Anda di halaman 1dari 31

Diagram Fasa/diagram

Diagram

Fasa/diagram kesetimbangan

kesetimbangan fasa

fasa

(Equilibrium

(Equilibrium phase

phase diagram)

diagram)

Pada Pada umumnya umumnya logam logam tidak tidak berdiri berdiri sendiri sendiri atau atau keadaan keadaan murni, murni,

tetapi tetapi lebih lebih banyak banyak dalam dalam keadaan keadaan dipadu dipadu atau atau logam logam paduan paduan

dengan dengan kandungan kandungan unsur-unsur unsur-unsur tertentu tertentu sehingga sehingga struktur struktur yang yang

terdapat terdapat dalam dalam keadaan keadaan setimbang setimbang pada pada temperatur temperatur dan dan tekanan tekanan

tertentu tertentu akan akan berlainan. berlainan.

Kombinasi Kombinasi dua dua unsur unsur atau atau lebih lebih yang yang membentuk membentuk paduan paduan logam logam

akan akan menghasilkan menghasilkan sifat sifat yang yang berbeda berbeda dari dari logam logam asalnya. asalnya.

Tujuan Tujuan pemaduan pemaduan == untuk untuk memperbaiki memperbaiki sifat sifat logam logam

Sifat

Sifat

yang

yang

diperbaiki

diperbaiki

adalah

adalah

kekuatan,

kekuatan,

keuletan,

keuletan,

kekerasan,

kekerasan,

ketahanan korosi,

ketahanan

Diagram Fasa/diagram Diagram Fasa/diagram kesetimbangan kesetimbangan fasa fasa (Equilibrium (Equilibrium phase phase diagram) diagram) Pada Pada
Diagram Fasa/diagram Diagram Fasa/diagram kesetimbangan kesetimbangan fasa fasa (Equilibrium (Equilibrium phase phase diagram) diagram) Pada Pada
Diagram Fasa/diagram Diagram Fasa/diagram kesetimbangan kesetimbangan fasa fasa (Equilibrium (Equilibrium phase phase diagram) diagram) Pada Pada

korosi, ketahanan

Diagram Fasa/diagram Diagram Fasa/diagram kesetimbangan kesetimbangan fasa fasa (Equilibrium (Equilibrium phase phase diagram) diagram) Pada Pada

ketahanan aus,

aus, ketahanan

ketahanan lelah,

lelah, dll.

dll.

Diagram Fasa/diagram Diagram Fasa/diagram kesetimbangan kesetimbangan fasa fasa (Equilibrium (Equilibrium phase phase diagram) diagram) Pada Pada

Fasa Fasa pada pada suatu suatu material material didasarkan didasarkan atas atas daerah daerah yang yang berbeda berbeda

dalam dalam struktur struktur atau atau komposisi komposisi dari dari daerah daerah lainnya. lainnya.

Fasa == bagian

Fasa

bagian homogen

homogen dari

dari suatu

suatu sistem

sistem yang

yang memiliki

memiliki sifat

sifat fisik

fisik

dan kimia

dan

kimia yang

yang seragam.

seragam.

Untuk Untuk mempelajari mempelajari paduan paduan dibuatlah dibuatlah kurva kurva yang yang menghubungkan menghubungkan

antara antara fasa, fasa, komposisi komposisi dan dan temperatur. temperatur.

Diagram Diagram fasa fasa adalah adalah suatu suatu grafik grafik yang yang merupakan merupakan representasi representasi

tentang tentang fasa-fasa fasa-fasa yang yang ada ada dalam dalam suatu suatu material material pada pada variasi variasi

temperatur, temperatur, tekanan tekanan dan dan komposisi. komposisi.

