Anda di halaman 1dari 52

WAWASAN BK

By : KELOMPOK 1

FAHRIZAL APRIANTO FENNY SABZUL YASZAK REYNI GUSDANINTA TRESNI WIDYAWATI WINANDA DWINASARI

MATERI :

Pengertian Bimbingan Konseling

Dalam mendefinisikan istilah bimbingan, para ahli bidang bimbingan konseling memberikan pengertian yang berbeda-beda. Meskipun demikian, pengertian yang mereka sajikan memiliki satu kesamaan arti bahwa bimbingan merupakan suatu proses pemberian bantuan. Pengertian bimbingan yang dikemukakan oleh para ahli memberikan pengertian yang saling melengkapi satu sama lain.

Menurut Abu Ahmadi (1991: 1),

Bimbingan adalah bantuan yang diberikan kepada individu (peserta didik) agar dengan potensi yang dimiliki mampu mengembangkan diri secara optimal dengan jalan memahami diri, memahami lingkungan, mengatasi hambatan guna menentukan rencana masa depan yang lebih baik. .

Prayitno dan Erman Amti (2004: 99)

Bimbingan adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh orang yang ahli kepada seseorang atau beberapa orang individu, baik anak-anak, remaja, atau orang dewasa, agar orang yang dibimbing dapat mengembangkan kemampuan dirinya sendiri dan mandiri dengan memanfaatkan kekuatan individu dan sarana yang ada dan dapat dikembangkan berdasarkan normanorma yang berlaku. Sedangkan konseling menurut Prayitno dan Erman Amti (2004:105) adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara konseling oleh seorang ahli (disebut konselor) kepada individu yang sedang mengalami sesuatu masalah (disebut klien) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi klien.

Bimo Walgito (2004: 4-5),

Bimbingan adalah bantuan atau pertolongan yang diberikan kepada individu atau sekumpulan individu dalam menghindari atau mengatasi kesulitankesulitan hidupnya, agar individu dapat mencapai kesejahteraan dalam kehidupannya.

Djumhur dan Moh. Surya, (1975:15)

Suatu proses pemberian bantuan yang terus menerus dan sistematis kepada individu dalam memecahkan masalah yang dihadapinya, agar tercapai kemampuan untuk dapat memahami dirinya (self understanding), kemampuan untuk menerima dirinya (self acceptance), kemampuan untuk mengarahkan dirinya (self direction) dan kemampuan untuk merealisasikan dirinya (self realization) sesuai dengan potensi atau kemampuannya dalam mencapai penyesuaian diri dengan lingkungan, baik keluarga, sekolah dan masyarakat.

Peraturan Pemerintah No. 29 Tahun 1990

tentang Pendidikan Menengah dikemukakan bahwa Bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada peserta didik dalam rangka menemukan pribadi, mengenal lingkungan, dan merencanakan masa depan.

Jadi....
Bimbingan pada prinsipnya adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh orang yang ahli kepada seorang atau beberapa orang individu dalam hal memahami diri sendiri, menghubungkan pemahaman tentang dirinya sendiri dengan lingkungan, memilih, menentukan dan menyusun rencana sesuai dengan konsep dirinya dan tuntutan lingkungan berdasarkan norma-norma yang berlaku. Konseling adalah usaha membantu konseli/klien secara tatap muka dengan tujuan agar klien dapat mengambil tanggung jawab sendiri terhadap berbagai persoalan atau masalah khusus.

Halaen mengatakan bahwa: Prinsip berasal dari kata PRINSIPRA yang artinya permulaan dengan suatu cara tertentu yang melahirkan hal hal lain , yang keberadaanya tergantung dari permulaan itu sendiri.

Prayitno mengatakan bahwa: Prinsip merupakan hasil kajian teoritik dan telaah lapangan yang digunakan sebagai pedoman pelaksanaan sesuatu yang dimaksudkan.
Jadi dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa prinsip prinsip bimbingan dan konseling merupakan perpaduan hasil hasil teori dan praktek yang dirumuskan dan dijadikan pedoman sekaligus dasar bagi penyelenggaran pelayanan.

