel Dan Restoran Terhadap Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Purworejo Tahun 1989 -2003”.

Retribusi Daerah Retribusi daerah merupakan pungutan daerah sebagai pembayaran pemakaian atau karena memperoleh jasa atau pekerjaan atau pelayanan pemerintah daerah dan jasa usaha milik daerah bagi yang berkepentingan atas jasa yang diberikan oleh daerah baik langsung maupun tidak langsung. Pajak Daerah Pajak daerah merupakan pungutan daerah menurut peraturan daerah yang dipergunakan untuk membiayai urusan rumah tangga daerah sebagai badan hukum publik. Sedangkan perusahaan daerah adalah perusahaan yang modalnya sebagian atau seluruhnya merupakan kekayaan daerah yang dipisahkan. yang terdiri : a. d. b. Dana Perimbangan. Pinjaman Daerah dan lain-lain Penerimaan yang sah. Bagian Laba Badan Usaha Milik Daerah Bagian Badan Usaha Milik Daerah ialah bagian keuntungan atau laba bersih dari perusahaan daerah atas badan lain yang merupakan badan usaha milik daerah. c.42 Sumber Pendapatan Asli Daerah Sumber-sumber pembiayaan pelaksanaan desentralisasi terdiri dari Pendapatan Asli Daerah (PAD). Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah . Sumber Pendapatan Asli Daerah merupakan sumber keuangan daerah yang digali dalam wilayah daerah yang bersangkutan.

pajak ditarik atas dasar pengenaan terhadap subjek pajak. Dengan diketahuinya pengaruh pajak dan retribusi daerah terhadap Pendapatan Asli Daerah maka upaya peningkatan pajak dan retribusi daerah untuk meningkakan keuangan daerah terus dikembangkan. jasa giro. Indra “Analisis Kontribusi Pajak Hotel Dan Restoran Terhadap Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Purworejo Tahun 1989 -2003”.26 Pajak daerah dan retribusi merupakan bagian dari Pendapatan Asli Daerah. 4. Seorang pemimpin dapat mewajibkan kepada rakyatnya untuk membayar pajak karena mempunyai 26 Widhi Ardiasyah. sripsi. sewa gedung dan tanah milik daerah. Pembangunan dapat berjalan dengan lancar maka peluang untuk mensejahteraankan masyarakat diharapkan akan meningkat. 2005. Meningkatkan Pendapatan Asli Daerah ini diharapkan akan memperlancar jalannya pembangunan dan pemerintahan derah. Pajak dan Retribusi Daerah dalam Prespektif Islam Pajak dalam Islam dapat dikenakan kepada wajib pajak. Pendapatan asli Daerah merupakan salah satu sumber pembiayaan pemerintah daerah dan pembangunan daerah yang akan digunakan untuk membiyai pengeluaran pemerintah dan pembangunan daerah. Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia. hasil penjualan barang-barang bekas milik daerah dan penerimaan-penerimaan lain yang sah menurut Undang-Undang. hml 63-64 . Yogyakarta. Penerimaan ini mencakup sewa rumah dinas daerah.43 Merupakan penerimaan selain yang disebutkan di atas tapi sah.

44 kewengan untuk menarik pajak. menceritakan kepada kami Hasan bin Ali. pernyataan tersebut selaras dengan hadist dibawah ini. 18868 Artinya: . Tujuan dari adanya penarikan pajak 27 Program maktabah syamilah .27 Dari hadist dapat dijelaskan bahwa pajak dalam Islam dibolehkan. Kepala daerah (pemerintah) mempunyai kekuasaan dan kewenangan untuk mewajibkan menarik pajak kepada masyarakat atas dasar pembiayaan anggaran yang dikeluarkan pemerintah. menceritakan kepada kami Yahya bin Adam. bahwa Abdulah mau membayar pajak atas tanah yang telah dibelinya kepada kepala daerah. Dan telah menceritakan kepada kami Abu Said bin Abi Amrin. Pajak dapat juga dikenakan atas jual beli tanah. Artinya pajak telah berlaku pada zaman dahulu dan telah diterima oleh umat muslim pada waktu itu yang ditarik oleh kepala daerah. menceritakan kepada kami Nafas dari Mujalid dari Asyhabi dia berkata :“Abdullah telah membeli tanah perpajakan (tanah yang dikenai pajak) dari kepala daerah dan wajib supaya dia membayar pajaknya tanah itu”. Untuk zaman sekarang pajak dapat ditarik oleh pemerintah kepada masyarakat merujuk dari hadist diatas. dan menceritakan kepada kami Abu Al-Abas Al-Asham.

28 Dalam hadist tersebut menerangkan bahwa umat muslim diwajibkan untuk membayar untuk membayar pajak. Dalam juga dijelaskan bahwa bagi orang non muslim tidak diwajibkan atas pajak tersebut apabila tinggal pada suatu kota (daerah). Orang non muslim tidak dikenakan pajak dikarenakan tidak membayar membayar pajak tetapi wajib membayar denda. “Sesungguhnya ia (orang musyrik) adalah wajib mengeluarkan denda”. Berkatalah Imam Syafi‟i “Sesungguhnya telah mencetus system pajak bumi adalah kaum yang mempunyai otoritas kewira‟ian dan agama tetapi ada juga yang tidak sependapat dengan alas an berhati-hati”. “Wajib bagi seorang muslim untuk membayar pajak. tetapi tidak diwajibkan bagi seseorang yang musyrik ketika dia ingin masuk ke Masjidil Haram”. Hadist yang lain yang mengatur tentang pajak adalah: 118 Artinya : Berkatalah Imam Syafi‟i dan Hadist yang diriwayatkan dari Nabi Muhammad SAW. Pajak tersebut dapat diartikan penarikan dari seorang pemimpin (pemerintah) yang ditujukan untuk umat.45 harus diarahkan untuk kebaikan untuk masyarakat juga atas pengenaan pajak tersebut. 28 Program maktabah syamilah .

Tetapi ada ayat Al-Quran yang bisa dikaitkan dengan dengan pajak dan retribusi daerah dari pengertian diatas.46 Hadist tersebut juga menerangkan bahwa pajak tersebut telah disetujui dan disepakati dengan membuat sistem pajak bumi yang dibuat oleh orangorang yang wira’i dan agama. sedangkan pajak dan retribusi adalah iuran yang dikenakan atas kepemilikan barang atau pemakaian jasa dan wajib pajak dan retribusi adalah orang muslim dan orang non muslim. . Hati-hati disini dalam keadaan sekarang dapat diartikan pajak tersebut mungkin mengalami penyelewengan-penyelewengan yang dilakukan oleh oknum perpajakan sendiri (mafia perpajakan). penyaluran hasil pengumpulan pajak yang tidak semestinya dan penarikan pajak terhadap barang yang haram (misalnya:alkohol. Sistem pajak tersebut artinya tidak dibuat oleh sembarang orang tetapi dibuat dan disepakati oleh orang yang pandai agama dan yang wira’i. Jizyah itu berbeda bila dibandingkan dengan pajak dan retribusi daerah. perbedaannya jizyah membayar pajak untuk keamanan dan yang dikenai wajib pajak adalah orang non muslim. pajak diskotik) Al-Quran mengatur pajak tentang imbalan keamanan bagi orang nonmuslim yang dipungut oleh pemimpin orang muslim yang disebut jizyah. pajak lokalisasi. Akan tetapi ada yang tidak sependapat dengan pengwajiban pajak tersebut alasannya karena mereka berhati-hati.

Kemaslahan dapat diartikan sebagai kebaikan penggunaan dana hasil penarikan pajak untuk pembangunan. salah satu peraturannya adalah pajak dan retribusi daerah. kesehatan. Hai orang-orang yang beriman. yang tujuan dari adanya pajak tersebut adalah untuk kemakmuran. sebagai orang yang beriman kita wajib menaati selain kepada Allah dan RasulNya kita wajib menaati ulil amri (pemimpin). Sebagai rakyat kita harus menaati peraturan-peraturan yang dibuat oleh pemimpin. 2. sarana prasarana umum dan sebagainya. Diukur untuk kehidupan sekarang merupakan fasilitas tersebut sudah menjadi kebutuhan bukan hanya pelengkap saja. Selama tujuan yang dilakukan oleh pemimpin itu membawa ke arah kebaikan wajib kita taati.0 . dan ulil amri di antara kamu. pendidikan. Pemimpin disini dapat diartikan pemimpin (pemerintahan) yang membawa kearah kebaikan dan kemaslahatan umat. kesejahteraan masyarakat dan tujuan adanya penarikan tersebut juga baik.29 Maksud ayat diatas.47 Al-Quran surat An-Nisa’ ayat 59: Artinya: 59. Pajak dan retribusi daerah merupakan salah satu peraturan yang menarik iuran kepada rakyat. kemudian adanya penggunaan tersebut membawa perubahan kearah perbaikan. 29 Al-Quran Digital VER. taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya).

Pendekatan dan Jenis Penelitian Pendekatan penelitian ini termasuk pendekatan kuantitatif. retribusi daerah. Jenis penelitian yang digunakan Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif yang bersifat ex post facto yakni mempelajari fakta-fakta yang sudah ada.48 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. METODE PENELITIAN 1. dan pendapatan asli daerah Kabupaten Ponorogo. Lokasi Penelitian Lokasi penelitian dilakukan di kantor Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Asset Daerah Kabupaten Ponorogo. Yaitu teknik pengolahan data dimana data-data yang berbentuk angka diklasifikasikan. 3. Data dan Sumber Data Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data time series (runtut waktu) selama tahun 2005 sampai dengan tahun 2008 mulai bulan Januari sampai bulan Desember meliputi data: pajak daerah. Yaitu data-data yang diolah dan diambil dari kantor Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Asset Daerah Kabupaten Ponorogo. . Prosesnya berupa mendiskripsikan dengan cara menginterpretasi data yang telah diolah. 3 Ponorogo.Aloon-Aloon Utara No. Jl. dibandingkan dan dihitung dengan rumus-rumus yang relevan. 2.

( Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. data-data dinas pendapatan pengelolaan keuangan dan asset daerah. Metodologi Penelitian. retribusi daerah dan pendapatan asli daerah yang masih utuh adalah tahun 1990-an sampai akhir 2009 dan berupa data bulanan. b. Berdasarkan hasil penelitian data pajak daerah. yang dimaksud sampel adalah bagian dari populasi yang memiliki sifat-sifat yang sama dari obyek yang merupakan sumber data. Jika subyek 30 Sukandarrumidi. Populasi Menurut Sukandarrumidi: yang dimaksud populasi adalah keseluruhan dari obyek penelitian. ( Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.31 Untuk menentukan besarnya sampel apabila subyeknya kurang dari 100 diambil semuanya. 2002) hlm 47. informasi.49 Jenis dari sumber data yang dipakai dalam penelitian ini adalah: Data sekunder adalah data yang diperoleh lewat pihak lain. retribusi daerah dan pendapatan asli daerah Kabupaten Ponorogo. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh data pajak daerah. 4. data-data dinas kependudukan dan cacatan sipil. Sampel Menurut Sukandarrumidi.30 Dari pendapat tersebut diketahui bahwa populasi merupakan keseluruhan subjek penelitian yang dapat ditarik kesimpulan. data dinas BAPEDA dan data kantor BPS Ponorogo. berupa dokumen. tidak langsung diperoleh oleh peneliti dari subyek penelitiannya. . Populasi dan Sampel a. 31 Sukandarrumidi. Metodologi Penelitian. 2002) hlm 50.

50 lebih dari itu dapat diambil antara: 10%-15% atau 20%-25% atau lebih. Menurut Agus Widarjono. maka diketahui ada 48 buah data atau 4 tahun. bukan hubungan yang pasti. regresi dalam pengertian modern adalah studi bagaimana variabel dependen dipengaruhi oleh satu atau lebih dari variabel independen dengan tujuan untuk mengestimasi dan atau memprediksi nilai rata-rata variabel dependen didasarkan pada nilai variabel independen yang diketahui. 5. Didalam statistik 32 Damodar Gujarati. Sejarah regresi dimulai dari ide Francis Galton32. Analisis data yang dapat digunakan dalam penelitian adalah: a. Analisis regresi yang menjelaskan hubungan antara variabel dependen dan independen berkaitan erat dengan hubungan yang bersifat statistik. Model Regresi Linear Berganda Regresi merupakan metode estimasi utama didalam ekonometrika. Mengingat jumlah populasi yang dapat menggambarkan pertumbuhan ekonomi cukup banyak dan untuk memudahkan penelitian maka penelitian ini mengambil sampel sebesar 22% dari jumlah populasi. Analisis Data Analisa data dilakukan setelah data terkumpul. Proses analisis data merupakan usaha untuk memperoleh jawaban permasalahan penelitian. Ekonometrika Dasar (Jakarta: Erlangga. 2003) hlm 17 .

33 Suatu model regresi berganda dengan hanya dua variabel independen dari suatu populasi dimana terdapat satu variabel yang dependen dapat dinyatakan sebagai berikut: Y = ß0 + ß1 X 1 + ß2 X2+ e Dimana. Regresi secara Individual (t-test) dan secara (F-test).51 hubungan yang tidak pasti ini disebut hubungan yang acak (random atau stokastik). Y ß0 ß1.. pengujian koefisien Determinasi R2. ß2 X1 X2 e Model Hipotesis = Variabel terikat = Konstanta = Koefisien regresi = variabel bebas 1 ( pajak daerah ) = variabel bebas 2 ( retribusi daerah ) = Error  Pajak Daerah  Retribusi Daerah PAD Dari analisis regresi linier berganda maka akan diproleh koefisien regresi linier dari masing-masing variabel. 33 Agus Widarjono. 2005) hlm 7 . Untuk menguji setiap koefisien dengan. Ekonometrika (Yogyakarta: Ekonosia.

2 y = Koefisien determinasi = Variabel pajak daerah = Variabel retribusi daerah = Koefisien regresi = Variabel pendapatan asli daerah34 34 Agus Widarjono.52 b. memurut Agus Widarjono. Korelasi Berganda 1) Koefisien Determinasi R² Nilai R² menunjukkan besarnya variasi variabel-variabel independen dalam mempengaruhi variabel dependen. Informasi yang dapat diperoleh dari koefisien determinasi R² adalah untuk mengetahui seberapa besar variabel independen dalam menjelaskan variabel-variabel dependen. Nilai R² berarti semakin besar variasi variabel dependen yang dapat dijelaskan oleh variasi variabel-variabel independen. Analisa yang digunakan untuk mengetahui pola hubungan dua atau lebih variabel bebas. rumusnya adalah : b1 (  x1y ) + b2 (  x2y ) R2 =   y2 Keterangan : R2 x1 x2 b1. Ekonometrika (Yogyakarta: Ekonosia. Sedangkan semakin kecil nilai R² berarti semakin kecil variasi variabel dependen yang dapat dijelaskan oleh variasi variabel-variabel independen. 2005) hlm 77 .

2003) hlm 45 Agus Widarjono. Dengan menganggap variabel bebas (independen) lainnya konstan. sedangkan r2 yang bernilai nol berarti tidak ada hubungan antara variabel tak bebas dengan variabel yang menjelaskan. suatu r2 sebesar 1 berarti suatau kecocokan sempurna. 2) Uji t ( Uji Parsial) Dilakukan untuk mengetahui pengaruh variabel bebas secara individual terhadap variabel tidak bebas.53 Sifat dari koefisien determinasi ini adalah: a) R² merupakan besarnya non negatif b) Batasannya adalah 0 < R² < 1. 2005) hlm 83 . Ekonometrika Dasar (Jakarta: Erlangga. Ekonometrika (Yogyakarta: Ekonosia. Rumus: β1 – β1* t =   t (n-k) se ( β1 ) Keterangan: t β1 se n k = t hitung yang diperoleh = Koefisien regresi = Standard error = Jumlah data = Jumlah variabel bebas 36 35 Dari rumus tersebut akan dapat diperoleh hasil yang dapat dikategorikan sebagai berikut : 35 36 Damodar Gujarati.

Pengujian Hipotesis Satu Arah Negatif Keputusan penerimaan hipotesis : Terima Ho : jika T hitung > T  n-k-1 Tolak Ho : jika T hitung < T  n-k-1 Gambar 3.54  t hitung >t tabel dengan taraf signifikan sebesar  = 5% maka hipotesa Ho ditolak dan Ha diterima.  t hitung <t tabel dengan taraf signifikan sebesar  = 5% maka hipotesa Ho diterima dan Ha ditolak.1 Daerah penolakan Ho Daerah Penerimaan Ho -Z  (-T  n-k-1) . Sedangkan untuk mendapakan nilai t tabel dapat dilihat dalam Tabel Distribusi t dengan menentukan degre of freedom (df) : n-k-1 dan nilai  (jika uju satu arah digunakan  dan jika uji dua arah digunakan ½ ) 1.

2 Daerah penolakan Ho Daerah Penerimaan Ho Z (T  n-k-1) 3.55 2. Pengujian Hipotesis Satu Arah Positif Keputusan penerimaan hipotesis : Terima Ho : jika T hitung < T  n-k-1 Tolak Ho : jika T hitung > T  n-k-1 Gambar 3. Pengujian Hipotesis Dua Arah Keputusan penerimaan hipotesis : Terima Ho : jika -T ½  n-k-1 < T hitung < T ½  n-k-1 Tolak Ho : jika -T ½  n-k-1 > T hitung > T ½  n-k-1 .

3 Daerah penolakan Ho Daerah Penerimaan Ho Daerah penolakan Ho -Z  (-T  n-k-1) Z ( T  n-k-1 ) 3) Uji F ( Uji Hipotesis Koefisien Regresi Secara Menyeluruh ) Uji F dilakukan untuk mengetahui apakah variabel-variabel independen secara keseluruhan signifikan secara statistik dalam mempengaruhi variabel dependen.56 Gambar 3. nilai F hitung dirumuskan sebagai berikut: R2 / (k – 1) F =  (1 – R2) / (n – k) Keterangan : F R2 k = F hitung yang diperoleh = Koefisien determinasi = Jumlah variabel bebas . dalam bukunya Ekonometrika Teori dan Aplikasi. Menurut Agus Widarjono. Maka variabel-variabel independen secara keseluruhan atau secara bersama-sama variabel tersebut berpegaruh terhadap variabel dependen.

4 Daerah penolakan Ho Daerah Penerimaan Ho Z ( T  n-k-1 ) 37 Agus Widarjono.  F hitung >F tabel maka Ho ditolak dan Ha diterima yang berarti ada pengaruh yang nyata secara bersama-sama antara variabel-variabel bebas terhadap variabel terikat. 2005) hlm 88 .57 n = Jumlah sampel 37 Pengujian tersebut dilakukan dengan membandingkan nilai F hitung dengan F tabel pada derajat bebas tertentu yaitu n-k-1 dengan taraf nyata atau signifikan  5 %. Ekonometrika (Yogyakarta: Ekonosia.  F hitung <F tabel Maka Ho diterima dan Ha ditolak yang berarti ada pengaruh yang tidak nyata secara bersamasama antara variabel-variabel bebas terhadap variabel terikat. Gambar 3.