Pada Pada umumnya umumnya diagram diagram fasa fasa dibangun dibangun pada pada keadaan keadaan

kesetimbangan kesetimbangan (kondisinya (kondisinya adalah adalah pendinginan pendinginan yang yang sangat sangat

lambat). lambat). Diagram Diagram ini ini dipakai dipakai untuk untuk mengetahui mengetahui dan dan memprediksi memprediksi

Fasa Fasa pada pada suatu suatu material material didasarkan didasarkan atas atas daerah daerah yang yang
Fasa Fasa pada pada suatu suatu material material didasarkan didasarkan atas atas daerah daerah yang yang
sifat material. material.
sifat material.
material.

terhadap sifat

Fasa Fasa pada pada suatu suatu material material didasarkan didasarkan atas atas daerah daerah yang yang

banyak aspek

banyak

aspek terhadap

Informasi penting

Informasi

penting yang

yang dapat

dapat diperoleh

diperoleh dari

dari diagram

diagram fasa

fasa adalah:

adalah:

  • 1. 1. Memperlihatkan

Memperlihatkan

fasa-fasa

fasa-fasa

yang

yang

terjadi

terjadi

pada

pada

perbedaan

perbedaan

komposisi komposisi dan dan temperatur temperatur dibawah dibawah kondisi kondisi pendinginan pendinginan yang yang

sangat sangat lambat. lambat.

  • 2. 2. Mengindikasikan

Mengindikasikan kesetimbangan

kesetimbangan kelarutan

kelarutan padat

padat satu

satu unsur

unsur atau

atau

senyawa senyawa pada pada unsur unsur lain. lain.

3. Mengindikasikan pengaruh temperatur dimana suatu paduan

dibawah kondisi kesetimbangan mulai membeku dan pada

rentang temperatur tertentu pembekuan terjadi.

4. Mengindikasikan temperatur dimana perbedaan fasa-fasa

mulai

mencair.

Jenis

Jenis pemaduan:

pemaduan:

1. 1. Unsur Unsur logam logam ++ unsur unsur logam logam Contoh: Contoh: CuCu ++ Zn;
1.
1. Unsur
Unsur logam
logam ++ unsur
unsur logam
logam
Contoh:
Contoh: CuCu ++ Zn;
Zn; CuCu ++ Al;
Al; CuCu ++ Sn.
Sn.
22
Unsur
Un
r lol
n lol

Contoh-contoh pemaduan:

Alcohol Water Oil Water Solution Sugar Saturated Syrup Water Excess Sugar
Alcohol
Water
Oil
Water
Solution
Sugar
Saturated Syrup
Water
Excess Sugar

Pemaduan terjadi akibat adanya

susunan atom sejenis ataupun ada

distribusi atom yang lain pada

susunan atom lainnya.

Jika ditinjau dari posisi atom-atom

Cu

yang larut, diperoleh dua jenis

larutan padat:

1. Larutan padat substitusi

Adanya

atom-atom

terlarut

yang

menempati kedudukan atom-atom

pelarut.

Fe

2. Larutan padat interstisi

Adanya atom-atom terlarut yang

Pemaduan terjadi akibat adanya susunan atom sejenis ataupun ada distribusi atom yang lain pada susunan atom
Pemaduan terjadi akibat adanya susunan atom sejenis ataupun ada distribusi atom yang lain pada susunan atom
Pemaduan terjadi akibat adanya susunan atom sejenis ataupun ada distribusi atom yang lain pada susunan atom
Pemaduan terjadi akibat adanya susunan atom sejenis ataupun ada distribusi atom yang lain pada susunan atom
Pemaduan terjadi akibat adanya susunan atom sejenis ataupun ada distribusi atom yang lain pada susunan atom

menempati rongga-rongga diantara

kedudukan atom/sela antara.

Ni

C

Untuk mengetahui kelarutan padat suatu unsur dalam unsur lainnya,

Hume-Rothery mensyaratkan sebagai berikut:

1. Yang mempengaruhi terbentuknya jenis

kelarutan

ditentukan

oleh faktor geometri (diameter atom dan bentuk sel satuan).