Rumusan prinsip-prinsip bimbingan dan konseling adalah :


1. PRINSIP-PRINSIP YANG BERKENAAN DENGAN SASARAN PELAYANAN.

2. PRINSIP-PRINSIP YANG BERKENAAN DENGAN MASALAH INDIVIDU.

3. PRINSIP-PRINSIP YANG BERKENAAN DENGAN PROGRAM PELAYANAN.

4. PRINSIP-PRINSIP YANG BERKENAAN DENGAN PELAKSANAAN PELAYANAN.

5. PRINSIP-PRINSIP BIMBINGAN DAN KONSELING DISEKOLAH.

1.

Prinsip-Prinsip Berkenaan dengan Sasaran Pelayanan. Sasaran pelayanan bimbingan dan konseling adalah individu-individu, baik secara perorangan maupun kelompok serta tingkah laku individu. Adapun prinsip-prinsip tersebut adalah :

2.

Prinsip-Prinsip

Berkenaan

Dengan

Masalah

Individu.

Secara ideal pelayanan bimbingan dan konseling ingin membantu berbagai masalah individu, tetapi pelayanan dan bimbingan konseling hanya mampu menangani masalah klien secara terbatas karena keterbatasan yang ada pada dirinya sendiri. Prinsip-prinsip yang berkenaan adalah:

Bidang bimbingan pada umumnya dibatasi hanya pada halhal yang menyangkut pengaruh kondisi mental dan fisik terhadap penyesuaian diri individu dengan lingkungan serta kontak sosial dan pekerjaan, dan sebaliknya. Keadaan sosial, ekonomi dan politik yang kurang menguntungkan menuntut perhatian dari konselor dalam mengentaskan masalah klien.

3. Prinsip Prinsip Berkenaan Dengan Program Pelayanan.


a. Sebagai bagian integrasi dari proses pendidikan dan pengembangan individu, program BK harus disusun dan dipadukan sejalan dengan program pendidikan dan pengembangan secara menyeluruh. b. Program bimbingan dan konseling harus fleksibel, disesuaikan dengan kondisi lembaga, kebutuhan individu, dan masyarakat. c. Program pelayanan bimbingan dan konseling harus disusun dan diselenggarakan secara berkesinambungan kepada anak anak sampai dengan orang dewasa. d. Diadakan penilaian yang teratur dan terarah terhadap isi dan pelaksanaan program bimbingan dan konseling untuk mengetahui hasil dan manfaat yang diperoleh, serta mengetahui kesesuaian antara program yang direncanakan dengan pelaksanaannya.

4.

Prinsip-Prinsip Yang Berkenaan Dengan Pelaksanaan Pelayanan.

Tujuan akhir bimbingan dan konseling adalah kemandirian setiap individu Dalam proses konseling keputusan yang diambil dan yang akan dilakukan oleh klien hendaklah atas kemauan klien sendiri, bukan karena kemauan atau desakan dari konselor. Permasalahan khusus yang dialami oleh klien (untuk semua usia) harus ditangani oleh tenaga ahli dalam bidang yang relevan dengan permasalahan khusus tersebut. Bimbingan dan konseling adalah pekerjaan professional, oleh karena itu dilaksanakan oleh tenaga ahli yang telah memperoleh pendidikan dan latihan khusus dalam bimbingan dan konseling. Guru dan orang tua memiliki tanggung jawab yang berkaitan dengan pelayanan bimbingan dan konseling.

