Anda di halaman 1dari 140

PEMERINTAH ACEH

DINAS PERHUBUNGAN KOMUNIKASI, INFORMATIKA & TELEMATIKA

RENCANA INDUK PELABUHAN ACEH


Paparan Laporan Pendahuluan
Mei, 2013

CV. Profestama Plan

Connecting Aceh

Hal 1

S I S T E M A T I K A

P E M B A H A S A N

Pokok Pembahasan:
1. Pendahuluan 2. Gambaran Umum 3. Dasar Hukum, Tinjauan Kebijakan & Rencana 4. Metodologi & Pendekatan 5. Rencana Kerja 6. Organisasi Pelaksana

Connecting Aceh

2013 Hal 2

P E N D A H U L U A N

1. Latar Belakang

2. Maksud dan Tujuan 3. Ruang Lingkup Pekerjaan


1). Ruang Lingkup Pekerjaan 2). Ruang Lingkup Wilayah

Connecting Aceh

2013 Hal 3

P E N D A H U L U A N
1. Latar Belakang
1. Kondisi topologi Aceh sendiri yang dikelilingi oleh lautan menjadikan Aceh sangat berketergantungan pada transportasi laut untuk mengakses wilayah lainnya terutama luar negeri. 2. Dalam kenyataannya, persoalan mendasar yang terjadi adalah keberadaan pengembangan jaringan transportasi laut yang belum terencana dan terpadu yang didukung dengan pengembangan moda transportasi lainnya. 3. Pembangunan yang dilaksanakan masih dijalankan secara terpisah diakibatkan berbagai persoalan kelembagaan dan kewenangannya, pendanaan dan visi yang berbeda-beda di tiap daerah. 4. Mendasari persoalan yang ada, Dinas Perhubungan, Komunikasi, Informasi dan Telamatika Aceh bermaksud untuk menyiapkan suatu pedoman yang dapat menjadi arah pengembangan pelabuhan Aceh sampai dengan tahun 2033.

2. Maksud dan Tujuan


1. Maksud : Tersusunnya Rencana Induk Pelabuhan Aceh tahun 2013-2033 yang menjadi pedoman perencanaan pembangunan dan pengembangan Pelabuhan Aceh, sehingga pelaksanaan kegiatan pengembangan transportasi laut dapat dilakukan secara terstruktur, menyeluruh dan tuntas, dan terpadu dengan moda transportasi lainnnya. 2. Tujuan : Sebagai acuan normatif penyelenggaraan/operasional pelayanan pelabuhan Aceh sebagai bagian dari Rencana Induk Pelabuhan Nasional.

Connecting Aceh

2013 Hal 4

P E N D A H U L U A N
3. Ruang Lingkup Pekerjaan
1). a. b. c. d. e. Ruang Lingkup Pekerjaan Melakukan persiapan pelaksanaan pekerjaan; Melakukan peninjauan lapangan; Mengumpulkan data yang diperlukan; Melakukan analisa data dan studi; Mengevaluasi peraturan dan perundang-undangan yang berlaku terkait pelayanan pelabuhan, pelayaran dan keimigrasian dan peraturan terkait lainnya; f. Melakukan pengkajian tentang; Kebutuhan akan ruang dan lahan Perkembangan ekonomi daerah hinterland pelabuhan Perkembangan industri yang terkait pada pelabuhan Arus dan komposisi barang yang ada dan diperkirakan Jenis dan ukuran kapal Hubungan dengan transportasi darat dan perairan dengan wilayah hinterland-nya Akses dari dan menuju laut/dermaga Potensi pengembangan fisik Aspek nautis dan hidraulik Keamanan/keselamatan dan dampak lingkungan Analisis ekonomi dan finansial Fasilitas dan struktur yang ada g. Menetapkan target pengembangan Pelabuhan dan fasilitas pendukung lainnya yang tesusun secara terpadu; dan h. Menyusun Buku Rencana Induk Pelabuhan aceh .

Connecting Aceh

2013 Hal 5

P E N D A H U L U A N
3. Ruang Lingkup Pekerjaan
2). Ruang Lingkup Wilayah Adapun ruang lingkup wilayah yang menjadi batasan perencanaan pekerjaan Rencana Induk Pelabuhan Aceh ini :

1. Simeulue 2. Aceh Singkil 3. Aceh Selatan 4. Aceh Tenggara 5. Aceh Timur 6. Aceh Tengah 7. Aceh Barat 8. Aceh Besar 9. Pidie 10. Bireuen 11. Aceh Utara 12. Aceh Barat

13. Daya Gayo Lues 14. Aceh Tamiang 15. Nagan Raya 16. Aceh Jaya 17. Bener Meriah 18. Pidie Jaya 19. Banda Aceh 20.Sabang 21. Langsa 22. Lhokseumawe 23. Subulussalam

Connecting Aceh

2013 Hal 6

P E N D A H U L U A N
3. Ruang Lingkup Pekerjaan
2). Ruang Lingkup Lokasi Pelabuhan Adapun jumlah pelabuhan yang akan dikaji dan menjadi batasan perencanaan pekerjaan Rencana Induk Pelabuhan Aceh ini sbb :

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11.

Pelabuhan Sabang Pelabuhan Malahayati Pelabuhan Krueng Geukuh (Kabupaten Aceh Utara Kuala Langsa (Kota Langsa) Idi (Kabupaten Aceh Timur); Pelabuhan Meulaboh Pelabuhan Calang (Kabupaten Aceh Jaya); Pelabuhan Singkil Pelabuhan Sinabang Pelabuhan Tapaktuan Pelabuhan pengumpan Susoh dan Pelabuhan Surin (Kab.Aceh Barat Daya)

Connecting Aceh

2013 Hal 7

P E N D A H U L U A N
3. Ruang Lingkup Pekerjaan
Peta Wilayah Pekerjaan RIP Aceh

Connecting Aceh

2013 Hal 8

G A M B A R A N U M U M W I L A Y A H P E R E N C A N A A N

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.

Administrasi Aceh Kondisi Kependudukan dan Sosial Budaya Kondisi Fisik dan Lingkungan Kondisi Keanekaragaman Hayati Kondisi Pertambangan Kondisi Pesisir, Laut dan Pulau Pulau Kecil Kondisi Pariwisata Kondisi Ekonomi
2013 Hal 9

Connecting Aceh

G A M B A R A N U M U M W I L A Y A H P E R E N C A N A A N

1. Administrasi Aceh
Wilayah Aceh terletak di ujung utara Pulau Sumatera dan sekaligus merupakan wilayah paling barat di Indonesia Berdasarkan Peta Rupa Bumi Indonesia skala 1 : 50.000, wilayah daratan Aceh secara geografis terletak pada 020 00 00 060 00 00 LU dan 950 00 00 980 30 00 BT. Dengan batas-batas wilayah adalah: Sebelah utara : Selat Malaka dan Laut Andaman/Teluk Benggala; sebelah timur : Selat Malaka dan Provinsi Sumatera Utara; sebelah selatan : Provinsi Sumatera Utara dan Samudera Hindia; sebelah barat : Samudera Hindia. Berdasarkan penetapan UU 32/2004 Pasal 18 ayat (4), maka selain wilayah daratan yang akan menjadi lingkup wilayah perencanaan RTRW Aceh juga tercakup wilayah laut kewenangan pengelolaan (WLK) Provinsi Aceh sejauh 12 (dua belas) mil-laut dari garis pangkal ke arah laut lepas. Wilayah laut kewenangan tersebut terdapat atau terletak di Samudera Hindia, Laut Andaman, dan Selatan Malaka, dengan luas Berdasarkan PP no 37 tahun 2008 yang merupakan refisi PP no 38 tahun 2002 tentang titik-titik garis pangkal kepulauan Indonesia luas laut kewenangan Aceh Adalah 74.798,02 km2 atau 7.478.801,59 Ha bila ditambah dengan kawasan gugusan karang melati seluas 14.249,86 km2 atau 1.424.986,18 Ha, luas laut kewenangan Aceh menjadi 89.047,88 km2 atau 8.904.787,77 Ha. 1). Pembagian Wil. Administrasi Wilayah Aceh sebagai provinsi secara administrasi pemerintahan terbagi atas 23 (dua puluh tiga) wilayah kabupaten/kota

Connecting Aceh

2013 Hal 10

G A M B A R A N U M U M W I L A Y A H P E R E N C A N A A N

2. Kependudukan & Sosial Budaya


a. Jumlah dan Sebaran Penduduk Jumlah penduduk Aceh pada akhir 2011 adalah 4.597.309 jiwa, dengan total jumlah kepala keluarga atau rumah tangga adalah 1.090.960 kepala keluarga/rumah tangga. Kabupaten/Kota pada tahun 2011 dengan jumlah penduduk terbesar adalah Kabupaten Aceh Utara (541.878 jiwa) dan jumlah penduduk terkecil adalah Kota Sabang (31.355 jiwa).

Connecting Aceh

2013 Hal 11

G A M B A R A N U M U M W I L A Y A H P E R E N C A N A A N

2. Kependudukan & Sosial Budaya


b. Jumlah penduduk menurut jenis kelamin
NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 TAHUN 1980 1990 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010* 2011 LAKI - LAKI 1309.7 1717 2042.3 2074.5 2090.3 2119.6 2031.8 2005.8 2024.4 2101.4 2136.1 2171.4 2249 2300.4 PEREMPUAN 1299.7 1698.8 2030.7 2067.6 2075.9 2098.9 2042.9 2025.8 2059.2 2122.4 2157.9 2192.1 2245.5 2296.9 JUMLAH 2609.4 3415.8 4073 4142.1 4166.2 4218.5 4074.7 4031.6 40864.6 4223.8 4294 4363.5 4494.5 4597.3 2013 Hal 12

Connecting Aceh

Sumber : Aceh dalam Angka 2009, 2010, 2011, 2012

G A M B A R A N U M U M W I L A Y A H P E R E N C A N A A N

2. Kependudukan & Sosial Budaya


c.Prediksi Jumlah Penduduk Menurut RTRW Aceh 2030

Connecting Aceh

2013 Hal 13

G A M B A R A N U M U M W I L A Y A H P E R E N C A N A A N

3. Kondisi Fisik dan Lingkungan


1). Konfigurasi Wilayah
Wilayah daratan Aceh terdiri atas daratan utama (mainland) di Pulau Sumatera beserta 119 pulau (sumber: RUTR Wilayah Pesisir Aceh, data dari Departemen Dalam Negeri menyebutkan total ada 663 pulau, dengan rincian: 205 pulau telah bernama, dan 458 pulau belum bernama), paling tidak ada 9 pulau seperti : Pulau Simeulue (Kab. Simeulue), Pulau Tuangku, Pulau Ujungbatu, Pulau Balai, Pulau Nibong (di Kepulauan Banyak Kab. Aceh Singkil), Pulau Weh (Kota Sabang), serta Pulau Breueh, Pulau Nasi, Pulau Bunta (di Pulo Aceh Kab. Aceh Besar). Selain pulau-pulau tersebut, pulau-pulau lainnya relatif merupakan pulau-pulau kecil. Dengan konfigurasi demikian dan terletak di tepi perairan laut, maka selain daratan di pulau utama (mainland) Pulau Sumatera dan pulau-pulau besar dan kecil, juga ada wilayah laut kewenangan Aceh yaitu sejauh 12 mil-laut dari garis pantai dan/atau garis pangkal menurut pulau-pulau terluar.

2). Ketinggian/Elevasi
Di pesisir timur, bagian wilayah dengan ketinggian < 500 meter di atas permukaan laut (dpl) relatif lebih merata lebarnya dari garis pantai, sementara di pesisir barat menunjukkan kondisi yang relatif lebih lebar di sekitar Aceh Barat, Nagan Raya, Aceh Singkil, dan Subulussalam; sementara yang relatif sangat sempit di sekitar Aceh Besar, Aceh Jaya, Aceh Selatan, dan Aceh Barat Daya. Ketinggian di atas 3.000 m dpl terdapat di kompleks Gunung Leuser.

Connecting Aceh

2013 Hal 14

G A M B A R A N U M U M W I L A Y A H P E R E N C A N A A N

3. Kondisi Fisik dan Lingkungan


3). Kemiringan Lereng < 40% relatif selaras dengan ketinggian < 500 m dpl . Kemiringan lereng dominan 40% - 60 % dan > 60 % terdapat sejak dari kaki sampai ke puncak-puncak pegunungan Sesuai dengan karakter kemiringan lahan tersebut, ada hasil kajian RePPPRoT 1998 mengenai arahan penetapan bagian wilayah dengan dominan fungsi lindung dan dominan fungsi budidaya Dominasi fungsi lindung diindikasikan sekitar 56,28 %, dan dominasi fungsi budidaya sekitar 43,72 % dari luas wilayah Aceh

Connecting Aceh

2013 Hal 15

G A M B A R A N U M U M W I L A Y A H P E R E N C A N A A N

3. Kondisi Fisik dan Lingkungan


4). Fisiografi Wilayah Aceh 1. Dataran rendah di bagian barat terdapat terletak sejak dari sekitar muara Sungai Alas/Singkil, muara Krueng Tripa, sampai muara Krueng Teunom, dataran ini berhampiran atau diapit oleh barisan pegunungan berlereng terjal yang merupakan tempat mengalirnya sungai-sungai yang relatif pendek dan deras ke bagian lembah yang datar di pesisir. 2. Dataran rendah di bagian timur wilayah mempunyai alur yang cukup lebar, mulai dari perbatasan Aceh dan Provinsi Sumatera Utara yang selanjutnya menyempit di sekitar pesisir Peud 3. Dataran rendah di bagian utara, merupakan lembah sungai Krueng Aceh yang terletak di Kabupaten Aceh Besar dan Kota Banda Aceh. ada sampai di kaki Gunung Seulawah. 4. Pegunungan bagian utara terletak di Kabupaten Aceh Besar, Pidie, Aceh Jaya, dan Aceh Barat. Pegunungan bagian utara ini merupakan bukit-bukit yang saling terpisah, yang antara lain terdiri atas Kompleks Gunung Seulawah (1.762 m), Kompleks Gunung Ulu Masen (2.390 m), dan Komplek Gunung Peut Sagoe (2.780 m). 5. Pegunungan bagian tengah terletak di Kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Nagan Raya., pegunungan ini mempunyai lereng yang sangat curam sehingga sulit dilalui, yang ditandai oleh keberadaan antara lain Kompleks Gunung Geureudong/Burni Telong (2.556 m) dan Kompleks Gunung Ucap Malu (3.187 m). 6. Sedangkan pegunungan bagian tengah ini terdapat dataran tinggi, yaitu Dataran Tinggi Gayo, dan terdapat danau yaitu Danau Laut Tawar. 7. Pegunungan bagian selatan terletak di Kabupaten Gayo Lues, Aceh Tenggara, Aceh Barat Daya, dan Aceh Selatan. Pegunungan bagian selatan ini terdiri dari tiga baris pegunungan sejajar. Jajaran paling selatan dengan dengan pegunungan paling tinggi adalah Gunung Leuser (3.466 m) yang merupakan gunung tertinggi di Aceh

Connecting Aceh

2013 Hal 16

G A M B A R A N U M U M W I L A Y A H P E R E N C A N A A N

3. Kondisi Fisik dan Lingkungan


5). Klimatologi Klasifikasi iklim menurut Schmidt Fergusson wilayah Aceh termasuk pada tipe iklim tropis. Berdasarkan pantauan dari 3 stasiun klimatologi yaitu stasiun Blang Bintang (Aceh Besar), Sabang, dan Meulaboh (Aceh Barat), musim hujan terjadi pada bulan Agustus sampai Januari dan musim kemarau pada bulan Februari sampai Juli Stasiun Blang Bintang : curah hujan rata-rata 1.250 2.000 mm/tahun, dengan hari hujan ratarata 13 hari/bulan, suhu udara rata-rata berkisar 25 28 oC, kelembaban nisbi rata-rata 69 90 %, serta kecepatan angin 2,0 4,0 knot. Stasiun Sabang : curah hujan rata-rata 2.000 2.500 mm/tahun, dengan hari hujan rata-rata 7 hari/bulan, suhu udara rata-rata berkisar 26 27,5 oC, kelembaban nisbi rata-rata 73 86 %, serta kecepatan angin 3,0 11,0 knot. Stasiun Meulaboh : curah hujan rata-rata 2.500 3.500 mm/tahun, dengan hari hujan rata-rata 17 hari/bulan, suhu udara rata-rata berkisar 21 31 oC, kelembaban nisbi rata-rata 69 96 %, serta kecepatan angin 5,0 7,0 knot.
6). Jenis Tanah 1. Organosol dan Glei Humus 2. Aluvial 3. Hidromorf Kelabu 4. Regosol 5. Podsolik Merah Kuning (PMK), 6. Renzina 7. Andosol, 1. 2. 3. 4. 5. Litosol Komplek PMK dan Litosol Komplek PMK, Latosol, dan Litosol Komplek Podsolik Coklat, Podsol, dan Litosol Komplek Renzina dan Litosol

Connecting Aceh

2013 Hal 17

G A M B A R A N U M U M W I L A Y A H P E R E N C A N A A N

3. Kondisi Fisik dan Lingkungan


7). Sistem Lahan Aceh memiliki sistem lahan (land system), yaitu sebanyak sekitar 60 lahan sistem lahan : Bagian Wilayah Pegunungan Tengah Sistem lahan BPD (Bukit Pandan) dengan karakteristik utamanya antara lain peka gerakan tanah/longsor, lereng >60%, sistem drainase dendritik, dan curah hujan yang tinggi. Sistem lahan BPD ini sangat dominan di dalam Kawasan Ekosistem Leuser (KEL), dan juga terdapat di Kawasan Ekosistem Ulu Masen , selain itu terdapat sistem lahan lainnya seperti: PDH (Pendreh) dan TWI (Telawi), yang keduanya mempunyai lereng >60%. Selain itu terdapat juga sistem lahan BYN (Bukit Ayun) dan GGD (Gunung Gedang), seperti pada pegunungan perbatasan Aceh Besar dan Aceh Jaya.
Bagian Wilayah Pesisir Timur Sistem lahan KHY (Kahayan), yang terdapat terutama di lembah Krueng Aceh (Banda Aceh dan sekitarnya), pesisir Kabupaten Pidie, Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Utara, Aceh Timur, dan Aceh Tamiang. Selain itu setempat-setempat terdapat sistem lahan: MPT (Maput), AMI (Alur Menani), dan MBI (Muara Beliti). Bagian Wilayah Pesisir barat Kawasan yang berupa rawa tedapat sistem lahan MDW (Mendawai) yaitu di Rawa Singkil, dan sistem lahan BBK (Benjah Bekasik) yaitu di Rawa Tripa. Selain itu setempat-setempat terdapat sistem lahan PTG (Putting), MPT (Maput), dan TNJ (Tanjung).