Jenis kelarutan:

•A + B

Untuk mengetahui kelarutan padat suatu unsur dalam unsur lainnya, Hume-Rothery mensyaratkan sebagai berikut: 1. Yang mempengaruhi

C (sel satuan sama)

(kelarutan yang tersusun disebut kelarutan sempurna)

Dimana sifat C π sifat A atau B

•Jika A dan B memiliki sel satuan yang berbeda

a. A + B

Untuk mengetahui kelarutan padat suatu unsur dalam unsur lainnya, Hume-Rothery mensyaratkan sebagai berikut: 1. Yang mempengaruhi

A’ (dimana A yang dominan)

Untuk mengetahui kelarutan padat suatu unsur dalam unsur lainnya, Hume-Rothery mensyaratkan sebagai berikut: 1. Yang mempengaruhi

B’ (dimana B dominan)

kelarutan yang tersusun disebut larut sebagian

Untuk mengetahui kelarutan padat suatu unsur dalam unsur lainnya, Hume-Rothery mensyaratkan sebagai berikut: 1. Yang mempengaruhi
Untuk mengetahui kelarutan padat suatu unsur dalam unsur lainnya, Hume-Rothery mensyaratkan sebagai berikut: 1. Yang mempengaruhi
Untuk mengetahui kelarutan padat suatu unsur dalam unsur lainnya, Hume-Rothery mensyaratkan sebagai berikut: 1. Yang mempengaruhi
A + B (tidak larut)
A + B (tidak larut)
Untuk mengetahui kelarutan padat suatu unsur dalam unsur lainnya, Hume-Rothery mensyaratkan sebagai berikut: 1. Yang mempengaruhi

b. A + B

2. Larut

diameter

atom.

padat

substitusi/interstisi

ditentukan

oleh

faktor

Jika perbedaan diameter atom yang larut dibandingkan atom pelarut

lebih kecil dari 15%, maka kelarutan yang terjadi adalah larutan

padat substitusi.

Jika perbedaan diameter atom yang larut dibandingkan atom pelarut

lebih besar dari 15%, maka kelarutan yang terjadi adalah larutan

padat interstisi.

3. Suatu hasil percampuran harus stabil

Stabilitas dari paduan dijamin oleh keelektronegatifan dan

keelektropositifan, makin besar perbedaan keelektronegatifan dan

2. Larut diameter atom. padat substitusi/interstisi ditentukan oleh faktor Jika perbedaan diameter atom yang larut dibandingkan

keelektropositifan

makin stabil, tetapi kalau terlalu besar

perbedaannya yang terjadi bukan larutan melainkan senyawa

2. Larut diameter atom. padat substitusi/interstisi ditentukan oleh faktor Jika perbedaan diameter atom yang larut dibandingkan

(compound)

2. Larut diameter atom. padat substitusi/interstisi ditentukan oleh faktor Jika perbedaan diameter atom yang larut dibandingkan
2. Larut diameter atom. padat substitusi/interstisi ditentukan oleh faktor Jika perbedaan diameter atom yang larut dibandingkan

Pembentukan diagram fasa

Pembentukan diagram fasa Konstruksi pembentukan diagram Hubungan antara temperatur, fasa komposisi diplot untuk mengetahui perubahan fasa
Konstruksi pembentukan diagram Hubungan antara temperatur, fasa komposisi diplot untuk mengetahui perubahan fasa yang terjadi. Dengan
Konstruksi
pembentukan
diagram
Hubungan antara temperatur,
fasa
komposisi diplot untuk mengetahui
perubahan fasa yang terjadi.
Dengan memvariasikan komposisi
dari kedua unsur (0∏100%) dan
kemudian dipanaskan hingga mencair
setelah itu didinginkan dengan lambat
(diukur oleh dilatometer/kalorimeter),
maka akan diperoleh kurva
pendinginan (gambar a.). Perubahan
komposisi akan merubah pola dari
kurva pendinginan, titik-titik A, L 1 , L 2 ,
L 3 dan C merupakan awal terjadinya
pembekuan dan B, S 1 , S 2 , S 3 dan D
merupakan akhir pembekuan. Gambar
b. diagram kesetimbangan fasa Cu-Ni.
Garis liquidus = menunjukkan temperatur terendah dimana logam dalam keadaan cair atau temperatur dimana awal terjadinya

Garis liquidus = menunjukkan temperatur terendah dimana logam

dalam keadaan cair atau temperatur dimana awal terjadinya

pembekuan dari kondisi cair akibat proses pendinginan.

