Anda di halaman 1dari 57

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Memasuki akhir dekade 1990-an Indonesia mengalami perubahan sosial politik


yang bermuara kepada pilihan melaksanakan desentralisasi sebagai salah satu modal
utama pembangunan Indonesia. Hal ini ditandai dengan pemberlakuan UU 22/1999
tentang Otonomi Daerah yang kemudian dirubah menjadi UU 32/2004. Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2004-2009 menempatkan
revitalisasi proses desentralisasi dan otonomi daerah ini sebagai satu prioritas dalam
pembangunan nasional. Revitalisasi tersebut diarahkan untuk: (1) memperjelas
pembagian kewenangan antar tingkat pemerintahan; (2) mendorong kerjasama antar
pemerintah daerah; (3) menata kelembagaan pemerintah daerah agar lebih efektif dan
efisien; (4) meningkatkan kualitas aparatur pemerintah daerah; (5) meningkatkan
kapasitas keuangan pemerintah daerah; serta (6) menata daerah otonom baru.

Semangat otonomi daerah itu sendiri salah satunya bermuara kepada keinginan
daerah untuk memekarkan diri yang kemudian diatur dalam PP 129/2000 tentang
Persyaratan Pembentukan, dan Kriteria Pemekaran, Penghapusan dan Penggabungan
Daerah. Dalam prakteknya, pemekaran daerah jauh lebih mendapat perhatian
dibandingkan penghapusan ataupun penggabungan daerah. Dalam PP tersebut, daerah
berhak mengajukan usulan pemekaran terhadap daerahnya selama telah memenuhi
syarat teknis, administratif, dan fisik dengan tujuan untuk mensejahterakan masyarakat
yang ada di wilayahnya.

Pemekaran daerah dalam tatanan filosofis dimaksudkan untuk meningkatkan


kesejahteraan masyarakat (pasal 2 PP 129/2000). Argumentasi untuk ini didasarkan atas
beberapa dimensi. Pemekaran akan mempersingkat rentang kendali antara pemerintah
dan masyarakat, khususnya pada wilayah-wilayah yang belum terjangkau oleh fasilitas
pemerintahan. Pemekaran daerah juga diaspirasikan untuk memperbaiki pemerataan
pembangunan. Berdasarkan pengalaman di masa lalu, daerah-daerah yang terbangun
hanya daerah yang berdekatan dengan ibukota pemerintahan daerah. Pemekaran
memungkinkan sumber daya mengalir ke daerah yang masih belum berkembang.
Alasan lainnya yang juga dikemukakan adalah bahwa pemekaran akan mengembangkan
demokrasi lokal melalui pembagian kekuasaan pada tingkat yang lebih kecil.

B. Dampak Pemekaran Daerah

Studi dampak pemekaran daerah secara komprehensif belum pernah dilakukan.


Namun demikian, beberapa studi telah mulai melihat secara parsial apa yang terjadi di
beberapa daerah otonom baru. Bappenas (2005) telah menghasilkan Kajian Percepatan
Pembangunan Daerah Otonom Baru . Kajian ini secara khusus mempelajari
permasalahan yang terkait pembangunan daerah otonom baru dan sektor yang menjadi
andalan dalam pengembangan ekonomi.

Studi tersebut menyimpulkan bahwa pada aspek keuangan daerah, telah terjadi
peningkatan pendapatan asli daerah meskipun pada umumnya ketergantungan terhadap
Dana Alokasi Umum masih tinggi. Di samping itu, juga terjadi peningkatan pada
proporsi belanja pembangunan meskipun proporsi terhadap belanja rutin masih kecil.
Namun demikian penilaian responden masyarakat menunjukkan belum adanya
perubahan antara sebelum dan sesudah pemekaran. Hal ini dikarenakan karena pemda
daerah mekar tengah melakukan pembenahan kelembagaan, infrastruktur kelembagaan,
personil dan keuangan daerahnya. Sedangkan pada aspek pengelolaan sumberdaya
aparatur menunjukkan bahwa rasio jumlah aparatur terhadap total penduduk daerah
mekar masih dibawah rata-rata nasional meskipun untuk beberapa daerah sampel tidak
terjadi hubungan yang signifikan antara jumlah aparatur dan kepuasan pelayanan
publik. Studi ini juga mencatat umumnya kualitas SDM aparatur untuk lini terdepan
pelayanan masyarakat memiliki tingkat pendidikan yang masih rendah (setingkat
SMU).
Pada aspek pelayanan publik, khususnya infrastruktur dasar ditemukan bahwa
rasio panjang jalan keseluruhan dengan luas wilayah mengalami penurunan. Sedangkan
pada pelayanan bidang kesehatan dan pendidikan mengalami peningkatan yang cukup
berarti. Kemudian, pada demokrasi lokal yang dilihat dari penggunaan hak pemilih pada
pemilu menunjukkan angka partisipasi yang cukup tinggi. Meski secara keseluruhan
studi ini tidak secara langsung berkaitan dengan daerah pemekaran, namun secara
umum daerah induk, daerah mekar dan daerah yang tidak mekar menunjukkan gejala
yang hampir sama.

Studi ini juga menyoroti pada sisi kelembagaan di mana kelembagaan yang
terbentuk belum sepenuhnya disesuaikan dengan urusan yang telah ditetapkan sebagai
urusan daerah. Beberapa masalah yang terkait dengan kelembagaan diantaranya yakni
jumlah kelembagaan (SKPD) yang cenderung banyak, struktur organisasi yang
cenderung besar, serta belum memperhitungkan kriteria efektivitas dan efesiensi
kelembagaan yang baik. Pada aspek keuangan daerah, hanya satu dari sembilan daerah
yang dikategorikan mampu dalam pengelolaan keuangannya. Problem utamanya yakni
rendahnya kemampuan dalam menggali sumber-sumber penerimaan daerah, khususnya
PAD. Sedangkan pada aspek aparatur, hanya satu dari sembilan daerah yang
dikategorikan sangat mampu dalam pengelolaan pemerintahannya. Hal ini dilihat
ketersediaan, kualifikasi yang dimiliki, serta kesesuaian antara personil yang mengisi
dan struktur yang tersedia. Umumnya daerah mekar belum mampu menyelesaikan
persoalan di atas.

C. Pentingnya Evaluasi & Tujuan Studi

Beberapa pihak merasakan bahwa pemekaran bukanlah jawaban utama


meningkatkan kesejahteraan masyarakat, bahwa pemekaran membuka peluang untuk
terjadinya bureaucratic and political rentseeking, yakni kesempatan untuk memperoleh
keuntungan dari pemekaran wilayah, baik dana dari pemerintah pusat maupun dari
penerimaan daerah sendiri. Di sisi lain, sebagai sebuah daerah otonom baru, pemerintah
daerah dituntut untuk menunjukkan kemampuannya menggali potensi daerah. Hal ini
bermuara kepada upaya peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang pada
gilirannya menghasilkan suatu perekonomian daerah berbiaya tinggi. Pemekaran juga
dianggap sebagai bisnis kelompok elit di daerah yang menginginkan jabatan dan posisi.
Eforia demokrasi juga mendukung. Partai politik, yang memang sedang tumbuh,
menjadi kendaraan kelompok elit ini menyuarakan aspirasinya, termasuk untuk
mendorong pemekaran daerah.

RPJMN 2004-2009 mengamanatkan adanya program penataan daerah otonom


baru (DOB). Program ini ditujukan untuk menata dan melaksanakan kebijakan
pembentukan DOB sehingga pembentukan DOB tidak memberikan beban bagi
keuangan negara dalam kerangka upaya meningkatkan pelayanan masyarakat dan
percepatan pembangunan wilayah. Kegiatan pokok yang dilakukan antara lain adalah:
1. Pelaksanaan evaluasi perkembangan daerah-daerah otonomi baru dalam
memberikan pelayanan kepada masyarakat;
2. Pelaksanaan kebijakan pembentukan daerah otonom baru dan atau
penggabungan daerah otonomi, termasuk perumusan kebijakan dan pelaksanaan
upaya alternative bagi peningkatan pelayanan masyarakat dan percepatan
pembangunan wilayah selain melalui pembentukan daerah otonomi baru;
3. Penyelesaian status kepemilikan dan pemanfaatan aset daerah secara optimal;
serta
4. Penataan penyelenggaraan pemerintahan daerah otonomi baru.

Evaluasi yang dimaksud sangat terkait dengan kemampuan daerah dalam


penyelenggaraan otonomi daerah. Apabila setelah lima tahun setelah pemberian
kesempatan memperbaiki kinerja dan mengembangkan potensinya dan hasilnya tidak
tercapai maka daerah yang bersangkutan dihapus dan digabungkan dengan daerah lain.
Harapannya melalui evaluasi maka terdapat gambaran secara umum kondisi DOB hasil
pemekaran sehingga dapat dijadikan bahan kebijakan yang cukup kuat dalam penentuan
arah kebijakan pemekaran daerah ke depan, termasuk penggabungan daerah.
Dengan seluruh uraian di atas, maka studi ini didesain untuk memenuhi beberapa
tujuan, yaitu:
(i) mengidentifikasi fokus dan indikator evaluasi pemekaran daerah;
(ii) mengevaluasi perkembangan pemekaran daerah dalam aspek ekonomi,
keuangan pemerintah, pelayanan publik dan aparatur pemerintahan serta
dampaknya terhadap kesejahteraan masyarakat;
(iii) mengidentifikasi masalah-masalah yang terjadi dalam masa pemekaran
daerah, khususnya dalam aspek ekonomi, keuangan pemerintah, pelayanan
publik dan aparatur pemerintahan; dan
(iv) merumuskan rekomendasi kebijakan berkaitan dengan pemekaran daerah.
BAB II
KONSEP EVALUASI & DESAIN STUDI

A. Kerangka Konseptual Evaluasi Pemekaran Daerah

Evaluasi pada dasarnya adalah suatu proses pengukuran dan pembandingan


hasil-hasil kegiatan operasional yang nyatanya dicapai dengan hasil-hasil yang
seharusnya dicapai menurut target dan standar yang telah ditetapkan. Evaluasi
dimaksudkan untuk memberikan penilaian tentang kinerja ataupun kemanfaatan sesuatu
kegiatan tertentu (LAN 2005). Dalam PP 39/2006, definisi evaluasi adalah rangkaian
kegiatan membandingkan realisasi masukan (input), keluaran (output), dan hasil
(outcome) terhadap rencana dan standar.

Landasan evaluasi pemekaran daerah didasarkan atas tujuan pemekaran daerah


itu sendiri yang tertuang dalam PP 129/2000. Pemekaran daerah sendiri merupakan
pemecahan daerah propinsi, daerah kabupaten atau daerah kota menjadi lebih dari satu
daerah. Tujuan pemekaran daerah yakni untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat
melalui:
1. peningkatan pelayanan kepada masyarakat;
2. percepatan pertumbuhan kehidupan demokrasi;
3. percepatan pelaksanaan pembangunan perekonomian daerah;
4. percepatan pengelolaan potensi daerah;
5. peningkatan keamanan dan ketertiban;
6. peningkatan hubungan yang serasi antara pusat dan daerah.

Dua hal penting berkaitan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat ialah:


pertama, bagaimana pemerintah melakukannya, dan kedua, bagaimana dampaknya di
masyarakat dan daerah itu sendiri setelah pemekaran tersebut berjalan selama lima
tahun. Untuk pendekatan pertama maka aspek yang dikaji adalah sejauhmana ‘input’
yang dimiliki oleh pemerintah daerah pemekaran dapat digunakan semaksimal mungkin
dalam rangka peningkatan kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu, indikator evaluasi
pada tahap input pemerintah daerah ini ialah keuangan pemerintah daerah dan aparatur
pemerintah daerah. Kedua sumberdaya tersebut sangat dominant pengelolaannya oleh
pemerintah daerah. Upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui enam cara di
atas akan sulit direalisasikan tanpa adanya keuangan dan aparatur yang
melaksanakannya.

Sedangkan pendekatan kedua ialah melihat kondisi yang diterima oleh daerah
dan masyarakat secara langsung, baik melalui adanya dampak langsung pemekaran
daerah maupun adanya perubahan sistem pemerintah daerah. Oleh karena itu evaluasi
‘output’ akan difokuskan kepada aspek kepentingan utama masyarakat dalam
mempertahankan hidupnya, yakni dari sisi ekonomi. Apabila kondisi ekonomi
masyarakat yang terjadi pada masa pemekaran semakin membaik maka secara tidak
langsung berpengaruh kepada akses masyarakat terhadap pelayanan publik, baik
pendidikan maupun kesehatan. Di sisi lain, pelayanan publik juga mencerminkan
sejauhmana kemampuan pemerintah daerah meningkatkan kualitas hidup masyarakat
serta kondisi secara umum daerah itu sendiri.

Dengan dasar pemikiran di atas, maka dirumuskan kerangka konseptual evaluasi


pemekaran daerah difokuskan pada empat aspek utama, yakni (a) perekonomian daerah,
(b) keuangan daerah, (c) pelayanan publik serta (d) aparatur pemerintah daerah.
Meskipun banyak aspek lain yang penting untuk dievaluasi namun karena keempatnya
sangat strategis dalam penentuan arah kebijakan pada fase 5 tahun setelah pemekaran
maka pembatasan fokus evaluasi ini penting untuk dilakukan. Keempat fokus evaluasi
tersebut saling terkait satu sama lain. Secara teoritis, pemekaran daerah mendorong
lahirnya pemerintahan baru. Untuk menggerakkannya, dibutuhkan aparatur pemda.

Dalam tugas menjalankan fungsi kepemerintahan, aparatur berwenang untuk


mengelola keuangan yang ada agar dimanfaatkan semaksimal mungkin bagi pelayanan
publik serta mendorong perekonomian daerah. Hal ini harus dilakukan baik melalui
belanja aparatur maupun belanja modal. Pada akhirnya hal ini akan kembali kepada
siklus keuangan daerah melalui penerimaan pajak dan retribusi maupun kembali ke
masyarakat melalui pelayanan publik yang diterimanya.
Selanjutnya, untuk melihat sejauh mana perkembangan daerah pemekaran maka
lazimnya perlu ada perbandingan kinerja suatu daerah sebelum dan sesudah pemekaran.
Dari hal inilah akan dilihat apakah memang terjadi perubahan (kemajuan) yang
signifikan pada suatu daerah ketika terjadi pemekaran. Pendekatan semacam ini dapat
dianggap kurang tepat karena ketiadaan pembanding yang setara. Karena itu perlu
dilakukan perbandingan antara daerah yang mekar dan daerah yang tidak melakukan
pemekaran. Secara metodologi, hal ini merupakan aplikasi dari metode evaluasi
menggunakan prinsip treatment-control. Di samping itu, perbandingan dapat dilakukan
antara daerah induk dan DOB sehingga dapat dilihat apakah pemekaran memiliki
dampak yang cukup baik pada dua daerah tersebut ataukah salah satunya.