Guru dan konselor berada dalam satu kerangka upaya pelayanan. Untuk mengelola pelayanan bimbingan dan konseling dengan baik dan memenuhi tuntutan peserta didik program pengukuran dan penilaian terhadap peserta didik hendaknya dilakukan dan himpunan data yang memuat hasil pengukuran dan penilaian itu dikembangkan dan dimanfaatkan dengan baik. Organisasi program bimbingan dan konseling hendaknya fleksibel disesuaikan dengan kebutuhan individu dan lingkungannya. Tanggung jawab pengelolaan program bimbingan dan konseling hendaknya diletakkan di pundak seorang pimpinan program yang terlatih dan terdidik secara khusus dalam pendidikan bimbingan dan konseling. Penilaian periodik perlu dilakukan terhadap program yang sedang berjalan.

5. Prinsip-prinsip Bimbingan dan Konseling di Sekolah.


Pertama, konselor harus memulai kariernya sejak awal dengan program kerja yang jelas, dan memiliki kesiapan yang tinggi untuk melaksanakan program tersebut. Kedua, konselor harus selalu mempertahankan sikap profesional selalu berhubungan baik dan bekerjasama dengan personal sekolah lainnya (kepala sekolah, guru dan siswa). Ketiga, konselor bertanggung jawab untuk memahami peranannya sebagai konselor profesional dan menerjemahkan peranannya itu kedalam kegiatan nyata. Keempat, konselor bertanggung jawab kepada semua siswa. Kelima, konselor harus memahami dan mengembangkan kompetensi untuk membantu siswa-siswi yang mengalami masalah dengan kadar yang cukup parah dan siswa-siswi yang menderita gangguan emosional.

TUJUAN BK adalah agar konseli dapat :


(1) Merencanakan kegiatan penyelesaian studi, perkembangan karir serta kehidupannya di masa yang akan datang. (2) Mengembangkan seluruh potensi dan kekuatan yang dimilikinya seoptimal mungkin; (3) Menyesuaikan diri dengan lingkungan pendidikan, lingkungan masyarakat serta lingkungan kerjanya; (4) Mengatasi hambatan dan kesulitan yang dihadapi dalam studi, penyesuaian dengan lingkungan pendidikan, masyarakat, maupun lingkungan kerja.

Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut, mereka harus mendapatkan kesempatan untuk:


(1) Mengenal dan memahami potensi, kekuatan, dan tugastugas perkembangannya. (2) Mengenal dan memahami potensi atau peluang yang ada di lingkungannya. (3) Mengenal dan menentukan tujuan dan rencana hidupnya serta rencana pencapaian tujuan tersebut. (4) Memahami dan mengatasi kesulitan-kesulitan sendiri. (5) Menggunakan kemampuannya untuk kepentingan dirinya, kepentingan lembaga tempat bekerja dan masyarakat. (6) Menyesuaikan diri dengan keadaan dan tuntutan dari lingkungannya. (7) Mengembangkan segala potensi dan kekuatan yang dimilikinya secara optimal.

Tujuan Bimbingan dan Konseling dibagi 2 :

Tujuan umum dari layanan Bimbingan dan Konseling adalah sesuai dengan tujuan pendidikan sebagaimana dinyatakan dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) Tahun 1989 (UU No. 2/1989), yaitu terwujudnya manusia Indonesia seutuhnya yang cerdas, yang beriman, dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan ketrampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan (Depdikbud, 1994 : 5).

Penerapan Konseling Kelompok Realita untuk Meningkatkan Disipin Belajar Siswa Oleh Elly Nur Syavanah dan Najlatun Naqiyah

Jurnal Ilmiah Konseling. http://ejournal.unp.ac.id/index.php/konselor PEROLEHAN SISWA SETELAH MENGIKUTI LAYANAN KONSELING PERORANGAN Oleh Ilya Rahmi Risno, Asmidir Ilyas, dan Syahniar

Hubungan Persepsi Dengan Partisipasi Guru Bidang Studi Dalam Kegiatan Bimbingan Konseling Di SMP Negeri 1 Panyabungan Selatan Tahun Ajaran 2011/2012. Skripsi. Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Medan. 2012. Nuraisah Rangkuti. NIM : 108121065.