Garis solidus = menunjukkan temperatur tertinggi suatu logam

dalam keadaan padat atau temperatur terendah dimana masih

terdapat fasa cair.

Garis liquidus = menunjukkan temperatur terendah dimana logam dalam keadaan cair atau temperatur dimana awal terjadinya
Garis liquidus = menunjukkan temperatur terendah dimana logam dalam keadaan cair atau temperatur dimana awal terjadinya
Garis liquidus = menunjukkan temperatur terendah dimana logam dalam keadaan cair atau temperatur dimana awal terjadinya
Garis liquidus = menunjukkan temperatur terendah dimana logam dalam keadaan cair atau temperatur dimana awal terjadinya

Selain garis-garis tersebut titik-titik kritis dari keadaan cair dan

padat, juga menyatakan batas kelarutan maksimum unsur terlarut

didalam pelarutnya (maximum solubility limit).

The solubility of sugar (C 12 H 22 O 11 ) in a sugar-water syrup.
The solubility of sugar (C 12 H 22 O 11 ) in a sugar-water syrup.

The Solubility Limit

• Example:

Phase Diagram of Water-

Sugar System

Question: What is the

solubility limit at 20°C?

100 Solubility L 80 Limit (liquid) 60 L + S 40 (liquid solution i.e., syrup) (solid
100
Solubility
L
80
Limit
(liquid)
60
L
+
S
40
(liquid solution
i.e., syrup)
(solid
20
sugar)
0
20
40
60 65
80
100
C o =Composition (wt% sugar)
Temperature (°C)
Pure
Water
Pure
Sugar

Answer: 65wt% sugar

If C o < 65wt% sugar:

If C o > 65wt% sugar:

syrup syrup + sugar

• Solubility limit increases with T:

The Solubility Limit • Example: Phase Diagram of Water- Sugar System Question: What is the solubility
The Solubility Limit • Example: Phase Diagram of Water- Sugar System Question: What is the solubility
The Solubility Limit • Example: Phase Diagram of Water- Sugar System Question: What is the solubility
The Solubility Limit • Example: Phase Diagram of Water- Sugar System Question: What is the solubility

e.g., if T = 100°C, solubility limit = 80wt% sugar

The Solubility Limit • Example: Phase Diagram of Water- Sugar System Question: What is the solubility

Effect of Temperature and Composition

• Changing T can change number of phases: path A to B

• Changing C o can change number of phases: path B to D

B(100,70)

D(100,90)

1 phase 2 phases 100 L 80 (liquid) • water- + 60 sugar L S system
1 phase
2 phases
100
L
80
(liquid)
• water-
+
60
sugar
L
S
system
40
(liquid solution
i.e., syrup)
(solid
sugar)
20
A(70,20)
2 phases
0
0
20
40
60 70 80
100
C o =Composition (wt% sugar)
Temperature (°C)

Cooling Curve for Pure Metal

(a)

Cooling Curve for Pure Metal (a) FIG. 3-50 (1) Heat pure point b b , ,

FIG.

FIG. 3-50

3-50 (1)

(1) Heat

Heat pure

point

point bb,, pure

pure metal

metal starts

completely solid;

completely

solid; curve

pure metal

metal toto point

point TT aa ;; (2)

(2) cooling

cooling ofof liquid

liquid metal

metal aa bb;; (3)

(3) at

at

starts toto precipitate

precipitate out

out ofof solution;

solution; (4)