B. Fokus Evaluasi dan Indikator

Seperti diutarakan di atas, evaluasi difokuskan pada empat aspek utama yakni
(a) perekonomian daerah, (b) keuangan daerah, (c) pelayanan publik serta (d) aparatur
pemerintah daerah. Setiap aspek akan diwakili oleh beberapa indikator, dan sebuah
indeks yang dibentuk dari indikator bersangkutan. Indeks tersebut pada intinya adalah
rata-rata tertimbang dari seluruh indikator di aspek yang bersangkutan. Untuk
menghilangkan dampak dari ‘satuan’, maka indeks akan dihitung berdasarkan nilai
masing-masing indikator yang telah distandardisasi. Standardisasi menggunakan jarak
nilai minimum dan maksimum indikator yang bersangkutan sebagai denominator.

Data yang digunakan dalam studi ini adalah data sekunder dari beberapa
publikasi Badan Pusat Statistik (BPS), Departemen Keuangan, Departemen Dalam
Negeri dan Badan Kepegawaian Nasional. Data-data sekunder dimaksud adalah
datadata yang berkaitan dengan indikator focus studi yakni Perekonomian Daerah,
Keuangan Daerah, Pelayanan Publik and Aparatur Pemerintah Daerah.
Adapun penjelasan indikator serta perhitungannya dapat dijelaskan sebagai
berikut :

I. Kinerja Ekonomi Daerah

Fokus kinerja ekonomi untuk mengukur apakah setelah pemekaran terjadi


perkembangan dalam kondisi perekonomian daerah atau tidak. Indikator yang akan
digunakan sebagai ukuran kinerja ekonomi daerah adalah:
1. Pertumbuhan PDRB non-migas (ECGI) Indikator ini mengukur gerak
perekonomian daerah yang mampu menciptakan lapangan pekerjaan dan
kesejahteraan masyarakat. Pertumbuhan ekonomi dihitung dengan menggunakan
PDRB harga konstan 2000.
2. PDRB per kapita (WELFI) Indikator ini mencerminkan tingkat kesejahteraan
masyarakat di daerah yang bersangkutan.
3. Rasio PDRB kabupaten terhadap PDRB propinsi (ESERI) Indikator ini melihat
seberapa besar tingkat perkembangan ekonomi di satu daerah dibandingkan
dengan daerah lain dalam satu wilayah propinsi. Semakin besar perannya
dikorelasikan dengan perbaikan pada kinerja ekonomi.
4. Angka kemiskinan (POVEI) Pembangunan ekonomi seyogyanya mengurangi
tingkat kemiskinan yang diukur menggunakan head-count index, yaitu
persentase jumlah orang miskin terhadap total penduduk.

II. Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah

Keuangan pemerintah daerah tidak saja mencerminkan arah dan pencapaian


kebijakan fiskal dalam mendorong pembangunan di daerah secara umum, tetapi juga
menggambarkan sejauhmana pelaksanaan tugas dan kewajiban yang diembankan pada
pemerintah daerah (kabupaten) dalam konteks desentralisasi fiskal. Oleh karena itu,
evaluasi kinerja keuangan pemerintah daerah dalam konteks pemekaran daerah ini
menggunakan indikator-indikator kinerja keuangan yang tidak saja merefleksikan
kinerja keuangan dari sisi keuangan pemerintah daerah secara mikro tetapi juga secara
makro sehingga diperoleh indikator-indikator yang terukur, berimbang dan
komprehensif. Indikator-indikator dimaksud adalah:
1. Ketergantungan fiskal (FIDI)
Indikator ini dirumuskan sebagai persentase dari Dana Alokasi Umum (yang
sudah dikurangi oleh Belanja Pegawai) dalam Total Pendapatan anggaran
daerah.
2. Kapasitas Penciptaan Pendapatan (FGII)
Proporsi PAD tidak dinyatakan dalam total nilai APBD, namun dinyatakan
sebagai persentase dari PDRB kabupaten yang bersangkutan. Hal ini untuk
menunjukkan kinerja pemerintah daerah dalam meningkatkan pendapatan asli
daerah berdasarkan kapasitas penciptaan pendapatan (income generation)
masing-masing daerah.
3. Proporsi Belanja Modal (FCAPEXI)
Indikator ini menunjukkan arah pengelolaan belanja pemerintah kepada manfaat
jangka panjang sehingga memberikan multiplier yang lebih besar terhadap
perekonomian. Indikator ini dirumuskan sebagai persentase dari Belanja Modal
dalam Total Belanja di anggaran daerah.
4. Kontribusi Sektor Pemerintah (FCEI)
Indikator ini menunjukkan kontribusi pemerintah dalam menggerakkan
perekonomian. Nilainya dinyatakan sebagai persentase Total Belanja Pemerintah
dalam PDRB kabupaten yang bersangkutan.

III. Kinerja Pelayanan Publik

Evaluasi kinerja pelayanan publik akan difokuskan kepada pelayanan bidang


pendidikan, kesehatan dan infrastruktur. Namun harus diingat bahwa dalam waktu yang
relatif singkat (5 tahun setelah pemekaran) bisa jadi perubahan berarti dalam keluaran
(outcome) kinerja pelayanan publik ini belum akan terlihat. Karena itu indikator kinerja
pelayanan publik yang dirumuskan di studi ini akan lebih menitikberatkan kepada sisi
input pelayanan publik itu sendiri. Indikator yang akan digunakan ialah sebagai berikut:
1. Jumlah Siswa per Sekolah
Indikator ini mengindikasikan daya tampung sekolah di satu daerah. Rasionya
dibedakan antara tingkat pendidikan dasar SD dan SMP dan tingkat lanjutan
SLTA.
2. Jumlah Siswa per Guru
Indikator ketersediaan tenaga pendidik. Indikator ini dibedakan juga atas
pendidikan dasar (SD dan SLTP) dan pendidikan tingkat lanjut (SLTA). Rasio
siswa per guru ini juga dibedakan antara tingkat pendidikan dasar SD dan SMP
dan tingkat lanjutan SLTA.
3. Ketersediaan fasilitas kesehatan
Ketersediaan fasilitas kesehatan dinyatakan dalam rasio terhadap 10 ribu
penduduk (jumlah ini digunakan untuk mendekatkan pada skala kecamatan).
Fasilitas kesehatan dimaksud adalah rumah sakit, puskesmas, puskesmas
pembantu (pustu), dan balai pengobatan.
4. Ketersediaan tenaga kesehatan
Ketersediaan tenaga kesehatan dinyatakan dalam rasio terhadap 10 ribu
penduduk (jumlah ini digunakan untuk mendekatkan pada skala kecamatan).
Tenaga kesehatan dimaksud adalah dokter, tenaga paramedis dan pembantu
paramedis.
5. Kualitas infrastruktur
Indikator ini didekati dengan besarnya persentase panjang jalan dengan kualitas
baik terhadap keseluruhan panjang ruas jalan di kabupaten yang bersangkutan.

IV. Kinerja Aparatur Pemerintah Daerah

Aparatur pemerintah menjadi hal pokok yang dievaluasi berkaitan dengan


seberapa jauh ketersediaan aparatur dapat memenuhi tuntutan pelayanan kepada
masyarakat. Selain itu dari sisi pembiayaan, jumlah aparatur juga sangat menentukan
seberapa besar menyumbang pembiayaan daerah sendiri dan pada akhirnya berimplikasi
terhadap permintaan barang dan jasa pada daerah itu sendiri. Kalau dilihat dari sisi
jumlah aparatur, apabila jumlah aparatur yang berhubungan langsung dengan pelayanan
publik semakin banyak maka akan semakin baik pula ketersediaan pelayanan yang
diberikan oleh pemerintah. Dalam evaluasi pemekaran daerah terdapat tiga indicator
utama yang dapat menunjukkan ketersediaaan dan kualitas aparatur pemerintah, yakni:

1. Kualitas Pendidikan Aparatur


Tingkat pendidikan secara merefleksikan tingkat pemahaman dan pengetahuan.
Semakin tinggi tingkat pendidikan berpotensi meningkatkan kualitas kerja. Indikator
ini dinyatakan dalam persentase jumlah aparatur yang berpendidikan minimal
sarjana dalam total jumlah aparatur (PNS).
2. Persentase Aparatur Pendidik
Indikator ini mencerminkan seberapa besar fungsi pelayanan (pendidikan)
masyarakat memiliki peluang untuk dijalankan. Data yang digunakan dalam studi
ini adalah jumlah aparatur yang berprofesi guru dalam total jumlah aparatur (PNS)
di satu daerah.
3. Persentase Aparatur Paramedis
Indikator ini mencerminkan seberapa besar fungsi pelayanan (kesehatan)
masyarakat memiliki peluang untuk dijalankan. Data yang digunakan dalam studi
ini adalah jumlah aparatur tenaga kesehatan dalam total jumlah aparatur (PNS) di
satu daerah. Tenaga kesehatan yang dimaksud yakni dokter, bidan maupun perawat
yang bekerja di rumah sakit, puskesmas maupun puskesmas pembantu serta
polindes.

C. Metodologi Pemilihan Sampel

Evaluasi daerah pemekaran tidak dapat dilakukan hanya dengan sekedar melihat
kondisi terakhir yang terjadi di daerah tersebut. Diperlukan suatu patokan (benchmark)
terhadap apa daerah pemekaran tersebut kemudian akan diperbandingkan. Studi ini
menggunakan metodologi treatment-control untuk mengevaluasi kinerja dan kondisi
daerah otonom baru. Daerah baru hasil pemekaran dianggap sebagai daerah yang
mendapatkan perlakuan kebijakan atau treatment. Karena itu penting untuk dari awal
diidentifikasi daerah lain yang ‘sebanding’ yang tidak dimekarkan (artinya tidak
mendapatkan perlakukan kebijakan pemekaran ini) yang akan digunakan sebagai daerah
control. Dengan membandingkan kedua daerah ini, maka dapat diputuskan nantinya
apakah kebijakan memekarkan dan membentuk daerah otonom baru tersebut memang
dapat dijustifikasi.

Dengan kerangka metodologi evaluasi seperti di atas, maka satu simpul penting
dalam studi ini adalah penentuan daerah control dan treatment yang akan masuk
menjadi sampel penelitian. Daerah yang menjadi sample evaluasi adalah Kabupaten
Banyuasin sebagai daerah pemekaran dari Kabupaten Musi Banyuasin sebagai daerah
induk.
BAB III
EVALUASI KINERJA

Bab ini memaparkan hasil perhitungan dan analisis data. Pembahasannya akan
dibagi ke dalam beberapa tahapan yakni evaluasi perkembangan masing-masing
indikator pada masing-masing fokus area. Keempat fokus area tersebut ialah: (a)
perekonomian daerah, (b) keuangan daerah, (c) pelayanan publik serta (d) aparatur
pemerintah daerah.

A. Kinerja Perekonomian Daerah

Seperti dibahas sebelumnya indikator evaluasi bidang ekonomi terdiri dari


pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan masyarakat, peran perekonomian daerah dalam
satu propinsi, serta tingkat kemiskinan daerah tersebut.

Pertumbuhan & Kontribusi Ekonomi Banyuasin

Pertumbuhan ekonomi menunjukkan gerak berbagai sektor pembangunan, dan


juga adalah sumber penciptaan lapangan kerja. Adanya peningkatan nilai tambah di
perekonomian mengisyaratkan peningkatan aktifitas ekonomi, baik yang sifatnya
internal di daerah yang bersangkutan, maupun dalam kaitannya dengan interaksi
antardaerah.

Daerah Banyuasin dalam studi ini memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi yang
lebih rendah dibandingkan dengan daerah induk. Secara umum pertumbuhan ekonomi
daerah induk lebih stabil yakni 5-6% per tahun, dibandingkan daerah Banyuasin yang
lebih fluktuatif. Fluktuasi tersebut disebabkan antara lain oleh dominannya sektor
pertanian sebagai penyumbang terbesar sektor ekonomi di daerah pemekaran.
Rentannya sektor ini terhadap perubahan harga, musim maupun iklim menyebabkan
perubahan sedikit saja pada sektor ini akan sangat berpengaruh pada pembentukan
PDRB.
Sementara itu kabupaten induk yang memiliki industri pengolahan non-migas
yang lebih besar dibandingkan dengan daerah mekar, menunjukkan pertumbuhan
ekonomi yang relatif stabil. Peranan sektor industri di daerah induk mencapai 12%
dalam struktur PDRBnya, sedangkan daerah mekar hanya sekitar setengahnya. Semakin
tinggi peran industri pengolahan dalam satu wilayah maka semakin maju daerah
tersebut. Pada periode pemulihan pascakrisis, sektor yang relatif berkembang adalah
industri manufaktur. Kontribusi PDRB daerah otonom baru dalam total PDRB propinsi
ternyata sangat kecil (sekitar ), yang lebih rendah dibandingkan kontribusi kelompok
kontrol (12%) atau daerah induk (10%). Hal ini relatif konstan selama periode 2003-
2008. Hal ini menginsyaratkan bahwa daerah yang dilepas oleh daerah induk tersebut
relatif lebih kecil. Pemekaran daerah otonom baru tidak menghasilkan daerah yang
setara dengan daerah induknya.

Kontribusi daerah Banyuasin yang relatif kecil menunjukkan rendahnya


aktivitas perekonomian. Beberapa hal dapat menjadi penyebab. Di antaranya, pertama,
pembagian sumber-sumber perekonomian antara daerah mekar dan induk tidak merata.
Daerah induk biasanya mendominasi pembagian sumber daya ekonomi seperti kawasan
industri maupun sumberdaya alam produktif. Kedua, investasi swasta di daerah mekar
juga relatif kecil sehingga selama lima tahun terakhir tidak banyak perubahan yang
cukup signifikan untuk mendongkrak perekonomian daerah. Ketiga, perekonomian di
Banyuasin belum digerakkan secara optimal oleh pemerintah daerah, baik karena
kurang efektifnya program-program yang dijalankan maupun karena alokasi anggaran
pemerintah yang belum menunjukkan hasilnya.