Connecting Aceh

2013 Hal 18

G A M B A R A N U M U M W I L A Y A H P E R E N C A N A A N

4. Kondisi keanekaragaman hayati


Kondisi Keanekaragaman hayati
Sebaran keanekaragaman hayati yang tinggi terdapat di bag ian, yaitu : wilayah pegunungan tengah (khususnya pada lereng dan kaki pegunungan), dan di pesisir yaitu di bagian wilayah dengan ekosistem rawa di pesisir barat, seperti di rawa Singkil/Trumon dan rawa Tripa. Dihubungkan dengan wilayah administrasi, maka hampir semua kabupaten terkena dengan kawasan keanekaragaman hayati tinggi tersebut. Sebaran keanekaragaman terletak sebagian terbesar di Aceh dan sebagian lagi di Provinsi Sumatera Utara, adapun jenis kenaeka ragman hayati meliputi satwa dan fauna yang merupakan spesies payung (umbrella spesies) gajah, harimau, orang utan, dan badak.

5. Kondisi pertambangan
D. Kondisi Pertambangan Potensi pertambangan di wilayah Aceh mencakup semua bahan tambang, yaitu: mineral dan batubara (minerba), minyak dan gas bumi (migas), panas bumi, dan air tanah. Potensi pertambangan yang ada, yang telah teridentifikasi; yang dengan klasifikasi dahulu atau sebelumnya dikenal dengan bahan tambang strategis (golongan A), bahan tambang vital (golongan B), dan bahan tambang golongan C, dapt dikemukakan potensi bahan tambang golongan A dan golongan B (atau di luar bahan galian) .

Connecting Aceh

2013 Hal 19

G A M B A R A N U M U M W I L A Y A H P E R E N C A N A A N
Tabel Potensi Bahan Tambang di Aceh, dan diluar Bahan Galian

Connecting Aceh

2013 Hal 20

G A M B A R A N U M U M W I L A Y A H P E R E N C A N A A N

6. Kondisi Pesisir, Laut dan Pulau Pulau Kecil


1) Memperhitungkan panjang garis pantai pada pulau utama dan pulau-pulau yang relatif besar, maka Aceh mempunyai garis pantai lebih kurang sepanjang 2.422 km, yang terdiri atas garis pantai di pulau induk (mainland) Sumatera 1.660 km, 2) Berdasarkan penetapan UU 32/2004 Pasal 18 ayat (4), maka selain wilayah daratan yang akan menjadi lingkup wilayah perencanaan RTRW Aceh juga tercakup wilayah laut kewenangan pengelolaan (WLK) Aceh sejauh 12 (dua belas) mil-laut dari garis pantai terluar ke arah laut lepas di Pulau Weh/Sabang 62 km, dan di Pulau Simeulue 700 km. 3) Wilayah laut kewenangan tersebut terdapat atau terletak di Samudera Hindia, Laut Andaman, dan Selat Malaka. Adalah 74.798,02 km2 atau 7.478.801,59 Ha bila ditambah dengan kawasan gugusan karang melati seluas 14.249,86 km2 atau 1.424.986,18 Ha, luas laut kewenangan Aceh menjadi 89.047,88 km2 atau 8.904.787,77 Ha. 4) Wilayah Aceh juga mencakup pulau-pulau besar dan kecil, yaitu sejumlah 119 pulau (sumber: RUTRW Pesisir Prov. NAD, 2007. Data dari Departemen Dalam Negeri menyebutkan di Aceh terdapat pulau sejumlah 663 pulau, dengan rincian: 205 pulau telah bernama, dan 458 pulau belum bernama)

Connecting Aceh

2013 Hal 21

G A M B A R A N U M U M W I L A Y A H P E R E N C A N A A N

7. Kondisi Pariwisata
Jeni Pariwisata di Aceh : wisata alam , wisata bahari, wisata budaya, wisata ekologi, wisata kota, dan wisata minat khusus. Ada beberapa faktor untuk identifikasi distribusi objek objek wisata di aceh : faktor letak geografis yaitu kedekatan satu wilayah dengan wilayah yang lainnya faktor jarak yaitu jarak dari satu wilayah dengan wilayah yang lainnya, faktor aksesibilitas yaitu tingkat kemudahan pencapaian baik jalur transportasi maupun angkutan, dan faktor pelayanan kota yaitu pelayan suatu kota terhadap kebutuhan dari pada penduduknya.

8. Kondisi Ekonomi Aceh


1). Struktur Ekonomi Aceh Pertanian (26.88 %) Pertambangan & Penggalian (7.51 %) Perdagangan, Hotel & Restoran (20.30 %) Industri (10.23 %) Jasa-Jasa (18.1 %) Pengangkutan & Komunikasi (7,55 %)

Konstruksi (7,55 %) Keuangan, Real Estate & Jasa Perusahaan (1.90 %) Listrik, Gas & Air Bersih (0,38 %)

Connecting Aceh

2013 Hal 22

G A M B A R A N U M U M W I L A Y A H P E R E N C A N A A N

8. Kondisi Ekonomi Aceh


Laju Pertumbuhan (%) PDRB Atas Dasar Harga Konstan 2000, Tahun 2009 2011 (Juta Rupiah)
PDRB Atas Dasar Harga Konstan 2000, Tahun 2009 - 2011 (Juta Rupiah) No. Lapangan Usaha 2009 2010 2011 1 Pertanian 26.18% 26.74% 26.88% a. Tanaman Bahan Makanan 10.41% 10.93% 11.12% b. Tanaman Perkebunan 5.27% 5.28% 5.26% c. Peternakan dan Hasil-hasilnya 4.49% 4.53% 4.54% d. Kehutanan 1.61% 1.56% 1.57% e. Perikanan 4.40% 4.45% 4.39% 2 PERTAMBANGAN & PENGGALIAN 8.68% 7.88% 7.51% a. Minyak dan Gas Bumi 7.42% 6.57% 6.20% b. Pertambangan Bukan Migas 0.00% 0.00% 0.00% c. Penggalian 1.27% 1.31% 1.32% 3 INDUSTRI PENGOLAHAN 11.78% 10.54% 10.23% a. Industri Migas 7.00% 5.59% 5.24% - Pengilangan Minyak Bumi 0.00% 0.00% 0.00% - Gas Alam Cair 7.00% 5.59% 5.24% b. Industri Bukan Migas 4.78% 4.95% 4.99% - Makanan, Minuman dan Tembakau 1.56% 1.65% 1.73% - Tekstil, Barang Kulit dan Alas Kaki 0.02% 0.02% 0.02% - Barang Kayu dan Hasil Hutan Lainnya 0.00% 0.00% 0.00% - Kertas dan Barang Cetakan 0.04% 0.05% 0.05% - Pupuk, Kimia dan Barang dari Karet 2.94% 3.01% 2.96% - Semen dan Barang Galian bukan Logam 0.14% 0.15% 0.15% - Logam Dasar Besi dan Baja 0.03% 0.03% 0.03% - Alat Angkutan, Mesin dan Peralatannya 0.03% 0.03% 0.03% - Barang lainnya 0.02% 0.02% 0.02% 4 LISTRIK, GAS & AIR BERSIH 0.32% 0.37% 0.38% a. Listrik 0.31% 0.35% 0.36% b. Gas Kota 0.00% 0.00% 0.00% c. Air Bersih 0.01% 0.02% 0.02% 5 KONSTRUKSI 6.92% 7.08% 7.16% No. Lapangan Usaha 6 PERDAGANGAN, HOTEL & RESTORAN a. Perdagangan Besar dan Eceran b. Hotel c. Restoran 7 PENGANGKUTAN & KOMUNIKASI a. Pengangkutan - Angkutan Rel - Angkutan Jalan Raya - Angkutan Laut - Angkutan Sungai, Danau dan Penyeberangan - Angkutan Udara - Jasa Penunjang Angkutan b. Komunikasi - Pos dan Telekomunikasi - Jasa Penunjang Komunikasi 8 KEUANGAN, REAL ESTAT, & JASA PERUSH. a. Bank b. Lembaga Keuangan bukan Bank c. Jasa Penunjang Keuangan d. Real Estat e. Jasa Perusahaan 9 JASA-JASA a. Pemerintahan Umum - Administrasi Pemerintahan dan Pertahanan - Jasa Pemerintah Lainnya b. Swasta - Sosial Kemasyarakatan - Hiburan dan Rekreasi - Perorangan dan Rumah Tangga PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO 2009 19.29% 18.60% 0.06% 0.63% 7.08% 5.84% 0.00% 5.12% 0.33% 0.01% 0.35% 0.04% 1.24% 1.22% 0.02% 1.83% 1.07% 0.11% 0.00% 0.61% 0.04% 17.93% 16.89% 11.14% 5.75% 1.03% 0.58% 0.14% 0.31% 100.00% 2010 19.96% 19.25% 0.06% 0.65% 7.34% 6.07% 0.00% 5.36% 0.33% 0.01% 0.34% 0.04% 1.27% 1.25% 0.02% 1.87% 1.13% 0.11% 0.00% 0.59% 0.04% 18.22% 17.13% 11.35% 5.79% 1.09% 0.60% 0.15% 0.33% 100.00% 2011 20.30% 19.57% 0.06% 0.66% 7.55% 6.25% 0.00% 5.54% 0.32% 0.01% 0.34% 0.04% 1.30% 1.28% 0.02% 1.90% 1.17% 0.11% 0.00% 0.58% 0.04% 18.10% 16.96% 11.32% 5.64% 1.14% 0.64% 0.16% 0.34% 100.00%

Sumber : BPS Pemerintah Aceh, 2011

Connecting Aceh

2013 Hal 23

G A M B A R A N U M U M W I L A Y A H P E R E N C A N A A N

8. Kondisi Ekonomi Aceh


PDRB Atas Harga Konstan 2000, Tahun 2009 2011 (Juta Rupiah)
Distribusi Porsi PDRB Menurut Lapangan Usaha (2009-2011) dengan MIGAS No. 1 PERTANIAN 2 PERTAMBANGAN & PENGGALIAN 3 INDUSTRI PENGOLAHAN 4 LISTRIK, GAS & AIR BERSIH 5 KONSTRUKSI 6 PERDAGANGAN, HOTEL & RESTORAN 7 PENGANGKUTAN & KOMUNIKASI 8 KEUANGAN, REAL ESTAT, & JASA PERUSH. 9 JASA-JASA Sumber: Hasil Olahan Konsultan, 2013 Lapangan Usaha 2009 2010 2011 7.51% 0.38% 7.16% 7.55% 1.90% Distribusi Porsi PDRB Menurut Lapangan Usaha (2009-2011) Tanpa MIGAS No. 1 PERTANIAN 2 PERTAMBANGAN & PENGGALIAN 3 INDUSTRI PENGOLAHAN 4 LISTRIK, GAS & AIR BERSIH 5 KONSTRUKSI 6 PERDAGANGAN, HOTEL & RESTORAN 7 PENGANGKUTAN & KOMUNIKASI 8 KEUANGAN, REAL ESTAT, & JASA PERUSH. 9 JASA-JASA Sumber: Hasil Olahan Konsultan, 2013 Lapangan Usaha 2009 2010 2011 8.48% 0.43% 8.08% 8.52% 2.15%

26.18% 26.74% 26.88% 8.68% 7.88% 0.32% 0.37% 6.92% 7.08% 7.08% 7.34% 1.83% 1.87% 11.78% 10.54% 10.23%

30.59% 30.45% 30.35% 10.15% 8.97% 0.38% 8.09% 8.27% 2.13% 0.42% 8.06% 8.36% 2.13% 13.76% 12.00% 11.55%

19.29% 19.96% 20.30%

22.53% 22.72% 22.92%

17.93% 18.22% 18.10%

20.95% 20.74% 20.43%

Connecting Aceh

2013 Hal 24

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B I J A K A N & R E N C A N A

1. Dasar Hukum 2. Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Aceh 3. Tatanan Transportasi Wilayah (TATRAWIL) Aceh 4. Tatanan Kepelabuhan (TKN) & Rencana Induk Pelabuhan Nasional (RIPN) 5. MP3EI 6. Cetak Biru Pengembangan Sistem Logistik Nasional

Connecting Aceh

2013 Hal 25

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B I J A K A N & R E N C A N A 1. Dasar hukum


Pemerintah Aceh Pemerintah Indonesia

UUPA Ps 172/173 tentang kewenangan Pemerintah Aceh untuk mengelola pelabuhan dan bandara (2 tahun setelah UUPA disahkan)

UU Pemerintah Indonesia No 17/2008 ttg PELAYARAN dan PP No 61/2009 ttg KEPELABUHANAN

Rqanun RTRW Aceh (RAQAN) Ps 1920 tentang arah pengembangan transportasi perairan

SISTRANAS - SISLOGNAS

Rencana Induk Pelabuhan Aceh (PerGub)

RENCANA INDUK PELABUHAN NASIONAL TATANAN KEPELABUHANAN NASIONAL

Connecting Aceh

2013 Hal 26

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B I J A K A N & R E N C A N A 1. Dasar hukum


Pelabuhan menurut Zona Kerja berdasarkan letak geografis, dan rencana pengembangan kawasan strategis Aceh: 1) Zona Pusat, terdiri atas Pelabuhan Sabang dan Pelabuhan Penyeberangan Balohan (Kota Sabang), Pelabuhan Malahayati dan Pelabuhan Penyeberangan Lamteng Pulo Aceh (Kabupaten Aceh Besar), serta Pelabuhan Penyeberangan Ulee Lheue (Kota Banda Aceh); 2) Zona Utara - Timur, terdiri atas Pelabuhan Krueng Geukuh (Kabupaten Aceh Utara), Kuala Langsa (Kota Langsa) serta Idi (Kabupaten Aceh Timur); 3) Zona Barat, terdiri atas Pelabuhan Meulaboh dan Pelabuhan Penyeberangan Meulaboh (Kabupaten Aceh Barat) serta Pelabuhan Calang (Kabupaten Aceh Jaya); dan 4) Zona Tenggara-Selatan, terdiri atas Pelabuhan Singkil, Pelabuhan Penyeberangan Singkil dan Pulau Banyak (Kabupaten Aceh Singkil), Pelabuhan Sinabang dan Pelabuhan Penyeberangan Sinabang (Kabupaten Simeulue), Pelabuhan Tapaktuan dan Pelabuhan Penyeberangan Labuhan Haji (Kabupaten Aceh Selatan), serta Pelabuhan pengumpan Susoh dan Pelabuhan Surin (Kabupaten Aceh Barat Daya).
2013 Hal 27