(4) point

point cc,, pure

pure metal

metal

curve from

from bb toto cc straight

straight horizontal

horizontal line

line showing

showing constant

constant

T T temperature cooling more of of solid
T T temperature cooling more of of solid
T T temperature cooling more of of solid

temperature TT b-c b-c

temperature

T T temperature cooling more of of solid

more cooling

more

cooling ofof solid

thermal because energy from absorbed c c to to d d and in in change

because thermal

because

thermal energy

metal from

energy absorbed

from cc toto dd and

thermal because energy from absorbed c c to to d d and in in change

absorbed inin change

thermal because energy from absorbed c c to to d d and in in change

change from

thermal because energy from absorbed c c to to d d and in in change

from liquid

liquid toto solid;

solid; (5)

(5)

solid pure

pure metal

and temperature

temperature begins

Cooling Curve for Pure Iron

(b)

Cooling Curve for Pure Iron (b) FIG. FIG. 3-50 3-50 (b) (b) Cooling Cooling curve curve
FIG. FIG. 3-50 3-50 (b) (b) Cooling Cooling curve curve for for pure pure iron. iron.
FIG.
FIG. 3-50
3-50 (b)
(b) Cooling
Cooling curve
curve for
for pure
pure iron.
iron.

Allotropic Forms of Iron

Allotropic Forms of Iron FIG. FIG. 3-54 3-54 Allotropic Allotropic forms forms ofof iron iron (three
Allotropic Forms of Iron FIG. FIG. 3-54 3-54 Allotropic Allotropic forms forms ofof iron iron (three
Allotropic Forms of Iron FIG. FIG. 3-54 3-54 Allotropic Allotropic forms forms ofof iron iron (three
FIG. FIG. 3-54 3-54 Allotropic Allotropic forms forms ofof iron iron (three (three phases: phases: bcc,
FIG.
FIG. 3-54
3-54
Allotropic
Allotropic forms
forms ofof iron
iron (three
(three phases:
phases: bcc,

Cooling Curve for a Metal Alloy

(c) FIG. FIG. 3-50 3-50 (c) (c) Cooling Cooling curve curve for for aa metal metal
(c)
FIG.
FIG. 3-50
3-50 (c)
(c) Cooling
Cooling curve
curve for
for aa metal
metal alloy:
alloy: (1)
(1) The
The alloy
alloy A-B
A-B heated
heated toto point
point aa
(liquid
(liquid phase,
phase, with
with both
both metals
metals soluble
soluble inin each
each other);
other); (2)
(2) cooling
cooling ofof alloy
alloy inin liquid
liquid
phase;
phase; (3)
(3) point
point bb,, solidification
solidification begins;
begins; (4)
(4) point
point cc,, solidification
solidification complete;
complete; sloped
sloped
bb –– cc
due
due toto changing
changing from
from liquid
liquid toto solid
solid over
over the
the temperature
temperature
range
range TT bb toto TT cc
because
because components
components AA and
and BB have
have different
different melting/cooling
melting/cooling temperatures;
temperatures; (5)
(5)
further
further cooling
cooling from
from cc toto dd ofof solid-state
solid-state metal
metal alloy.
alloy.

Klasifikasi Diagram Kesetimbangan Fasa

1. Larut sempurna dalam keadaan cair dan padat.

  • 2. Larut sempurna dalam keadaan cair, tidak larut dalam keadaan padat (reaksi eutektik).

  • 3. Larut sempurna dalam keadaan cair, larut sebagian dalam keadaan padat (reaksi eutektik).

  • 4. Larut sempurna dalam keadaan cair, larut sebagian dalam keadaan padat (reaksi peritektik).

  • 5. Larut sempurna dalam keadaan cair, tidak larut dalam keadaan padat dan membentuk senyawa.

  • 6. Larut sebagian dalam keadaan cair (reaksi monotektik).

1. Larut sempurna dalam keadaan cair dan padat

Biasa disebut binary isomorphous alloy systems, kedua unsur

yang dipadukan larut sempurna dalam keadaan cair maupun padat.

Pada sistem ini hanya ada satu struktur kristal yang berlaku untuk

semua komposisi, syarat yang berlaku adalah:

  • a. Struktur kristal kedua unsur harus sama.