Kesejahteraan Masyarakat dan Kemiskinan

PDRB per kapita adalah indikator makro yang secara agregat dapat digunakan
untuk menggambarkan kondisi kesejahteraan masyarakat dari gerak pertumbuhan
ekonomi di daerah yang bersangkutan. Daerah induk ternyata memiliki tingkat PDRB
per kapita yang lebih baik dibandingkan daerah pemekaran. Ada beberapa alasan
mengapa hal ini terjadi. Pertama, proses pembagian wilayah daerah mendorong daerah
induk melepas kecamatan-kecamatan yang merupakan daerah kantong-kantong
kemiskinan. Indikasi melepas beban ini didukung pula oleh fakta bahwa tidak adanya
indikator tingkat kemiskinan pada persyaratan teknis pemekaran daerah. Kedua, daerah
induk memiliki potensi sumberdaya yang lebih siap, baik pemerintahan, masyarakat
maupun kondisi infrastrukturnya. Hal ini juga mempercepat pembangunan di daerah
induk yang, setelah pemekaran, ‘menikmati’ jumlah penduduk yang lebih sedikit
dengan kualitas sumber daya ekonomi yang lebih baik.

Indikator kesejahtaraan berupa PDRB per kapita harus dikontraskan dengan


indikator angka kemiskinan. Angka kemiskinan memberi gambaran mengenai intensitas
penduduk dengan tingkat pendapatan terendah di perekonomian. Tingginya angka
kemiskinan di daerah mekar disebabkan oleh beberapa hal, pertama, daerah kantong-
kantong kemiskinan umumnya adalah daerah tertinggal dengan sumberdaya alam –
pertanian yang terbatas (miskin) pula sehingga untuk memaksimalkan potensi
sumberdaya sangat terbatas pula. Kedua, infrastruktur penunjang, seperti jalan, sekolah
maupun prasarana ekonomi masih sangat terbatas dan lokasi umumnya juga jauh dari
ibukota Kabupaten. Bahkan di daerah Banyuasin banyak memiliki lokasi yang cukup
terpencil, baik di wilayah pegunungan maupun di wilayah pesisir. Hal ini
mengakibatkan keterbatasan akses kelompokkelompok miskin dalam upaya
memperbaiki kehidupannya, termasuk didalamnya adalah modal ekonomi yang
dimiliki, baik lahan pertanian maupun keuangan. Ketiga, dari sisi sosial, penduduk
miskin umumnya memiliki tingkat pendidikan yang relatif rendah mengingat
kemampuan untuk mendapatkan akses sarana pendidikan terbatas. Hal ini
mengakibatkan dalam kurun waktu singkat amatlah sulit untuk menurunkan tingkat
kemiskinan tersebut.

Indeks Kinerja Ekonomi Daerah

Dari data di atas selanjutnya dilakukan penghitungan indeks kinerja ekonomi


daerah. Secara spesifik, kinerja perekonomian daerah induk masih lebih baik dari pada
daerah Banyuasi. Secara umum bahkan gap antara daerah Banyuasin dengan daerah
induk cukup besar yang menandakan perkembangan daerah Banyuasin belum
menunjukkan perkembangan yang berarti.
Dengan demikian, secara umum daerah Banyuasin belum menunjukkan
perkembangan yang cukup pesat meski di satu sisi perkembangan daerah Banyuasin
telah mencapai kinerja rata-rata kabupaten/kota dalam satu propinsi. Secara tidak
langsung, dari hasil indeks juga menunjukkan bahwa daerah Banyuasin bukanlah daerah
yang mampu atau paling tidak sejajar dengan daerah induk namun lebih kepada sebuah
upaya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat maupun memperbaiki kondisi
yang ada. Melihat kesenjangan daerah Banyuasin dan daerah induk yang cukup besar,
timbul pertanyaan apakah daerah Banyuasin dapat mengejar ketertinggalannya. Setelah
5 tahun pemekaran, beberapa aspek memang menunjukkan gejala yang positif seperti
meningkatnya pembangunan prasarana fisik, maupun munculnya fasilitas layanan
publik di Banyuasin.

Dari indikator yang tadi telah diuraikan, terdapat dua masalah utama yang dapat
diidentifikasi:
• Pembagian Potensi Ekonomi Tidak Merata. Dari perkembangan data yang
ada menunjukkan bahwa dari aspek ekonomi, daerah Banyuasin menunjukkan
potensi ekonomi yang lebih rendah daripada daerah induk. Hal ini ditunjukkan
oleh nilai PDRB daerah Banyuasin yang lima tahun terakhir masih di bawah
daerah induk meskipun PP 129/2000 mensyaratkan adanya kemampuan yang
relative tidak jauh berbeda antara daerah induk dengan calon daerah pemekaran.
Secara riil potensi yang dimaksud yakni kawasan industri, daerah pertanian dan
perkebunan yang produktif, tambak, pertambangan, maupun fasilitas penunjang
perekonomian.
• Beban Penduduk Miskin Lebih Tinggi. Dari pembahasan sebelumnya terdapat
suatu kesimpulan bahwa daerah pemekaran umumnya memiliki jumlah
penduduk miskin yang relatif lebih besar, khususnya daerah Banyuasin. Hal ini
membawa implikasi bahwa untuk menggerakkan perekonomian daerah sehingga
terjadi peningkatan pendapatan masyarakat memerlukan upaya yang jauh lebih
berat. Penduduk miskin umumnya memiliki keterbatasan sumberdaya manusia,
baik pendidikan, pengetahuan maupun kemampuan dalam rangka menghasilkan
pendapatan. Di samping itu, sumberdaya alam di kantung-kantung kemiskinan
umumnya juga sangat terbatas, misalnya hanya dapat ditanami tanaman pangan
dengan produktivitas rendah.

B. Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah

Pada bagian ini akan dijelaskan perkembangan masing-masing indicator


evaluasi untuk bidang keuangan daerah yang meliputi dependensi fiskal, optimalisasi
pendapatan daerah, pengelolaan belanja jangka panjang dan kontribusi ekonomi.
Adapun penjelasannnya sebagai berikut :

Dependensi Fiskal dan PAD

Dependensi fiskal ini digunakan untuk mengukur sejauh mana upaya pemerintah
daerah pemekaran baik dengan alokasi dana perimbangan dari pusat maupun PAD yang
dikelola dapat meningkatkan kemampuan keuangan daerah untuk memenuhi kebutuhan
fiskalnya dalam membiayai pembangunan. Berdasarkan Penjelasan Undang-Undang
No.33 Tahun 2004 dapat dikatakan bahwa fungsi DAU adalah sebagai faktor
pemerataan kapasitas fiskal sebagai wujud fungsi distribusi keuangan pemerintah.
Namun di dalam komponen DAU sendiri terdapat alokasi dasar yang merupakan gaji
Pegawai Negeri Sipil di Daerah (PNSD) yang merupakan tanggung jawab pemerintah
pusat secara umum. Oleh karena itu agar dapat memetakan dependensi fiskal daerah
pemekaran baik daerah induk maupun Banyuasin, maka komponen belanja pegawai ini
harus dikurangkan terlebih dahulu dari DAU. Dengan membandingkan DAU (non
belanja pegawai) terhadap total pendapatan diperoleh gambaran ketergantungan fiskal
daerah pemekaran.

Secara umum terdapat tren penurunan ketergantungan fiskal. Sepanjang tahun


2003-2008, Banyuasin memiliki ketergatungan fiskal yang lebih tinggi dibandingkan
daerah induk. Walau demikian, tren daerah Banyuasin mengalami pembalikan arah
(reverse) ketergantungan fiskal ini di tahun 2006-2007. Namun demikian di tahun 2007-
2008 di saat daerah induk mengalami peningkatan dependensi, ternyata daerah
Banyuasin menunjukkan penurunan persentase.
Namun menurunnya porsi DAU non belanja pegawai terhadap total pendapatan
turut dipengaruhi oleh perkembangan upaya pemerintah daerah untuk meningkatkan
kemandirian fiskalnya khususnya melalui peningkatan PAD. Rasio PAD terhadap PDRB
mengukur kinerja keuangan pemerintah daerah dari sisi pendapatan secara makro.
Sering pula disebut indikator tax effort, indikator ini mengukur sejauh mana pemerintah
daerah menciptakan pendapatan (generating income) berdasarkan kapasitas dan potensi
lingkungan ekonomi di daerahnya. Secara umum dapat dikatakan optimalisasi sumber-
sumber PAD di daerah Banyuasin relatif lebih rendah dibandingkan daerah induk.

Optimalisasi PAD hendaknya tidak identik dengan peningkatan tarif pajak atau
retribusi (tax rate), atau keberagaman jenis pajak atau retribusi itu sendiri. Optimalisasi
PAD harus mengacu kepada peningkatan peran pemerintah dalam mendukung dan
menciptakan aktifitas ekonomi sehingga mendorong pertumbuhan yang lebih besar di
sektor-sektor ekonomi yang ada. Pertumbuhan ekonomi dengan sendirinya akan
mendorong peningkatan PAD yang lebih besar lagi. Hal ini sejalan dengan UU 33/2004
Tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah di
mana untuk meningkatkan PAD, pemda dilarang menetapkan Peraturan Daerah (sebagai
landasan instrumen pajak dan retribusi daerah) yang menyebabkan ekonomi biaya
tinggi dan menghambat mobilitas penduduk serta lalu lintas barang dan jasa.

Belanja Investasi & Kontribusi APBD

Rasio belanja modal pemerintah terhadap Total Belanja (disebut juga indicator
CAPEX atau Capital Expenditure) mengukur seberapa jauh kebijakan pemerintah dalam
penganggaran yang berorietasi kepada manfaat jangka panjang atau investasi. Belanja
modal merupakan digunakan untuk membangun sarana dan prasarana daerah seperti
jalan, jembatan, irigasi gedung sekolah, rumah sakit dan pembangunan fisik lainnya
termasuk juga sarana dan prasarana pemerintahan baik kantor bupati, maupun kantor
unit kerja-unit kerja yang ada di daerah.
Jika diuraikan lebih detail, belanja modal di daerah Banyuasin memiliki fokus
yang berbeda dibandingkan daerah induk dan daerah kabupaten lainnya. Di Banyuasin
belanja modal difokuskan untuk investasi infrastruktur pemerintahan seperti gedung
perkantoran, alat transportasi dan juga alat-alat perkantoran & rumah tangga yang
belum dimiliki Banyuasin sebagai satu daerah otonom. Pengalokasian ini bertahap
paling tidak dalam jangka waktu 5 tahun pertama sejak pemekaran. Di sisi yang lain
daerah induk yang notabene telah memiliki infrastruktur pemerintah sebelum
pemekaran, dapat lebih fokus pada investasi publik.

Peran anggaran pemerintah terhadap perekonomian regional tidak saja melalui


belanja modal yang bersifat investasi jangka panjang tetapi juga melalui belanja rutin
atau belanja tetap yang lebih bersifat konsumtif. Jalur konsumtif ini merupakan belanja
gaji (belanja pegawai) dan belanja modal yang digunakan untuk pembangunan
infrastruktur dan pelayanan publik. Selama periode 2003-2008, Banyuasin memiliki
persentase total belanja pemerintah terhadap PDRB yang lebih besar dibandingkan
dengan daerah induk. Selisihnya relatif cukup lebar. Hal ini menggambarkan bahwa
kontribusi keuangan daerah terhadap perekonomian relatif lebih besar dibandingkan
dengan daerah induk. Selain lebih terfokus untuk memenuhi kebutuhan komposisi
aparatur dan pembangunan fasilitas pemerintahan, besarnya kontribusi keuangan
pemerintah daerah terhadap perekonomian lebih disebabkan belum berkembangnya
perekonomian di Banyuasin dibandingkan daerah induk.

Indeks Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah

Keempat indikator kinerja keuangan pemerintah daerah disintesakan ke dalam


satu indeks kinerja keuangan. Terdapat dua kondisi yang terjadi sepanjang 2003-2008.
Pada tahun 2003-2005, kesenjangan indeks antara Banyuasin dengan daerah induk
relatif kecil. Pada periode ini keuangan pemerintah belum sepenuhnya terpisah dengan
daerah induk. Walaupun Banyuasin membutuhkan waktu yang berbeda-beda untuk
benar-benar terpisah dengan daerah induknya, namun demikian dinamika pengelolaan
keuangan di daerah induk masih saling berpengaruh dengan daerah Banyuasin. Dengan
kata lain perkembangan keuangan daerah induk dan Banyuasin benar-benar saling lepas
setelah tahun 2005. Kondisi kedua adalah setelah tahun 2005 di mana daerah induk
menunjukkan perkembangan keuangan yang meningkat sementara daerah Banyuasin
justru menurun. Dalam periode ini daerah Banyuasin benar-benar lepas baik dari sisi
kelembagaan, administrasi keuangan, aparatur pengelola, hingga landasan peraturan
pada tingkat pemerintah daerah tentang pengelolaan keuangan masing-masing daerah.

Undang-undang menyebutkan bahwa lamanya dukungan keuangan yang


diberikan oleh daerah induk adalah maksimum tiga tahun, dengan besaran pembiayaan
berdasarkan kesepakatan daerah induk dengan Banyuasin. Namun jika mengamati
perkembangan indeks kinerja keuangan pemerintah daerah antara daerah induk dengan
Banyuasin, dibutuhkan waktu yang lebih lama bagi Banyuasin mempersiapkan berbagai
instrument pengelolaan keuangan termasuk kelembagaan, administrasi keuangan,
aparatur pengelola, hingga landasan peraturan untuk hal-hal yang lebih teknis selain
penyusunan APBD sendiri. Dalam studi ini, daerah pemekaran yang dipilih adalah
daerah pemekaran di tahun 1999. Jika tahun 2005 dapat disebut sebagai periode
”kemandirian keuangan”, berarti dibutuhkan waktu rata-rata 4 tahun untuk daerah
mekar untuk benar-benar lepas dari daerah induknya.