Connecting Aceh

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B I J A K A N & R E N C A N A 1. Dasar hukum


Sebaran Pelabuhan di Zona Pusat

Connecting Aceh

2013 Hal 28

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B I J A K A N & R E N C A N A 1. Dasar hukum


Sebaran Pelabuhan di Zona Barat

Connecting Aceh

2013 Hal 29

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B I J A K A N & R E N C A N A 1. Dasar hukum


Sebaran Pelabuhan di Zona Utara - Timur

Connecting Aceh

2013 Hal 30

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B I J A K A N & R E N C A N A 1. Dasar hukum


Sebaran Pelabuhan di Zona Tenggara - Selatan

Connecting Aceh

2013 Hal 31

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B I J A K A N & R E N C A N A 2. Rencana Tata Ruang Wilayah Aceh


A. Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Aceh 1. Tujuan Penataan Ruang Wilayah Aceh mewujudkan tata ruang wilayah Aceh yang Islami dan maju, produktif, adil dan merata, serta berkelanjutan 2. Kebijakan dan Strategi Penataan Ruang Wilayah Aceh a. Kebijakan dan Strategi Pengembangan Struktur Ruang Wilayah Aceh 1) Peningkatan fungsi-fungsi pelayanan pada pusat-pusat kegiatan dalam wilayah Aceh sesuai dengan hierarki dan fungsi yang ditetapkan; 2) Peningkatan akses pelayanan pusat-pusat dalam wilayah Aceh yang merata dan berhierarki; 3) Peningkatan akses dari dan ke luar wilayah Aceh, baik dalam lingkup nasional maupun lingkup internasional; 4) Peningkatan kualitas pelayanan dan jangkauan pelayanan jaringan prasarana transportasi, energi, telekomunikasi, sumber daya air yang merata di seluruh wilayah Aceh. b. Kebijakan dan Strategi Pengembangan Pola Ruang Wilayah Aceh 1). Kebijakan dan Strategi Pengembangan Kawasan Lindung Wilayah Aceh Peningkatan kualitas kawasan lindung yang telah ditetapkan menurun fungsi perlindungannya dan penjagaan kualitas kawasan lindung yang ada; Pemeliharaan dan perwujudan kelestarian lingkungan hidup; Pencegahan dampak negatif kegiatan manusia yang dapat menimbulkan kerusakan lingkungan hidup.

Connecting Aceh

2013 Hal 32

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B I J A K A N & R E N C A N A 2. Rencana Tata Ruang Wilayah Aceh (RAQAN RTRW Aceh)


2). Kebijakan dan Strategi Pengembangan Kawasan Budidaya Wilayah Aceh Peningkatan produktivitas kawasan budidaya; Perwujudan dan peningkatan keterpaduan dan keterkaitan antar kegiatan budidaya; Pengendalian perkembangan kegiatan budidaya agar tidak melampaui daya dukung dan daya tampung lingkungan 3. Rencana Struktur Ruang Wilayah Aceh a. Rencana Sistem Perkotaan Wilayah Aceh: PKN (Pusat Kegiatan Nasional), PKW (Pusat Kegiatan Wilayah), dan PKL (Pusat Kegiatan Lokal). Penetapan PKN dan PKW merupakan kewenangan pemerintah, dan telah ditetapkan dalam RTRWN (Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional). Selain ketiga pusat tersebut, dalam sistem perkotaan nasional dikembangkan dan ditetapkan pula PKSN (Pusat Kegiatan Strategis Nasional). Sementara PKL ditetapkan dalam RTRW Provinsi, sesuai dengan ketentuan pada Pasal 11 ayat (3) Peraturan Pemerintah (PP) No.26/2008 tentang RTRWN.

Connecting Aceh

2013 Hal 33

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B Sistem I J A K A N &Pelayanan R E N C A N A Perkotaan/Pusat di Aceh 2. Rencana Tata Ruang Wilayah Aceh (RAQAN RTRW Aceh)
TABEL III.1.1 PENETAPAN SISTEM PERKOTAAN / PUSAT PELAYANAN DI ACEH
FUNGSI/HIERARKI
I. PKN (Pusat Kegiatan Nasional) PKNp
(PKN Promosi)

PUSAT
1. LHOKSEUMAWE 1. BANDA ACEH 1. SABANG 1. 2. 3. 4. SABANG LANGSA TAKENGON MEULABOH

Keterangan
Kota Lhokseumawe dan sekitarnya di Kabupaten Aceh Utara 1) Kota Banda Aceh dan sekitarnya di Kabupaten Aceh Besar 2) Kota Sabang dan sekitarnya 3)

Klasifikasi Ukuran Perkotaan

Sedang Besar Sedang Sedang Sedang Kecil Sedang Kecil Kecil Kecil Sedang Kecil Sedang Kecil Kecil Sedang Kecil Kecil Kecil Kecil Kecil Kecil Kecil Kecil

II. III.

PKSN
(Pusat Kegiatan Strategis Nasional)

PKW
(Pusat Kegiatan Wilayah)

Kota Sabang dan sekitarnya 3) Kota Langsa Ibukota Kabupaten Aceh Tengah Ibukota Kabupaten Aceh Barat Kota Subulussalam Ibukota Kabupaten Aceh Barat Daya Ibukota Kabupaten Aceh Besar Ibukota Kabupaten Pidie Ibukota Kabupaten Pidie Jaya Ibukota Kabupaten Bireuen Ibukota Kabupaten Aceh Utara Ibukota Kabupaten Aceh Timur Pusat/Ibukota Kab. Aceh Tamiang Ibukota Kabupaten Bener Meriah Ibukota Kabupaten Gayo Lues Ibukota Kabupaten Aceh Tenggara Ibukota Kabupaten Aceh Jaya Ibukota Kabupaten Nagan Raya Ibukota Kabupaten Aceh Selatan Ibukota Kabupaten Aceh Singkil Ibukota Kabupaten Simeulue

PKWp
(PKW Promosi)

1. SUBULUSSALAM 2. BLANGPIDIE 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. JANTHO SIGLI MEUREUDU BIREUEN LHOK SUKON IDI RAYEUK KA.SIMPANG-KR.BARU 4) SIMPANG TIGA REDELONG BLANGKEJEREN KUTACANE CALANG JEURAM-SUKA MAKMUE 5) TAPAKTUAN SINGKIL SINABANG

IV.

PKL
(Pusat Kegiatan Lokal)

Connecting Aceh

Sumber: Hasil Analisis Catatan: - PKN , PKSN , dan PKW ditetapkan dalam PP No.26/2008 tentang RTRWN . - PKNp (PKN Promosi) dan PKWp (PKW Promosi) ditetapkan dalam RTRW Aceh. - PKL ditetapkan dalam RTRW Aceh.

2013 Hal 34

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B I J A K A N & R E N C A N A 2. Rencana Tata Ruang Wilayah Aceh (RAQAN RTRW Aceh)

Connecting Aceh

2013 Hal 35

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B I J A K A N & R E N C A N A 2. Rencana Tata Ruang Wilayah Aceh (RAQAN RTRW Aceh)


Tabel Penetapan Fungsi Pelayanan dalam Sistem Perkotaan

Connecting Aceh

2013 Hal 36

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B I J A K A N & R E N C A N A 2. Rencana Tata Ruang Wilayah Aceh (RAQAN RTRW Aceh)


Tabel Penetapan Wilayah Pengembangan (WP) di Aceh

Connecting Aceh

2013 Hal 37

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B I J A K A N & R E N C A N A 2. Rencana Tata Ruang Wilayah Aceh (RAQAN RTRW Aceh)

Connecting Aceh

2013 Hal 38

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B I J A K A N & R E N C A N A 2. Rencana Tata Ruang Wilayah Aceh (RAQAN RTRW Aceh)


b. Rencana Sistem Jaringan Prasarana Wil. Aceh 1) Rencana Pengembangan Sistem Prasarana Transportasi a). Jaringan Prasarana Jalan Raya Jalan Arteri Primer (JAP) Semua Jalan Arteri Primer yang dijelaskan di atas mempunyai status sebagai jalan nasional, kecuali ruas Ulee Kareng Balang Bintang yang merupakan jalan provinsi. Jalan Kollektor Primer (JKP) Semua Jalan Kolektor Primer tersebut di atas berstatus sebagai Jalan Provinsi. Jalan Lokal Primer (JLP) Semua Jalan Lokal Primer di atas adalah berstatus sebagai Jalan Provinsi. Selain Jalan Lokal Primer di atas, dalam RTRW Kabupaten/Kota masih mungkin ditetapkan Jalan Lokal Primer sesuai dengan kebutuhan dan kebijakan Kabupaten/Kota yang bersangkutan.

Tabel Sistem Jaringan Rencana Struktur Ruang Wilayah Aceh

Connecting Aceh

2013 Hal 39

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B I J A K A N & R E N C A N A 2. Rencana Tata Ruang Wilayah Aceh (RAQAN RTRW Aceh)


b). Jaringan Jalur Kereta Api Revitalisasi jaringan jalur kereta api di pesisir timur, yang menghubungkan Banda Aceh ke Besitang di Provinsi Sumatera Utara, yaitu dengan menghidupkan kembali jaringan jalur kereta api yang pernah ada pada pesisir timur tersebut. Pengembangan jaringan jalur kereta api baru di pesisir barat, yang menghubungkan Banda Aceh ke Sibolga di Provinsi Sumatera Utara. c). Prasarana Angkutan di Perairan Hierarki pelabuhan, yang terdiri atas: pelabuhan utama, pelabuhan pengumpul, dan pelabuhan pengumpan; Pelayanan menurut: angkutan laut dan/atau angkutan penyeberangan; Jangkauan pelayanan menurut: luar negeri (internasional), dalam negeri antarprovinsi, dalam negeri dalam provinsi, pelayaran rakyat, dan khusus; Khusus untuk angkutan penyeberangan dikemukakan lintasan/rute penyeberangan yang dilayani oleh pelabuhan tersebut. d). Prasarana Angkutan Udara Bandara umum atau bandara khusus; Penggunaan/pelayanan internasional atau domestik; Hierarki sebagai pengumpul atau pengumpan.

Connecting Aceh

2013 Hal 40

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E Tabel B I Rencana J A K Pengembangan A N & Pelabuhan R E N C A N A di Aceh 2. Rencana Tata Ruang Wilayah Aceh (RAQAN RTRW Aceh)

Connecting Aceh

2013 Hal 41

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B I J A K A N & R E N C A N A 2. Rencana Tata Ruang Wilayah Aceh (RAQAN RTRW Aceh)

Connecting Aceh

2013 Hal 42

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B I J A K A N & R E N C A N A 2. Rencana Tata Ruang Wilayah Aceh (RAQAN RTRW Aceh)


Tabel Rencana Pengembangan Bandar Udara di Aceh

Connecting Aceh

2013 Hal 43

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B I J A K A N & R E N C A N A 2. Rencana Tata Ruang Wilayah Aceh (RAQAN RTRW Aceh)


2). Rencana Pengembangan Sistem Prasarana Energi Aceh PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap), yang potensial dikembangkan di pesisir barat; PLTG (Pembangkit Listrik Tenaga Gas), yang potensial dikembangkan di pesisir timur dan Banda Aceh dan sekitarnya; PLTP (Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi), yang potensial dikembangkan di Sabang dan Aceh Besar; dan PLTA (Pembangkit Listrik Tenaga Air), yang potensial dikembangkan di DAS Peusangan, Bendungan Jambo Aye di Aceh Utara, dan Waduk Tampur di Aceh Tamiang. 3). Rencana Pengembangan Prasarana SDA a). Pengembangan Irigasi konservasi sumber daya air, pendayagunaan sumber daya air, dan pengendalian daya rusak air. b). Pengembangan Irigasi Pemantapan: dalam arti dominan bersifat mempertahankan dan memelihara agar kualitas dan kuantitas yang terkandung di dalamnya tetap efektif memberikan pelayanan; Pengembangan: dalam arti dominan bersifat pengembangan atau perluasan dari yang sudah ada, revitalisasi yang sudah ada namun mengalami penurunan kualitas dan/atau kuantitas pelayanan, dan/atau pengembangan baru. c). Pengembangan Waduk Untuk mendukung pelayanan prasarana irigasi dan beberapa pemanfaatan lainnya ditingkatkan dan dikembangkan waduk, termasuk bendung dan embung, Pemanfaatan waduk tersebut sebagian besar memang untuk mendukung prasarana irigasi, namun ada sejumlah waduk dengan pemanfaatan lainnya yaitu sumber air baku untuk air bersih dan pembangkit tenaga listrik

Connecting Aceh

2013 Hal 44

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B I J A K A N & R E N C A N A 2. Rencana Tata Ruang Wilayah Aceh (RAQAN RTRW Aceh)


Tabel Pengembangan Pengelolaan Wilayah Sungai di Aceh

Connecting Aceh

2013 Hal 45

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B I J A K A N & R E N C A N A 2. Rencana Tata Ruang Wilayah Aceh (RAQAN RTRW Aceh)

Connecting Aceh

2013 Hal 46

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B I J A K A N & R E N C A N A 2. Rencana Tata Ruang Wilayah Aceh (RAQAN RTRW Aceh)


Tabel Pengembangan Wilayah Waduk di Aceh

Connecting Aceh

2013 Hal 47

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B I J A K A N & R E N C A N A 2. Rencana Tata Ruang Wilayah Aceh (RAQAN RTRW Aceh)


4).

Rencana Pengembangan Prasarana Telekomunikasi


a. Pengembangan prasarana telekomunikasi terdiri atas pengembangan sistem jaringan kabel telekomunikasi/telepon dan pengembangan sistem telepon seluler atau mobile phone (telepon bergerak). Untuk mewujudkan pengembangan Aceh Cyber Province dibangun sistem telekomunikasi tanpa kabel (wireless) yang akan saling menghubungkan dengan 23 kabupaten/kota di Aceh. Pengembangan tersebut meliputi pengembangan: menara melalui SID-SITAC, sistem komunikasi dengan dasar BWA (Broadband Wireless Access), VSAT (Very Small Aperture Terminal) di 23 kabupaten/kota.

b.

5). a.

Rencana Pengembangan Prasarana Permukiman Lintas kabupaten/Kota


Prasarana permukiman perkotaan lintas kabupaten/kota perlu diidentifikasi sehubungan dengan adanya peranan/fungsi Pemerintah Aceh untuk mengkoordinasikan pengembangan prasarana permukiman lintas kabupaten/kota. Perkembangan kawasan perkotaan yang akan berkarakter lintas kabupaten/kota tersebut adalah: PKNp Banda Aceh (lintas Kota Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar); dan PKN Lhokseumawe (lintas Kota Lhokseumawe dan Kabupaten Aceh Utara). Prasarana permukiman perkotaan yang dimaksud dalam hal ini adalah meliputi: Prasarana jaringan air bersih perpipaan, Prasarana pengolahan sampah.

b.

c.

Connecting Aceh

2013 Hal 48

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B I J A K A N & R E N C A N A 2. Rencana Tata Ruang Wilayah Aceh (RAQAN RTRW Aceh)


4. Rencana Pola Ruang Kawasan Lindung
a. Rencana Pola Ruang Kawasan Lindung 1) Berdasarkan penetapan dalam PP No.26/2008 tentang RTRWN, khususnya Pasal 51 sampai Pasal 62, 2) Dikaitkan dengan kajian/analisis mengenai arahan pola ruang, selanjutnya diidentifikasi kawasan lindung yang akan ditetapkan dalam RTRW Aceh. 3) Dalam penetapan ini dipilah atas 2 aspek penetapan, yaitu penetapan secara deskriptif dan penetapan secara delineasi pada wilayah Aceh (yang dapat digambarkan pada Peta Rencana skala 1 : 250.000). 4) Kelompok utama kawasan lindung sesuai dengan penetapan pada RTRWN (PP No.26/2008) meliputi: Kawasan Yang Memberikan Perlindungan Kawasan Bawahannya; Kawasan Perlindungan Setempat; Kawasan Suaka Alam, Pelestarian Alam, dan Cagar Budaya; Kawasan Rawan Bencana Alam; Kawasan Lindung Geologi; dan Kawasan Lindung Lainnya.