Topografi Ketinggian dari permukaan laut : 92-2.7o – 111. Topografi. Trenggalek Bagian Selatan : Kabupaten Pacitan Bagian Barat b. Klimatologi.563 meter c. terletak antara 7. Magetan dan Nganjuk : Kabupaten Tulungagung.52o BT.916 meter pertahun.58 BAB IV HASIL PENELITIAN A. Luas Wilayah dan Jumlah Penduduk : Kabupaten Pacitan dan Wonogiri (Jawa Tengah) . Kabupaten Ponorogo lahir pada tanggal 11 Agustus 1496. seperti umumnya daerahdaerah di Indonesia Kabupaten Ponorogo mengalami musim hujan bulan Oktober – April. Luas Wilayah dan Jumlah Penduduk. Klimatologi Suhu udara berkhisar 18o – 31o Celcius. serta Wilayah Administrasi Penelitian.49o – 8. dengan curah hujan sebesar 145. dengan batas-batas wilayah: Bagian Utara Bagian Timur : Kabupaten Madiun. Keadaan Geografis. Keadaan Geografis Kabupaten Ponorogo adalah salah satu kabupaten yang ada di Jawa timur. a. Keadaan Umum Wilayah Penelitian 1. d.20o LS dan 111.

048 4 Bagian Penerimaan lain- 19. dan kesejahteraan.47 39.087.717 513.052.000 - 5. perekonomian. e.78 km2 dan jumlah penduduk 891.182.06 3 Bagian Penerimaan Dana 334.960.986. Wilayah Administrasi Pembagian wilayah administrasi Kabupaten Ponorogo terdiri atas: 1) 21 ( dua puluh satu ) Kecamatan 2) 26 ( dua puluh enam ) Kelurahan 3) 229 ( dua ratus dua puluh sembilan ) desa 2.628.546.383.776.230.910.1 APBD Tahun Anggaran 2005-2007 No Uraian Sisa lebih tahun lalu Tahun 2005 - Tahun 2006 - Tahun 2007 - 1 2 Pendatapan Asli Daerah 27.043. a.76 35.70 612.650.639.302 jiwa.59 Ponorogo sebuah Kabupaten di Jawa Timur yang memiliki luas wilayah 1.043.957.589.116. Kondisi Sisi Pendapatan dan Pengeluaran Anggaran Anggaran Pendapatan dan belanja Daerah ( APBD ) Kabupaten Ponorogo tahun 2005-2007 bila dilihat pada tabel berikut : Tabel 4. Gambaran Umum Pembangunan Tahun 2005-2007 Kondisi Kabupaten Ponorogo dapat digambarkan dalam bidangbidang pelayanan.883.371.488 .955.

056.833.845.966.242.261.789.380 erah un tuk kes Sumber Data: Kantor Pusat Badan Statistik Kabupaten Ponorogo ejahteraan masyarakat.589.116.829.571. dalam upaya Uraian 2005 2006 2007 emanfaat 1 ADHB ( Rp ) 3.329.909.089.694.898.06 Sumber: Buku Menuju Ponorogo Mukti Wibowo.709.691.66 438.054.124.979.95 292. hal ini dapat dilihat bahwa pada perkembangan makro m No .095. perkembangan perekonomian daerah menunjukkan peningkatan yang cukup baik. Tahun 2008 No Uraian Belanja rutin Belanja Pembangunan Jumlah Tahun 2005 Tahun 2006 Tahun 2007 - 1 a 2 b e 4.881.410 2.534.76 567.100 4.160 kan pot ensi da 2 ADHK ( Rp ) 2.76 T 93.850.955.957.396.507.15 373.520.154. Kondisi Perekonomian Daerah Kondisi perekonomian kabupaten ponorogo.625.567.143.070.92.878.290 5.17 657.98 l Sumber: Buku Menuju Ponorogo Mukti Wibowo.663.883 532. Tahun 2008 Belanja Daerah b.60 lain yang sah Jumlah 382.10 626.2 81.672.989.720 2.397.

3 Nilai Produk Domestik Regional Bruto ( PDRB Tahun 2005-2007) .perekonomian daerah seperti pada tabel berikut : Tabel 4.

81 24.51 5.09 1.83 100.75 24.00 12.39 5.58 8.60 25.67 9.21 5.78 2007 28.00 12.66 100.27 9.91 2006 28.58 100.57 9.71 100.0 12.77 2.05 5.99 ADHK ( % ) 2006 28.19 24.77 Sumber Data: Kantor Pusat Badan Statistik Kabupaten Ponorogo c.45 9.00 5.54 ADHB ( % ) 2005 29.65 2.4 Sumbangan Masing-masing Sektor Perekonomian Daerah Terhadap PDRB No Uraian 1 2 Pertanian Pertambangan dan penggalian 3 Industri Pengolahan 4 5 Listrik.50 5.05 2.49 9.05 1.13 100. Kondisi Pembangunan ( Bidang Rencana Strategis ) 1) Bidang Aparatur Keuangan dan Pendapatan Daerah Dalam rangka mewujudkan Pemerintahan Daerah yang amanah.65 24.44 5.56 5.15 1.43 100.29 9.87 9.74 5.31 1.50 5.00 12.54 24. Air bersih Bangunan/kontruks i 6 Perdagangan Hotel dan Restoran 7 Angkutan dan Komunikasi 8 Keuangan dan Persewaan 9 Jasa-jasa Total 12.87 2.26 9.67 2005 28.08 1.99 9.03 1.42 9.0 12.97 2.88 2007 28.56 5. maka prioritas pembangunan kabupaten Ponorogo diletaktakkan pada : a) Perwujudan pemerintahan daerah yang bersih dari KKN .78 5.77 2.71 9.61 Tabel 4.

5 Jumlah Pegawai Negeri Sipil Daerah dan Pusat dilingkungan Pemerintah Kabupaten Ponorogo Pangkat L I/a I/b I/c I/d Daerah P 1 1 1 L - Pusat P L 41 9 62 75 Jumlah P 1 1 1 L+P 42 9 63 75 41 9 62 75 II/a II/b II/c II/d 382 244 297 265 172 88 138 156 - - 382 244 297 265 172 88 138 156 554 332 435 421 III/a III/b III/c III/d 790 734 1.508 2.213 100 10 1542 265 - 2.62 b) Pendayagunaan kelembagaan dan ketatalaksanaan aparatur pemerintah.063 1.229 1.190 1.308 400 495 445 757 - - 790 734 1.308 400 495 445 757 1. Tabel 4.063 1. c) Pendayagunaan sumber daya manusi (SDM) aparatur secara maksimal dan profesional.755 365 10 .213 100 10 1542 265 - - - 1.065 IV/a IV/b IV/c 1.

Pertumbuhan ekonomi di Ponorogo sampai bulan November 2008 kurang lebih 5.594 4.463 6. merupakan salah satu sektor yang memberikan kontribusi yang sangat signifikan bagi pertumbuhan dan perkembangan perekonomian di Kabupaten Ponorogo.4 %.000 orang. Dengan terpenuhinya target tersebut diharapkan perekonomian di Ponorogo tidak terpusat di kota Ponorogo. tetapi menyebar sampai pelosok-pelosok desa dan hal tersebut sekarang . Melalui bidang ini diharapkan pada akhir tahun 2010 perekonomian di Ponorogo akan lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Tahun 2008 2) Kondisi Bidang Industri. tahun 2007 juga 4000 wirausahawan baru dan diharapkan pada tahun 2009 target 16. Kebijakan Pemerintah Kabupaten Ponorogo dalam rangka meningkatakan perekonomian masyarakat diantaranya dengan menumbuhkan wirausahawan baru sebanyak 16.594 4. Perdagangan dan Koperasi Kondisi bidang industri dan perdagangan di kabupaten Ponorogo.057 Sumber: Buku Menuju Ponorogo Mukti Wibowo.63 IV/d IV/e 1 - - - - 1 - - 1 - Jumlah 6. dan itu telah dimulai pada tahun 2006 dengan 4000 wirausahawan baru.463 11.000 wirausahawan baru tersebut bisa terpenuhi.

4 % menjadi lebih dari 6 %. Tahun 2008 . Tabel 4.6 Jumlah Perusahaan Yang Mendaftar Dirinci Menurut Bentuk Usaha No Bentuk Usaha Tahun 2005 1 2 3 4 5 6 Perseoan Terbatas Koperasi Persekutuan Komanditer Firma Perseroan Badan Usaha Lainnya Jumlah 16 7 68 423 514 Tahun 2006 18 7 157 612 3 797 Tahun 2007 15 17 175 514 3 724 Sumber: Buku Menuju Ponorogo Mukti Wibowo. Salah satu bukti bahwa pemerataan ekonomi di Ponorogo diupayakan dengan maksimal adalah diterimanya penghargaan Otonomi Award yang diberikan oleh Jawa Pos of Pro Otonomi sebagai daerah yang menonjol di bidang pengembangan ekonomi.64 sudah nampak dampaknya. sehingga dengan pesatnya pertumbuhan ekonomi tersebut Ponorogo tidak lagi dikategorikan sebagai kota kecil tetapi paling tidak di Jawa imur sudah termasuk kategori kota menengah. Disamping itu diharapkan pada tahun 2010 pertumbuhan ekonomi di Ponorogo akan berkembang dengan pesat dari 5.

157 .940 4.806 2.260 3. Gas dan Air Perdagangan Angkutan dan Komunikasi Keuangan dan Asuransi Jasa Kemasyarakatan 47 3 9 19 56 238 94 16 28 Tahun 2006 73 6 25 37 80 424 112 6 31 Tahun 2007 26 4 22 25 83 236 88 4 21 Sumber: Buku Menuju Ponorogo Mukti Wibowo.8 Penyebaran Industri dan Kerajinan No Kecamatan Industri Formal Unit 1 2 3 4 5 Ngrayun Slahung Bungkal Sambit Sawoo 3 23 36 21 11 Tenaga Kerja 18 321 439 292 54 Industri Non Formal Unit Tenaga Kerja 306 717 747 610 1.7 Jumlah Bentuk Usaha Menurut Jenisnya No Bentuk Usaha Tahun 2005 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Pertanian Pertambangan Industeri Pengolahan Bangunan Listrik. Tahun 2008 Tabel 4.648 4.785 2.192 Tenaga Kerja 735 1.65 Tabel 4.677 1.103 Jumlah Total Unit 309 770 646 1.356 1.181 1.699 3.