Secara keseluruhan kinerja keuangan daerah Banyuasin yang lebih rendah


dibandingkan daerah Induk disebabkan oleh sejumlah permasalahan dalam keuangan
daerah, yaitu:
• ketergantungan fiskal yang lebih besar di daerah pemekaran terutama daerah
Banyuasin secara persisten berhubungan dengan besarnya alokasi belanja modal di
daerah pemekaran. Peran keuangan pemerintah pusat dalam pembangunan di daerah
pemekaran masih sangat besar. Terkait dengan desentralisasi fiskal dan otonomi daerah,
pemekaran seyogyanya dapat mendorong kemandirian pemerintah daerah dalam
melaksanakan pembangunan di daerahnya melalui optimalisasi sumber-sumber
pertumbuhan ekonomi daerah. Seyogyanya alokasi dana pemerintah pusat semestinya
menjadi satu insentif dan modal awal bagi pemerintah Banyuasin untuk
mengoptimalkan pendapatan daerah. Pada gilirannya dapat mengurangi ketergantungan
terhadap keuangan pemerintah pusat.
• optimalisasi pendapatan dan kontribusi ekonomi yang rendah. Di sini terlihat
adanya vicious circle antara keuangan pemerintah dan perekonomian daerah. Sebagai
satu daerah otonom yang baru, daerah pemekaran memerlukan peran nyata pemerintah
daerah yang cukup besar untuk mendorong perekonomian. Tidak saja melalui
pembangunan infrastruktur fisik tetapi kebijakan dan pengelolaan keuangan daerah
yang dapat mendorong berkembangnya pusat-pusat pertumbuhan. Peran yang kurang
memadai dari keuangan daerah menyebabkan perekonomian yang kurang berkembang
yang pada gilirannya juga berdampak kurang optimalkan pendapatan daerah yang
mendorong kemandirian fiskal.
• porsi alokasi belanja modal dari pemerintah daerah yang rendah, belum mampu
sepenuhnya mendorong perekonomian di daerah. Hal ini menjadi satu indikasi belum
efektifnya kebijakan keuangan pemerintah daerah pemekaran utamanya Banyuasin
dalam menggerakkan aktifitas ekonomi di daerah baik yang bersifat konsumtif maupun
yang bersifat investasi.

C. Kinerja Pelayanan Publik

Aspek utama ketiga yang menjadi fokus evaluasi ini adalah kinerja pelayanan
public dari pemerintah daerah. Analisis akan dibagi ke dalam tiga bagian: pendidikan,
kesehatan dan infrastruktur.

Pendidikan

Sektor pendidikan merupakan bagian penting dalam pelayanan publik. Dalam


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2004-2009 disebutkan
permasalahan bidang pendidikan di Indonesia antara lain adalah fasilitas pelayanan
pendidikan, khususnya untuk jenjang pendidikan menengah pertama dan yang lebih
tinggi yang belum tersedia secara merata, serta ketersediaan pendidik yang belum
memadai baik secara kuantitas maupun kualitas. Pemekaran daerah memungkinkan
pemerintah memperbaiki pemerataan fasilitas pendidikan baik tingkat dasar maupun
lanjutan serta memperbaiki ketersediaan tenaga pendidik yang memadai melalui peran
pemerintah daerah. Dengan rentang kendali yang lebih pendek dan alokasi fiskal yang
lebih merata seyogyanya menjadi modal dasar peningkatan pelayanan bidang
pendidikan di setiap daerah, khususnya daerah pemekaran.

Secara umum dapat dikatakan bahwa daerah Banyuasin memiliki daya tampung
sekolah yang lebih rendah dibandingkan kelompok sampel lainnya. Hal ini berlaku
untuk jenjang pendidikan dasar dan SLTP maupun untuk jenjang pendidikan SLTA.
Terdapat kesenjangan yang cukup tinggi antara daya tampung sekolah di Banyuasin dan
daerah lainnya. Secara tren, terlihat tren penurunan daya tampung sekolah selama
periode 2004-2008. Untuk Banyuasin, tren tersebut jauh lebih kentara dibandingkan
kelompok lainnya.

Indikator ini mengandung dua makna yang krusial. Pertama adalah


ketersediaan sekolah dan kedua adalah partisipasi masyarakat. Jika rendahnya indikator
ini lebih disebabkan oleh pertambahan sekolah yang tidak dapat mengimbangi
pertambahan siswa, maka permasalahannya adalah ketersediaan sekolah yang kurang
memadai. Dengan kata lain, diperlukan lebih banyak lagi sekolah. Namun jika
rendahnya indikator ini lebih disebabkan oleh rendahnya pertambahan penduduk usia
sekolah dasar yang bersekolah dibandingkan dengan pertambahan sekolah, maka
permasalahannya adalah partisipasi atau kesadaran masyarakat. Walaupun diperlukan
kajian yang lebih lanjut, namun yang jelas bahwa di daerah pemekaran indikator ini
belum pada tingkat yang optimal.

Pentingnya pendidikan dewasa ini merupakan salah satu refleksi tingkat


kemajuan kehidupan dan kesejahteraan suatu bangsa. Dengan pendidikan diharapkan
dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Peningkatan pendidikan merupakan
instrumen penting yang dapat membawa ke arah terwujudnya kesejahteraan
masyarakat.. Bagi pemerintah keuntungan yang diperoleh melalui investasi di bidang
pendidikan antara lain bahwa pendidikan merupakan salah satu cara memerangi
kemiskinan, mengurangi ketimpangan pendapatan dan meningkatkan produktivitas
tenaga kerja. Sedangkan bagi masyarakat, semakin baik pendidikan merupakan modal
memperebutkan kesempatan kerja, sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan
pendapatan. Usaha untuk meningkatkan perkembangan pendidikan salah satunya terkait
erat dengan pengadaan prasarana pendidikan. Penambahan jumlah sekolah dan guru
dapat secara langsung memberikan kesempatan lebih besar kepada masyarakat untuk
memperoleh pendidikan. Dari data Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuasin tahun 2007
dapat diketahui bahwa untuk tingkat sekolah dasar terdapat sebanyak 522 SD/sederajat
dengan 5.303 guru dan 99.821 murid.
Untuk tingkat pendidikan Sekolah Lanjutan Pertama/sederajat, terdapat 131 unit
sekolah dengan 2.586 orang guru dan 25.447 orang murid. Sementara untuk tingkat
Sekolah Menengah Umum/ Sekolah Menengah Kejuruan/sederajat terdapat 37 unit
sekolah dengan 817 orang guru dan 9.348 orang murid.

Perkembangan Jumlah Siswa Per Sekolah


a. Tingkat Sekolah Dasar dan SLTP
b. Tingkat SLTA
Perkembangan Jumlah Siswa Per Guru
a. Tingkat Sekolah Dasar dan SLTP
b. Tingkat SLTA
(Data terlampir)

Ketersediaan tenaga pendidik merupakan elemen penting keberhasilan


pembangunan sektor pendidikan. Rasio jumlah siswa per guru memiliki pengaruh
terhadap efektifitas proses belajar mengajar di sekolah dan lebih jauh lagi terhadap
upaya meningkat kualitas sumber daya manusia di daerah. Perkembangan indikator ini
di Banyuasin tidak jauh berbeda dengan daerah induk. Walaupun pada pendidikan
tingkat lanjut terdapat kesenjangan antara daerah induk dan Banyuasin, namun selisih
tersebut relatif tidak terlalu besar.

Kecenderungan menurunnya rasio dimaksud sepanjang tahun 2003-2008 perlu


menjadi perhatian. Jika penurunan lebih diakibatkan oleh semakin banyaknya jumlah
guru, maka berarti efektifitas kelas yang semakin meningkat. Namun jika penurunannya
lebih disebabkan oleh menurunnya jumlah siswa, maka masalahnya adalah peran serta
masyarakat. Hal ini dapat diteliti lebih lanjut dengan membandingkan pertumbuhan
jumlah guru dengan pertumbuhan jumlah siswa. Jumlah siswa untuk pendidikan
setingkat SLTP dan SLTA sepanjang 2003-2008 di Banyuasin mengalami
perkembangan yang positif dengan pertumbuhan jumlah guru yang positif pula. Dengan
demikian peningkatan ketersediaan tenaga pendidik dibarengi oleh peningkatan
parisipasi masyarakat usia sekolah. Demikian pula pada tingkat pendidikan sekolah
dasar dan sekolah yang sederajat jumlah siswa di Banyuasin mengalami kenaikan.

Perkembangan yang positif juga tampak jika membandingkan rasio jumlah


siswa per guru di daerah pemekaran dengan daerah kontrol dan rata-rata kabupaten.
Pada tingkat pendidikan dasar, gap antara daerah pemekaran dengan kontrol dan rata-
rata kabupaten sangat kecil. Sementara itu, pada tingkat pendidikan lanjut, walaupun
mendekati kecenderungan daerah rata-rata namun perkembangan di daerah pemekaran
di bawah daerah induk. Untuk pendidikan lanjutan, ketersediaan guru relatif lebih
memadai untuk menciptakan proses belajar dan mengajar yang lebih efektif.

Namun perlu pula dikemukakan adanya kasus di mana seorang guru mengajar di
beberapa sekolah, baik di satu kabupaten maupun di beberapa kabupaten yang
berdekatan. Hal ini bisa mengakibatkan double counting dalam penghitungan jumlah
guru. Permasalahan ini perlu menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Mengajar di
beberapa tempat memang adalah cara cepat mengatasi kekurangan guru di daerah,
namun secara pendataan harus diperhatikan agar tidak terjadi pendataan ganda.

Kesehatan

Di bidang kesehatan, ketersediaan fasilitas kesehatan diukur dengan jumlah


fasilitas kesehatan tiap 10.000 orang penduduk. Ukuran jumlah penduduk yang
digunakan untuk lebih mengarahkan ketersediaan fasilitas kesehatan pada tingkat
kecamatan. Dari data yang ada, dapat ditarik suatu gambaran bahwa dalam ketersediaan
fasilitas kesehatan di DOB dalam perkembangannya tidak jauh berbeda dengan daerah
induk. Pada tahun 2008 bahkan terjadi peningkatan jumlah fasilitas kesehatan per
10.000 penduduk yang nyata di daerah.
Dengan kata lain, pemekaran daerah secara nyata mendorong pemerataan
pelayanan kesehatan terutama di bidang sarana fisik. Hal ini sejalan dengan arah
kebijakan pembangunan nasional (RPJMN) di mana disebutkan bahwa kebijkan bidang
kesehatan diarahkan salah satunya untuk meningkatkan dan pemerataan fasilitas
kesehatan dasar. Namun yang perlu menjadi perhatian adalah bahwa selain kuantitas
fasilitas kesehatan, masalah kualitas fasilitas kesehatan juga ditekankan untuk dapat
mendukung pencapaian sasaran pembangunan bidang kesehatan.

Untuk menjawab rencana pembangunan nasional dan mendukung pencapain


MDG, desentralisasi bidang kesehatan menjadi faktor yang krusial. Pemekaran daerah
menjembatani kebutuhan tersebut, dalam arti bahwa pemekaran tidak hanya mendorong
peningkatan pelayanan kesehatan dari sisi fisik baik yang berupa fasilitas kesehatan
maupun tenaga kesehatan, tetapi juga kualitas layanan kesehatan. Untuk kualitas
layanan ini, maka kualitas tenaga kesehatan menjadi penting. Untuk evaluasi
ketersediaan tenaga kesehatan digunakan ratio tenaga kesehatan termasuk dokter,
paramedis dan tenaga non paramedis untuk setiap 10.000 penduduk.

Berbeda dengan fasilitas kesehatan, jumlah tenaga kesehatan di Banyuasin


masih jauh di bawah daerah induk. Pada tahun 2008, daerah induk menyediakan paling
tidak 13 orang tenaga kesehatan untuk tiap 10.000 penduduk sedangkan Banyuasin
hanya 8 orang. Kesulitan di daerah induk untuk menarik tenaga kesehatan serupa
dengan kesulitan tenaga pendidik maupun aparatur pemerintah secara umum.

Pelayanan Kesehatan Semakin Ditingkatkan

Pemkab Banyuasin mengambil kebijakan menambah jam kerja pelayanan di


puskesmas, pustu, dan rumah sakit hingga pukul 16.00 WIB.

Penambahan jam kerja tersebut untuk meningkatkan pelayanan kesehatan


kepada masyarakat. Bupati Banyuasin H Amiruddin Inoed mengatakan, dengan
penambahan jam kerja itu,masyarakat yang mayoritas berprofesi sebagai petani dan
kerap bekerja hingga sore hari dapat tetap memanfaatkan program berobat gratis yang
dicanangkanpemerintah.
“Para dokter, bidan, dan perawat dapat menyusun waktu kerja secara bergantian
agar tidak merasa terbebani dengan adanya penambahan waktu tersebut,” katanya
kemarin. Bupati Amiruddin meminta para dokter, bidan, dan perawat mendukung
programberobatgratis.
Sementara itu,Kepala Dinas kesehatan Kabupaten Banyuasin dr Suwandi Subki
mengatakan, pihaknya segera melakukan sosialisasi mengenai penambahan jam kerja
bagi paradokter, bidan, dan perawat.

“Dulu pelayanan kesehatan hanya dilakukan hingga pukul 14.00 WIB. Dengan
penambahan waktu ini, diharapkan mereka dapat memakluminya,” ucapnya. Dia
berjanji peningkatan pelayanan kesehatan akan terus dilakukan.

Dalam periode 2007-2008 terlihat ada peningkatan tenaga kesehatan baik di


Banyuasin maupun daerah induk. Hal ini seyogyanya menjadi tren baru perkembangan
tenaga kesehatan di Banyuasin yang berlanjut di masa yang akan datang. Ketersediaan
tenaga kesehatan erat kaitannya dengan kebijakan bidang kesehatan secara nasional.
Peningkatan ketersediaan dan pemerataan tenaga kesehatan di seluruh Indonesia
menjadi program kerja di instansi terkait seperti Departemen Kesehatan dan
Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara. Artinya pemerintah pusat memainkan
peranan penting dalam peningkatan tenaga kesehatan secara umum.

Dalam konteks desentralisasi bidang kesehatan, pemerintah daerah memainkan


peranan tersendiri. Pemerintah daerah berperan dalam menentukan dan mengarahkan
peningkatan jumlah dan pemerataan ketersediaan tenaga kesehatan di daerahnya,
terutama di daerah-daerah tertinggal. Beberapa daerah pemekaran yang ada merupakan
daerah tertinggal yang di dalamnya memiliki wilayah kecamatan yang masih minim
oleh pelayanan kesehatan.
Kualitas Infrastruktur

Selain pelayanan bidang pendidikan dan kesehatan, pelayanan infrastruktur juga


memainkan peranan yang krusial dalam pembangunan daerah. Infrastruktur tidak saja
memainkan peranan dalam kegiatan ekonomi tetapi juga kegiatan lainnya yang turut
menunjang pembangunan, baik kegiatan pemerintah yang bersifat adminsitratif,
kegiatan pelayanan publik yang bersifat publik serta menjadi satu instrumen untuk
meningkatkan lalu lintas informasi serta kegiatan lainnya. Indikator yang digunakan
untuk merepresentasikan kualitas infrastruktur adalah persentase jalan dalam kondisi
baik terhadap total panjang ruas jalan. Jalan merupakan salah komponen yang mendasar
dalam infrastruktur.