  • b. Perbedaan ukuran atom kedua unsur tidak boleh lebih dari 15%.

  • c. Unsur-unsur tidak boleh membentuk senyawa.

  • d. Unsur-unsur harus mempunyai valensi yang sama.

Contoh klasik untuk jenis diagram fasa ini adalah diagram fasa

1. Larut sempurna dalam keadaan cair dan padat Biasa disebut binary isomorphous alloy systems , kedua

Cu-Ni.

1. Larut sempurna dalam keadaan cair dan padat Biasa disebut binary isomorphous alloy systems , kedua
• T(°C) 2 phases: – • 2 phase L (liquid) 1600 – (FCC solid solution) L
T(°C)
2 phases:
• 2 phase
L
(liquid)
1600
(FCC solid solution)
L
(liqu
1500
L (liquid)
2 lines (phase boundaries):
(FCC
– The liquidus line (L/L+ )
1400
• 3 phase
The solidus line ( /L+ )
3 phase fields:
L
1300
L
L
+
L +
1200
1100
(FCC solid
solution)
liquidus
1000
L
+
0
20
40
60
80
100
wt% Ni
solidus

Rules of Determining Number & Types of Phases (The lever arm rule/Aturan kaidah lengan)

• aturan 1: jika diketahui T dan C o (komposisi), maka

– akan diketahui jumlah dan jenis fasa

T(°C)

Lihat gambar disamping 1600 L (liquid) 1500 • contoh: 1400 A (1100°C, 60wt% Ni): 1300 1
Lihat gambar disamping
1600
L (liquid)
1500
• contoh:
1400
A (1100°C, 60wt% Ni):
1300
1 phase:
(FCC solid
1200
solution)
B (1250°C, 35wt% Ni):
2 phases: L +
1100
A(1100,60)
1000
0
20
40
60
100 wt% Ni
liquidus
L
+
solidus
B(1250,35)

Aturan kaidah lengan/the lever arm rule

Untuk menghitung persentase

fasa-fasa yang ada pada komposisi

tertentu, digunakan metoda kaidah

lengan.

x adalah komposisi paduan yang

akan dihitung persentase fasa-

fasanya pada temperatur T, maka

tarik garis yang memotong batas

kelarutannya (garis L-S).

Jika x = w o ; L = w l dan S = w s

maka % fasa cair dan padat :

L =

w w

s

o

x100% S =

w w

o

l

x100%

Aturan kaidah lengan/the lever arm rule Untuk menghitung persentase fasa-fasa yang ada pada komposisi tertentu, digunakan
l
l

w w

Aturan kaidah lengan/the lever arm rule Untuk menghitung persentase fasa-fasa yang ada pada komposisi tertentu, digunakan

s

w w s
w w
s

• aturan 2: jika diketahui T dan C o , maka

– akan diketahui komposisi dari fasa T(°C) 1600 L (liquid) 1500 1400 • contoh: C 0
– akan diketahui komposisi dari fasa
T(°C)
1600
L (liquid)
1500
1400
• contoh: C 0 = 35 wt%Ni
1300
(FCC solid
1200
solution)
At T A :
1100
A(1100,60)
Only Liquid (L)
1000
0
20
40
60
80
100 wt% Ni
C L = C 0 = 35 wt%Ni
T(°C)
A
T A
tie line
At T D :
L (liquid)
1300
Only Solid ( )
B
= C 0 = 35 wt%Ni
C
T B
At T B :
(solid)
1200
D
T D
Both
and L
C L = C Liquidus = 32 wt%Ni
20
30
3235
40
43
50
C
C L C o
wt% Ni
C = C Solidus = 43 wt%Ni
liquidus
L
+
solidus
liquidus
L
+
L
+
solidus
B(1250,35)

w l (32%)

w o (35%)

w s (43%)

43 35 35 32 L = x 100% S = x 100% L = 72,7% 43
43
35
35
32
L
=
x 100%
S
=
x 100%
L = 72,7%
43
32
S = 27,3%
43
32