217 545 4. hal ini disamping merupakan program prioritas Pemerintah Pusat dan propinsi Jawa Timur melalui revitalisasi pertanian karena bidang ini merupakan sumber .603 1.399 1.906 1.561 1.528 2.050 693 883 192 1.439 2.302 1.020 661 855 184 1.869 1.092 5.225 1.386 580 4.752 1.321 1.433 317 4.384 1.066 1.226 1.195 369 40 298 8.834 1.632 661 2.053 1.083 671 769 738 926 21.186 239 2.285 52.792 919 817 1. Tahun 2008 3) Kondisi Bidang Pertanian.271 5.420 1.175 290 2.852 2.516 1.336 5.822 365 4.383 1.396 2.244 1.194 Sumber: Buku Menuju Ponorogo Mukti Wibowo.052 1.261 2.830 652 2.66 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 Sooko Pulung Pudak Mlarak Siman Balong Kauman Jambon Jetis Badegan Sampung Ponorogo Babadan Jenangan Ngebel Sukorejo Jumlah 9 11 3 14 30 32 28 8 15 4 13 245 101 32 8 33 680 65 164 35 165 331 858 389 48 266 17 240 3. Perkebunan dan Perikanan Pembangunan di bidang pertanian secara luas menjadi salah satu prioritas pembangunan.777 915 856 828 570 737 730 893 20.987 43.

Respon masyarakat di bidang ini sangat baik. Dengan pembangunan yang menyeluruh dibidang ini melalui peningkatan SDM para punyuluh.67 pereknomian rakyat dan lebih tahan terhadap guncangan ekonomi global juga sebagai upaya menjaga tetahanan pangan masyarakat.500 ton pertahun. ternak maupun perkebunan dan perikanan. Sementara komoditas jagung menjadi salah satu andalan petani dengan luas areal 29. Dibidang tanaman pangan khususnya padi. Ponorogo merupakan daerah penyangga beras Propinsi Jawa Timur dengan surplus senesar 125. dan mengalami perkembangan yang signifikan sehingga para petani mulai berusaha dan mengembangkan komoditas-komoditas yang mempunyai nilai ekonomi tinggi yang berupa holtikultura. serta usahausaha yang yang berwawasan agribisnis dan agroindustri diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan para petani dan pekerja di bidang pertanian.089 pada tahun 2007. petani.93 % dari produksi 125.113 ton atau 49.551 ha dengan produksi 150. Sementara di bidang tanaman kedelai masyarakat Ponorogo patut berbangga karena memeliki 2 varietas unggul lokal yakni Gepak ijo dan Gepak kuning yang telah masuk dalam rentetan . dan pengenalan teknologi baru di bidang budi daya dan mekanisasi pertanian.

000 200 Ha 6 2.Tembakau Virginia 3. Wijen 5.68 benih unggul nasional melalui keputusan Menteri Pertanian No: 237/KTSP/SR.399 46. nilam. Sedangkan komoditas perkebunan seperti kakau.890 39.976 2. Jambu 10 13 20.78 66 4 4. Kopi Arabika 3.00 25 2 8 1.184.83 120 - .9 Potensi Areal Perkebunan Kabupaten Ponorogo No Jenis Tanaman Jumlah Kec.92 35.793 8.500 258 48.643 4.200 6. Tebu 2.315 3.730 4.50 54 II Tanaman Tahunan 1.270 2. Tabel 4. Kopi Arabika 4. Cengkeh 5.599 19.38 21 3 49.587.03 326.Tembakau Jawa 4. janggelan juga terus dikembangkan oleh petani karena mempunyai prospek pasar yang baik di mancanegara. Jumlah Dasar Luas Potensial Luas Tanah yang sudah ada Luas Penge mbang an KE T I Tanaman Semusim 1. Kelapa 2.554 2.643 655.010 12.130.779 590 2.819 2.120/3/2008. Nilam 15 4 29.77 1.760 12. cengkih.653.00 2.726 2.

124.948. Nilam - - 15.447. Kakao 9.96 677.38 110.48 .913 1.87 5.6 28.69 Mete 6.00 189 50 21 28. Kopi Arabika 3. Kapuk Randu 7.6 66.00 14.83 19.80 48.00 38.4 20.720 10.869 141.60 80.91 33.50 II Tanaman Tahunan 1.880 20.20 88.405.9 35.2 326. Tebu 2.69 3.989 5.Tembakau Jawa 4.440.00 Luas 2005 Produksi Luas 2006 Produksi Luas 2007 Produksi ton 2.280.78 61. Wijen 70.00 2.00 16.068.83 30.966.10 2.925 2.10 Data Luas Areal Produksi Tanaman Perkebunan No Jenis Tanaman I Tanaman Semusim 1.184.3 50.798 4.37 887.00 19.5 19. Tahun 2008 Tabel 4.82 655.00 10.38 105.86 48. Kopi Arabika 5.2 341.513.50 30.00 4. Panili 8.6 40. Kelapa 2.60 5.89 185. Janggelan 7 7 1 4.278.0 10.340.00 13.97 - Sumber: Buku Menuju Ponorogo Mukti Wibowo.0 326.2 21.357 1.653.50 139.00 36.00 7.57 655.50 46.02 7.Tembakau Virginia 3.

130.7 324. Janggelan 2.587..050.000.2 1. barang dan jasa sehingga pada gilirannya perekonomian masyarakat meningkat.539.08 40.72 111. jalan antar desa dan pembangunan jalan lintas perbatasan terus dilakukan.76 2.41 108.dan pada tahun 2007 mencapai Rp.65 143.30 ha 2.42 21.00 3.040.596.79 164.- . Tahun 2008 4) Kondisi Bidang Pemukiman dan Prasarana Wilayah Pembangunan di bidang prasrana wilayah sejak tahun 2005 menjadi perhatian penuh.123.2 321.378. 14. Kakao 9. Kapuk Randu 7. hal ini bertujuan untuk meningkatkan kelancaran arus mobilitas manusia. Oleh karena itu pemeliharaan secara berkala dan rutin.9 239.00 141.89 4. serta peningkatan jalan dan jembatan baik jalan kabupaten. Cengkeh 5.00 3.00 Sumber: Buku Menuju Ponorogo Mukti Wibowo.33 111.30 22. Sebagai gambaran anggaran untuk peningkatan jalan dan jembatan pada tahun 2005 sebesar Rp.70 4.06 2.00 330.56 2.00 141.11 185.0 318.54 166.9 285. Panili 8.000 .1 1.37 88.638.72 496.68 2.9 277.28 156.000 . 6. Disamping itu upaya-upaya tanggap darurat terhadap bencana alam ditangani dengan cepat dengan harapan kegiatan perekonomian masyarakat dapat segera pulih.74 200. Jambu Mete 6.278.338.175.7 1.

penyediaan air baku.Soekarno Hatta 206 Ponorogo Jl. Sedangkan dibidang pengolahan sumber daya air pembangunan diarahkan pengembangan.11 Hotel dan Penginapan di Ponorogo No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Nama Hotel Hotel Ponorogo Permai Hotel Gajahmada Hotel Kencana Dewi Hotel Dirgahayu Hotel SAA Nusantara Hotel La Tiban Hotel Aman Hotel Indonesia Hotel Sentrum Alamat Jl. Dahlan 62 Ponorogo Jl.71 Pembangunan pemukiman diarahkan kepada terciptanya lingkungan yang sehat dengan mendorong partisipasi masyarakat baik di perkotaan dan pedesaan. Gajahmada 56 Ponorogo Jl.Soekarno Hatta 12 Ponorogo . Tabel 4. Sultan Agung 4 Ponorogo Jl. Diponegoro 40 Ponorogo Jl. pengembangan pengolahan irigrasi dan jaringan pengairan lainnya.Soekarno Hatta 115 Ponorogo Jl. KH. A.Soekarno Hatta 315 Ponorogo Jl. Jenderal Sudirman 117 Ponorogo Jl. pengendalian banjir dan penataan kelembagaan dan ketatalaksanaan. pengolahan dan konservasi sungai dan sumber lainnya. Sementara untuk menyediakan pemukiman yang layak dibuka kesempatan kepada pengembang untuk membangun perumahan-perumahan.

Thamrin 61 Ponorogo Jl. Diponegoro 85 Ponorogo Jl.12 Nama Rumah Makan/Depot di Ponorogo No Nama Rumah Makan/Depot 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 RM. Sultan Agung 64 Ponorogo Jl. MH. Amad RM. Gajahmada 56 Ponorogo Alamat Sumber: Buku Menuju Ponorogo Mukti Wibowo. Basuki Rahmad 14 Ponorogo Jl. KH. Ramayana II RM. tersalurkan dan tersedianya kesempatan kerja tinggi dan efisien. Gajahmada 4 Ponorogo Sumber: Buku Menuju Ponorogo Mukti Wibowo. Diponegoro 24Ponorogo Jl. Martini RM. Gajahmada Jl. A. terselenggaranya kerja yang harmonis antara . Diponegoro Ponorogo Jl. Diponegoro RM. Indah RM. Sami Lumayan RM. HBI. Tahun 2008 Tabel 4. Tahun 2008 5) Kondisi Bidang Tenaga Kerja Sasaran yang ingin dicapai ialah tersedianya tenaga kerja yang terampil. Dahlan 108 Ponorogo Jl. Gatot Subroto 36 Ponorogo Jl. BU Rusmin RM.72 10 11 12 Hotel Pantes Hotel Larasati Hotel Gembira Jl. Singgalang RM. Aloon-aloon Selatan 1 Ponorogo Jl. Diponegoro 61 Ponorogo Jl. Raya Siman-Ponorogo Ponorogo Jl. Ramayana I RM.