Dari data yang ada bahwa pada periode awal (2003-2004) kualitas jalan di
daerah induk masih lebih baik dibandingkan di Banyuasin. Hingga akhir 2004, rata-rata
jalan kualitas baik di daerah induk sebesar 35,61% sementara di Banyuasin sebesar
34,40%. Namun kemudian tahun 2004, persentase jalan dengan kualitas baik di daerah
induk berada sedikit di bawah Banyuasin. Hal ini menjadi salah satu indikasi bahwa
pemerintah Banyuasin menfokuskan kegiatan pada pembangunan jalan. Banyuasin
sebelum pemekaran tidak memiliki infrastruktur jalan yang memadai. Pemekaran
memang membawa perbaikan dan pembangunan jalan baru di Banyuasin. Namun
dengan jalan kualitas baik pada kisaran 30% hingga 40% dari total panjang ruang jalan,
kualitas jalan di daerah Banyuasin perlu ditingkatkan lagi. Jalan tidak saja krusial
sebagai bagian dari pemerintahan dan pelayanan publik tetapi juga sebagai pendukung
dalam bergeraknya roda perekonomian daerah.

Sementara itu, terdapat kecenderungan penurunan kualitas infrastruktur yang


tidak saja terjadi di daerah pemekaran, tetapi di daerah induk. Banyuasin memiliki
urgensi untuk mempercepat pembangunan infrastruktur terutama jalan karena sebagai
suatu daerah baru belum memiliki infrastruktur jalan layakanya daerah induk maupun
daerah-daerah lainnya yang lebih dulu berkembang. Selain kualitas infrastruktur yang
memadai, prioritas kewilayahnya dalam pembangunan jalan. Infrastruktur ini
hendaknya tidaknya saja diarahkan sebagai penunjang kegiatan pemerintahan tetapi
lebih jauh lagi untuk mengembangkan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi
baru.Pertumbuhan ekonomi ini tidak saja diperoleh dari potensi alam, tetapi juga
potensi yang diciptakan untuk pengembangan pembangunan.

Potensi wisata alam terbatas :

• Wisata air sambil menikmati hutan mangrove


• Foto hunting
• Pengamatan burung (bird watching) migrant pada bulan-bulan September -
November
• Pengamatan ekosistem hutan mangrove

Pada setiap kawasan wisata, idealnya didukung oleh infrastruktur yang


memadai, sebagai salah satu kemudahan untuk menjangkau dan memasarkan kawasan
wisata tersebut. Tanpa itu semua, kawasan wisata hanya merupakan suatu wilayah mati
yang hanya dikenang masyarakat.

South Sumatera Eastern Corridor Development in The Third Millenium

• Proyek Pembangunan Kawasan Pelabuhan, Industri, Perdagangan, Komersial,


Logistik dan Pariwisata.
• "Spine Transportation" yang memadukan laut, sungai dan daratan (jalan tol dan
kereta api).
• Pengintegrasian area meliputi Tanjung Carat, Sungsang, Karang Anyar dan
Puntian pada areal seluas 30.000 ha yang berjarak 70 km dari Palembang.

Kronologi Mewujudkan Pelabuhan Tanjung Api-api

• Gagasan Pemerintah Daerah untuk membangun Pelabuhan Tanjung Api-Api


berawal dari pemikiran Pemerintah Belanda tahun 1911 dan 1937 dan
dilanjutkan oleh Pemerintah Jepang tahun 1943.
• Tahun 1975 study oleh E.G. Frankle
• Tahun 1984 study oleh Bechtel
• Tahun 1992 study oleh JICA
Produk dari SECDe

1. Pelabuhan Laut Tanjung Api-Api ( Marine Port Of Tanjung Api-Api)

2. Terminal container

3. Terminal kargo

4. Terminal CPO

5. Terminal Batubara

6. Jalan Told an Rel Kereta Api (HIGHWAY AND RAILWAY TRACKS)

7. Kawasan Industri Banyuasin ( BANYUASIN INDUSTRIAL PARK )

8. Kawasan Teknologi Banyuasin (BANYUASIN TECHNOLOGY PARK )

9. Bisnis Produk Halal (GLOBAL HALAL HUB)

10. Pembangunan Pariwisata Ekologi (ECO-TOURISM DEVELOPMENT)

-Taman Nasional Sembilang

11. Industri Teknologi Bio (BIO-TECHNOLOGY INDUSTRY)

12. Kawasan Bisnis ( BUSINESS PARK )

13. Perkampungan Pelajar ( EDUCATION VILLAGE )

14. Kompleks Pertokoan dan Perumahan (HOUSING COMPLEXES AND


TOWNSHIP)

15. Infrastruktur, Utiliti Dan Komunikasi

16. Sungsang Water Front City and Fish Auction


Indeks Kinerja Pelayanan Publik

Pelayanan publik merupakan satu hal yang erat kaitannya dengan pemekaran
daerah. Diharapkan dengan pemekaran daerah dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat
salah satunya melalui peningkatan dan pemerataan pelayanan publik termasuk bidang
kesehatan dan pendidikan. Dari sini jelas bahwa pembangunan fasilitas publik di satu
sisi seyogyanya dibarengi oleh peningkatan kualitas dan efektifitas pelayanan itu sendiri
sehingga dapat secara optimal dapat mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat
di daerah.

Dalam proses pelayanan publik, mengindikasikan bahwa suatu sistem


pemerintahan sedapat mungkin dekat dengan masyarakat, memahami hak-hak masyarakat,
mendengarkan aspirasi, keinginan dan memenuhi kebutuhan masyarakat, yang sekaligus
memiliki kemampuan dan keleluasaan dalam mengelola kegiatan dan urusan pemerintahan
guna pemenuhan hak, aspirasi, kebutuhan dan kepentingan masyarakat.

Momentum reformasi sosial politik yang berlangsung cepat beberapa tahun


belakangan ini memberi arah baru bagi pemerintah dan masyarakat untuk mulai
menerapkan kebijakan desentralisasi secara efektif di Indonesia. Berdasarkan pandangan
historis, politik, konstitusional, struktural maupun teknis operasional, kebijakan
desentralisasi yang melahirkan otonomi daerah, dalam penyelenggaraan pemerintahan di
Indonesia, merupakan pilihan yang tepat, atas dasar pertimbangan kondisi geografis yang
luas dan menyebar serta potensi dan karakteristik yang berbeda antar wilayah. Kebijakan
desentralisasi dimaksudkan sebagai instrumen pencapaian tujuan bernegara dalam kesatuan
bangsa yang demokratis. Sehubungan dengan itu paling tidak ada dua tujuan utama yang
ingin dicapai melalui kebijakan desentralisasi yaitu : ”tujuan politik dan administrasi”.
Tujuan politik akan memposisikan Pemerintah Daerah sebagai medium pendidikan politik
bagi masyarakat pada tingkat lokal dan secara agregat akan berkontribusi pada pendidikan
politik secara nasional untuk mempercepat terwujudnya civil society. Sedangkan tujuan
administratif akan memposisikan Pemerintah Daerah sebagai unit pemerintah di tingkat
lokal yang berfungsi untuk menyediakan pelayanan masyarakat secara efektif, efisien dan
ekonomis

Perkembangan Indeks Kinerja Pelayanan Publik (IKPP) daerah Banyuasin


sepanjang tahun 2003-2008 berada di bawah daerah induk. Hal ini menjadi suatu
gambaran kurang optimalnya pelayanan publik di Banyuasin dibandingkan daerah
induk. Seperti telah diuraikan pada bagian terdahulu, kurang optimalnya pelayanan
publik di Banyuasin utamanya masalah ketersediaan fasilitas gedung sekolah,
ketersediaan tenaga kesehatan, kualitas infrastruktur jalan dan juga yang tidak kalah
pentingnya ketersediaan tenaga pendidik.

Belum optimalnya pelayanan publik di daerah Banyuasin disebabkan oleh


sejumlah permasalahan. Dapat disebutkan di antaranya ialah:
• Tidak efektifnya penggunaan dana. Dengan pemekaran dana yang lebih besar
dialokasikan pada daerah dengan luas wilayah dan jumlah penduduk yang relatif sama.
Semestinya memang hal ini mendorong peningkatan pelayanan publik paling tidak
melalui penambahan jumlah sekolah dan jumlah guru. Hal ini sejalan juga dengan
upaya lebih mendekatkan pelayanan pemerintah kepada masyarakat. Dari
perkembangan indeks pelayanan publik dapat dijelaskan bahwa pelayanan publik di
Banyuasin relatif lebih rendah dibandingkan dengan daerah induk.
• Tidak tersedianya tenaga layanan publik. Alokasi dana pemerintah pusat melalui
DAU dan DAK seyogyanya mendorong perluasan dan pemerataan pelayanan
pendidikan dan kesehatan dari sisi fasilitas fisik. Keterbatasan perkembangan ekonomi
di Banyuasin menjadi satu kendala dalam menarik tenaga pendidik dan kesehatan untuk
lebih mengoptimalkan kinerja di daerahnya. Dengan kata lain, selain masalah
keterbatasan dari sisi jumlah tenaga pelayanan, juga kurang optimalnya kinerja tenaga
pelayanan yang ada.
• Belum optimalnya pemanfaatan pelayanan publik. Dalam hal infrastruktur
terutama jalan, tampak terjadi adanya peningkatan yang signifikan di Banyuasin.
Namun dari sisi pemanfaatannya secara optimal perlu menjadi perhatian. Dari kondisi
yang ada, dapat dikatakan bahwa membaiknya kualitas jalan dan pelayanan publik
bidang pendidikan dan kesehatan belum dapat menjadi faktor pendorong pembangunan
ekonomi di daerah. Hal yang perlu menjadi perhatian adalah sejauhmana peningkatan
pelayanan publik dari sisi fisik ini dapat meningkatkan kualitas dan taraf hidup
masyarakat.

D. Kinerja Aparatur Pemerintah Daerah

Salah satu hal yang menjadi motor penggerak pelayanan publik adalah aparatur
pemerintah daerah yang dalam jumlah maupun kualitasnya sangat menentukan arah
pembangunan di daerah. Terlebih lagi karena 70% aparatur berada di pemerintahan
kabupaten. Kualitas dan produktifitas menjadi sangat penting.5 Pengukuran
produktifitas aparatur tidaklah mudah. Karena itu di samping melihat jumlah, studi ini
juga melihat kualitas yang didekati oleh tingkat pendidikan dan karakteristik
fungsionalnya. Spesifik untuk karakteristik fungsional ini, kelompok guru dan tenaga
medis akan dilihat secara khusus karena keduanya mencerminkan potensi peningkatan
mutu modal manusia.

Kuantitas dan Kualitas Aparatur

1.Konsep dan Karakteristik Kompetensi

a. Konsep Kompetensi

Persyaratan kompetensi adalah prinsip bagi birokrasi profesional karier.

Kompetensi dimulai dari adanya interaksi penguasaan teori, praktek dan analisis

yang kemudian melahirkan penguasaan knowledge, memiliki skills, sensitivitas dan

values. Penguasaan pengetahuan adalah kemampuan untuk mengerti bidang

profesi tertentu, karena dia adalah merupakan pembelajaran teori dan prinsip-

prinsip. Kemudian penguasaan pengetahuan itu, juga adalah dasar untuk

mendukung sensitivitas yang dimiliki serta membimbing pengembangan skills

seraya membantu seseorang untuk mengerti dalam menerapkan standar values

yang ada dalam bidang profesi tertentu itu. Aparatur negara yang memiliki unsur-

unsur tersebut di atas itulah, yang kita katakan sebagai aparatur negara
profesional dan berkompetensi. Aparatur negara yang berkompeten dan handal

itulah yang bisa sensitif untuk dapat memperbaiki budaya kerja bangsa kita yang

relatif terlanjur rusak dan rendah.

Mitrani, Palziel dan Fitt (Dharma, 2000:18) menjelaskan bahwa gerakan

kompetensi telah dimulai pada tahun 1960 dan awal tahun 1970. Jadi, konsep

kompetensi sebenarnya bukan merupakan sesuatu yang baru.

Siswanto (2003:20) mengartikan bahwa :

”Kompetensi sebagai kemampuan manusia (yang dapat ditunjukan dengan

karya, pengetahuan, keterampilan, perilaku, sikap, motiv dan/atau bakatnya)

ditemukan secara nyata dapat membedakan antara mereka yang sukses dan

biasa-biasa saja ditempat kerja.”

Pendapat lain dikemukakan oleh Suprapto (2000:3), bahwa ”Kompetensi

adalah kemampuan dan karakteristik yang dimiliki oleh seorang PNS berupa

pengetahuan, keahlian dan sikap perilaku yang diperlukan dalam melaksanakan

tugas jabatannya

Sedangkan Mitrani et al.. Spencer dan Spencer (Dharma,2002:19)

mengartikan kompetensi sebagai ”an underlying characteristic’s of an individual

which is causally related to ctiterion-referenced effective and or superior

performance in a job or situation” (sebagai karakteristik yang mendasari seseorang

dan berkaitan dengan efektifitas kinerja dalam pekerjaannya).

Pengertian di atas mengandung makna bahwa kompetensi merupakan

bagian kepribadian yang mendalam dan melekat kepada seseorang serta perilaku

yang dapat diprediksi pada berbagai keadaan dan tugas pekerjaan. Sedangkan

berkaitan dengan kinerja berarti kompetensi adalah sesuatu yang menyebabkan

atau memprediksi perilaku dan kinerja dan kompetensi mengandung makna bahwa

kompetensi sebenarnya memprediksi siapa yang berkinerja baik dan kurang baik,

diukur dari kriteria atau standar yang digunakan. Dengan demikian apabila
seseorang berkinerja dengan baik maka akan tercipta kualitas pelayanan yang

baik pula, dalam hal ini kemampuan dalam memberikan pelayanan kepada

masyarakat sesuai dengan tututan kebutuhan era globalisasi.

Adapun yang dimaksud dengan standar kompetensi adalah spesifikasi atau

sesuatu yang dibakukan, memuat persyaratan minimal yang harus dimiliki oleh

seseorang yang akan melakukan pekerjaan tertentu agar yang bersangkutan

mempunyai kemampuan melaksanakan pekerjaan dengan hasil baik

(Suprapto,2002:7).

Pendapat lain dikemukakan oleh Muins (2000:40) bahwa ”Standar

kompetensi merupakan ukuran untuk memahami dan berkomunikasi dengan

berbagai kultur dan erat kaitannya dengan profesionalisme”.