Connecting Aceh

2013 Hal 49

2). Rencana Penetapan Kawasan Lindung

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B I J A K A N & R E N C A N A 2. Rencana Tata Ruang Wilayah Aceh (RAQAN RTRW Aceh)


Tabel Jenis dan Sebaran Kawasan Lindung di Aceh JENIS DAN SEBARAN KAWASAN LINDUNG DI ACEH
No. I. Jenis Kawasan Lindung Sebaran Ditetapkan Sebaran Diindikasikan Keterangan Kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya 1. Kaw. Hutan Lindung
Luas: 2.841.630,00 Ha, tersebar di kabupaten/kota: Aceh Besar, Sabang, Pidie, Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Utara, Aceh Timur, Langsa, Aceh Tamiang, Aceh Tenggara, Gayo Lues, Aceh Tengah, Bener Meriah, Aceh Jaya, Aceh Barat, Nagan Raya, Aceh Barat Daya, Aceh Selatan, Aceh Singkil, Subulussalam, Simeulue. Catatan: Dalam Kawasan Hutan Lindung ini termasuk Hutan Lindung Pesisir (HLP) yang merupakan Kawasan Pantai Berhutan Bakau yang terletak di pesisir timur: Aceh Timur, Langsa, Aceh Tamiang; dan di pesisir barat: Aceh Singkil di muara Sungai Singkil. -

TABEL IV.1.2

2. Kawasan Bergambut

Luas: 50.000 Ha, yaitu Kawasan Rawa Gambut Tripa, terletak di kabupaten: Nagan Raya, Aceh Barat Daya (Abdya).

3. Kawasan Resapan Air II. Kawasan Perlindungan Setempat 1. Sempadan Pantai 2. Sempadan Sungai 3. Kaw.Sekitar Danau atau Waduk 4. Ruang Terbuka Hijau Kota

Tersebar di kabupaten/kota.

Tersebar di kabupaten/kota yang memiliki pesisir pantai.

Tersebar di kabupaten/kota. - Sekitar Danau Laut Tawar, Aceh Tengah; - Sekitar Danau Anak Laut, Sabang.

Kawasan perkotaan di kota dan kabupaten.

Connecting Aceh

2013 Hal 50

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B I J A K A N & R E N C A N A 2. Rencana Tata Ruang Wilayah Aceh (RAQAN RTRW Aceh)


Lanjutan 1 - Tabel IV.1.2 Jenis dan Sebaran Kawasan Lindung di Aceh No. III. Jenis Kawasan Lindung

Tabel Lanjutan Jenis dan Sebaran Kawasan Lindung di Aceh


Sebaran Ditetapkan Sebaran Diindikasikan Keterangan

Kaw. Suaka Alam, Pelestarian Alam, dan Cagar Budaya 1. Kaw. Suaka Alam 2. Kaw. Suaka Alam Laut dan perairan lainnya 3. Suaka Margasatwa dan Suaka Margasatwa Laut 4. Cagar Alam dan Cagar Alam Laut
Belum/tidak teridentifikasi. Belum/tidak teridentifikasi.

Suaka Margasatwa Rawa Singkil, luas: 95.078,62 Ha, terletak di Aceh Selatan, Aceh Singkil, dan Subulussalam. - Cagar Alam Serbajadi (Raflesia), luas: 311,00 Ha, terletak di Aceh Timur. - Cagar Alam Pinus Jantho, luas: 16.462,84 Ha, terletak di Aceh Besar

5. Kawasan Pantai Berhutan Bakau 6. Taman Nasional dan Taman Nasional Laut

Tercakup dalam penetapan Hutan Lindung. Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), luas: 624.998,13 Ha, terletak di: Aceh Tenggara, Gayo Lues, Aceh Selatan, Subulussalam, Aceh Barat Daya, dan Aceh Tamiang.

7. Taman Hutan Raya (Tahura)

- Tahura Pocut Meurah Intan, luas: 5,725,87 Ha, terletak di Aceh Besar dan Pidie. - Tahura Tepah Selatan, luas: 821,00 Ha, terletak di Simeulue.

8. Taman Wisata Alam dan Taman Wisata Alam Laut (TWA/TWAL)

- TWA Iboih Sabang, luas: 1.314,49 Ha, di Sabang. - TWAL Pulau Weh Sabang, luas: 5.355,35 Ha, di Sabang. - TWA Pulau Banyak, luas: 27.888,35 Ha, di Aceh Singkil. - TWAL Kepulauan Banyak, luas: 204.379,60 Ha, di Aceh Singkil. - TWA Anak Laut Singkil, luas: 1.259,00 Ha, di Aceh Singkil.

Connecting Aceh

2013 Hal 51

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B I J A K A N & R E N C A N A 2. Rencana Tata Ruang Wilayah Aceh (RAQAN RTRW Aceh)


Lanjutan 2 - Tabel IV.1.2 Jenis dan Sebaran Kawasan Lindung di Aceh No. Jenis Kawasan Lindung

Tabel Lanjutan Jenis dan Sebaran Kawasan Lindung di Aceh


Sebaran Ditetapkan
- TWA Makam Teuku Umar, luas: 505,00 Ha, di Aceh Barat. - TWA Kuta Malaka, luas: 1.428,00 Ha, di Aceh Besar. - TWAL Pinang-Siumat-Simanaha (Pisisi), luas belum teridentifikasi, di Simeulue.

Sebaran Diindikasikan

Keterangan

9. Kawasan Cagar Budaya dan Ilmu Pengetahuan

- Peninggalan Kesultanan Aceh berupa bangunan dan/ atau situs, di Banda Aceh dan Aceh Besar. - Peninggalan Kerajaan Islam Samudera Pasai berupa bangunan dan/atau situs dan Monumen Samudera Pasai, di Aceh Utara.

IV.

Kawasan Rawan Bencana Alam


Kawasan yang dilalui oleh sesar aktif di wilayah bagian tengah / pegunungan wilayah Aceh. -

1. Kaw. Rawan Tanah Longsor 2. Kaw. Rawan Gelombang Pasang 3. Kawasan Rawan Banjir 4. Kawasan Rawan Kekeringan 5. Kawasan Rawan Angin Badai 6. Kaw. Rawan Kebakaran Hutan V. Kawasan Lindung Geologi

Sepanjang pesisir wilayah Aceh. Tersebar di semua kabupaten/kota.

Tersebar di semua kabupaten/kota. Aceh Timur, Aceh Utara, dan Aceh Barat. Hutan di sepanjang pinggir jalan, hutan pinus, dan lahan gambut.

1. Kaw. Cagar Alam Geologi a. Kaw.Keunikan Batuan dan Fosil b. Kaw. Keunikan Bentang Alam c. Kaw. Keunikan Proses Geologi
Belum/tidak teridentifikasi. Belum/tidak teridentifikasi. Belum/tidak teridentifikasi.

Connecting Aceh

2013 Hal 52

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B I J A K A N & R E N C A N A 2. Rencana Tata Ruang Wilayah Aceh (RAQAN RTRW Aceh)


Lanjutan 3 - Tabel IV.1.2 Jenis dan Sebaran Kawasan Lindung di Aceh No. Jenis Kawasan Lindung

Tabel Lanjutan Jenis dan Sebaran Kawasan Lindung di Aceh


Sebaran Ditetapkan Sebaran Diindikasikan Keterangan

2. Kaw.Rawan Bencana Alam Geologi a. Kaw. Rawan Letusan Gunung Berapi b. Kaw. Rawan Gempa Bumi c. Kaw. Rawan Gerakan Tanah (longsor dan amblas) d. Kaw. Yang Terletak Pada Zona Patahan Aktif e. Kaw. Rawan Tsunami f. Kaw. Rawan Abrasi
Bener Meriah, Pidie, Pidie Jaya, Aceh Besar, dan Sabang. Kawasan yang dilalui oleh sesar aktif di wilayah bagian tengah / pegunungan wilayah Aceh. Kawasan yang dilalui oleh sesar aktif di wilayah bagian tengah / pegunungan wilayah Aceh. Kawasan yang dilalui oleh sesar aktif di wilayah bagian tengah / pegunungan wilayah Aceh. Kawasan sepanjang pesisir wilayah Aceh. Aceh Selatan, Aceh Barat Daya, Aceh Barat, Aceh Jaya, Aceh Besar, Banda Aceh, Pidie, Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Utara, Lhokseumawe, Aceh Timur, Aceh Tamiang. -

g. Kawasan Rawan Bahaya Gas Beracun 3. Kaw. Yang Memberikan Perlindungan Terhadap Air Tanah a. Kaw. Imbuhan Air Tanah b. Kaw. Sempadan Mata Air

Pada kawasan rawan letusan gunung berapi di Bener Meriah, Pidie, Pidie Jaya, Aceh Besar, Sabang.

Belum/tidak teridentifikasi. Belum/tidak teridentifikasi.

Connecting Aceh

2013 Hal 53

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B I J A K A N & R E N C A N A 2. Rencana Tata Ruang Wilayah Aceh (RAQAN RTRW Aceh)


Lanjutan 4 - Tabel IV.1.2 Jenis dan Sebaran Kawasan Lindung di Aceh No. Jenis Kawasan Lindung

Tabel Lanjutan Jenis dan Sebaran Kawasan Lindung di Aceh


Sebaran Ditetapkan Sebaran Diindikasikan Keterangan

VI. Kawasan Lindung Lainnya 1. Kaw. Cagar Biosfer 2. Ramsar 3. Taman Buru (TB) 4. Kawasan Perlindungan Plasma Nutfah (KPPN)
di Aceh Tengah. - KPN Leupung, luas: 1.300,00 Ha, terletak dalam Hutan Produksi di Aceh Besar. - KPN Kapur, luas: 1.821,00 Ha, terletak dalam Areal Penggunaan Lain (APL) di Subulussalam. Taman Buru Lingga Isaq, luas: 84.962,53 Ha, terletak Belum/tidak teridentifikasi. Belum/tidak teridentifikasi. -

5. Kaw. Pengungsian Satwa 6. Terumbu Karang

- Pusat Konservasi Gajah Cot Girek, luas: 793,00 Ha, terletak dalam Hutan Produksi di Aceh Utara. Tercakup dalam penetapan TWAL, yaitu: TWAL Pulau Weh Sabang, TWAL Kepulauan Banyak Aceh Singkil, dan TWAL Pinang-Siumat-Simanaha Simeulue.

7. Kaw. Koridor Bagi Jenis Satwa atau Biota Laut yang Dilindungi 8. Kawasan Hutan Tujuan Khusus

Koridor Singkil - Bengkung, luas: 2.307 Ha, di Aceh Selatan (sebagai koridor satwa yang dilindungi)

Kawasan Hutan Pendidikan STIK, luas: 80,00 Ha, terletak dalam Hutan Produksi di Aceh Besar.

Sumber: Hasil Analisis.

Connecting Aceh

2013 Hal 54

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B I J A K A N & R E N C A N A 2. Rencana Tata Ruang Wilayah Aceh (RAQAN RTRW Aceh)

Connecting Aceh

2013 Hal 55

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B I J A K A N & R E N C A N A 2. Rencana Tata Ruang Wilayah Aceh (RAQAN RTRW Aceh) TABEL IV.2.2
Tabel Penetapan KawasanNILAI Budidaya yang Memiliki Nilai Strategis Provinsi YANG MEMILIKI STRATEGIS PROVINSI DI ACEH
KABUPATEN/KOTA 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 18. 20. 21. 22. 23. Sabang Kota Banda Aceh Aceh Besar Aceh Jaya Aceh Barat Nagan Raya Aceh Tengah Benar Meriah Pidie Pidie Jaya Bireuen Kota Lhokseumawe Aceh Utara Kota Langsa Aceh Timur Aceh Tamiang Aceh Selatan Aceh Singkil Subulussalam Aceh Tenggara Gayo Lues Aceh Barat Daya Simeulue HPT (Ha)
68,66 24,23 91,55 12.864,23 283,10

PENETAPAN KAWASAN BUDIDAYA


Hutan Produksi HP HPK (Ha) (Ha)

Total (Ha)
34.960,01 2.040,90 525,18 4.149,43 39.257,18 15.297,43 27.072,58 139,98 1.431,29 3.308,96 2.924,44 4.652,68 4.901,79 229,37 5.836,04 2.032,44 17.359,04 7.260,07 173.378,81

Pertanian Pangan Lahan Basah DI Pusat DI Aceh Total (Ha) (Ha) (Ha)
15.961,00 12.446,00 3.200,00 19.118,00 9.683,00 28.815,00 3.480,00 5.425,00 5.793,00 103.921,00 12.707,00 2.000,00 1.100,00 3.944,00 5.862,00 3.226,00 1.300,00 8.875,00 5.800,00 9.740,00 8.199,00 4.675,00 6.134,00 3.085,00 76.647,00 15.961,00 12.707,00 12.446,00 2.000,00 3.200,00 20.218,00 3.944,00 15.545,00 32.041,00 1.300,00 12.355,00 5.800,00 9.740,00 13.624,00 4.675,00 11.927,00 3.085,00 180.568,00

Kaw. Budidaya Strat. (Ha)


50.921,01 14.747,90 525,18 16.595,43 41.257,18 18.497,43 47.290,58 4.083,98 16.976,29 35.349,96 4.224,44 17.007,68 10.701,79 9.969,37 5.836,04 2.032,44 13.624,00 22.034,04 11.927,00 10.345,07 353.946,81

29.852,61 995,69 201,67 187,81 31.681,92 9.514,61 18.967,64 139,98 1.079,60 3.308,96 2.908,25 4.652,68 4.898,94 5.332,59 2.032,44 10,53 6.976,97

5.107,40 1.045,21 323,51 3.892,97 7.575,26 5.782,82 8.104,94 327,47 16,19 2,85 137,81 503,44 4.484,27 -

Connecting Aceh

ACEH 13.331,77 122.742,91 37.304,14 Sumber: Rencana Pola Ruang Wilayah Aceh. Keterangan: HPT : Kawasan Hutan Produksi Terbatas HP : Kawasan Hutan Produksi Tetap HPK : Kawasan Hutan Produksi Konversi

2013 Hal 56

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B I J A K A N & R E N C A N A 2. Rencana Tata Ruang Wilayah Aceh (RAQAN RTRW Aceh)


Tabel Penetapan Kegiatan Unggulan Pada Kawasan Budidaya Lainnya dalam Kawasan Andalan Aceh (KAA-WP)
TABEL IV.2.4 PENETAPAN KEGIATAN UNGGULAN PADA KAWASAN BUDIDAYA LAINNYA DALAM KAWASAN ANDALAN ACEH - WP (KAA-WP)
Kabupaten/Kota Yang Tercakup Luas KAA-WP (Ha) Luas Kaw. Luas Kaw. Bud. Luas Kaw. Lindung (Ha) Strat.Aceh (Ha) Bud. Lain (Ha)

No.

Kawasan Andalan Aceh-WP (KAA-WP)

Kegiatan Unggulan Pada Kaw. Budidaya Lainnya

1. Kawasan Andalan Aceh WP Basajan (Banda Aceh-Sabang-Jantho)

Kota Banda Aceh Kota Sabang Kab. Aceh Besar

308.087,75

159.129,80

50.921,01

2. Kawasan Andalan Aceh WP Timur 1 (Langsa-Kuala Simpang-Idi Rayeuk)

Kota Langsa Kab. Aceh Tamiang Kab. Aceh Timur

775.022,60

432.458,04

31.933,92

3. Kawasan Andalan Aceh WP Timur 2 (Lhokseumawe-Bireuen-Lhok Sukon)

Kota Lhokseumawe Kab. Aceh Utara Kab. Bireuen

464.440,37

137.758,65

52.326,25

4. Kawasan Andalan Aceh WP Timur 3 (Sigli-Meureudu)

Kab. Pidie Kab. Pidie Jaya

411.718,18

267.620,42

51.374,56

5. Kawasan Andalan Aceh WP Tengah 1 (Takengon-SpTRedelong)

Kab. Aceh Tengah Kab. Bener Meriah

635.804,69

459.768,78

59.754,61

6. Kawasan Andalan Provinsi WP Tengah 2 (Kutacane-Blangkejeren)

Kab. Aceh Tenggara Kab. Gayo Lues

971.953,52

889.459,14

35.658,04

7. Kawasan Andalan Aceh WP Barat 1 (Meulaboh-Calang-Suka Makmue)

Kab. Aceh Barat Kab. Aceh Jaya Kab. Nagan Raya

1.018.069,37

702.456,67

31.868,51

8. Kawasan Andalan Aceh WP Barat 2 (Tapaktuan-Blangpidie)

Kab. Aceh Selatan Kab. Aceh Barat Daya

605.863,89

545.493,28

21.896,37

9. Kawasan Andalan Aceh WP Barat 3 (Subulussalam-Singkil)

Kota Subulussalam Kab. Aceh Singkil

302.158,52

178.917,18

7.868,48

10. Kawasan Andalan Aceh WP Barat 4 (Sinabang)

Kab. Simeulue

182.721,93

121.696,72

10.345,07

98.036,94 310.630,64 274.355,47 92.723,20 116.281,30 46.836,34 283.744,19 38.474,24 115.372,85 50.680,13 -

Permukiman Perkotaan Permumiman Perdesaan Pertanian Pariwisata Industri Perikanan Permukiman Perkotaan Permumiman Perdesaan Perkebunan Pertanian Industri Perikanan Pertambangan Permukiman Perkotaan Permumiman Perdesaan Pertanian Perkebunan Industri Perikanan Pertambangan Permukiman Perkotaan Permumiman Perdesaan Pertanian Perkebunan Industri Perikanan Pertambangan Permukiman Perkotaan Permumiman Perdesaan Perkebunan Pariwisata Perikanan Permukiman Perkotaan Permumiman Perdesaan Perkebunan Pariwisata Pertanian Permukiman Perkotaan Permumiman Perdesaan Perkebunan Pertanian Perikanan Pariwisata Pertambangan Permukiman Perkotaan Permumiman Perdesaan Perkebunan Pertanian Perikanan Pariwisata Permukiman Perkotaan Permumiman Perdesaan Perkebunan Perikanan Pariwisata Permukiman Perkotaan Permumiman Perdesaan Perkebunan Perikanan Pariwisata

Sumber: Rencana Pola Ruang Wilayah Aceh.