13 Tenaga Kerja yang di latih dan Siap Terjun di Lapangan Kerja No Jenis Pelatihan L 1 2 3 4 5 6 Elektronika Menjahit Las Otomotif Konveksi Pembuatan genteng dan tukang kayu 7 Seni kerajinan cetak pada logam Sumber: Buku Menuju Ponorogo Mukti Wibowo. dan terus menggali dan mengembangkan obyek wisata baru yang ditemukan dengan tujuan meningkatkan kunjungan wisata baik . Tahun 2008 20 20 20 1 15 16 3 20 20 13 16 20 20 2006 P L 2007 P L 2008 P 6) Kondisi Bidang Pariwisata dan Seni Budaya Pembangunan kepariwisataan di Ponorogo diarahkan untuk terus mengembangkan obyek-obyek wisata yang telah ada.73 pengusaha dan pekerja dan terciptanya kesempatan kerja baru dengan sistem pada karya serta sektor transmigrasi. adanya peningkatan sumber daya manusia calon transmigrasi. Tabel 4.

Pemerintah daerah juga membuka puskesmas kecamatan yang dapat memberikan pelayanan rawat inap. Untuk memudahkan dapat dilihat pada grafik histogram dibawah ini. Ini terwujud dengan berdirinya rumah sakit baru yang lebih modern sehingga pelayanan kesehatan masyarakat terpenuhi. diperoleh gambaran sebagai berikut. . sehingga apresiasi terhadap kesenian yang ada terus meningkat. 7) Kondisi Bidang Kesehatan Kondisi bidang kesehatan di Ponorogo diarahkan untuk mengoptimalkan pelayanan kesehatan masyarakat.74 domestik maupun mancanegara terhadap obyek-obyek wisata yang ada. karena pada saat peringatan Hari Jadi Ponorogo seluruh seni budaya yang ada ditampilkan sebagai upaya pelestarian. pembinaan dan pemberi ruang gerak terhadap para seniman-senimannya. baik wisata alam wisata budaya maupun religi. Pemisahan kegiatan agenda wisata budaya Grebeg Suro dengan peringatan Hari Ulang Tahun Ponorogo ternyata membawa dampak positif terhadap perkembangan dan pelestarian seni budaya di Ponorogo. B. Deskripsi Data Dari hasil data yang diperoleh yaitu variabel bebas: pajak daerah dan retribusi daerah dan variabel terikat: pendapatan asli daerah.

1 Grafik Histogram dari Pajak Daerah Histogram of pajak daerah 16 14 12 10 8 6 4 2 0 0 200000000 400000000 600000000 800000000 1000000000 1200000000 pajak daerah Sumber: diolah tahun 2010 dengan program minitab Gambar 4.2 Grafik Histogram dari Retribusi Daerah Histogram of retribusi daerah 12 10 8 6 4 2 0 0 0 80 0 00 00 0 12 0000 00 0 0 16 0 00 0 00 0 00 20 0 0 0 00 0 00 24 00 0 00 0 0 28 00 00 00 0 0 32 00 00 00 0 retribusi daerah Sumber: diolah tahun 2010 dengan program minitab .75 Gambar 4.

. retribusi daerah dan PAD setiap bulan dan tahunnya dapat digambarkan dalam trend analisis yang diolah dalam Minitab.76 Gambar 4. Untuk melihat kenaikkan maupun penurunan pajak daerah. retribusi daerah dan PAD yang dibagi berdasarkan besarnya masing-masing pendapatan serta jumlah frekuensinya.3 Grafik Histogram dari Pendapatan Asli Daerah Histogram of PAD 12 10 8 6 4 2 0 1200000000 2400000000 3600000000 4800000000 6000000000 PAD Sumber: diolah tahun 2010 dengan program minitab Grafik diatas menunjukkan besarnya pajak daerah.

77 Gambar 4.60552E+17 Trend Analysis Plot for PAD Growth Curve Model Yt = 2253649291 * (1.92266E+01 MAD 5.4 Trend Analisis dari PAD Variable Actual Fits Accuracy Measures MAPE 1. akan tetapi setiap tahunnya selalu mengalami kenaikan. Trend tersebut menunjukan adanya kenaikan dan penurunan secara tajam. .90004E+08 MSD 6.01194**t) 6400000000 5600000000 4800000000 4000000000 3200000000 2400000000 1600000000 800000000 Month Year b rgtcb rgtcb rg tcb rg n n n FeApJuAuOcDeFeApJuAuOcDeFeApJuAuOcDeFeApJuAuOc 20 05 20 06 20 07 20 08 n t Sumber: diolah tahun 2010 dengan program minitab Analisis trend diatas menunjukkan besarnya PAD Kabupaten Ponorogo tiap-tiap bulan dari tahun2005 sampai tahun 2008.

71062E+16 Variable Actual Fits Trend Analysis Plot for pajak daerah Growth Curve Model Yt = 351878615 * (1. kenaikkan dan penerununan tersebut dipengaruhi oleh keadaan ekonomi maupun bulan-bulan tertentu.5 Trend Analisis dari Pajak Daerah Accuracy Measures MAPE 4.36833E+01 MAD 1. Trend pajak daerah tersebut menunjukan adanya kenaikkan dan penurunan secara tajam.02107**t) 1200000000 1000000000 800000000 600000000 400000000 200000000 0 Month Year M ar Ju n Sep D ec M ar Ju n Sep D ec M ar Ju n Sep D ec M ar Ju n Se p 20 05 20 06 20 07 20 08 Sumber: diolah tahun 2010 dengan program minitab Analisis trend diatas menunjukkan besarnya pajak daerah Kabupaten Ponorogo tiap-tiap bulan dari tahun2005 sampai tahun 2008.78 Gambar 4. .06294E+08 MSD 2. Akan tetapi setiap tahunnya selalu mengalami kenaikan yang cukup tajam.

6 Trend Analisis dari Retribusi Daerah Accuracy Measures MAPE 2. Trend retribusi daerah tersebut menunjukan adanya kenaikkan dan penurunan secara tajam.00684**t) Variable Actual Fits 3000000000 2500000000 2000000000 1500000000 1000000000 Month b A Dec b AA A trtrt Year 6 2005 2 0 0 2007 2008 Sumber: diolah tahun 2010 dengan program minitab Analisis trend diatas menunjukkan besarnya retribusi daerah Kabupaten Ponorogo tiap-tiap bulan dari tahun2005 sampai tahun 2008. kenaikkan dan penerununan tersebut juga dipengaruhi oleh keadaan ekonomi maupun bulan-bulan tertentu.24935E+08 MSD 3.33582E+01 MAD 4.79 Gambar 4. Akan tetapi setiap tahunnya selalu mengalami kenaikan. .20583E+17 3500000000 analisis tren retribusi daerah Growth Curve Model Yt = 1524805304 * (1.

8725 SE Coef 276771175 0.873 RD Predictor Constant PD RD Coef 269413551 1.7 Hasil Regresi setelah diolah Regression Analysis: PAD versus PD.90 Pajak Daerah + 0.93102E+19 1.90 PD + 0.69 .05 6.53% SS 2. Hasil olah data diatas dapat ditampilkan persamaan regresi linier berganda sebagai berikut : Y = ß0 + ß1 X 1 + ß2 X2+ e PAD = 2.80 C.06703E+19 MS 1.000 S = 502440393 R-Sq = 72.1% R-Sq(adj) = 70.43 P 0.873 Retribusi Daerah + e Dari persamaan hasil regresi diatas mempunyai arti yang dapat disampaikan sebagai berikut: ß0 Konstanta = 2. Analisa Regresi Linier Gerganda Analisa regresi linier berganda digunakan untuk mengukur ada tidaknya pengaruh antara variabel ( X ) terhadap variabel ( Y ).336 0.361339E+19 Analysis of Variance Source Regression Residual Error Total DF 2 45 47 R-Sq(pred) = 66.46551E+19 2.13601E+19 4.8974 0.8% PRESS = 1.05 P 0.97 5. RD The regression equation is PAD = 2.3756 0.69E+08 + 1.52446E+17 F 58. Analisis Regresi Gambar 4.69 + 1.000 Sumber: diolah tahun 2010 dengan program minitab 1.000 0.1357 T 0.

Atau bisa dikatakan bahwa variabel pajak daerah dan retribusi daerah mempunyai pengaruh sebesar 72.90 dimana faktor lainnya dalam keadaan konstan atau nol. maka dapat meningkatkan pendapatan asli daerah sebesar 1.1% ini menunjukkan bahwa dengan nilai angka variabel independen yang berupa pajak daerah dan retribusi daerah mampu menjelaskan variabel pendapatan asli daerah.90 Artinya apabila terjadi kenaikan pada variabel pajak daerah dalam satu satuan. Koefisien Determinasi R2 Dalam analisa korelasi ini digunakan untuk mengukur kuat lemahnya hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat.1% terhadap variabel pendapatan asli daerah. maka dapat meningkatkan pendapatan asli daerah sebesar 0.69 dengan asumsi faktor-faktor lain dianggap konstan atau nol. R square sebesar 72. X2 Retribusi Daerah = 0.873 dimana faktor lainnya dalam keadaan konstan atau nol. 2. sedangkan sisanya dijelaskan oleh variabel-variabel lain selain variabel pajak daerah dan retribusi daerah (dijelaskan oleh variabel lain yang tidak termasuk dalam model).873 Artinya apabila terjadi kenaikan pada variabel retribusi daerah dalam satu satuan.81 artinya bahwa pada saat variabel pajak dan retribusi daerah tidak ada atau dalam keadaan konstan. X1 Pajak Daerah = 1. maka besarnya PAD di Kabupaten Ponorogo sebesar 2. Hal .