Penerapan Konseling Kelompok Realita untuk Meningkatkan Disipin Belajar Siswa Oleh Elly Nur Syavanah dan Najlatun Naqiyah

Abstrak : Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan disiplin belajar setelah diberi konseling kelompok realita. Kesimpulan Penelitian : Kesimpulan dari penelitian ini adalah penerapan konseling kelompok realita dengan intervensi model WDEP, dapat meningkatkan disiplin belajar siswa yang ditandai dengan meningkatnya aspek pengendalian diri dan tanggung jawab dalam kegiatan belajar dan menurunnya

perilaku indisiplin belajar siswa. Hal ini berarti penerapan


konseling kelompok realita dapat meningkatkan tanggung jawab serta kemandirian siswa dalam belajar dan siswa dapat

belajar secara terarah dan teratur.

Jurnal Ilmiah Konseling. http://ejournal.unp.ac.id/index.php/konselor PEROLEHAN SISWA SETELAH MENGIKUTI LAYANAN KONSELING PERORANGAN Oleh Ilya Rahmi Risno, Asmidir Ilyas, dan Syahniar

Absrtak : Layanan konseling perorangan sangat penting guna membantu siswa agar terjadinya perubahan tingkah laku ke arah yang lebih baik dan terentaskannya masalah yang dialami siswa, yang dapat menggangu perkembangan siswa, baik yang berhubungan dengan diri pribadi, sosial, karir dan belajar. Kesimpulan : Berdasarkan hasil pengolahan data, maka kesimpulan pada penelitian ini adalah sebagian besar (77,93%) siswa sudah mendapatkan perolehan dalam hal memahami layanan konseling perorangan menyangkut dengan pengertian, tujuan dan manfaat layanan konseling perorangan bagi dirinya. Sebagian kecil (22,06%) siswa masih belum mendapatkan perolehan dalam hal memahami layanan konseling perorangan. Sebagian besar (81,43%) siswa sudah mendapatkan perolehan setelah mengikuti layanan konseling perorangan dalam hal pemahaman, kompetensi, usaha dan perasaan terhadap masalah yang dialami. Sebagian kecil (18,04%) siswa masih belum mendapatkan perolehan setelah mengikuti layanan konseling perorangan. Sebagian besar (86,08%) siswa sudah memperoleh hal-hal yang mereka harapkan setelah mengikuti layanan konseling perorangan yaitu dapat menjalani kehidupan efektif sehari-hari (KES), memperoleh informasi dan pemahaman baru, dicapainya keringanan beban perasaan dan melaksanakan komitmen setelah mengikuti layanan konseling perorangan. Sebagian kecil (13,92%) siswa masih belum memperoleh sesuatu sesuai dengan harapannya setelah mengikuti layanan konseling perorangan, yaitu memperoleh informasi dan pemahaman baru, dicapainya keringanan beban perasaan dan melaksanakan komitmen.

Hubungan Persepsi Dengan Partisipasi Guru Bidang Studi Dalam Kegiatan Bimbingan Konseling Di SMP Negeri 1 Panyabungan Selatan Tahun Ajaran 2011/2012.

Abstrak : Pelaksanaan bimbingan konseling di sekolah seharusnya berjalan sesuai yang tertera dalam program BK, dan dilaksanakan dengan bantuan atau partisipasi oleh personel sekolah lainnya, misalnya guru kelas, guru bidang studi, bahkan kepala sekolah itu sendiri, tanpa partisipasi guruguru yang lainnya pelaksanaan kegiatan bimbingan konseling kurang terlaksana. Kesimpulan : Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara persepsi dan partisipasi guru bidang studi dengan layanan bimbingan konseling di sekolah, hal ini diketahui dari hasil perhitungan diperoleh harga rxy > rtabel yaitu 0,84 > 0.361. Jadi hipotesa yang berbunyi : "ada hubungan yang positif antara persepsi dan partisipasi guru bidang studi dengan layanan bimbingan dan konseling di SMP negeri I panyabungan selatan tahun ajaran 2011/2012, dapat diterima.