Connecting Aceh

2013 Hal 57

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B I J A K A N & R E N C A N A 2. Rencana Tata Ruang Wilayah Aceh (RAQAN RTRW Aceh)


Tabel Penetapan Kegiatan Unggulan Pada Kawasan Budidaya Lainnya dalam Kawasan Andalan Aceh (KAA-WP)

Connecting Aceh

2013 Hal 58

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B I J A K A N & R E N C A N A 2. Rencana Tata Ruang Wilayah Aceh (RAQAN RTRW Aceh)

Connecting Aceh

2013 Hal 59

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B I J A K A N & R E N C A N A 2. Rencana Tata Ruang Wilayah Aceh (RAQAN RTRW Aceh)


TABEL V.3.1 PENETAPAN KAWASAN STRATEGIS (KSA) Tabel Kawasan Strategis AcehACEH (KSA)
Sudut Kepentingan KSA & KSA Yang Ditetapkan A. Pertumbuhan ekonomi: 1. Koridor Banda Aceh - Lhokseumawe - Langsa - Kuala Simpang - Memiliki sektor unggulan yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi wilayah Aceh. - Pertumbuhan ekonomi yang pesat selayaknya dikendalikan agar tidak menurunkan kinerja kawasan. - Mengembangkan pusat-pusat kegiatan ekonomi yang mendorong pertumbuhan ekonomi Aceh. - Mengembangkan dan meningkatkan prasarana dan sarana pendukung pusat-pusat kegiatan ekonomi. - Mengendalikan pemanfaatan ruang dan alih fungsi ruang yang dapat menurunkan kualitas lingkungan dan layanan transportasi wilayah. Karakter Pengembangan KSA Arahan Penanganan KSA

2. Koridor Banda Aceh - MeulabohSubulussalam

- Memiliki sektor unggulan yang dapat menggerak- - Mengembangkan kegiatan dan pusat-pusat kegikan pertumbuhan ekonomi. atan agroindustri, agromarine, dan wisata alam - Mempercepat pertumbuhan ekonomi pada kawastermasuk wisata bahari. an yang relatif tertinggal. - Keterkaitan dan keterpaduan prasarana wilayah: transportasi, energi, dan telekomunikasi. - Pengendalian kelestarian lingkungan di daratan dan perairan laut di sekitarnya.

B. Sosial budaya: 3. Kawasan Cagar Budaya: Peninggalan Kesultanan Aceh di Banda Aceh dan Aceh Besar. 4. Kawasan Cagar Budaya: Peninggalan Kerajaan Samudera Pasai di Aceh Utara. - Pelestarian peninggalan budaya Aceh dan nasional. - Pelestarian peninggalan budaya Aceh dan nasional. - Pelestarian cagar budaya. - Sebagai objek wisata budaya dan religi. - Pelestarian cagar budaya. - Sebagai objek wisata budaya dan religi. - Pelestarian kawasan dengan fungsi khusus. - Sebagai objek wisata budaya.

5. Kawasan Pemakaman Massal Kor- - Memiliki nilai sejarah. ban Tsunami dan Museum Bencana Tsunami 2004 di Banda Aceh. C. Pendayagunaan sumber daya alam dan/atau teknologi tinggi:

Connecting Aceh
6. DAS Peusangan

- Memiliki sumber daya air yang bersifat lintas kabupaten, yang dapat didayagunakan untuk mendukung perkembangan wilayah yang pesat di

- Pemanfaatan sumber daya air untuk energi, irigasi dan air bersih. - Konservasi sumber daya air DAS Peusangan, un-

2013 Hal 60

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B I J A K A N & R E N C A N A 2. Rencana Tata Ruang Wilayah Aceh (RAQAN RTRW Aceh)


B. Sosial budaya: 3. Kawasan Cagar Budaya: Peninggalan Kesultanan Aceh di Banda Aceh dan Aceh Besar. 4. Kawasan Cagar Budaya: Peninggalan Kerajaan Samudera Pasai di Aceh Utara. - Pelestarian peninggalan budaya Aceh dan nasional. - Pelestarian peninggalan budaya Aceh dan nasional. - Memiliki nilai sejarah. 5. Kawasan Pemakaman Massal Korban Tsunami dan Museum Bencana Tsunami 2004 di Banda Aceh. C. Pendayagunaan sumber daya alam dan/atau teknologi tinggi: 6. DAS Peusangan - Memiliki sumber daya air yang bersifat lintas kabupaten, yang dapat didayagunakan untuk mendukung perkembangan wilayah yang pesat di pesisir timur Aceh.

dan perairan laut di sekitarnya.

- Pelestarian cagar budaya. - Sebagai objek wisata budaya dan religi. - Pelestarian cagar budaya. - Sebagai objek wisata budaya dan religi. - Pelestarian kawasan dengan fungsi khusus. - Sebagai objek wisata budaya.

Tabel lanjutan Kawasan Strategis Aceh (KSA)

- Pemanfaatan sumber daya air untuk energi, irigasi dan air bersih. - Konservasi sumber daya air DAS Peusangan, untuk menjaga kuantitas dan kualitas air.

D. Fungsi dan Daya Dukung Lingkungan: 7. Kawasan Ekosistem Ulu Masen - Perlindungan ekosistem, perlindungan keanekaragaman hayati, dan perlindungan wilayah hulu tata air. - Perlindungan ekosistem, sebagai gunung berapi (volkanik) yang solitair. - Konservasi alam sebagai suatu ekosistem dengan keanekaragaman hayati, dan memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahannya. - Pembatasan dan pengendalian pembangunan. - Konservasi alam sebagai suatu ekosistem gunung berapi (volkanik). - Pemanfaatan panas bumi Gunung Seulawah. - Pengendalian kegiatan budidaya di lereng dan kaki Gunung Seulawah. - Rehabilitasi dan revitalisasi hutan bakau. - Pengendalian kegiatan budidaya perikanan dan permukiman di sekitar kawasan hutan bakau. - Rehabilitasi dan revitalisasi hutan bakau. - Pengendalian kegiatan budidaya perikanan dan permukiman di sekitar kawasan hutan bakau. - Menjaga kualitas kawasan dengan keanekaragaman fauna dan flora. - Pengendalian pemanfaatan sebagai objek wisata alam. - Menjaga kualitas kawasan dengan keanekaragaman fauna dan flora. - Pengendalian pemanfaatan sebagai objek wisata alam.

8. Kawasan Gunung Seulawah

9. Kawasan Hutan Lindung Pesisir (Hutan Bakau) Pesisir Timur Aceh


(Aceh Tamiang, Langsa, Aceh Timur)

- Perlindungan ekosistem hutan bakau.

10. Kawasan Hutan Bakau di Pesisir Barat Aceh (Gosong Telaga - TWA Anak Laut Singkil) 11. Kawasan TWA/TWAL Pulau Weh Sabang

- Perlindungan ekosistem hutan bakau.

- Perlindungan ekosistem darat dan laut yang terintegrasi dalam kawasan.

12. Kawasan TWA/TWAL Kepulauan Banyak Aceh Singkil.

- Perlindungan ekosistem darat dan laut yang terintegrasi dalam kawasan.

Sumber: Hasil Kajian/Analisis.

Connecting Aceh

2013 Hal 61

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B I J A K A N & R E N C A N A 2. Rencana Tata Ruang Wilayah Aceh (RAQAN RTRW Aceh)

Connecting Aceh

2013 Hal 62

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B I J A K A N & R E N C A N A
3. Tatanan Transportasi Wilayah Aceh (TATRAWIL Aceh)
Isu Strategis Tatanan Transportasi Wilayah (TATRAWIL) Aceh
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. Pasca Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh Integrasi Dana Pembangunan Belum Optimal Alih Fungsi Lahan Semakin Meluas Pemekaran Wilayah Pemanasan Global dan Tingkat Pencemaran Lingkungan Pembangunan Berwawasan Lingkungan dan Tanggap Bencana Pertanian Menjadi Sektor Harapan Peningkatan Nilai Tambah Pengembangan Wilayah Strategis Kemiskinan Daerah Tertinggal dan Ketimpangan Wilayah Pertahanan dan Keamanan Nasional

Arah Pengembangan Jaringan Transportasi 1. 2. 3. 4. 5. Jaringan transportasi yang ada saat ini Tata ruang jangka menengah dan jangka panjang Hirarki kota Pola produksi dan konsumsi Penggunaan prinsip-prinsip dasar (hirarkis, geografis, ekonomis dan mendukung pengembangan wilayah)

Connecting Aceh

2013 Hal 63

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B I J A K A N & R E N C A N A
3. Tatanan Transportasi Wilayah Aceh (TATRAWIL Aceh)
Zona Pengembangan Sistem Transportasi Aceh (Rencana Otoritas Kerja)

Connecting Aceh

2013 Hal 64

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B I J A K A N & R E N C A N A
3. Tatanan Transportasi Wilayah Aceh (TATRAWIL Aceh)
1. Jaringan Prasarana Transportasi Darat : Jaringan arteri primer yang berperan melayani dan menghubungkan kota antar PKN, PKN dengan PKW dan antar kota-kota yang melayani kawasan skala besar; Jaringan kolektor primer berperan menghubungkan PKW dengan PKL dan/atau kawasan-kawasan skala kecil dan/atau pintu keluar kedua dan ketiga; Jaringan lokal primer berperan menghubungkan PKL dengan PKL dan/atau kawasan-kawasan skala kecil dan/atau pintu keluar kedua dan ketiga.
Adapun berbagai arah pengembangan prasarana jalan wilayah Aceh, seperti: a) Pengembangan dan pemantapan jaringan jalan lintas untuk mendorong perekonomian nasional: Banda Aceh - Lhokseumawe - Batas Sumut Banda AcehMeulaboh-Batas Sumut SeulimunTakangon-Batas Sumut b) Pengembangan dan pemantapan jaringan jalan arteri primer lainnya: Lingkar Kota Banda Aceh Banda Aceh- Pelabuhan Krueng Raya Banda Aceh - PelabuhanUlee Lheue Lambaro-Blang Bintang (Bandara SIM) Simpang Lambaro Sibreh Ulee Kareng Bandara SIM Banda Aceh (Simpang Tiga) - Mata Ie Simpang Ajun Jeumpet Lhoknga

Sp. Kr. Geukueh-Pelabuhan Kr. Geukueh Langsa Pelabuhan Kuala Langsa Bireuen Takengon Krueng Mane - Bukit Rata Jantho Keumala Teuku Umar Sabang Diponegoro Sabang Am Ibrahim Sabang Perdagangan Sabang Yos Sudarso Cunda Lhokseumawe Batas Kota Banda Aceh Ketapang Dua - Lamteumen Banda Aceh

Lambaro - Batas Kota Banda Aceh jalan Elak Banda Aceh Tgk. Daud Beureueh T. Nyak Arief Soekarno Hatta Elak II Banda Aceh Keliling P. Weh Sabang Am. Ibrahim Sigli Iskandar Muda Sigli Sinabang Sibigo Lasikin - Inor Nasreheu Nasreheu Sibigo

Connecting Aceh

2013 Hal 65

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B I J A K A N & R E N C A N A
3. Tatanan Transportasi Wilayah Aceh (TATRAWIL Aceh)
1. Jaringan Prasarana Transportasi Darat : c) Pengembangan dan pemantapan jaringan jalan kolektor primer: Simpang Peut Jeuram Genting Gerbang Singkil - Lipat Kajang Sinabang - Bandara Lasikin Peureulak-LokopBlangkejeren Beureunuen-Keumala Meulaboh-TututGeumpang Jamtho-Lamno TakengonBintangKebayakan Krueng Geukeuh-Sp. Kebanyakan Krueng Geukeuh-Sp. Lawe Deski Trangon Tongra Babah Rot Singkil - Lipat Kajang Lingkar Babah Rot Manggeng Singkohor Longkip Subulussalam Kembang Tanjong Pulo Pueb Lueng Putu Geumpang Pameu Genting Gerbang Takengon Pekan Pidie - Jabal Gafur Teupin Raya Sigli - Kembang Tanjung Teupin Raya Jalan Perdagangan (Sigli) Jalan Samudera Jalan Cut Meutia (Sigli) Jalan Perintis (Sigli) Jalan Elak (Sigli) Jalan Lingkar Darussalam Simpang Lawe Deski Muara Situlen Gelombang Lingkar Pulau Banyak (Pulau Balee - Teluk Nibong) Keliling Pulau Breuh Jalan Lingkar Kota Bireuen Jalan Lingkar Kota Idi Jalan Lingkar Kota Langsa Jalan Cot Girek Samarkilang Jalan Elak Tamiang Jalan Trumon - Buluh Seuma Singkil Tapak Tuan Kotacane Langsa - Blangkejeren

Connecting Aceh

2013 Hal 66

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B I J A K A N & R E N C A N A
3. Tatanan Transportasi Wilayah Aceh (TATRAWIL Aceh)
1. Jaringan Prasarana Transportasi Darat : d) Pengembangan dan pemantapan jaringan jalan lokal primer: Blang Bintang-Krueng Raya Kr. RayaLaweung-Tibang Ulee Lheue-Sp. Rima Jantho-Alue Glong Sp. TerititSamarkilang-Peunaron Geudong-Makam Malikussaleh-Macang Lhok Sukon-Cot Girek Bintang-Simpang Kraft IsaqJagongjeget-Glelungi Blangkejeren-Babah Rot Kuala Tuha-Lamie G. KapurTrumon-Pulau raya SubulussalamRundeng-Kr. Luas Jalan Lingkar Lembah Sabil Blang Pidie Simpang Krueng Raya - Darussalam - Tungkop (Batas Aceh Besar) Simpang Pangwa - Meureudu - Babah Jurong Simpang Pangwa - Meureudu - Babah Jurong Trieng Gadeng Ulim Jangka Buya Simpang Samalanga Meureudu Geumpang Simpang Turu - Lutung Geumpang Simpang Alue Dua - Simpang Langsa Lama e) Pengembangan dan pemantapan jaringan jalan bebas hambatan (freeway/highgrade highway): Banda Aceh - Lhokseumawe - Batas Sumut (Lintas Timur) Banda Aceh - Takengon - Batas Sumut (Lintas Tengah)