D. df = n – k – 1 = 48 – 2 – 1 = 45 a. Df = n – k – 1 Keterangan : Df : Degree of freedom n k : jumlah sampel : jumlah variabel bebas maka.021 . Dan juga untuk menguji tingkat signifikan dari pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat. Dimana kriteria untuk uji tes ini adalah Ho akan ditolak apabila t hitung > t tabel.05 apabila df = 45 dan tingkat signifikan 95 % atau ½  (5%) = 2. Sehingga dapat dinyatakan hipotesa alternatif (Ha) yang menyatakan variabel pajak daerah mempunyai pengaruh terhadap .82 tersebut menunjukkan terjadinya hubungan positif antara variabel bebas dengan variabel terikat karena hasil determinasinya mendekati 100 %.5 % (uji dua arah) maka diperoleh t tabel sebesar 2. Uji t Uji t merupakan pengujian hipotesis yang diajukan untuk menemukan apakah hipotesis yang diajukan diterima atau ditolak. Variabel Bebas ( Pajak Daerah ) Dari hasil olah data diketahui t hitung sebesar 5. sehingga t hitung >t tabel. Pengujian Hipotesis 1.

021 5.43 apabila df = 45 dan tingkat signifikan 95 % atau ½  ( 5% ) = 2. Dimana kriteria untuk uji tes ini adalah Ho akan ditolak apabila t hitung > t tabel.021. Selanjutnya dapat digambarkan dalam bentuk gambar uji t atau t test sebagai berikut : Gambar 4.8 T test 1 ( pajak daerah ) Daerah penolakan Ho 2.5 % Daerah Penerimaan Ho 95% Daerah penolakan Ho 2. Sehingga dapat dinyatakan hipotesa alternatif (Ha) yang menyatakan variabel retribusi daerah mempunyai pengaruh terhadap Pendapatan Asli Daerah di Kabupaten Ponorogo diterima dan hipotesa nihil (Ho) ditolak. Variabel Bebas ( Retribusi Daerah ) Dari hasil olah data diketahui t hitung sebesar 6.5 % (uji dua arah) maka diperoleh t tabel sebesar 2.83 Pendapatan Asli Daerah di Kabupaten Ponorogo diterima dan hipotesa nihil (Ho) ditolak. Selanjutnya dapat digambarkan dalam bentuk gambar uji t atau t test sebagai berikut : .5 % -2.05 b.021 2. sehingga t hitung >t tabel.

dan Ho akan diterima apabila Fhitung < F tabel.23 sedangkan Fhitung sebesar 58.5 % Daerah Penerimaan Ho 95% Daerah penolakan Ho 2.021 6. Jadi dapat disimpulkan variabel bebas (pajak daerah dan retribusi daerah) secara serempak / bersama-sama mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel terikat (PAD) dapat diterima.84 Gambar 4.05 maka diketahui Ftabel sebesar 3. .021 2.43 2. Jadi dengan df = 45 dan tingkat signifikan  (5%) = 0.05 sehingga Fhitung > Ftabel.5 % -2.05. Dimana kriteria untuk uji tes ini adalah Ho akan ditolak apabila Fhitung > Ftabel. Dari olah data dapat diketahui nilai uji F sebesar 58. Uji F Uji F merupakan pengujian hipotesis yang diajukan untuk mengetahui seberapa jauh varibel bebas secara bersama-sama dapat mempengaruhi variabel terikat.9 T test 2 ( retribusi daerah ) Daerah penolakan Ho 2.

85 Gambar 4.10 F test Daerah penolakan Ho 5% Daerah Penerimaan Ho 95% 3.05 .23 58.

retribusi mempunyai jumlah total yang lebih besar dari pada jumlah pajak daerah. Kenyataan tersebut berbanding terbalik dengan hasil data yang diolah. Setelah melakukan wawancara dengan pegawai Kabupaten Ponorogo bagian pendapatan dan keuangan. Besarnya pengaruh retribusi daerah lebih kecil dari pada pengaruh pajak daerah. ini menandakan ada ketidakwajaran pada retribusi daerah. Meskipun keduanya sama-sama mempengaruhi pendapatan asli daerah. dimana dari data yang ada menunjukkan bahwa jumlah retribusi total yang besar menghasilkan pengaruh yang kecil terhadap pendapatan asli daerah. . dapat disimpulkan bahwa ketidakwajaran tersebut karena beberapa faktor yang mempengaruhi.86 BAB V PEMBAHASAN DAN HASIL PENELITIAN Dari hasil analisa pada bab IV. Pengaruh yang paling besar adalah pada retribusi rumah sakit daerah yang jumlah pendapatannya hanya dilaporkan kepada kantor Kabupaten Ponorogo sementara pengeluaran dan pemasukannya ditangani sendiri. akan tetapi terdapat hal yang menarik dimana dilihat dari jumlah antara pajak dan retribusi daerah. Rumah sakit umum hanya melakukan pelaporan ini dikatakan wajar karena rumah sakit merupakan bagian dari dinas daerah dan keuangan yang diperoleh bukan untuk dikumpulkan menjadi pendapatan daerah tetapi digunakan langsung untuk digunakan membiyai keperluan rumah sakit sendiri. dapat diperoleh kesimpulan bahwa pajak daerah dan retribusi daerah mempengaruhi peningkatan pendapatan asli daerah.

Pada waktu-waktu tertentu jumlah pendapatan retribusi bisa meningkat dan pada bulan tertentu akan turun. menjelang hari raya atau hari-hari besar lain. Berdasarkan paparan data kabupaten-kabupaten yang mempunyai retribusi daerah lebih besar dari pada pajak daerah merupakan kabupaten kecil. Inilah yang menyebabkan kecenderungan retribusi labil. sehingga apabila peraturan baru itu dibuat akan semakin memberatkan masyarakat untuk membayar retribusi. Berdasar hasil wawancara peraturan baru atau kebijakan baru jarang sekali dibuat. Hasil wawancara juga didapatkan bahwa kecenderungan ini tidak dipengaruhi oleh kebijakan-kebijakan atau peraturan-peraturan yang baru. Untuk retribusi pada bahan galian golongan C dipengaruhi oleh kualitas bahan galian. Kondisi tersebut dikarenakan kota-kota besar mempunyai jumlah objek pajak lebih banyak dan bervariasi. Seperti: musim liburan. Bahan galian golongan C semakin hari kualitas bahan semakin .87 Dilihat dari kecenderungannya. Dari hasil wawancara. retribusi yang diolah cenderung labil dimana terjadi kenaikan dan penurunan jumlah yang drastis. bahwa kecenderungan retribusi sangat dipengaruhi oleh keadaan ekonomi pada waktu-waktu tertentu. jumlah bisa sangat tinggi dan bisa sangat rendah. ini didasarkan pada lemahnya masyarakat untuk membayar retribusi yang dipungut. Hal tersebut selaras dengan fenomena yang ada yaitu kabupaten-kabupaten kecil mempunyai kecenderungan jumlah retribusi lebih besar dibandingkan dengan pajak daerah. Kabupaten Ponorogo mempunyai retribusi daerah lebih besar dari pada pajak daerah.

hotel-hotel di Kabupaten Ponorogo sangat ramai dan mempengaruhi pajak hotel dan pajak reklame. Ini berkebalikan dengan keinginan pemerintah daerah yang ingin menaikkan pendapatan asli daerah melalui pajak dan retribusi daerah tetapi tidak memberatkan masyarakat. . Baik pajak dan retribusi apabila prosentasi tarif pembayaran dinaikkan akan terbentur dengan SKPD (Surat Ketetapan Pajak Daerah). Pembayaran yang dilakukan wajib pajak dilakukan tidak tepat waktu. Keadaan-keadaan inilah yang menyebabkan jumlah pendapatan baik dari pajak daerah dan retribusi daerah cenderung tidak dapat konstan. juga akan memberatkan wajib pajak daerah dan masyarakat yang membayar retribusi daerah. juga beberapa pajak daerah dipengaruhi bulan-bulan tertentu. dan menyebabkan jumlah pendapatan dari pajak dan retribusi daerah tidak sama dimana kenaikan dan penurunannya sangat drastis. Pada bulan Muharam dimana Kabupaten Ponorogo ada festifal Reog Nasional yang menarik wisatawan nasional maupun mancanegara. Begitu pula kecenderungan pada pajak daerah kenaikkan dan penurunan dipengaruhi oleh kepatuhan wajib pajak dalam membayar pajak. Hambatan-hambatan yang dialami oleh para pegawai dalam menarik pajak daerah adalah: 1. Penurunan kualitas bahan bahan galian golongan C ini disebabkan semakin habis diambil.88 menurun. yang dipengaruhi oleh faktor-faktor diatas.

pajak hotel. . Bidang pendapatan dibagi menjadi tiga bagian: a. Upaya yang dilakukan oleh pegawai dengan menjemput konsumen masih kurang efektif karena kesadaran masyarakat masih kurang. b. Kasi Retribusi dan lain-lain. Masyarakat kurang patuh dalam membayar pajak daerah karena menganggap pajak daerah memberatkan mereka. Kurangnya tenaga penarikan pajak daerah menjadi hambatan untuk meningkatkan jumlah penerimaan pajak daerah. 3. Kasi Dana perimbangan. Hal tersebut selaras dengan pajak dalam Islam dapat dikenakan kepada wajib pajak.89 2. Pajak dapat juga dikenakan atas jual beli tanah. Pegawai yang melakukan penarikan pajak juga mengeluhkan sulitnya menarik pajak daerah. pajak parkir. pernyataan tersebut selaras dengan hadist dibawah ini. c. pajak ditarik atas dasar pengenaan terhadap subjek pajak. Seorang pemimpin dapat mewajibkan kepada rakyatnya untuk membayar pajak karena mempunyai kewengan untuk menarik pajak. Kasi Perencanaan dan pelaporan. Kurangnya kesadaran masyarakat dalam membayar pajak menjadi hambatan yang dialami oleh pemerintah daerah.