Pendapat-pendapat di atas menunjukan bahwa standar kompetensi

merujuk pada suatu keadaan dimana seseorang dapat dipercaya berdasarkan

kemampuannya. Bagi organisasi standar kompetensi merupakan suatu konsep

keandalan dari suatu organisasi atau individu yang diperoleh melalui dunia profesi

yang dimilikinya. Dengan demikian, standar kompetensi menunjukan kadar

penguasaan suatu profesi atau bidang tanggung jawab.

b. Karakteristik Kompetensi

Sesuai dengan TAP MPR Nomor VI Tahun 2002 yang mengamanatkan

kepada Presiden untuk membenahi budaya birokrasi, maka dikenakan SK

Men.PAN Nomor 25/KEP/M.PAN/4/2002 tentang buku Pedoman Pengembangan

Budaya Kerja. Didalamnya mengandung 17 (tujuh belas) elemen prinsip-prinsip

budaya kerja yang meliputi : komitmen dan konsistensi – wewenang dan

tanggung jawab – ikhlas dan jujur – integritas dan profesionalisme –

kreativitas dan kepekaan – kepemimpinan dan keteladanan – kebersamaan

dan dinamika kelompok – ketepatan dan kecepatan – rasionalitas dan

kecerdasan emosi – keteguhan dan ketegasan – disiplin dan keteraturan


kerja – keberanian dan kearifan – dedikasi dan loyalitas – semangat dan

motivasi – ketekunan dan kesabarab – keadilan dan keterbukaan – berilmu

pengetahuan dan teknologi.

Penentuan tingkat kompetensi dibutuhkan agar dapat mengetahui tingkat

kinerja yang diharapkan untuk kategori baik atau rata-rata (BKN, 2003:10).

Penentuan ambang kompetensi yang dibutuhkan tentunya dapat dijadikan dasar

bagi proses seleksi, suksesi perencanaan, evaluasi kinerja dan pengembangan

sumber daya manusia.

Menurut beberapa ahli yang dirangkum oleh Dharma (BKN, 2003:10)

dikatakan bahwa :

Terdapat lima karakteristik kompetensi yaitu : motiv, traits, selft concept,

knowledge dan skills”. Motives adalah sesuatu dimana seseorang secara konsisten

berpikir sehingga ia melakukan tindakan, Traits, adalah watak yang membuat

orang untuk berperilaku atau bagaimana seseorang merespon sesuatu dengan

cara-cara tertentu. Selft concept, adalah sikap dan nilai-nilai yang dimiliki

seseorang. Knowledge, adalah informasi yang dimiliki seseorang untuk bidang

tertentu. Skills, adalah kemampuan untuk melaksanakan suatu tugas tertentu baik

secara fisik maupun mental.

c. Klasifikasi Kompetensi

Menurut Muins (2000:40), ada tiga jenis kompetensi, yaitu: ”Kompetensi

profesi, kompetensi individu dan kompetensi sosial”. Kompetensi profesi

merupakan kemampuan untuk menguasai keterampilan/keahlian pada bidang

tertentu, sehingga tenaga kerja maupun bekerja dengan tepat, cepat teratur dan

bertanggung jawab. Kompetensi individu, merupakan kemampuan yang diarahkan

pada keunggulan tenaga kerja, baik penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi

(iptek) maupun daya saing kemampuannya. Kompetensi sosial merupakan

kemampuan yang diarahkan pada kemampuan tenaga kerja dalam menyesuaikan


diri dengan lingkungan, sehingga mampu mengaktualisasikan dirinya di lingkungan

masyarakat maupun lingkungan kerjanya.

Menurut Prayitno (BKN, 2003:11), standar kompetensi mencakup tiga hal,

antara lain :

1. Keterampilan, yaitu kemampuan untuk menunjukan tugas pada tingkat criteria

yang dapat diterima secara terus menerus dengan kegiatan yang paling sedikit;

2. Pengetahuan, yaitu fakta dan angka dibalik aspek teknis;

3. Sikap, yaitu yang ditunjukan kepada pelanggan dan orang lain bahwa yang

bersangkutan mampu berada dalam lingkungan kerjanya.

Mengutip Spencer dan Spencer (Dharma, 2002:21) berpendapat bahwa

kompetensi dapat dibagi dua kategori yaitu threshold competencies dan

differentiating competencies.

1. Threshold competencies adalah karakteristik utama (biasanya pengetahuan

atau keahlian dasar seperti kemampuan untuk membaca) yang harus dimiliki

oleh seseorang agar dapat melaksanakan pekerjaannya. Tetapi tidak untuk

membedakan seseorang yang berkinerja tinggi dan rata-rata.

2. Differentiating competencies adalah faktor-faktor yang membedakan individu

yang berkinerja tinggi dan rendah. Misalnya, seseorang yang memiliki orientasi

motivasi biasanya diperhatikan pada penetapan tujuan yang melebihi apa yang

ditetapkan organisasi.

Menurut Maarif (2003:16), penetapan standar kompetensi dapat

diprioritaskan pada pengetahuan, keterampilan dan sikap, baik yang bersifat hard

competencies maupun soft competencies. Soft/generic competencies menurut

Spencer (1993) meliputi enam kelompok kompetensi, yaitu:


a. Kemampuan merencanakan dan mengimplementasikan (motivasi untuk

berprestasi, perhatian terhadap kejelasan tugas, ketelitian dan kualitas kerja,

proaktif dan kemampuan mencari dan menggunakan informasi).

b. Kemampuan melayani (empati, berorientasi pada pelanggan).

c. Kemampuan memimpin (kemampuan mengembangkan orang lain,

kemampuan mengarahkan kerjasama kelompok, kemampuan memimpin

kelompok).

d. Kemampuan berpikir (berpikir analisis, berpikir konseptual, keahlian

teknis/profesional/manajerial).

e. Kemampuan bersikap dewasa (kemampuan mengendalikan diri, flesibilitas,

komitmen terhadap organisasi).

Sedangkan menurut Prayitno (BKN, 2003:12), komponen-komponen

kompetensi profesional dibagi menjadi empat kelompok, yaitu:

1. Kemampuan spesialis, meliputi kemampuan keterampilan dan pengetahuan

menggunakan perkakas dan peralatan dengan sempurna serta

mengorganisasikan dan menangani masalah.

2. Kemampuan metodik, meliputi kemampuan mengumpulkan dan menganalisis

informasi, mengevaluasi informasi, orientasi tujuan kerja dan bekerja secara

istematik.

3. Kemampuan sosial, meliputi kemampuan untuk berkomunikasi, bekerja

kelompok dan bekerjasama.

4. Kemampuan individu, meliputi kemampuan untuk inisiatif, dipercaya, motivasi

dan kreatif.

Suprapto (2002:3) berpendapat bahwa standar kompetensi minimal

mengandung empat komponen kelompok pokok, yaitu: (1). Knowledge; (2). Skills;

(3). Attitude; dan (4). Kemampuan untuk mengembangkan Knowledge, skills pada

orang lain.
Secara spesifik Suprapto (2002:3) menjelaskan bahwa kualifikasi PNS dapat

ditinjau dari tiga unsur utama, yaitu: keahlian, kemampuan teknis dan sifat-sifat

personil yang baik.

Untuk keahlian PNS antara lain :

1. Memiliki pengalaman yang sesuai dengan tugas dan fungsinya;

2. Memiliki pengetahuan yang mendalam dibidangnya;

3. Memiliki wawasan yang luas;

4. Beretika.

Untuk kemampuan teknis, PNS antara lain harus memahami tugas-tugas

dibidangnya. Sedangkan untuk sifst-sifat pegawai yang baik antara lain harus

memiliki disiplin yang tinggi, jujur, sabar, manaruh minat, terbuka, objektif, pandai

berkomunikasi, selalu siap dan terlatih.

Dari pendapat-pendapat tersebut, dapat dikatakan bahwa kegiatan

standarisasi pada dasarnya merupakan kegiatan dinamis, yaitu mengikuti kaidah

ilmu pengetahuan dan teknologi dan selalu dapat mengimbangi dan mengikuti

perkembangan dinamika kegiatan masyarakat di tingkat nasional maupun

internasional. Cakupan standar kompetensi PNS pada prinsipnya dapat didasarkan

kepada jabatan struktural dan fungsional. Jabatan-jabatan tersebut berdasarkan

pada sifat pekerjaannya, sehingga dapat disusun standar kompetensi PNS yang

spesifik.

d. Kebutuhan Kompetensi Masa Depan

Kondisi pemerintahan kita saat ini cendrung tidak efisien dan tidak efektif

dalam penyelenggaraan pemerintahan, hal ini merupakan masalah sulit yang

dibenahi didalam dunia pemerintahan kita dewasa ini. Banyak kalangan menilai

bahwa pemerintahan di negara kita (baik pemerintah pusat maupun pemerintah

daerah) cendrung over headcost dalam membiayai eksekutif dan legislatif, dengan

menyerap resources (sumber daya) yang sebenarnya terbatas, dan tinggal sedikit
resources yang tersisa untuk kegiatan pelayanan, hal ini terlihat pada belanja

publik yang tidak terlampau besar dibandingkan dengan belanja aparatur (Fadel

Muhammad, Gtlo Post, 5 Maret 2005).

Dari pemikiran beberapa ahli seperti yang dirangkum oleh Dharma (BKN,

2003:14) dapat didefinisikan beberapa pokok pikiran tentang kualitas yang perlu

dimiliki oleh seseorang pada tingkat eksekutif, manajer dan karyawan. Pokok-

pokok pikiran tersebut adalah sebagai berikut :

1. Tingkat Eksekutif

Pada tingkat eksekutif diperlukan kompetensi (1). Strategic thinking; (2)

Change leadership; dan (3) relationship management.

a. Strategic thinking adalah kompetensi untuk memahami kecenderungan

perubahan lingkungan yang begitu cepat, melihat peluang pasar, ancaman

kekuatan dan kelemahan organisasi agar dapat mengidentifikasi strategic

response secara optimum.

b. Change leadership adalah kompetensi untuk mengkomunikasikan visi dan

strategi perusahaan (organisasi) untuk dapat ditransformasikan kepada

pegawai.

c. Kompetensi relationship management adalah kemampuan untuk meningkatkan

hubungan dan jaringan dengan Negara lain. Kerjasama dengan Negara lain

sangat dibutuhkan bagi keberhasilan organisasi.

2. Tingkat Manajer

Pada tingkat manajer, paling tidak diperlukan aspek-aspek kompetensi

seperti fleksibilitas, change implementation, interpersonal understandin and

empowering, team facilitation, portability.


a. Aspek fleksibilitas adalah kemampuan merubah struktur dan proses menejerial,

apabila strategi perubahan organisasi diperlukan untuk efektivitas pelaksanaan

tugas organisasi.

b. Dimensi interpersonal understanding adalah kemampuan untuk memahami

nilai dari berbagai tipe manusia.

c. Aspek empowering adalah kemampuan berbagi informasi, penyampaian ide-

ide oleh bawahan, pengembangan karyawan, mendelegasikan tanggung

jawab, memberikan sasaran umpan balik, menyatakan harapan-harapan yang

positif untuk bawahan dan memberikan reward bagi peningkatan kinerja.

d. Dimensi team facilitation adalah kemampuan menyatukan orang untuk

bekerjasama secara efektif dalam mencapai tujuan bersama, termasuk dalam

memberikan kesempatan setiap orang untuk berpartisipasi dalam mengatasi

konflik.

e. Dimensi portability adalah kemampuan untuk beradaptasi dan berfungsi secara

efektif dengan lingkungan luar negeri sehingga manajer harus portable

terhadap posisi yang ada di Negara manapun.

3. Tingkat Karyawan

Pada tingkat karyawan diperlukan kualitas kompetensi seperti fleksibilitas,

kompetensi menggunakan dan mencari berita, motivasi dan kemampuan untuk

belajar, motivasi berprestasi, motivasi kerja di bawah tekanan waktu, kolaborasi

dan orientasi pelayanan kepada masyarakat.

a. Dimensi fleksibilitas adalah kemampuan untuk melihat perubahan sebagai

suatu kesempatan yang menggembirakan daripada sebagai ancaman.

b. Aspek mencari informasi, motivasi dan kemampuan belajar adalah kompetensi

tentang antusiasme untuk mencari kesempatan belajar tentang keahlian teknis

dan interpersonal.
c. Dimensi motivasi berprestasi adalah kemampuan untuk mendorong inovasi,

perbaikan berkelanjutan dalam kualitas dan produktivitas yang dibutuhkan

untuk memenuhi tantangan kompetensi.

d. Aspek motivasi kerja adalah dalam tekanan waktu merupakan kombinasi

fleksibilitas, motivasi berprestasi, menahan stress dan komitmen organisasi

yang membuat individu bekerja dengan baik.

e. Dimensi kolaborasi adalah kemampuan bekerja secara kooperatif di dalam

kelompok yang multi disiplin, menaruh harapan kepada yang lain, pemahaman

interpersonal dan komitmen organisasi.

f. Dimensi keinginan yang besar untuk melayani pelanggan dengan baik dan

inisiatif untuk mengatasi masalah-masalah yang dihadapi.

Peningkatan mutu sumber daya manusia yang strategis terhadap

peningkatan pengetahuan, keterampilan, motivasi dan pengembangan manajemen

SDM merupakan syarat utama dalam era globalisasi agar mampu bersaing dan

mandiri. Sejalan dengan itu, visi dalam konteks pembangunan SDM pemerintah di

masa yang akan datang adalah mempersiapkan PNS yang profesional, mampu

bersaing dan mengantisipasi perkembangan dunia yang pesat diberbagai aspek

kehidupan sehingga mampu meningkatkan mutu pelayanan serta kinerja yang

tinggi.

Peningkatan mutu pelayanan dan kinerja yang tinggi, diperlukan

kemampuan SDM yang sesuai dengan standar kompetensi yang diperlukan

organisasi. Kompetensi SDM mencakup kemampuan dasar, kemampuan bidang

yang diperlukan bagi SDM tingkat eksekutif, tingkat manajer, maupun tingkat

karyawan.

Kompetensi dasar merupakan kompetensi yang wajib atau mutlak dimiliki

oleh setiap PNS yang menduduki jabatan struktural dilingkungan instansi

pemerintah yang mencakup integritas (integrity), kepemimpinan (leadership),


perencanaan dan pengorganisasian (planning and organizing), kerjasam

(collaboration) dan fleksibilitas (fleksibility).

e. Komponen Kompetensi

Menurut Gubernur Fadel Muhammad (Gorontalo Pos, 03 Maret 2005),

kinerja pemerintahan dalam kenyataan selalu dilihat dari tiga sudut pandang, yakni

1. Sudut pandang administrasi publik (Publik Administration) yang menekankan

pada dua hal, yaitu (a). Bagaimana kinerja itu dirumuskan dan (b). Bagaimana

kinerja itu diukur.