Sedangkan dalam pengembangan prasarana angkutan penumpang dan angkutan barang meliputi: o Pengembangan terminal terpadu (integrated transport terminal) o Pengembangan terminal regional tipe A dan B o Pengembangan Jembatan Timbang o Pengembangan terminal terpadu
Arah pengembangan terminal regional tipe A dan B pada wilayah Aceh berdasarkan zona transportasi meliputi: 1) Zona Pusat Pengembangan dan pemantapan terminal-terminal: Terminal Batoh, Kota Banda Aceh sebagai Terminal Tipe A Terminal Sigli, Kab. Sigli sebagai Terminal Tipe A Terminal Sabang, Kota Sabang sebagai Terminal Tipe B Terminal Saree, Kab. Aceh Besar sebagai Terminal Tipe B 2) Zona Utara-Timur Pengembangan dan pemantapan terminal-terminal: Terminal Glumpang Payong, Kab. Bireun sebagai Terminal Tipe A Terminal Cunda, Kota Lhoksumawe sebagai Terminal Tipe A Terminal Takengon, Kab. Aceh Tengah sebagai Terminal Tipe A Terminal Langsa, Kota Langsa sebagai Terminal Tipe A Terminal Meuruedu, Kab. Pidie Jaya sebagai Terminal Tipe B Terminal Pondok Baru, Kab. Bener Meriah sebagai Terminal Tipe B Terminal Lhoksukon, Kab. Aceh Utara sebagai Terminal Tipe B Terminal Peureulak, Kab. Aceh Timur sebagai Terminal Tipe B Terminal Kuala Simpang, Kab. Aceh Tamiang sebagai Terminal Tipe B

Connecting Aceh

2013 Hal 67

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B I J A K A N & R E N C A N A
3. Tatanan Transportasi Wilayah Aceh (TATRAWIL Aceh)
1. Jaringan Prasarana Transportasi Darat : Arah pengembangan jaringan pelayanan angkutan umum di wilayah Aceh didasarkan pada hasil estimasi demand yang telah dilakukan pada tahap analisis. Terdapat arah pengembangan jaringan pelayanan Angkutan Umum Antarprovinsi (AKAP), yaitu pada rute/trayek : Banda Aceh Medan Sigli Medan Bireun Medan Cunda Medan Takengon Medan Langsa Medan Meulaboh Medan Blangkeujeren - Medan 3) Zona Barat Pengembangan dan pemantapan terminal-terminal: Terminal Meulaboh, Kab. Aceh Barat sebagai Terminal Tipe A Terminal Ujung Fatihah, Kab. Nagan Raya sebagai Terminal Tipe B Terminal Calang, Kab. Aceh Jaya sebagai Terminal Tipe B 4) Zona Selatan Tenggara Pengembangan dan pemantapan terminal-terminal: Terminal Blangkeujeren, Kab. Gayo Lues sebagai Terminal Tipe A Terminal Tapak Tuan, Kab. Aceh Selatan sebagai Terminal Tipe B Terminal Blang Pidie, Kab. Abdya sebagai Terminal Tipe B Terminal Sinabang, Kab. Simeulue sebagai Terminal Tipe B Terminal Kutacane, Kab. Aceh Tenggara sebagai Terminal Tipe B Terminal Subulussalam, Kota Subullussalam sebagai Terminal Tipe B Terminal Pulo Sarok, Kab. Singkil sebagai Terminal Tipe B. Arah pengembangan jembatan timbang pada wilayah Aceh berdasarkan zona transportasi meliputi: 1) Zona Utara-Timur Pengembangan dan pemantapan jembatan timbang: Terminal Teupin Siron, Kab. Bireun. Terminal Seumadam, Kab. Aceh Tamiang sebagai Terminal Tipe B 2) Zona Selatan-Tenggara Pengembangan dan pemantapanjembatan timbang: Terminal Lawe Pakam, Kab. Aceh Tenggara Terminal Jontor, Kota Subullussalam Terminal Lae Balno, Kab. Singkil.

Connecting Aceh

2013 Hal 68

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B I J A K A N & R E N C A N A
3. Tatanan Transportasi Wilayah Aceh (TATRAWIL Aceh)
2. Transportasi Sungai, Danau dan Penyeberangan
1) Zona Pusat 4) Zona Selatan-Tenggara Pengembangan dan pemantapan pelabuhan-pelabuhan Pengembangan dan pemantapan pelabuhan-pelabuhan penyeberangan: penyeberangan: Pelabuhan Balohan, Kota Sabang sebagai pelabuhan yang Pelabuhan Sinabang, Kab. Simeulue sebagai pelabuhan yang melayani penyeberangan luar negeri dan sebagai pertahanan melayani penyeberangan antarprovinsi ke Sumatera Utara, dan keamanan Negara sebagai pulau terluar. antarkabupaten dan pembuka keterisolasian wilayah di Pulau Pelabuhan Ulee Lheue, Kota Banda Aceh sebagai pelabuhan Simeulue. yang melayani penyeberangan luar negeri dan antarkabupaten. Pelabuhan Singkil, Kab. Singkil sebagai pelabuhan yang melayani Pelabuhan Lamteng, Kab. Aceh Besar sebagai pelabuhan yang penyeberangan antarprovinsike Sumatera Utara dan melayani penyeberangan antarkabupaten. antarkabupaten. Pelabuhan P. Banyak, Kab. Singkil sebagai pelabuhan yang 2) Zona Utara-Timur melayani penyeberangan antarprovinsi ke Sumatera Utara, Pengembangan dan pemantapan pelabuhan-pelabuhan antarkabupaten dan pembuka keterisolasian wilayah di Pulau penyeberangan: Banyak. Pelabuhan Kuala Langsa, Kota Langsa sebagai pelabuhan yang Pelabuhan Labuhan Haji, Kab. Aceh Selatan sebagai pelabuhan melayani penyeberangan luar negeri. yang melayani penyeberangan antarkabupaten. 3) Zona Barat Pengembangan dan pemantapan pelabuhan-pelabuhan penyeberangan: Pelabuhan Kuala Bubon, Kab. Aceh Barat sebagai pelabuhan yang melayani penyeberangan antarkabupaten. Terdapat arah pengembangan dan pemantapan jaringan pelayanan angkutan penyeberangan, yaitu: 1) Pengembangan dan pemantapan jaringan pelayanan angkutan penyeberangan internasional, yaitu pada lintasan-lintasan: Sabang Langkawi, Malaysia Kuala Langsa Penang, Malaysia Lhokseumawe Penang, Malaysia Ulee Lheue Sabang Phuket, Thailand Ulee Lheue Langkawi, Malaysia

Connecting Aceh

2013 Hal 69

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B I J A K A N & R E N C A N A
3. Tatanan Transportasi Wilayah Aceh (TATRAWIL Aceh)
2. Transportasi Sungai, Danau dan Penyeberangan 3. Transportasi Kereta Api
2) Pengembangan dan pemantapan jaringan pelayanan angkutan penyeberangan antarprovinsi, yaitu pada lintasan-lintasan: Singkil Sibolga/Nias di Provinsi Sumatera Utara Pulau Banyak Sibolga/Nias Provinsi Sumatera Utara Sinabang Gn. Sitoli di Provinsi Sumatera Utara Singkil Gn. Sitoli di Provinsi Sumatera Utara. 3) Pengembangan dan pemantapan jaringan pelayanan angkutan penyeberangan antarkabupaten dan membuka daerah-daerah terisolasi, yaitu pada lintasan-lintasan : Balohan Ulee Lheue Lamteng Sabang Lamteng - Ulee Lheue Kuala Bubon Sinabang Labuhan Haji Sinabang Sinabang - P. Banyak Singkil - P. Banyak Arahpengembangan pembangunan jaringan jalan rel kereta api pada wilayah Aceh, yaitu: Jaringan jalur kereta api di pesisir timur, yang menghubungkan Banda Aceh ke Besitang di Provinsi Sumatera Utara; Jaringan jalur kereta api di pesisir barat, yang menghubungkan Banda Aceh ke Provinsi Sumatera Utara. Arah pengembangan pembangunan stasiun kereta api pada wilayah Aceh, yaitu: Banda Aceh Lhokseumawe Sigli Langsa Bireuen Terdapat arah pengembangan dan pemantapan jaringan pelayanan angkutan kereta api, yaitu pada lintasan:Banda Aceh Sigli - Bireun - Lhoksumawe - Langsa - Besitang Provinsi Sumatera Utara (Lintas Timur); Banda Aceh MeulabohTapak Tuan - Subullussalam - Provinsi Sumatera Utara (Lintas Barat).

Connecting Aceh

2013 Hal 70

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B I J A K A N & R E N C A N A
3. Tatanan Transportasi Wilayah Aceh (TATRAWIL Aceh)
4. Transportasi Laut
Adapun berbagai arah pengembangan jaringan prasarana transportasi laut tempat asal tujuan barang dalam rangka mendukung program MP3EI. wilayah Aceh berdasarkan zona pengembangan, seperti: Pelabuhan Kuala Langsa, Kota Langsa sebagai pelabuhan yang 1) Zona Pusat mendukung PKW Langsa, dengan fungsi sebagai pelabuhan Pengembangan dan pemantapan pelabuhan-pelabuhan laut: pengumpul, yang melayani kegiatan angkutan laut dalam Pelabuhan Sabang, Kota Sabang sebagai pelabuhan utama hub negeri/antarprovinsi, alih muat angkutan General Cargo & Curah Cair internasional sebagai prasarana pendukung terkait dengan fungsi dalam jumlah menengah, dan sebagai tempat asal tujuan barang. PKSN Sabang. Pelabuhan Sabang juga sebagai pintu masuk kegiatan Pelabuhan Idi, Kab. Aceh Timur sebagai pelabuhan yang mendukung ekspor/impor dan angkutan dalam negeri dari/ke zona pusat serta PKL I di Rayeuk, dengan fungsi sebagai pelabuhan pengumpan,yang melayani kegiatan alih muat muatan General Cargo & Peti Kemas melayani kegiatan angkutan laut dalam provinsi, alih muat angkutan dalam jumlah besar, dan sebagai tempat asal tujuan barang yang General Cargo dalam jumlah terbatas dan pengumpan bagi terintegerasi dengan Pel. Malahayati (KAPET Bandar Aceh Darusallam) pelabuhan utama dan pelabuhan pengumpul. serta berfungsi sebagai pertahanan dan keamanan Nasional. Pelabuhan Malahayati, Kab. Aceh Besar sebagai pelabuhan yang 3) Zona Barat mendukung PKNp Banda Aceh, dengan fungsi sebagai pelabuhan Pengembangan dan pemantapan pelabuhan-pelabuhan laut: utama, yang melayani kegiatan ekspor/impor dan angkutan dalam Pelabuhan Meulaboh, Kab. Aceh Barat sebagai pelabuhan yang negeri dari/ke zona pusat serta melayani kegiatan alih muat muatan mendukung PKW Meulaboh, dengan fungsi sebagai pelabuhan Curah Kering selain General Cargo & Peti Kemas dalam jumlah besar, utama, yang melayani kegiatan ekspor/impor dan angkutan dalam dan sebagai tempat asal tujuan barang yang terintegerasi dengan Pel. negeri dari/ke zona barat serta melayani kegiatan alih muat muatan Sabang (KAPET Bandar Aceh Darussalam). General Cargo, Curah Kering & Curah Cair (CPO) dalam jumlah besar, dan sebagai tempat asal tujuan barang. Pelabuhan Calang, Kota Aceh Jaya sebagai pelabuhan yang 2) Zona Utara-Timur mendukung PKL Calang, dengan fungsi sebagai pelabuhan Pengembangan dan pemantapan pelabuhan-pelabuhan laut: pengumpul, yang melayani kegiatan angkutan laut dalam Pelabuhan Krueng Geukeuh, Kab. Aceh Utara sebagai pelabuhan negeri/antarprovinsi, alih muat angkutan dalam jumlah menengah, yang mendukung PKN Lhokseumawe. Pelabuhan Krueng Geukueh dan sebagai tempat asal tujuan barang. ditetapkan dengan fungsi sebagai pelabuhan utama yang melayani kegiatan ekspor/impor dan angkutan dalam negeri dari/ke zona barat serta melayani kegiatan alih muat muatan Peti Kemas, General Cargo, Curah Kering & Curah Cair (CPO) dalam jumlah besar, dan sebagai

Connecting Aceh

2013 Hal 71

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B I J A K A N & R E N C A N A
3. Tatanan Transportasi Wilayah Aceh (TATRAWIL Aceh)
4. Transportasi Laut
1) Pengembangan dan pemantapan jaringan pelayanan angkutan laut internasional, yaitu pada rute: Sabang - luar negeri Malahayati - luar negeri Meulaboh - luar negeri Kr. Geukeuh - luar negeri Singkil - luar negeri 2) Pengembangan dan pemantapan jaringan pelayanan angkutan laut antarprovinsi, yaitu pada rute: Sabang antarprovinsi Malahayati antarprovinsi Meulaboh antarprovinsi Kr. Geukeuh antarprovinsi Singkil antarprovinsi Kuala Langsa antarprovinsi Tapak Tuan antarprovinsi Calang - antarprovinsi 3) Pengembangan dan pemantapan jaringan pelayanan angkutan laut anta rkabupaten dan membuka daerah-daerah terisolasi, yaitu pada rute: Idi - Kuala Langsa Idi - Kr. Geukeuh Susoh - Tapak Tuan Susoh Sinabang Susoh Singkil Sinabang - Tapak Tuan Sinabang Susoh 4) Zona Selatan-Tenggara Pengembangan dan pemantapan pelabuhan-pelabuhan laut: Pelabuhan Singkil, Kab. Singkil sebagai pelabuhan yangmendukung PKL Singkil, dan juga PKWp Subulussalam, dengan fungsi sebagai pelabuhan utama,yang melayani kegiatan ekspor/impor dan angkutan dalam negeri dari/ke zona selatan tenggara serta melayani kegiatan alih muat muatan General Cargo & Curah Cair (CPO) dalam jumlah besar, dan sebagai tempat asal tujuan barang. Pelabuhan P. Banyak, P. Serok & Gosong Telaga sebagai Pelabuhan Pengumpan Lokal. Pelabuhan Tapak Tuan, Kab. Aceh Selatan sebagai pelabuhan yang mendukung PKL Tapaktuan, dengan fungsi sebagai pelabuhan pengumpul,yang melayani kegiatan angkutan laut dalam negeri/antarprovinsi, alih muat angkutan General Cargo & Curah Kering dalam jumlah menengah, dan sebagai tempat asal tujuan barang. Pelabuhan Sibade dijadikan sebagai Pelabuhan Pengumpan Lokal. Pelabuhan Susoh, Kab. Aceh Barat Daya sebagai pelabuhan yang mendukung PKWp Blangpidie, dengan fungsi sebagai pelabuhan pengumpan regional,yang melayani kegiatan angkutan laut dalam provinsi, alih muat angkutan General Cargo dalam jumlah terbatas dan pengumpan bagi pelabuhan utama dan pelabuhan pengumpul. Pelabuhan Sinabang, Kab. Simeulue Daya sebagai pelabuhan yang mendukung PKL Sinabang, dengan fungsi sebagai pelabuhan pengumpan regional, yang melayani kegiatan angkutan laut dalam provinsi, alih muat angkutan General Cargo dalam jumlah terbatas dan pengumpan bagi pelabuhan utama dan pelabuhan pengumpul serta membuka wilayah yang terisolasi. Terdapat arah pengembangan dan pemantapan jaringan pelayanan angkutan laut , yaitu:

Connecting Aceh

2013 Hal 72

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B I J A K A N & R E N C A N A
3. Tatanan Transportasi Wilayah Aceh (TATRAWIL Aceh)
5. Transportasi Udara
1) Zona Pusat Lhokseumawe, yang akan melayani penerbangan internasional Pengembangan dan pemantapan bandara-bandara: regional, dan merupakan bandara pengumpan. Bandara Bandara Sultan Iskandar Muda sebagai bandara yang mendukung Malikussaleh ini terletak di Kabupaten Aceh Utara (Kecamatan PKNp Banda Aceh, yang akan melayani penerbangan internasional, Muara Batu). Rencana untuk Bandara Malikussaleh adalah dan merupakan bandara pengumpul skala tersier. Bandara Sultan pemantapan dan peningkatan dari pelayanan sehubungan dengan Iskandar Muda ini terletak di Kabupaten Aceh Besar (Kecamatan perannya sebagai pendukung PKN Lhokseumawe. Blang Bintang). Pengembangan bandara ini sejalan dengan rencana Bandara Rambelle, sebagai bandara yang mendukung PKW mengembangkan core region Banda Aceh-Sabang-Aceh Besar Takengon, yang akan melayani penerbangan domestik, dan sebagai pintu gerbang Indonesia di bagian barat. Secara khusus merupakan bandara pengumpan. Bandara Rembele ini terletak di bandara Sultan Iskandar Muda ini merupakan bandara embarkasi Kabupaten Bener Meriah, sehingga mendukung juga PKL Simpang haji Indonesia yang terletak paling barat dan paling dekat ke arah Tiga Redelong. Rencana untuk Bandara Rembele adalah Jeddah dan Madinah di Kerajaan Arab Saudi. Selain itu Bandara pemantapan dan peningkatan pelayanan sehubungan dengan Sultan Iskandar Muda ini juga berperan sebagai Pangkalan Udara. perannya sebagai pendukung PKW Takengon. Rencana untuk Bandara Sultan Iskandar Muda adalah pemantapan Bandara Point A, sebagai bandara yang merupakan bandara khusus dan peningkatan dari pelayanan yang ada dewasa ini, sebagai untuk perusahaan penambangan migas, yang berdekatan dengan pendukung PKNp Banda Aceh. PKL Lhok Sukon, yang akan melayani kepentingan perusahaan yang Bandara Maimun Saleh, Kota Sabang, sebagai bandara yang bersangkutan, dengan pelayanan domestik dan merupakan bandara mendukung PKW dan PKSN Sabang, yang akan melayani pengumpan. penerbangan internasional regional, dan merupakan bandara pengumpan. Bandara Maimun Saleh juga berperan sebagai 3) Zona Barat Pangkalan Udara, yang terutama terkait dengan penetapannya Pengembangan dan pemantapan bandara-bandara: sebagai PKSN. Rencana untuk Bandara Maimun Saleh adalah Bandara Cut Nyak Dien, sebagai bandara yang mendukung PKW pemantapan dan peningkatan pelayanan dari pelayanan yang ada Meulaboh, yang akan melayani penerbangan domestik, dan dewasa ini, sehubungan dengan peranya sebagai pendukung PKW merupakan bandara pengumpan. Bandara Cut Nyak Dien ini dan PKSN Sabang. terletak di Kabupaten Nagan Raya, sehingga mendukung juga PKL Jeuram-Suka Makmue. Rencana untuk Bandara Cut Nyak Dien 2) Zona Utara-Timur adalah peningkatan dari pelayanan sehubungan dengan perannya Pengembangan dan pemantapan bandara-bandara: sebagai pendukung PKW Meulaboh. Bandara Malikussaleh sebagai bandara yang mendukung PKN

Connecting Aceh

2013 Hal 73

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B I J A K A N & R E N C A N A
3. Tatanan Transportasi Wilayah Aceh (TATRAWIL Aceh)
5. Transportasi Udara
juga akan mendukung pelayananPKWp Subulussalam. Rencana untuk Bandara Hamzah Fansyuri adalahpeningkatan dari pelayanan sehubungan dengan perannya sebagai pendukungPKL Singkil dan terutama PKWp Subulussalam. Terdapat arah pengembangan dan pemantapan jaringan pelayanan angkutan udara , yaitu: 1) Pengembangan dan pemantapan jaringan pelayanan angkutan udara internasional, yaitu pada rute: St. Iskandar Muda Penang St. Iskandar Muda - Kuala Lumpur St. Iskandar Muda Jeddah Malikussaleh Penang Sabang Penang Sabang Phuket 2) Pengembangan dan pemantapan jaringan pelayanan angkutan udara antar provinsi, yaitu pada rute: St. Iskandar Muda Jakarta Malikussaleh Medan Alas Leuser Medan Point A Medan Gayo Lues Medan Lasikin Medan T. Cut ali Medan H. Fanshuri Medan Rambele - Medan 4) Zona Selatan-Tenggara Pengembangan dan pemantapan bandara-bandara: Bandara Teuku Cut Ali, Kab. Aceh Selatan, sebagai bandara yang mendukungPKL Tapaktuan, yang akan melayani penerbangan domestik, dan merupakanbandara pengumpan. Rencana untuk Bandara Teuku Cut Ali adalahpemantapan dari pelayanan yang ada. Bandara Kuala Batu, Kab. Abdya, sebagai bandara yang mendukung PKWpBlangpidie, yang akan melayani penerbangan domestik, dan merupakanbandara pengumpan. Rencana untuk Bandara Kuala Batu ini adalahpeningkatan dari pelayanan yang ada dewasa ini, sehubungan denganperannya sebagai pendukung PKWp Blangpidie. Bandara Lasikin, Kab. Simeulue, sebagai bandara yang mendukung PKLSinabang, yang akan melayani penerbangan domestik, dan merupakanbandara pengumpan. Bandara Lasikin ini mempunyai arti penting dalamkonteks keterkaitan antarbagian wilayah di Aceh (bersama-sama denganpelabuhan penyeberangan) sehubungan dengan terpisahnya daratan PulauSimeulue dengan daratan utama (mainland) Pulau Sumatera. Rencana untukBandara Lasikin adalah pemantapan dari pelayanan dari pulau-pulau terluar. Bandara Gayo Lues, Kab. Gayo Lues, sebagai bandara yang mendukung PKLBlangkejeren, yang akan melayani penerbangan domestik, dan merupakanbandara pengumpan. Bandara Alas Leuser, Kab. Aceh Tenggara, sebagai bandara yang mendukungPKL Kutacane, yang akan melayani penerbangan domestik, dan merupakanbandara pengumpan. Rencana untuk Bandara Alas Leuser adalah pemantapandari pelayanan yang ada. Bandara Hamzah Fansyuri, Kab. Singkil, sebagai bandara yang mendukung PKLSingkil, yang akan melayani penerbangan domestik, dan merupakan bandarapengumpan. Bandara Hamzah Fansyuri ini

Connecting Aceh

2013 Hal 74

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B I J A K A N & R E N C A N A
3. Tatanan Transportasi Wilayah Aceh (TATRAWIL Aceh)
5. Transportasi Udara
3) Pengembangan dan pemantapan jaringan pelayanan angkutan udara antar Pengembangan Jembatan Timbang (Syamtalira Bayu & Peureulak) kabupaten dan membuka daerah-daerah terisolasi, yaitu pada rute: Pengembangan Stasiun KA (Bireun, Lhoksumawe & Langsa) Sabang - St. Iskandar Muda Pengembangan Pelabuhan Laut Pengumpul (Kuala Langsa) St. Iskandar Muda Malikussaleh Pengembangan Pelabuhan Laut Pengumpan (Idi) St. Iskandar Muda - Cut Nyak Dien Pengembangan Bandar Udara Domestik (Rambele & Point A) St. Iskandar Muda - Gayo Lues St. Iskandar Muda - Kuala Batee 3) Zona Barat St. Iskandar Muda - Alas Lauser Pengembangan dan pemantapan jaringan prasarana transportasi: Rambele - Alas Leuser Peningkatan Jalan Kolektor Primer dan Lokal Primer Cut Nyak Dien Lasikin Pengembangan Terminal Tipe B (Ujung Fatihah & Calang) Kuala Batee - T. Cut Ali Pengembangan Jembatan Timbang (Lamno) T. Cut Ali - H. Fansyuri Pengembangan Pelabuhan Penyeberangan Antarkabupaten (Kuala Bubon) 6. Transportasi Antarmoda/Multimoda Pengembangan Pelabuhan Laut Pengumpul (Calang) Beberapa program pengembangan transportasi antarmoda/multimoda di Pengembangan Bandar Udara Domestik (Cut Nyak Dien) wilayah Aceh adalah pembangunan jaringan transportasi perintis, penyediaan prasarana transportasi serta peningkatan kapasitas prasarana transportasi, 4) Zona Selatan-Tenggara yaitu: Pengembangan dan pemantapan jaringan prasarana transportasi: 1) Zona Pusat Peningkatan Jalan Kolektor Primer dan Lokal Primer Pengembangan dan pemantapan jaringan prasarana transportasi: Pengembangan Terminal Tipe B (Blang Pidie, Sinabang, Ujung Deh, Peningkatan Jalan Kolektor Primer dan Lokal Primer Subullussalam & Pulo Sarok) Pengembangan Terminal Tipe B (Saree) Pengembangan Jembatan Timbang (Lawe Perbunga & Jontor) Pengembangan Jembatan Timbang Simpang Rima Pengembangan Pelabuhan Penyeberangan Antarprovinsi (Sinabang, Pengembangan Stasiun KA (Banda Aceh & Sigli) Singkil & P. Banyak) Pengembangan Pelabuhan Penyeberangan Antarkabupaten (Lamteng) Pengembangan Pelabuhan Penyeberangan Antarkabupaten (Labuhan Haji) 2) Zona Utara-Timur Pengembangan Pelabuhan Laut Pengumpul (Sinabang & Tapak Tuan) Pengembangan dan pemantapan jaringan prasarana transportasi: Pengembangan Pelabuhan Laut Pengumpan (Susoh) Peningkatan Kolektor Primer dan Lokal Primer Pengembangan Bandar Udara Domestik (T. Cut Ali, Kuala Batee, Lasikin, Pengembangan Terminal Tipe B (Meureudu, Pdk Baru, Panton Labu & Gayo Lues, Alas Lauser & H. Fansyuri) Peureulak)

Connecting Aceh

2013 Hal 75

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B I J A K A N & R E N C A N A
3. Tatanan Transportasi Wilayah Aceh (TATRAWIL Aceh)

Desire Lines Permintaan Pergerakan Penumpang

Connecting Aceh

2013 Hal 76

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B I J A K A N & R E N C A N A
4. Tatanan Kepelabuhan Nasional (TKN) dan Rencana Induk Pelabuhan Nasional (RIPN)
Pengertian Umum TKN dan RIPN

Connecting Aceh

2013 Hal 77

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B I J A K A N & R E N C A N A
4. Tatanan Kepelabuhan Nasional (TKN) dan Rencana Induk Pelabuhan Nasional (RIPN)

Tatanan Kepelabuhan Nasional

Connecting Aceh

2013 Hal 78

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B I J A K A N & R E N C A N A
4. Tatanan Kepelabuhan Nasional (TKN) dan Rencana Induk Pelabuhan Nasional (RIPN)
Lanjutan RIPN

Connecting Aceh

2013 Hal 79

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B I J A K A N & R E N C A N A
4. Tatanan Kepelabuhan Nasional (TKN) dan Rencana Induk Pelabuhan Nasional (RIPN)

Connecting Aceh

2013 Hal 80

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B I J A K A N & R E N C A N A
4. Tatanan Kepelabuhan Nasional (TKN) dan Rencana Induk Pelabuhan Nasional (RIPN)

Connecting Aceh

2013 Hal 81

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B I J A K A N & R E N C A N A
4. Tatanan Kepelabuhan Nasional (TKN) dan Rencana Induk Pelabuhan Nasional (RIPN)

Connecting Aceh

2013 Hal 82

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B I J A K A N & R E N C A N A
4. Tatanan Kepelabuhan Nasional (TKN) dan Rencana Induk Pelabuhan Nasional (RIPN)

Connecting Aceh

2013 Hal 83

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B I J A K A N & R E N C A N A
4. Tatanan Kepelabuhan Nasional (TKN) dan Rencana Induk Pelabuhan Nasional (RIPN)

Connecting Aceh

2013 Hal 84

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B I J A K A N & R E N C A N A
4. Tatanan Kepelabuhan Nasional (TKN) dan Rencana Induk Pelabuhan Nasional (RIPN)

Connecting Aceh

2013 Hal 85

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B I J A K A N & R E N C A N A
4. Tatanan Kepelabuhan Nasional (TKN) dan Rencana Induk Pelabuhan Nasional (RIPN)

Connecting Aceh

2013 Hal 86

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B I J A K A N & R E N C A N A
4. Tatanan Kepelabuhan Nasional (TKN) dan Rencana Induk Pelabuhan Nasional (RIPN)

Connecting Aceh

2013 Hal 87

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B I J A K A N & R E N C A N A
4. Tatanan Kepelabuhan Nasional (TKN) dan Rencana Induk Pelabuhan Nasional (RIPN)

Connecting Aceh

2013 Hal 88

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B I J A K A N & R E N C A N A
4. Tatanan Kepelabuhan Nasional (TKN) dan Rencana Induk Pelabuhan Nasional (RIPN)

Connecting Aceh

2013 Hal 89

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B I J A K A N & R E N C A N A
4. Tatanan Kepelabuhan Nasional (TKN) dan Rencana Induk Pelabuhan Nasional (RIPN)

Connecting Aceh

2013 Hal 90

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B I J A K A N & R E N C A N A
4. Tatanan Kepelabuhan Nasional (TKN) dan Rencana Induk Pelabuhan Nasional (RIPN)

Connecting Aceh

2013 Hal 91

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B I J A K A N & R E N C A N A
4. Tatanan Kepelabuhan Nasional (TKN) dan Rencana Induk Pelabuhan Nasional (RIPN)

Connecting Aceh

2013 Hal 92

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B I J A K A N & R E N C A N A
4. Tatanan Kepelabuhan Nasional (TKN) dan Rencana Induk Pelabuhan Nasional (RIPN)

Connecting Aceh

2013 Hal 93

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B I J A K A N & R E N C A N A
4. Tatanan Kepelabuhan Nasional (TKN) dan Rencana Induk Pelabuhan Nasional (RIPN)

Connecting Aceh

2013 Hal 94

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B I J A K A N & R E N C A N A
4. Kepelabuhan Nasional dan (TKN) dan Rencana Induk Pelabuhan Nasional (RIPN) 3. Tatanan Masterplan Percepatan Perluasan Pembangunan (MP3EI)
Selaras dengan visi pembangunan nasional sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang No. 17 tahun 2007 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2005 2025, maka visi Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia adalah Mewujudkan Masyarakat Indonesia yang Mandiri, Maju, Adil, dan Makmur. Melalui langkah MP3EI, percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi akan menempatkan Indonesia sebagai negara maju pada tahun 2025 dengan pendapatan per kapita yang berkisar antara USD 14.250 USD 15.500 dengan nilai total perekonomian (PDB) berkisar antara USD 4,0 4,5 Triliun. Untuk mewujudkannya diperlukan pertumbuhan ekonomi riil sebesar 6,4 7,5 persen pada periode 2011 2014, dan sekitar 8,0 9,0 persen pada periode 2015 2025. Pertumbuhan ekonomi tersebut akan dibarengi oleh penurunan inflasi dari sebesar 6,5 persen pada periode 2011 2014 menjadi 3,0 persen pada 2025.

Aspirasi Pencapaian PDB Indonesia

Connecting Aceh

2013 Hal 95

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B I J A K A N Not & Businees R E N As C Usual A N A 1. Percepatan Transformasi Ekonomi melalui

5. Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan (MP3EI)


Indonesia membutuhkan percepatan transformasi ekonomi agar kesejahteraan bagi seluruh masyarakat dapat diwujudkan lebih dini. langkah-langkah percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi Indonesia. Untuk itu dibutuhkan perubahan pola pikir (mindset) yang didasari oleh semangat Not Business As Usual. Perubahan pola pikir paling mendasar adalah pemahaman bahwa pembangunan ekonomi membutuhkan kolaborasi bersama antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, BUMN, BUMD dan Swasta (dalam semangat Indonesia Incorporated). Percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi Indonesia menetapkan sejumlah program utama dan kegiatan ekonomi utama yang menjadi fokus pengembangan strategi dan kebijakan. Prioritas ini merupakan hasil dari sejumlah kesepakatan yang dibangun bersama sama dengan seluruh pemangku kepentingan di dalam serial diskusi dan dialog yang sifatnya interaktif dan partisipatif. Kegiatan Ekonomi Utama Ilustrasi Percepatan Transformasi Ekonomi Indonesia

Connecting Aceh

2013 Hal 96

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B I J A K A N & R E N C A N A

5. Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan (MP3EI)


2. MP3EI merupakan Bagian Integral Perencanaan Pembangunan Nasional
Bagan Posisi MP3EI di dalam Rencana Pembangunan Pemerintah

Connecting Aceh

2013 Hal 97

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B I J A K A N & R E N C A N A

5. Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan (MP3EI)


3. Kerangka Desain MP3EI Kerangka Desain Pendekatan Masterplan MP3EI

Connecting Aceh

2013 Hal 98

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B I J A K A N & R E N C A N A

5. Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan (MP3EI)


4. Peningkatan Potensi Ekonomi Wilayah melalui Koridor Ekonomi
Koridor Ekonomi Indonesia diarahkan pada pembangunan yang menekankan pada peningkatan produktivitas dan nilai tambah pengelolaan sumber daya alam melalui perluasan dan penciptaan rantai kegiatan dari hulu sampai hilir secara berkelanjutan. Koridor Ekonomi Indonesia diarahkan pada pembangunan ekonomi yang beragam dan inklusif, dan dihubungkan dengan wilayah-wilayah lain di luar koridor ekonomi, agar semua wilayah di Indonesia dapat berkembang sesuai dengan potensi dan keunggulan masing-masing wilayah. Koridor Ekonomi Indonesia menekankan pada sinergi pembangunan sektoral dan wilayah untuk meningkatkan keunggulan komparatif dan kompetitif secara nasional, regional maupun global. Koridor Ekonomi Indonesia menekankan pembangunan konektivitas yang terintegrasi antara system transportasi, logistic, serta komunikasi dan informasi untuk membuka akses daerah. Koridor Ekonomi Indonesia akan didukung dengan pemberian insentif fiscal dan non-fiscal, kemudahan peraturan, perijinan dan pelayanan publik dari Pemerintah Pusat maupun Daerah.