Tujuan dari adanya penarikan pajak harus diarahkan untuk kebaikan untuk masyarakat juga atas pengenaan pajak tersebut. dan menceritakan kepada kami Abu Al-Abas Al-Asham.38 Dari hadist dapat dijelaskan bahwa pajak dalam Islam dibolehkan. menceritakan kepada kami Yahya bin Adam.90 18868 Artinya: . menceritakan kepada kami Hasan bin Ali. bahwa Abdulah mau membayar pajak atas tanah yang telah dibelinya kepada kepala daerah. menceritakan kepada kami Nafas dari Mujalid dari Asyhabi dia berkata :“Abdullah telah membeli tanah perpajakan (tanah yang dikenai pajak) dari kepala daerah dan wajib supaya dia membayar pajaknya tanah itu”. Kepala daerah (pemerintah) mempunyai kekuasaan dan kewenangan untuk mewajibkan menarik pajak kepada masyarakat atas dasar pembiayaan anggaran yang dikeluarkan pemerintah. Untuk zaman sekarang pajak dapat ditarik oleh pemerintah kepada masyarakat merujuk dari hadist diatas. Hadist yang lain yang mengatur tentang pajak adalah: 38 Program maktabah syamilah . Dan telah menceritakan kepada kami Abu Said bin Abi Amrin. Artinya pajak telah berlaku pada zaman dahulu dan telah diterima oleh umat muslim pada waktu itu yang ditarik oleh kepala daerah.

Orang non muslim tidak dikenakan pajak dikarenakan tidak membayar membayar pajak tetapi wajib membayar denda. “Sesungguhnya ia (orang musyrik) adalah wajib mengeluarkan denda”. Dalam juga dijelaskan bahwa bagi orang non muslim tidak diwajibkan atas pajak tersebut apabila tinggal pada suatu kota (daerah).91 118 Artinya : Berkatalah Imam Syafi‟i dan Hadist yang diriwayatkan dari Nabi Muhammad SAW. Sistem pajak tersebut artinya tidak dibuat oleh 39 Program maktabah syamilah .39 Dalam hadist tersebut menerangkan bahwa umat muslim diwajibkan untuk membayar untuk membayar pajak. Hadist tersebut juga menerangkan bahwa pajak tersebut telah disetujui dan disepakati dengan membuat sistem pajak bumi yang dibuat oleh orangorang yang wira’i dan agama. Berkatalah Imam Syafi‟i “Sesungguhnya telah mencetus system pajak bumi adalah kaum yang mempunyai otoritas kewira‟ian dan agama tetapi ada juga yang tidak sependapat dengan alas an berhati-hati”. tetapi tidak diwajibkan bagi seseorang yang musyrik ketika dia ingin masuk ke Masjidil Haram”. Pajak tersebut dapat diartikan penarikan dari seorang pemimpin (pemerintah) yang ditujukan untuk umat. “Wajib bagi seorang muslim untuk membayar pajak.

kemudian adanya penggunaan tersebut membawa perubahan kearah perbaikan. Sebagai rakyat kita harus menaati peraturan-peraturan yang dibuat oleh pemimpin. 2. pendidikan. kesehatan. dan ulil amri di antara kamu. sebagai orang yang beriman kita wajib menaati selain kepada Allah dan RasulNya kita wajib menaati ulil amri (pemimpin). sarana prasarana umum dan sebagainya. salah satu peraturannya adalah pajak dan retribusi daerah. Al-Quran surat An-Nisa’ ayat 59: Artinya: 59. Pajak 40 Al-Quran Digital VER. taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya). Hai orang-orang yang beriman.92 sembarang orang tetapi dibuat dan disepakati oleh orang yang pandai agama dan yang wira’i. Selama tujuan yang dilakukan oleh pemimpin itu membawa ke arah kebaikan wajib kita taati. Pemimpin disini dapat diartikan pemimpin (pemerintahan) yang membawa kearah kebaikan dan kemaslahatan umat.0 . Diukur untuk kehidupan sekarang merupakan fasilitas tersebut sudah menjadi kebutuhan bukan hanya pelengkap saja.40 Maksud ayat diatas. Kemaslahan dapat diartikan sebagai kebaikan penggunaan dana hasil penarikan pajak untuk pembangunan. Tetapi ada ayat Al-Quran yang bisa dikaitkan dengan dengan pajak dan retribusi daerah dari pengertian diatas.

yang tujuan dari adanya pajak tersebut adalah untuk kemakmuran.93 dan retribusi daerah merupakan salah satu peraturan yang menarik iuran kepada rakyat. . kesejahteraan masyarakat dan tujuan adanya penarikan tersebut juga baik.

Hasil dari retribusi daerah berpengaruh terhadap peningkatan pendapatan asli daerah. Kesimpulan 1. Retribusi daerah mempunyai jumlah sumbangan paling besar terhadap pendapatan asli daerah. 2. hal ini akan menyebabkan peningkatan pendapatan asli daerah cukup besar. Walaupun pengaruhnya terhadap peningkatan pendapatan asli daerah lebih kecil tetapi peran retribusi daerah terhadap jumlah pendapatan asli daerah sanagat penting. A. karena peranan pajak daerah sangat penting untuk sumbangan keuangan daerah sehingga bisa digunakan untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran daerah.94 BAB VI PENUTUP Bagian ini menyajikan kesimpulan penelitian dan saran bagi peneliti lain untuk keperluan penelitian selanjutnya. Pajak daerah mempunyai pengaruh yang lebih besar dari pada retribusi daerah walaupun jumlahnya lebih sedikit dari retribusi daerah. Pada kasus pajak dan retribusi daerah di Kabupaten Ponorogo menunjukkan bahwa keduanya berpangaruh terhadap peningkatan . Sehingga pengaruhnya pajak daerah paling besar dibanding retribusi daerah. 3. Pengeluaran tersebut berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pajak daerah berpengaruh terhadap peningkatan pendapatan asli daerah.

Retribusi daerah mempunyai jumlah yang besar akan tetapi tingkat pengaruh lebih kecil dibanding pajak daerah. Ini menunjukkan bahwa keduanya sama-sama berperan untuk meningkatkan peningkatan pendapatan asli daerah. 2. Jumlah pendapatan dari pajak daerah dapat ditingkatkan dengan mengawasi penarikan yang lebih baik. Pajak daerah merupakan komponen yang berpengaruh terhadap peningkatan pendapatan asli daerah. Ini dilakukan untuk meningkatkan kualitas pelayanan yang menyangkut kesehatan yang diterima oleh masyarakat dari rumah sakit umum.95 pendapatan asli daerah. B. Walaupun pengaruhnya lebih kecil bukan berarti retribusi tidak penting. Prosentasi kenaikan tarif pajak daerah bukan merupakan solusi yang tepat untuk meningkatkan jumlah pendapatan karena kenaikan tarif pajak daerah akan memberatkan wajib pajak dan mematikan sektor ekonomi. Saran-saran Dari hasil analisa beberapa variabel diperoleh dari penelitian tersebut maka dapat disimpulkan : 1. jumlah pajak parkir sebetulnya sangat banyak tetapi kurang dimaksimalkan sehingga perolehan tidak dapat ditingkatkan. oleh karena itu pajak daerah harus terus ditingkatkan. sementara pemasukan dan pengeluaran di tangani sendiri. Hal ini dikarenakan rumah sakit umum hanya melakukan pelaporan kepada kantor Kabupaten Ponorogo saja. retribusi harus tetap ditingkatkan melalui penerimaan-penerimaannya . Contohnya pajak parkir.

96 karena retribusi tetap mempunyai pengaruh terhadap peningkatan pendapatan asli daerah. 3. Penambahan tenaga kerja ini dilakukan agar tidak memakan waktu yang banyak. hal ini dapat membantu penarikan yang datang langsung kepada wajib pajak dengan sistem door to door. Perbaikan sistem dan pengelolaan akan meminimalisir adanya korupsi. Peningkatan pajak dan retribusi daerah dapat dilakukan dengan menambah jumlah tenaga kerja. mengingat jangkauan wilayah yang sangat luas. perbaikan sistem dan pengelolaan diharapkan akan mampu menambah jumlah pajak dan retribusi daerah. Pajak dan retribusi daerah secara bersama-sama berpengaruh. Pajak dan retribusi dapat ditingkatakan dengan memperbaiki sistem penarikan dan pengelolaan. . oleh karena itu pajak dan retribusi daerah harus ditingkatkan.

Widhi Ardiasyah. Gregory. Widarjono. Yogyakarta.2009. Jakarta: Erlangga Gujarati. Metodologi Penelitian Ekonomi. Tjahjono. E. Yogyakarta: BPFE. 2003. Achmad dan Muhammad F. N. Agus. Damodar. 2004. Sripsi. Indra. Karl dan Ray C. Anggraeni. Metodologi Penelitian. Fair. Skripsi Universitas Negeri Malang. Jakarta: Erlangga. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia. 2003. Jamli. 1993. Perpajakan.1997. 2004. 2006. Jakarta: Salemba Empat. Perpajakan. Analisis Kontribusi Pajak Hotel Dan Restoran Terhadap Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Purworejo Tahun 19892003. . Ekonometrika Dasar.DAFTAR PUSTAKA Arief. Case. Teori Ekonomi Makro. Yogyakarta: Ekonosia. Husain. Pengantar Ekonomi Makro. 2002.2005. Sukandarrumidi. Prinsip-Prinsip Ekonomi. 1996. Rima. Ekonometrika. Sritua. Mankiw. Yogyakarta: Andi Yogyakarta. Ahmad. Anaisis Penerimaan Pajak Daerah dalam Peningkatan Pendapatan Asli Daerah dan Kesejahteraan Hidup Masyarakat Kota Malang. Mardiasmo. Yogyakarta: Akademi Manajemen Perusahaan YKPN. Jakarta:UI-Press.