2. Sudut pandang pendapat umum (Public Opinion). Hasil akhir dari kinerja

pemerintahan adalah opini publik. Baik atau buruk kinerja pemerintahan

tergantung penilaian publik.

3. Sudut pandang demokrasi (Democratic Performance). Kinerja pemerintahan

akan dilihat dari sisi seberapa besar efektivitas dan ketanggapan pemerintah

terhadap isu-isu yang mengemuka di masyarakat dan biasanya berjangka

pendek. Kepekaan terhadap tututan dan efisiensi terhadap penggunaan

resources untuk memenuhi tututan tersebut adalah menentukan kualitas

kinerja (Travis, 2002).

Menurut Lembaga administrasi Negara (2004:14) mengemukakan bahwa,

cakupan kompetensi meliputi lima kemampuan, yaitu kemampuan teknik,

kemampuan manajerial, kemampuan komunikasi, kemampuan strategis dan

kemampuan etika.

1. Kemampuan Teknikal

Kemampuan teknik adalah kemampuan yang berkaitan secara langsung

dengan tugas pokok dan fungsi instansi. Dalam hal ini ada beberapa kemampuan

teknik (tecnical skill) yang seharusnya dimiliki oleh seorang pejabat untuk
menduduki jabatannya yang dipangku saat ini, seperti: human relation, analisis

kebijaksanaan dan penyusunan rencana kegiatan. Kemampuan-kemampuan

tersebut hendaknya dapat dimiliki oleh para pejabat sampai pada tingkat

menguasai.

2. Kemampuan Manajerial

Secara umum kemampuan manajerial merupakan aspek kemampuan yang

berkaitan dengan pelaksanaan fungsi manajemen, seperti :

a. Tingkat kemampuan menetapkan sasaran kegiatan-kegiatan sesuai dengan

tugas dan fungsi;

b. Tingkat kemampuan dalam menetapkan tugas-tugas dalam upaya pencapaian

sasaran;

c. Tingkat kemampuan dalam mendistribusikan tugas pada bawahan, tingkat

kemampuan dalam mengkoordinasikan tugas;

d. Tingkat kemampuan dalam melakukan bimbingan terhadap bawahan.

3. Kemampuan Komunikasi

Kemampuan komunikasi dengan pihak lain merupakan salah satu bagian

dari kemampuan-kemampuan yang harus dimiliki oleh pejabat dalam pelaksanaan

tugas dan tanggung jawabnya. Kemampuan komunikasi ini meliputi :

a. Kemampuan melakukan interaksi dengan masyarakat dan pihak ketiga lainnya

bernegosiasi dengan staf atau instansi lain, kemampuan melakukan

presentasi;

b. Kemampuan membangun hubungan dan network baik dengan kalangan

pajabat maupun dengan masyarakat;

c. Kemampuan dalam menuangkan konsep pemikiran ke dalam tulisan sehingga

dapat berkomunikasi dengan pihak lain.

4. Kemampuan Strategik
Kemampuan strategik merupakan kemampuan melihat jauh kedepan

sehingga dapat merumuskan berbagai kebijakan strategik yang meliputi :

a. Kemampuan dalam mengantisipasi tututan dimasa mendatang, kemampuan

dalam mengenali peluang dan kendala, kemampuan dalam menjabarkan

berbagai kebijakan atasan;

b. Kemampuan dalam memberikan kontribusi dalam pemikiran strategis

kemampuan dalam berpikir secara sistematis;

c. Kemampuan dalam mengantisipasi tututan dimasa datang, kemampuan dalam

mengenali peluang dan kendala, kemampuan dalam menjabarkan berbagai

kebijakan atasan;

d. Kemampuan menjabarkan sasaran jangka panjang dalam pelaksanaan tugas

sehari-hari;

e. Kemampuan mengambil keputusan dalam waktu yang tepat sekalipun dalam

situasi yang baik menguntungkan, kemampuan melakukan penyesuaian dalam

tujuan strategis manakala terjadi perubahan.

Disamping itu diperlukan integritas dan kesetiaan dalam menjalankan tugas

dan tanggung jawab atas segala tindakan yang diambil dan lain sebagainya,

seperti :

a. Kemampuan mengenali peluang dan kendala;

b. Kemampuan mengantisipasi tututan dimasa depan;

c. Kemampuan menjabarkan kebijaksanaan atasan;

d. Kemampuan berpikir sistematis;

e. Kemampuan pengambilan keputusan yang tepat.

5. Kemampuan Etika

Kemampuan etika dimaksudkan untuk melaksanakan tugas dan tanggung

jawab dengan pertimbangan etika yang telah ditetapakan oleh organisasi yang

meliputi :
a. Pemahaman terhadap etika pegawai dalam melaksanakan tugas;

b. Penekanan yang dilakukan terhadap penetapan etika pegawai dalam

pelaksanaan tugas dan fungsi instansi oleh staf;

c. Perhatian instansi terhadap penetapan etika pegawai, pemahaman staf

terhadap etika pegawai dan pelaksanaan etika pegawai dilaksanakan oleh staf.

Dengan demikian, berkaitan dengan para pegawai di Biro Pengaduan Masyarakat,


Deputi Mensesneg Bidang Pengawasan, Sekretaris Negara RI, kemampuan-
kemampuan terssebut di atas sangatlah penting dan perlu dalam rangka
melaksanakan penanganan pengaduan masyarakat yang disampaikan kepada
Presiden dan atau Menteri Sekretaris Negara secara profesional yaitu melalui
kemampuan dalam menganalisa dan mengolah surat pengaduan masyarakat,
kemampuan melaksanakan koordinasi dengan pihak terkait dalam rangka
penyelesaian pengaduan masyarakat serta kemampuan melaksanakan evaluasi dan
laporan atas kegiatan perencanaan dan pelaksanaan kegiatan dalam periode semester
dan tahunan.
Selama periode 2003-2008 tidak terdapat perubahan yang berarti dalam jumlah
aparatur, baik di kelompok daerah induk, maupun daerah Banyuasin. Jumlah aparatur
di daerah induk secara rata-rata masih lebih besar dibandingkan dengan Banyuasin.
Sedikit penurunan jumlah aparatur terjadi pada saat verifikasi PNS di tahun 2005.
Dalam periode penelitian ini, rata-rata aparatur daerah induk memiliki jumlah lebih
tinggi dibandingkan dengan Kabupaten Banyuasin sendiri. Keadaan tersebut terjadi
karena jumlah aparatur yang direkrut di awal pembentukan Banyuasin biasanya sangat
terbatas. Yang otomatis direkrut biasanya adalah aparatur yang sebelumnya bekerja di
wilayah-wilayah tersebut seperti guru, camat, lurah dan stafnya. Mekanisme pembagian
aparat kabupaten induk kepada Kabupaten baru tidak diatur secara khusus. Proses
penempatan (pembagian) aparatur lebih dikarenakan keinginan aparatur sendiri untuk
melakukan perpindahan (mutasi). Terdapat dua motif besar yakni: (i) peningkatan posisi
dan jabatan di kabupaten baru, yang pada akhirnya berimplikasi terhadap kesejahteraan
aparatur, dan (ii) hubungan sosial yang cukup erat antara aparatur dengan daerah
Banyuasin dalam konteks tempat tinggal maupun daerah asal sehingga terbuka peluang
untuk membangun daerah tersebut.
Meski alasan di atas sangat umum namun pada proses penempatan aparatur lama
ke Kabupaten Banyuasin sepertinya belum terjadi pemerataan yang cukup baik, paling
tidak dari sisi kuantitas. Aparatur cenderung lebih memilih kabupaten induk yang sistem
serta fasilitas pendukungnya telah memadai. Hal ini berimplikasi kepada kualitas.
Kabupaten induk memiliki banyak aparatur yang lebih berpengalaman ketimbang
daerah Banyuasin yang ditunjukkan oleh jumlah aparatur dengan pangkat dan golongan
tinggi cukup banyak.

Ada beberapa implikasi dari keadaan tersebut. Pertama, di kabupaten


Banyuasin, proses pembentukan sistem, mekanisme maupun harmonisasi kerja aparatur
membutuhkan waktu yang relatif cukup lama. Akibatnya kinerja pemerintahan menjadi
lambat pada fase awal kabupaten Banyuasin. Kedua, proses penyesuaian pangkat dan
jabatan serta posisi pejabat terkesan dipaksakan. Beberapa sumber menyebutkan adanya
percepatan kenaikan golongan dalam rangka memenuhi persyaratan untuk jabatan
tertentu. Hal ini pada akhirnya menimbulkan masalah internal pemerintahan itu sendiri,
misalnya kecemburuan antaraparatur maupun kurang terjalinnya kerjasama.
Pada Tahun 2007 terjadi penambahan jumlah pegawai negeri sipil di Kabupaten
Banyuasin. Penambahan jumlah pegawai baik berasal dari mutasi daerah lain, juga
berasal dari penerimaan pegawai baru. Jumlah Pegawai Negeri Sipil pada tahun 2007
sebanyak 6.481 orang, sedangkan pada tahun 2006 sebanyak 5.937 orang PNS. Formasi
jumlah pegawai menurut golongan pada tahun 2007, golongan III paling banyak
dibandingkan golongan lainnya (lihat gambar berikut)
Banyuasin Dalam Angka 2007(Banyuasin in Figures 2007)

Seperti dibahas sebelumnya bahwa pendidikan aparatur menggambarkan


kualitas aparatur yang pada akhirnya berpengaruh terhadap perbaikan kebijakan
maupun pelaksanaan program-program yang diputuskan oleh pemerintah daerah.
Sebagai indikator, digunakan persentase aparatur dengan pendidikan minimal S1
(sarjana). Apabila komposisi jumlah aparatur berpendidikan minimal sarjana meningkat
maka diasumsikan semakin baik pula kualitas aparatur yang ada di pemerintah daerah.

Kalau dikaitkan dengan fakta bahwa Banyuasin adalah daerah dengan status
ekonomi yang lebih rendah, seyogyanya Banyuasin mendapatkan aparatur dengan
kualitas yang lebih baik (sedikitnya setara) dengan daerah induk. Perlu dikemukakan
pula bahwa aparatur di daerah induk memiliki akses yang lebih baik untuk
meningkatkan pendidikannya. Kemampuan ekonomi dan akses ke fasilitas pendidikan
yang lebih baik di daerah induk memungkinkan aparat di daerah induk meningkatkan
jenjang pendidikannya. Daerah induk dan juga daerah Banyuasin memiliki persentase
aparatur berpendidikan minimal S-1 yang lebih rendah dibandingkan rata-rata seluruh
kabupaten di Indonesia.

Aparatur Untuk Peningkatan Mutu SDM

Di samping kualitas dan kuantitas aparatur, komposisi aparatur juga memainkan


peranan penting. Satu hal yang akan dilihat di sini adalah komposisi aparatur yang
berpotensi memberi dampak jangka panjang, khususnya bagi peningkatan mutu sumber
daya manusia. Dua kelompok ini ialah kelompok fungsional guru dan tenaga medis.

Proporsi jumlah guru selama periode 2003- 2008 meningkat cukup tajam.
Peningkatan ini didorong oleh kebijakan Kementrian Pendayagunaan Aparatur Negara
yang memberi prioritas pengangkatan aparatur bidang pendidikan dan kesehatan. Ada
beberapa penyebab mengapa daerah induk memiliki persentase guru yang lebih tinggi
dibandingkan Banyuasin. Pertama, daerah induk memiliki sekolah dan tenaga honorer
yang lebih banyak. Ketika terjadi pengangkatan aparatur, daerah induk lebih dominan.
Kedua, karena fasilitas yang disediakan untuk guru di Banyuasin umumnya sangat
terbatas dan dari sisi transportasi juga sulit maka proses rekrutmen dan penempatan
guru mengalami sedikit kendala. Guru-guru tersebut hanya lebih senang di daerah-
daerah yang telah memiliki fasilitas yang telah cukup baik dan umumnya terletak di
daerah induk.

Peningkatan juga terjadi pada aparatur bidang kesehatan yakni dokter, perawat
dan bidan. Persentase aparatur bidang kesehatan sangat kecil, kurang lebih 8% dari total
aparatur pemda. Memang terdapat peningkatan dibandingkan tahun 2003, yang terkait
dengan penambahan fasilitas kesehatan yang dibangun di daerah seperti rumah sakit,
pusat kesehatan masyarakat dan puskesmas pembantu sehingga membutuhkan
penambahan jumlah aparatur di Banyuasin. Bahwa jumlah aparatur bidang kesehatan di
daerah induk lebih tinggi dibandingkan DOB, khususnya pada periode 2006-2008. Hal
ini mirip dengan kasus di aparatur pendidikan.
Masalah yang dihadapi dalam rangka pemenuhan aparatur bidang kesehatan
yakni kekurangan dokter untuk ditempatkan pada puskesmas di tingkat kecamatan yang
dari sisi jarak cukup jauh dari ibukota kabupaten. Selama ini pemenuhan kebutuhan
dokter pada tingkat kecamatan hanya melalui Dokter PTT (Pegawai Tidak Tetap) yang
masa kerjanya sangat terbatas yakni hanya dua tahun. Pemerintah daerah tidak dapat
menahan dokter tersebut untuk bekerja lebih lama lagi mengingat dokter PTT bukanlah
aparatur pemda. Untuk melengkapi kekurangan dokter tersebut, pemda akhirnya
membiayai pendidikan aparatur (calon dokter) melalui ikatan dinas yang diharapkan
setelah selesai pendidikan dapat mengabdi pada pemerintah daerah untuk kurun waktu
yang relatif lebih lama.

Indeks Kinerja Aparatur Pemerintah Daerah

Indeks kinerja aparatur disusun untuk melihat kinerja aparatur daerah selama
periode 2003-2008. Bahwa indeks kinerja aparatur di Banyuasin dan daerah induk
berfluktuasi. Bila dibandingkan antara daerah mekar dan induk maka daerah mekar
cenderung stabil sedangkan daerah induk mengalami peningkatan signifikan antara
2003-2006. Dalam periode 2005- 2007, kinerja aparatur daerah induk masih lebih baik
ketimbang daerah Banyuasin meskipun di Tahun 2003 daerah Banyuasin berada pada
posisi sebaliknya.

Dalam melaksanakan kegiatan pemerintahan kabupaten Banyuasin Berdasarkan


Peraturan Daerah Kabupaten Banyuasin Nomor 4 Tahun 2003 Tentang Pembentukan
Organisasi Sekretariat Daerah dan Sekretariat DPRD Kabupaten Banyuasin , Peraturan
Daerah Nomor 5 Tahun 2003 tentang pembentukan Organisasi Dinas Daerah Kabupaten
Banyuasin, serta Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 2003 Tentang Pembentukan
Organisasi Tehnis Kabupaten Banyuasin telah ditetapkan jumlah Dinas/ Badan/ Kantor
adalah 25 yang terdiri dari 2 Sekretariat, 14 Dinas, 6 Badan dan 3 Kantor. Pada Tahun
2007 terjadi penambahan jumlah pegawai negeri sipil di Kabupaten Banyuasin.(lihat
gambar di atas)

Beberapa masalah menyangkut aparatur dapat diuraikan sebagai berikut.