Contoh lain: pada w o = 53% Ni

w (32%) w (35%) w (43%) 43 35 35 32 L = x 100% S =

% fasa cair dan padat:

w l (45%)

w o (53%)

w s (58%)

58 53 53 45 L = x 100% S = x 100% L = 38% 58
58
53
53
45
L
=
x 100%
S
=
x 100%
L = 38%
58
45
S = 62%
58
45

Example: Determine

Example:

Determine the

the phase(s)

phase(s) that

that are

are present

present

and the

and

the composition

composition ofof the

the phase(s)

phase(s)

For the alloys listed below:

  • 60 wt% Ni-40 wt% Cu at 1100°C

  • 35 wt% Ni-65 wt% Cu at 1250°C

(1)

Phase(s) that are present

(2)

The composition of each phase

Example: Determine Example: Determine the the phase(s) phase(s) that that are are present present the and

(1) Determine the

phase(s) that are

present

60 wt% Ni-40 wt

% Cu at 1100°C

Point A:

phase

(L)

(1) Determine the phase(s) that are present 60 wt% Ni-40 wt % Cu at 1100°C Point
(1) Determine the phase(s) that are present 60 wt% Ni-40 wt % Cu at 1100°C Point

(2) Determine the

composition of each

phase

60 wt% Ni-40 wt%

Cu at 1100°C (Point

A):

C

= C 0 = 60 wt% Ni

(2) Determine the composition of each phase 60 wt% Ni-40 wt% Cu at 1100°C (Point A):
(2) Determine the composition of each phase 60 wt% Ni-40 wt% Cu at 1100°C (Point A):

(1) Determine the

phase(s) that are

present

35 wt% Ni-65 wt%

Cu at 1250°C

Point B

+ L phases

(L)

(1) Determine the phase(s) that are present 35 wt% Ni-65 wt% Cu at 1250°C Point B
(1) Determine the phase(s) that are present 35 wt% Ni-65 wt% Cu at 1250°C Point B

(2) Determine the

composition of each

phase

35 wt% Ni-65 wt%

Cu at 1250°C (Point

B):

+ L

(2) Determine the composition of each phase 35 wt% Ni-65 wt% Cu at 1250°C (Point B):
(2) Determine the composition of each phase 35 wt% Ni-65 wt% Cu at 1250°C (Point B):

(2) Determine the

composition of each

phase

Tie Line

31.5 35 42.5 C L C 0 C Composition (wt% Ni)
31.5
35
42.5
C L
C 0
C
Composition (wt% Ni)

35 wt% Ni-65 wt% Cu at 1250°C (Point B): in two phase (

+ L) region

Draw a tie line

Composition of a: intersection L/ +L — C

= 42.5wt% Ni

(2) Determine the composition of each phase Tie Line 31.5 35 42.5 C L C 0
(2) Determine the composition of each phase Tie Line 31.5 35 42.5 C L C 0
(2) Determine the composition of each phase Tie Line 31.5 35 42.5 C L C 0
(2) Determine the composition of each phase Tie Line 31.5 35 42.5 C L C 0
(2) Determine the composition of each phase Tie Line 31.5 35 42.5 C L C 0

Composition of L: intersection / +L — C L = 31.5 wt% Ni

Equilibrium Cooling in a Cu-Ni Binary System

• Consider T(°C) L (liquid) L: 35wt%Ni C o = 35wt%Ni • Upon cooling 1300 A
• Consider
T(°C)
L (liquid)
L: 35wt%Ni
C o = 35wt%Ni
• Upon cooling
1300
A
– L
L: 35wt%Ni
: 46wt%Ni
B
35wt%
32wt%
35
46
32
C
43
24wt%
D
24
36
46wt%
43wt%
L: 32wt%Ni
: 43wt%Ni
1200
E
36wt%
L: 24wt%Ni
– Equilibrium cooling
: 36wt%Ni
Sufficiently slow
(solid)
cooling rate gives
enough time for
1100
composition
20
30
35
40
50
readjustments
wt% Ni
C o
L
+
L
+