13601E+19 4.361339E+19 Analysis of Variance Source Regression Residual Error Total DF 2 45 47 R-Sq(pred) = 66.52446E+17 F 58.05 P 0.8% PRESS = 1.53% SS 2.000 .Lampiran 1 Regression Analysis: PAD versus PD.1357 T 0.43 P 0.46551E+19 2.8725 SE Coef 276771175 0.69E+08 + 1.000 S = 502440393 R-Sq = 72.90 PD + 0.336 0.93102E+19 1.3756 0.05 6.873 RD Predictor Constant PD RD Coef 269413551 1.8974 0. RD The regression equation is PAD = 2.000 0.06703E+19 MS 1.1% R-Sq(adj) = 70.97 5.

Lampiran 3 Realisasi Pajak Daerah Kabupaten Ponorogo
no Jenis Pendapatan Pajak Hotel Pajak Restoran Pajak Hiburan Pajak Reklame Pajak Penerangan Jalan Pajak Pengambila n & Peng. C Pajak Parkir Target s/d Bulan lalu 1 2 3 4 5 71.280.000 638.500.000 126.300.000 484.000.000 45.240.000 573.165.118,5 64.396.500 508.061.775 Realisasi Bulan ini 2.500.000 91.542.700 2.775.000 22.264.300 s/d Bulan ini 47.740.000 664.707.818.5 67.171.500 530.326.075 66,98 104,1 53.18 109,57 23.540.000 (26.207.818,5) 59.128.500 (46.326.075) % Sisa

7.500.000.000

7.231.165.146

784.776.965

8.015.942.111

106.88

(515.542.111)

6

132.000.000 20.000.000

88.371.463 11.724.000.

23.383.175 626.500

111.754.638 12.350.500

84.66 61.75

20.245.362 7.649.500

7

Lampiran 4 Realisasi Retribusi Daerah Kabupaten Ponorogo, no Jenis Pendapatan Target s/d Bulan lalu 1 2 3 4 5 6 7 8 R.Pelayanan Kesehatan R.Pelayanan Sampah/ Kebersihan R.Biaya Cetak KTP dan Akte CAPIL R.Pelayanan Pemakaman dan Pengabuan Mayat R.Parkir ditepi Jalan Umum R. Pasar R.Pengujian Kendaraan Bermotor R.Pemakaian Kekayaan Daerah 20.252.760.000 250.700.000 2.288.470.000 36.000 500.0000.000 1.480.122.900 370.000.000 1.772.876.570 17.687.409.878,46 168.620.978,57 1.479.780.000 115.000 265.879.400 1.279.771.190 331.738.000 1.002.825.004 Realisasi Bulan ini 1.359.941.767,17 7.333.000 150.548.500 0 19.976.000 136.975.450 39.056.000 20.832.300 s/d Bulan ini 19.047.351.645,63 175.953.978,57 1.630.328.500 115.000 285.855.400 1.416.746.640 370.794.000 1.023.657.304 94.05 70.19 71.24 319.44 57.17 95.72 100.21 57.74 1.205.403.354,37 74.746.021,43 658.141.5000 79.000 214.144.600 63.376.260 794.000.000 749.219.266 % Sisa

9

R. Pasar Grosir/ Pertokoan

61.000.000 260.000.000 92.640.000 16.200.000 30.000.000 45.000.000

59.479.350 176.459.000 140.582.999,99 11.500.000 23.750.000 36.117.000

4.285.550 17.940.000 14.260.333,33 1.200.000 2.070.000 4.355.000

63.764.900 194.399.000 154.843.333,33 12.700.000 25.820.000 40.472.000

104.53 74.77 167.15 78.40 86.07 89.94

2.764.9000 65.601.000 62.203.333,33 3.500.000 4.180.000 4.528.000

10 R.Terminal 11 R.Tempat Khusus Parkir

12 R.Tempat Penginapan/ Pesanggrahan 13 R.Penyediaan/ Penyedotan Kakus 14 R.Jasa Usaha Rumah Potong Hewan 15 R.Tempat Rekreasi dan Olahraga

173.500.000

206.450.000 30.600.577 93.221.100 411.302.550

15.200.000 12.000.000 1.149.000 33.738.800

221.650.000 42.600.577 94.370.100 445.041.350

127.75 22.30 90.96 61.34

48.150.000 148.461.423 9.379.900 280.494.650

16 R. Penjualan Usaha Daerah 191.062.000 17 R.Izin Peruntukan Penggunaan Tanah 18 R.Perizinan Tertentu 103.750.000 725.536.000

233.994.50 2.033.11 530.110.615.319.60 3.75 1.346.046.414.423.185.118.724.057 1.877.044.840.53 483.232.348.380.490.09 2006 Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober .167.817.374.241.53 2.424.449.16 487.321.012.32 479.033.887.290 467.052.32 443.210 1.678.782.859.213.42 497.728.337.16 530.655.307.25 957.646.136.124.05 498.378.376.990.385.334.847.256.784.078.976.42 1.405.551.634.704.47 522.153.214.05 1.10 2.343.604.387 1.307 1.949.42 2.494.267.711.938 1.855.920.502.812.962.55 2.341.063.694.280.322.761.438.58 1.102.774.046.075 865.074.925.009.377.154.044.98 2.37 759.062.25 2.674.614.262.156 1.131.910 34.84 87.253.86 1.227.971.79 2.695 1.75 2.856.417.58 2.154.31 3.433.Lampiran 5 Jumlah Pajak Daerah.49 2.652.103.04 3.999.905.678.007.865.282.644.692.156.819 473.685.129.36 2.219. Retribusi Daerah dan Pendapatan Asli Daerah Pendapatan Asli Daerah 2.384.815.84 521.74 488.075.454 553.443.757.86 2.776.990.122.648.391 1.128.51 1.060.98 2.040.865.467.563.434 1.315.706.715.75 1.752.540 2.67 2.393.16 2.541.609.89 507.340.32 417.276.031.790.502.946.348.733.067.401.729.20 3.623.817.17 1.70 3.086.672.512.650.28 2.480.037.65 2.479.100.47 3.468.397.513.74 No Tahun Bulan Pajak Daerah Retribusi Daerah 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 2005 Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember 489.53 503.425.897.675.

828.85 1.609.989.906.962 810.495.030.181.688.658.981.018.11 2.780.479.514.17 1.75 1.411.48 869.69 3.691.851.170.669.763.668 815.601 757.537.954.70 2.47 559.50 4.88 2.436.332.346 739.977.033.232.152 1.697.999.432.266.713.247.205.76 1.211.439.04 3.438.314.081.16 4.62 4.35 6.380.756.834.415.27 3.298.799 743.26 3.20 1.233.773.749.91 4.082.448.971.23 2.228.032.024.67 3.727.806.870.480.207.204.652.35 3.340.286.146.088.147.230.901.179.08 5.325.185 922.848.850 2.413.808.452.83 1.482 698.377.478.350.304.822.255.685.884.35 .421.97 2.79 606.22 1.266 703.40 3.706.75 1.050.604.328.16 678.707.356.115.073.08 3.611.466.957.04 2.28 3.994 1.875.812.289.498.891.740.662.651.825.314.55 4.825.797.459.303.50 2.089.396.28 2.53 745.92 3.189 776.296.961.11 1.329.205.12 2.23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 November Desember 2007 Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember 2008 Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember 956.957.659.95 1.724.62 2.502 992.737.443.419.81 3.21 578.78 3.023.823.627.323.146 894.705.767.628.193.934.939.648.551.548.310.989.059.24 1.857.389.654.039 715.070.868.718.838.885.203.647.70 3.195.90 4.190 718.445.686.959.061.122.337.265.934.882.648.245.994.33 2.22 2.491.650.882.658.017.40 3.164.872.692 825.922.743.888.415.615.084.181.437.840.940 686.135.416.881.105 1.018 749.370.80 3.638.552.758.424 785.987.261.79 757.533.013.65 2.772.67 1.181.924.33 1.

M.II. Revisi Bab I.Si. Tanda Tangan Dosen Pembimbing NO 1 2 3 4 5 6 7 8 Tanggal/ Bulan 10 Januari 2010 15 Januari 2010 18 Januari 2010 20 Januari 2010 22 Januari 2010 05 April 2010 07 April 2010 08 April 2010 .III Revisi Bab III & IV Revisi Bab IV Revisi Bab IV Revisi Bab V dan VI Acc Keseluruhan 7. 3.Lampiran 6 DEPARTEMEN AGAMA UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG Jalan Gajayana 50 Malang Telepon (0341) 551354 Fax (0341) 572533 BUKTI KONSULTASI Nama NIM Jurusan Fakultas Judul Skripsi : Septian Dwi Kurniawan : 06130017 : Pendidikan IPS (Program Studi Pendidikan Ekonomi) : Tarbiyah : Pengaruh Penerimaan Pajak dan Retribusi Daerah Terhadap Peningkatan Pendapatan Asli Daerah di Kabupaten Ponorogo : Dr. Abdul Bashith. 5.H. 2. 4. 6.Pd. S.III Revisi Bab I.II.. 8.. Materi Bab I Revisi Perumusan Masalah 1.

Dekan Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Dr. 28 April 2010 Mengetahui. H.Malang. Zainuddin. M. 196205071995031001 . MA NIP.

SLTP Negeri 1 Jetis. MA Negeri 2 Ponorogo 5. KH. Jetis. Ponorogo 2. 27 September 1987 : Jl. Kabupaten Ponorogo. Kecamatan Jetis. SD Negeri 2 Wonoketro.Lampiran 7 DAFTAR RIWAYAT HIDUP Nama Tempat dan Tanggal Lahir Alamat : Septian Dwi Kurniawan : Ponorogo. Ponorogo 4. S1 Pendidikan IPS (Program Studi Ekonomi) . TK Jintap. Ponorogo 3. : Indarwijanto : Lulus Tahun 1994 Lulus Tahun 2000 Lulus Tahun 2003 Lulus Tahun 2006 sampai sekarang Nama Orang Tua/ Wali Riwayat Pendidikan 1. Taptojani No:4 RT/RW 01/01 Desa Wonoketro.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.