• ketidaksesuaian antara aparatur yang dibutuhkan dengan yang tersedia. Hal ini
terjadi khususnya berkaitan dengan bidang-bidang yang spesifik, seperti dokter
spesialis. Calon aparatur yang tersedia justru tidak berminat untuk bekerja di
pemerintah daerah yang jauh dari pusat fasilitas. Umumnya tenaga-tenaga tersebut lebih
menyukai tinggal di ibukota propinsi.
• kualitas aparatur rendah. Penyebabnya adalah metode penerimaan aparatur yang
saat ini ada belum dapat memperkirakan kemampuan calon aparatur dalam
melaksanakan tugas sesuai job desk-nya. Umumnya seleksi hanya didasarkan pada latar
belakang pendidikan namun tidak pada kemampuan yang dibutuhkan oleh pemerintah
daerah.
• aparatur daerah bekerja dalam kondisi underemployment. Banyak dari aparatur
pemda yang bekerja di bawah 8 jam per hari. Dalam realitanya hanya 4-5 jam perhari.
Ketiketidaktegasan sanksi, ketiadaan contoh yang baik dari pimpinan unit maupun
secara jumlah yang sudah berlebihan merupakan penyebab underemployement ini.

BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan

Studi ini telah menyajikan evaluasi terhadap pemekaran kabupaten Banyuasin.


Dengan menggunakan metode controltreatment, studi ini telah membandingkan kinerja
pembangunan daerah Banyuasin dengan daerah induk. Empat aspek utama yang
mendapat perhatian dalam studi ini adalah:
(a) perekonomian daerah,
(b) keuangan daerah,
(c) pelayanan publik serta
(d) aparatur pemerintah daerah.
Secara umum dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan persepsi antara
pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam hal pemekaran daerah ini. Pemerintah
pusat, ketika merumuskan PP 129/2000 berkeinginan untuk mencari daerah otonom
baru yang memang dapat berdiri sendiri dan mandiri. Karena itu disusunlah seperangkat
indikator yang pada hakekatnya berupaya mengidentifikasi kemampuan calon daerah
otonom baru. Namun dari sisi yang lain, pemerintah daerah memiliki pendapat yang
berbeda. Pemerintah daerah melihat pemekaran daerah sebagai upaya untuk secara
cepat keluar dari kondisi keterpurukan. Studi ini menemukan konfirmasi tersebut.
Daerah Banyuasin ternyata secara umum tidak berada dalam kondisi awal yang lebih
baik dibandingkan daerah induk. Bahkan evaluasi setelah lima tahun perjalanannya,
daerah Banyuasin juga secara umum masih di bawah kondisi daerah induk.

Dari sisi pertumbuhan ekonomi, daerah Banyuasin lebih fluktuatif ketimbang


daerah induk yang relatif stabil dan meningkat. Hal ini berarti walaupun daerah
Banyuasin telah melakukan upaya memperbaiki perekonomian namun karena masa
transisi ini membutuhkan proses maka belum semua potensi ekonomi dapat digerakkan.
Sebagai leading sector di daerah Banyuasin, sektor pertanian akan sangat rentan
terhadap gejolak harga, baik harga komoditi maupun hal-hal lain yang secara teknis
yang mempengaruhi nilai tambah sektor pertanian. Oleh karena itu, kemajuan
perekonomian Banyuasin sangat tergantung usaha pemerintah dan masyarakat dalam
menggerakkan sektor tersebut.

Secara umum kinerja keuangan daerah Banyuasin menunjukkan kondisi yang


lebih rendah dibandingkan daerah induk. Selama lima tahun dalam studi ini, kinerja
keuangan Banyuasin cenderung konstan, sementara kinerja keuangan daerah induk
cenderung meningkat. Daerah Banyuasin memiliki ketergatungan fiskal yang lebih
tinggi dibandingkan dengan daerah induk, dengan kesenjangan yang semakin melebar.
Pemekaran juga mendorong ketergantungan yang lebih besar di daerah pemekaran
relatif dibandingkan dengan daerah kabupaten lain pada umumnya. Optimalisasi
sumber-sumber PAD di daerah Banyuasin relatif lebih rendah dibandingkan daerah
induk.
Sebagai daerah baru, Banyuasin memiliki fokus yang relatif lebih besar
dibandingkan daerah induk dalam hal belanja-belanja yang bersifat investasi daripada
konsumtif. Karena itu pula maka kontribusi belanja pemerintah terhadap PDRB juga
lebih besar di daerah Banyuasin dibandingkan daerah induk. Peran anggaran pemerintah
daerah pemekaran dalam mendorong perekonomian relatif kurang optimal
dibandingkan daerah induk walapun secara keseluruhan masih di atas rata-rata
kabupaten pada umumnya.

Secara umum kinerja pelayanan publik di daerah Banyuasin masih di bawah


daerah induk, walaupun kesenjangannya relatif kecil. Kinerja pelayanan pubkik di
Banyuasin plus daerah induk secara umum masih dibawah kinerja pelayanan publik di
daerah rata-rata kabupaten. Selama lima tahun terakhir, di semua kategori daerah
menunjukkan kinerja pelayanan publik yang cenderung menurun. Masalah yang
dihadapi dalam pelayanan publik ialah: (i) tidak efektifnya penggunaan dana, terkait
dengan kebutuhan dana yang tidak seimbang dengan dengan luas wilayah dan jumlah
penduduk yang relatif sama, (ii) ketersediaan tenaga pelayanan pada masyarakat karena
perkembangan ekonomi dan fasilitas yang terbatas, dan (iii) masih terbatasnya
pemanfaatan layanan publik publik yang diberikan.

Kinerja aparatur secara keseluruhan menunjukkan fluktuasi di Banyuasin dan


daerah induk meskipun dalam dua tahun terakhir posisi daerah induk masih lebih baik
dari pada daerah Banyuasin. Peningkatan jumlah aparatur menjadi tren selama lima
tahun pemekaran. Kualitas aparatur di Banyuasin masih sangat rendah, meskipun data
menunjukkan adanya peningkatan persentase aparat dengan pendidikan minimal
sarjana. Penyebab daerah Banyuasin belum menunjukkan kinerja sesuai yang
diharapkan karena pada masa transisi tidak adanya desain penempatan aparatur yang
benar-benar baik. Di samping itu, pembatasan jumlah aparatur yang formasinya
ditentukan oleh pusat juga menentukan ketersediaan aparatur sendiri. Masalah-masalah
yang ditemui pada pengelolaan aparatur diantaranya; adanya ketidaksesuaian antara
aparatur yang dibutuhkan dengan ketersediaan aparatur yang ada, kualitas aparatur yang
rendah, aparatur daerah bekerja dalam kondisi under employment yakni bekerja
dibawah standar waktu yang telah ditetapkan oleh pemerintah.

B. Saran

Pemekaran daerah harus disikapi dengan sangat hati-hati. Pertama-tama


diperlukan persiapan yang memadai bagi calon daerah otonom baru. Masa persiapan
tentu harus melihat kondisi nyata di lapangan. Namun, masa persiapan sampai dengan
10 tahun seyogyanya dapat difasilitasi untuk menyiapkan, di antaranya, hal-hal berikut:
pengalihan aparatur yang sesuai kapasitasnya, penyiapan infratruktur perekonomian
beserta fasilitas pemerintahan, infratruktur penunjang bagi aparatur. Apabila setelah
hasil evaluasi dari masa persiapan Calon daerah pemekaran tersebut memang benar-
benar dinyatakan layak maka perlu diteruskan dan begitu pula sebaliknya.

Pembagian sumber daya antara daerah induk dan daerah otonomi baru perlu
diatur dengan baik. Sumber daya tersebut meliputi: sumberdaya alam, sumberdaya
manusia dan infrastruktur penunjang lainnya. Pembagian yang tidak merata atau
memiliki kesenjangan yang terlau besar maka akan berimplikasi tidak akan banyak
perubahan yang signifikan, khususnya di daerah pemekaran. Oleh karena itu, peran
pemerintah pusat dalam pembagian daerah pemekaran perlu dipertegas dalam
perundangan yang berlaku.

Pada aspek perekonomian daerah Banyuasin, program-program pemerintah


sebaiknya diarahkan untuk mendukung sektor utama yakni pertanian dalam arti luas,
baik ketersediaan infrastuktur penunjang maupun tenaga-tenaga penyuluh dilapangan
serta yang lainnya. Pengembangan sektor-sektor lainnya diarahkan untuk mendukung
sektor utama sehingga percepatan di daerah pemekaran dapat terwujud.

Secara nyata diperlukan merubah pola belanja aparatur dan pembangunan di


kabupaten setempat sehingga dalam jangka pendek akan menciptakan permintaan
barang dan jasa yang dapat mendukung terciptanya pusat-pusat pertumbuhan ekonomi
baru. Pola belanja aparatur juga diarahkan secara langsung dalam rangka peningkatan
pelayanan publik, baik secara fisik maupun non fisik. Sehingga dalam jangka panjang
keuangan pemerintah sendiri akan meningkatkan optimalisasi pendapatan dan
kemandiran fiskal.

Aparatur pemerintah daerah harus lebih diarahkan pada peningkatan kualitas


aparatur sesuai dengan kompetensi aparatur yang diperlukan oleh daerah, mulai dari
tahap penerimaan hingga mutasi aparatur. Di samping itu, perlunya penataan aparatur
pada daerah transisi. Hal ini secara nasional perlu dibuat semacam grand desain
penataan aparatur, khususnya aparatur pada level pemerintah daerah. Secara khusus
perlu dilakukan rekonstruksi ulang terhadap Peraturan Pemerintah No. 129/2000 tentang
Persyaratan Pembentukan, dan Kriteria Pemekaran, Penghapusan dan Penggabungan
Daerah. Diperlukan bab evaluasi dalam revisi PP 129/2000, baik status dan kedudukan,
mekanisme evaluasi maupun pihak yang akan melakukan evaluasi. Perlunya suatu
evaluasi secara mendalam yang dapat menempatkan suatu daerah pemekaran, baik DOB
maupun induk, dapat dikategorikan suatu daerah pemekaran yang berhasil ataupun
kurang berhasil. Evaluasi ini sangat penting dalam rangka menentukan pola-pola
kebijakan pada daerah-daerah yang berbeda, termasuk didalamnya kemungkinan daerah
tersebut akan digabung.Hal ini sesuai amanat dalam Pasal 6 ayat (1) dan ayat (2) UU
32/2004 tentang Pemerintah Daerah yang menyatakan bahwa daerah dapat digabung
dengan daerah lain jika daerah tersebut tidak mampu menyelenggarakan otonomi
daerah.

Pada usia yang relative baru, Kabupaten Banyuasin masih banyak yang perlu
digali dan dikembangkan, terutama aspek-aspek yang sekiranya dapat menghambat laju
pertumbuhan Kabupaten. Namun demikian, sejalan dengan pertumbuhan daerah
pemekaran, Kabupaten Banyuasin sudah menunjukkan tingkat kemajuan yang cukup
signifikan, dan masih punya peluang untuk lebih meningkatkan, terutama yang hasilnya
dapat memenuhi tujuan dimekarkannya suatu daerah yakni pemerataan kesejahteraan
masyarakatnya.
Daftar Pustaka

Badan Pusat Statistik (2005), Analisis dan Penghitungan Tingkat Kemiskinan Tahun
2005, BPS, Jakarta
Badan Pusat Statistik (2006), PDRB Kabupaten/Kota tahun 1998-2005, BPS, Jakarta
Badan Pusat Statistik dan Departemen Keuangan (2006), Statistik Keuangan Daerah
Kabupaten/Kota di Indonesia tahun 1998-2005, BPS-Depkeu, Jakarta
Badan Pusat Statistik dan Departemen Keuangan (2006), Statistik Keuangan Daerah
Provinsi di Indonesia tahun 1999-2005, BPS-Depkeu, Jakarta

Departemen Keuangan (2005, 2006), Indonesia’s Budget Statistics 2005-2006, Depkeu


RI, Jakarta
Lembaga Administrasi Negara. (2005), Laporan Evaluasi Penyelenggaran Otonomi
Daerah Periode 1999-2003, Pusat Kajian Kinerja Otonomi Daerah, Lembaga
Administrasi Negara, Jakarta.

Pemerintah Republik Indonesia (1999), Undang-undang No. 22/1999 tentang


Pemerintahan Daerah (www.indonesia,go.id)
Pemerintah Republik Indonesia (1999), Undang-undang No. 25/1999 tentang
Perimbangan Keuangan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah
(www.indonesia,go.id)
Pemerintah Republik Indonesia (2000), Peraturan Pemerintah No. 129/2000 tentang
Persyaratan Pembentukan, Pemekaran, Penghapusan dan Penggabungan
Daerah (www.indonesia,go.id)
Pemerintah Republik Indonesia (2005), Peraturan Pemerintah No. 48 Tahun 2006
tentang Tata Cara Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaa Rencana
Pembangunan. (www.indonesia,go.id)
Pemerintah Republik Indonesia (2006), Peraturan Pemerintah No. 39 Tahun 2005
tentang Pengangkatan Tenaga Honorer Menjadi CPNS. (www.indonesia,go.id)
Pemerintah Republik Indonesia (2003), Undang-Undang Dasar 1945, Hasil
Amandemen ke-4.
Pemerintah Republik Indonesia (2004), Undang-Undang No. 32/2004 tentang
Pemerintahan Daerah
Pemerintah Republik Indonesia (2004), Undang-Undang No. 33/2004 tentang
Perimbangan Keuangan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah
Pemerintah Republik Indonesia (2004), Undang-Undang No. 25/2004 tentang Sistem
Perencanaan Pembangunan Nasional (www.indonesia,go.id)
Pemerintah Republik Indonesia (1999), Undang-Undang No. 43/1999 tentang
Perubahan Atas UU No. 8 Tahun 1074 tentang Pokok-Pokok
Kepegawaian(www.indonesia,go.id)

Sumodiningrat,Gunawan, Diant Nugroho D (2005), Membangun Indonesia Emas,


Model Pembangunan Indonesia Baru Menuju Negara-Bangsa Yang Unggul dalam
Persaingan Global, Gramedia, Jakarta.