Kerangka Desain Pendekatan Masterplan

Connecting Aceh

2013 Hal 99

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B I J A K A N & R E N C A N A

5. Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan (MP3EI)


5. Penguat Konektivitas Nasional
Konsep Gerbang Pelabuhan dan Bandar udara Internasional di Masa Depan

Connecting Aceh

2013 Hal 100

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B I J A K A N & R E N C A N A

5. Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan (MP3EI)


6. Kerangka Strategis dan Kebijakan Penguatan Konektivitas
Menghubungkan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi utama untuk memaksimalkan pertumbuhan berdasarkan prinsip keterpaduan, bukan keseragaman, melalui inter-modal supply chains systems. Memperluas pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan aksesibilitas dari pusat-pusat pertumbuhan ekonomi ke wilayah belakangnya (hinterland). Menyebarkan manfaat pembangunan secara luas (pertumbuhan yang inklusif dan berkeadilan) melalui peningkatan konektivitas dan pelayanan dasar ke daerah tertinggal, terpencil dan perbatasan dalam rangka pemerataan pembangunan. Beberapa komponen dimaksud merupakan pembentuk postur konektivitas secara Nasional : Komponen Konektivitas Visi Komponen Konektivitas

Connecting Aceh

2013 Hal 101

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B I J A K A N & R E N C A N A

5. Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan (MP3EI)


Kerangka Strategis dan Kebijakan Penguatan Konektivitas
Kerangka Kerja Konektivitas Nasional
Fokus Penguatan Konektivitas Nasional untuk mendukung percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi indonesia

Connecting Aceh

2013 Hal 102

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B I J A K A N & R E N C A N A

5. Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan (MP3EI)


7. Koridor ekonomi Sumatera
Tema Pembangunan: Sentra Produksi dan Pengolahan Hasil Bumi dan Lumbung Energi Nasional , Pusat Ekonomi : Pangkal Pinang Padang Bandar Lampung Bengkulu Serang Banda Aceh Medan Pekanbaru Jambi Palembang Tanjungpinang Terdiri dari 11 Kegiatan Ekonomi Utama: Kelapa Sawit Karet Batu Bara Perkapalan Besi Baja Kawasan Strategis Nasional (KSN) Selat Sunda

Gambar Koridor Ekonomi Sumatera

Connecting Aceh

2013 Hal 103

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B I J A K A N & R E N C A N A

6. Cetak Biru Pengembangan Sistem Logistik


1.

Peran dan Tujuan pengembangan Sistem Logistik Nasional


menekankan pada arah dan pola pengembangan Sistem Logistik Nasional pada tingkat kebijakan (makro) yang nantinya dijabarkan kedalam Rencana Kerja Pemerintah dan Rencana Kerja Kementerian/Lembaga setiap tahunnya. Sistem Logistik Nasional diharapkan dapat berperan dalam mencapai sasaran Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014, menunjang implementasi MP3EI, serta mewujudkan visi ekonomi Indonesia tahun 2025 (RPJPN) yaitu Mewujudkan masyarakat Indonesia yang mandiri, maju, adil, dan makmur sehingga akan tercapai sasaran PDB perkapita sebesar 14.250-15.500 (empat belas ribu dua ratus lima puluh hingga lima belas ribu lima ratus) dolar Amerika pada tahun 2025
Peran Sislognas dalam Pembangunan ekonomi Nasional

Connecting Aceh

2013 Hal 104

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B I J A K A N & R E N C A N A

6. Cetak Biru Pengembangan Sistem Logistik


Infrastruktur dan Jaringan Sistem Logistik

Connecting Aceh

2013 Hal 105

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B I J A K A N & R E N C A N A

6. Cetak Biru Pengembangan Sistem Logistik


Sistem Logistik Nasional

Connecting Aceh

2013 Hal 106

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B I J A K A N & R E N C A N A

6. Cetak Biru Pengembangan Sistem Logistik


2. Perkembangan dan Permasalahan Logistik Nasional Komoditas penggerak utama (key commodity factor) sebagai penggerak aktivitas logistik belum terkoordinasi secara efektif, belum adanya fokus komoditas yang ditetapkan sebagai komitmen nasional, dan belum optimalnya volume perdagangan ekspor dan impor; Infrastruktur transportasi belum memadai baik dari segi kuantitas maupun kualitas yang antara lain karena belum adanya pelabuhan hub, belum dikelola secara terintegrasi, efektif dan efisien, serta belum efektifnya intermodal transportasi dan interkoneksi antara frastruktur pelabuhan, pergudangan, transportasi dan wilayah hinterland, Pelaku dan penyedia jasa logistik masih berdaya saing rendah karena terbatasnya jaringan bisnis pelaku dan penyedia jasa logistik lokal sehingga pelaku multinasional lebih dominan dan terbatasnya kualitas dan kemampuan pelaku dan penyedia jasa logistik nasional; Teknologi informasi dan komunikasi belum didukung oleh ketersediaan infrastruktur dan jaringan yang handal, masih terbatasnya jangkauan jaringan pelayanan non seluler, dan masih terbiasanya menggunakan sistem manual (paper based system) dalam transaksi logistik; Sdm logistik masih memiliki kompetensi rendah yang disertai oleh belum memadainya lembaga pendidikan dan pelatihan bidang logistik; Regulasi dan kebijakan masih bersifat parsial dan sektoral, yang disertai oleh masih rendahnya penegakan hukum, belum efektifnya koordinasi lintas sektoral, dan belum adanya lembaga yang menjadi integrator kegiatan logistik nasional.

Connecting Aceh

2013 Hal 107

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B I J A K A N & R E N C A N A

6. Cetak Biru Pengembangan Sistem Logistik


Pola Spasial Pemenuhan Permintaan Antara Lokal, Antar Provinsi dan Impor

Connecting Aceh

2013 Hal 108

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B I J A K A N & R E N C A N A

6. Cetak Biru Pengembangan Sistem Logistik

Connecting Aceh

2013 Hal 109

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B I J A K A N & R E N C A N A

6. Cetak Biru Pengembangan Sistem Logistik


Pola Pergerakan Kontainer Ekspor-Impor Indonesia, 2007

Connecting Aceh

2013 Hal 110

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B I J A K A N & R E N C A N A

6. Cetak Biru Pengembangan Sistem Logistik


3. Permasalahan Infrastruktur Secara umum kondisi infrastruktur yang ada saat ini masih belum memadai untuk menunjang kinerja logistik nasional , seperti : Pelabuhan ( belum adanya Pelabuhan Hub Internasional, zRendahnya Produktivitas dan Kapasitas Pelabuhan, Belum terintegrasinya Manajemen Pelabuhan) Prasarana Jalan Angkutan Kereta Api Angkutan Sungai dan Penyebrangan Transportasi Multimoda 4. Kondisi yang diharapkan a. Visi Terwujudnya Sistem Logistik yang terintegrasi secara lokal, terhubung secara global untuk meningkatkan daya saing nasional dan kesejahteraan rakyat (locally integrated, globally connected for national competitiveness and social welfare) Terintegrasi Secara Lokal (Locally Integrated), diartikan bahwa pada tahun 2025 seluruh aktivitas logistik di Indonesia mulai dari tingkat pedesaan, perkotaan, sampai dengan antar wilayah dan antar pulau beroperasi secara efektif dan efisien dan menjadi satu kesatuan yang terintegrasi secara nasional dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang akan membawa kesejahteraan dan kemakmuran bagi masyarakat Indonesia.

Connecting Aceh

2013 Hal 111

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B I J A K A N & R E N C A N A

6. Cetak Biru Pengembangan Sistem Logistik


Jaringan Sistem Logistik Nasional

Connecting Aceh

2013 Hal 112

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B I J A K A N & R E N C A N A

6. Cetak Biru Pengembangan Sistem Logistik


b. Misi Memperlancar arus barang secara efektif dan efisien untuk menjamin pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat dan peningkatan daya saing produk nasional di pasar domestik, regional, dan global. Membangun simpul-simpul logistik nasional dan konektivitasnya mulai dari pedesaan, perkotaan, antar wilayah dan antar pulau sampai dengan hub pelabuhan internasional melalui kolaborasi antar pemangku kepentingan. c. Tujuan Menurunkan biaya logistik, memperlancar arus barang, dan meningkatkan pelayanan logistik sehingga meningkatkan daya saing produk nasional di pasar global dan pasar domestik; Menjamin ketersediaan komoditas pokok dan strategis di seluruh wilayah Indonesia dengan harga yang terjangkau sehingga mendorong pencapaian masyarakat adil dan makmur, dan memperkokoh kedaulatan dan keutuhan NKRI; Mempersiapkan diri untuk menghadapi integrasi jasa logistik ASEAN pada tahun 2013 sebagai bagian dari pasar tunggal ASEAN tahun 2015 dan integrasi pasar global pada tahun 2020. d. Arah Pengembangan Sistem Logistik Indonesia Komoditas Penggerak Utama; Pelaku dan Penyedia Jasa Logistik; Infrastruktur Transportasi; Teknologi Informasi dan Komunikasi; Manajemen Sumber Daya Manusia; Regulasi dan Kebijakan.

Connecting Aceh

2013 Hal 113

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B I J A K A N & R E N C A N A

6. Cetak Biru Pengembangan Sistem Logistik

Faktor Penggerak Sistem Logistik Nasional

Connecting Aceh

2013 Hal 114

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B I J A K A N & R E N C A N A

6. Cetak Biru Pengembangan Sistem Logistik


e. Kondisi yang diharapkan Sesuai dengan visi, misi, tujuan dan arah kebijakan, maka kondisi Sistem Logistik Nasional yang diharapkan secara skematis

Ilustrasi Sosok Sistem Logistik Nasional

Connecting Aceh

2013 Hal 115

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B I J A K A N & R E N C A N A

6. Cetak Biru Pengembangan Sistem Logistik


Penyebaran Pusat Distribusi Komoditas Pokok dan Strategis

Connecting Aceh

2013 Hal 116

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B I J A K A N & R E N C A N A

6. Cetak Biru Pengembangan Sistem Logistik


Tatanan Pelabuhan Penting dan Jalur Utama Pelayaran Domestik

Connecting Aceh

2013 Hal 117

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B I J A K A N & R E N C A N A

6. Cetak Biru Pengembangan Sistem Logistik


Pengembangan Pelabuhan Hub Internasional

Connecting Aceh

2013 Hal 118

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B I J A K A N & R E N C A N A

6. Cetak Biru Pengembangan Sistem Logistik


Orientasi Transportasi Multimoda

Connecting Aceh

2013 Hal 119

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B I J A K A N & R E N C A N A

6. Cetak Biru Pengembangan Sistem Logistik


Skema E-Logistik Nasional

Connecting Aceh

2013 Hal 120

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B I J A K A N & R E N C A N A

6. Cetak Biru Pengembangan Sistem Logistik


Skema Sistem Operasi e-Logistik Nasional

Connecting Aceh

2013 Hal 121

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B I J A K A N & R E N C A N A

6. Cetak Biru Pengembangan Sistem Logistik


Road Map Cetak Biru Logistik Nasional

Connecting Aceh

2013 Hal 122

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B I J A K A N & R E N C A N A

6. Cetak Biru Pengembangan Sistem Logistik

Tabel Big Win Pengembangan Sistem Logistik Nasional

Connecting Aceh

2013 Hal 123

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B I J A K A N & R E N C A N A

6. Cetak Biru Pengembangan Sistem Logistik


Tabel Lanjutan Big Win Pengembangan Sistem Logistik Nasional

Connecting Aceh

2013 Hal 124

D A S A R H U K U M , T I N J A U A N K E B I J A K A N & R E N C A N A

6. Cetak Biru Pengembangan Sistem Logistik


Tabel Lanjutan Big Win Pengembangan Sistem Logistik Nasional

Connecting Aceh

2013 Hal 125

M e t o d o l o g i

d a n

P e n d e k a t a n

1. Pola Pendekatan Pelaksanaan Pekerjaan 2. Bagian Alir Pekerjaan 3. Bagan Alir Analisa Permodelan Transportasi

Connecting Aceh

2013 Hal 126

M e t o d o l o g i

d a n

P e n d e k a t a n

A. Pola Pendekatan Konsultan Untuk Pelaksanaan Pekerjaan 1. Pendekatan Kronologis / Implementatif Yaitu pola pikir pendekatan yang berpedoman dan mengacu pada lingkup pekerjaan dikaitkan dengan mekanisme / proses atau urutan/kronologis pelaksanaan. 2. Pendekatan Konseptual Yaitu pola-pikir pendekatan yang bersifat konseptual menyangkut kebijaksanaan, strategi, kerangka filosofi, atau konsep dasar yang akan digunakan konsultan dalam merumuskan, memilih, dan mengidentifikasi kebutuhan pengembangan pelabuhan laut yang paling optimal di provinsi Aceh (NAD).

Connecting Aceh

2013 Hal 127

M e t o d o l o g i

d a n

P e n d e k a t a n

B. Bagian Alir Pekerjaan Penyusunan Rencana Induk Pelabuhan Aceh

Connecting Aceh

2013 Hal 128

M e t o d o l o g i

d a n

P e n d e k a t a n

C. Bagan Alir Analisa Permodelan Transportasi

Connecting Aceh

2013 Hal 129

R e n c a n a

K e r j a

A. Tahapan Pelaksanaan Pekerjaan B. Sistem Pelaporan C. Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan dan Pelaporan

Connecting Aceh

2013 Hal 130

R e n c a n a

K e r j a

A. Tahapan Pelaksanaan Pekerjaan Tahap 1 : Identifikasi dan Konfirmasi Isu Poko Studi Tahap 2 : Pengumpulan data dan survey lapangan Tahap 3 : Identifikasi kondisi fisik dan sosial ekonomi wilayah Provinsi Aceh saat ini Tahap 4 : Analisa Pemetaan Permasalahan Sistem Transportasi Laut Provinsi Aceh Saat Ini Tahap 5 : Analisa Perspektif Perkembangan Wilayah Provinsi Aceh di Masa Mendatang Tahap 6 : Analisa Pengembangan Pelabuhan Laut Provinsi Aceh Tahap 7 : Penyusunan Rencana Induk Pelabuhan Provinsi Aceh B. Sistem Pelaporan Laporan Pendahuluan (Inception Report) Laporan Antara (Interim Report) Laporan Akhir Sementara (Draft Final Report) Laporan Akhir (Final Report) Ringkasan Eksekutif (Executive Summary) Buku Masterplan

Connecting Aceh

2013 Hal 131

R e n c a n a
C. Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan dan Pelaporan

K e r j a

Connecting Aceh

2013 Hal 132

O r g a n i s a s i P e l a k s a n a a n P e k e r j a a n

A. Tahapan Pelaksanaan Pekerjaan B. Sistem Pelaporan C. Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan dan Pelaporan

Connecting Aceh

2013 Hal 133

O r g a n i s a s i P e l a k s a n a a n P e k e r j a a n
A. Kebutuhan Tenaga Ahli

Connecting Aceh

2013 Hal 134

O r g a n i s a s i P e l a k s a n a a n P e k e r j a a n
B. Tugas dan Tanggung Jawab Tenaga Ahli

Connecting Aceh

2013 Hal 135

O r g a n i s a s i P e l a k s a n a a n P e k e r j a a n
Lanjutan Tugas dan Tanggung Jawab Tenaga Ahli

Connecting Aceh

2013 Hal 136

O r g a n i s a s i P e l a k s a n a a n P e k e r j a a n
Lanjutan Tugas dan Tanggung Jawab Tenaga Ahli

Connecting Aceh

2013 Hal 137

O r g a n i s a s i P e l a k s a n a a n P e k e r j a a n
C. Struktur Organisasi Tim

Connecting Aceh

2013 Hal 138

O r g a n i s a s i P e l a k s a n a a n P e k e r j a a n
D. Jadwal Penugasan Tim

Connecting Aceh

2013 Hal 139

PEMERINTAH ACEH
DINAS PERHUBUNGAN KOMUNIKASI, INFORMATIKA & TELEMATIKA

Sekian danTerima Kasih

CV. Profestama Plan

Anda mungkin juga menyukai